Beranda blog

2022, Beragam Agenda

0

Oleh: Sefiani Rozalina, SS

Mengawali tahun Macan air ini, BPNB Provinsi Sumatera Barat sudah memulai langkah dengan menyusun Prosedur Operasional Standar (POS) untuk roda pekerjaan yang lebih baik. Tim kecil pembuatan POS BPNB Provinsi Sumatera Barat yang dipercaya bekerja dari tanggal 7 s.d 11 Januari 2022. Berkaitan dengan itu, sosialisasi tentang POS 2022 dipublikasikan kepada seluruh pegawai BPNB Provinsi Sumatera Barat.pada Senin 31 Januari 2022 dalam rapat rutin BPNB Provinsi Sumatera Barat. Setidaknya ada 9 POS besar yang telah disusun, 8 diantaranya adalah POS terkait dengan program kegiatan yang bersifat teknis dan 1 POS ketatausahaan yang mana terdapat 51 POS generik berkaitan dengan tugas administrasi di bagian ketatausahaan. Seluruh POS ini tinggal menunggu penyempurnaan dan finalisasi yang disetujui oleh Kepala BPNB Provinsi Sumatera Barat.

Selain daripada itu, dalam rapat ini Kepala BPNB Provinsi Sumatera Barat,  Undri, SS, M.Si juga menginformasikan tentang Agenda Kerja Direktur Perfilman, Musik dan Media Baru,  Ahmad Mahendra yang akan berkantor di BPNB Provinsi Sumatera Barat dari tanggal 7 s.d 16 Februari 2022. Selama kurang lebih 10 hari, Beliau akan mempunyai segudang agenda di Sumatera Barat diantaranya yaitu audensi dengan Gubernur Sumatera Barat dan beberapa pejabat daerah lainnya serta nantinya akan ada Focused Group Discussion (FGD) tentang matrilineal. Beliau juga berencana akan mengunjungi Sawahlunto dan Dharmasraya. Kemudian agenda lain dalam rapat tersebut adalah pendistribusian program kegiatan BPNB Provinsi Sumatera Barat Tahun 2022. Merujuk kepada Perjanjian Kinerja (PK) Kepala BPNB Provinsi Sumatera Barat dengan Direktur Jenderal Kebudayaan yaitu “meningkatkan jumlah festival budaya yang terhubung dengan  platform festival budaya tingkat nasional’, maka tahun macan air ini, BPNB Provinsi Sumatera Barat memiliki beragam agenda untuk mendukung PK tersebut. Diantaranya adalah FESTIVAL MATRILINEAL, FESTIVAL DANAU MANINJAU, beberapa workshop kriya dan wastra yang akan diselenggarakan di wilayah kerja BPNB Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan kajian dan inventarisasi juga akan mendukung terselenggaranya program kegiatan BPNB Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan pameran dan bioskop keliling akan mengakomodir permintaan pemerintah daerah dan stakeholder yang intens dan konsisten untuk mendukung pemajuan kebudayaan.

Ayam Bernama

0
Ernatip

Penulis: Ernatip

Diantara sekian banyak binatang ternak, ayam termasuk binatang ternak yang banyak di sukai oleh manusia. Banyak orang beternak ayam apalagi yang masih tinggal di kampung-kampung. Memelihara ayam dapat dilakukan secara sambilan, berbeda dengan hewan peliharaan lainnya seperti kambing, kerbau atau sapi. Hewan peliharaan ini perlu dicarikan makanannya (rumput) atau dibawa ketengah padang lazim disebut dengan istilah bagubalo. Memelihara ayam tidak menyita waktu dan hasilnya cepat dirasakan. Orang memelihara ayam ada untuk dikembangbiakan dan hanya untuk diambil telurnya. Ayam dikembangbiakan menjadi banyak dan setelah cukup besar (pantas untuk dipotong) bisa dijual atau dijadikan sebagai sajian dalam keluarga. Daging ayam dan telurnya dibutuhkan oleh manusia dalam keseharian sebagai sumber protein.

 Boleh dikatakan hampir semua orang mengenal ayam sekaligus telurnya. Daging ayam banyak disukai orang terutama dikalangan anak-anak – remaja, begitu juga orang tua-tua. Masa dahulu daging ayam termasuk sajian istimewa adanya dikala ada perhelatan atau hari besar keagamaan. Dikala itu sulit mendapatkan ayam padahal kebanyakan orang memelihara ayam. Ayam baru bisa dipotong setelah berumur 4 – 6 bulan (besar secara alami) dan itupun beratnya belum mencapai satu kilo. Kondisi seperti ini membuat orang jarang makan daging ayam dan kalau ada dalam keshariannya berarti mereka itu termasuk orang berada.

Kubutuhan terhadap daging ayam dan telur ayam dari hari kehari terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk. Tingkat pendidikan masyarakat sudah mulai maju dan didukung oleh perekonomian yang mulai membaik. Pandangan masyarakat sudah berorientasi pada kecukupan gizi bagi anak-anaknya. Salah satu sumber protein yang mudah didapatkan adalah telur, daging ayam sehingga bahan ini terus diburu oleh masyarakat di samping bahan lainnya. Kebutuhan terus meningkat sedangkan produksi sumber protein “ayam, telur” belum bisa dipacu.

Kondisi ini tidak berlalu begitu saja, berbagai upaya terus dilakukan terutama oleh para pakar teknologi. Akhirnya ditemukan teknologi baru yang bisa menghasilkan daging ayam dan telur dalam waktu singkat. Rentang waktu 30 -40 hari ayam sudah bisa dipasarkan. Teknologi modern itu menghasilkan ayam yang dikenal dengan ayam buras dan ayam petelur. Ayam buras dikenal juga dengan sebutan ayam potong karena khusus untuk dipotong menjadi konsumsi sehari-hari bagi kebanyakan orang. Sedangkan ayam petelur hanya khusus untuk menghasilkan telur. Ayam ini baru dipotong bila sudah tua atau produksi telurnya mulai menurun/berkurang.

Semenjak ditemukannya teknologi ini muncul istilah baru terhadap penyebutan nama ayam yakni adanya istilah ayam kampung, ayam potong, ayam ras, ayam petelur. Ayam kampung adalah penyebutan terhadap ayam yang selama ini diperlihara oleh masyarakat secara tradisional. Maksudnya ayam dipelihara dengan cara dilepaskan mencari makan sendiri. Pagi hari ayam dilepas kealam terbuka dan sorenya masuk kandang. Berbeda dengan ayam potong – ayam petelur yang terkurung dalam kandang makan diatur oleh pemiliknya. Penyebutan nama ayam kampung tidak mengacu kepada wilayah/daerah tempat ayam itu dipelihara. Penyebutan nama itu lebih kepada untuk membedakan dengan ayam hasil olahan teknologi.

Ayam kampung dan ayam buras/petelur ada perbedaannya, pertama dari segi bulunya. Bulu ayam buras/ayam potong umumnya berwarna putih dan bulu ayam petelur umumnya berwarna kemerah-merahan. Sedangkan ayam kampung warna bulunya beragam ada hitam, putih, kuning, merah. Satu ekor ayam memiliki bulu 2 – 4 warna dan bahkan ada yang hanya satu warna yakni warna hitam, putih. Keanekaragaman warna bulu ayam itu mempunyai filosopi bagi masyarakat, sehingga ada yang menyebutnya dengan istilah ayam bernama. Maksud bernama tersebut ada kaitannya dengan kepercayaan masyarakat terutama yang berkaitan dengan mistik (alam gaib).

Peninggalan kepercayaan animisme dan dinamisme masih dipercayai oleh  masyarakat hingga saat ini. Kelompok masyarakat ini memang tidak banyak tetapi masih ada pada daerah-daerah tertentu salah satunya di Kota Prabumulih yakni masyarakat Suku Rambang. Masyarakat Suku Rambang masih ada yang melaksanakan ritual-ritual yang diwarisi dari para leluhur misalnya ritual sedekah bumi. Ritual ini dilakukan dalam suatu upacara besar dalam artian memotong hewan berkaki empat (kambing, kerbau atau sapi). Waktu pelaksanaan ritual berdasarkan petunjuk yang diterima oleh “tua menyan” selaku pemimpin upacara tersebut. Selain itu kelompok masyarakat ini masih mempercayai bahwa setiap anak yang lahir itu ada “ayam bawaannnya”, misalnya ayam burek emas, ayam putih kuning dan lainnya. Ini merupakan istilah karena setiap orang itu sepanjang hidupnya ada sedekahan/sesajen untuk persembahan kepada leluhurnya. Untuk sedekahan/sesajen itu ia menggunakan ayam sesuai dengan ayam bawaannnya sejak lahir. Penentuan ayam bawaan itu oleh “tua menyan” melalui petunjuk yang ia terima.

Menurut mereka ayam bernama terbagi dalam 6 kelompok dengan istilanya tersendiri yakni (1) ayam putih kuning, ayam ini bulunya berwarna putih, kakinya berwarna kuning, (2) ayam putih pucat, ayam ini bulunya berwarna putih kakinya pucat. (3) ayam kumbang, ayam ini bulunya berwarna hitam selalu, (4) ayam bulu cahu, ayam ini bulunya 3 warna yakni kuning, hitam dan putih. (5) ayam burek emas yakni ayam jago dan (6) ayam biriang. Masing-masing ayam ini merupakan simbol atau peruntukan khusus untuk hal tertentu. Ayam putih kuning simbol kemakmuran, digunakan untuk mendarahi rumah. Sebelum rumah dibanggun terlebih dahulu lokasinya didarahi dengan darah ayam sebagai bentuk komunikasi dengan makhluk yang ada dilokasi itu agar tidak mengganggu pembangunan tersebut. Ayam putih pucat simbol kekayaan. Ayam kumbang digunakan untuk mengusir makhluk halus (setan) berupa sesajen. Ayam bulu cahu digunakan untuk pengobatan tradisional terhadap penyakit yang berbahaya seperti santet dan lainnnya. Ayam burek emas atau ayam jago simbol karisma atau panutan bagi orang banyak. Ayam biriang simbol kepatuhan, digunakan untuk menutup kesalahan.

Perbedaan kedua antara ayam kampung dan ayam potong/petelur adalah cita rasa dagingnya. Olahan daging ayam bisa menghasilkan beraneka sajian dengan berbagai cita rasa. Saat ini daging ayam termasuk sajian harian karena ayam mudah mendapatkannya seperti ayam potong. Berkaitan dengan rasa ada orang yang mengatakan lebih enak daging ayam kampung dari pada daging ayam potong. Tetapi dalam kenyataan sehari-hari orang lebih banyak mengkonsumsi ayam potong karena harganya terjangkau. Sedangkan ayam kampung populasinya terbatas dan harganya lebih tinggi.

Untuk konsumsi sehari-hari posisi ayam kampung bisa tergantikan oleh ayam potong tetapi untuk keperluan tertentu tidak bisa. Misalnya untuk pengobatan tradisional seperti orang terkena penyakit diganggu oleh makhluk halus, biasanya menggunakan ayam berbulu hitam, disebut juga dengan ayam hitam. Jenis ayam seperti ini termasuk langka, oleh sebab itu harganya mahal. Sekalipun harganya mahal masih saja dibeli orang karena dipercayai mempunyai kekuatan tersendiri sehingga menjadi syarat pengobatan. Selain itu ada lagi untuk mendarahi rumah, biasanya sebelum mendirikan rumah terlebih dahulu lokasi itu didarahi. Darah yang digunakan adalah darah ayam yakni ayam putih kuning. Jenis ayam yang digunakan terhadap hal seperti ini berbeda-beda setiap daerah, tergantung pada permintaan melalui orang pintar (dukun).

Perbedaan ketiga, ayam kampung ada yang namanya ayam jago, disebut juga ayam jantan, apak ayam. Ayam jago mempunyai kelebihan yakni bisa berkokok dan dijadikan sebagai sarana bermain yakni bermain adu ayam atau sabung ayam. Ayam berkokok pertanda hari telah pagi, sebelum masuk waktu subuh kokok ayam sudah mulai terdengar membangunkan orang. Permainan adu ayam cukup terkenal dimasyarakat terutama dikalangan kaum laki-laki. Pada masa dahulu hingga saat ini permainan adu ayam masih dilakukukan orang. Oleh sebab itu harga ayam jago sangat mahal. Selain permainan adu ayam, kokok ayam pun menjadi ajang permainan. Setiap ayam jago mempunyai kokok yang berbeda-beda menghasilkan bunyi yang merdu enak didengar.

Terlepas dari kegunaan ayam untuk kesenangan dan cita rasa, ayam juga sebagai atribut adat oleh kelompok masyarakat tertentu seperti Minangkabau. Di dalam adat Minangkabau sajian yang bersumber dari ayam termasuk adat seperti singgang ayam. Singgang ayam yang dipasangkan dengan nasi lamak adalah bawaan pada prosesi adat bertunangan (di Kota Padang), prosesi adat manjalang mintuo di Kabupaten Lima Puluh Kota (Pangkalan Koto Baru). Hal ini jelas bahwa ayam yang menjadi barang bawaan telah diolah dan siap untuk dinikamti bersama. Berbeda halnya dengan ayam bawaan yang masih hidup seperti pada acara mancaliak anak yang dilakukan oleh pihak bako. Barang bawaan itu selain ayam yang masih hidup juga disertai dengan kain panjang, emas, dan bahan makanan lainnya. Barang bawaan berupa ayam hidup pada prosesi adat ini mempunyai makna, ayam untuk dipelihara, dikembangbiakan sehingga menjadi banyak. Hasilnya bisa untuk keperluan sehari-hari. Dalam hal ini sudah jelas bahwa ayam yang dibawa adalah ayam kampung karena untuk dikembangbiakan.

Mencermati kegunaan ayam bagi manusia sepanjang perjalanan hidupnya, ayam terus digunakan. Dalam keseharian maupun dalam aktivitas yang berkaitan dengan adat ayam pun masih menempati posisi yang dipentingkan. Lebih khusus lagi  ayam kampung merupakan media bagi manusia untuk kepentingan tertentu seperti pengobatan tradisional. Di sini, ayam yang digunakan tidak bisa diganti dengan ayam potong, seberapapun sulit mendapatkannya tetap diusahakan oleh orang yang berkepentingan [Penulis adalah peneliti di kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 28 April 2019

Undang-Undang Nan Salapan

0
Mardoni

Penulis: Mardoni

Mari kita lirik tentang penerapan hukum adat era sekarang. Hukum adat di negeri kita, baik eksistensinya dan penerapannya dalam masyarakat hampir terkalahkan oleh hukum formal. Sebut saja hukum adat di Minangkabau. Di Minangkabau masih dikenal adanya aturan tentang hukum (pidana) adat, yang terdapat dalam Undang-Undang Nan Duopuluah. Undang-Undang Nan Duopuluah ini terbagi atas dua bagian, yaitu Undang-Undang Nan Salapan dan Undang-Undang Nan Duobaleh. Undang-Undang Nan Salapan menentukan perbuatan kejahatan, dan Undang-Undang Nan Duobaleh menjelaskan tanda bukti yang melanggar Undang-Undang Nan Salapan. Terdapat 8 (delapan) bentuk perilaku yang disebutkan sebagai delik adat dalam Undang-Undang Nan Salapan, yakni: 1. dago-dagi; 2. sumbang-salah; 3. samun-sakal; 4. maling-curi; 5. tikam-bunuh; 6. kicuh-kecong dan tipu-tepok; 7. upeh-racun; dan 8. siar-bakar. Dari kedelapan bentuk delik adat dalam Undang-Undang  Nan Salapan itu, yang cenderung masih mendapatkan perhatian dari para penguasa adat hanyalah “sumbang salah” dan “dago dagi”(Datoek Toeah, Tambo Alam Minangkabau, Bukit Tinggi : Penerbit Pustaka Indonesia, 1956).

Dalam Undang-Undang Nan Salapan mengatur delapan jenis perbuatan yang melanggar hukum. Pertama dago-dagi, Dago ialah perbuatan pengacauan dengan desas-desus sehingga terjadi kehebohan, sedangkan dagi ialah perbuatan menyebarkan fitnah sehingga merugikan orang lain. Kedua, sumbang-salah, Sumbang ialah perbuatan yang melakukan sesuatu tidak pada tempatnya atau bersalahan menurut pandangan mata orang banyak, sedangkan salah ialah perbuatan yang melakukan zina. Sumbah-salah masih banyak terjadi di masyarakat. Baik anak muda, dewasa bahkan yang tua juga melakukannya. Zina dalam islam tidak sekedar diartikan sebagai ‘hubungan seksual’ saja. Akan tetapi lebih sempit dari itu perbuatan mendekatinya saja juga disebut zina, seperti zina mata, zina hati, zina tangan , dan sebagainya. Contohnya perbuatan yang banyak dilakukan oleh muda mudi sekarang yang tidak malu lagi naik motor berduaan sambil berangkulan, dan sebagian orang tuanya, atau ‘mamak-nya pun’ tak sanggup untuk melarangnya. Apalagi memberi sanksi kepadanya.

Ketiga, samun-sakal, Samun ialah perbuatan merampok milik orang dengan cara melakukan pembunuhan, sedangkan yang dimaksud dengan sakal ialah perbuatan merampok milik orang dengan kekerasan atau aniaya. Pasal ini mempunyai sampirannya, yakni rabuik rampeh. Rabuik (rebut) adalah perbuatan mengambil barang yang dipegang pemiliknya lalu melarikannya, sedangkan rampeh (rampas) ialah perbuatan mengambil milik orang dengan cara melakukan ancaman. Contoh perbuatan ini yang banyak terjadi adalah begal, pencopetan, penodongan, dan sebagainya.

Keempat, maliang-curi. Maliang (maling) ialah perbuatan mengambil milik orang dengan melakukan perusakan atas tempat menyimpanannya, sedangkan curi ialah perbuatan mengambil milik orang lain pada waktu pemiliknya sedang lengah. Kelima, tikam-bunuh, Tikam ialah perbuatan yang melukai orang dan bunuh ialah perbutan yang menghilangkan nyawa orang dengan menggunakan kekerasan.

Keenam,  kicuh-kecong dan tipu-tepok, kicuah ialah perbuatan penipuan yang mengakibatkan kerugian orang lain, sedangkan kicang ialah perbuatan pemalsuan yang dapat merugikan orang lain. Pasal ini mempunyai sampirannya, yakni umbuak umbai, umbuak ialah perbuatan penyuapan pada seseorang yang dapat merugikan orang lain, sedangkan umbai ialah perbuatan membujuk seseorang agar sama-sama melakukan kejahatan.

Ketujuh, upeh-racun, Upeh ialah perbuatan yang menyebabkan seseorang menderita sakit setelah menelan makanan atau minuman yang telah diberi ramuan yang berbisa atau beracun, sedangkan racun adalah sejenis obat makanan atau minuman yang telah diberi ramuan berbisa atau beracun yang bisa menyebabkan orang menderita sakit atau bisa sampai meninggal.

Kedelapan, siar-bakar, Siar adalah perbuatan membuat api yang mengakibatkan milik orang lain sampai terbakar, sedangkan baka adalah perbuatan membakar barang orang yang sampai hangus dan habis dengan api yang besar.

Pertanyaannya dimanakah hukum adat ini berlaku sekarang, dan bagaimana pengadilan adatnya dijalankan? Pada hakikatnya hukum adat dan pengadilan adat dilaksanakan dibawah Lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN) sebagai lembaga paling rendah. Namun persoalannya masyarakat kekinian (modern) ada yang kurang yakin dengan penyelesaian secara hukum adat. Sehingga persoalan tersebut telah diambil alih penyelesaiannnya oleh Kepolisian dan hukum formal melalui pengadilan negeri.

Lantas bagaiman eksistensi hukum adat Kita? Seharusnya kedua hukum itu saling mendukung satu sama lainnya. Setelah diberi sanksi hukum formal, maka hukum adat juga dilaksanakan. Seyogyanya, kedelapan macam perbuatan yang diatur oleh UU Nansalapan hendaknya berperan memberikan sanksinya terhadap pelakunya. Sanksi ini merupakan sebuah bentuk eksistensi hukum dan pengadilan adat tersebut bisa dikatakan masih bertahan. Namun jika hukum adat sudah mengalah demi pelaksanaan hukum formal, maka eksistensinya akan dipertanyakan. Seseorang yang sudah mendapatkan sanksi pada hukum formal, maka ada baiknya masih mendapatkan sanksi hukum adat. Sehingga tujuan pemberian sanksi untuk menimbulkan efek jera tercapai.

Secara Sosiologis, sanksi dikenal dengan berbagai bentuk, seperti dicemooh, dicela, dikucilkan, didenda, dan diusir, bahkan ada sebagian masyarakat memakai hukum cambuk, dan pancung (misalnya di Provinsi Nangroe Aceh Darusalam).  Dalam masyarakat Minangkabau yang komunal, pertama sekali yang berhak memberi hukuman kepada seseorang adalah kaum atau sukunya. Jadi setiap suku harus bertanggung jawab terhadap tingkah laku anggotanya.

Apabila salah seorang anggota kaum melakukan pelanggaran maka pihak yang pertama memikul hukuman adalah kaum kerabatnya sendiri, sedangkan sipelaku kejahatan diberi hukuman oleh kaum kerabatnya sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan berdasarkan kemufakatan anggota kaum secara bersama (Navis, 1984). Sanksi setelah pelaksanaan hukum formal dapat berupa sanksi yang paling ringan (dicemooh) sampai sanksi yang paling berat (diusir) tergantung jenis pelanggarannya.

Bersatunya hukum formal dan hukum adat dalam hal pencegahan perbuatan yang melanggar hukum tersebut, berefek positif kepada keharmonisan hidup dalam masyarakat. Bagaimana tidak, seseorang akan takut dan enggan untuk melawan (melanggar) hukum. Baik melawan hukum formal maupun hukum adat.  Sebab ada hukum yang berlapis yang akan menindak pelangar tersebut. Jika ini dilaksnakan kemungkinan keharmonisasn dalam nagari akan terjaga. Pepatah adat mengatakan “bumi sanang padi manjadi, padi masak jaguang maupiah, taranak bakambang biak, antimun mangarang bungo, nagari aman santoso”Semoga saja ini terwujud [Penulis adalah staf di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah pada Minggu, 5 Mei 2019

Uniknya Tato Mentawai

0
Rismadona

Penulis: Risma Dona

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, tato berarti gambar atau lukisan pada bagian atau anggota tubuh. Tato hampir kita temukan di berbagai tempat sesuai dengan fungsi adat yang berlaku, seperti mentawai. Tato Mentawai merupakan bagian dari tradisi dan budaya yang berlaku sebagai penanda profesi yang dipegangnya seperti ahli pemanah, ahli pengobatan, pangkat dan lain sebagainya. Artinya tato berfungsi sebagai simbol, tanda pengenal, atau hiasan berupa suatu sistem penandaan atau sistem tanda-tanda visual, antara lain melalui simbol yang merupakan gambaran prinsip hidup.

Bagi sebagian orang, motif yang digunakan syarat dengan simbol dan makna yang diartikulasikan oleh masyarakat pengguna tato itu sendiri. Namun tato saat ini terjadi pergesseran nilai dan menjadi gaya hidup yang ngetren di kalangan anak-anak muda saat ini. Tato saat ini lebih cenderung tentang para pecinta seni keindahan yang ditorehkan pada tubuhnya. Tato mengandung makna yang dapat ditangkap oleh penikmat lukisan rajah tubuh. Begitulah ritme perjalanan tato. Namun tato Mentawai memiliki keunikan tersendiri, dan telah menghiasi kehidupan masyarakat Mentawai itu sendiri.

Orang Mentawai, pada prinsipnya tinggal tersebar dengan jarak yang tidak beraturan disepanjang tepian sungai di daerah pedalaman. Mereka terkelompok dalam organisasi sosial yang disebut uma, yang biasanya terdiri dari beberapa keluarga inti. Organisasi sosial dalam bentuk uma ini lebih bersifat egaliter tanpa hirarki politik atau kepemimpinan yang teroganisir, sehingga pengambilan keputusan politik cenderung lebih bersifat kolektif.

Menurut Adi Rosa (2011), pakar/ahli yang banyak melakukan penelitian tentang tato Mentawai menjelaskan bahwa tato masyarakat adat Mentawai berfungsi sebagai alat komunikasi bagi kelompok suku adat, melalui tergambar (visual) pada tubuh masyarakat adat Mentawai. Alat komunikasi bahasa rupa terwujud melalui unsur-unsur gambar-bahasa rupa, motif tato tradisional, sebagai symbol, tanda kenal dan hiasan. Tato masyarakat adat Mentawai ditemui pada budaya tato di wilayah Austronesia dan Polynesia, pada wilayah Cina, Laos (Indocina), Jepang, Rapa Nui (Kepulauan Easter), Hawaii, Kepulauan Marquesas dan Maori (New Zealand). Tato merupakan identifikasi dengan bahasa rupa sebagai wahana komunikasi melalui ragam motif-gambar.

Tato sebagai simbol jati diri suku, menjelaskan dari mana seseorang berasal. Tato sebagai tanda kenal privasi, menunjukkan tanda kenal kepiawaian masing-masing wilayah kekuasaan suku terdapat perbedaan dalam bentuk motif tato. Tato sebagai tanda kenal pribadi (privasi), menyiratkan kemahiran atau kepiawaian seorang (murourou) pemburu sejati mudah dikenali melalui mtif-motif tato binatang. Tato masyarakat adat Mentawai memiliki fungsi sebagai simbol dan tanda kenal motif tato yang dianggap baku. Tetapi masih tersisa ruang gerak bagi kebebasan privasi kreatif, bilamana tato berfungsi sebagai hiasan. Umumnya manusia adalah mahluk pesolek, tidak terkecuali masyarakat adat Mentawai yang memanfaatkan sejumlah motif tato sebagai hiasan tubuhnya. Tato masyarakat adat dengan sejumlah ragam motif memiliki makna, syarat dengan ajaran kearifan lokal. Karena itu masing-masing motif tato, memberi  arahan sebagai pandangan dan pedoman hidup bagi masyarat pengguna. Motif-motif tato masyarakat adat, sekaligus sebagai bagian dari ajaran keyakinan dari kepercayaan Sabulungan Mentawai.

Lebih lanjut Ady Rosa (2011) menjelaskan bahwa tato tidak saja sebagai pakaian abadi, juga sebagai suluh (obor) penerang dalam perjalanan abadi menuju surgawi. Tato masyarakat adat, diyakini sebagai pedoman hidupnya yang sudah melembaga dalam institusi tradisional-masyarakat adat, lahir atas dasar konvensi. Tato melalui ragam motif, merupakan “buku pintar” berisi tentang ajaran berisi kebenaran, kebaikan, dan pendidikan rasa. Motif-motif tato masyarakat adat, merupakan bahasa rupa sebagai wahana komunikasi yang berisi tentang: (a) eksistensi masyarakat adat, sebagai penanda asal usul seseorang berasal, (b) status sosial seseorang sebagai dukun, pemburu, dan pengayau, (c) tanda kenal batas-batas wilayah, (d) feminim dan maskulin, dan (d) kepiawaian seseorang. Keberagaman pada gambar tato setiap pengguna tato, diyakini tato itu sendiri  memiliki pesan tersendiri. Pesan yang dibuat untuk dapat menjadi bahan pengingat dirinya atau pun orang lain. Pesan yang dengan sengaja dibuat melalui ukiran gambar tato pada tubuh penggunanya, sangat memiliki esensi dalam menyampaikan sesuatu atau makna simbolik personal dan komunal.

Kekinian, budaya tato masyarakat adat di Indonesia, sudah terpinggirkan dengan berbagai permasalahan, diantaranya: (a) dianggap oleh masyarakat sebagai tanda kenal kriminal, (b) identitas geng, dan (c) penggemar dan pengguna tato masyarakat adat Mentawai dengan motif-motif tato yang memiliki muatan kearifan lokal, sampai saat ini masih berjalan, terutama nilai-nilai estetik motif tato Mentawai kekinian. Tato sekarang menjadi bagian dari gaya hidup urban sub culture dan trend. Banyak studio tato dari kelas bawah sampai kelas atas, dari puluhan ribu rupiah sampai jutaan rupiah. Dari kalangan biasa sampai kalangan artis dan ibu rumahtangga, semuanya ingin di tato karena satu hal yaitu membuat dekorasi tubuh.

Akhirnya, untuk memahami tato tersebut maka kita harus melihat tato sebagai bagian dari persoalan budaya yang melingkupinya [Penulis adalah peneliti di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 12 Mei 2019

Runciang Jan Mancucuak, Sandiang Jan Maluko

0

Penulis: Kadril

Saat sekarang ditilik dalam kehidupan sehari-hari ada sebagian remaja di Minangkabau ketika berbicara dalam acara formal dan informal sudah jarang memikirkan dengan siapa mereka berbicara dan boleh dikatakan tidak mempergunakan kata – kata yang santun dan baik di dengar oleh lawan berbicaranya.

Seperti ungakapan runciang jan mancucuk, sandiang jan maluko, (runcing jangan menusuk, sanding jangan melukai) artinya adalah suatu perkataan yang melukai atau menyakiti hati seseorang.

Ironisnya lagi seorang anak yang sudah dewasa memaki-maki orang tua dengan kata-kata yang kasar dan kemanakan leluasa berkata kasar kepada mamaknya seperti perkataan, guno mamak tu indak adoh, kini lai doh, nan jadi mamak tu kini pitih (mamak sekarang tidak berfungsi yang berfungsi sekarang itu uang).

Salah-satu makna yang tersirat dari ungkapan tradisional ini adalah  : jika seseorang memiliki kepandaian dan mempunyai ilmu, ketika berbicara pelihara mulut dan berkata peliharalah lidah. Sehingga seseorang yang mempunyai ilmu dapat mempergunakan dengan ilmu dengan baik dan membawa keuntungan atau kemaslahatan bagi khalayak ramai dan masyarakat.

Sebagai obat yang mujarab untuk menyikapi fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan sebagian remaja-remaja di masyarakat, ini, kita perlu kembali memahami norma adat dan  nilai etika atau sopan santun dalam berbicara, serperti ungkapan tradisional : harimau dalam paruik kambing juo nan musti kalua, (sungguhpun harimau dalam perut kambing juga yang mesti di keluarkan). Biasanya ungkapan ini sering diucapkan oleh orang tua-tua dulu kepada anak dan kemanakannya, bagi yang tidak tahu sopan santun dalam berbicara.

Disamping itu, tidak kalah pentingnya perlu kita mengingat kembali pada norma adat sopan santun ketika berbicara. Norma adat atau sopan santun inilah sebagai sendi-sendi nilai kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur kepada kita seperti kato nan ampek (kata yang empat).  Kato nan ampek merupakan adat berbicara di Minangkabau.

Setiap orang dituntut paham perbedaan cara berbicara dengan orang berbeda. Indak ka pernah samo datanyo sawah jo pamatang, (tidak akan sama datar sawah dengan pematang). Maksunya setiap orang punya tingkatan-tingkatan tertentu di masyarakat.

Kato mandaki

Kato mandaki merupakan adat berbicara dengan orang yang lebih dituakan, misalnya dengan ayah dan ibu, mamak dan lain sebagainya. Berbicara dengan orang yang lebih tua haruslah dengan lemah lembut dan penuh sopan santun. Tidak boleh memotong pembicaraan orang lain, apalagi membantah.

Selagi yang dikatannya benar dan demi kebaikan, kita tidak boleh melawan perkataan orang yang lebih dituakan. Sedangkan untuk kata sapaan sendiri juga di bedakan, biasanya mengunakan awak, ambo.

Kato manurun

Kato manurun digunakan saat berbicara dengan lawan bicara yang lebih kecil, misalnya dengan adik. Sebagai saudara yang lebih tua hendaknya berbicara dengan kasih sayang, mengajarkan dengan baik. Bukan membentak-bentak, atau menyuruh dengan kata kasar dan biasakan dengan mengunakan kata tolong dan terimakasih. Sedangkan untuk kata panggilan terhadap diri sendiri mengunakan kata uda, uwan, atau uni, dan lain sebagainya.

Kato mandata

Kata mendata biasanya digunakan untuk berkelakar dengan teman seumuran. Biasanya kata yang digunakan lebih bebas dan kadang juga kasar. Apalagi dalam pertemanan anak laki-laki.  Dengan demikian justru pertemanan mereka nampak lebih akrab dan tidak kaku. Aden,deyen biasa digunakan untuk panggilan diri sendiri. Sedangkan untuk panggilan orang lain digunakan waang,angkau,mandan,andan,ndan dan sebagainya.

Kato malereng

Kato malereng biasanya digunakan untuk berbicara antara orang yang segan menyegani. Misalnya antara mertua dan menantu, sumando,ipa jo bisan. Pembicaraan mengunakan kata kiasan yang sifatnya tidak langsung.  Kok lai dapek mancari bareh dek sutan sagantang sahari, ambo ndak baa sajo anak ambo sutan pabini. Secara logika  mungkin tidak masuk akal, bagaimana mungkin dengan sagantang beras bisa cukup untuk dimakan sekeluarga.

Tentulah harus ada lauk pauk, sayur, dan lain-lain. Jadi maksud mertua adalah orang tersebut haruslah memiliki mata pencarian sehingga bisa memenuhi semua kebutuhan keluarga tidak hanya makan tapi juga nafkah lainnya.

Oleh karena itu bagi kita generasi muda yang memiliki kepandaian dan mempunyai ilmu, ketika berbicaralah dengan sopan santun dan berpegang kepada kato nan ampek, pertama kato mandata, kedua kato manurunn ketiga kato mandaki dan keempat malereng. Jadi, hendaknya perkataan-perkataan yang keluar dari mulut seseorang terpelihara dan membawa berkah atau kemaslahatan bagi masyarakat [Penulis adalah Pengelola Data Budaya Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 10 Februari 2019

FUNGSI DAN PELESTARIAN ALAT MUSIK SUNAI DI KABUPATEN MUKOMUKO PROPINSI BENGKULU

0
Penulis: Rois Leonard Arios

 

Abstract

Sunai merupakan alat musik utama pengiring tari gandai. Dalam mitologi suku bangsa Pekal mengenal tokoh Malin Deman yang menciptakan sunai untuk mengiringi tari gandai yang ditarikan oleh dayang-dayang. Walaupun berasal dari suku bangsa Pekal, masyarakat Kabupaten Mukomuko yang multi etnis menjadikan alat musik sunai sebagai bagian dari kesenian mereka. Pertanyaannya adalah  bagaimana fungsi sunai bagi masyarakat dan upaya pelestariannya hingga tetap eksis. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan wawancara, pengamatan, dan studi pustaka sebagai alat pengumpul data. Hasil penelitian menggambarkan bahwa sunai menjadi pemersatu masyarakat yang beraneka ragam budaya dan menjadi milik bersama masyarakat Kabupaten Mukomuko. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya pemain sunai dan tampil mengiringi tari gandai. Pemerintah Kabupaten Mukomuko juga melakukan berbagai kegiatan agar sunai semakin dikenal oleh masyarakat.

Perkembangan Bioskop di Kota Prabumulih 1950 – 2000

0
Penulis: Efrianto
Abstract

Bioskop merupakan sarana hiburan rakyat yang populer dan dinikmati oleh masyarakat dari berbagai lapisan dan kelas ekonomi. Hal ini yang menyebabkan bioskop tumbuh dan berkembang ke berbagai daerah di Indonesia. Kota Prabumulih yang memiliki luas 421,6 Km2 dalam sejarahnya pernah memiliki 5 gedung bioskop. Hal ini jelas menggambarkan  bioskop memiliki kenangan tersendiri dalam kehidupan masyarakat di Prabumulih. Tulisan ini mencoba mengungkapkan tentang bioskop di Prabumulih dan kenangan masyarakat ketika menonton di gedung bioskop. Untuk menjawab tujuan penulisan diatas digunakan motede sejarah yang terdiri dari terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Untuk heuristik diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka dengan mengunakan teknis analisis data model interaktif, setelah itu dilanjutkan kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bioskop telah lama hadir di Prabumulih dan setiap gedung bioskop memiliki fasilitas sarana dan prasarana yang berbeda antara gedung bioskop. Perbedaan ini meninggalkan kenangan tersendiri bagai masyarakat di Prabumulih.

Selengkapnya baca: https://jurnalbpnbsumbar.kemdikbud.go.id/index.php/penelitian/article/view/36

REFLEKSI NILAI BUDAYA DALAM UNGKAPAN TRADISIONAL MASYARAKAT LUBUKLINGGAU SUMATERA SELATAN

0

Penulis: Hasanadi

 

Abstrak

Penelitian ini menelaah nilai budaya masyarakat Lubuklinggau Sumatera Selatan melalui berbagai ungkapan tradisional. Ungkapan tradisional dimaksud adalah : (1) Ungkapan payu ponga nilek ngelup. Jengan melawan wang tue nilek meresak; (2) Ungkapan awak tue betunak dǝak hiyang melam kire nak ngelong; (3) Ungkapan lah ngidar lah baputar lom dǝpat jelan hatuju; (4) Ungkapan makan ati nenggung sedingan rube abis resan urung; (5) Ungkapan lambat bekat gǝcang dǝpat. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra serta diperkuat dengan analisis hermeneutik peneliti menyimpulkan bahwa bahwa kelima ungkapan dimaksud merefleksikan nilai budaya masyarakat Lubuklinggau, terutama terkait dengan beberapa hal, yaitu : (1) Perlunya komitmen untuk senentiasa berbakti dan patuh kepada orang tua; (2) Pentingnya isteri sebagai pasangan hidup serta kesungguhan menjaga keutuhan keluarga; (3) Perlunya pengetahuan dalam memahami dinamika dialog yang berkembang di tengah masyarakat; (4) Perlunya kompromi dalam menjaga jalinan silaturahim antar warga masyarakat; dan (5) Pentingnya kecermatan sekaligus kecepatan dalam setiap bidang usaha yang ditekuni.

Kok Jauah Cinto Mancinto, Dakek Jalang Manjalang

0
Undri

Penulis: Undri

Ironi, terkadang kita bertetangga saja tidak saling kenal, tegur sapa dan tidak ada rasa berempati kebaikan. Begitu juga dengan orang dirantau, tidak mau pulang kampung membangun kampungnya-tidak ada saling merindukan datangnya waktu untuk berkumpul bersama orang rantau dengan orang yang tinggal dikampung. Sebuah fenomena yang jauh dari nilai kebaikan yang mestinya harus kita hindari. Tidakkah kita belajar ungkapan kok jauah cinto mancinto, dakek jalang manjalang (bila jauh cinta mencinta, dekat jelang menjelang).

Sebuah ungkapan yang syarat makna, bermakna bila berjauhan harus ditanamkan rasa saling cinta mencintai, rasa ingin saling bertemu atau saling merindukan datangnya waktu untuk dapat kembali berkumpul bersama. Meskipun tempat berjauhan, kalau dalam diri masing-masing telah tertanam rasa saling cinta mencintai maka akan selalu terasa dekat.

Baca juga: Papek di Lua, Runciang di Dalam – Talunjuak Luruih Kalingkiang Bakaik

Perihal ini tidak terlepas dari prinsip hidup orang Minangkabau dengan merantaunya. Pijakannya adalah  karakatau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu di kampuang baguno balun (karatau (morus indica) tumbuh di hulu, berbuah berbunga belum, merantau bujang  dahulu di kampung berguna belum). Dirantau haruslah tangkas dan gigih, agar pulang dapat membantu orang dikampung. Ketika sang Minang merantau, dan ketika kembali dari daerah rantau, mereka harus membawa sesuatu, harta atau pengetahuan, sebagai simbol keberhasilan.. Kalau tidak, orang kampung akan menyebut mereka bagaikan “seekor siput pulang ke rumahnya” (pulang langkitang) atau menyebut mereka “begitu perginya, begitu pulangnya) (baitu pai, baitu pulang).

Jika pergi merantau sudah berpunya kemampuan secara ekonomi dan ilmu pengetahuan baliklah pulang. Kita tidak dapat menafikan dibeberapa kampung masih ada orang miskin, perlu dibantu jua. Adakah misi budaya yang seperti itu masih tertanam dipikiran sang perantau Minang kini? Jangan-jangan pulang ke kampung hanya ingin pamer kekayaan kepada orang kampung, bahwa si Minang telah berhasil di rantau, setelah dipamerkan kepada orang kampung langsung pergi tanpa peduli dengan nasib orang kampung. Walaupun begitu halnya, yang lebih parah lagi banyak orang dari rantau yang pulang kampung bila ada maunya. Jangankan untuk menolong, mengais reski pula dari orang kampung tersebut. Orang Minang memiliki filantropi yang sangat besar. Coba bayangkan bila roda ini dijalankan-satu orang perantau saja membantu sanak keluarga dan kampung halamannya. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi? Yang jelas persoalan di kampung halaman kita akan teratasi, seperti masalah kemiskinan.

Perasaan lain yang menjadi dasar seorang Minangkabau menyenangi kampung asalnya tidak selalu disimpan dalam hati namun diungkapkan dalam bentuk kata-kata puitis, seperti sebuah ungkapan dalam bentuk sebuah puisi tentang Batang Sinamar berikut ini : jika ku pandang permaimu dalam lukisan,  terdengar gemuruh deru airmu, disertai siamang berbalas-balas,  teringat kampung halaman di tepi lembahmu, penuh kenangan masa yang lampau,  yang kurindukan jauh di rantau  (Bahasa disesuaikan dengan EYD, sumber Hanafiah, 1970).

Sebaliknya bila tinggal berdekatan, usahakanlah agar supaya dapat jelang –menjelang, saling kunjung mengunjungi antara yang satu dengan yang lain. Dengan adanya rasa saling cinta mencintai baik bagi yang tinggal berdekatan maupun berjauhan tempatnya, maka akan lebih terjalin serta akan lebih mendalam rasa kekeluargaan, rasa saling hormat menghormati, rasa persatuan dan kesatuan. Prinsipnya adalah kalau ada sesuatu kejadian dirumah kita, yang pertama kali kita minta tolong adalah tetangga kita sendiri. Maka berbaik-baiklah dengan sesama tetangga kita.

Perihal ini tidak terlepas bahwa sesama individu berada dalam posisi yang sederajat, sebagaimana diungkapkan dalam petatah ini: tagak sapamatang duduak sahamparan; duduak samo randah tagak samo tinggi. Masing-masing berhak mempertahankan eksistensinya dalam prosesi kehidupan dan berkewajiban untuk memelihara kelanggengan harmoni sosial diantara sesama manusia, dan jangan ditonjolkan ego masing-masing, saling hormat dan menghormati. Sebab dalam hidup bermasyarakat kita harus selalu menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Begitu juga dalam lingkungan pergaulan, berlaku ketentuan yang berlandaskan pada rasa kebersamaan, dan memilihara sikap menjaga perasaan orang lain khususnya tetangga agar tidak tersinggung.

Jadi, ungkapan ini terkandung makna agar supaya dalam setiap diri kita merasakan seakan-akan kita satu keluarga, yang satu merupakan  bahagian dari yang lain. Muaranya akan tumbuh sikap saling hormat menghormati serta dapat bekerja sama dalam bentuk apapun dalam kehidupan ini, baik yang berada di rantau maupun dikampung. Mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah pada Minggu, 12 Mei 2019

KONTRUKSI PEREMPUAN DALAM FILM HANTU SUNDEL BOLONG

0
Penulis: Ani Rostiyati

 

Abstract

Penelitian ini mengkaji film-film horor yang mengangkat mitos mengenai hantu Sundel Bolong sebagai tema cerita. Empat film yang menjadi objek penelitian ini yaitu: Sundel Bolong (1981), Malam Jumat Kliwon (1986), Legenda Sundel Bolong (2007), dan Sundel Bolong 2 (2008). Keempat film tersebut mengisahkan tentang perempuan yang menjadi sundel bolong. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengafirmasi kekerasan seksual yang dialami perempuan. Penelitian ini menggunakan sudut pandang feminisme yang mencakup pembahasan mengenai hubungan seksual, femme fatale, dan teori film feminis. Kajian ini menggunakan metodologi interpretatif yakni suatu pendekatan tafsir yang menggunakan ”teks” sebagai analogi atau model yang memandang, memahami, dan menafsirkan suatu kebudayaan atau gejala sosial budaya tertentu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perempuan dalam film sundel bolong merupakan objek dalam hubungan seksual dan kematiannya merupakan kebangkitannya dalam wujud hantu. Sundel Bolong yang kecewa terhadap laki-laki dan frustrasi muncul sebagai sosok femme fatale dan membalas dendam dengan menggunakan tipu muslihat feminin seperti kecantikan, pesona, dan daya tarik seksual. Penindasan seksualitas perempuan adalah subteks penting dari film horor bertema Sundel Bolong.

Selengkapnya baca: https://jurnalbpnbsumbar.kemdikbud.go.id/index.php/penelitian/article/view/25

Papek di lua runciang di dalam, talunjuak luruih kalingkiang bakaik

0
Undri

Penulis: Undri

Jujur, semua orang paham akan kata dan maknanya, tetapi begitu mudah mengabaikannya dan sulit dikerjakan. Tidaklah salah, banyak diantara kita berkata bila jujur semakin langka dan telah terkubur, dan tidak lagi menarik bagi kebanyakan orang. Coba saja bila kita tidak jujur satu kali saja, seumur hidup orang tidak akan percaya. Orang yang tidak jujur biasanya memiliki sifat yang tercela, mulut manis tapi hati jahat dan berbisa, suka menipu- papek di lua runciang di dalam, talunjuak luruih kalingkiang bakaik.

Bagaimana dengan perihal jujur itu sendiri ?. Jujur adalah sifat yang baik. Orang yang jujur selalu disenangi dan disukai dalam pergaulan. Salah-satu sifat manusia yang mulia, biasanya mendapat kepercayaan dari orang lain. Orang jujur akan mengatakan sesuatu apa adanya. Tidak menyembunyikan sesuatu dan tidak pula melebih-lebihkan atau mengurangi. Menyampaikan sesuatu dengan kenyataan atau menyampaikan sesuatu yang benar. Itulah jujur.

Kita tidak dapat menafikan bahwa seseorang yang diberi untuk memegang amanah adalah orang yang jujur maka amanah tersebut tidak akan terabaikan dan dapat terjaga atau terlaksana dengan baik. Konsekuensi terbalik bahwa amanah tersebut jatuh ke tangan orang yang tidak jujur, berakibat keselamatan amanah tersebut pasti tidak akan terjaga dengan baik.

Orang yang tidak jujur biasanya selalu mancari muko, supaya mendapat perhatian dari orang lain. Orang tersebut disebut juga tukang cari muko. Tukang cari  muko ada disekitar kita, muncul dilingkungan kerja, perkantoran, perusahaan, komunitas, organisasi dan lainnya. Bisa teman dekat kita, dia hidup berkeliaran setiap hari di sekitar kita, dan juga berteman dengan rekan-rekan kita yang lain, atau diri kita sendiri. Dikantor-kantor birokrasi misalnya, ketika ada pimpinan baru berduyun-duyunlah –kasak kusuak si pegawai bawahan cari muko kepada pimpinan baru tersebut,- sibuk cari perhatian dan ingin menunjukkan sikap yang menurut takarannya benar tapi menurut orang lain belum tentu benar.

Secara prinsip munculnya tukang cari muka tidak terlepas dari unsur persaingan yang tidak professional, yang kadang kala merugikan orang lain. Umumnya mereka yang suka cari muka karena dalam hatinya selalu memiliki ambisi yang tinggi tapi tidak diiringi dengan kemampuan yang mumpuni. Semua itu untuk menutupi kekurangannya. Tak peduli ulah mereka merugikan orang lain, yang penting atasan senang. Tidak dapat kita pungkiri hal seperti ini terkadang dalam sebuah kinerja akan menguras emosi kita dan tidak menghasilkan kerja yang baik pula.

Tidak berhenti disitu saja, seorang tukang cari muka sering menjadi corong penyampaian tanpa diminta, apalagi tentang  hal-hal yang  mengenai  kesalahan rekan kerjanya, berapi-api memberikan informasi yang buruk tentang rekan kerjanya tersebut kepada semua orang, bahkan juga kepada atasannya, tak peduli apakah laporan itu sesuai fakta, ataupun hanya rekayasa. Begitulah kodrati, bila seorang tukang cari muka diperbincangkan.

Sifat jujur merupakan salah-satu rahasia diri seseorang untuk menarik kepercayaan umum karena orang yang jujur senantiasa berusaha untuk menjaga amanah. Amanah, sesuatu yang berat karena harus menjaga dan merawat dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab titipan orang. Sudah fatwa alam bahwa berhasil atau tidaknya suatu amanat sangat tergantung pada kejujuran orang yang memegang amanat tersebut.

Kejujuran dalam perkataan, sangat penting dalam pergaulan manusia. Karena itun sifat jujur harus kita biasakan dan menjadi milik kita. Orang yang tidak jujur dalam perkataannya disebut pembohong. Sifat yang harus kita jauhi dalam hidup ini, sebab  orang pembohong tidak disenangi, bahkan dibenci dalam pergaulan. Orang yang jujur adalah orang yang lurus, mengatakan yang sebenarnya. Setiap perbuatan dilakukan secara tulus dan ikhlas, tidak mudah tergoda dengan imbalan yang membuat rusaknya sifat ikhlas itu sendiri. Ia tidak pernah berlaku curang. Pituah urang tuo-tuo kita – satali pambali kumayan, sakupang pambali katayo, sakali lancuang ka ujian, saumua hiduik urang indak picayo. Begitu indahnya jujur bila kita terapkan dalam hidup ini, dengan adanya jujur tersebut rasa saling curiga mencurigai diantara kita tidak terjadi apalagi ada orang yang berprilaku sebagai tukang cari muko tersebut.

Jadi, jujur merupakan perinsip hidup yang harus kita tanamkan dalam diri kita.  Nukilan sabda Muhammad Rasulullah SAW “katakanlah yang benar meskipun terasa pahit”, senanada dengan itu pituah orang tua-tua kita mematrikan : hitam tahan tapo, putiah tahan sasah, putiah kapeh dapek dilihek, putiah hati bakaadaan, dan terakhir jujur itu hebat.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah pada Minggu, 5 Mei 2019

Pusat Data Matrilineal Sebagai Sumber Sejarah dan Budaya Minangkabau

0
Mardoni

Penulis: Mardoni

Kebesaran sistem matrilineal di Minangkabau tidak bisa dibantahkan lagi. Sistem ini, hanya dianut beberapa suku bangsa di Indonesia, diantaranya yakni suku bangsa Minangkabau di Sumatera Barat dan suku bangsa Flores di Nusa Tengara Timur. Khusus di Minangkabau idealisme ini sangat dibanggakan oleh penganutnya. Sistem matrilineal diartikan sebagai sistem kekerabatan matrilineal dimana anggota masyarakatnya menarik garis keturunan ke atas melalui ibu, ibu dari ibu, terus ke atas sehingga dijumpai seorang perempuan sebagai moyangnya. Akibat hukum yang ditimbulkannya semua keluarga adalah keluarga ibu, anak-anak adalah masuk keluarga ibu, serta mewarisi dari keluarga ibu. Sistem kewarisannya disebut dengan cara berfikir komunal atau kebersamaan sehingga sistem ini menitikberatkan garis keturunan kepada  ibu.

Usaha pelestarian terhadap sistem matrilineal ini menjadi penting untuk dilakukan. Mengingat hanya beberapa saja suku bangsa yang memakai sistem ini. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan, menegaskan bahwa ada beberapa usaha yang bisa dilakukan dalam pelestarian kebudayaan, berupa inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, penyelematan. publikasi, pengembangan, pemamfaatan, dan pembinaan. Salah satu usaha tersebut adalah usaha dalam mempublikasikan kebudayaan. Dalam pasal 28 Undang-Undang kebudayaan ini menerangkan bahwa publiksasi kebudayaan dapat dilakukan untuk penyebarluasan informasi kepada publik baik di dalam negeri maupun di luar negeri dengan mengunakan berbagai bentuk media.

Mempublikasi data dan informasi dapat dilakukan dengan mengunakan berbabagi media, melalui media elektronik seperti televise dan radio, media sosial, dan sebagainya. Juga melalu media cetak seperti buku, majalah, koran, dan sebagainya. Ada media lain yang mungkin terlupakan oleh kita selama ini yaitu melalui perpustakaan. Dimanakah ada peprustakaan yang mengkhususkan koleksinya tentang kebudayaan. Itu sangat dan sangat jarang kita temui.

Dalam rangka mendukung usaha pelestarian nilai budaya di Sumatera Barat, dan khususnya melestarikan sistem matrilineal di Minangkabau, di kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat sudah dibangun Pusat Data Matrilineal BPNB Sumatera Barat. Wadah ini merupakan pengelolaan berbagai data-data baik dalam bentuk cetak dan digital yang berhubungan dengan sitem matrilineal di Minangkabau. Pusat Data Matrilineal nantinya dikelola dalam bentuk perpustakaan yang khsusus mengelola data dan informasi  tersebut. Perpustakaan khusus ini mencoba menembus ruang batas dan menjawab tantangan terhadap minimnya minat publik dalam hal koleksi sejrah dan budaya Minangkabau.

Publikasi kebudayaan yang dilakukan oleh perpustakaan khusus ini ada beberapa bentuk, yaitu publikasi secara cetak, dan publikasi secara daring (digital). Pertama, publikasi cetak, dilakukan dalam bentuk pengelolaan koleksi-koleksi cetak yang berkaitan dengan sejarah dan budaya matrilineal. Koleksi yang berhubungan dengan sistem matrilineal yang dimiliki oleh perpustakaan banyak berkaitan dengan kebudayaan Minangkabau, seperti Peran Bundo Kandunag, peran mamak dalam pendidikan, pantun Minang, permainan tradisional anak Minanggkabau, Inventarisasi warisan budaya tak benda Minangkabau, berbagai kuliner khas Minangkabau (rendang, sala lauk, dan lain-lain), maha karya rumah gadang, dan masih banyak koleksi cetak lainnya. Masyarakat dapat berkunjung ke perpustakaan khusus sejarah dan budaya Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat setiap hari kerja dari jam 08.00-16.00 yang berada di Jalan raya Belimbing Nomor 16 A Kuranji Padang.

Kedua, Publikasi daring, (digital/online). Publikasi secara daring dapat diakses melalui dua buah web. resmi perpustakaan yaitu di www.perpusbpnbsumbar.kemdikbud.go.id  dan di repositori.kemdikbud.go.id. Pusat data Matrilineal atau disebut juga dengan perpustakaan khusus sejarah dan budaya BPNB Sumatera Barat, dalam rangka meningkatkan publikasi dan pelayanannya, saat ini sudah dapat diakses secara daring/digital/online. Beragam koleksi perpustakaan dapat diakses melalui web. tersebut. Saat ini sudah hampir 2700 judul dengan 3000 eksemplar koleksi yang bisa diakses disini. Pelayanan sirkulasi koleksi ini sudah dapat diakses sejak setahun yang lalu (2018) sampai saat ini.

Layanan sirkulasi koleksi juga didukung dengan repositori institusi BPNB Sumatera Barat. Repositori institusi merupakan layanan perpustakaan yang menyediakann koleksi secara digital  (format pdf) sehingga masyaraat luas dapat dan bisa memiliki  koleksi tersebut secara gratis. Caranya mudah, cukup dengan mengases web diatas, dan mengunduh koleksi sesuai dengan tema yang diinginkan. Repositori ini merupakan peyimpanan koleksi terbitan BPNB Sumatera Barat, diantaranya Perjuangan Sultan Alam Bagagarsyah, Bagindo Tan Labiah, koleksi jurnal suluah, dan sebagainya [Penulis adalah Staf Pegawai Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

PEMBERANTASAN BUTA AKSARA AL-QUR’AN PADA SUKU ANAK DALAM (SAD) (Studi Kasus di Desa Dwi Karya Bhakti Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo Provinsi Jambi)

0
Penulis: Muklisin Muklis Mukidi

 

Abstract

Era reformasi telah membawa perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai bidang kehidupan termasuk bidang pendidikan. Salah satu program yang dicanankan pemerintah yaitu pemberantasan buta aksara termasuk di dalamnya aksara Al-Qur’an. Program pemberantasan buta aksara Al-Qur’an adalah rancangan yang akan dilaksanakan dalam memusnahkan atau membasmi kebutaan sistem penulisan dan cara membaca Al-Qur’an. Bagi Suku Anak Dalam di Desa Dwi Karya Bhakti yang baru masuk dan mengenal Islam, menulis dan membaca Al-Quran tentu menjadi kendala atau masalah. Bagaimana metode dalam memberantas buta aksara Al-Qur’an pada Suku Anak Dalam di Desa Dwi Karya Bhakti dan apa saja kendalanya?. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metode dan kendala dalam pemberantasan buta aksara Al-Qur’an pada Suku Anak Dalam di Desa Dwi Karya Bhakti. Pada penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Dalam penelitian ini bahwa pada Suku Anak Dalam khususnya dalam pemberantasan buta aksara Al-Qur’an, masih belum maksimal karena Suku Anak Dalam mayoritas baru menjadi mualaaf, dan jarak tempuh untuk belajar mengaji juga sangat jauh serta kurangnya guru untuk mengajar mengaji masih sangat minim.

Selengkapnya baca: https://jurnalbpnbsumbar.kemdikbud.go.id/index.php/penelitian/article/view/22

Gadang Tungkuih Tak Barisi, Gadang Galogok Tak Bamalu

0
Undri

Penulis: Undri

Apa yang kita sombongkan dimuka bumi ini ?. Tiba saatnya kekayaan berupa harta benda yang kita miliki akan habis, paras wajah nan elok akan keriput diusia senja. Belajarlah seperti padi, makin berisi makin merunduk, artinya makin kaya dan makin banyak ilmu kita harus makin rendah hati. Jangan pula ditiru sifat ayam, bertelur satu ribut sekandang- tahu pula orang sekampung, berilmu sedikit sudah menyombongkan diri.

Sifat sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. Seseorang yang berlagak sombong dan angkuh biasanya kurang mempunyai perasaan malu. Selaras dengan itulah diperlukan orang yang memiliki sifat rendah hati.

Bagaimana dengan orang yang memiliki sifat rendah hati ?. Orang yang mempunyai sifat rendah hati akan disenangi orang, ketika dia tidak ada orang merasa kehilangan. Orang yang memiliki sifat rendah hati mudah bergaul dengan siapa saja, tidak memilih teman baginya manusia itu sama saja. Kaya atau miskin, apakah cantik atau jelek, anak pejabat atau rakyat badarai. Semuanya itu tetap dijadikan teman bagi orang yang rendah hati tersebut. Diretas dalam ungkapan : anggang nan datang dari lawuik, tabang sarato jo mangkuto, dek baik budi nan manyambuik, pumpun kuku patah pauahnyo– seseorang yang disambut dengan budi yang baik dan tingkah laku yang sopan, musuh sekalipun tidak akan menjadi ganas, semuanya jadi sahabatnya dalam hidup ini.

Bagaimana kita bisa menentukan dan menilai seseorang memiliki sifat rendah hati. Tentu mudah, sebab seseorang yang memiliki sifat rendah hati memiliki sifat yakni : ia selalu minta maaf kalau bersalah, dan selalu minta ampun dan bertobat kalau berdosa- salah cotok malantiangkan, salah ambiak mangambalikan, salah makan mamuntahkan, salah pado manusia minta maaf, salah pado Allah minta tobat.

Hal ini dilakukan oleh manusia sebab yang ditinggalkan oleh manusia setelah mati itu adalah kepribadian yang baik. Fatwa adat  harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Sebab itu seseorang harus berusaha agar dia meninggalkan nama baik, pada saat dia mati. Ini tentu mengandung pengertian bahwa dia selama hidupnya harus berbuat baik. Begitu juga hendaknya- nan katuju diawak itu, rancak diurang handaknyo (yang kita sukai itu, hendaknya pula bagus bagi orang lain).

Bukan itu saja dalam adat Minangkabau mengutamakan sopan santun dalam pergaulan. Budi pekerti yang tinggi menjadi salah-satu ukuran martabat seseorang- nan kuriak iyolah kundi, nan sirah iyolah sago, nan baiak iyolah budi, nan indah iyolah baso (yang kuriak ialah kundi, yang merah ialah saga, yang baik ialah budi, yang indah ialah basa).

Menurut Ermaleli (2013 :48-49), seluruhnya itu bertujuan untuk membentuk pribadi yang berbudi luhur, manusia yang berbudaya, dan manusia yang beradab. Sebab dari manusia yang beradab itulah akhirnya diharapkan akan melahirkan suatu masyarakat yang aman dan damai, sehingga memungkinkan suatu kehidupan yang sejahtera dan bahagia, dunia dan akhirat- baldatun tayyibatun wa rabbun gafuur– masyarakat yang aman, damai dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Sebuah keinginan luhur yang amat mulia dalam hidup ini.

Untuk mencapai masyarakat yang demikian, diperlukan manusia yang memiliki sifat rendah hati. Sifat rendah hati menjauhkan diri kita dari sifat sombong, congkak, angkuh, acuh tak acuh kepada orang lain. Ungkapannya yakni kacak langan lah bak langan, kacak batih lah bak batih, bajalan dirusuak labuah, tagak sarupo urang mambali, duduak sarupo urang manjua, sarupo lonjak labu dibanam, sarupo kacang diabuih ciek.

Disinilah sebetulnya letak akhlak yang luhur dan mulia. Sebuah fondasi yang diajarkan kepada kita dalam hidup ini. Sebuah kewajiban bagi kita untuk memiliki akhlak yang terpuji, mulia dan menjauhi diri dari akhlak yang tercela. Salah-satu akhlak yang buruk tersebut adalah sikap sombong tersebut. Kato pusako-kok mandi di ilie-ilie, kok bakato di bawah-bawah, sifat sombong usah dipakai, budi baiak nan kapaguno.

Jadi kita tidak boleh mempunyai sifat sombong apalagi sifat tinggi hati sebab manusia itu banyak kekurangan dan kelemahannya. Pupuklah sifat rendah hati, tapi jangan memakai sifat rendah diri. Sebab sifat rendah diri itu adalah sifat yang tidak baik karena akan merugikan kita dan orang lain. Mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah pada Minggu, 28 April 2019.

Upacara Bekeu Malekbuk: Nilai-Nilai Budaya dalam Pengadilan Tradisional

0
bunga Hibiscus

Penulis: Mardoni

Bunga ibiscus, begitulah masyarakat Mentawai menamakannya. Dari berbagai sumber bunga ini bernama Hibiscus (kembang sepatu). Bunga ini memiliki klasifikasi ilmiah Kingdom : Plantae (Tumbuhan), Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh), Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji), Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga), Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Magnoliopsida, Sub Kelas : Dilleniidae, Ordo : Malvales, Famili : Malvaceae (suku kapas-kapasan), Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus rosa-sinensis.

Hebatnya, didaerah pedalaman Desa Madobag Pulau Siberut Selatan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, bunga ini dipakai untuk mencari pencuri. Di berbagai masyarakat lain di Sumatera Barat, bunga ini dijadikan sebagai pengobatan tradisional, baik daun atau bunganya. Dengan cara dihaluskan dan dioleskan pada dada atau punggung si sakit. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia bunga ini dijadikan teh, dengan cara dikeringkan. Di India, bunga ini digunakan untuk menyemir sepatu, sedangkan sebagian masyarakat di Tiongkok bunga hibiscus merah digunakan sebagai bahan pewarna makanan alami. Di pedalaman mentawai bunga ini digunakan untuk upacara bekeu malekbuk

Masyarakat pedalaman di daerah Desa Madobag pedalaman Pulau Siberut Selatan Kepulauan Mentawai Sumatera Barat mencari pencuri atau orang yang melakukan kejahatan (kecil) melalui upacara tradisinal bekeu malekbuk. Upacara bekeu malekbuk adalah pengadilan masyarakat adat terhadap kejahatan kecil. Pengadilan ini ada dan hanya digunakan untuk kejahatan kecil dan bukan merupakan kriminal berat..

Pengadilan ini merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat Mantawai dalam hal pelaksanaan hukum adat terhadap masyarakat yang melakukan kejahatan atau pelanggaran terhadap norma di daerahnya. Pengadilan ini dipimpin oleh seorang Sikerei sebagai wali hakim. Sikerei merupakan pemimpin adat dalam masyarakat Mentawai. Kasus yang sering dipecahkan dalam pengadilan ini adalah pencurian, dan kasus-kasus lainnya yang bersifat kejahatan kecil. Kalau terjadi pencurian kecil, sebut saja mencuri makanan, maka kasusnya diselesaikan oleh Sikerei dengan melakukan upacara bekeu malekbuk. Upacara dilaksanakan dengan mengunakan bunga ibiscus. Bunga dipakai sebagai alat untuk mengarahkan siapa pencurinya. Pemilihan bunga ini untuk memudahkan dalam melakukan upacara, dan bunga ini tumbuh subur di perkampungannya.

Tata cara pelaksaan upacara bekeu malekbuk adalah dengan mengumpulkan orang-orang yang dicurigai sebagai pelaku. Mereka disuruh duduk berkeliling menghadapi sebuah wadah yang berisi air. Didalamnya diapungkan bunga ibiscus (warnanya tidak jadi ukuran) dengan tangkainya yang pendek. Bunga didorong oleh Sikerei dengan mencelupkan jari telunjuk ke cawan dan airnya diputar searah jarum Jam, sehingga bunga berputar mengitari orang-orang yang duduk berkeliling tadi.

Kemudian sekali lagi sambil menyuruh bunga untuk mencari siapa yang bersalah atau yang mencuri. Bila usaha yang dilakukan untuk memutarkan bunga sudah mencapai tiga kali dan bunga selalu berhenti pada orang yang sama, maka orang itulah yang dianggap sebagai pencurinya. Tetapi kalau bunga itu tidak berhenti pada orang yang sama, hal semacam ini disebut sengan Taiteukenia, artinya bunga enggan disuruh atau tidak mau menunjukkan pencurinya.

Sekarang sebutlah, bunga itu telah menunjukkan seseorang sebagai pelakunya. Maka semua orang akan arif dan diam-diam bangkit dari duduk dan pergi meninggalkan tempat tersebut dengan aman dan tertib. Semua orang tidak boleh memberikan komentar apapun karena tidak sopan dan tidak mematuhi tata upacara. Orang yang tertuduh kalau benar-benar pencurinya, akan berusaha mengembalikan barang curian tersebut dengan diam-diam pada malam hari agar tidak diketahui orang lain. (Data ini diperoleh dari laporan pencatatan Warisan Budaya Tak Benda di Pulau Siberut Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2013 oleh BPNB Sumatera Barat).

Upacara adat ini masih bertahan dan dijalankan oleh masyarakat adat di Desa Madobag Mentawai sampai saat ini. Pengadilan tradisional ini sangat sederhana. Kesederhanaan ini masih dihormati oleh masyarakatnya sebagai milik dan kekayaan pengetahuan lokalnya. Terdapat banyak nilai-nilai budaya yang masih dipertahankan dalam upacara ini oleh Masyarakat Madobog.

Pertama, nilai menjaga alam. Tidak hanya menebang hutan, mengotori air juga merupakan suatu tindakan yang tidak bisa dibenarkan, bahkan bisa mendatangkan hukuman berupa denda adat. Denda itu setara dengan seekor babi, yang termasuk harta berharga bagi masyarakat Mentawai. Di sungai, buang air kecil saja dilarang, apalagi buang air besar, sangat tidak diperbolehkan karena air adalah sumber kehidupan. Dengan demikian, kelestarian hutan dan air di Mentawai tetap terjaga. Begitu selektif mereka terhadap alam dan lingkungannya.

Kedua, nilai praduga tidak bersalah dalam hukum, dalam hukum formal dikenal dengan azas praduga tak bersalah. Hukum adat mentawai juga mengenal azas tersebut. Penerapan nilai ini dilakukan pada saat pemanggilan individu yang diduga bersalah. Mereka dikumpulkan dan dihadapkan dalam pengadilan adatnya.

Ketiga, nilai kesadaran hukum. Kesadaran akan hukum bagi mereka sangatlah mulia. Mereka menghormati dan menghargai orang yang ditetapkan sebagai bersalah. Semua orang yang hadir dalam pengadilan tersebut tidak memberikan komentar apa-apa ketika seseorang diberi sanksi hukum. Komentar terhadap orang yang bersalah dianggap sebagai perilaku yang tidak sopan dan tidak mematuhi tata upacara adat ini.

Keempat, nilai kepastian hukum. Kepastian terhadap hukum perlu dipertegas dalam kehidupan bermasyrakat. Nilai kepastian hukum ini diperoleh oleh masyarakat dengan pengadilan adat bekeu malekbuk. Orang yang sudah ditetapkan bersalah dalam pengadilan ini, dengan sadar akan melakukan sanksi adat yang ditetapkan. Jika dia mencuri, maka ia akan berusaha untuk mengembalikan barang yang diambilnya dengan cara diam-diam pada malam hari agar tidak diketahui oleh orang lain.

Nilai-nilai ini masih dijalankan dan dipelihara oleh masyarakat adat Mentawai dengan mengutamakan prinsip-prinsip nilai diatas [Penulis adalah Staf Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

bunga Hibiscus

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 21 April 2019

RINTISAN AWAL PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH DI SUMATERA BARAT TAHUN 1925-1939

0
Penulis: Fandy Aprianto Rohman, Mulyati Mulyati

 

Abstract

Muhammadiyah pada awalnya hanya berkembang di wilayah Pulau Jawa saja, namun dalam waktu cepat dapat menyebar ke seluruh Indonesia, termasuk ke Sumatera Barat. Pada tahun 1925, Syekh Abdul Karim Amrullah membawa perserikatan ini ke Sumatera, tepatnya di Maninjau, Sungai Batang, Sumatera Barat. Dari sinilah Muhammadiyah semakin berkembang ke seluruh Sumatera. Penelitian ini menganalisis dan mendeskripsikan proses awal mula Muhammadiyah muncul di Sumatera Barat hingga usaha-usaha yang dilakukan Muhammadiyah untuk mengembangkan gagasan pembaruan. Adapun penelitian ini menggunakan teknik analisa kualitatif, yaitu analisa yang didasarkan pada hubungan sebab-akibat dari fenomena historis pada cakupan waktu dan tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tarik Muhammadiyah di Sumatera Barat terletak pada gerakan pemurnian Islam, terutama dalam bidang pendidikan. Muhammadiyah memperbarui sistem pendidikan Islam di Sumatera Barat dengan tujuan mendidik masyarakat agar menghindari hal-hal yang bertentangan dan menyimpang dari akidah Islam.

Selengkapnya baca: https://jurnalbpnbsumbar.kemdikbud.go.id/index.php/penelitian/article/view/20

Sayang di anak dilacuti, sayang di kampuang ditinggakan

0

Penulis: Undri

Sayang kepada anak bukan berarti semua kehendak anak harus dikabulkan. Segala tingkah lakunya yang kurang baik harus ditegur dan diajari. Sayang itu punya batas-batas tertentu, kalau dia bersalah orang tua harus memarahi bila perlu dilacuti. Begitu juga dengan sayang pada kampung, bukan pula berarti ditinggalkan buat selamanya. Pergilah menuntut ilmu, carilah penghidupan dan timbalah pengalaman ke negeri orang namun kampung halaman jangan dilupakan- sayang di anak dilacuti, sayang di kampuang ditinggakan (sayang di anak dilacuti, sayang dikampung ditinggalkan).

Sayang sebagai sebuah kata memiliki makna luas, namun seringkali disalahgunakan dan disia-siakan hanya untuk untuk terlihat romantis tanpa mengetahui arti yang sebenarnya namun jauh lebih dari itu, yakni perasaan yang cenderung bersifat memberi tanpa berharap mendapatkan balasan. Makna kata sayang sesungguhnya adalah perasaan ikhlas. Perasaan ikhlas itu baik si pelaku maupun si penerima dari sayang itu sendiri.

Sayang di anak dilacuti, bermakna begitu sayangnya orang tua kepada si anaknya, agar anak menjadi anak yang baik. Membingkai kearah tersebut maka perlu komunikasi. Komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak merupakan jembatan kearah menjalin kasih sayang. Ini bisa dimulai dari makan bersama.  Makan bersama, tidak hanya sekedar makan saja namun terkandung nilai yang maha dahsyat bila dilakukan dengan baik. Makan bersama tersebut bisa mengajari anak kita cara makan yang baik, cara duduk sampai cara berucap yang baik. Ketika anak kita duduk tidak sopan kita dapat mengajarinya cara duduk yang baik. Ketika anak kita duduk tidak sopan kita dapat menegur dan mempraktekkan cara duduk waktu makan yang baik pula. Ketika anak kita makan diselingi dengan ngobrol kita bisa memberitahukan bahwa hal tersebut tidaklah baik. Kita bisa menjelaskan bahwa ketika makan sambil ngobrol aliran makanan dalam perut tidak sempurna dan akan menganggu pencernaan. Waktu makan bersama, anak kita bisa didik cara makan dengan baik, berucap sampai kepada perihal cara berbagi cerita tentang pengalaman hidup kita.

Begitu juga dengan anak kita yang sudah akil baliq, bila tidak melaksanakan sholat dan kewajiban lainnya yang diwajibkan oleh Allah SWT maka kita sebagai orang tua untuk menegur, dan bila tidak juga kita harus melucutinya. Melucuti si anak bukan karena kita marah, namun kita sayang agar dikemudian hari kehidupan si anak menjadi lebih baik, baik untuk orang tuanya dan dirinya sendiri.

Sayang di kampuang ditinggakan, bermakna ketika si anak sudah dewasa, bagi laki-laki diajari untuk memahami dunia luar yakni menyuruh untuk merantau, merantau dalam arti kata meninggalkan kampung halaman juga meninggalkan pemikiran kekanak-kanakan menuju pemikiran kedewasaan.

Bagi orang Minangkabau mereka telah diajarkan untuk selalu tangkas baik dikampung halaman maupun dirantau. Di rantau misalnya pijakan hal ini adalah  karakatau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu di kampuang baguno balun (karatau (morus indica) tumbuh di hulu, berbuah berbunga belum, merantau bujang  dahulu di kampung berguna belum). Ketangkasan dan kegigihannya dirantau juga diasah dengan baik agar kelak menjadi perantau yang berhasil.  Filosofi kerantauan orang Minangkabau, yaitu sebaiknya dilakukan pada masa muda, untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman sebagai bekal hidup kelak dikemudian hari.

Nasehat bagi orang yang merantau juga agar jangan lupa kampung halaman namun jangan sampai rasa cinta pada kampung halaman membuatnya enggan mencari nafkah atau menuntut ilmu di rantau. Ungkapannya kapai madok kapulang, kapulang madok kapai-akan pergi menghadap pulang, akan pulang menghadap pergi. Begitulah besitan bagi kita memahami rantau yang sesungguhnya. Ungkapan ini digunakan oleh masyarakat Minangkabau untuk menasehati seseorang yang akan pergi merantau ke negeri orang, agar jangan sampai lupa pada kampung halaman dan dirantau mencari dunsanak dan induk semang tempat bergantung hidup di rantau orang-kalau jadi nak kapakan, iyo beli belanak beli,ikan panjang beli dahulu, kalau jadi nak berjalan ibu cari dunsanak cari, induk semang cari dahulu– begitulah hasrat bila seseorang merantau, yang memiliki misi yang amat baik dalam membangun silaturahmi dan penghidupan yang baik untuk masa depannya.

Jadi, begitu pentingnya pemahaman kita untuk memahami persoalan sayang itu sendiri. Khususnya sayang pada anak dan sayang pada kampung- sayang di anak dilacuti, sayang di kampuang ditinggakan (sayang di anak dilacuti, sayang dikampung ditinggalkan), mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah

Perempuan Politik dalam Perspektif Budaya Minangkabau

0
Silvia Devi

Penulis: Silvia Devi

Peran perempuan dalam berpolitik yang lebih dikenal dengan sebutan berdemokrasi sebenarnya bukan hal baru. Keterlibatan perempuan Minangkabau dalam politik kekuasaan dapat kita ketahui dari berbagai cerita di kaba. Salah satunya kaba Cindua Mato seperti yang diungkapkan oleh Edy Utomo (2014) bahwa kekuasaan perempuan Minangkabau  sangat besar tidak hanya karena sistem matrilinealnya tetapi karena memiliki kekuasaan memerintah. Begitu juga halnya perkembangan nagari-nagari semenjak dikeluarkannya Perda No 9 Tahun 2000 tentang sistem kembali ke nagari. Peran perempuan bundo kanduang tidak bisa dinafikkan karena perannya sejajar dengan keberadaan ninik mamak. Oleh karena itu jika dilihat dari sejarah begitu besar peran perempuan Minangkabau pada masa lalu, tentunya ini dapat dipahami bahwa perannya tidak melanggar adat. Justru sebaliknya malah memperkuat posisinya ditengah pentingnya sebuah kekuasaan dalam usaha menyelamatkan pemerintahan daerah.

Jika kita telusuri bahwa sistem matrilineal yang dimiliki masyarakat Minangkabau yakni menarik garis keturunan dari garis ibu, namun begitu kekuasaan tetap terletak ditangan laki-laki. Kekuasaan perempuan ada batasnya, begitu juga laki-laki memiliki kewajiban dan tanggungjawabnya yang jelas. Tidak ada tumpang tindih antara keduanya. Sistem egaliter yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau menempatkan kedudukan antara laki-laki sama dimata adat dan agama. Begitu juga dalam hal berpolitik, Ranny Emilia (2014) seorang pakar politik Universitas Andalas mengungkapkan bahwa peranan politik perempuan Minangkabau tidak berlaku hukum jender melainkan dilihat dari kemampuan dan pengalaman seseorang menyediakan perlindungan serta pengawasan dari kerusakan kultural dan material kelompok yang diwakilinya.

Hal ini senada yang diungkapkan oleh Raudha Thaib (2014) jika melihat kedudukan perempuan dan laki-laki Minangkabau dalam adat. Posisi laki-laki dan perempuan Minangkabau memiliki posisi yang sama, sama-sama memiliki kedudukan. Keduanya saling pengaruh mempengaruhi, adanya perimbangan dan kesimbangan dalam semua aspek kehidupan. Menurutnya institusi ibu dan institusi mamak terikat dan berimbang yakni institusi ibu melembaga dalam rumah gadang dan isntitusi mamak melembaga di balai adat.  Laki-laki memperoleh “kekuasaan”  dalam bentuk organisasi pemerintahan dan kepemimpinan baik bidang adat maupun dalam masyarakat. Sedangkan perempuan  memperoleh “kepemilikan” dalam bentuk seluruh harta baik rumah, tanah, sawah dan ladang serta anak-anak. Meski kepemimpinan ada ditangan laki-laki tetapi wajib menghormati kehendak kaum ibu sebelum mencapai keputusan.

Minangkabau memiliki falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabulah, maka segala norma adat dan agama semua telah diatur dan tidak saling tumpang tindih. Antara laki-laki dan perempuan minangkabau telah diatur dalam adat bagaimana cara berperilaku baik didalam rumah ataupun keluar rumah. Seorang perempuan minangkabau tidak mau sebebasnya bersikap, karena sesungguhnya perempuan minnagkabau memiliki sumbang. Sumbag duabelas yang dimiliki oleh perempuan Minangkabau sesungguhnya tidak mengecillkan perannya dimanapun, termasuk dalam hal berpolitik.

Posisi kaum perempuan menurut adat Minangkabau adalah sebagai tokoh sentral. Oleh karena itu ia harus menjalankan peran dan fungsinya sekaligus. Peran tersebut berlaku baik di sektor domestik maupun publik. Petatah petitih Minangkabau yang menggambarkan figur ideal perempuan yakni bundo kanduang sebagai limpapeh rumah nan gadang, umbun puruik pagangan kunci, pusek jalo kumpulan tali, sumarak dalam nagari dan sebagai nan gadang basa batuah, ka undang  undang ka Madinah, ka payuang panji ka sarugo.  Figur tersebut tentu memiliki berbagai tugas dan kewajiban yang harus ditaati antara lain manuruik alua nan luruih (mengikuti aturan), manampuah jalan nan pasa (mengikuti cara yang benar), mamaliharo harato pusako (memelihara harta pusaka), mamaliharo anak kamanakan (memelihara anak kemenakan). Oleh karena itu, Idrus Hakimy (1978) menyimpulkan bahwa  tak salah kiranya bundo kanduang yakni perempuan minangkabau dipandang mulia dan memegang fungsi  yang penting dalam masyarakat.

Bila dikaitkan dengan peran perempuan dalam berpolitik wujudnya adalah peran dalam demokrasi. Peran dalam demokrasi tersebut tercermin dalam bermufakat. Seperti yang ungkapan adat “ kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo kamufakat, mufakat barajo ka nan bana, bana badiri sendiri. Ini artinya kita sebagai masyarakat Minangkabau sangat menjunjung tinggi demokrasi, artinya tidak ada pembedaan jenis kelamin disini.

Keterlibatan perempuan dalam demokrasi terwadahi sejak adanya kewajiban kuota 30 persen caleg perempuan. UU No.2 Tahun 2008 mengamanahkan pada parpol untuk menyertakan keterwakilan perempuan minimal 30 persen dalam pendirian maupun kepengurusan di tingkat pusat. Namun sayangnya sampai saat ini keterwakilan itu belum maksimal. Inilah yang menjadi permasalahan terbesar yang dihadapi perempuan dalam politik. Sehingga kepentingan-kepentingan perempuan dalam kehidupan tidak terwakili. Keberadaan mereka yang dibawah 30 % tidak memudahkan mereka dalam memperjuangkan kepentingan ditengah dominasi laki-laki.

Rendahnya keterwakilan ini sebenarnya harus menjadi introspeksi diri bagi kaum perempuan. Mengapa ini terjadi, padahal kuota tersebut sudah diberikan, namun kenyataannya tak pernah tercapai. Oleh karena itu banyak upaya yang harus dilakukan oleh para kaum perempuan agar kepentingan mereka terwakili dalam berdemokrasi. Salah satunya yakni dengan terus meningkatkan pendidikan dan pengetahuan agar bisa sejajar dengan laki-laki. Apalagi jika dilihat dari paham masyarakat Minangkabau yang egaliter. Tak ada dibedakan secara jender, bahkan sesungguhnya perempuan Minangkabau memiliki kesempatan yang lebih untuk berkarya.

Terkait dengan demokrasi ini, peran perempuan sebagai pemilih lebih harus ditingkatkan. Jika tidak perempuan yang meningkatkannya maka siapa lagi. Adapun beberapa caranya yakni dengan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam dunia informatika. Hal ini dikarenakan ilmu pengetahuan terus berkembang pesat. Jika pada masa lalu kita tidak bisa mengetahui traderecord calon yang akan mewakili kita di parlemen baik daerah maupun pusat, maka saat ini berbeda zamannya. Teknologi memberikan kemudahan bagi kita untuk menggali lebih jauh siapa dan bagaimana calon tersebut. Dengan begitu diharapkan kepentingan para perempuan bisa terwakili oleh calon-calon perempuan di parlemen. Sehingga perempuan tidak lagi dimarginalkan dari berbagai sisi.

Seharusnya kita sebagai perempuan Minangkabau memiliki kesempatan berperan lebih luas, dikarenakan dalam pepatah dikatakan merupakan figur ideal. Namun, tentu saja semua itu tidak mudah. Banyak usaha keras yang harus dilakukan bagi semua perempuan Minangkabau agar benar-benar bisa wakil kaumnya di tengah demokrasi. Salah satu keunggulan perempuan Minangkabau yang dikenal memiliki sifat bijaksana, seperti ungkapan bak maelo rambuik dalam tapuang, rambuik nda putuih tapuang nda taserak. Artinya bahwa dalam mengambil sebuah keputusan tidak dilakukan secara grasa-grusu melainkan dengan hati-hati dan tidak melukai siapapun. Hal yang sulit tetapi itu bisa dilakukan dengan terus mengasah kemampuan untuk bisa bijaksana. [Penulis adalah Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 7 April 2019

ISLAMISASI DI KAWASAN LAUT SULAWESI PADA ABAD KE-19

0
Penulis: Muhammad Nur Ichsan Azis

 

Abstract

Islamisasi yang terjadi di Nusantara pada abad ke-19  tidak terlepas dari peran dan pengaruh para pedagang sekaligus ulama dari Timur Tengah yang membawa ajaran Islam. Proses Islamisasi dan konversi agama membutuhkan waktu dan proses panjang, hingga sampai  diterima oleh masyarakat setempat. Penerimaan ajaran Islam dilakukan melalui beberapa saluran, terutama dalam jaringan perdagangan. Kawasan Laut Sulawesi, sebagai entrepot, merupakan salah satu jalur Islamisasi karena perkembangan perdagangan rempah-rempah  di Maluku sebagai wilayah penghasil rempah-rempah.Tulisan ini bertujuan mengungkap proses Islamisasi di sekitar Kawasan Laut Sulawesi pada abad XIX. Tulisan ini merupakan tulisan sejarah, dengan menggunakan metode sejarah; heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi yang bersifat analisis-kualitatif dan mampu menunjukkan satu rangkaian proses Islamisasi yang terjadi di Nusantara sekitar abad XIX. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pengaruh Islam diawali dari proses perdagangan, di kawasan Laut Sulawesi, bagi pedagang yang menghubungkan ke Maluku sebagai satu pola Islamisasi, sehingga di masa berikutnya komunitas Muslim mampu menciptakan Moslemen clave di Semenanjung Laut Sulawesi.

Selengkapnya baca: https://jurnalbpnbsumbar.kemdikbud.go.id/index.php/penelitian/article/view/14

Tungkek Mambaok Rabah

0

Penulis: Undri

Bagaimana kalau tungkek-tongkat yang kita pakai membuat kita rebah ? Tidak membuat kita berdiri dan tegak. Tempat kita berpegang. Rasanya lunglai juga persendian kalau itu yang terjadi. Tongkat yang ditakdirkan dan diamanahkan untuk menopang dan membawa kita berdiri tegap, namun kini tongkat itu pula yang membawa kita terjatuh dan bahkan terjerembab. Tungkek mambaok rabah (tongkat membawa rebah) muncul ungkapan akhirnya.

Tungkek atau tongkat sesungguhnya ada pada diri kita atau dengan kata lain kitalah tungkek itu. Dalam tingkatan terkecil kita sebagai tungkek pada diri kita, sebagai tungkek dalam keluarga, dan dalam masyarakat. Orang yang diberi amanah tungkek tersebut disebut dengan pemimpin. Pemimpin buat diri kita sendiri, keluarga dan masyarakat. Orang yang didahului salangkah dan ditinggikan seranting. Orang yang memiliki sikap arif dan bijaksana, tanggap, dan sabar.

Orang yang arif bijaksana adalah orang yang dapat memahami pandangan orang lain, dapat mengerti apa yang tersurat maupun tersirat. Tanggap artinya mampu menangkis setiap bahaya yang bakal datang. Sabar artinya mampu menerima segala cobaan dengan dada yang lapang dan mampu mencarikan jalan keluar dengan pikiran yang jernih. Dilirik lebih jauh sisi keimanan maka muncul sifat siddiq (benar dalam berbicara dan benar dalam bertindak), amanah (dapat dipercaya),  fatanah (cerdas), dan tabligh (menyampaikan).

Ungkapan ini sangatlah cocok untuk mengambarkan hal diatas, tahu dikilek baliuang nan ka kaki, kilek camin nan kamuko, tahu jo gabak di ulu tando ka hujan, cawang di langik tando ka paneh, ingek di rantiang ka mancucuak, tahu di dahan ka maimpok, tahu di unak kamanyangkuik, pandai maminteh sabalun anyuik. (Tahu dengan kilat beliung ke kaki, kilat cermin yang ke muka, tahu dengan mendung dihulu tanda akan hujan, mega dilangit tanda akan panas, ingat ranting yang akan menusuk, tahu dahan yang akan menimpa, tahu duri yang akan mengait, pandai memintas sebelum hanyut). Begitulah adat Minangkabau menggambarkan orang-orang yang arif, bijaksana dan tanggap terhadap masalah yang akan dihadapi.

Seiring dengan itu, seorang pemimpin-sebagai tungkek– merupakan orang yang sangat dekat dan mengerti akan nasib orang yang dipimpinnya. Sosok pemimpin yang fondasi kepemimpinannya dibingkai oleh kekuatan kepercayaan dan kejujuran. Seorang yang muncul tidak begitu saja (instant), namun mengalami suatu proses yang panjang. Sehingga menjadi pemimpin bagi generasinya dan generasi berikutnya.

Seorang pemimpin mempunyai sikap-sikap seperti tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi sangat berguna baginya untuk menjadikan dirinya sebagai seorang pemimpin yang baik bagi generasi yang akan datang maupun generasi pada saat itu. Pola tingkah lakunya tersebut merupakan pola tingkah laku yang murni bukan terbias dengan berbagai-macam bias apalagi bias-bias politik yang menguntungkan pribadi atau kelompoknya. Namun harus memperlihatkan suatu sikap yang jelas-jelas memperjuangkan kehidupan masyarakatnya dan orang-orang yang dipimpinnya.

Kikinian, seorang pemimpin otoriter tidaklah masuk dalam kategori ini. Kalaupun ada tidaklah laku, bahkan dicampak orang nantinya. Keputusan misalnya tidak diambil sendiri. Oleh karena itu, sikap otoriter tidak pernah disukai orang-orang Minangkabau. Pepatah Minangkabau menyebutkan, walau inggok mancakam, kuku na tajam ta baguno, walau ma macik tampuak alam, kato mufakek nan kuaso, elok diambiak jo mufakekburuak dibuang jo hetongan (walau hinggap ingin mencekam, kuku yang tajam tak berguna, walau memegang tampuk alam, kata mufakat yang kuasa, yang baik diambil dengan mufakat, yang buruk dibuang dengan rundingan).

Melahirkan pemimpin yang baik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu proses panjang menuju arah itu. Pondasi kepercayaan, kejujuran dan dekat secara emosional bathiniah dengan rakyat atau orang yang dipimpinnya adalah kunci utama untuk membingkainya.

Pemimpin akan merasakan apa-apa yang dirasakan oleh pengikutnya, begitu juga sebaliknya. Mereka telah merasa satu jiwa, satu tekad dan satu tujuan. Ketika kesemuanya itu terpadu kedalam sebuah kebulatan maka nantinya akan terbentuk suatu kekuatan yang mendukung seorang pemimpin, seperti telah direntang pada bagian diatas.

Namun penting juga diingat ada ungkapan dalam masyarakat Minangkabau. Tungkek mambaok rabah, singgarik mambaok jatuah, piawai nan mamacah timbo. Artinya tongkat membawa rebah, singgarik membawa jatuh, piawai yang memecah timba. Berisi anjuran atau peringatan agar berhati-hati dalam kehidupan ini khususnya bagi seorang pemimpin, sebab tidak jarang apa yang diharapkan membantu malahan sebaliknya. Misalnya, seorang pemimpin yang salah memilih pegawai, orang kepercayaan kadang malah menimbulkan permasalahan fatal kelak kemudian hari, manuhuak kawan sairiang, mangguntiang dalam lipatan, musang babulu ayam, musuah dalam salimuik -namanya untuk menyebutkan perihal diatas.

Seorang pemimpin juga memiliki prinsip, tak ado karuah nan tak ka janiah, tak ado kusuik nan tak ka salasai. Setiap persoalan maka ada jalan keluarnya untuk menyelesaikannya. Demikian pula dalam mengambil suatu keputusan harus bijaksana, sehingga ibarat maambiak rambuik dalam tapuang, nan rambuik indak putuih, tapuang indak taserak.

Akhirnya, tungkek bana nan mambaok rabah– tongkat malah yang membawa jatuh-rebah tidaklah terjadi dalam kehidupan kita. Namun tungkek sebagai panutan, pemimpin yang membuat kita tegap berdiri dengan baik dan itulah sesungguhnya pemimpin yang sejati. Dikenang sampai akhir hayat nantinya.[Penulis adalah Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah

Basilang Kayu dalam Tungku Mangko Api ka Hiduik

0
Undri

Penulis: Undri

Keunikan orang Minangkabau bahwa setiap persoalan justru dapat terpecahkan dengan adanya silang pendapat dalam setiap musyawarah. Segala persoalan akan selalu dirembukkan dan dimusyawarahkan sehingga tidak ada persoalan yang tidak bisa dipecahkan- basilang kayu dalam tungku mangko api ka hiduik (bersilang kayu dalam tungku makanya api akan hidup).

Pepatah ini mengandung makna bahwa setiap persoalan yang akan dimusyawarahkan akan selalu dipecahkan sesuai dengan bentuk persoalan dan besaran persoalan itu sendiri. Artinya ada pemilihan antara siapa aktor yang boleh terlibat dan dilibatkan serta siapa aktor yang tidak boleh terlibat dan dilibatkan sesuai dengan persoalan yang dimusyawarahkan. Diungkapkan dengan istilah biliak ketek-biliak gadang (ruang kecil-ruang besar). Meskipun mufakat itu sendirinya telah menurut garis yang pantas untuk dibicarakan bersama, mufakat itu mempunyai rukun, yakni kebulatan pendapat, sebagaimana yang dimaksud petitih : bulek aia dek pambuluh, bulek kato dek mufakeik (bulat air oleh pembuluh, bulat kata oleh mufakat).

Bulek aia ka pambuluah, bulek kato jo mufakek, tuah sapakek, cilakonyo dek basilang-bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat, tuah hasil sepakat, celaka karena ngotot bersilang pendapat. Menggambarkan nilai kedaulatan rakyat serta adat. Bahwa suara (sikap) rakyat melalui musyawarah mufakat merupakan keputusan tertinggi dalam masyarakat, dan berbahayalah apabila mufakat tersebut tidak menghasilkan keputusan. Karena silang pendapat hanya mengakibatkan kekisruhan.

Nan bana kato saiyo, nan rajo kato mufakat-yang benar kata seiya, yang raja kata mufakat. Kebenaran peribadi seseorang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara bersama oleh masyarakat. Maka yang benar adalah kesepakatan bersama karena dapat dipertanggungjawabkan bersama. Jadi, dalam kehidupan bermasyarakat hendaklah mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan suatu perkara atau nan kusuik.

Kebulatan kata itulah yang dimaksud dengan sakato, yang dapat ditafsirkan apa yang diungkapkan mamangan dan diperkuat oleh petitih itu, bahwa mufakat, yang juga berarti beriya-iya, melahirkan kata yang bulat karena orang yang beriya-iya itu telah melahirkan kesatuan kata dan juga kesamaan kata. Oleh karena itu, pengertian kato di sini, bukanlah merupakan ucapan atau kalimat, melainkan merupakan keputusan mufakat, baik berbentuk peraturan, undang-undang maupun hukum.

            Bagi orang Minangkabau dalam berdemokrasi sering memunculkan perdebatan yang mengarah kepada perdebatan intelektual. Perdebatan intelektual yang dimaksud merupakan upaya perumusan dan penyampaian pemikiran kritis tentang berbagai hal dan aspek kehidupan daerah dan bangsa. Pemikiran-pemikiran kritis tersebut lazimnya disampaikan secara terbuka dan terus terang diberbagai kesempatan, baik secara lisan pada saat dilangsungkan rapat, kongres dan seminar maupun secara tertulis di surat kabar dan majalah. Orang Minangkabau selalu memperdebatkan ide, dan tidak menelan mentah-mentah segala sesuatu yang berhubung dengan perihal kehidupan mereka, baik yang berasal dari rantau maupun dari ranah sendiri yang terdiri atas kelompok-kelompok kecil yang mandiri dan otonom.

Penyampaian pemikiran kritis tersebut selain telah menyebabkan terjadinya konflik (silang pandapek) juga memungkinkan terbentuknya konsensus. Dengan kata lain, naluri berkonflik diimbangi dengan kemauan berkonsensus. Seiring dengan hal tersebut, kebebasan berekspresi tinggi di Minangkabau. Orang dapat mengatakan apa saja. Orang boleh saja marah. Jengkel juga tidak dilarang. Mengkritik, mengingatkan, menasehati, menolak, dan bentuk ekspresi lainnya tidak dilarang, dan bahkan dianjurkan, itulah wajah orang Minangkabau dalam berdemokrasi. Berdemokrasi bagi orang Minangkabau terutama dalam pengambilan keputusan harus dibuat melalui proses musyawarah menuju mufakat.

Keputusan yang benar hanya terjadi apabila sakato atau mufakat telah dicapai oleh semua yang terlibat dalam persoalan-persoalan yang harus diselesaikan. Bahkan ungkapan ”musyawarah untuk mufakat” dianggap sebagai dasar dari bentuk khusus demokrasi di Indonesia.  Kata mufakat hanya bisa dicapai apabila orang-orang menerima nilai-nilai abstrak tertentu, misalnya akal sehat dan kepatutan, apa yang mungkin, dan akhirnya kebenaran. Jadi, kekuasaan mamak, dan penghulu, yang menjadi elemen penting dalam proses berdemokrasi sama sekali bukan mutlak, melainkan tunduk pada pelaksanaan kepemimpinan di bawah syarat-syarat tertentu.  Orang-orang yang memegang kekuasaan lebih dilihat sebagai wakil-wakil kelompok untuk menghadapi dunia luar, dan sebagai penyelenggara musyawarah-musyawarah yang harus berujung dengan mufakat.

Kedepannya, budaya demokrasi yang telah berurat berakar dalam kehidupan masyarakat Minangkabau harus mendapat tempat dan dilestarikan oleh kaumnya, dan menjadi fondasi kearah dalam penyelesaian persoalan yang muncul dalam kehidupan masyarakat. Segala persoalan selalu dirembukkan dan dimusyawarahkan sehingga tidak ada persoalan yang tidak bisa dipecahkan- basilang kayu dalam tungku mangko api ka hiduik, mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah pada Minggu, 7 April 2019

Belajar Bersama Maestro Ronggeng Pasaman

0

Pasaman – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menggelar kegiatan Belajar Bersama Maestro di Kabupaten Pasaman Sumatera Barat. Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman membuka secara resmi kegiatan ini pada Senin, 15 Juli 2019 di Nagari Kumpulan, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman. Lokasi pembukaan dilaksanakan di Balai Pemuda Kampung Melayu, Nagari Kumpulan. Adapun karya budaya yang diangkat dalam kegiatan ini adalah Kesenian Ronggeng Pasaman.

Kegiatan Belajar Bersama Maestro merupakan kegiatan unggulan BPNB Sumatera Barat yang digelar sebagai wadah menggali karya-karya budaya yang hampir punah. Penggalian ini bermaksud untuk menghidupkan dan mewariskan nilai karya-karya budaya kepada generasi muda. Sehingga kegiatan BBM ini melibatkan maestro-maestro karya budaya untuk dapat mentransfer ilmunya kepada peserta BBM.

Peserta kegiatan ini merupakan para pemuda yang tertarik mempelajari karya-karya tradisi. Melalui kegiatan BBM ini, para pemuda yang terlibat diharapkan dapat diandalkan untuk menghidupkan dan mentransfer pengetahuannya kelak kepada orang lain. Sehingga, dengan pola seperti itu, karya-karya tradisional dapat bertahan dan berkembang maju.

Kesenian ronggeng pasaman merupakan kesenian tradisional yang berkembang di daerah Pasaman dan Pasaman Barat. Hingga kini, kesenian Ronggeng Pasaman sudah semakin langka. Jika upaya pelestarian tidak segera dilakukan, maka kesenian ini akan segera mengalami kepunahan. Melalui kegiatan BBM, BPNB Sumatera Barat mencoba memulai upaya pelestarian untuk merangsang masyarakat mempertahankan kesenian tersebut.

Harapannya melalui kegiatan BBM, warga khususnya generasi muda lebih mengetahui arti penting kesenian ronggeng dalam konteks kekinian. Dengan mengetahui arti penting tersebut, warga juga lebih mencintai dan berkeinginan mempelajari kesenian tersebut. Sehingga lama kelamaan kesenian tersebut dapat berkembang di kemudian hari. Demikian disampaikan Firdaus Marbun sebagai nara sumber dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan pembukaan Belajar Bersama Maestro diawali dengan laporan ketua panitia, kata sambutan ninik mamak, kata sambutan dari walinagari, kata sambutan sekaligus pembukaan dari Kepala BPNB Sumbar serta penyampaian materi dari narasumber. Pada akhir acara, para peserta BBM memulai latihan perdana yang dipandu oleh seorang pelatih tari dan seorang pelatih biola. (FM)

Runciang jan nan Mancucuak, Sandiang jan nan Maluko

0

Penulis: Undri

Berbuat kebaikan mestilah kita lakukan dalam hidup ini. Bila kita memiliki kepandaian atau mempunyai ilmu, jangalah sampilik kariang– tidak mau berbagi pula. Janganlah digunakan untuk merusak atau menimbulkan bencana bagi orang lain. Hendaklah kita membawa berkah dan keuntungan bagi orang lain atau sikap kita tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan orang lain. Nasehat telah diungkapkan- runciang jan nan mancucuak, sandiang jan nan malukoi (runcing jangan yang menusuk, sanding jangan yang melukai).

Obat dari semua itu adalah rendah hati, sifat ini yang paling ideal dalam hidup. Sifat rendah hati menjauhkan kita dari sifat sombong, congkak, angkuh, acuh tak acuh kepada orang lain. Perhatikan pantun berikut : kacak langan bak langan, kacak batih lah bak batih, bajalan dirusuak labuah, tagak sarupo urang mambali, duduak sarupo urang manjua, sarupo lonjak labu dibanam, sarupo kacang diabuih ciek.

Berkenaan dengan sifat rendah hati itu sendiri, ada beberapa tanda seseorang itu mempunyai sifat tersebut, antara lain dia selalu minta maaf kalau bersalah, dan selalu minta ampun dan bertobat kalau berdosa. Dingkapkan dalam kato pusako, salah catok malantiangkan, salah ambiak mangambalikan, salah makan mamuntahkan, salah pado manusia minta maaf, salah pado Allah minta taubat.

Untuk itu perlu kiranya mencontoh dan belajar dari ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Semakin banyak ilmu pengetahuan yang kita miliki, semakin tinggi pula sifat rendah hati yang kita miliki. Tidaklah angkuh dan sombong. Apalagi kepandaian dengan ilmu yang kita miliki terkadang untuk memperdayakan orang lain, guna keuntungan kita sendiri. Sebuah perihal yang penting kita hindari dalam hidup ini. Jangan ditiru sifat ayam, bertelur satu rebut sekandang, artinya berilmu sedikit sudah menyombongkan diri. Kita renungkanlah- kok mandi di ilia-ilia, kok mangecek dibawah-bawah (jika mandi di hilir-hilir, jika berbicara di bawah-bawah)- menadakan orang rendah hati, menunjukkan bahwa ia tidak sombong dan tidak angkuh.

Kemudian setiap orang harus sadar pada kekurangannya. Jadi, tidak ada yang akan disombongkan karena alam pemberian Allah SWT kepada hamba-Nya, makin kaya atau makin banyak ilmu, kita harus rendah hati.  Tidak berhenti disitu saja orang yang memiliki pengetahuan yang tinggi, dalam berbicara janganlah sampai menyinggung perasaan orang lain. Janganlah suka menonjolkan diri meskipun kita orang yang berada dan berpengetahuan.

Dalam hidup ini janganlah menyombongkan diri-pandai menempatkan diri dalam kehidupan masyarakat, tidak boleh bersikap atau bertindak lebih tinggi atau lebih pintar-sok pintar, sok pandai-orang sekarang menyebutnya. Ungkapan mengungkapkan berupa nasehat kok mandi di ilia-ilia, kok mangecek dibawah-bawah tersebut. Artinya hendaklah kalau berbicara jangan meninggi, kalau mandi di sungai hendaklah disebelah hilir dari orang lain. Tentu maksudnya jangan menyombong diri, baik dalam berkata-kata, maupun dalam perbuatan.

Cadiak indak mambuang kawan, gapuak indak mambuang lamak-cerdik tak membuang kawan, gemuk (banyak makan) tak membuang lemak (yang enak). Pepatah yang mengemukakan nilai-nilai prikemanusiaan. Meskipun dirinya telah memiliki kelebihan tetap memperhatikan dan tidak menjauhkan diri dengan orang lain.

Tidak itu saja, diungkapkan panjang jan malindih, gadang jan malendo– besar jangan menindas, besar jangan menyenggol. Jika berkuasa janganlah bersikap semena-mena dengan menekan atau memaksa kehendak pada yang lebih kecil (bawahan) karena mereka pasti akan kalah. Sebab sebagai pemimpin itu hanyalah amanah. Bila kita memegang amanah dengan baik maka orang hormat kepada kita, namun bila tidak buktikanlah bahwa  setelah tidak berkuasa orang mengindar dari kita- tidak menghormati kita.

Ungkapan runciang jan nan mancucuak, sandiang jan nan malukoi (runcing jangan yang menusuk, sanding jangan yang melukai) mengkehendaki sifat yang kita tunduk kepada nilai kemanusiaan, menghargai sesama manusia, atau diistilahkan juga memanusiakan manusia itu sendiri, menghargai sesama manusia, tidak merasa benar dan berilmu sendiri namun kita melihat sesuatu potensi bagi kita sebagai kemuliaan dan kemaslahatan yang bisa menguntungkan bagi manusia lainnya. Kita menghindari perihal tindakan dan perbuatan kita yang dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Akhirnya pentinglah sifat rendah hati kita tanamkan dalam diri kita. Bila kita memiliki kepandaian atau mempunyai ilmu, mulailah berbagi kepandaian kita kepada orang lain. Jangan dijadikan kepandaian dan pengetahuan yang kita miliki untuk merusak atau menimbulkan bencana bagi orang lain namun kita menjadi berkah dan kemuliaan ditengah masyarakat. Mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai  Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah

Meneroka dan Konflik: Orang Jawa di Tanjung Pati (2/habis)

0

Setelah berakhirnya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (biasa disingkat dengan PRRI), S.M Djoko Bupati Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat berupaya keras memindahkan orang Jawa –terutama yang bermukim di Halaban–ke kawasan yang belum terjamah. Dan, daerah yang dituju adalah Nagari Sarilamak.

Setelah menerima seluruh dokumen penyerahan tanah dari Jawatan Agraria, S.M Djoko mengabarkan kepada eks buruh teh Halaban, untuk sesegera mungkin membuka hutan rawa tersebut. Bertempat di rumah Amat Salem, 32 (tigapuluh dua) orang eks buruh Halaban menyepakati untuk membuka lahan yang terdapat di Sarilamak.

Adapun ketigapuluh dua orang Jawa tersebut adalah Amat Salem, Marto Rejo, Wahab, Suwandi, Wongso Rejo, Ngalimi, Saal, Jayahadi, Tukiman, Daswan, Karso, Sutiman, Mukiren, Parno, Amat Sawo, Sujak, Rawen, Waryo Suwito, Dukut, Karyo Jenggot, Harjo Munarah, Cokro, Katmo, Daem, Amat Rejo, Amat Saniah, Munaji, Karto Cenguk, Rasmani, Miso, Sumarto Seneng, dan Karyo Rejo.

Dan, awal lahan yang digarap oleh para transmigran dari Halaban, kemudian dinamakan Sido Dadi (kini: Purwajaya) seluas 130,9 Ha yang kini terletak dari Km.8 hingga Km. 10.  Sedangkan 269,1 Ha lainnya berada di Padang Semut (Kubu Gadang), Kubang Gajah, dan Anak Kubang Nagari Koto Tuo(RPJM Nagari Sarilamak tahun 2011-2015: 1).

Adapun batas-batas daerah transmigrasi yang diserahkan ninik mamak Sarilamak adalah di sebelah utara berbatasan dengan hutan rawa basah, bukit Pauah Sarilamak. Di selatan berbatasan dengan bandar besar Nagari Tigo Batur Padang Barangan. Untuk kawasan timur dengan jalan negara (kini: samping Kodim 0306 Kabupaten Limapuluh Kota), dan sebelah barat dengan Bukit Sarilamak dan Nagari Tigo Batur Padang Barangan.

Masing-masing eks buruh perkebunan yang menginginkan tinggal di lokasi yang telah disediakan, harus mengajukan surat permintaan tanah kepada Kepala Agraria. Tjokromiardjo dalam surat permohonannya pada 19 September 1963. Dalam surat permohonannya, ia meminta tanah di Anak Kubang Sarilamak, seluas 60 x 50 meter dan 100×30 m2.

Surat permohonan Tjokromiardjo kemudian direalisasikan oleh Kantor Agraria Daerah 50 Kota melalui Keputusan Menteri Agraria No.SI/112/Isa/61 Nomor X tahun 1963. Di luar perkiraan, tanah yang diminta Tjokroamiardjo bertambah luas dari permohonannya, yakni 71 x 55,5  meter + 116,5 x 31 m2. Dalam suratnya, Kepala Agraria meminta pada calon transmigran segera membuka lahan dalam waktu satu tahun dan membuat sendiri kediamannya (Keputusan Menteri Agraria No.SI/112/Isa/61 Nomor X tahun 1963).

Setelah selesai menentukan batas-batas daerah dan peruntukkan tanah, tigapuluh dua orang eks buruh teh Halaban mengerjakan jalan poros dan selokan. Setelah pekerjaan rampung, Amat Salem membagi kaplingan tanah untuk 200 KK dan menyerahkan pengerjaannya kepada masing-masing dari eks buruh tersebut.

Kisah membuka hutan berawa di Tanjung Pati pun menarik untuk dicermati. Rombongan peneroka itu tidak seluruhnya memakai kendaraan yang hanya disediakan satu saja oleh Pemda Kabupaten Daerah Limapuluh Kota. Sebagian dari mereka ada yang berjalan kaki di bawah koordinator Amat Salem. “…, ada yang membawa gerobak kayu untuk membawa kayu bakar, untuk dijual pada sorenya ke Payakumbuh dengan membawa kayu api, untuk mereka jual di Payakumbuh dan hasilnya mereka belikan perbekalan untuk keesokan harinya. Begitulah setiap hari mereka lakukan” (Tumirah, wawancara, tanggal 28 Maret 2018 di Jorong Purwajaya Kabupaten Limapuluh Kota).

Setelah lahan di Anak Kubang kering, para transmigran tersebut mendirikan pondok-pondok untuk tempat tinggal. Dengan berbekal ubi, keladi, dan ganyong, para peneroka dengan alat seadanya menantang maut, untuk membuka hutan berawa. Mereka saling bergotong royong menimbun rawa-rawa dan membuat pematang sawah, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Lahan yang sudah dibuka, ada yang ditanami singkong, keladi, ganyong untuk dijadikan makanan setiap hari. Pada kesempatan lain, Pak Amat Salem dan beberapa orang lainnya menemui Bupati S.M Djoko, untuk melaporkan perkembangan pekerjaan dan meminta bantuan ransum makanan.” (Ngatmi, wawancara, tanggal 28 Maret 2018 di Jorong Purwajaya Kabupaten Limapuluh Kota).

Permintaan dari peneroka itu segera dipenuhi Bupati S.M Djoko. Mereka diberi beras, gula, minyak goreng, sabun, dan lainnya. Kisah lainnya dituturkan  Samiliyono mengenai semangat para peneroka yang berjalan sampai puluhan kilometer dari Payakumbuh menuju Tanjung Pati. “Dirasa terlalu capek berulang setiap hari, puluhan kilometer dengan berjalan kaki dari Payakumbuh. Sebagian dari mereka membuat gubuk untuk ditempati, apabila sore hari hujan dan tidak mungkin kembali ke Payakumbuh.”. ungkap Samanjono.

Pada tahun 1964 Amat Salem ditemani sepuluh orang peneroka, menemui Bupati Limapuluh Kota, untuk melaporkan hasil pekerjaannya, dan meminta S.M Djoko datang ke Sido Dadi. Dalam kunjungannya pada Juli 1964, SM. Djoko meminta transmigran lokal itu mengganti nama Sido Dadi, menjadi Purwajaya [Penulis adalah Peneliti di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 17 Maret 2019

Buruak Muko Camin Dibalah

0

Penulis: Undri

Penyakit kita terlalu sibuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain, sehingga kesalahan dan kekurangan diri sendiri terlupakan. Mencari kesalahan orang lain, tak tahunya kesalahan kita berjibun pula, sibuk mencari aib orang lain. Rasa-rasanya hidup hanya dipenuhi dengan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, berlelah-lelah mencari aib orang lain. Wajah kita sendiri yang jelek, cermin yang dibelah. Orang yang berbuat keburukan atau kejahatan namun menyalahkan orang lain atas apa yang ia lakukan- buruak muko camin dibalah (buruk muka cermin dibelah).

Kita tidak dapat menafikan bahwa beberapa manusia ada yang hobinya hanya mencari-cari kesalahan dari orang lain, kemudian membicarakannya dengan temannya, kerabatnya, bahkan dibicarakan dipublik, lewat media sosial di facebook, tweeter misalnya, dan lain. Jika kesalahan ia dapatkan, ia besakan pula. Bergelora semangat untuk mencari kesalahan orang lain. Kadang kala kekhilafan dalam urusan kecil yang wajar terjadi dan sepatutnya dimaafkan, namun ditampak-tampakkan sebagai kejahatan teramat besar. Begitulah ritme kehidupan dihari ini.

Selain itu, ada penyakit mengada-ada yang lebih buruk lagi. Mengada-adakan kesalahan yang ia mengetahui betul bahwa tidak ada kesalahan pada orang lain, tetapi ia menisbahkan kesalahan kepada orang tersebut, mengesankan kepada orang tersebut bahwa ia berbuat kesalahan yang sangat besar. Ini semua termasuk kepada perihal fitnah yang keji, dan haruslah kita hindari dalam hidup ini.

Buruak muko camin di balah bermakna juga orang yang tidak mau intropeksi diri. Seseorang yang tidak mau menerima akibat buruk dari perbuatannya dan menimpakan kesalahannya pada pihak orang lain. Tersirat bahwa kita dianjurkan mencari penyebab sesuatu itu dengan teliti dan cermat sesuai dengan apa yang terjadi. Jangan sampai kita menjadi seperti orang yang memecahkan kacanya lantaran wajahnya buruk ketika dia lihat di cermin. Serta janganlah menjadi orang yang tidak bertanggung jawab dengan perbuatan sendiri apalagi menyalahkan orang lain.

 Kita sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, menunjukkan jika dia merupakan seseorang yang tidak memiliki kesibukan yang berarti. Waktu yang ia miliki tidaklah penting sampai akhirnya waktunya dihabiskan untuk sibuk mencari kesalahan orang lain. Orang baik tidak akan mengumbar aib orang lain, bahkan jika dia tahu akan hal itu maka dia akan menutup-nutupinya. Namun berbeda lagi dengan orang yang dalam hatinya terdapat penyakit hati seperti iri dan dengki, ia akan sibuk mencari kejelekan orang lain dan akan mengumbarnya kepada orang lain pula.

Persoalan mengenai jangan mencari-cari kesalahan orang lain sudah ada dalam kitab suci Al-quran yakni melalui Surat Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT berfirman : “Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain”. (Q.S. Al-Hujurat 12). Begitulah pentingnya ajaran untuk jangan mencari-cari kesalahan orang lain, namun berbuat kebaikan diantara kita di muka bumi ini.

Dalam hal ini pentinglah kiranya introspeksi diri, menyadari akan diri sendiri. Introspeksi diri dapat membantu seseorang untuk bercermin tentang diri dan kehidupannya selama ini. Melalui introspeksi diri, kita akan lebih mudah menentukan tujuan hidup ke depan. Tentunya, tujuan hidup yang kita dapatkan melalui introspeksi diri ini akan mampu membawa kita sebagai manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik lagi. Atau dengan kata lain bahwa introspeksi diri merupakan peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, serta kesalahan dari diri sendiri.

Ungkapan yang sejalan dengan buruak muko camin dibalah (buruk muka cermin dibelah) yakni mancabiak baju di dado, manapuak aia di dulang (merobek baju di dada, menepuk air di dulang). Mengandung makna akan sesuatu perbuatan yang merugikan diri sendiri, sesuatu pekerjaan yang tidak baik atau tidak layak dilakukan. Tersirat sebuah makna bahwa bagi kita agar menasehati seseorang agar dalam pergaulan hidup, bertutur kata harus hati-hati, janganlah menjelek-jelekkan orang lain, keluarga atau membukakan aib orang lain, keluarga sendiri kepada orang lain karena yang akan merasa atau menanggung malu bukan hanya keluarga saja tetapi juga diri sendiri- mancabiak baju di dado, manapuak aia di dulang (merobek baju di dada, menepuk air di dulang).

Akhirnya, penting bagi kita dalam hidup ini agar tidak mencari-cari kesalahan yang dimiliki orang lain, melakukan introspeksi diri bahwa diri kita juga penuh dengan kekurangan dan kesalahan. Selama persoalan ini kita maknai dalam hidup maka hidup telah kita retas dengan baik dan mulia- dan janganlah buruak muko camin dibalah (buruk muka cermin dibelah). Mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah

Jejak Tradisi Daerah 2019 Resmi Berakhir

0

Ogan Ilir – Jejak Tradisi Daerah 2019 secara resmi berakhir. Hal ini ditandai dengan acara penutupan yang diadakan pada Jumat, 5 Juli 2019 di Aula Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Desa Tanjung Pinang, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Penutupan secara resmi dilakukan oleh Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ogan Ilir Zulkarnain, S.Pd.

Baca juga: Laseda 2019 Resmi Ditutup: Anik Dwi Utami Raih Peserta Terbaik

Rangkaian acara penutupan dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran, dan beberapa penampilan kesenian dari peserta. Selanjutnya kata sambutan dari ketua panitia Hasanadi, SS, kesan dan pesan dari peserta didik, kesan dan pesan dari guru pendamping, pengumuman peserta terbaik untuk semua kategori, penyerahan cenderamata dan hadiah serta terakhir penutupan secara resmi oleh Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ogan Ilir.

Pada kesempatan tersebut, Zulkarnain, S.Pd menyampaikan penghargaan kepada Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumaterea Barat yang memberi kesempatan kepada Bumi Ogan Ilir melaksanakan kegiatan Jejak Tradisi Daerah 2019.

Dia juga berpesan agar setiap peserta dan yang terlibat dalam Jetrada 2019 tetap menjaga persatuan dan Bhinneka Tunggal Ika. ‘lain lubuk lain ikan, lain padang lain belalang. Tapi jangan jadikan perbedaan sebagai pemisah karena kita sudah punya Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu’. Ucapnya

Di akhir sambutannya, Zulkarnain menyampaikan harapannya agar kegiatan-kegiatan pelestarian budaya  tetap berkesinambungan di masa mendatang dan kerjasama antar lembaga bisa lebih dieratkan.

Pada kesempatan penutupan tersebut, panitia mengumumkan empat kategori peserta terbaik yakni: guru pendamping terbaik, penampilan kesenian terbaik, kelompok observasi dan presentasi terbaik serta peserta siswa terbaik. Khusus peserta siswa terbaik nantinya akan diutus mewakili BPNB Sumatera Barat pada acara Jejak Tradisi Nasional yang rencananya akan diadakan di Bali pada Agustus mendatang.

Adapun peserta siswa terbaik Jetrada 2019 diraih oleh:

  1. Supran Amar dari SMA N.1 Indralaya Selatan, Provinsi Sumatera Selatan
  2. Diva Augusti Edel dari SMA N.1 Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat
  3. Celina Niria De Dazza dari SMA N.4 Lahat, Provinsi Sumatera Selatan
  4. Anisa Lestari dari SMA N.1 Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan
  5. Ayunni Niza Syafifah dari SMA N.1 Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu
  6. Aditya Saputra dari SMA N.1 Tanjung Batu, Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan
  7. Feni Putri Anjani dari SMA N.1 Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu
  8. Rahmat Kurnia dari SMK N.7 Padang, Provinsi Sumatera Barat

Panitia juga memberikan trophy dan hadiah pembinaan kepada peserta terbaik tersebut.(FM)

Meneroka dan Konflik: Orang Jawa di Tanjung Pati (1)

0

Penulis: Zusneli Zubir

Menelusuri daerah Tanjung Pati Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat yang kini kian padat, akan berbeda situasinya pada lima puluh enam tahun silam. Kondisi dulu dan kini jelas berbeda. Dulu, Tanjung Pati hanyalah hutan belantara dengan jalan yang bisa dilalui kendaraan kecil saja. Kini, tentu kawasan padat penduduk itu selalu ramai dilalui kendaraan yang menuju dan keluar Payakumbuh.

Peristiwa pergolakan, atau yang dikenal dalam ingatan orang Minangkabau sebagai Peri-peri (PRRI-Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) merupakan awal dari migrasi lokal orang Jawa dari Halaban dan sekitarnya membuka lahan baru. Pada tahun 1958, seiring memuncaknya konflik antara pemerintah pusat dengan Dewan Banteng, telah berdampak luas terhadap orang Jawa di Sumatera Barat. Sebagaimana di Halaban, para buruh pemetik teh asal Jawa, mulai merasakan intimidasi dan ancaman pembunuhan dari orang-orang pro PRRI.

Pada tahun 1960, sembilan kepala keluarga eks buruh Halaban yang merasa terancam jiwanya, memutuskan untuk eksodus ke daerah yang lebih aman dan belum dikuasai tentara APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia). Mereka kemudian meneroka lahan yang masih berupa hutan rawa, terutama di Anak Kubang dan Sarilamak.

Di pengujung 1960, Bupati Kepala Daerah 50 Kota Inspektur Polisi S.M. Djoko–yang menggantikan posisi Bupati Darwis–berupaya untuk memindahkan orang Jawa ke permukiman yang masih kosong. S.M Djoko kemudian memilih Nagari Sarilamak sebagai tujuan transmigrasi lokal 40 KK orang Jawa.

Berdirinya Jorong Purwajaya mengisahkan, awal peruntukkan tanah untuk transmigran asal Halaban bermula dari pertemuan Amat Salem yang bermukim di Parak Getah Payakumbuh dengan S.M Djoko. Ia menawarkan untuk eks buruh Halaban yang menganggur dua lokasi tanah, yakni di Padang Semut dan Anak Kubang Sarilamak. Dan, Amat pun memilih lokasi di Anak Kubang.

Tanah yang diperuntukkan untuk transmigran itu, bermula dari putusan Kerapatan Nagari Sarilamak dalam Surat No.8/SLM/1961, yang menyerahkan tanah nagari seluas 400 Ha. Tidak ada keterangan khusus, sebab-sebab mudahnya petinggi Nagari Sarilamak menyerahkan tanahnya secara sukarela kepada S.M Djoko, apakah karena terkait motif politik, atau keamanan. Dalam versi Berdirinya Jorong Purwajaya, dikisahkan sebagai berikut.

…, setelah menunggu beberapa bulan dapat persetujuan dari KAN Sarilamak dan KAN Tigo Batur Padang Barangan, bahwa kedua KAN mengadakan rapat di nagari masing-masing terdapat kesepa-katan tentang Nagari Sarilamak dan Tigo Batur Padang Barangan sepakat ditunjuk sebagai lokasi transmigrasi lokal. Maka beberapa bulan berselang, pengurus KAN dan ninik mamak Sarilamak de-ngan sukarela menghibahkan tanahnya kepada Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, kemudian diikuti KAN dan ninik mamak nagari Tigo Batur Padang Barangan (Tim Penulis Buku Sejarah Berdirinya Jorong Purwajaya, 2017: 4).

Gambar 1 Surat Bupati Kepala Daerah 50 Kota  No.HB/520/2/61 tanggal 3 Agustus 1961, untuk Kepala Jawatan Agraria Daerah 50 Kota.

Sumber:     Koleksi Kantor Jorong Purwajaya Nagari Sarilamak Kabupaten Limapuluh Kota.

Untuk menindaklanjuti pemindahan eks buruh kebun teh Halaban, SM. Djoko segera segera menyurati Kepala Jawatan Agraria Daerah 50 Kota. Dalam suratnya S.M Djoko menulis, bahwa pemerintah memperoleh tanah seluas 400 Ha atas kebulatan Kerapatan Adat Nagari tanggal 12 Juni 1961 (Surat No.8/SLM/1961 tentang kebulatan Kerapatan Adat Nagari Sarilamak menyerahkan tanah seluas 400 Ha.)

Adapun lahan yang diserahkan terdiri dari tanah kering dan basah yang dimanfaatkan transmigran lokal. Untuk menempati areal seluas 400 Ha, S.M Djoko menulis dibutuhkan sekitar 200 keluarga, atau setara dengan 1050 jiwa. Selain itu, SM. Djoko juga memberi penekanan dalam suratnya: (1). Para transmigran tersebut terdiri dari bekas pekerja kebun teh Halaban yang sedang menganggur.  (2). Bersama ini dikirim kepada saudara 1 helai salinan dari Kebulatan Kerapatan Negeri Sarilamak tersebut di atas, serta 1 helai peta ringkas dari tanah yang diserahkan itu, dan (3). Sekarang para transmigran itu telah merambah/membersihkan tanah tersebut, dan dimaksudkan dalam waktu yang singkat dapat didirikan perumahan (pondok2) bagi mereka (Surat Bupati Kepala Daerah 50 Kota  No.HB/520/2/61 tanggal 3 Agustus 1961, untuk Kepala Jawatan Agraria Daerah 50 Kota).

Transmigran lokal yang dimaksud S.M Djoko, dijelaskan lebih lanjut dalam suratnya, bahwa mereka terdiri dari eks buruh kebun teh Halaban yang sedang menganggur. Mereka yang akan dipindahkan, nantinya meneroka daerah yang masih berbentuk hutan, untuk dibersihkan dan dijadikan areal permukiman dan pertanian. Di samping itu, untuk menyokong produktivitas peneroka selama mem-bersihkan lahan, S.M Djoko meminta bawahannya untuk membantu kebutuhan pangan. Bersambung. [Penulis adalah Peneliti Madya di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 3 Maret 2019

Panjang Karek Mangarek, Senteang Bilai Mambilai

0

Penulis: Undri

Kerapuhan sikap tolong menolong, bekerja sama dengan orang lain dan saling hormat menghormati bermuara pada lunturnya rasa persaudaraan dan persatuan diantara kita. Tersirat sebuah perumpamaan ketika kita mempunyai seutas tali yang cukup panjang, maka potonglah dan berikan lebihnya itu kepada orang yang membutuhkan- panjang karek mangarek, senteng bilai mambilai  (panjang potong memotong, senteng tambah menambah).

Ketika kita  mempunyai sesuatu yang berlebih, maka berikanlah kepada  mereka yang kekurangan dan sangat membutuhkannya. Sebaliknya apabila kita mengalami sesuatu kekurangan, maka tiba pula giliran meminta bantuan kepada orang lain. Dasar yang akan diusahakan berdasarkan prinsip gotong royong itu adalah melaksanakan sesuatu yang merupakan kepentingan umum, kepentingan bersama.

Kita menyadari bahwa orang yang memberi pertolongan kepada orang membutuhkan jauh lebih mulia daripada orang yang meminta pertolongan. Sebab manusia hidup berkelompok. Hidup berkelompok itu disebut bermasyarakat. Dalam kelompok, manusia diikat oleh kebersamaan. Kebersamaan itu mengikat hubungan yang erat sesamanya. Hubungan yang erat dapat terjadi karena adanya persamaan kepentingan, keinginan, dan cita-cita bersama pula.

Dalam adat juga mengajarkan, diungkapkan di dalam ajarannya yakni hiduik dikanduang adat, adat hiduik tolong manolong, adat mati janguak-manjanguak, adat lai bari mambari, adat indak basalang-tenggang. Adat hiduik tolong manolong, maksudnya setiap orang yang hidup harus saling menolong. Kita menolong orang yang sedang membutuhkan. Kita membantu teman-teman yang sedang kesulitan, kita member orang yang tidak punya, dan kita mengulurkan tangan kepada orang yang berharap. Kita menolong tidak memandang suku, tidak memandang bangsa dan sebagainya. Pokoknya, setiap orang yang memerlukan pertolongan kita tolong sebisa kita. Tandanya kita orang beragama dan orang beradat.

Gotong royong yang sejatinya tumbuh atas dan berdasarkan keinsyafan masyarakat akan kepentingan umum, kepentingan bersama. Gotong royong di Minangkabau adalah tumbuh dari bawah dan tidak atas perintah dari atas. Gotong royong tumbuh berdasarkan fatwa adat yakni : ko indak titiak dari ateh, basuitan dari bawah  (kalau tidak titik dari atas, basuitan dari bawah). Suatu pernyataan dari demokrasi sejati, dalam mana inisiatif dan kesanggupan itu berada dalam tangan rakyat.

Beberapa ungkapan yang berkaitan dengan hal ini yakni barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang- berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Sebagai bagian dari masyarakat, maka seharusnya tiap-tiap individu memiliki semangat untuk bekerjasama dan mempertanggungjawabkan secara bersama-sama segala kepentingan bersama.

Duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang lapang-duduk sendirian sempit, duduk bersama terasa lapang. Dalam hidup bermasyarakat, sendirian tak berarti. Baik dalam bersuara maupun dalam berbuat. Berbeda ketika di tengah keluarga atau orang banyak (dalam komunitasnya), suara dan sikapnya akan berguna dalam banyak hal, dan misalnya menemui kesulitan akan mudah mendapatkan bantuan mereka.

Kok hanyuik bapintasi, tabanam basilami, tatilantang samo minum ambun, tatungkuik samo makan tanah, tarapuang samo hanyuik, tarandam samo basah– kalau hanyut dipintasi, terbenam diselami, terlentang sama minum embun, terlungkup sama makan tanah, terapung sama hanyut, terendam sama basah. Gambaran mengenai semangat hidup, tenggang rasa, senasib sepenaggungan dalam masyarakat Minangkabau dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kahilia sarangkuah dayuang, kamudiak saantak galah- ke hilir serangkuh dayung,  ke mudik sehentak galah. Nasihat agar kita harus ikut serta ambil bagian dalam melakukan kegiatan kemanusiaan.  Jangan hanya menjadi penonton, apalagi jika itu untuk kepentingan bersama.

Tatangguak diudang samo mengaruntuangkan, tatangguak di luluak samo mangiraikan-tertangguk udang sama-sama mengeruntungkan, tertangguk lunau (lumpur) sama-sama mengiraikan. Dalam bermasyarakat ada pekerjaan yang harus  dilakukan bersama-sama demi kepentingan bersama. Di sini kalau ada hasil maka sama-sama menikmati, kalau tak membawa hasil juga menjadi resiko bersama.

Dikelampauan sikap bergotong royong telah kita tumbuhkan dengan baik, mengerjakan balai adat, mesjid, jalan-jalan dikerjakan dengan sikap gotong royong. Bukan itu saja membuka kepala bandar hulu irigasi yang tiap tahun harus dikerjakan, dilangsungkan dengan secara bergotong royong.

Dalam sikap gotong royong ini perlu juga sikap arif. Orang arif itu pandai memandang, pandai membaca, pandai menduga suatu keadaan- tahu jo ereng dengan gendeng. Kita mesti pandai membaca keadaan lingkungan kita. Walaupun orang disekeliling kita tidak minta tolong, tapi kita harus yakin dia membutuhkan pertolongan dan harus kita tolong pula.

Ungkapan panjang karek mangarek, senteng bilai mambilai (panjang potong memotong, senteng tambah menambah) harus mendapat tempat terbaik bagi kita, khususnya bagi orang Minangkabau, serta ungkapan ini digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berkorong berkampung. Sebuah nilai yang bermakna kemanusiaan yang hakiki dalam sandaran hidup kita ini. Mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah

 

Kunjungan Laseda 2019: Benteng Malborough (lanjutan)

0
Benteng Malborough

Bengkulu – Pada hari kedua (27/6) kunjungan, para peserta Laseda 2019 dibawa ke Benteng Malborough, sebuah benteng yang sangat bersejarah di Kota Bengkulu.

5. Benteng Marlborough

Benteng Marlborough adalah benteng Inggris yang terletak di Kelurahan Pegantungan. Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Lokasi benteng sangat strategis di antara bukit-bukit kecil di pinggir pantai Tapak Paderi. Benteng ini dibangun tahun 1714 secara bertahap selama lima tahun oleh arsitek dan para pekerja yang sengaja didatangkan dari India. Pemberian nama Fort Marlborough adalah sebagai kenangan kepada seorang komandan militer Inggris yang terkenal “The First Duke of Marlborough” (1650-1722).

Baca juga: Kunjungan Laseda 2019: dari Masjid Jamik ke Malborough

Selama pendirian benteng tercatat nama-nama penguasa Inggris keika itu, yaitu Joseph Colet (1712-1716), Theophilus Shyllinge (1716-1717), Richard Farmer (1717-1718) dan Thomas Cooke (1718-1719). Pemerintah Inggris mendirikan Fort Marlborough ini bertujuan untuk memperkuat kedudukan mereka dari ancaman kolonial Belanda, Kesultanan Banten serta untuk mengatasi kemungkinan ancaman pemberontakan rakyat yang merasa tertekan oleh politik yang mereka jalankan.

Di lingkungan benteng, dekat gerbang luar (tepatnya bagian belakang pintu gerbang sebelah kanan), terdapat tiga buah makam, yaitu makam Residen Thomas Parr yang mati terbunuh pada tanggal 23 Desember 1807 oleh rakyat Bengkulu. Kedua, makam pegawainya yang bernama Charles Murray yang berusaha menyelamatkan Parr, namun ia terkena dan tidak lama kemudian ia meninggal dunia. Ketiga, tidak diketahui dan tidak ditemukan catatan yang dapat memberikan petunjuk mengenai makam itu.

Benteng Marlborough merupakan benteng batu bata berbentuk kura-kura, bagian badan kura-kura sebagai benteng dan keempat kakinya sebagai bastion. Pada bagian kepala kura-kura sebagai pintu masuk ke dalam benteng. Kompelek benteng tersebut seluas 44.100,5 ,m2 dengan panjang 2400,5 m dan lebar 170,5 m. dinding ruangan benteng terbuat dari pasangan batu karang, bata dan batu kali. Tebal dinding 1,25 m, sedangkan pintu ruangan terbuat dari kerangka besi plat denan ketebalan 15 mm, dan jeruji besi bulat dengan diameter 18 mm.

Benteng Marlborough dipergunakan sejak zaman pemerintahan Inggris, Pemerintahan Belanda dan terakhir juga dipergunakan oleh pemerintahan Indonesia. Secara kronologis sejarah Benteng Marlborough dapat dilihat sebagai berikut: tahun 1714-1719 masa pembangunan benteng, tahun 1719-1724 Fort Malrborough ditinggalkan Inggris sebagai akibat serangan rakyat Bengkulu. Tahun 1724-1825 Fort Marlborough kembali dikuasai Inggris, tahun 1825-1942 Fort Marlborough dikuasai Belanda, tahun 1942-1945 Fort Marlborough dikuasai Jepang. Tahun 1949 Fort Marlborough kembali dikuasai Belanda, tahun 1949-1983 Fort Marlborough kembali dikuasai Republik Indonesia (TNI-AD, Kodim 0407 Bengkulu Utara), dan tahun 1983-1984 Fort Marlborough dipugar pemerintah Republik Indonesia, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Selama kunjungan, para peserta begitu antusias mengikuti dan ingin mengetahui segala informasi tentang objek-objek yang dikunjungi.

Selepas kunjungan ke objek-objek sejarah, para peserta selanjutnya dibawa ke pantai panjang untuk bersantai sejenak. Di pantai yang indah ini, para peserta bersenang-senang sejenak, berselfie  sekaligus menikmati suasana pantai. Selanjutnya panitia juga memperlombakan yel-yel para peserta yang telah disiapkan sebelumnya. (FM)

Laseda 2019 Resmi Ditutup: Anik Dwi Utami Raih Peserta Terbaik

0
Anik Dwi Utami

Bengkulu – Kegiatan Lawatan Sejarah Daerah 2019 resmi ditutup. Secara resmi acara ditutup oleh Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu R. Wahyu. DP pada Jumat, 28 Juni 2019 di Aula Hotel Wedika Bengkulu. Acara penutupan ini selakigus mengakhiri seluruh rangkaian acara Laseda 2019 yang berlangsung sejak Selasa – Jumat, 25-28 Juni 2019. Pada acara penutupan ini juga diumumkan peserta didik terbaik yaitu Anik Dwi Utami dari SMA N.10 Kaur, Bengkulu.

Baca juga: Kunjungan Laseda 2019: Benteng Malborough

Dalam acara penutupan tersebut, Kepala BPNB Sumbar mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu atas sambutan dan dukungannya kegiatan Laseda 2019 bisa berjalan dengan sukses. Dia juga menyampaikan bahwa sebagai panitia, dengan dukungan Dinas tidak kekurangan sesuatu apapun.

Senada dengan itu, Kabid Kebudayaan R. Wahyu DP menyampaikan apresiasi atas acara lawatan sejarah dan pilihan Kota Bengkulu sebagai tempat pelaksanaan. Selanjutnya Dia berpesan untuk singgah sebentar berbelanja dan menikmati kuliner maupun belanja oleh-oleh di Bengkulu.

Setelah sambutan dari Kepala BPNB Sumbar, panitia selanjutnya mengumumkan peserta terbaik dari berbagai kategori. Beberapa kategori tersebut yakni.

  1. Kategori Yel-yel Terbaik
  2. Kategori Penampilan Kesenian Terbaik (diraih oleh SMA Sekayu)
  3. Postingan Medsos Terbaik (diraih oleh Edi Kurniawan)

Selain itu, panitia juga mengumumkan peserta siswa dan guru pendamping terbaik sebagai berikut:

Peserta siswa terbaik

  1. Anik Dwi Utami dari SMA N.10 Kaur, Bengkulu
  2. Ade Tri Anggraeni dari SMA N.10 Kaur, Bengkulu
  3. Salsabila Arafani Syafril Putri dari MAN 2 Padang, Sumatera Barat

Peserta guru pendamping terbaik

  1. Yuliani, S.Pd, M.Pd dari SMA N.3 Sekayu, Sumatera Selatan
  2. Okta Pratama, S.Pd dari SMA N.10 Kaur, Bengkulu
  3. Atrisno Santoso, S.Pd dari MAN 2, Padang, Sumatera Barat

Sebelum acara ditutup, terlebih dahulu panitia memberi kesempatan kepada guru pendamping terbaik dan siswa terbaik untuk menyampaikan sepatah kata kesan dan pesan selama pelaksanaan Laseda 2019. Pada kesempatan itu Yuliani mengungkapkan kebahagiaannya terlibat dalam Laseda 2019 dan berharap kegiatan-kegiatan serupa dilaksanakan di tahun-tahun mendatang.

Senada dengan itu, sebagai peserta terbaik, Anik Dwi Utami juga turut menyampaikan rasa terima kasih dan kebanggaanya menjadi bagian dari kegiatan Laseda 2019.

Di akhir acara, panitia memberikan apresiasi kepada para peserta terbaik berupa trophy dan uang pembinaan. Selanjutnya, panitia juga mengumumkan enam nama peserta didik dan tiga guru pendamping untuk diikutsertakan dalam kegiatan Lawatan Sejarah Nasional yang akan diadakan di Medan, Sumatera Utara pada 8-12 Juli 2019. Adapun peserta tersebut yakni:

  1. Anik Dwi Utami dari SMA N.10 Kaur, Bengkulu
  2. Salsabila Arafani Syafril Putri dari MAN 2 Padang, Sumatera Barat
  3. Seruni dari SMA N.1 Ujan Mas, Muara Enim, Sumatera Selatan
  4. Finola Fiftem Eka Putri dari SMA N.3 Mukomuko, Bengkulu
  5. Aka Wijaya dari SMA N.1 Pampangan, OKI Sumatera Selatan
  6. Zahida Putri dari SMA N.8 Padang, Sumatera Barat. (FM)

Rendo bangku; Kerajinan Tradisional Perempuan Kotogadang

0

Penulis: Firdaus Marbun

Kotogadang bagi sebagian besar masyarakat Sumatera Barat mungkin sudah sangat familiar. Sebuah nagari kecil di dekat Ngarai Sianok, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Nagari ini cukup terkenal, bukan hanya karena keasrian alamnya, tapi juga karena kekayaan budaya serta kualitas sumber daya manusianya. Bicara Sumber Daya Manusia, Nagari Kotogadang telah banyak melahirkan tokoh-tokoh terkenal baik di tingkat nasional maupun dunia. Sebut saja Agus Salim, Rohana Kudus, Sutan Syahrir,  dan lain-lain.

Hal lain yang membuat Kotogadang begitu terkenal adalah produk kerajinannya. Sudah sejak dahulu, Kotogadang dikenal dengan produk kerajinan seperti kerajinan perak, sulaman dan renda. Kerajinan tersebut bahkan sudah dikenal hingga manca negara. Bukan saja karena keindahan dan kehalusannya, kerajinan ini dikerjakan dengan menggunakan alat tradisional dan tenaga manusia. Kesenian perak umumnya dilakukan oleh para pria, sementara sulam dan renda dikerjakan para wanita.

Kerajinan renda oleh masyarakat Kotogadang disebut juga kerajinan rendo bangku. Penyebutan tersebut menyesuaikan dengan alat kerjanya yaitu bangku, yakni meja kecil yang dijadikan sebagai alas untuk merenda. Beberapa alat yang digunakan dalam kerajinan ini antara lain: bangku, penggulung renda, kelos (penggulung benang), pola motif, jarum pentul, pengait dan gunting. Sementara bahan utama pembuatan renda adalah benang emas.

Merujuk Refisrul (2011), renda merupakan kerajinan yang terbentuk dari jalinan benang yang dibentuk sedemikian rupa dan menjadi hiasan pada sisi-sisi selendang. Rendo bangku ini menggunakan alat-alat tradisional dengan pengerjaan mengandalkan tangan. Untuk membuat satu renda diperlukan waktu sekitar empat hari. Biasanya untuk menyelesaikan satu renda, seorang perenda harus mengerjakannya dari pagi hingga malam dengan waktu istirahat makan dan sholat.

Proses pembuatan renda dilakukan bertahap, mulai dari membuat pola, menggulung benang, memindahkan, membuat renda dan terakhir memasang renda pada selendang. Renda yang dipasang ke kedua ujung selendang disebut dengan rendo ujung. Sementara renda yang dilekatkan di sisi-sisi selendang disebut dengan rendo tapi. Motif yang biasa dipakaipun bermacam-macam tergantung kreativitas perenda, tapi umumnya berupa tumbuh-tumbuhan seperti bunga matahari, ros, melati.

Bagi masyarakat Kotogadang, kerajinan rendo begitu penting karena lekat dengan adat-istiadat. Hasil rendo umumnya ditempelkan sebagai hiasan pakaian adat seperti selendang bagi perempuan dan kain baterawai bagi laki-laki baru menikah. Selain itu, juga digunakan untuk hiasan tingkuluak yang ditempatkan pada sisi-sisi dan ujungnya. Rendo juga menjadi simbol prestise bagi seseorang. Bahkan setiap anak perempuan yang lahir pada masa lalu sudah disiapkan selendang dengan rendo untuknya.

Pada masa sekarang renda tidak lagi terbatas pada pakaian adat semata. Beberapa produk renda sudah digunakan untuk berbagai peralatan rumah tangga seperti taplak meja, seprai, alas gelas dan sebagainya.

Peran Yayasan Amai Setia

Munculnya kerajinan rendo bangku tidak lepas dari keberadaan Yayasan Amai Setia yang didirikan oleh Rohana Kuddus. Berdiri sejak 11 Februari 1911, awalnya yayasan ini dimaksudkan sebagai tempat berkumpul (Sari, 2016) perempuan Kotogadang sekaligus wadah mengatasi ketertinggalan pendidikan perempuan. Menurut Rohana Kuddus, ketertinggalan pendidikan ditengarai menjadi salah satu penyebab ketertindasan perempuan pada masa itu. Sehingga, pendirian Yayasan Amai Setia diharapkan bisa menjembatani akses pada pendidikan.

Melalui Yayasan Amai Setia, para perempuan Kotogadang  kemudian belajar membaca, menulis dan menghitung (calistung). Mereka juga diajarkan berbagai keterampilan seperti meyulam dan merenda. Hal ini untuk mendorong mereka mampu berkontribusi menopang ekonomi keluarga. Disana mereka dibentuk menjadi perempuan intelek sekaligus mampu mandiri secara ekonomi. Sang pionir Rohana Kuddus juga berpandangan bahwa selain intelektual, perempuan untuk tidak menjadi objek kekerasan maka harus memiliki kemampuan ekonomi.

Hingga kini Yayasan Amai Setia masih tetap eksis. Walau demikian cahaya kejayaan tersebut tidak lagi secerah dahulu. Kini hanya beberapa ibu-ibu yang dengan sabar menggeluti kerajinan ini di gedung yayasan. Tidak banyak perempuan yang berniat belajar kerajinan rendo. Beberapa alasan seperti waktu yang lama serta mengandalkan tangan ditengarai menjadi penyebab kurangnya animo masyarakat untuk belajar rendo bangku.

Penggunaan alat sederhana dan mengandalkan pekerjaan tangan manusia memang membuat proses pembuatan renda ini berjalan lambat. Sementara itu jika dikaitkan dengan ongkos pembuatan yang mahal, maka tentu nilai jualnya juga akan berbanding lurus. Di sisi lain, perkembangan teknologi telah dapat menghasilkan produk serupa dengan waktu yang lebih cepat dan harga yang lebih murah.

Terlepas dari kondisinya akhir-akhir ini, keberadaan rendo bangku diakui telah menjadi tonggak sejarah bagi perempuan-perempuan Indonesia Minangkabau bagi perempuan Kotogadang. Keberadaan rendo bangku tidak hanya mampu menopang ekonomi keluarga di kala sumber penghasilan utama tidak mencukupi. Tapi lebih dari itu, keberadaan rendo bangku telah mampu menjadi wadah mengubah perspektif perempuan di tengah dominasi budaya patriarkhi.

Cita-cita perempuan mandiri dan bebas dari ketertindasan sebagaimana dicita-citakan Rohana kuddus telah menambah peran penting Yayasan Amai Setia Kotogadang dan kerajinan rendo bangku. Para perempuan telah mampu berpikir kritis dan mandiri secara ekonomi melalui pendidikan dan keahlian yang dimiliki. Mereka juga menjadi contoh dan inspirasi bagi perempuan lain untuk melakukan hal yang sama bagi kehidupannya [Penulis adalah peneliti di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 10 Maret 2019

Kunjungan Laseda 2019: Dari Masjid Jamik ke Malborough

0
Foro bersama peserta Laseda 2019 dengan latar Masjid Jamik Bengkulu (26/6). Foto.FM

Bengkulu – salah satu acara yang dilakukan dalam kegiatan Lawatan Sejarah Daerah 2019 Bengkulu adalah kunjungan ke objek-objek bersejarah di Kota Bengkulu. Tidak kurang lima objek bersejarah yang dikunjungi selama dua hari berturut-turut. Objek-objek tersebut antara lain Masjid Jamik, Makam Inggris, Makam Sentot Alibasyah, Rumah Pengasingan Bung Karno, Makam Fatmawati dan Benteng Malborough. Kegiatan kunjungan ini dilakukan pada Rabu – Kamis, 26-27 Juni 2019.

Baca juga: Perlu Kreativitas Memaknai Tinggalan Sejarah

Pada hari pertama kunjungan yakni Rabun (26/6), para peserta dibawa ke empat objek sejarah yaitu Masjid Jamik, Makam Inggris, Makam Sentot Alibasyah dan Rumah Pengasingan Bung Karno. Ketiga objek tersebut sangat ikonik di Kota Bengkulu dengan rincian berikut:

  1. Mesjid Jamik

Mesjid Jamik Bengkulu terletak di Pintu Batu, di persimpangan jalan raya yang cukup ramai. Di sekitar lokasi mesjid terdapat bangunan pertokoan dan rumah-rumah makan bahkan hotel dan penginapan.

Masjid Jamik

Pada tahun 1938, Ir. Soekarno diasingkan ke Bengkulu oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada awal kedatangannya ke Bengkulu Bung Karno mengadakan pendekatan pada masyarakat Bengkulu yang mayoritas beragama Islam. Bung Karno sering berkeliling kota untuk mengenal lebih dekat keadaan Bengkulu. Pada saat berkeliling kota itu ia memperhatikan kondisi mesjid-mesjid yang ada di kota Bengkulu. Pada akhirnya Bung Karno merancang gambar bangunan dalam rangka perbaikan sebuah mesjid yang terletak di tengah kota Bengkulu yang bernama mesjid Jamik.

Bung Karno sebagai seorang arsitek tidak merubah dan menambah semua bangunan mesjid yang lama, tetapi sebagian besar tetap dipertahankan seperti dinding yang ada hanya ditinggikan 2 meter, dan juga lantai ditinggikan 30 cm. Adapun yang tembok oleh Bung Karno adalah bagian atap dan tiang-tiang mesjid.

Bangunan masjid Jamik yang ada sekarang merupakan bangunan mesjid dengan konstruksi permanen, terdiri atas tiga bagian yang saling menyatu, yaitu bangunan inti, bangunan serambi dan bangunan tempat wuduk/kamar mandi. Mesjid Jamik mempunyai bentuk atap khas, tidak memakai kubah sebagaimana mesjid-mesjid lainnya.

  1. Makam Inggris

Komplek makam Inggris terletak di Kelurahan Jitra. Komplek ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah Benteng Marlborough, karena menurut catatan Inggris di Bengkulu telah ribuan orang meninggal akibat perang, atau penyakit dan sebagian diantaranya dimakamkan di komplek pemakaman Jitra ini.

Makam Inggris

Komplek pemakaman ini mempunyai luas 4.343 m2 dan diperkirakan makam orang asing berjumlah 127 buah yang berukuran kecil maupun besar. Bentuk makam bervariasi. Ada yang berbentuk limas dan ada pula yang tidak memiliki atap. Pada tubuh makam juga ada ditemui pola hias yang bervariasi dan ada yang menonjol ciri khas Eropa, yang memiliki pilar dan bermotif bunga. Makam ini banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara.

  1. Makam Sentot Alibasyah

Makam Sentot Alibasyah terletak di Kelurahan Bajak, Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Makam tersebut terletak di kompeleks pemakaman umum. Luas keseluruhan lebih kurang 400 m2. Sentot Alibasyah adalah seorang Panglima Perang Diponegoro dalam melawan kolonial Belanda di Pulau Jawa. Setelah Pangeran Diponegoro dan Sentot Alibasyah ditangkap, kemudian Sentot Alibasyah dikirim ke Sumatera Barat. Karena Sentot Alibasyah memberikan dukungan kepada Kaum Paderi, maka Sentot Alibasyah ditarik kembali ke Jawa dan disingkirkan ke Cianjur.

Makam Sentot Alibasyah

Di Batavia ia diizinkan oleh Belanda untuk menunaikan ibadah haji. Sepulangnya dari Mekkah (1833), ia langsung menjalani putusan pengadilan yaitu, dibuang ke Bengkulu. Pangeran Alibasyah Prawiradiraja, yang lebih dikenal dengan nama Sentot Alibasyah, dengan surat pengusulan dan Gubernur Jenderal dalam Dewan tertanggal 12 Desember 1843 La N dibuang ke Bengkulu.

Sampai saat ini riwayat Sentot Alibasyah selama berada di Bengkulu belum dapat diungkapkan secara baik. Dari data yang ada hanya diungkapkan ia meninggal di Bengkulu pada tanggal 17 April 1855 dan dimakamkan di Kelurahan Bajak, Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu (Lokasi makam Sentot Alibasyah dahulunya disebut juga “Surau Lamo”). Setiap saat makam Sentot Alibasyah banyak dikunjungi oleh wisatawan asing maupun domestik.

  1. Rumah Kediaman Bung Karno

Rumah Bung Karno  terletak di tengah kota Bengkulu, tepatnya di jalan Sukarno Hatta Kelurahan Anggut Atas Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu. Tidak diketahui kapan rumah ini dibangun. Awalnya rumah ini adalah milik seorang pedagang Tionghoa yang bernama Lion Bwe Seng yang disewa Belanda untuk Bung Karno selama pengasingan. Hingga sekarang ciri-ciri rumah masih tetap dipertahankan seperti lobang angin yang terdapat di atas jendela dan pintu bermotif huruf/ungkapan dalam bahasa cina.

Rumah Kediaman Bung Karno

Rumah tersebut cukup luas dengan ukuran 9 x 18 m dan mempunyai luas halaman seluruhnya 40.434 m2. Bangunan rumah tersebut terdiri dari beranda depan, kamar kerja, kamar tidur, beranda belakang, dapur dan sebuah sumur. Di dalam rumah terdapat perlengkapan atau perabot rumah tangga yang dirancang oleh Bung Karno, pakaian kelompok sandiwara (tonil monte Carlo) dan sepeda yang pernah yang digunakan oleh Sukarno selama di pengasingan di Bengkulu.

Pada saat Bung Karno menempati rumah itu, selalu dijaga ketat oleh petugas kepolisian Belanda. Siapapun tamu beliau terlebih dahulu harus melapor dan minta izin kepada petugas penjagaan. Ruang gerak Bung Karno dibatasi. Meskipun demikian, Bung Karno masih lolos untuk berhubungan dengan tokoh-tokoh politik lainnya seperti Husni Tamrin, Hamka, dan Kyai Haji Mansyur.

Bung Karno menempati rumah ini sejak pengasingannya di Bengkulu yakni tahun 1938 hingga 1942. Selama dalam pengasingan, Bung Karno mempunyai dua orang pembantu, yaitu Miin dari Sunda dan Fadil dari daerah Lebong. (bersambung) (FM)

Perlu Kreativitas Memaknai Tinggalan Sejarah

0

Bengkulu – Narasumber pembekalan teknis peserta Lawatan Sejarah Daerah 2019 menekankan  perlunya kreativitas masyarakat khususnya generasi muda untuk memaknai tinggalan sejarah sehingga tinggalan tersebut lebih bermakna. Hal ini disampaikan kedua narasumber Laseda yakni Agus Setiyanto, sejarawan Bengkulu dan Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu pada  Rabu (26/6).

Baca juga: Lawatan Sejarah Daerah 2019 Resmi Dibuka

Agus Setiyanto yang membawakan materi berjudul Peninggalan Sejarah dan Budaya bagi Kehidupan Masyarakat menyatakan bahwa ada kecenderungan generasi muda sekarang jenuh terhadap nilai-nilai lama, krisis identitas, daya saing nilai lama lemah dan daya tarik nilai baru serta masuknya nilai-nilai pragmatis.

Untuk itu perlu melakukan rehistori dan rekulturisasi, dimana upaya ini bertujuan untuk membentuk kesadaran identitas, kecintaan terhadap nilai-nilai lama, kebanggaan terhadap nilai-nilai lama dan selanjutnya mendorong rasa memiliki terhadap nilai-nilai lama tersebut.

Lebih lanjut dia menambahkan bahwa tujuan itu bisa dicapai dengan cara-cara kreatif memaknai tinggalan sejarah dengan implementasi kesadaran identitas, menggali kearifan lokal, menumbuhkan semangat retradisionalisasi, mempertahankan local genius dan melalui pendekatan humanihora.

Suarman, sebagai narasumber kedua juga mengamini pendekatan kreatif tersebut. Dia juga menambahkan bahwa ide-ide kreatif dapat diimplementasikan dalam hal publikasi peristiwa maupun objek sejarah sehingga semua orang dapat belajar dan mengenali identitasnya. (FM)

Lawatan Sejarah Daerah 2019 Resmi Dibuka

0

Bengkulu – Lawatan Sejarah Daerah 2019 secara resmi dibuka. Acara pembukaan dilaksanakan pada 26 Juni 2019 di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu di Jl. S. Parman No.7 Kota Bengkulu. Acara ini dibuka oleh Gubernur Bengkulu yang diwakili Asisten Administrasi Umum Provinsi Bengkulu H. Gotri Suyatno. Turut hadir dalam acara pembukaan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Kepala Taman Budaya, Kepala Museum, Ketua BMA Bengkulu dan Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat serta panitia, peserta dan tim juri Laseda 2019.

Acara pembukaan dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh M.Reyhan Pratama F, menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin oleh Agmunisa Suci Oktira, Laporan Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman dan pembukaan secara resmi oleh Gubernur Bengkulu yang diwakili Asisten Administrasi Umum H. Gotri Suyatno.

Baca juga: Pembekalan Peserta Laseda 2019

Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman dalam laporannya menyatakan bahwa tema Laseda 2019 adalah Melacak Warisan Sejarah dan Budaya untuk Mempererat Keberagaman Bangsa. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai sejarah budaya sehingga dapat mempererat persatuan bangsa. Dia juga menyampaikan bahwa pemilihan Bengkulu sebagai lokasi lawatan lebih dikarenakan Bengkulu ikut mewarnai sejarah Indonesia yang ditandai dengan banyaknya objek-objek sejarah di Bengkulu.

Suarman selanjutnya melaporkan peserta Laseda 2019 berjumlah 50 orang, terdiri dari 40 peserta didik dan 10 orang guru pendamping. Seluruh peserta berasal dari sekolah-sekolah yang ada di tiga provinsi wilayah kerja BPNB Sumbar. Adapun asal sekolah para peserta pada tahun ini yakni MAN 2 Padang, SMA N.8 Padang, SMA N.1 Ujanmas, Muara Enim, SMA N.2 Unggulan Sekayu, SMA N.20 Palembang, SMA N.3 Mukomuko, SMA N.10 Kaur (pentagon), MAN 1 Padang, SMA N.1 Kepahiang, SMA N.1 Pampangan, SMK N.9 Padang dan SMK N.1 Padang. Dia selanjutnya berharap para peserta laseda menjadi duta sejarah di masa mendatang.

Sementara dalam sambutan Gubernur yang disampaikan Gotri Suyatno menyatakan sangat mendukung pelaksanaan Laseda 2019. Dia sekaligus mengutip pernyataan Soekarno tentang JASMERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Dia juga berharap melalui kegiatan laseda dapat menghasilkan tumbuhnya semangat apresiasi generasi muda pada sejarah, memberi informasi tentang sejarah, membuka dan menumbuhkan wawasan generasi muda tentang sejarah serta dapat memperkenalkan tokoh-tokoh sejarah kepada generasi muda.

Seperti yang diinformasikan sebelumnya, lawatan sejarah merupakan kegiatan rutin Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat yang dilaksanakan sekali setahun. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menginternalisasikan nilai-nilai sejarah dan budaya kepada peserta didik. Sehingga sasaran kegiatan ini adalah peserta didik tingkat SMA.

Setelah pembukaan, selanjutnya peserta menerima materi sejarah dari beberapa narasumber seperti Agustiyanto, sejarawan Bengkulu dan Drs. Suarman, kepala BPNB Sumbar. Kegiatan pasca materi narasumber berlanjut dengan kunjungan ke berbagai objek-objek sejarah yang ada di Kota Bengkulu. (FM)

Pembekalan Peserta Laseda 2019

0

Bengkulu – Peserta lawatan sejarah daerah 2019 telah tiba di Kota Bengkulu. Sebanyak 40 peserta didik dan 10 guru dari tiga provinsi berkumpul di Hotel Wedika Kota Bengkulu. Panitiapun memberikan pembekalan kepada peserta sebelum seluruh rangkaian acara Laseda digelar. Pembekalan ini diadakan di aula Hotel pada malam Selasa (25/6) yang dipimpin oleh ketua panitia Drs. Ajisman. Hadir dalam pembekalan tersebut yaitu para peserta, panitia dan tim juri.

Hal-hal yang disampaikan dalam pembekalan tersebut terutama berkaitan dengan disiplin para peserta selaama kegiatan berlangsung. Selain itu, panitia juga menjelaskan jadwal dan teknis pelaksanaan acara dari pembukaan hingga penutupan acara.

Baca juga: Pemberangkatan Peserta Lawatan Sejarah Daerah 2019

Adapun rangkaian acara pelaksanaan laseda 2019 yakni:

  1. Pembukaan di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
  2. Pembekalan oleh narasumber
  3. Presentasi makalah oleh pendidik
  4. Kunjungan ke objek-objek bersejarah
  5. Presentasi makalah oleh peserta didik
  6. Pelaporan hasil kunjungan
  7. Penampilan kesenian
  8. Penutupan sekaligus penyerahan apresiasi

Adapun  obyek-objek sejarah yang akan dikunjungi pada laseda kali ini antara lain Masjid Jamik, Makam Inggris, Rumah Pengasingan Bung Karno, Rumah Fatmawati, Museum Bengkulu, Makam Sentot Alibasyah dan Benteng Malborough.

Seluruh rangkaian acara tersebut akan dimulai Rabu (26/6) dengan pembukaan acara di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu. Acara pembukaan rencananya akan dilakukan langsung oleh Gubernur Bengkulu.

Pada acara pembekalan tersebut, panitia menyampaikan bahwa peserta akan dinilai dari berbagai aspek selama Laseda. Beberapa aspek tersebut yakni makalah, keaktifan dan perilaku. Panitia juga menyampaikan bahwa tiga peserta dengan makalah terbaik akan diberikan apresiasi. Adapun kegiatan-kegiatan yang diberikan apresiasi oleh panitia yakni makalah terbaik, kelompok terbaik, penampilan kesenian terbaik dan guru terbaik.

Selanjutnya pada akhir acara nanti, panitia akan memilih dua orang peserta laseda terbaik dari tiap provinsi dan masing-masing satu guru pembimbing untuk mewakili daerahnya ke acara Lawatan Sejarah Nasional 2019. Rencananya Lasenas ini akan diadakan di Sumatera Utara pada 8 – 12 Juli 2019. (FM)

Pemberangkatan Peserta Lawatan Sejarah Daerah 2019

0
Pemberangkatan peserta laseda

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat akan melaksanakan Lawatan Sejarah Daerah 2019. Kegiatan akan dilaksanakan pada 25-28 Juni 2019 di Kota Bengkulu. Hari ini, Senin (24/6) panitia dan peserta dari Sumatera Barat berangkat dari Kota Padang ke Bengkulu. Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman secara langsung memimpin pemberangkatan peserta dari kantor Jl. Belimbing No,16 Kuranji Padang.

Acara pemberangkatan dimulai dengan pengantar dari ketua panitia Drs. Ajisman, kata sambutan sekaligus pemberangkatan dari Drs. Suarman serta doa  yang dipimpin oleh salah seorang peserta didik.

Baca juga: Mati Samuik dek Manisan Jatuah Kabau dek Lalang Mudo

Suarman, saat pemberangkatan menyampaikan harapannya agar selama dalam perjalanan tidak mengalami hambatan apapun. Demikian juga dari mulai acara hingga kelar senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Dia juga menekankan agar peserta khususnya yang berasal dari Sumatera Barat agar menjaga nama baik daerah sebagai pribadi-pribadi yang beradab.

Kegiatan Laseda, merupakan kegiatan tahunan dalam upaya menginternalisasikan nilai sejarah dan budaya kepada peserta didik. Dalam kegiatan ini, peserta didik akan dikenalkan objek-objek serta peristiwa sejarah yang terjadi di suatu daerah. Sehingga kegiatan ini dilaksanakan secara bergilir di tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat yakni Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Bengkulu  dan Provinsi Sumatera Selatan.

Pada tahun ini, kegiatan Laseda dipusatkan di Provinsi Bengkulu, tepatnya di Kota Bengkulu. Sebanyak 50 orang peserta yang terdiri dari 40 peserta didik dan 10 guru yang berasal dari 12 SMA di tiga provinsi akan berkumpul selama pelaksanaan berlangsung.

Rangkaian acara yang akan dilaksanakan pada Laseda kali ini yakni pembukaan, pembekalan narasumber, kunjungan ke objek-objek bersejarah, presentasi makalah dan penilaian, serta penutupan. Panitia akan memberi apresiasi kepada tiga orang pemakalah terbaik. Selain itu, tiga orang terbaik dari masing-masing provinsi juga akan diutus ke acara Lawatan Sejarah Nasional yang akan diadakan di Sumatera Utara pada bulan Juli mendatang. (FM)

Mati Samuik dek Manisan, Jatuah Kabau dek Lalang Mudo

0

Penulis: Undri

Berhati-hati dan jangan cepat sekali percaya akan bujukan mulut manis dan budi bahasa yang baik. Lekas percaya kepada segala sesuatu yang hanya dilihat lahirnya belaka- fisiknya- sebab bisa saja kenyataannya tak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Terkadang sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, siapa yang tulus dan siapa yang menipu. Terperdaya akan hal ini kita bisa jadi korban nantinya –mati samuik dek manisan, jatuah kabau dek lalang mudo (mati semut karena manisan, jatuh kerbau karena rumput muda).

Semut suka sekali dengan gula atau manisan. Dimana ada gula, ada manisan maka dengan cepatnya semut akan berkumpul pula disana. Akibat terperdaya oleh manisnya gula dan nikmatnya madu. Berkejar-kejar pula semut tersebut. Semut ada yang terpeleset masuk ke dalam genangan manisan hingga akhirnya terperangkap dan mati.  Demikian pula halnya kerbau yang suka sekali dengan rumput muda. Bila melihat rumput muda atau lalang  maka kerbau itu memakannya sampai sekenyang-kenyangnya. Bahkan lalang yang tumbuh ditepi tebingpun asal muda akan diusahakan untuk dapat dimakannya sekenyang-kenyang perutnya. Oleh karena badan kerbau itu cukup berat maka runtuhlah tebing dan jatuhlah ia ke dalam jurang.

Sebuah nasehat bagi kita untuk mengendalikan hawa nafsu. Bila kita terlalu memperturutkan hawa nafsu maka kita bisa terjerumus karenanya. Kadang membuat kita sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, siapa yang tulus dan siapa yang menipu. Irama hidup yang harus menjadi pilihan bagi kita.

Sebab hawa nafsu adalah sebuah  perasaan atau kekuatan emosional yang besar dalam diri seorang manusia yang perlu dikendalikan; berkaitan secara langsung dengan pemikiran atau fantasi seseorang. Hawa nafsu merupakan kekuatan psikologis yang kuat yang menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut.

Terkadang sebagian orang menganggap hawa nafsu sebagai “syaitan yang bersemayam di dalam diri manusia,” yang bertugas untuk mengusung manusia kepada kefasikan atau pengingkaran. Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih mahal ketimbang kenikmatan yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang bahkan kehancuran.

Bagaimana kita memahami tentang hawa nafsu tersebut. Secara dasarnya setiap orang diciptakan dengan potensi diri yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi itu muncul kepermukaan. Potensi untuk menciptakan keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan lainnya. Namun karena hambatan  nafsu yang ada pada diri seseorang potensi-potensi tadi tidak dapat muncul kepermukan.

Kita sadari usaha untuk mengendalikan nafsu ini bukan perkerjaan yang mudah. Karakter nafsu yang tak tampak dan kerapkali membawa efek kenikmatan yang amat besar  menjadikannya sebagai musuh paling sulit untuk diperangi. Rasulullah SAW sendiri mengistilahkan ikhtiar pengendalian nafsu ini dengan “jihad”, yakni jihâdun nafsi. Bahkan diibaratkan nafsu itu sebagai hewan beringas dan nakal. Untuk menjinakkannya, menjadikan hewan itu lapar dan payah merupakan pilihan strategi yang efektif. Selama proses penundukkan itu, nafsu mesti disibukkan dengan hal-hal positif agar semakin jinak dan tidak buas bagi seseorang dalam kehidupan ini.

Memposisikan perihal kehati-hatian kepada bujukan mulut yang manis dan budi bahasa yang baik itu seseorang nampaknya penting bagi kita. Jangan terperdaya kepada bentuk seseorang namun jauh lebih dari itu, yakni hati yang suci penting untuk dimaknai.  Terkecoh kita bila bentuk fisik saja yang kita pahami.  Sejalan dengan itu dalam petitih Minangkabau dijelaskan  gadang bungkuih indak barisi, gadang suok indak manganyang-besar bungkus tidak berisi, besar suap tidak mengenyang. Merupakan nasehat atau anjuran agar jangan lekas percaya kepada segala sesuatu yang hanya dilihat lahirnya belaka, sebab bisa saja kenyataannya tak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Untuk itu mari kita mensucikan diri atau mengendalikan hawa nafsu, berjalan di jalur-jalur yang benar saja. Jika hal tersebut kita ikuti maka kita akan selamat dan terhindar dari korbannya dari hawa nafsu yang tidak terkendali tersebut.

Jadi –mati samuik dek manisan, jatuah kabau dek lalang mudo (mati semut karena manisan, jatuh kerbau karena rumput muda) merupakan sebuah nasehat bagi kita supaya  kita agar tidak terperdaya oleh mulut manis, penuh janji-jani tapi tidak ditepati. Sebuah keharusan yang harus kita pahami dan laksanakan bila kita tidak ingin jadi orang yang merugi dikemudian hari nantinya. Mudah-mudahan. [Penulis adalah peneliti Balai pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah

Filosofi Kain Panjang

0

Penulis: Ernatip

Kain dan manusia saling terkait sejak lahir hingga ajal datang menjemput, disimbolkan dengan pambaduang dari kain. Bayi baru lahir setelah dibersihkan lalu dibedung menggunakan kain agar tidurnya nyenyak. Hingga tiba waktunya manusia itu meninggal dunia kain digunakan untuk menutup jenazahnya. Kain lazim digunakan oleh manusia dalam kesehariannnya. Kain dalam pemahaman orang kini adalah kain yang bukan pakaian sehari-hari, melainkan kain yang dipakai untuk kegitan tertentu. Kain itu banyak jenisnya, ada yang disebut dengan kain sarung dan kain panjang. Kain sarung bentuknya seperti karung ada namaya sarung plikat yang lazim dipakai oleh kaum laki dan untuk shalat bagi kaum perempuan. Selain itu ada pula namanya sarung batik jao yang lazim dipakai oleh kaum perempuan. Sedangkan kain panjang adalah kain yang berukuran panjang hingga menjapai 3-4 meter.

Kain panjang berasal dari bahan batik yang memilki banyak jenis misalnya batik tulis, batik tanah liat, batik cetak dan lainnya. Kain panjang memiliki banyak warna dan motif yang beragam. Kain sarung dan kain panjang mempunyai nilai yang berbeda dalam kehidupan manusia, walaupun dalam keseharian sama-sama digunakan. Secara kasat mata kain panjang menempati posisi yang khusus dan bahkan termasuk legitimasi adat pada daerah tertenu seperti Minangkabau. Orang Minangkabau menempatkan kain panjang sebagai peralatan yang bernilai tinggi dan sebagai penghormatan. Hal ini terlihat dari pada pelaksanaan upacara adat perkawinan dan upacara adat lainnya. Kain panjang dijadikan sebagai alas kasur tempat duduk penghulu dan ninik mamak pada upacara adat yag sedang berlangsung. Selain itu kain panjang pun ada juga digunakan untuk penutup bagian tertentu dari rumah di saat berlangsungnya perhelatan.

Kain panjang dalam adat Minangkabau termasuk atribut adat yang ada semenjak sesorang itu dilahirkan hingga akhir hayatnya. Setiap fase yang dilalui oleh seseorang itu kain panjang menjadi barang yang tak terabaikan. Kain panjang menjadi barang bawaan yang diperuntukan untuk seseorang sebagai bentuk kasih sayang dan hubungan silaturahmi. Ikatan keluarga semakin kuat setelah lahirnya generasi baru yang ditandai dengan datang bersilaturahmi.

Fase pertama kehidupan manusia atau sebelum lahir kain panjang telah disediakan yang nantinya akan digunakan untuk bedung maupun pandukuang.  Semenjak masa bayi kain panjang telah dipakai oleh manusia sebagai pelindung dari kedinginan, membuat tubuhnya hangat karena dibedung. Kondisi seperti ini membuat ia tertidur pulas sampai berjam-jam. Selain itu kain panjang pun digunakan sebagai pandukuang bayi. Menggendong bayi menggunakan kain panjang terasa lebih leluasa baik si bayi maupun yang menggendongnya. Bayi yang digendong bisa dibaringkan karena kain yang lebar mampu menutup seluruh tubuh. Begitu juga orang yang menggendong terasa enteng karena kekuatan gendongan terletak pada bahu bukan pada tangan. Kedua tangan bisa melenggang dan bayi tetap nyaman dalam gendongan bahkan sering ia tertidur.

Kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa kain panjang begitu berarti bagi manusia mulai sejak bayi. Oleh sebab itu dalam adat Minangkabau tradisi mancaliak anak umumnya orang membawa kain panjang. Tradisi mancaliak anak dilakukan oleh pihak bako anak (nenek dari ayah) beserta anggota keluarganya. Pada acara ini biasanya nenek dan anggota keluarga lainnya datang beramai-ramai melihat cucu baru lahir. Rombongan itu terutama nenek dan keluarga terdekat membawa kain panjang, di samping bawaan yang lain seperti emas dan lainnya. Barang bawaan berupa kain panjang merupakan adat turun temurun. Sedangkan emas atau yang lainnya adalah penyerta adat karena adanya kemampuan keluarga yang bersangkutan.

Melewati fase masa bayi, kain panjang pun masih menjadi peralatan adat yang diberikan kepada seseorang. Memasuki masa peralihan yakni menikah kain panjang sebagai pengisi piring hantaran. Pada prosesi adat bertunangan yang ditandai dengan istilah maantaan nasi lamak. Maantan nasi lamak adalah prosesi adat dalam rangka penentuan waktu pelaksanaan pernikahan. Maantaan nasi lamak dilakukan oleh pihak perempuan ke rumah pihak laki-laki. Selain itu nasi lamak juga diantarkan ke rumah bako, mamak anak yang akan menikah tersebut. Piring nasi lamak ini nantinya oleh yang menerima akan diisi dengan bermacam-macam barang salah satu nya adalah kain panjang.

Adat seperti tersebut sangat kental terlihat pada masyarakat di Kota Padang. Hampir setiap waktu dapat disaksikan adanya arak-arakan orang mancaliak anak, orang maantaan piriang nasi lamak. Prosesi adat tersebut menjadikan kain panjang sebagai adat yang harus diisi. Oleh sebab itu tidak heran pada acara tersebut ada puluhan bahkan ratusan helai kain panjang yang diterima oleh keluarga yang bersangkutan. Kain panjang pemberian itu terutama dari pihak bako mempunyai nilai yang sangat dalam, adat bako terhadap anak pisang. Hubungan bako dan anak pisang tidak akan putus sampai akhir hayat walaupun “ayah” nantinya telah tiada.

Kain panjang begitu berarti dalam kehidupan manusia tidak hanya semasa hidup setelah meninggal dunia pun demikian. Orang yang telah meninggal dunia jasatnya disemayamkan ditutupi menggunakan kain panjang. Adat kematian berbeda-beda setiap daerah di Minangkabau, disebut jiga dengan istilah adat salingka nagari. Adat kematian di Kota Padang, penyelenggaraan jenazah tidak hanya menurut ajaran agama Islam yakni dimandikan, dikapani, disahalatkan dan dikuburkan. Penyelenggaraan jenazah disertai adat yang berlaku semenjak lama yakni adanya pasambahan dan aturan adat lainnnya terkait dengan memandikan jenazah. Hubungan keluarga baik bertali darah maupun bertali adat terlihat pada prosesi penyelenggaraan jenazah tersebut.

Berkaitan dengan hal itu, pada hari kematian kain panjang sangat diperlukan. Kain panjang digunakan mulai dari jenazah disemayamkan, dimandikan, dikapani sampai kepemakaman. Begitu banyak kain panjang yang terpakai maka dihari kematian tersebut kaum kerabat terdekat biasanya membawa kain panjang. Kain panjang itu lazim disebut dengan istilah kain alas tilam. Kain alas tilam adalah istilah yang digunakan untuk acara kematian yang terdiri dari beberapa helai kain panjang. Kain alas tilam digunakan sebagai alas jenazah ketika dibawa kepemakaman.

Berdasarkan kenyataan tersebut, ternyata kain panjang sangat erat kaitannnya dengan aktivitas manusia. Terlepas dari untuk pengisi adat kain panjang pun banyak digunakan dalam keseharian. Bagi orang yang mempunyai anak bayi kain panjang bisa juga digunakan untuk ayunan atau buayan di samping untuk menggendong.  Kain panjang disebut juga dengan kain pandukuang karena digunakan untuk mandukuang (menggendong) anak. Sesungguhnya dalam situasi tertentu yang didukuang tidak hanya manusia tetapi barang bawaan berupa benda ada yang didukuang.  Selain itu kain panjang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam suatu pekerjaan seperti untuk sangguluang. Pada masa dahulu baik kaum laki-laki maupun perempuan sering menggunakan sangguluang untuk membawa barang yang berat dengan cara dijujung di atas kepala. Sangguluang digunakan sebagai alas kepala agar barang bawaan mudah diletakan dengan baik.

Kegunaan lain dari kain panjang adalah sebagai pakain sehari-hari, maksudnya dijadikan sebagai selimut tidur. Kain panjang banyak digunakan untuk selimut karena ukurannnya yang panjang sehingga bisa menutupi seluruh tubuh. Pada masa dahulu orang lazim menggunakan kain panjang untuk selimut tidur, dua atau tiga orang anak-anak bisa diselimuti dengan satu helai kain panjang. Begitu juga remaja laki-laki yang pergi tidur ke surau atau tidur bersama kawan-kawannya berselimutkan kain panjang.

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa kain panjang mempunyai makna yang sangat dalam bagi manusia. Ia lahir dinanti dengan kain pajang dan ketika meninggal dunia pun jenazahnya ditutup kain panjang diantar kepemakaman. Hal ini menandakan bahwa kain panjang termasuk pakaian manusia yang akan selalu ada sepanjang hayatnya. Memang diakui saat ini bahwa kain yang fungsinya sama dengan kain panjang cukup banyak. Misalnya untuk bedung bayi, menggendong bayi, selimut tidur. Tetapi semua itu tidak sama dengan kain panjang, untuk acara adat di Minangkabau masih menggunakan kain panjang sebagaimana yang diwarisi oleh para tetua dahulu [Penulis adalah Peneliti di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 24 Februari 2019

Baju Kurung Basiba: Cerminan Jati Diri Perempuan Minangkabau

0
Silvia Devi

Penulis: Silvia Devi

Pakaian adalah salah satu hasil kebudayaan yang dimiliki oleh setiap masyarakat dimana saja berada. Pakaian dikenakan sesuai dengan kondisi lingkungan dan juga nilai adat, norma dan agama yang memang dipatuhi oleh tiap kelompok masyarakat. Pakaian tidak hanya tidak hanya sebagai penutup tubuh saja melainkan sebagai lambang status seseorang dalam masyarakat dan  merupakan perwujudan “rasa malu”,  sehingga berusaha menutup segala bagian tubuh.

Bagi masyarakat Minangkabau yang memiliki falsafah hidup Adat Basandi Syara Syara Basandi Kitabullah, maka pakaian harus menutup aurat. Namun sebelum masuk ajaran Islam di Minangkabau maka pakaian yang dikenakan oleh perempuan Minangkabau terlihat seperti pakaian Jawa dan Bali yang dikenal dengan sebutan kemben. Seperti yang diungkapkan oleh Fatimah (2018) bahwa kemudian bentuk pakaian perempuan Minangkabau mengalami perubahan semenjak masa Paderi 1803 (Pembaruan Islam I) akibat adanya akulturasi dengan bangsa India, Timur Tengah, Cina dan Melayu. Bentuk-bentuk pakaian pada masa itu berbentuk jubah, kerudung dan cadar. Barulah pada fase kedua, dikenal sebagai masa Pembaharuan Islam Awal abad ke-20 yang ditandai dengan kepulangan tokoh Islam antara lain Syech Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) dan Syekh Ibrahim Musa. Para tokoh ini kemudian mengembangkan paham pembaharuan yang berbeda dengan Wahabi abad ke-19. Pada awal abad ke-20 pakaian Islam Wahabi berubah menjadi pakaian baju kurung dengan penutup kepala. Model abad ke 20, hampir sama bentuknya dengan pakaian perempuan Minangkabau yang berkembang sekitar tahun 1682. Masih menurut Fatimah (2018) dikatakan bahwa munculnya baju kurung basiba dipopulerkan  Perguruan  Rahmah, tidak lagi mengikuti model Paderi abad ke-19. Bedanya dengan kedatangan Islam pertama  yang dipengaruhi oleh pakaian dari Cina yang biasanya dibuat pendek kini diperpanjang sampai kebawah panggul.

Sebagai masyarakat yang memegang falsafah Adat Basandi Syara Syara Basandi Kitabullah, maka baju kurung basiba salah satu bentuk perwujudannya. Hal ini dikarenakan baju ini menutup aurat dan longgar. Pakaian ini dikenakan lengkap dengan tingkuluak dan kain jao. Tidak semata-mata longgar melainkan memiliki makna yang sangat terkait dengan kebudayaan Minangkabau.

Adapun makna pada bagian-bagian dari kekhasan baju kurung basiba, seperti yang diungkapkan Fatimah (2018) yakni :1) Bagian siba. Siba batanti  baliak balah, disisiak makau ka amasan. Secara fisik siba menyambung dua kubu dan belakang. Menggambarkan kemampuan perempuan Minangkabau untuk menyambung dua kubu yang bertolak belakang. Perempuan minangkabau harus mampu menjadi mediator, penengah, fasilitator, penyambung lidah dua kaum yang bertolak belakang.2) Bagian kikiek.  disebut juga daun budi merupakan pelindung ketiak agar tidak terlihat (berbeda dengan baju you can see). Kikiek mencerminkan bagaimana seorang perempuan Minangkabau memiliki fungsi menutupi malu. Mamakai raso jo pareso, manaruah malu jo sopan. Yang juga bermakna adat mamakai, dipakai siang jo malam yang berarti dimanapun berada perempuan Minangkabau tetap             berpedoman pada adat basandi syara’, syara’ basandi  kitabullah.3) Baju berbentuk kurung, yakni baju yang longgar berbentuk kurungan yakni kain pandindiang miang, Ameh pandindiang malu.Artinya pakaian bagi orang minang adalah sebagai pelindung tubuh. Pakaian juga sebagai penutup malu. Perempuan Minangkabau  menutup malu dengan  memakai pakaian yang bersifat mengurung tidak menampakkan lekuk tubuh.4). Lengan Lapang. Mengandung pepatah tagak baapuang jo aturan, baukua jangko  jo jangka. Artinya segala tindak tanduk perempuan Minangkabau harus  sesuai dengan aturan, pandai membawa diri dalam kondisi apapun, menjaga sopan santun. Adapun bentuk lengannya dibiarkan lepas sampai pergelangan tangan agar memudahkan perempuan dalam menjalankan aktifitas sehari-hari 5).Leher tanpa krah Lihianyo lapeh tak  bakatuak, babalah sainggo dado.Leher berfungsi untuk menempatkan aksesoris. Bagi permpuan Minangkabau, memakai aksesoris dalam menghadiri acara-acara tertentu akan mencerminkan bagaimana kondisi keluarga dan kaumnya.

Baju kurung basiba dikenal sebagai pakaian adat perempuan Minangkabau. Secara definisi baju kurung basiba menurut Imelda (2016) adalah pakaian adat  khas perempuan Minangkabau yang bentuknya longgar dan panjang sampai ke lutut. Mempunyai siba, kikik pada ketiak dan lengannya panjang sampai pergelangan tangan, leher tanpa kerah dan bagian depan  sedkit dibelah sebatas dada.

Adapun pepatah minang terkait pakaian ini yakni : “babaju kuruang gadamg langan, paapuih miang dalam kampuang, pangipeh angek nak nyo dingin, Siba batanti baliak balah, basisiak makau ka amasan,  Gadang basalo jo nan ketek, Tando rang gadang bapangiriang, Tagak baapuang  jo aturan, Baukua jangko jo jangkau, Duduak baagak bainggoan, lihianyo lapeh tak bakatuak, babalah sainggo dado, Rang gadang pahamnyo lapang, rang cadiak paham salero”.

Fenomena saat ini

Namun yang terjadi pada saat ini adalah banyak perempuan Minangkabau yang tak lagi mengetahui apa itu baju kurung basiba. Besarnya pengaruh model pakaian yang sangat mudah didapatkan dari kemajuan teknologi menyebabkan mereka lebih merasa bangga menggunakan model pakaian di luar daerahnya. Bahkan meski telah tahu bahwa itu menampakkan aurat mereka tetap saja mengenakannya dengan rasa bangga.

Kenyataan ini tidak bisa dibiarkan karena akan sangat membahayakan bagi kehidupan masyarakat Minangkabau. Terlebih perempuan Minangkabau adalah limpapeh rumah nan gadang.  Limpapeh adalah tiang tengah sebuah bangunan, pusat segala kekuatan tiang-tiang lainnya. Jadi maknanya bahwa perempuan di Minangkabau merupakan tiang kokoh dalam rumah tangga. Jika tiang itu rusak tergerus oleh kuatnya arus modernisasi zaman, maka hancurlah masyarakat Minangkabau dengan segala adat yang dimilikinya. Padahal nilai-nilaia adat, nilai agama dan norma tercermin dari baju kurung basiba tersebut.

Saat ini baju kurung basiba yang merupakan identitas perempuan Minangkabau  sudah kurang bermakna. Baju kurung basiba sudah dianggap sebagai pakaian kuno, yang dipakai oleh nenek moyang pada masa dahulu. Mereka tidak lagi memahami apa makna dari pakaian tersebut. Baju kurung basiba saat ini hanya dipakai oleh para bundo kanduang. Bahkan meski dipakai pun oleh para bundo kanduang tetap saja mereka sebagian besar belum memahami apa makna dari bagian-bagian khas pakaian tersebut. Sehingga banyak kita lihat mereka memakai baju kurung basiba hanya sebatas nama saja. Pakaian yang dipakai terlihat melekat ketat ke badan sehingga menampakkan lekuk tubuh si pemakai. Padahal seyogyanya baju kurung basiba tersebut longgar dan tidak menampakkan lekuk tubuh si pemakainya, karena sesungguhnya wanita itu adalah aurat.

Saat ini hal biasa kita melihat pakaian tradisional perempuan Minangkabau yang tidak lagi sesuai dengan falsafah yang dianut. Bahkan banyak para desainer yang terlalu berkreasi sehingga melanggar nilai-nilai kesopanan yang dimiliki masyarakat Minangkabau dengan mengatasnamakan seni. Hendaknya hal itu diberi penjelasan pada berbagai forum diskusi dengan melibatkan berbagai lini agar nilai-nilai tradisi yang terdapat dalam pakaian tersebut tidak luntur. Adanya penjelasan bagaimana pakaian perempuan Minangkabau bisa di kreasi tanpa menghilangkan nilai-nilai di dalamnya. Akhirnya, kedepannya kita dapat melestarikan baju kuruang basiba dalam kehidupan ini [ Penulis adalah peneliti di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 24 Maret 2019

Manuladan Ka Nan Baiak, Maniru Ka Nan Nyato

0

Penulis: Undri

Mengajari anak dengan pengetahuan adat istiadat mestilah kita lakukan bagi setiap orang tua. Jebakan berbagai pengaruh menjadi hantu yang menakutkan, dan telah menjadi semacam hiasan dinding bagi generasi muda saat ini. Bertolak dari itu, dahulu pengaruh dari luar belum begitu besar, adat istiadat masih kuat dan kokoh. Segenap anggota masyarakat mempelajari tentang adat istiadat kepada yang tua-tua yang memiliki pengetahuan yang banyak tentang hal tersebut. Dengan cara yang demikian pengetahuan seseorang mengenai adat istiadat sudah tidak diragukan lagi, apalagi pemangku adatnya. Meniru dan meneladani sesuatu yang baik, kalau mencontoh hendaklah mencontoh kepada yang nyata. Janganlah menjadikan sesuatu yang belum pernah ada sebagai contoh dan teladan. Sejalan dengan itulah muncul ungkapan manuladan ka nan baiak, maniru ka nan nyato.

Beranjak kearah lebih jauh atas ungkapan tersebut kita juga dikenalkan dengan mandapek urang dahulu, kahilangan urang kudian. Orang dahulu dalam ungkapan di atas menurut adat Minangkabau adalah generasi dahulu atau angkatan orang tua-tua dahulu dan yang disebut dengan orang kemudian ialah angkatan atau generasi berikutnya, generasi yang muncul kemudian generasi yang lebih muda.

Ungkapan ini digunakan oleh masyarakat Minangkabau untuk menasehati para remaja generasi masa sekarang, generasi yang telah kehilangan. Pengertian kata kehilangan disini yaitu dalam arti bahwa kecenderungannya mereka sudah tidak lagi mempunyai pengetahuan tentang adat istiadatnya sendiri. Sebaliknya yang dimaksud dengan istilah orang dahulu mendapat tiada lain daripada mereka mendapat, mempunyai dan sepenuhnya memiliki pengetahuan mengenai adat istiadatnya sendiri. Hingga sekarang ungkapan ini masih tetap hidup, dijunjung tinggi dan dijadikan sebagai pedoman oleh masyarakat Minagkabau dalam kehidupannya.

Agar kita menghargai keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Dengan berteladan kepada  yang lebih maju berarti kita juga ingin maju, ingin mencapai sesuatu yang lebih baik lagi dari pada yang telah sudah-sudah. Kita harus mencontoh kepada yang telah pernah terjadi yang nyata kepada yang telah ada yang kesemuanya itu dapat kita saksikan dan kita lihat dalam kehidupan ini.

Dengan demikian, segala sesuatu itu akan kita temui kebaikan dan keburukannya. Sekalian yang kebaikan kita ambil untuk dijadikan contoh dan teladan, dan segala yang buruk kita buang jauh-jauh sehingga kita akan memperoleh suatu kemajuan sebagaimana yang diharapkan. Ungkapan ini terutama sekali ditujukan kepada kaum remaja agar mau dan suka menghargai pendapat orang lain dalam hidup masyarakat.

Bagi generasi muda perlu juga kita ingatkan akan hal perilaku buruk seseorang yang melupakan orang-orang yang telah berperan dalam hidupnya. Managa karambia condong, pangka diawak, buah jatuah ka parak urang-memagar kelapa condong, pangkal pada kita, buah jatuh ke kebun orang. Manganjurkan agar kita senantiasa berbakti kepada orang tua dan guru, selalu ingat kepada mereka yang berjasa dalam proses keberhasilan kita.

Disamping itu juga penanaman tekat yang kokoh dalam mempertahankan nilai dan kebenaran yang diyakini perlu juga diajarkan kepada anak kita. Walaupun musuh atau bermacam gangguan terus menghadang tetap akan dilawan. Demi kebenaran tersebut tidak takut mati, karena mati mempertahankan keyakinan (membela agama) akan memperoleh ganjaran dari Allah SWT.

Nan ketek indak talendan, nan gadang usah talantuan-yang kecil jangan terlindas, yang besar jangan tersinggung. Perbedaan status sosial di antara anggota masyarakat niscaya ada. Namun janganlah hal itu menyebabkan permusuhan. Syaratnya adalah si kaya jangan suka memaksakan kehendak kepada si miskin. Begitu pula sebaliknya, bawahan jangan suka menyinggung perasaan pemimpin.

Kemudian  manauladan ka nan baiak, maniru ka nan nyato- meleladan kepada yang baik, mencontoh kepada yang nyata. Dan pandai-pandailah hendaknya kita dalam memilih teman agar dapat dijadikan sebagai teladan untuk kebaikan. Kemudian haruslah kita menghargai prestasi orang lain. Jangan iri melainkan harus mengikuti jalan keberhasilannya.

Kita juga tidak melakukan perbuatan yang merugikan diri dan pekerjaan yang tidak baik untuk dilakukan. Tersirat dalam ungkapan urang ingek pantang takicuah, urang jago pantang kamaliangan, ingek ingek sabalun kanai, kok malantai sabalun lapuak, kalau maminteh sabalun anyuik– orang ingat pantang terkecoh, orang jaga pantang kemalingan. Ingat-ingat sebelum kena, kalau malantai sebelum lapuk, kalau memintai sebelum hanyut. Nasehat agar senantiasa waspada dalam menjalani kehidupan sehingga terluput dari bermacam gangguan.

Begitulah irama hidup yang mesti kita ajarkan buat anak kita, agar lindasan  pengaruh dari luar dapat ditangkal, dan menjadikan sebagai generasi yang andal kedepannya. Mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah

Perut punai, Camilan Khas Bengkulu

0

Perut punai merupakan makanan tradisional khas masyarakat Bengkulu. Sesuai namanya, camilan ini berbentuk usus yang dililitkan. Punai sendiri merupakan jenis burung yang hidup di hutan. Walau begitu, perut punai bukan satu-satunya nama untuk kuliner ini. Kudapan ini juga dikenal dengan juada karei, juada keras, dan arai pinangPerut punai biasa dihidangkan sebagai camilan dalam berbagai hajatan seperti perkawinan, lebaran, sunatan dll.

Bahan pembuatan perut punai terdiri dari tepung beras (sekarang diganti dengan tepung sagu), gula, kapur sirih, garam. Pada masa lalu, tepung beras untuk pembuatan bahan perut punai masih diolah secara tradisional yaitu dengan menumbuk beras dan mengeringkannya dengan dijemur. Sementara itu, untuk menambah rasa maka bahan-bahan perasa turut ditambahkan seperti cabai (pedas), gula (manis) dan ebi.

Proses Pembuatan

Proses pembuatan perut punai dilakukan dengan cara menyiapkan bahan terlebih dahulu. Tepung beras dijemur (sekarang cukup digongseng) hingga kering. Sembari mengeringkan tepung, air dipanaskan dengan tambahan garam dan kapur. Setelah tepung kering dan air kapur telah mendidih, selanjutnya air tersebut dimasukkan ke wadah berisi tepung, lalu diadon hingga kental. Adonan kemudian dibentuk seperti batangan bulat dan panjang, kira-kira satu jengkal orang dewasa. Bulatan-bulatan tersebut dililitkan serupa usus.

Baca juga: Maanta Pabukoan, Tradisi yang Makin Ditinggalkan

Di wadah lain minyak telah dipanaskan. Setelah proses membentuk perut punai selesai, pekerjaan selanjutnya adalah menggoreng hingga masak. Tanda bahwa perut punai telah masak adalah dengan melihat perubahan warna dari putih menjadi kecoklatan. Waktu yang dibutuhkan untuk menggoreng kira-kira 15 menit dengan nyala api yang tidak begitu besar. Selanjutnya perut punai diangkat, didinginkan dan dipres hingga kandungan minyaknya semakin hilang.

Setelah proses pengeringan selesai, maka perut punai siap dihidangkan. Pada masa sekarang, perut punai telah dijadikan barang komoditas yang diperjual-belikan. Jika hendak dijual, maka pekerjaan pasca pengeringan adalah mengemasnya. Selain itu, untuk beberapa komoditas perut punai membutuhkan penggulaan yakni pemberian rasa ke dalam perut punai. Ada empat rasa yang telah diperjual-belikan sekarang ini yakni asin, manis, pedas dan ebi.

Proses penggulaan dilakukan dengan cara memanaskan campuran air, vanili dan garam(rasa asin), gula aren dan gula pasir (rasa manis), cabai (rasa pedas) dan ebi (rasa ebi). Campuran bahan-bahan tersebut dipanaskan hingga mengental (tidak terlalu kental ataupun cair). Lalu perut punai dimasukkan ke dalam campuran tersebut hingga merata. Perut punai siap untuk dihidangkan.

Hingga kini, camilan perut punai masih diproduksi oleh masyarakat dan seringkali dijadikan sebagai oleh-oleh dari Bengkulu.(FM)

Dialog Budaya Spritual dan Buka Bersama

0

Padang – Menjelang akhir bulan Ramadhan sekaligus mendekati libur bersama Idul fitri, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat mengadakan Kegiatan Dialog Budaya Spritual. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 29 Mei 2019 di Hotel Grand Zuri Kota Padang. Acara dibuka pada pukul 15.30 oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman. Turut hadir sebagai narasumber dialog ini adalah Ustadz. Dr. Urwatul Wusqa, MA.

Kegiatan ini merupakan kegiatan silaturahmi BPNB Sumatera Barat dengan masyarakat khususnya budayawan yang sering terlibat aktif dalam berbagai kegiatan kantor. Peserta kegiatan ini yakni seluruh pegawai BPNB Sumbar, budayawan serta mantan-mantan Kepala dan pegawai BPNB Sumbar beserta keluarganya. Panitia juga turut mengundang anak yatim dalam kegiatan ini.

Tema Dialog Budaya Spritual yakni Penyebaran Informasi dalam Pandangan Islam. Tema ini bertujuan mengajak semua orang khususnya pegawai untuk menyebarkan informasi yang  benar sesuai dengan kaidah-kaidah agama Islam. Pemilihan tema ini berkaitan erat dengan keprihatinan akan maraknya penyebaran informasi yang tidak benar (hoax) di masyarakat.

Selain memperdalam pengetahuan, tujuan lebih penting kegiatan ini adalah untuk meningkatkan keimanan umat khususnya di Bulan Ramadhan. Tujuan penting lain dari kegiatan ini adalah  untuk tetap menghidupkan tali silaturahmi di antara pegawai dan masyarakat khususnya mantan pejabat dan pegawai BPNB Sumatera Barat.

Pada akhir acara, diadakan buka puasa bersama dan selanjutnya panitia membagikan bingkisan sebagai bentuk tali asih kepada anak yatim.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa dan Menyambut Hari Raya Idul Fitri. (FM)

Ba Baliak Ka Surau

0
Rismadona

Penulis: Rismadona

Kembali ke surau (ba baliak ka surau)  pada era ini mustahil bagi sebagian banyak orang.  Sebab ada pandangan bahwa surau dulu dengan surau sekarang secara fungsi telah berubah. Surau lebih banyak berfungsi untuk pendidikan agama, seperti mengaji, pertemuan majelis  taqlim, latihan qasidah dan terutama sekali untuk beribadah. Sementara itu penyimpangan sosial di kalangan generasi muda semakin meningkat, seperti narkoba, LGBT, prostitusi, pelaku kriminalitas, dan lainnya jarang lagi dibicarakan di surau-surau.

Penyimpangan sosial merupakan penyakit masyarakat atau istilah lain kuman yang merusak etika dan susila yang berlaku di negeri kita ini. Banyak tempat untuk memberikan pengobatan terhadap penyakit. Penyakit fisik bisa di bawa ke dokter, penyakit bathin bisa di bawa untuk ruqiyah, penyakit masyarakat bisa dibawa ke mesjid atau ke surau. Kenapa demikian?

Sebagaimana kita ketahui, perspektif historis surau memiliki fungsi sebagai pusat pendidikan nagari, tempat beribadah, tempat pemuda berkumpul dan belajar ilmu bela diri, dan lainnya.  Bisakah untuk memutar waktu? Waktu tak bisa diputar karena terus berjalan, namun tradisi bisa dikembalikan, tinggal kesepakatan masyarakat untuk kembali sehingga melangkah babaliak ka surau. Surau sebagai fungsi pendidikan masih berlanjut, tapi fokus ke pendidikan agama dan akhlak yang bisa ditanamakan pada peserta didik. Surau tempat beribadah  masih tetap berjalan namun peminat beribadah kesurau pasang surut. Dan kekurangan yang dapat dilihat adalah surau tempat perkumpulan para pemuda dalam bertukar pikiran dan beroganisasi serta berlatih untuk bersilat kehilangan fungsi.

Pemuda sebagai pagar nagari, ia akan memagar dari seluruh persoalan dalam nagari, namun kenyataannya pemuda membawa tungkek rebah, pemuda tersandung dalam persoalan narkoba, LGBT, pelaku kriminalitas, pelaku asusila, dan lainnya. Pelaku demikian pemuda kehilangan fungsi tersebut. Organisasi pemuda tidak lagu beranjak dari surau, persoalan-persoalan penyakit masyarakat tidak lagi dibicarakan di surau, pemuda tidak lagi berkontribusi untuk solusi dari persoalan tersebut. Surau sebagai tempat ibadah, begitu salam diucapkan selesai para jamaah pulang kerumah masing-masing, tidak berdiam diri untuk membicarakan persoalan tersebut. Sehingga  jamaah baik dari kalangan pemuda, orang tua tidak lagi berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain untuk saling berbicara tentang persoalan dalam nagari itu sendiri. Penyakit masyarakat tidak lagi terbaca oleh masyarakat itu sendiri akibat tingginya sifat individualistis.,

Fungsi surau bisa dikembalikan dengan program pemerintah serta mengalokasikan dana untuk aktivitas surau itu sendiri. Aktivitas surau seperti pemuda surau bersilat, baik silat ilmu bela diri maupun silat lidah dalam petatah petitih dalam pidato adat masyarakat. Jadi kan surau seperti lembaga dinas pendidikan, adanya kontrol masyarakat yang berpijak dari surau. Pendidikan di surau mungkin saja terbatas tapi ada dalam setiap minggunya. Kita berharap setiap hari Sabtu malam, pemuda berkumpul di surau, tidur di surau dan belajar di surau. Dalam belajar silat, khususnya silat lahir bathin ia tidak saja mengajarkan langkah tapi juga mengajarkan tentang Allah, maka penanaman nilai-nilai agama seiring sejalan lahir dan bathin. Sabtu malam atau istilah lain malam Minggu bisa dimanfaatkan oleh generasi pemuda untuk berkumpul positif, bukan mengincar cewek atau cowok yang mengarah pada perilaku menyimpang dalam masyarakat itu sendiri.

Kembali ka surau kita kebanyakan separuh hati, bukan sepenuh hati, hanya dalam retorika dan batas wacana. Penulis menyaksikan dizaman tahun 80-an, surau tempat beribadah dan tempat berguru baik kalangan generasi muda maupun generasi tua. Generasi tua lebih banyak mengaji tentang tafsiran Al Quran dan tarekat. Dan selesai sholat subuh ke warung bersama untuk menunggu gorengan, dan bercerita tentang sawah, tentang ternak, tentang perilaku anak, tentang kemalingan sebelah tetangga dan begitu matahari bersinar terang mereka berpencar untuk beraktivitas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Agaknya aktivitas ini juga hilang sesuai dengan perkembangan waktu. Kebiasaan berbagi cerita tentang pengalaman hidup harian tidak terakomodir lagi. Sebab  begitu usai sholat kembali ke rumah, lalu sarapan dan berangkat kerja. Surau bahkan kehilangan jamaah, khususnya sholat Zuhur dan Ashar, dengan alasan warga tidak di tempat dan berada di lokasi kawasan kerja. Surau di wilayah lokasi kerja lebih banyak dikenal dengan istilah mesjid, tidak bisa menerima cerita warga, karena kita hanya mendengar ceramah ustad mengisi waktu menjelang sholat.

Salah satu fungsi surau selain beribadah, berguru silat dan mengaji sesungguhnya penampungan curahan hati masyarakat setempat tentang rutinitas yang terjadi disekitarnya tidak berfungsi, masalah di sekitar tidak dipedulikan. Tokoh agama dengan masyarakat di surau dikondisikan dengan satu arah, bahkan dibatasi waktu untuk memberikan pencerahan. Hal demikian tidak memberikan kontribusi terhadap persoalan yang sedang berkembang dalam masyarakat itu sendiri. Masalah LGBT, prostitisi dan tindakan kriminal, dan lainnya akan bisa memberikan tindakan preventif beranjak dari surau, dengan memberikan pencegahan, pengawasan dan kontrol serta tindakan keras yang dilakukan oleh pemuda surau. Tentunya bagi pemuda surau perlu kekuatan, baik kekuatan fisik maupun kekuatan mental. Kekuatan fisik tersebut dapat dilakukan untuk menggalakkan kembali belajar bersilat ka surau. Dengan memantapkan iman akan memberikan kekuatan mental untuk berjuang dari tindakan pihak-pihak lain yang menghancurkan generasi itu sendiri.

Jadi intinya dalam solusi untuk kembali ke surau dilakukan oleh masyarakat, pertama dalam beribadah memberikan tempat untuk duduk bersama selesai sholat. Dengan duduk bersama membangun interaksi dan bercerita tentang persoalan yang sedang berlangsung pada masyarakat sekitarnya. Kemudian memanfaatkan malam Minggu untuk pemuda belajar ilmu bela diri dan bermalam di surau selain belajar langkah juga diberi asupan tentang ilmu Allah SWT. Mengarahkan organisasi pemuda dan dilegalitaskan, sehingga semua kegiatan dan aktivitas pemuda dapat dipantau di surau, kenapa demikian diluar surau kita bisa saja meragukan pertemuan tersebut yang bersifat negatif, sehingga diluar aturan tersebut bisa kita panggil atau melapor pada pihak yang berwajib. Kemudian dalam kembali ke surau tidak bisa dilakukan oleh masyarakat itu sendiri tanpa andil pemerintah, karena situasi saat sekarang kita memulai dari nol dan perlu proses. Untuk pencapaian tersebut maka diperlukan anggaran untuk aktivitas di surau sampai masyarakat itu mandiri dalam berorganisasi dan materi. Kita berharap jamaah surau bukan didiktekan tentang dosa dan pahala dalam materi dakwah, karena semua umat Islam tahu hal demikian, tapi bagaimana surau mengkaji Islam secara mendalam sehingga masyarakat mampu mengimplementasikan dalam kehidupan. Mudah-mudahan [Penulis adalah Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang dalam Kolom Bendang pada Minggu, 31 Maret 2019

Maanta Pabukoan: Tradisi yang Makin Ditinggalkan

0
Hariadi

Penulis: Hariadi

Sholat Zuhur baru saja selesai. beberapa orang ibu-ibu mulai sibuk di dapur mempersiapkan beberapa jenis makanan. Masing masing ibu-ibu dalam pekerjaannya masing masing.  Kejadian itu tidak biasanya dilakukan dalam bulan Ramadhan. Seorang anak berumur belasan tahun melihat kejadian tersebut bertanya kepada ibunya “mak,kamanga awak” sambil menoleh kepada anaknya, ibu itu menjawab” awak kamaanta  pabukoan, beko kawani uni maantakan ka rumah mamak”. Sepenggal dialog itu telah terjadi sekitar dua puluh lima tahun yang lalu di Nagari Simalanggang, Kabupaten Limopuluh Koto, Sumatera Barat.

Maanta pabukoan adalah tradisi yang dilaksanakan dalam bulan Ramadhan di Nagari Simalanggang, sebuah nagari dalam wilayah administratif Kabupaten Lima Puluh Kota. Belum di ketahui kapan tradisi ini bermula. Bentuk tradisinya adalah  mengantar menu berbuka ke rumah penghulu suku dan mamak oleh  kemenakan dalam bulan Ramadhan.

Prosesi  tradisi maanta pabukoan ini dimulai dengan menyiapkan pabukoan oleh sebuah keluarga besar dalam sebuah suku, umumya oleh perempuan adik beradik. Pabukoan yang disiapkan terdiri dari nasi, samba (lauk pauk) dan makanan untuk berbuka seperti kolak, silamak, sarikayo, agar agar dan makanan sejenisnya.

Makanan yang telah disiapkan tersebut ditempatkan di dalam satu rantang jinjing bertingkat. masyarakat Simalanggang menyebutnya siya. Bagian paling bawah diisi nasi, tingkat kedua samba (lauk pauk) adakalanya gulai, gorengan atau rending,  tingkat ketiga adalah kolak atau konji, biasanya kolak pisang, sarikayo atau jenis kolak lainnya. Tingkat keempat diisi dengan silamak atau lamang dan  rantang paling atas biasanya diisi dengan surabi atau agar agar atau onde onde atau makanan sejenisnya.

Pabukoan tersebut diantarkan ke rumah penghulu suku dan mamak. Waktu mengantarkannya umumnya setelah waktu Sholat Ashar sampai menjelang waktu berbuka. Pengantar pabukoan adalah kemenakan yang masih gadis dan biasanya ditemani oleh kemenakan perempuan yang masih anak-anak. Pabukoan diserahkan kepada istri mamak. Rantang disalin terkadang rantang tersebut diisi oleh istri mamak dengan makanan atau kue. Pengantar pabukoan  kembali pulang, dengan demikian prosesi tradisi mengantar pabukoan selesai.

Seiring berjalannya waktu tradisi maanta pabukoan semakin ditinggalkan. Berbagai faktor penyebabnya antara lain: (1) perubahan tatanan kehidupan yang terjadi di masyarakat, (2) semakin meredupnya  peran penghulu suku dalam sukunya dan peran mamak dalam sebuah keluarga matrilineal, (3) semakin meredupnya rasa bermamak dan berkemenakan dalam kehidupan masyarakat.

Makna yang terkandung

Tradisi maantaan pabukoan ini bukan hanya sekedar mengantar makanan tetapi mempunyai beberapa makna yang terkadung di dalam tradisi ini. Dengan dilaksanakannya tradisi maanta pabukoan ada beberapa nilai positif yang dapat terwujud.

Tradisi maanta pabukoan merupakan pengamalan hadist nabi berkaitan dengan keutamaan orang yang memberikan makan minum  untuk orang yang sedang menjalankan ibadah puasa. Hadist tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad Tirmidzi dan Ibnu Majah  : “Siapa yang memberi perbukaan (makanan dan minuman) bagi orang yang berpuasa, maka  baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sama sekali”. Dengan demikian tradisi maanta pabukoan mempunyai landasan yang kuat dari hadist nabi Muhammad SAW.

Maanta pabukoan adalah bentuk penghormatan kepada penghulu suku dan mamak oleh kemenakan. Dalam adat Minangkabau tanggungjawab penghulu suku dan mamak terbilang berat. Posisi keduanya fungsional dalam sebuah suku dan keluarga matrilineal. Penghulu suku dalam sebuah pesukuan mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagaimana diibaratkan “baban barek Singguluang batu”(beban berat singgulung batu). Permasalahan kemenakan di internal sebuah suku atau eksternal merupakan tanggung jawab penghulu suku untuk mencarikan solusinya. Seorang penghulu suku juga mesti mengetahui keadaan kemenakannya sebagaimana diibarat “siang mancaliak caliakkan, malam mandanga dangakan”. Senantiasa memantau keadaan kemenakan sepanjang hari.

Adapun tanggung jawab mamak dalam budaya Minangkabau sebagaimana dalam pantun  adat” kaluak paku kacang balimbiang, tampuruang lenggang lenggokkan, bao lalu ka Saruaso, anak di pangku kamanakan dibimbiang urang kampuang dipatenggangkan, tenggang nagari jan binaso”. Sebelum datangnya pengaruh Islam tanggung jawab terhadap kemenakan berada pada mamak. Mamak memastikan kebutuhan pokok kemenakannya bisa terpenuhi. Seiring dengan menguatnya pengaruh Islam maka tanggung jawab pemenuhan kebutuhan pokok kemenakan beralih kepada ayah. Walau pun telah terjadi banyak pergeseran tanggung jawab mamak terhadap kemenakan tetap ada walaupun sudah mulai berkurang.

Tradisi maanta pabukoan juga merupakan bentuk rasa terimakasih  kemenakan kepada penghulu suku dan mamak yang telah mencurahkan perhatiannya, waktu, pemikiran   untuk kebaikan kemenakannya. Tradisi maanta pabukoan juga sebagai bentuk memperkuat silaturrahim antara kemenakan dengan keluarga penghulu suku dan keluarga mamak. Dengan datangnya kemenakan ke rumah mamaknya, tentu saja akan bertemu dengan istri dan anak anak mamak (anak pisang). Pertemuan tersebut akan membangun keakraban dan saling mengenal yang akan membuahkan silaturrahim yang semakin kokoh antara kemenakan dan keluarga penghulu suku dan mamak [Penulis adalah Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 26 Mei 2019

Kalah jadi Abu, Manang jadi Arang

0
Undri

Penulis: Undri

Polarisasi pasca Pemilihan Umum tahun ini, disadari atau tidak hingga kini belum juga berakhir. Kita masih terbelah dan saling berlawanan dan belum menempatkan persatuan yang hakiki. Jika ini terus menerus terjadi bisa jadi mengancam keutuhan dan persatuan bangsa dan negara kita kedepannya. Tidakkah kita sadar bahwa kalah dan menang sebuah pilihan, pilihan yang berproses, kita dapatkan dari hasil usaha yang kita jalani selama ini. Jika kalah berlapang dada menerimanya, dan jika menang harus pula menunaikan semua janji yang telah diperjanjikan sebelumnya.  Namun perlu juga diingat, menangnya dengan cara baik, dan jangan pula menghalalkan berbagai cara untuk meraih kemenangan, ini tidaklah baik pula kita tiru.

Jika persoalan ini terus berlarut, sama-sama tidak mendapat keuntungan apa-apa, dan masyarakat yang rugi. Kita tidak boleh melakukan kerusakan hanya untuk menghasilkan sebuah kemenangan, sebab tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan di tengah kehancuran. Kepentingan rakyat yang diutamakan, itulah kata kuncinya –kalah jadi abu, manang jadi arang (kalah jadi abu, menang jadi arang) tidak mendapat apa-apa, baik yang kalah dan yang menang akhirnya.

Baca juga: Tradisi Suluk dan Pelaksanaannya

Kusuik bulu paruah manyalasaikan, kusuik banang dicari ujuang jo pangkanyo, kusuik sarang tampuo api manyalasaikan, kok masiak diparambunkan, kok karuah ditanangkan (kusut bulu paruh yang menyelesaikan, kusut benang dicari ujung pangkalnya, kusut sarang tempua (burung manyar) api menyelesaikan, kalau kering diembunkan, kalau keruh ditenangkan). Begitulah teknisnya dalam menyelesaikan sebuah persoalan atau pertentangan, sebab kita harus menemukan cara maupun alat yang tepat untuk mengurai permasalahan sehingga bertemu duduk persoalan yang sesungguhnya.

Nasroen (1957 :83) menjelaskan pertentangan itu pada hakikinya tidak akan dapat dihilangkan. Tetapi yang dapat dihilangkan, yaitu akibat dari pertentangan itu dan sebenarnya yang demikian inilah yang penting bagi seseorang dan bagi semua orang. Penting juga kita inap-inapkan fatwa dari adat Minangkabau yang berikut ini dan dapat kita laksanakan : hilang samo barugi, mandapek samo balabo, ringan samo dijinjiang, barek samo dipikua, hati gajah samo dilapah, hati tungau samo dicacah, gadang kayu gadang bahannyo, ketek kayu ketek bahannyo, gadang jan melendo, cadiak jan manjua (kalau hilang rugi bersama, kalau untung laba bersama, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, hati gajah sama dimakan, hati tungau sama dicacah, besar kayu besar bahannya, kecil kayu kecil bahannya, besar jangan melanda, dan cerdik jangan menipu).

Solusinya adalah menghadapkan pertentangan dengan cara nyata dengan mufakat berdasarkan alur dan patut (alua jo patuik)-carilah keseimbangan yang penuh berdasarkan keputusan : kok bulek buliah digolongkan, kok picak lah buliah dilayangkan, indak ado kusuik nan tak salasai, indak ado karuah nan tak janiah (jika bulat sudah boleh digolongkan, jika gepeng sudah boleh dilayangkan, tidak ada kusut yang tidak selesai, tidak ada keruh yang tidak jernih).

Saciok bak ayam, sadanciang bak basi (seciap bagaikan ayam, sedencing bagaikan besi)- dalam kehidupan bermasyarakat harus selalu menjaga persatuan, harus seiya dan sekata demi kebaikan dan keselamatan bersama. Harus senada dan sekata demi kebaikan dan keselamatan bersama. Harus senada dalam tindakan, sependapat dalam mengatasi suatu persoalan. Harus mengutamakan kepentingan masyarakat dari kepentingan pribadi atau kepentingan golongan. Agar kita menjaga persatuan, bila terjadi keselahpahaman atau perselisihan, maka selalu diingatkan agar tercipta kembali persatuan itu sendiri.

Disamping itu perlu juga kita pahami bahwa ada tingkatan dari suatu kepentingan, tempat dan saatnya. Kepentingan yang rendah itu harus mengalah kalau berhadapan dengan kepentingan yang lebih tinggi : adat badunsanak, dunsanak patahankan, adat bakampuang, kampuang patahankan, adat banagari, nagari patahankan, sanda basanda, serupo aua jo tabiang (adat bersaudara, mempertahankan saudara, adat berkampung, mempertahankan kampung, adat bernagari, mempertahankan nagari, tupang manupang seperti bambu dengan tebing).

Akhirnya perlu juga kita renung-renungkan juga- manang jadi arang, kalah jadi abu– kita akan mengetahui bahwa siapapun itu, baik yang menang maupun kalah pada suatu persengketaan sama-sama tidak mendapat keuntungan apa-apa dan bahkan rakyat yang dirugikan. Jauhkanlah sifat saling menjatuhkan, menimbulkan kegaduhan dan permusuhan, kebencian, kedengkian, tidak saling mencela, serta saling memfitnah. Sebab semua itu akan merusak sendi-sendi persatuan bangsa dan negara kita ini. Mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum SInggalang Kolom Kurenah pada Minggu, 26 Mei 2019

Parangai

0

Penulis: Undri

Parangai-kelakuan atau tingkah laku hari ini bagi yang sudah dewasa tidak terlepas dari apa yang dilakukan masa kecil. Masa kecil terbiasa, dewasa sulit mengubahnya. Kebiasaan jelek misalnya, diwaktu kecil hendaknya cepat diubah sebab kalau sudah terbiasa sangat susah mengubahnya. Perihal ini tak terbantahkan sampai hari ini.  Senada dengan itu muncullah ungkapan ketek taanjo-anjo gadang tabao-bao tuo tarubah tido (masa kecil terbiasa besar terbawa-bawa sudah dewasa sulit mengubahnya).

Balik kelampauan, beragam cara dilakukan dalam bentuk nasehat oleh orang tua mengajari anaknya waktu kecil supaya menjadi anak nan elok, berbudi pekerti yang baik dan berbahasa yang terpuji. Beragam pantanganpun difondasikan hal tersebut, mulai dari makan berdiri, duduk dikapalo janjang, berucap dan berujar tidak pada tempatnya dan sebagainya. Memang secara kasat mata itu bersifat larangan, namun nuansa yang sarat dengan nilai kebaikan, seperti ajaran agama, dan adat istiadat pun mengitarinya.

Kalau kita biarkan saja perangai buruk anak-anak kita nanti sulit untuk merubahnya, terbiasa ia sampai besar. Ungkapan ketek taanjo-anjo gadang tabao-bao tuo tarubah tido muncul akhirnya. Makanya dikatakan kecil teranja-ranja. Anak mulai besar segala kelakukan yang tidak baik tetap terbawa-bawa. Bisa berulang-ulang tingkah laku yang buruk itu walaupun ia sudah menjadi ayah atau  ibu kelak. Bayangkan bila ini terjadi, bisa tercengang yang muda-muda melihat yang tua bertingkah  laku seperti anak muda.

Kondisi hari ini, paling kecil saja kita sebut cara berpakaian sebagian anak gadis kita misalnya banyak ala ceper –serba singkat- diangkat keatas nampak pusat ditarik ke bawah nampak dada. Tak tanggung-tanggung gilanya paha –betis putih dipertontonkan juga. Miris kita melihatnya kondisi seperti ini.

Itu kalau perangai buruk. Kelakukan yang elok seperti itu juga. Kalau sudah terbiasa dengan yang baik-baik dari kecil ketika besar akan terbawa-bawa, tua terubah tidak. Makanya anak diajar sejak kecil. Bahkan memarahi anak mesti pandai-pandai. Kalau terlampau marah, terlampau ajar bisa buruk pula akibatnya. Anak akan bosan kalau kita mengomel siang malam. Ada yang terbaik mengajari anak bujang tanggung dan gadis mulai besar. Anak diajar dengan lunak, dengan kias, dengan contoh, dengan sindir halus. Sebuah pengajaran nilai moral yang terbaik.

Jangan dengan kasar, dengan marah-marah saja, yang tua memberi contoh. Umpamanya menyuruh anak sholat atau puasa. Kita bagi orang tua juga harus sholat dan puasa, jangan menyuruh anak saja namun kita tidak melakukannya-tungkek mambawo rabah namanya.

Waktu yang tepat untuk mengajari anak yakni waktu makan bersama, diajarkan tertip sopan, cara makan, hadap duduk bersama dan lainnya. Jadi jangan dibiasakan anak kita makan tidak serempak atau bersama. Siapa yang datang makan. Datang seorang lagi terus makan. Muncul seorang lagi ambil nasi pula. Seorang makan mancangkuang di sudut, seorang lagi menghenyak dilantai. Kesudahannya teronggok piring kotor, bertengkar akan mencucinya.

Kalau cara begini cara makan tidak ada kesempatan untuk mendidik anak tentang tertip sopan cara makan bersama. Lama-lama sukar merubahnya. Biasanya makan bersama-sama yang tua memberi contoh. Nan tidak elok dipandang mata, waktu pesta atau baralek, makan berdiri sudah biasa pula.

Makan bersama, kita dapat berkumpul dengan anak-anak, makan dan minum bersama. Setelah makan bersama kita bisa berdiskusi dan berbagi cerita, pengalaman hidup kepada anak. Durasi waktu  sekitar limabelas menit dan rutin kita lakukan setiap hari.

Budaya berkumpul dan makan bersama keluarga mulai terkikis. Makan bersama keluarga dirumah adalah momen kebersamaan yang sangat berharga. Meski terdengar sederhana atau sepele, namun kegiatan ini menyimpan pengaruh positif yang bisa membantu menguatkan keharmonisan keluarga. Sebab keluarga memiliki peranan penting dalam membentuk generasi muda, khususnya anak-anak menjadi lebih sehat dan berkualitas di masa depan. Selain itu, apabila dijadikan kebiasaan rutin-sehari-hari anak-anak akan tumbuh sehat karena relasi keluarga yang sehat.

Jadi, kebiasaan-kebiasaan-parangai waktu kecil haruslah ditaburi dengan parangai kebaikan, sebab parangai kecil tersebut akan terbawa waktu remaja dan tidak bisa diubah waktu dewasa.

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah

Suluk dan Pelaksanaannya

0
Hariadi

Penulis: Hariadi

Suluk adalah istilah yang lazim terucap pada kalangan penganut Islam tradisional, lebih khusus pada penganut tarekat Naqsabandiyah. Suluk secara  harfiah bermakna jalan. Orang yang menempuh jalan tersebut disebut saalik. Menurut istilah, suluk dapat dimaknai sebagai upaya hamba (saalik) mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah yang bertujuan menyucikan diri dari berbagai bentuk kesalahan dengan memperbanyak zikrullah.

Dalam melaksanakan  suluk, para saalik dibimbing oleh guru yang  lazim disebut mursyid. Muryid membimbing para saalik untuk menjalani tahap demi tahap latihan (riadhoh). Tahapan yang umum dilakukan mulai dari pembersihan diri dari berbagai kesalahan (takholli) kemudian mengisi diri dengan hal hal yang positif (tahalli) dan terakhir merasakan kehadiran Allah dalam setiap tarikan nafas dan dalam segala aktifitas (tajalli).

Bersuluk merupakan salah satu tradisi ke Islaman yang terbilang awal pada masyarakat muslim Minangkabau. Praktik  suluk terdapat di berbagai daerah. Tempat tempat pelaksanaan suluk yang termashur misalnya di Lubuk Landur Pasaman Barat, Kumpulan dan Bonjol di Pasaman, Belubus, Batu Hampar, Taeh dan Taram di Lima Puluh Kota dan banyak lagi daerah yang mempunyai surau suluk. Merujuk informasi dari A.Angku Mudo untuk daerah Lima Puluh Kota saja  ada sekitar 200 surau suluk yang masih melaksanakan setiap tahunnya.

Beberapa surau suluk yang terdapat di daerah Lima Puluh Kota di antaranya surau suluk Syekh Ilyas di Pandam Gadang, surau suluk Ongku Boncah di Taeh Baruah, surau suluk Buya Zed di Koto Tuo Mungka, surau suluk Buya Edison Kasim di Sarilamak, surau suluk Almarhum Datuak Angso di Lubuak Batingkok Tanjuang Pati, surau suluk Angku Mudo Sawir di Taram dan surau suluk Syekh Mudo Abdul Qodim di Belubus dan banyak lagi surau suluk lainnya.

Sebutan terhadap sebuah surau suluk umumnya dikaitkan dengan nama mursyid yang mendirikan dan menjadi guru yang pertama kali di surau tersebut. Setelah mursyid yang mendirikan surau pertama kali meninggal dunia, tongkat estafet dilanjutkan oleh anak atau kemenakan. Pada beberapa surau ada juga yang dilanjutkan oleh murid pilihan atau murid kesayangan mursyid. Beberapa surau suluk telah mengalami silih  generasi beberapa kali. Namun beberapa surau suluk ada juga yang terhenti karena tidak ada lagi pelanjutnya.

   Untuk daerah Lima Puluh Kota surau suluk yang mememegang peran cukup penting adalah surau suluk di Batuhampar dan surau suluk Syekh Mudo Abdul Qodim di Belubus. Beberapa mursyid di surau surau suluk sekarang mempunyai keterkaitan silsilah keilmuan  dengan kedua surau suluk ini.

Pelaksanaan Suluk

Pelaksanaan suluk pada umumnya  dimulai  sepuluh hari sebelum bulan Ramadhan dan selesai pada saat hari raya Idul Fitri. Beberapa surau suluk ada juga yang melaksanakan pada bulan Zulhijjah. Lama pelaksanaan suluk ada yang empat puluh hari ada juga yang dua puluh hari. Para Saalik yang pertama kali melaksanakan suluk, umumnya melaksanakan selama empat puluh hari.  Sedangkan yang sudah pernah melaksanaan pada tahun sebelumnya melaksanakan empat puluh hari atau dua puluh hari. Namun hal itu bergantung kepada kesanggupan masing  masing.

Para saalik pada sebuah surau suluk tidak hanya berasal dari tempat sekitar surau. Pada beberapa surau suluk  para saalik juga datang dari tempat yang jauh bahkan ada yang berasal dari negeri jiran Malaysia. Dari sigi usia, para saalik ada yang tua dan ada juga yang masih muda. Namun demikian umumnya para saalik berusia di atas empat puluh tahun.

Selama pelaksanaan suluk, para saalik memfokuskan diri melaksanakan ibadah, menjaga adab adab, memperbanyak zikir dan melakukan ibadah berdasarkan bimbingan mursyid. sehingga tujuan suluk tercapai dengan baik.  Para Saalik  tidak disibukkan oleh  urusan  konsumsi, karena urusan tersebut  ditangani oleh panitia bagian dapur umum dengan pembiayaan bersumber dari para saalik.

Tempat suluk umumnya terdapat di bagian samping dalam surau. Masing masing saalik menempati ruang berukuran sekitar satu setengah meter kali dua meter. Sekat satu tempat dengan tempat lainnya hanya terbuat dari kain putih yang sekaligus berfungsi sebagai kelambu. Alas tempat duduk biasanya kasur yang bertujuan untuk kenyamanan dalam berzikir.

Selama pelaksana suluk para saalik akan berada lebih banyak di ruangan masing-masing. Mengurangi berbicara dan berinteraksi. Para saalik keluar hanya untuk hajat syar’i. Para saalik fokus melaksanakan petunjuk petunjuk mursyid. Dalam proses tersebut para saalik akan meperolehan pengalaman spiritual berbeda  antara satu saalik dengan yang lainnya bergantung kepada niat dan kesungguhan dalam menjalankan setiap wirid yang diajarkan dan juga iradat Allah.

Bagi saalik yang menurut pandangan mursyid telah dibukakan oleh Allah hijab (kasful hijab) akan diberikan gelar dan juga otoritas untuk mengajarkan  ilmu yang diperoleh dan Juga diperbolehkan untuk mendirikan surau suluk sendiri. Beberapa surau suluk, disamping memberi gelar juga mengeluarkan ijazah tertulis sebagai bukti silsilah keilmuan.  Dengandemikian setiap mursyid mempunyai silsilah keilmuan yang bersambung,  diakui dan dapat dipertanggung jawabkan [Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 14 April 2019

Biduak lalu kiambang batauik

0
Undri

Penulis: Undri

Pemilihan Umum sudah usai, kita tidak boleh terpecah karena berbeda dukungan dan pilihan. Perbedaan dukungan dan pilihan dalam sebuah pemilihan sesuatu yang jamak dalam alam demokrasi, namun tujuannya pasti untuk kebaikan bersama. Mari pula kita bersabar atas hasil akhirnya yang akan diumumkan KPU (Komisi Pemilihan Umum). Jangan pula kita bersiteru dan terjadi perpecahan. Bila berseteru dalam perbedaan pilihan mari kita bersatu kembali saling bahu membahu dalam membangun bangsa ini, mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera. Ungkapannya biduak lalu, kiambang batauik (biduak lalu, kiambang bertaut).

Biduak lalu kiambang batauik  adalah ungkapan orang Minangkabau yang jamak diserukan untuk merangkul kembali dua orang atau beberapa pihak yang sempat bertikai, berselisih paham atau berbeda pandangan sebelumnya. Biduak lalu kiambang batauik,  frase ini merujuk pada tanaman di atas air yang akan tersibak ketika dilewati perahu atau biduk, tetapi akan menyatu kembali setelah biduk itu lewat. Lekas berbaik atau berkumpul kembali. Seperti perselisihan antara sanak keluarga yang kembali rukun dan damai dalam untaian persatuan dan kesatuan.

Makna terdalamnya adalah bahwa kita bersaudara, usai berbantahan pasti rukun kembali. Kalau berselisih dengan siapapun, walaupun kita menang. Kita tetap kalah yang menang hanya ego dan emosi diri sendiri. Kita tak tahu bahwa yang jatuh adalah citra dan jati diri kita sendiri.

Bila kita menang janganlah berbanga diri berlebihan, sombong dan angkuh. Perlu sifat tawaduk, rendah hati bahwa semua kemenangan yang dicapai merupakan usaha untuk menuju kebaikan. Tidaklah boleh bereforia-berlebihan, sebab kemenangan bukan saja merupakan sebuah keberuntungan namun juga ujian yang maha dahsyat bila kita tidak melaluinya dengan baik. Kemenangan yang ditempuh dengan baik dan penuh kejujuran.

Bukan itu saja bahwa kompetisi dalam memperebutkan kemenangan mestinya dimaknai sebagai persaingan untuk melakukan yang terbaik. Dalam ajaran agama disebutkan dengan seruan berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Tersadari bahwa hakikat dari sebuah kemenangan tidak membutuhkan objek untuk dikalahkan. Meskipun tentu ada pihak yang dianggap lebih unggul dan lebih baik dari yang lain,tapi tidak menjadikan yang kalah diangap sebagai hal yang “jelek,” “rendah,” “tidak berbobot,” dan atribut negatif lainnya. Karena baik yang menang maupun kalah telah sama-sama mengupayakan yang terbaik, bukan yang terjelek. Keduanya selalu berproses untuk arah terbaik pula.

Begitu juga bila kalah, kita harus berlapang dada menerima kekalahan. Tidaklah elok mencari alasan untuk mencari-cari akan kesalahan yang dimiliki bagi yang menang. Kita harus instropeksi dan evaluasi diri, sejauh mana kerja kita berproses yang telah dilakukan. Apakah kerja yang kita lakukan tersebut memang benar-benar baik bagi kebaikan buat bersama atau sebaliknya.

Sebetulnya tidaklah muda untuk menghadapi sebuah kekalahan, namun kita harus memiliki sifat arif dan bijaksana, bahwa semua itu ada hikmahnya, sebuah hikmah yang kadang kala belum pernah dipikirkan oleh manusia. Sebuah kekuatan yang maha dahsyat bila hikmah itu kita sandingkan dengan kekuatan untuk memahami bahwa kita itu harus menerima dengan lapang dada apa yang kita hadapi dimuka bumi ini.

Kita harus menghilangkan persepsi dalam diri kita masing-masing  tentang persepsi atas kekalahan tersebut. Kita selalu mempersepsikan kalah sebagai suatu momok, memalukan, kerendahan, dan semacamnya. Sedangkan menang adalah kepuasan, tujuan akhir, puncak kejayaan, dan segala macam euforia. Konsekuensinya, semua orang berlomba meraih kemenangan dan tidak siap menerima kekalahan. Namun kita harus menyadari bahwa menang dan kalah merupakan bagian dari esensi kehidupan manusia yang bersifat dinamis dan berjalan silih berganti. Tidak ada kemenangan atau kekalahan yang abadi. Itu pula sebabnya  budaya menerima kekalahan mesti disandingkan dengan budaya menerima kemenangan.

Kedepan,  perlu kita sadari bahwa kalah dan menang adalah merupakan  sebuah pilihan yang harus dihadapi dalam hidup ini, bersikap legawa– siap menang dan siap kalah. Bukankan indah jika saat pengumuman KPU (Komisi Pemilihan Umum) nanti kita melihat para negarawan dan politisi saling berjabat tangan mengucapkan selamat satu sama lain, menjunjung sikap sportivitas dan fair play-belajar dari permainan olahraga. Ketika permainan usai, setiap pemain berjabat tangan, saling sapa dengan penuh keakraban, bahkan bertukar seragam tanda persahabatan. Kita tidak mau perihal kalah dan menang menjadi persengketaan, permusuhan terus menerus dan menghilangkan persatuan diantara kita. Namun sebaliknya kita haruslah menghindari persengketaan, permusuhan dan jalin rasa persatuan dan kesatuan yang hakiki untuk kemjauan bangsa kedepannya- biduak lalu kiambang batauik. Mudah-mudahan. [Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah pada Minggu, 21 April 2019.

Undangan Menulis

0

Jurnal Suluah, media komunikasi kesejarahan, kemasyarakatan, dan kebudayaan diterbitkan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. Mulai tahun 2019, jurnal ini telah terbit dalam bentuk elektronik (OJS), terbit dua kali dalam setahun yakni Juni dan November. Kami mengundang peneliti, akademisi, dan profesional untuk mengirimkan hasil penelitian, kajian, dan telaahan diperkuat melalui penggunaan data dan referensi yang kuat dan belum pernah dimuat (dipublish). Artikel akan diedit dan dinilai berdasarkan orisinalitas, sistematika, teknik penelitian, kebaruan, dan kontribusi tulisan. Redaksi hanya menerima semua hasil penelitian sejarah dan budaya. (Redaksi)

Kusuik nan Kamanyalasaikan, Karuah nan ka Mampajaniah

0
Undri

Penulis: Undri

Pemimpin yang bagaimana yang harus kita pilih ?. Tentunya,  pemimpin ketika kusut yang akan menyelesaikan, keruh yang akan menjernihkan. Bukan sebaliknya, memperkusut dan memperkeruh sebuah permasalahan. Menyulut amarah banyak orang dan meniadakan kesejukan. Kedudukannya itu ia dituntut mampu membimbing, memperbaiki serta menyelesaikan banyak persoalan dalam masyarakat, mampu menata tata kehidupan masyarakat kearah yang lebih baik. Pemimpin yang sangat dekat dan mengerti akan nasib rakyatnya.

Pemimpin yang seperti itu kita dapatkan jika fondasi kepemimpinannya dibingkai oleh kekuatan kepercayaan dan kejujuran. Seorang yang muncul tidak begitu saja (instant), namun mengalami suatu proses yang panjang. Sehingga menjadi pemimpin kharismatik bagi generasinya dan generasi berikutnya.

Kekinian kita sadar bahwa demokratisasi telah melahirkan embrio pemimpin yang secara emosional bathiniah tidak terhubung erat dengan rakyatnya atau bawahannya, bingkai kekuasaan yang paling menonjol bukan hubungan emosional bathiniah yang melahirkan pemimpin kharismatik.

Melahirkan pemimpin kharismatik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu proses panjang menuju arah itu. Pondasi kepercayaan, kejujuran dan dekat secara emosional bathiniah dengan rakyat adalah kunci utama untuk membingkainya.  Sejalan dengan itu ada beberapa perihal yang melekat pada pemimpin kharismatik itu sendiri. Pertama, kusuik nan kamanyalasaikan, karuah nan ka mampajaniah (kusut yang akan menyelesaikan, keruh yang akan menjernihkan). Peran orang pandai, intelektual, atau pemimpin yang dibesarkan oleh masyarakatnya. Posisinya ibarat, didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, agar dapat menyelesaikan dengan baik permasalahan yang timbul, bukan sebaliknya membuat masalah pula. Kedua, kuek katam karano tumpu, kuek sampieh karano takan-kuat serut karena tumpuan, kuat sendi karena ditekan. Segala sesuatu sangat tergantung pada pemimpin karena tugas pemimpinlah yang harus memimpin tata kehidupan masyarakat dengan sebaik-baiknya. Ini bisa berjalan bila adanya suatu proses interaksi yang bersifat aktif antara seorang pemimpin dengan anggota masyarakatnya.

Interaksi yang bersifat aktif tersebut nantinya akan memperlihatkan hubungan yang bersifat harmonis keduanya. Dengan kata lain proses ini secara umum dapat dikatakan sebagai suatu interaksi antara pemimpin dengan pengikut-pengikutnya. Dalam keadaan interaksi ini, pemimpin itu mengemukakan, dan pengikutnya menerima, tentang pengenalan dirinya sebagai pemimpin mereka yang telah ditakdirkan dan tentang pendapatnya mengenai dunia mereka yang sebenarnya .

Pemimpin akan merasakan apa-apa yang dirasakan oleh pengikutnya, begitu juga sebaliknya. Mereka telah merasa satu jiwa, satu tekad dan satu tujuan. Ketika kesemuanya itu terpadu kedalam sebuah kebulatan maka nantinya akan terbentuk suatu kekuatan yang mendukung seorang pemimpin. Akhirnya menjadi seorang yang kharisma dipandang oleh masyarakatnya. Disamping itu adanya sifat penghormatan terhadap seorang pemimpin. Sikap penghormatan diperlukan menginggat bahwa karena dengan penghormatan terhadap pemimpin tersebut justru nantinya akan membuat eksistensinya dalam masyarakat semakin kuat.

Kedua, gunung timbunan kabuik, lurah timbunan aia, bukik timbunan angin (gunung timbunan kabut, lurah timbunan air, bukit timbunan angin). Nasihat untuk para pemimpin agar menyadari bahwa dengan menduduki kedudukannya itu ia dituntut mampu menyelesaikan banyak persoalan dalam masyarakatnya.

Ketiga, manukuak mano nan kurang, mambilai mano nan senteng, manyisik sado nan umpang, mauleh mano nan singkek-menambah mana yang kurang, membilang mana yang lebih, menisik segala yang rumpang, mengulas mana yang pendek. Upaya pemimpin dalam membimbing dan memperbaiki kehidupan rakyatnya. Sehingga seorang pemimpin mempunyai tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi sangat berguna baginya untuk menjadikan dirinya sebagai seorang tokoh kharismatik bagi generasi yang akan datang maupun generasi pada saat ini. Pola tingkah lakunya merupakan pola tingkah laku yang murni bukan terbias dengan berbagai-macam bias apalagi bias-bias politik yang menguntungkan pribadi atau kelompoknya.  Keempat, panjang jan malindih, gadang jan malendo- panjang jangan melindas, besar jangan menyenggol. Jika berkuasa janganlah bersikap semena-mena dengan menekan atau memaksakan kehendak pada yang lebih kecil (bawahan) karena mereka pasti akan kalah. Kelima, tibo di paruik jan dikampihan, tibo dimato indak dipiciangkan, tibo di dado indak dibusuangkan-tiba diperut tak dikempiskan, tiba di mata tak dipejamkan, tiba didada tak dibusungkan. Sikap yang harus dimiliki oleh seseorang pemimpin dalam mengambil keputusan, yang adil, tak membedakan orang per orang, serta bersedia memahami persoalan apa adanya.

Jadi, akhirnya seorang pemimpin memiliki kewajiban hakiki menyelesaikan yang kusut dan menjernihkan yang keruh. Bila itu ada dalam sikap  tingkah laku seorang pemimpin maka penataan kehidupan masyarakat yang dipimpinnya akan kearah yang lebih baik. Mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah pada Minggu, 31 Maret 2019

Seminar Proposal Kajian Pelestarian Nilai Budaya

0
Suasana seminar

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat mengadakan Seminar Proposal Kajian Pelestarian Nilai Budaya. Seminar ini berlangsung selama dua hari yakni pada Senin-Selasa, 18-19 Maret 2018 di Ruang Rapat BPNB Sumatera Barat. Acara dibuka secara langsung oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari akademisi seperti Drs. Syafrizal Sirin, M.Hum dari Universitas Andalas, Dr. Wirdanengsih, S.Sos, M.Si dari Universitas Negeri Padang dan Prof. Dr. Erwin dari Universitas Andalas serta peserta dari berbagai universitas dan dinas-dinas  yang ada di Kota Padang. Masukan narasumber dijadikan dasar penyempurnaan sistematika dan laporan kajian.

Dalam sambutannya, Suarman menyampaikan bahwa kajian yang dilakukan peneliti BPNB Sumbar sesuai tugas dan fungsi pelestarian yakni policy research. Untuk itu, dalam pelaksanaan kajian diharapkan semua peneliti harus menghasilkan sesuatu sebagai pendukung pemajuan kebudayaan. Suarman juga menambahkkan agar para peneliti melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat untuk lebih suksesnya kegiatan penelitian ini.

Baca juga: Daftar Kajian BPNB Sumbar ta. 2019

Selama dua hari seminar akan membahas 10 judul proposal penelitian dimana seluruhnya dilaksanakan oleh peneliti BPNB Sumatera Barat. Proposal penelitian tersebut terdiri dari aspek budaya dan sejarah di tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Pada hari pertama membahas empat proposal yakni Dinamika Kehidupan Sosial Budaya Daerah Koto Tangah Kota Padang Sumatera Barat, Batagak Payuang Pada masyarakat Kuranji Kota Padang, Padang Pinggir Kota (Papiko) dan Tari Serasan Seandanan: Tari penyambutan tamu di Kabupaten Ogan Komerin Ulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan. Seminar hari pertama ini dimoderatori oleh Israr Iskandar, SS, M.Si dengan nara sumber Drs. Syafrizal Sirin, M.Hum.

 Adapun seluruh judul proposal yang akan dibahas dalam seminar antara lain:

  1. Dinamika Kehidupan Sosial Budaya Daerah Koto Tangah Kota Padang Sumatera Barat (1980-2010)
  2. Batagak Payuang pada masyarakat Kuranji Kota Padang (1980-2017)
  3. Padang Pinggir Kota (Papiko) dari Kampung menjadi Kelurahan; studi kasus: Nagari Nanggalo (1980-2018)
  4. Tari Serasan Seandanan: Tari Penyambutan Tamu di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan (1989-2018)
  5. Nilai Budaya Masyarakat Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu dalam Sastra Lisan Serambeak
  6. Kearifan Lokal Masyarakat Ogan Ilir Sumatera Selatan dalam Cerita Rakyat Jeliheman
  7. Rumah Kajang Padati di Kota Padang: Konsep Tata Ruang dan Fungsi Sosial
  8. Tradisi Bimbang Babelai pada Suku Bangsa Serawai di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu
  9. Adat Sedulang Setudung di Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan
  10. Ritual Batepong pada Suku Bangsa Pekal di Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara.

Pelaksanaan seminar berlangsung dinamis. Berbagai masukan diberikan para peserta untuk lebih memaksimalkan hasil penelitian khususnya berkaitan dengan urgensi penelitian dan kaitan dengan pelestarian budaya.

Kajian ini diharapkan selain mendeskripsikan aspek budaya dan sejarah, juga dapat menghasilkan kebijkan strategis pelestariannya. Jadi kajian pada intinya berisi temuan kebijakan pelestarian budaya maupun sejarah yang dikaji. (FM)

 

NB: Beberapa judul penelitian pada berita sebelumnya telah diubah sesuai kebutuhan peneliti

Daftar Kajian BPNB Sumbar T.A. 2019

0

Padang – Sebagai unit kerja pelestari budaya, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat memiliki kegiatan Kajian Pelestarian Nilai-Nilai Budaya. Tujuan pengkajian dimaksudkan untuk menggali nilai-nilai dalam karya budaya atau objek pemajuan kebudayaan. Sebagaimana tertera dalam UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan terdapat sepuluh objek pemajuan kebudayaan. Ke sepuluh objek tersebut yakni tradisi lisan, manuskrip, adat-istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Pada tahun 2019, BPNB Sumbar akan melakukan kajian tentang objek-objek tersebut. Total ada sepuluh kajian yang tersebar di tiga wilayah kerja yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Ke sepuluh kajian tersebut yakni empat kajian di Provinsi Sumatera Barat, tiga Kajian di Provinsi Bengkulu dan tiga kajian di Provinsi Sumatera Selatan. Sementara tahap-tahap pelaksanaan akan dimulai dengan seminar proposal, pengumpulan data, pengolahan data dan seminar hasil.

Baca juga: Pengumuman Program Kerja 2019

Adapun judul kajian yang rencananya akan dilaksanakan sepanjang tahun ini antara lain:

  1. Dinamika Perubahan Nilai Sosial Budaya Masyarakat Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat;
  2. Rumah Kajang Padati pada Masyarakat Padang– Konsep Tata Ruang dan Fungsi Sosial;
  3. Masyarakat Kuranji Kota Padang dalam Perspektif Sejarah dan Budaya (1992-2017);
  4. Padang Pinggir Kota (PAPIKO) dalam Perspektif Sejarah dan Budaya: Studi Kasus Masyarakat Kecamatan Nanggalo Tahun 1990-2017;
  5. Upacara Daur Hidup pada Suku Bangsa Pekal di Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu;
  6. Tradisi dan Kearifan Lokal Masyarakat Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu;
  7. Tradisi Bimbang Babelai pada Suku Bangsa Serawai Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu;
  8. Kearifan Lokal Masyarakat Ogan Ilir dalam Cerita Rakyat Jeliheman;
  9. Budaya Masyarakat Banyuasin di Desa Geledak Dalam, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan;
  10. Kearifan lokal Masyarakat Kawasan Danau Ranau Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatera Selatan.

Nantinya, hasil kajian-kajian ini dapat dimanfaatkan sebagai dokumen pendukungan pengusulan warisan budaya tak benda nasional maupun dunia. Hasil kajian juga diharapkan dapat ‘menelurkan’ rekomendasi kepada pemerintah daerah perumusan kebijakan pelestarian budaya.

“kajian ditekankan menghasilkan kontribusi kebijakan strategis kebudayaan. Kemasan hal ini dalam bentuk kegiatan pengedukasian dan internalisasi nilai-nilai budaya untuk menguatkan ketahanan budaya masyarakat” terang Suarman

Selain kajian nilai budaya dan sejarah, BPNB Sumbar juga akan mengadakan pencatatan warisan budaya tak benda (WBTB) di tiga wilayah kerja. Disamping juga mengadakan berbagai even internalisasi seperti Jejak Tradisi Daerah, Lawatan Sejarah Daerah, Belajar Bersama Maestro, Dialog Budaya, Dialog Sinergitas dan lain-lain.(FM)

Pengumuman Program Kerja BPNB Sumbar T.A. 2019

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat mengumumkan Program Kerja 2019. Pengumuman dilakukan pada Selasa, 29 Januari 2019 di Ruang Rapat BPNB Sumatera Barat. Pengumuman ini  sekaligus menetapkan tim pelaksana semua kegiatan yang meliputi kajian, revitalisasi dan internalisasi nilai budaya. Dengan pengumuman ini artinya seluruh kegiatan sudah dapat dimulai.

Kegiatan tahun ini sesungguhnya merupakan terjemahan dari  tugas dan fungsi BPNB Sumbar sebagai pelestarian budaya. Kegiatan-kegiatan tersebut juga sudah rutin dilaksanakan di tiga wilayah kerja BPNB Sumbar yakni Provinsi Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Beberapa kegiatan unggulan juga sama yakni Belajar Bersama Maestro, Gelar Budaya, Lawatan Sejarah Daerah dan Jejak Tradisi Daerah serta Fasilitasi dan Kemitraan.

Baca juga: Undangan Menulis Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

Dalam kesempatan pengumuman tersebut, kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman menekankan agar kegiatan 2019 dilaksanakan ke wilayah-wilayah yang sama sekali belum pernah atau jarang dimasuki. Hal ini sesuai dengan arahan Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk menciptakan pemerataan di seluruh wilayah Republik Indonesia. Sehingga kegiatan kali ini akan menyasar daerah-daerah yang sama sekali baru.

Suarman juga menekankan agar setiap pelaksanaan kegiatan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan. Hal ini untuk memastikan kegiatan berjalan dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan baik secara administrasi maupun aspek kemanfaatannya.

Bagi pegawai, kegiatan ini menjadi kegiatan pendukung Sasaran Kinerja Pegawai. Walau begitu, kegiatan tersebut sama pentingnya dengan kegiatan utama. Melalui pelaksanaan kegiatan ini diharapkan pegawai dapat mencapai realisasi sasaran kerjanya dengan baik, disamping mencapai tugas dan fungsi kantor sebagai pelestari budaya.

Adapun kegiatan yang akan dilaksanakan tahun ini antara lain:

  1. Kajian Pelestarian Nilai Budaya di tiga wilayah kerja BPNB Sumbar
  2. Penerbitan Buku, Jurnal, Leaflet dan Booklet
  3. Inventarisasi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di tiga wilayah kerja BPNB Sumbar
  4. Internalisasi Nilai Budaya di tiga wilayah kerja BPNB Sumbar (Jejak Tradisi Daerah, Lawatan Sejarah Daerah, Dialog Budaya, Belajar Bersama Maestro, Bioskop Keliling dan Pameran hasil kajian, Lomba Karya Tulis, Gelar Budaya, Festival Film Pendek serta Fasilitasi dan Kemitraan). (FM)

LAKIP BPNB Sumbar 2018

0

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat tahun 2018 dapat diunduh di LAKIP BPNB SUMBAR 2018

Undangan Menulis Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya

0

Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat akan kembali terbit. Hingga 2019 ini, penerbitan jurnal ini telah memasuki volume lima. Mulai tahun ini, jurnal tidak hanya terbit dalam edisi cetak, tapi juga online. Waktu penerbitan akan tetap dilakukan secara berkala yaitu dua kali setahun. Untuk nomor satu akan terbit di Juni dan nomor dua terbit di Desember.

Redaksi mengundang para peneliti, profesional dan akademisi untuk dapat mensubmit artikel di http://jurnalbpnbsumbar.kemdikbud.go.id/. Redaksi menerima artikel hasil-hasil penelitian bertemakan sejarah dan budaya di seluruh Indonesia, terkhusus di wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Artikel yang masuk akan direview oleh redaksi dan Mitra Bestari dan hasil/rekomendasi Mitra Bestari akan menjadi pertimbangan utama sebuah artikel layak atau tidak layak dimuat di jurnal ini.

Panduan penulisan sekaligus template dapat diunduh di TEMPLATE PEDOMAN PENULISAN ARTIKEL.

LAKIP BPNB SUMBAR 2017

0

Terlampir Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Tahun Anggaran 2017

LAKIP

Seminar Revitalisasi Budaya Minangkabau

0

Bukittinggi – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat menggelar Seminar Revitalisasi Budaya Minangkabau. Seminar ini diadakan selama tiga hari berturut-turut pada 27-30 November 2018 di Hotel Novotel, Bukittinggi, Sumatera Barat. Hadir dalam kegiatan ini dinas-dinas provinsi dan kabupaten di seluruh Sumatera Barat, Balitbang, Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), pemangku adat, bundo kanduang, akademisi, praktisi dan Cerdik Pandai. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi.

Acara dimulai dengan pengantar oleh MC, pembacaan ayat Alquran, tari pasambahan yang dibawakan oleh Sanggar Puti Limo Jurai serta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selanjutnya laporan panitia, sambutan kepala menyusul kemudian kata sambutan sekaligus pembukaan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi.

Laporan ketua panitia, Dra. Maryetti, M.hum, menyebut peserta dalam kegiatan ini berjumlah 125 orang termasuk panitia. Masih menurut dia, kegiatan ini bertujuan sebagai wadah mensosialisasikan UU Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Meningkatkan pengetahuan tentang budaya Minangkabau dan menghasilkan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah terkait pelestarian budaya.

Berkaitan dengan itu, Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman dalam sambutannya menyampaikan bahwa sebagai adi budaya dunia, Indonesia paling potensial meraih kemajuan dari kebudayaan. Sebagai adi budaya, tidak saja potensial sebagai magnet pariwisata dan sumber ekonomi masyarakat. Kebudayaan juga berperan penting sebagai landasan peradaban. Suarman juga menyampaikan bahwa seminar ini dapat menjawab berbagai tantangan pelestarian kebudayaan di masa mendatang, merumuskan tata kelola budaya melalui ekosistem kebudayaan dan rekomendasi sebagai rujukan pembuatan regulasi terkait pelestarian budaya.

Melihat bahwa budaya adalah akar kebudayaan, maka Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi sangat mendukung kegiatan seminar ini. Dia menambahkan bahwa jika kebudayaan tidak dirawat maka peradaban tidak akan tumbuh dengan sempurna. Sehingga seminar ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang tepat untuk kemajuan kebudayaan Minangkabau.

Seminar ini sendiri akan berlangsung selama tiga hari, peserta akan dibagi dalam 5 rapat komisi. Ke lima komisi akan membahas 10 obyek kebudayaan sesuai UU Pemajuan Kebudayaan. Hasil rapat komisi akan dibawa ke rapat seluruh peserta untuk menghasilkan rekomendasi pelestarian budaya Minangkabau. (FM)

Seminar Hasil Kajian Nilai Budaya

0

Padang – Setelah melakukan kajian selama setahun, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat melaksanakan seminar hasil kajian. Seminar ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut sejak Rabu-Jumat, 21-23 November 2018. Seminar diadakan di Hotel Grand Inna, Padang Sumatera Barat. Sebanyak 15 hasil penelitian diseminarkan baik kajian sejarah maupun budaya. Hadir sebagai keynote speaker dalam seminar ini Prof. Dr. Dwi Purwoko dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Kasubag Tata Usaha BPNB Sumbar Titit Lestari, S.Si, MP ini dihadiri oleh beberapa orang narasumber dari akademisi dan tokoh-tokoh dari daerah lokasi penelitian. Selain itu turut hadir dalam seminar ini perwakilan dari Balitbang provinsi Sumatera Barat, Balai Bahasa Sumatera Barat, Akademisi dan mahasiswa.

Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin BPNB Sumatera Barat setelah seluruh penelitian selama tahun berjalan selesai. Sebagaimana tugas dan fungsinya sebagai pelestari budaya, BPNB Sumbar selalu mengadakan kajian rutin berkaitan dengan sejarah dan budaya di tiga wilayah kerja yakni Sumbar, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Selain sosialisasi hasil kajian, seminar hasil kajian ini sekaligus sebagai ajang menambah pengetahuan akademis baik terkait metode maupun teori yang berkembang. Hal ini untuk memastikan bahwa peneliti senantiasa update perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam kesempatan itu, Dwi Purwoko menekankan penting untuk tetap fokus dalam melakukan kegiatan penelitian. Hal ini untuk memastikan bahwa hasil penelitian tersebut berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan. Dia juga menambahkan bahwa peneliti harus berani mengambil resiko, yang penting data yang diberikan valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Harapannya, hasil-hasil penelitian BPNB Sumatera Barat dapat bermanfaat khususnya hasil penelitian 2018.(FM)

Renstra Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat 2015-2019

0

Rencana Strategis Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat T.A. 2015 – 2019 dapat diunduh:

RENSTRA-2015-2019-BPNB-PADANG

Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda

0

Padang – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-90, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat menggelar upacara pada Senin, 29 Oktober 2018. Upacara dilaksanakan di halaman kantor BPNB Sumbar Kuranji, Padang. Sebagai pembina dalam upacara Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman. Upacara diikuti seluruh pegawai dan mahasiswa yang sedang magang.

Upacara yang dimulai sejak jam 08.00 wib tersebut berlangsung hikmat. Dimulai dengan penaikan bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan teks Pancasila, Pembacaan UUD 1945, Pembacaan Keputusan Kongres Pemuda Indonesia serta pembacaan naskah pidato Menteri Pemuda dan Olahraga. Selain itu, peserta upacara juga menyanyikan lagu-lagu nasional.

Baca juga: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsumbar/wp-admin/post.php?post=2284&action=edit

Sebagaimana diketahui, Hari Sumpah Pemuda yang jatuh tanggal 28 Oktober merupakan peristiwa sejarah penting dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. Pada momen tersebut pemuda Indonesia mengikrarkan bahwa sebagai Indonesia adalah satu bangsa, tanah air dan satu bahasa. Peristiwa ini sekaligus mengakhiri perjuangan bangsa yang sebelumnya masih bersifat kedaerahan.

Selamat Hari Sumpah Pemuda!(FM)

PPKD dan Komitmen Pemerintah Daerah

0

Kita menyadari sepenuhnya bahwa kebudayaan itu penting, sebab persoalan budaya sudah melekat dan menjadi pakaian hidup serta sebagai harga diri bagi seseorang. Jamak terjadi bagi kita pemahaman tentang pentingnya kebudayaan terkadang hanya dalam bentuk ucapan-pemanis saja-tidak dituangkan dalam bentuk dokumen sebagai fondasi untuk melaksanakan kegiatan atau program. Sebuah dokumen yang bisa dipraktikkan atau dilaksanakan dikemudian hari. Sebuah dokumen yang memuat tentang Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD).

            Penguatan kearah tersebut telah diperteguh dengan keluarnya Undang-Undang nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa pemajuan kebudayan berpedoman pada PPKD kabupaten/kota, Dalam arti kata bahwa pemerintah daerahlah yang menyusun PPKD. Namun sampai bulan ini baru 8 (delapan) kabupaten/kota di Propinsi Sumatera Barat yang sudah menyusun struktur tim PPKD tersebut. Kabupaten/kota yang sudah dan sedang berjalan menyusun PPKD tersebut yakni Kota Sawahlunto, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Padang Pariaman,  Kabupaten Tanah Datar, Kota Bukittinggi dan Kota Payakumbuh. Bagaimana dengan daerah lainnya ?. Apakah punya niatan untuk menyusun PPKD tersebut. Kita berpikiran positif bahwa pemerintah kabupaten/kota lainnya punya niatan kearah tersebut, dan kita tunggu untuk menyiapkan dokumen PPKD tersebut.

Sebuah keniscayaan bila kita ingin memajukan kebudayaan di daerah kita namun belum menyiapkan langkah awal pembentukan PPKD tersebut, seperti penyusunan tim PPKD. Sebab tim PPKD inilah yang nantinya menyusun roh pokok-pokok kebudayaan yang ada di daerah.

Baca juga: Silek, indonesiana dan ekosistem kebudayaan

Ditelisik lebih jauh untuk persoalan inipun telah didorong untuk menyusun PPKD di daerah. Diawali dengan Lokakarya Penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kabupaten /Kota hari Kamis, 26 April 2018 di Grand Inna Padang. Kegiatan yang digagas oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebuah langkah awal untuk melaksanakan amanah dari Undang-Undang nomor 5 Tahun 2017 tersebut. Perihal terpenting dalam rangka pemajuan kebudayaan di daerah. Namun respon positif belum seratus persen, sebab hanya 7 (tujuh) kabupaten kota di Propinsi Sumatera Barat yang punya komitmen untuk itu. Kita tidak menafikan bahwa kabupaten dan kota yang lain juga punya respon positif dan komitmen kuat kearah tersebut, namun belum memperlihatkan jalan kearah tersebut, kita tunggu.

Kenapa penting PPKD tersebut ?. Jawabnya adalah bahwa PPKD merupakan fondasi utama bila kita ingin memajukan kebudayaan daerah, sebagai acuan, kompas kemana arah kebudayan kita nantinya.Bila ini tidak disusun dikuatirkan arah kebudayaan daerah kita tidak menentu, dan tidak ada fondasi utamanya.

Disinilah pentingnya komitmen dari pemerintah daerah untuk menyusun PPKD tersebut. Komitmen ini penting mengingat keberlanjutan dari apa yang menjadi PPKD tersebut, alias PPKD tersebut tidak hanya sebatas dokumen saja namun bisa dilaksanakan untuk pemajuan kebudayaan di daerah.

Dari segi penganggaran dalam bidang kebudayaan kita masih “dianak tirikan”, baik dari segi kebijakan apalagi anggaran. Coba sandingkan saja anggaran bidang lain dengan kebudayaan, saya yakin dan percaya akan lebih besar dibidang lain seumpama bidang pariwisata. Paradigma yang terbangun oleh pengambil kebijakan selama ini adalah bahwa membangun pariwisata akan dapat menghasilkan pendapatan secara langsung dan cepat seperti orang datang atau para turis, baik internasional maupun domestik. Tidakkah pernah kita berpikir yang kita jual dan promosi yang kuat itu adalah kebudayaan kita sendiri !

Ditambah dengan persoalan kuatnya kedudukan kebudayaan dalam kehidupan kita. Dikatakan tak berbudaya saja tamparan dan muka merah beringas akan kita dapati. Begitulah gambaran tatkala kita mengutas dengan cemohohan pada pribadi seseorang dengan ungkapan tak berbudaya. Ini bisa saja terjadi pada anak-anak, apalagi pada angku-angku, datuak-datuak yang kesehariannya melekatkan diri dengan budaya itu sendiri.

Berbicara masalah budaya, sebetulnya sangat luas bukan saja persoalan cara berpakaian, pembagian harta warisan, pementasan teater, tari-tarian dan lainnya namun jauh dari itu. Konsep budaya itu luas dan dinamis-berubah. Irama hidup kita yang makin cepat tentu saja mempengaruhi perubahan tersebut.

Sebuah komitmen terbaik dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk mengusulkan DAK (Dana Alokasi Khusus) di bidang kebudayaan pada masing-masing kabupaten dan kota. Ini tidaklah mudah untuk memperjuangkannya perlu komitmen kita bersama, khususnya pemerintah daerah, salah-satunya adalah penyusunan PPKD tersebut.

Menurut penulis ada beberapa langkah yang harus dilaksanakan untuk memujudkan PPKD tersebut. Pertama, pemerintah daerah kabupaten dan kota harus terlebih dahulu punya komitmen untuk pemajuan kebudayaan daerahnya. Komitmen tersebut dipraktikkan dengan menyusun Tim Penyusun PPKD. Tim tersebut merupakan orang yang memiliki profesional dibidangnya, sebab merekalah yang akan bekerja untuk menyusun PPKD tersebut.

Kedua, setelah dibentuk PPKD tersebut perlu kiranya diajak serta semua stakholder dibidang kebudayaan. Mereka memiliki kontribusi yang besar untuk penyusunan PPKD tersebut, prosesnya seperti melaksanakan FGD (Focus Group Discussion). Hasil FGD tersebutlah yang menjadi rujukan awal untuk disusun oleh tim tersebut.

Ketiga, setelah dilaksanakan FGD tersebut (bisa satu kali atau lebih) maka mulailah tim menyusun PPKD tersebut. Tim haruslah bekerja dengan baik dan professional sehingga menghasilkan PPKD yang baik pula nantinya. Keempat, setelah dilaksanakan penyusunan PPKD oleh tim tersebut, maka perlu penguatan akan hal ini yakni berbentuk regulasi. Maka sebaiknya hasil dari tim tersebut dalam bentuk PPKD dibuatlah Peraturan Daerah (Perda) supaya bersifat mengikat dan dapat dilaksanakan nantinya dari isi yang diamanatkan dalam PPKD tersebut. Kelima, pemerintah daerah Sumatera Barat dalam hal ini Dinas Kebudayaan Propinsi Sumatera Barat dapat mengkoordinir dan mendorong terbentuk dan tersusunnya PPKD setiap kabupaten dan kota. Keenam, perihal yang sangat penting adalah PPKD tersebut tidak hanya sebagai dokumen semata namun dilaksanakan kedepannya. Disinilah pentingnya komitmen kepala daerah dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) dalam bidang kebudayaan untuk melaksanaknnya.

Jadi, sangatlah disayangkan bila kerja baik untuk menuju pemajuan kebudayaan daerah kita tidak kita respon dengan baik.Sebab PPKD tersebut merupakan  sebuah fondasi awal untuk menuju pemajuan kebudayaan daerah. Marilah kita semuanya punya komitmen untuk itu. Mudah-mudahan. Wasalam.

Hidup Seadanya di Laut yang Kaya

0
para nelayan di Pesisir Selatan sedang menarik pukat. Foto. Firdaus Marbun

Pagi itu, beberapa nelayan duduk santai di dipan sebuah rumah panggung di Nagari Lansano, salah satu nagari di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Terik matahari mulai menyengat mengiringi kepulangan mereka seakan mendorong untuk mengaso sejenak. Mereka memang butuh melepas lelah sejenak setelah sejak subuh bekerja di tengah laut. Umumnya obrolan dan canda mereka membahas seputar hasil yang diperoleh pagi ini.

‘dapek bara (dapat berapa)?’ tanya seorang bapak.

‘limo pulu ibu nyo (cuma lima puluh ribu rupiah)’ jawab yang lain.

Penghasilan mereka pagi itu hanya Rp.50.000,-. Hasil sebanyak itu dibagi untuk biaya baka (bahan bakar) melaut dan dibawa ke rumah. Kala itu musim melaut sedang sedikit. Banyak diantara nelayan tidak mendapatkan hasil tangkap. Bahkan, beberapa diantara mereka untuk menutupi baka saja kadang tidak bisa. Begitulah keseharian sekelompok bapak-bapak tersebut yang sehari-hari melaut menggunakan sampan robin (sampan 15 PK) dengan alat tangkap seadanya. Mereka disebut juga dengan nelayan robin.

Baca juga: PPKD, titik awal atau pengulangan sejarah

Sebagian masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan memang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Berdasarkan data statistik tahun 2016, terdapat 18.937 orang berprofesi sebagai nelayan dengan rincian 14.091 jiwa nelayan penuh waktu dan 4.846 jiwa nelayan paruh waktu. Jumlah tersebut, umumnya hidup sebagai nelayan tradisional dengan mengandalkan alat tangkap sederhana, modal kecil dan hasil tangkap yang sedikit. Bahkan, sebagian hidup memburuh kepada pemilik alat tangkap tanpa memiliki alat kerja.

Hidup sebagai nelayan tradisional di Kabupaten Pesisir Selatan bisa dikatakan sangat memprihatinkan. Seringkali, hasil tangkap yang mereka peroleh di pagi hari hanya cukup memenuhi konsumsi di hari yang sama. Bahkan sering hasil tangkap mereka tidak cukup untuk memenuhi biaya melaut yang mereka keluarkan. Ketika masa seperti ini tiba, maka jalan keluar yang mereka tempuh adalah berhutang. Menjadi tradisi bagi mereka hidup dengan menggali lobang tutup lobang.

Kita yang selalu merasa bangga dengan luas dan kayanya laut seakan ironis menyaksikan kehidupan nelayannya. Mengandalkan hasil menangkap sangat tidak mungkin bahkan hanya untuk sekadar mempertahankan hidup. Tidak peduli apakah mereka nelayan robin, nelayan pukat tepi atau nelayan pukat payang, semua sama saja. Sehingga, lama kelamaan mereka selalu terperangkap dalam kondisi yang cukup memprihatinkan dan miskin.

Untuk dapat melanjutkan dapur tetap ngebul merekapun harus kreatif. Jika tidak, maka mengandalkan hasil tangkap akan mengancam hidup mereka. Beberapa cara yang mereka lakukan disaat hasil tangkapan mereka tidak ada adalah dengan membantu penangkapan orang lain, memanfaatkan pasang sedang naik untuk menangkap kepiting atau udang, bekerja di luar kerjaan nelayan dan sebagainya. Namun, pekerjaan-pekerjaan sampingan tersebut hanyalah sementara.

Berbagai program pemerintah sebenarnya telah digulirkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan. Beberapa diantaranya seperti asuransi nelayan, bantuan alat tangkap, tabungan nelayan dan lainnya. Namun pemberian bantuan tersebut belum berdampak signifikan pada peningkatkan taraf hidup nelayan. Program yang ada seakan tidak mampu mengangkat penghasilan mereka. Mereka yang mengandalkan alat tradisional seakan takluk pada alam.

Persoalan masyarakat nelayan di Kabupaten Pesisir Selatan memang cukup rumit. Keterbatasan penguasaan teknologi mengakibatkan nelayan tradisional senantiasa takluk pada alam. Kekalahan teknologi juga mengakibatkan pengumpulan hasil laut yang kecil jika dihadapkan pada penggunaan teknologi yang lebih canggih. Disisi lain dari sumber daya manusia, nelayan tradisional juga umumnya sangat minim mengecap pendidikan formal dan keterampilan yang berpotensi mencari penghasilan tambahan.

Penulis: Firdaus Marbun, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang pada 23 September 2018

Ragam Aliran Silek Tradisi di Kabupaten Solok Selatan

0
Salah satu gerak silek luncua. Silek ini merupakan salah satu aliran silek tradisi yang terdapat di Kabupaten Solok Selatan.

Silek tradisi di Kabupaten Solok Selatan sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan silek tradisi Minangkabau. Masyarakat sendiri mengakui bahwa silek mereka berasal dari daerah darek yang kemudian dikembangkan di Solok Selatan. Bahkan silek yang terdapat di Solok Selatan umumnya menggunakan nama-nama aliran silek di darek seperti pangian, kumango, taralak, harimau dan lain-lain. Memang, sebagian mereka mempertahankan gerak dan keunikannya sebagaimana di darek. Sebagian lain memodifikasi sesuai keadaan lingkungan dan kebutuhan.

Dari penelusuran tim kajian Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat tahun ini, hingga kini masih banyak aliran silek yang tetap bertahan. Walau begitu, tidak semua aliran berkembang dengan baik. Ada yang baik dan ada juga yang kalau tidak bisa disebut hampir punah. Beberapa kendala seperti kurangnya minat masyarakat untuk belajar, ketertutupan tuo silek untuk mengajarkan, dan berbagai alasan lain ditengarai sebagai faktor penting yang mempengaruhi perkembangan silek tersebut.

Beberapa perbedaan antara silek darek dengan solok selatan lebih disebabkan adaptasi terhadap kondisi lingkungannya. Sehingga terdapat pada beberapa bagian silek mendapat perubahan penting. Salah satu aliran yang dimodifikasi yakni silek Kumango. Silek ini sangat berbeda dengan silek kumango yang umum dikenal masyarakat Minangkabau. Jika Rusli (2008) menyatakan bahwa silek kumango bukanlah gabungan silek, tapi disini silek kumango adalah gado-gado oleh masyarakat setempat. Gado-gado karena merupakan gabungan dari berbagai gerak aliran silek yang ada di Solok Selatan.

Baca juga: Silek, Indonesiana dan Ekosistem Kebudayaan

Solok selatan memang dikenal sebagai perbatasan antara darek dengan rantau. Sebagai perbatasan, daerah ini dipengaruhi oleh dua kebiasaan atau tradisi yang berbeda yang saling berinteraksi. Interaksi masyarakat yang lebih heterogen dan rumitnya berbagai persoalan yang dihadapi menyebabkan persepsi yang berbeda terhadap suatu hal. Persepsi pada Silek juga sama. Silek yang berkembang di Solok Selatan turut disesuaikan dengan alam, kebiasaan dan kebutuhan.

Di sisi lain, mempertahankan silek dengan nilainya yang murni bukanlah pekerjaan mudah. Selalu mengalami tantangan sesuai dengan kondisi alam dan keadaan sosial budayanya. Silek yang awalnya dipakai membela diri, pada perkembangannya dimanfaatkan untuk silaturahmi. Namun demikian, masyarakat menyadari pentingnya silek menjadi alat pengamanan dan pembentuk karakter. Sehingga, beberapa aliran silek dikembangkan dan hingga kini masih tetap eksis. Bahkan beberapa aliran mengalami perkembangan signifikan.

Beberapa aliran silek yang masih eksis hingga kini tersebut yakni silek pedang abai, Silek Pangian, Silek Taralak, Silek Colau, Silek Katiani, Silek Luncu, Silek Koto Anau, Silek Kumango, Silek Tuo Lubuk Gadang Yang Dikenal Juga Dengan Silek Langkah Ampek, Silek Paninjauan Atau Junjung Sirih, Silek Harimau (Termasuk Silek Kucing Putiah), Silek Tuo Sungai Pagu, dan Silek Guntiang.

Semua aliran tersebut dikelompokkan dalam silek langkah tigo dan silek langkah ampek. Menurut masyarakat perbedaan kedua silek terletak pada langkah dan geraknya. Gerak silek langkah tigo bersifat lebih menyerang atau menyambut, sementara silek langkah ampek disebut lebih mengalah dan lebih lembut. Silek padang abai termasuk ke dalam silek langkah tigo, sementara yang lain masuk ke silek langkah ampek.

Secara sederhana, perbedaan tersebut menggambarkan orientasi masing-masing silek. Kalau langkah tiga bertujuan untuk menghabisi lawan, sementara langkah ampek membuka peluang untuk berdamai terlebih dahulu. Ketika tidak ada lagi kesempatan untuk berdamai, barulah mulai menyerang atau menghabisi.

Namun demikian, baik langkah tiga maupun langkah ampek sama-sama memiliki filosofi yang sama terkait kawan dan musuh. Silek tidak digunakan untuk mengurangi kawan, juga tidak dipakai untuk menambah musuh. Silek itu hanya sebagai senjata dan pertahanan diri yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan ketika dalam posisi terancam.

Keberadaan dua kelompok silek ini pada masa lalu sama-sama dibutuhkan untuk menghadapi berbagai gangguan terhadap individu maupun kelompok. Sehingga silek juga disebut sebagai silek parik paga nagari. Silek menjadi andalan atau senjata ampuh untuk menjaga keamanan nagari.

Penulis: Firdaus Marbun, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimual di Harian Umum Singgalang pada Minggu, 7 Oktober 2018

PPKD, “Titik Awal atau Pengulangan Sejarah”?

0

Pasca lahirnya undang – undang pemajuan kebudayaan No 5 tahun 2017, Kebudayaan mulai mendapatkan prosi lebih dalam kerangka berbangsa dan negara. Pasca lahirnya undang – undang tersebut pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan merencanakan pada pertengahan tahun 2019 Indonesia sudah punya Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan, yang akan digunakan untuk menyusun RPJMN kebudayaan tahun 2020-2024.

Kehadiran undang – undang pemajuan kebudayaan seharusnya mendorong Pemerintah daerah untuk memanfaatkan kehadiran undang – undang tersebut demi memajukan budaya daerah mereka. Kebudayaan dan kearifan lokal setiap daerah didorong untuk dapat dikembangkan sehingga menjadi haluan pembangunan nasional. Sebagai bangsa kita menyadari untuk menyaingi negara-negara lain dalam hal teknologi sangatlah sulit bahkan kita harus akui sebagai bangsa kita sudah sangat jauh tertinggal. Solusinya yang mungkin ditonjolkan adalah kekayaan budaya dan  kearifan lokal sehingga bisa menjadikan bangsa ini diperhatikan oleh dunia.

Besarnya tanggungjawab yang diamanatkan dalam undang – undang menyebabkan Direktorat Jenderal Kebudayaan sebagai ledding sektor utama dalam melaksanakan undang – undang pemajuan kebudayaan melakukan peran aktif untuk mengwujudkan itu.  secara masif  Direktorat Jenderal kebudayaan  dari satu propinsi ke propinsi  mensosialisasikan tentang undang – undang pemajuan kebudayaan dan mendorong setiap kabupaten dan kota agar segara menyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD).

Baca juga: PPKD dan komitmen Pemerintah Daerah

Dalam konteks Sumatera Barat, kegiatan sosialisi tentang PPKD dilaksanakan pada bulan mei 2018. Kegiatan ini mengundang seluruh Bupati/walikota, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kepala Bidang Kebudayaan dari kabupaten dan kota agar menghadiri kegiatan tersebut. Inti kegiatan ini adalah mensosialisasikan bahwa saat ini telah ada kebijakan baru tentang pengelolaan kebudayaan di Indonesia.

Pasca sosialisasi dan pertemuan tersebut ada beberapa kabupaten dan kota terlibat aktif dalam penyusunan PPKD tersebut, bahkan beberapa kabupaten kota secara aktif  melibatkan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat sebagai unit pelaksana teknis direktorat Jenderal Kebudayaan dalam menyusun PPKD daerah mereka.  Setelah mengalami penundaan beberapa kali akhirnya awal september 2018,  seluruh kabupaten dan kota harus menyerahkan PPKD ke tingkat propinsi.

Tahapan selanjutnya adalah propinsi mengkompilasi seluruh PPKD dari kabupaten dan kota untuk dijadikan PPKD propinsi. Menurut rencana hasil PPKD dari 34 propinsi di Indonesia akan dibahas dalam acara kongres kebudayaan tahun 2018. Hasil kongres kebudayaan ini yang harapkan akan menjadi strategi kebudayaan untuk pemajuan kebudayaan indonesia.

Pertanyaan mendasarnya adalah apakah PPKD efektif untuk menjadikan kebudayaan sebagai media bangsa Indonesia untuk bersaingan dan menunjukan eksitensi di tengah percaturan dunia. Sebagaimana yang diungkapkan oleh wakil ketua komisi X Ferdiansyah, dalam focus group discussion Menuju Simposium Kebudayaan. Beliau berharap kekayaan budaya dan kearifan lokal yang kita miliki bisa membuat bangsa ini sejajar dengan bangsa asing sebab dari aspek teknologi indonesia telah jauh tertinggal.

Namun kehadiran PPKD yang bermuara pada lahirnya strategi kebudayaan yang akhirnya akan menghasilkan  RPJMN untuk tahun 2020 – 2024 diharapkan akan mengatarkan bangsa ini pada cita – cita luhur yaitu seluruh kekayaan budaya bisa dikembangkan dan dipertahankan.

Di sisi lain penelitian yang dilakukan Tod Jones yang dituangkan dalam tulisannya yang berjudul Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia “ kebijakan budaya selama abad ke 20 hingga era reformasi yang terbit pada tahun 2015. Tulisan ini dengan jelas memberikan gambaran bagaimana  Kebudayaan dan kekuasaan selalu mempunyai hubungan yang khas. Kebudayaan yang lahir dari rahim masyarakat selalu mempunyai peluang untuk digunakan sebagai alat legitimasi oleh pemegang kekuasaan. Rezim penguasa selalu menjadikan kebudayaan sebagai objek yang harus dikendalikan dan selanjutnya digunakan sebagai alat untuk membentuk wacana dan kemudian melanggengkan kekuasaannya.

Prilaku yang disampaikan oleh  Tod Jones telah berlangsung dari zaman penjajahan sampai dengan orde baru. Setiap penguasa telah menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari untuk mempertahankan kekuasaan.  Di  era reformasi terjadi perubahan hal itu tergambar dari kebijakan pemerintah memisahkan kebudayaan dengan pendidikan dan mengabungkan dengan departemen Pariwisata. Hal ini memperlihatkan bahwa perspektif penguasa hanya memahami kebudayaan sebagai objek yang bisa dijual.

Tahun 2012, pemerintah Soesilo Bambang Yudhyono (SBY) kembali mengabungkan pendidikan dan kebudayaan. Hal ini kembali mengambarkan bahwa kebudayaan merupakan bagian yang tidak terpisah dari dunia pendidikan yang mengharuskan terjadi proses pewarisan dan keberlanjutan dari satu generasi ke generasi.

Undang –undang pemajuan kebudayaan nomor 5 tahun 2017 yang mendorong lahirnya  strategi kebudayaan. Untuk menyusun itu diharuskan setiap daerah harus menyusun PPKD kabupaten / kota kemudian dilanjutkan dengan PPKD propinsi   yang diharapkan menjadi titik awal dari bagaiaman kekayaan budaya yang dimiliki oleh setiap etnis, suku bangsa, agama dan daerah mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.

Perhatian ini tentu saja bukan dalam aspek wacana, namun tertuang dalam praktek politik anggaran mulai dari tingkat pusat sampai ke kabupaten dan kota. Sebagai pemilik kebudayaan, masyarakat tentu berharap bahwa PPKD titik awal dari bangkitnya kecintaan dan kepedulian seluruh elemen bangsa terhadap kekayaan budaya dan kearifanlokal yang dimiliki sebagai aset yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber ekonomi.

Masyarakat tentu tidak mengingatkan PPKD adalah bagaian dari strategi penguasa sebagaimana yang diungkapkan oleh Tod Jones dalam tulisannya. Sebagai pemilik kebudaayan  semua elemen bangsa ini berharap bahwa PPKD adalah titik awal dari munculnya cara dan metode baru dalam mengelola, mengembangkan dan mempertahankan kekayaaan budaya dan kearifanlokal yang dimiliki.

Penulis: Efrianto A, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat.

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang pada 30 September 2018

Tungkek Mambaok Rabah

0
Undri

Bagaimana kalau tungkek-tongkat yang kita pakai membuat kita rebah ? Tidak membuat kita berdiri dan tegak. Tempat kita berpegang. Rasanya lunglai juga persendian kalau itu yang terjadi. Tongkat yang ditakdirkan dan diamanahkan untuk menopang dan membawa kita berdiri tegap, namun kini tongkat itu pula yang membawa kita terjatuh dan bahkan terjerembab. Tungkek mambaok rabah (tongkat membawa rebah) muncul ungkapan akhirnya.

Tungkek atau tongkat sesungguhnya ada pada diri kita atau dengan kata lain kitalah tungkek itu. Dalam tingkatan terkecil kita sebagai tungkek pada diri kita, sebagai tungkek dalam keluarga, dan dalam masyarakat. Orang yang diberi amanah tungkek tersebut disebut dengan pemimpin. Pemimpin buat diri kita sendiri, keluarga dan masyarakat. Orang yang didahului salangkah dan ditinggikan seranting. Orang yang memiliki sikap arif dan bijaksana, tanggap, dan sabar.

Orang yang arif bijaksana adalah orang yang dapat memahami pandangan orang lain, dapat mengerti apa yang tersurat maupun tersirat. Tanggap artinya mampu menangkis setiap bahaya yang bakal datang. Sabar artinya mampu menerima segala cobaan dengan dada yang lapang dan mampu mencarikan jalan keluar dengan pikiran yang jernih. Dilirik lebih jauh sisi keimanan maka muncul sifat siddiq (benar dalam berbicara dan benar dalam bertindak), amanah (dapat dipercaya),  fatanah (cerdas), dan tabligh (menyampaikan).

Baca juga: Kearifan lokal ikan larangan

Ungkapan ini sangatlah cocok untuk mengambarkan hal diatas, tahu dikilek baliuang nan ka kaki, kilek camin nan kamuko, tahu jo gabak di ulu tando ka hujan, cawang di langik tando ka paneh, ingek di rantiang ka mancucuak, tahu di dahan ka maimpok, tahu di unak kamanyangkuik, pandai maminteh sabalun anyuik. (Tahu dengan kilat beliung ke kaki, kilat cermin yang ke muka, tahu dengan mendung dihulu tanda akan hujan, mega dilangit tanda akan panas, ingat ranting yang akan menusuk, tahu dahan yang akan menimpa, tahu duri yang akan mengait, pandai memintas sebelum hanyut). Begitulah adat Minangkabau menggambarkan orang-orang yang arif, bijaksana dan tanggap terhadap masalah yang akan dihadapi.

Seiring dengan itu, seorang pemimpin-sebagai tungkek– merupakan orang yang sangat dekat dan mengerti akan nasib orang yang dipimpinnya. Sosok pemimpin yang fondasi kepemimpinannya dibingkai oleh kekuatan kepercayaan dan kejujuran. Seorang yang muncul tidak begitu saja (instant), namun mengalami suatu proses yang panjang. Sehingga menjadi pemimpin bagi generasinya dan generasi berikutnya.

Seorang pemimpin mempunyai sikap-sikap seperti tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi sangat berguna baginya untuk menjadikan dirinya sebagai seorang pemimpin yang baik bagi generasi yang akan datang maupun generasi pada saat itu. Pola tingkah lakunya tersebut merupakan pola tingkah laku yang murni bukan terbias dengan berbagai-macam bias apalagi bias-bias politik yang menguntungkan pribadi atau kelompoknya. Namun harus memperlihatkan suatu sikap yang jelas-jelas memperjuangkan kehidupan masyarakatnya dan orang-orang yang dipimpinnya.

Kikinian, seorang pemimpin otoriter tidaklah masuk dalam kategori ini. Kalaupun ada tidaklah laku, bahkan dicampak orang nantinya. Keputusan misalnya tidak diambil sendiri. Oleh karena itu, sikap otoriter tidak pernah disukai orang-orang Minangkabau. Pepatah Minangkabau menyebutkan, walau inggok mancakam, kuku na tajam ta baguno, walau ma macik tampuak alam, kato mufakek nan kuaso, elok diambiak jo mufakekburuak dibuang jo hetongan (walau hinggap ingin mencekam, kuku yang tajam tak berguna, walau memegang tampuk alam, kata mufakat yang kuasa, yang baik diambil dengan mufakat, yang buruk dibuang dengan rundingan).

Melahirkan pemimpin yang baik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu proses panjang menuju arah itu. Pondasi kepercayaan, kejujuran dan dekat secara emosional bathiniah dengan rakyat atau orang yang dipimpinnya adalah kunci utama untuk membingkainya.

Pemimpin akan merasakan apa-apa yang dirasakan oleh pengikutnya, begitu juga sebaliknya. Mereka telah merasa satu jiwa, satu tekad dan satu tujuan. Ketika kesemuanya itu terpadu kedalam sebuah kebulatan maka nantinya akan terbentuk suatu kekuatan yang mendukung seorang pemimpin, seperti telah direntang pada bagian diatas.

Namun penting juga diingat ada ungkapan dalam masyarakat Minangkabau. Tungkek mambaok rabah, singgarik mambaok jatuah, piawai nan mamacah timbo. Artinya tongkat membawa rebah, singgarik membawa jatuh, piawai yang memecah timba. Berisi anjuran atau peringatan agar berhati-hati dalam kehidupan ini khususnya bagi seorang pemimpin, sebab tidak jarang apa yang diharapkan membantu malahan sebaliknya. Misalnya, seorang pemimpin yang salah memilih pegawai, orang kepercayaan kadang malah menimbulkan permasalahan fatal kelak kemudian hari, manuhuak kawan sairiang, mangguntiang dalam lipatan, musang babulu ayam, musuah dalam salimuik -namanya untuk menyebutkan perihal diatas.

Seorang pemimpin juga memiliki prinsip, tak ado karuah nan tak ka janiah, tak ado kusuik nan tak ka salasai. Setiap persoalan maka ada jalan keluarnya untuk menyelesaikannya. Demikian pula dalam mengambil suatu keputusan harus bijaksana, sehingga ibarat maambiak rambuik dalam tapuang, nan rambuik indak putuih, tapuang indak taserak.

Akhirnya, tungkek bana nan mambaok rabah– tongkat malah yang membawa jatuh-rebah tidaklah terjadi dalam kehidupan kita. Namun tungkek sebagai panutan, pemimpin yang membuat kita tegap berdiri dengan baik dan itulah sesungguhnya pemimpin yang sejati. Dikenang sampai akhir hayat nantinya.

Pembangunan Gedung Baru Pusat Data Matrilineal

0
Proses pembangunan gedung baru BPNB Sumbar. Rencananya gedung ini akan dijadikan sebagai Pusat Data Kebudayaan Matrilineal.

Padang – Pembangunan gedung baru Pusat Data Kebudayaan Matrilineal BPNB Sumatera Barat terus dikebut. Berbagai material bangunan seperti besi, pasir, batu, dan semen terlihat menumpuk di sekitar pembangunan. Para pekerja juga sedang sibuk melakukan pekerjaannya. Selain itu tulang-tulang besi sebagai rangka tonggak bangunan juga sudah berdiri. Jika tidak ada halangan, pembangunan ini ditargetkan rampung pada desember 2018.

Baca juga: Belajar sipak rago bersama maestro

Gedung baru ini berada di lingkungan kantor BPNB Sumatera Barat di Jl. Kuranji Padang, tepatnya di belakang kantor sekarang. Peletakan baru pertama sudah dimulai sejak 23 Agustus 2018. Sesuai dengan kontrak kerja, pembangunan akan memakan waktu 120 hari kerja. Bangunan ini nantinya terdiri dari dua lantai dengan panjang sekitar 40 meter. Nantinya gedung baru ini akan dibuat dua lantai dengan biaya pembangunan sekitar Rp. 2.3 Milyar.

Wacana pembangunan gedung baru ini telah dimulai sejak tiga tahun lalu. Kebutuhan akan adanya pusat data menjadi alasan utama munculnya ide pengadaan gedung baru. Gedung yang ada saat ini tidak cukup representatif lagi jika harus dijadikan sebagai pusat data. Nantinya gedung ini juga akan dijadikan sebagai Pusat Data Kebudayaan Matrilineal. Hal ini sesuai dengan spesifikasi tugas dan fungsi kantor yang konsen pada pelestarian budaya matrilineal.

Hingga kini proses pembangunan berjalan lancar, tapi kemungkinan kondisi cuaca yang memasuki musim hujan akan menghambat pembangunan bisa selesai tepat waktu. (FM)

Kearifan Lokal Ikan Larangan

0

Gemuruh tahlil menggema memenuhi ruang masjid di Jorong Patomuan nan tenang. Tahlilan ini dalam rangka memulai  kembali ikan larangan. Tahlilan kemudian disambung dengan doa agar Allah yang maha kuasa menurunkan berkah dan mengumpulkan ikan ke lubuk larangan. Salah-satu inti doa adalah memohon kepada Allah agar ikan yang dari mudiak (hulu) datang ke ilia (hilir) dan yang dari ilia  datang ke mudiak dan berkumpul di lubuk larangan.  Begitulah suasana yang terus berulang setiap tahunnya di jorong yang terdapat di tengah hutan kabupaten Pasaman itu.

Lubuk ikan larangan diberi  tanda pembatas arah ilir dan hulunya dengan kain putih yang digantungkan. Semenjak tahlil dan doa dilantunkan maka resmilah mulai  pelarangan menangkap ikan dilokasi tersebut. Pengumuman berkaitan dengan ikan larangan akan diulang beberapa kali jumat agar informasi tersebar keseluruh warga mayarakat.

Ikan larangan dibuat di aliran  sungai Hulu Kampar. Lokasi lubuk ikan larangan tidak selalu sama setiap tahunnya. Ada beberapa pertimbangan untuk menentukannya lokasi. Pertimbangan utamanya adalah lubuk yang dipilih merupakan lubuk yang airnya dalam dan banyak batu-batu besar tempat bersarangnya ikan. Pertimbangan lainnya tidak terlalu jauh dari perumahan untuk memudahkan penjagaan.

Baca juga: Belajar Sipak Rago Bersama Maestro

Sebagaimana diceritakan oleh Zainul, tokoh masyarakat Patomuan.  Tradisi ikan larangan di Patomuan sudah bermula semenjak tahun tujuh puluhan. Normalnya lama satu periode ikan Larangan adalah satu tahun. Waktu membuka ikan  larangan adalah setelah hari raya Idul Fitri.  Kondisi yang biasanya membuat periode menjadi lebih panjang adalah kondisi banjir dan tubo kayu yang terjadi saat air banjir besar yang menyebabkan beberapa jenis ikan jadi mati.

Penjagaan  ikan larangan adalah kewajiban bersama masyarakat.  Bila terjadi pencurian ikan di lubuk ikan lLarangan, dan sipencuri tertangkap, maka sipencuri akan di sidang. Persidangan biasanya dilaksanakan setelah sholat Jumat. Bila dalam persidangan terungkap  perbuatan pencurian dilakukan dengan sengaja,  sipencuri akan didenda sesuai dengan keputusan persidangan. Denda yang dijatuhkan biasanya berupa   bahan bangunan, seperti semen, kayu atau bahan lainnya yang bisa dipergunakan untuk kepentingan umum.

Membuka Ikan Larangan

Saat membuka ikan larangan adalah saat yang sangat ditunggu masyarakat Patomuan. Untuk kesuksesan kegiatan dilaksanakan musyawarah untuk membentuk kepanitiaan di mesjid. Kepanitiaan terdiri dari penghulu suku-suku yang ada, tokoh masyarakat dan pemuda. Panitia menyepakati hari pelaksanaan dan besaran iuran bagi setiap yang ingin terlibat dalam kegiatan. Peserta terbuka untuk warga patomuan dan masyarakat dari luar.  Semenjak penggumuman hari pembukaan ikan larangan disebarkan, panitia  secara bergantian menjaga lokasi terutama malam hari.

Keunikan pembukaan ikan larangan di Patomuan adalah pada sistim yang diterapkan dalam pembagian.  Masing-masing peserta, bagi masyarakat setempat disebut andel membayar dengan harga yang ditetapkan panitia, misalnya seratus ribu rupiah. andel boleh sekaligus menjadi penangkap (tukang jalo) atau hanya menjadi andel saja. Bagi andel yang juga menjadi tukang jalo akan mendapatkan upah tangkap sepertiga dari jumlah tangkapan yang diperoleh. Misalnya seorang tukang jalo mendapatkan 3 (tiga) ekor ikan,  2 (dua) ekor disetor ke panitia, 1 (satu) untuk tukang jalo. Bagi andel yang tidak ikut menangkap akan mendapat bagian dari dua pertiga yang disetor ke panitia.

Waktu Penangkap biasa dimulai sekitar jam 07.00 WIB berakhir sekitar jam 12.00 WIB. Setiap orang yang ikut menangkap (tukang jalo) menyerahkan dua pertiga hasil tangkapannya kepada panitia. Setelah semua terkumpul, maka panitia akan membagi ikan tersebut. Bila semua andel berjumlah 100 (seratus) orang, maka ikan akan dibagi menjadi 110 atau 115 bagian, dilebihkan 10 sampai 15 persen dari jumlah andel. Kelebihan tersebut diperuntukkan untuk panitia dan keluarga fakir dan miskin.

Dengan pola pembagian yang diterapkan itu setiap yang mendaftar menjadi andel akan mendapatkan bagian dari ikan yang berhasil ditangkap. Bagi andel yang ikut menangkap mendapat  bagian lebih karena ada upah tangkap. Dengan demikian ikan larangan di Patomuan dapat terus berlangsung karena setiap warga masyarakat merasakan manfaatnya untuk mereka. Disamping itu ikan larangan juga memberikan dampak positif bagi pembangunan sebab dana yang didapatkan dari iuran andel digunakan untuk keperluan pembangunan seperti  masjid dan sarana umum lainnya.

Ikan larangan merupakan salah-satu bentuk kearifan lokal, selain menjaga tradisi juga menjaga kelestarian lingkungan yang ada di daerah tersebut.

__

Penulis: Hariadi, peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat.

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang pada 14 Oktober 2018

Belajar (Sipak Rago) Bersama Maestro

0
Pembukaan Belajar Bersama Maestro 2018 Kota Padang di Mtsn 5 Kuranji pada tanggal 10 Oktober 2018.

Padang – Sipak rago akan menjadi olahraga tradisional yang dikenalkan dalam Belajar Bersama Maestro 2018 Kota Padang. Kali ini, olahraga tersebut akan dikenalkan kepada peserta didik Sekolah Menengah Pertama atau sederajat yang ada di Kota Padang. Untuk pengenalan tersebut, Maestro yang didapuk sebagai pelatih adalah Nasrul, salah seorang altit sipak rago Pauh IX, Kota Padang.

Kegiatan pembukaan BBM ini telah dibuka sejak 10 Oktober 2018. Acara pembukaan diadakan di MTsn N 5 Kota Padang Kecamatan Kuranji. Dalam pembukaan tersebut hadir Kasubag Tata Usaha BPNB Sumatera Barat Titit Lestari dan Kabid Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Padang Rinaldi Kasim, SH, MH serta anggota DPRD Kota Padang Zulhardi Z Latif, SH, MM.

Baca juga: Silek, Indonesiana dan Ekosistem Kebudayaan

Sipak rago sendiri merupakan olahraga tradisional masyarakat Minangkabau yang menggunakan alat sebagai media permainan. Alat dimaksud yaitu anyaman rotan berbentuk bulat seperti bola. Jika dilihat sekilas, anyaman tersebut menyerupai bola takraw yang biasa dipertandingkan. Namun demikian, permainan sipak rago tidak sama dengan sepak takraw.

Menurut ketua panitia BBM Kota Padang hartati Safitri, alasan memilih olahraga tradisional ini sebagai pembelajaran lebih dikarenakan kondisinya yang semakin hilang. Maka perlu menumbuhkan kembali dengan mengenalkannya kepada generasi muda. Dari sini akan timbul rasa mencintai olahraga itu sendiri.

“kegiatan ini diadakan untuk memperkenalkan sipak rago ke generasi muda, karena memang sipak rago  ini sudah tidak lagi dikenali generasi muda khususnya siswa-siswa SMP di Kota Padang” jelas Hartati Safitri.

Belajar Bersama Maestro Kota Padang akan melibatkan dua Sekolah Mengengah Pertama di Kota Padang dan 20 peserta didik yang terlibat. Kedua sekolah tersebut adalah Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Kota Padang dan  Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 12 Kota Padang. Masing-masing sekolah akan mendapat 8 kali pertemuan. (FM)

Silek, Indonesiana dan Ekosistem Kebudayaan

0

Tahun ini Sumatera Barat mendapat kehormatan terpenting dalam perjalanan sejarah berkebudayaan. Kenapa tidak, Sumatera Barat merupakan salah-satu daerah yang tergabung dalam platform Indonesiana. Program Indonesiana sendiri merupakan sebuah platform yang menyinergikan pemerintah (pusat maupun daerah) dengan para pemangku kepentingan di bidang kebudayaan, agar adanya tata kelola yang baik dan akan memudahkan kebudayaan untuk bergerak sekaligus membangun kesadaran masyarakat. Muaranya adalah ruang-ruang terbuka bagi masyarakat tersebut dapat memastikan platform tersebut dapat terwujud. Tidak melalui panggung-panggung maupun pentas yang sifatnya berkala, namun dari ruang permanen yang dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat, tanpa terkendala waktu dan tempat, dan sifat gotong royong menjadi pengerak utamanya.

Melalui SAF (Silek Art Festival) platform Indonesiana di Sumatera Barat di bingkai. Pembingkaian silek memiliki makna yang sangat penting bila dikaitkan dengan proses berkebudayaan masyarakat di daerah ini. Sebagai sebuah warisan, silek di daerah kita telah berkembang, tumbuh dan telah menjadi jiwa serta telah berurat berakar dalam setiap lini kehidupan masyarakat.

Baca juga: Harapan memasyarakatkan Silek Minangkabau

Silek merupakan suatu keterampilan untuk membela diri dari serangan musuh tanpa mempergunakan alat dan senjata. Memang demikian pada awalnya, hal ini tentu dapat dipahami bahwa para pemuda (calon mamak) belajar silek bukan untuk mencari musuh, berkelahi melainkan untuk mencari teman. Dengan demikian silek bukanlah dipergunakan untuk menyerang atau berkelahi melainkan untuk mewujudkan keselarasan hubungan antara manusia dengan manusia dan bahkan antara manusia dengan Maha Pencipta. Namun bila terjadi serangan yang tidak diingini maka bagi yang diserang berhak untuk membela diri. Hal ini sesuai dengan pepatah “musuah indak dicari basuo pantang dielakkan”.

Ditinjaua dari perspektif ajaran, ajaran silek meliputi silik dan suluk. Silek adalah ilmu mempelajari/ mengenal diri lahiriah, silik adalah Ilmu mempelajari/mengenal diri batiniah, dan suluk adalah Ilmu mempelajari/mengenal diri lahir batin. Bahkan beberapa pelaku dan intelek silek mencoba mengaitkan “silat” (silek) dengan “salat” (sholat) dan “silat-urrahim” (hubungan baik dengan sesama manusia). Ketiga kata tersebut memiliki akar yang sama, terdiri atas tiga huruf Arab, yakni: sim-lam-ta. Jadi, silek bukan seni atau permainan, yang dipermainkan sebagai seni adalah mancak.

Bukan itu saja silek Minangkabau tradisional adalah bagian dari tradisi lisan Minangkabau yang diajarkan secara lisan dan disertai peragaan laku dan peralatan. Sebagai tradisi lisan, sejarah kelahiran dan silsilah perkembangannya relatif sulit dilacak. Hal itu disebabkan karena penciptaannya bersifat anonymous dan kolektif. Itu sebabnya, penamaan aliran Silek Minangkabau didasarkan kepada sumber inspirasi dan pola gerakan serta nama nagari asal pengembang atau pengembangan awalnya. Berdasarkan ciri tersebut maka dalam tradisi silek Minangkabau dikenal adanya Silek Usali atau Silek Tuo (penamaan berdasarkan ketuaan/ keawalan), Silek Harimau, Silek Kuciang, Silek Buayo, Silek Alang Babega (penamaan berdasarkan sumber inspirasi dan pola gerakan), Silek Kumango, Silek Lintau, Silek Paninjauan, Silek Balubuih (penamaan berdasarkan nama nagari asal pengembang/ pengembangan), dan lain sebagainya

Gaung silek itulah yang akan dihelat dalam platform Indonesiana. Sebuah usaha untuk mengerakkan ekosistem kebudayaan dalam rangka pemajuan kebudayaan. Ekosistem kebudayaan itu sendiri merupakan roh pengerak lini-lini atau jejaring-jejaring dalam bidang kebudayaan tersebut- semuanya lini ikut aktif dalam proses berkebudayaan.  Namun jamak terjadi ketika melaksanakan kegiatan dalam bidang kebudayaan kita lebih suka bekerja sendiri-sendiri- tanpa melibatkan lembaga atau instansi lain. Kegiatan banyak namun tidak dalam sebuah sistem atau bingkai yang utuh. Terparah lagi dijumpai bahwa kegiatan untuk menggerakkan ekosistem kebudayaan terkendala adanya ego sektoral, antar lembaga atau instansi, antar komunitas dan lainnya. Persoalan seperti ini sudah menua dan merupakan beban penyakit yang harus disembuhkan bila kegiatan dalam bidang kebudayaan berjaya dikelak hari. Solusi kearah tersebut tidak lain menggerakkan ekosistem kebudayaan itu sendiri.

Pemahaman yang sangat keliru selama ini yang menyebabkan menggerakkan ekosistem kebudayaan menjadi terkendala. Pemahaman itu adalah menyempitnya pemahaman terhadap budaya itu sendiri. Tidakkah masalah budaya itu sangat luas ?.  Bukan saja persoalan cara berpakaian, pembagian harta warisan, pementasan teater, tari-tarian dan lainnya namun jauh dari itu, mulai dari lahir sampai meninggal dunia- persoalan budaya akan selalu menghiasinya. Ditimbal dengan persoalan bahwa berkebudayaan tidak dijadikan sebagai sebuah kebanggaan yang berurat dan berakar dalam hidup kita.

Dalam kerangka inilah kegiatan SAF dalam bingkai platform Indonesiana ingin memperlihatkan bagaimana ekosistem kebudayaan tersebut berproses. Semua lini ikut di dalamnya dalam kerangka platform Indonesiana tersebut. Sebagai sebuah perihal terpenting dalam pemajuan kebudayaan, ekosistem kebudayaan mestilah digerakkan dan ini tidak dapat tumbuh dengan sendirinya melainkan perlu adanya rangsangan untuk dapat tumbuh dan bergerak. Bisa kita lakukan dalam bentuk kerjasama kebijakan antar instansi atau lembaga, pemerintah, swasta, masyarakat pemilik kebudayaan, Lembaga Swadaya Masyarakat dan lainnya.  Menghilangkan arogansi dan ego sektoral antar lembaga atau intansi, komunitas dan lainnya, serta perlu pemikiran yang jernih adalah sebuah keharusan yang harus dibingkai dalam menggerakkan ekosistem kebudayaan kedepannya.

Akhirnya, kita berharap kegiatan platform Indonesiana dengan SAF (Silek Art Festival) nya dapat berjalan dengan baik. Fondasi tersebut tidak lepas dari kerjasama kita semuanya. Mudah-mudahan. Wassalam.

Penulis: Undri, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah terbit di Harian Umum Padang Ekspres pada 5 September 2018

Harapan Memasyarakatkan Silek Minangkabau (13)

0

Begitu eloknya filosofi yang diajarkan dalam silek Minangkabau. Filosofi yang maha dahsyat bila dipraktikkan dalam kehidupan kita.  Silek, lahienyo mancari kawan batinnyo mancari tuhan , misalnya saja. Teramat dalam maknanya.

Keelokannya, apakah dibarengi dengan pengetahuan masyarakat tentang hal tersebut. Sebuah pertanyaan mengugah, bila dikaitkan dengan kondisi masyarakat kita yang cenderung belum bisa membedakan makna yang garak dan garik. Tidakkah garak (gerak) itu adalah kemampuan membaca, mencium bahaya (insting) sesuatu akan terjadi. Contohnya seorang pesilek bisa merasakan ada sesuatu yang akan membahayakan dirinya. Garik (gerik) adalah gerakan yang dihasilkan (tindakan) sebagai antisipasi dari serangan yang akan datang. Sehinga dua elemen tersebut, yakni garak dan garik harus dipahami dengan baik oleh seorang pasilek. Itu secuil dari sekian banyak filosofi yang fundamental dalam silek Minangkabau.

Pengetahuan diatas bisa terpatri bila ada proses dan wadah kearah tersebut. Dalam kerangka itulah peran pemerintah amatlah penting, disamping peran elemen lainnya. Muaranya adalah silek Minangkabau menjadi bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau itu sendiri. Ketika itu berbuah, petikan hasilnya dapat diraih kelak.

Baca juga: Mancak, bungo silek

Peran pemerintahpun beragam, mulai dari mengeluarkan kebijakan sampai melahirkan program yang bernas pelestarian silek Minangkabau. Dalam kerangka itulah peran pemimpin sangat dibutuhkan untuk mendorong dan mamfasilitasi sehinga silek Minangkabau menjadi mahakarya terbesar dalam khazanah budaya Minangkabau.

Saya amat yakin-bahkan aiqul yakin komitmen Gubernur Sumatera Barat dibawah kepemimpinan Irwan Prayitno sekarang ini sokongan untuk kegiatan pelestarian silek Minangkabau amatlah besar. Sepengetahuan penulis, mulai dari upaya pengusulan silek (pencak silat) sebagai warisan budaya dunia ke Unesco, pendokumentasian silek Minangkabau, sampai sekarang ini melaksanakan SAF (Silek Arts Festival), di beberapa kabupaten dan kota di Propinsi Sumatera Barat yakni Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kota Payakumbuh, Kota Sawahlunto, Kota Solok, dan Kabupaten Tanah Datar.

SAF dengan tema panjapuik piutang lamo merupakan rangkaian kegiatan platform Indonesiana. Indonesiana sendiri merupakan platform pendukung kegiatan seni budaya di Indonesia yang bertujuan untuk membantu tata kelola kegiatan seni budaya yang berkelanjutan, berjejaring, dan berkembang yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bagaimana silek Minangkabau ini bisa berkelanjutan, berjejaring dan berkembang. Maka perlu ramuan-ramuan yang jitu. Langkahnya bisa diambil, yakni pertama kedepan menjadikan kegiatan sebagai bagian dari kegiatan alek nagari yang dilaksanakan setiap nagari. Perlu komitmen dari masyarakat dan pemerintah untuk hal ini. Kegiatan alek nagari. sebuah kegiatan yang telah berurat berakar dalam kehidupan masyarakat kita. Hampir semua nagari melaksanakan kegiatan ini, dengan berbagai macam penyebutan nama dan bentuk kegiatan. Dilaksanakan mulai dari satu hari sampai satu minggu penuh.

Coba bayangkan setiap nagari melaksanakan alek nagari ini dengan menampilkan seni budaya yang ada di daerah tersebut seperti silek, serta bentuk kegiatan lainnya mulai dari pawai budaya, pergelaran seni tradisi, panggung seni, festival, lomba seni/budaya dan lainnya. Tidak hanya sebatas pelestarian kebudayaan imbas dari kegiatan ini, namun roda ekonomi masyarakat akan berputar kearah yang baik. Malam hari ditampilkan silek, randai, dan lainnya-orang banyak menonton-bajibun-orang berjualanpun akan berdatangan-jadilah pasar malam yang dapat menghidupi ekonomi masyarakat nagari.

Bagaimana dengan pembiayaan kegiatan ini. Pemerintah daerah hanya memberikan stimulus. Rasa kegotong-royongan dan partsisipatif masyarakat lebih dikuatkan untuk jalannya kegiatan ini-dan ini perlu didorong. Selama ini pengalaman dilapangan yang pernah penulis lihat dan rasakan bahwa masyarakat yang ada di nagari serta para pegiat budaya di kampung-kampung,  nagari-nagari yang terpenting itu adalah “perhatian”- ibarat bayi perlu dekapan dari sang ibunya. Tidak perlu biaya besar,  setiap kampung, nagari kebudayaan itu tumbuh dan masih menjadi bagian dari kehidupan mereka. Sekali lagi, pemerintah daerah hanya memberikan stimulus untuk kelangsungan kegiatan ini.

Kedua, silek Minangkabau dimasukkan kedalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah, baik tingat dasar, menengah dan atas. Sebab media yang paling baik sebagai pewarisan nilai di dalamnya berfungsilah sekolah dalam hal sekolah sebagai preserver dan transmitterdari culture hiratage sebagai instrument for trans­forming culture.  Memang banyak hambatan selama ini menuju arah tersebut, mulai dari persoalan guru/tuo silek yang mengajar sampai kepada payung hukum atau kebijakannya. Semua hal tersebut bisa diselesaikan dengan penguatan kebijakan seperti mengeluarkan peraturan daerah dan sebagainya.

Kurikulum muatan lokal dirancang bukan saja pendidikan tentang garik silek itu sendiri namun juga memuat filosofi yang amat kaya dalam silek Minangkabau.

Ketiga, SAF (Silek Arts Festival) yang telah dilakukan tahun ini, bisa kita jadikan kegiatan tahunan seperti pekan budaya tempo dulu. Ikon kearah tersebut sudah diletakkan, dengan  panjapuik piutang lamo nya. Mengerakkan sendi-sendi komunitas yang ada mulai dari sasaran, tuo silek, pandaka, anak sasian, masyarakat lainnya.

Harapan, nilai-nilai filosofi dalam silek Minangkabau dapat dijadikan fondasi utama dalam kehidupan kita kedepannya. Memang tidak mudah untuk melakukan hal tersebut, dengan usaha dan tekad yang kuat kita bisa wujudkan.

Sebagai bagian dari masyarakat Sumatera Barat, penulis merasa banga dengan silek Minangkabau, dan suatu saat silek menjadi bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dan mahakarya terbesar seperti yang pernah diajarkan oleh tuo silek. Dan, itu harapan yang teramat besar bagi penulis Pak Gubernur. Tamat.

Penulis: Undri, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 26 September 2018

Mancak, Bungo Silek (12)

0

Sebagai sisi lahiriyah silek Minangkabau, mancak mendapat posisi terpenting.  Sebagai bungo silek (bunga silek) atau representasi fisik dan estetik dari silek Minangkabau. Itupula sebabnya muncul ungkapan, basilek di rumah gadang, kok mancak yo di ilaman. Begitulah posisi penting kedua elemen, antara silek dengan mancak tersebut.

Di dalam kertas kerja Hasanuddin dan kawan-kawan (2015:7) mancak tanpa menyentuh sisi silek hanyalah pengajaran keterampilan fisik yang hampa nilai. Sebagai ranah prifat kaum atau keluarga komunal matrilineal, silek Minangkabau secara prinsip pembelajarannya dilakukan secara tersembunyi, ditengah hutan, di malam hari, atau setidaknya di bawah kolong rumah gadang. Setiap kaum mengembangkan gerakan-gerakan khusus dalam upaya menciptakan jurus rahasia yang dianggap lebih tangguh dari kaum yang lain.

Mancak sebagai bungo silek yang dilakukan, memiliki kekuatan utamanya secara sungguh-sungguh parintang jo pamenan. Dalam mancak para pasilek mempergunakan gerakan-gerakan yang dimungkinkan dalam silek tetapi tanpa tindakan yang akan mencederai pasangannya. Begitulah keelokan yang ada dalam mancak sebagai bungo silek tersebut.

Baca juga: Ulu ambek, suntiang dek niniak mamak pamenan dek rang mudo-mudo

Perihal ini tidak terlepas dari persoalan bahwa bila dikaitkan dengan ungkapan basilek di rumah gadang, kok mancak yo di ilaman tersebut, khususnya mancak di ilaman, silek secara fisik yakni mengasah kelincahan, keindahan gerak tentu melibatkan kepekaan emosi, semuanya tertuang dalam gerak.

Lebih lanjut menurut Hasanuddin dan kawan-kawan (2015 : 8), mancak adalah media atau jalan menuju silek, jadi fungsinya adalah jalan menuju pencapaian fungsi silek. Sehubungan dengan itu, mancak mengemban fungsi edukatif, ekspresif, sosial, dan kultural. Pertama, fungsi edukatif. Mancak adalah wadah pembentuk karakter dan jati diri. Sebagai pembentuk karakter, mancak mengemban fungsi menanamkan nilai-nilai religiusitas, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab kepada anak sasian. Kedua fungsi ekspresif –estetis, sebagai ekspresi diri, mancak merupakan wadah bagi ekspresi estetik atau kreatifitas seni, ekspresi kesehatan dan prestasi. Ekspresi diri juga berkait dengan prihal pengungkapan budi atau karakter dan eksistensi. Budi atau karakter adalah sikap atau pendirian yang menyebabkan suatu perilaku terekspresi secara mudah tanpa berpikir panjang. Fungsi eksistensi adalah bahwa seorang pemain mancak dapat menjadikan mancak sebagai basis eksistensi diri, sebagai profesi. Ketiga, fungsi sosial. Fungsi sosial mancak sesuai dengan fungsi silek sebagai pakaian diri, yakni sebagai karakter dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal memelihara harga atau martabat diri, silek menjadi basis keterampilan dan kekuatan pelindung dari berbagai ancaman fisik dan batin dari luar. Keempat, fungsi kultural, fungsi kultural mancak adalah menjaga keberlangsungan tradisi. Tradisi terdiri atas adat sebagai sumber inti sistem nilai etik, kesenian sebagai representasi nilai estetik, dan keterampilan fisik sebagai representasi ketangkasan, etos kerja, kesehatan dan kebugaran. Kunci kebertahanan tradisi adalah sistem nilai atau ideologi yang mendasari tradisi itu. Apabila fungsi mancak dan silek semakin surut maka sistem nilai atau ideologi utama yang mendasarinya juga kian hilang sehingga kearifan lokal yang dimilikinya juga lenyap.

Mancak  sebagai representasi fisik dan visual dari silek adalah berupa gerakan-gerakan badan, kepala, bahu, tangan (siku, lengan, telapak tangan, kepalan, jari), dan kaki (lutut, tungkai, tapak, ujung jari). Gerakan-gerakan mancak adalah berupa salam penghormatan, elakan, tangkapan, kuncian, dan serangan (pukulan, sepakan, hantaman). Gerakan-gerakan tersebut dilakukan secara perorangan, berpasangan atau berkelompok. Mancak dalam bentuk permainan adalah randai sedangkan beladiri adalah dasar silek.

Kekinin, mancak sebagai bungo silek haruslah mendapat perihal terpenting terutama fungsinya yakni  fungsi edukatif, ekspresif, sosial, dan kultural yang bisa menjadi ilham dalam hidup ini. Mudah-mudahan. Bersambung...

Penulis: Undri, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 25 September 2018

Ulu Ambek, Suntiang dek Niniak Mamak, Pamenan dek Rang Mudo-Mudo (11)

0

Pertunjukan ulu ambek dinyatakan sebagai, suntiang dek niniak mamak, pamenan dek rang mudo-mudo (sunting hiasan oleh ninik mamak dalam nagari, pakaian pamenan oleh anak muda-muda). Maksudnya seni pertunjukan ulu ambek merupakan kepunyaan secara adat oleh kelompok ninik mamak atau penghulu-penghulu dan hiasan sebagai permainan oleh kemenakan atau anak muda-muda.

Menurut Mohd Nefi Imran, Ulu Ambek : Silat dan Tradisi dalam Seni Persembahan Adat Minangkabau (2004) menjelaskan bahwa seni pertunjukan ulu ambek merupakan salah satu seni yang terbesar dalam masyarakat Minangkabau umumnya dan Padang Pariaman khususnya, banyak dijumpai perihal-perihal yang menarik dan unik  didalamnya.  Secara umum masyarakat Minangkabau menyebut pertunjukan berkenaan dengan sebutan luambek. Bahkan ada juga menyebutkannya dengan perkataan bauluambek. Setidaknya ada empat variasi sebutan untuk pertunjukan itu pada masyarakat pemiliknya, yakni alo ambek (berasal dari kata alau (halau) dan ambek (hambat), luambek (berasal dari kata lalu (lewat) dan ambek (hambat), ulue ambek (berasal dari kata ulue (julur) dan ambek (hambat), ulu ambek (berasal dari ulu (hulu) dan ambek (hambat).

Walaupun demikian, semuanya bermakna serangan dan tangkisan. Dengan kata lain, ulu ambek lebih mempertunjukkan keterampilan pertarungan dengan gerakan-gerakan menyerang dan menangkis, tanpa kontak fisik. Gerakan-gerakan dilakukan mengikuti irama musik vokal dampeang yang dilantunkan oleh dua orang tukang dampeang. Pertarungan tersebut dipimpin oleh dua orang  janang yang bertindak sebagai wasit dan diawasi oleh para ninik mamak atau penghulu nagari-nagari yang terlibat. Tempat pertunjukan adalah laga-laga yang berarti tempat berlaga, tempat bertarung, tempat menentukan kalah menang, tempat menyaksikan siapa pemenang dan siapa pecundang.

Baca juga: Silek, bagantuang ka Tali nan indak kaputuih

Dalam ulu ambek terdapat kata buluih, seseorang anak sasian dikatakan buluih atau kalah dalam permainan silek ulu ambek apabila ia tidak dapat menangkis gerakan serangan lawan dengan gerak garik tangkisan yang tepat. Orang-orang yang kalah di dalam pertunjukan ulu ambek dikatakan oleh masyarakat tempatan sudah buluih. Sedangkan yang menang dalam permainan silek ulu ambek hanya mendapat penghormatan dalam masyarakat. Bukan itu saja dimata mamak atau penghulu dipandang tinggi bagi orang yang menang dalam permainan ulu ambek tersebut. Kemenangan ini pula merupakan kebanggaan yang menggembirakan seseorang anak sasian termasuklah kebanggaan di antara rakan-rakan mereka sesama anggota-anggota pasilek. Begitulah uniknya permainan ulu ambek tersebut.

Lebih lanjut lagi Mohd Nefi Imran (2004) menempatkan ulu ambek sebagai seni yang berhubungan erat dengan ajaran sufi (tasawuf). Pertunjukan silek ulu ambek secara fisik merupakan aktivitas garak garik silek dan tarian penyerangan dan penangkisan. Namun, secara simbolis serangan dan tangkisan itu merupakan simbol pemberian dan penerimaan dari seorang guru atau syeikh atau kapalo mudo kepada muridnya. Substansi pemberian dan penerimaan itu adalah pembelajaran budi dan pengetahuan spiritual.

Pertujukan ulu ambek adalah pertunjukan beradat, pertunjukan kesenian sebagai suntiang (mahkota) ninik mamak atau penghulu, oleh karena itu selama pertunjukan berlangsung tidak boleh ada pertunjukan lain pada saat yang sama.

Secara prinsip dalam ulu ambek dimana hubungan peranan mamak dengan kemenakan sangat erat sekali, hal ini sesuai dengan adat Minangkabau itu sendiri. Seorang mamak bertanggungjawab terhadap kemenakannya. Ia lebih banyak bercorak pengawasan, arahan adat istiadat dan memberi panduan terhadap perkembangan budi pekerti kemenakan mereka dalam keluarga atau negeri. Perhubungan-perhubungan ini melibatkan kerjasama yang saling menguntungkan antara mamak dengan kemenakan dalam aktivitas kemasyarakatan harian, seperti mengerjakan rumah, sawah, tanah, berjualan, berdagang dan sebagainya. Sebagai contoh, seorang  mamak yang aktif dalam kelompok masyarakat ulu ambek, akan mengajak kemenakan lelaki mereka menyertai kelompok itu. Seorang mamak menyarankan pula kepada beberapa kemenakan mereka yang lain, untuk ikut berlatih dan aktif dalam kelompok silek tradisional di mana-mana gelanggang perhimpunan silat diadakan, di samping menganjurkan mengikuti aktivitas pertunjukan ulu ambek.

Dalam seni pertunjukan di Minangkabau, peranan seorang penghulu (kecuali tarian Alang Suntiang Panghulu) tidaklah berpengaruh secara adat dalam kelangsungan sebuah pertunjukan silek dan tarian lainnya. Hal ini berbeda dengan seni pertunjukan ulu ambek di Padang Pariaman. Fungsi penghulu dan ninik mamak berpengaruh sekali di dalam menentukan penyelenggaraan pertunjukan. Pengaruh itu, salah satunya dapat menentukan bahwa pertunjukan itu boleh atau tidak dipersembahkan di dalam nagari.

Ulu ambek  dipertunjukkan pada suatu alek nagari. Alek nagari adalah pesta atau semacam festival yang diadakan oleh sebuah nagari otonom yang melibatkan nagarinagari lain sebagai alek atau tamu. Alek nagari diadakan dalam rangka peresmian penobatan penghulu baru atau momentum adat yang penting lainnya.

Sebagai sebuah seni pertunjukan, filosofi yang ada dalam ulu ambek seperti suntiang dek niniak mamak, pamenan dek rang mudo-mudo dapat diperteguh kuatkan dan  dapat dilestarikan kedepannya. Salah-satu upaya kearah tersebut yakni dilaksanakannya alek nagari Kapalo Hilalang, Kabupaten Padang Pariaman mulai dari tanggal 22 September sampai 1 Oktober 2018, salah-satunya yakni akan menampilkan ulu ambek tersebut. Bersambung...

Penulis: Undri, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 24 September 2018

Silek, Bagantuang ka Tali nan Indak Kaputuih (10)

0

Kekinian, apakah nilai kebenaran, keadilan dan silaturahmi masih kita praktikkan dalam kehidupan ini?. Nilai yang diajarkan dalam prinsip silek Minangkabau. Sebuah nilai yang mumpuni tempat kita bergantung.

Bagantuang ka tali nan indak kaputuih, bapagang ka raso nan indak kahilang, jago tali jan putuih, awasi raso jan ilang, basiang sabalun tumbuah, malantai sabalun luluih, lahie silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan-bagantung tali ke tali yang tidak akan putus, berpegang kepada perasaan yang tidak akan hilang, jaga tali jangan putus, awasi rasa agar jangan hilang, menyiang sebelum tumbuh, melantai sebelum lulus/terjerumus, lahirnya silek mencari kawan, bathinnya silek mencari Tuhan.

Ungkapan tersebut bermakna bahwa silek berlandaskan kepada prinsip-prinsip asasi berupa kebenaran, keadilan dan silaturahmi. Prinsip-prinsip itu ibarat tali yang tidak akan putus atau rasa yang tidak akan hilang. Maka, seorang pandeka silek wajib menjaga agar tali itu tidak putus dan rasa tidak hilang. Kemudian pandeka silek  tidak boleh kecolongan, oleh karena itu harus melakukan antisipasi sebelum sesuatu petaka terjadi, sebuah sikap antisipatif terhadap berbagai persoalan dalam kehidupan. Kemudian, secara lahiriah silek untuk menjalin silaturahmi atau mencari kawan dan secara bathiniah silek adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (Hasanuddin dan kawan-kawan, 2015 :11 ; Rusli, 2008 :22).

Itupula sebabnya secara prinsip awal bagi anak sasian yang dianggap telah memilih keterampilan silek senantiasa dinasehatkan supaya jangan sekali-kali mencari lawan. Apabila mencari lawan dengan mengatasnamakan kelompok sasaran tidaklah diperbolehkan. Hubungan antara satu sasaran dengan sasaran lainnya keharmonisannya harus dijaga.

Baca juga: Silek, mengutamakan elakan dari padaserangan

Kenyataan ditempat latihan membuktikan antara sasaran tidak terdapat suatu persaingan  yang tidak dan perihal ini selalu diajarkan dalam silek Minangkabau. Mereka senantiasa saling menunjang untuk tercapainya suatu persaudaraan dan silaturahmi. Seorang anak sasian yang berkunjung kepada sasaran lainnya tidak dibenarkan menyalahkan atau menganggap sasaran orang kurang. Kalau melihat ada kekurangan dari suatu sasaran, maka yang melihat kekurangan itu harus menambah. Demikian pula sebaliknya, kalau yang mengamati itu merasa ada kekurangan pada dirinya, dan pada sasaran yang diamati mempunyai kelebihan, maka ia berani secara terbuka untuk belajar. Hubungan kelompok sasaran dengan masyarakat luas juga harus menjaga keharmonisan. Sebab pandeka silek adalah pagar nagari atau masyarakat. Ia harus mampu melindungi, menjaga keamanan masyarakat (Purna dan kawan-kawan, 1996/1997 : 55-56).

Bukan itu saja, mereka selalu memperingatkan anak sasian agar tidak membuat sengketa dengan seorang  pandeka. Malahan, mereka akan menganjurkan anak didiknya agar pergi berguru kepada pandeka yang lain. Dengan cara demikian dapat dihindarkan persengketaannya. Perselisihan antara remaja lazimnya mereka selesaikan sendiri. Jika harus berkelahi, mereka akan pergi ke pemedanan (Navis, 1984 : 266).

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian diatas bahwa persoalan silek berlandaskan kepada prinsip-prinsip asasi berupa kebenaran, keadilan dan silaturahmi tidak terlepas dari bahwa silek sebagaimana diwariskan dan diajarkan pendahulu kita mengandung dua unsur, yaitu unsur kerohanian dan unsur fisik. Unsur kerohanian adalah unsur mental spiritual berupa falsafah yang beirisi ajaran moral yang tidak lain merupakan rohnya silek, disinilah letak prinsip kebenaran yang hakiki tersebut. Unsur fisik adalah unsur keterampilan jasmani yang diwujudkan dalam bentuk gerakan-gerakan serangan, pembelaan dan sebagainya, yang dapat kita umpamakan sebagai tubuh atau jasmani dari silek.

Dapatlah dikatakan bahwa silek sebagai unsur kebudayaan yang ditemukan pada suku bangsa Minangkabau senantiasa di jumpai juga adanya jalinan hubungan antara nilai moral yang hakiki yang mengikat serta ditaati oleh seorang pandeka silek. Mereka harus menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, keadilan dan silaturahmi tersebut.

Tali yang diikatkan pada nilai-nilai kebenaran, keadilan dan silaturahmi membuat seorang pandeka silek menjadi mumpuni dalam bidangnya, dan ini pula yang membuatnya semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti ungkapan lahienyo mancari kawan, batinnyo mancari tuhan -lahirnya mencari kawan batinnya mencari tuhan. Tali yang tidak akan putus-putus bila kita ikatkan diri kita pada-Nya.

Nilai-nilai kebenaran, keadilan dan silaturahmi dalam silek Minangkabau haruslah menjadi rujukan utama dalam kehidupan kita. Sebuah nilai yang maha besar dan bermakna bila dipraktikkan dalam kehidupan kita. Bersambung…

Penulis: Undri, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada Sabtu, 22 September 2018

Membangun Kerjasama Publikasi Kebudayaan

0

Padang – Pada Senin, 1 Oktober 2018  kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat kedatangan dua tamu dari media. Kedua tamu tersebut yaitu Hardiyansah, S.Si dari Wikipedia dan Dasrul,M.Si manager program produksi Padang TV. Mereka diterima kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman. Kedatangan kedua tamu media berbeda platform tersebut terkait kerja sama publikasi kebudayaan. Turut hadir dalam diskusi tersebut Pramono, P.Hd, akademisi Universitas Andalas.

Wikipedia adalah salah satu ensiklopedia online yang dikhususkan dapat menjadi rujukan pembaca untuk setiap informasi termasuk kebudayaan. Salah satu keunikan wikipedia ini adalah informasi yang disampaikan dapat diedit sewaktu-waktu sesuai perkembangan dan ketersediaan informasi. Sehingga, informasi yang ditawarkan wikipedia akan senantiasa baru dan dapat dipertanggungjawabkan.

BPNB Sumbar tertarik membangun kerjasama dengan wikipedia karena sebagai salah satu UPT yang sering mengadakan penelitian, jelas memiliki banyak data kebudayaan. Di sisi lain, juga mempunyai keterbatasan dalam hal publikasi. Sehingga melalui kerjasama dengan wikipedia, harapannya dapat menyebarkan hasil-hasil kajian tersebut kepada masyarakat

Sementara kedatangan Dasrul sebagai manager program produksi berkaitan dengan lanjutan program yang sedang dikerjakan bersama. Saat ini, BPNB Sumbar dan Padang TV kerjasama mengadakan program kebudayaan dalam bentuk talkshow atau dialog interaktif. Program ini mengangkat tema-tema kebudayaan dengan melibatkan narasumber dari peneliti BPNB Sumbar serta tokoh yang kompeten dalam tema yang diangkat. Acara dialog interaktif ini disiarkan oleh Padang TV setiap hari Jumat pukul 13.30 Wib. Dialog ini akan berlangsung hingga akhir desember 2018.

Sejak UU No.5/2017 tentang pemajuan kebudayaan dikeluarkan pemerintah, publikasi kebudayaan menjadi vital untuk mensosialisasikan kebudayaan. Sehingga melalui strategi yang tepat, kebudayaan kita dalam dikenali bahkan dipahami oleh generasi muda. Seiring dengan itu kerjasama dengan berbagai platform media mutlak diperlukan.

Hingga kini, BPNB Sumbar telah membangun kerja sama dengan berbagai media publikasi seperti media cetak dan elektronik dan online. Melalui kerjasama dengan wikipedia maka publikasi lewat media online juga akan lebih maksimal.

Silek, Mengutamakan Elakan dari pada Serangan (9)

0
Gerak buka langkah dalam aliran silek 'kumango'. Silek ini berkembang di Kabupaten Solok Selatan. Foto. Marbun

Diinap-inapkan-dipikir dalam-dalam, begitu dahsyatnya filosofi dalam silek Minangkabau. Silek bukan sekedar memperagakan olahan tubuh semata dalam bentuk tangkok (tangkap), kabek (kebat), kunci, elak, gelek dan kepoh namun juga untuk memujudkan keselarasan hubungan antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan Maha Pencipta. Nilai-nilai humanis dibingkai, kenapa tidak ketika diserangpun tidak boleh menangkis apalagi balas menyerang, tetapi diwajibkan mengelak bahkan sampai empat kali.

Secara prinsip silek sebagai seni bela diri, yang sifat keampuhannya lebih mengutamakan pertahanan, elak dan tangkap. Elak  sebagai gerakan menghindar, dimana seorang pasilek berusaha menghindari serangan lawan. Untuk menghindari serangan, selain menggunakan langkah, juga menggunakan gerak gelek, yaitu memiringkan tubuh ke kiri atau ke kanan tanpa menggeser langkah. Adakalanya, ketika gerakan mengelak dengan menggunakan gelek, tangan diangkat hingga mencapai kepala, sehingga tangan seolah-olah berfungsi melindungi bagian pinggang ke atas.

Tangkap dengan mengunakan dua tangan. Jika seorang pasilek diserang, ia akan melakukan gerakan tangkap ini. Serangan itu ditangkap dengan tangan, sebagai kelanjutan gerakan ini adalah kabek, dengan menggunakan lengan dengan mengantukkan siku.  Selain menggunakan gelek, gerak dasar elak juga menggunakan kepoh.

Baca juga: Silek, rumah gadang indak bapintu mancik saikue bapantang lalu

Jika elak dengan menggunakan gelek tidak bersentuhan dengan lawan, maka kepoh menyentuh lawan. Kepoh adalah menepis serangan dengan menggunakan tangan atau kaki. Senjata yang digunakan untuk menyerang ialah tinju, telapak tangan, siku, bahu, lutut, dan kaki. Kaki melakukan sepakan, terjangan, dan hantaman. Kaki juga dapat melakukan sepai, yakni mengait kaki lawan. Mencakar, menjambak dapat melakukan sepai, yakni mengait kaki lawan. Mencakar, menjambak rambut, dan menggigit tidak termasuk perbendaharaan silek karena senjata itu dipandang sebagai senjata perempuan (Navis, 1984 : 266-267).

Itupula sebabnya seorang pasilek, selain mampu menguasai jurus ia harus mampu menguasai elakan (tangkisan) dari serangan lawan. Uniknya jurus-jurus serta elakan yang diajarkan dalam silek Minangkabau pada umumnya mengambil makna gerak mengikuti alam dan perilaku kehidupan manusia.

Bahkan para tokoh silek Minangkabau selain berguru kepada alam, mereka juga menjadikan hewan sebagai observasi pengamatannya untuk menciptakan jurus silek. Perilaku hewan seperti harimau, ular, burung dan satwa lainnya seringkali menjadi inspirasi jurus yang mereka ciptakan. Sehingga sering kita mendengar penamaan jurus harimau, jurus ular, jurus monyet dan jurus lainnya yang dianalogikan melalui prilaku satwa.

Tidak perihal itu saja, persoalan jurus yang diambil sebagai rujukan pun beragam. Misalnya saja pada aliran Silek Kumango tidak banyak mengambil jurus-jurusnya dengan analogi dari simbol-simbol alam dan lingkungan untuk menciptakan jurus secara utuh. Tetapi mengambilnya lebih banyak dari nilai-nilai kehidupan terhadap alam dengan berpegang pada nilai peradaban manusia secara positif (Mulyono dan kawan-kawan, 2012 :83).

Seperti yang telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya bahwa seorang pasilek bila diserang tidak boleh menangkis apalagi menyerang, akan tetapi diwajibkan mengelak sampai empat kali.  Sangat menarik analogi yang diterapkan di perguruan silek Kumango. Ada empat tahapan yang menjadi figur penghormatan nilai-nilai kehidupan dari analogi elakan yakni elakan mande, elakan bapak, elakan guru dan elakan sahabat karib.

Pertama, saat seorang musuh melakukan serangan pertama. Seorang pasilek harus menganggapnya serangan itu diibaratkan seorang ibu memarahi anaknya, ibu sedang menasehati kita dan kita wajib memahami dan bukan melawannya. Kedua, saat seorang musuh melakukan serangan kedua. Seorang pasilek harus menganggapnya serangan itu diibaratkan seorang ayah kita sedang menasehati. Ketiga, saat seorang musuh melakukan serangan ketiga. Seorang pasilek harus menganggapnya serangan itu diibaratkan seorang guru marah pada kita. Artinya ketulusan yang harus dimunculkan oleh seorang pasilek adalah mengumpamakannya guru kita sedang menasehati muridnya. Keempat, saat seorang musuh melakukan serangan keempat. Seorang pasilek harus menganggapnya serangan itu diibaratkan saudara, teman, sahabat marah pada kita. Artinya, ketulusan  yang harus dimunculkan oleh seorang pasilek adalah bahwa mereka sedang menasehati kita, maka kita wajib memahaminya bukan melawannya. Kelima, saat seorang musuh melakukan serangan kelima. Seorang pasilek wajib melawannya dengan mngunci lawan, dan itupun dilakukan untuk melumpuhkan bukan untuk mematikan lawan. Pada pukulan yang kelima baru boleh menangkis serangan musuh, Karena pukulan yang kelima itu musuh sudah kemasukan setan sehingga setan dalam tubuhnya harus ditundukkan. Tangkisan maupun pukulan yang kelima bukan berarti harus menyakiti pihak musuh, melainkan masih berupa nasehat. Karena secara kasar mata musuh itu adalah lawan, namun secara batin adalah kawan (saudara), sehingga ia harus diselamatkan (Purna dan kawan-kawan, 1996/1997 : 45, Mulyono dan kawan-kawan, 2012 : 83-84 dan Hasanuddin dan kawan-kawan, 2015 :11).

Silek didalamnya mempunyai daya untuk membentuk selain membuat fisik sehat, juga membentuk sikap memahami nilai budaya yang dapat diandalkan untuk pendewasaan mental misalnya nilai-nilai seperti kerja keras, kesetiakawanan, kemandirian, kesabaran, keimanan.

Sehubungan dengan itu, seorang pasilek diharapkan lebih banyak diam dan banyak mempersiapkan diri, sesuai dengan pepatah yang dianut waktu menuntut keterampilan silek, yaitu memakai ilmu padi, makin berisi makin tunduk, yang maksudnya semakin berilmu haruslah makin tunduk dan tidak boleh bersifat congkak dan sombong dalam masyarakat dengan kepandaian yang dimilikinya.

Kekinian dalam kehidupan, kita lebih cenderung  melakukan serangan baik serangan secara fisik maupun non fisik (kata-kata) kepada orang lain sehingga  membuat hati orang tergores. Mengelak untuk melangkah maju sering terabaikan karena keegoisan kita sendiri. Namun bila kita menginap-inapkan filosofi yang ada dalam silek Minangkabau tersebut, maka kita tahu bahwa kita lebih mengutamakan elakan daripada serangan. Bersambung…

Penulis: Undri, peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat.

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 21 September 2018

Upacara Memperingati Hari Kesaktian Pancasila

0

Padang –  Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat menggelar upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada 1 Oktober. Upacara dilaksanakan di halaman BPNB, Kuranji Padang dan dipimpin secara langsung oleh Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman. Seluruh pegawai hadir dalam upacara tersebut.

Peringatan hari kesaktian Pancasila ini dimulai tepat pukul 08.00 wib. Diawali mengheningkan cipta kepada jasa pahlawan khususnya yang gugur dalam peristiwa G30S.  Peringatan ini sendiri dimaksudkan untuk mengenang kembali peristiwa kelam bangsa G30S tersebut. Peristiwa yang telah menewaskan perwira-perwira terbaik ABRI kala itu. Walau demikian, peristiwa tersebut berhasil ditumpas dan NUKRI tetap utuh dan ideologi kita tetap kuat.

Pelaksanaan upacara kali ini terasa lebih hikmat mengingat bangsa kita juga sedang dalam suasana berkabung berkaitan peristiwa gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Gempa dan tsunami tersebut telah menewaskan hingga ribuan warga.

Semoga semua peristiwa tersebut menjadi pelajaran berharga bagi bangsa untuk masa depan yang jaya. (FM)

Silek, Rumah Gadang Indak Bapintu Mancik Saikue Bapantang Lalu (8)

0
Gerak buka langkah dalam aliran silek 'kumango'. Silek ini berkembang di Kabupaten Solok Selatan. Foto. Marbun

Sekali-kali kami disuruh guru menendang atau menumbuk, dan beliau perlihatkan tjara mengelakkannja. Dan sudah itu beliau menendang, tetapi pura-pura dan tidak keras, (sebab djika sebenarnja tentulah mudah kena perut kami), dan kami mengelakkan. Djika kami kurang tahu mengelakkan, ditundjukkan betapa mestinja. Demikianlah berganti-ganti sampai lantjar, tepat, dan automatis tangkisan kami (Muhammad Radjab dalam Semasa Ketjil dikampung, 1913-1928 Autobiografi Seorang Anak Minangkabau, 1950 :66).

Begitulah nuansa seorang anak Minangkabau dikelampauan belajar silek. Seorang guru silek, mengajarkan kepada seorang anak sasian cara menendang dan mengelak yang baik dan benar dalam bersilek  begitu juga dengan antisipasi bila serangan akan tiba.

Dalam kaitan inilah muncul ungkapan-rumah gadang indak bapintu, mancik saikue bapantang lalu (rumah gadang tidak berpintu, tikus seekor berpantang lalu (tidak bisa masuk). Ini adalah prinsip dalam silek Minangkabau yang menegaskan bahwa dalam posisi terbuka sekalipun, seorang pasilek tidak mudah diserang, karena setiap serangan akan diantisipasi dengan baik. Penyerang diingatkan akan resiko tangkisan yang tidak kalah fatalnya dengan serangan balik bila dikenai.

Baca juga: Silek, garak-garik, pandang kutiko, dimintak baru dibari

Sebuah ungkapan yang harus dipahami dengan baik, sebab dengan pemahaman yang sempit akan membuat tafsiran yang berbeda pula, seperti rumah gadang indak bapintu, selama ini yang kita lihat rumah gadang tersebut ada pintunya,  namun kita harus memahaminya bahwa ada makna dibalik hal tersebut.

Bagi seorang yang belajar silek pun sikap kearifan juga diperlihatkan, hal ini sesuai prinsip silek Minangkabau, dimana bila terjadi perselisihan dengan sesamanya tidak akan berkelahi di hadapan orang ramai atau ditempat perselisihan itu terjadi. Mereka akan pergi ke tempat yang sepi berdua saja atau ditemani kawan-kawan masing-masing.  Kawan-kawan mereka hanya menyaksikan saja. Tidak boleh ikut campur selama tidak terjadi kecurangan dengan menggunakan alat atau bila melihat gelagat salah seorang akan terbunuh. Perkelahian yang dilakukan di tempat ramai dipandang sebagai perkelahian para pengecut yang mengharapkan bantuan teman-teman sendiri atau diminta dilerai segera. Jika terdapat perkelahian di tempat ramai, maka hal itu merupakan suatu pengeroyokan terhadap seseorang yang tertangkap basah karena mencuri atau menggoda perempuan. Lazimnya orang yang dikeroyok itu dibiarkan saja oleh teman-temannya sendiri (Navis, 1984 : 266).

Lazimnya di daerah Sumatera Barat silek merupakan suatu keterampilan untuk membela diri tanpa mempergunakan senjata atau alat lainnya. Dalam usaha bela diri dari serangan musuh, maka silek ini diajarkan tanpa mempergunakan alat, melainkan sepenuhnya berpegang kepada keterampilan untuk mempertahankan diri dari serangan. Belajar silek bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk mencari teman. Hal ini sesuai dengan pepatah- musuah indak dicari jikok basuo pantang diilakkan- musuh tidak dicari, kalau bertemu  pantang dielakkan. Membiasakan diri untuk membela diri dengan jiwa kesatria seperti itu sedini mungkin. Sebab kalau tidak diajarkan sedini mungkin, kemungkinan setiap hari, setiap malam akan terjadi perkelahian dan pertumbahan darah. Situasi seperti ini sangat memungkinkan, lebih-lebih pada zaman dahulu, dimana mobilitias kaum remaja dari rumah ke surau sangat tinggi.

Pendalaman atas ungkapan tersebut bisa kita pahami bahwa seorang pasilek bila diserang tidak boleh menangkis apalagi menyerang, akan tetapi diwajibkan mengelak sampai empat kali. Dalam silek Minangkabau aliran Kumango misalnya, terdapat empat gerakan berupa elakan, yakni elakan mande, elakan bapak, elakan guru dan elakan sahabat karib. Elakan dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada mande (ibu), bapak, guru dan sahabat karib yang sedang memarahi atau menasehati kita, dan yang harus dilakukan adalah memahami bukan melawan. Pada serangan kelima baru boleh menangkis serangan musuh, Karena serangan atau pukulan yang kelima itu musuh sudah kemasukan setan sehingga setan dalam tubuhnya harus ditundukkan. Tangkisan maupun pukulan yang kelima bukan berarti harus menyakiti pihak musuh, melainkan masih berupa nasehat. Karena secara kasar mata musuh itu adalah lawan, namun secara batin adalah kawan (saudara), sehingga ia harus diselamatkan (Purna dan kawan-kawan, 1996/1997 : 45, Mulyono dan kawan-kawan, 2012 : 83-84 dan Hasanuddin dan kawan-kawan, 2015 :11).

Serangan di dalam silek diartikan sebagai usaha mempertahankan diri dengan cara melancarkan pukulan, tendangan dan lainnya pada suatu sasaran di bagian tubuh lawan. Dikatakan sebagai usaha mempertahankan diri karena pada dasarnya semua teknik di dalam silek (apakah serangan maupun pertahanan) semata-mata hanya untuk mempertahankan diri atau membela diri. Sehingga seorang pasilek mengutamakan praktik pertahanan diri terlebih dahulu dari praktik menyerang. Teknik serangan harus dikuasai secara baik dan benar, karena hal ini akan sangat berpengaruh pada penguasan teknik-teknik serangan di tingkat lanjutan.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari prinsip rumah gadang indak bapintu, mancik saikue bapantang lalu (rumah gadang tidak berpintu, tikus seekor berpantang lalu (tidak bisa masuk) bahwa sikap kehati-hatian dan sikap kearifan dalam kehidupan ini mestilah kita tumbuh kembangkan, dan janganlah sekali-kali menyerang orang karena serangan yang kita buat akan membuat serangan tersebut balik kepada kita juga. Bersambung…

Penulis: Undri, peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat.

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 20 September 2018.

Silek, Garak Garik Pandang Kutiko, Dimintak Baru Dibari, Sia Mulai Sia Kanai (7)

0
Gerak buka langkah dalam aliran silek 'kumango'. Silek ini berkembang di Kabupaten Solok Selatan. Foto. Marbun

Garak garik pandang kutiko, dimintak baru dibari, sia mulai sia kanai- gerak (bathin) gerik (gerak fisik), pandang sakutiko (segera), diminta baru diberi, siapa memulai dialah yang dikenai. Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa jika tidak ada garak (aksi) maka tidak ada pula garik (reaksi), seorang haruslah arif dengan situasi dan kondisi, serta sabar sehingga tidak memulai konflik dengan mendahului menyerang karena dalam silek Minangkabau berlaku bahwa orang yang menyerang lebih dahulu justru akan mendapat cidera lebih dahulu atau mengalami kekalahan.

Disigi dalam bahasa Minangkabau, garak (gerak) itu adalah kemampuan membaca, mencium bahaya (insting) sesuatu akan terjadi. Contohnya seorang pesilek bisa merasakan ada sesuatu yang akan membahayakan dirinya. Garik (gerik) adalah gerakan yang dihasilkan (tindakan) sebagai antisipasi dari serangan yang akan datang. Sehinga dua elemen tersebut, yakni garak dan garik harus dipahami dengan baik oleh seorang pasilek.

Garak garik pandang kutiko, teliti mengamati gerak lawan, termasuk gerak pandang sudut mata, meneliti dengan mata lahir, memastikan ketelitian dengan mata batin.

Baca juga: Silek, basilek di rumah gadang kok mancak di ilaman

Menurut Agoes Tri Mulyono dan kawan-kawan (2012 : 80 dan 84) seorang pasilek selain mampu menguasai jurus ia juga harus mampu menguasai elakan (tangkisan) dari serangan lawan. Jurus-jurus serta elakan yang diajarkan pada perguruan silek pada umumnya mengambil makna gerak mengikuti alam dan perilaku kehidupan manusia. Penciptaan jurus untuk menyerang lawan dan elakan di perguruan silek tradisional banyak mempergunakan makna filosofi gerak melalui membaca alam lingkungan dan kehidupan sekitarnya. Misalnya makna elakan yang diajarkan perguruan silek Kumango mengandung nilai-nilai kehidupan yang sangat bijaksana. Seorang pasilek tidak hanya diajarkan dan dilatih jasmaninya untuk menjadi sehat dan kuat, tetapi secara bathin juga diberi sentuhan pemaknaan kecerdasan emosi dan spiritual yang baik.

Kalau kita pahami dengan baik, bahwa basilek menampilkan garak garik anggota tubuh atau jasmani, dan ini merefleksikan  bagaimana kemampuan kematangan dalam membaca tanda dan isyarat yang dimunculkan oleh lawan basilek. Kematangan membaca garak garik  – gerak lebih jelas dan kentara dan gerik lebih halus- lawan di lahirkan juga dalam bentuk garak dan garik silek yang bersifat antisipatif. Meskipun kita tidak dapat menafikan dalam aliran silek yang sama, garak  relatif sama dan garik yang mungkin berbeda, tergantung kedalaman ilmu silek yang dimiliki oleh seseorang.  Bukan berhenti disitu saja, garak garik antisipatif bisa dimaksudkan sebagai upaya merapikan pertahanan, mencari peluang, serta menemukan titik lemah dari lawan.

Menurut Hasanadi- peneliti di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat bahwa seseorang pandeka dalam silek (orang yang berilmu sangat mumpuni dalam silek) relatif tidak memilih bagian mendahului menyerang, karena menyerang berarti membuka peluang bagi lawan untuk menjatuhkan dan akhirnya bisa meraih sebuah kemenangan. Namun seorang pandeka memilih bersabar menunggu, bersiap atas segala kemungkinan serangan, lahir dan bathin. Serangan lawan merupakan bentuk permintaan yang menghendaki pemberian, bisa baik dan mungkin juga bisa bersifat buruk bagi pihak lawan.

Kita sering mendengar ungkapan, sia mulai sia kanai, sia malalah sia patah– dalam persoalan ini perlu kesabaran. Ungkapan ini juga mengisyaratkan kepada kita perlu kesabaran untuk istiqomah dalam kesabaran. Tidak sabar, dikendalikan kesombongan serta nafsu untuk mengalah justru akan menjadi bumerang.

Bahkan dalam prinsip silek, bersabar menunggu dalam basilek  bukan refeksi kefasifan, apalagi ketakutan. Bersabar dalam basilek lebih merupakan bukti kematangan sekaligus kekuatan seseorang pandeka dalam mengendalikan emosi, kemudian menampilkan garak serta garik yang baik.

Kesabaran sangat dituntut dalam prinsip silek apalagi perkelahian, perkelahian sangat dihindari baik perkelahian antara satu sasaran-seperguruan maupun diluar sasaran-perguruan. Mereka yang tergabung dalam satu sasaran-perguruan diharuskan membina suatu ikatan solidaritas. Sebuah ikatan yang dibingkai oleh nilai-nilai persaudaraan secara lahir dan bathin.

Di kekinian prinsip garak garik pandang kutiko, dimintak baru dibari, sia mulai sia kanai semestinya penting kita terapkan terutama dalam kehidupan kita. Kita perlu  arif dengan situasi dan kondisi serta sabar sehingga tidak memulai konflik dengan mendahului menyerang, orang yang menyerang lebih dahulu justru akan mendapat cidera lebih dahulu. Ada makna dan nilai yang perlu direnungkan kembali bahwa untuk menghindar dari serangan musuh kita perlu dan bijaksana dan menghindari untuk menyerang. Bersambung…

Penulis: Undri, peneliti di Balai Pelestarian Nilai Buaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 19 September 2018.

Silek, Basilek di Rumah Gadang, Kok Mancak yo di Ilaman (6)

0

Basilek di rumah gadang, kok mancak yo di ilaman, sebuah ungkapan yang maha dahsyat bila kita pahami dengan bijak. Basilek di rumah gadang merupakan silek kato, berundiang (berunding), bermusyawarah, kehalusan budi bahasa dan kemampuan berdiplomasi. Mancak di ilaman, silek secara fisik yakni mengasah kelincahan, keindahan gerak tentu melibatkan kepekaan emosi, semuanya tertuang dalam gerak.

Bagi orang Minangkabau rumah gadang selain sebagai tempat kediaman keluarga, rumah gadang juga berfungsi sebagai lambang kehadiran suatu kaum serta sebagai pusat kehidupan dan kerukunan, seperti tempat bermufakat dan melaksanakan berbagai upacara bahkan juga sebagai tempat merawat anggota keluarga yang sakit. Bukan itu saja dalam rumah gadang ada rangkiang. Rangkiang ialah bangunan tempat menyimpan padi milik kaum. Rangkiang tersebut memberikan tanda keadaan penghidupan kaumnya (Navis, 1984 :187). Itu pula sebabnya rumah gadang menjadi episentrum bagi kehidupan masyarakat Minangkabau. Pepatah dan petitihnya yakni rumah gadang sembilan ruang, serentak kuda berlari, sederum gajah mengeram, timah memutih di puncaknya, berderet lumbung di halamannya.

Basilek di rumah gadang juga telah menorehkan pemikiran-pemikiran kritis. Bahkan, pemikiran-pemikiran kritis tersebut lazimnya disampaikan secara terbuka dan terus terang diberbagai kesempatan, baik secara lisan pada saat dilangsungkan rapat, kongres dan seminar maupun secara tertulis di surat kabar dan majalah. Memperdebatkan ide, dan tidak menelan mentah-mentah segala sesuatu yang berhubung dengan perihal kehidupan yang ada dilingkungannya. Perdebatan intelektual ini dan telah membudaya dalam masyarakat Minangkabau serta telah mengakar.

Baca juga: Silek, manatiang syaraik

Mancak disebut juga dengan bungo silek (bunga silek) atau representasi fisik dan estetik dari silek itu sendiri. Mancak tanpa menyentuh sisi silek hanyalah pengajaran keterampilan fisik yang hampa nilai. Sebagai ranah prifat kaum atau keluarga komunal matrilineal, silek Minangkabau secara prinsip pembelajarannya dilakukan secara tersembunyi, ditengah hutan, di malam hari, atau setidaknya di bawah kolong rumah gadang. Setiap kaum mengembangkan gerakan-gerakan khusus dalam upaya menciptakan jurus rahasia yang dianggap lebih tangguh dari kaum yang lain.

Menurut Hasanuddin dan kawan-kawan (2010 :1) yang diajarkan di tempat terbuka bukanlah silek tetapi adalah mancak. Mancak atau pencak (mappenca’-Bugis) adalah sisi lahiriah dari silek (silat tradisi) Minangkabau. Mancak disebut juga bungo silek  (bunga silat) atau representasi fisik dan estetik yang visual dari silek. Silek sendiri adalah sisi etik atau sisi batiniyah yang terdiri atas tiga dimensi struktural hirarkhis yakni: silek, silik dan suluk. Pembelajaran mancak tanpa menyentuh sisi silek hanyalah pengajaran keterampilan fisik.

Lebih lanjut Dt. Rajo Mudo dalam Mukhtar (2009 :26 dan 45) menjelaskan bahwa fungsi mancak dan silek adalah penguatan budi, karakter atau etik. Seperti dalam ungkapan basilek baarti baadat, baadat baarti mangaji diri, mangaji diri mangaji bana, tahu diri baarti tahu di nan bana, bana badiri sandirinyo. Penguatan budi dalam silek terefleksi dalam berbagai ungkapan, di antaranya: dzahir silek mancari dunsanak, bathin silek mancari raso, raso dabao naiek, pareso dibao turun, antakan kato ka nan bana (zahir silat mencari persaudaraan, bathin silat mencari rasa, rasa dibawa naik, periksa dibawa turun, antarkan kata kepada kebenaran).

Dalam bentuk yang lain dikatakan dzahir silek mancari kawan, bathin silek mancari tuhan (zahir silat mencari kawan, batin silat mencari tuhan) artinya silek mengelola hubungan sosial horizontal dan hubungan spiritual vertikal (Mulyono dan kawan-kawan, 2012 : 3).

Mancak  sebagai representasi fisik dan visual dari silek adalah berupa gerakan-gerakan badan, kepala, bahu, tangan (siku, lengan, telapak tangan, kepalan, jari), dan kaki (lutut, tungkai, tapak, ujung jari). Gerakan-gerakan mancak adalah berupa salam penghormatan, elakan, tangkapan, kuncian, dan serangan (pukulan, sepakan, hantaman). Gerakan-gerakan tersebut dilakukan secara perorangan, berpasangan atau berkelompok. Mancak dalam bentuk permainan adalah randai sedangkan beladiri adalah dasar silek.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari ungkapan basilek di rumah gadang, kok mancak yo di ilaman yakni pertama silek mengajarkan kepekaan emosi dan pemikiran sekaligus keindahan, kelincahan, kekuatan gerak. Kedua, letakkan sesuatu di posisinya yang tepat, silek kato di rumah gadang, silek fisik di bawa ke halaman, dan ketiga dalam berunding atau bersilang pendapat jangan sampai mengakibatkan kekerasan fisik, untuk basilek fisik sudah ada wadah yang disiapkan oleh masyarakat Minangkabau. Terakhir, kenapa kita harus mencari pelajaran yang lain, di silek kita bisa banyak belajar darinya. Bersambung..

Penulis: Undri, peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspress pada 18 September 2018

Silek, Manatiang Syaraik (5)

0

Pada waktu itu kami harus bersumpah, tidak akan mempergunakan kepandaian silat [silek] dan pentjak itu kepada maksud jang djahat dan menjerang orang dengan tak semena-mena. Kepandaian ini boleh dipergunakan untuk pendjaga diri semata-mata (Muhammad Radjab dalam Semasa Ketjil dikampung, 1913-1928 Autobiografi Seorang Anak Minangkabau, 1950 :65).

Sebuah untaian narasi yang baik dan indah dalam memahami bagaimana manatiang syaraik (mengangkat sumpah) dalam silek Minangkabau. Persoalan ini sesungguhnya tidak terlepas pada prinsip silek Minangkabau itu sendiri. Secara prinsip silek Minangkabau merupakan bentuk pendidikan tradisional, seni pertunjukan bagian dari ritual, bentuk praktis bela diri, pencerahan spiritual, dan sifat keampuhannya lebih mengutamakan pertahanan. Kondisi yang demikian membuat seseorang yang ingin belajar silek tidaklah serta merta langsung diterima, namun harus melalui proses dan memenuhi syarat hingga diterima menjadi murid-anak sasian. Salah-satunya dikenal dengan istilah manatiang syaraik.

Menurut Agoes Tri Mulyono dan kawan-kawan dalam Silat Tradisional Minangkabau (2012 :12) menjelaskan seorang anak sasian (murid) di antar dan diserahkan oleh mamak atau bapaknya menghadap guru dengan membawa persyaratan yang disebut manatiang syaraik (mengangkat sumpah).

Baca juga: Silek, parik paga dalam nagari

Kita tidak dapat menafikan bahwa setiap nagari dan sasaran silek Minangkabau memberlakukan hal yang sama sebagai adat silek yang mutlak dilaksanakan oleh setiap anak sasian sebelum diakui sebagai murid. Walaupun tata cara dan bahasa yang beragam sesuai adat salingka nagari yang ada di ranah Minangkabau namun intinya tetap sama sebagai bentuk pembelajaran mental spiritual bagi sang calon murid dan ini merupakan sebuah keunikan bila kita memahami tentang persoalan silek Minangkabau itu sendiri.

Lebih lanjut Agoes Tri Mulyono dan kawan-kawan (2012: 13) menjelaskan ketika anak sasian telah melakukan manatiang syaraik maka akan mengucapkan sumpah setia untuk mematuhi segala perintah dan larangan dari guru dengan mengucapkan sumpah lawan idak dikandak, tasarobok  tajua  tamakan bali, tabujua lalu tabalintang patah, adaik silek tagak di nan bana, adaik iduik ganti baganti. Nyampang barih tamakan paek, nyampang tunjuak  kesong ka kida, ka ateh idak bapucuak, ka baruah idak baurek, ditongah digiriak kumbang, karakok tumbuah di batu, iduik tempang matinyo anggan.

Mengenai manatiang syaraik, seperti yang dijelaskan pada bagian diatas sesuai dengan adat salingka nagari, misalnya di perguruan Silek Kumango  menurut Agoes Tri Mulyono dan kawan-kawan (2012: 74-75) bahwa syarat yang dibawa dalam manatiang syaraik beragam, seperti antara lain kumayan langkok (kemenyan putih, hitam dan merah atau coklat), sirie langkok jo isok (daun sirih, gambir, sada, tembakau), sirawik (pisau atau senjata tajam), marawa (kain kebesaran adat berwarna kuning, merah dan hijau atau hitam), langkok gulai (cabe, garam, bawang, lada hitam), langkok dapua (ayam, telur, beras, pulut, pisang, panyaram, kopi), langkok bilek (ending, cermin, sisir, jarum, benang, tikar). langkok suaian (minyak urut, baju bahasan, suluah atau lampu), langkok bakarilahan (kain putiah, kapuk, kain panjang), dan sebagainya. Kitapun menyadari setiap daerah dan sasaran sekarang ini mengenai manatiang syaraik ini berbeda sesuai dengan kondisi daerah, dan waktunya.

Setelah itu anak sasian dimandikan dengan istilah balimau, makan bajamba (makan bersama) dan anak sasian diharuskan memakan isi perut ayam manatiang syaraik yang disembelih guru disasaran sehingga berlakulah peraturan dan hukum sasaran silek bagi anak sasian yang telah diakui sebagai murid, dan barulahlah setelah itu anak sasian mendapat pelajaran basilek.

Semua syarat yang dibawa dalam manatiang syaraik tidaklah semata kebendaan semata, namun memiliki makna tersendiri-dan pemaknaannya akan selalu menjadi bagian hidup dari seorang anak sasian. Misalnya lado jo garam  melambangkan sebagai upaya dan kemauan seorang murid untuk belajar silek dengan tekat dan semangat yang kuat. Pisau dimaknai sebagai proses memahami kehidupan, disini seorang murid ditempa untuk belajar. Kain putih dimaknai sebagai sakabuang kain kafan yang nantinya apabila disaat dipanggil sang khalik tidak membuat susah orang lain. Jarum panjaik jo banang dimaknai adanya pembelajaran bahwa di perguruan silek mengajarkan murid supaya murid tidak berperilaku boros, memanfaatkan apa yang ada menjadi berguna. Bareh sacupak dimaknai adanya suatu proses dimana mereka diajarkan untuk mandiri tidak boleh tergantung kepada orang tua, apalagi meminta kepada gurunya. Ayam batino, ayam dipelihara untuk diambil telurnya dimanfaatkan sebagai obat apabila mengalami sakit, dan juga sebagai penambah tenaga untuk penambahan gizi, dan sebagainya.

Kekinian, begitulah manatiang syaraik dalam silek Minangkabau, sebuah perihal terpenting bila kita maknai. Disengaja ataupun tidak, kita sering tidak mengindahkan lagi apa yang telah diperjanjikan-dipersumpahkan, baik pada tingkatan paling rendah pada diri sendiri maupun pada tingkat yang lebih tinggi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Seyogjanya apa yang telah kita perjanjikan-dipersumpahkan kita laksana dengan baik, karena perihal tersebut akan diminta pertanggungjawabannya baik di dunia maupun di akhirat kelak nantinya. Sebuah pelajaran berharga bila kita memaknai dengan baik dalam manatiang syaraik dalam silek Minangkabau. Bersambung…

Penulis: Undri, peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 17 September 2018

Surau, Silek dan Pemuda Kekinian

0

Dulunya, surau selain sebagai tempat mengaji guna meningkatkan peningkatan pengetahuan agama Islam juga sebagai tempat berlatih ilmu bela diri yang dikenal dengan silek. Surau sangat penting sebagai pembentukan karakter masyarakat itu sendiri, khususnya kaum pria, mulai dari anak-anak mereka tinggal di Surau.

Pemuda Minangkabau disebut juga dengan anak mudo yang dibentuk sejak kecil untuk dididik dan dibina dalam kehidupan basurau, mulai dari anak-anak sampai dewasa. Sosok pemuda di Minangkabau menjadi pelindung, pengaman dan tulang punggung dalam memajukan kehidupan nagari, bukan itu saja pemuda Minangkabau merupakan parit paga nagari.

Baca juga: Silek, parik paga dalam nagari

Pemuda Minangkabau tidak tinggal di kampung di masa lalunya, mereka banyak pergi merantau sehingga kebutuhan ilmu bela diri sangatlah tinggi. Ini terlihat dari petatah petitih orang Minang karakau madang kahulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, dikampung paguno balun. Artinya pemuda harus keluar dari daerah kampungnya maka dibekali dengan ilmu bela diri yang dikenal dengan silek.

Silek pada dasarnya di Minangkabau bukan mencari musuh. Ini terlihat dari petatah petitih Minangkabau itu sendiri lawan tak dicari, jika ada pantang diilakkan.  Artinya silek itu dimanfaatkan untuk bela diri tanpa menggunakan alat dan senjata. Belajar silek saat ini di sasaran-saran, sanggar-sanggar seni tradisi dan organisasi silek di bawah naungan IPSI (Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia). Beda misi dari organisasi IPSI tersebut, ilmu bela diri lebih bersifat pertandingan dan silek yang dilakukan pada sanggar-sanggar seni lebih bersifat  pada seni gerak gerik keindahan dalam gerakan bela diri.. Pendidikan silek di masa lalu seiring sejalan dengan silek bathin, artinya silek secara lahir dilihat melalui gerak fisik sementara silat bathin berhubungan pesilat dengan Tuhan-Nya.

Dalam belajar untuk berguru silek zaman dulunya, ada bersyarat berguru, seperti membawa beras, pisau, cermin, kain kafan, limau, ayam jago tergantung permintaan guru di mana belajar ber silek. Syarat berguru masing-masing daerah itu berbeda. Beda dengan belajar bersilat secara organisasi dibawah naungan IPSI, seperti membayar uang masuk belajar, uang bulanan belajar.

Namun pada sanggar, belajar bersilat tergantung bagaimana sanggar itu sendiri, karana diantara sanggar ada sanggar ekonomi, artinya membayar saat masuk untuk belajar, ada pula siapa yang mau, boleh bergabung pada silek di sanggar tersebut. Silek  tersebut cuma belajar untuk gerakan saja yang bersifat lahiriah, dan silek bathin itu belajar khusus dan memenuhi syarat untuk berguru. Dengan demikian silek pada zaman dulu dengan zaman sekarang terjadi pemisahan atau pengotak-kotakkan sehingga bukan lagi satu kesatuan yang utuh untuk dijadikan pegangan bagi pemuda tadi.

Kita bisa lihat pemuda tadi ahli agama, belum tentu pandai bersilat, begitu juga sebaliknya. Dalam untuk mendapatkan kedudukan bagi pemuda tadi dalam kehidupan bermasyarakat, di masa lalu seorang penghulu harus pandai bersilat, berpetatah petitih dan paham dengan agama. Namun kita lihat situasi sekarang, penghulu tidak harus menguasai tiga ilmu pengetahuan tadi, cukup kuat secara ekonomi.

Dari uraian di atas surau dan silek pada kondisi terkini terjadi spesialisasi bidang yang terpisah dan perubahan tradisi dalam berguru dan tempat untuk berguru. Pemuda Minagkabau bisa dinyatakan bukan pemuda yang sempurna di zaman lalu, dengan alasan pemuda hanya menguasai satu bidang ilmu saja atau tidak sama sekali. Pemuda yang dianggap sempurna bagi konteks Minangkabau adalah pemuda yang mampu menguasai ilmu bela diri, ilmu adat, dan ilmu agama sehingga dalam diri seorang pemimpin ia mampu memahami masyarakat itu sendiri dari berbagai aspek.

Pemuda yang dibekali dengan ilmu agama, maka ia akan belajar bersikap dan bertutur bicara yang sopan sesuai aqidah Islam itu sendiri. Pemuda yang tahu dengan adat maka ia tahu dengan aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat untuk dapat mengarahkan dirinya sendiri dan orang lain dalam tatanan adat berlaku sehingga tidak terjadi konteks penyimpangan dalam bergaul dan berkomunikasi dalam masyarakat itu sendiri. Begitu juga pemuda yang menguasai ilmu bela diri, maka ia mampu menjaga sanak saudara, karib kerabatnya dari tangan-tangan jahil yang merusak anak nagari itu sendiri, sehingga surau lebih mengutamakan pengelolaan tentang menciptakan orang-orang tahu dengan agamanya sendiri.

Penulis: Risma Dona, Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat.

Artikel ini telah dimuat di Harian umum Singgalang pada 16 September 2018

Juknis Lomba Menulis Naskah Dongeng dan Mendongeng 2018

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat mengadakan lomba menulis naskah dongeng dan mendongeng 2018. Sasaran lomba ini adalah guru-guru Taman Kanak-kanak yang ada di Sumatera Barat. Pemilihan guru-guru TK ini dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi mendongeng guru sebagai tulang punggung pendidikan anak usia dini. Harapannya, melalui kegiatan ini guru-guru TK mampu berperan aktif membangun karakter generasi muda melalui media mendongeng.

Bagi siapa saja yang berprofesi sebagai guru TK, berdomisili di Sumatera Barat dan tertarik untuk mengikuti lomba ini, silahkan mendownload petunjuk teknis berikut: Juknis Lomba Menulis Naskah Dongeng

Silek, Parik Paga dalam Nagari (4)

0

Cara pembelaan diri, keluarga dan masyarakat yang ditujukan untuk melindungi dan mempertahankan kehidupan sebetulnya ada pada prinsip dalam silek Minangkabau yang dinyatakan dalam ungkapan filosofis, yakni parik paga dalam nagari. Parik paga dalam nagari ‘parit pagar dalam nagarimaksudnya adalah bahwa silek merupakan benteng bagi sebuah nagari untuk melindungi masyarakat dan kepentingan nagari itu dari berbagai ancaman dan serangan dari luar.

Itu pula sebabnya silek dipelajari anak nagari di Minangkabau untuk mempertahankan serangan musuh, misalnya perampok dan sejenisnya. Anak laki-laki Minangkabau sejak kecil sudah dilatih untuk bersilek di surau. Mereka dilatih oleh guru mengaji yang menguasai ilmu silek tersebut. Latihan silek biasanya usai belajar mengaji pada malam hari. Belajar silek  secara prinsip bagi anak laki-laki Minangkabau tidak terlepas dari kewajiban terhadap bersama yaitu masyarakat, orang kampung yang harus dipertenggangkan dan kewajiban terhadap nagari sebagai sebuah organisasi yang harus dijaga agar jangan binasa.

Kita tidak dapat memungkirinya bahwa silek Minangkabau, pada mulanya merupakan basis penguatan identitas diri, keluarga, dan kelompok dalam masyarakat Minangkabau yang bersuku-suku dan egalitarian. Harga diri mengharuskan setiap orang bersaing satu sama lain. Oleh sebab itu, konflik menjadi lumrah bahkan niscaya. Tetapi, silek Minangkabau mengajarkan nilai-nilai etik interaksi yang fundamental, karena filosofi yang diajarkan adalah lahienyo mancari kawan, batinnyo mancari tuhan ‘lahirnya mencari kawan batinnya mencari tuhan’.

Navis (1984 :267) menjelaskan bahwa pada masa lalu semua anak laki-laki harus belajar silek  di sasaran kampungnya, yang tujuannya untuk menjaga diri tersebut. Terutama bagi orang-orang yang akan pergi merantau atau akan melakukan perdagangan keliling. Oleh karena itulah, banyak di antara para ulama ternyata seorang pendekar yang tanguh pula. Kemahiran memainkan silek itu terutama sangat dipentingkan para pedagang keliling, yang membawa dagangannya dari pekan ke pekan yang lain, yang sewaktu-waktu akan mungkin dihadang penyamun.

Baca juga: Silek, lawan tajilapak indak dihadoki jo balabek

Berkenaan dengan hal tersebut maka silek sebetulnya bekal bagi orang Minangkabau terutama kaum laki-laki dikampung halaman dan juga diperantauan. Kepopuleran orang Minangkabau dalam segi ini telah banyak diulas oleh para ahli, misalnya Kato (1982 :82) menjelaskan bahwa ketika gerakan merantau semakin popular, maka para perantau yang kembali biasanya membawa kekayaan, kekuasaan, serta prestise baru, selain gagasan-gagasan dan praktik-praktik baru dari dunia luar ke daerah asal usul mereka. Kato juga menemukan adanya suatu perubahan besar dalam tradisi merantau suku Minangkabau setelah PD II. Setelah perang, merantau secara eksklusif terkait dengan keluarga inti. Orang Minangkabau meninggalkan daerah asalnya dengan keluarga, atau seorang suami pergi merantau lebih dahulu, baru kemudian mendatangkan istri dan anak-anaknya. Silek sebagai bekal mereka dirantau menjadi peganggan yang abadi.

Uniknya, bagi kaum laki-laki Minangkabau selain belajar bersilek di surau-surau juga belajar bagaimana mempertahankan diri berupa argumentasi, tempatnya yakni di lapau. Surau-surau dan lapau merupakan arena untuk “pendewasaan” serta “periode turun tanah” anak-anak muda, yaitu transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Menurut Naim (1978)  anak-anak (laki-laki) antara usia 7 sampai 10 tahun didorong keluar dari rumah ibunya untuk berdiam di surau-surau. Mereka tidur dan bermain di sekitar surau, atau tidur bersama teman-teman mereka di lapau-lapau. Dalam surau diajarkan membaca Al-Quran dan bersilek. Mereka kembali ke rumah hanya waktu makan dan mencuci pakaian untuk kemudian kembali lagi ke surau atau lapau. Begitulah siklus anak Minangkabau dalam memahami kehidupan, khususnya mempertahankan diri, keluarga dan masyarakatnya.

Disigi dari perspektif sejarah,  zaman dahulu  pada kerajaan-kerajaan mempunyai guru yang melatih prajurit untuk bersilek baik perorangan maupun berkelompok. Tidak berhenti disitu saja pada zaman pemerintah Belanda silek juga digunakan dalam mempertahankan nagari, namun ruang gerak silek ini tidak diberi kesempatan untuk berkembang. Sebab dipandang berbahaya terhadap kelangsungan kedudukan pemerintahannya. Ada larangan berlatih bela diri seperti silek bahkan ada larangan untuk berkumpul dan berkelompok.  Kemudian, pada zaman penjajahan Jepang,  perkembangan silek tidak terlepas dari politik Jepang terhadap bangsa yang diduduki berlainan dengan politik penjajahan Belanda. Silek sebagai ilmu beladiri didorong dan dikembangkan untuk kepentingan Jepang sendiri, dengan mengobarkan semangat pertahanan bersama dan menghargai sama sama bangsa asia.

Jadi, jelaslah bahwa cara pembelaan diri, keluarga dan masyarakat yang ditujukan untuk melindungi dan mempertahankan kehidupan sebuah prinsip yang esensial dalam silek. Tak perlu jauh-jauh untuk belajar, semuanya ada dalam silek- parik paga dalam nagari. Bersambung...

Penulis: Undri, Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 15 September 2018

Silek, Lawan Tajilapak Indak Dihadoki Jo Balabek (3)

0

Keseharian kita dalam pergaulan dan persahabatan selalu dibingkai lawan dan kawan, kawan yang baik dan buruk. Pembingkaian tersebut didasari pada perihal nilai yang yang kita hadapi. Jika nilai yang dihadapi baik maka muaranya menjadi kawan dan begitu juga sebaliknya. Sebab prinsip hidup kita salah -satunya memilih dan merespon pergaulan dan persahabatan, bahkan kadang-kala pertarungan, permusuhan pun tak terelakkan.

Ketika pertarungan dan permusuhan tersebut muncul perlulah kiranya kita belajar dari prinsip yang ada dalam silek. Ungkapan lawan tajilapak, indak dihadoki jo balabek, tapi dijambauan tangan mambao tagak -ketika  lawan terjerembab, jangan dihadapi dengan kuda-kuda serangan susulan, tapi ulurkan tangan membawa tegak.  Begitu ungkapan tersebut sarat dengan nilai, ungkapan yang mengandung pesan bahwa  dalam pertarungan sekalipun, sikap permusuhan tidak boleh ditunjukkan, jika lawan terjerembab atau jatuh maka jangankan menambah kuantitas dan kualitas serangan, menunjukkan sikap siap menyerang pun dilarang. Justru yang diperintahkan yakni menggapainya untuk dibawa berdiri, walaupun kewaspadaan harus tetap dijaga.

Karena sifatnya untuk membela diri, maka ada aturan dalam silek untuk tidak menyerang bagian berbahaya dari tubuh lawan. Silek juga mengandung hikmah, kalau mereka yang menguasai silek dengan baik, mestinya memiliki kesabaran yang tinggi.

Baca juga: Silek, musuah indak dicari jikok basuo pantang diilakkan

Disini letaknya silek sebagai media pendidikan yang efektif dalam masyarakat Minangkabau dalam menghadapi lawan untuk bertarung. Bukan itu saja silek Minangkabau menjadi dasar pembelajaran adat, budi pekerti bahkan agama; memiliki prinsip etik bahwa silek bukan untuk menciderai; bahkan silek juga bukan untuk dipertontonkan apalagi digunakan sebagai ekspose kekuatan (Mulyono, 2012: 10-11).

Dengan demikian, silek Minangkabau berbeda dari silat-silat lain yang saat ini cenderung diekspose sebagai simbol kekuatan yang siap anarkhis sebagai lasykar pada kelompok komunitas tertentu. Di samping itu, dalam pewarisan  silek Minangkabau tidak saja diajarkan etika dan keterampilan bela diri (ketangkasan) melainkan juga keterampilan silek lidah (diplomasi) dan mancak yang menjadi dasar kreatifitas dan representasi seni gerak (seperti tarian, teater, dan permainan rakyat).

Ketika kita –lawan tajilapak, indak dihadoki jo balabek, tapi dijambauan tangan mambao tagak– maka kita telah menjunjung aspek yang paling maha dalam adat Minangkabau yakni budi. Menurut Nasroen (1957:173) budi ini mendapat tempat utama dalam adat Minangkabau. Malahan sifat-sifat yang baik lainnya yang dikehendaki  adat itu bagi orang Minangkabau adalah pecahan dari budi itu sendiri. Adat Minangkabau berdasarkan prinsip hidup seseorang dengan bersama, yaitu perseimbangan seseorang dengan masyarakat dan sebuah dasar ikatan yang penting dalam melaksanakan prinsip itu adalah budi.

Sebab dengan adanya budi ada kesanggupan merasakan perasaan orang lain, merasakan orang lain itu adalah sesamanya, juga saudara, senang dan sakit orang lain itu adalah senang dan sakit  dia juga. Adat itu mengatur tata kehidupan masyarakat, baik secara perseorangan maupun secara bersama dalam setiap tingkah laku dan perbuatan dalam pergaulan, yang berdasarkan budi pekerti yang baik dan mulia, sehingga pribadi mampu merasakan ke dalam dirinya apa yang dirasakan oleh orang lain.

Bukan itu saja ungkapan tersebut juga mengandung makna bahwa lawan jatuh tidak dihadapi dengan gerak kaki atau gerak tangan, atau variasi kedua gerak tersebut yang bersifat menyerang. Kita sering mendengar dan mengungkapkan membunuh mahidui maampang malapehan, kutiko lawan tajatuah tajilapak, dijapuik jo bayang tangan. Maksudnya adalah dalam proses ini lawan jatuhpun kita bantu untuk berdiri sempurna, dan kemudian baru cakak dilanjutkan. Semuanya bertujuan untuk menghargai dan menjaga harga diri lawan, sehingga tidak dipermalukan, baik dari kita maupun dari orang lain yang menyaksikan.

Ditinjau dari makna yang terkandung didalamnya tidak terlepas dari persoalan sportifitas, kearifan dalam menjaga kehormatan lawan, tidak justru memanfaatkan kondisi lawan yang sedang terjatuh dalam rangka memenangkan cakak.  Sehingga, sebelum  cakak dimulai, cakak yang tidak terelakkan, muncul ajakan bijak sebagaimana terefleksi melalui ungkapan  bukaklah langkah dari sinan,  nak ambo iriangkan dari siko.

Perisai ini tercermain dalam langkah yang dimiliki pesilat, yaitu 3 langkah mundur, dan hanya 1 langkah maju. Maksudnya bahwa seorang pesilat mesti banyak mengalah, bersabar, dan tidak melayani serangan lawan dalam tahap awal. Tiga langkah mundur memberi kesempatan kepada lawan untuk mengurungkan niatnya melanjutkan serangan, begitulah nuansa keelokan yang terkandung dalam silek.

Jadi dikehidupan kita, bila ada kawan yang terjatuh-terjerembab– jangan ikut memberi beban pula namun kita membantunya untuk bangkit dan berdiri, dan itulah salah-satu esensi yang terpatri dalam silek Minangkabau. Bersambung...

Penulis: Undri, Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 14 September 2018

Silek, Musuah Indak Dicari Jikok Basuo Pantang Diilakkan (2)

0

“Betul engkau tidak akan mentjari sengketa,”kata ajah, tetapi seandainja ada orang gila-gilaan memukulmu dulu dan menantangmu berkelahi, engkau harus pandai mengelakkan dan membalas. Betapa djuga engkau ingin damai, sebagai persediaan perlu kepandaian ini (Muhammad Radjab dalam Semasa Ketjil dikampung, 1913-1928 Autobiografi Seorang Anak Minangkabau, 1950 :65).

Begitulah nukilan kehidupan seorang anak Minangkabau dalam memahami prinsip silek itu sendiri. Namun, hari ini adakah kita punya prinsip tersebut-musuah indak dicari jikok basuo pantang diilakkan- musuh tidak dicari, kalau bertemu  pantang dielakkan-seperti yang diajarkan dalam prinsip silek. Pertanyaan mendasar jika dikaitkan dengan melihat kondisi masyarakat saat ini yang cenderung lebih banyak mencari lawan daripada kawan. Prinsip yang sangat bertentangan sekali dengan prinsip dalam silek itu sendiri.

Dalam tataran prakteknya, silek diwariskan melalui proses belajar. Ada adat silek yang dilakukan oleh setiap calon murid sehingga diakui dan sah menjadi anak sasian. Berlaku untuk siapa saja yang akan belajar silek termasuk anak dan keluarga guru sendiri. Mereka dituntut untuk bersunguh-sungguh, dengan keterampilan fisik dan lidah serta kematangan secara psikologis. Sebab dalam prakteknya seorang yang bermain silek dapat mencederai dan dapat mematikan, Itupula sebabnya, silek hanya dipergunakan dalam keadaan terdesar membela diri.

Baca juga: silek lahienyo mancari kawan batinnyo mancari tuhan

Oleh karena itupula dalam silek menghendaki pelakunya orang yang telah dewasa dan matang secara pemikiran, siap mempertanggungjawabkan efek penggunaan silek baik dunia dan akhirat.

Perspektif sejarah menurut Mulyono dan kawan-kawan (2010:10-11), silek sebelum agama Islam masuk ke ranah Minangkabau merupakan bela diri yang tidak hanya sekedar melumpuhkan lawan tetapi lebih mematikan. Maka, jarang diperlihatkan secara umum. Setiap guru silek yang mengajar di tempat umum selalu mendapat kawan dan terjadi pertarungan sampai mati, sehingga tempat latihan silek dinamakan sasaran dikarenakan latihan silek ditempat yang semestinya atau tempat yang tepat. Tempat tersebut antara lain di rumah gadang, kandang peliharaan hewan, parak ladang atau di hutan yang jauh dari pemukiman penduduk.  Namun, setelah Islam masuk ke Minangkabau silek menjadi media untuk belajar agama Islam dan silek mulai dikembangkan di surau-surau.

Pada dasarnya silek merupakan seni bela diri. Artinya, sifat keampuhannya lebih mengutamakan pertahanan. Pertahanannya ialah tangkap dan elek. Jenis tangkap ialah tangkok (tangkap) dengan menggunakan kedua tangan, kabek (kebat) dengan menggunakan siku, dan kunci dengan menggunakan seluruh anggota tangan.

Keterampilan bersilek bukan untuk dibanggakan atau disombongkan, sehingga mengundang atau “mencari” musuh. Namun, ketika musuh ternyata datang juga, maka seorang pesilat tidak boleh mengelak. Bahkan, dalam aliran tertentu, khususnya aliran Staralak dan aliran keras lainnya yang diciptakan memang untuk perang atau jihad (misalnya mengusir penjajah), maka dinyatakan kafir bila mundur. Sebaliknya, dalam masa damai, musuh tidak saja tidak boleh dicari tetapi ketika bertemu pun harus dielakkan.

Persoalan ini tidak terlepas dari hal bahwa setiap makhluk hidup dibekali naluri mempertahankan diri dari berbagai ancaman untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Ayam diberi taji, harimau diberi taring dan cakar yang tajam, ular diberi bisa yang mematikan dan sebagainya.

Menurut Navis (1984:266) seorang tuo silek, ketika terjadi keenoran ia tidak tampil ke depan untuk menyelesaikan. Ia membiarkan anak didiknya menyelesaikan walaupun ia tahu keadaan itu tidak akan mudah mereka atasi. Hal itu merupakan salah-satu metode pendidikan pendekar. Bila keadaan telah kritis, yang akan dapat menimbulkan bencana, barulah pendekar tampil ke depan. Namun, pada umumnya para pendekar jarang sekali terlibat dalam persengketaan karena mereka saling menyegani. Mereka selalu memperingatkan anak didiknya agar tidak membuat sengketa dengan seorang pendekar. Malahan, mereka akan menganjurkan anak didiknya agar pergi berguru kepada pendekar yang lain. Dengan cara demikian dapat dihidarkan persengketaan antara remaja yang akan dapat melibatkan seluruh anggota sasaran sependidikannya. Perselisihan antara remaja lazimnya mereka selesaikan sendiri. Jika harus berkelahi, mereka akan pergi ke pemedanan.

Lebih lanjut Navis (1984:266) menjelaskan bahwa orang Minangkabau yang berselisih dengan sesamanya tidak akan berkelahi di hadapan orang ramah atau tempat perselisihan itu terjadi. Mereka akan pergi ke tempat yang sepi berdua saja atau ditemani kawan masing-masing. Kawan-kawan mereka hanya menyaksikan saja. Tidak boleh ikut campur selama tidak terjadi kecurangan dengan mengunakan alat atau bila melihat gelagat salah seorang akan terbunuh. Perkelahian yang dilakukan di tempat ramai dipandang sebagai perkelahian para pengecut yang mengaharapkan bantuan teman-teman sendiri atau dilerai segera.

Jadi begitulah bernilainya prinsip dalam silek- musuah indak dicari jikok basuo pantang diilakkan– bila kita praktekkan dalam kehidupan sehari hari dalam bermasyarakat akan menciptakan keharmonisan. Mudah-mudahan. Bersambung...

Penulis: Undri, Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 13 September 2018

Silek, Lahienyo Mancari Kawan Batinnyo Mancari Tuhan (1)

0

Bagi kita kata silek tidaklah asing, apalagi bagi orang Minangkabau. Sebab sejak dahulu  adat Minangkabau menjadikan silek  sebagai warisan dari ninik mamak kepada anak kemenakan dalam kaumnya-berfungsi sebagai membela diri-parik paga nagari.  Silek  Minangkabau mengajarkan nilai-nilai etik interaksi yang fundamental, sebab filosofi yang diajarkan adalah lahienyo mancari kawan, batinnyo mancari tuhan -lahirnya mencari kawan batinnya mencari tuhan. Begitulah esensi sarat dengan nilai yang terkandung dalam silek Minangkabau tersebut.

Disigi dari ajarannya, ajaran silek meliputi silik dan suluk. Silek adalah ilmu mempelajari atau mengenal diri lahiriah, silik adalah ilmu mempelajari atau mengenal diri batiniah, dan suluk adalah ilmu mempelajari atau mengenal diri lahir batin. Bahkan lebih jauh, beberapa pelaku- tuo silek mencoba mengaitkan “silat” (silek) dengan “salat” (sholat) dan “silat-urrahim” (hubungan baik dengan sesama manusia). Ketiga kata tersebut memiliki akar yang sama, terdiri atas tiga huruf Arab, yakni: sim-lam-ta.

Dalam tataran prakteknya, silek diwariskan melalui proses belajar, menuntut kesungguhan, keterampilan fisik dan lidah serta kematangan psikologis. Silek dalam pengunaannya memiliki konsekuensi yang besar, yakni menciderai dan dapat mematikan. Oleh sebab itu, silek hanya dipergunakan dalam keadaan terdesak membela diri. Namun bila terdesak gerakan silek bisa digunakan pula- munculah ungkapan musuah indak dicari jikok basuo pantang diilakkan- musuh tidak dicari, kalau bertemu  pantang dielakkan.

Sebagai sebuah keterampilan, silek melahirkan kreatifitas seni gerak yang disebut pancak. Pancak terekspresi pada berbagai aktifitas gerak seperti langkah balega, silek atau tari galombang, sipak rago, randai, tari manari, dan keterampilan berburu. Jadi, yang dipertunjukkan sebagai permainan atau kreatifitas seni adalah pancak.

Baca juga: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsumbar/mahakarya-silek-minangkabau/

Perihal ini sesuai dengan ungkapan basilek di rumah gadang, kok mancak yo di ilaman bersilat di rumah gadang, kok mancak yo di halaman’. Pancak merupakan salah satu bungo silek, yaitu representasi silek dalam bentuk gerak fisik. Oleh karena silek meliputi silik dan suluk, maka bungo silik adalah gayuang atau parmayo (gerak tubuh atau batiniah) dan bungo suluk adalah magrifatullah yakni suatu gerak spiritual berupa makrifat Allah SWT.

Silek Minangkabau tradisional adalah bagian dari tradisi lisan Minangkabau yang diajarkan secara lisan dan disertai peragaan laku dan peralatan. Sebagai tradisi lisan, sejarah kelahiran dan silsilah perkembangannya relatif sulit dilacak. Hal itu disebabkan karena penciptaannya bersifat anonymous dan kolektif. Itu sebabnya, penamaan aliran Silek Minangkabau didasarkan kepada sumber inspirasi dan pola gerakan serta nama nagari asal pengembang atau pengembangan awalnya. Sebut saja misalnya, Silek Usali atau Silek Tuo (penamaan berdasarkan ketuaan atau keawalan), Silek Harimau, Silek Kuciang, Silek Buayo, Silek Alang Babega (penamaan berdasarkan sumber inspirasi dan pola gerakan), Silek Kumango, Silek Lintau, Silek Paninjauan, Silek Balubuih (penamaan berdasarkan nama nagari asal pengembang atau pengembangannya), dan lain sebagainya.

Perspektif wujud, silek Minangkabau terepresentasi dalam dua wujud yakni silek duduak  (silat duduk) dan silek tagak (silat berdiri). Silek duduak disebut juga silek kato atau silat lidah. Keterampilan silat lidah menjadikan seseorang memiliki kepercayaan diri untuk tampil di depan umum mengutarakan pendapat, mengeluarkan ide-ide kreatif, mempertahankan argumentasi, dan kemampuan diplomasi. Dalam silek kato, sebagaimana dalam tradisi pasambahan, seseorang dituntut untuk arif dan bijaksana- tahu di ereang dengan gendeang, tahu di angin nan bakisa, tahu di bayang kato sampai ‘tahu dengan ungkapan berkias, tahu dengan angin yang beralih, tahu dengan tujuan kiasan’.

Kemudian Silek tagak atau disebut juga silek fisik, yakni keterampilan membela diri (harga diri, kehormatan, kebenaran dan keadilan) atau menjalankan amanah untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kejahatan (amar makruf nahi mungkar). Silek tagak menjadikan seseorang memiliki kepercayaan diri untuk berdiri di hadapan khalayak untuk menyatakan kebenaran dan keadilan.

Baik silek duduak  (silat duduk) dan silek tagak (silat berdiri) pada prinsipnya mengutamakan atau mengandalkan kecerdasan intelektual (ajaran falsafah alam terkembang jadi guru), kecerdasan emosional (ajaran budi), dan kecerdasan spiritual ajaran tauhid.

Itupula sebabnya silek pada dasarnya seni bela diri dengan sifat keampuhannya lebih mengutamakan pertahanan. Prinsip demikian bermakna bahwa silek adalah keterampilan yang mampu menciderai bahkan mematikan lawan, karena itu silek mengehendaki pelakunya adalah orang yang telah dewasa dan matang, yang siap mempertanggungjawabkan efek penggunaan silek itu, baik di dunia dan akhirat.

Keterampilan bersilek dalam silek bukan untuk dibanggakan atau disombongkan, sehingga mengundang atau mencari musuh namun memperbanyak kawan. Sifat perkawanan dan silaturahmi yang hakiki dibingkai oleh silek itu sendiri.

Memperbanyak teman dan mengurangi lawan dalam kehidupan bermasyarakat bisa menjadi hal ikhwal yang bisa diambil dalam prinsip silek itu sendiri. Kemudian secara bathiniah diri kita dekatkan pada yang maha kuasa- lahienyo mancari kawan, batinnyo mancari tuhan. Bersambung.

Penulis: Undri, Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Padang Ekspres pada 12 September 2018

Mahakarya Silek Minangkabau

0

Sejak dahulu, adat Minangkabau menjadikan silek merupakan warisan dari ninik mamak kepada anak kemenakan dalam kaumnya. Hal ini berkaitan dengan persoalan bahwa di dalam tatanan adat Minangkabau sangat rentan terjadi perkelahian baik dalam soal perebutan waris pusaka, maupun tapal batas antar nagari, sehingga penghulu  pucuk pimpinan adat, para datuk  dan ninik mamak  Minangkabau pada umumnya menguasai silek  sebagai tradisi yang senantiasa dilestarikan untuk keberlangsungan kehidupan mereka.

Silek juga merupakan pengetahuan dan keterampilan yang menjadi kekayaan lahir dan batin dalam berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam lingkungan. Ajaran silek meliputi silik dan suluk. Silek adalah ilmu mempelajari/ mengenal diri lahiriah, silik adalah Ilmu mempelajari/mengenal diri batiniah, dan suluk adalah Ilmu mempelajari/mengenal diri lahir batin.

Baca: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsumbar/menggairahkan-kembali-silek-tradisi-solok-selatan/

Silek Minangkabau terepresentasi dalam dua wujud, yang merupakan dua sisi mata uang, yaitu silek duduak ‘silat duduk’ dan silek tagak ‘silat berdiri’. Silek duduak disebut juga silek kato atau silat lidah.  Dalam silek kato, sebagaimana dalam tradisi pasambahan, seseorang dituntut untuk arif dan bijaksana. Silek tagak disebut juga silek fisik, yakni keterampilan membela diri (harga diri, kehormatan, kebenaran dan keadilan) atau menjalankan amanah untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kejahatan.

Beberapa prinsip dalam Silek Minangkabau dinyatakan dalam ungkapan-ungkapan filosofis sebagai seperti musuah indak dicari, batamu pantang diilakkan  (musuh tidak dicari, bertemu pantang dielakkan), rumah gadang indak bapintu, mancik saikue bapantang lalu (rumah gadang tidak berpintu, tikus seekor berpantang lalu-tidak bisa masuk), garak garik pandang kutiko, dimintak baru dibari, sia mulai sia kanai (gerak (batin) gerik (gerak fisik), pandang ketika, siapa memulai dialah yang dikenai), mengutamakan elakan dari pada serangan, bagantuang ka tali nan indak kaputuih, bapagang ka raso nan indak kahilang, jago tali jan putuih, awasi raso jan ilang, basiang sabalun tumbuah, malantai sabalun luluih, lahie silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan, (bergantuk ke tali yang tidak akan putus, berpegang kepada perasaan yang tidak akan hilang, jaga tali jangan putus, awasi rasa agar jangan hilang, menyiang sebelum tumbuh, melantai sebelum lulus/ terjerumus, lahirnya silat mencari kawan, batinnya silat mencari Tuhan), digantuang tinggi dibuang jauh, mambunuah maiduik i, mahampang malapehkan (digantung tinggi dibuang jauh, membunuh menghidupi, menghambat melepaskan),  lawan tajilapak, indak dihadoki jo balabek, tapi dijambauan tangan mambao tagak (lawan terjerembab, jangan dihadapi dengan kuda-kuda serangan susulan, tapi ulurkan tangan membawa tegak), dan dima bumi dipijak disitu langik dijunjuang, dima rantiang dipatah disitu sumua digali (dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, dimana ranting dipatah disitu sumur digali).

Berkenaan dengan fungsi silek yakni sebagai pakaian diri bagi pelakunya, parik paga dalam nagari, jihad (bela Negara dan agama), amar makruf nahi mungkar, dan resolusi konflik. Oleh sebab itu semuanya menjadi silek sebagai mahakarya dalam khasanah adat dan budaya Minangkabau. Sehingga, kedepannya silek tersebut dapat kita lestarikan dan merupakan bagian yang berurat berakar dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. [Penulis: Undri, Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah terbit di Harian Umum Singgalang pada 9 September 2018

Belajar Memilah dan Memperluas Wawasan dari Indang

0
Anak-anak TK Bundo Kanduang

Pelajaran untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk sesungguhnya telah ada dalam kebudayaan kita. Hal itu bisa kita lihat dalam berbagai ungkapan serta kesenian yang sering ditampilkan dalam berbagai perayaan. Namun, menjadi ironi kemudian ketika kita menghadapkan nilai filosofis tersebut dengan merebaknya berita bohong atau hoaks. Pertanyaannya adalah apa yang salah dengan tampilan ungkapan dan kesenian yang mempunyai nilai filosofis tersebut?. Untuk itu, kita bisa belajar dari indang.

Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan indang ditampilkan dalam berbagai perhelatan seperti baralek/pesta perkawinan, batagak penghulu dan berbagai acara seremonial seperti penyambutan tamu-tamu besar atau pejabat. Kepopuleran kesenian ini juga telah mendorong semua kalangan untuk tidak hanya menyaksikan tapi juga memainkan. Bahkan, indang sudah dimainkan oleh kalangan anak-anak hingga orang tua. Kita yang menyaksikan juga sering tertarik dan mengagumi keindahan kesenian tersebut.

Bagi masyarakat awam, menyaksikan indang mungkin hanya dimaknai sebagai hiburan semata. Tentu tidak sepenuhnya salah, mengingat indang yang berkembang sekarang lebih ditampilkan sebagai hiburan dan disajikan dengan iringan instrumen yang menarik. Tapi, acapkali kondisi ini mengakibatkan kaburnya nilai yang terkandung dalam indang atau bahkan tidak tersampaikan sama sekali. Padahal jika kita mempelajari lebih mendalam, indang merupakan kesenian tradisional yang sarat pengetahuan dan masih relevan untuk dijadikan dalam ragam pembelajaran masa kini.

Baca juga: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsumbar/belajar-gotong-royong-dari-tradisi-batobo/

Indang bagi masyarakat Minangkabau merupakan permainan anak nagari. Maryetti (2010) dalam bukunya menjelaskan bahwa indang adalah pertunjukan sastra lisan Minangkabau dalam bentuk dendangan dengan instrumen pengiring rapa’i. Secara asal bahasa indang berasal dari kata ‘ma-indang’ (maindang beras dengan nyiru untuk menyisihkan beras dengan atah). Seperti diungkapkan dalam mamangan, ‘diindang ditampi tareh, dipiliah atah ciek-ciek” (ditampi beras, untuk memilih atah satu demi satu). Secara filosofis, arti dari indang itu adalah memisahkan hal-hal yang sah dengan yang batal, yang halal dengan yang haram, yang benar dan yang salah.

Sementara menurut Suryadi (dalam Amir 2006:100), Indang adalah bersilat lidah: tanya jawab, saling menjelekkan, menyindir, mencemooh, mengukur kemampuan lawan mengenai suatu bidang pengetahuan yang disampaikan dalam teks lirik yang didendangkan dengan bahasa yang sangat konotatif, penuh kiasan dan ibarat khas Minangkabau. Kedua definisi ini menjelaskan kepada kita bahwa untuk memisahkan hal-hal yang sah dengan yang batal dilakukan dengan silat lidah, menjelekkan, menyindir dan mengukur kemampuan lawan.

Pada masa lampau, indang hanya digunakan sebagai media dakwah atau media penyampaian syiar Islam. Sekarang indang mulai dikembangkan tidak saja sebagai media dakwah tapi juga hiburan bagi masyarakat luas (Maryetti 2010:4). Kesenian inipun dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampilannya lebih menarik. Tempat pelaksanaannya juga berubah, yang awalnya ditampilkan di surau-surau, tapi sekrang sudah di laga-laga. Ini juga ditampilkan dalam berbagai perayaan alek nagari seperti penyambutan tamu, batagak pangulu, dan acara-acara hiburan lainnya.

Dalam pelaksanaannya, indang melibatkan beberapa unsur yakni tukang dikia, anak indang dan tuo indang. Masing-masing memiliki peran dan tugas yang berbeda. Tukang dikia misalnya bertugas menyampaikan dendang atau syair-syair. Anak indang mempunyai tugas-tugas memimpin dan memberi komando tentang gerak dan penutup gerak (tukang aliah), menyusun bait dan meningkah permainan rapai (tukang apik), mengulangi baris tertentu dalam pantun (tukang pangga), meramaikan bunyi baik vokal maupun instrumen (bungo salapan) serta pengikut (tukang kalang). Tuo indang bertugas menjaga keselamatan seluruh personil lahir maupun batin.

Umumnya jumlah pemain indang terdiri dari 9 hingga 15 orang. Jumlah tersebut di bagi dalam pembagian tugas sesuai dengan keahlian masing-masing. Satu orang diantaranya bertugas sebagai pendendang, satu orang yang mengatur gerak, dua orang sebagai penulis teks dan bait-bait pantun, dua orang memperindah vokal dan instrumen serta sisanya bertugas meramaikan. Sementara itu ada satu tuo indang yang bertanggung jawab pada keselamatan seluruh tim.

Poin penting yang hendak disampaikan dalam tulisan ini adalah berkaitan dengan cara dan tujuannya. Disini kita telah diajarkan untuk dapat memilah antara yang benar dan salah. Jika merunut pada definisi Maryetti dan Suryadi maka cara yang digunakan adalah melalui silat lidah, menjelekkan, menyindir, mencemooh, dan mengukur kemampuan lawan. Silat lidah tidak selalu dipandang negatif mengingat dapat menjadi cara efektif mengklarifikasi kesahihan dan kebenaran informasi. Tentu dilakukan dengan bahasa konotasi yang tidak menyinggung secara langsung lawan main.

Pelajaran penting lainnya adalah bahwa menyajikan sejumlah fakta dan data menjadi keharusan untuk memastikan kemenangan argumen. Mengungkap kebenaran tidak bisa dilakukan hanya dengan cuap-cuap atau omong kosong belaka. Seseorang yang terlibat di dalamnya terlebih dahulu harus mempersiapkan diri dengan segala informasi, fakta dan data yang akan memperkuat argumennya. Sehingga seseorang tidak lagi berkelit atas pendapatnya. Pada intinya, seseorang harus berwawasan luas, punya referensi dan sarat pengalaman.

Selanjutnya bagaimana kita menghubungkannya dengan kondisi masa kini? Kondisi saat ini menunjukkan perkembangan teknologi informasi yang pesat. Perkembangan tersebut telah mendorong akses informasi yang semakin mudah bagi semua orang. Hal ini seharusnya dapat bernilai positif karena mudahnya seseorang mencari referensi dalam belajar dan menambah wawasan. Namun disaat yang sama keterbukaan informasi yang tidak terbatas menjadi tantangan sendiri bagi masyarakat kita. Keterbukaan informasi malah telah mendorong masyarakat lebih mudah menyebar informasi bohong (hoaks), fitnah tanpa memilah mana yang baik dan buruk atau benar dan salah.

Memahami fungsi filosofis indang tentu dapat dipahami sebagai penyaringan informasi. Penyaringan informasi dengan mengklarifikasi satu informasi dengan informasi lain. Menghadapkan antara argumen dengan argumen yang lain. Selain itu, kecakapan dalam meyampaikan buah pikiran secara cepat dan tepat sangat dituntut di dalam keterbukaan sekarang. Seseorang dituntut harus membekali dirinya dengan berbagai macam ilmu, juga dengan pengalaman yang luas. Jika seseorang tidak memiliki dua kecakapan ini, bisa dipastikan akan menjadi korban dan pelaku berita bohong. Bisa dipastikan, ketika hal ini tidak dilakukan maka akibatnya akan semakin buruk.

Pelajaran ini sesungguhnya sangat relevan ketika dihadapkan pada kondisi persebaran berita hoaks belakangan ini. Tentu saja, tidak harus mengembalikan kesenian indang pada bentuk lamanya agar dapat mempelajari nilai-nilainya. Mungkin melalui setiap pertunjukan indang, para pelaku bisa menjelaskan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Setidaknya itu dapat mengingatkan masyarakat untuk senantiasa menyaring informasi dan memperluas wawasan.

Artikel ini telah tebit di Harian Singgalang.

Menggairahkan Kembali Silek di Solok Selatan

0

Kondisi silek tradisi akhir-akhir ini sudah semakin memprihatinkan. Untuk itu perlu digairahkan kembali, tidak saja untuk lebih dikenal tapi juga diajarkan kepada generasi muda. Hal ini penting mengingat silek tradisi sarat nilai yang masih relevan dalam pembangunan karakter. Seperti silek tradisi di Kabupaten Solok Selatan.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat baru-baru ini mengadakan pendataan silek tradisi di Kabupaten Solok Selatan. Dari hasil pendataan tersebut terdapat sekitar 12 aliran silek tradisi yang masih eksis dan puluhan sasaran sebagai wadah pengembangan silek. Kedua belas aliran tersebut yakni silek pedang abai, silek pangian, silek taralak, silek colau, silek katiani, silek luncu, silek koto anau, silek kumango, silek tuo lubuk gadang yang juga dikenal silek langkah ampek, silek paninjauan atau junjung sirih, silek harimau (termasuk silek kucing putiah), silek tuo sungai pagu.

Silek tradisi tersebut mempunyai pertemuan rutin dan melibatkan semua aliran. Pada tiap pertemuan, para anak sasian menampilkan silek yang diperolehnya dari sasaran dimana mereka belajar. Uniknya, pertemuan rutin tersebut setiap aliran menampilkan masing-masing gerakan tanpa ada rasa bersaing antar aliran atau antar sasaran. Semua menampilkan geraknya hanya untuk menunjukkan sekaligus belajar menghargai perbedaan masing-masing. Tidak ada persaingan maupun konflik antar aliran, juga tidak ada adu kekuatan diantara mereka.

Hal ini bisa dikatakan sebagai praktek yang jauh lebih maju karena pada masa lampau silek tradisi identik dengan persaingan dan saling unjuk kekuatan. Pada masa lalu, silek memang tidak lepas dari upaya membela diri dari berbagai macam ancaman seperti perang suku, kehidupan alam liar dan berbagai hal lain. Sehingga penguasaan silek pada masa lalu tidak lebih sebagai pertahanan diri maupun sebagai paga parik nagari Lama kelamaan gengsi antar aliran juga timbul seiring berkembangnya aliran silek. Sehingga sering timbul persaingan antar aliran untuk memastikan siapa yang lebih kuat.

Baca juga: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsumbar/silek-pusako-nagari-abai/

Munculnya pahimpunan tuo silek tradisi Minangkabau ditengarai sebagai tunas awal munculnya pemikiran baru mengenai silek tradisi. Memang, melalui aktivitas yang ditunjukkan pahimpunan, aliran-aliran silek tidak lagi unjuk kekuatan ketika bertemu satu sama lain. Pahimpunan malah mencoba menyatukan sileksilek tradisi dalam satu wadah silaturahmi yang satu sama lain dapat saling melengkapi. Selain itu, pahimpunan juga bermaksud untuk menggaungkan silek tradisi sebagai warisan budaya yang dikenal hingga ke manca negara.

Pahimpunan lalu mengubah mindset bersaing menjadi bersilaturahmi. Ajang silaturahmi ini diimplementasikan dengan mengadakan pertemuan secara berkala. Kadang kala mereka memanfaatkan pertemuan tersebut hanya sebagai pertemuan membahas perkembangan silek tradisi. Mereka juga  mengadakan festival silek yang menampilkan seluruh anak sasian yang ada pada sasaran yang tergabung dalam pahimpunan. Hingga akhir-akhir ini, setiap festival bisa melibatkan 400 orang anak sasian.

Ide dan inisiatif melahirkan perhimpunan secara langsung maupun tidak telah mendorong gairah silek di Kabupaten Solok Selatan. Sebagaimana pengakuan pak Sakirman, seorang tuo silek di Solok Selatan menyatakan bahwa adanya perhimpunan telah mendorong semakin banyaknya anak-anak yang ingin belajar silek. Rata-rata sasaran-sasaran silek yang sebelumnya telah lama vakum kemudian diaktifkan kembali. Adanya pahimpunan setidaknya telah membuka wadah untuk menampilkan silek tersebut. Beberapa dari aliran tersebut juga sudah merasakan tampil di berbagai perhelatan baik di dalam maupun di luar daerah.

Pentingnya belajar silek tidak melulu berkaitan dengan gerak atau bela diri. Hal yang paling penting dalam silek adalah kontrol perilaku dalam masyarakat. Dalam adab silek dikenal balahia babatin. Secara luas istilah tersebut mencoba membina hubungan baik antar sesama manusia dan Tuhannya. Sehingga dalam silek dikenal norma-norma dan aturan yang tidak saja diterapkan di lingkungan sasaran tapi terutama di lingkungan masyarakat. Aturan silek yang paling utama adalah menambah teman dan tidak mencari lawan. Intinya, menguasai ilmu silek juga harus menjaga diri untuk tidak pongah, sabar dan  harus menahan diri. Menguasai ilmu silek harus tetap menjaga silaturahmi antar sesama.

Kembali mekarnya berbagai aliran dan sasaran silek tradisi di Solok Selatan menjadi kabar baik dalam pembangunan karakter generasi muda kini. Melalui belajar setidaknya telah dapat menyerap ilmu kemasyarakatan yang diajarkan di sasaran-sasaran. Hal ini juga kemudian diterapkan bagaimana bersosialisasi dan berkomunikasi di lingkungan masyarakat. Lebih dari itu, ajaran silek telah menerapkan bagaimana seharusnya bersikap kepada guru dan menghormati gurunya. Nilai-nilai ini menjadi sangat relevan dan urgen dalam kondisi masyarakat kini yang telah banyak dipengaruhi budaya luar.

Namun demikian, tantangan untuk menjaga eksistensi silek tradisi tersebut tidaklah mudah. Berbagai kendala dihadapi seperti: pertama,  kurangnya dana operasional. Dana operasional memang sangat dibutuhkan oleh sasaran. Contoh kecil penggunaan dana ini adalah untuk memenuhi minum para anak sasian ketika latihan. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk menghadiri undangan-undangan tampil ke luar daerah. Persoalan ini semakin sulit karena para tuo silek maupun tuo laman hanya berprofesi sebagai petani yang tidak cukup kuat membiayai operasional tersebut.

Kedua,  kurangnya minat anak muda. Munculnya beragam seni beladiri dari luar telah negeri sedikit banyak telah mengubah persepsi anak muda terhadap silek tradisi. Anak muda sekrang lebih memilih karate, kungfu dan seni beladiri lain untuk dipelajari dari pada silek tradisi. Menurut masyarakat Solok Selatan, salah satu kelemahan silek tradisi dalam menghadapi kehadiran seni beladiri tersebut adalah bahwa silek tradisi tidak bisa dipertandingkan. Silek tradisi dengan berbagai isi di dalamnya tidak relevan untuk dipertandingkan.

Ketiga, kurangnya wadah sebagai penyaluran bakat hasil belajar. Pahimpunan tuo silek memang telah memulai langkah baru dalam menjaga keberadaan silek tradisi. Berbagai pertemuan dan perhelatan acara juga telah dibuat untuk menyalurkan ketrampilan para anak sasian. Namun, acara yang dihelat oleh perhimpunan saja tidaklah cukup. Perlu banyak festival dan even-even seperti even pariwisata dan budaya untuk mewadahi keterampilan para anak sasian. Sehingga melalui even-even tersebut, anak muda lebih tertarik untuk mempelajari kembali silek tradisi.

Keempat,  eksistensi tuo silek yang semakin hari semakin berkurang, masih tertutupnya para tuo silek dalam mengajarkan ilmu silek serta penerusnya yang semakin berkurang menambah daftar tantangan pelestarian silek di masa mendatang.

Beberapa tantangan di atas tentu saja hanyalah sebagian dari banyak kendala yang dihadapi silek tradisi dalam menjaga eksistensinya. Namun, beberapa tantangan tersebut dapat menjadi celah kecil untuk menawarkan peluang dan dukungan sehingga dapat lebih menggairahkan kembali silek tradisi. Langkah awal yang telah dibangun oleh pahimpunan perlu disokong lebih aktif untuk mendorong silek tradisi Minangkabau menjadi lebih dikenal.

Oleh: Firdaus Marbun

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Umum Singgalang pada 19 Agustus 2018

Belajar Gotong Royong dari Tradisi Batobo

0

Oleh: Firdaus Marbun

Menggali nilai gotong-royong dalam kebudayaan kita tentu bukanlah hal sulit. Walau perilaku gotong-royong sesungguhnya semakin hari semakin terkikis karena gempuran globalisasi, tapi hal itu masih bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Batobo dalam masyarakat Sijunjung bisa menjadi salah satu contoh implementasi nilai kegotong-royongan dalam kehidupan sehari-hari.

Di masyarakat Sijunjung dikenal dengan istilah Batobo. Berkumpul bersama, mencari solusi atas masalah secara bersama, mengeksekusi pekerjaan secara bersama serta menikmati hasil secara bersama-sama. Begitulah hakekat yang diimplementasikan dalam batobo. Sebagai daerah yang sumber penghasilan mereka sebagai petani, tradisi ini digunakan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan pertanian seperti manaruko, bersawah, berladang, mendirikan rumah, bahkan simpan pinjam.

Uniknya, walau tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu bahkan mungkin sejak masyarakat mereka mengenal pekerjaan berladang tapi hingga kini masih tetap dijalankan. Malah, laporan penelitian Silvia Devi (2014) masih terdapat 18 tobo Konsi yang beranggotakan dari 30 orang sampai 86 orang. Jumlah yang cukup signifikan untuk ukuran desa/nagari.

Batobo Konsi sesungguhnya adalah wadah berkumpulnya masyarakat Sijunjung khususnya nagari Koto Padang Ranah dan Tanah Bato untuk meringankan berbagai pekerjaan dan membahas aspek-aspek sosial kemasyarakatan. Dalam pelaksanaannya batobo mempunyai struktur kepengurusan yang terdiri dari penasehat, ninik mamak, ketua, tuo tobo, juru tulih, bendahara, anggota dan pembuat jadwal atau giliran. Anggota dibagi berdasarkan usia dan keterampilan serta anggota pemula dan penghubung.

Untuk pengambilan-pengambilan keputusan penting semua peserta mengadakan rapat yang dilaksanakan secara rutin. Materi rapat biasanya membahas segala hal yang berkaitan dengan tobo. Mulai dari aturan yang berlaku, keanggotaan, hak dan kewajiban anggota, larangan serta sanksi-sanksi. Selain itu rapat juga menentukan jenis pekerjaan, pembagian pekerjaan dan menentukan jadwal pekerjaan. Lebih jauh rapat batobo membahas terkait batas-batas wilayah dalam pertanian serta mengajarkan sopan santun kepada anggotanya atau cara-cara bergaul. Artinya batobo oleh masyarakat Sijunjung difungsikan tidak hanya sebagai ikatan tolong menolong tapi juga sebagai tempat bersosialisasi.

Beberapa praktek tobo konsi pada masyarakat Sijunjung dilakukan dalam berbagai pekerjaan. Misalnya dalam mengerjakan lahan pertanian. Umumnya pekerjaan di ladang dilakukan secara bergilir ke ladang semua anggota tergantung urgensinya. Giliran ini diatur oleh tukang panyilih, apa bentuk pekerjaannya,  kapan harus mengerjakan dan siapa saja yang harus mengerjakannya. Setelah disepakati lalu secara bersama-sama akan mengerjakannya. Ada kalanya seseorang tidak bisa terlibat karena ada urusan mendesak. Jika terjadi demikian, biasanya dia akan menggantinya dengan uang. Besaran uang yang dibayarkan ditentukan sesuai kesepakatan tobo, namun umumnya yang berlaku adalah upah sehari tenaga kerja di ladang. Aturan yang sama juga dilakukan dengan jenis pekerjaan yang berbeda seperti meramu pekayuan, manaruko, bersawah dan lain-lain. Malah, kadang kala ketika tidak ada pekerjaan yang mendesak di anggota tobo, maka tobo sering mengambil borongan pekerjaan. Hasil dari pekerjaan ini nantinya akan dinikmati bersama.

Baca juga: Strategi Pemajuan Kebudayaan

Tidak hanya saling membantu dalam hal tenaga, tapi juga modal usaha dan kebutuhan lain yang mendesak tentang uang. Batobo mempunyai konsep koperasi untuk membantu anggota ketika menghadapi kondisi-kondisi genting dan membutuhkan uang. Misalnya ketika mengalami sakit tapi sedang tidak punya cukup uang untuk berobat. Batobo mempunyai kas yang mana dikelola seperti halnya koperasi. Ya, anggota batobo berkewajiban menyerahkan iuran pokok dan iuran sukarela atau iuran rapek. Iuran pokok mereka hitung berdasarkan harga daging. Memang iuran ini dimaksudkan sebagai tabungan untuk memenuhi kebutuhan daging pada hari lebaran. Sehingga ini juga yang mendorong para anggota tobo untuk melunasi iuran dan utang (kalau ada) sebelum lebaran tiba. Iuran inilah yang dikelola untuk keperluan-keperluan mendesak anggota sebelum lebaran tiba.

Untuk memastikan setiap aturan ditaati oleh anggota, maka tobo mempunyai sanksi untuk setiap pelanggaran yang terjadi. Sanksi ini diberlakukan sesuai dengan berat kecilnya pelanggaran. Mulai dari meminta maaf, denda, hingga mengeluarkan dari keanggotaan. Aturan ini berlaku kepada semua yang terlibat dalam tobo. Sanksi inilah yang kemudian bisa mengikat keanggotaan dan menciptakan disiplin dalam berbagai kewajiban yang harus dipenuhi. Seseorang yang tidak taat aturan tentu saja akan merasa malu jika tidak mentaatinya. Ada budaya malu yang diciptakan ketika aturan tidak ditaati, hal ini karena rasa memiliki akan tobo tersebut sangat tinggi di kalangan anggota.

Batobo konsi semakin penting ketika fungsinya juga diperluas ke dalam pendidikan. Batobo konsi acapkali dimanfaatkan untuk menambah wawasan dalam bidang pertanian. Melalui pertemuan-pertemuan, seringkali disandingkan dengan penyuluhan-penyuluhan. Selain itu juga dimanfaatkan untuk melestarikan adat dengan memanfaatkan pertemuan untuk mendiskusikan dan menanamkan serta mengenal adat. Batobo juga dimanfaatkan untuk mengajarkan bagaimana cara berinteraksi dan beradaptasi dengan masyarakat di lingkungan sekitar. Serta bagaimana bersosialisasi sebagai manusia yang beradab.

Artikel ini telah dimuat di harian Singgalang pada Minggu, 29 Juli 2018.

Peringati HUT Kemerdekaan, Pegawai Mengenakan Busana Daerah

0

Padang – BPNB Sumbar turut memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 dengan menggelar upacara. Kegiatan ini digelar pada 17 Agustus 2018 di halaman kantor BPNB di Jl. Raya Belimbing, Padang. Seluruh pegawai hadir dalam upacara tersebut dengan mengenakan ragam busana daerah.

Peserta upacara memperingati HUT RI ke-73 di BPNB Sumbar pada 17 Agustus 2018 di halaman kantor BPNB kompak mengenakan pakaian daerah.

Pemilihan busana daerah pada kesempatan itu dimaksudkan untuk menunjukkan kekayaan budaya bangsa sekaligus menunjukkan betapa beragamnya kita. Keberagaman yang rukun, saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Beragam tapi bersatu.

Upacara yang dipimpin langsung oleh kepala BPNB Sumbar, Suarman, berlangsung dengan tertib dan khidmat.  Diawali pengibaran bendera sekaligus menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya hingga pembacaan doa di akhir acara. Pada kesempatan tersebut, Suarman juga membacakan pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Penyematan penghargaan satyalencana kepada pegawai yang telah mengabdi selama 10 tahun dan 20 tahun oleh Kepala BPNB Sumbar, Suarman.

Upacara kali ini terasa istimewa bagi BPNB Sumbar. Hal ini karena sebagian pegawainya mendapat penghargaan berupa satyalencana atas pengabdiannya sebagai pegawai. Tercatat ada sembilan pegawai yang menerima penghargaan karena mengabdi selama 10 tahun dan 20 tahun.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-73! Jayalah Bangsaku!

Strategi Pemajuan Kebudayaan jadi Modal Pembangunan Nasional

0

Pengesahan Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan membawa semangat baru dalam upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan nasional. Setelah puluhan tahun merdeka, akhirnya Republik Indonesia memiliki sebuah panduan dalam upaya menjalankan amanat Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 untuk memajukan kebudayaan. Hal ini sejalan pula dengan amanat Presiden Republik Indonesia agar memberikan peran strategis bagi kebudayaan nasional dalam pembangunan.

Presiden Jokowi menginginkan adanya keseimbangan antara infrastruktur keras yang saat ini gencar dibangun di berbagai wilayah di tanah air, dengan infrastruktur lunak dalam wujud karakter dan jatidiri bangsa yang dikembangkan lewat jalan kebudayaan. Untuk itulah diperlukan kebijakan makro kebudayaan dalam rangka proses pembudayaan manusia. “Kita ‘kan terlalu sering berbicara masalah infrastruktur yang keras. Mengenai jalan, mengenai jembatan, mengenai pelabuhan. Tidak pernah kita berbicara mengenai infrastruktur lunak, yaitu kebudayaan,” diungkapkan Presiden Jokowi usai bertemu dengan para budayawan beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan lain, Presiden juga berpesan agar generasi muda tidak melupakan akar budaya bangsa. Generasi penerus bangsa tidak boleh kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

“Kita ingin agar kebudayaan menjadi nafas dari kelangsungan hidup bangsa, menjadi darah kepribadian, menjadi mentalitas dan nilai-nilai kebangsaan anak didik kita,” tuturnya di pembukaan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2018 yang lalu.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengungkapkan bahwa pengesahan UU Pemajuan Kebudayaan merupakan wujud konkret perhatian pemerintah terhadap kebudayaan nasional.

”Adanya Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan memberikan arah dan platform ke mana budaya daerah dan nasional mau dibawa. Selama ini, belum ada landasan strategis soal kebudayaan,” jelas Muhadjir.

Sebagai negara adidaya di bidang kebudayaan, Indonesia berpotensi besar dalam mempengaruhi peradaban dunia. Mendikbud berharap pemerintah daerah menaruh perhatian dalam memajukan kebudayaan di daerah. Tahun depan, pemerintah pusat akan menggulirkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk bidang kebudayaan. Untuk itulah strategi pemajuan kebudayaan yang disusun dari akar rumput, dimulai dari tingkat kabupaten/kota, kemudian provinsi, dalam bentuk PPKD sampai tingkat nasional dalam bentuk Strategi Kebudayaan akan memainkan peranan penting dalam implementasi pemajuan kebudayaan di lapangan.

Direktur Jenderal Kebudayaan (Dirjenbud) Hilmar Farid menjelaskan bahwa pemajuan kebudayaan yang dimaksud dalam undang-undang bertujuan meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia. Proses pemajuan kebudayaan dilakukan melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan nasional Indonesia. Sesuai undang-undang, terdapat 10 obyek pemajuan kebudayaan, yakni tradisi lisan, manuskrip, adat-istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

“Pemajuan kebudayaan dilaksanakan dengan berpedoman pada Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah kabupaten/kota, Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah provinsi, Strategi Kebudayaan yang disusun berdasarkan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah dan Kongres Kebudayaan yang akan digelar tahun depan, serta Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan,” dijelaskan Dirjenbud.

Strategi pemajuan kebudayaan akan menjadi dasar perumusan Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan yang menjadi acuan utama dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang di bidang kebudayaan. Pengarusutamaan kebudayaan dalam pembangunan nasional dipandang sangat strategis dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan akan dijadikan dasar bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019-2024. Dalam waktu bersamaan, pemerintah juga akan membentuk sistem pendataan kebudayaan terpadu yang mengintegrasikan seluruh data kebudayaan dari berbagai sumber. “Rencana Induk itu akan menjadi dokumen pedoman bagi pemerintah pusat dalam melaksanakan pemajuan kebudayaan. Ini merupakan penerjemahan Strategi Kebudayaan dalam bentuk rencana program kerja pemerintah. Kebudayaan akan terlihat sebagai sektor yang dijalankan oleh berbagai Kementerian dan Lembaga. Bukan hanya Direktorat Jenderal Kebudayaan saja,” kata Hilmar.

Penyusunan strategi pemajuan kebudayaan dilaksanakan secara bertahap, dimulai dengan masa persiapan mulai Februari hingga Maret 2018. Masa persiapan ini diisi dengan lokakarya penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) di 20 klaster kerja. Pada bulan Mei dan Juni 2018 tahapan penyusunan memasuki masa pra kongres 1, yaitu penyusunan PPKD kabupaten/kota untuk kemudian ditetapkan oleh bupati/walikota.

Selanjutnya, pada bulan Juli sampai dengan September 2018 masuk tahapan pra-kongres 2, yaitu penyusunan PPKD provinsi yang kemudian ditetapkan oleh gubernur. Tahap terakhir, pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2018, penyusunan Strategi Kebudayaan dilakukan pada 16-18 November 2018. Diharapkan, nantinya strategi kebudayaan nasional akan ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada momen Kongres Kebudayaan (KKI) 2018.

Bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendorong penyelesaian target penyusunan PPKD tingkat pemerintah provinsi.

PPKD sangat penting dalam merumuskan strategi pemajuan kebudayaan yang berasal dari masing-masing wilayah di tanah air. Penyusunan PPKD tingkat provinsi ini harus berdasarkan PPKD tingkat kabupaten/kota yang dijadwalkan berakhir sampai dengan 31 Agustus 2018. Diharapkan melalui pendampingan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, pemerintah daerah dapat segera menyelesaikan PPKD yang berisi data kondisi faktual obyek pemajuan kebudayaan, permasalahan yang dihadapi daerah dalam upaya pemajuan kebudayaan, dan rekomendasi penyelesaiannya.(*)

**disiapkan oleh Tim Komunikasi Pemerintah Kemenkominfo dan Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud

Elly Rudy, Sang Maestro Tari Gending Sriwijaya

0

Belajar Bersama Maestro yang digelar Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat beberapa waktu lalu di Kota Palembang mengangkat Tari Gending Sriwijaya sebagai kesenian yang diajarkan. Seiring dengan itu, maestro yang dilibatkan untuk mengajar tari ini adalah Elly Rudy. Dia ini adalah maestro yang mengabdikan diri dalam tari tradisi di Sumatera Selatan, khususnya tari gending sriwijaya.

Nama kecil Elly Rudy adalah Elly Anggraini Soewondo, lahir di Tanjung Enim hampir 70 tahun yang lalu. Rudy disematkan ke namanya karena suaminya yang bernama Rudy Syafruddin. Selama membina keluarga dengan Rudy Syafruddin, mereka dikaruniai empat anak yaitu: Swarna Maha Reza, S.Sos., Swarga Arya Eza, S.Pd., Permata Safira, S.E., dan Puspa Dita, S.Si.

Sejak kecil Elly Rudy telah mulai menggeluti dunia tari. Bahkan pada tahun 1962, dia telah masuk anggota grup tari Gending Sriwijaya yang tergabung dalam dalam Grup Tari pimpinan Suka Enah Rozak. Sejak saat itu, Elly kemudian sering tampil dengan tari yang sama dalam berbagai perhelatan.

Sejak terlibat dalam berbagai even, pada tahun 1965 dia mulai merambah pada penciptaan tari. Bahkan, Ibu lulusan FKIP Bahasa dan Seni Universitas Sriwijaya Palembang ini pada tahun yang sama menciptakan ‘tari tanggai’. Sejak itu, dia juga sekaligus menjadi pelatih tari di berbagai instansi maupun lembaga. Mulai dari sekolah, yayasan hingga instansi pemerintahan, dia pernah menjadi pelatih tari. Dia juga pernah menjadi juri, koreografi, narasumber dan juga menulis beberapa buku.

Dengan pengalaman dan prestasi yang dia miliki tentu saja layak disebut sebagai seorang maestro. Seluruh hidupnya didedikasikan di dunia seni khususnya tari gending sriwijaya serta menggantungkan hidupnya dari seni. Berikut perjalanan hidup Elly Rudi dalam berkesenian:

1962: Sebagai penari Gending Sriwijaya bergabung dalam Grup Tari pimpinan Suka Enah Rozak.

1965:  Menciptakan Tari Tanggai.

1965: Menjadi duta Indonesia ke New York World Fair Amerika sebagai Penari.

1981 – sekarang: Aktif sebagai Pelatih Tari. Mengikuti Misi Kesenian sebagai Duta Seni ke berbagai Event Nasional maupun Internasional.

1986: Karya Tari Erai-Erai Serumpun mewakili Propinsi Sumatera Selatan pada Pembukaan Pekan Raya Jakarta (PRJ).

1987: Karya Tari Cek Molek Juara I dalam Pekan Tari Kreasi di Bengkulu, mewakili Propinsi Sumatera Selatan.

1988: Tim Tari Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang pada Pekan Tari Mahasiswa (PEKSIMINAS), Karya Tari Egal-Egol (eksebisi).

1989: Tim Tari Universitas Sriwijaya (UNSRI) Juara I Tari Tradisi dengan Karya Tari Tari Tanggai pada Pekan Seni Mahasiswa di Universitas Syahkuala Aceh.

1990: Juara I Lomba Cipta Tari Tingkat Propinsi, Karya Tari Bungo Inten.

1991: Juara III Tingkat Nasional dalam Gatra Kencana TVRI Palembang, Karya Pijar Budaya Sumatera Selatan.

1992:   Mewakili Propinsi Sumatera Selatan pada Pekan Seni Budaya Melayu di Tanjung Pinang, Riau.

1993: Penampilan Terbaik Lomba Cipta Tari Tingkat Nasional di Jakarta, Karya Tari Tari Nindai.

1994:   Mewakili Propinsi Sumatera Selatan ke Laos, Thailand dan Singapura atas undangan pemerintah setempat.

1995: Mewakili Propinsi Sumatera Selatan pada Festival Keraton Surakarta.

1995: Kerjasama TVRI Pusat Jakarta dan TVRI Palembang dalam Paket Khusus Indonesia Emas, Karya Sendratari “Sultan Mahmud Badaruddin II”.

1997: Utusan Propinsi Sumatera Selatan pada Festival Keraton Cirebon.

1998: Utusan Propinsi Sumatera Selatan pada Pekan Raya Budaya Melayu Riau.

1998: Sebagai Tutor/ Narasumber Tari Tanggai dan Tari Gending Sriwijaya di STSI Padang Panjang (sekarang ISI Padang Panjang).

1999: Utusan Propinsi Sumatera Selatan ke Johor Baru Malaysia sebagai narasumber Bedah Tari Zapin.

2001: Utusan Propinsi Sumatera Selatan pada Festival Gendang Nusantara di Melaka Bandar Raya, Malaysia.

2001: Menerima Penghargaan Seni ASEAN Social and Economic Corporation Golden Award 2001 Jakarta.

2002: Mewakili Propinsi Sumatera Selatan di Istana Negara. 1. Tari Gending Sriwijaya; 2. Tari Lenggok Musi.

2002: Pelatih Tim Kesenian Daerah Musi Banyuasin (MUBA) dibawah pimpinan Bupati MUBA Bpk. Ir, Alex Noerdin. – Mengikuti Festival Floriade Hearlemmeer, Belanda.- Misi Indonesia ke Perancis.

2003: Utusan Propinsi Sumatera Selatan ke Kerajaan Negara Selangor, Malaysia.

2003: Utusan Propinsi Sumatera Selatan pada Festival Rampai Melayu – Budaya Melayu Sedunia, Riau.

2003:   Utusan Tim Kesenian sebagai Pelatih Tari ke Italia dan Jerman.

2003:   Menerima Penghargaan Seni sebagai Seniman Tari dari Pemerintah Daerah (PEMDA) Sumatera Selatan.

2007: Dosen Luar Biasa Fakultas Seni Prodi Sendratasik Universitas PGRI Palembang.

2007: Sebagai Tutor/ Narasumber “Workshop Penata Tari dan Musik se-Sumatera Selatan”.

2009:   Sebagai Juri/ Pengamat pada Festival Seni Tari Melayu.

2010: Narasumber Workshop Pengembangan – Pelestarian Seni Budaya Palembang yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (DISBUDPAR) Propinsi Sumatera Selatan.

2013:   Narasumber Focus Group Discussion Pakaian Adat dan Tari Sambut Sumatera Selatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Nasional (DIKNAS) Propinsi Sumatera Selatan.

2013: Juri/ Pengamat Lomba Tari Kreasi Sumatera Selatan.

2013: Menerima Penghargaan Sebagai Tokoh Seni Budaya Sumatera Selatan dari Universitas PGRI Palembang.

2016: Koreografer World Dance Day di Surakarta diselenggarakan oleh ISI Surakarta. Karya Tari Tari Lilin Siwa.

2017: Sebagai Narasumber/ Pamong Seni Pelatihan Kesenian Tradisional Sumatera Selatan Materi: Tari Tanggai. Diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  (DISBUDPAR) Propinsi Sumatera Selatan.

2017: Koreografer World Dance Day Surakarta yang diselenggarakan oleh ISI Surakarta. Karya Tari Tari Pagar Pengantin.

2017: Menciptakan Tari Sambut Kabupaten Musi Rawas Utara (MURATARA), Karya: Tari Sambut “Ilim”.

2018:   Koreografer pada Festival Triangle Culture Festival yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kota Palembang.

2018: Pelatih Tari di Dinas Kebudayaan Kota Palembang.

Bersama Inspektorat Jenderal Diskusi Pengelolaan Ketatausahaan

0
Suasana diskusi

Padang – Kedatangan tim Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan dalam rangka audit ke Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat dimanfaatkan untuk Peningkatan Sumber Daya Manusia di Bidang Ketatausahaan. Melalui kedatangan tersebut, diadakan sebuah diskusi dengan melibatkan  seluruh pegawai. Diskusi dilaksanakan pada Senin, 30 Juli 2018 di ruang rapat BPNB Sumbar.

Acara yang dimulai pada pukul 13.00 wib tersebut dibuka secara langsung oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman. Tim dari Itjen dihadiri Pung S.P. Ngusadhani, Maretono, Bandut Satrio Utomo dan Novandi Carlos. Pada kesempatan itu Bapak Maretono menyampaikan materi tentang pengelolaan ketatausahaan. Diskusi berlangsung menarik dan sangat dinamis. Beberapa pertanyaan lebih banyak terkait dalam penyelesaian administrasi pada kegiatan lapangan.

Tujuan pertemuan tersebut dimaksudkan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada seluruh pegawai. Sehingga dalam pelaksanaan tugas dan fungsi kantor dapat terlaksana dengan baik dan sesuai dengan aturan yang ada. Disamping itu kegiatan tersebut juga bermaksud untuk menampung seluruh aspirasi pegawai terkait beberapa kendala yang seringkali terjadi dalam berbagai pelaksanaan tugas.

Harapannya, melalui diskusi ini pelaksanaan tugas dan fungsi kantor akan tertib baik secara administrasi maupun dalam pencapaian output yang ditetapkan sebelumnya. (FM)

Silek ‘Kumango’ yang bukan ‘Kumango’

0
Gerak buka langkah dalam aliran silek 'kumango'. Silek ini berkembang di Kabupaten Solok Selatan. Foto. Marbun

Silek kumango di Solok Selatan tidak sama dengan kumango di Tanah Datar. Hasil pencatatan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, setidaknya terdapat 12 aliran silat tradisi di Kabupaten Solok Selatan. Dari aliran sebanyak itu, tidak ada aliran yang benar-benar lahir dan berkembang di daerah tersebut. Hampir semua silek yang ada datang dari daerah lain khususnya dari darek yaitu daerah Tanah Datar.

Walau demikian, dari jumlah tersebut diakui ada beberapa aliran silek khas Solok Selatan. Dikatakan khas karena sekalipun aliran tersebut ada di darek tapi memiliki perbedaan yang mencolok dari segi gerak atau jurus. Mungkin karena telah mengalami modifikasi dari aslinya atau karena penggabungan beberapa aliran. Beberapa aliran silek yang dirasa khas tersebut adalah luncu, colau, padang abai dan kumango.

Dari ke empat aliran yang khas, silek kumango menjadi salah satu aliran khas dan unik. Masyarakat percaya bahwa silek ini berasal dari daerah darek yang selanjutnya menyebar ke Solok Selatan. Namun, ada perbedaan mencolok dengan daerah darek. Silek kumango yang ada di solok selatan bukanlah sebagaimana anggapan orang banyak tentang silek kumango yang ada di daerah darek.

Silek Kumango di Solok Selatan merupakan gabungan dari beberapa aliran silek, sehingga dinamakan dengan ‘kumango’. Menurut masyarakat ‘kumango’ dalam bahasa setempat adalah campur-campur atau gabungan. Jadi ‘kumango’ secara etimologi adalah ‘gado-gado’ atau ‘campuran’. Nama ini merujuk dari aliran silek yang memang menggabungkan beberapa gerak dari beberapa aliran silek yang ada di Solok Selatan. Beberapa aliran dan gerak silat yang tergabung dalam silek kumango solok selatan adalah Colau, Pangian, Luncu dan Taralak.

Penggabungan beberapa aliran silat dalam ‘silek kumango’, tidak sepenuhnya mengubah tradisi pada silek kumango yang asli. Gerak-gerak utama masih tetap dipertahankan. Selain itu, tradisi buka laman dengan ritual khusus juga tetap dilakukan. Kini silek kumango berkembang baik di Kabupaten Solok Selatan dengan cirinya yang khas. (FM)

Silek Pusako Nagari Abai di tepi Kepunahan

0
'Kabau Lago di Bawah', salah satu gerak Silek Padang Abai yang ada di Kabupaten Solok Selatan. Foto. Marbun

Salah satu aliran silat khas Solok Selatan adalah Silek Padang Abai yang juga dikenal dengan Silek Pusako Nagari Abai. Keberadaan silat ini telah lama ada dan menurut pengakuan tuo sileknya Sutan Pangeran, berasal dari Mekkah yang dibawa oleh Syaik Kudung. Ironisnya, silek ini kini sudah diambang kepunahan. Selain tidak ada lagi sasaran, guru silatnya juga sudah dimakan usia. Sementara anak sasiannya juga hanya sedikit yang menguasai geraknya.

Di kabupaten Solok Selatan berkembang banyak aliran silat tradisi. Hasil pendataan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat baru-baru ini, terdapat sekitar 12 aliran silat tradisi yang masih eksis. Dari jumlah tersebut ada 4 aliran yang bisa dikatakan khas yaitu Silek Luncu, Padang Abai, Colau dan Kumango. Selain itu, terdapat banyak sasaran sebagai media pembelajaran dan pewarisan silat tradisi tersebut.

Perkembangan silat tradisi ini tidak lepas dari lahirnya Pahimpunan Tuo Silek Tradisional Minangkabau. Tujuan perhimpunan selain untuk membangun silaturahmi antar aliran, juga untuk menggaungkan Silek Minangkabau sebagai warisan budaya. Dalam pelaksanaannya, secara berkala mereka mengadakan festival silat tradisi. Festival tersebut mempertemukan semua aliran yang tergabung dalam perhimpulan dan secara bergilir didapuk menjadi tuan rumah.

Hal yang berbeda ditampilkan silek padang Abai. Di tengah aliran lain yang semakin tumbuh, aliran ini malah menunjukkan tanda-tanda kepunahan. Kegiatan perhimpunan sepertinya tidak cukup membantu menjaga tetap eksisnya aliran ini. Hal ini tampak dari tidak ada lagi sasaran yang mewadahi tetap tumbuhnya. Selain itu minimnya pengajar dan terbatasnya waktu luang yang mereka punya menjadi salah satu alasan tidak aktif lagi. Selain itu biaya operasional juga sangat minim sehingga silek ini juga semakin sulit untuk berkembang.

Hingga saat ini, tinggal tiga orang yang menguasai aliran silat ini dengan baik. Ketiganya juga sudah berusia di atas 60 tahun. Selain itu, ada dua orang siswa yang pernah belajar dan mengetahui sedikit banyak tentang Silek Padang Abai. Kedua orang ini memang sudah sering tampil dalam berbagai festival-festival silat baik di Solok Selatan maupun di luar daerah. Namun, belum menguasai keseluruhan gerak yang ada. Akanlah Silek Pusako Nagari Abai ini dapat bertahan atau akan mati? (FM)

Sejarah Tari ‘Gending Sriwijaya’

0
Anak-anak sedang mengikuti latihan tari gending sriwijaya pada kegiatan Belajar Bersama Maestro (BBM) 2018

Tari Gending Sriwijaya merupakan tarian khas sumatera selatan. Secara harafiah Gending Sriwijaya berarti “Irama Kerajaan Sriwijaya”. Tari ini melukiskan kegembiraan gadis-gadis Palembang saat menerima kunjungan tamu yang diagungkan.

Munculnya tari ini berawal dari permintaan pemerintahan Jepang yang ada di Karesidenan Palembang kepada Hodohan (Jawatan Penerangan Jepang) untuk menciptakan sebuah lagu dan tari untuk menyambut tamu yang berkunjung ke Sumatera Selatan dalam acara resmi. Permintaan ini mulai digagas sejak akhir 1942 hingga tahun 1943. Sempat tertunda beberapa waktu karena berbagai persoalan politik baik di Jepang maupun di tanah air.

Setelah tertunda beberapa waktu, pada bulan Oktober 1943 gagasan mencari lagu ditindaklanjuti kembali. Letkol O.M. Shida memerintahkan Nuntjik A.R. (Wakil Kepala Hodohan pengganti M.J. Su’ud) yang pada saat itu sudah dikenal sebagai seorang sastrawan dan wartawan. Kemudian mengajak Achmad Dahlan Mahibat, seorang komponis putra Palembang asli yang pandai bermain biola dari kelompok seni (toneel) Bangsawan Bintang Berlian dibawah pimpinan pasangan suami isteri Haji Gung dan Miss Tina, untuk bersama-sama menggarap lagu tersebut.

Setelah penggarapan lagu selesai, maka dilanjutkan dengan penulisan syair lagu Gending Sriwijaya oleh A. Dahlan Mahibat yang kemudian syair tersebut disempurnakan oleh Nungtjik A.R., setelah lagu dan syair Gending Sriwijaya selesai diciptakan, maka tari penyambutan harus segera dibuat. Berbagai konsepsi telah dicari dan dikumpulkan dengan mengambil bahan-bahan dari tari-tari adat Palembang yang sudah ada.

Seorang penari profesional yang dianggap ahli dalam hal adat budaya Palembang, Miss Tina haji Gung mengurusi properti dan busana yang akan dipakai dalam pementasan Tari Gending Sriwijaya yang dibantu oleh Sukaenah A. Rozak seorang ahli tari sebagai model, dan pengarah gerak oleh budayawan RM Akib dan R Husin Natodoradjo. Latihan diadakan di gedung Bioskop Saga. Kemudian pada bulan Mei 1945 tari ini dipertunjukkan di hadapan Kolonel Matsubara, Kepala Pemerintahan Umum Jepang, sebagai uji coba. Para penari uji coba ini merupakan para nyonya pejabat dibantu oleh anggota grup Bangsawan Bintang Berlian.

Tepat pada hari Kamis, tanggal 2 Agustus 1945, dalam rangka menyambut pejabat-pejabat Jepang dari Bukit Tinggi yang bernama Moh. Syafei dan Djamaludin Adi Negoro, Tari Gending Sriwijaya secara resmi ditampilkan. Inilah kali pertama tari Gending Sriwijaya pertama kali ditampilkan. Adapun tempat penampilan diadakan di halaman Masjid Agung Palembang. “Tepak” yang berisi kapur, sirih, pinang dan ramuan lainnnya dipersembahkan sebagai ungkapan rasa bahagia.

Pada saat itu, tarian dipimpin oleh Sukainah A. Rozak yang membawa Tepak Sirih, Gustinah A. Rachman dan Siti Nurani As’ari selaku pengalung bunga (pengganti pridonan), dengan penari-penari antara lain: Delima A. Rozak, Tuhfah, Busroh Yakib, R. A. Tuty Zahara Akib dan beberapa yang lainnya. Di masa Kemerdekaan RI, secara mantap menjadikan Gending Sriwijaya sebagai tarian untuk menyambut tamu-tamu resmi pemerintahan yang berkunjung ke Sumatera Selatan.

Sumber: Elly Anggraini Soewondo (Maestro tari Gending Sriwijaya)

Menulis Kreatif Mengisi Bulan Ramadhan

0
peserta diskusi menulis kreatif (23/5)

Padang – Mengisi waktu di bulan puasa, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat menggelar Diskusi Menulis Kreatif. Kegiatan ini diadakan sebanyak 4 kali pertemuan selama ramadhan dan melibatkan 4 narasumber baik akademisi maupun media cetak lokal. Rencana diskusi menulis ini dilaksanakan tiap hari rabu, dimulai dari 23 Mei 2018.

Menurut Kepala BPNB Sumatera Barat kegiatan menulis kreatif sangat penting bukan hanya menambah wawasan dalam berbahasa, tapi lebih penyiaran ilmu pengetahuan. Hal ini juga berkaitan dengan penyebarluasan informasi mengenai kebudayaan sebagaimana tuga kantor sebagai pelestari budaya.

“pelestarian nilai budaya perlu didukung tulisan, karena tulisan merupakan sumber pengetahuan abadi” jelasnya.

Pada diskusi kali ini, didapuk sebagai narasumber adalah Sudarmoko, dosen Universitas Andalas sekaligus kandidat doktor di Leiden University.

Menulis kreatif ini merupakan wadah untuk meningkatkan keterampilan pegawai untuk menyajikan dan menginformasikan kebudayaan kepada masyarakat. Melalui diskusi ini ditemukan bahwa persoalan sesungguhnya adalah bagaimana menyajikan data-data yang ada menjadi tulisan populer dan ringan yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat awam sekalipun.

Kegiatan ini diikuti oleh sebagian besar pegawai baik peneliti maupun bagian publikasi dan dokumentasi.

Bujang Kurab: Pengembara Sakti yang Budiman

0

Selain cerita Silampari yang cukup fenomenal, masih ada cerita Bujang Kurap atau Embun Semibar yang cukup terkenal di Kota Lubuklinggau. Cerita ini berkisah tentang tokoh legendaris Lubuklinggau.

Bujang Kurap, biasa juga dikenal dengan nama Embun Semibar, tokoh legendaris Lubuklinggau. Bujang Kurap terkenal sakti diseantero negeri, khususnya pada beberapa negeri di sekitar Bukit Sulap Lubuklinggau. Meskipun memiliki tubuh yang penuh dengan kurap dia tidak pernah putus asa dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Pengembaraannya di banyak negeri selalu meninggalkan cerita tentang kepahlawanan serta keramahannya dalam bergaul. Dia senang menolong orang yang berada dalam kesusahan serta senantiasa menjauhkan diri dari sifat sombong. Kesaktian yang dimiliki Bujang Kurap mendatangkan manfaat bagi banyak orang.

Bujang Kurap dilahirkan di daerah melayu Bangko, Sarolangun Jambi. Bujang Kurap berasal dari keluarga elit tradisional menurut garis keturunan Datuk Saribijaya yang mempersunting Putri sari Banilai. Dt. Saribijaya berasal dari Kerajaan Pagaruyung Minangkabau. Oleh karena itu, tidaklah heran bila Bujang Kurap terus tumbuh menjadi remaja yang berkepribadian luhur. Bujang Kurap sangat suka menuntut ilmu, baik ilmu kemasyarakatan dan terlebih lagi ilmu kesaktian.

Sedari kecil penyakit kurap telah diderita Bujang Kurap. Meskipun tidak berada di sekujur tubuhnya, namun penyakit tersebut seakan telah menjadi bagian dari takdir hidup Bujang Kurap. Pada mulanya penyakit kulit tersebut sangat mengganggu pergaulan Bujang Kurap. Dia merasa enggan untuk bergaul dengan masyarakat. Dia takut kehadirannya di tengah masyarakat hanya akan membuat resah dan ketakutan.

Nama Embun Semibar lekat di diri Bujang Kurap setelah menyelesaikan pertapaan panjang guna memeperdalam ilmu kesaktian. Nama tersebut merupakan pemberian gaib yang diterima Bujang Kurap setelah berhasil dengan tapanya. Bujang Kurap telah memiliki kesaktian yang tinggi dan semenjak itu penyakit Kurap betul-betul memenuhi sekujur tubuhnya.

Salah satu kesaktian Bujang Kurap adalah kemampuannya berubah rupa. Bujang Kurap bisa berubah menjadi apapun yang dia inginkan. Meskipun demikian, ilmu berubah rupa tidak pernah digunakannya untuk kejahatan. Di samping mampu berubah rupa, kurap di tubuh Bujang Kurap adalah senjata ampuh yang pada saat-saat tertentu digunakannya untuk mengalahkan musuh. Kelupas kurap Bujang Kurap akan berubah menjadi besi baja yang tajam serta sangat mumpuni untuk membunuh-lawan-lawannya. Tidak jarang Bujang Kurap terpaksa menggunakan lempeng-lempeng baja yang berasal dari kurap yang dia derita. Lawan sakti yang mesti dia hadapi pada satu waktu memaksa Bujang Kurab menggunakan lempeng baja yang berasal dari kelupas kulitnya karena penyakit kurab yang diderita.

Bujang Kurap mengembara dari satu negeri ke negeri lain, dari satu kerajaan ke kerajaan lain. Buruk rupa, senantiasa dibrnci dan dicaci, namun tidak pernah berhenti menebar kebikan. Setiap singgah di suatu negeri Bujang Kurap selalu meninggakan cerita baik. Orang-orang yang ditinggalkan akan selalu mengenang pertolongan Bujang Kurap. Mereka berhutang budi karena biasanya tidak akan sempat membalas jasa. Berterima kasih pun kadang tidak sempat. Setelah memberikan pertolongan Bujang Kurap lebih memilih untuk pergi secara gaib sehingga tidak diketahui oleh orang. Itulah Bujang Kurap, penebar kebaikan ampa berharap adanya balasan dari orang-orang yang ditolong.

Dalam pengembaraan panjangnya Bujang Kurap menimba banyak pengalaman dan ilmu yang bermanfaat. Ilmu kesaktiannya semakin mumpuni dan tidak terklahkan. Bujang Kurap pun bertemu dengan banyak pendekar sakti dalam perjalanannya menumpas kejahatan.Diusia tuanya kelak, segala ilmu dan pengalaman yang dimiliki dipraktikkan dalam pengabdiannya kepada masyarakat. Di Ulak Lebar, sebuah negeri yang terletak di lembah Bukit Sulap Lubuklinggau, di daerah inilah Bujang Kurap menghabiskan masa tunya. Masyarakat Ulak Lebar menerima Bujang Kurap apa adanya. Buruk Rupa yang dimiliki Bujang Kurap tidaklah penting bagi penduduk Ulak Lebar karena yang mereka butuhkan adalah pengalaman dan ilmu Bujang Kurap. Bujang Kurap adalah tokoh pengembara rendah hati. Meskipun berilmu tinggi Bujang Kurap tetaplah rendah hati.

Di kawasan Negeri Ulak Lebar, sebuah kawasan yang subur di kaki Bukit Sulap, Bujang Kurap menyudahi pengembaraannya. Lingkungan alam ulak Lebar sangatlah strategis. Kawasan ini dibentuk oleh tiga aliran sungai, yaitu Sungai Kesia, sungai Katie dan sungai Kelingi. Di kawasan inilah sekarang terdapat menhir-menhir yang berjajar sebagai buah peradaban megelitikum. Menhir-menhir itu adalah adalah bukti pekuburan para kaum elit tradisional masyarakat Negeri Ulak Lebar pada zaman dahulu.

Di antara makam para pemimpin Negeri Ulak Lebar, tepatnya di tepi Sungi Kelingi dan sebelah Selatan Benteng Kuto Ulak Lebar, terdapat sebuah kuburan  yang dibri tanda berupa sepasang megalitik. Masyarakat Lubuklinggau sekarang percaya bahwa ituah tempat persemayaman jasad Bujang Kurap atau Embun Semibar. Hingga sekarang kuburan Bujang Kurap masih dianggap keramat, terutama oleh keturunan penduduk asli ulak Lebar. Masih dapat ditemukan peninggalan para peziarah setelah melakukan ritual di sekitar makam Bujang Kurap, seperti sisa sabut kelapa, piring kaleng dan lain sebagainya. Mereka percaya bahwa lokasi makam Bujang Kurap adalah tempat keramat yang tepat untuk dijadikan lokasi pelaksanaan ritual magis untuk tujuan kebaikan kehidupan di masa sekarang.

Penulis: Hasanadi (Peneliti budaya di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat)

Silampari: Mitos Kerajaan Ulak Lebar

0

Selain cerita Linggau dan Dayang Torek, masih ada cerita Silampari yang cukup terkenal di Kota Lubuklinggau. Cerita ini berkisah tentang mitos kerajaan Ulak Lebar.

Cerita berasal dari sebuah negeri di kaki Bukit Sulap, kebanggaan masyarakat Lubuklinggau sampai zaman sekarang. Di kaki Bukit Sulap, dari arah Barat Laut ke Selatan mengalir Sungai Kasie dan Sungai Ketue. Kedua sungai tersebut bermuara di Sungai Kelingi. Negeri tersebut kemudian menjadi Kerajaan Ulak Lebar serta diperintah oleh Raja Biku. Memiliki kebiasaan sebagai pengembara sakti, Raja Biku bergelar “Delapan Dewa. Raja Biku menguasai ilmu kesaktian yang dimiliki oleh delapan orang dewa. Isteri Raja Biku bernama Putri ayu Selendang Kuning, seorang peri jelita dari alam dewata. Berstatus sebagai permaisuri Raja Biku, Putri Ayu Selendang Kuning adalah adik Dewa Mantra Guru Sakti Tujuh. Dewa mantra dipercaya sebagai utusan kayangan—penjaga Ulak Lebar serta negeri-negeri di sekitarnya.

Raja Biku tidak memiliki keturunan meskipun telah sepuluh tahun berkeluarga dan memerintah di Kerajaan Ulak Lebar. Rakyat Ulak Lebar hidup damai dan sejahtera. Mereka memiliki raja yang memerintah dengan adil dan bijaksana. Sebaliknya, kegelisahan istana beserta seluruh rakyat Ulak Lebar terus menguat, siapa kiranya yang akan mewarisi tahta Raja Biku kelak. Waktu terus berjalan dan Raja Biku kemudian mengadukan kegelisahannya kepada Dewa Mantra Guru Tujuh. Raja Biku dan Putri Ayu Selendang Kuning, setelah menjalankan pertapaan di Bukit Alas Rimba, pada gilirannya beroleh kabar gembira tentang kelahiran anak-anak mereka. Raja Biku akhirnya memiliki keturunan setelah menuruti arahan Dewa Mantra Guru Tujuh.  Enam anak Raja Biku, mereka adalah mu’jizat dari alam dewata, terlahir karena keramat kembang tujuh dari kayangan. Mereka adalah, sang putra mahkota yang diberi nama Sebubur, Dayang Torek, Dayang Jeruju, Dayang Teriji, Dayang Ayu dan Dayang Iring Manis.

Di antara kelima putri Raja Biku, Dayang Torek dikenal sebagai putri raja yang paling cantik. Kecantikan Dayang Torek terkenal ke seantero negeri sehingga kepadanya dilekatkan sebutan “bak peri dari kayangan”. Banyak raja dan pangeran yang berhasrat untuk mempersunting Dayang Torek. Di lain pihak, Sebubur sebagai satu-satunya saudara laki-laki dalam keluarganya terus bertumbuh menjadi seorang pengembara sakti. Dia menimba banyak ilmu kesaktian sebagai persiapan sebelum mewarisi tahta Kerajaan Ulak Lebar. Karenanya Sebubur acap kali meninggalkan keraajaan. Dia mengembara dari satu negeri ke negeri lain. Menjalani pertapaan secara berulang, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, sekaligus menjadi ritual Sebubur dalam memperdalam ilmu kesaktian yang dimiliki.

Sultan Palembang adalah seorang raja yang sangat menginginkan untuk mempersunting Dayang Torek. Sang sultan kemudian mengirim utusan ke Ulak Lebar dengan maksud meminang Dayang Torek. Prosesi pinangan tersebut bertepatan dengan kepergian Raja Biku ke Negeri Cina sekaligus perjalanan Sebubur untuk menyusul ayahanda tercinta. Keluarga istana mengalami kepanikan atas pinangan Sultan Palembang. Dayang Torek menolak pinangan tersebut dan penolakan itulah yang kemudian menjadi pangkal permasalahan yang dihadapi Kerajaan Ulak Lebar. Sultan Palembang merasa tersinggung atas penolakan Dayang Torek serta memutuskan untuk menculiknya dengan menggunakan tangan Raden Bintang. Kerajaan Ulak Lebar merasa terhina dan berduka secara mendalam atas kejadian tersebut.

Lama berlalu, Sebubur pun kembali dari perjalanan panjangnya menyusul keberangkatan Raja Biku. Dia kembali ke Ulak Lebar dengan tangan hampa karena tidak mampu membawa serta Raja Biku. Sang Raja Ulak Lebar telah silam ke dasar Laut Cina Selatan, memenuhi takdirnya sebagaimana disampaikan dulu oleh Dewa Mantra Raja Tujuh. Sebudur memutuskan untuk menjemput Dayang Torek ke Kesultanan Palembang. Bermodalkan ilmu kesaktian yang tinggi Sebubur akhirnya mampu membawa pulang Dayang Torek yang ternyata telah memiliki seorang bayi, keturunan Raja Pelambang.

Perjalanan pulang Sebubur beserta Dayang Torek ditandai oleh peristiwa tragis meninggalnya bayi Dayang torek di Tangah Sebubur. Bayi tersebut dibunuh karena dianggap akan membawa aib terhadap Kerajaan Ulak Lebar. Dayang Torek tidak menerima kenyataan pahit tersebut. Dayang Torek kemudian memutuskan untuk silam ke alam dewata serta membawa serta bayinya yang telah meninggal dunia. Peristiwa magis silamnya Dayang Torek terjadi di puncak Bukit Sulap. Sebubur tidak berdaya untuk mencegah takdir Dayang Torek. Saudara perempuan yang sangat disayanginya itu memenuhi takdir sebagaimana telah digariskan oleh Dewa Mantra guru Tujuh sejak dahulu kala.

Sebubur, pengembara sakti sekaligus putra mahkota Kerajaan Ulak Lebar, adalah tokoh penting dalam legenda silampari. Perannya dalam cerita menandai silamnya seluruh anggota keluarga istana. Raja Biku yang memenuhi takdir dan silam ke dasar laut Cina selatan, Putri Ayu Selendang Kuning beserta kelima saudara perempuan Sebubur—salah seorangnya adalah Dayang torek, silam kembali ke alam dewata. Bahkan Sebubur kemudian juga tidak bisa menolak takdir. Dia juga ikut silam, meninggalkan Kerajaan Ulak Lebar dan kembali ke alam dewata.

Silampari, begitulah lidah orang Lubuklinggau yang hidup setelah masa Sebubur dan Kerajaan Ulak Lebar. Sebubur beserta seluruh anggota keluarganya meninggalkan alam dunia dan kembali ke alam dewata. Secara terminologi kata silampari bermakna “peri” yang “silam”  dan memang demikian makna yang disematkan oleh orang lubuklinggau hingga masa sekarang.

Penulis: Hasanadi (Peneliti budaya di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat)

Kisah Linggau dan Dayang Torek

0

Kisah Linggau dan Dayang Torek merupakan cerita rakyat yang berasal dari Kota Lubuklinggau. Linggau dan Dayang Torek bercerita tentang asal usul Kota Lubuklinggau.

Alkisah pada zaman kerajaan, Lubuklinggau banyak melahirkan para pendekar yang memiliki ilmu kesaktian tinggi. Pada masa itu, siapa yang paling tinggi ilmu kesaktiannya maka dialah yang berkuasa. Kemampuan ilmu beladiri yang mumpuni serta keterampilan dalam memperbuat hal-hal yang berada di luar akal sehat manusia merupakan ukuran penting sehingga seseorang dihargai di tengah masyarakat. Karenanya, salah satu tujuan hidup di masa itu adalah, menguasai berbagai ilmu kesaktian, meskipun untuk mendapatkannya seeorang harus melalui berbagai rintangan serta marabahaya yang mengancam nyawa. Seseorang dikala itu tidak akan berhenti mencari ilmu kesaktian sebelum dia tersohor keberbagai pelosok karena kesaktian yang dimiliki.

Tersebutlah Linggau, putra mahkota kerajaan, sekaligus tokoh penting legenda lokal Lubuklinggau ini. Linggau adalah putra kesayangan baginda, seorang raja yang dikenal arif serta bijaksana di seantero negeri. Linggau adalah tumpuan harapan istana, penerus serta pewaris kejayaan kerajaan di masa depan. Di luar istana, rakyat kerajaan di lembah Bukit Sulap tersebut hidup damai dan sejahtera. Mereka mencukupi seluruh kebutuhan hidup dengan mengolah serta memanfaatkan berbagai hasil yang telah disediakan oleh alam. Rakyat menjalani kehidupan dengan penuh suka cita serta senantiasa merasa dinaungi oleh keluarga istana. Apalagi, raja mereka terkenal sakti mandraguna. Kesaktian baginda raja tidak hanya dikenal di dalam lingkungan kerajaan. Baginda raja ditakuti oleh para pendekar sakti yang hidup di masa itu, terutama oleh para penjahat dan perampok.

Linggau dikenal mempunyai berbagai ilmu ketangkasan dan kesaktian. Sedari kecil dia telah mewarisi kesaktian sang raja serta menimba ilmu ke berbagai guru yang mumpuni.  Linggau terus bertumbuh menjadi remaja yang memiliki kepribadian muliya. Wajah rupawan menjadikan Linggau sagat disayangi oleh seluruh anggota kerajaan serta senantiasa menjadi buah bibir masyarakat. Banyak para gadis di kerajaan yang mendambakan menjadi pendamping hidupnya. Sayang seribu kali sayang, Linggau belum bermaksud menjatuhkan pilihannya pada seorang gadis. Sebagai pewaris tahta Linggau menyadari tugas serta tanggung jawabnya kelak. Karena itu, yang terpenting bukanlah segera menikah serta menjalani kehidupan berumah tangga. Tugasnya sekarang mengumpulkan banyak bekal pengetahuan sebagai calon pewaris tahta kerajaan. Berilmu tinggi, baik ilmu kesaktian, maupun ilmu tentang pemerintahan.

Pilihan hidup tidak segera mempersunting seorang gadis menjadikan Linggau dijuluki ”bujang tua”. Namun demikian, julukan tersebut tidaklah menjadikan Linggau surut dari keputusan yang diambil. Dia tetap dengan sikapnya, menimba banyak pengalaman serta memilih untuk tidak segera menikah. Apalagi, dia memiliki Dayang Torek, adik perempuannya yang cantik jelita. Kecantikan Dayang Torek tersebar sampai ke kerajaan tetangga. Linggau sangat menyayangi Dayang Torek. Dia sadar bahwa Dayang Torek adalah incaran setiap pemuda di kerajaan bahkan oleh mereka yang berasal dari kerajaan tetangga tersebut. Karena itu, tanggung jawabnya adalah melindungi Dayang Torek. Linggau tidak mencemaskan setiap pemuda yang ada di kerajaan. Sebaliknya, gelagat kurang baik justru muncul dari para raja dan pengeran sakti yang berasal dari kerajaan tetangga. Mereka mengincar Dayang Torek dan tentunya akan menempuh segala cara untuk dapat mempersuntingnya.

Kecantikan Dayang Torek terdengar oleh seorang pendekar sakti yang bernama Si Pahit Lidah. Sesuai dengan namanya, Si Pahit Lidah memiliki sumpah yang sakti. Perkataan Si Pahit Lidah adalah kenyataan pahit bagi setiap yang mendengarnya. Siapa yang tidak suka akan merasakan akibat dari sumpah sakti Si Pahit Lidah. Linggau makin mengkhawatirkan keselamatan Dayang Torek yang ternyata tidak menyenangi Si Pahit Lidah. Si Pahit Lidah berkeinginan mempersuntingnya dan seluruh anggota kelurga kerajaan tidak merestui. Untuk menghindari Si Pahit Lidah, Linggau pun menyembunyikan Dayang Torek di dasar sungai. Linggau sengaja membuat sebuah lubuk yang dalam dengan menancapkan taring giginya ke dasar sungai. Disitulah Dayang Torek bersembunyi. Dayang Torek selamat dari incaran Si Pahit Lidah. Bukan hanya itu, tidak seorang pun mengetahui keberadaan lubuk persembunyian Dayang Torek.

Masyarakat Lubuklinggau percaya bahwa dari banyaknya lubuk yang terdapat di sungai Lubuklinggau, lubuk yang konon menjadi tempat persembunyian Dayang Torek pada zaman dahulu adalah keramat serta memiliki keanehan. Lubuk itu kecil namun sangat dalam. Sampai sekarang lubuk itu dianggap sakti serta kemudian ditakuti. Masyarakat percaya bahwa dalam setiap tahun lubuk tersebut  akan memakan korban. Mereka adalah para gadis berwajah cantik yang akan menemani Dayang Torek dalam persembunyiannya.

Karena yang membuat lubuk tersebut adalah Linggau maka lubuk tersebut dinamakan “Lubuklinggau”. Lubuk itu berada tepat di bawah jembatan yang terletak di Dusun Linggau Kelurahan Linggau Kecamatan Lubuklinggau Barat I. Lubuk tersebut kecil dan dalam serta air di atasnya sangat tenang. Tidak pernah ada batu yang menutupi lubuk tersebut. Pada zaman dahulu daerah di sekitar Lubuk tersebut dikenal dengan nama Dusun Linggau. Sekarang, menjadi nama sebuah kota, Kota Lubuklinggau.

Oleh: Hasanadi (Peneliti budaya di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat)

Dialog Sejarah dan Budaya Maritim di Kabupaten Pasaman Barat

0

Pasaman – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat mengadakan Dialog Sejarah dan Budaya Maritim. Kegiatan dilaksanakan pada Senin, 7 Mei 2018 di Ruang Auditorium Kantor Bupati Pasaman Barat. Pembukaan secara resmi dilakukan oleh Bupati Pasaman Barat Sahiran, MM.

Dalam sambutannya, Suarman melaporkan bahwa kegiatan diikuti oleh 50 orang peserta yang berasal dari Pemda/instansi terkait sebanyak 16 orang, guru SLTA se-Kabupaten Pasaman Barat sebanyak 14 orang dan guru SLTP se-Kabupaten Pasaman Barat sebanyak 20 orang.  Kebudayaan itu meliputi semua aspek kehidupan. Kebudayaan juga menjadi magnet pembangunan pariwisata. Pasaman Barat adalah salah satu basis kebudayaan di Sumatera Barat.

Suarman juga berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman Barat bisa segera menyusun pokok-pokok pikiran kebudayaan daerahnya sesuai dengan petunjuk dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kalau pokok pikiran kebudayaan ini sudah selesai, nantinya akan ada Dana Alokasi Kebudayaan untuk pemerintah daerah.

Sementara itu Bupati Pasaman Barat, Sahiran, MM dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada BPNB Sumatera Barat yang bersedia melaksanakan kegiatan ini di Pasaman Barat. Dia mendukung kegiatan ini dan berharap melalui para peserta bisa mendapatkan ilmu yang banyak tentang sejarah dan budaya maritim sehingga ilmu tersebut bisa diterapkan kepada anak didik. Kebudayaan penting untuk pembentukan karakter bangsa, terutama generasi muda . Beliau juga berharap bahwa Pasaman Barat bisa menggali potensi sejarah dan budayanya sendiri sehingga mempunyai identitas diri.

Kegiatan ini adalah sebuah program yang bertujuan untuk menggali persoalan – persoalan sejarah dan budaya maritim yang ada di Kabupaten Pasaman Barat. Selain itu, kegiatan ini juga mempunyai misi untuk mensosialisasikan beberapa hasil penelitian BPNB Sumatera Barat yang pernah dilaksanakan di Kabupaten Pasaman Barat. Dia menyampaikan bahwa Indonesia diakui sebagai super power kebudayaan di dunia.

Selama kegiatan, ada 5 orang narasumber yang akan membahas sejarah dan budaya kemaritiman di Pesisir Barat Sumatera khususnya Kabupaten Pasaman Barat yakni:

  1. Suarman tentang Pelestarian Kebudayaan Daerah
  2. Dr. Phil Gusti Asnan tentang Pantai Barat Sumatera Dalam Perspektif Sejarah
  3. Jonnedi, M. Si tentang Pandangan Akademisi Terhadap Potensi Kemaritiman Pasaman Barat
  4. Abdullah Munzir tentang Pemberdayaan Masyarakat Maritim
  5. Drs. Refisrul tentang Potensi Sosial Budaya Masyarakat Pesisir di Kabupaten Pasaman Barat

Tari Pemulia Jame dan Tari Piasan Raya

0
Salah satu gerak tari Piasan Raya yang dibawakan oleh Sanggar Meurunoe Art pada gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Kabupaten Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Sumbar sukses menggelar Gebyar Seni Budaya Multikultural se-Indonesia di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan dua hari berturut-turut yakni Minggu-Senin, 15-16 April 2018. Sebanyak 11 sanggar seni yang mewakili 11 BPNB seluruh Indonesia ikut terlibat menampilkan kesenian khas masing-masing daerah. Ada dua kategori penampilan kesenian yang ditampilkan yakni tari tradisional pada hari pertama dan tari kreasi pada hari kedua.

Salah satu gerak tari Pemulia Jame yang dibawakan oleh Sanggar Meurunoe Art pada gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Kabupaten Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Pada tari tradisional, tim Aceh yang diwakili sanggar Meurunoe Art menampilkan tari pemulia Jame (memuliakan tamu). Tarian ini merupakan pengembangan dari tari tradisional Ranup Lampuan. Tari Pemulia Jame berarti memuliakan tamu dengan di sambut dan di sajikan ranup (sirih) dan makanan-makanan khas Aceh.

Salah satu gerak tari Piasan Raya yang dibawakan oleh Sanggar Meurunoe Art pada gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Kabupaten Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Selanjutnya untuk tari kreasi mereka menampilkan Tari Piasan Raya (pesta panen) yaitu tari yang diangkat dari kebiasaan masyarakat Aceh yang selalu merayakan pesta panen dengan menampilkan tarian dari wujud kebahagiaan dan rasa syukur atau hasil panen yang di capai.

Salah satu gerak tari Piasan Raya yang dibawakan oleh Sanggar Meurunoe Art pada gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Kabupaten Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Salah satu gerak tari Piasan Raya yang dibawakan oleh Sanggar Meurunoe Art pada gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Kabupaten Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Tari Lenggeran dan Tari Keprak Kanak

0
Salah satu gerak tari Keprak Kanak yang dibawakan Bale Seni Wasana Nugraha dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Kabupaten Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Sumbar sukses menggelar Gebyar Seni Budaya Multikultural se-Indonesia di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan dua hari berturut-turut yakni Minggu-Senin, 15-16 April 2018. Sebanyak 11 sanggar seni yang mewakili 11 BPNB seluruh Indonesia ikut terlibat menampilkan kesenian khas masing-masing daerah. Ada dua kategori penampilan kesenian yang ditampilkan yakni tari tradisional pada hari pertama dan tari kreasi pada hari kedua.

Salah satu gerak tari lenggeran yang dibawakan Bale Seni Wasana Nugraha dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Kabupaten Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Penampilan BPNB Yogyakarta diwakili Bale Seni Wasana Nugraha dengan tari Lenggeran, yaitu salah satu kesenian khas Banyumas Jawa Tengah. Secara utuh, kesenian ini tampil dalam beberapa babak, yakni gambyongan, badoran, hingga baladewan. Supriyadi menyusun koreografi Lenggeran pada tahun 1985, berpijak dari ragam gerak gambyongan lantas distilir dan dibakukan dalam struktur gerak.

Salah satu gerak tari lenggeran yang dibawakan Bale Seni Wasana Nugraha dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Kabupaten Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Dalam penampilan tari kreasi, Bale Seni Wasana Nugraha menampilkan tari Keprak Kanak, Tari ini menggambarkan  gadis – gadis yang bersuka ria di bawah sinar purnama. Keberagaman bukan menjadi penghalang bersuka cita saling membantu dan gotong royong.

Salah satu gerak tari Keprak Kanak yang dibawakan Bale Seni Wasana Nugraha dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Kabupaten Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Salah satu gerak tari Keprak Kanak yang dibawakan Bale Seni Wasana Nugraha dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Kabupaten Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Tari Balalek dan Tari Masang Pantak

0
Salah satu gerak tari Masang Pantak yang dibawakan sanggar seni Simpor dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Sumbar sukses menggelar Gebyar Seni Budaya Multikultural se-Indonesia di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan dua hari berturut-turut yakni Minggu-Senin, 15-16 April 2018. Sebanyak 11 sanggar seni yang mewakili 11 BPNB seluruh Indonesia ikut terlibat menampilkan kesenian khas masing-masing daerah. Ada dua kategori penampilan kesenian yang ditampilkan yakni tari tradisional pada hari pertama dan tari kreasi pada hari kedua.

Salah satu gerak tari balalek yang dibawakan sanggar seni Simpor dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Kalimantan Barat yang diwakili Sanggar Seni Simpor pada pertunjukan kesenian tradisionalnya menampilkan Balalek, Balalek dalam bahasa Dayak artinya gotong royong atau bekerja bersama-sama yang dilakukan oleh suku Dayak dari membuka lahan hingga panen. Ada beberapa tahapan seperti membuka lahan, menanam benih padi, panen padi dan menjadikan padi menjadi beras. Tari ini digarap sesuai dengan kaedah-kaedah tari Dayak khususnya tari pertunjukan.

Salah satu gerak tari balalek yang dibawakan sanggar seni Simpor dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Pada penampilan seni kreasi, mereka menampilkan tari Masang Pantak. Tari ini menceritakan Alam  dan manusia dijadikan objek kepentingan merusak kehidupan alam dan lingkungan menjadi kebutuhan, sementara masyarakat pedalaman hidup di alam tradisional.  merusak, memusnahkan adalah perbuatan keji hingga masyarakat mendapat malapetaka, ingkar kesepakatan berarti berhadapan dengan alam. Mampukah objek penyesalan diakhiri oleh pasang pantak ? Dengan pasang pantak manusia merasa bersalah dan meminta pengampunan kepada roh-roh halus yang telah terganggu dengan kerusakan alam sebagai tempat tinggalnya.

Salah satu gerak tari Masang Pantak yang dibawakan sanggar seni Simpor dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Roh-roh halus pun dipindahkan ke media patung atau pantak melalui sebuah upacara, khususnya membaca mantra, menabur beras kuning,memepas pantak dengan daun juang, membunyikan besi ke tempat yang akan  dipasang pantak . Semua yang dilakukan semata untuk memanggil roh-roh para leluhur yang dianggap mampu menjaga pelestarian alam, dan rasa penghormatan kepada roh-roh halus yang  telah menjaga alam. Tarian ini digarap sesuai dengan tari pertunjukan, namun tidak meninggalkan kaidah-kaidah tari tradisional.

Salah satu gerak tari Masang Pantak yang dibawakan sanggar seni Simpor dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Tari Telek dan Tari Ala Ayuning Gringsing

0
Salah satu gerak tari Ala Ayuning Gringsing yang dibawakan sanggar seni Eka Dutha dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Sumbar sukses menggelar Gebyar Seni Budaya Multikultural se-Indonesia di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan dua hari berturut-turut yakni Minggu-Senin, 15-16 April 2018. Sebanyak 11 sanggar seni yang mewakili 11 BPNB seluruh Indonesia ikut terlibat menampilkan kesenian khas masing-masing daerah. Ada dua kategori penampilan kesenian yang ditampilkan yakni tari tradisional pada hari pertama dan tari kreasi pada hari kedua.

Salah satu gerak tari Telek yang dibawakan sanggar seni Eka Dutha dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Pada penampilan tari tradisi, BPNB Bali diwakili Sanggar Supraba Eka Dutha menampilkan tari Telek, yaitu tarian sakral (Tari Wali) warisan leluhur yang pantang tidak dipentaskan. Sangat diyakini pementasan tari ini adalah sarana untuk “meminang” keselamatan dunia, khususnya bagi banjar atau desa adat masyarakat pendukungnya.

Salah satu gerak tari Telek yang dibawakan sanggar seni Eka Dutha dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Diyakini juga oleh mereka apabila tidak mementaskan Telek sama halnya dengan mengundang beragam jenis marabahaya. Keyakinan tersebut yang turut menjadikan Tari Kelek tetap lestari hingga saat ini. Bahkan demi menjaga tetamian (warisan) leluhur ini, seluruh pakem pada pementasan Tari Tteelek tetap dipertahankan sebagaimana adanya.

Salah satu gerak tari Ala Ayuning Gringsing yang dibawakan sanggar seni Eka Dutha dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Sementara untuk tari kreasi, tim ini menampilkan tari Ala Ayuning Gringsing  berarti hari yang baik dan indah untuk menenun kain Gringsing. Alkisah Dewa Indra telah memberikan suatu anugerah keahlian seni tenun kepada seluruh masyarakat Desa Tenganan, Pegringsingan kabupaten Karangasem Bali. warga masyarakat begitu kompak, penuh semangat menenun sehingga hasil tenun yang dihasilkan motif – motifnya sangat indah.

Salah satu gerak tari Ala Ayuning Gringsing yang dibawakan sanggar seni Eka Dutha dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah keterampilan menenun kain yang terkenal dengan kain Gringsing tersebut. Masyarakat mencari hari baik dan setiap hari baik tersebut karya tenun tersebut selalu dipersembahkan untuk dihaturkan kepada Dewa Indra agar selalu diberkati dan diberikan berkah kesuksesan dan kelancaran rejeki bagi seluruh  penenun yang ada di desa Tengana Pegringsingan, Kabupaten Karangasem Bali.

Tari Aira dan Tari Atoaiyu

0
Salah satu gerak tari Atoaiyu yang dibawakan Sanggar Ostari dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Sumbar sukses menggelar Gebyar Seni Budaya Multikultural se-Indonesia di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan dua hari berturut-turut yakni Minggu-Senin, 15-16 April 2018. Sebanyak 11 sanggar seni yang mewakili 11 BPNB seluruh Indonesia ikut terlibat menampilkan kesenian khas daerah masing-masing. Ada dua kategori penampilan kesenian yang ditampilkan yakni tari tradisional pada hari pertama dan tari kreasi pada hari kedua.

Salah satu gerak tari Aira yang dibawakan Sanggar Ostari dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Papua diwakili Sanggar Ostari pada penampilan tari tradisi menampilkan Aira, Tari ini diangkat dari tradisi orang-orang Suku Yawah-Onate di Kabupaten Kepulauan Yapen. Tari ini diadakan sebagai suatu tari penyambutan bagi seseorang yang baru saja pulang dari negeri yang jauh (negeri yang baru di kunjunginya). Orang tersebut disambut dengan sebuah tari penyambutan yang dinamai dengan Tari Aira.

Salah satu gerak tari Aira yang dibawakan Sanggar Ostari dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Pada penampilan tari kreasi, Sanggar Ostari menampilkan tari Atoaiyu (sang penguasa hutan). Tari ini menggambarkan bahwa konon ada legenda di Kabupaten Mimika (Pantai Selatan Pulau Papua) ada sesosok penguasa hutan yang bernama Atoaiyu. Hutan itu sangat dijaganya dengan baik, tidak ada seorang pun boleh masuk ke sana, mengambil hasilnya dan merusaknya. Atoaiyu sangat marah apabila ada yang melanggarnya.

Salah satu gerak tari Atoaiyu yang dibawakan Sanggar Ostari dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Suatu ketika ada sekelompok orang kampung laki-laki dan perempuan, mereka secara diam-diam berdayung dengan perahu lalu masuk ke hutan dan merusak hutannya. Sang Atoaiyu dengan kekuatan gaibnya mengetahui rencana mereka. Atoaiyu sangat marah murka, dengan kekuatan gaibnya dia menahan perempuan-perempuan itu. Dia mengutuk mereka menjadi ubur-ubur secara turun temurun. Orang-orang suku Kamoro di pesisir daerah itu percaya bahwa adanya ubur-ubur karena kutukan si Atoaiyu.

Salah satu gerak tari Atoaiyu yang dibawakan Sanggar Ostari dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Tari Saputangan dan Tari Rantak Tungga

0
Salah satu gerak tari Rantak Tungga yang dibawakan oleh Sanggar San Alida dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Sumbar sukses menggelar Gebyar Seni Budaya Multikultural se-Indonesia di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan dua hari berturut-turut yakni Minggu-Senin, 15-16 April 2018. Sebanyak 11 sanggar seni yang mewakili 11 BPNB seluruh Indonesia ikut terlibat menampilkan kesenian khas masing-masing daerah. Ada dua kategori penampilan kesenian yang ditampilkan yakni tari tradisional pada hari pertama dan tari kreasi pada hari kedua.

Salah satu gerak tari Saputangan yang dibawakan oleh Sanggar San Alida dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Sumatera Barat diwakili Sanggar Seni San Alida menampilkan tari Saputangan, salah satu tradisi yang hidup dan berkembang di Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan. Tari ini bersifat hiburan sebagai penggambaran hasil panen masyarakat. Dahulu tari ini hanya ditarikan oleh laki – laki berpasangan.

Salah satu gerak tari Saputangan yang dibawakan oleh Sanggar San Alida dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Dalam perkembangannya tari ini boleh ditarikan baik laki – laki dan perempuan atau perempuan dan perempuan dengan menggunakan properti saputangan. Walaupun demikian gerak – gerak tari saputangan bersumber dari gerak – gerak tari tradisi yang ada di Kecamatan Bayang. Ciri – cirinya posisi badan selalu condong ke depan. Musik pengiring tari adalah talempong, gandang dan pupuik katopong dengan irama ritmis.

Salah satu gerak tari Rantak Tungga yang dibawakan oleh Sanggar San Alida dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Kemudian pada penampilan tari kreasi, sanggar San Alida menampilkan tari Rantak Tungga terinspirasi dari salah satu nama gerak tari tradisional Pesisir Selatan, yakni Tari Benten. Tungga yang berarti tunggal atau satu. Pada garapan ini rantak tungga yaitu prinsip teguh untuk mencapai satu tujuan.

Salah satu gerak tari Rantak Tungga yang dibawakan oleh Sanggar San Alida dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Rantak tungga menginspirasi generasi muda untuk menjadi generasi pantang mundur dalam mencapai tujuan untuk satu keinginan dalam melangkah menuju masa depan. Namun terkadang dalam hidup ini kita tidak bisa sendirian, pastinya membutuhkan orang lain juga untuk memujudkan impian yang satu “basamo mako manjadi”. Gerakan yang dipakai merupakan adopsi dari gerak – gerak dalam tari benten dan rantak kudo, serta perpaduan unsur – unsur yang terdapat pada randai.

Tari Ketuk Tilu Keser Bojong dan Tari Gandrung Bandung

0
Salah satu gerak tari Gandrung Bandung yang dibawakan Sanggar Seni Dwi Arta dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Sumbar sukses menggelar Gebyar Seni Budaya Multikultural se-Indonesia di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan dua hari berturut-turut yakni Minggu-Senin, 15-16 April 2018. Sebanyak 11 sanggar seni yang mewakili 11 BPNB seluruh Indonesia ikut terlibat menampilkan kesenian khas masing-masing daerah. Ada dua kategori penampilan kesenian yang ditampilkan yakni tari tradisional pada hari pertama dan tari kreasi pada hari kedua.

Salah satu gerak tari Ketuk Tilu Keser Bojong yang dibawakan Sanggar Seni Dwi Arta dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Jawa Barat diwakili Sanggar Dwi Arta menampilkan Ketuk Tilu Keser Bojong adalah tarian tradisional Jawa Barat, sebagai tarian hiburan atau tarian pergaulan. Tari Ketuk Tilu ini sering ditampilkan pada acara seperti pesta perkawinan, hiburan, penutup acara dan lain-lain. Tarian ini juga merupakan cikal bakal dari tari Jaipong yang sangat terkenal di Jawa Barat.

Salah satu gerak tari Ketuk Tilu Keser Bojong yang dibawakan Sanggar Seni Dwi Arta dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (15/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Keser Bojong. Keser berarti bergerak dari tempat asal ke tempat lain atau perubahan dari suatu posisi ke posisi yang lebih tepat. Bojong adalah nama tempat diciptakannya tarian ini, yakni di Bojongloa. Isi tarian ini berkaitan dengan kehidupan kita, dan intisari gambarannya mengungkapkan tentang pergeseran nilai‑nilai kehidupan dalam upaya mencapai suatu tujuan.

Tarian ini merupakan tarian jenis putri tunggal, namun bisa juga digarap khusus pola lantainya untuk keperluan pertunjukan dalam bentuk tari kelompok. Adapun karawitan ditata dengan lagu khusus yang dinyanyikan juru sinden dan diberi judul Daun Pulus Keser Bojong.

Salah satu gerak tari Gandrung Bandung yang dibawakan Sanggar Seni Dwi Arta dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Sementara untuk tari kreasi, sanggar Dwi Arta menampilkan Tari Kreasi Gandrung Bandung. Tari ini melambangkan identitas kota tari yang dimiliki Jawa Barat, yang penuh dengan kearifan budaya. Tari ini disuguhkan dalam bentuk tarian modern, yang berlandaskan pada keceriaan dan keramahan penduduk Jawa Barat. Selain itu Tari Kreasi Gandrung Bandung pun  menggambarkan keindahan dan keelokan (bahari) Kota Bandung.

Salah satu gerak tari Gandrung Bandung yang dibawakan Sanggar Seni Dwi Arta dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultur (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Tari Mogama dan Tari Motobatu Molintak Kon Tobabuan

0
Salah satu gerak tari Motobatu Molintak Kon Tobabuan yang dibawakan Sanggar Seni Tiara Fitrah dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultural (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Sumbar sukses menggelar Gebyar Seni Budaya Multikultural se-Indonesia di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan dua hari berturut-turut yakni Minggu-Senin, 15-16 April 2018. Sebanyak 11 sanggar seni yang mewakili 11 BPNB seluruh Indonesia ikut terlibat menampilkan kesenian khas masing-masing daerah. Ada dua kategori penampilan kesenian yang ditampilkan yakni tari tradisional pada hari pertama dan tari kreasi pada hari kedua.

Salah satu gerak tari Mogama yang dibawakan Sanggar Seni Tiara Fitrah dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultural (15/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

BPNB Sulawesi Utara diwakili Sanggar Tiara Fitrah menampilkan tari mogama untuk tari tradisional. Tari mogama adalah tari yang menggambarkan upacara adat perkawinan Bolaang Mongondow yang disebut adat Mogama. Mogama itu sendiri memilik arti menjemput pengantin wanita oleh pengantin pria untuk diakui sebagai bagian dari keluarga pengantin pria. Adat Mogama ini dilakukan setelah selesai akad nikah dan pesta perkawinan oleh keluarga mempelai wanita.

Salah satu gerak tari Mogama yang dibawakan Sanggar Seni Tiara Fitrah dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultural (15/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Adat Mogama menjadi perlambang atas cara masyarakat Bolaang Mongondow memberikan pengahrgaan yang tinggi terhadap derajat wanita. Dalam prosesi adat Mogama ini terdiri atas 13 tahapan yang harus dilalui dan salah satunya tahapan dimana pengantin wanita dijemput dengan payung yang bearti perlindungan terhadap wanita. Mogama bermakna penghormatan atas harkat martabat wanita Bolaang Mongondow.

Salah satu gerak tari Motobatu Molintak Kon Tobabuan yang dibawakan Sanggar Seni Tiara Fitrah dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultural (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Kemudian untuk tari kreasi, mereka menampilkan Tari Motobatu Molintak Kon Tobabuan artinya bersatu, berjuang membangun daerah Totabuan. Tarian ini menggambarkan keperkasaan dan kesatriaan para pemimpin Bogani dalam membela, melindungi dan memperjuangkan hak–hak masyarakat.

Salah satu gerak tari Motobatu Molintak Kon Tobabuan yang dibawakan Sanggar Seni Tiara Fitrah dalam gelaran Gebyar Seni Budaya Multikultural (16/4) di Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Kemampuan fisik yang kuat bersifat pemberani, bijaksana, berpikiran cerdas dan disegani oleh masyarakat serta mempunyai tanggung jawab terhadap kecerdasan dan keselamatan seluruh masyarakat dari gangguan musuh yang datang menyerang di tanah Totabuan. Kriteria itulah yang dimiliki oleh para pemimpin Bolaang Mongondow saat itu. Dengan demikian masyarakat mengabadikannya berupa patung Bogani dan Tugu sebagai simbol para leluhur oleh masyarakat Bolaang Mongondow.

Tari Pattenung dan Tari I Mangkawani Ana’Arung

0

Pessel – BPNB Sumbar sukses menggelar Gebyar Seni Budaya Multikultural se-Indonesia di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan dua hari berturut-turut yakni Minggu-Senin, 15-16 April 2018. Sebanyak 11 sanggar seni yang mewakili 11 BPNB seluruh Indonesia ikut terlibat menampilkan kesenian khas masing-masing daerah. Ada dua kategori penampilan kesenian yang ditampilkan yakni tari tradisional pada hari pertama dan tari kreasi pada hari kedua.

BPNB Sulawesi Selatan dalam kesempatan tersebut diwakili Sanggar Bolong Ringgi menampilkan tari tradisional yaitu Tari Pattennung, tari daerah Sulawesi Selatan yang menggambarkan kesabaran, ketekunan, serta kegigihan perempuan bugis dalam menenun benang helai demi helai hingga menjadi selembar kain.

Sementara untuk tari kreasi, mereka menampilkan tari I Mangkawani Ana’ Arung. I Mangkawani Ana’ Arung merupakan turunan para datu dari Tana Ogi. Sejak kecil dia telah dijodohkan dengan putra mahkota Datu Luwu Mappajungnge. Namun apa daya hati I Mangkawani telah tertambat pada kawan sejak kecil putra Karaeng Tana Batu La Domai.

Nasib I Mangkawani dan La Domai bagaikan kumbang di tangkai rapuh, tersentuh angin pun tangkainya akan patah. Betapa tidak, bila perjanjian kedua Datu yang dimahkotai adat ini diingkari itu berarti Siri’. Sementara kesetiaan pada kekasih merupakan kewajiban mutlak yang tak dapat dicedarai.  I Mangkawani dan La Domai pasrah pada takdir demi bakti dan kesetiaan, ketika adat menetapkan aturan yang menjadi milik semua orang di Tana Ogi.

La Domai tertikam oleh badik Tonrawali saudara I Mangkawani dalam satu lingkaran sarung. Dalam kepedihan itu, roh suci We Sangiang I Mangkawani merontak merobek dan mencabik-cabik tumpangan raganya, awan pun berarak di atas titian takdir mengantar I Mangkawani menyeberang roh jiwanya menemui sang kekasih di Bottinglangi, “Uleng Lolo Labuede” Bulan Muda Terbenam.

Lokakarya Penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Klaster 3 Resmi Dibuka

0

Padang – Lokakarya Penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah  Klaster 3 wilayah Sumatera Barat dan Bengkulu secara resmi dibuka. Kegiatan dilaksanakan di Ruang Ombilin Hotel Grand Inna Padang pada 26 April 2018. Pembukaan dilakukan oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat H. Nasrul Abit. Turut hadir dalam pembukaan tersebut staf ahli menteri pendidikan dan kebudayaan bidang regulasi Katarina Mulyana, Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Sri Hartini, Kepala-kepala UPT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Bupati/Walikota se-Sumatera Barat dan Bengkulu atau perwakilan serta perwakilan komunitas-komunitas budaya.

Menurut laporan panitia yang disampaikan Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman, peserta dalam lokakarya ini berasal dari 19 kabupaten/kota se-Sumatera Barat, 10 Kabupaten/Kota de Provinsi Bengkulu serta 27 stakeholder yang terdiri dari komunitas-komunitas budaya di dua provinsi. Dari rincian undangan tersebut 80 orang telah mengonfirmasi kehadiran. Suarman dalam kesempatan ini menambahkan bahwa maksud kegiatan ini adalah untuk menciptakan grand design pemajuan kebudayaan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat mengubah mindset yang menganggap bahwa kebudayaan bukan hanya sebatas seni.

Sementara itu staf ahli bidang regulasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Katarina Mulyana menyampaikan apresiasinya kepada seluruh undangan yang hadir dalam kegiatan ini. Dia menambahkan bahwa kegiatan ini tidak lepas dari lahirnya undang-undang pemajuan kebudayaan yang sudah ditunggu-tunggu selama 35 tahun. Selanjutnya dia menyampaikan bahwa Undang-undang ini akan mengubah perspektif baru yaitu bagaimana negara dan pemerintah memandang urusan kebudayaan dalam kerangka kerja program pemerintah dari pusat ke daerah.

Selain itu undang-undang ini juga memberi arahan dasar bagaimana pemerintah pusat dan daerah memfasilitasi pemajuan kebudayaan bagi masyarakat yang menjalankan kebudayaannya sehari-hari. Katarina menambahkan bahwa undang-undang ini menunjukkan komitmen pemerintah pusat sebagai pelaksana tata kelola bukan sebagai penentu pemajuan kebudayaan. Dalam hal ini peran masyarakat harus dikuatkan sebagai pemilik kebudayaan. Dia juga berharap penyusunan pokok pikiran ini dapat menghasilkan pemahaman yang sama, dan dengan melibatkan tim ahli yang kompeten dan kredibel, lokakarya dapat menghasilkan pokok pikiran sebagai dasar strategi kebudayaan. Nantinya strategi tersebut menjadi landasan pembuatan kebijakan kebudayaan yakni rencana induk pemajuan kebudayaan.

Wakil gubernur Nasrul Abit dalam kesempatan mengapresiasi kegiatan lokakarya penyusunan pokok pikiran tersebut. Penyusunan ini bertujuan menyusun pokok pikiran yang bisa dipedomani. Hal ini penting untuk pelestarian kebudayaan kita yang memang kaya. Dia juga menambahkan perlunya fanatisme kedaerahan dalam upaya melestarikan budaya. Namun demikian dalam skala nasional harus dapat menyesuaikan diri. Dia juga menekankan bahwa hal paling penting dalam penyusunan pokok pikiran adalah bagaimana merajut kebudayaan menjadi satu kesatuan.

Acara pembukaan dimulai dengan pembacaan doa oleh Hariadi, menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza, laporan panitia, sambutan staf ahli menteri dan pembukaan oleh wakil gubernur Sumatera Barat. Diantara rangkaian kegiatan tersebut ditampilkan tari persembahan dari sanggar seni Rangkiang Minang serta tari payung bagurau.

Setelah pembukaan selesai, selanjutnya pemaparan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Sri Hartini tentang penjelasan mengenai Undang-undang Pemajuan Kebudayaan serta penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah.

Kegiatan lokakarya penyusunan pokok pikiran kebudayan daerah ini akan berlangsung pada 26-28 April 2018.

Tari Timba Laor dan Moluku Osa Lala

0

Pessel – BPNB Sumbar sukses menggelar Gebyar Seni Budaya Multikultural se-Indonesia di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan dua hari berturut-turut yakni Minggu-Senin, 15-16 April 2018. Sebanyak 11 sanggar seni yang mewakili 11 BPNB seluruh Indonesia ikut terlibat menampilkan kesenian khas masing-masing daerah. Ada dua kategori penampilan kesenian yang ditampilkan yakni tari tradisional pada hari pertama dan tari kreasi pada hari kedua.

BPNB Maluku yang diwakili Sanggar Serafim menampilkan Tari Timba Laor dalam penampilan tari tradisi mereka. Laor adalah sebutan untuk hewan laut mirip cacing yang hidup dikarang. Dalam kehidupan masyarakat Maluku Laor merupakan salah satu tradisi. Menurut kepercayaan leluhur Laor hanya ada dan muncul setahun sekali dan itu terjadi berdasarkan perhitungan setelah bulan gelap 3 hari biasanya di akhir bulan maret atau awal bulan april.

Biasanya diawali dengan ritual yang dilakukan di baileo oleh tua-tua adat yang berfungsi sebagai kewang (orang yang melihat tanda-tanda alam di laut) marinyo (memberitahukan warga untuk mengambil Laor). Setelah itu ritual atau doa dilakukan untuk menandai proses timba laor. Setiap gerakan dalam  tarian ini  dilakukan dengan sangat energik oleh para penari mulai dari melihat bulan, membuat ritual sampai menimba laor dengan menggunakan property (alat) seperti obor, siru-siru dan nyiru tempat menampung laor untuk dibawa pulang dan diolah menjadi makanan.

Sementara dalam pertunjukan tari kreasi, mereka menampilkan tari dengan judul Moluku Osa Lala (maluku satu darah). Tari ini berkisah keterikatan masyarakat dengan Pela Gandong. Hubungan kekeluargaan atau persaudaraan yang terbentuk secara adat dan merupakan budaya orang Maluku ini terjalin karena adanya ikatan janji para leluhur di masa lampau antara satu desa dengan desa yang lain dan antar desa yang Beragama muslim dengan Nasrani atau Kristen.

Tarian Moluku Osa Lala merupakan tarian kreasi yang menggambarkan kehidupan orang Maluku yang selalu ramah menjaga hubungan persaudaraan lewat adat dan budaya yang ada walaupun berbeda keyakinan. Gerakan dari setiap penari yang berdinamika membuat tarian ini semakin menarik untuk dipertunjukan.

Tari Zapin dan Nyemah Laut

0
Salah satu gerak tari Nyemah Laut yang dibawakan Sanggar Seni Megat pada Gebyar Seni Budaya Multikultural (16/4) di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

Pessel – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat sukses menggelar Gebyar Seni Budaya Multikultural se-Indonesia di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan dua hari berturut-turut yakni Minggu-Senin, 15-16 April 2018. Sebanyak 11 sanggar seni yang mewakili 11 BPNB seluruh Indonesia ikut terlibat menampilkan kesenian khas masing-masing daerah. Ada dua kategori penampilan kesenian yang ditampilkan yakni tari tradisional pada hari pertama dan tari kreasi pada hari kedua.

Tari Zapin, Foto. Firdaus

Secara berturut-turut penampilan tersebut adalah penampilan BPNB Kepulauan Riau diwakili Sanggar Seni Megat menampilkan Zapin Pulau Penyengat, yaitu tarian yang mengutamakan gerak dan langkah kaki, karena sudah diikat oleh kata zapin itu sendiri yang bermakna gerak kaki. Awalnya tari zapin penyengat berfungsi sebagai pentabalan sultan penyengat dan hari-hari besar islam.Pentabalan yang dimaksud disini adalah pemilihan SULTAN penyengat yang baru. Dengan adanya perkembangan zaman dan pola fikir masyarakat yang makin maju maka saat ini tari zapin penyengat berfungsi juga untuk acara-acara pesta pernikahan, dan tampilan dalam acara hiburan seni budaya.

Tari Zapin, Foto. Firdaus

BPNB Kepri dengan tampilan Nyemah Laut, yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi oleh lautan yang terbentang luas dari pulau satu ke pulau yang lain. Kebiasaan masyarakat Kepri setiap akan melakukan kegiatan melaut atau melaksanakan kegiatan di laut, maka akan di lakukan ritual menyemah laut. Tujuan dari ritual ini adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selama kegiatan melaut atau kegiatan yang di lakukan diberi restu agar berjalan lancar, aman tidak ada kendala atau gangguan yang tdk diinginkan.

Salah satu gerak tari Nyemah Laut yang dibawakan Sanggar Seni Megat pada Gebyar Seni Budaya Multikultural (16/4) di Pantai Carocok, Pesisir Selatan. Foto. Firdaus

 

Jetrada 2018 Resmi Ditutup

0

PrabumulihJetrada 2018 Kota Prabumulih resmi ditutup. Acara penutupan dilaksanakan pada Minggu, 22 April 2018 di Gedung Serbaguna Kelurahan Gunung Kemala, Prabumulih Barat. Penutupan secara resmi dilakukan oleh Ibu Mardiana mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Prabumulih. Hadir dalam kegiatan penutupan tersebut lurah gunung kemala, tokoh masyarakat, RT/RW dan warga sekitar.

Sebelum acara penutupan, terlebih dahulu para peserta mempresentasikan laporan observasi sedekah dusun mereka. Masing-masing kelompok begitu antusias baik dalam menyajikan hasil karya mereka, maupun memberi pertanyaan atas hasil karya kelompok lain. Enam kelompok secara bergantian mendapat giliran dan durasi waktu yang sama yakni 15 menit. 15 menit tersebut sudah termasuk presentasi dan tanya jawab.

Selain presentasi, pada acara hari terakhir ini juga diumumkan seluruh peserta terbaik dari kategori yang dilombakan selama pelaksanaan Jetrada. Kategori-kategori tersebut antara lain penampilan kesenian terbaik diberikan kepada SMA Prabumulih, Lomba Karya Tulis Terbaik diberikan kepada Annisa Firnanda dari SMA Negeri 1 Bengkulu Selatan, Orasi Budaya terbaik diberikan kepada Wita Hariyani dari SMA Negeri Palembang serta Presentasi Kelompok terbaik diberikan kepada Kelompok V yang mengobservasi tentang Sistem Kekerabatan di Dusun Gunung Kemala. Para peserta terbaik tersebut diberi hadiah dan apresiasi berupa uang tunai dan piagam peghargaan.

Tidak itu saja, pelaksanaan Jetrada 2018 juga menghasilkan 8 orang peserta terbaik yang akan diikutkan dalam Jejak Tradisi Nasional 2018 di Pontianak. Ke-8 peserta terbaik tersebut yaitu Jennie Laksmi Syahirah dari SMA Negeri 1 Prabumulih, Annisa Firnanda dari SMA 1 Bengkulu Selatan, Tyas Cahyani dari SMA Negeri 2 Palembang, Anastasia Intan Prameswari dari SMA Xaverius Rejang Lebong, Fajar Bima Pratama dari SMA Negeri 16 Padang, Elya Lucita dari SMA Negeri 1 Rejang Lebong, Junita Citra Ayu Chania dari SMA Negeri 15 Padang dan M Rafli Dzaky dari SMA Negeri 18 Palembang.

Acara penutupan dimulai dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri yang dipimpin oleh Anastasia Intan Prameswari, kesan dan pesan dari peserta siswa yang diwakili oleh Junita Citra Ayu Chania, kesan dan pesan dari peserta guru yang diwakili oleh ibu Linda, laporan ketua panitia Kadril, SH, sambutan lurah Gunung Kemala dan Penutupan oleh Ibu Mardiana.

Dalam penutupan oleh Mardiana, dia menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepercayaan menjadikan Kota Prabumilih sebagai lokasi pelaksanaan Jetrada 2018. Dia juga berharap kegiatan Jetrada tetap diadakan di tahun-tahun mendatang.

Pelaksanaan Jetrada 2018 di Kota Prabumulih tidak saja mendapat apresiasi dari pemerintah daerah dan warga setempat. Seluruh peserta juga sangat mengapresiasi dan sangat antusias mengikuti setiap tahapan  kegiatan yang ada.

Peserta Jetrada 2018 Mengikuti Upacara Sedekah Dusun

0

Prabumulih – Seluruh peserta Jetrada 2018 mengikuti kegiatan upacara sedekah dusun. Sedekah dusun merupakan bentuk ucapan syukur atas hasil panen yang mereka peroleh. Pada masa lalu, acara ini selalu diadakan setiap selesai panen. Upacara ini dilaksanakan oleh masyarakat dusun Gunung Kemala pada Sabtu, 21 April 2018 atau hari ketiga pelaksanaan Jetrada.

Pada kesempatan ini para siswa dibagi dalam enam kelompok kategori objek observasi. Mereka diminta melakukan observasi untuk memahami lebih dalam mengenai pelaksanaan dan tujuan sedekah dusun. Masing-masing kelompok memdapatkan materi observasi yang berbeda. Materi tersebut yakni peralatan/perlengkapan upacara, teknis pelaksanaan/prosesi, pelaksana upacara/orang-orang yang terlibat dalam upacara, asal-usul, mantra-mantra dan sistem kekerabatan.

Selama pelaksanaan upacara tersebut, seluruh peserta diminta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai tahap persiapan hingga pelaksanaan. Pelaksanaannya sendiri dimulai dengan acara bersih pusaka yang dilaksanakan sehari sebelum puncak acara. Pada puncak acara, tua menyan mulai membaca mantra dalam sebuah ruang khusus di balai adat dengan berbagai sesajen pendukungnya. Selanjutnya setelah dimantrai, sesajen dimasukkan ke dalam jung/perahu terbuat dari pelepah pisang. Bentuk jung adalah persegi empat dengan atap dari daun pisang.

Sesajen yang telah diberi mantra oleh tua menyan, selanjutnya dihanyutkan ke sungai sebagai simbol penyerahan kepada penguasa air, darat, dan udara. Dari sungai, seluruh peserta kembali lagi ke balai adat untuk mengikuti belangir.  Acara belangir merupakan acara penyucian. Proses belangir dilakukan dengan mengumpulkan seluruh warga masyarakat di halaman balai adat. Warga tersebut kemudian diminta duduk, lalu tua menyan memberi garis batas antara yang ikut belangir dengan yang tidak.

Tahap selanjutnya, tua menyan mengambil posisi di luar garis, lalu mengambil seikat daun dalam air belangir yang telah disediakan sebelumnya. dengan mencelupkan daun tersebut ke dalam air, selanjutnya tua menyan menyirami warga sambil mengelilingi sebanyak tiga kali. Masyarakat percaya bahwa proses belangir tersebut akan menambah keberuntungan bagi masyarakatnya.

Setelah seluruh rangkaian acara selesai, selanjutnya warga makan bersama di balai adat.

Selain melakukan observasi, para peserta juga bebas melakukan wawancara dengan nara sumber atau warga setempat untuk mendapatkan data yang benar. Beberapa narasumber yang dilibatkan dalam kegiatan ini adalah ketua menyan, yakni orang yang mempunyai hak dan wewenang selain kemampuan batiniah. Ketua menyan ini bertugas mendoakan serta menyerahkan kepada arwah nenek moyang.

Hasil observasi dan wawancara, oleh peserta lalu dituliskan dalam bentuk laporan. Laporan ini kemudian dipresentasikan secara berkelompok di depan juri pada hari berikutnya. (FM)

Orasi dan Presentasi Warnai Hari ke-2 Jetrada 2018

0
Orasi Budaya oleh Wita Hariani, Foto. Firdaus

Prabumulih – Hari ke-2 pelaksanaan Jejak Tradisi Daerah (Jetrada) 2018 ditandai dengan orasi budaya dan presentasi karya tulis. Sebanyak 14 guru pendamping menyampaikan orasi budaya dan 10 siswa terbaik hasil seleksi karya tulis ilmiah mempresentasikan karya tulis mereka. Tema dalam orasi budaya tersebut adalah ‘peran guru dalam pelestarian budaya di Sekolah’. Sementara tema untuk karya tulis merupakan tema besar Jetrada 2018 yakni ‘Menggali Kearifan Lokal untuk mewujudkan toleransi dalam keberagaman’.

Penjelasan oleh Juri, Foto. Firdaus

Acara orasi dan presentasi yang dimulai pukul 09.00 Wib tersebut merupakan dua kategori yang turut dinilai dalam Jetrada 2018. Dua kategori lainnya adalah pertunjukan kesenian dan observasi lapangan. Selain itu, juri penilai orasi dan presentasi ini ditetapkan dua orang yakni Rois Leonard Arios, salah seorang peneliti madya dari BPNB Sumatera Barat. Kedua, Dr. Dadang Hikmah Purnama, seorang akademisi, dosen di Universitas Sriwijaya.

Sebelum orasi dimulai, terlebih dahulu dilaksanakan pengambilan nomor untuk menentukan nomor urut tampil. Dari hasil pengambilan nomor urut tersebut, Ibu Dwi Ningsih dari SMA Negeri 1 Rejang Lebong menjadi guru yang pertama tampil. Secara berturut-turut, guru yang tampil tersebut yakni Dwi Ningsih, Meri Susanti, Wita Haryani, Mugiyono, Linda, Marwan Effendi, Firdaus Sastrawijaya, Ratih Miranti, Nurmutmainah, Mirnawati, Siti Masiah, Widyawati, Hilya Bayti serta Eko Rahmad Kurniawan. Masing-masing guru diberi alokasi waktu 10 menit.

Secara umum, para peserta orasi menyadari bahwa ada tantangan besar dalam hal pelestarian nilai budaya kepada generasi muda khususnya peserta didik pada saat sekarang. Globalisasi dan modernitas menjadi beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Selain itu mereka juga menawarkan solusi bahwa sesungguhnya pengaruh tersebut bisa dibendung jika setiap orang mau memulai hal-hal yang positif  dari diri sendiri.

Sementara presentasi individu diikuti 10 orang siswa terbaik dari hasil seleksi awal karya tulis yang masuk ke panitia. Ke 10 orang tersebut terlebih dahulu mencabut nomor lot untuk menentukan nomor urut tampil. Dari pencabutan nomor tersebut, urutan presentasi adalah Jennie Laksmi Syahirah, M. Faturrahman, Annisa Firnanda, Diva Putri Ananti, Sonya Ainurrohmah, Putra Wahyu Pratama, Tias Cahyani, Reizi Fiqriansyah, Muhammad Rafli Dzaky, Fajar Bima Pratama. Masing-masing peserta diberi waktu 5 menit presentasi, 5 menit tanya jawab dan 5 menit tanggapan dari juri.

Presentasi oleh Annisa Firnanda, Foto. Firdaus

Pada kesempatan ini, juri menyampaikan beberapa kelemahan anak-anak dalam membuat tulisan seperti plagiat, rujukan, sistematika. Dari sekian banyak masalah, salah satu adalah banyaknya kutipan dan sumber yang tidak jelas. Menjadi menarik kemudian karena Jetrada 2018 dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana menulis dengan baik.

Jejak Tradisi Daerah 2018 Resmi Dibuka

0
Pemukulan Doll, sebagai pembukaan resmi Jejak Tradisi Daerah 2018 di Kota Prabumulih, Foto. Firdaus

Prabumulih – Jejak Tradisi Daerah 2018 secara resmi dibuka. Acara pembukaan dilaksanakan di Gedung Serbaguna Kelurangan Gunung Kemala, Kabupaten Prabumulih Barat pada Kamis, 19 April 2018 Pukul 20.00 Wib. Pembukaan secara resmi dilaksanakan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan M. Rasyid, S.Ag, MM. Hadir dalam kegiatan pembukaan yakni perwakilan Direktur Kepercayaan dan Tradisi Ibu Sri Lestariyati, KasubBag TU BPNB Sumbar Ibu Titit Lestari, S.Si, MP, lurah, tokoh adat dan tokoh masyarakat.

Warga menghadiri acara pembukaan Jetrada 2018, Foto. Firdaus

Acara pembukaan dimulai dengan tari sambut dari sanggar seni setempat, menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan panitia, sambutan dari Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa serta sambutan dan pembukaan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Prabumulih. Sebelum pembukaan secara resmi oleh kepala dinas, terlebih dahulu perwakilan SMA negeri 4 Palembang menampilkan tari kreasi Asmara Dana.

Penampilan kesenian Tari Asmara Dana dari SMA N.4 Palembang pada pembukaan Jetrada 2018 di Kota Prabumulih, Foto. Firdaus

Menurut laporan panitia yang disampaikan Titit Lestari, S.Si,. MP kegiatan Jetrada 2018 merupakan kegiatan mengenalkan nilai-nilai tradisi dan budaya kepada generasi muda khususnya peserta didik. Sehingga peserta dalam kegiatan ini merupakan siswa/siswi SMA/sederajat. Dia menambahkan bahwa peserta Jetrada 2018 merupakan siswa-siswi SMA dari tiga wilayah kerja BPNB Sumbar yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Total peserta dalam kegiatan ini adalah 45 orang terdiri dari 36 siswa dan 9 orang guru pemdamping. Seluruh peserta tersebut berasal dari 15 sekolah di tiga provinsi.

Sementara itu dalam sambutan Direktur Kepercayaan dan Tradisi yang disampaikan Sri Lestariyati menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan Jetrada tersebut. Dia juga menyampaikan bahwa peserta terbaik dalam Jetrada 2018 akan diikutsertakan dalam Jejak Tradisi Nasional 2018 yang akan diadakan  di Pontianak pada 8-12 Mei 2018 mendatang. Peserta terbaik tersebut akan mewakili BPNB dan sekolahnya masing-masing.

Dalam kesempatan pembukaan, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Prabumulih M. Rasyid, S.Ag,.MM sangat mengapresiasi Jejak Tradisi Daerah 2018 dilaksanakan di Kota Prabumulih. Dia juga menambahla bahwa nilai-nilai budaya perlu dilestarikan sebagai identitas suatu bangsa. Dia berharap bahwa kegiatan-kegiatan serupa bisa dilanjutkan di masa mendatang.

Selesai acara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi budaya dengan melibatkan tiga narasumber utama yakni Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Ibu Sri Lestariyati serta Ibu Titit Lestari. Ketiga narasumber tersebut membahas tentang perlunya melestarikan nilai-nilai budaya di tengah perubahan dan modernisasi.

Diskusi budaya oleh narasumber M. Rasyid, Sri Lestariyati, dan Titit Lestari, Foto. Firdaus

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan atraksi kesenian. Pada atraksi kesenian ini, masing-masing sekolah menunjukkan bakatnya lewat kesenian. Para peserta menampilkan kesenian daerah yang telah dikreasikan seperti tari, drama dan wayang serta menyanyi. Hal yang unik dari pertunjukan kesenian ini adalah bahwa kesenian tersebut menampilkan kekhasan budaya masing-masing daerah.

Penampilan kesenian SMA N.1 Bengkulu Selatan turut mengajak penonton, Foto. Firdaus

Sebagai informasi, Jejak Tradisi Daerah 2018 berlangsung selama empat hari berturut-turut dari 19-22 April 2018. Selama kegiatan tersebut, para peserta akan melakukan beberapa kegiatan yaitu Lomba Karya Tulis Ilmiah, Pertunjukan kesenian, Orasi Budaya, Observasi Budaya dan Diskusi. Setiap kegiatan dinilai oleh juri yang telah ditentukan untuk mendapatkan peserta terbaik dalam tiap kategori.

Gebyar Seni Budaya Multikultural Se-Indonesia Berlangsung Meriah

0

Pessel – Gebyar Seni Budaya Multikultural pada 15 April 2018 berlangsung meriah. Ribuan warga memadati panggung utama Pantai Carocok, sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan. Hal ini tidak lepas karena malam ini, tim BPNB akan melakukan pertunjukan kesenian dari masing-masing daerah.

Sambutan Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman

Acara pembukaan dimulai pukul 19.00 Wib. Hadir dalam pembukaan tersebut Bupati Pesisir Selatan, Sekda Kabupaten Pesisir Selatan, Ketua DPRD, OPD, Kepala BPNB Seluruh Indonesia. Acara dimulai dengan laporan panitia dari  Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Selatan, selanjutnya sambutan Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman dan pembukaan secara resmi oleh Bupati Pesisir Selatan H. Hendrajoni, S.H., M.H.

Bupati dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya kepada BPNB Sumbar atas pemilihan Pesisir Selatan sebagai  lokasi pelaksanaan Gebyar Seni Budaya Multikultural. Menurut dia, bahwa kegiatan skala nasional umumnya diadakan di tingkat provinsi. Dia juga menekankan bahwa Pesisir Selatan ke depan akan selalu ambil bagian dalam kegiatan yang sama di tahun-tahun mendatang, dimanapun diadakan.

Setelah pembacaan laporan oleh ketua panitia, satu per satu tim kesenian menampilkan keseniannya. Dimulai dengan tim Aceh diwakili Sanggar Meurunoe Art menampilkan Pemulia Jame (Memuliakan Tamu) yaitu pengembangan dari tari tradisional Ranup Lampuan. Tari Pemulia Jame berarti memuliakan tamu dengan di sambut dan di sajikan ranup (sirih) dan makanan-makanan khas Aceh.

Setelah pembukaan, selanjutnya penyerahan plakat untuk Bupati oleh Bapak Kosasih, Kabag Hukum, Tata Laksana dan Kepegawaian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala BPNB se Indonesia. Selanjutnya satu per satu tim kesenian tampil tanpa dijeda kegiatan lainnya

Pawai Pakaian Daerah Meriahkan Gebyar Seni Budaya Multikultural (2)

0
Pakaian daerah Sulsel, Foto. Firdaus

Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta menampilkan pakaian pria yaitu Surjan motif kembang. Biasanya digunakan pada acara adat: Surjan motif kembang secara adat merupakan pakaian khusus untuk raja. Surjan motif yang digunakan oleh selain raja adalah surjan motif lurik. Selain itu, ada juga pakaian wanita yang disebut dengan kebaya. Kebaya umumnya digunakan sebagai pakaian harian wanita Jawa.

Pakaian daerah Jogya, Foto. Firdaus

Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat juga tidak ketinggalan, mereka mengenalkan pakaian Dayak Kanayant, yaitu pakaian yang biasa digunakan pada acara Acara adat dan pesta menyambut tamu.

Pakaian daerah Kalbar, Foto. Firdaus

Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali mempergunakan pakaian adat modifikasi daerah kabupaten karangasem Bali yang sering digunakan untuk acara pernikahan. Ciri khasnya terletak pada hiasan kepala wanita menggunakan mahkota hiasan bunga Bali dan pria menggunakan destar atau udeng.

Pakaian daerah Bali, Foto. Firdaus

Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Utara mengenakan pakaian adat  Suku mongondon yang berada di Kabupaten Balang Mangondon Raya Provinsi Sulawesi Utara. Pakaian suku Mongondon biasa digunakan untuk menjemput tamu kebesaran. Pakaian Mongondon pria disebut baniang, terdiri dari kain momerus, topi mogilenso, dan salimpalan. Sementara pakaian wanita disebut salu,  terdiri dari hanse, sunting kepala, bunga kepala.

Pakaian daerah Maluku, Foto. Firdaus

Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku mengenalkan pakaian adat khas Maluku yang disebut dengan baju cele, yaitu pakain sehari-hari masyarakat Maluku Tengah, baju tutup rumah dari Maluku Tenggara, kebaya dansa untuk pria dan nona rok untuk wanita. Pakaian ini digunakan pada acara pesta orang Maluku Tengah dan biasa dipakai masyarakat kasta atau golongan atas. Sedangkan kain kebaya untuk wanita maluku tengah untuk semua kalangan sebagai pakaian pesta adat.

Pakaian daerah Papua, Foto. Firdaus

Balai Pelestarian Nilai Budaya Papua memperkenalkan kostum balada cenderawasih. Konstum ini biasa digunakan pada acara-acara adat. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan mengenalkan pakaian adat Sulawesi Selatan yang disebut dengan “Ma’bulo Sibatang”. Mereka menghadirkan sekaligus busana empat suku bangsa yang ada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Ke-empat etnis tersebut yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Keempat etnis ini memberi sumbangsih pada keberagaman budaya yg ada. Keempat etnis ini memiliki ciri khas yang unik dan berbeda, termasuk busana, musik dan gerak tari yg pada kesempatan ini dihadirkan dalam pawai.

Pakaian daerah Sulsel

Sebelumnya ….

Pawai Pakaian Daerah Meriahkan Gebyar Seni Budaya Multikultural

0
Pakaian daerah Aceh, Foto. Firdaus

Pessel – Pawai pakaian daerah menampilkan beragam pakaian dari berbagai daerah di Indonesia. Pawai pakaian ini merupakan rangkaian kegiatan Gebyar Seni Budaya Multikultural. Kegiatan ini diadakan pada Minggu, 15 April 2018. BPNB mencoba mengenalkan kekayaan Indonesia lewat penampilan pakaian daerah. Tidak tanggung-tanggung, pakaian daerah tersebut dihadirkan 11 daerah yang ada Balai Pelestarian Nilai Budayanya.

Gebyar Seni Budaya Multikultural digelar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan HUT ke-70 tahun Kabupaten Pesisir. Kegiatan dilangsungkan di Panggung Utama pantai Carocok dengan beberapa bentuk kegiatan seperti pawai, pertunjukan seni dan maelo pukek. Rute pawai yang dilalui yakni dari Pantai Carocok hingga Kantor Bupati Pesisir Selatan. Acara pelepasan dilakukan oleh Wakil Gubernur Nasrul Abit. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit, Ketua DPRD, OPD dan undangan.

Pawai budaya ini sesungguhnya diikuti oleh berbagai kelompok seperti marching band, BPNB dan Seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan. BPNB turut terlibat dalam kegiatan tersebut karena melihat pawai tersebut strategis untuk mengenalkan ragam budaya kepada masyarakat. Terbukti, masyarakat begitu antusias menyaksikan pawai tersebut. Lokasi acara penuh, apalagi sebagian peserta BPNB menyertai pawai tersebut dengan tarian. Hampir semua orang yang hadir tidak mau ketinggalan untuk tidak mengabadikan pawai tersebut.

Sesaat setelah pelepasan pawai oleh Wakil Gubernur Nasrul Abit, para peserta pawai mulai bergerak maju. Diawali dengan marching band anak Sekolah Dasar, lalu diikuti langsung dengan pawai tim BPNB. Setidaknya terdapat 11 pakaian daerah ditampilkan dalam pawai pakaian daerah. Semua dihadirkan dari seluruh wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya. Umumnya pakaian yang ditampilkan tersebut adalah pakaian mempelai. Warga yang menyaksikan kegiatan tersebut sangat antusias dengan memenuhi lokasi acara.

Balai Pelestarian Nilai Budaya ACEH menmpilkan Busana adat pengantin Aceh yang biasa digunakan pada acara perkawinan dan penyambutan tamu-tamu.

Pakaian daerah Aceh, Foto. Firdaus

Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau menampilkan busana adat pengantin kreasi Kepulauan Riau yang diberi nama bujang dan dara. Pakaian ini biasanya digunakan pada acara perkawinan dan penyambutan tamu-tamu.

Pakaian daerah Kepri, Foto. Firdaus

Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat memakai baju anak daro jo marapulai. Pakaian ini biasanya digunakan untuk pesta penikahan (baralek). Dipakai saat basandiang dan arak-arakan babako.

Pakaian daerah Sumbar, Foto. Firdaus

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat juga menampilkan pakaian pria dengan nama Pangsi hitam, dengan iket kepala. Biasanya digunakan pada Acara adat Sunda Nama-nama Pakaian wanita, kebaya Sunda dengan kain sinjang. Biasanya digunakan pada acara acara adat atau acara resmi, misalnya hajatan pernikahan, khitanan, dll.

Pakaian daerah Jabar, Foto. Firdaus

selanjutnya…

Gebyar Seni dan Budaya Multikultural se-Indonesia Siap Digelar

0

Pessel – Gebyar Seni dan Budaya Multikultural se-Indonesia siap digelar. Segala persiapan sudah dimatangkan, mulai dari tata panggung, lighting,  tenda-tenda serta stand-stand pameran. Para pekerja tinggal mengerjakan finalisasi untuk segala sesuatunya siap digunakan pada saat pagelaran. Tim kesenian dari BPNB-BPNB se-Indonesia juga sudah berdatangan. Hanya beberapa yang belum tiba di Kabupaten Pesisir Selatan.

Menurut pengamatan kami, berbagai persiapan memang sedang dikerjakan. Para pekerja di berbagai tempat sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya masing-masing. Gerimis yang sedang melanda pantai carocok tidak menyurutkan semangat para pekerja untuk menyelesaikan dan memastikan bahwa segala sesuatunya siap digunakan besok saat pembukaan.

Di tempat lain panitia gebyar seni dan budaya juga sedang sibuk menyelesaikan berbagai pekerjaan yang harus diselesaikan. Mulai dari menyambut tamu yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, mengurusi penginapan peserta, konsumsi peserta serta pematangan teknis pelaksanaan kegiatan, dan berbagai pekerjaan yang dirasa penting. Hingga berita ini ditulis, tinggal satu tim BPNB yang belum tiba di Padang.

Sebagaimana direncanakan, Gebyar Seni Dan Budaya Multikultural akan dilaksanakan pada Minggu-Sabtu, 15-21 April 2018. Rencananya kegiatan ini akan dibuka secara langsung oleh Bupati Pesisir Selatan H. Hendrajoni, SH, MH. Selama sepekan penuh, berbagai acara akan digelar seperti pawai budaya multikultural, pagelaran kesenian baik yang tradisioanal maupun yang kreasi, pertunjukan maelo pukek, serta pameran.

Sebanyak 11 Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) se-Indonesia akan terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka terlibat dalam pawai budaya serta pertunjukan kesenian. Masing-masing BPNB akan menampilkan pakaian tradisional daerah masing-masing dalam pawai. Selain itu, mereka juga membawa sanggar-sanggar seni yang akan membawakan kesenian khas daerah masing-masing.

Selain 11 BPNB, beberapa Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayan juga turut terlibat dalam pameran. Beberapa UPT tersebut adalah BPNB Sumatera Barat, BPCB Sumatera Barat, Museum Sumpah Pemuda, Balai Arkeologi Medan, Balai Bahasa Sumatera Barat dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Pesisir Selatan.(FM)

Daftar Peserta Jetrada 2018 yang Lolos Seleksi

0

Padang – Setelah melalui seleksi yang ketat oleh juri, maka ditetapkan 36 siswa/siswi lolos jadi peserta Jetrada 2018. Ke-36 siswa ini selanjutnya akan diundang untuk mengikuti kegiatan Jetrada di Prabumulih, 19-22 April 2018. Sementara untuk hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk mengikuti kegiatan akan diinformasikan kemudian.

Adapun kriteria penilaian terdiri dari tiga kategori utama yakni struktur tulisan, struktur kebahasaan dan keaslian tulisan. Secara terperinci untuk kategori struktur tulisan dinilai mulai dari pendahuluan, pembahasan dan penutup. Kategori struktur kebahasaan terdiri dari kepaduan, sistematika dan efektifitas bahasa. Sementara kategori keaslian tulisan dicek melalui Plagiarism SE Tools.

Penilaian dilakukan oleh juri dari peneliti BPNB Sumatera Barat dan akademisi dari Universitas Sriwijaya. Berikut peserta yang dinyatakan lolos seleksi:

DAFTAR NAMA PESERTA JEJAK TRADISI DAERAH 2018

No. Urut Nama Siswa Asal Sekolah Judul Makalah
1 Ainur Rahma Hidayati SMA N.4 Palembang Gambaran Kehidupan Masyarakat Pasemah Berdasarkan Arca-Arca Megalit Koleksi Museum Balaputra Dewa Palembang
2 Anastasia Intan Prameswari SMA Xaverius Curup Gotong Royong Sebagai Warisan Budaya
3 Angelisa Putri SMA N.16 PADANG Beberapa Aspek Kehidupan Adat Minangkabau dalam Pembentukan Karakter
4 Annisa Firnanda SMA N.1 Bengkulu Selatan Tradisi Pantauan sebagai Bentuk Pluralisme antar Dua Suku di Desa Lawang Agung Kecamatan Kedurang Bengkulu Selatan
5 Athara Muhammadi Akbar SMA N.18 Palembang Melestarikan Pantun Lama Yang Hampir Punah di Indonesia
6 Dafid Alfareski SMA N.15 Padang Beragam tapi Bersatu
7 Dera Mayang Tifany SMA N.5 Palembang Bahasa Isyarat sebagai Media Interaksi Abadi
8 Dhiyarunnisa Shabrina SMA N.15 Padang Kearifan Masyarakat dalam Pendidikan Karakter
9 Difaf Athiyah Zhabiyan SMA N.2 Palembang Gotong Royong sebagai Wujud Toleransi
10 Diva Putri Ananti SMA N.1 Bengkulu Selatan Preservasi Tradisi Nujuhlikur yang Mendorong Masyarakat Bengkulu untuk Saling Bergotong royong dan Hubungannya dengan Sosial Budaya
11 Elya Lucita SMA N.1 Rejang Lebong Kearifan dalam Tradisi Lisan
12 Fajar Bina Pratama SMA N.16 Padang Keberagaman dan Persatuan dalam Masyarakat Minangkabau
13 Insani Amir Gatmir SMA N.18 Palembang Tawuran Antar Pelajar
14 Jennie Laksmi Syahirah SMA N.1 Prabumulih Tradisi Kebudayaan Nugal dan Ngetam Padi di Daerah Prabumulih
15 Jesica Salsabila SMA N.1 Rejang Lebong Media Komunikasi Tradisional
16 Junita Citra Ayu Chania SMA N.15 Padang Kearifan dalam Tradisi Lisan
17 M. Faturrohman SMA N.7 Prabumulih Mengembangkan Gotong – royong untuk Mewujudkan Toleransi
18 Marisa Tjikasari SMA Xaverius Curup Keterkaitan Antara Kearifan Lokal Pada Setiap Individu Dalam Perkembangan Tradisi Lisan
19 Miftahul Khoiri Islami SMA N.5 Prabumulih Media Komunikasi Tradisional Dengan Adat Rukok Panjang Dari Tanah Rambang
20 Monica Kostaria Cahyani SMA Xaverius Curup Kebudayaan Gotong-Royong Dilestarikan Guna Mewujudkan Sebuah Karakteristik Siswa-Siswi Menjadi Lebih Baik
21 Muhammad Rafli Dzaky SMA N.18 Palembang Implementasi Nilai Gotong Royong untuk Menumbuhkan Sikap Toleransi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
22 Nadia Putri Salsabila SMA N.5 Palembang Dampak Perkembangan Modernisasi Dalam Aspek Bahasa Asing Terhadap Bahasa Daerah
23 Nelvin Alca Pratama SMA N.6 Prabumulih Kearifan Lokal Dalam Tradisi Lisan
24 Pelia Ataza SMA N.4 Palembang Nilai Kearifan Lokal Dalam Songket Tradisional Nago Besaung
25 Putra Wahyu Pratama SMA N.2 Prabumulih kearifan lisan dalam tradisi adat pernikahan di kota Prabumulih
26 Rebi Ramadana Putra SMA N.15 Padang Gotong Royong sebagai Wujud Toleransi
27 Reizi Fiqriansyah SMA N.1 Bengkulu Selatan Upaya Meningkatkan Karakter Bangsa Melalui Tradisi Adat Beijau Adiak Sanak Di Kabupaten Bengkulu Selatan
28 Silfani Putri SMA N.16 Padang Media Komunikasi Tradisional
29 Sonya Ainurrohmah SMA N.1 Bengkulu Selatan Eksistensi Budaya Gegerit sebagai Kearifan Lokal Suku Serawai Di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Hubungannya Dengan Nilai Sosial Kemasyarakatan
30 Syafira Tri Melinda Sari SMA N.1 Rejang Lebong Beragam tapi Satu
31 Syazwina Amanda Firzani SMA Xaverius Curup Gotong Royong yang Baik Mampu Menciptakan Persatuan Dan Kesatuan Sebagai Modal Utama untuk Meningkatan Kedamaian
32 Tias Cahyani SMA N.2 Palembang Kearifan Tradisi Lisan dalam Perkembangan Arus Globalisasi
33 Topan Rivaldo SMA N.16 Padang Gotong Royong sebagai Wujud Toleransi
34 Tri Okta Lia SMA N.4 Prabumulih Bersatunya Keanekaragaman Bangsa Indonesia
35 Tubagus Rizky Sunandar SMA N.2 Palembang Keberagaman yang Ada Di Indonesia
36 Vaniza Diniarti SMA N.2 Prabumulih Pentingnya Karakter dan Kepribadian Yang Baik bagi Generasi Muda Kota Prabumulih

 

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi panitia melalui WA. 081272189539.

BPNB Sumbar dan Pemda Pessel Gelar Gebyar Seni Budaya Multikultural se Indonesia

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat yang merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kabupaten Pesisir selatan akan mengelar kegiatan yang bertajuk Gebyar Seni Budaya Multikultural se Indonesia dalam rangka Sumarak Pesisir Selatan Tahun 2018. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada 14-21 April 2018 di Pantai Carocok, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Kepala BPNB Suamatera Barat Drs. Suarman didampingi Ketua Panitia Pelaksana kegiatan, Hariadi, SS, MA. Menjelaskan bahwa kegiatan ini sebagai upaya menegaskan kebhinekaan untuk memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. melalui kegiatan ini diharapkan terbangun saling pengertian dan harga menghargai antara suku bangsa yang ada di Indonesia.  Rangkaian kegiatan Gebyar Seni Budaya Multikultural se Indonesia ini terdiri dari pameran, pertunjukan kesenian, pawai budaya,  maelo pukek, dan tradisi malamang.

Kegiatan pameran multikultural akan berlangsung dari tanggal 15 s/d 21 April 2018. Kegiatan dimulai pada pukul 08.00 s/d 21.00 WIB di Pantai Carocok. Lembaga yang akan ambil bagian dalam kegiatan ini adalah BPNB Sumatera Barat, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, Museum Sumpah Pemuda dari Jakarta, Balai Arkeologi Sumatera Utara, Balai Bahasa Sumatera Barat, dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi dari Jakarta. Setiap peserta pameran akan menampilkan display yang menonjolkan sisi multikultural Indonesia.

Pawai budaya dilaksanakan pada tanggal 15 April 2018 mulai pukul 11.00 Wib yang akan  diikuti seluruh perwakilan kecamatan di Kabupaten  Pesisir Selatan dan perwakilan BPNB dari seluruh Indonesia.

Para peserta kegiatan Gebyar Seni Budaya Multikultural se Indonesia yang datang dari berbagai penjuru tanah air akan disuguhi  pertunjukan dan terlibat langsung  pada acara Maelo Pukek  dan tradisi malamang. Kegiatan ini akan dilaksanakan  tanggal 16 April 2018 dimulai pukul 07.00 s/d 12.00 WIB di Pantai Sago Pesisir Selatan.

Kegiatan yang akan menampilkan atraksi kesenian dari berbagai daerah  di Indonesia diyakini akan menarik minat banyak penonton. Pertujunkan kesenian akan dilaksanakan pada tanggal 15 April 2018 yang akan menampilkan kesenian tari tradisi dan 16 April 2018 akan menampilkan kesenian tari kreasi. Kegiatan ini dimulai pukul 19.00 WIB bertempat di Panggung Utama Pantai Carocok.

Sebanyak 11 Tim kesenian yang akan tampil merupakan utusan dari kantor BPNB di Indonesia yaitu  Sanggar Seni San Alida utusan BPNB Sumatera Barat, Sanggar Meurunoe utusan BPNB Aceh, Sanggar Seni Megat utusan BPNB Kepulauan Riau, Sanggar Dwi Arta utusan BPNB Jawa Barat, Bale Seni Wasana Nugraha utusan BPNB D.I Yogyakarta, Sanggar Simpor utusan BPNB Kalimantan Barat, Sanggar Supraba Eka Duta utusan BPNB Bali, Sanggar Bolong Ringgi utusan BPNB Sulawesi Selatan, Sanggar Tiara Fitrah utusan BPNB Sulawesi Utara, Sanggar Serafim utusan BPNB Maluku, dan Sanggar Ostari BPNB Papua.

Kontributor: Hariadi

Lawatan Sejarah Daerah 2018

0

Padang – Lawatan Sejarah Daerah (LASEDA) 2018 di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat telah selesai dilaksanakan. Acara berlangsung selama tiga hari yakni pada 2 – 5 April 2018 di Kabupaten Pesisir Selatan. 45 orang peserta laseda dari berbagai sekolah di tiga wilayah kerja ikut serta dalam kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut juga telah meghasilkan tiga orang peserta terbaik.

Bentuk kegiatan laseda 2018 diantaranya melakukan kunjungan ke obyek-obyek sejarah. Beberapa obyek yang dikunjungi antara lain rumah gadang Mande Rubiah, yang berada di kecamatan Lunang kabupaten pesisir Selatan. Objek-objek bersejarah lain yang turut dikunjungi antara lain makam Cinduo Mato yang berjarak kurang lebih 200 meter dari rumah gadang Mande Rubiah. Selain itu peserta juga diajak berkunjung ke komplek makam Bundo kandung serta kunjungan ke Indra pura.

Dalam setiap kunjungan ke objek-objek bersejarah, peserta laseda selalu disambut dengan tari galombang, tarian dan silat tradisional. Peserta juga senantiasa diajak untuk berdiskusi menambah wawasan peserta tentang sejarah lokal. Selain itu para peserta juga dikenalkan peralatan-peralatan pakaian, senjata tradisional yang masih dipelihara.

Kunjungan ke rumah gadang mande Rubiah misalnya, para peserta diajak beramah tamah bersama keluarga besar Mande Rubiah yang merupakan keturunan ke tujuh mande Rubiah. Ramah tamah juga disertai dengan kegiatan diskusi mengenai asal usul Mande Rubiah. Dari diskusi tersebut para peserta akhirnya mengetahui bahwa Mande Rubiah tersebut memiliki kaitan erat dengan kerajaan Pagaruyung.

Di indrapura para peserta diajak untuk melihat salah satu bukti kejayaan maritim di pessel yaitu peninggalan bandar X. Bandar ini merupakan bekas dermaga dan gudang penyimpanan garam yang sebagian bangunannya saat ini menjadi tempat bermain bola bagi pemuda sekitar. Sementara di Kambang, peserta dibawa mengunjungi mesjid Al imam, salah satu bukti masuknya pengaruh Islam di Kabupaten Pesisir Selatan.

Selain kunjungan ke obyek bersejarah, kegiatan lawatan sejarah juga melaksanakan pentas seni. Pentas seni merupakan wadah para peserta laseda menampilkan kemampuan seninya. Kegiatan ini dilaksanakan seluruh peserta pada malam hari. Masyarakat setempat sangat antusias menyaksikan pentas seni tersebut dengan tumpah ruahnya membanjiri pelataran rumah gadang Mande Rubiah.

Bentuk kegiatan lain adalah observasi di rumah gadang Mande Rubiah. Para peserta dalam observasi ini diminta untuk melihat benda-benda pusaka yang masih tersimpan dalam rumah tersebut. Beberapa benda-benda pusaka peninggalan keluarga yang masih tersimpah seperti senjata dan alat-alat rumah tangga. Dalam observasi ini, para peserta didampingi pemandu, salah seorang keturunan Mande Rubiah yang memberikan informasi tentang sejarah Mande Rubiah dan rumah gadangnya.

Selesai rangkaian kegiatan, para peserta diajak mendiskusikan kondisi objek sejarah  setempat untuk menghasilkan rekomendasi kepada pemerintah terkait pelestariannya. Selanjutnya peserta diajak berkunjung ke Painan, dan Pulau Cingkuk di Pantai Carocok. Kegiatan di pulau diawali dengan pengenalan situs cagar budaya yang ada, presentasi dan diskusi makalah finalis terpilih.

Acara berakhir dengan penutupan acara laseda yang dihadiri oleh sekretaris dinas pendidikan dan kebudayaan Pessel, Kabid kebudayaan dan pemerhati sejarah pessel. Pada acara penutupan ini para peserta terbaik juga turut diumumkan. Tiga orang peserta berhasil menjadi yang terbaik yakni Fathur Rahman, M. Zaky Nugraha dan Ketut Agil PS. (FM)

Kontributor: Rahma Dona

Jejak Tradisi Daerah Digelar 19–22 April 2018

0

Padang  – Jejak Tradisi Daerah/ Jetrada 2018 akan digelar pada Kamis-Minggu, 19 – 22 April 2018. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Balai Adat Dusun Gunung Kemala, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Pemilihan waktu ini berbarengan dengan pelaksanaan sedekah dusun masyarakat setempat yang akan dilaksanakan pada 21 April 2018. Sebanyak 45 orang peserta dari tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan akan hadir dalam kegiatan tersebut.

Jetrada merupakan sebuah kegiatan internalisasi nilai budaya yang menyasar generasi muda khususnya peserta didik. Tujuan kegiatan ini penting tidak hanya sebagai pengenalan tapi utamanya pembentukan karakter dan identitas bangsa.

Jetrada 2018 akan diikuti 45 siswa dan guru SMA/Sederajat. Keseluruhan peserta berasal dari 15 SMA di tiga wilayah kerja. Secara rinci peserta tersebut terdiri dari 10 orang dari Sumatera Barat, 10 Orang dari Bengkulu dan 25 orang dari Sumatera Selatan.

Untuk menjadi peserta Jetrada 2018, terlebih dahulu siswa-siswi diundang mengikuti seleksi karya tulis ilmiah. Dari keseluruhan yang mengirim karya ilmiah, 45 peserta terbaik diikutkan dalam pelaksanaan Jetrada. 10 peserta terbaik  dari total 45 peserta tersebut juga diminta mempresentasikan karya tulisnya di depan juri. Dari 10 siswa yang presentasi, juri akan memutuskan peserta terbaik dan selanjutnya diberi apresiasi. Selain presentasi, keseluruhan siswa juga diminta untuk menampilkan kesenian tradisional khas daerah masing-masing.

Sementara itu, dari 45 peserta tersebut terdapat sembilan orang guru pendamping. Guru-guru pendamping ini diberikan kesempatan untuk menyampaikan orasi budaya yang bertemakan ‘peran guru dalam pelestarian budaya di sekolah’. Orasi budaya ini akan disampaikan selama 10 menit di depan siswa dan juga juri. Orasi terbaik juga diberikan apresiasi oleh panitia.

Salah satu yang menarik dari kegiatan ini adalah bahwa seluruh peserta akan diinapkan di rumah-rumah penduduk. Tujuan diinapkan tersebut untuk mengenalkan kehidupan sosial budaya masyarakat kepada anak-anak. Di rumah penginapan, mereka akan merasakan bagaimana masyarakat setempat tinggal dan menjalani keseharian  dalam tradisi mereka. Peserta juga akan makan sesuai dengan apa yang dimakan oleh penduduk setempat.

Selain itu, pada kesempatan Jetrada kali ini, para peserta akan menyaksikan secara langsung ritual masyarakat Prabumulih khususnya Dusun Gunung Kemala yang masih dipertahankan hingga kini. Ritual tersebut disebut dengan sedekah dusun yakni ritual ucapan syukur kepada sang pencipta atas panen yang mereka peroleh pada musim yang baru selesai.(FM)

Lawatan Sejarah Daerah 2018 Resmi Dibuka

0

Padang – Lawatan Sejarah Daerah 2018 BPNB Sumbar resmi dibuka pada Senin, 2 April 2018. Acara pembukaan dilaksanakan di Gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumatera Barat. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat Drs. Burhasman. Turut hadir dalam acara pembukaan yakni KasubBag Tata Usaha BPNB Sumatera Barat Titit Lestari, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, perwakilan BPKP, BP PAUDNI Padang Pariaman serta peserta Laseda 2018.

Acara pembukaan diawali dengan lantunan ayat suci Alquran yang dibawakan oleh M. Fathur Rahman dari SMA 6 Kota Palembang. Selanjutnya menyanyikan lagu Indonesia Raya, kata sambutan dan pembukaan oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat.

Selesai acara pembukaan, selanjutnya pembekalan oleh narasumber. Ada tiga narasumber yang diundang dalam kegiatan ini yakni Titit lestari (BPNB Sumatera Barat), Zusneli Zubir (Peneliti Madya Sejarah), dan Bachtiar (pemerhati sejarah pesisir selatan). Acara pembekalan ini dimoderatori oleh ibu Rita yenis (LPMP). Pemaparan materi diiringi dengan diskusi yang hangat terutama berkaitan dengan tema menggali potensi kemaritiman melalui perspektif sejarah.

Lawatan sejarah merupakan media mengenalkan sejarah masa lalu kepada generasi muda. Melalui kegiatan ini, para peserta akan dibawa berkunjung ke berbagai tempat-tempat bersejarah. Hasil kunjungan akan disajikan dalam karya tulis sejarah. Harapannya, kunjungan tersebut dapat membantu para peserta memperoleh pelajaran sekaligus pengalaman berharga tentang peristiwa masa lalu. Hal ini akan memunculkan memori kolektif generasi muda untuk cinta akan sejarah bangsanya.

Sebagaimana diinformasikan sebelumnya bahwa Laseda 2018 dilaksanakan dari tgl 2 hingga 5 April 2018 di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan ini diikuti oleh 45 peserta yang terdiri dari siswa dan guru. Peserta siswa dipilih melalui 2 jalur yaitu melalui Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan melalui sekolah pilihan. Adapun rincian peserta berdasarkan provinsi yakni 19 peserta dari Sumatera Barat, 12 peserta dari Sumatera Selatan dan 14 peserta dari Bengkulu. Selama perhelatan, para peserta akan dibawa melawat ke berbagai objek-objek sejarah yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan.

Dari kunjungan ke berbagai objek sejarah di Pesisir Selatan, peserta diminta untuk menyajikan hasil kunjungan tersebut dalam bentuk karya tulis. Karya tulis ini akan dinilai menjadi yang terbaik dari seluruh peserta yang ada. Peserta terbaik akan diberi apresiasi dan selanjutnya diikutsertakan dalam Lawatan Sejarah Nasional yang akan diadakan di Provinsi Aceh.(FM)

Kontributor: Rahma Dona

Sumarak Pesisir Selatan 2018

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat akan melaksanakan Sumarak Pesisir Selatan 2018. Kegiatan ini diadakan dalam rangka Gebyar Seni Multikultural se-Indonesia. Rencananya Sumarak Pesisir Selatan 2018 akan digelar pada 14-21 April di Pantai Carocok, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama antara BPNB Sumatera Barat dengan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan.

Selain memperkenalkan berbagai kekayaan budaya dari beragam suku bangsa di Indonesia, kegaitan ini juga menjadi ajang menyebarkan pengetahuan tentang nilai-nilai tradisi masyarakat lokal. Dalam pelaksanaan Sumarak Pesisir Selatan 2018, rangkaian kegiatan diramu dalam Festival Seni Multikultur, Pawai Multikultur, Pameran multikultur, Maelo Pukek, serta permainan tradisional.

Festival seni multikultur akan melibatkan 11 BPNB yang ada di seluruh Indonesia. Masing-masing BPNB akan menampilkan tarian khas dari wilayah kerjanya. Pertunjukan tari ini dibagi dua yakni tari tradisional dan tari kreasi. Selain itu peserta juga akan melakukan pawai kebudayaan masing-masing daerah yang menunjukkan kekhasan suku bangsa tersebut. Hal ini akan menunjukkan betapa kaya kebudayaan kita.

Selain festival seni dan pawai, kegiatan ini juga mengadakan Pameran Multikultural. Pameran ini akan diikuti oleh satuan kerja-satuan kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seperti BPNB Sumatera Barat, BPCB Sumatera Barat, Balai Arkeologi Medan, Museum Sumpah Pemuda Jakarta, dan Balai Bahasa Sumatera Barat dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Tujuannya tetap sama yakni mengenalkan ragam dan kekayaan budaya melalui benda, visual dan hasil-hasil penelitian.

Salah satu hal menarik dalam kegiatan ini adalah dikenalkannya salah satu tradisi ekonomi masyarakat nelayan yakni maelo pukek. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan melihat pukat. Tradisi ini berkaitan dengan aktivitas utama masyarakat nelayan yaitu menangkap ikan. Nantinya, pengunjung akan dilibatkan dalam kegiatan ini untuk turut merasakan bagaimana nelayan memenuhi kebutuhan dan menghadapi segala tantangan dalam aktivitas sehari-hari.

Menambah semaraknya kegiatan Sumarak Pesisir Selatan 2018, acara juga dilengkapi dengan lomba permainan tradisional. Lomba dimaksudkan untuk mengenalkan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional yang memang sudah semakin hilang. Harapannya, melalui lomba ini masyarakat khususnya generasi muda dapat menggali nilai-nilai yang ada dalam permainan serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.(FM)

Belajar Bersama Maestro Kenalkan Tari Gending Sriwijaya

0

Palembang – Tari Gending Sriwijaya adalah kesenian tradisional Sumatera Selatan. Melalui kegiatan Belajar Bersama Maestro (BBM), tari ini akan dikenalkan kepada generasi muda sebagai upaya pelestarian kesenian tersebut. Kegiatan ini menyusul sukses BBM tahun lalu di Kota Prabumulih. Peserta didik setingkat SMP ditetapkan sebagai sasaran utama untuk dilatih agar dapat menguasai tari ini.

Berbagai upaya memang bisa dilakukan untuk melestarikan kebudayaan. Salah satunya adalah pewarisan  dengan mengenalkan dan mengajarkannya kepada generasi muda khususnya peserta didik. Upaya ini jugalah yang dilakukan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat (BPNB Sumbar) dalam kegiatan Belajar Bersama Maestro (BBM). Khusus Kota Pelembang, Tari Gending Sriwijaya dipilih menjadi materi utama BBM.

BBM termasuk salah satu kegiatan unggulan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat mengakomodasi amanah UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Kegiatan ini sebagai upaya memajukan kebudayaan dengan mengupayakan internalisasi nilai budaya kepada generasi muda. Nilai budaya yang diinternalisasi mengacu pada sepuluh (10) objek pemajuan kebudayaan. Objeknya yaitu, tradisi, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Melalui internalisasi kegiatan BBM, para peserta akan dikenalkan pada kebudayaan tradisional oleh maestro atau calon maestro pelaku kebudayaan tersebut. Maestro secara langsung akan berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam aktivitasnya berkebudayaan. Para peserta didik diharapkan dapat mengenal, mempelajari serta memahami kebudayaan khas daerahnya. Pemahaman tersebut akan berpengaruh pada menguatnya identitas mereka dengan didorong oleh sikap yang diasaskan dalam UU No. 5, yaitu toleransi, keberagaman, kelokalan, lintas wilayah, partisipatif, manfaat, keberlanjutan, kebebasan berkreasi, keterpaduan, kesederajatan, dan gotong royong.

Undang-undang Pemajuan Kebudayaan meski baru terbit tahun 2017, namun BPNB Sumbar telah menggelar kegiatan BBM sejak tahun 2016 di ketiga wilayah kerjanya, yaitu Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan dengan objek berbeda-beda. Tahun 2018 ini juga telah dirancang BBM di tiga wilayah ini. Khusus kegiatan BBM di Propinsi Sumatera Selatan dipusatkan di Kota Palembang, tepatnya di SMP Negeri 1 Palembang.

Peserta terdiri dari anak-anak didik dan guru-guru kesenian, laki-laki dan perempuan. Tujuan menyertakan dua generasi ini tidak lain untuk lebih memudahkan sistim regenerasi kesenian tradisional yang diajarkan oleh maestro atau calon maestro/pelestari kebudayaan. Guru-guru akan mewariskan kepada anak didik periode berikutnya sedangkan siswa-siswi yang beruntung pada periode ini diharapkan dapat menginisiasi keluarga, teman-teman, dan masyarakat sekitar setelah mereka menamatkan SMP kelak. Peserta yang dianggarkan dan dipertanggungjawabkan hanya 22 orang. Namun antusiasme mereka tidak dibatasi, sehingga jumlah partisipan mencapai sekitar 42 orang. Hal ini menjadi persoalan sekaligus keberuntungan atas animo peminat tari tradisi di kota ini.

Perlu strategi matang untuk memenuhi animo mereka dengan tetap mampu mempertanggungjawabkan secara bijak kegiatan yang didanai oleh DIPA/RKAKL BPNB Sumbar ini. Panitia dari BPNB yang diketuai oleh Ferawati,S.S., bersama panitia lokal yang ditunjuk dari SMPN 1 Palembang, Kepala Sekolah, dan pelatih atau calon maestro/pelestari kebudayaan akan menyeleksi separoh peserta yang berbakat.

Hal ini disampaikan dalam acara pembukaan kegiatan BBM pada Sabtu, 24 Maret 2018 pukul 10.00-12.00 wib di aula SMPN 1 Palembang. Mereka diseleksi langsung oleh Elly Rudy, yaitu calon maestro/pelestari kebudayaan yang memimpin sanggar tari “Group Elly Rudy”, sekaligus dosen terbang di salah satu perguruan tinggi di kota Palembang. Dua puluh (20) peserta yang berbakat dan berlatih maksimal akan diberi reward berupa workshop KIT, seperti tas, baju kaos, alat tulis, bahkan yang berprestasi akan mendapat hadiah berupa uang tunai yang telah dianggarkan. Kegiatan ini akan berlangsung sejak pembukaan hingga penutupannya nanti dengan total 20 kali pertemuan dengan durasi 2 jam setiap latihan.

Tidak hanya itu, Kabid SD-SMP Kota Palembang dalam acara pembukaan yang juga dihadiri oleh Kabid Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sumsel beserta jajarannya, peneliti BPNB Sumbar, dan pihak sekolah juga mengapresiasi animo mereka dengan memberikan kesempatan atau panggung untuk menampilkan kesenian tradisional pada 2 Mei 2018, tepat pada  peringatan Hari Pendidikan Nasional yang akan diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota Palembang. Namun tidak tertutup kemungkinan mereka untuk diundang oleh pihak lain, seperti untuk penyambutan tamu agung kegiatan Festival Sriwijaya atau bahkan Asian Games pada 18 Agustus 2018 mendatang. Pembukaan ini juga diliput oleh media massa cetak dan elektronik lokal.

Kegiatan BBM kali ini menetapkan tari tradisi Gending Sriwijaya, mengalahkan rencana jenis kesenian lain yang telah disurvey pada awal Maret 2018. Menurut Elly Rudy, tari ini sempat fakum sepuluh tahun. Nung Cik Ar sebagai tokoh seni tari ini pernah dicekal pada tahun 1965 karena terlibat atau terjebak dalam kelompok kesenian Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Elly Rudy yang sudah aktif menari kemudian menciptakan sendiri seni tari yang mirip dengan Gending Sriwijaya namun lebih fleksibel, yang dia namai tari Sambut atau Tanggai.

Dalam kegiatan BBM ini, Elly Rudy akan mengembalikan marwah tari Gending Sriwijaya kepada asal jadinya, termasuk jumlah penari, momentum, dan bentuk serta warna pakaiannya. Tari Gending Sriwijaya sejatinya termasuk tari Sambut yang sakral, yaitu untuk menyambu tamu-tamu agung, dalam konteks kekinian minimal untuk tamu eselon IV ke atas. Melalui kegiatan BBM ini, para peserta tidak hanya akan dilatih menari, tapi juga diajarkan tentang sejarah tari serta makna filosofinya untuk menemukan-kembangkan jati diri mereka.

Kontributor: Marbun dan Ferawati

Hasil Seleksi Peserta Laseda 2018

0

Padang – Setelah melalui seleksi ketat, akhirnya hari ini, Senin (26/3) dapat diumumkan peserta terbaik lomba karya tulis ilmiah dalam rangka Laseda 2018. Dari 45 karya tulis yang masuk ke panitia, 11 karya tulis diputuskan layak menjadi yang terbaik. Hasil tersebut sekaligus menjadi tiket peserta untuk ikut dalam pelaksanaan Laseda 2018 pada 2-5 April 2018 di Kabupaten Pesisir Selatan.

Peserta Laseda terdiri dari 45 siswa dan guru pendamping. Peserta ini direkrut dengan dua metode yakni melalui lomba karya tulis dan undangan langsung ke sekolah. Peserta lomba melalui karya tulis diseleksi dengan karya terbaik yang dikirim ke panitia. Karya tulis ini dinilai oleh juri yang telah ditentukan oleh panitian. Dari seluruh siswa dan guru yang mengirim karya tulis panitia, sebanyak 11 siswa dan 4 guru terbaik akan diikutkan menjadi peserta Laseda 2018.

Peserta yang lolos seleksi Lomba karya tulis tersebut yakni:
1 Cipto Waluyo, SS SMA Negeri 1 Bengkulu Selatan Guru
2 Eva Yena SMA Negeri 6 Palembang Guru
3 Zainab Z, S.Pd, M.Si SMA Negeri Jejawi OKI Guru
4 Setya Ningsih, SS SMA Negeri 1 Timpeh Guru
5 Sigit Nur Prastowo SMA Negeri 6 Palembang Siswa
6 Tiara Nanda Fransiska SMA Negeri 1 Jejawi OKI Siswa
7 Mohammad Zaky SMA Negeri1 Bengkulu Selatan Siswa
8 Abdurrahman Ali SMA IQRA Kota Bengkuli Siswa
9 B. Christanda MA SMAIT Xaverius Curup Siswa
10 Iqbal Rezky Pranata SMA Negeri 1 Bengkulu Selatan Siswa
11 Septi Herliza Nofianti SMA Negeri 1 Bengkulu Selatan Siswa
12 Rully Swenrin VP SMA Negeri 1 Sitiung Siswa
13 Habib Ilyas SMA Negeri 12 Padang Siswa
14 Rivaldo Asnandar SMA Negeri Sitiung Siswa
15 Mita Febrianti SMA Negeri Timpeh Siswa

Sementara itu, sebanyak 30 peserta lain merupakan undangan panitia ke sekolah. Dalam hal ini panitia menentukan sendiri sekolah-sekolah yang akan diundang. Biasanya dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan tertentu seperti jumlah keterlibatan dalam even-even serupa, keaktifan dan lain-lain. Setiap sekolah yang mendapat undangan, diminta untuk mengirim peserta dengan menyiapkan karya tulis.

Sebagai informasi tambahan bahwa Laseda 2018 akan dipusatkan di Kabupaten Pesisir Selatan. Para peserta lomba yang lolos seleksi akan mempresentasikan karya tulisnya untuk diseleksi kembali sebagai peserta terbaik. Para peserta terbaik akan diberi apresiasi dan hadiah menarik. Selain itu, peserta terbaik dari kegiatan ini nantinya akan diikut sertakan dalam lawatan sejarah nasional 2018 di Provinsi Aceh. (FM)

Kepala BPNB Sumbar Narasumber BIMTEK Kesejarahan dan Kepurbakalaan

0
Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman (Kiri) dan Undri menjadi narasumber

Sijunjung – Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Drs. Suarman didapuk menjadi narasumber Bimtek Kesejaran dan Kepurbakalaan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat pada Rabu, 13 Maret 2018 di Wisma Keluarga, Muaro Sijunjung. Dalam kegiatan tersebut Drs. Suarman didampingi oleh Fungsional Peneliti yakni Undri, SS.M.Si dan Efrianto, SS.

Bimtek
Suarman menjadi narasumber dalam Bimtek Kesejarahan dan Kepurbakalaan

Bimtek Kesejarahan dan Kepurbakalaan merupakan bentuk komitmen Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung untuk pemajuan kebudayaan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Kegiatan yang diikuti oleh 41 orang, berasal dari guru SMA, SMP dan SD, pemerhati sejarah, dan pemerhati adat dan budaya. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini dimaksudkan untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan kompetensi masyarakat terutama generasi muda, diharapkan dapat menjadi tenaga sejarah dan kepurbakalaan yang akan dapat menggali, mendokumentasikan potensi sejarah dan kepurbakalaan di Kabupaten Sijunjung demi Pemajuan Kebudayaan.

Kepala BPNB Sumatera Barat memaparkan makalah tentang Pelestarian Kesejarahan dan Kepurbakalaan. Pelestarian kesejarahan penting dilakukan melalui yakni pertama  pendataan tempat-tempat dan peninggalan bersejarah, kedua peminatan sejarah melalui pelajar dimotivasi. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran sejarah. Disamping itu juga bisa dilakukan menulis toponomi, pendokumentasian, melawat tempat-tempat bersejarah, menemukali sejarah daerah, menemukali tokoh serta melakukan kajian atau penelitian sejarah. Dalam melakukan kajian atau penelitian ini harus diarahkan kepada persoalan objek kebudayaan yang diamanahkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan tersebut.

Objek kebudayaan tersebut yakni (1) Tradisi Lisan, (2). Manuskrip, (3). Adat Istiadat, (4). Ritus, (5).Pengetahuan Tradisional, (6). Teknologi Tradisional, (7). Seni, (8). Bahasa, (9). Permainan Tradisional, dan (10). Olahraga Tradisional. Terakhi,r Drs. Suarman, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat juga menekankan untuk melestarikan nilai-nilai kesejarahan dan kepurbakalaan itu sendiri bagi generasi muda sebagai roh  Pemajuan Kebudayan itu sendiri.

Kemudian paparan dari Efrianto, SS, peneliti di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat tentang sejarah lokal, yang merupakan sejarah dari suatu kelompok sosial yang berada pada suatu wilayah tertentu. Pada awalnya sejarah lokal tersebut dikaitkan dengan babad, tambo, riwayat, hikayat, dan sebagainya.

Terakhir, paparan oleh Undri, SS.M.Si, Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat tentang teknik penulisan kesejarahan dan kepurbakaan. Menurut Undri, sebagai sebuah kegiatan keterampilan menulis  diperlukan pengembangan gagasan. Pengembangan gagasan inilah yang dapat menuangkan ide secara utuh dan padu untuk disampaikan secara tertulis. Gagasan yang disampaikan secara tertulis sebaiknya menggunakan bahasa yang baik dan benar agar terjalin hubungan yang baik antara penulis dan pembaca. Ide adalah sesuatu yang melintas dalam pikiran kita yang sifatnya masih sangat umum. Kemudian kegiatan menulis dapat memperluas wawasan penulisan secara teoritis mengenai fakta-fakta yang berhubungan; penulis dapat terlatih dalam mengorganisasikan gagasan secara sistematis serta mengungkapkannya secara tertulis. Geliat dari menulis ini bisa melalui media massa, jurnal dan sebagainya.

Disela kegiatan tersebut, juga telah dibentuk Komisariat Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kabupaten Sijunjung, yang merupakan profesi yang menghimpun para sejarawan, pemerhati sejarah dan sebagainya. Ide pembentukan MSI Komisariat Sijunjung atas ide BPNB Sumatera Barat. Pembentukan ini dikoordinir langsung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung dan BPNB Sumatera Barat dan Sekretaris MSI Sumatera Barat yakni Undri, SS.M.Si.

Harapan, dengan kegiatan ini seluruh peserta dapat memahami tetang sejarah dan kepurbakalaan itu sendiri, dapat menulis dan mensosialisasikan daerahnya kepada masyarakat umum. Hingga akhirnya potensi sejarah dan kepurbakalaan di Kabupaten Sijunjung bisa tergali dan terdokumentasikan kedepannya.

Kontributor: Undri

Supersemar dan Otonomi Sejarawan

0

 

Sampai saat sekarang ini hampir lima puluh dua tahun lamanya setelah  Soeharto menerima Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) tahun 1966 dari Soekarno, keberadaan disekitar Supersemar tersebut masih tetap “gelap”.

Berbagai macam argumentasi muncul, apakah benar adanya Supersemar tersebut ?. Bahkan lebih jauh lagi ada yang berargumentasi bahwa surat tersebut tidak pernah ada. Pertanyaan seperti itu merupakan pertanyaan yang lumrah terutama dalam kehidupan masyarakat kita yang semakin hari semakin kritis terhadap sesuatu hal yang masa lalu dianggap tabu untuk dibuka ataupun dipertanyakan sebelumnya. Persoalan Supersemar tersebut, sesungguhnya ibarat benang yang kusut dari kumparannya yang semestinya diselesaikan yang akhirnya bisa untuk merajut  sejarah bangsa ini. Namun kusutnya masih bergumpal dan tak tentu mana ujung dan pangkalnya. Pertanyaan kita sekarang ini adalah dimulai dari mana benang yang kusut ini diselesaikan ?.

Berbicara masalah proses penyerahan Supersemar dari Soekarno kepada Soeharto merupakan  sebagai sebuah pristiwa sejarah. Maka upaya untuk memperoleh informasi disekitar pristiwa tersebut, orang mau tak mau harus ”mengolahnya” dengan cara atau metode yang sesuai dengan hal tersebut. Sebagai sebuah pristiwa sejarah, yang terjadi pada masa lalu maka metode atau cara yang tepat adalah dengan mengunakan metode sejarah itu sendiri. Berbicara masalah metode sejarah, salah satu hal yang terpenting dimana orang mau tak mau harus berhadapan yakni dengan  jenis sumber yakni sumber sejarah. Sebagai peninggalan masa lampau, sumber sejarah adakalanya juga dipalsukan. Bagi sepeniliti yang tidak hati-hati dalam mengunakan metode kritik sumber seringkali terjadi bahwa apa yang dianggap selaku fakta tidaklah diterima dengan sendirinya dan bahkan dapat menimbulkan perdebatan.

Pengetahuan tentang sumber sejarah dan kritik sumber merupakan bagian yang esensial dalam  metode sejarah. Sebagai kesaksian dari gejala sejarah, sumber sejarah sesungguhnya mengandung beberapa jenis fakta diantaranya adalah : pertama, fakta keras (hardfact) yaitu fakta-fakta yang biasanya sudah diterima selaku benar sebagai suatu kenyataan (realitas) benar pada dirinya (self-evident) dan karenanya tidak diperdebatkan lagi. Kebanyakan fakta adalah bebas dari kemauan kita. Itulah sebabnya mengapa fakta jenis ini sering disebut fakta keras atau sudah mapan (established) dan tak mungkin dipalsukan lagi. Sebagai contohnya adalah suatu fakta bahwa Soekarno lah yang membacakan teks proklamasi kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kedua, fakta mentah (cold-fact) atau secara harfiah diterjemahkan dengan fakta dingin. Ia dikatakan demikian karena masih perlu dibuktikan dengan dukungan fakta-fakta yang lain. Oleh karena fakta tidak dengan sendirinya tersedia begitu saja, maka sejarawan melalui penelitian sumber-sumber sejarah mencoba mengolah dan membuatnya bicara, sehingga bisa diketahui dan dimengerti. Tetapi sungguhpun demikian masih terdapat kemungkinan timbulnya perdebatan tentang kebenarannya.

Permasalahan tentang Surat Perintah Sebelas Maret atau lebih dikenalnya dengan Supersemar tersebut termasuk kedalam kategori fakta mentah ini. Sebab  perdebatan mengenai keaslian surat tersebut masih bermunculan serta masih diragukan baik dari segi isi maupun bentuknya.  Fakta ini ternyata menimbulkan berbagai tanggapan yang kontroversial. Kusutnya tidak berkesudahan diselesaikan atau memang diperbiarkan kusut terus baik kusutnya dalam persoalan keaslian dan bentuk (materinya).

Sesungguhnya kalau kita mencermati dengan seksama begitu kompleknya permasalahan yang akan muncul bila mengungkapkan suatu pristiwa seperti pristiwa Supersemar.  Menurut penulis ada  implikasi apabila keberadaan surat tersebut dibongkar. Sesungguhnya merupakan suatu hal yang tidak dapat kita sangsikan lagi bahwa keberadaan dari surat tersebut akan sangat besar muatan politiknya. Dengan mengungkapkan keberadaannya mungkin akan ada pihak yang dirugikan, namun demi keselamatan serta sejarah masa depan negara kita sepatutnya harus dituntaskan.

Melihat persoalan Supersemar sebagai pristiwa masa lalu, maka seharusnya masalah tersebut diserahkan kepada ahlinya untuk meneliti tentang keberadaan surat tersebut. Peristiwa tersebut perlu diungkap kepermukaan agar masyarakat tahu yang sesungguhnya yang terjadi. Dengan kata lain dengan pengungkapan tersebut semua wacana yang menyangsikan keberadaan surat tersebut dapat terungkap apakah benar ada atau tidak.

Dalam pengungkapan tabir Supersemar tersebut para sejarawan haruslah punya “otonomi”, terutama para sejarawan yang akan menelitinya. Tidak ada hal namanya intervensi terutama dari pemerintah untuk membenarkan atau sebaliknya dari pristiwa sejarah tersebut. Semuanya haruslah sesuai dengan bukti dilapangan, tidak dikurangi atau dilebihkan. Walaupun dalam sejarah perlu adanya interpretasi sejarawan, namun hal tersebut tidak terlepas dari bukti atau sumber yang ada. Suatu tantangan nampaknya untuk mengungkapkan hal tersebut, kemungkinan besar berbagai macam intervensi akan datang namun kalau mau menegakkan serta membuat pristiwa sejarah tersebut sebagai sebuah pristiwa yang benar maka seharusnya intervensi tersebut harus diabaikan. Sehingga akan menghasilkan karya sejarah yang mengungkapkan pristiwa sejarah seperti pristiwa Supersemar yang benar-benar sesuai dengan kejadian tanpa ada tendensi lainnya.

Akhirnya untuk menyelesaikan benang yang kusut yakni masalah Supersemar para sejarawan dituntut untuk kerja yang ekstra keras untuk mengungkapkan semuanya itu. Siapa lagi kalau bukan sejarawan yang akan melaksanakannya. Karena  para sejarawan yang memang ahlinya yang akan meneliti dan mengungkapkan kembali  sejarah lahirnya Supersemar yang sebenar-benarnya. Mudah-mudahan menjadi suatu kenyataan.

Penulis. Undri (Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat dan Sekretaris Masyarakat Sejarawa Indonesia (MSI) Cabang Sumatera Barat)

Tulisan di terbitkan di Harian Umum Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Senin 12 Maret 2018.

Seminar Proposal Pelestarian Nilai Budaya

0
Seminar, Foto. Marbun

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat mengadakan seminar bedah proposal kajian pelestarian budaya pada Selasa-Kamis, 13-15 Maret 2018. Acara diadakan di ruang rapat BPNB dan dibuka langsung oleh Kepala BPNB Sumbar, Drs. Suarman. Turut hadir dalam kegiatan tersebut narasumber pembedah yaitu Dr. Anatona, M.Hum dan Dr. M. Nur.

Seminar proposal, Foto. Marbun

Acara dimulai dengan pembacaan doa oleh Hariadi, Menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan pembukaan oleh Kepala BPNB Sumbar. Seminar hari pertama dimoderatori oleh Rita yeni (Sesi I) dan Fiqrul Hanif (Sesi II).

Kegiatan seminar proposal ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun sebelum para peneliti turun ke lapangan untuk pengumpulan data. Harapannya, seminar ini dapat memberi masukan dan saran agar pelaksanaan penelitian semakin baik. Hal ini penting agar laporan penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan berkontribusi positif pada pelaksanaan pembangunan sesuai tugas dan fungsi kantor.

Suarman dalam sambutannya menekankan bahwa penelitian BPNB Sumbar harus sesuai dengan arahan Dirjen Kebudayaan yakni bagaimana pendekatan sejarah dan budaya berkontribusi pada kebijakan pelestarian nilai budaya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa output penelitian ini mampu memberi ‘nyawa’ dalam pengembangan jiwa nasionalisme. Sehingga, sejarah budaya harus terintegrasi dengan pengdidikan dan penguatan karakter bangsa.

Lebih jauh Suarman menyampaikan bahwa hasil-hasil penelitian BPNB Sumbar harus lebih ditukikkan untuk pembangunan kebudayaan. Dia juga berharap, seminar proposal ini mampu memberi masukan dan saran sekaligus menjadi ajang belajar para peneliti untuk semakin baik ke depan.

Seminar ini akan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut yang dibagi ke dalam tiga bidang proposal penelitian yakni Sejarah, Sastra, dan Tradisi. Pada hari pertama, seminar khusus membedah proposal sejarah yang dibagi dalam dua sesi. (FM)

Petunjuk Lomba Karya Tulis Jejak Tradisi Daerah 2018

0

Padang – Dalam rangka Jejak Tradisi Daerah 2018 yang rencananya diadakan pada April 2018, panitia penyelenggara mengadakan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI). Lomba ini sekaligus sebagai seleksi peserta JETRADA yang akan diikutsertakan ke Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Para peserta didik dari sekolah yang diundang dalam kegiatan ini diminta mengirimkan karya ilmiah kepada panitia sebelum batas waktu pengiriman. Tulisan yang masuk akan diseleksi dengan ketat oleh juri yang telah ditentukan. Peserta terbaik dari masing-masing sekolah, nantinya akan diundang sebagai peserta JETRADA 2018 yang dilaksanakan di Kota Prabumulih.

Sebelumnya diinformasikan, sekitar 36 orang peserta didik dengan tulisan terbaik dari masing-masing sekolah dan 9 orang guru akan diundang mengikuti JETRADA 2018. Selanjutnya para peserta yang diundang menjadi peserta Jetrada, nantinya akan diseleksi kembali untuk menjadi peserta terbaik. Kepada peserta terbaik akan diberikan apresiasi. Di samping itu, para guru pendamping yang turut diundang akan diberi kesempatan untuk menyampaikan orasi budaya bertemakan Peran Guru Dalam Pelestarian Budaya Di Sekolah.

Petunjuk teknis pelaksanaan lomba karya tulis dapat diunduh:Petunjuk Teknis Jetrada 2018

Prabumulih Dipilih Sebagai Lokasi Jejak Tradisi Daerah 2018

0

Padang – Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan ditetapkan sebagai Lokasi pelaksanaan Jejak Tradisi Daerah (JETRADA) 2018. Pemilihan lokasi ini karena sebagai kota lama, Prabumulih masih memegang kuat tradisi adat yang tetap dijaga hingga kini. Salah satu tradisi tersebut dikenal dengan sedekah dusun, yaitu tradisi mengucap syukur kepada sang pencipta atas hasil panen yang baru saja diperoleh. Karena tradisi ini diadakan sebagai ucapan syukur atas panen, maka tradisi ini dilaksanakan pasca panen. Rencananya, kegiatan ini akan dilangsungkan pada April 2018.

Jejak Tradisi Daerah adalah kegiatan internalisasi nilai budaya Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan nilai-nilai budaya di masyarakat kepada generasi muda khususnya peserta didik. Sehingga, peserta dalam kegiatan ini adalah peserta didik tingkat SMA/sederajat dan guru sosial budaya. Para peserta tersebut diseleksi dari tiga wilayah kerja BPNB Sumbar yakni Provinsi Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Tema kegiatan kali ini yaitu Menggali Kearifan Lokal, Mewujudkan Toleransi Dalam Keberagaman. Dalam hal ini, para peserta didik melalui interaksi dengan peserta lain dapat belajar kearifan lokal dari wilayah yang berbeda-beda dan saling menghargai perbedaan. Sehingga terwujudlah toleransi tidak hanya antar peserta, tapi juga antar sesama melalui implementasi pelajaran yang diperoleh.

Para Peserta adalah Peserta Terbaik Lomba Karya Tulis

Dalam pelaksanaan JETRADA 2018, panitia juga mengadakan lomba Karya Tulis Ilmiah sesuai dengan tema. Para peserta didik dari sekolah yang diundang dalam kegiatan ini diminta untuk mengirimkan karya ilmiah kepada panitia sebelum batas waktu pengiriman. Tulisan yang masuk akan diseleksi dengan ketat oleh juri yang telah ditentukan. Peserta terbaik dari masing-masing sekolah, nantinya akan diundang sebagai peserta JETRADA 2018 yang dilaksanakan di Kota Prabumulih.

Sekitar 36 orang peserta didik dengan tulisan terbaik dari masing-masing sekolah dan 9 orang guru akan diundang mengikuti JETRADA 2018. Selanjutnya para peserta yang diundang menjadi peserta Jetrada, nantinya akan diseleksi kembali untuk menjadi peserta terbaik. Kepada peserta terbaik akan diberikan apresiasi. Di samping itu, para guru pendamping yang turut diundang akan diberi kesempatan untuk menyampaikan orasi budaya bertemakan Peran Guru Dalam Pelestarian Budaya Di Sekolah.

Lawatan Sejarah Daerah 2018 di Pesisir Selatan

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat akan melaksanakan Lawatan Sejarah Daerah (LASEDA) 2018. Rencananya, kegiatan ini dipusatkan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Pelaksanaan kegiatan ini ditetapkan pada 2 – 5 April 2018 dengan tema Menggali Potensi Kemaritiman melalui Perspektif Sejarah. Pemilihan Kabupaten Pesisir Selatan sebagai lokasi pelaksanaan LASEDA 2018 adalah bahwa selain populer sebagai daerah wisata, Pessel juga kaya akan peristiwa sejarah.

Lawatan Sejarah Daerah merupakan kegiatan rutin yang dimaksudkan untuk mengenalkan peristiwa sejarah melalui kunjungan-kunjungan peninggalan sejarah. Tahun ini, para peserta akan dikenalkan beberapa objek-objek bersejarah di Kabupaten Pesisir Selatan seperti Tugu Renville, Lunang, Indrapura, Kambang, Salido dan Cingkuk. Panitia mencoba mengenalkan sejarah Pesisir Selatan dalam tiga masa yakni masa pra kolonial, kolonial dan masa kemerdekaan.

Menurut Kepala BPNB Sumbar, Suarman, kegiatan ini dimaksudkan selain pengenalan obyek sejarah, yang lebih dipentingkan adalah pembelajaran nilai-nilai sejarah dalam rangka menumbuhkan kesadaran sejarah generasi muda dan menemukenali serta mengapresiasi potensi sejarah lokal.

Peserta dalam kegiatan ini adalah peserta didik tingkat SMA/Sederajat dan guru sejarah dari tiga wilayah kerja BPNB Sumbar yakni Provinsi Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Diperkirakan, peserta dan guru yang terlibat dalam kegiatan berjumlah 45 orang yang terdiri dari 35 peserta didik dan 10 guru sejarah.

Lomba Karya Tulis

Dalam pelaksanaannya, para peserta diundang untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Kesejarahan sesuai dengan tema Menggali Potensi Kemaritiman melalui Perspektif Sejarah. Karya tulis tersebut dikirim kepada panitia untuk diseleksi oleh juri yang telah ditentukan. Peserta terbaik dalam lomba karya tulis tersebut akan diberi apresiasi pada hari pelaksanaan LASEDA 2018.

BPNB Sumatera Barat Melepas Mahasiswa Magang

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat melepas tiga mahasiswa magang di Kantor. Pelepasan ini berkaitan dengan masa magang mahasiswa tersebut telah habis dan harus kembali ke kampusnya. Acara dilaksanakan di Ruang Rapat BPNB Sumbar pada Selasa, 6 Maret 2018. Acara ini diikuti KasubBag Tata Usaha BPNB Sumbar Titit Lestari, perwakilan Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Padang Doni, pegawai BPNB Undri, Mardoni dan Firdaus Marbun serta mahasiswa magang.

Tiga mahasiswa magang tersebut berasal dari UIN Imam Bonjol, Padang. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Silvia, Tuti Novriyanti, dan Wulan Kurniati. Mereka merupakan mahasiswa jurusan studi perpustakaan. Sesuai dengan jurusannya, maka selama magang mereka ditugaskan di perpustakaan kantor.

Dalam kesempatan pelepasan tersebut, KasubBag Tata Usaha Titit Lestari menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada kampus UIN yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk magang di BPNB Sumbar. Karena dengan adanya mahasiswa magang tersebut, pengelolaan perpustakaan di kantor BPNB Sumatera Barat bisa lebih rapi.

Tari mengakui beberapa keterbatasan berkaitan dengan perpustakaan seperti tempat dan sumber daya manusia. Keterbatasan itu membuat manajemen dan pelayanan di perpustakaan tidak bisa maksimal. Sementara, setiap tahun kantor menghasilkan banyak buku, jurnal serta laporang-laporan penelitian. Sehingga dengan adanya mahasiswa magang, maka sangat membantu pengelolaan perpustakaan tersebut.

Tari juga meminta penilaian atas pelayanan kantor dalam menyambut mahasiswa magang tersebut, sekaligus meminta maaf jika ada kekurangan dalam penerimaan. Terakhir, dia meminta jika bisa kerjasama antar instansi yang berkesinambungan dalam pengelolaan perpustakaan.

Doni sebagai perwakilan UIN Imam Bonjol berterima kasih atas bimbingan yang diberikan kepada mahasiswa mereka selama menjalani magang. Dia juga menyambut baik harapan akan kerjasama dan bersedia mendukung beberapa aspek terkait pengelolaan perpustakaan seperti repository, e-journal dan open journal system (OJS).

JPSB Call for Papers

0

Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya adalah jurnal yang diterbitkan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat.  Penerbitan Jurnal dilaksanakan dua kali dalam setahun yakni Juni dan November. Kami mengundang peneliti, akademisi, dan profesional untuk mengirimkan artikel hasil penelitian yang belum pernah dipublish untuk diterbitkan pada edisi 2018 (Vol 4 No.1/2). Karya tulis yang diterima akan diedit dan dinilai berdasarkan orisinalitas, sistematika, teknik penelitian,  kebaruan dan kontribusi tulisan. Kami menerima semua hasil-hasil penelitian  yang berkaitan dengan Penelitian Sejarah dan Kebudayaan.

Batas Pengiriman Tulisan:

Edisi                        : Volume 4 No. 1

Waktu Pengiriman : 1 Maret—30 April 2018

Alamat Pengiriman: jurnalbpnbpadang@gmail.com

CP                           : Hariadi (081374661880)

Unduh Pedoman Penulisan:Pedoman Penulisan Artikel

 

Rendang Lokan, Randang ala Pesisir

0
Randang Lokan, Foto. Dila

Masyarakat Sumatera Barat atau Minangkabau identik dengan Rendang. Masakan satu ini tidak saja terkenal di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Kelezatannya yang mendunia, telah mendorong rendang tidak saja dikonsumsi sebagai makanan biasa tapi telah dipasarkan sebagai buah tangan ketika melakukan perjalanan wisata. Walau demikian, banyak yang tidak tahu jenis-jenis rendang apa saja yang ada di Sumatera Barat, khususnya rendang lokan.

Proses memasak randang lokan, Foto. Dila

Berbicara jenis rendang bagi masyarakat Minangkabau tentu sudah biasa, masyarakat umumnya tahu bahan apa saja yang bisa direndang dan nikmat untuk dikonsumsi. Tapi bagi masyarakat di luar Sumbar tentu masih hal baru. Umumnya masyarakat di luar Sumatera Barat hanya tahu rendang daging atau disebut saja sebagai rendang. Padahal rendang sesungguhnya mempunyai aneka ragam jenis sesuai dengan bahan-bahan pembuatnya. Sebut saja rendang telur, rendang bingkah, rendang lokan dll.

Rendang lokan merupakan salah satu jenis rendang yang mungkin jarang diketahui orang. Bahan utamanya yang tidak biasa membuat rendang yang satu ini jarang diketahui. Lokan adalah kerang, jadi rendang lokan adalah rendang yang bahan utamanya terbuat dari kerang. Dari bahan utamanya, jelas bahwa rendang lokan merupakan produk pesisir yang umum menghasilkan kerang. Memang, rendang lokan adalah rendang hasil adaptasi masyarakat Minang Pesisir.

Randang lokan, Foto. Dila

Alam takambang jadi guru, begitulah filosofi masyarakat Minangkabau dalam berinteraksi dengan alam. Ketersediaan kerang yang jauh lebih mudah di daerah pesisir dengan masyarakat yang mayoritas nelayan, membuat masyarakat lebih memilih kerang sebagai bahan utama rendang dari pada daging sapi atau kerbau. Adat istiadat tetap berjalan, rendang tetap menjadi sajian utama walau bahan utamanya berubah menjadi kerang. Hingga dalam adat-istiadat Pesisir, rendang lokan menjadi hidangan utama kepada penghulu menggantikan rendang daging di darek.

Mengenal Tari Piring Gelas

0
Tari Piring Gelas, Foto. Mardoni

Tari piring gelas adalah tarian tradisional yang berkembang di Kabupaten Musirawas dan Kabupaten Musirawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan. Tarian ini dimainkan dengan kesederhanaan, keluesan, dan keaslian gerak tari. Selainitu tarian ini diiringi komposisi musik dengan karakter kedaerahan yang sangat kental. Seperti namanya, tarian ini dimainkan dengan menggunakan piring dan gelas sebagai media pendukung. Berbeda dengan pertunjukan tari piring di daerah lain, gelas dan piring dalam tari ini tidak dipegang tapi ditumpuk dan dijadikan sebagai pijakan oleh penari.

Tari Piring Gelas, Foto. Mardoni

Tidak diketahui kapan dan siapa sesungguhnya yang menciptakan tari piring gelas. Namun diyakini bahwa munculnya tari ini sebagai bagian dari ritual sebelum panen hasil bumi dan salah satu bentuk perjuangan untuk mencapai kemerdekaan pada masa agresi Belanda (Halilintar 2016). Pada masa menghadapi penjajah, tari ini dimanfaatkan sebagai upaya mengelabui musuh. Ketika musuh lalai, para penari akan melakukan penyergapan-penyergapan dan perlawanan.

Biasanya tarian ini dimainkan oleh seorang atau dua orang perempuan. Pada masa lalu untuk bisa memainkan tari piring gelas, seorang penari haruslah seorang gadis. Jika tidak maka dipercaya akan berakibat fatal seperti penari dapat jatuh ketika menaiki tumpukan piring dan gelas. Hal ini mengingat tari tersebut dimanfaatkan sebagai bagian dari ritual. Namun, kini tari piring gelas telah dikembangkan dalam berbagai upacara baik adat maupun upacara-upacara seperti penyambutan tamu.

Berbagai Karya Budaya Musirawas Utara Diinventarisasi

0
Pindang Rupit, Foto. Mardoni

Padang – Selama bulan Februari dan Maret 2018, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat fokus melaksanakan kegiatan Inventarisasi dan Pencatatan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Kegiatan dilaksanakan di tiga wilayah kerja yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Kegiatan ini juga melibatkan enam orang pegawai. Salah satu kabupaten yang turut diinventarisasi di Provinsi Sumatera Selatan adalah Kabupaten Musi Rawas Utara.

Sambal Cung, Foto. Mardoni

Berbagai karya budaya di Kabupaten Musirawas Utara akan dicatat. Beberapa aspek yang akan dicatat dan diinventarisasi dalam kegiatan ini adalah adat-istiadat, upacara tradisi, kuliner, kesenian tradisional, permainan, cerita rakyat, kerajinan serta berbagai wujud kebudayaan lainnya.

Kabupaten Musirawas Utara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan yang baru terbentuk. Awalnya kabupaten ini masuk wilayah Kabupaten Musirawas. Ibu kota kabupaten ini berada di Rupit. Sebagai kabupaten baru, inventarisasi dimaksudkan untuk menggali karya-karya budaya masyarakat Musirawas Utara serta nilainya. Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) dibentuk melalui Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2013.

Harapannya, proses pencatatan dan inventarisasi ini dapat dimanfaatkan dalam banyak hal seperti menggali nilai-nilai tradisi yang mencerminkan identitas masyatakat, pengayaan muatan lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. selain itu, hasil inventarisasi ini juga diharapkan dapat menjadi data dukung dalam pengusulan warisan budaya nasional maupun dunia.

Proses Inventarisasi dan Pencatatan WBTB di Kabupaten Musirawas Utara dilakukan oleh Mardoni sejak 20 Februari – 2 Maret 2018. Sebelumnya tim inventarisasi juga telah turun di Provinsi Sumatera Barat yakni di Pasaman Barat dan Pesisir Selatan. Tim ini fokus mennginventarisasi WBTB Minang Rantau.

WBTB Minang Rantau Diinventarisasi

0
Bpk. Junaidi, salah satu narasumber di Kab. Pesisir Selatan. Foto. Dila

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, pada tahun 2018 melaksanakan Pencatatan dan Inventarisasi Warisan Budaya Tak Benda. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan di tiga wilayah kerja yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Pada tahun ini, kegiatan inventarisasi Provinsi Sumatera Barat difokuskan pada Minang Rantau yakni mencatat warisan budaya tak benda Minangkabau di daerah rantau baik itu rantau darek maupun rantau pasisia.

 

Gedung bekas bangunan Belanda di Kecamatan Talamau, kini difungsikan sebagai wisma untuk para tamu. Foto. Dona

Sebagai informasi, kebudayaan Minangkabau dibedakan menjadi dua yakni Ranah dan Rantau. Ranah merupakan wilayah Minangkabau yang diyakini sebagai asal-usul Minangkabau, sementara Rantau adalah wilayah Minangkabau sebagai wilayah persebaran atau daerah-daerah tempat masyarakat Minangkabau merantau. Wilayah perantauan ini merupakan sebagian besar pesisir dan sebagian kecil wilayah perbukitan (bukit barisan) di Sumatera Barat.

Lokasi Pencatatan dan inventarisasi WBTB ini dilaksanakan di Kabupaten Pasaman Barat dan Kabupaten Pesisir Selatan. Kedua kabupaten ini dirasa cukup representatif untuk mewakili daerah rantau Minangkabau baik darek maupun pasisia.

Di Kabupaten Pasaman Barat inventarisasi dilaksanakan di Kecamatan Talamau. Kecamatan Talamau terdiri dari tiga nagari yakni Talu, Kajai dan Sinuruik. Ketiga nagari ini merupakan daerah rantau Minangkabau yang ditandai dengan banyaknya rumah gadang yang memiliki keterkaitan dengan istana Pagaruyung. Selain itu di Talamau terdapat meriam punggung yang memiliki cap Pagaruyung yang berada di rumah gadang ‘Nan Bosa’. Hal ini sebagai legitimasi hubungan keduanya.

Sementara inventarisasi di Kabupaten Pesisir Selatan dilaksanakan di Kecamatan Air Pura. Kecamatan Airpura merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Indrapura. Daerah ini dulunya diyakini sebagai bekas kerajaan Indrapura dan cukup representatif mewakili wilayah rantau Pesisir.

Inventarisasi WBTB di Provinsi Sumatera Barat ini dilaksanakan oleh Rahma Dona (Pasaman Barat) dan Nurfadilah Fajri Rahman (Pesisir Selatan), keduanya adalah pegawai BPNB Sumatera Barat.

BPNB Sumbar Melepas Dua Pegawai Pensiun

0

Padang – Pada Jumat, 2 Februari 2018, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat mengadakan acara silaturahmi sekaligus pelepasan pegawai pensiun. Acara pelepasan dipimpin langsung oleh Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman dan dihadiri seluruh pegawai, termasuk dua pegawai yang baru saja pensiun. Acara dimulai pada Pukul 09.00 Wib di Ruang Rapat BPNB Sumbar.

Acara ini dilaksanakan berhubung dua orang pegawai BPNB Sumbar memasuki masa pensiun. Kedua pegawai tersebut adalah Drs. Seno dan Dahlia Melsi. Keduanya telah pensiun sejak akhir tahun 2017. Seyogyanya acara ini juga berlangsung tahun lalu sesuai waktu pensiun mereka.  Namun karena berbagai kesibukan acara baru bisa dilaksanakan.

Kedua pegawai pensiun tersebut memang sudah memasuki usia pensiun setelah mencapai usia 58 tahun dan 60 tahun. Bapak Seno sendiri mencapai batas usia pensiun lebih lama dua tahun dari Dahlia Melsi yaitu 60 tahun karena menjabat sebagai fungsional tertentu yakni peneliti madya.

Rangkaian acara silaturahmi dimulai dengan penyampaian pesan dan kesan dari Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman. Setelah itu dua orang perwakilan pegawai juga menyampaikan kesan dan pesan yang selanjutnya diberikan kesempatan kepada kedua pegawai yang pensiun untuk menyampaikan sepatah kata.

Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman menyampaikan bahwa kedua pegawai yang pensiun merupakan pegawai yang loyal dan selalu disiplin dalam menjalankan tugas. Ia juga menyatakan bahwa sesungguhnya pensiun ini bukan berarti memisahkan karena silaturahmi harus selalu dibangun. Selain itu masing-masing kita juga tidak bisa lepas dari bayang-bayang BPNB Sumbar sebagai bagiannya.

“kalau melangkah bukan berarti pergi, kalau melambaikan tangan bukan berarti meninggalkan kami, tidak ada kata perpisahan karena Bapak/Ibu akan membawa bayang-bayang kami dan kami juga akan membawa bayang-bayang Bapak/Ibu” demikian Suarman membuka pesannya

“kami juga meminta kalau ada salah kata, mohon kita saling memaafkan” tambahnya

Senada dengan itu Zusneli dan Noveri sebagai perwakilan pegawai menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan selama bekerja bersama di BPNB Sumbar. Zusneli juga berharap bahwa silaturahmi tetap terjaga di masa mendatang.

Suasana penuh kekeluargaan sekaligus haru menyelimuti acara pelepasan Pak Seno dan Bu Dahlia. Hal ini tidak terlepas dari kesan-kesan kebersamaan selama 18 tahun bersama dalam kegiatan sehari-hari.

“kami mohon maaf jika dalam pergaulan selama ini ada salah. Kebaikan bapak dan ibu tidak akan kami lupakan. Kami juga mohon doa bapak/ibu supaya kami bisa berhasil selama sejak pensiun” demikian Seno.

Acara berakhir dengan pemberian tali kasih oleh Kepala kepada Pak Seno dan Bu Dahlia.

Hilmar Farid Buka Seminar Media Massa dan Sosialisasi UU No.5/2017

0
Hilmar Farid

Padang – Dalam rangka pendukungan Hari Pers Nasional 2018, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan ‘Seminar Media Massa dan Warisan Budaya serta Sosialisasi Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan’. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis 1 February 2018 di Ballroom Hotel Inna Muara, Padang, Sumatera Barat. Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid membuka secara resmi kegiatan tersebut.

Pembukaan oleh Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid

 

Turut hadir dalam seminar Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Nadjamuddin Ramly, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Taufik Effendi, Kepala BPNB Sumbar Suarman, Kepala Balai Cagar Budaya Nurmatias, Kepala UPTD Taman Budaya Muasri, komunitas-komunitas budaya, tokoh seni, tokoh adat serta akademisi.

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza, kemudian diikuti pembacaan ayat Alquran oleh Hariadi, lalu pembacaan doa oleh Muasri. Setelah itu para peserta disuguhi penampilan tari pasambahan dari Sanggar seni Indo Jati. Selanjutnya adalah Laporan Direktur WDB, lalu diikuti pengarahan sekaligus pembukaan secara resmi seminar oleh Dirjen Kebudayaan.

Tari Pasambahan

Dalam laporannya, Direktur WDB Nadjamuddin Ramly menyampaikan alasan pemilihan Sumatera Barat sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan. Selain karena alasan pelaksanaan Hari Pers 2018 dipusatkan di Sumatera Barat, provinsi ini juga merupakan salah satu kiblat budaya yang sudah paripurna di Indonesia. Sumatera Barat memang terkenal dengan tokoh-tokoh intelektual, cerdik cendekia yang dikenal secara nasional, bahkan menjadi tokoh-tokoh pendiri NKRI. Sebut saja Moh. Hatta, Moh. Yamin, M. Natsir serta Buya Hamka.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid dalam arahannya menyampaikan bahwa ada satu kondisi yang terjadi akhir-akhir ini yakni disruption. Menurutnya, disruption ini adalah patahan, dimana ketika kita melaju di garis lurus tiba-tiba bertemu belokan. Kondisi ini terjadi karena perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, yang menawarkan sesuatu dengan cepat dan sesuai dengan kebutuhan.

Salah satu contoh kondisi ini adalah kita tidak perlu ke bioskop hanya untuk menonton. Kita bisa memenuhi kebutuhan menonton hanya dengan gawai yang menyediakan lebih banyak menawarkan pilihan, cepat, dan sesuai kebutuhan. Teknologi informasi yang berkembang dalam kebudayaan telah mampu mendekatkan yang jauh dan sebaliknya. Hilmar Farid menyatakan bahwa hal tersebut menjadi tantangan kebudayaan sekarang ini.

Pada kesempatan tersebut Hilmar Farid juga menyampaikan harapannya bahwa seminar Media Massa dan Warisan Budaya serta Momen Hari Pers Nasional bisa menyelesaikan persoalan pelik tersebut. Dia berharap seminar benar-benar menjadi forum dalam merumuskan solusi untuk menghadapi tantangan baru media massa dan kebudayaan.

Setelah memberikan pengarahan, Hilmar Farid secara resmi membuka kegiatan Seminar Media Massa dan Warisan Budaya serta Sosialisasi Undang-Undang No.5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Launching Kegiatan 2018 BPNB Sumatera Barat

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat mengadakan rapat bulanan sekaligus launching kegiatan 2018. Rapat tersebut dilaksanakan pada Rabu (31/1) di Ruang Sidang BPNB Sumbar. Rapat dipimpin langsung oleh Kepala BPNB Drs. Suarman dan dihadiri seluruh pegawai hadir.

Agenda rapat kali ini adalah launching kegiatan 2018 dan penetapan penanggung jawab masing-masing kegiatan. Rapat dimulai dengan pembukaan oleh Kasubbag Tata Usaha, selanjutnya pengarahan dari Kepala BPNB Sumbar yang dilanjutkan dengan pembacaan penanggungjawab masing-masing kegiatan.

Dalam arahannya Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman menyampaikan bahwa kegiatan 2018 harus bermuara pada tiga tujuan yakni Pengayaan bahan ajar/muatan lokal, pengusulan wbtb dan menjadi database dan informasi matrilineal. Hal ini sesuai dengan arahan Dirjen Kebudayaan dan sesuai tugas dan fungsi balai sebagai pelestari budaya. Sehingga semua kajian, inventarisasi maupun kegiatan lainnya harus diarahkan ke tiga fokus tersebut.

Suarman menambahkan bahwa kelemahan-kelemahan yang terjadi di tahun sebelumnya harus menjadi pelajaran dalam kegiatan tahun 2018 dan selanjutnya. Dia juga menekankan penting mengakui kelemahan, lalu belajar dari kelemahan tersebut dengan mencari ilmu-ilmu baru. Harapannya pelaksanaan kegiatan ke depan jauh lebih baik.

Dalam rapat kali ini semua jenis kegiatan disampaikan dengan masing-masing penanggungjawabnya. Beberapa dari kegiatan tersebut antara lain kajian pelestarian budaya, internalisasi nilai budaya, inventarisasi nilai budaya serta program bantuan pemerintah. Kegiatan tersebut dibagi dalam sukegiatan rutin seperti Jetrada, Laseda, Belajar Bersama Maestro serta Festival. Pada tahun 2018 ada beberapa kegiatan unggulan seperti Festival Multikultur dan Pekan Budaya Maritim.

Kegiatan unggulan akan dilaksanakan dengan sinergitas antar instansi dengan melibatkan pemerintah daerah serta kampus-kampus. Selain itu, para pemangku adat, sanggar-sanggar/komunitas sebagai pelaku budaya juga akan dilibatkan

Satu hal baru pada kegiatan 2018 dan dipandang baik adalah peneliti akan fokus pada kegiatan penelitian dan menulis. Dalam kegiatan non penelitian, para peneliti berperan hanya sebagai konsultan sesuai dengan bidang keahliannya. Selain itu peneliti bisa terlibat dalam berbagai pembahasan substansi mengenai kegiatan yang sedang berlangsung seperti menjadi narasumber.

Sementara itu, Satuan Pengawas Internal (SPI) juga menyampaikan harapannya dalam pelaksanaan kegiatan 2018. Undri, sebagai ketua SPI menyoroti bahwa ukuran keberhasilan kegiatan 2018 sebaiknya dinilai dari sudut pandang peserta. Beliau menyampaikan bahwa keberhasilan suatu program bukan dinilai oleh pelaksana programnya, tapi oleh orang yang dilibatkan. Dia juga menegaskan akan membagi questioner kepada peserta masing-masing kegiatan untuk menilai keberhasilan kegiatan tersebut.

Semoga pelaksanaan kegiatan tahun ini jauh lebih baik dari sebelumnya.

Usulkan Tari Gandai Sebagai Warisan Budaya, Disdikbud Mukomuko Kunjungi BPNB Sumbar

0

Padang – Dalam rangka pengusulan Tari Gandai sebagai warisan budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muko-muko berkunjung ke Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. kegiatan kunjungan tersebut dilakukan Senin (29/1) dengan diwakili oleh Kabid Kebudayaan Rasita, S.Pd beserta stafnya Isra, S.Sn. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman beserta para peneliti di ruang rapat BPNB Sumbar.

Menurut Rasita, S.Pd, kunjungan tersebut bertujuan bukan hanya meningkatkan silaturahmi antar instansi yang memang sudah sejak lama terjalin khususnya antar pegawai. Namun hal yang utama dalam kunjungan tersebut adalah keinginan Pemda Mukomuko untuk mengusulkan Tari Gandai sebagai warisan budaya Mukomuko yang diakui secara nasional maupun dunia. Selanjutnya adalah terkait pelaksanaan Festival Kapung Sati Ratau Betuah yang akan dilaksanakan oleh Pemda dalam waktu dekat.

Terkait pengusulan Tari Gandai, kunjungan dimaksudkan untuk meminta masukan dan saran demi lancarnya prosesnya. Beberapa saran yang dimaksud khususnya terkait syarat-syarat yang dibutuhkan dan proses apa saja yang harus dilalui. Mereka juga meminta jika ada data-data tentang Tari Gandai yang mungkin akan mendukung pengusulan tersebut.

Kunjungan tersebut dirasa tepat mengingat BPNB Sumbar mempunya tugas dan fungsin sebagai pelestari budaya. BPNB Sumbar juga sudah berpengalaman dalam menggali, mendorong dan membantu mengusulkan warisan-warisan budaya. Selain itu, hal yang paling penting adalah bahwa beberapa peneliti sudah pernah melakukan kajian tentang Tari Gandai serta maestronya.

Kepala BPNB Sumbar, Suarman menyambut baik upaya pengusulan tari gandai tersebut dan menyatakan akan mendukung sepenuhnya. Dia juga menyampaikan masukan terkait syarat-syarat pengusulan yang harus dilengkapi sebagaimana yang tertera dalam form pengusulan warisan budaya tak benda. Suarman menyarankan beberapa data pendukung seperti hasil-hasil kajian, film-film dokumenter serta dokumentasi berupa foto-foto.

Selanjutnya Refisrul, peneliti BPNB yang juga pernah meneliti Tari Gandai menyatakan sangat mendukung  pengusulan tersebut. Dia juga menyarankan untuk lebih memperdalam kajian mengenai tari gandai. Selain itu dia mengusulkan beberapa penelitian yang sudah dilakukan mahasiswa bisa membantu pengusulan tersebut. Satu hal penting yang disoroti Refisrul adalah masih kurangnya dokumentasi dan film dokumenter tari tersebut.

Masih banyak masukan lain dari peneliti, tapi yang paling penting adalah semua mendukung pengusulan tersebut. Sementara mengenai Festival Kapung Sati Ratau Betuah diusulkan untuk lebih menekankan pada tema multikultur. Hal ini untuk melibatkan seluruh etnis yang ada di Kabupaten Mukomuko, sehingga etnis-etnis tersebut turut merasa sebagai warga Mukomuko.

Semoga tercapai!

Suarman Hadiri Pembukaan Andalas Film Exhibition 2017

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menghadiri pembukaan Andalas Film Exhibition 2017 pada Jumat, 17 November 2017. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Flash Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas, Padang. Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman hadir memberi kata sambutan dalam acara yang dibuka langsung oleh Dekan FIB Unand Hasanuddin. Kegiatan pembukaan ditandai dengan pemukulan gendang oleh Kepala BPNB Sumatera Barat dan Dekan FIB Unand.

Kehadiran Suarman dalam pembukaan Andalas Film Exhibition 2017 menunjukkan dukungan nyata BPNB Sumatera Barat dalam pengembangan potensi sineas muda untuk berkarya. Selain itu, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, BPNB mempunyai salah satu tugas dan fungsi dalam hal pelestarian budaya termasuk perfilman. Hal ini penting mengingat bahwa audiovisual sudah menjadi media yang tidak bisa dipisahkan dalam hal internalisasi nilai budaya.

Dalam sambutannya Suarman menyampaikan bahwa Indonesia merupakan adi daya kebudayaan dan Sumatera Barat salah satu lumbung dari kebudayaan tersebut. Sebagai lumbung kebudayaan, maka perlu untuk melakukan internalisasi nilai budaya kepada generasi muda, sehingga kebudayaan tersebut tidak luntur. Dan salah satu media internalisasi yang cukup efektif adalah lewat audiovisual.

Penandatangan kerjasama

Pada kesempatan pembukaan Andalas Film Exhibition 2017 tersebut Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman serta Dekan Fakultas Ilmu Budaya Dr. Hasanuddin, M.Si sepakat untuk mempererat kerjasama kedua lembaga. Kesepakatan terutama adalah dalam hal pelestarian budaya. Bentuk kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kerjasama antar kedua lembaga.

Pelaksanaan Andalas Film Exhibition 2017 merupakan kegiatan perdana yang dirancang untuk memberi kesempatan kepada para pelajar yang berminat dalam perfilman. Rangkaian kegiatan terdiri dari kelas film dan simposium.

Sebagai informasi panitia Andalas Film Exhibition 2017 telah menyeleksi film-film yang ikut mendaftar dalam simposium. Menurut ketua panitia, ada sekitar 117 film yang mendaftar dan 19 film diantaranya lolos seleksi. Film-film tersebut merupakan produksi pelajar SMA/sederajat se-Indonesia dan umumnya mengangkat tentang fenomena remaja dan budaya masa kini.

Acara terakhir dalam pembukaan adalah pemutaran dua film hasil produksi peserta yang lolos seleksi.

Mengenang Masa Kecil Lewat Permainan Tradisional

0

Padang – Kembali ke masa kecil memang tidak akan pernah bisa lagi. Namun, mencoba melakukan aktivitas masa kecil dapat memunculkan kenangan akan kebahagiaan masa kecil. Hal itulah yang coba ditawarkan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat dalam pameran sejarah budaya di Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat pada 16-18 November 2017. Selain menawarkan kesenangannya, pameran tersebut juga mencoba menggali dan mengenalkan karya-karya budaya tradisional yang saat ini semakin jarang ditemukan.

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat pada pameran kali ini memang menawarkan sajian  yang berbeda dari biasanya. Kalau sebelumnya hanya memamerkan buku-buku dan jurnal hasil penelitian, kali ini panitia menunjukkan langsung karya budaya. Beberapa diantaranya alat musik tradisional seperti bansi, talempong, pupuik batang padi serta gendang. Ada juga kerajinan tradisional seperti anyaman, termasuk proses pembuatan ketupat. Selain itu ada permainan tradisional berupa bakiak panjang, bakiak tempuruang, enggrang, congkak, yeye dan catur harimau.

Uniknya pada pameran kali ini, panitia tidak hanya mengenalkannya saja kepada pengunjung. Panitia malah menawarkan untuk berpraktek langsung dengan dipandu oleh orang yang ahli di bidangnya. Seperti mempraktekkan alat musik dengan didampingi pemain musik tradisi, mempraktekkan pembuatan ketupat serta permainan tradisional. Panitia juga menyiapkan alat-alat yang digunakan untuk belajar.

Terang saja, dengan tawaran untuk mempraktekkan tersebut membuat tertarik para pengunjung untuk mencoba. Para pengunjung yang didominasi para pelajar akhirnya berbondong-bondong untuk belajar, mencoba bahkan hanya sekedar bertanya untuk mengetahui. Bahkan, selama tiga hari pelaksanaan pameran selalu dipenuhi pengunjung.

Pada hari ketiga, pameran menampilkan permainan tradisional Sumatera Barat. Beberapa diantara permainan yang dikenalkan antara lain Bakiak Tempuruang, Bakiak Panjang, Catur Harimau, Enggrang dan Yeye. Seperti biasa pameran kali ini dipadati pengunjung. Semua bentuk permainan dicoba dengan riang gembira. Mereka seolah teringat masa-masa bahagia ketika masih anak-anak.

Stand Pameran BPNB Sumbar Ramai Dikunjungi, Talempong jadi Magnet

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat turut memeriahkan gebyar pendidikan yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat.  Keterlibatan BPNB ditandai pembukaan stand ‘pameran sejarah dan budaya’ serta pemutaran film ‘Bioskop Keliling’. Beberapa koleksi buku-buku hasil penelitian BPNB serta alat musik tradisional Minangkabau dipamerkan dalam kegiatan tersebut.

Acara Gebyar pendidikan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dengan tema kegiatan “Generasi Cerdas, Kreatif dan inovatif”. Kegiatan ini dibuka pada Kamis, 16 November 2017 oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar Ali Asmar. Kegiatan yang dilaksanakan di pelataran parkir Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat turut dihadiri juga oleh Wakil DPRD Prov Sumbar Guspardi Gaus, Kadisdik Sumbar Burhasman, Ketua Panitia Gebyar Pendidikan Ali Akbar, Danlantamal II Padang yang diwakili oleh Letkol Laut (PM) M. Darwin serta perwakilan Kepala BPNB Sumatera Barat.

BPNB Sumatera Barat yang membuka stand pameran sejarah dan budaya mencoba mengenalkan kebudayaan Minangkabau lewat buku-buku hasil penelitian. Buku-buku tersebut ditulis sendiri oleh para peneliti sebagai kegiatan rutin kantor. Beberapa diantara buku yang dikenalkan dan menjadi cerminan kebudayaan Sumatera Barat adalah Rendang, Mahakarya Rumah Gadang, Maestro Sumatera Barat dan lain-lain. Terdapat juga jurnal yang memuat karya ilmiah para peneliti seperti Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya serta Jurnal Suluah.

Selain mengenalkan buku-buku dan jurnal hasil penelitian. Pameran juga mencoba mengenalkan alat musik tradisional Minangkabau. Terdapat beberapa alat musik tradisional Minangkabau yang dikenalkan seperti Talempong, Pupuik Batang Padi, Gendang, Sarunai serta Bansi. Uniknya dalam pameran tersebut, para tamu berkesempatan mengenal dan mempraktekkan alat musik tersebut. Untuk itu, panitia telah menyiapkan instruktur yang menguasai alat musik tersebut. Jadi ketika tamu ingin tahu lebih dalam atau ingin mempraktekkan, bisa langsung bertanya kepada instrukturnya.

Pada pameran hari pertama, stand BPNB Sumatera Barat cukup menarik perhatian para tamu. Banyak peserta didik yang berkumpul mengelilingi. Ada yang membaca buku hasil penelitian, bertanya tentang alat musik tradisional, mempraktekkan alat musik serta hanya sekedar menyaksikan tamu yang lain memainkan alat musik. Panitia juga menawarkan beberapa doorprize bagi para tamu yang menambah ketertarikan berkunjung ke stand BPNB.

Salah satu alat musik yang cukup menarik perhatian tamu yang rata-rata pelajar itu adalah alat musik talempong. Banyak diantara mereka yang mencoba sendiri memukul alat musik tersebut. Sementara instruktur mengajar teknik dasar memukul talempong. Perhatian tamu memainkan alat musik tradisional semakin besar ketika panitia juga menawarkan hadiah bagi beberapa tamu yang bisa memainkan alat musik tersebut.

Selama tiga hari gelaran pameran, BPNB Sumatera Barat akan menampilkan karya-karya budaya Minangkabau. Selain buku, jurnal dan alat musik, panitia juga akan mengenalkan permainan tradisional melalui media yang telah disediakan. Nantinya para tamu akan diminta mempraktekkan langsung permainan tersebut. Selain itu, anyaman juga turut dikenalkan lewat praktek langsung. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan akan kekayaan budaya kepada generasi muda, sehingga meningkatkan rasa cinta terhadap budaya sendiri.

Wakil Bupati Membuka Resmi Revitalisasi Kesenian Tradisional Mukomuko

0

Mukomuko (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menggelar Revitalisasi Kesenian Tradisional di Kabupaten Mukomuko. Kegiatan dilaksanakan pada 31 Oktober 2017 di halaman Kantor Camat Air Dikit. Pembukaan secara resmi dilakukan oleh Wakil Bupati Mukomuko Haidir, SIP. Turut hadir dalam acara pembukaan tersebut Camat Air Dikit, Camat Muko-Muko, Kepala Dinas Pendidikan serta kepala desa se-kecamatan Air Dikit. Acara diawali dengan doa, sambutan Camat Air Dikit, Sambutan Kepala BPNB Sumbar, Pembukaan oleh Wakil Bupati.

Kegiatan revitalisasi kesenian tradisional merupakan program kerja Balai Pelestarian Nilai Sumatera Barat untuk menggali dan mengembangkan kembali kesenian tradisional yang sudah mulai langka. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengenalkan serta mengajarkan ke masyarakat nilai-nilai yang terkandung dalam kesenian tersebut sehingga menjadi penguat identitas bagi generasi muda. Selain itu, kegiatan ini juga hendak menunjukkan kepada masyarakat bahwa kebudayaan kita sangatlah kaya dan beragam.

Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada pemerintah setempat yang berkomitmen membangun kebudayaan daerah Mukomuko. Komitmen tersebut layak diapresiasi dengan berbagai kegiatan, salah satunya pertunjukan kesenian. Dia juga menambahkan komitmen pemerintah setempat dalam pelestarian budaya mendorong BPNB Sumatera Barat melaksanakan beberapa kegiatan di Muko-muko termasuk Belajar Bersama Maestro dan Revitalisasi Kesenian.

Selain itu Suarman juga menyampaikan dukungannya dalam hal pelestarian budaya Mukomuko akan membantu membukukan kebudayaan Mukomuko serta mendelegasikan para peneliti dari BPNB Sumatera Barat untuk mensukseskan penulisan tersebut.

Adapun sanggar yang tampil selama perhelatan revitalisasi kesenian tradisional antara lain: 1) Tari Gandai dari Sanggar Air Dikit, 2) Tari Sikambang Anak dari Sanggar Palito, serta 3) Kesenian Kuda Lumping dari Sanggar Karya Budaya.

Pelaksanaan Revitalisasi Kesenian Tradisional Mukomuko diikuti antusias oleh masyarakat setempat. Harapannya, pelaksanaan kegiatan ini akan menyadarkan masyarakat khususnya generasi muda akan keragaman dan kekayaan kebudayaan bangsa yang harus dipelihara.

Belajar Bersama Maestro Sumatera Barat Resmi Dibuka

0

Padang Panjang (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat mengadakan Kegiatan Belajar Bersama Maestro (BBM) di Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan dipusatkan di Kota Padang Panjang dengan jumlah peserta 80 orang dari 4 sekolah yaitu SMPN 5 Padang Panjang, SMPN 6 Padang Panjang, SMPN 1 Batipuh Kabupaten Tanah Datar dan SMPN 3 X Koto, Kabupaten Tanah Datar. Selain itu empat Maestro yang dipimpin oleh Emri, S.Sn, M.Sn dari ISI Padang Panjang didapuk sebagai pelatih. Pembukaan BBM ini dilaksanakan pada Rabu, 1 November 2017 di SMP Negeri 5 Padang Panjang oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Padang Panjang, Dr. Desmon, M.Pd.

Kasubbag Tata Usaha BPNB Sumbar Titit Lestari dalam laporan pembukaan menyampaikan bahwa salah satu tujuan dilaksanakannya kegiatan BBM ini adalah untuk menumbuhkan kembali sifat bersosialisasi siswa dengan sesama teman dan lingkungannya. Pada saat sekarang para siswa lebih senang berinteraksi dengan gadget/android daripada berinteraksi dengan sesama teman. Memang gadget juga ada sisi positifnya, namun permasalahannya yaitu siswa bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan gadgetnya sehingga tidak mempunyai waktu lagi untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan diadakannya kegiatan BBM ini, siswa diharapkan memiliki waktu untuk berinteraksi dan bersoialisasi dengan teman dan lingkungan melalui latihan menari, bermain musik tradisional dan seni tradisi lainnya.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Padang Panjang, Dr. Desmon, M.Pd. dalam sambutannya menyambut positif dilaksanakannya kegiatan BBM Sumbar di Kota Padang Panjang dan Kabupaten Tanah Datar, karena sangat kurangnya jam pelajaran kesenian dan muatan lokal di sekolah. Selain itu juga masih terbatasnya jumlah guru kesenian di masing-masing sekolah. Dr. Desmon, M.Pd mengharapkan kegiatan BBM ini dapat berlanjut di tahun-tahun berikutnya.

Dr. Desmon, M.Pd mengharapkan, melalui kegiatan BBM ini para siswa tidak hanya belajar menguasai seni tradisi Minangkabau dari maestro, tetapi sekaligus juga bisa menggali nilai-nilai dan makna filosofis dari seni tradisi yang dipelajarinya. Oleh sebab itu Dr. Desmon, M.Pd menilai sangat tepat Maestro yang ditunjuk merupakan tim yang berasal dari ISI Padang Panjang, karena selain menguasai seni tradisi sekaligus memiliki pengetahuan mengenai filosofis seni yang dikuasai.

Selain itu Dr. Desmon, M.Pd juga mengharapkan kerjasama antara BPNB Sumbar dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Padang Panjang akan terus berlanjut pada kegiatan-kegiatan lainnya.

Maestro dalam kegiatan ini merupakan tim dari ISI Padang Panjang yang diketuai oleh Emri, S.Sn, M.Sn, yang merupakan dosen ISI Padang Panjang. Emri, S.Sn, M.Sn dan tim baru saja tampil pada Festival Internasional di Jogjakarta Pada tanggal 26 dan 29 Oktober 2017 dengan pertunjukan berjudul “Balega di Tanah Manang”.

Emri, S.Sn, M.Sn dalam arahannya kepada siswa pada pembukaan BBM Sumatera Barat, menyampaikan bahwa masa-masa SMP merupakan masa-masa rawan dalam proses pencarian jati diri. Energi yang besar dan emosi yang masih labil, sangat mungkin membuat anak terjerumus ke dalam hal-hal yang negative, apabila tidak diarahkan dengan baik. Kegiatan BBM ini merupakan salah satu wadah untuk melepaskan energi dan emosi siswa untuk hal-hal positif dengan belajar seni tradisi. Lebih jauh, dengan menguasai seni tradisi, sekaligus memahami nilai-nilai dan makna filosofisnya, secara tidak langsung akan membentuk watak dan karakter siswa.

Namun Emri, S.Sn, M.Sn juga menyampaikan bahwa seni itu tidak terlepas dari minat dan bakat dari masing-masing siswa. Meskipun dipaksa untuk  mempelajari suatu seni, apabila siswa tidak memiliki bakat disitu maka hasilnya tidak akan maksimal. Oleh sebab itu untuk kegiatan BBM Sumbar ini, Emri, S.Sn, M.Sn bersama tim belum berani menetapkan materi yang akan diberikan dalam pelatihan nantinya. Beliau ingin materi yang akan diberikan nantinya disesuaikan dengan minat dan bakat masing-masing siswa. Apakah siswa yang bersangkutan lebih berbakat menari, vocal, atau bermain musik. Hal ini baru dapat terlihat pada latihan pertama kali nantinya.

Kegiatan ini akan berlangsung selama sebulan penuh dengan bentuk pelatihan. Semoga dengan adanya kegiatan ini, para siswa-siswi yang terlibat lebih mencintai seni tradisi sebagai identitasnya.

 

(Kontributor: Erric Syah)

Peserta Terbaik Workshop Sejarah dan Budaya

0

 

Padang (BPNB Sumbar) – Workshop Sejarah dan Budaya telah selesai. Harapannya kegiatan tersebut akan menciptakan pengajar sejarah dan budaya yang kompeten, baik dalam memberikan pendidikan sejarah dan budaya maupun dalam menulis. Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Drs. Suarman.

Dalam acara penutupan pada Jumat, 27 Oktober 2017 di Hotel Daima Padang, Suarman berpesan agar para guru memiliki kemampuan menulis dan BPNB Sumatera Barat akan mengakomodir berbagai tulisan untuk dijadikan buku.

“saya mendorong para guru khususnya guru sejarah dan seni budaya agar mempunyai kompetensi mengajar. Dan BPNB Sumatera  Barat akan menerbitkan buku semacam bunga rampai untuk mengakomodir tulisan-tulisan tersebut” demikian Suarman.

Pada kesempatan penutupan tersebut diumumkan enam peserta workshop terbaik yang selanjutnya diberi apresiasi. Adapun keenam peserta terbaik tersebut diantaranya:

1.       Endriarti dari SMA Semen Padang

2.       Hj. Haslinda, S.Pd dari SMP N.8 Padang

3.       Helfarianto dari SMA Pertiwi I Padang

4.       Dra. Erma dari SMA 13 Padang

5.       Edrianif dari SAM N.7 Padang

6.       Yuliswarti dari SMA N.2 Padang

Para peserta terbaik ini dinilai dari subtansi tulisan, aplikasi teori dari materi yang diberikan sebelumnya serta performance dalam presentasi karya ilmiah.

Harapannya, melalui kegiatan ini ke depan para guru-guru sejarah dan seni budaya memiliki wawasan yang lebih luas dan mampu dalam menyajikan peristiwa sejarah dengan lebih menarik. Sehingga mampu meningkatkan minat peserta didik dalam belajar sejarah dan seni budaya.

Belajar Bersama Maestro di Kota Prabumulih Propinsi Sumatera Selatan

0

Prabumulih (BPNB Sumbar) – Kegiatan Belajar Bersama Maestro (BBM) Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat di Propinsi Sumatera Selatan tahun 2017 dipusatkan di Kota Prabumulih. Kegiatan berlangsung selama dua bulan dengan kuantitas pertemuan 17 kali melibatkan siswa-siswi sebagai peserta dan beberapa Maestro lokal. Kegiatan ini diadakan di empat sekolah yakni SMP 1, SMP 3, SMP 7 dan SMP 9 dengan melibatkan peserta didik masing-masing sekolah.

Kegiatan BBM di Kota Prabumulih merupakan rangkaian dari kegiatan BBM di wilayah kerja BPNB Sumatera Barat yang terdiri dari Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Adapun tujuan dari kegiatan ini yakni menumbuhkembangkan minat/bakat para siswa serta melestarikan kebudayaan daerah. Kegiatan ini juga bertujuan untuk berbagi pengalaman para maestro budaya dengan siswa serta mendekatkan siswa dengan budaya daerahnya.

Selain peserta, kegiatan ini juga melibatkan beberapa maestro dalam berbagai bidang yakni Maryati (maestro kuliner), Harnita Agustin (maestro lagu tradisional), Taufik (maestro tari tradisional), dan Albani (maestro kesenian tradisional). Masing-masing Maestro diminta berbagi pengalaman dan kemampuannya ke satu sekolah. Pembagian tugas tersebut yakni kuliner-Maryetti, mengajarkan kepada siswa SMP 3,  maestro lagu tradisional –Harnita Agustin mengajarkan siswa SMP 7, maestro tari tradisional –Taufik mengajarkan siswa SMP 9, dan maestro kesenian tradisional –Albani mengajarkan siswa SMP 1.

Setelah melalui proses latihan dan berbagi pengalaman selama 17 kali pertemuan, maka pada Selasa, 24 Oktober 2017 di halaman SMP 9 Kota Prabumulih kegiatan BBM secara resmi ditutup. Kegiatan penutupan dihadiri oleh perwakilan BPNB Sumatera Barat yaitu  Koordinator Fungsional-Undri, SS.M.Si.

Dalam sambutannya Undri, menjelaskan bahwa kegiatan ini sangat penting sekali dalam menumbuhkembangkan serta melestarikan kebudayaan daerah, dengan mentransferkan ilmu yang dimiliki oleh para maestri kepada siswa-siswi. Ilmu yang didapat oleh siswa-siswi dapat diterapkan dan ditransfer kepada teman-temannya lainnya. Nilai-nilai dalam kegiatan yang telah diajarkan oleh para maestro menjadi peganggan hidup kedepannya.

Sementara itu Asisten I Sekretaris Daerah Kota Prabumulih Propinsi Sumatera Selatan dalam sambutannya menyampaikan ucapakan terima kasih kepada Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat yang telah melaksanakan kegiatan ini di Kota Prabumulih. Kegiatan ini sangat penting dalam rangka menumbuhkembangkan minat siswa terhadap kebudayaan daerah, dan hal ini sejalan dengan visi dan misi dari Kota Prabumulih.

Terakhir kegiatan menampilkan tari, musik, lagu tradisional dan kuliner dari hasil belajar para siswa selama 17 kali pertemuan tersebut. Harapan kedepan, kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah untuk melaksanakannya, dan berguna bagi para siswa-siswi kedepannya.

Kontributor: Undri

Belajar Bersama Maestro Kota Padang Resmi Ditutup

0

Padang (BPNB Sumbar) – Setelah berjalan hampir dua bulan, Belajar Bersama Maestro (BBM) Kota Padang secara resmi ditutup. Penutupan dilakukan pada Jumat 27 Oktober 2017 di Ruang Sidang Kantor BPNB Sumbar di Jl. Belimbing Raya, Kuranji, Padang. Acara penutupan secara langsung dilakukan oleh KasubBag Tata Usaha Ibu Titit Lestari. Hadir dalam penutupan tersebut Hendri Yusuf sebagai perwakilan tokoh seni yang dilibatkan dalam kegiatan BBM.

Pada kesempatan tersebut Hendri Yusuf menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk berbagi ilmu bagi anak-anak sekolah serta para pegawai BPNB Sumatera Barat. Dia juga mengapresiasi tingginya motivasi para pegawai dalam belajar kesenian tradisional tanpa terhalang usia. Para pegawai bersedia meluangkan sedikit waktu di luar jam kerja untuk belajar. Dia mengaku senang melihat semangat para pegawai dalam latihan.

Selanjutnya dia menambahkan bahwa belajar kesenian membutuhkan proses panjang dan harus berkelanjutan.

Kasubbag Tata Usaha, Titit Lestari dalam sambutannya juga turut senang atas semangat para pegawai. Dia sekaligus menyampaikan terima kasih kepada maestro yang dilibatkan dalam kegiatan. Dia berharap dengan adanya kegiatan ini, pelestarian budaya semakin hari semakin berkembang.

Acara penutupan Belajar Bersama Maestro (BBM) turut memberi apresiasi kepada para pegawai yang progresnya cukup selama latihan. Penilaian ini diberikan oleh instruktur atas kerajinan serta progres latihan yang diperoleh. Sementara penilaian serta apresiasi kepada siswa-siswi yang terlibat dalam kegiatan telah diberikan sebelumnya.

Sebagaimana diketahui, Belajar bersama maestro di Kota Padang melibatkan siswa-siswa SMA sederajat. Selain melibatkan peserta didik, kegiatan ini juga melibatkan tokoh budaya (Maestro) yang sudah dikenal di Sumatera Barat yakni Mak Katik dan seniman Hendri Yusuf.  Maestro ini didapuk sebagai narasumber utama yang kemudian berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada para peserta selama dua bulan atau sekitar 16 kali pertemuan. Para peserta dididik dalam banyak hal seperti tari, randai, alat musik dan sebagainya.

 

Pegawai BPNB Sumbar juga Belajar Kesenian Tradisional

0

Padang (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat merupakan Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang tugas dan fungsinya sebagai pelestari budaya. Dalam menjalankan tugas dan fungsi tersebut BPNB Sumbar melaksanakan berbagai program seperti inventarisasi, revitalisasi serta internalisasi nilai-nilai budaya.

Salah satu kegiatan berkaitan dengan internalisasi nilai budaya tersebut adalah Belajar Bersama Maestro. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menggali, mengenalkan dan mengajarkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda melalui pelibatan tokoh-tokoh budaya lokal. Tujuan dari kegiatan ini jelas, agar generasi muda mengenal, mengetahui dan cinta akan budayanya. Sehingga tidak kehilangan identitas sesungguhnya.

Pelaksanaan kegiatan belajar bersama maestro dilakukan di tiga provinsi wilayah kerja BPNB Sumatera Barat yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Selain melibatkan tokoh-tokoh budaya seperti seniman tradisional, tokoh adat, kegiatan ini melibatkan peserta siswa-siswa SMP dan SMA sederajat sebagai peserta kegiatan. Selama beberapa pertemuan, para siswa ini akan diajarkan dan dilatih untuk menguasai salah satu bentuk kesenian daerahnya.

Namun demikian, kurang elok rupanya ketika program Belajar Bersama Maestro tersebut hanya melibatkan pelajar, sementara panitianya tidak memahami. Untuk itu, kegiatan Belajar Bersama Maestro juga kemudian menyasar kepada para pegawai BPNB Sumatera Barat yang berminat akan kesenian tradisional.  Sedikit waktu luang selepas kerja, para pegawai mengadakan latihan kesenian tradisional dengan alat-alat yang sudah tersedia.

Peserta yang terlibat dibagi berdasarkan niatnya, ada yang menari, menabuh gendang, serta menabuh talempong. Mereka diajarkan oleh instruktur yang terlibat dalam kegiatan Belajar Bersama Maestro. Selama beberapa kali latihan, para peserta begitu antusias mengikuti dan sebagian besar sudah memahami pelajarnnya. Hal ini menjadi nilai positif, bahwa ke depan mereka bisa ditampikan untuk kegiatan-kegiatan sosialisasi kebudayaan khususnya kesenian tradisional.

Walikota Padang Buka Workshop Sejarah dan Budaya BPNB Sumbar

0

Padang (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menggelar Workshop Kesejarahan dan Kebudayaan di Kota Padang pada 25 Oktober 2017. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Daima, Padang dan akan berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Pembukaan secara resmi dilakukan oleh Walikota Padang Mahyeldi Ansarullah.

Pelaksanaan Workshop Kesejarahan dan Kebudayaan bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kreatifitas para pengajar sejarah khususnya dalam konteks penulisan. Sesuai dengan tema Meningkatkan Kreatifitas Tenaga Pendidik, maka para peserta yang diundang dalam kegiatan ini adalah guru-guru mata pelajaran sejarah dan budaya SMP dan SMA se Kota Padang. Sebelumnya para peserta yang diundang diminta untuk menyerahkan tulisan baik berupa artikel ilmiah, puisi serta cerpen tentang sejarah.

Dalam sambutannya Mahyeldi menyampaikan bahwa dukungannya dan sangat mengapresiasi kegiatan workshop sejarah dan kebudayaan tersebut. Selain menambah wawasan para pendidik, ilmu yang diperoleh juga dapat diimplementasikan langsung kepada anak didik. Dia menambahkan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan program pemerintah kota Padang. Selain itu, dia juga menambahkan bahwa pemerintah kota Padang sekarang ini sedang melaksanakan pendataan situs-situs yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai obyek wisata serta obyek edukasi.

Selama pelaksanaan workshop, sekitar 40 orang peserta didik akan dibekali materi bagaimana menulis sejarah dan budaya dengan baik. Materi ini akan diberikan di hari pertama yang akan diaplikasikan dalam membuat rulisan di hari kedua. Selanjutnya hasil-hasil karya peserta akan dinilai pada hari ketiga, sekaligus menyerahkan apresiasi kepada peserta terbaik.

Ada tiga nara sumber yang didapuk untuk memberikan materi pada kegiatan ini antara lain: Prof. Gusti Asnan, Dr. Zainal Arifin, Dra. Sastri Yunizarti Bakry dan Drs. Khairul Jasmi. Para narasumber tersebut akan membawakan beberapa materi seperti Metode Penulisan Sejarah, Metode Penulisan Budaya, Pembangunan Budaya Literasi untuk Guru serta teknik penulisan ilmiah.

Di penghujung acara nantinya, setiap peserta diharapkan dapat membuat satu karya ilmiah dan kemudian dipresentasikan di depan juri. Enam peserta terbaik akan dinilai dan mendapat apresiasi dari panitia. Harapannya melalui kegiatan ini, maka tenaga pendidik sejarah dan budaya dapat bertambah wawasan serta mampu menyajikan ilmu-ilmu sejarah dan budaya dalam tulisan ilmiah yang menarik dan mudah dipahami generasi muda khususnya peserta didik.

Bakajang

0

Penulis: Ernatip (Peneliti BPNB Sumatera Barat)

Bakajang adalah suatu istilah untuk menyebutkan perayaan yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka memeriahkan hari raya Idul Fitri. Asal kata tersebut adalah kajang yang maksudnya adalah perahu. Kajang adalah sampan yang disulap menjadi perahu/kapal. Kapal tersebut mirip kapal pesiar  tampil dengan megahnya sehingga menjadi pusat perhatian masyarakat ramai. Kajang terbuat dari dua buah sampan kecil dirakit menjadi satu. Selain sampan peralatan lain yang digunakan adalah kayu untuk kerangka,  triplek untuk penutup kerangka, paku dan peralatan lainnya. Di samping itu ada bahan lain yang digunakan untuk mempercantik tampilan kajang seperti cat dan hiasan lainnya.

Foto. Ernatip

Tampilan kajang yang begitu megah memerlukan biaya yang cukup banyak. Satu buah kajang menghabiskan biaya antara 15 – 20 juta yang  berasal dari partisipasi masyarakat. Masyarakat Nagari Gunung Malintang Kecamatan Kapur IX Kabupaten Lima Puluh Kota begitu antusias terhadap perayaan ini. Oleh sebab itu segala upaya dilakukan agar perayaan bisa terlaksana setiap tahunnya. Nagari tersebut terdiri dari 5 desa/jorong  sekaligus sebagai tempat pusat perayaan bakajang yang berlangsung secara bergantian. Pemukiman masyarakat berada di pinggir sungai sehingga rumah-rumah mereka menjadi tempat istirahat pengunjung sekaligus tempat menyaksikan perayaan bakajangKajang yang tampil pada perayaan tahun ini sebanyak 5 buah berasal dari setiap desa/jorong. Pada setiap kajang di pasangkan identitas/asal kajang tersebut. Hal ini dimaksudkan agar para penonton tahu nama desa/jorong pemiliki kajang itu.

Proses pembuatan kajang berlangsung cukup lama diperkirakan lebih kurang selama satu bulan. Pembuatan kajang sudah mulai dirancang menjelang puasa dan diperkirakan menjelang lebaran telah selesai. Suasana puasa tidak mengurangi semangat mereka bekerja menyiapkan kajang yang akan ditampilkan dihari perayaan tersebut. Pembuataan kajang dilakukan secara gotong royong terutama oleh para pemuda. Meskipun demikian dalam proses pembuatan juga menggunakan tenaga ahli sebagai perancang, membentuk kerangka sesuai dengan kesepakatan bersama. Bentuk kajang secara umum hampir sama  tetapi tetap ada perbedaan misalnya ukuran panjang, lebar, tinggi atau hiasannya. Setiap desa/jorong akan berusaha menampilkan kajang yang paling bagus. Biasanya diantara kajang-kajang itu  ada yang akan jadi pemenang, ada penilaian dari pihak pemerintah setempat. Hal ini dimaksudkan untuk memotivasi masyarakat agar terus mengembangkan kemampuan, ada perubahan sesuai dengan kemajuan zaman.

Foto. Ernatip

Tempat pelaksanaan bakajang setiap harinya berpindah-pindah tetapi masih tetap di sungai. Setiap desa/jorong mempunyai tapian mandi di sanalah tempat berlangnya bakajang. Perayaan bakajang berlangsung selama 5 hari yang dimulai pada hari raya ke  tiga atau ke empat. Di hari tersebut masih suasana libur sekolah, para perantau masih berada dikampung sehingga mereka dapat menyaksikan perayaan bakajang. Perayaan bakajang tidak saja diminati oleh masyarakat sekitarnya bahkan pengunjung dari luar daerah juga turut meramaikannya. Ketika berlangsungnya perayaan bakajang, para penonton berada di tepi sungai sepanjang areal yang dilewati kajang. Penonton berdesak-desakan bahkan ada yang turun ke sungai untuk melihat kajang dari dekat.

Setiap hari perayaan bakajang, semua kajang berada pada satu tempat siap untuk dibawa hilir mudik oleh timnya masing-masing. Kajangkajang tersebut didorong  hilir mudik sesuai dengan batas yang telah disepakati. Kajang itu tidak berpenumpang, di dalamnya hanya ada tim seni musik talempong. Talempong dimainkan sebagai hiburan mengiringi kajang hilir mudik dan dibagian muka kajang berdiri seorang pemuda berpakaian daerah. Di samping itu juga diadakan acara pacu sampan. Suasana di sungai cukup meriah kajang yang hilir mudik, pacu sampan, anak-anak mandi-mandi, para remaja termasuk orang dewasa bersampan-sampan. Kegembiraan terpancar dari wajah mereka, begitu menyenangkan perayaan tersebut.

Foto. Ernatip

Kegembiraan masyarakat dihari perayaan tercermin dari perilaku yang ditampilkannya. Tua, muda, laki-laki perempuan turut menyaksikan perayaan bakajang, sekurang-kurangnya sebagai penonton. Kegembiraan yang  dirasakan berbeda-beda, oleh anak-anak mereka senang karena mendapat kesempatan untuk mandi-mandi pakai benen. Selain itu mereka dengan senang hati berbelanja apa saja yang ia mau terutama makanan dan minuman.  Sedangkan para remaja asik bersampan-sampan, ada juga yang mandi-mandi dan tidak ketinggalan berfoto-foto. Para orang tua-tua saling bertemu, dikunjungi oleh sanak saudara maupun kenalan sebaya yang dekat maupun jauh, mereka bersilaturahmi.

Pada hari perayaan nagari tersebut terlihat ramai, masyarakat berkumpul disekitar lokasi perayaan. Di sepanjang aliran sungai seberang menyeberang masyarakat berdesak-desakan menyaksikan kajang dan acara lainnya. Perayaan itu pun menjadi peluang bagi pedagang untuk menjual berbagai makanan dan keperluan lain. Di sana terlihat adanya para penjual makanan siap saji seperti sate, miso, indomie dan makanan lainnya serta aneka minuman kesukaan kebanyakan orang. Selain itu juga ada petugas parkir untuk mengatur parkir kendaraan pengunjung termasuk yang dari luar daerah. Hal demikian membuat para pengunjung merasa aman meninggalkan kendaraan dan leluasa berjalan-jalan disepanjang lokasi perayaan.

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Rubrik Bendang pada Minggu, 3 September 2017.

Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung dan Sejarah Minangkabau

0

Penulis: Undri (Peneliti BPNB Sumatera Barat)

Banyak diantara kita yang tidak tahu tentang kiprah Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung ini. Kita sadari dalam literatur sejarah Minangkabau-tanah kelahirannya- keberadaan Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung sulit ditemui. Beliau seakan tengelam oleh peran yang dimainkan oleh tiga orang dato’ yakni   Dato’ri Bandang, Dato’ Patimang, dan Dato’ ri Tiro terutama dalam proses penyebaran agama Islam di daerah Sulawesi Selatan. Hanya saja kita terbantukan dengan literatur yang ada di daerah Sulawesi yang mengupas tentang  sejarah kiprah tokoh ini dan dikaitkan dengan penyebaran Islam di daerah tersebut.

Makam Mahkota Sultan Pagaruyung, Foto. Undri

Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung bukti keberadaan beliau di negeri asalnya yakni Minangkabau tidaklah berbekas. Namun dinegeri nan jauh di sana, bekas keberadaan beliau begitu jelas terlihat sampai sekarang ini. Kuburan beliau yang terletak di areal persawahan di daerah Patani memperkuat keberadaan Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung tersebut. Diareal perkuburan dengan dikelilingi oleh persawahan penduduk  dan berjarak sekitar  1 (satu)  kilometer dari bibir pantai Sanrabone merupakan bukti nyata akan keberadaan beliau di daerah tersebut.

Uniknya kuburan tersebut dianggap keramat oleh sebagian masyarakat Sanrabone dan sekitarnya. Melakukan ritual dan bernazar sering dilakukan mereka. Bagi mereka sendiri, Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung memiliki kemampuan tersendiri walaupun beliau sudah meninggal dunia.

Disamping itu, bukti keberadaan beliau adalah sebuah mesjid tua sebagai peninggalan beliau. Mesjid tersebut terletak di Mandalika. Menurut Ali Malombasi, anak langsung (kandung) dari raja terakhir (Raja ke-23) Sanrabone, mesjid tersebut dibangun sekitar tahun 1602. Pernyataan dari Ali Malombasi tersebut diperkuat dengan naskah yang disimpan oleh Abdul Razak Daeng Ngogo (80 tahun). Dalam naskah yang ditulis ulang dalam bahasa Makasar bertuliskan beraksara Arab Melayu menjelaskan bahwa:

Merujuk pada Silsilah Asal Keturunan Pertama Kedatangan Ulama Besar Melayu di Negeri Sanrobone oleh Abdul Razak Daeng Ngago (1994) bahwa Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung memperistrikan Tuan Sitti, memiliki anak Tuan Raja. Kemudian Tuan Raja memperistrikan Tuan Aminah, melahirkan anak 4 (empat) orang yakni (1) Ince Ali, (2) Ince Talli, (3) Ince Hasan, dan (4) Ince Husaini. Ince Ali tersebut memperistrika Jawa Katinga (Tuan Katingan) namanya Marahuma, memiliki anak perempuan bernama Ince Tija. Ince Tija mempersuamikan Lolo Bayo dan melahirkan keturunan Kare Sali. Kare Sali mempersuamikan Kare Baseng, melahirkan anak keturunan 4 (empat) orang yakni (1) I Maemunah, (2) Kare Tongngi, (3) Kare Pato, dan (4) Kare Muntu. Kare Muntu memperistrikan orang Jeneponto kemenakan Kareang Jeneponto bernama Tongngi, memiliki anak 4 (empat) orang yakni (1) I Daro, (2) Samaila, (3) Abdul Kadir, dan (4) Mominah.

Mominah mempersuamikan Ince Gali dengan memiliki 5 (lima) orang anak, yakni (1) Kare Capa, (2) Kare Kulle, (3) Sitti Memunah, (4) Kare Siang, dan (5) Kare Tojeng. Kare Tojeng mempersuamikan Kare Jallang (Kare Jalla) memiliki anak 5 (lima) orang, yakni (1) Kare Mangasai, (2) Kare Pole, (3) Kare Poto, (4) Kare Sittin, dan (5) Kare Baluru. Kemudian Kare Baluru mempersuamikan Kare Jarre, memiliki anak 9 (Sembilan) orang yakni : (1) Abdul Rahim, (2) Muhammad Jafar, (3) Hasan, (4) Huseini, (5) Ali, (6) Sabiba, (7) Aminah, (8) Adam Muhammad, dan (9) Japarah. Japarah memperistikan Kare Tongngi Binti Kare Pole, memiliki anak 4 (empat) orang yakni : (1) Halimah Daeng Ratu, (2) Hayawani Daeng Kenna, (3) Marhumah Daeng Calla, (4) Samaila Daeng Ma’ Bate.

Samaila Daeng Ma’bate memperistrikan  seorang anak Gallarang Balang yang bernama Saleha Daeng Nurung, memiliki anak 6 (enam) orang yakni : (1) I Minalalang Daeng Kenna, (2) I Nali Daeng Tonji, (3) I Yoho Daeng Siang, (4) Sitti Daeng Puji, (5) Yumma Daeng Sanga, dan (6) Abubakar Daeng Lau.

Abubakar Daeng Lau mempersistrikan Mu’minah Daeng Mami, memiliki anak yakni (1) Kadirong Laeng Massa, (2) Minolla Daeng Nirrang, (3) Timang Daeng Puji, dan (4) Manggaukang Daeng Bombong. Manggaukang Daeng Bombong memperistrikan Jawa Daeng Te’ne, melahirkan anak yakni (1) Rahmatiah Daeng Rampu, (2) Muhana Daeng Senga, (3) Abdullah Daeng Suro, (4) Paimatolla Daeng Kenna, dan (5) Syamsu Daeng Lau, (6) Sohoroh Daeng Bau, (7) Kio Daeng Naja, (8) Yoho Daeng Siang, dan (9) Kulujung Daeng Rani.

Keturunan Pagaruyung di Sulawesi, tidak terlepas dari penyebaran agama Islam di daerah tersebut. Agama Islam masuk ke Makassar, sejak raja Gowa ke 10 Tunipalangga (1546-1565 ) yaitu ketika dia memberikan izin kepada pedagang-pedagang Melayu untuk menempati daerah tersebut.

Setelah kerajaan Gowa Tallo menjadikan Islam sebagai bagian agama resmi kerajaan, maka timbullah hasrat sesuai dengan tuntutan syariat Islam yang diterimanya sebagai kebenaran yang harus disebarkan ke seluruh pelosok negeri, kerajaan-kerajaan tetangga dan raja-raja negeri sahabat. Dengan demikian maka Makassar mendapat kehormatan menjadi pusat penyebaran Islam di Sulawesi Selatan pada permulaan abad ke XVII.

Disigi dari perspektif geneologis, Minangkabau dan Sulawesi telah terjalin sangat kuat. Jalinan tersebut telah termaktub dalam perisai masa lalu terutama dalam perihal penyebaran agama Islam dari ranah Minangkabau ke daerah Sulawesi. Selain memunculkan tokoh seperti Dato’ri Bandang, Dato’ Patimang, Dato’ ri Tiro serta Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung. Tokoh terakhir ini sangat disayangka dalam berbagai literatur sejarah Minangkabau belum “muncul”. Pada hal beliau sangat berjasa terutama dalam proses penyebaran Islam di nusantara ini.

Melakukan penelitian lebih lanjut tentang Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung merupakan sebuah keharusan untuk meretas eksistensinya dalam khazanah historiografi Indonesia umumnya dan Minangkabau khususnya. Sehingga, hal ikhwal tentang sejarah tokoh ini diketahui oleh masyarakat luas khususnya dalam penyebaran agama Islam di nusantara, dan ini merupakan sebuah keharusan yang amat penting. Wasalam.

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang, Rubrik Khasanah pada Minggu, 3 September 2017

BPNB Sumatera Barat Berkurban

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat ikut merayakan hari raya Idul Adha tahun ini dengan berkurban. Para pegawai menyumbangkan dua ekor sapi dan satu ekor kambing. Acara pemotongan hewan kurban diadakan pada Senin, 4 September 2017 di Kantor BPNB Sumatera Barat di Jl.Raya Belimbing, Kuranji Padang. Kegiatan kurban dihadiri oleh Kepala Balai Bapak Suarman dan seluruh pegawai.

Kegiatan berkurban di BPNB Sumatera Barat pada hari raya Idul Adha bukan kali pertama dilaksanakan. Kegiatan yang sama sudah digelar bertahun-tahun, bahkan sudah menjadi tradisi. Hal ini sebagai bentuk pengamalan agama serta rasa ingin berbagi dengan masyarakat sekitar.

Proses pemotongan hewan kurban yang dipimpin langsung ketua panitia Hariadi berjalan lancar. Daging kurban akan dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar kantor. Semoga memberi kemanfaatan bagi dan meningkatkan amalan agama.

Selamat Idul Adha!

Merawat Deposit Budaya

0

Penulis: Undri (Peneliti BPNB Sumatera Barat)

Apa yang kita bangakan sebagai anak bangsa dewasa ini. Kekayaan alam sudah mulai terkuras habis begitu juga dengan sumberdaya manusia jauh tertinggal dari negara lain. Disigi dari sumberdaya alam, keanekaragaman jenis tambang yang ada di perut bumi seperti gas alam, minyak bumi, batubara, bauksit, timah, emas, tembaga dan banyak lagi, cepat atau lambat kekayaan itu akan habis jua. Namun kita boleh berbanga, kita punya budaya yang amat luhur dan dikagumi oleh negara lain-sebuah deposit yang takkan pernah habis-habisnya bila dirawat dengan baik.

Sebagai sebuah deposit yang penting kita rawat, maka perlu kiranya merubah paradigma yang selama ini kita pakai. Sampai hari ini kita banyak yang salah memahami tentang kebudayaan itu sendiri. Masalah budaya itu amatlah sangat luas, bukan saja persoalan cara berpakaian, pembagian harta warisan, pementasan teater, tari-tarian dan lainnya namun jauh dari itu, mulai dari lahir sampai meninggal dunia-budaya akan selalu menghiasinya. Bahkan konsep budaya itu luas dan dinamis-berubah. Irama hidup kita yang makin cepat tentu saja mempengaruhi perubahan tersebut. Tetapi ada faktor-faktor lain lagi yang turut menghasilkan perubahan ini. Dulu budaya dipandang sesuatu yang bersangkutan dengan sekelompok kecil ahli-ahli saja, sedangkan oleh rakyat banyak budaya itu dialami sebagai semacam takdir yang tak terelakkan ; sama seperti hujan atau cuaca terang. Tetapi kini setiap orang ingin mencampuri atau menangani kekuatan-kekuatan yang turut membentuk kebudayaan secara umum dan budaya khususnya. Bahkan C.A van Peursen (1998) mengungkapkan bahwa budaya itu sendiri merupakan endapan-endapan dari kegiatan dan karya manusia.

Disinilah pentingnya roh strategi merawat deposit budaya itu sendiri- tidak sekadar pengelolaan cara berpikir suatu bangsa, namun sekaligus cara bereaksi dan bertindak yang menjadikannya mampu menjadi daya produktivitas sebuah bangsa. Di sinilai diperlukan strategi budaya. Strategi budaya adalah pola reaksi dan tindakan agar kerja pemerintah tersosialisasi menjadi pelayanan dan pengawasan publik, sekaligus menumbuhkan proses emansi­patoris. Pada gilirannya, mewujudkan proses pembentukan kehendak bersama antara pemerintah dengan komunitas dan individu kreatif lewat perbincangan yang mewujudkan tindakan (Garin Nugroho, Kompas, Rabu 10 Januari 2007).

Persoalan kecil saja, yang sering kita jumpai bagaimana kita lemah dalam merawat deposit budaya kita sendiri. Kita jumpai begitu banyaknya  budaya tradisional yang ada tidak diketahui dengan baik dan dilestarikan oleh pendukung kebudayaan itu sendiri. Kadang kala sudah terkikis bahkan punah. Pada hal itu merupakan budaya khas yang ada pada daerah tersebut. Berbagai alasan muncul penyebab terkikis dan kepunahannya. Mulai dari persoalan arus global yang tak terbendung yang menelan budaya tradisional itu sendiri sampai kepada perihal dukungan pendanaan yang minim bahkan tidak ada sama sekali dari pemerintah. Walaupun itu perihal klasik namun itulah faktanya dilapangan.

Sebagai konsekuensi logis dari semua itu adalah budaya yang ada akhirnya menjadi “patung” yang tak punya makna apa-apa bagi masyarakat pendukung kebudayaan itu sendiri. Namun ironinya, budaya tradisional yang seharusnya berkembang di daerah kita malahan berkembang di negara tetangga, di Malaysia misalnya. Beberapa budaya kita malahan hidup dan lestari di negara jiran tersebut. Sesuatu yang kontradiktif, kalau kita berbicara masalah pelestarian budaya tradisional daerah. Serta sebuah keironian ketika kita ingin melestarikan budaya daerah kita sendiri.

Inilah pentingnya kedepan database secara tertulis mengenai budaya tradisional yang ada pada setiap nagari mestinya dipunyai dan diwujudkan. Bagi orang tua-tua tidaklah merasa enggan untuk mewariskan dan mengajarinya perihal budaya tradisional yang ia ketahui kepada generasi muda. Begitu pula dengan generasi muda, janganlah merasa rendah diri dan enggan bila mempelajari budaya kita sendiri. Bukan orang lain yang akan mempelajari dan melestarikan budaya kita namun kita sendirilah yang sebetulnya punya andil untuk mempelajari dan melestarikannya.

Menurut penulis ada beberapa langkah untuk merawat deposit budaya. Pertama, melakukan pencatatan dan inventarisasi. Usaha ini dapat dilakukan sebagai bagian upaya perlindungan dan pemanfaatan warisan budaya takbenda dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal-usul  karya budaya ada.

Kedua, perlunya pembangunan dalam bidang kebudayaan. Pembangunan dalam bidang kebudayaan umumnya sampai saat ini masih menghadapi beberapa permasalahan sebagai akibat dari berbagai perubahan tatanan kehidupan, termasuk tatanan sosial budaya yang berdampak pada terjadinya pergeseran nilai-nilai di dalam kehidupan masyarakat.

Ketiga, dalam ruang lingkup inilah maka perlu dilakukan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelktual) terhadap semua produk budaya yang ada dalam masyarakat yang bersifat unik dan mencerminkan ciri identitas bangsa Indonesia. Tujuannya untuk  menggali, memahami, melindungi, merawat serta memeilihara asset budaya agar tidak punah dan rusak. Hasil yang diharapkan dari  kegiatan adalah  dapat melestarikan budaya bangsa agar tetap eksis dan diakui oleh negara lain.

Seiring dengan itu, kita menyadari keragaman budaya rupanya belum sepenuhnya disadari sebagai kekayaan khasanah nasional yang dapat memberi nilai tambah, melainkan lebih sering dianggap sebagai rongrongan yang mengancam otoritas atau keutuhan negara atau hegemoni tertentu. Seharusnya manusia Indonesia tidak gentar dengan keanekaragaman, karena jati diri Indonesia adalah kebinekaan yang meliputi bahasa, sastra, adat-istiadat, dan segala sesuatu yang hidup di dalam alam Indonesia.

Perihal merawat deposit budaya maka penting media sebagai wadahnya penyampaian informasi, yakni pertama pendidikan formal. Dimana hakekat dari pendidikan itu adalah pewarisan nilai-nilai, baik nilai budaya, sejarah dan sebagainya. Didalamnya berfungsilah sekolah, dalam hal sekolah sebagai preserver dan transmitter dari culture hiratage sebagai instrument for transforming culture. Pengalaman menunjukkan bahwa penanaman nilai termasuk pelestarian nilai, apa yang berharga dan bernilai yang diinginkan oleh generasi muda khususnya dapat dilakukan secara formal melalui berbagai media. Dalam domain ini, adapaun langkah yang diambil dalam pelestarian dan pengelolaan kekayaan budaya dapat dilakukan terutama dalam materi bahan ajar (kurikulum) disekolah-sekolah, terutama kurikulum muatan lokal. Kedua, pendidikan informal. Adapun lewat jalur ini bisa dilakukan sosialisasi langsung kelapangan, kegiatan yang menyentuh langsung kemasyarakat yang berkaitan dengan pengelolaan dan penyelamatan kekayaan budaya yang bersifat mandiri. Hal ini tidak terlepas dari apa yang menjadi landasan semangat yang terkandung pada era otonomi daerah adalah kemandirian. Masyarakat secara sadar membangun dirinya menjadi manusia yang amanah dan mampu memanfaatkan sumberdaya, baik manusia dan alam untuk kemaslahatan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan budaya tersebut.

Jadi, merawat deposit budaya sebetunya merupakan cara kita bagaimana budaya itu bisa kita pahami, kita lindungi dan lestarikan. Hal ini terkait dengan citra, harkat, dan martabat bangsa. Ketika kita dapat merawat deposit budaya ini,  maka akan muncul suatu keterjaminan dan kelestarian akan budaya kita sendiri. Dan inilah yang kita harapkan kedepannya. Wassalam.

 

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 22 Agustus 2017

Prospek Mata Ajar dan Strategi Saintifik

0

Penulis: Ferawati (Staf BPNB Sumatera Barat)

Sejarah, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ibarat Ibu Pertiwi yang mesti dicintai dan idolakan. Menelantarkan sejarah dan pelajarannya sama saja tidak mempedulikan dan tidak cinta Tanah Air. Pandangan ini terkait dengan penekanan pada sejarah lokal untuk siswa/i, seperti ditegaskan dalam workshop sejarah lokal untuk guru-guru se-Sumatera Barat pada pertengahan Juli 2017, yang sempat terancam dibatalkan. Seberapa pentingkah workshop kesejarahan seperti itu bagi guru-guru dan anak didiknya?

Prospek Mata Ajar Sejarah

Ancaman penghapusan program pembekalan seperti workshop dari Kemdikbud untuk bidang sejarah sangat bertolak belakang dengan keinginan kuat dari guru-guru peserta dan pengurus MGMP sejarah Sumatera Barat. Workshop semacam itu masih dibutuhkan oleh para guru untuk diteruskan kepada anak didik mereka. Mereka merasa sejarah dan pendidikan sejarah di sekolah-sekolah selama ini masih terpinggirkan. Jam pelajaran sejarah sempat beberapa kali dikurangi seiring dengan perubahan kurikulum. Pihak sekolah juga tidak jarang mengalokasikan jam pelajaran sejarah pada jam-jam terakhir, dan pelajaran ini juga tidak dimasukkan ke dalam mata ujian nasional siswa. Para guru memang tidak harus ketergantungan pada pemerintah untuk menyikapi masalah ini. Namum jika tidak diprogramkan, dalam artian tidak ada komitmen dan konsistensi bersama, rasanya mustahil tujuan mempelajari sejarah untuk menumbuhkan rasa cinta Tanah Air akan tercapai.

Sesungguhnya, bukan workshop atau even-even pertemuan antar-guru yang mereka utamakan. Bukan pula kesenangan layanan menginap dan makan gratis di hotel-hotel yang mereka pikirkan, atau bukan pula mengharapkan sertifikat semata. Buktinya, jumlah guru yang mengikuti kegiatan ini mampu mencapai target yang dianggarkan, sekalipun panitia pusat sempat mengabarkan ketidakpastian bantuan akomodasi dan transportasi dari Ditjen. Mereka hampir merata aktif dan berperan selama workshop berlangsung. Mereka mengaku, melalui kegiatan semacam ini yang sudah empat kali diselenggarakan berturut-turut ternyata cukup menginspirasi guru-guru untuk membekali dan mengubah pola pikir siswa/i di Sumatera Barat tentang sejarah. Salah satu contoh manfaatnya, yaitu ketika salah seorang guru yang telah terinspirasi menceritakan pengalamannya ketika menghadapi siswa/i yang sering menyebutnya “Homo Pithecanthropus Erectus” atau “Ibu Homo Sapiens”. Hasilnya sangat mengejutkan, setelah sang guru mengubah strateginya dari lelucon menjadi sebuah inspirasi pengantar materi pelajaran sejarah, yang relevan dengan sistim kurikulum. Lebih mengejutkan lagi, dengan metode belajar seperti itu, terbukti guru mata ajar sejarah itu telah berhasil mengubah pola pikir dan semangat siswa/i-nya dari cuek menjadi bersemangat mempelajari sejarah; dari bosan dengan guru-guru sejarah menjadi merindukannya; dan dari tidak respek menjadi mengidolakan. Semuanya itu kembali pada kreatifitas, kompetensi keilmuan (saintifik) sejarah, serta bekal ilmu psikologi pendidikan masing-masing guru. Sebagian kemampuan itu telah mereka peroleh semasa kuliah, sebagian dari pengalaman hidup, dan selebihnya dari pembekalan pelatihan. Namun even-even workshop dan kerja sama yang sinergis antara organisasi profesi guru seperti MGMP dengan organisasi yang memayungi sejarawan seperti Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) maupun dengan lembaga-lembaga terkait, diharapkan semakin memberi kesempatan kepada guru-guru untuk saling berbagi pengalaman mengajar dan mengembangkan keilmuan.

Strategi Saintifik (Keilmuan Sejarah)

Cukup banyak guru-guru mata ajar sejarah yang mengeluhkan bahwa materi pelajaran sejarah dalam buku-buku materi kurikulum selama ini terasa menjenuhkan. Hampir setiap tahun para guru pengampu mata pelajaran ini mengulangi materi yang sama. Tidak satu atau dua guru yang mengaku jenuh dengan materi sejarah yang butuh hafalan, sehingga untuk menyerap pengetahuan sejarah yang baru pun mereka merasa kesulitan. Gejala ini memang tidak melanda semuga guru, namun sangat disayangkan bila terus dibiarkan dan menimpa guru-guru sejarah yang kesulitan memacu kreatifitas mengajarnya.

Menanggapi persoalan ini, selain dibutuhkan kreatifitas, guru-guru dan siswa/i ditengarai juga butuh pencerahan metode dan materi pelajaran sejarah. Salah satunya melalui pengembangan pengetahuan sejarah yang saintifik, yaitu sejarah berbasis keilmuan dengan metode dan metodologi tertentu, sebagaimana didorong dalam workshop itu. Sifatnya tidak lagi hafalan, melainkan pemahaman. “Sejarah lokal” salah satu materi saintifik sejarah yang diperkenalkan oleh Sartono Kartodirdjo melalui disertasi Pemberontakan Petani Banten, 1888 dan diajarkan di perguruan tinggi. Siswa/i di sekolah-sekolah di Sumatera Barat tidak perlu terbebani dengan karya itu. Mereka tidak akan kekurangan bahan untuk menggali sejarah lokal di daerah masing-masing, yang mudah dipahami dan dicari. Beberapa contoh yang cukup familiar dengan siswa dan guru-guru sejarah, yaitu peristiwa sejarah lokal terkait nama-nama tokoh dan pahlawan yang dijadikan nama jalan, bangunan, dan tugu di daerah masing-masing. Bukan mustahil guru-guru juga bisa mengajak siswa/i untuk belajar di luar kelas sambil melatih dan mengasah rasa keingintahuan mereka tentang objek yang dipelajari. Tidak hanya itu, hasilnya dapat ditindaklanjuti, baik di sekolah maupun di kegiatan lainnya. Contohnya, dengan mengikutsertakan siswa/i dalam sejumlah ajang kreatifitas keilmuan yang dibimbing oleh pihak sekolah atau organisasi profesi dan lembaga terkait. Beberapa kegiatan yang sudah berjalan selama beberapa tahun terakhir cukup memberi pencerahan, seperti siswa/i dilibatkan dalam ajang “olimpiade sejarah”, lomba-lomba karya tulis bagi peneliti muda dan pembuatan film-film dokumenter di Kemdikbud maupun di Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI). Bila mereka sudah berprestasi dalam bidang sejarah, bukan mustahil para siswa/i akan berprestasi dalam meningkatkan bidang lainnya, dengan pertimbangan bahwa melalui belajar sejarah mereka akan belajar dan membaca berbagai sumber yang lebih luas dan mendalam. Sejarah akan menjadi mata pelajaran yang menyenangkan dan dirindukan.

Semua masalah maupun jalan keluar yang pernah muncul terkait upaya mempelajari, memahami, dan menggandrungi sejarah tergantung pada upaya berbagai pihak untuk mendorong masyarakat terutama anak didik di sekolah-sekolah. Upaya membangkitkan kembali rasa cinta dan semangat pada sejarah demi memupuk rasa cinta pada negeri ini memang butuh kesinambungan dan konsistensi. Mata rantai generasi melek sejarah dan “industri otak” diharapkan terus pula berkelanjutan. Semoga tidak ada lagi siswa/i yang tega memanggil gurunya “Homo Pithecanthropus Erectus” atau “Homo Sapiens”, sekalipun dengan menambah kata “cantik” atau “ganteng”. Guru sejarah juga pahlawan tanpa tanda jasa

 

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Rubrik Bendang pada 27 Agustus 2017

Sejarah Lokal dan Masalah Mencintai Ilmu Sejarah

0

Penulis: Ferawati (Staf BPNB Sumatera Barat)

Sejarah bukan sekedar menghafal atau menuliskan angka tahun, nama tempat, dan nama orang. Ia mengandung makna yang melampaui batas-batas semua itu. Sejarah, karenanya, bukan hanya melihat, mendengar, dan merasakan peristiwa sejarah, melainkan juga kisah dan filsafatnya. Sejarah itu bak Ibu Pertiwi. Ia terus mengandung anak-anak bangsa, melahirkan dan membiarkannya tumbuh-kembang hingga terbentuk jiwa-jiwa pendukung yang membelanya kelak. Ia juga menyediakan semua kebutuhan mereka dan mengetahui segala bidang. Ia ibarat ibu yang serakah demi kebaikan anak-anaknya. Ilmu sejarah membahas segala bidang sepanjang terkait dengan manusianya. Bagaimana mungkin anak bangsa mengabaikan apalagi mengingkari sejarah dan membenci ilmu sejarah yang telah melahirkan jati dirinya?

Dosa Bersama

Jawaban atas semua keraguan itu, sangat mungkin. Sekelumit pengalaman miris yang mencerminkan anak-anak bangsa mengabaikan dan tidak menyukai sejarah terlihat dari sikap siswa/i dan mahasiswa/i dalam proses belajar-mengajar di sekolah dan perguruan tinggi di negeri ini. Kejadiannya sudah berlangsung selama berpuluh tahun, justru setelah negeri ini bebas dari penjajah. Sebagian besar murid sekolah tidak menghormati sejarah dan terjadi hampir di seluruh jenjang pendidikan. Mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SLTP), dan sekolah menengah atas (SLTA) yang sederajat hingga jenjang perguruan tinggi. Mereka sebagian besar hampir meninggalkan kesan yang tidak menyenangkan selama belajar sejarah. Sikap itu juga dapat dilihat dan rasakan dari pengalaman kita masing-masing selama menempuh pendidikan atau merayakan hari-hari bersejarah, seperti ketika menyambut Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus. Mengabaikan dan meminggirkan sejarah sudah menjadi dosa bersama. Merayakan Hari Kemerdekaan terasa masih sebatas kewajiban ketimbang rasa cinta Tanah Air.

Banyak gejala yang ditunjukkan oleh siswa/i dan mahasiswa/i yang tidak respek pada sejarah dan pelajaran sejarah. Beberapa contoh konkrit yaitu terlihat dari caranya memperlakukan buku-buku dan sumber-sumber sejarah, tingkah-lakunya selama memperingati hari besar bersejarah, dan minat mengikuti jam pelajaran sejarah. Tidak hanya itu, yang lebih memilukan lagi yaitu cara siswa/i bersikap kepada guru-guru pendidik mata ajar sejarah yang cenderung tidak respek. Gejalanya terjadi hampir merata di seluruh sekolah, seperti cara ‘aneh’ mereka menyebut dan memanggil nama-nama guru sejarah. Mereka tidak segan-segan melabeli guru sejarah sebagai “Homo Pithecanthropus Erectus” atau “Homo Sapiens”, dan sebutan lainnya yang bukan nama diri. Sebutan ini padahal hanya dipakai untuk mengidentifikasi jenis-jenis dan periodefikasi manusia purba, yang diyakini ilmuan Darwin berasal dari kera. Sikap dan perilaku mereka sebagai sasaran pendidik dan pelajaran sejarah berbanding lurus dengan kualitas pengetahuan mereka yang relatif rendah terkait bidang ini. Semakin mereka tidak menghargai guru sejarah semakin sulit mereka memahami, menyukai apalagi mencintai sejarah. Setidaknya gambaran ini pernah disampaikan bukan hanya oleh satu atau dua orang guru saja, melainkan hampir dirasakan oleh seluruh guru mata ajar sejarah, sebagaimana di Sumatera Barat. Sungguh miris kedengarannya, namun itulah fakta dewasa ini. Masih adakah rasa mencintai sejarah yang tersisa di sanubari generasi muda bangsa ini?

Suatu Perbandingan                            

Bandingkan dengan disiplin ilmu eksakta seperti fisika, kimia, dan biologi yang hampir selalu dinomorsatukan dan dianggap sebagai kunci keberhasilan peradaban unggul. Memang tidak ada yang salah dengan semua itu, yang perlu diubah adalah pola pikir masyarakat kita. Bandingkan juga dengan generasi pendahulu yang ikut membangun jati diri bangsa Indonesia di pentas lokal, nasional, bahkan internasional. Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia, tokoh-tokoh nasional yang mendalami ilmu eksakta dipastikan menguasai pengetahuan sejarah dari buku-buku sejarah lokal, nasional dan sejarah dunia yang mereka baca, seperti yang ditunjukkan oleh Ir. Soekarno. Tidak terkecuali tokoh-tokoh asal Minangkabau-Sumatera Barat, seperti Tan Malaka, Mohammad Hatta, M. Yamin, dan H. Agus Salim, juga mampu menguasai secara luas dan mendalam pengetahuan, pelajaran, dan filsafat sejarah dari segala sumber. Mereka, padahal, ada yang tidak mengecap pendidikan formal di sekolah-sekolah melainkan secara otodidak melalui buku-buku bacaan yang berbobot. Tidak peduli dengan karya sosialis-komunis atau materialis-kapitalis, religius atau atheis, pengarang muslim atau non-muslim, dan filsafat Barat atau Timur, buku karangan lokal dengan sejarah lokal, atau buku-buku nasional maupun internasional. Semuanya mereka lahap dan serius  menjiwainya.

Mereka sangat menghargai dan mencintai sejarah sebagaimana mereka mencintai bangsa dan negara yang mereka perjuangkan, sembari menciptakan sejarah zamannya sendiri untuk generasi seterusnya. Berkat kecintaan mereka pada perwujudan kemerdekaan bangsa sebanding dengan kecintaannya pada sejarah, maka tidak heran mereka unggul sebagai tokoh di tingkat nasional dan global. Tersebab itu pulalah daerah asal tokoh-tokoh Minang-Sumatera Barat itu dikenal dan dikenang sebagai “industri otak”. Kiprah mereka yang menonjol, tidak ternafikan, berawal dari penguasaan mereka atas pengetahuan dan pelajaran sejarah. Kondisi seperti ini pula yang relatif sama dengan perkembangan minat masyarakat di negara-negara maju seperti di Eropa Barat yang semakin menggandrungi sejarah. Kendala apakah yang membuat generasi muda bangsa dewasa ini sulit keluar dari masalah serius ini, yang sedemikian berbeda dengan generasi pergerakan kemerdekaan maupun dengan bangsa di negara-negara maju?

Kumpulan Pengalaman

Kendalanya hampir selalu menyangkut kebutuhan sezaman dan perhatian dari berbagai pihak terkait. Adapun pengalaman miris yang dirasakan oleh guru-guru sejarah, di antaranya, mengemuka dalam “Workshop Guru Sejarah Tingkat SMA/MK Sederajat” dengan tema “Sejarah Lokal” di aula SMKN 2 Padang, Sumatera Barat pada 11 s/d 17 Juli 2017. Mereka yang hadir merupakan undangan dan perwakilan seluruh kabupaten/kota di propinsi ini, tidak terkecuali sekolah-sekolah terjauh dari kota Padang, seperti Mentawai dan Pasaman. Kegiatan workshop di propinsi ini salah satu dari beberapa saja kegiatan serupa yang terealisasi di seluruh Indonesia pada tahun 2017 oleh Ditjen Kebudayaan. Kegiatan itu berlangsung berkat kerja sama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah, Dinas Pendidikan, dan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat (BPNB Sumbar). Kegiatan itu sebelumnya terancam batal setelah terjadi pemotongan anggaran besar-besaran dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Kegiatan itu kemungkinan juga terancam akan dihapus dari mata anggaran Ditjen di masa-masa mendatang, hanya oleh karena kesulitan anggaran. Wacana ini sempat disampaikan oleh ketua panitia pusat (Direktorat Sejarah Kemdikbud). Jikapun ada pemikiran ulang untuk menyelenggarakan kegiatan serupa, kemungkinan dialihkan kepada instansi lain yang mampu mengalokasikan dan mencukupi anggarannya. Namun adakah jaminannya?

Persoalan ini masih seputar pola pikir terhadap sejarah. Sekalipun demikian, gejala peminggiran terhadap sejarah dan pegiatnya (pengajar dan pendidik) terus bermunculan, dan sangat disayangkan justru datang dari pemerintah sendiri. Sejarawan, apapun almamaternya, sangat disayangkan jika sampai kecolongan apalagi jika bersikap nafsi-nafsi.

 

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Rubrik Bendang pada 20 Agustus 2017

Memberdayakan Masyarakat dalam Event Tradisi

0

Penulis: Rismadona (Peneliti BPNB Sumatera Barat)

Masyarakat Sumatera Barat kaya dalam kegiatan-kegiatan tradisi yang dilakukan pada masa perhelatan. Macam perhelatan tersebut perhelatan pernikahan, perhelatan bako anak pisang menjelang perhelatan pernikahan, perhelatan caliak anak, perhelatan turun mandi anak. Dalam perhelatan penuh dengan keramaian, sorak sorai, canda ria sebagai lambang kebahagian yang dirasakan oleh masyarakat itu sendiri. Masyarakat Kota Padang khususnya memiliki karya budaya yang tak ternilai harganya, namun selama ini hilang dari peredaran mata akibat perubahan dan perkembangan zaman. Perubahan tersebut masyarakat lebih cenderung sebagai konsumsi praktis, cepat dan tidak ribet. Perhelatan yang dilakukan itu, pada umumnya nilai kebersamaan yang sangat tinggi sehingga untuk melakukan sebuah kegiatan tradisi tersebut tidak bisa dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang saja, karena menyangkut hubungan dengan orang lain. Seperti acara perhelatan ma arak anak daro yang terjadi antara dua pihak antara kerabat orang tua laki-laki dengan kerabat orang tua perempuan. Hal demikian mengundang puncak kebersamaan dalam mengangkat satu acara kegiatan tradisi budaya dalam kehidupan masyarakat.

Kegiatan dalam acara perhelatan  biasanya melakukan arakan-arakan masyarakat. Dulunya masyarakat berarak dengan berjalan kaki, baik itu arakan anak daro jo anak pulai, turun mandi, babako anak pisang sekalian membawa jamba atau bawaan yang dibawakan oleh keluarga bako kepada anak pisangnya, berupa silamak kuning, kue backing, simpadeh ikan besar dan selain sebagainya tergantung tradisi budaya yang berlaku dalam masyarakat setempat. Sesuai dengan perkembangan arakan berjalan kaki, sekarang telah menggunakan transportasi berupa bendi, odong-odong. Jika arakan tersebut dekat jaraknya maka arakan dilakukan dengan berjalan kaki sepanjang jalan. pada saat ini mulai kembali mencuat tradisi berbendi-bendi, odong-odong, yang sifatnya kompoi yang dilakukan sepanjang jalan, bahkan di Jalan Bypass Kota padang, kita bisa menyaksikan pada hari sabtunya iringan  anak daro jo anak marapulai berbendi-bendi-bendi dan dibelakangnya mobil odong-odong serta kompoian dengan mobil lain dan terbuka yang diiringi dengan musik daerah, berupa talempong, rabbana, saluang dan rabab.

Perilaku berkompoi-kompoi dalam acara perhelatan membawa berkah bagi masyarakat pelaku ekonomi, seperti penyewa bendi, odong-odong, dan pelaku seni sebagai pemain musik pengiring anak daro jo anak pulai tersebut dalam acara arak-arakan. Sewa bendi besar, misalnya mencapai lebih kurang Rp 2.000.000 (dua juta rupiah) dan bendi kecil ada Rp 200.000- 600.000,- ( dua ratus ribu rupiah – enam ratus ribu rupiah) tergantung jauh dekatnya rute arak-arakan yang ditempuh. Begitu juga mobil odong-odong dengan biaya sewa minimal Rp 200.000, tergantung  jarak  rute yang  dilaluinya. Kemudian sewa pelaku seni berupa pemain randai, saluang, rabbana berkisaran sampai Rp 600.000 ( enam ratus ribu rupiah ) tergantung lamanya bermain dan kedekatan dengan pemilik perhelatan dengan pelaku seni tradisi. Hal ini memberikah berkah setiap sepekan bagi masyarakat pelaku ekonomi walau bersifat kecil-kecilan upah yang diterimanya.

Bendi dan odong-odong menjadi konsumsi mata pencaharian tetap bagi masyarakat. Seandainya pemerintahan arif dan bijaksana mengambil sikap potensi ekonomi tersebut membawa berkah bagi masyarakat kota Padang itu sendiri. Usaha tersebut dapat mengembangkan peningkatan moda transportasi tradisional sehingga generasi muda tidak melupakan cikal bakal transportasi tempo dulu. Dengan pelaku arak-arakan berkompoi perhelatan ini memberikan daya tarik wisata bagi penikmat wisata itu sendiri, selain itu juga memperkenalkan dan melestarikan tradisi yang lama dan hampir tidak lagi dikenal generasi. Dengan arak-arakan perhelatan tersebut mengundang perhatian masyarakat umum untuk bersorak-sorak sepanjang jalan. Apalagi arak-arakan perhelatan tersebut dilakukan di sepanjang jalan by pass selain mengundang perhatian masyarakat juga mengundang carut marut pemakai jalan raya akibatnya macet. Sekali menikmati macet bagi masyarakat  itu biasa, terlalu sering kali sungguh luar biasa, karena kita kadang kalanya memiliki kepentingan waktu yang berbeda yang harus diburu. Dan pemerintah dapat memberikan jalan alternatif untuk tidak merusak kepentingan masyarakat dari berbagai pihak, baik kepentingan kompoi arak-arakan dengan kepentingan masyarakat pengguna jalan raya di sepanjang jalan ByPass sehingga kedua pengguna jalan raya dapat menikmati perjalanannya senikmat mungkin.

Dengan demikian seharusnya pemerintah berinisiatif  dalam  mengambil kebijakan untuk pelestarian budaya tradisi yang kita miliki selama ini. Dengan fenomena arak-arakan anak daro marapulai yang melintas sepanjang jalan By Pass dapat diambil sebagai berkah dalam pengembangan pariwisata. Pemerintah tidak perlu membebani  negara maupun daerah dalam mendesaian anggaran untuk event pertunjukan tradisi. Pemerintah dapat memikirkan untuk mengolah tradisi masyarakat dengan dana swadaya masyarakat itu sendiri untuk diberdayakan sebagai seni pertunjukan tradisi pawai masyarakat setiap minggunya tanpa mengganggu kenyamanan pemakaian jalan raya oleh masyarakat lainnya. Untuk itu,  memanfaatkan masyarakat tersebut dengan memberikan akses untuk melakukan arak-arakan yang bernilai wisata, berupa pemerintah yang dilakoni oleh dinas pariwisata sebagai penjual  karya seni tradisi dan pihak keamanan berupa polisi atau satpol PP sebagai pengaman rute jalannya arakan tersebut. Arakan-arakan tersebut di salurkan melalui sepanjang jalan pantai kota padang sehingga menjadi event atau pawai tradisi yang dilakukan oleh masyarakat setiap pekannya. Arak-arakan tersebut mengundang perhatian pelancong atau turis untuk mengenal seni tradisi yang ada di daerah kita, khususnya kota padang. Untuk lancarnya rute perjalanan yang dilalui tanpa ada carut marut macet oleh pengguna jalan raya tentunya ada kerjasama dinas pariwisata dengan pihak keamanan.  Dengan dilakoni dinas Pariwisata tersebut, tentunya akan bertanya apa yang mereka dapatkan, yang jelas mendapat pekerjaan perekaman tradisi setiap minggunya karena atraksi yang dilakukan itu berbeda-beda sesuai dengan budaya yang berlaku di masing-masing daerah yang ada di kota Padang. Selain itu pemerintahan bisa meminta fee masuk rute pada pemilik bendi-bendi,  mobil odong-odong, pelaku seni minimal Rp 10.000 rupiah sebagai pemasukan khas daerah itu sendiri.

Arak-arakan anak daro marapulai setiap minggunya selain untuk income daerah juga menggalakan masyarakat untuk membangkitkan gairah transportasi  bendi dan odong-odong. Bendi sebagai moda transportasi ini sudah dikenal semenjak zaman penjajahan. Bendi semasa itu dimiliki oleh masyarakat berkelas dizamannya, namun bendi saat sekarang ini selain transportasi masyarakat tapi lebih cenderung dimanfaatkan sebagai  transportasi  arakan anak daro marapulai. Dengan demikian  imbas dari arakan atau kompoian arakan-arakan tersebut bukan saja sebagai pemilik transportasi moda tradisional tapi juga menumbuhkembangkan perekomnomian masyarakat kecil berupa pedagang penjualan kue anak-anak, mainan anak-anak sepanjang jalan. Namun kebersihan kota Padang harus dipelihara, maka di sini juga pemerintah perlu mensiasati dalam menjaga kebersihan kota. Pemilik Bendi harus menyediakan tampat pembuangan kotoran Kuda agar tidak berserakan di jalan Raya, Pemilik Odong-odong harus menyediakan tempat sampah di odong-odongnya, termasuk mobil arakan yang mengiringinya, begitu juga pedagang harus menyediakan tempat sampah disekitar tempat ia berdagang, jika perlu pemerintah juga menurunkan orang-orang kebersihan, begitu tampak sampah bertebaran langsung dipungut sehingga tempat wisata aman, nyaman, tertib dan menyenangkan bagi masyarakat penikmat wisata dan seni tradisi yang mereka lakukan.

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Rubrik Bendang pada 13 Agustus 2017

Madrasah Tarbiyah Islamiyah Tobek Godang

0

Penulis: Hariadi (Peneliti BPNB Sumatera Barat)

Sejarah telah mencatat bahwa Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) telah berkntribusi terhadap dunia pendidikan di Sumatera Barat bahkan di Indonesia. Satu diantara MTI generasi awal adalah MTI Tobek Godang Padang Japang kabupaten lima puluh kota. Penamaannya  dikaitkan dengan lokasi tempat berdirinya MTI ini, karena terdapat sebuah kolam besar yang dalam bahasa minang dialek Lima Puluh Kota disebut Tobek Godang.

Cikal bakal MTI Tobek Godang adalah sebuah lembaga pendidikan surau  yang didirikan oleh Syekh Abdul Wahid Assolihiy sekembali menuntut ilmu kepada para ulama di Lima Puluh Kota dan sekitarnya. Surau Tobek Godang berubah nama menjadi MTI Tabek Godang setelah  terbentuknya Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang dimotori oleh ulama tradisional Minangkabau di Canduang Agam. Salah satu keputusan dalam pertemuan para ulama tersebut menyepakati perubahan sistim pendidikan surau berobah menjadi sistim klasikal.

Perobahan sistem ini membawa Surau Tobek Godang ke era baru.  perubahan dari sistim surau ke sistim klasikal membutuhkan biaya terutama untuk membangun ruang belajar. Untuk mewujudkan rencana pembangunan madrasah tersebut, Syekh Abudul Wahid, para guru, santri beserta jamaah wirid yang beliau bina bahu membahu mengusahakan pendanaan untuk pembangunan tersebut.

Semangat yang dilandasi niat dan kebulatan tekat serta kegigihannya mengumpulkan sumbangan dalam bentuk infak, sedekah dan waqof. Bentuk sumbangan yang diterima dari masyarakat dalam berbagai bentuk seperti, papan, seng/atap, tonggak dan bentuk lainnya. Pada Setiap pengajian yang dilaksanakan di pelbagai daerah rencana pembangunan MTI Tobek Godang senantiasa di sampaikan. Puncak dari usaha tersebut terbangunya sebuah sekolah bertingkat dua dan sebuah asrama puteri yang juga bertingkat  dua. Semenjak itu pembelajaran klasikal dilaksanakan.

Lama pendidikan klasikal di MTI adalah selama tujuh tahun. Ijazah atau syahadah baru bisa didapatkan seorang santri bila sudah menyelesaikan semua tingkat. Pada periode awal pemberlakukan sistem klasikal semua mata pelajaran adalah pelajaran yang bersifat keagamaan  belum dipelajari mata pelajaran umum. Guru yang mengajar dengan system guru kelas, dengan demikaian satu orang guru bertaggung jawab untuk satu tingkatan. Santri kelas tujuh dibimbing langsung oleh Syekh Abdul Wahid Assolihiy.

Semasa kepemimpinan syekh Abdul Wahid, setiap santri yang akan menamatkan pendidikannya diwajibkan untuk mengikuti bimbingan rohani dalam bentuk suluk/ khalwat  berdasarkan ajaran tarekat Naqsabandiyah. Syekh Abdul Wahid langsung turun tangan membimbing kegiatan ini. Kegiatan suluk/ khalwat dilaksanaan di surau biru yang terdapat di komplek MTI Tobek Godang. Kegiatan tersebut terhenti dengan wafatnya Syekh Abdul Wahid Assalihiy pada tahun 1950.

Dalam perjalanannya proses pembelajaran di MTI Tobek Godang pernah terhenti beberapa kali, yaitu saat terjadinya agresi belanda yang kedua tahun 1948, saat peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Idonesia.(PRRI) tahun 1958, dan  Pada era tahun delapan puluhan juga terhenti beberapa tahun karena kendala jumlah murid dan tenaga pengajar. Saat ini MTI Tobek Godang telah berusia lebih satu abad dan terus berkontribusi untuk mencerdaskan anak bangsa.

Pendiri MTI Tobek Godang

MTI Tobek Godang didirikan oleh Syekh Abdul Wahid. Beliau lahir di Padang Japang, pada bulan Muharam tahun 1295 H, bertepatan dengan tahun 1878 M.  bearasal dari suku Sikumbang Padang Japang Kecamatan Guguak Kabupaten Lima Puluh Kota. Ayah beliau bernama Syekh Muhammad Shaleh seorang ulama dari Padang Kandis,Tujuh Koto Talago, dan kakeknya adalah Buya Munggu juga berasal dari Padang Kandis.

Pendidikan agama beliau dimulai dengan belajar kepada orang tua beliau sendiri. Petualangan menuntut ilmu beliau lanjutkan kepada Syekh Engku Mudo Amran dan Engku Meran di Limbukan Payakumbuh. Beberapa tahun belajar di Limbukan beliau lanjutkan belajar  kepada Syekh Thaib Umar di Sungayang Tanah Datar. Guru beliau yang lainnya adalah syekh Abdul Hamid di Tanjung Ipuh, Tujuh Koto Talago. Mengenai ilmu tasawuf beliau belajar kepada Syekh Muhammad Sa’ad di Mungka, yang juga dikenal dengan sebutan Beliau Surau Baru.

Pada rentang waktu tahun 1919 sampai 1922 Syekh Abdul Wahid menuntut ilmu di  tanah suci, Makkah.  Guru-guru tempat beliau tempat memperdalam pengetahuan agamanya antara lain adalah Syekh Hasan Yamani, Syekh Sayyid ‘Ali al-maliki. Disamping ilmu syariat, ilmu tasawuf juga beliau perdalam selama berada di Makkah.

Syekh Abdul Wahid Asshalihy telah banyak berkiprah dalam rangka mengembangkan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat, serta berbagai upaya untuk mengembangkan lembaga pendidikan agama. Usaha-usaha yang dilakukan oleh Syekh Abdul Wahid untuk mewujudkan kemajuan dalam kehidupan beragama sebagai berikut:(1).Mendirikan surau dan madrasah untuk Mencetak kader kader ulama dan pemimpin umat.(2). Mengadakan wirid pengajian ke pelbagai pelosok negeri.(3). Mengadakan Suluk/khalwat di bulan ramadhan.

Beberapa keteladanan dari pribadi Syekh Abdul Wahid Assolihiy antara lain: (1). Beliau sangat mendorong para santrinya yang telah menyelesaikan pendidikan untuk mendirikan sekolah setelah kembali ke kampung halaman masing-masing. Bahkan ada yang menceritakan, keseriusan Syekh Abdul Wahid mendorong para murid beliu mendirikan sekolah dengan bentuk membekali dengan santri agar sesampai di kampung halaman ada santri yang langsung bisa di ajar. Beberapa MTI yang didirikan oleh murid beliau diantaranya MTI Koto Panjang Lampasi dan MTI di Sungai Rimbang Suliki. Beberapa MTI yang didirikan murid beliau ada yang hanya sampai kelas tiga, untuk kelas empat dan selanjutnya para santri melanjutkan di MTI Tobek Godang. (2). Saat berdakwah ke pelbagai pelosok negeri Syekh Abdul Wahid biasanya menghadiahi bibit tumbuhan untuk di tanam sebagai kenang kenangan bagi jamaah. (3). Syekh Abdul Wahid juga sangat serius mendorong agar para santri serius dalam belajar, termasuk belajar malam di surau tempat tinggal masing masing. Bagi yang kedapatan tidak ikut belajar maka diberi hukuman  membersihkan sekolah dan mencari daun talas untuk makan ikan [Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Rubrik Bendang pada 6 Agustus 2017

Belajar Bersama Maestro di Kota Padang Dibuka

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat melaksanakan kegiatan Belajar Bersama Maestro. Kegiatan ini dibuka oleh Dinas Pendidikan Kebudayaan. Acara pembukaan dilaksanakan di Aula BPNB Sumatera Barat pada Senin, 28 Agustus 2017. Hadir dalam acara perwakilan dari Dinas Pendidikan, Guru, Maestro serta peserta Belajar Bersama Maestro yang terdiri dari dua sekolah di Kota Padang.

Acara yang dimulai pada pukul 08.00 wib tersebut diawali dengan pembacaan ayat Quran, Menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Laporan Panitia, pembukaan dan pengenaan pakaian tradisional sebagai simbol dimulainya kegiatan serta pembacaan doa.

Dalam laporan panitia yang disampaikan Kadril, kegiatan Belajar Bersama Maestro di Kota Padang akan diikuti oleh kurang lebih 90 orang peserta. Peserta tersebut terdiri dari 30 orang siswa SMA Negeri 5 Padang, 30 orang siswa SMA Negeri 16 Padang dan 30 orang peserta dari BPNB Sumatera Barat. Seluruh peserta yang terlibat dalam kegiatan Belajar Bersama Maestro akan belajar kesenian tradisional seperti Randai dan Silek.

Beberapa maestro yang terlibat untuk melatih kesenian tradisional tersebut antara lain Bapak Musra Dahrizal (Mak Katik), Hendri Yusuf dan Ghazali. Para maestro ini nantinya yang akan melatih seluruh peserta di tiga lokasi yang ditentukan yakni SMA Negeri 16, SMA Negeri 5 dan Kantor BPNB Sumatera Barat.

Panitia dalam kesempatan itu juga berharap para peserta yang akan dilatih bisa mengikuti semua proses pelatihan dengan serius. Hal ini karena kegiatan ini diharapkan mampu menjadi salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan lokal.

Mak Katik yang berkesempatan memberikan sambutan dari utusan Maestro berpesan bahwa dia siap ditanya apa saja dan kapan saja mengenai adat dan kebudayaan Minangkabau. Maestro yang kini sedang menulis hampir 13000 pantun ini juga menekankan bahwa kesenian dan kebudayaan bagi dia sama dengan beras. Artinya kebudayaan dan kesenian sudah menjadi kebutuhan pokok bagi Mak Katik dan kebudayaan juga tidak hanya sekedar dikatakan tapi dilakukan

Sementara itu Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Drs. Suarman menyampaikan bahwa salah satu kekayaan bangsa Indonesia adalah Kebudayaan. Kebudayaan ini ketika dikelola dengan baik maka akan berdampak luar biasa pada pembangunan bangsa. Beliau juga menambahkan bahwa untuk memaksimalkan kebudayaan tersebut maka perlu untuk melakukan internalisasi nilai-nilai budaya sejak dini sehingga dengan demikian akan mampu membentuk karakter masyarakat kita.

Kegiatan Belajar Bersama Maestro merupakan kegiatan yang dilaksanakan BPNB Sumatera Barat sebagai salah satu upaya melestarikan budaya melalui sharing pengetahuan dan pengalaman dari generasi tua kepada generasi muda. Harapannya dengan adanya kegiatan ini akan menambah kecintaan terhadap kebudayaan dan bersama-sama menjaga dengan baik sehingga tetap lestari.

Perekaman Masyarakat Jawa Kabawetan

0
Buruh petik sedang bekerja, Foto. Firdaus

Kepahiang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat melaksanakan perekaman aktivitas sejarah dan budaya di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Perekaman kali ini mencoba mengungkap sejarah masyarakat Jawa di Kecamatan Kabawetan. Proses pengambilan gambar dilakukan pada 21-26 Agustus 2017.

Perekaman sejarah dan budaya merupakan kegiatan rutin BPNB Sumatera Barat untuk mendokumentasikan aktivitas sejarah dan budaya dalam bentuk video. Nantinya hasil dari perekaman ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda terkait pengalaman masyarakat kita pada masa lalu dalam membangun sejarah dan peradaban bangsa.

Buruh petik, Foto. Firdaus

Pada tahun 2017, kegiatan perekaman mencakup tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Khusus Provinsi Bengkulu perekaman dilakukan di Kabupaten Kepahiang yakni masyarakat Jawa di Kecamatan Kabawetan.

Alasan pemilihan lokasi ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan sejarah masuknya masyarakat Jawa ke Sumatera khususnya ke Kabupaten Kepahiang dan berperan dalam membangun kebudayaan dan peradaban melalui keterlibatan masyarakat dalam perkebunan teh sebagai sumber penghasilan utama.

Masyarakat Jawa di Kecamatan Kabawetan merupakan masyarakat yang berkontribusi besar dalam membangun Kepahiang menjadi wilayah yang maju seperti sekarang. Kedatangan mereka ke kecamatan kabawetan telah membawa warna tersendiri dalam banyak sektor seperti ekonomi, kebudayaan, sosial dan pemukiman.

Pemukiman masyarakat Jawa di Kecamatan Kabawetan telah terbentuk sejak berdirinya perkebunan teh pada 1912. Proses migrasi mereka tidak lepas dari kebutuhan mendesak perusahaan akan tenaga kerja. Untuk kebutuhan tersebut perusahaan mendatangkan para pemuda-pemudi dari Pulau Jawa yang siap dipekerjakan di perkebunan dengan sistem kontrak. Mereka disebut juga dengan istilah koeli kontrak.

Para buruh pemetik teh sedang menunggu penimbangan hasil kerja, Foto. Firdaus

Beberapa wilayah yang menjadi pemasok tenaga kerja berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah serta Jawa Timur. Kedatangan masyarakat Jawa ke Kabawetan telah mengubah beberapa hal di Kabupaten Kepahiang seperti wilayah pemukiman mereka yang dinamai dengan nama-nama Jawa seperti Kampung Bogor, Kampung Bandung dan Kabawetan. Kentalnya identitas yang mereka bawa membuat nama-nama itu mereka gunakan dalam pemukiman baru mereka.

Ketua perekaman Rahma Dona menyatakan bahwa kegiatan perekaman masyarakat Jawa di Kabawetan merupakan lanjutan dari kegiatan penelitian pada masyarakat yang sama dua tahun yang lalu. Hal ini karena dua tahun lalu masyarakat Jawa telah diteliti tentang sejarah migrasinya oleh salah seorang peneliti BPNB Sumatera Barat.

Harapannya dengan adanya perekaman ini, maka akan menghasilkan dokumentasi sejarah migrasi masyarakat Jawa di Kecamatan Kabawetan secara utuh.

Asesmen Pegawai di BPNB Sumbar Berlangsung Lancar

0
Pelaksanaan Asesmen

Padang – Pelaksanaan asesmen pegawai di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat berlangsung lancar. Asesmen yang dilaksanakan selama empat hari berturut-turut dari Senin (24/7) sampai Kamis (27/7) tidak mengalami gangguan berarti dan berlangsung sesuai rencana. Tempat pelaksanaan asesmen diadakan di ruang sidang BPNB Sumbar dan diikuti sebanyak 20 pegawai dari fungsional umum.

Pelaksanaan asesmen pegawai merupakan arahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendapatkan data informasi kompetensi dan potensi diri pegawai negeri sipil di Lingkungan Kemendikbud dengan menggunakan instrumen tertentu. Asesmen ini sendiri diwajibkan kepada PNS/CPNS dengan jabatan fungsional umum/pelaksana dan minimal pendidikan SLTA sederajat. Asesmen dilaksanakan secara daring dengan materi psikotes.

Adanya asesmen maka akan dapat mengetahui kompetensi dan potensi diri pegawai, membantu dalam rencana peningkatan karir PNS, membantu mendapatkan pengembangan sesuai kebutuhan serta membuka kesempatan terpilih dalam pembinaan kader potensial.

BATOMBE: Tradisi Berbalas Pantun di Minangkabau*

0
Batombe

Penulis: Firdaus Marbun

Batombe

Salah satu kesenian tradisional yang cukup populer dalam masyarakat Minangkabau adalah Batombe. Kesenian ini merupakan bentuk seni berbalas pantun dengan diiringi alat musik rabab. Dimainkan oleh dua orang laki-laki dan perempuan, atau berkelompok. Para pemain disebut dengan pendendang. Biasanya pendendang utama merangkap sebagai pengiring. Dendangan pantun dalam kesenian batombe biasanya merupakan ungkapan perasaan dan cerita perjalanan hidup seperti cinta, sedih, semangat dan lain-lain. Pantunnya mengandung kata kiasan dan melepaskan hasrat hati.

Lahir dan berkembang pada masyarakat Nagari Abai, Kabupaten Solok Selatan, batombe hampir sama dengan kesenian berpantun di daerah-daerah lain. Jika di Palembang dan Bengkulu kita mengenal kesenian berpantun dengan istilah Batang Hari Sembilan, Gitar Tunggal atau Rejung, maka kesenian berpantun di Sumatera Barat dikenal dengan kesenian batombe.

Secara sekilas perbedaan utama diantara kesenian berpantun tersebut ada pada alat musik pengiringnya. Pada kesenian rejung dan batang hari sembilan, alat musik pengiringnya adalah gitar sehingga kesenian tersebut seringkali disebut dengan gitar tunggal karena biasanya hanya menggunakan satu gitar. Sementara kesenian batombe menggunakan rabab sebagai pengiring. Namun dalam hal dendang menggunakan media yang sama yaitu pantun. Pantun tersebut mengandung cerita-cerita kehidupan sehari-hari seperti percintaan, kesedihan, pembangkit semangat dan nasihat.

Secara asal kata, batombe berasal dari kata ‘ba’ dan ‘tombe’. ‘ba’ pada bahasa Minangkabau merupakan awalan kata sedangkan ‘tombe’ berarti pantun. Sehingga batombe sama dengan berpantun. Sesuai dengan namanya, kesenian berpantun ini dilaksanakan dengan cara berbalas pantun antar individu dan antar kelompok. Tombe sendiri dalam bahasa abai mempunyai tiga makna: 1) tiang atau tegak, 2) musyawarah atau mufakat, 3) bersatu. Dengan adanya tombe ini, masyarakat menjadi bersatu, bekerjasama manjapuik baban nan jauah, pambao baban nan barek (menjemput beban yang jauh, pembawa beban yang berat. Jadi esensi dari berbalasan pantun (batombe) pada hakikatnya dalam rangka manjapuik baban nan barek (Refisrul dan Rismadona 2016, 51).

Kesenian Batombe

Tidak ada yang tahu pasti kapan tradisi ini muncul. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat tradisi ini muncul pada saat gotong royong membangun rumah gadang/masjid. Pada masa lalu gotong royong memang kerap dilakukan baik dalam pembangunan kampung/nagari, pembangunan rumah gadang serta pembangunan masjid.  Konon, disaat warga sedang mengambil kayu ke hutan untuk keperluan tiang, ada satu ketika kayu yang sudah ditebang tidak bisa diangkat bahkan sama sekali tidak bisa digeser. Berbagai usaha telah mereka lakukan, kayu tersebut tetap tidak bisa diangkat.

Dalam kondisi putus asa, tiba-tiba para perempuan yang memang bertugas untuk menyiapkan bekal mencari cara untuk memberi semangat kepada kaum pria yang sedang susah payah mencari cara untuk memindahkan kayu. Lalu secara spontan mereka mulai berpantun yang kemudian dibalas oleh para pekerja pria. Dalam sahut-sahutan pantun tersebut, kemudian tanpa disadari kayu yang tadi tidak bisa digeser kemudian sedikit demi sedikit bergeser dan bisa dipindahkan ke lokasi pembangunan rumah. Demikian selanjutnya balas pantun berkembang dalam berbagai kegiatan-kegiatan bersama hingga akhirnya menjadi satu tradisi dalam perhelatan-perhelatan.

Kesenian batombe umumnya dilaksanakan untuk mengisi berbagai acara perhelatan. Pihak yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan tentu orang yang punya acara. Pemilik acara ini disebut dengan sipangkalan. Sipangkalan bertanggungjawab mempersiapkan segala pertunjukan mulai dari tempat pelaksanaan, mengundang warga, dan membicarakan izin dan teknis pelaksanaan dengan penghulu. Sipangkalan juga menentukan pendendang serta menyiapkan peralatan yang dibutuhkan. Biasanya melibatkan warga kaum dengan sepengetahuan penghulu. Untuk memastikan segalanya berjalan lancar, persiapan dimulai sejak jauh-jauh hari. Dimulai dengan rapek awak, mengundang rajo tigo selo, alim ulama, cerdik pandai untuk meminta izin. Pertemuan disebut dengan duduak urang tuo.

Dalam pelaksanaan, biasanya para pendendang tidak mempunyai panduan atau teks pantun tapi mengalir dengan spontan. Iringan musiknya juga cenderung monoton. Satu hal yang menarik dari kesenian ini adalah lantunan pantun yang seringkali menggambarkan keadaan faktual sehingga penikmat suka betah berlama-lama menyaksikannya. Kesenian batombe juga sering melibatkan orang lain atau penonton dalam balas pantun.

Tidak ada batasan usia untuk bisa menjadi seorang pendendang. Dari remaja hingga orang tua, jika punya persediaan pantun yang banyak bisa menjadi pendendang. Tidak juga ada pendidikan khusus untuk bisa menjadi seorang pendendang. Dendang batombe biasanya dipelajari dari kebiasaan seseorang menonton pertunjukan batombe dan mencoba mempraktekkannya. Belajar lebih banyak dilakukan melalui kegiatan-kegiatan batombe dalam perhelatan-perhelatan. Sementara pemain musik atau pengiring biasanya terbatas pada laki-laki karena lebih familiar pada alat musik.

Kini batombe telah berkembang dalam berbagai acara seperti perkawinan, pembangunan rumah, memasuki rumah, batagak penghulu dan menyambut tamu. Perkembangan juga diikuti modifikasi assesories dan musik pengiring disesuaikan dengan kondisi masyarakat terkini dan keinginan para penikmatnya. Fungsi untuk membangkitkan semangat pada masa lalu juga berkembang ke arah hiburan masyarakat. Pantun batombe juga semakin beragam mengikuti kemajuan zaman.

*Artikel ini telah dimuat di Harian Singgalang rubrik Bendang pada 16 Juli 2017.

Dabuy

0
Salah satu peserta Dabuy dari Sanggar Teratak Tempati mempertunjukkan kebolehannya pada acara Baretong di nan Tarang Pesisir Selatan, 22 April 2017, Foto. Firdaus

Meraih Rezeki Melalui Dunia Maya*

0
Jpeg

Penulis: Ernatip

Kemajuan teknologi modern terutama bidang komunikasi sangat dirasakan oleh masyarakat pada saat ini. Berbagai informasi dengan mudah didapatkan baik diakses secara langsung maupun melalui tuturan orang-orang di sekelilingnya. Informasi yang didapatkan itu di satu sisi sangat menguntungkan, tetapi di sisi lain juga ada mudaratnya.

Manfaatkanlah kemajuan teknologi itu untuk meningkatkan taraf hidup, mencerdaskan generasi penerus, dan bersaing secara profesional. Berbagai kemudahan dapat dirasakan oleh banyak orang tidak mengenal batas ruang dan waktu,  usia, jenis kelamin, status sosial dan lainnya. Kemajuan teknologi modern bidang komunikasi ini menjadi peluang emas bagi orang-orang yang kreatif sehingga ia dapat menjadikannya sebagai ladang usaha tanpa harus hilir mudik sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu.

Pada masa kini kebanyakan orang berkomunikasi melalui media sosial, berbagai hal dapat mereka cari melalui media sosial yang tersedia. Misalkan saja para pelajar – siswa – mahasiswa ataupun ilmuan lainnya kesulitan dalam mengerjakan PR/tugas, mereka sudah bisa mencarinya melalui internet yang sekarang lazim disebut dengan istilah “tanya sama bang google”, “bang google yang paling tahu semuanya”. Di sini terlihat bahwa bang google menjadi andalan yang dapat menyelesaikan masalah.

Tidak itu saja. Di media sosial tersedia berbagai aplikasi yang membuat orang semakin mudah dalam melakukan berbagai pekerjaan sehingga dalam waktu yang singkat dapat diselesaikan. Hal ini tentunya tidak semudah yang dibayangkan melainkan memerlukan kesungguhan belajar agar mampu mengoperasikan aplikasi-aplikasi tersebut. Tingkat kesulitan tiap-tiap aplikasi berbeda-beda sehingga membuat orang belajar secara terus menerus.

Melalui media sosial banyak keuntungan yang diperoleh terutama bagi orang yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan seperti yang dilakukan oleh para pelaku bisnis di berbagai usaha. Biasanya orang seperti ini selalu tahu apa-apa saja yang dibutuhkan oleh lingkungan di mana ia berada atau yang sedang trendy ditengah masyarakat sehingga peluang ini menjadi lahan baginya untuk memasarkan produk-produk yang dibutuhkan itu. Mereka ini termasuk rajin, kreatif dan percaya diri (PD) dengan apa yang ia lakukan seperti menawarkan barang atau jasa melalui berberapa situs/akun seperti di facebook, instagram, WA, dan lainnya.

Mereka mempunyai keyakinan bahwa  tawaran mereka akan mendapat respon dari khalayak ramai. Dalam rangka mempromosikan barang ditampilkan sedetailnya mulai dari bahan, cara penggunaan, ukuran, warna, cara pengiriman, cara pembayaran dan lainnya sehingga para peminat mendapatkan kejelasan tentang barang tersebut.   Hal seperti ini sangat dirasakan saat ini betapa banyak penawaran berbagai produk melalui media sosial karena kebanyakan orang pada masa kini menggunakan media sosial dalam berbagai hal kepentingan, dengan demikian pemasaran aneka produk menjadi luas. Pengguna media sosial saat ini tidak saja di kalangan kaum elit, pengusaha, mahasiswa/pelajar tetapi hampir tidak ada batas berdasarkan status sosial, pekerjaan dan lainnya.

Dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat bahwa hampir semua orang menggunakan media sosial (terutama HP) untuk memudahkan berkomunikasi baik yang mempunyai kesibukan di luar rumah maupun yang menetap di rumah (seperti orang tua-tua/lanjut usia). Mereka ini menggunakan media sosial mungkin hanya sebatas untuk berkomunikasi dengan anak/saudara terutama yang berada jauh dari lingkungannya (merantau).

Berdagang melalui media sosial (secara online) begitu gencar terjadi saat ini, penjual dan pembeli tidak pernah bertemu tetapi hubungan mereka akrab, saling berkomunikasi (chatting), waktu dan tempat tidak mengikat bisa kapan saja asalkan paket data tetap tersedia, sinyal pun mendukung. Menjalankan bisnis (berjualan)  melalui media sosial mempunyai banyak keuntungan, memberi peluang kerja bagi orang lain seperti yang terlihat sekarang betapa banyak banyak tenaga kerja penjual jasa yang terekrut dari usaha bisnis online  misalnya sebagai pengantar barang ke alamat pembeli atau sebaliknya dari distributor ke agen pengiriman barang.

Selain itu tenaga lain juga diperlukan seperti tenaga packing, penerima order, chek persediaan,  penerima transfer pembayaran dan banyak lagi sehingga satu usaha kecil saja (misalnya industri rumah tangga) bisa mempekerjakan sekurang-kurangnya 3 -5 orang apalagi bila orderan sedang banyak. Jenis barang yang dijual melalui media sosial tidak terbatas tetapi yang terlaris saat ini adalah peralatan fashion seperti tas, sepatu, kosmetik, pakaian, begitu juga peralatan rumah tangga dan lainnya.

Pada masa kini belanja secara online sedang trendy, banyak produk fashion, peralatan rumah tangga, peralatan elektronik dijual secara online, tidak perlu ke pasar, ke toko untuk mendapatkan peralatan tersebut cukup melalui telepon selular (HP), cari berbagai penawaran dan jika berminat bisa langsung dipesan. Beberapa hari kemudian pesanan datang melalui jasa pengiriman.

Jadi jangan heran pada masa kini hampir setiap hari dilihat jasa pengiriman barang hilir mudik ke kantor-kantor maupun ke rumah-rumah mengantarkan paket. Di selala-sela pekerjaan di kantor  karyawan/pegawai pun bisa berbelanja begitu juga ibu-ibu rumah tangga di selala-sela kesibukannya mengurus rumah juga bisa berbelanja.

Begitu juga sebaliknya, bila ada produk-produk hasil karya sendiri atau orang lain yang akan dijual juga bisa dilalukan secara online tanpa meninggalkan tempat tugas. Artinya di sini bahwa media sosial tidak hanya media pertemanan saja melainkan juga sebagai media tukar menukar barang dan jasa. Selain itu melalui media sosial orang pun banyak mendapatkan informasi tentang peluang kerja di berbagai perusahaan, bisnis berbagai peralatan dan lainnya, bahkan kini di instansi pemerintah penerimaan pegawai dilakukan secara online termasuk pelaksanaan seleksi. Begitu juga penerimaan murid baru juga dilakukan secara online, jadi kini semuanya sudah serba online.

Mencermati sikap masyarakat masa kini dari sisi perilaku yang serba online ada nilai-nilai karakter yang dapat ditrasformasikan seperti nilai kreatif, jujur, menghargai prestasi, dan bersahabat. Nilai-nilai itu tercermin dari proses pengenalan produk, berlangsungnya transaksi hingga barang sampai ke konsumen/pengguna. Pada tahap pengenalan produk pihak produsen hendaklah memberikan informasi yang jujur tentang produk tersebut. Jika disertai dengan foto hendaklah sesuai dengan aslinya, jangan terlalu dipoles, maklum kecanggihan peralatan kini bisa merubah penampilan. Tampilan yang menarik memang sangat dibutuhkan agar para konsumen menaruh minat untuk memilikinya.

Untuk menarik konsumen banyak cara yang bisa dilakukan, di sinilah perlunya kreatif,  imajinasi untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Sebaliknya konsumen juga perlu jujur dengan dirinya sendiri apakah memang barang tersebut yang ia butuhkan, terpengaruh oleh penampilan sehingga membeli barang yang memang belum/tidak dibutuhkan. Sebelum mengambil keputusan untuk membeli maka konsumen juga dianjurkan untuk selektif terhadap produk tersebut, jika perlu dicari informasi lain sehingga ada pembanding. Hal ini sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya masalah kemudian yang disebabkan oleh kurang/tidak cocok dengan yang dibayangkan sebelumnya.

Selain itu nilai menghargai prestasi juga tercermin pada tahap pengenalan produk yakni produk yang ditawarkan itu betul-betul memberi manfaat bagi pengguna, untuk kemudahan, praktis, hemat dan lainnya. Sebaliknya konsumen pun juga memberikan respon misalnya suka, bagus, hebat dan lainnya walaupun produk itu belum dibutuhkannya. Hal ini adalah sebagai bentuk ungkapan penghargaan terhadap karya orang lain. Selanjutnya bila telah terjadi chatt seperti tersebut, maka secara tidak langsung telah terjalin hubungan persahabatan walaupun tidak bertatap muka.

Hubungan persahabatan ini tidak hanya sesaat adakalanya berlangsung secara terus menerus, apalagi bila ada produk baru terus diinformasikan sehingga berlangsung tanpa hentinya.  Di saat akan berlangsung transaksi juga perlu ada kejelasan cara pembayaran, alamat, jaminan barang tidak cacat diterima oleh pengguna dan lamanya proses pengiriman. Ini sangat diperlukan agar tidak terjadi masalah yang berakibat adanya chatting  yang kurang pantas, mengundang amarah karena kecewa. Begitu juga setelah barang diterima juga ada informasi sebagai bentuk kerjasama yang baik.

Kemajuan teknologi modern telah banyak memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat, terutama dalam upaya pengembangan usaha. Muncul berbagai ide yang dapat menunjang keberlangsungan kehidupan. Di sini terlihat adanya inovasi baru dalam dunia perdagangan. Pada masa dahulu orang berjualan perlu tempat peragaan barang, gudang, pelayan, kurir dan lainnya. Kemudian dalam proses jual beli terjadi tawar menawar dan transaksi secara langsung.

Akan tetapi saat ini cukup hanya dengan menawarkan melalui beberapa situs/akun yang sedang populer di masyarakat. Dengan adanya berbagai kemudahan akibat dari kemajuan teknologi modern pada saat ini hendaknya dapat menjadikan bangsa ini semakin memilik karakter yang baik. Bersifat jujur dalam segala hal meskipun melalui perantara.  Jujur pangkal dari segalanya oleh sebab itu sifat jujur perlu ditanamkan dalam diri masing-masing. Senantiasalah memberi penghargaan atas prestasi orang, mengakui kelebihan orang dan binalah terus hubungan persahabatan meskipun tidak  bertatap muka secara langsung

[Penulis adalah Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]
*Artikel ini telah dimuat di Harian Singgalang Rubrik Bendang pada 9 Juli 2017

Melihat Lebih Dekat Orang Lintang di Kabupaten Empat Lawang

0
Efrianto

Empat lawang merupakan salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Selatan. Terdapat di Kaki Gunung Dempo dan didiami oleh beberapa etnis lokal seperti Lintang, Pasemah, Kikim, Musirawas serta etnis pendatang seperti Jawa dan Sunda. Sebagian dari penduduk masyarakat Empat Lawang tinggal di sepanjang jalur jalan lintas tengah Sumatera.

Menurut Efrianto, terdapat kesepakatan tidak tertulis bagi para pemakai jalan untuk menghindari wilayah lintas tengah pada malam hari khususnya untuk kendaraan pribadi dan truk. Hal ini terkait dengan tingginya angka kriminalitas di jalur tersebut.

Efrianto menambahkan bahwa tingginya kriminalitas lebih disebabkan karena kurangnya pemahaman anak bangsa terhadap keanekaragaman. Bahwasannya antara satu suku bangsa dengan suku bangsa yang lain tidak saling mengakui dan memahami. Selain itu, kekerasan menjadi salah satu cara menunjukkan eksistensi dan luapan ketidakmampuan dalam bersaing dengan suku bangsa lain.

Jika merujuk ke Kabupaten Empat Lawang, etnis Lintang merupakan suku paling dominan di daerah tersebut. Suku Lintang mendiami 4 Kecamatan yakni Lintang Kanan, Ulu Musi, Padopo dan Talang Padang. Suku Lintang juga memiliki peran menentukan dalam banyaknya tindak kekerasan di daerah tersebut baik sebagai pemicu maupun sebagai pencegah. Orang Lintang merupakan suku bangsa yang turun dari gunung Dempo di Kota Pagaralamdan berasal dari sub atau bagian Pasemah (basemah), seperti halnya juga lematang dan Lembak.

Berdasarkan latar belakang di atas, Efrianto mencoba mengangkat penelitian tentang suku Lintang di Kabupaten Empat Lawang. Ia dan tim yang beranggotakan Undri, Ernatip dan Rismadona bermaksud mengkaji etnis Lintang dalam perspektif sejarah dan budaya.

Melalui kajian ini diharapkan dapat menjelaskan kepada seluruh anak bangsa tentang bagaimana kehidupan masyarakat Lintang dan sejauh mana mereka mempertahankan tradisi dan budaya yang mereka miliki serta pengaruh apa yang menjadikan kekerasan sebagai ekspresi diri terhadap persoalan yang mereka hadapi.

Beberapa hal yang menjadi fokus penelitian adalah sejarah terbentuknya suku Lintang, jalur migrasi dan struktur masyarakat serta pelaksanaan adat dan budaya pada masyarakat Lintang.

Menggali Sejarah dan Budaya Masyarakat Patomuan Kabupaten Pasaman

0
Nagari Patomuan, Foto. Hariadi

Patomuan adalah sebuah perkampungan di dalam hutan lindung Pasaman, Kabupaten Pasaman Sumatera Barat. Secara administratif Patomuan merupakan satu jorong dari nagari Muaro Sungai Lolo Kecamatan Mapattunggul Selatan. Akses menuju Patomuan sangat tidak mudah, hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau perahu.

Sejak lima tahun belakangan perhatian pemerintah untuk pembangunan perkampungan Patomuan khususnya dan Nagari Muaro Sungai Lolo semakin intens. Beberapa perkembangan nyata juga diraih seperti sarana transportasi, jalan, jembatan dan bantuan perahu sebagai alat transportasi. Sisi-sisi jalan di Nafari juga sudah dibeton. Terdapat sarana penerangan melalui pembangkit listrik mikro hidro, walaupun belum memenuhi seluruh kebutuhan keluarga.

Berbagai fenomena yang ada di Patomuan telah menarik perhatian Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat untuk mengkaji lebih dalam terkait keberadaan kampung tersebut khususnya terkait aspek sejarah dan budayanya. Penelitian ini nantinya akan dipimpin oleh Hariadi yang beranggotakan Seno, Silvia Devi dan Yulisman.

Berbagai pertimbangan sebagai dasar pemilihan lokasi oleh tim peneliti tersebut antara lain: Patomuan merupakan perkampungan tuo di tengah hutan Pasaman. Perkampungan ini telah dihuni dalam rentang waktu yang cukup lama yang dibuktikan dengan keberadaan rumah gadang di tengah perkampungan. Rentang waktu yang cukup panjang mulai dari proses perpindahan generasi awal sampai saat ini tentu saja menyimpan sejarah yang menarik untuk diungkapkan.

Selain itu, posisi perkampungan tuo Patomuan hingga kini masih terisolir dan minim pengaruh dari luar. Hariadi berasumsi bahwa kurangnya pengaruh luar membuat budaya mereka tidak banyak terpengaruh budaya luar. Terakhir, dipercaya bahwa nagari Patomuan menyimpan banyak kearifan lokal sebagai hasil terjemahan menjalani kehidupan sehari-hari di tengah hutan. Mungkin saja salah satunya pengelolaan hutan.

Penelitian ini dimaksudkan dapat mengungkap budaya asli masyarakat setempat secara etnogradi, termasuk sejarah asal-usul perkampungan, adat dan tradisi masyarakat yang berkembang, serta tradisi keagamaan dan hukum adat yang berlaku.

Melihat Suku Anak Dalam di Dharmasraya

0
Rois L. Arios

Salah satu penelitian yang akan dilaksanakan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat pada 2017 adalah Suku Anak Dalam (SAD). SAD merupakan istilah yang dipakai untuk menyebutkan sekelompok orang yang bermukim dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari hutan. Penelitian ini dilaksanakan oleh Rois L. Arios beserta Seno, Ernatip serta Efrianto.

Penelitian ini akan dilaksanakan di Kabupaten Dharmasraya dimana terdapat komunitas SAD. Berdasarkan pundi Sumatera tahun 2016 terdapat tiga kelompok utama SAD yang disebut dengan rombong yakni: rombong bujang rendah (bermukim di hutan sikabau), rombong marni (bermukim di hutan bulangan) dan rombong panyiram (bermukim di hutan Nagari Salamu Kecamatan IX Koto).

Secara administratif SAD tidak memiliki catatan kependudukan. Walau demikian, pada pemilihan umum 9 april 2014 sebanyak 19 warga SAD sudah ikut memilih (Adha, 2015). Mereka tidak punya tempat tinggal dan hidup berpindah-pindah. Ketika pindah, warga rombong hanya akan membawa perlengkapan seadanya seperti periuk atau panci sederhana, pakaian seadanya (umumnya kain panjang), dan anak-anak dibiarkan tanpa baju atau hanya menggunakan kain cawat (Rois).

Alasan kepindahan mereka adalah untuk mencari sumber pangan. Belum ada diantara mereka yang mengolah lahan untuk pertanian atau memelihara ternak untuk konsumsi sehari-hari. Hutan mereka jadikan sebagai tempat mencari nafkah, mendidik anak untuk mampu bertahan dengan lingkungan hutan baik dalam makanan, kesehatan, melahirkan, tempat tinggal dan semisal mungkin untuk berinteraksi dengan masyarakat luar. Namun,Tidak sedikit juga kelompok SAD yang sering dijumpai di jalanan sekitar Kabupaten Dharmasraya, bahkan pernah diberitakan ada yang sampai berjalan sampai ke Kota bukittinggi dan Kota Padang.

Tinggal dan berkembang di hutan tentu memerlukan pemahaman dan pengetahuan tentang hutan sebagai pemukiman mereka. Keterbatasan fasilitas, membutuhkan pengetahuan agar bisa tetap bertahan. Pengetahuan ini merupakan proses enkulturasi yang secara terus-menerus mereka lakukan sepanjang usia mereka. Dengan gambaran ini proses enkulturasi secara khusus diawali sejak seseorang tersebut baru lahir. Anak yang baru lahir akan dipersiapkan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial dan lingkungan alamnya. Untuk itu si anak selalu mendapat pendidikan melalui pengasuhan yang dilakukan oleh orang tuanya atau lingkungan sosialnya.

Alasan tersebutlah yang mendorong Rois, dkk untuk mendalami kehidupan Suku Anak Dalam bisa tetap eksis dengan berbagai keterbatasan. Beberapa pertanyaan penelitian yang diajukan diantaranya bagaimana konsep warga SAD terhadap anak, bagaimana pola pengasuhan anak pada warga SAD dan bagaimana konsekuensi pola pengasuhan anak tersebut dengan kondisi lingkungan alam dan sosial saat ini.

Mengenal Sultan Alam Bagagar Syah

0
Jpeg

Penulis: Undri*

 

Dalam sejarah Minangkabau, posisi Sultan Alam Bagagar Syah cukup unik selain sebagai keluarga Raja Pagaruyung juga pernah menandatangani surat “penyerahan” beberapa daerah di Minangkabau kepada Belanda-tepatnya tanggal 10 Februari 1821. Peristiwa itupula yang menjadi ganjalan sehingga sampai hari ini belum dilekatkan sebagai pahlawan nasional.

Kendati belum menjadi pahlawan nasional banyak diantara kita yang belum tahu kiprah tokoh ini secara jelas. Tumpuan kejelasan tidak terlepas dari jiwa zamannya (tijdgebundent dan cultuurgebundenheid), yang mencerminkan sikap dan perbuatan serta nilai yang dipancarkannya.

Sultan Alam Bagagar Syah sendiri-nama aslinya sesuai dengan stempel atau cap kerajaan adalah Sultan Tunggal Alam Bagagar Ibnu Khalifatullah – lahir di Pagaruyung Luhak Tanah Datar pada tahun 1789. Tidak diketahui secara pasti tanggal kelahirannya. Ayahnya Yamtuan Sultan Abdul Fatah adalah Raja Alam Pagaruyung dengan gelar Daulat Yang Dipertuan Sultan Alam Muningsyah II dan sekaligus memangku Raja Adat Pagaruyung dengan gelar Daulat Yang Dipertuan Sultan Abdul Jalil I. Sedangkan ibunya Yang Dipertuan Gadih Puti Reno Janji adalah Yang Dipertuan Gadih Pagaruyung ke XI.

Dalam buku Perjuangan Sultan Alam Bagagar Syah dalam Melawan Penjajah Belanda di Minangkabau pada Abad ke-19 (2016), Penulis sendiri salah seorang yang menulis buku tersebut menjelaskan  tokoh ini menarik untuk diungkapkan karena keterlibatannya dalam berbagai dinamika percaturan gerakan dalam memimpin negeri, menciptakan kestabilan politik, dan akhirnya menentang kedatangan Belanda melalui reaksi, protes, bekerjasama dengan Belanda, dan penolakkan terhadap penjajahan Belanda di Minangkabau.

Berbicara tentang perjuangannya dalam menciptakan kondisi keamanan, mengerakkan masyarakat Minangkabau untuk mengusir Belanda, dan memajukan masyarakat Minangkabau merupakan periode sejarah yang menarik perhatian, karena terjadinya pertentangan antara Kaum Adat dan Kaum Agama yang sangat hebat di Minangkabau pada awal abad ke-19. Masing-masing kelompok memiliki tujuan dan sasaran tersendiri dalam memajukan masyarakat Minangkabau. Keinginan untuk memajukan agama di satu pihak dan adat serta tradisi pada pihak yang lain. Semangat yang dimiliki oleh Sultan Alam Bagagar Syah, Raja Alam Minangkabau bersama masyarakat tidak ternilai harganya. Melalui kebijakan yang sangat hati-hati dan berisiko tinggi, Sultan Alam Bagagar Syah berhasil melawan pemerintahan Belanda tanpa merusak tradisi adat dan agama.

Bahkan dalam perjuangannya Sultan Alam Bagagar Syah tidak pernah konfrontasi dengan Kaum Agama, apalagi dengan para penghulu atau Kaum Adat. Ia membina hubungan baik dengan semua lapisan atau unsur “Tungku Tigo Sajarangan” atau “Tali Tigo Sapilin” di Alam Minangkabau. Taktik Sultan Alam Bagagar Syah tersebut adalah upaya untuk mengerakkan massa, merebut kekuasaan, mempertahankan, dan mengusir Belanda di Minangkabau.

Goresan akan perjuangan Sultan Alam Bagagar Syah terjadi ketika pada tanggal 10 Februari 1821, Belanda berhasil memperdaya dan memaksa para penghulu dan para bangsawan di pedalaman Minangkabau supaya menyerahkan beberapa daerah kepada Belanda. Sultan Alam Bagagar Syah sebagai keluarga Raja Pagaruyung yang masih muda menyikapi politik Belanda itu dengan hati-hati bahkan ikut menandatangani surat penyerahan tersebut.

Sikap itu diambilnya dengan tujuan untuk memulihkan keamanan dan ketertiban, karena kondisi Minangkabau ketika itu sangat tidak aman, dalam perbedaan faham antara Kaum Adat dan Kaum Agama. Namun kedua golongan ini menyadari juga bahwa musuh yang sebenarnya adalah kehadiran penjajah Belanda di Alam Minangkabau, sehingga mereka bersatu untuk mengusir penjajah Belanda.

Bagaimana kita menyikapi hal tersebut apakah Sultan Alam Bagagarsyah pro kepada Belanda dengan menandatangai surat penyerahan tersebut atau sebaliknya. Sebuah peristiwa yang harus dilihat dari perspektif sejarah. Cara kerja ilmu sejarah bertumpu pada pertama heuristic, mencari dan menemukan sumber-sumber sejarah atau pengumpulan sumber, Kedua, kritik menilai otentik atau tidaknya sesuatu sumber dan seberapa jauh kredibilitas sumber. Ketiga, sistesis dari fakta yang diperoleh melalui kritik sumber atau disebut juga kredibilitas sumber, dan  keempat, penyajian hasilnya dalam bentuk tertulis.

Sebagai sebuah dokumen memang telah dijumpai tentang surat penyerahan tersebut, dan kemudian analisa terhadap surat tersebutpun bermunculan. Seperti dalam buku Rusli Amran Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta : Sinar Harapan, 1986 : 540-626.menjelaskan penyerahan Minangkabau kepada Belanda oleh Sultan Alam Bagagar Syah merupakan sandiwara yang diatur oleh Belanda sendiri karena Belanda memerlukan alasan untuk menguasai Minangkabau dengan mengunakan orang Minangkabau pula.

Kalau kita analisa dan interpretasikan sesuai dengan jiwa zamannya (tijdgebundent dan cultuurgebundenheid) bahwa  sikap yang diambil oleh Sultan Alam Bagagar Syah merupakan bagian dari komponen penting yang berusaha mengusir penjajahan Belanda baik secara langsung maupun tidak langsung, mengangkat derajat kaum atau etnis, dan mengisi kemerdekaan. Bukanlah berarti ia pro Belanda, melainkan suatu taktik untuk mengetahui kekuatan Belanda dan ia lebih leluasa dalam mengkoordinir semua kekuatan yang terdapat dalam masyarakat Minangkabau.

Peranannya dalam melawan Belanda di Minangkabau memberi dampak yang besar bagi masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, dan beberapa daerah lain di sekitarnya, seperti Provinsi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, dan Aceh. Wilayah tersebut berhubungan dengan kekuasaan Kerajaan Pagaruyung. Disamping itu kekuasaan Pagaruyung juga menjangkau beberapa bagian wilayah Nusantara lainnya. Keturunan dari Raja-raja Pagaruyung banyak yang bermukim dan berkembang di Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Banten, Brunei Darusallam, Negeri Sembilan Malaysia, dan lain sebagainya.  Ketokohannya telah mencakup wilayah yang sangat luas, sehinga ia dikenal dan dihormati oleh masyarakat lainnya.

Nilai-nilai perjuangan yang telah dilakukan oleh Sultan Alam Bagagar Syah sangat besar artinya bagi Indonesia. Kebesaran namanya telah menjadi pemicu semangat bagi masyarakat dalam membangun negeri ini. Ia adalah raja yang melawan Pemerintah Hindia Belanda. Perjuangannya memberi dampak positif bagi masyarakat, terutama bagi generasi muda dalam menumbuhkembangkan nilai-nilai dan semangat kejuangan dalam menjaga keutuhan negara Republik Indonesia. Perjuangan Sultan Alam Bagagar Syah yang mengorbankan harta benda dan jiwanya dapat dijadikan sebagai teladan dalam mengisi kemerdekaan ini, terutama dalam memupuk rasa nasionalisme, kesatuan dan persatuan bangsa, serta rasa bangga sebagai bangsa Indonesia yang merdeka.

Terlepas dari sikap pro dan kontra Sultan Alam Bagagar Syah terhadap Belanda merupakan sifat plus dan minus yang terdapat pada dirinya. Sebagai manusia biasa tentunya ia memiliki kekurangan. Pemikiran yang jernih dan netral diperlukan untuk mendudukan posisinya sebagai tokoh raja di Minangkabau tersebut.

Tidaklah salah rasanya kita pikirkan kembali untuk memperjuangkan tokoh ini menjadi pahlawan nasional kembali nantinya. Walaupun pro dan kontra akan bermunculan bila usaha ini akan kita lakukan. Ini soal biasa dalam masyarakat kita yang penuh nuansa egaliter. Wasssallam.

*Salah seorang penulis Buku Perjuangan Sultan Alam Bagagar Syah dalam melawan penjajah Belanda di Minangkabau pada abad ke-19

Catt: Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, pada 9 Juli 2017

Sejarah Penambang Emas Lebong Tandai Akan Dikaji

0
Undri

Desa Lebong Tandai pernah dinamai batavia kecil oleh Kolonial Belanda. Bahkan hingga kini istilah batavia kecil masih cukup popules bagi masyarakatnya. Lebong tandai berada di Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara. Sebagai wilayah tambang emas, desa ini cukup penting dalam menunjang perekonomian pemerintah kolonial pada masa lalu. Bahkan konon emas yang terdapat dalam tugu monumen nasional berasal dari daerah ini.

Pembukaan tambang emas pada masa lalu secara singkat telah mampu menyulap desa kecil menjadi kota mewah. Namun demikian semua kini sudah tinggal kenangan.

Produksi emas yang dikelola oleh Mijnbouw Maatschappij Simau (MMS) sejak tahun 1906 hingga tahun 1942 dapat menghasilkan satu ton emas per tahun. Pada 1937 saja produksi emas mencapai 1,095.538 gram. Bahkan, tambang ini mampu memproduksi 72% dari semua emas Netherlands East Indies yang totalnya 123 ton. Tambang ini menjadi salah satu daerah tambang yang besar di Asia Tenggara.

Tambang yang besar tentu membutuhkan dukungan fasilitas baik untuk para pegawainya maupun pekerja tambang yang ada. Sehingga untuk mendukung hal tersebut berbagai fasilitas dibangun seperti lapangan tenis, lapangan basket, rumah sakit, rumah bola (biliard), hingga rumah bordil yang disebut rumah kuning. Pembangunan rumah bordil ini kemudian dilanjutkan oleh PT.Lusang.

Berakhirnya pengelolaan MMS pada tahun 1942 membuat tambang emas lebong tandai berganti-ganti. Mulai dari pengerjaan tradisional oleh tradisional oleh masyarakat, PT. Lusang Mining pada tahun 1980-1995 dan kembali lagi dikelola secara tradisional oleh masyarakat.

Pada masa pengelolaan PT. Lusang Mining terjadi pemindahan warga ke Kecamatan Ipuh, Kabupaten Muko-muko. Pemindahan disertai dengan ganti rugi dan pembangunan pemukiman. Alasan pemindahan ini untuk menghindari gas beracun karena akan dibangun smelter. PT.Lusang berakhir pada 1995 dan kemudian diganti oleh warga transmigrasi dan kemudian tambang berubah ke tradisional yang diusahai oleh masyarakat.

Apa yang mendorong masyarakat untuk bertahan dalam pengelolaan pertambangan tradisional menarik bagi Undri dan tim untuk mengkaji hal tersebut secara mendalam. Menurut Undri bahwa berlangsungnya tambang tradisional disebabkan oleh sifat kegiatan yang dapat menghasilkan uang cepat, kadang jumlahnya cukup signifikan dan tidak memerlukan keahlian yang tinggi. Namun yang menjadi masalah adalah tambang tradisional lebih banyak merugikan bahkan sama sekali tidak menyejahterakan.

Undri berasumsi bahwa keterbatasan ekonomi penambang seharusnya dapat mempermudah menghentikan aktifitas tersebut, namun adanya aktor lain menyebabkan kegiatan ini terus berlanjut. Aktor lain ini senantiasa memberi harapan akan butir emas yang bisa saja muncul dan menguntungkan.

Atas dasar itu kemudian tim yang beranggotakan Undri, Hariadi, Erricsyah dan Rahma Dona mencoba mencari jawaban bagaimana sejarah tambang emas Lebong Tandai, kehidupan penambang emas, hubungan penambang dan pemodal serta pengaruh tambang terhadap kehidupan masyarakat.

Penukal Abab Lematang Ilir dalam Perjalanan Sejarah

0
Seno

Proses pembentukan Kabupaten PALI akan dikaji oleh Seno dan tim, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat. PALI merupakan singkatan dari Penukal Abab Lematang Ilir adalah salah satu kabupaten baru di Provinsi Sumatera Selatan yang terbentuk pada tahun 2013 melalui UU Nomor 7 Tahun 2013. Sebelum menjadi kabupaten baru,  PALI merupakan bagian dari beberapa kecamatan yang secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Muara Enim.

Ide pembentukan Kabupaten Pali dilandasi beberapa faktor seperti perkembangan pembangunan Kabupaten Muara Enim dan adanya aspirasi yang berkembang di masyarakat yang memandang perlu meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan. Selain itu, ketersediaan sumberdaya alam, kemampuan ekonomi serta kemampuan sumber daya manusia di daerah Pali juga menjadi faktor penting pendorong ide pemekaran.

Pada tahun 2004, tokoh-tokoh masyarakat, putra-putri daerah kabupaten muara enim dalam zona Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mulai memikirkan untuk memajukan daerah tanah kelahiran dalam pembangunan dan pelayanan masyarakat. Proses panjang dilalui dan menghasilkan mufakat tokoh-tokoh pembentukan Forum Komunikasi Keluarga Besar Penukal Abab Lematang Ilir.

Perjuangan FKKB-PALI ini menjadi cikal-bakal berbagai proses perjuangan yang lebih intens mengenai ide pembentukan kabupaten baru. Mulai dari membentuk Presidium PALI, membentuk panitia kecil Kecamatan Talang Ubi sebagai pelaksana deklarasi presidium, membentuk Dewan Presidium Pembentukan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilur serta merumuskan dan mengkaji ulang wilayah eks pemerintahan marga.

Tentu saja upaya pembentukan Kabupaten PALI tidak mudah. Banyak hal pendukung yang harus disiapkan dan dibenahi. Banyak juga rintangan yang harus dihadapi seperti adanya moratorium presiden RI, masalah finansial, integritas anggota dewan presidium, jaringan informasi, komunikasi politik ke pemerintah pusat dan sebagainya. Namun dengan tekad yang bulat, semangat juang yang tinggi dan pantang menyerah dengan semboyan ‘sekali layar terkembang pantang putar haluan’ sampailah pada akhir perjuangan yang membuahkan hasil.

Dinamika dan pasang surut perjuangan dalam pembentukan Kabupaten PALI mendorong Seno dan anggota tim yang terdiri dari Zusneli Zubir, Erricsyah dan Firdaus Marbun untuk mengkaji lebih dalam mengenai proses pembentukan Kabupaten PALI. Apa yang melatarbelakangi perjuangan, usaha-usaha serta perkembangan yang sudah terjadi sejak berdirinya Kabupaten PAli menjadi pertanyaan yang harus dijawab dalam penelitian ini.

Dengan adanya kajian ini diharapkan ada dokumentasi sejarah yang valid mengenai proses pembentukan Kabupaten PALI. Selain itu bisa menjadi referensi dalam hal perjuangan dalam meningkatkan kesejahteraan suatu wilayah khususnya melalui pemekaran wilayah.

Orang Rejang di Taba Penanjung

0
Ajisman

Suku bangsa Rejang menurut Abdullah Sidik (1980, 21) sudah ada di Taba Penanjung sejak tahun 1961. Taba Penanjung sendiri merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu. Suku bangsa Rejang menempati beberapa desa seperti Taba Penanjung, Karang Tinggi, dan Desa Pematang Tiga. Umumnya mereka berbahasa Melayu Bengkulu dan Bahasa Indonesia.

Walau diduga Suku Rejang berasal dari Lebong, namun telah diakui sebagai penduduk asli karena memang merupakan suku paling dominan di Taba Penanjung. Orang Rejang di Taba Penanjung membentuk tradisi sesuai budaya yang diembannya dan berinteraksi dengan masyarakat lain.

Ajisman berencana mengkaji bagaimana hubungan sosial yang terbangun antara orang Rejang di Taba Penanjung dengan suku bangsa lainnya seperti Jawa, Sunda, Batak, Serawai dan Minangkabau. Satu hal yang menarik perhatian Ajisman dan tim mengenai hubungan tersebut adalah bahwa sejak Suku Rejang ada dan berinteraksi dengan pendatang tidak pernah ada konflik antar suku yang terjadi.

Bagaimana masyarakat yang multi etnis bisa meramu hubungan baik tersebut menjadi suatu pertanyaan penelitian yang layak untuk dikaji. Namun demikian, fokus kajian dalam hal ini adalah mengenai budaya Suku Rejang. Bagaimana Suku Rejang membangun hubungan dengan orang luar atau pendatang dan sejauh mana keberadaan Suku Rejang diakui Taba Penanjung.

Tim peneliti yang terdiri dari Ajisman, Refisrul, Hasanadi dan Silvia Devi mengambil batasan temporal pada 1961-2015. Penentuan batasan temporal ini berkaitan dengan migrasi yang terjadi pada 1961 ke daerah Bengkulu Tengah sementara proses itu masih berlangsung hingga sekarang.

Kajian ini diharapkan dapat memberi sumbangan bagi salah satu aspek sosial tentang keberadaan Suku Rejang di Bengkulu Tengah. Ini juga diharapkan memberi manfaat bagi pengambil kebijakan di Bengkulu Tengah dalam memberdayakan kehidupan sosial kemasyarakatannya.

Surat-surat Dayang Kuala

0
Hasanadi/Foto.Reza

Surat-surat Dayang Kuala (SSDK) merupakan naskah kuno koleksi museum Negeri Bengkulu. Naskah ini ditulis dengan bahasa daerah milik sukubangsa Serawai dengan aksara Ka-Ga-Nga di atas bilah bambu atau dalam istilah setempat disebut gelumpai. Naskah ini juga memuat pola hubungan antara mertua perempuan (Dayang Kuala) dengan menantu laki-lakinya. Seorang mertua menyiratkan harapan kepada menantu laki-lakinya karena pengalaman hidup yang dia alami sepanjang membesarkan putrinya.

Menurut Hasanadi, peneliti BPNB Sumatera Barat menyatakan bahwa naskah SSDK memiliki informasi penting terkait kearifan lokal (local wisdom) dalam konteks sistem kekerabatan masyarakat sukubangsa Serawai di Bengkulu Selatan. Dia juga menambahkan bahwa nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalam naskah SSDK penting untuk digali serta dijelaskan. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat memahami serta menjadikannya sebagai perbandingan kehidupan kebudayaan di masa sekarang.

Sementara itu ada satu masalah yang dihadapi naskah beraksara ka-ga-nga dalam periode terakhir ini. Kuat dugaan bahwa aksara ka-ga-nga akan semakin hilang ketika masyarakat yang mampu membaca dan memahami semakin berkurang karena usia. Hal itu akan  menghambat keberlangsungan transformasi serta transmisi ilmu pengetahuan tentang naskah ka-ga-nga kepada masyarakat. jadi dengan adanya kajian ini akan menyediakan teks yang accessible, yaitu teks yang dapat dibaca serta diakses secara menyeluruh oleh masyarakat luas.

Di samping itu, masyarakat dan generasi muda Bengkulu perlu menemukenali nilai-nilai kearifan lokal (local Wisdom) masyarakatnya sebagaimana terdapat dalam teks naskah SSDK.

Tim yang dipimpin Hasanadi dan beranggotakan Ajisman dan Mutiara Al Husna melalui Kajian ini mencoba membuktikan kandungan pengetahuan dalam khasanah budaya lokal, terutama terkait pola hubungan mertua-menantu dalam sistem kekerabatan masyarakat Bengkulu Selatan. Bahwa sesungguhnya pengetahuan berbasis budaya lokal tersebut sangat mungkin masih relevan dengan kebutuhan masyarakat pada zaman sekarang.

Kajian ini akan dilangsungkan pada semester II tahun 2017 dengan tujuan mendeskripsikan bentuk dan isi teks naskah SSDK dan menjelaskan nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) masyarakat Bengkulu Selatan dalam naskah SSDK.

BPNB Sumatera Barat Mengkaji Tradisi Pengobatan dalam Naskah

0
Zusneli Zubir/Foto. Reza

Naskah kuno memang menjadi sumber pengetahuan yang tidak kalah penting. Itu merupakan perasan pengetahuan dan pengalaman praktek pada masa lampau ketika manusia berjuang untuk hidup dalam berbagai keterbatasan. Naskah kuno memuat berbagai aspek kehidupan manusia seperti tentang tata aturan hidup pada masa lalu. Mulai dari cara-cara bermasyarakat, kebudayaan, politik dan kehidupan sosial lainnya.

Salah satu yang diyakini terdapat dalam naskah kuno adalah tentang aspek-aspek kesehatan. Mulai dari jenis-jenis penyakit, cara pengobatan hingga ramuan obat-obatnya. Sebagaimana diketahui bahwa pengobatan tradisional sendiri diduga telah berkembang di nusantara sejak masa berburu dalam kurun prasejarah. Ketika manusia masih mengandalkan lingkungan alam untuk memenuhi kebutuhannya, manusia sudah mengenal pemanfaatan obat-obatan tradisional yang juga berasal dari alam untuk mengobati penyakit yang mereka derita.

Secara sederhana masyarakat pada masa lalu percaya bahwa penyakit yang muncul di tengah mereka merupakan akibat kutukan, melanggar aturan atau karena kerasukan roh jahat. Dalam proses penyembuhan, pemimpin kelompok bertugas untuk mengusir roh jahat yang menjadi penyebab penyakit tersebut. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ketika dia melakukan pengobatan, dia juga akan meramu dan memberikan obat-obatan kepada si sakit. Ramuan-ramuan ini berasal dari alam sekitar yang telah diuji secara praktek pada penyakit-penyakit sebelumnya.

Berdasarkan latar belakang tersebut Zusneli Zubir bersama tim yang terdiri dari Ernatip dan Mutiara Al Husna, peneliti BPNB Sumatera Barat berniat untuk melakukan kajian tentang naskah khusus mengenai pengobatan tradisional. Dia menyatakan bahwa di Sumatera Barat terdapat banyak naskah kuno dan naskah kuno yang ada tersebut tidak hanya berbicara mengenai ramuan obat dan cara pengobatan tradisional, tetapi juga tentang sakit dalam kosmologi masyarakat Minangkabau. Walau demikian, keterangan terhadap pengobatan tradisional tidak selalu utuh ditemukan dalam satu naskah. Kebanyakan informasi tersebut tergabung dengan informasi lain seperti tasawuf, fikih dan lainnya.

Zusnelli juga menyatakan bahwa kajian tentang naskah yang memfokuskan pada pengobatan tradsiional belum ditemukan sehingga penting untuk melakukan kajian. Kajian ini sendiri akan dilakukan di Kabupaten Lima Puluh Kota. Lima Puluh Kota diketahui merupakan salah satu sumber kekayaan intelektual tentang obat-obatan tradisional. Penelitian ini sendiri akan dilakukan pada Semester II tahun 2017. Diharapkan kajian ini akan menghasilkan satu referensi yang bernas mengenai pengobatan tradisional yang belum tergali lewat naskah kuno.

Mengkaji Tradisi Pertanian Masyarakat Basemah Lewat Naskah Kuno

0
Rois L. Arios

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat tradisional tidak terlepas dari interaksi dengan sesama, alam dan tuhannya. Interaksi tersebut melahirkan berbagai banyak tata aturan, norma dan tradisi sebagai tuntunan panduan dalam menciptakan hubungan yang konsisten dan saling mendukung. Aturan-aturan, norma dan tradisi tersebut umumnya diciptakan dari perasan pengalaman sehari-hari.

Tata aturan, norma dan tradisi tersebut kemudian diwariskan turun temurun secara lisan dan tindakan. Khusus bagi masyarakat yang telah mengenal tulisan atau memiliki tulisan tersendiri, beberapa aturan tersebut dituliskan pada berbagai media dengan alat tulis yang beragam. Tulisan dalam berbagai media tersebut dikenal dengan istilah naskah/manuskrip atau prasasti.

Beberapa media tulis yang umum dijumpai adalah kulit kayu, daun lontar, rotan, bambu, tanduk kerbau dan kulit hewan. Tulisan yang menggunakan media tersebut disebut sebagai naskah (script/manuscript). Sedangkan tulisan di atas batu dan logam merupakan prasasti (inscription).

Rois L. Arios, peneliti di BPNB Sumatera Barat akan mengkaji tentang naskah kuno. Dia bersama timnya yang beranggotakan Refisrul dan Rahma Dona akan mengkaji tentang teks yang berkaitan dengan tradisi pertanian Basemah di Kabupaten Pagaralam. Alasan pemilihan Pagaralam karena menurutnya salah satu daerah sebaran surat ulu yang menyimpan banyak manuskrip adalah Kota Pagaralam Provinsi Sumatera Selatan.

“Di Kota Pagaralam ada beberapa manuskrip yang masih tersimpan antara lain berisi tentang sosial politik kemasyarakatan, tradisi pertanian, praktek kesehatan dan pengobatan, ilmu falak dan jaye talu atau kesuksesan dan kegagalan” jelas Rois

Selain itu, Rois juga menyatakan bahwa kajian naskah kuno ini akan fokus tentang manuskrip yang berkaitan dengan tradisi pertanian. Mulai dari pola tanam padi, mengusir hama dll. Hal ini penting mengingat bahwa sistem pertanian sekarang di Kota Pagaralam sudah jauh berbeda dengan masa lalu. Umumnya pertanian mereka sudah menggunakan peralatan modern yang lebih mengandalkan mesin baik dalam mengolah tanah dan mengusir hama. Hal ini tentu akan berakibat juga pada perubahan kondisi sosial budaya Basemah di Kota Pagaralam.

Lebih lanjut Rois ingin mengungkap keterkaitan antara perubahan sosial budaya Basemah di Kota Pagaralam dengan pola pertanian yang mereka kembangkan sekarang. Sehingga beberapa pertanyaan penelitian yang diajukan Rois adalah selain mengungkap isi naskah tradisi pertanian, nilai-nilai yang terkandung di dalam naskah juga akan mengungkap bagaimana isi naskah tersebut dijadikan sebagai referensi dalam mengembangkan pertanian sekarang.

Seringkali naskah kuno dianggap tidak penting di era modern tanpa mencoba menggali lebih dalam nilai-nilai yang mungkin saja relevan dengan kondisi sekarang. Dengan adanya kajian ini diharapkan dapat memberi manfaat terkait pengungkapan kearifan lokal Basemah dan juga dapat menyumbang pemikiran dalam perumusan kebijakan bagi pemerintah daerah dalam hal pengembangan pertanian.

Kajian ini sendiri akan berlangsung selama semester II tahun 2017 dengan menggunakan metode pengumpulan data berupa studi pustaka, wawancara mendalam dan observasi. Penelitian akan dilaksanakan di Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan.

BPNB Sumatera Barat Adakan Seminar Proposal Kajian

0
Seminar proposal/Foto. Reza

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat mengadakan seminar proposal kajian sejarah dan budaya. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 12 Juli 2017 di Ruang Sidang BPNB Sumatera Barat. Seluruh fungsional peneliti terlibat baik sebagai ketua maupun anggota mempresentasikan 11 proposal kajian. Ke 11 proposal kajian tersebut terbagi ke dalam kajian naskah kuno, kajian sejarah dan budaya serta kearifan tradisional.

Seminar proposal/Foto. Reza

Seminar proposal kajian ini dibuka pada pukul 08.30 wib, secara resmi dibuka dan ditutup oleh kepala BPNB Sumatera Barat Suarman.  Turut hadir sebagai narasumber tiga orang akademisi yang kompeten di bidangnya masing-masing. Ke tiga orang tersebut terdiri dari Dr. Pramono, M.Si, Dr. M. Nur, M.S, serta Dr. Zainal Arifin, M.Hum. Panitia juga mengundang peserta dari berbagai kampus yang berhubungan dengan tema-tema kajian untuk aktif memberikan saran dan masukan untuk semakin berkualitasnya proposal penelitian tersebut.

Seminar proposal/Foto. Reza

Kepala BPNB Sumatera Barat Suarman pada saat membuka acara menyampaikan bahwa kajian harus menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pelestarian budaya. Dalam hal itu BPNB Sumatera Barat khususnya melalui fungsional peneliti harus mampu menghasilkan penelitian yang berkualitas dan berkontribusi dalam memberi rekomendasi solusi pelestarian budaya.

“sesungguhnya pelestarian budaya harus diawali kajian ilmiah karena merupakan dasar kebijakan strategis dalam pelestarian. BPNB Sumatera Barat dalam kajiannya harus memberikan kontribusi pada pembangunan dengan memberikan rekomendasi atas hasil penelitian mereka” jelas Suarman.

Suarman menambahkan bahwa hasil penelitian ke depan tidak lagi ditumpuk dalam perpustakaan tapi akan disebarluaskan ke khalayak masyarakat untuk bisa dibaca dan dipahami.

“Untuk itu setiap hasil-hasil penelitian nantinya harus informatif dan bernas. Kita juga selalu berupaya untuk meningkatkan mutu penelitian” harapnya.

Seminar proposal/Foto. Reza

Seminar berlangsung dalam tiga sesi. Satu sesi menyajikan tiga proposal. Selama seminar berlangsung terdapat banyak masukan dari peserta khususnya dari narasumber. Itu diakui Suarman dalam pernyataannya ketika menutup acara yang antara lain menyampaikan bahwa pencerahan luar biasa bahwa penelitian sesunggunya tidak rumit tapi sederhana yakni untuk mencari ‘apa’ dan ‘mengapa’. Semoga dengan adanya sumbang saran penelitian yang akan dilakukan juga lebih berkualitas dan bermanfaat.

‘Rumah Gadang’ dan ‘Rendang’ Menjadi ‘Magnet’ Pameran BPNB Sumbar

0
Pengunjung sedang asyik membaca buku Mahakarya Rumah Gadang, Foto. Budi

Padang – Buku ‘Mahakarya Rumah Gadang’ dan buku ‘Rendang’ menjadi ‘magnet’ yang cukup menarik perhatian pengunjung dalam Pameran Sejarah dan Budaya Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat di Nagari Sumpur. Banyak orang yang mencari sekaligus ingin memiliki buku tersebut baik dari tingkat mahasiswa hingga orang tua dan tokoh masyarakat. Mereka beralasan bahwa buku tersebut sangat penting sebagai sumber ilmu yang menggambarkan kekayaan intelektual masyarakat Minangkabau.

Dihubungi terpisah, ketua panitia pameran BPNB Sumbar Agustinawarni menyatakan bahwa buku yang berjudul rumah gadang dan rendang sangat banyak dicari pengunjung.

‘kebanyakan pengunjung mencari buku rumah gadang dan rendang, dari yang tua hingga mahasiswa, kalau bisa kantor kita mencetak ulang buku tersebut’ demikian harapnyanya.

Pengunjung pameran, Foto. Dok. Tim

Pameran Sejarah dan Budaya ini dilaksanakan sebagai bentuk partisipasi BPNB Sumatera Barat dalam acara Festival Danau Singkarak 2017. Festival ini digelar oleh pemerintah Kabupaten Tanah Datar dengan tema ‘Pesona Sumpur’ dan ditempatkan di Nagari Sumpur, Kecamatan Batipuh Selatan. Nagari Sumpur juga dikenal dengan nagari rumah gadang. Hal ini karena hingga saat ini masih banyak rumah gadang yang masih bertahan dan terpelihara. Festival dilaksanakan pada 1–2 Juli 2017 dengan berbagai rangkaian acara seperti pagelaran seni budaya, pacu biduak, dekorasi biduak, lomba manjalo, pawai perahu, silat dalam air, lomba kuliner serta loma fotografi.

Anggota DPR Betty Shadiq Pasadigoe, sedang mengisi buku tamu pameran, Foto. Budi

Acara yang diadakan di tepi danau singkarak ini dibuka secara langsung oleh Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi. Turut hadir dalam acara tersebut anggota DPR RI Betty Shadiq Pasadigoe, anggota DPRD dan banyak kalangan dari mahasiswa, akademisi, pemerintah daerah, serta tokoh masyarakat.

Pameran merupakan salah satu media yang dimanfaatkan BPNB Sumatera Barat untuk mensosialisasikan hasil-hasil kajian, inventarisasi dan perekaman mengenai aspek-aspek sejarah dan budaya. Sesuai dengan tugas dan fungsinya, BPNB Sumatera Barat telah menerbitkan banyak buku dan memproduksi film-film dokumenter tentang aspek-aspek sejarah dan budaya tersebut. Berbagai fokus kajiannya antara lain kuliner, arsitektur, kain dan pakaian tradisional, permainan tradisional, kesenian, tradisi dan sebagainya.

Pengunjung pameran, Foto. Dok. Tim

Buku berjudul ‘Mahakarya Rumah Gadang’ yang ditulis oleh Hasanadi, SS dkk, terbit pada tahun 2012 dan ‘Rendang’ yang ditulis oleh Hariadi, dkk, juga terbit tahun 2012 merupakan sebagian kecil dari hasil kajian BPNB Sumatera Barat. Salah satu yang mungkin menarik dari Buku ‘Mahakarya Rumah Gadang’ tersebut adalah penelitiannya diadakan di Nagari Sumpur, sehingga berkaitan erat dengan tema festival yaitu Pesona Sumpur.

Wisata Halal; Potensi dan Tantangan*

0
Efrianto

Penulis : Efrianto, peneliti pada BPNB Sumatera Barat

Sumatera Barat mengukuhkan diri sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia 2016 di ajang World Halal Tourism Award 2016 setelah menjadi pemenang di kategori World’s Best Halal Culinary Destination dan World’s Best Halal Destination. Penetapan ini sesungguhnya mendatangkan energi tambahan bagi pemerintah, masyarakat dan seluruh stekholder untuk membangun kesadaran bahwa pariwisata di Sumatera Barat sudah saatnya untuk bangkit dan sejajar dengan daerah lain di Indonesia.

Berbicara dalam konteks potensi, hampir seluruh orang mengakui bahwa Sumatera Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki nilai jual lebih. Ditinjau dari aspek keindahan alam, banyak daerah-daerah yang layak untuk dijual seperti keindahan danau kembar di Kabupaten Solok yang sepanjang jalan dari Kota Padang menunjuk ke lokasi wisatawan akan  disungguhkan jalan berliku dan keindahan perkebunan teh dengan suhu udara yang sejuk. Beranjak ke daerah Tanah Datar, ada sebuah nagari yan telah diakui juga oleh dunia sebagai salah satu nagari terindah di dunia. Sebagai orang yang hidup dan besar di Sumatera Barat, banyak tempat daerah yang bisa diceritakan dan digambarkan tentang keindahan dan keelokan alamnya yang bisa dijadikan komoditi wisata.

Di lihat dari aspek sejarah dan budaya Sumatera Barat juga dianugrahkan oleh sang pencipta sebagai kawasan yang di pernah diami oleh orang-orang yang kreaktif dan inovatif di zamannya. Hasil karya merekalah yang sampai hari ini masih bisa dinikmati sebagai sebuah kekayaan budaya yang dibanggakan. Keindahan rumah gadang yang penuh dengan ukiran serta antraksi kesenian randai yang kaya dengan keindahan gerak merupakan bagian kecil dari kekayaan budaya yang bisa dikemas dan di jual kepada wisatawan.

Sejujurnya semua orang mengakui bahwa Sumatera Barat, bukanlah daerah yang kaya akan sumber daya alam yang bisa diekspoltasi untuk meningkatan taraf kehidupan masyarakatnya. Selama ini salah satu sumber utama yang menopang kehidupan ekonomi masyarakatnya adalah hubungan baik antara orang di kampung dengan masyarakat di rantau. Perkembangan selanjutnya memperlihatkan bahwa rantau tidak lagi “sehat” untuk dijadikan sumber penopang kehidupan masyarakat di Sumatera Barat.

Dalam konteks itulah sudah saatnya semua elemen masyarakat yang ada di Sumatera Barat mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki untuk dijadikan sumber pendapatan yang akan meningkatkan taraf hidupnya. Keindahan alam, kekayaan sejarah dan budaya serta berbagai pengakuian dari dunia luar yang menyatakan bawah Sumatera Barat menarik untuk dikunjungi merupakan titik awal yang bisa dikembangkan untuk memajukan dunia Pariwisata di Sumatera Barat.

Problem mendasar yang dihadapi dalam pengembangan dunia wisata Sumatera Barat adalah  belum diciptakan pola yang baik tentang dunia pariwisata di Sumatera Barat. Hal ini terlihat belum munculnya ikon-ikon pariwisata dari masing-masing kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Secara budaya kabupaten dan kota di Sumatera Barat (kecuali mentawai) memiliki kekayaan budaya yang hampir sama. Namun pemerintah Propinsi harus mendorong masing-masing kota dan kabupaten membuat ikon-ikon tersendiri yang nanti bisa mereka jual dan promosikan kepada para wisatawan baik lokal dan internasional.

Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatkan kualitas layanan dan akomodasi pariwisata. Pelayanan yang baik dan ramah akan membuat wisatawan menjadi senang dan bukan tidak mungkin mereka akan datang berkunjung lagi. Sudah saatnya cerita lama tentang buruknya kwalitas layanan dan fasilitas penunjang ketika berada di destinasi wisata harus tidak lagi menghiasi pemberitaan, kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor yang menghambat kemajuan dunia pariwisata di Sumatera Barat.

Stakeholder dan pihak-pihak terkait harus membangun sebuah konsep yang jelas untuk menghubungkan pola prilaku wisatawan dengan adat dan budaya Sumatera Barat. Di sisi adat dan budaya sulit bagi orang di Sumatera Barat membayangkan daerah mereka berkembang seperti Pulau Bali, yang berkembang menjadi daerah yang “bebas” bagi wisatawan untuk menjalankan tradisi dan kebiasan mereka di negara asal. Dalam pengamatan penulis konsep yang menghubungkan antara adat dan budaya Sumatera Barat dengan “prilaku” wisatawan belum teraktualisasikan dengan baik. Dalam konteks itulah pentingnya ikon pariwisata masing-masing kabupaten dan kota diciptakan setelah itu baru dilanjutkan dengan memberikan nuansa adat dan budaya pada masing-masing ikon tersebut diperkuat dan diperjelas.

Kebijakan pemerintah propinsi mengarahkan dunia pariwisata di Sumatera Barat ditujukan ke dunia Islam merupakan sebuah kebijakan yang cukup tepat, sebab adat dan budaya yang terdapat di Sumatera Barat secara teori lebih bisa menerima wisatawan yang berasal dari negara Islam. Di samping itu wisatawan muslim tentu saja lebih bisa menerima dan mengikuti aturan yang sesuai dengan agama mereka. Semua pelaku wisata mengakui bahwa sifat dasar dari wisatawan adalah mencari hal yang baru yang berbeda dari yang mereka rasakan, namun tidak semua wisatawan bisa melupakan dan meninggalkan  tradisi dan kebiasaan mereka di negara asal ketika mereka berada di daerah. Di sinilah titik persoalan yang mesti dicarikan solusi untuk mengatasinya sehingga antara adat dan budaya serta prilaku wisatawan bisa saling menerima dan tidak bertolak belakang. Akhirnya semua masyarakat berharap potensi alam, sejarah dan budaya yang dimiliki Sumatera Barat mampu mendatangkan manfaat yang lebih optimal bagi kehidupan masyarakat di kawasan ini.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, rubrik Bendang pada 18 Juni 2017

Patomuan; Perkampungan Tua di Pasaman*

0
Hariadi

Penulis : Hariadi, peneliti pada BPNB Sumatera Barat

Basah, awas camera!  terdengar teriakan disela deru air hulu sungai Kampar yang sangat bening. Perahu yang kami tumpangi membelah derasnya air di sela-sela batu batu besar yang terkadang membuat air mengamuk melompat, masuk perahu yang kami tumpangi. Pakaian dan wajah kami di sembur air sungai  bening yang menyejukkan.  Perjalanan menaiki perahu kami mulai dari Muaro Sungai Lolo sebuah nagari di Kabupaten Pasaman, yang merupakan daerah administrasi kecamatan Mapattunggul Selatan. Informasi yang kami terima dari Bapak Yozawardi Sekretaris Dinas Kehutanan Sumatera Barat,  mobil baru bisa sampai ke Muaro Sungai Lolo sekitar lima tahun belakangan.

Nagari Patomuan, Foto. Hariadi

Perjalanan kami kali ini adalah  perjalanan survey penelitian sejarah dan budaya ke perkampungan tua di tengah hutan lindung Pasaman. Perjalanan hanya bisa di tempuh dengan jalan kaki atau menaiki perahu.  Tim memilih untuk menyewa perahu, karena  di sini tidak tersedia perahu yang bisa ditumpangi setiap waktu. Anggota tim  terdiri dari Hariadi, Seno, Yulisman, dan Sivia Devi dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat dan Idil Fitrianto dari Dinas kehutanan  Sumatera Barat.

Perjalanan dimulai dengan mengiliri Sungai Lolo, air sungai ini tampak kuning pertanda banyaknya aktivitas masyarakat di dihulunya. Beberapa menit berlayar perahu yang kami tumpangi berbelok arah kekanan, kami memasuki aliran hulu sungai Kampar yang deras, bening dan berbatu. Nahkoda perahu nampak bekerja keras mengarahkan perahu menuju hulu, nahkoda bagian belakang memainkan gas mesin tempel berkekuatan kecil sedangkan nahkoda bagian depan dengan sigap memainkan galah untuk memastikan kapal tidak menabrak batu-batu besar yang bertebaran di sungai.

Sepanjang perjalanan rasa takjub terhadap ciptaan yang maha kuasa menghiasi jiwa.  Pemandangan alam yang amat menakjubkan. diawal pelayaran kami saksikan pondok-pondok kebun masyarakat dan dapur untuk penyulingan nilam. Daun nilam yang akan disuling dijemur di bebatuan dipinggir sungai. Semakin jauh menyusuri hulu sungai suara alam semakin mendominasi, desiran air,kicauan burung dan bunyi binatang hutan lainnya saling bersahutan.

Perjalanan kami cukup beruntung, di pohon pohon rindang di tepi sungai kami menyalksikan berbagai jenis burung warna warni, seperti murai batu, burung Elang dan jenis lainnya yang tidak kami tahu namanya. Di atas bebatuan, beberapa kali kami saksikan biawak ukuran sedang sedang berjemur menikmati cahaya sang surya. Yang tidak kalah menyejukkannya adalah menyaksikan belasan air terjun didinding tebing sungai, ada yang tunggal bahkan ada juga yang bertingkat. Pemandangan yang juga tidak kalah menariknya adalah berbagai jenis dan warna warni kupu-kupu dapat kita jumpai terbang berkelompok di sepanjang aliran sungai.

Beberapa kali kami harus melewati sungai yang berbelok tajam dengan pusaran air cukup deras. Saat seperti inilah kami melihat kesigapan dua orang nahkoda dalam mengendalikan perahu agar tidak terbalik dihantam derasnya air, beberapa kali nahkoda bagian depan   harus bolak-balik kebagian belakang untuk menstabilkan lajunya perahu.

Satu setengah jam kami berlayar ke hulu sungai Kampar, dari kejauhan terlihat jembatan gantung yang menghubungkan dua pemukiman yang dipisahkan oleh sungai, itu lah tempat yang kami tuju, Jorong Patomuan, sebuah perkampungan tua di tengah hutan Lindung Pasaman.

Melihat ada perahu yang datang anak anak seusia TK (Taman Kanak-Kanak) dan SD (Sekolah Dasar), berdatangan ke pelabuhan, sebagian mereka berusaha membantu mengangkat barang yang bisa mereka angkat, nampak sekali rasa kebersamaan dan saling tolong menolong walaupun mereka masih kecil-kecil. Sesuatu yang mereka dapatkan dari kehidupan bersahaja di perkampungan yang belum banyak terpengaruh arus informasi dan modernisasi.

Turun dari sampan, mendaki puluhan anak tangga, sampailah kami di pemukiman.  Pemukiman cenderung menanjak, berdasarkan informasi yang diperoleh perkampungan ini dihuni sekitar 150 kepala keluarga.  Di tengah pemukiman kita disuguhkan pemandangan yang menakjubkan, sekaligus menyedihkan. Belasan rumah adat Minangkabau berukiran masih berdiri memperagakan kerapuhan dan kereotan. Rumah-rumah tersebut diperkirakan berusia ratusan tahun sedang menunggu saat akan roboh bila tidak segera diperbaiki. Dt Bagindo Bosa, pemuka adat di Patomuan mengatakan,  rumah gadang sudah banyak yang runtuh dimakan usia dan digantikan dengan rumah semi permanen.

Rumah gadang yang  ada dimiliki oleh lima suku  yaitu suku Pitopang Dt Bagindo Bosa, Suku Pitopang Dt Bagindo Jelo, Suku Pitopang Dt Panglimo Rajo, Suku Caniago Dt Bagindo Sutan dan Suku Piliang. Masing masing suku yang ada memfungsikan rumah gadang untuk pertemuan dan musyawarah suku, pengangkatan pengulu suku, dan kegiatan adat lainnya.

Berdasarkan informasi dari pemuka adat di patomuan  nenek moyang masyarakat Patomuan berasal dari Pagaruyung, melalui dan kapan mereka sampai di Patomuan ini belum didapatkan waktu pastinya. Menurut pemuka adat Patomuan, berdasarkan tutua nan bajawek bahwa daerah Patomun ini lebih dulu didiami dibandingkan daerah Lubuk Sikaping, lebih lanjut dijelaskan bahwa penduduk di daerah Jambak Lubuk Sikaping dulunya berasal dari Patomuan.

Sebagai nagari yang sudah lama didiami masyarakat Patomuan mempunyai adat tradisi salingka nagari yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya seperti tardisi mandian Mamak  sebelum memasuki puasa. Dalam pelaksanaan tradisi ini, tapian pemandian perempuan  terpisah dari laki-laki.  Tradisi ini dilaksanakan sebelum matahari tenggelam di akhir bulan sya’ban.  Mamak atau penghulu suku datang ke pemandian dengan pakaian kebesarannya sebagai penghulu, sesampai di tepian pakaian diganti dan dilakanakan tradisi mamandikan mamak oleh kemenakan dengan air limau. Prosesi ini berlangsung sampai mata hari terbenam. Mamak yang dimandikan kembali mengenakan pakaian kebesarannya, berwuduk dan langsung menuju masjid untuk melaksanakan shalat magrib, isya tarawih.

Masyarakat Patomuan juga melaksanakan tarawih adat.  Delapan belas hari semenjak awal ramadhan setiap malam secara bergantian penghulu dan petugas syarak  menjadi penanggung jawab pelaksanaan tarwih, dan setelah tarwih para jamaah dibawa ke rumah untuk dihidangkan berbagai makanan. Apa yang dipaparkan di atas baru sekelumit tetang eksotis alam dan kekayaan budaya yang dimiliki patomuan, sebuah nagari yang oleh Bapak Yozawardi, dipopulerkan  sebagai nagari” tambah ongkos seribu, sampai kelangit. Hal itu karena begitu sulit dan beratnya medan yang dilalui beberapa tahun yang lalu.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, rubrik Bendang pada April 2017

Tradisi Potang Balimau di Pangkalan*

0
Silvia Devi

Penulis : Silvia Devi, peneliti di BPNB Sumatera Barat

Banyak cara yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, salah satu yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau yakni balimau. Masyarakat Pangkalan Limopuluah Kota menyebutnya dengan potang balimau.

Kegiatan ini sudah merupakan tradisi turun temurun dalam “menyucikan diri” yang dilakukan oleh anak nagari disepanjang aliran sungai Batang Maek Kecamatan Pangkalan Koto Baru di Kabupaten Limapuluh Kota. Tradisi menyambut bulan suci Ramadhan ini dilaksanakan sesuadah shalat Zhuhur. Selain untuk mensucikan diri, sekaligus sebagai tempat bersilaturahmi antar anak nagari di kampung halaman maupun dari perantauan. Setelah selesai, pada sore harinya para pengunjung pulang ke rumah masing-masing untuk mandi balimau dengan ramuan khusus yang dipersiapkan oleh kaum perempuan di Pangkalan.

Tradisi ini walau masih banyak yang pro dan kontra dalam pelaksanaanya, akan tetapi sampai sekarang tetap dilestarikan oleh anak nagari. Kegiatan ini dianggap sebagai sebuah ajang bersilaturahmi bagi masyarakat Pangkalan Koto Baru, yang selain itu juga merupakan sebuah momen dalam upaya mengenang sejarah kejayaan para saudagar dari Pangkalan Koto Baru. saudagar-saudagar pada waktu itu (konon sekitar tahun 1800an)  membeli dua mimbar masjid, yang satu dibawa ke kampung untuk membangun masjid di Muaro, dan yang satu lagi diarak beramai-ramai ke Mesjid Raya Pasar Bawah di Pekanbaru yang merupakan lokasi pemukiman saudagar dari Pangkalan. Cerita tersebut sampai sekarang masih diceritakan kepada anak cucu. Selain itu untuk mengenang dari sejarah tersebut maka dilestarikanlah tradisi potang balimau yang diselenggarakan menyambut bulan Ramadhan tersebut.

Mesjid Raya Pangkaan Koto Baru terletak di tepi jalan raya Sumatera Barat   Riau yang merupakan mesjid kebanggan bagi masyarakat Pangkalan Koto Baru karena di areal mesjid inilah pusat kegitan prosesi potang balimau diselenggarakan di tiap tahunnya.

Potang balimau merupakan tradisi turun temurun untuk mensucikan diri bagi anak nagari di sepanjang sepanjang aliran sungai Batang Maek Kecamatan Pangkalan Koto Baru. Potong balimau terdiri dari dua kata yang diambil dari bahasa Minangkabau dengan dialek Pangkalan, yakni potang yang memiiki arti petang atau senja hari, dan balimau yakni sebuah kegiatan membersihkan diri dengan menggunakan perasan air jeruk nipis dicampur dengan bunga rampai yang beraroma khas.

Jadi, potang balimau adalah suatu kegiatan mensucikan diri dengan menyiramkan tubuh dengan  perasan air jeruk nipis bercampur bunga rampai beraroma khas yang pelaksanaannya dilakukan di sore hari. Tradisi menyambut bulan suci Ramdhan ini, dilaksanakan sesudah shalat Zuhur dan berakhir sore hari menjelang shalat Magrib tiba.

Tradisi potang balimau masih tetap saja ada kontroversi dalam pelaksanaannya, tetapi tetap saja diyakini masyarakat bahwa kegiatan ini memiliki makna. Salah satu maknanya adalah selain untuk mensucikan diri, sekaligus juga sebagai tempat silaturahmi. Silaturahmi diantara anak nagari di kampung halaman maupun dari perantauan sebelum pelaksanaan puasa Ramadhan dimulai.

Konon kabarnya, sekitar tahun 1800-an masyarakat yang tinggal di sekitar Pangakalan Koto Baru, sudah termasyur sebagai saudagar sukses. Bahkan ada yang berniaga sampai ke Sambas, propinsi Kalimantan Barat.

Tatkala berniaga ke Sambas, saudagar-saudagar dari Pangkalan Koto Baru, yakni seorang alim-ulama dan cerdik pandai dari Pangkalan, membeli dua buah mimbar mesjid. Penyebutan mimbar pada dialek masyarakat Pangkalan adalah mimbau. Satu mimbau dibawa ke kampung halaman, guna membangun mesjid di kawasan bernama Muaro. Sedangkan mumbau yang satu lagi, diarak ke Mesjid Raya Pasar Bawah Pekanbaru, tempat dimana saudagar asal Pangkalan banyak bermukim.

Ketika para saudagar membawa mimbau dari Sambas menuju Pangkalan, melewati Nagari Taratak Buluah. Masyarakat Pangkalan yang sibuk membangun mesjid, sedang bersiap-siap menyambut datangnya bulan puasa. Makanya, begitu mendengar ada dua buah mimbau yang dibawa, mereka langsung berduyun-duyun menantinya di pinggir Batang Maek.

Oleh karena itulah warga Pangkalan Koto Baru selalu melaksanakan kegiatan potang balimau sebagai cara mengenang sejarah panjang tersebut. Dalam memeriahkan acara potang balimau diselenggarakan juga pertandingan mimbau/sampan hias baik berbentuk mimbar, kubah mesjid atau rumah adat.

Untuk memeriahkan kegiatan potang balimau biasanya terdapat tim kesenian yang mengiringi perjalanan mimbau di aliran Batang Maek. Mereka duduk di dalam mimbau tersebut sambil memainkan alat keseniannya.Sebelum itu nampak dari tim kesenian tersebut berlatih bersama-sama dengan para samuji sambil bersenda gurau. Ini adalah bagian persiapan yang dilakukan oleh samuji dari jorong Koto Panjang.

 Rangkaian kegiatan

Kegiatan potang balimau dimeriahkan dengan pertandingan membuat mimbau antar jorong. Masing-masing jorong mempersiapkan mimbau yang akan dipertandingkan tersebut (sepuluh) 10 hari menjelang hari pelaksanaan. Mereka melakukannya dengan cara bergotong royong.

Dari pembuatan kerangka mimbau sampai memberi pakaian dilakukan secara bersama-sama. Biasanya, proses pembuatan kerangka dilakukan oleh kaum laki-laki. Sementara pada saat menghias dan memberi pakaian dilakukan secara bersama-sama baik laki-laki dan perempuan, dari yang muda sampai yang tua berbaur menjadi satu. Mereka bersama-sama membuat mimbau dari daerah mereka menjadi yang paling bagus. Mimbau atau sampan hias di jorong Koto Panjang dibuat menyerupai bentuk rumah adat. Kerangka mimbau berbahan dasar kayu dan bambu yang dibuat di darat kemudian diteruskan penyelesaiannya di atas sampan di tepi sungai.

Biaya untuk membuat mimbau lumayan besar berkisar 6 sampai 8 juta. Dana tersebut didapat dari donatur dan sponsor serta sumbangan masyarakat dari kampung juga perantauan. Biaya yang dikeluarkan tergantung dengan besar kecilnya biaya bahan yang dibuat untuk sebuah mimbau.

Tak berbeda dengan mimbau di jorong Koto Panjang. Bahan dasar untuk membuat mimbau di Lubuk Nago pun berbahan dasar kayu dan bambu, yang dibuat sedemikian rupa, agar terlihat bagus dan menarik. Mimbau di jorong Lubuak Nago dibuat sebanyak dua buah yakni satu menyerupai rumah adat, dan yang satu lagi menyerupai mimbar berukuran kecil.

Setelah kerangka mimbau siap dibuat di darat, maka untuk menyelesaikan hiasan mimbau dilaksanakan di atas sampan di tepi sungai. Para samuji bersama-sama membawa kerangka mimbau ke atas sampan di tepi sungai. Dengan sebagian pemuda lain yang menahan sampan agar kedudukan mimbau menjadi seimbang. Setelah itu barulah kaum perempuan dibantu kaum laki-laki yang lainnya untuk menyelesaikan mimbau mereka dengan memberikan pakaian dan hiasan-hiasan pelaminan. Tak lupa setiap masing-masing mimbau dilengkapi dengan seperangkat alat musik tradisional yakni musik talempong dan gondang boguang.

Setelah mimbau siap berpakaian maka para samuji bersama-sama menarik mimbau ini dari tepi sungai ke tengah aliran sungai yang dalam agar mimbau mudah diarak sampai lokasi utama yakni dekat masjid Raya Pangkalan Baru. Selama mimbau diarak di sungai, bunyi-bunyian alat musik ini terus mengiringi perjalanan mimbau dari jorong masing-masing melewati airan Batang Maek. Selama mimbau diarak itu pula banyak anak-anak yang mandi-mandi di aliran Batang Maek sambil bersenda gurau dan menolong samuji mearak mimbaunya.

Sesampainya mimbau dari jorong Koto Panjang, sudah banyak masyarakat yang menanti di lokasi utama kegiatan yakni dekat Mesjid Raya Pangkalan Koto Baru. Tampak dari kejauahan keramaian tersebut membentuk lautan manusia. Mereka sangat antusias melaksanakan acara potang balimau ini.

Kegiatan potang balimau yang sudah mentradisi ini memang selalu dinanti-nantikan oleh masyarakat Pangkalan Koto Baru khususnya baik dari kampung maupun yang dari perantauan. Bisa dikatakan acara ini adalah alek nagari masyarakat Pangkalan, sehingga mereka yang diperantauan berbondong-bondong pulang ke kampung untuk memeriahkan acara ini sekaligus mereka bersilaturahmi.

Yang hadir pada acara potang balimau ini adalah Pitopang ampek ninik, mamak nan limo suku, penghulu nan duobaleh, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda, masyarakat di Pangkalan maupun di perantauan, serta Bupati Limopuluh kota serta instansi terkait dan di setiap tahunnya dihadiri oleh beberapa mentri RI.

Prosesi balimau bakasai ditandai dengan penyiraman air balimau yang terdiri dari perasan air balimau yang terdiri dari perasan air jeruk nipis yang dicampur dengan bunga rampai kemudian bakasai yakni bedak beras yang dicampur dengan air perasan jeruk nipis. Bahan balimau bakasai ini kemudian dipasangkan kepada dua orang anak nagari sebagai perwakilan dari seluruh masyarakat Pangkalan yang melaksanakan  tradisi balimau. Ini menandakan tradisi potang balimau telah dibuka oleh salah satu mentri yang hadir yang pelaksanaanya dipandu oleh bundo kanduang dan diawali dengan membaca doa ambil air wudhu.

Sungai Mek pada saat acara potang balimau ini menjadi lautan manusia. Selain pertandingan mimbau hias ada juga pacu sampan yang diikuti oleh para pemuda dan juga orangtua. Mereka sangat bersemangat demi memeriahkan acara potang balimau yang diselenggarakan satu kali dalam setahun menyambut bulan suci Ramadhan.

Pada masa lalu pacu sampan dilaksanakan selain untuk memeriahkan acara, mereka yang menang juga mendapatkan hadiah. Hadiah yang diperoleh adalah minyak tanah sebanyak satu kaleng. Kemudian minyak tanah tersebut diwakafkan ke surau-surau. Ini mencerminkan dekatnya hubungan masyarakat Pangkalan dengan Allah sebagai sang Pencipta. Pada saat sekarang ini pacu sampan tetap dilaksanakan, tetapi yang menang tidak lagi diberi hadiah. Semua diikuti untuk menambah kemeriahan acara potang balimau ini.

Kegiatan potang balimau di Pangkalan Koto Baru ini diharapkan terus dapat ditingkatkan pelaksanaanya. Bahkan kalau mungkin pemerintah bisa memasukkannya ke dalam event nasional. Selain itu kegiatan ini banyak mengandung makna di dalamnya, karena selain untuk ajang bersilaturahmi, juga merupakan sebuah kegembiraan mempersiapkan diri dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Diketahui bahwa Allah sangat mencintai hamba-hambanya yang menyambut dengan riang datangnya bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh ampunan dan magfirah di dalamnya. Acara potang balimau biasanya diakhiri menjelang magrib. Para pengunjung pulang ke rumah masing-masing kemudian mandi balimau dan bakasai di rumah masing-masing sambil mempersiapkan diri untuk melaksanakan tarawih pertamanya di bulan Ramadhan.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, rubrik Bendang pada 11 Juni 2017

Pewarisan Keterampilan Tradisi*

0
Rismadona

Penulis : Rismadona, peneliti pada BPNB Sumatera Barat

Merajut kenangan masa lalu, ajaran orang tua pada tahun 60-80 an terhadap anak-anaknya, masih terngiang dalam telinga si penulis sendiri, bahwa muara akhir dalam hidup manusia adalah perkawinan. Untuk menuju pada arah perkawinan tersebut, maka si anak dibekali dari sejak dini, yaitu bagi seorang perempuan ia akan menjadi ibu bagi anak-anaknya dan istri bagi suaminya serta menantu bagi mertuanya.

Ajaran tersebut diwarisi oleh orang tua kepada anaknya secara turun temurun. Orang tua selalu memberikan nasehat kepada anaknya  “ indak kabalaki kau, apo nan bisa kau banggakan,  nan laki-laki batanyo lai pandai  memasak calonnyo dan dari pado habih hari dek maota, ota lapeh juo karajo salasai juo, menyulam bisa manambah balanjo harian”. Pertanyaan  dan saran tersebut mungkin masih berkembang pada era 90-an ke bawah, bahwa pasangan hidup ideal tersebut bisa memasak. Namun sesuai dengan perkembangan saat ini, memasak bukan lagi pilihan nomor satu dalam menentukan jodohnya, karena inti dari pertanyaan, sampai di ma sekolah e, apo karajo e.  Pewarisan keterampilan tradisi sebagai modal dasar untuk mata pencaharian yang diturunkan oleh orang tua dalam menopang hidup di masa depan boleh dinyatakan diambang kepunahan, karena tradisi tersebut baik penanaman nilai dalam keterampilan tradisi tidak terdengar lagi untuk ditanamkan kepada generasinya akibat perubahan zaman. Realita ini tak bisa dipungkuri, perkembangan zaman tidak bisa terhindarkan akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi dalam atau mencakup sistem sosial. Perubahan sosial itu sendiri sebagai variasi atau modifikasi  dalam setiap aspek perubahan sosial dan bentuk-bentuk sosial serta setiap modifikasi pola antar hubungan  yang mapan dan standar perilaku.

Beranjak dari ajaran orang tua terdahulu, yang merupakan tradisi turun temurun mulai stagnan pada generasi 2000-an, akibat perkembangan ilmu pengetahuan dengan peningkatan tingkat pendidikan pada sekolah formal. Tradisi memasak atau menyulam atau menenun  kepada anak tidak bisa tersalurkan sepenuhnya akibat pendidikan formal dengan waktu belajar dari 07.15 wib sampai 14.00 sore, dan 14.00-18.00 sore melakukan  lest privat mata pelajaran di luar sekolahnya sehungga si anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar pada orang tua dari pengalaman keterampilan yang dimiliki oleh orang tua tersebut.

Namun tanpa disadari oleh generasi yang berpendidikan tinggi, keterampilan orang tuanya sebagaian dari orang tua yang memliki keterampilan  tersebut mampu membiayai pendidikan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Berbanding terbalik dengan generasi berpendidikan tinggi yang mengandalkan kemampuan intelektual belum tentu mampu menyumbangkan atau membayar keringat orang tuanya dari pencapaian pendidikan tersebut karena tingkat persaingan kerja yang sangat tinggi dan kesempatan yang sangat minim sehingga begitu banyak pengangguran tingkat tinggi yang sedang terjadi saat ini.

Bisa kita saksikan dan kita amati seksama, orang tua kita belajar sebagai juru masak bukan pada pendidikan formal, tapi belajar dari orang tuanya dengan membantunya di dapur dan memperhatikan proses kerjanya, maka pada saat ini ia bisa mendirikan sebuah restoran masakan padang. Begitu juga orang tua memliki keterampilan menyulam, menjahit dan menenun yang diperoleh secara turun temurun tanpa pendidikan sekolah kejuruan, ia mampu menciptakan rasa seni keindahan sulaman, tenunan yang bernilai tinggi secara finansial, semua itu didapati melalui pewarisan yang dilakukan secara belajar dan aplikasi secara informal

Pada saat ini, menjawab pertanyaan siapa lagi pewaris keterampilan tradisi sebagai potensi dan kekayaan daerah ataukah dibiarkan hilang di telan zaman. Keterampilan tradisi akan mampu menciptakan lapangan kerja, tanpa harus melalui pendidikan formal yang tinggi dengan biaya yang besar. Semua itu terhalang oleh minat generasi terhadap keterampilan tradisi bukan lagi jargon atau  idola pada saat ini ditambah lagi waktu transformasi keterampilan tradisi tidak memberikan kesempatan bagi generasi untuk mengenal keterampilan leluhurnya yang masih dipegang oleh orang tua yang bersangkutan.

Bukan saatnya memanggakan egosentrisme tentang aktualitas dan intelektualitas secara akademik di tengah perkembangan zaman, karena kita butuh hidup, butuh uang, maka akhir dari pencapaian dari intelektualitas akademik adalah bermuara dengan pendapatan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Banyak orang yang tidak berpendidikan tinggi tapi ia mampu menjadi miliader dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya sehingga statusnya dalam masyarakat menjadi kelompok berkelas. Apalagi keterampilan tradisi tadi disokong oleh kemampuan pendidikan pada tingkat pengembangan, misalnya menjadi desainer tenunan berkelas, manejer pemasaran tenunan berkualitas. Keterampilan tradisi tersebut yang dimiliki dalam keluarga merupakan modal maha karya yang ternilai untuk ditranformasikan pada generasinya.

Lalu bagaimana dengan pemerintahan untuk menggalakkan kembali keterampilan tradisi tersebut menjadi jargon untuk generasi. Belajar tidak beranjak dari pengalaman. Pengalaman adalah guru yang maha besar dalam menentukan kehidupan kedepannya. Sementara potensi menggali pengalaman tersebut terhalang waktu dengan pendidikan formal tak mengenal batas waktu bagi anak-anak sehinga kesempatan membantu orang tua dalam mengolah keterampilan tradisi tidak ada lagi, sementara pendidikan akademik tidak begitu menjanjikan masa depan yang dapat menghasilkan pendapatan dalam peningkatan kualitas hidup.

Sunguh sangat beruntung anak-anak yang memiliki orang tuanya memiliki modal dasar berupa keterampilan tradisi dan lahan persawahan karena akan menjadi sumber matapencaharian yang bergengsi apabila dikelola dengan baik berupa pandai menjahit, pandai memasak, pandai menenun, pandai menyulam, memiliki lahan persawahan. Hal  itu modal dasar tersebut  untuk mereka bertahan hidup yang tak dimiliki oleh anak-anak lain sebagai lapangan kerja yang bisa menjanjikan sebagai wirausahawan-wirausahawati. Mereka tidak perlu membayar lest private, cukup memperhatikan dan membantu orang tuanya untuk pekerjaan tersebut. Hanya saja perlu perhatian pemerintah melalui kesempatan anak untuk kembali belajar pada orang tuanya untuk belajar pengalaman. Dengan demikian, si anak telah memiliki modal dasar untuk bertahan hidup, maka kesarjanaannya akan bisa menopang modal dasar keterampilan tersebut, jika ia memiliki lahan pertanian, maka ia menjadi sarjana pertanian, maka ia bukan saja sebagai petani biasa, tapi petani luar biasa, dengan aplikasi ilmu pengetahuan yang ia dapati diperguruan tinggi dapat ia kembangkan menjadi produksi pertanian yang berkualitas dan bernilai tinggi secara finansial, begitu juga seorang peternak, biasanya hidupnya sebagai pengembala sapi, dengan kesarjanaannya ia menjadi pengusaha sapi yang bisa diekspor ke luar negeri. Kemudian penenun yang biasanya jadi pekerjanya, maka si anak dengan kesarjanaannya ia mampu mejadi ahli pemasaran usaha ibu bapaknya yang telah ia tekuni selama ini.

Kita bisa melihat, tingkat pengangguran yang tinggi itu dimiliki oleh pemilik sertifikat atau piagam kesarjanaan dibandingkan mereka berpendidikan non perguruan tinggi. Mereka bekerja gesit dan tidak malu dengan pendidikan yang didapatinya, apa saja ia lakukan demi kebutuhan hidupnya sehinga dengan kegigihannya ia berhasil menjadi orang  yang dianggap sukses dalam masyarakat tersebut.

Nah, sekarang ini, keterampilan tradisi yang ada dalam keluarga tersebut sedang dilengahkan, karena dianggap bukan jargon, tak kenamaan. Apa yang salah dengan saat sekarang ini? apakah generasi muda yang cuek, atau orang tua yang kikir dengan  transpormasi keterampilannya, atau pemerintahan yang mengukung mereka untuk mendapatkan pendidikan akademik sehingga mengabaikan belajar pengalaman bersama orang tua dengan memburu kuantitas harga pendidikan itu sendiri tanpa memperhatikan kualitas dari pendidikan yang bermuara dapat meningkatan pendapatan masyarakat sehingga tingkat kesejahteraan dapat dicapai. Walau kita tahu perubahan sosial itu tidak bisa terhindarkan melalui peningkatan pendidikan secara akedemik namun perubahan tersebut mampulah untuk perbaikan ekonomi masyarakat melalui kualitas dari para pemburu gelar kesarjanaan sehingga tingkat pengangguran bisa ditekan.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, rubrik Bendang pada 4 Juni 2017

‘Lapau’: Media sosial Masyarakat Minangkabau*

0
Mardoni

Penulis : Mardoni, Staf pada BPNB Sumatera Barat

Hiruk-pikuk pembicaraan antara hoax dan kebebasan berpendapat di negeri ini, membuat saya menjadi tergugah ingin membuat  sebuah perbandingan lain tentang kebebasan berbicara. Banyak berita tentang hoax dimuat diberbagai media, ada berita di sebuah media lokal Sumatera Barat yang memuat headline besar di halaman pertama dengan judul besarnya “Penyebar Hoax didenda”. Dalam acara Indonesia Lawer Club (ILC) yang ditayang oleh station TV swasta Indonesia juga dibahas tentang hoax VS Kebebasan berpendapat. Bahkan dalam tayangan tersebut seorang akademisi atau dosen universitas negeri berkata bahwa penyebar hoax yang paling sempurna adalah ‘penguasa’ itu sendiri.

Saya tidak tahu apakah masyarakat (baca: publik) yang merasa resah dengan hoax, atau pemerintah yang resah dengan penyebar hoax. Bukti resahnya pemerintah dengan hoax maka dibentuklah Badan Cyber Nasional dan sosialisasi (program literasi) ke netizen tentang bahaya hoax. Hal ini bisa menjadi sebuah warning bagi netizen agar lebih berhati-hati mengunakan media sosial yang dipakainya. Tidak Demikian dengan masyarakat Sumatera Barat umumnya dan Minangkabau khususnya. Kenapa? Memang pada masa dahulu belum ada media-media sosial seperti android, facebook, Whatsapp, dan lainnya. Tidak semua urang awak juga bisa mengunakan android, instagram, facebook, whatshaap, dan media sosial lainnya. Mereka juga tidak memiliki akses untuk menyampaikan pendapat, opini, atau sumbangsih saran kepada media masa, baik cetak atau online. Keinginan untuk menyampaikan pendapat, opini, ini di-lewa-kan oleh masyarakat melalui media yang disebut tradisi ma ota di lapau.

Urang awak (baca orang Minangkabau) memiliki sebuah budaya/kebiasaan yang suka mendiskusikan sesuatu atau menginformasikan sesuatu ditempat yang non formal yang dikenal dengan lapau. Kebiasaan itu disebut “Ma ota”. Ota dalam kamus lengkap Bahasa Minangkabau (Minang – Indonesia) bagian pertama berarti omong, bercerita (Gouzali Saydam, 2004:266). Sehingga terkadang orang sering menyebutnya dengan  ota, ota lapeh, dan yang lebih sering kita dengar adalah ota dilapau atau ota lapau. Mirip saketek jo Indonesia Lawer Club (ILC) versi salah satu TV swasta nasional kita.

Ma ota dilapau (ota lapau) dilakukan oleh bapak-bapak, angku-angku, atau  mungkin juga ninik mamak kita di lapau. Hal ini biasanya dilakukan pada pagi hari dari jam 06.00 sampai jam 08.00 pagi atau sore sampai malam hari dari jam 06.00 sampai jam 10.00 malam atau lebih. Sangat jarang dilakukan diluar jam tersebut, karena masyarakat akan melakukan aktivitas ekonomi menurut profesinya masing-masing.  Ma ota dilapau dilakukan pada waktu-waktu tersebut, sehingga orang melakukannya secara bebas sampai balapik-lapik. Namun walaupun demikian, tidak pernah ada berita yang menjelaskan tentang pengaduan atau laporan ke kantor polisi bahwa dilapau tertentu telah terjadi pembohongan berita, atau seseorang yang ma ota dilapau tertentu telah menyebarkan berita bohong, dan sebagainya. Atau yang disebut hoax (berita bohong) yang sedang banyak diperbincangkan sekarang ini.

Berbagai hal sering dijadikan topik atau tema yang diperbincangkan di lapau. Mulai dari masalah lokal sampai nasional, persoalan wali nagari sampai presiden, masalah ekonomi dan harga-harga kebutuhan pokok, politik, budaya, dan lainnya. Berbagai versi berita yang diberita televisi menjadi topik yang sangat hangat dibicarakan dilapau. Bahkan ada beberapa orang yang ma ota dilapau sampai membicangkan bentuk fisik, raga, dan tindak tanduk orang, atau pejabat tertentu dengan menjelekkannya. Begitulah kondisi realitas lapau di Minangkabau.

Jika dikaji secara ilmiah, lapau dijadikan media sosial bagi masyarakat Minangkabau dikampung-kampung. Mungkin di daerah Minangkabau perkotaan ma ota di lapau sudah kurang dilakukan. Namun di berbagai daerah di darek Minangkabau (di Tiga Luhak ; Luhak Tanah Datar, Luhak agam, dan luhak 50 Kota) tradisi ma ota di lapau masih dilaksanakan oleh masyarakat, sehingga menjadi media tempat berbagi informasi dan bertukar pikiran bagi masyarakat di daerah tersebut. Di lapau dijadikan tempat berbagi informasi dan mendiskusikan berbagai berita. Persoalannya apakah ini (carito di lapau) termasuk hoax dalam pengertian Komisi Informasi Pusat nantinya? Ini masih perlu ditelusuri. Mengingat berita yang dimunculkan oleh media lokal Penyebar Hoax akan didenda, jangan-jangan Tim Badan cyber Nasional akan sidak di lapau-lapau untuk ‘mengrebek’ Bapak-Bapak yang ma ota di lapau. Saya harap jangan sampai begitulah. Karena ma ota  di lapau merupakan tradisi berkomunikasi dan berdiskusi yang hanya ada di daerah Minangkabau,. Tradisi ini mungkin tidak pernah ada di daerah lain di luar Sumatera Barat.

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita ambil dari maota dilapau. Hal ini akan membuka hati dan wawasan kita betapa kehidupan bebas berbicara dan berpendapat telah lebih dulu dikembangkan di perkampungan masyarakat Minangkabau. Pertama, lapau sebagai tempat ekpresi kebebasan berpikir dan berpendapat masyarakat tradisional Minangkabau. Pasal 28 Undang-Undang dasar negera Republik Indonesia berbunyi “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”. Dalam pasal 28 UUD 1945 ini memiliki makna yang dalam tentang kebebasan berpikir dan menyampaikan pendapat dimuka umum baik secara lisa dan tulisan. Indonesia dengan beragam suku bangsa dan bahasa, meiliki kekayaan intelektualnya di masing-masing daerah. Kebebasan berpikir dan berpendapat di berbagai daerah memiliki khasnya masing-masing. Di daerah kebudayaan Minangkabau wahana/ tempat penyampaian ekpresi kebebasan dan berpendapat ini dilakukan di lapau. Mungkin hanya di Minangkabaulah hal ini dilakukan di lapau?

Kedua, lapau sebagai media berbagi informasi dan berkomunikasi masyarakat. Media informasi dan komunikasi adalah tempat mendapatkan berbagai informasi dan mengkomunikasikan informasi tersebut secara lansung. Di Minangkabau tempat untuk mendapatkannya adalah dilapau. Mungkin koran, HP, Whatsapp, facebook, dan televisi  akan kalah saing dengan ota lapau. Penyebabnya adalah ota lebih dikomunikasikan secara lansung, sehingga siapa yang melakukan apa telah jelas dalam diskusi tersebut.

Ketiga, lapau sebagai wahana pelestarian nilai-nilai budaya Minangkabau. Mungkin kita akan bertanya budaya apa yang akan dilestarikan di lapau?. Kebudayaan menurut Koenjtaraningrat adalah “Seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta  karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar” (Koentjaraningrat, 2005;72). Lebih lanjut C . Kluckhohn (dalam Koentjaraningrat, 2005;80) menjelaskan bahwa ada beberapa unsur kebudayaan umum yang bisa dijelaskan dalam masyarakat, yaitu Bahasa, Sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi,sistemmata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian.

Salah satu unsur kebudayaan tersebut adalah sistem pengetahuan dalam masayrakat. Hal ini bisa diuraikan sebagai suatu pengetahuan masyarakat yang dijadikanmilik bersama dan dijadikan sebagai hak milik karya masyarakat. Salah satu hasil karya  Minangkabau adalah kuliner/ makanan tradisionalnya yang sangat enak dan sedap untuk di nikmati. Banyak makanan tradisional Minangkabau, seperti Rendang, katan goreng, lamang tapai, lapek, teh talua, dan sebagainya. Makanan tersebut sering kita temui dilapau.

Hubungannya dengan pelestarian nilai-nilai budaya dilapau adalah bahwa di lapaulah makanan tersebut dilestarikan,dinikmati, dan dipertahankan. Teh talua (teh telur) merupakan minuman khas Minangkabau yang hanya kita dapatkandi lapau, dan jarang kita temui menu tersebut di beberapa kafe-kafe modern. Teh telur dinikmati bersama dengan makanan katan goreng, atau lamang tapai, atau penganan lainnya. Ma ota dilapau akan lebih bersemangat bila diiringi dengan minum dan makanan tradisional Minangkabau.

Pelestarian nilai-nilai budaya Minangkabau di lapau akan selalu teraktualisasi dengan semakin ramainya masyarakat berdikusi dan berkomunikasi dilapau dalam bentuk ota lapau. Sehingga semakin hari ota lapau menjadi sebuah tradisi yang bisa dijadikan warisan dunia yang perlu dilestarikan sebagai budaya khas budaya Minangkabau. Ketiga hal diatas merupakan manfaat yang dapat kita dapatkan ketika berdiskusi dan berkomunikasi dilapau, sehingga lapau dapat kita manfaatkan sebagai ranah ekpresi kebebasan berpikir masyarakat, sebagai wadah mendapatkan informasi dan berkomunikasi, dan sebagai wadah pelestarian nilai-nilai budaya Minangkabau. Semoga saja.

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, rubrik Bendang pada 28 Mei 2017

‘Botatah’; Kekayaan Budaya dari Rantau Minangkabau*

0
Undri

Penulis : Undri, Peneliti pada BPNB Sumatera Barat

Salah-satu kekayaan budaya yang amat penting dan berharga yang sampai saat sekarang ini masih dilaksanakan oleh masyarakat di rantau Minangkabau, khususnya di Nagari Lansek Kadok Kecamatan Rao Selatan Kabupaten Pasaman Propinsi Sumatera Barat yakni botatah. Botatah atau turun tanah anak, biasanya dilakukan bagi anak-anak laki-laki atau perempuan yang berusia dalam lingkungan setahun dan baru pandai berjalan dengan tertatih-tatih. Lazimnya dilakukan pada pagi hari.  Uniknya tradisi tersebut sampai sekarang ini masih dilaksanakan oleh masyarakat di daerah tersebut bahkan telah melampaui sekat-sekat geografis. Artinya bagi ibu dan bapaknya berasal keturunan dari Kerajaan Yang Dipertuan Padang Nunang yang tidak berada di daerah tersebut misalnya di Jakarta, Malaysia dan daerah lainnya diharuskan untuk menatahkan anaknya yang berusia lebih dari satu tahun atau sudah pandai berjalan. Konsekuensi dari tidak dijalankannya tradisi tersebut bagi keturunan Raja Yang Dipertuan Padang Nunang yakni akan terjadi sakit perut pada anak, sakit-sakitan bahkan kelumpuhan. Sebuah tradisi yang berakar pada masa lalu namun tetap dijalankan oleh masyarakatnya sampai sekarang ini dan menjadi sebuah kekayaan budaya.

Penelusuran terhadap sejarah botatah tidak terlepas dari keberadaan Kerajaan Pagaruyung. Menurut maklumat yang diperoleh dari lapangan bahwa asal mula adat jejak tanah (botatah) yaitu sewaktu anak raja dijemput ke Pagaruyung, sampai di Rao dijejakkan ke tanah karena begitulah adat raja-raja di Pagaruyung.  Kerajaan Pagaruyung merupakan sebuah kerajaan yang berpusat di Luhak Tanah Datar, Minangkabau. Istana Kerajaan berada di Nagari Pagaruyung, yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan raja-raja Pagaruyung. Kerajaan Pagaruyung disebut juga sebagai Kerajaan Minangkabau. Luhak Tanah Datar sendiri merupakan salah satu bagian dari Luhak nan tigo  yang terdapat dalam konsepsi masyarakat Minangkabau terutama tentang alamnya. Menurut historiografi tradisional, alam Minangkabau terdiri dari dua wilayah utama, yaitu kawasan luhak nan tigo dan rantau. Kawasan Luhak nan tigo adalah merupakan kawasan pusat atau inti dari alam Minangkabau, sedangkan yang kedua, rantau ialah kawasan pinggiran dan sekaligus merupakan pusat daerah perbatasan yang mengelilingi kawasan pusat. Salah satu daerah yang termasuk kedalam rantaunya Minangkabau adalah Nagari Langsek Kadok Kecamatan Rao Selatan Kabupaten Pasaman Propinsi Sumatera Barat tersebut. Luhak nan tigo, yang merupakan kawasan inti dari alam Minangkabau  terdiri dari Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Lima Puluh Koto. Dari ketiga luhak tersebut Luhak Tanah Datar sebagai luhak terbesar dan daerah terpenting ditinjau dari sudut sejarah, sebab Luhak Tanah Datar selain tanahnya subur untuk tanaman padi juga kaya dengan emas dan merupakan pusat kerajaan Minangkabau dimana tempat tinggal keluarga raja dan menteri-menterinya. Umumnya raja-raja kecil tersebut berada di daerah rantau, walaupun ada di daerah darek Minangkabau. Daerah rantau disebut juga sebagai rantau hilie karena wilayahnya berdekatan dengan pantai maupun sungai, juga rantau mudiak. Di samping rantau hilie masih ada dua daerah rantau yaitu, Lubuk Sikaping dan Rao yang merupakan rantau dari Luhak Agam. Rantau selatan yang merupakan luhak Tanah Datar meliputi Solok, Selayo, Muara Panas, Sawahlunto Sijunjung dan terus ke perbatasan Riau dan Jambi (Muchtar Naim, 1979 : 58).

Sebagai sebuah kerajaan besar dizamannya, kerajaan Pagaruyung sendiri memiliki kerajaan kecil sebagai “wakil raja” untuk memerintah di daerah. Kerajaan-kerajaan ini merupakan bagian dari kerajaan Pagaruyung dan langsung diberi otonomi khusus untuk mengurus kepentingan pemerintah dan ekonominya termasuk tradisi yang ada. Salah satu tradisi yang dimiliki oleh kerajaan di bawah panji Kerajaan Pagaruyung ini dan sampai saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakatnya yakni botatah, tradisi turun tanah anak.

Adapun pelaksanaan kegiatan botatah, yakni  sebelum acara botatah dimulai terlebih dahulu anak yang ditatah diberi inai (sejenis tanaman yang bisa membuat warna pada bagian tubuh). Inai tersebut dibalutkan pada bagian kaki dan tangan si anak. Gunanya untuk menjaga tangan dan kaki si anak dari kuman pada waktu menginjak tanah nantinya. Kemudian pihak keluarga  mempersiapkan bahan-bahan untuk botatah, yakni sirih, nasi kunyit, minyak manis, sodah, beras yang dimasak (upiah), bunga tujuh warna, dan emas. Emas ini merupakan milik dukun (tukang botatah) tersebut. Setelah bahan-bahan tersebut dipersiapkan langkah selanjutnya adalah mempersiapkan tikar tempat menatatahkan anak tersebut. Tikar dibentangkan dan diatas tikar ditebar bunga tujuh warna dan padi yang dimasak (upiah).

Langkah selanjutnya, anak yang ditatah diajak berjalan diatas tikar dengan tebaran bunga tujuh warna dan upiah tersebut. Sang dukun mengajari si anak untuk berjalan dengan mengangkat kedua belah tangan si anak. Sang dukun mengajari si anak berjalan sebanyak 3 (tiga) kali. Terakhir sang dukun membaca mantra kepada si anak dan mengosokkan emas ke bagian kepala, pusat dan kaki si anak. Sepanjang proses kegiatan tersebut anak yang akan ditatah disirami  dengan beras warna kuning. Beras tersebut disirami kekepala anak sebanyak 3 (tiga) kali. Ini menandakan adanya pelimpahan rezki bagi anak tersebut nantinya. Menjalankan anak diatas bunga sebanyak tiga kali merupakan rangkaian pelaksanaan botatah selanjutnya. Anak diajarkan cara berjalan dengan baik.

Memandikan anak dengan melulurkan minyak wangi keseluruh badannya merupakan rangkaian pelaksanaan terakhir. Anak dimandikan bersama dengan orang tua perempuan anak dan dukun (tukang tatah) tersebut. Setelah acara botatah tersebut dilaksanakan, anak baru bisa menginjak tanah setelah dua hari kemudian.

Saat sekarang ini, dengan derasnya arus globalisasi yang dipicu oleh kemajuan zaman harus diantisipasi dengan memperkuat identitas bangsa. Identitas bangsa ditunjukkan oleh kebudayaannya. Dalam rangka memperkuat identitas bangsa, pemerintah bersama-sama seluruh komponen masyarakat terus melakukan berbagai upaya dan tindakan untuk melindungi dan melestarikan budaya Indonesia, terutama dalam pengelolaan dan penyelamatan kekayaan budaya tersebut. Begitu juga dengan botatah, sebuah kekayaan budaya yang berasal dari rantau Minangkabau perlu dilestarikan untuk memperkuat identitas bangsa kedepannya. Wasalam.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, rubrik Bendang pada 21 Mei 2017

Membudayakan Tradisi Surau*

0
Mardoni

Penulis : Staf pada BPNB Sumatera Barat

Fenomena menarik dari kajian surau adalah banyaknya produk dan tokoh terkemuka yang mendapatkan pendidikan surau berhasil menjadi ‘orang’ di negeri ini. Sebut saja Bung Hatta atau lebih dikenal dengan Mohammad Hatta, tokoh proklamator kemerdekaan dan Wakil Presiden Republik Indonesia pertama. Hatta memperoleh pendidikan agama dari kakeknya Syekh Abdurrahman di Bahuhampar dan di Surau Iyiak Jambek di Bukittinggi (Hasril Chaniago 2010: 22). Nama Syekh Muhammad Djamil Djambek disebut Mohammad Hatta dalam buku Untuk Negeriku, Sebuah Otobiografi (Penerbit Buku Kompas). Hatta menyebut Syekh Muhammad Djamil Djambek seorang ulama besar yang terkenal sampai ke luar daerah. Beliaulah yang pertama kali membimbing langkah Hatta ke jalan pengetahuan Islam. Lulusan surau ini telah mendampingi Presiden Republik Indonesia pertama ketika memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

Begitu hebatnya pendidikan surau membentuk karakter seseorang, sehingga banyak pihak yang merasa cemas, takut, dan gamang, bagaimana jadinya generasi selajutnya jika surau sudah berkurang fungsinya di tengah-tengah masyarakat. Kecemasan, keraguan, dan bahkan ketakutan umumnya masyarakat terhadap anak kemenakannya dalam menghadapi budaya baru globalisasi  yang sangat tidak bisa dibendung, apalagi mereka sangat dangkal pemahaman agamanya menjadikan banyak masyarakat ingin menyuarakan program gerakan kembali ke surau. Kegamangan masyarakat akan pentingnya pendidikan surau inilah yang menyebabkan banyak pihak mempunyai keinginan untuk mengembalikan fungsi surau dengan wacana kembali ke surau. Akan tetapi surau telah banyak tidak difungsikan sejak digantikan fungsinya oleh mushala atau masjid.  Hanya beberapa surau saja yang berfungsi, itupun hanya sebagai tempat sholat berjamaah saja. Oleh karena itu, hal yang bisa dilakukan adalah mengembalikan fungsi surau dengan membudayakan tradisi surau di tengah masyarakat khusus keluarga di Minangkabau.

Fungsi Surau di Minangkabau

Dalam khasanah filosofi kebudayaan Minangkabau, surau memiliki peran yang sangat penting dalam struktur sosial masyarakat. Surau tidak hanya dianggap sebagai sebuah lembaga keagamaan, tetapi memiliki fungsi sebagai tranformasi nilai-nilai budaya dan agama dalam masyarakat Minangkabau. Wujud fungsi surau tersebut terlihat dari kurikulum yang diajarkannya. Di Surau tidak hanya mengaji-mengaji saja, tetapi juga memiliki kurikulum bersilat, berpidato adat,  berceramah agama dan lainnya. Konsep ini sangat relevan dan sejalan dengan visi dan misi Kemendikbud RI tentang pendidikan karakter yaitu untuk pembentukan karakter bangsa yang berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan, dan pembentukan kepribadian dengan karakter unggul antara lain kejujuran, berakhlak mulia, mandiri serta cakap dalam menjalani hidup (dalam Permendikbud nomor 22 tahun 2015 tentang rencana strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015-2019).

Sistim pendidikan surau ini mempunyai karakteristik, setidaknya dari rumusan isi terlihat mengajarkan tiga bidang keilmuan yakni (1) agama, (2) adat dan (3) silat. Setidaknya ada tiga hal yang bisa dikembangkan dari karakter surau ini.  Pertama, pendidikan ilmu agama. Pendidikan agama yang diajarkan di surau mulai pokok-pokok akidah (tauhid), akhlak mulia serta penerapannya dalam kehidupan diikuti dengan pengajaran agama Islam yang mudah dipahami dan diamalkan. Dimulai dengan pendidikan Alquran, yang terdiri dari pengenalan huruf hijaiyah, tajwid, tafsir alquran, seni membaca Alquran, bahkan di surau-surau tertentu menganjarkan tasauf, mantik, syaraf dan lainnya.

Kedua, pendidikan adat. Selain pembelajaran agama di surau juga belajar adat istidat  yang berisi tentang akhlak bertutur (berbicara), bertingkah laku, dan bersopan santun dalam masyarakat. Dalam pembelajaran ini anak diajarkan tentang tatakrama bertutur kata, dalam budaya Minangkabau disebut sebagai “kato mandaki jo kato manurun, kato malereng  jo kato mandata, yang diistilahkan dengan “kato nan Ampek”. Sehingga seorang anak di Minangkabau tahu adat berbicara dengan orang lain, baik dengan orang yang sama besar atau kecil, berbicara dengan sumando atau yang lebih besar. Adat budaya Minangkabau yang berisi sopan santun dan budi – baso jo bahaso sebagai pelaksanaan pengajaran Islam dalam masyarakat sejalan dengan filosofi masyarakat Minang “Adat Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK) yang dilakukan dengan strategi “syara’ mangato adat mamakai. Maka di suraulah tempat untuk mewariskan hal tersebut oleh mamak kepada anak kemenakannya.

Ketiga, pembelajaran silat atau beladiri.  Dari pengamatan Azyumardi (2010) surau yang mengajarkan seperti ini penting, bukan hanya dalam aspek keagamaan tempat mengaji saja, tapi juga fungsi ritus peralihan bagi seorang anak bujang/ mambujang lalok di surau. Pada masa lalok di surau ini anak kemenakan akan diajarkan berbagai seni ketangkasan, seperti silat misalnya. Maka sangat dikenal dalam masyarakat Minangkabau lahir berbagai jenis silat seperti silat kumanggo dari Sungai Tarab Tanah Datar. Jenis bela diri Kumango bermula dari sebuah Surau Subarang, masjid kecil di Nagari Kumango, Kecamatan Sungai Tarab. Dulu, Syekh Abdurahman atau dikenal dengan Alam Basifat tak hanya mengajar agama di tempat tersebut namun sekaligus mengajar ilmu silat kepada para pemudanya di malam hari. Kebiasaan pemuda Minang zaman dulu yang lebih senang menginap di surau diisi sang syekh dengan belajar bela diri ini. Guru mengaji sampai tahun 1980-an hanya di surau, di rumah penduduk tak ada kamar untuk anak laki-laki, laki-laki di Minang pada dasarnya tidak punya rumah, di waktu kecil tidur di surau, sewaktu tua/  bercerai dari istri tidur di surau, keluar dari rumah isteri (bercerai) pakai celana kotok saja, tak bawa apa-apa kecuali yang melekat pada dirinya saja, seperti abu di atas tunggu, surau ninik mamak berfungsi sebagai ritus peralihan ini.

Apadaya surau tidak mungkin kita kembalikan seperti masa silam. Orang tua mana yang rela anak laki-lakinya lalok/tidur di surau, siapa yang rela melihat bapaknya yang sudah renta akan tidur di surau. Lelaki tua mana yang mau keluar dari rumah yang dibangunnya sendiri dan tidur di surau. Kondisi inilah yang membuat kegamangan banyak masyarakat karena tidak bisa melaksanakan kembali ke surau. Oleh karena itu fungsi surau bisa kita implementasikan dengan mengembalikan program surau ke ranah / ruang keluarga yang disebut ruang domestik.

Konsep gerakan 1821 merupakan suatu gerakan yang digagas oleh seorang trainer parenting, Ikhsan Baihaqi Ibnu Bukhori atau lebih dikenal dengan nama Abah Iksan, menjelaskan tentang ajakan kepada anak-anak untuk berpuasa handphone, blackberry, tab, android dan atau laptop hanya dalam 3 jam sehari, 6 hari seminggu yaitu dari pukul 18.00 – 21.00 Wib (Waktu saat memasuki Sholat Magrib sampai dengan saat anak-anak kita menjelag tidur). Kemudian orang tua atau  mamak dalam rumah tangga mengambil peran untuk memberikan dan melakukan 3-b yaitu bermain, belajar, dan berbicara (ngobrol).

Konsep 1821 penulis integrasikan dalam pelaksanaan pendidikan surau di dalam rumah tangga. Seorang Bapak atau Mamak memiliki peran dalam pelaksanaan konsep ini di dalam keluarga. Kegiatan 3-b yang berbasis surau ini dalam ruang domestik harus sejalan dengan fungsi surau di Minangkabau yang telah dijelaskan diatas. Kegiatan ini harus diikuti oleh seluruh anggora keluarga. Dimulai dari jam 18.00 menjelang sholat magrib, sampai jam 21.00 menjelang anak akan tidur. Pertama, pendidikan ilmu agama. Pendidikan agama yang dimaksud disini bisa dalam bentuk sholat berjamaah, mengaji bersama, belajar tajwid dan pembelajaran lainnya yang berhubungan dengan agama.   Bapak sebagai pemimpin/kepala dalam rumah tangga atau mamak selaku pewaris tradisi ini kepada kemenakannya, harus memulai kegiatan ini dengan persiapan sholat magrib dengan berwudu’, hal ini harus diikuti oleh ibu, dan seluruh anak-anak. Selanjutnya melaksanakan  sholat magrib berjamaah, yang dilanjutkan dengan mengajarkan/ belajar Alquran, menyimak bacaan Alquran anak-anak (bagi yang telah bisa membaca Alquran), belajar tajwid, dan seni baca Alquran.

Dalam kegiatan ini karakter yang dikembangkan adalah karakter religius, taat beribadah, serta budaya berkelompok dan berorganisasi. Perilaku sholat berjamaah ditengah-tengah keluarga ini memberikan makna yang sangat dalam terhadap anak. Anak dibentuk sikap dan perilakunya untuk taat dan patuh terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta patuh terhadap orang tua.

Kedua, pendidikan adat. Pembelajaran adat istiadat bisa diberikan kepada anak-anak oleh kepala keluarga atau mamak dalam keluarga. “Anak dipangku kemenakan dibimbing”. Disinilah peran mamak yang lebih dominan, mamak sebagai tokoh penting dalam mendidik, serta membiayai agar si anak dan kemenakan menjadi generasi yang berkualitas. Kegiatan belajar adat dapat berupa tatakrama sopan santun, berbicara dengan orang yang lebih besar, sama besar, terhadap sumando dan yang lebih kecil yang diebut dengan kato nan ampek, yaitu jalan mandata, jalan mandaki, jalan menurun, jalan malereang.   Serta petatah petitih dalam budaya adat Minangkabau dan bila perlu, seorang mamak juga memberikan pembelajaran tata cara pidato adat, banyak saketeknyo.

Dalam kegiatan ini karakter yang dikembangkan adalah karakter cinta pada budaya alam Minangkabau, pandai berbicara dengan berbagai kalangan, serta karakter sopan dan santun dalam kehidupan bermasyarakat. Anak dididik untuk cinta dengan tanah airnya, budayanya, serta apa yang terkandung didalamnya, sehingga ia tidak akan melupakan kampung halamannya jika telah berhasil di rantau nantinya.

Ketiga,  pembelajaran silat atau beladiri.  Mungkin saja dalam keluarga akan diajarkan tentang seni bela diri, atau yang lebih sederhananya belajar tentang dasar-dasar tentang silat. Hal yang sangat penting dalam pembelajaran tersebut adalah gerak-gerik silat tersebut seperti Alai (kuda-kuda silang belakang untuk melakukan tendangan samping), Angkek (gerakan mengangkat kaki untuk menghindari serangan ), awan-awan (posisi kuda-kuda dengan kelenturan pinggang), balabek (sikap siaga dengan koordinasi posisi tangan dan kaki yang siap mengahdapi serangan), bukak langkah  (langkah permulaan untuk memulai permainan silat), dan sebagainya yangberhubungan dengan gerak-gerik silat. (Muasri pandeka rajo mudo, 2013: 1-33). Fungsi silat dalam masyarakat adalah untuk membela diri, sehingga anak kemenakan yang telah dibekali dengan dasar-dasar gerak-gerik silat, minimal ia manpu untuk membela dan mempertahankan diri dari bahaya yang menimpanya.  Dalam kegiatan ini karakter yang dikembangkan untuk anak adalah karakter tangguh, membela yang benar, berani, suka menolong,  dan tidak mudah berputus asa.

Pada dasarnya program surau ini sangat mudah dilaksanakan oleh masayrakat dalam keluarganya.  Jika program ini dapat terlaksana dengan baik didalam keluarga Minangkabau setiap hari, kemungkinan surau akan hidup kembali ditengah-tengah masyarakat walau hanya hidup ditengah-tengah keluarga di Minangkabau. Semoga ini bisa dilaksanakan sebelum program kembali ke surau benar-benar akan dilaksanakan.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, Rubrik Bendang pada 14 Mei 2017

Batarewai; Tradisi di Idul Fitri*

0
Ernatip

Penulis : Ernatip, Peneliti pada BPNB Sumatera Barat

Masyarakat Minangkabau mempunyai berbagai tradisi dalam hal bersilaturahmi diantara mereka. Bersilaturahmi merupakan tradisi yang sudah mengakar dan diwarisi dari generasi kegenerasi. Dalam perjalanannya tradisi bersilaturahmi terus ditingkatkan sesuai dengan perkembangan zaman, kelaziman dan kepantasan pada suatu daerah. Tradisi bersilaturahmi setiap daerah/nagari di Minangkabau ini berbeda-beda cara pelaksanaannya, tetapi yang lebih terkoordinir  adalah pada perayaan Idul Fitri setiap tahunnya. Tradisi bersilaturahmi tidak hanya bersalaman diantara mereka melainkan disertai dengan atraksi budaya, permainan anak nagari yang melibatkan masyarakat dari usia anak-anak hingga dewasa.

Tradisi bersilaturahmi yang lazim dilakukan oleh masyarakat Minangkabau mempunyai sebutan yang berbeda-beda antara satu nagari/kampung dengan nagari lainnya seperti ada yang menyebutnya dengan sebutan  babalerong, manjalang mamak,  bakajang, batarewai dan lainnya.

Batarewai merupakan  media silaturahmi masyarakat yang dilaksanakan selesai shalat Idul Fitri.  Batarewai adalah  media silaturahmi yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara berjalan bersama-sama (terutama oleh kaum laki-laki)  mengelilingi kampung sekaligus bermaaf-maafan dengan masyarakat yang telah menunggu disepanjang jalan yang dilewati.   Batarewai diawalai dari halaman Kantor Balai Adat  dan  berakhir lagi di tempat tersebut. Adapun rangkaian kegiatannya adalah (1) Semua peserta (termasuk perangkat nagari, ninik mamak, pemuka masyarakat, Alim ulama dan lainnya)  berkumpul di halaman Kantor Balai Adat, (2). Khusus para Penghulu dari masing-masing suku dijemput ke rumahnya oleh petugas yang telah ditunjuk yakni para remaja, dari rumah kediamannya diarak ke Balai Adat. memakai pakaian kebesaran yakni pakaian penghulu. Begitu juga remaja yang mengiringinya juga berpakaian daerah yakni baju koko/guntiang cino, celana batik,dan  kopiah, (3). Rombongan batarewai mengelilingi kampung diiringi bunyi-bunyian alat musik tradisional seperti talepmpong. Biasanya para ibu-ibu termasuk yang sudah lanjut usia berada depan rumahnya menunggu rombongan batarewai lewat untuk  bersalaman (bermaaf-maafan) terutama dengan para penghulu, dan  (4) Akhir kegiatan batarewai berlangsung di Balai Adat, pada pertemuan tersebut dibahas berbagai hal yang berkaitan dengan perkembangan nagari, masalah yang dialami oleh masyarakat dan hal lainnya yang berkaitan dengan kepentingan bersama setelah itu biasanya diakhiri dengan makan bersama.

Pelaksanaan batarewei merupakan kegiatan awal dalam rangka memeriahkan perayaan Idul Fitri, hari-hari selanjutnya diisi dengan berbagai kegiatan permainan anak nagari, penampilan seni tradisi dan lainnya hingga berlangsung sampai 3 – 7 hari tergantung acara yang telah disusun  sebelumnya. Dengan adanya acara seperti  itu nagari/kampung tersebut terasa ramai apalagi banyaknya para perantau yang pulang kampung. Suasana demikian membuat para perantau selalu rindu untuk pulang kampung, dapat berkumpul bersama keluarga dan masyarakat di nagari tersebut. Suasana lebaran terasa menyenangkan karena diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat terutama para generasi muda. Kegiatan seperti ini termasuk salah satu penarik perantau untuk pulang kampung setiap tahunnya, di samping bersilaturahmi mereka juga menyaksikan  berbagai atraksi yang ditampilkan seperti berbagai jenis permainan, seni tradisi dan lainnya. Selama berlangsunya  kegiatan itu mereka selalu bersama-sama berada pada suatu tempat. Hal ini membuat hubungan antar masyarakat terasa lebih akrab walaupun setelah itu mereka berpisah lagi, kembali  ketempatnya masing-masing dimana mereka mencari penghidupan.

Melalui serangkaian kegiatan tersebut banyak nilai-nilai karakter dapat ditranspormasikan. Implementasi nilai-nilai itu dapat dilihat pada tahapan proses pelaksanaan batarewai sebagai berikut : Pertama, nilai karakter pada tahap persiapan. Pada tahap persiapan yaitu berkumpulnya warga terutama kaum laki-laki dan menjemput penghulu kerumahnya. Nilai-nilai karakter yang  dapat disimak pada tahap ini adalah nilai disiplin , hormat dan kebersamaan.  Disiplin yang dimaksudkan ialah taat, patuh terhadap waktu yang telah disepakati sebelumnya. Kegiatan semacam ini sudah menjadi agenda rutin oleh masyarakat sehingga waktu itu selalu diingat oleh masyarakat. Begitu juga disiplin dalam berpakaian yakni memakai pakaian sesuai dengan status sosial seperti yang dipakai oleh penghulu dan lainnya. Pada tahap ini juga dapat disimak nilai hormat terhadap penghulu yakni orang yang didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang di dalam adat kehadirannya dijemput oleh kemenakan. Proses ini mencerminkan nilai kebersamaan yang dipertahankan oleh masyarakat sehingga kegiatan batarewai berjalan lancar.

Kedua, nilai karakter pada tahap pelaksanaan. Pada tahap pelaksanaan yaitu rombongan batarewai diiringi bunyi-bunyian alat musik tradisional “talempong” berjalan berkeliling kampung, sekaligus bersilaturahmi, bermaaf-maafan..  Nilai karakter yang dapat disimak adalah cinta tanah air, cinta damai, peduli lingkungan dan tanggung jawab. Cinta tanah air yang dimaksudkan disini adanya upaya untuk memelihara, mempertahankan keutuhan wilayah “nagari” untuk kepentingan masyarakat. Hal ini tercermin dari perilaku masyarakat yang memelihara adat istiadat/kebiasaan, seni trasdisi, hubungan antar masyarakat dan lainnya. Selain itu juga dapat disimak nilai cinta damai yang tercermin dari  perilaku masyarakat yang saling bermaaf-maafan, saling datang mendatangi untuk bersilaturahmi. Nilai peduli lingkungan juga tercermin dari kegiatan batarewai yakni mengelilingi kampung. Secara tidak langsung sepanjang perjalanan akan terlihat kondisi lingkungan seperti jalan, selokan air, bangunan rumah penduduk, tempat ibadah dan sarana umum lainnya. Terhadap hal yang dilihat itu bila terdapat kerusakan atau tidak layak lagi termasuk bahan yang di bahas diakhir batarewai untuk dilakukan upaya perbaikan. Nilai tanggung jawab juga tercermin dari sikap dan perilaku penghulu sebagai orang yang dituakan dalam kaum, tempat berlindung bagi anggota kaumnnya. Ia bertanggung jawab terhadap anggota kaumnya. Wujud tanggung jawabnya adalah memberikan perlindungan, perhatian bahkan bantuan bila diperlukan. Hal ini berlangsung sepanjang kehidupan masing-masing kaum, namun melalui batarewai dilakukan secara bersama-sama dalam satu nagari/daerah dan ia kembali berhadapan dan melihat langsung kondisi kaumnya.

Ketiga,  nilai karakter pada tahap akhir. Pada tahap akhir yaitu berkumpul di Balai Adat membahas berbagai hal yang berkaitan dengan kondisi nagari/daerah setempat dan terakhir makan bersama. Tradisi makan bersama menggambarkan sebuah konsep harmoni dan kebersamaan. Makan bersama disini ada yang dinamai dengan makan bajamba yakni makanan yang ditata dalam beberapa buah dulang/talam, satu dulang untuk 4 – 6 orang,   Ada juga yang dinamai makan biasa tetapi tetap dihidangkan yang disebut dengan hidangan batatai yakni makanan yang dihidangkan beralaskan kain seprah ditata rapi sesuai dengan jumlah orang yang akan makan. Hidangan itu terletak dibagian tengah ruangan dan para peserta batarewai duduk bersila mengelilingi hidangan tersebut. Sebelum makan biasanya ada perundingan yang diketengahkan untuk dibahas bersama. Perundingan ini berlangsung dikalangan para orang tua-tua penghulu/ninik mamak, pemerintahan nagari, tokoh masyarakat, alim ulama sedangkan para remaja berada di luar itu.  Tetapi pada saat makan semua ikut termasuk anak-anak bila mereka ada di sana. Pada saat makan para remaja/anak-anak mengambil posisi sesuai dengan kelompoknya pula tidak bergabung dengan orang tua-tua. Pada tahap ini terdapat pembagian nasi yang sudah diisikan  ke piring-piring tanpa ada perbedaan baik untuk orang dewasa berdasarkan status sosial maupun anak-anak.

Nilai karakter yang dapat disimak dari kegiatan tersebut adalah nilai  keadilan, harmoni dan kebersamaan, tahu batas  Nilai keadilan dapat disimak dari pembagian makanan yang sama antara orang dewasa dan anak-anak semua ikut makan walaupun tempat berbeda. Nilai harmonis dan kebersamaan dapat disimak dari awal pelaksanaan batarewai semuanya dalam suasana gembira, akrab satu sama lainnya. Terlaksananya acara ini tidak lepas dari keharmonisan hubungan antar masyarakat sehingga tanpa ada paksaan para ibu-ibu menyiapkan makanan untuk para bapak-bapak  pulang batarewai  Keharmonisan hubungan yang disertai dengan adanya rasa kebersamaan akan menjadi lebih indah, enak dilihat selalu bersama yang berat terasa ringan, yang jauh terasa dekat.

Berbagai nilai yang dapat ditrasformasikan melalui kegiatan silaturahmi batarewai, antara lain nilai disiplin, hormat, kebersamaan, cinta tanah air, cinta damai, peduli lingkungan dan tanggung jawab dan keadilan. Nilai-nilai itu tersirat pada setiap tahapan pelaksanaan batarewai. Melalui kegiatan batarewai diharapkan kelak melahirkan generasi tranformatif yang memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai tersebut yang diinternalisasi, disosialisasikan dan kemudian dienkulturasi. Tujuan utama batarewai ini merupakan ritual pengukuhan masyarakat agar menjadi  masyarakat yang kuat menjaga kebersamaan dan melestarikan tradisi.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, Rubrik Bendang pada 7 Mei 2017

Budaya Mentawai nan Mempesona*

0
Yulisman

Penulis : Yulisman, Peneliti pada BPNB Sumatera Barat

Aleu ita, sepenggal kata yang mirip sekali dengan Aloha dari Kepulauan Hawai negara Amerika Serikat. Aleu ita adalah sebuah tradisi yang unik dan menarik dari budaya Mentawai yang berjarak sekitar 100 km dari Kota Padang, ibukota Propinsi Sumatera Barat yang telah memberikan saya perjalanan panjang yang memuaskan dan penuh pesona.

Kepulauan Mentawai mempunyai puluhan pulau pulau kecil dan 4 pulau besar yang indah dan menawan. Pulau pulau tersebut adalah Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Dari ke empat pulau tersebut, Menurut hemat penulis, di bidang Budaya, Pulau Siberut yang paling menarik dikunjungi, karena Pulau Siberut ini dipercaya sebagai asal mula masyarakat Mentawai dan menyebar ke pulau pulau lain.

Aleu ita adalah khas tipikal salam bagi masyarakat kebudayaan Kepulauan Mentawai terutama di Pulau Siberut bagian selatan. Sebuah perjalanan panjang secara estafet selama 14 hari yang penulis terulusuri di Kecamatan Siberut Selatan. Aleu ita juga dijawab dengan kata yang sama yaitu Aleu ita, yang artinya berbeda antara si penyebut aleu ita pertama dengan penjawab yang juga menyebutkan aleu ita.  Penyebut aleu ita pertama bisa berarti apa kabar dan penjawab yang menyebutkan aleu ita akan berarti baik, atau bagus. Tidak ditemukan kapan manusia pertama sekali menginjakan kakinya di Pulau ini, tidak ada ditemukan cerita secara turun temurun asal muasal Masyarakat Mentawai, Cuma hanya pendapat para ahli, sebagian berpendapat bahwa mereka berasal dari Kepulauan Nias dan sebagian lagi menarik kesimpulan bahwa mereka berasal dari negeri Batak Sumatera Utara, tetapi menurut hemat penulis masyarakat Mentawai berasal  dari hasil perkawinan antara  suku melayu tua dengan masyarakat dari Asia Selatan tepatnya dari sekitar Vietnam sekarang. Hal ini dilihat dari kulit yang sao matang yang merupakan hasil perkawinan hitam dengan putih, bentuk wajahnya dan  mata yang sedikit agak sipit tidak menandakan melayu 100 persen.

Dalam melaksanakan aktivitas sehari hari, masyarakat Mentawai memusatkan kegiatannya di Uma yang juga dikenal dengan rumah panjang. Rumah ini biasanya di hunyi oleh 2 sampai dengan 3, 4, 5 keluarga. Secara umum rumah ini, ruangannya hanya dibatasi oleh kelambu, walaupun ada dibatasi dengan kamar tetapi jumlahnya sangat sedikit sekali.  Antara Uma yang satu dengan Uma yang lain mempunyai jarak yang cukup jauh sehingga menyulitkan anak anak untuk mendapatkan pendidikan secara bersama sama. Untuk mengatasi hal ini pemerintah telah membangun perkampungan yang bisa tinggal bersama sama dan anak anak mereka bisa mendapatkan pendidikan secara bersama sama pula, perkampungan antara lain Madobak, Ugai dan Matotonan yang dulunya hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau dengan sampan dayung serta dengan mesin boat lewat sungai. Sekarang ketiga tiga perkampungan ini telah bisa disentuh dengan kendaraan roda dua. Kehidupan mereka sangat menarik untuk diketahui dan dikunjungi serta sebagai contoh dalam kehidupan kebersamaan saling berbagi satu sama lain.

Penulis telah sempat mengunjungi ketiga tiga perkampungan tersebut dengan jalan kaki secara estafet selama 14 hari, walaupun melelahkan tetapi kepuasan yang didapat oleh penulis jauh lebih besar dan mengalahkan kelelahan tersebut. Perjalan dari Padang menuju Muara Siberut ibukota Kecamatan Siberut Selatan membutuhkan waktu satu malam, dan sekarang bisa disentuh hanya dengan waktu 3 jam, karena sekarang telah tersedia kapal cepat yang diberinama Mentawai fast berangkat dari Muara Padang, disamping kapal fery yang disediakan oleh Pemerintah untuk transportasi ke dan dari Mentawai, ada juga kapal chargo atau kapal barang untuk membawa keperluan masyarakat mentawai dan hasil buminya yang perlu di jual ke Padang sebagai pusat kegiatan masyarakat di Propinsi Sumatera Barat.

Untuk makan sehari hari, biasanya masyarakat Mentawai terutama yang tinggal di pedalaman Siberut Selatan memakan sagu yang di olah secara tradisional. Sagu yang dimakan adalah sagu yang telah menjadi tepung, kemudian di bungkus dan dimasak atau dibakar.  Kabid adalah pakaian tradisional mereka, walaupun sekarang sedikit demi sedikit berubah, karena sebagian dari generasinya tidak lagi memakai kabid, walaupun begitu masih bisa kita lihat masyarakatnya terutama yang tua tua dan berjulukan sikerei masih memakai pakaian kebesarannya.

Sikerei adalah seseorang yang  diangkat yang menjadi pimpinan suku, pada saat yang sama sikerei berfungsi sebagai dokter untuk masyarakatnya yaitu orang-orang Mentawai. Bertato merupakan suatu tradisi yang wajib bagi sikerei. Sikerei baru akan dilewakan dengan kegiatan yang disebut dengan punen. Sebagian besar sikerei di undang untuk datang pada acara punen tersebut. Apabila ada sikerei bertemu untuk pertama sekali dengan sikerei lain, mereka harus membuat upacara dengan memotong seekor ayam yang menandakan kebesaran dari sikerei tersebut. Membuat tato di semua tubuh dengan motif khas mentawai adalah kewajiban untuk semua sikerei. Tato dibuat dengan peralatan benar-benar tradisional. sehingga, terlihat seperti dengan aktivitas memahat, pasti sangat sakit dan nyeri. Apabila seseorang lelaki menjadi sikerei maka itu juga kewajiban dari seorang istri lelaki itu untuk ikut menato tubuhnya, untuk mendukung status sikerei darri suaminya. Sikerei dipercaya  memiliki kelebihan tersendiri dalam dunia gaib terutama untuk menyembuhkan seseorang dari sakit di Mentawai.

Sebuah kata “ubek” sering terdengar oleh kami di Mentawai berarti ini adalah rokok, di setiap pertemuan dan disaat berpapasan, mereka akan mengatakan aleu ita dan akan dilaanjutkan dengan “anai ubekta” setelah kita jawab aleu ita juga. Anai ubekta artinya ada rokok.  meminta rokok merupakan suatu kebiasaan bagi mereka walaupun kita bertemu ditengah hutan sekalian. Sebaik mungkin jangan dijawab “ tak anai “ yang artinya tidak ada. Siapkanlah diri dengan rokok ketika ingin mengunjungi dan bercengkrama dengan mereka meskipun kita bukan seorang perokok. Rokok merupakan kata pembuka untuk memulai pembicaraan atau untuk menandai tanda persahabatan baru.

Berburu monyet, babi hutan, kelelawar dan burung menjadi kebiasaan suku Mentawai, bahkan sekarang monyet sulit sekali ditemukan di tengah-tengah hutan Mentawai. Tapi jika mereka peroleh monyet dalam berburu, mereka akan mengundang semua keluarga untuk menikmati dengan memukul kentongan bambu dan  irama tertentu. Kentongan ini akan terdengar mengundang keluarga mereka. Penulis juga sering ikut berburu tetapi hanya semata mata untuk mengetahui lebih detail tentang mereka dan mengisi waktu selama berada di pedalaman Mentawai tersebut.

Turuk adalah sebuah tarian tradisional masyarakat Mentawai yang dilakukan oleh sikerei, minimal 2 atau 3 orang, tetapi tidak terbatas kemungkinan lebih. Turuk akan dimainkan pada saat penyembuhan orang sakit atau pada saat hibruan di malam hari yang diiringi dengan gendang. Secara umum ada 3 macam tari dalam pertunjukan turuk, yaitu : tari burung, tari ular dan tari monyet, gerakan tari tersebut akan mencontoh kepada gerakan binatang binang tersebut.

Tidak itu saja, ada yang namanya Pasiggaba iba adalah sebuah kegiatan mencari ikan bagi kaum perempuan terutama kaum ibu ibu di Pedalaman Mentawai. Penulis juga sering ikut bersama sama mencari ikan dengan memakai tanggul, walaupun ikan susah didapat, tetapi menyelusuri sungai merupakan pekerjaan yang mengasikan selama berada di perkampungan butui, pedalaman Mentawai.

Perjalanan panjang selama empat belas hari perjalanan bukanlah waktu yang panjang bagi penulis ketika ingin menikmati kebudayaan Mentawai, berjalan kaki tidak akan melelahkan, malahan sangat mengasikkan sekali, kalau tidak percaya silakan dicoba, dari Padang ke Muara Siberut hanya membutuhkan waktu 3 jam saja, dan dulu butuh waktu satu malam, dari Muara Siberut ke Rorogot, kampung pertama untuk estafet jalan kaki hanya ditempung dalam waktu sekitar satu sampai satu setengah jam dengan boat. Dari Rorogot ke Dorodog hanya satu jam  berjalan kaki, dan bisa istirihat di rumah Koki salah sikerei untuk satu malam perjalanan. Dari Dodorog ke Madobak yaitu perkampungan pertama hanya sekitar lima jam jalan kaki, dan diteruskan di Ugai, tempat biasanya Istirahat perjalan kedua. Dari Ugai Perjalanan bisa dilanjutkan ke Butui dengan jarak tempuh sekitar satu jam. Butui mempunyai sungai yang bersih, sangat cocok untuk melakukan “ Pasigaba iba“, atau perjalanan dilanjutkan di Matotonan melewati Kampung Malagasat, untuk istirahat perjalanan ketiga. Dari Malagasat hanya membutuhkan sekitar lima jam berjalan kaki untuk mencapai Matotonan, yang sekarang sudah bisa dicapai dengan kendaraaan roda dua.  Begitulah indahnya nan mempersonanya budaya Mentawai.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, Rubrik Bendang pada 23 April 2017

‘Kieh Jo Kato’ dan Karakter Masyarakat Minangkabau*

0
Silvia Devi

Penulis : Silvia Devi, Peneliti pada BPNB Sumatera Barat

Saat ini generasi muda di Minangkabau sudah banyak yang kurang mengerti dengan  kieh jo kato. Di keluarga kita saja, menghardik anak sebuah solusi ketika kieh jo kato tidak lagi menjadi senjata ampuh untuk menyelesaikan suatu masalah. Padahal kieh jo kato ini merupakan salah-satu metode dalam mendidik yang bertujuan membentuk karakter orang Minangkabau dengan berdasarkan falsafah alam takambang jadi guru. Kieh adalah cara menyampaikan sesuatu dengan tidak berterus terang atau menggunakan perumpamaan, bisa dengan sindiran yang bersifat pujian maupun cemoohan. Navis (1984) dengan menariknya menjelaskan bahwa kieh juga dikenal dengan istilah sindia, hereanggendeang, dan  kato malereang.  Penggunaan kieh biasanya menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi sehingga orang yang diajak berkomunikasi tidak merasa direndahkan. Sedangkan kato adalah cara menyampaikan sesuatu dengan berterus terang atau terbuka akan tetapi tetap memperhatikan pemilihan kata-kata yang digunakan.

Sebagai  orang Minangkabau, dalam berbahasa sudah seharusnya mengerti akan kieh jo kato seperti ungkapan tau di kieh kato sampai.  Di dalam berinteraksi antara sesama dengan melakukan sebuah komunikasi, tentu terdapat adab sopan santun dalam berbahasa agar interaksi tersebut dapat berjalan dengan baik. Jika dalam berinteraksi, komunikasi yang digunakan tidak sopan, maka bisa dibayangkan akan terjadi kesalahpahaman yang bukan tidak mungkin berujung pertumpahan darah. Oleh karena itu sangat perlu diperhatikan dengan siapa kita berkomunikasi, dalam situasi apa dan dengan pemilihan bahasa yang tepat. Hal ini dilakukan agar maksud yang akan disampaikan dalam berkomunikasi dapat tersampaikan dengan baik.

Penggunaan bahasa kieh pada orang Minangkabau sangat tertata rapi dalam ragam bahasa adat. Hal ini terlihat dalam setiap penyelenggaraan prosesi adat baik itu kelahiran, perkawinan, penobatan gala sampai pada prosesi kematian. Penggunakan kieh berlaku di semua daerah di Minangkabau dan dapat dilihat pada petatah petitih, pidato adat atau nasehat yang diungkapkakan dalam setiap rangkaian prosesi tersebut.

Oktavianus dan Ike Revita (2013: 130) mengungkapkan bahwa orang Minangkabau yang menggunakan bahasa kiasan (kieh) menggambarkan sebagai masyarakat yang memiliki budaya yang bersifat dinamis, terbuka dan fleksibel. Penggunaan metafora dalam kieh menunjukkan kesantunan yang mampu menjaga harga diri masing-masing pihak agar terhindar dari konflik. Biasanya konflik terjadi berawal dari kesalahpahaman dalam pemakaian bahasa. Oleh karena itu masyarakat Minangkabau dalam  berkomunikasi sangat dianjurkan untuk berhati-hati seperti ungkapan bakato siang caliak-caliak, bakato malam danga-dangaan.

Kieh sangat dikenal dalam sastra Minangkabau, dan juga berlaku dalam ruang lingkup kebudayaan Minangkabau secara luas. Hal ini sesuai dengan falsafah yang dianut oleh orang Minangkabau yakni alam takambang jadi guru. Alam menjadi sumber inspirasi dan berperilaku dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Oleh karena itu gambaran alam akan menjadi perumpamaan yang sangat tepat bagi orang Minangkabau yang hidupnya sangat bergantung dengan alam.

Karakter

Karakter seseorang dibentuk semenjak usia dini. Oleh karena itu apabila yang ditanam kebaikan maka akan menuai kebaikan kelak di masa pertumbuhan dan perkembangannya menuju kedewasaan. Thomas Lickona (1991)  mengungkapkan bahwa kualitas karakter suatu masyarakat dicirikan dari kualitas karakter generasi mudanya. Hal ini bisa menjadi indikator penting apakah suatu bangsa bisa maju atau tidak.  10 tanda dari karakter generasi muda yang perlu dicemaskan karena akan mendatangkan kehancuran salah satunya yakni penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk .

Penananam karakter yang berkualitas menjadi sangat penting dilakukan sejak usia dini. Terlebih dengan semakin kuatnya arus globalisasi yang sulit untuk dibendung. Tempat pendidikan karakter yang paling pertama dan utama adalah keluarga. Perihal ini berkenaan dengan pentransferan kieh jo kato. Pentransferan kieh jo kato tersebut memiliki metode, begitu juga dengan orang Minangkabau sebagai penganut matrilineal.

Metode kieh jo kato dalam pendidikan masyarakat matrilineal sudah diajarkan nenek moyang masyarakat Minangkabau.  Metode ini bertujuan dalam menyampaikan pesan-pesan yang bernilai edukatif dari seorang mamak, ibu dan anggota kerabatnya.  Kieh jo kato yang bersumber dari alam menjadi pedoman masyarakat dalam memupuk ketajaman berfikir yang membentuk karakter seseorang. Ungkapan-ungkapan kieh dapat bernilai positif seperti ibaraik ilmu padi, makin barisi makin tunduk (ibarat ilmu padi, makin berisi makin tunduk). Kieh ini mengajarkan agar orang-orang yang tinggi ilmunya tidak menjadi orang yang sombong [Jamna,?].

Kieh yang diajarkan dalam sistem matrilineal orang Minangkabau salah satunya alasan menjadi penting adalah dikarenakan sistem keluarga luas yang dianut. Adanya pola hubungan kekerabatan ipa bisan, anak kemenakan, minantu mintuo, dimana hubungan yang tercipta jika tidak disikapi dengan baik akan mudah menimbulkan konflik. Begitu juga sebaliknya, jika anggota keluarga luas semakin bisa menyikapi dengan ketajaman berfikir dari kesopanan berbahasa dalam menggunakan kieh jo kato maka akan menciptakan hubungan keluarga yang harmonis. Meskipun kieh  yang akan disampaikan tujuannya untuk menyindir atau bahkan mencemooh pihak lain, akan tetapi dengan penyampaian menggunakan kieh  maka tidak akan secara langsung membuat emosi seseorang tidak terkendali dikarenakan merasa direndahkan. Itulah keistimewaan penggunaan bahasa kieh  yang menjadi kebanggaan budi bahasa, terutama orang Minangkabau.

Berbeda halnya dengan metode kato yang menyampaikan pesan atau maksud dengan menggunakan kata-kata secara langsung berterus terang. Aggota keluarga luas juga menerapkan pendidikan karakter dengan keterbukaan atau jujur. Jika ada suatu pesan yang disampaikan maka akan diungkapkan tidak menggunakan kieh.  Penggunaan kato harus memperhatikan kepada siapa ditujukan, dimana tempat menyampaikan dan situasi dalam penyampaian kato tersebut. Hal ini dikarenakan akan berdampak langsung kepada pihak yang akan menerima pesan. Meskipun orang Minangkabau sangat menyukai keterbukaan, yang lebih diutamakan adalah kehati-hatian dalam memilih kata-kata yang akan disampaikan. Seperti ungkapan kok mangecek maagak-agak, pikiakan kalau bakato, tapi usah katokan nan tapikia, sabab luko di pisau tampak darah, duo tigo taweh panawa, tapi luko di lidah sulik ubeknyo. Ungkapan itu sangat ditekankan kepada anak kemenakan sebagai jiwa-jiwa yang penuh gejolak yang terkadang dengan sangat emosional dalam mengungkapkan isi hatinya, sehingga kurang memikirkan akibat di belakangnya.

Harapan ke depannya, kieh jo kato menjadi hal yang penting untuk dipelajari, dipahami dan dilaksanakan. Hal ini bertujuan dalam pembentukan karakter seseorang terutama generasi muda menjadi karakter yang berkualitas.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, Rubrik Bendang pada 16 April 2017

Memaknai Perhelatan*

0
Rismadona

Penulis : Rismadona, Peneliti pada BPNB Sumatera Barat

Jamak kita jumpai terutama di perkotaan, melaksanakan perhelatan bukan lagi di rumah para mempelai tapi dilakukan mulai dari gedung biasa, gedung mewah dan supermewah. Berbagai fenomena unik dan menarik sering kita jumpai dalam perihal perhelatan itu sendiri, seperti perihal tamu. Tamu merupakan raja bagi tuan rumah yang pernah didengungkan oleh tetua-tetua terdahulu dan menjadi tradisi bagi masyarakat untuk memuliakan tamu saat datang kerumah kita. Kadang kala, si punya perhelatan tidak lagi merajakan tamu sehingga interaksi yang dilakukan setoran dan salaman. Bahkan lebih sedihnya lagi, undangan memberikan selamat  kepada sang pengantin, orang tua pengantin sibuk bukan lagi meladani tamu tapi ikut duduk bersanding dan berfoto narsis. Apa kata dunia, orang tua dianggap tak pernah merasa bahagia semasa mudanya atau istilah orang minang kebudan-budanan. Perilaku pengantin saat bersanding masih juga  sibuk chating untuk WA, Facebook tanpa menghiraukan para tamu yang memberikan selamat atas pernikahannya. Kita tidak bisa marah, bagaimana menyalahkan anak, orang tuanya juga demikian tidak mengenal sopan santun dan tata krama dalam berhubungan dengan masyarakat, anak kencing berdiri, guru kencing berlari-lari. Sebuah petatah petitih yang menjelaskan fenomena lingkungan yang telah membentuk perilaku anak tersebut, terutama adopsi tata krama dilakukan oleh orang tua dalam keluarganya.

Hal tersebut tidak terlepas bahwa persoalan wujud kebudayaan itu sendiri. Wujud kebudayaan berupa nilai-nilai yang dianggap sakral dalam kehidupan masyarakat memiliki pergeseran akibat perkembangan ilmu pengetahuan. Biasanya baralek dilakukan di rumah para mempelai dengan jamuan hidangan dan tata sapaan yang hangat terjalin antar individu itu sendiri dalam berinteraksi satu sama lain.

Berbeda dengan perhelatan yang dilakukan pada masyarakat kampung dengan rumahnya yang sederhana. Masyarakat kampung walau telah mengenal  teknologi, namun belum begitu terjamah oleh perilaku hidup perkotaan. Budaya solidaritas masih bertahan, hubungan interaksi masih berlangsung, tamu menjadi raja bagi tuan rumahnya sendiri, begitu tamu datang disambut dengan hangat, dipersilahkan masuk, dipersilahkan makan, dicarikan tempat duduk, jika sudah penuh maka tuan rumah tadi menyampaikan pesan, maaf bapak, ibuk, kursi sudah penuh, bersabar sebentar. Ucapan tersebut memberikan perhatian kepada para undangan bahwa mereka datang dihargai oleh tuan rumah itu sendiri, sehingga ada kesimbangan perilaku yang diharapkan berupa setoran atau kado dengan pelayanan terhadap tamu tersebut. Masyarakat kampung merasa malu apabila tamu-tamunya tidak bisa dilayani sepenuhnya oleh tuan rumah itu sendiri.

Walaupun hal yang demikian, sebuah fenomena terbaru saat perhelatan dilakukan dikampung-kampung, pola individualistis sedang berkembang pada saat ini. Kadangkala kita bertanya mana tuan rumahnya, si pangka, dimana tempat duduk para undangan dan sampah yang berserakan serta sisa hidangan yang masih terdapat di meja makan, sehingga merusak pemandangan mata. Kontrol dalam pelaku-pelaku pemilik perhelatan itu sendiri tidak lagi berfungsi karena semuanya dipercayai kepada pemilik catering. Prinsip interaksi  tersebut siapa lu siapa gua – istilah orang sekarang sehingga tamu bukan lagi raja dalam kehidupan masyarakat, tapi sebagai orang-orang pemberi setoran tanpa dipedulikan apakah sudah makan atau belum, apa kenyang atau tidak.

Tradisi kapitalis telah menggerogoti budaya masyarakat yang kian lama dipertahankan, karena orang melihat interaksi tersebut bersifat finansial  dan materi saja sehingga melalaikan budaya leluhur yang pernah bertahan dengan sopan santun dan tata krama. Perihal ini haruslah kita buang jauh-jauh dan jadikanlah budaya luhur kita sebagai peganggan hidup dalam kehidupan ini.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, Rubrik Bendang pada 9 April 2017

Komandemen Sumatera*

0
Undri

Penulis : Undri, Peneliti pada BPNB Sumatera Barat

Pembentukan Komandemen Sumatera bisa dirunut dari kondisi bangsa Indonesia setelah merdeka. Setelah Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat) sebagai bagian dari Badan Pertolongan Korban Perang. BKR bukan badan militer dan semata-mata semacam Hansip Wanra saja saat itu. Pada tanggal 5 Oktober 1945, B.K.R ini dengan maklumat Pemerintah no.6, telah ditransformasikan menjadi T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat). Isi maklumat  untuk memperkuat perasaan keamanan umum, maka diadakan satu Tentara Keamanan Rakyat. Pada tanggal 6 Oktober 1945 keluar maklumat tambahan yaitu, sebagai menteri keamanan rakyat diangkat Soeprijadi.

Untaian mengenai Komandemen Sumatera ini secara gamblang dijelaskan oleh Chairul Basri dalam bukunya dengan judul Apa Yang Saya Ingat (2003) menjelaskan bahwa pada awalnya Komandamen Sumatera berpusat di Prapat –Sumatera Utara. Markas Komandemen Sumatera ditempatkan di sebuah villa besar, bertingkat, berkas peristirahatan Gubernur Belanda di zaman Hindia Belanda. Di daerah ini komandemen tidak dapat berfungsi penuh. Tempatnya terlalu terisolasi dan markas ini tidak mempunyai perangkat perhubungan yang dapat menghubungkan markas ini dengan kesatuan-kesatuan di seluruh Sumatera. Mayor Sudarsono komandan seksi Perhubungan yang ditugaskan untuk membangun perhubungan komandemen ternyata mempunyai banyak kesulitan untuk mendapatkan alat perhubungan. Sebagian pejabat seperti Kolonel M. Nuch yang memimpin komandemen di Sumatera Selatan tidak pernah datang ke Prapat. Semua ini, membuat komandemen tidak berfungsi. Akhirnya seksi Intelijen Komandemen dipindahkan ke Pematang Siantar tepatnya di Marihat, khususnya bagian yang harus menghadapi tugas Sumatera Timur.

Dengan terbentuknya kantor di Marihat, yang akan memantau front Sumatera Timur, Tapanuli dan Aceh maka kantor intelijen sekarang ini mempunyai dua kantor. Kantor yang lain ada di Bukittinggi, yang memantau kejadian-kejadian di front Padang dan sekitarnya, serta seluruh Sumatera Tengah meliputi Sumatera Selatan.

Komandemen Sumatera pindah ke Bukitinggi beberapa hari sebelum agresi Belanda pertama.  Pada waktu ini yang seharusnya komandemen yang membentuk kesatuan-kesatuan, tetapi sekarang terbalik. Devisi lebih dahlu lahir dari komandemen. Laskar-laskar lebih dahulu lahir dari komando-komando.

Di Sumatera Barat proses menentarakan laskar ini berjalan lancar. Sumatera Barat penduduknya homogen. Tidak ada pertentangan suku dan kerja sama antara pihak tentara dan pemuka-pemuka masyarakat semenjak semula berjalan lancar. Kerjasama antara tentara dan pemuka-pemuka agama misalnya telah menyebabkan laskar-laskar seperti Hisbullah dan Sabilillah dapat dijadikan batalyon-batalyon yang akhirnya menjadi bagian resimen Bukittinggi. Sebab itu Sumatera Barat dalam revolusi dapat memusatkan perhatiannya kepada musuh yaitu Belanda.

Di Sumatera Timur pertentangan antara suku dengan suku sangat tajam. Mereka hanya mengenal penyelesaian masalah melalui kekerasan. Perpecahan dalam partai politik sangat mempengaruhi penyatuan laskar-laskar. Sebenarnya Komandemen Sumatera merupakan wahana yang terbaik untuk menyatukan laskar-laskar. Tetapi ini tidak dapat terwujud, dan mengakibatkan terjadinya tragedi yang menyedihkan. Semua ini membuka kesempatan bagi Belanda untuk mempercepat lahirnya negara Sumatera Timur.

Kemudian ketika Hatta diangkat menjadi perdana menteri pada Januari 1948, dia juga menjabat sebagai menteri pertahanan dihadapkan kepada semakin mengecilnya wilayah kekuasaan republik, terutama di Jawa. Dia membuat rencana bersama kolonel A.H. Nasution, Panglima Devisi Siliwangi dari Jawa Barat untuk merampingkan angkatan bersenjata Republik. Dengan demobilisasi besar-besaran mereka bermaksud menjadikan struktur angkatan bersenjata sangat efisien dan sejalan dengan itu mengurangi beban keuangan negara.

Dalam perjalanannya bersama Hatta ke Bukittinggi pada bulan April 1948, Nasution menyampaikan langkah-langkah rasionalisasi itu kepada para perwira Komando Sumatera, yang semuanya menolak tegas rencana tersebut.  Perwira-perwira Sumatera mengemukakan bahwa reorganisasi itu mungkin baik untuk diterapkan di Jawa, tetapi tidak cocok sama sekali untuk Sumatera, Belanda hanya menguasai sekitar seperlima wilayah pulau ini sementara Jawa setengahnya. Angkatan bersenjata di Sumatera tidak menjadi beban keuangan Republik karena kebutuhan makanan prajurit dipasok oleh rakyat setempat, dan senjata mereka diproduksi secara lokal atau dibeli dengan dana hasil perdangangan dengan Singapura dan Malaysia. Kesatuan atau brigade mobil seperti itu tidak sesuai dengan tipe perjuangan rakyat yang sedang marak di Sumatera, sementara demobilisasi besar-besaran hanya akan membawa dampak psikologis yang buruk terhadap para tentara yang telah berjuang secara sukarela melawan Belanda demi membela Republik. Pertentangan teebuka oleh perwira Komando Sumatera terhadap rencana rasionalisasi itu membuat marah Hatta dan Nasution.

Komandemen Sumatera sekarang dibawah pimpinan kolonel Hidayat. Sebutannya Panglima Tentara Teritorium Sumatera (PTTS). Pada waktu kolonel Hidayat memimpin Komandemen Sumatera, Devisi Benteng sedang menghadapi peralihan. Kepergian Ismail Lengah-pemimpin Devisi Banteng ke Jawa waktu itu menimbulkan luka yang dalam diantara para perwira Devisi Banteng. Waktu itu Kolonel Hidayat masih memerlukan waktu untuk dapat menyesuaikan sikap dan tindakannya dengan situasi di Sumatera Barat.

Adanya jurang antara pimpinan dan yang dipimpin tidak memudahkan tugasnya. Tindakan yang pertama ialah memecah daerah Devisi Banteng atau sub-teritorial Sumatera Tengah menjadi sub-teritorium Sumatera Barat dan Sub-teritorial Riau. Devisi Banteng, setelah Kolonel Ismail Lengah dicopot sudah seperti ayam kehilangan induk. Ditambah satu pukulan psikologis yaitu terbaginya Sumatera Tengah menjadi sub-teritorial tersebut. Kejadian-kejadian ini menggoyahkan kepemimpinan Devisi Banteng, justru pada saat Republik menghadapi argesi militer Belanda II.

Pada waktu agresi militer Belanda II ini markas komandemen Sumatera di Bukittinggi pernah di bom oleh Belanda ketika para anggota Komandemen Sumatera sedang rapat. Seiring dengan kondisi ini pada tanggal 21 Desember 1947 Bukittinggi dibumihanguskan. Dengan kondisi inipun basi komandamen Sumatera di pindahkan ke Rao. Komandemen memilih Rao sebagai basis mengingat letak geografisnya dan mudah berhubungan dengan Tapanuli. Dari Rao ada jalan yang menuju ke Rokan, Pasir Pangarayan dan Bagansiapiapi langsung ke Selat Malaya dan Singapura. Selain menentukan basis perjuangan komandemen Sumatera juga dibentuk staf komandemen Sumatera. Letnan Kolonel A. Tahir ditetapkan sebagai kepala staf, Mayor Chairul Basri Staf Umum I (intelijen), Mayor Kartakesuma sebagai Staf Umum II (Operasi), Mayor Tjakradipura sebagai staf III (Personil) dan Kapten D.I Pandjaitan sebagai Staf Umum IV (Logistik). Tugas mereka selain membantu Panglima juga menyediakan logistik untuk front.

Rao merupakan benteng Komandemen Sumatera terakhir. Komandemen Sumatera berangsur-angsur mulai di demobilisasi. Perwira-perwiranya ditempatkan oleh Panglima ke berbagai daerah. Letnan Kolonel Ahmad Tahir ditarik  ke Jakarta. Mayor Tjakradipura di tarik ke Jakarta. Kapten Panjaitan dan Mayor M.M.R Kartakesuma ditempatkan di Medan. Demgan demikian selesailah tugas komandemen di daerah Rao. Sebagian dari tugasnya dibebankan kepada Markas Besar Angkatan Darat Jakarta. Wassalam.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, Rubrik Bendang pada 2 April 2017

Air Bangis dan Laut yang Kaya*

0
Zusneli Zubir

Penulis : Zusneli Zubir, Peneliti pada BPNB Sumatera Barat

Air Bangis adalah salah satu nagari penghasil ikan terbesar di daerah Pasaman Barat. Di nagari inilah berlokasi salah satu Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar dan tersibuk di Sumatera Barat.Nagari ini, nagari satu-satunya yang dimiliki Kecamatan Sungai Beremas ini, juga memiliki pantai terpanjang dibandingkan daerah-daerah di Pasaman Barat lainnya. Panjang garis pantainya adalah 72,56 kilometer, lebih dua kali lipat dari panjang pantai Sasak Ranah Kinali yang hanya 31,67 kilomter.

Dengan potensi serupa itu, tidak heran, jika masyarakat Air Bangis menjadi masyarakat pantai yang mayoritas bekerja sebagai penangkap ikan atau nelayan. Jika kita telusuri perjalanan sejarah masyarakat Air Bangis, pekerjaan sebagai nelayan itu tidak dijalani dewasa ini saja, tetap sejak dahulu kala. Masyarakat Air Bangis sudah menggarap laut sebagai tempat memperoleh hasil untuk kehidupan mereka sudah sejak sebelum Indonesia merdeka. Setelah Indonesia merdeka, dominasi laut sebagai ruang hidup semakin terasa. Menurut sebuah laporan, pada tahun 1952 Air Bangis telah menjadi salah satu di antara derah penghasil ikan utama di kawasan pesisir barat Sumatera Tengah. Sepanjang garis pantai Air Bangis hingga ke Sasak menghasilkan tidak kurang dari 620,6 ton ikan pada tahun tersebut.

Pada kurun 1950an itu, Air Bangis dan daerah-daerah penghasil ikan laut di sepanjang pesisir barat Sumatera Tengah pada umumnya, melaksanakan usaha penangkapan ikan masih dengan alat-alat yang sederhana yang terdiri dari bermacam-macam menurut keadaan setempat. Sepanjang pantai barat itu, keadaan pantainya sangat curam, gelombangnya tinggi dan kuat. Berdasarkan kondisi demikian, para nelayan melakukan penangkapan ikan masih di tep pantai dengan mempergunakan alat-alat tangkap seperti: colok, pukat payurng, pukat tepi, pukat lampur, jaring irik, jaring koki, jaring asan aso, kissah, luka (bubu), jala dan pancing rawe.

Selain penangkapan ikan, masyarakat nelayan di Air Bangis pada kurun tersebut telah menguasahakan pembuatan minyak hiu atau “hati ikan tjutut”. Pembuatan minyak hiu itu “dilakukan setjara perseorangan jang sederhananja sadja dan dikerdjakan pada musim hudjan”, demikian dalam laporan Kementerian Penerangan berjudul Propinsi Sumatera Tengah.Minyak hiu itu digunakan/dipakai terutama untuk penyemir pakaian kuda. Pada perusahaan yang telah lebih maju, minyak tersebut diolah menjadi minyak ikan yang di antaranya berguna sebagai ‘obat gemoek’. Sementara sirip dan ekornya sangat digemari oleh orang Tionghoa.

Pada periode selalanjutnya, kehidupan masyarakat Air Bangis  hingga 1970 tampak makmur. Hal ini dibuktikan bahwa pada kurun 1950an-1970an itu banyak orang Air Bangis yang naik haji dan menuntut ilmu agama ke Mekkah. Beberapa orang yang pulang dari Mekkah kemudian di Air Bangis mengajarkan ilmu agamanya kepada masyarakat. Pada kurun ini, Air Bangis dijuluki “Makkah Kaciak”, atau “Makkah Kecil” karena itu.

Tampaknya kemakmuran itu terus berlanjut. Sampai tahun 1977, didapatkan keterangan bahwa Air Bangis menghasilkan 3500 ton ikan laut segar per tahun, enam kali lipat dari produksi pada 1952. Jumlah itu belum termasuk produksi ikan kering yang mencapai 507 per tahunnya. Pada kurun tersebut, jenis ikan yang ditangkap para nelayan pun bervariasi: tenggiri, cakalang, tandeman/aso-aso, hiu, udang, teri, bawal dan lain-lain, demikian itu terdapat dalam Monografi Air Bangistahun 1977.

Menurut sumber yang sama, pada tahun tersebut, jumlah nelayan Air Bangis berjumlah 745 orang, sedangkan jumlah perahu penangkap ikan terdiri dari 333 buah perahu layar dan 16 buah perahu motor. Sementara alat penangkap ikan yang digunakan nelayan Air Bangis pada 1977 itu juga bermacam-macam, mulai dari pukat tepi, payang, pukat irik/lore, jaring tobi, jaring aso-aso, jala, monofilamentnet dan gill-net.

Setelah tahun 1980an, usaha penangkapan ikan semakin berkembang luas di Air Bangis.Baik pemutaakhiran teknologi alat tangkap, semisal jaring dan perahu, maupun pembangungan TPI, di samping pemberian kredit kepada nelayan sebagai dasar permodalan, telah mempu mengubah aktivitas nelayan Air Bangis: meningkatkan produksi dan menambah omzet bahkan hingga dewasa ini. Sebagaimana diketahui produksi ikan laut di Kabupaten Pasaman Barat pada tahun 2015 ditargetkan mencapai 42 ribu ton. Produksi tahun 2015 itu, tentu saja mengalami peningkatan dari tahun 2013 tercatat sebanyak 34,4 ribu ton. Sedangkan pada tahun 2012 produksi ikan tangkapan nelayan tercatat sebanyak 32,2 ribu ton. Angka itu juga terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya (2011) dengan produksi tercatat sebanyak 28,9 ton.

Namun, anehnya, angka-angka statistik menyatakan bahwa masyarakat nelayan kebanyakan masihlah miskin. Ini memang perlu menjadi perhatian lebih serius dari semua pihak terkait, tidak saja pemerintah daerah setempat tentu saja, tetapi juga masyarakat Air Bangis sendiri.

Sekalipun begitu, laut Air Bangis tetaplah menjadi tumpuan hidup banyak orang, yang mana mereka saban waktu menaruhkan harapan kepada hasil yang terkandung dalam perut laut itu. Sekalipun sejak awal 1980an, misalnya, telah mulai tumbuh perkebunan sawit di Pasaman (pada awal tahun 2000an di Air Bangis), tetapi nyaris tidak banyak nelayan Air Bangis yang berpindah kemudi ke darat, meninggalkan laut untuk beralih menjadi pekerja di perusahaan-perusahaan sawit yang tumbuh pesat di Pasaman umumnya dan di Air Bangis sendiri khususnya. Dari wawancara dengan Fatman, seorang penduduk Air Bangis, didapatkan keterangan bahwa: “Kalau dia sudah melaut, jarang yang pindah menjadi petani sawit.”

Air Bangis dengan lautnya masihlah primadona sebagai tempat mencari hidup bagi orang di pesisir pantai terpanjang di Pasaman Barat itu, bahkan tidak saja untuk orang Air Bangis sendiri, tetapi juga beberapa daerah tetangga seperti Sibolga, banyak juga yang datang ke sini untuk mencari penghidupan. “Kalau mau mencari hidup, ke Air Bangis inilah puncaknya, sehingga banyak orang Sibolga mencari hidup ke sini”.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, Rubrik Bendang pada 26 Maret 2017

Air Bangis, Cengkeraman Jepang, dan Api Revolusi*

0
Zusneli Zubir

Penulis: Zusneli Zubir, Peneliti pada BPNB Sumatera Barat

Masa Jepang adalah masa yang pahit bagi masyarakat Indonesia nyaris di mana pun. Gambaran kelam tentang kekejaman manusia terhadap manusia lain akan ditemukan selama masa ini. Tidak terkecuali jika kita melirik kepada sejarah Air Bangis selama di bawah cengkeraman Jepang.

Untuk periode Jepang ini, di Air Bangis, sebagaimana kebanyakan daerah lain di Sumatera Barat, Jepang mengambil laki-laki dewasa untuk bekerja sebagai romusha membangun rel-rel kereta api di Logas. Sementara perempuan karena takut akan dijadikan pemuas nafsu tentara, banyak yang melarikan diri dibawa keluarganya ke hutan. Menurut Agus Zahir:  “Pada masa Jepang, banyak laki-laki Air Bangis dikirim untuk kerja paksa atau yang dikenal dengan romusha. Sementara beberapa perempuan lari ke hutan karena takut dijadikan pemuas nafsu  para tentara.”

Romusha sendiri berasal dari bahasa Jepang yang berarti ‘pekerja- buruh kasar’. Namun, dalam konteks sejarah Indonesia, istilah ini mempunyai pengertian khusus, mengingatkan rakyat akan pengalaman yang pahit di bawah pemerintah Jepang. Bagi orang Indonesia, romusha berarti buruh-kuli yang dimobilisasi untuk bekerja-paksa di bawah kekuasaan militer Jepang.

Menurut Koichi Kimura, dalam buku berjudul Momoye Mereka Memanggilku,kebijakan romusha berawal dari ideologi Asia Timur Raya yang sedang digalang Jepang pada kurun itu. Salah satu isi dari ideologi itu adalah pembangunan dan jaminan keamanan terhadap sumber daya alam untuk keperluan industri militer, antara lain minyak, karet, pertambangan, dan lain-lain. Maka untuk memperlancar usaha pendistribusian keperluan militer tersebut, pemerintah militer Jepang di Sumatera membangun rel kereta api antara Muara Sijunjung hingga Pekanbaru.

Proyek pembangunan rel kereta api tersebut membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang banyak. Hal ini menjadi problem tersendiri bagi pemerintah pendudukan Jepang di Sumatera. Dalam kenyataannya, jumlah penduduk di sepanjang rel itu sangat jarang. Untuk mengatasi persoalan ini, Jepang mencoba untuk mengeluarkan kebijakan mendatangkan pekerja dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk di antaranya romusha yang berasal dari Air Bangis.

Namun, periode yang kejam dan kelam itu tidak otomatis berhenti ketika Indonesia merdeka. Lepas dari cengkeraman Jepang, Belanda hendak berkuasa lagi di Indonesia. Selama masa revolusi fisik (1945-1950) Indonesia berada dalam kondisi “darurat perang”. Kondisi-kondisi seperti inilah yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia selama masa ini. Ketidakstabilan kehidupan sosial muncul di berbagai tempat di wilayah Indonesia, tidak terkecuali di Air Bangis.

Kemerdekaan yang telah dikumandangkan oleh pemerintah Indonesia, dicoba untuk digagalkan oleh kehadiran tentara pendudukan NICA. Sontak, rakyat yang telah menggenggam kemerdekaan lalu angkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih. Perang pun meletus antara Belanda yang hendak berkuasa lagi dengan masyarakat Air Bangis yang ingin mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perang itu, menelan korban jiwa yang tidak sedikit, terutama dari kalangan masyarakat Air Bangis sendiri yang memang terbatas secara persenjataan. Banyak di antara mereka yang terbunuh.

Dalam sebuah wawancara dengan Agus Zahir, warga Air Bangis, dikatakan: “Di sepanjang pelabuhan terdapat benteng Belanda, sudah hancur ditelan ombak. Ada juga mess Belanda, bangunan tempat tinggal pihak kolonial. Pada masa Agresi Militer, banyak orang Air Bangis yang dibunuh dan dikubur tentara Belanda di belakang mess itu.”

Kita telah melihat bagaimana masyarakat Air Bangis menghadapi kemelut sejarah dua zaman: pada zaman Jepang dan pada zaman revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan. Dari keterangan itu kita juga dapat mengatakan bahwa tragedi demi tragedi terus berlangsung di Indonesia, khususnya di Air Bangis. Sebelum Indonesia benar-benar merdeka pada 1950, masyarakat Air Bangis hidup di bawah cengkeraman kuku penjajahan yang berganti-ganti.

Oleh sebab itu, kepada seluruh masyarakat Air Bangis khususnya, dan kepada anak bangsa Indonesia pada umumnya, tiada jalan bagi kita di masa sekarang selain harus bekerja keras membangun bangsa ini untuk berjaya di masa datang sebagaimana pejuang-pejuang di masa lalu telah melakukannya untuk hidup kita sekarang.

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, Rubrik Bendang pada 19 Maret 2017

Air Bangis dan Kuasa Kolonial*

0
Zusneli Zubir

Penulis: Zusneli Zubir, Peneliti pada BPNB Sumatera Barat

Air Bangis menjadi daerah penting di masa lalu. Salah satunya pada masa ketika pemerintah kolonial Belanda berkuasa.

Bagi pemerintah kolonial Belanda, Air Bangis adalah salah satu kota pelabuhan yang terpenting di Pantai Barat Sumatera.Kedudukan pemerintah kolonial Belanda di Air Bangis dimulai pada awal abad ke-19, ketika pemerintah kolonial Belanda mendirikan sebuah benteng di Air Bangis.

Menurut Mestika Zed dalam artikelnya yang berjudul “Tuanku Rao: Riwayat Hidup Tokoh Paderi Di Kawasan Utara Minangkabau”, sebelum Belanda membangun benteng di Air Bangis, telah terdapat benteng Padri di situ. Pada periode Padri, Urang Kayo Rao beserta pasukannya pernah mengundurkan diri ke Air Bangis,membangun perkubuan di situ, namun berkemungkinan harus berhadapan dengan Belanda yang menyebabkan Urang Kayo Rao menyingkir ke tempat lain, ke Dalu-dalu.

Setelah mengusir Padri dari situ, Belanda sendiri kemudian membangun benteng di Air Bangis. Sampai sekarang masih ditemukan peninggalan arkeologis benteng Belanda di tepi laut Air Bangis.

Belanda membangun benteng di Air Bangis karena menyadari kenagarian di pantai barat Sumatera Barat itu adalah pintu gerbang ekonomi utama kaum Padri ke wilayah laut di pesisir barat. Christinne Dobbin,  dalam “Economic change in Minangkabau as a factor in the Rise of the Padri Movement, 1784-1830”, menganggap daerah ini sebagai “poros ekonomi” utama di pantai Barat Sumatera bahkan sejak periode abad ke-18 bersama-sama dengan Natal, Barus dan Pariaman.

Pelabuhan Air Bangis pada kurun Padri selalu menjadi incaran kepentingan ekonomi Belanda dan sekaligus untuk menutup hubungan perdagangan Padri dengan kawasaan pantai. Pada bulan Januari 1830 Urang Kayo Bonjol dengan 3000 pasukan gabungan dari Padri Bonjol dan Rao pernah pula berbaris menuju Air Bangis untuk memblokir pos Belanda di sana selama empat hari empat malam. Pasukan Padri berhasil membunuh hampir dua pertiga personil Belanda di sana, lalu kemudian mundur ke garis pertahanan mereka, dan tidak mampu mengambil-alih benteng Belanda di situ, demikian kata Sjafnir Aboe Nain dalam bukuTuanku Imam Bonjol. Sejarah Intelektual di Minangkabau (1884-1932).

Setelah Perang Padri usai, pemerintah kolonial Belanda tampaknya masih terus menganggap Air Bangis sebagai daerah pentingnya, ini terbukti dengan ditetapkannya Air Bangis sebagai ibukota Residensi Tapanuli. Betul saja, Air Bangis dipilih salah satunya karena keramaian kota-bandar ini dalam perdagangannya. Sebagai ibukota residensi, tulis M. Nur dalam Bandar Sibolga di Pantai Barat Sumatera pada abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20, selain berdiri benteng Belanda yang sudah ada sejak masa Padri, di Air Bangis kemudian juga dibangun bangunan-bangun kolonial lain seperti rumah residen, kompleks tangsi, penjara, kantor pajak (pakhuis), dan lain sebagainya.

Di antara Residen Tapanuli yang pernah berkantor/berkedudukan di Air Bangis adalah A.L. Weddik dengan asisten yang dijabat L.A. Galle pada tahun 1843. Residen setelahnya adalah A. van der Haart yang berkedudukan di Air Bangis pada 1843-1848.

Peran Air Bangis sebagai ibukota residensi berakhir pada tahun 1848, ketika ibukota Residensi Tapanuli dipindahkan lebih ke utara, ke kota pelabuhan Sibolga, yang berlangsung sampai tahun 1884. Pada kurun 1884 sampai tahun 1905, pemerintah kolonial membentuk sebuah keresidenan baru dengan nama Keresidenan Air Bangis, dengan Padangsidempuan menjadi ibukota keresidenan ini.

Sejak tahun itu sampai 1913, Air Bangis merupakan sebuah kelarasan yang dipimpin oleh Kepala Laras, Syarif Muhammad gelar Tuangku Ketek, yang masih memiliki darah kerajaan. Namun, berdasarkan Statadbald No. 321 tahun 1913, jabatan Kepala Laras dihapus dan Syarif Muhammad gelar Tuangku Ketek diberikan hak pensiun. Sehingga kemudian ia dikenal dengan gelar Tuangku Laras Pensiun.

Pada periode tersebut, Air Bangis kemudian kembali menjadi setingkat nagari saja. Syarif Muhammad gelar Tuangku Ketek digantikan oleh Hidayatsyah gelar Tuangku Mudo dengan kedudukan sebagai Kepala Nagari selama 5 tahun. Ia kemudian digantikan oleh saudara sepupunya yang bernama Abdullah Kala’an gelar Tuangku Rajo Mudo sebagai Kepala Nagari dengan masa jabatan 1917 s/d 1943.

Nagari Air Bangis sendiri, di samping sebagai nagari sebagai pemerintahan tingkat pribumi, pada kurun ini juga dikenal sebagai onderafdeeling yang dipimpin seorang controluer, demikian dicatatEigen Haard, “Een Indische Buitenpost”, sebuah artikel yang terbit pada majalah Geillusveerd Volkstijaschvift tahun1902.Status nagari ini turun lagi setelah itu, hanya berstatus sebagai ‘distrik’, yang dipimpin oleh seorang demang.

Selama kurun 1928-1929, Jahja Datoek Kajo, tokoh Minangkabau yang terkenal, yang pernah pula menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat), pernah menjadi demang di Air Bangis. Dicatatkan bahwa karena tidak sepaham dengan atasannya dalam berbagai hal, Jahja diminta pindah dan menjadi demang Payakumbuh (1915-1918), Padang Panjang (1919-1928), kemudian Air Bangis (1928-1929).

 

*Tulisan ini telah dimuat di Harian Singgalang, Rubrik Bendang pada 12 Maret 2017

Meng ‘isi ulang’ Kemampuan Menulis

0
Yurnaldi, mantan wartawan Harian Kompas sedang berbagi pengalaman

Padang – Mengisi waktu di bulan puasa dilakukan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat dengan berbagai kegiatan bermanfaat. Salah satunya adalah ‘mengisi ulang’ otak dengan mengadakan diskusi penulisan jurnalistik. Tidak tanggung-tanggung kegiatan ini mengundang mantan wartawan Harian Kompas Bapak Yurnaldi sebagai narasumber. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 20 Juni 2017 di Ruang Sidang BPNB Sumatera Barat di Jl. Raya Belimbing No. 16 A, Padang dan dibuka secara langsung oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman.

Peserta diskusi

Diskusi kali ini merupakan yang kedua setelah pada bulan Maret lalu juga melakukan hal yang sama. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi pegawai dalam menulis karya jurnalistik sehingga nantinya bisa dimanfaatkan dalam mengkomunikasikan dan menginformasikan kebudayaan kepada masyarakat. Dengan demikian harapannya masyarakat dapat tercerahkan dengan informasi yang benar akan kebudayaan.

BPNB Sumatera Barat merupakan Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang tugas dan fungsinya pada pelestarian budaya. Pelestarian dimaksud adalah pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya. Untuk tujuan ini maka perlu pelibatan masyarakat secara massif sebagai pelaku budaya sehingga masyarakat merasa memiliki kebudayaan. Dengan demikian masyarakat perlu diberikan pemahaman mendalam mengenai kebudayaan itu sendiri.

Salah satu tantangan dalam memasyarakatkan kebudayaan tersebut adalah kurangnya informasi terkait substansi kebudayaan itu sendiri. Gempuran globalisasi dan perpaduan budaya mengikis minat pelaku budaya untuk bertahan pada budayanya sendiri. Hal ini akan berakibat pada hilangnya kebudayaan dan identitas pemilik budaya tersebut dan diganti dengan kebudayaan luar yang memang propagandanya cukup intens dengan memanfaatkan media yang berkembang.

Peserta diskusi

Yurnaldi, lahir di Solok 16 Juni 1966. Selama 31 tahun berkecimpung sebagai penulis dan wartawan. Beberapa media yang pernah menjadi tempat dia bekerja antara lain Kompas sebagai wartawan (pensiun tahun 2011), Konsultan Harian Singgalang, Harian Haluan Padang, Haluan Riau, Haluan Kepri. Pernah juga menjadi pemimpin redaksi Vokal Sumsel, Riau Hari Ini, Tabloid Transparan serta www.kabarminang.com.

Perjalanan karir yang panjang membuat Yurnaldi kaya akan pengalaman menulis. Dia telah menulis ribuan artikel di sekitar 70 koran di Indonesia. Dia juga menulis puluhan judul buku. Selain itu dia telah mementori banyak pelatihan penulisan dan jurnalistik serta memperoleh sejumlah penghargaan. Banyak ilmu dan pengalaman yang dibagi oleh narasumber sebagai cara memotivasi peserta untuk tidak jemu menulis. Berbagai tips juga diberikan untuk bisa bersaing dalam menghadapi persaingan dimuat dalam berbagai media cetak.

Beberapa hal yang penting juga tidak luput dalam sorotan beliau, seperti aktualitas sebuah tulisan. Beliau menekankan agar setiap tulisan mempunyai nilai kebaruan yang berbeda dengan pendapat orang lain. Selain itu tulisan populer yang dimuat dalam media cetak juga harus diupayakan untuk mengurangi istilah-istilah ilmiah. Dengan demikian pembaca, yang memang berasal dari kalangan umum dengan berbagai latar belakang yang berbeda dapat mencerna apa yang kita sampaikan.

Dengan adanya pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan menulis pegawai BPNB Sumatera Barat serta mendorong untuk semakin sering menulis dan mengkomunikasikan budaya melalui media-media cetak.

[Salinan] UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan

0

Pemerintah mengeluarkan Undang-undang (UU) baru yang mengatur tentang Pemajuan kebudayaan yakni UU No. 5 Tahun 2017. UU ini merupakan hasil pembahasan secara simultan antar pemerintah dan DPR. Dalam Undang-undang ini dimuat aturan tentang manajemen pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan. Diharapkan dengan adanya UU ini maka pengelolaan kebudayaan ke depan semakin terarah dan mampu membangun peradaban yang lebih maju dan berkualitas.

Berikut salinan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

 

Menyambung Hidup dari Anyaman ‘Lapiak’ Pandan

0

Perawakannya kecil, Kurus dan kulit sawo. Di kepalanya terikat sehelai kain kuning untuk menutup kepalanya di saat-saat kerja. Pakaiannya sederhana khas pakaian kerja, selalu begitu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Di tangannya tergenggam sebilah arit. Arit yang akan digunakan untuk mengambil helai demi helai daun pandan di sekitar rumah tinggalnya. Ia sengaja menanam tanaman pandan di sekitar rumahnya untuk mempermudah memenuhi kebutuhan dalam bekerja. Disamping lebih mudah diperoleh, juga mudah di rawat.

Rumahnya sederhana, terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung. Di depan pintunya terdapat anak tangga sekitar tiga tangga. Tangga inilah yang biasa dia lewati untuk keluar masuk rumahnya. Halamannya tidak lebar dan di pinggiran halaman ditanami bunga yang ketika hari panas akan dijadikan sebagai tempat menjemur pandan. Halaman sempit tersebut biasa dijemur pandan yang masih segar dan baru diambil, sedangkan bunga dipinggiran halaman dijadikan tempat menjemur pandan yang sudah layu. Sementara di sebelah tangga rumah terdapat onggokan daun pandan dan tikar. Ada tikar yang setengah jadi, ada juga yang sudah jadi. Di tempat inilah perempuan tersebut sehari-hari melakukan pekerjaannya.

Perempuan tersebut adalah Ibu Nurcahya. Tidak lagi muda, bahkan sudah beranjak pada usia senja. Ya umurnya sudah menginjak 65 tahun. Tapi satu yang tidak bisa hilang, keterampilan tangannya dalam menganyam masih tetap dijaga. Ibu Nurcahya adalah salah satu warga paninggahan yang masih mempertahankan tradisi menganyam pandan untuk dibuat tikar. Saban hari dia menyempatkan waktunya untuk membuat tikar dari beberapa ukuran sesuai pesanan. Ada satu bidang, dua bidang hingga tiga bidang. Selain itu, tikar yang dikerjakannya juga terdiri dari beberapa warna dengan motif yang sederhana.

Pekerjaan ini menurutnya sudah dilakukan selama puluhan tahun. Ia belajar sejak masih anak-anak lalu menerjunkan diri menjadi penganyam setelahnya. Hingga usianya 65 tahun kini, ia tetap bertahan pada pekerjaannya. Kondisi ekonomi yang cukup rentan serta kemampuan fisik yang tidak mampu lagi untuk bertani membuat Ibu Nurcahya enggan untuk pindah profesi.

Sesungguhnya secara ekonomis tikar pandan tidak begitu menguntungkan jika melihat kondisi saat ini. Banyak hal yang mempengaruhi seperti bahan baku yang kurang, pesanan yang sedikit, serta tidak adanya inovasi membuat anyaman pandan semakin tertinggal atau ditinggalkan. Waktu mengerjakan tikar pandan mulai dari pengambilan pandan hingga penyelesaian juga memakan waktu lama, bisa lebih satu minggu. Waktu lebih lama bisa saja terjadi ketika cuaca tidak bersahabat atau sedang musim hujan. Semua hal tersebut sangat mempengaruhi pada untung ruginya tikar pandan.

Proses yang harus dilalui dalam membuat satu tikar pandan antara lain menyiapkan bahan yaitu daun pandan yang lebih tua, tapi masih utuh dan hijau. Lalu duri di bagian tengah dikupas terlebih dahulu, lalu pekerjaan selanjutnya adalah mengambil duri samping sekaligus membelah daun pandan seukuran jari kelingking. Daun pandan yang sudah dibelah-belah kemudian dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari. Jika cuaca cerah maka proses pengeringan bisa sehari tapi jika hujan bisa lebih lama. Setelah dikeringkan, lalu daun pandan tersebut direbus dan dikeringkan kemudian. Setelah kering lalu diluruskan  hingga bisa dianyam dan menjadi sehelai tikar.

Proses ini dilalui Ibu Nurcahya dengan sabar dan telaten. Setelah tikar selesai, lalu dijual sendiri seharga Rp. 80.000,- hingga Rp. 300.000,- per helai tergantung ukurannya. Dari hasil penjualan tersebut, Ibu Nurcahya bisa melanjutkan hidup dengan anak-anaknya.

Di masa sekarang, kondisi anyaman pandan sudah semakin hilang dengan berbagai persoalan yang ada. Ibu Nurcahya berharap permintaan bertambah sehingga tetap bisa membuat dapurnya tetap ngebul. Peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk mendukung kerajinan ini sehingga selain menemukan pasar yang bisa menampung hasil produksi juga mampu menghasilkan inovasi sehingga masyarakat semakin tertarik membelinya. Berbagai pelatihan dan motivasi dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas dan keberagaman kerajinan pandan. Dengan demikian mudah-mudahan semakin berkembang dan mampu menopang ekonomi masyarakat Paninggahan.

Pendap, Kuliner Khas Kaur dan Bengkulu Selatan

0
Pendap, Foto. Dona

Salah satu kuliner tradisional masyarakat Kaur dan Bengkulu Selatan adalah Pendap. Makanan ini terbuat dari perpaduan ikan yang diberi bumbu dan kelapa parut lalu dimasak dalam bungkusan daun talas. Proses memasaknya cukup menyita waktu karena bisa menghabiskan sekitar delapan jam untuk bisa masak dan menghilangkan rasa gatal dari daun talasnya.

Bahan yang diperlukan untuk membuat pendap antara lain: daun talas 4-5 lembar, ikan (bisa ikan kakap, kembung, dll), kelapa parut (setengah tua), bawang putih, bawang merah, ketumbar, cabe, lengkuas, jahe, merica, kencur, garam dan penyedap rasa seperlunya.

Proses pengolahannya dilakukan dengan mendiamkan ikan segar hingga setengah membusuk. Untuk memastikan ikan tersebut setengah membusuk, biasanya didiamkan sampai seharian. Tujuannya adalah untuk menghilangkan aroma amis dari ikan tersebut.

Setelah ikan disiapkan, selanjutnya adalah bumbu. Pertama-tama adalah menggiling kelapa yang sudah diparut hingga halus. Semua bumbu-bumbu yang digunakan juga dihaluskan. Sebagian bumbu yang sudah dihaluskan serta kelapa dilumuri ke ikan yang sudah dibersihkan. Sebagian lainnya ditumis dalam kuali yang berbeda lalu dimasukkan santan hingga matang.

Ikan yang sudah dilumuri kelapa giling dan bumbu kemudian dibungkus menggunakan daun talas. Di bagian luarnya dibungkus lagi dengan daun pisang dan diikat daun pandan. Bungkusan ikan dan bumbu selanjutnya dikukus sampai matang. Setelah masak, ikan kemudian diangkat lalu dimasukkan ke dalam santan yang telah dipanaskan. Ke dalam santan masukkan 10 asam kandis.

Waktu memasak pendap, api harus dipastikan besar dan biasanya memakan waktu hingga delapan jam. Hal ini untuk memastikan rasa gatal dari daun talas benar-benar hilang.

Setelah masak, pendap siap dihidangkan sebagai lauk ketika acara makan keluarga sementara  pada masa lalu sering disajikan pada upacara adat. Hingga kini pendap sudah dijadikan komoditas ekonomi yang diperjual belikan sebagai oleh-oleh. Cita rasa yang enak dan gurih membuat makanan ini sangat laku di pasaran, bahkan sampai ke luar provinsi.

‘Lapiak’ Pandan Nagari Paninggahan Direkam

0
Proses menganyam lapiak pandan, Foto. Firdaus

SolokLapiak pandan adalah tikar yang berbahan dasar daun pandan. Pada senin hingga sabtu 22-26 Mei 2016 Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat melakukan perekaman lapiak pandan di Nagari Paninggahan Kabupaten Solok. Perekaman ini untuk mendokumentasikan proses pembuatan tikar pandan, mulai dari pengambilan bahan baku hingga menganyam jadi tikar.

Proses menganyam lapiak pandan, Foto. Firdaus

Latar belakang pendokumentasian lapiak pandan sesungguhnya tidak lepas dari tugas dan fungsi BPNB Sumatera Barat sebagai pelestari budaya. Lapiak pandan merupakan salah satu produk budaya masyarakat dalam aktivitas memenuhi kebutuhan ekonomi. Pengerjaannya dilakukan secara manual dengan tangan dan alat-alat yang begitu sederhana. Bentuknya juga cukup sederhana persegi panjang kira-kira 1×3 meter. Bentuk yang sederhana ini sebagian ada yang polos, sebagian yang lain ada yang berwarna dengan gambar motif yang juga sangat sederhana.

Tanaman pandan, Foto. Firdaus

Namun demikian keguanaannya sangat beraneka ragam. Setiap keluarga di Paninggahan pada masa lalu umumnya menggunakan lapiak pandan dalam berbagai pekerjaan terkhusus yang memerlukan alas. Ada alas duduk, tidur, menjemur hasil pertanian. bahkan untuk orang yang meninggal.

Berbagai ragam fungsi dan kegunaan tersebut membuatnya mempunyai posisi penting dalam masyarakat. Hal ini turut mempengaruhi permintaan yang meningkat. Secara perlahan tikar menjadi barang ekonomis yang diperjualbelikan. Kondisi tersebut mendorong kerajinan anyaman lapiak menjadi digemari karena dapat membantu ekonomi rumah tangga. Ada yang menjadikan pekerjaan menganyam sebagai pekerjaan sampingan, tapi tidak sedikit juga yang menjadikannya sebagai pekerjaan utama dan menjadi gantungan hidup. Umumnya masyarakat Paninggahan mengetahui cara menganyam pandan menjadi tikar.

Tanaman pandan, Foto. Firdaus

Namun demikian dengan perkembangan teknologi yang semakin maju menawarkan berbagai jenis tikar yang lebih ringan, murah, tahan lama dan mudah disimpan. Selain itu tikar tersebut juga lebih mudah diperoleh dan sesuai dengan selera. Kondisi tersebut mengakibatkan minat akan lapiak  semakin berkurang. Tidak saja karena kalah menarik, mahal, lama dan tidak tahan lama yang membuat masyarakat lebih cenderung memilih tikar dari luar. Bentuk dan motif lapiak pandan juga masih tidak pernah berubah sehingga kelihatan membosankan.

Lama kelamaan membuat lapiak pandan semakin ditingggalkan, penganyam semakin berkurang, bahan baku berkurang. Pada akhirnya masyarakat tidak lagi mengetahui cara membuat lapiak pandan karena tidak tertarik untuk belajar.

Proses pengeringan pandan, Foto. Firdaus

Jika tidak didokumentasikan sejak dini, maka kerajinan anyaman lapiak pada suatu saat akan hilang. BPNB Sumatera Barat sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan merasa perlu untuk mendokumentasikan cara-cara pembuatan. Sehingga generasi muda di masa yang akan datang mengetahui kekayaan pengetahuan tradisional masyarakatnya pada masa lalu. Mereka juga bisa belajar dengan adanya video yang menjelaskan tentang cara-cara pembuatan tikar pandan tersebut. Perekaman ini nantinya akan menghasilkan dokumentasi foto-foto dan video proses pembuatan dari awal hingga akhir.

‘Baretong di Hari Nan Tarang’ Nagari Ketaping

0

Padang Pariaman – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menggelar Revitalisasi Kesenian Tradisional Minangkabau ‘Baretong di Nan Tarang’ di Kabupaten Padang Pariaman. Acara dilangsungkan pada Sabtu, 13 Mei 2017 di Bundaran BWS Sumatera Lima Nagari Ketaping, Kecamatan Batang Anai. Kegiatan ini juga dibuka secara langsung oleh KasubBag Tata Usaha Ibu Titit Lestari.

Baretong kali ini menampilkan beberapa sanggar seni tradisional dengan kesenian tradisi. Beberapa sanggar yang turut ambil bagian tersebut antara lain Sanggar Seni Bundo Kanduang. Sanggar ini menampilkan Tari pasambahan, sebagai tari pembuka dan tanda dimulainya kegiatan. Selain menampilkan tari pasambahan, sanggar Bundo Kanduang juga menampilkan Tari Indang Bapayuang serta tari piring.

Sanggar selanjutnya adalah Sanggar Rantak Taratak Buah, sanggar ini juga menampilkan kesenian tradisional yang dikenal dengan Tabuah Tasa. Selanjutnya adalah Sanggar Seni Rumpun Saiyo yang menampilkan komposisi musik dengan tari lenggang bagurau. Tidak ketinggalan juga Minsai Al Fitra menampilkan kebolehan mereka dalam bersilat.

Kegiatan Baretong di Nan Tarang ini dihadiri oleh perwakilan walinagari Ketaping. Selain itu lapangan BWS Sumatera Lima sebagai lokasi acara juga dipenuhi oleh warga setempat. Masyarakat sangat antusias dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan yang berlangsung dari awal hingga akhir.

Melihat antusiasme masyarakat tersebut, Titit Lestari mengaku sangat senang. Ia berharap bahwa kegiatan serupa berkembang di masa mendatang dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kesenian tradisional tetap lestari.

Silaturahmi Grup Pidato Adat ‘Sekapur Sirih’

0

Solok (BPNB Sumbar) – Pada hari Sabtu, 13 Mei 2017 Grup Pidato Adat Sakapur Sirih melaksanakan kegiatan silaturahmi. Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat turut diundang dalam kegiatan tersebut dengan diwakili koordinator fungsional peneliti Undri, SS, M.Si. kegiatan ini dilaksanakan di Desa Koto Baru, Kabupaten Solok.

Dimulai dengan pidato adat, laporan ketua panitia, tausiah, dan kata sambutan dari berbagai pihak seperti ketua grup pidato adat, anggota dewan dan sebagainya, acara lalu dilanjutkan dengan makan bersama seluruh peserta beserta tamu. Kemudian acara dilanjutkan dengan pidato adat dan pembacaan doa dan foto bersama.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kegiatan dari beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh Grup Pidato Adat Sekapur Sirih. Sejak berdiri tahun 1980, grup pidato adat telah melakukan berbagai acara dan kegiatan rutin seperti latihan pidato adat sekali dalam seminggu, mengikuti berbagai festival, takziah pada kemalangan anggota dan menggelar acara silaturahmi setiap tahun menjelang bulan puasa. Hingga kini, kegiatan masih rutin dilaksanakan oleh keseluruhan anggota.

Sejak berdiri, sampai sekarang anggota grup pidato adat mencapai 171 orang terdiri dari laki-laki berusia 25 hingga 60 tahun. Keseluruhan anggota ini berada di empat surau yang ada di Nagari Kotobaru.

Menurut Undri, SS, M.Si, kegiatan silaturahmi ini merupakan kegiatan yang sangat baik dan perlu dipertahankan. Ia juga menambahkan kepada grup dan sanggar-sanggar yang ada di nagari Koto Baru untuk dapat memanfaatkan bantuan pemerintah khususnya di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk tujuan pengembangan nilai budaya setempat.

Randai, Dabuy dan Silek Ramaikan Baretong di Nan Tarang Pesisir Selatan

0
Randai, Foto. Firdaus

Pessel – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menggelar kegiatan ‘Baretong di Nan Tarang, Revitalisasi Kesenian Tradisional Minangkabau’ di Kabupaten Pesisir Selatan tepatnya Di Nagari IV Koto Mudik. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 22 April 2017 bertempat di Lapangan Sepak Bola Lubuk Nyiur. Acara ini dibuka secara langsung oleh kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman.

Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman memberi sambutan, Foto: Firdaus

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Camat Batang Kapas, Kapolsek, Wali Nagari-Wali Nagari se-Kecamatan Batang Kapas serta ratusan warga memadati lapangan tersebut. Mereka disuguhi penampilan Randai, Dabuy dan Silek oleh sanggar-sanggar setempat seperti Sanggar Bincala Bintang Timur, Sanggar Dabuy Teratak Tempati serta Sasaran Silek.

Warga menyaksikan pagelaran, Foto: Firdaus

Sekretaris Camat Batang Kapas serta Walinagari IV Koto Mudik menyampaikan ucapan terima kasih kepada BPNB Sumatera Barat yang memfasilitasi acara Baretong di Nan Tarang. Mereka berharap pagelaran budaya mampu menciptakan minat dan rasa cinta para generasi Kecamatan Batang Kapas terhadap Kebudayaan Minangkabau.

Warga memadati lokasi acara, Foto. Firdaus

“dengan adanya pagelaran ini semoga menjadi motivasi bagi anak-anak dan generasi muda nagari kami untuk lebih mencintai budaya dan nilai seni tradisi” Demikian disampaikan Walinagari IV Koto Mudik.

Kepala BPNB Sumatera Barat Suarman dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas sambutan masyarakat. Beliau juga menekankan bahwa kegiatan ini bermaksud untuk mendukung pariwisata berbasis sejarah dan budaya di Sumatera Barat. Hal ini penting mengingat bahwa perkembangan pariwisata akan lebih baik jika mengedepankan aspek sejarah dan budaya.

Randai, Foto. Firdaus

“Tujuan kami melaksanakan pagelaran seni ini adalah menunjang pemerintah Sumatera Barat membangun karakter masyarakat terutama generasi muda di Sumatera Barat khusunya di Kecamatan Batang Kapas. Selain itu membangun pariwisata berbasis sejarah dan budaya di daerah setempat. Karena sejarah dan budaya itu adalah magnet pariwisata” terang Suarman

Lebih jauh Suarman menjelaskan bahwa kekayaan Indonesia sesungguhnya ada pada kebudayaannya.

“Indonesia mempunyai ribuan pulau, ratusan suku bangsa dan ratusan bahasa daerah. Kekayaan tersebut mendorong para warga dunia menjuluki Indonesia sebagai Adi Warna Kebudayaan. Kekayaan budaya inilah nantinya yang akan dikembangkan untuk berkontribusi meningkatkan perekonomian, mengembangkan karakter bangsa dan sebagainya” tambahnya.

Randai, Foto. Firdaus

Kegiatan Baretong Di Nan Tarang sejatinya merupakan kegiatan rutin dalam rangka menggali dan memunculkan kembali kesenian-kesenian tradisional yang  sudah mulai hilang. Hal ini sesuai dengan tugas dan fungsi BPNB Sumatera Barat sebagai pelestari nilai budaya. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan generasi muda kini paham dan mencintai kekayaan budaya tradisionalnya sehingga niat untuk menjaga tetap ada dan nilai-nilai tersebut tidak hilang.

Pada kegiatan kali ini, panitia menghadirkan sanggar-sanggar seni tradisional dari Kecamatan Batang Kapas. Sanggar tersebut menampilkan kesenian tradisional seperti Randai, Dabuy dan Silek. Pertama pada kegiatan ini adalah Randai oleh Sanggar Seni Bincala. Randai ini dimainkan oleh sekitar 40 orang pemain randai dari berbagai usia.

Menariknya penampilan Randai pada malam ini merupakan perdana setelah sekian lama tidak pernah dimainkan. Para peserta juga baru dilatih kembali selama tiga bulan terakhir. Jadi kegiatan Baretong di Nan Tarang ini menjadi sangat tepat untuk memunculkan kembali seni tradisi yang sudah hilang khususnya Randai di Kecamatan Batang Kapas.

Pertunjukan Randai, Foto. Firdaus

Penampilan kedua adalah Dabuy, merupakan pertunjukan ketahanan terhadap benda-benda tajam. Peserta yang terlibat dalam Dabuy merupakan pemuda-pemuda hingga orang tua. Mereka menggelar tikar di lapangan sebagai tempat pagelaran, menyediakan wadah berisi air dan benda tajam serupa obeng. Selain itu mereka juga menyiapkan beberapa alat musik tradisional untuk mengiringi nyanyian yang akan mereka nyanyikan.

Pertunjukan Dabuy, Foto. Firdaus

Pertunjukan Dabuy dimulai dengan memainkan alat-alat musik sambil menyanyikan ayat-ayat. Para peserta satu per satu maju ke tengah dan menunjukkan kebolehan dengan mengambil benda tajam dari wadah yang tersedia, berdiri, menari, lalu berusaha melukai dirinya. Selama pertunjukan iringan tabuhan instrumen dan nyanyian peserta tetap berlangsung.

Pertunjukan Dabuy, Foto. Firdaus

Peserta yang tampil maju ke tengah gelanggang, meminta izin dengan menyalami peserta satu-persatu. Setelah meminta izin, sambil mengucap doa lalu mengambil benda tajam dari dalam wadah berisi air. Sebagian dari mereka membasuh muda dengan air dalam wadah tersebut. Kemudian dia berdiri lalu menari mengikuti alunan lagu dan musik yang sedang dimainkan. Saat dia akan menunjukkan kebolehannya, atau akan melukai dirinya, alunan lagu dan instrumen dimainkan dengan tempo lebih cepat. Lalu peserta menusuk-nusuk benda tajam tersebut ke bagian-bagian tubuhnya. Biasanya bagian tubuh yang menjadi sasaran adalah tangan, perut, dan paha. Demikian secara bergiliran hingga semua peserta dapat bagian mempertontonkan kemampuannya. Uniknya, tidak satupun dari antara peserta yang terluka atau merasa kesakitan.

Pertunjukan silek, Foto. Firdaus

Penampilan ketiga adalah Silek, seni beladiri tradisional yang berasal dan berkembang di Sumatera Barat. Pada penampilan terakhir ini pemain silek masuk gelanggang secara berpasangan (dua orang). Setelah menghaturkan sembah kepada para penonton, lalu kedua pesilat tersebut menunjukkan kebolehannya. Setelah salah seorang terjatuh, pertunjukan silek ini berakhir. Dengan berakhirnya silek ini, berakhir jugalah acara Baretong di Hari Nan Tarang, Revitalisasi Kesenian Tradisional Minangkabau di Pesisir Selatan.

Menanti Secercah Harapan Pamong Budaya

0
Foto: Firdaus

Padang – Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memperjelas status pamong budaya semakin serius. Pada hari Selasa, 18 April 2017 Biro Kepegawaian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan Uji Petik Beban Kerja Pamong Budaya. Hal ini untuk mengukur beban kerja di tiap-tiap unit kerja kebudayaan sebagai pedoman penyusunan formasi pamong budaya. Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat, Padang.

Foto: Firdaus

Kasak-kusuk persoalan pamong budaya sesungguhnya sudah berlangsung lama. Sejak PERMENPAN No. 9 tahun 2008 dikeluarkan, belum ada kejelasan soal status, pekerjaan serta reward yang melekat di dalamnya. Sehingga sampai hari ini pamong budaya belum masuk dalam peta jabatan. Padahal pekerjaan-pekerjaan pelestarian sudah sangat mendesak dan tulang punggung pelestarian tersebut ada pada Pamong Budaya.

Uji petik beban kerja pamong budaya, Foto: Firdaus

Permenpan No. 9 Tahun 2008 Tentang Jabatan Fungsional Pamong Budaya dan Angka Kreditnya telah mengatur secara mendetail tentang jabatan pamong budaya, unsur, tingkatan dan rincian pekerjaannya. Tapi dalam implementasinya jabatan fungsional pamong budaya tidak tersentuh sama sekali. Kini Kemendikbud secara estafet mengupayakan kejelasan tersebut dengan cara memetakan hal-hal apa yang menjadi pekerjaan pamong budaya, apa alat ukurnya dan berapa kebutuhan pamong budaya untuk tiap satker yang memiliki kerja-kerja pamong budaya.

Uji petik beban kerja pamong budaya, Foto: Firdaus

Kemendikbud lalu melaksanakan uji petik beban kerja pamong budaya untuk menyusun formasi pamong budaya sesuai dengan kondisi rill di lapangan. Uji petik dilakukan di 11 provinsi dengan melibatkan unit kerja yang mempunyai tugas dan fungsi pamong budaya. Walau dalam unit kerja belum ada jabatan pamong budaya namun melakukan pekerjaan-pekerjaan pamong budaya sesuai Permenpan No. 9 tahun 2008 tersebut dijadikan sebagai sampel uji petik.

Uji petik beban kerja pamong budaya, Foto: Firdaus

Khusus untuk Sumatera Barat diundang tujuh unit kerja, dimana masing-masing unit kerja mempunyai kegiatan pamong budaya. Ketujuh unit kerja tersebut antara lain BPNB Sumatera Barat, BPCB Sumatera Barat, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat, Taman Budaya Sumatera Barat dan Museum Adityawarman.

Kepala BPNB Sumatera Barat Drs.Suarman pada kesempatan itu menyampaikan bahwa posisi pamong budaya sangat dibutuhkan dalam pembangunan kebudayaan. Untuk itu status pamong budaya harus segera diselesaikan mengingat bahwa persoalan ini telah lama dan berlarut. Bahkan sejak terbitnya permenpan no. 9 tahun 2008 hingga sekarang belum jelas. Beliau menambahkan salah satu masalah adalah soal alat ukur kinerja yang belum jelas. Beliau berharap upaya kemendikbud sekarang khususnya kegiatan uji petik beban kerja pamong budaya ini dapat menjadi jawaban atas masalah pamong budaya sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Workshop Arsip Kebudayaan Untuk Arsip Tertib

0
Kepala BPNB Sumatera Barat bersama narasumber, Foto: Firdaus

Padang – Workshop Arsip Kebudayaan di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat berlanjut pada Senin, 17 April 2017 di Ruang Rapat. Tahap ini dimaksudkan mengidentifikasi berbagai permasalahan dalam pengarsipan di BPNB Sumatera Barat setelah bulan lalu teori tentang kearsipan selesai diberikan. Jadi, kegiatan kali ini merupakan pengaplikasian teori dalam praktek sesungguhnya.

Workshop Arsip Kebudayaan, Foto: Firdaus

Pada kesempatan ini kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman menekankan pentingnya pelatihan arsip dan meminta peserta untuk serius mengikuti setiap tahapan pelatihan. Beliau berpendapat bahwa tata kelola kearsipan menjadi hal pokok dalam hal pertanggungjawaban pelaksanaan program.

Workshop Arsip Kebudayaan, Foto: Firdaus

“Manajemen resiko sangat berkaitan dengan kearsipan. Kalau tata kelola kearsipan tidak bagus kadang bermasalah bagi kita di dalam akuntabilitas baik terkait dengan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan maupun di bidang administrasi pertanggungjawaban anggaran kegiatan. Kedua, Efektifitas kearsipan terkait pusdok dan perpustakaan itu sangat menentukan kelancaran kita di bidang pelayanan prima yang kepada masyarakat yang mengaksses data bidang sejarah dan budaya di kantor kita” Demikian Suarman menjelaskan.

“jadi saya minta pelatihan ini diikuti betul-betul dengan baik” tambahnya

Narasumber memberi penjelasan tentang Arsip Rekaman, Foto: Firdaus

Kali ini narasumber masih didapuk dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat yakni  Ibu Kiswati, SS, MPA,Ibu Hayati dan Ibu Yelvi Oktavia,SIP. Ketiga narasumber diminta untuk mendampingi para pegawai BPNB Sumatera Barat untuk dapat secara mandiri mengidentifikasi permasalahan-permasalahan pengarsipan.

Narasumber memberi penjelasan pengarsipan terbitan, Foto: Firdaus

Ibu Kiswati dalam penjelasannya menyampaikan pengalamannya dalam melihat pengarsipan di berbagai instansi. Beliau mengaku bahwa kebanyakan instansi belum tertib arsip. Tertib arsip yang dimaksud tentu berbeda dengan rapi. Beliau juga menawarkan bantuan untuk merapikan arsip yang ada di kantor, tapi dengan catatan harus ada sarana dan prasarana. Sebuah ruangan yang secara khusus difungsikan sebagai tempat menyimpan arsip.

Narasumber memberi penjelasan pengarsipan persuratan, Foto: Firdaus

Peserta workshop dibagi dalam empat tim, masing-masing tim mengidentifikasi masalah pengarsipan di bidangnya masing-masing. Seperti Keuangan, perpustakaan, Persuratan dan Dokumentasi. Dari hasil pengidentifikasian tersebut ditemukan berbagai permasalahan ketidaktertiban dalam pengarsipan. Contohnya dalam pelabelan buku, alih media berbagai dokumen dokumentasi digital, dan yang paling utama adalah tempat penyimpanan arsip yang belum ideal.

Penemuan berbagai permasalahan pengarsipan ini dimaksudkan untuk menemukan solusi ke depannya bagaimana agar menjadi tertib arsip. Dengan tertib arsip tersebut maka dokumen dan data-data pelaksanaan program dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.

Kepala BPNB Sumatera Barat Bersama BAZNAS Kota Padang Resmikan Bedah Rumah

0
Pemotongan pita oleh Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman

Padang – Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat diminta Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) untuk secara bersama meresmikan rumah hasil bedah rumah BAZNAS Kota Padang. Acara peresmian dilaksanakan pada Senin, 17 April 2017. Peresmian dilaksanakan untuk dua rumah yang baru selesai dibedah di Kecamatan Kuranji yakni rumah Ibu Ermanita dan rumah Bapak Nazaruddin. Peresmian ditandai dengan pemotongan pita oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman.

Meninjau rumah ibu Ermanita yang baru diresmikan

Sejak tahun 2016 BPNB Sumatera Barat membangun kerjasama dengan BAZNAS Kota Padang. Kerjasama ini ditandai dengan setengah pegawai BPNB Sumatera Barat menyalurkan zakat melalui BAZNAS dan masih berlanjut hingga kini. Dari kerjasama ini diharapkan ada manfaat yang bisa diperoleh dengan tersalurkannya zakat tersebut kepada masyarakat kurang mampu khususnya yang ada di sekitar kantor BPNB Sumatera Barat.

Pada tahun ini, BPNB Sumatera Barat mengusulkan bedah dua rumah di wilayah Kuranji. Kelurahan ini merupakan domisili kantor BPNB Sumatera Barat. Ada dua Kepala Keluarga yang diusulkan untuk dapat bantuan bedah rumah tersebut. Kedua orang tersebut adalah Ibu Ermanita di Jl. Raya Belimbing dan Bapak Nazarudddin di Kelurahan Tui Padang. Kedua kepala keluarga ini merupakan keluarga yang sangat sederhana dengan rumah tinggal yang cukup memprihatinkan.

Rumah Bapak Nazarudin

Berkat kerjasama yang telah terbangun, BAZNAS Kota Padang menyambut usulan bedah rumah tersebut dan langsung melakukan pembedahan. Kini rumah Ermanita dan Nazaruddin jauh lebih baik dari sebelumnya. Bedah rumah ini memakan waktu satu bulan dan menelan biaya Rp. 25 juta per unit rumah.

“Jadi untuk dua rumah yang di bedah dan diresmikan pada hari ini, memakan biaya Rp. 50.000.000,- dana ini bersumber dari masyarakat Kota Padang termasuk pegawai BPNB Sumatera Barat“ terang BAZNAS Kota Padang

Pada kesempatan peresmian rumah baru tersebut, Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman mengaku sangat prihatin melihat kondisi rumah Ibu Ermanita sebelum dibedah. Malah, awalnya beliau mengira bahwa rumah tersebut bukan tempat tinggal melainkan warung. Beliau juga bersyukur bahwa melalui BAZNAS rumah Ibu Ermanita bisa dibedah dan nyaman untuk ditinggali.

Acara peresmian rumah tersebut diakhiri dengan pemotongan pita oleh Bapak Suarman, kemudian dilanjutkan dengan peninjauan rumah.

Objek-objek Bersejarah di OKU Selatan

0
Tugu Monpera Area Ranau

OKU Selatan – Selama perhelatan Lawatan Sejarah Daerah 2017 di OKU Selatan, para peserta dibawa mengunjungi berbagai objek-objek sejarah. Hal ini untuk menumbuhkan pemahaman akan sejarah serta kepekaan para peserta terhadap nilai-nilai sejarah masa lalu sebagai prasyarat masa kini. Kunjungan ke objek-objek sejarah tersebut meliputi Tugu Monpera, Candi Kebayan atau Candi Jepara, Rumah Adat Saibatin Marga Ranau serta Danau Ranau. Objek-objek tersebut mempunyai cerita dan nilai sejarah yang cukup berarti dalam sejarah terbentuknya Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan.

Tugu Monpera Area Ranau yang terletak di Simpang Tiga Kelurahan Simpang Sender Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Tugu ini dibangun tahun 1977 dan diresmikan oleh Gubernur Asnawi Mangku Alam. Tugu ini merupakan salah satu dari sejarah bahwa adanya perlawanan terhadap penjajah Jepang. Ada tiga pejuang inti dalam perjuangan ini yakni Abi Sujak Berlian, KH. Ibrahim dan Akhmal. Ketiga pejuang ini berperan penting dalam mengusir penjajah Jepang di daerah tersebut.

Tugu Monpera Area Ranau

Candi Batu Kebayan atau Candi Jepara, salah satu sisa peradaban Hindu/Buddha ditemukan di tepi Danau Ranau adalah situs Jepara, yang berada di Kecamatan Buay Pematang Ribu, Kabupaten OKU Selatan. Secara astronomis berada di 1030 59’ Bujur Timur, dan 40 501 Lintang Selatan. Situs Jepara terletak di tepi Sungai Selabung (cabang Sungai Komering) sekitar 750 meter barat daya dari Danau Ranau. Lahan sekitar candi difungsikan oleh masyarakat setempat sebagai lokasi pertanian dengan jenis tanaman kopi.

Candi Batu Kebayan/Candi Jepara

Kondisi lingkungan candi merupakan daerah yang subur dan dekat dengan sumber air, karena terletak di pinggir Danau Ranau, Sungai Perli dan Sungai Sahulan, pegunungan dan dataran yang tinggi. Desa Jepara merupakan daerah perbukitan yang ditandai dengan permukaan tanah yang bergelombang dengan kontur pokok miring dan merendah ke arah Barat yaitu ke arah Danau Ranau. Secara astronomi lokasi berada di koordinat sumbu X 04049’38,8” dan Y 103058’57,8” dan berada di elevasi 636 m.

Lokasi sekarang dikelilingi oleh pagar kawat berduri, nampak diatas permukaan tanah sebaran bata candi yang tidak beraturan. Batu candi terbuat dari batu kapur, fondasi  berdenah empat persegi panjang, ukuran:  panjang 9 meter dan lebar 8 meter. Pada fondasi candi terlihat pelipit sisi genta dan padma. Di sekitarnya tampak juga panil-panil batu yang diduga bagian dari kaki candi, panil tersebut empat persegi namun diatas panil tidak berhias (polos). Sistem penyambungan batu menggunakan sistem batu takuk, arah hadap candi timur laut.

Rumah Adat Saibatin Marga Ranau adalah rumah keraton tertua yang ada di ranau, tepatnya di Desa Jepara Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Rumah adat ini dibuat oleh Pangeran Singajuru pada abad ke 15. Pada awalnya rumah ini dibangun di Desa Jepara Tua. Tetapi pada tanggal 18 April 1926 terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan rumah tersebut. Setelah itu rumah adat dibangun kembali mendekati sumber air. Rumah adat ini dijadikan tempat tingal keturunan Pangeran Singajuru, digunakan untuk acara-acara adat seperti musyawarah adat dan sebagainya. Di rumah ini terdapat benda-benda bersejarah berupa barang-barang pusaka diantaranya piagam, keris, gelang, kopiah dan lain-lain.

Saibatin Rumah Adat Marga Ranau

Sementara Danau Ranau merupakan danau tektonik terbesar kedua di Sumatera setelah Danau Toba di Propinsi Sumatera Utara. Danau ini memiliki potensi dalam bidang ekonomi yakni perdagangan dan wisata, bidang sosial dan bidang budaya. Bagi masyarakat di Ogan Komering Ulu Selatan danau ini telah menjadi bagian dalam perjalanan sejarah kehidupan masyarakat.

Kontributor: Undri/Editor: Firdaus

Peserta Terbaik Lawatan Sejarah Daerah 2017

0
Foto Bersama

OKU Selatan – Lawatan Sejarah Daerah 2017 telah berakhir. Setelah rangkaian acara selesai mulai dari pembekalan, kunjungan ke objek-objek sejarah, diskusi kelompok, maka ditentukan peserta terbaik baik siswa sebagai peserta maupun guru sebagai pendamping. Penentuan peserta terbaik ini dinilai dari karya tulis dan hasil presentasi kelompok. Presentasi kelompok sendiri mengangkat berbagai persoalan yang ditemukan dari hasil kunjungan ke objek-objek bersejarah.

Foto Bersama

Diskusi kelompok dilakukan untuk membahas kunjungan terhadap objek sejarah yang telah dikunjungi. Kelompok dibagi menjadi delapan, yakni kelompok pertama dan kedua membahas tentang Tugu Monpera, kelompok ketiga dan keempat tentang Candi Kebayan atau Candi Jepara, kelompok kelima dan keenam tentang Rumah Adat Saibatin Marga Ranau, kelompok ketujuh dan kedelapan tentang Danau Ranau. Setiap kelompok kemudian mempresentasi hasil kerja kelompok.

Dari hasil penilaian yang dilakukan juri, maka diputuskan peserta terbaik Lawatan Sejarah Daerah 2017. Para peserta terbaik antara lain:

Peserta Siswa Terbaik

  1. Rifa Fariza Adhyma Saputra (SMA Negeri 10 Pentagon Propinsi Bengkulu)
  2. Indri (SMK Negeri 5 Kaur Propinsi Bengkulu)
  3. Jefri Erizon (SMA Negeri 1 Muara Dua Propinsi Sumatera Selatan)
  4. Dedi Irawan (SMA Negeri 1 Sitiung Propinsi Sumatera Barat)
  5. Muhammad Yusuf (SMA Negeri 1 Ranau Selatan Propinsi Sumatera Selatan)
  6. Syawelly Hanim (SMA Negeri 12 Padang Propinsi Sumatera Barat)

Peserta Guru Terbaik

  1. Edi Purwanto, SS (SMA Negeri 1 Simpang OKU Selatan Propinsi Sumatera Selatan)
  2. Titi Razoni, S.Pd (SMA Negeri 3 Kaur Propinsi Bengkulu)
  3. Ramayani (SMK Negeri 2 Pariaman Propinsi Sumatera Barat)

Tim Kesenian Terbaik

  1. SMA Negeri 10 Pentagon Propinsi Bengkulu.
  2. SMK Negeri 2 Pariaman Propinsi Sumatera Barat
  3. SMA Negeri 1 Muara Dua Propinsi Sumatera Selatan

Para siswa peserta terbaik nantinya akan diundang mengikuti Lawatan Sejarah Nasional yang rencananya akan diadakan di Provinsi Bengkulu.

Kontributor: Undri/Editor: Firdaus

Lawatan Sejarah Daerah (LASEDA) 2017 Berakhir

0
Foto Bersama

OKU Selatan – Pelaksanaan Lawatan Sejarah Daerah (LASEDA) 2017 di Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan secara resmi berakhir. Acara penutupan dilaksanakan pada hari terakhir pelaksanaan di Kantor Kecamatan Banding Agung. Acara yang bertema ”Menelusuri Jejak-Jejak Peninggalan Sejarah Untuk Menggali Identitas Masyarakat” tersebut ditutup secara resmi ditutup oleh Camat Banding Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Propinsi Sumatera Selatan.

Pembukaan LASEDA 2017

LASEDA 2017 dilaksanakan tiga hari berturut-turut sejak tanggal 12- 14 April 2017di Kabupaten OKU (Ogan Komering Ulu) Selatan Propinsi Sumatera Selatan. Kegiatan ini melibatkan 90 siswa/siswi dari tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat yakni Siswa/siswi SLTA Propinsi Sumatera Barat sebanyak 20 orang, Siswa/siswi SLTA Propinsi Bengkulu sebanyak 25 orang, Siswa/siswi SLTA Propinsi Sumatera Selatan sebanyak 45 orang. Acara ini dibuka oleh Bupati OKU Selatan yang diwakili oleh Asisten Bidang Pemerintah dan Hak Asasi Manusia Sekretariat Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulus Selatan. Dalam sambutannya dijelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan menyambut baik dan memberikan apresiasi yang tingi dilaksanakannya kegiatan ini.

Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman menyampaikan sambutan

Acara ini juga melibatkan tiga narasumber antara lain: Drs. Suarman (Kepala BPNB Sumbar) memaparkan tentang Aktualisasi Nilai Budaya, Dra. Zusneli Zubir, M.Hum (Peneliti BPNB Sumbar) memaparkan tentang Dasar-Dasar Penelitian Sejarah, Langkah-Langkah, Sumber, Bukti dan Fakta Sejarah serta Thamrin (Sejarawan Lokal/tokoh masyarakat Ogan Komering Ulu Selatan) menjelaskan tentang Peninggalan Sejarah di Ogan Komering Ulu Selatan.

Pembekalan

Suarman menjelaskan bahwa Lawatan Sejarah Daerah yang digelar tiap tahun bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada peserta tentang peristiwa sejarah yang membentuk peradaban saat ini. Beliau menambahkan bahwa salah satu metode untuk memberi pengetahuan tersebut adalah dengan mengunjungi lokasi-lokasi tempat dimana peristiwa sejarah itu berlangsung. Sementara untuk tahun ini BPNB Sumatera Barat memutuskan lokasi pelaksanaan acara adalah OKU Selatan.

Kunjungan ke Tugu Monpera

Kegiatan ini diharapkan mampu antara lain (1) menumbuhkan semangat apresiasi peserta terhadap sejarah daerah  di (OKU) Selatan (2) Memberikan informasi dan pemahaman tentang  masa lalu yang dapat menimbulkan rasa nasionalisme di berbagai  peristiwa dan ditengah keberagaman budaya. (3) Membuka wawasan generasi muda untuk mengenang perjuangan para tokoh. (4) Menumbuhkan wawasan generasi muda agar menghargai nilai-nilai luhur bangsa. (5) Memperkenalkan perjalanan para tokoh dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya sejarah perjuangan di Ogan Komiring Ulu (OKU) Selatan Propinsi Sumatera Selatan.

Kunjungan ke Candi Kebayan

Adanya lawatan diharapkan dapat membantu menggali lebih dalam akan situs pra sejarah yang belum di eksplor lebih dalam di OKU Selatan. Beberapa objek sejarah yang dikunjungi selama pelaksanaan acara antara lain: Tugu Monpera, Candi Kebayan atau Candi Jepara, Rumah Adat Saibatin Marga Ranau, serta Danau Ranau. Disamping itu kegiatan Lawatan Sejarah Daerah Tahun 2017 juga dilaksanakan pemutaran film dokumenter sejarah dan pementasan kesenian. Harapannya kunjungan dan pemutaran film bermanfaat memberi masukan dan saran untuk kemajuan OKU Selatan khususnya dalam aspek sejarah dan budaya.

Diskusi

Setelah rangkaian acara selesai, selanjutnya acara penutupan dilakukan pada hari terakhir. Agenda pada penutupan ini diawali sambutan dari Ketua Panitia yakni Undri, SS.M.Si. Dalam sambutan penutupan ketua panitia menjelaskan tentang ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan terutama kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, seluruh peserta kegiatan Lawatan Sejarah Daerah Tahun 2017. Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat diwakili oleh Ketua Pokja Sejarah- Dra. Zusneli Zubir, M.Hum, serta penutupan kegiatan oleh Bupati Ogan Komering Ulu Selatan yang diwakili oleh Camat Banding Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Propinsi Sumatera Selatan.

Foto Bersama

Pada acara penutupan itu juga sekaligus diumumkan peserta terbaik, penampilan kesenian terbaik serta guru pendamping terbaik selama perhelatan lawatan sejarah Daerah.

Para guru dan peserta mengungkapkan kesannya bahwa kegiatan ini sangat baik sekali dan merupakan pengalaman berharga dan bisa menjadi modal untuk pembelajaran mata pelajaran sejarah di sekolah. Kegiatan ini juga bisa mendorong siswa mengenal objek sejarah di Ogan daerah lain dan mengikat silaturahmi sesama peserta latawan sejarah. Mereka berharap lawatan sejarah terus berlanjut untuk memperkenalkan generasi muda akan objek dan peristiwa sejarah yang ada di daerah-daerah.

 

Kontributor: Undri/Editor: Firdaus

LASEDA 2017, OKU Selatan, 12 – 14 April 2017

0
Pelaksanaan Lawatan Sejarah Daerah diadakan di Kabupaten OKU Selatan Provinsi Sumatera Selatan, 12-14 April 2017

Lawatan Sejarah Daerah 2017 hari ini sedang berlangsung di Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan ini akan berlangsung dari 12 – 14 April 2017. Para peserta terdiri dari 90 siswa dan guru yang berasal dari tiga wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

JETRADA 2017 di Sijunjung, 25-28 April 2017

0
Jejak Tradisi Daerah akan dilaksanakan pada 25-28 April 2017 di Nagari Padang Ranah dan Tanah Bato, Sijunjung, Sumatera Barat.

Jejak Tradisi Daerah 2017 akan diselenggarakan di Nagari Padang Ranah dan Tanah Bato, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Utara pada 25 – 28 April 2017. Para peserta yang terdiri dari anak-anak SMA/sederajat dari tiga wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat akan menginap di Rumah-rumah gadang yang ada di lokasi.

Syarat, Jadwal dan Tata Cara Pendaftaran Penggiat Budaya 2017

0
Ditjen Kebudayaan membuka pendaftaran Penggiat Budaya 2017

Padang – Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka penerimaan Penggiat Kebudayaan 2017. Penggiat Kebudayaan ini akan ditempatkan di 164 Kabupaten/Kota dan bertugas menyampaikan akses informasi kebudayaan kepada pemerintah daerah dan masyarakat, mengkonsolidasikan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan serta mencatat data kebudayaan berupa entitas data pokok budaya.

Khusus wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan dibutuhkan sebanyak 15 orang Penggiat Budaya dengan rincian sebagai berikut:

No Nama Provinsi Nama Kabupaten/Kota Jumlah Kuota Penerimaan
1 Sumatera Barat Kab. Solok 1
2 Kab.  Pesisir Selatan 1
3 Kota Bukittinggi 1
4 Kab. Payakumbuh 1
5 Kota Solok 1
6 Bengkulu Kab. Kepahiang 1
7 Kab. Seluma 1
8 Kab. Bengkulu Tengah 1
9 Kota Bengkulu 1
10 Kab. Rejang Lebong 1
11 Sumatera Selatan Kab. Banyuasin 2
12 Kab. Ogan Ilir 1
13 Kab. Penukal Abab Lematang Ilir 1
14 Kota Palembang 1
Jumlah 15

 

Proses pendaftaran dibuka sejak 10 – 20 April 2017 melalui http://penggiatbudaya.kemdikbud.go.id. Syarat, jadwal, dan tata cara pendaftaran selengkapnya bisa dibuka di PENGUMUMAN-PENERIMAAN-PENGGIAT-BUDAYA-2017-1

Giliran SD Istiqomah Sicincin Nonton Bareng Bioskop Keliling

0
Foto: Yoka

Sicincin – Setelah pemutaran film di SMP Negeri 1 Lubuk ALung sabtu lalu sukses, selanjutnya pemutaran film dilaksanakan di SD Istiqomah Sicincin Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung. Pemutaran film di SD Istiqomah dilaksanakan pada Senin, 10 April 2017. Turut dihadir dalam acara ini Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Pariaman Khairil Anwar, S.Sos, MM dan Kepala Sekolah serta guru-guru. Para siswa-siswi SD Istiqomah sangat senang dan gembira dengan adanya pemutaran film ini. Buktinya mereka menyaksikan film yang diputar dengan sangat serius dari awal hingga akhir.

Foto: Yoka

Pemutaran film ini dilaksanakan di dua ruang kelas (1 dan 2) yang digabung menjadi satu. Hal ini untuk membuka ruang yang lebih luas sehingga para siswa tertampung dan nyaman saat menonton film tersebut. Para siswa duduk dengan rapi di atas tikar yang memang dibentangkan untuk mereka. Adapun film yang diputar pada kesempatan itu adalah “Laskar Pelangi” yang cukup populer pada masanya.

Foto: Yoka

Sebagai informasi BPNB Sumatera Barat merupakan Unit Pelaksana Teknis Direktorat Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan. Salah satu kegiatan yang rutin dilaksanakan tiap tahun adalah pemutaran film, Apresiasi Film Anak Bangsa atau Bioskop Masuk Kampung.  Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberi pemahaman generasi terhadap perkembangan dan pelestarian budaya. Termasuk salah satunya film anak bangsa.

90 Siswa dan Guru Belajar Sejarah dalam Lawatan Sejarah Daerah

0
Foto: Firdaus

Padang – Panitia dan peserta Lawatan Sejarah Daerah 2017 dari Provinsi Sumatera barat berangkat bersama ke Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan tepatnya di Muara Dua. Mereka akan mengikuti rangkaian kegiatan lawatan di Muara Dua selama tiga hari berturut-turut dari 12-14 April 2017. Mereka berangkat dari Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat pada Senin, 10 April 2017.

Foto: Firdaus

Sebanyak 90 siswa dan guru pendamping akan terlibat dalam acara Lawatan Sejarah Daerah 2017. Ke-90 orang merupakan perwakilan sekolah-sekolah SMA/Sederajat yang diundang dari tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Foto: Firdaus

Para peserta akan menginap di mess pemerintah daerah OKU Selatan dan mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia. Beberapa kegiatan yang akan mereka ikuti antara lain seminar sejarah, lawatan ke beberapa obyek sejarah, penilaian karya tulis ilmiah yang telah disiapkan oleh para peserta. Peserta dengan karya tulis terbaik akan diberangkatkan untuk mengikuti acara Lawatan Sejarah Nasional 2017 yang rencananya akan dilaksanakan di Provinsi Bengkulu.

Foto: Firdaus

Lawatan Sejarah Daerah (LASEDA) merupakan kegiatan rutin yang bertujuan untuk memberi pelajaran dan kepekaan bagi peserta didik tentang sejarah perjalanan bangsa dan tokoh-tokoh inspirasional di dalam sejarah tersebut. Adanya kegiatan ini diharapkan mampu mendorong para peserta didik untuk tidak lupa akan akar sejarahnya dan mau berkontribusi bagi bangsa dengan meneladani para pahlawan yang telah tiada.

Siswa SMP Negeri 1 Lubuk Alung Disuguhi Bioskop Keliling

0
Bioling, Foto: Yoka

Padang Pariaman – Pada Sabtu, 8 April 2017 Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menggelar pemutaran film ‘Apresiasi Film Anak Bangsa’ di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Lubuk Alung, Kabupaten Pariaman. Ratusan peserta didik hadir menyaksikan film tersebut mulai kelas VII hingga kelas IX. Mereka juga sangat antusias dan betah menyaksikan dari awal hingga akhir.

Foto: Yoka

Pemutaran film ini dilaksanakan sebagai respon atas permintaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pariaman untuk memberikan pemahaman budaya dalam bentuk audiovisual kepada peserta didik. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan  menghibur para peserta didik di tengah kewajiban belajar yang harus mereka lakukan setiap hari. Dengan kegiatan ini peserta didik akan disuguhi pelajaran dan hiburan secara bersamaan.

Turut hadir dalam acara nonton bareng tersebut Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Khairil Anwar, S.Sos, MM dan Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Lubuk Alung Yarlis Mayroza turut mendampingi peserta didik tersebut. Selain itu juga beberapa guru, staf kebudayaan dan media.

Pemutaran film dilaksanakan di ruang belajar. Untuk menyiasati daya tampung yang lebih besar, dua ruang belajar dibuka sekaktnya sehingga menjadi lebih luas. Ruang tersebut kemudian digelar tikar dan para peserta duduk bersama sambil menikmati tontonan di layar yang telah digantung. Anak-anak begitu antusias dan sangat menikmati film-film yang diputar tersebut. Ada dua film yang diputar yaitu ‘Lima Elang’ dan ‘Air Mata Terakhir Bunda’.

Sebagai informasi BPNB Sumatera Barat merupakan Unit Pelaksana Teknis Direktorat Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan. Salah satu kegiatan yang rutin dilaksanakan tiap tahun adalah pemutaran film, Apresiasi Film Anak Bangsa atau Bioskop Masuk Kampung.  Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberi pemahaman generasi terhadap perkembangan dan pelestarian budaya. Termasuk salah satunya film anak bangsa.

Foto: Yoka

Dalam pelaksanaan, biasanya panitia akan memutar film-film nasional terbaru dan populer yang mendidik dan menginspirasi. Selain itu juga diputar film-film dokumenter yang diproduksi sendiri oleh BPNB Sumatera Barat. Film-film dokumenter produksi BPNB Sumatera Barat merupakan hasil peliputan dan perekaman berkaitan dengan aktifitas sejarah dan budaya yang ada di tiga wilayah kerja yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Sekolah-sekolah yang berminat untuk diadakan kegiatan serupa dapat menghubungi atau menyurati kantor BPNB Sumatera Barat. Harapannya, kegiatan ini mampu menambah wawasan para peserta didik dan lebih termotivasi dalam belajar.

Tradisi Lisan Pabisan Masyarakat Suku Rambang di Kota Prabumulih

0
Mandi Simburan, Foto: Dok. Ernatip

Perkawinan hingga kini masih mempunyai tempat istimewa bagi masyarakat. Ketika perkawinan dijadikan sebagai sesuatu yang sakral, akan banyak ritual dan kegiatan yang melekat di dalamnya. Salah satunya adalah tradisi lisan. Sebagaimana yang terjadi pada masyarakat Suku Rambang di Kota Prabumulih. Setiap prosesi perkawinan mereka selalu identik dengan tradisi lisan. Tradisi lisan ini umumnya bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada kedua mempelai atau kepada hubungan yang baru terjalin antara dua keluarga besar.

Undangan, Foto: Dok.Ernatip

Hingga kini tradisi lisan di masyarakat Suku Rambang masih tetap dipertahankan walau  banyak tantangan yang harus dihadapi. Eksistensi ini kemudian menarik minat Dra. Ernatip, peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat untuk menggali lebih dalam tentang makna tahapan-tahapan tradisi tersebut berdasarkan tradisi lisan yang melekat di dalamnya. Hal ini untuk memahami hubungan antara makna tersebut dengan eksistensinya di masyarakat. Ernatip secara khusus akan menggali tradisi lisan Pabisan.

Pabisanan atau besan adalah sebuah sebutan yang melekat terhadap dua keluarga yang telah melangsungkan pernikahan anaknya.  Sebutan ini berlaku secara umum pada setiap suka bangsa, namun dalam pelaksanaan adat  perkawinan berbeda-beda tahapan pelaksanaannya.

Wawancara Foto: Dok.Ernatip

Tahapan pelaksanaan upacara adat perkawinan pada masyarakat Suku Rambang di kota Prabumulih adalah (1)  bekerimbangan yakni masa perkenalan atau masa pacara istilah masa kini, (2)  betandang yakni orang tua laki-laki datang kerumah orang tua perempuan untuk berkenalan sekaligus memastikan bahwa anak mereka berkerimbangan, (3) bebene yakni  orang tua laki-laki datang kerumah orang tua perempuan untuk menyampaikan  maksud hendak melamar (4) melamar yakni proses membuat ikatan  (5) akad nikah yakni melaksanakan Ijab Kabul sebagai syarat suatu pernikahan  (6) babesan  yakni perkenalan kedua keluarga besar serta panggilan yang melekat pada setiap orang sesuai dengan status/hubungan dalam keluarga, (7) mandi simburan disebut juga dengan mandi secara adat oleh tua menyan disertai juga dengan pantun-pantun (8) bejago mangian yakni  semalam bersama teman-teman, suasana ini juga merupakan ajang perkenalan oleh para remaja (9) pesta, disertai dengan penampilan tari-tari adat, pantun yang ditembangkan (10) balik andun makan yakni mengtundang keluarga makan dan  (11)  balik andun sujud  yakni  penganten mengunjungi rumah saudara-saudaranya, mereka sujud kepada saudara yang dikunjungi.

Setiap rangkaian acara adat perkawinan itu berbeda  cara, orang yang terlibat, atribut penyerta dan lainnya yang semua itu memiliki makna. Makna itulah  yang perlu ditelusuri lebih dalam untuk mengungkapkan  filosofi yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan.

Kontributor: Ernatip

BPNB Sumatera Barat Harus Bisa Menjadi Lumbung Ilmu Sejarah dan Budaya

0
Foto bersama, Foto: Firdaus

Padang – Sembilan siswa-siswi Sekolah Menengah Analisis Kimia Padang (SMAKPA) melakukan kunjungan ke Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat. Kunjungan dilakukan pada Rabu, 5 April 2017. Kunjungan tersebut bermaksud untuk menggali informasi dan sejarah perjuangan Kota Padang melalui latar belakang Tugu Padang Area. Hal ini untuk melengkapi tugas pelajaran sejarah membuat rekaman tentang peristiwa sejarah di Kota Padang.

Rombongan tersebut difasilitasi oleh Ibu Zusnelli Zubir dan Undri yang memaparkan secara runtut peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di Kota Padang, baik sejak masa penjajahan hingga masa revolusi.Pelajar yang masih berada di Kelas X ini begitu antusias untuk menggali informasi terkait Kota Padang. Beberapa dari mereka ada yang serius menyimak, mencatat dan ada juga yang khusus mereka dan memvideokan penjelasan.

Penjelasan Zusneli direkam, Foto: Firdaus

Zusnelli Zubir, peneliti yang memang konsentrasi pada sejarah menjelaskan secara gamblang perjuangan-perjuangan pada masa lalu. Dengan strategi gerilya dan alat yang sederhana menggunakan bambu runcing. Satu-satunya modal bangsa ketika itu hanyalah semangat yang menyala-nyala dan tidak pernah padam untuk mempertahankan tanah air. Menurut beliau, hal itu jugalah yang mendorong bentuk tugu Padang Area berupa lidah api. Lidah api disimbolkan sebagai semangat yang menyala-nyala.

Siswa/i SMAKPA belajar sejarah ke BPNB Sumbar, Foto: Firdaus

Beliau menambahkan bahwa melihat tugu tidak bisa dilepaskan dari satu peristiwa sejarah. Satu peristiwa juga tidak bisa dilihat dengan sepotong-sepotong, harus dilihat utuh. Bahwa antara peristiwa yang satu dengan yang lain saling berhubungan. Demikianlah yang terjadi di Kota Padang sehingga melahirkan banyak tugu untuk peristiwa yang berbeda.

Pada kesempatan itu Undri menyampaikan bahwa data-data sejarah yang akan digunakan untuk keperluan penyelesaian tugas sebaiknya diperoleh dari sumber-sumber yang valid. Baik melalui buku, arsip maupun para pelaku sejarah. Undri juga menawarkan para pelajar tersebut untuk membaca berbagai referensi yang ada di perpustakaan BPNB Sumatera Barat.

Siswa/i SMAKPA belajar sejarah ke BPNB Sumbar Foto: Firdaus

Bentuk-bentuk perjuangan bergerilya dan mengangkat senjata sesungguhnya pada masa kini tidak lagi relevan. Namun perjuangan pantang menyerah, semangat berkobar dan nilai kegotong-royongan tidak akan pernah kadaluarsa. Dalam masa pembangunan dan era persaingan bebas sekarang, nilai-nilai tersebut menjadi sangat vital dalam memenangkan persaingan.

Kemajuan bangsa ke depan sudah berada di tangan para generasi muda sekarang. Untuk membentuk generasi tersebut menjadi generasi yang berkarakter harus dibentuk sejak dini. Dan nilai-nilai kepahlawanan yang ditunjukkan para pejuang terdahulu menjadi modal yang cukup bernilai tinggi jika diejawantahkan ke dalam diri generasi muda.

BPNB Sumatera Barat sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mempunyai tugas pelestarian nilai budaya mempunyai tanggung jawab memastikan ketersediaan pengetahuan akan nilai sejarah dan budaya tersebut. BPNB Sumatera Barat ke depan harus bisa memfasilitasi kehausan masyarakat akan ilmu sejarah dan budaya. BPNB Sumatera Barat harus bisa menjadi lumbung ilmu sejarah dan budaya.

Tikar Purun di Sumatera Selatan akan Direkam

0
Tim perekaman melakukan koordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Foto: Rezalahardo

Tikar Purun akan menjadi obyek perekaman Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun ini. Hal ini dikonfirmasi oleh ketua panitia perekaman WBTB Provinsi Sumatera Selatan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Yondri di sela-sela koordinasinya ke pemerintah daerah setempat. Tempat perekaman akan dilaksanakan di Kabupaten OKI tepatnya di daerah Padaraman. Daerah Padaraman sendiri memang dikenal sebagai sentra pembuatan Tikar Purun.

Perekaman ini dimaksudkan sebagai upaya melestarikan nilai-nilai budaya yang melekat pada tikar purun yang mulai hilang. Sebagaimana diketahui bahwa proses pembuatan tikar purun mengandung kearifan yang tidak kalah menarik di banding karya budaya lain. Pemilihan ini sendiri diputuskan atas kesepakatan Tim Perekaman BPNB Sumatera Barat dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan yang diwakili oleh Kabid Kebudayaan Ibu Cahyo Sulistianingsih. Minimnya dokumentasi mengenai proses pembuatan tikar purun menjadi pendorong dinas untuk memilih sebagai obyek perekaman.

Tikar purun adalah tikar berbahan dasar Purun (Eleocharis Dulcis), merupakan sejenis rumput atau gulma  yang banyak tumbuh di wilayah gambut. Tikar Purun dikerjakan oleh para wanita dengan cara tradisional. hanya dengan menggunakan tangan. Dan pekerjaan ini telah dilakukan oleh masyarakat OKI secara turun temurun. Pada masa lalu, tikar purun ini cukup populer di masyarakat dan hampir semua keluarga khususnya wanita bisa menganyam tikar purun. Proses pengerjaannya biasanya memakan waktu 2-4 hari untuk ukuran 1.5 meter x 50 cm. Tikar ukuran tersebut bisa dihargai Rp. 20.000,- – Rp. 60.000,- tergantung motif dan warnanya.

Hasil perekaman ini nantinya diharapkan dapat mendokumentasikan teknis pembuatan tikar purun. Selain itu, perekaman ini juga diharapkan mampu menggali nilai-nilai yang terkandung dalam proses pembuatannya. Dengan demikian nilai-nilai budaya tersebut melalui dokumentasi perekaman bisa tetap terpelihara dan lestari.

Bagan Talai, Andalan Ekonomi Nelayan Nagari Mandeh

0
Bagan Talai, Foto: Ajisman

Laut memang selalu menawarkan manfaat dan tantangan tersendiri. Manusia ketika berhadapan dengan laut harus selalu siap menerjemahkan manfaat dan tantangan tersebut. Terlebih bagi yang hidup dan menggantungkan hidup sebagai nelayan. Adaptasi yang baik akan sangat menentukan manusia dapat bertahan hidup atau malah menjadi korban.

Kerangka Bagan Talai, Foto: Ajisman

Air yang tenang, ombak besar serta badai menjadi tantangan utama yang tidak bisa dilepaskan dari laut. Setiap nelayan harus selalu siap menghadapi segala kemungkinan dan hal itu tidak bisa dipastikan kapan datangnya. Kondisi ketidakpastian tersebut kemudian mendorong masyarakat nelayan untuk menciptakan kearifan-kearifan baru untuk bisa bertahan hidup dan mengambil manfaat yang ditawarkan laut.

Demikian halnya dengan masyarakat di Nagari Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Mayoritas penduduk disana hidup sebagai nelayan dan menggantungkan hidupnya di laut. Disana, air pantai cukup tenang karena berada diantara pulau-pulau. Kedalamannya juga dangkal. Pantai Mandeh menawarkan ikan kecil (ikan teri) yang banyak di perairannya.

Proses Pembuatan Bagan Talai, Foto: Ajisman

Dengan kondisi laut yang tenang seperti itu, maka masyarakat Nagari Mandeh umumnya menggunakan alat kerja yang ideal untuk menangkap ikan-ikan kecil tersebut. Masyarakat Nagari Mandeh menggunakan Bagan Talai sebagai alat kerja utama mereka.

Bagan adalah jaring angkat yang dioperasikan di perairan pantai pada malam hari dengan cahaya lampu sebagai penarik ikan. Untuk memindahkan bagan digunakan perahu, maka dinamakan perahu bagan. Perahu bagan ini beroperasi di laut tenang dan tidak berombak dan khusus dipergunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil atau ikan teri.

Dengan Bagan Talai mereka berangkat ke laut pada sore hari sekitar pukul 17.00 lalu pulang pada pagi hari. Sepanjang malam mereka menjaga jaring talai mereka dan menunggu hingga ikan berkumpul banyak untuk kemudian diangkat. Begitu sehari-hari mereka mengandalkan Bagan Talai untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Bagan Talai, Foto: Ajisman

Proses pembuatan Bagan Talai ini telah diwarisi sejak lama. Belajar dari alam sekitar mereka dan kondisi laut serta berbagai pengalaman menyaksikan perahu-perahu yang pernah singgah di tempat tersebut membuat masyarakat Mandeh kemudian membuat alat tangkap sendiri yang mereka sebut sebagai bagan talai.

Hingga kini Bagan Talai masih dipertahankan di tengah upaya pemerintah menjadikan kawasan mandeh sebagai prioritas pariwisata. Berbagai kapal-kapal baru yang datang dari luar tidak menyurutkan niat masyarakat untuk tetap menggunakan Bagan Talai. Hal inilah yang mendorong Ajisman, salah satu peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat untuk meneliti tentang Bagan Talai.

Ajisman akan melihat bagaimana kemunculan Bagan Talai dan berkembang menjadi alat kerja utama yang diandalkan masyarakat Mande sampai sekarang. Beliau juga akan menjelaskan proses pembuatan bagan tersebut. Pengetahuan budaya menjadi sangat penting untuk digali dalam penelitian ini sebagai salah satu upaya pelestarian nilai budaya khususnya yang berhubungan dengan peningkatan ekonomi masyarakat.

Perekaman Rejung, Prasyarat untuk Warisan Budaya Indonesia

0
Tim perekaman sedang koordinasi dengan Dinas Pendidikan Prov. Bengkulu. Foto: Tim Perekaman

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat akan merekam kesenian Rejung. Rejung adalah salah satu kesenian tradisional dari provinsi Bengkulu. Rejung disebut juga sebagai kesenian Batang Hari Sembilan karena berkembang di sembilan anak sungai Batanghari yang mengalir di dataran Sumatera.

Rejung merupakan seni berpantun yang diiringi dengan gitar tunggal. Sehingga rejung acap kali juga disebut sebagai kesenian gitar tunggal. Biasanya rejung dimainkan oleh dua orang (pria dan wanita) dengan saling berbalas pantun dan salah satu memainkan gitar sebagai pengiring. Pantun dalam Rejung menyampaikan pesan-pesan kehidupan, baik tentang suka maupun duka. Kesenian ini berkembang pada masa lalu dan sering ditampilkan pada acara-acara perayaan.

Pada tahun 2017, Rejung diusulkan sebagai salah satu warisan budaya Indonesia oleh pemerintah Daerah Bengkulu. Pengusulan ini dimaksudkan sebagai bentuk upaya untuk melestarikan karya tersebut sehingga tidak hilang. Namun demikian, pengusulan ini masih mengalami kendala dengan kurangnya data rekaman kesenian tersebut.

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki wilayah kerja Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Sebagai UPT yang tugas dan fungsinya adalah pelestarian, berencana untuk melengkapi data pengusulan tersebut dengan mengadakan perekaman Rejung di Kabupaten Bengkulu Selatan.

Ketua Panitia Budi Eka Putra menyatakan bahwa pemilihan kesenian ini merupakan upaya membantu pemerintah daerah provinsi Bengkulu dalam memenuhi prasyarat pengusulan Rejung sebagai warisan dunia. Pendapat ini juga diamini Noveri yang menjadi anggota tim. Beliau menyatakan bahwa pemilihan Rejung merupakan usulan Pemda setempat yang menyatakan bahwa dokumentasi Rejung masih sangat kurang untuk prasyarat pengusulan.

Nantinya perekaman ini akan menghasilkan data audiovisual Rejung tentang sejarah, bentuk dan nilai yang terkandung di dalamnya. Hasil perekaman ini diharapkan bisa mendorong Rejung untuk segera ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia.

Meneliti Teknologi Pembuatan Jokong di Mukomuko

0
Jokong, Foto: Silvia Devi

Berawal dari ketertarikan, kemudian ada niat menggali pengetahuan lokal yang ada pada masyarakat Mukomuko. Silvia Devi, salah seorang peneliti muda di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat mencoba meneliti tentang Teknologi Pembuatan Jokong pada  masyarakat nelayan di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu.

Foto: Silvia Devi

Jokong, demikian masyarakat Mukomuko menyebutnya tidak hanya sekedar alat transportasi. Bagi mereka Jokong menjadi alat kerja utama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang nota bene bergantung pada laut. Jokong memang hanya perahu sederhana, tapi tanpa Jokong mereka tak bisa melaut. Artinya, sebagai nelayan mereka tidak bisa melanjutkan hidup.

Foto: Silvia Devi

Jokong merupakan sejenis perahu yang secara kasat mata sederhana. Berbahan dasar kayu dan dibuat dengan alat yang juga sangat sederhana. Namun teknologi sederhana tersebut memiliki nilai yang cukup tinggi dalam pembuatannya. Teknologi sederhana yang mereka miliki harus mampu membuat perahu yang bisa bertahan dalam ombak yang besar dalam jangka waktu yang lama.

Foto: Silvia Devi

Keberadaan Jokong di Muko-Muko pada masa kini bisa dikatakan sudah langka. Salah satu penyebabnya adalah semakin langkanya bahan baku. Memang, bahan baku utama Jokong adalah kayu pilihan dari hutan di sekitar Muko-muko. Bahan kayunya harus kuat dan tahan terhadap gempuran ombak besar khas Samudera Hindia serta karang. Ketika izin penebangan pohon semakin diperketat, maka sedikit banyak berpengaruh pada ketersediaan bahan baku pembuatan Jokong.

Bahkan, menurut Silvia Devi ketika melakukan pra penelitian ke lapangan pada 1-4 Maret lalu, keberadaan pembuat Jokong hanya tinggal dua orang saja dari lima orang pada tahun 2016. Kedua orang ini berprofesi sebagai pembuat Jokong sekaligus sebagai pemelihara jokong yang mengalami kerusakan. Selain karena bahan baku, kondisi ini juga diperparah dengan semakin berkurangnya orang yang ahli dalam pembuatan Jokong tersebut.

Melihat keberadaan Jokong tersebut, maka penting untuk menggali kembali nilai-nilai pengetahuan yang terdapat pada pembuatan Jokong oleh masyarakat Mukomuko. Selain untuk mengetahui bagaimana masyarakat mereka belajar dari alam sekitar, untuk mengetahui strategi adaptasi mereka melalui pembuatan Jokong. Nantinya pengetahuan tersebut bisa menjadi rujukan bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan di masa mendatang.

Tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah literatur yang bermanfaat baik secara akademik maupun secara praktis. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam pelestarian nilai budaya khususnya budaya pembuatan Jokong pada masyarakat Mukomuko.

Menggali Makna Sedekah Rami

0
Foto: Erricsyah

Lubuk Linggau – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat melaksanakan penelitian tentang Upacara Sedekah Rami di Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan oleh Erricsyah, salah seorang peneliti yang konsentrasi pada penelitian tradisi lisan. Nantinya penelitian ini akan berusaha mengetahui makna, fungsi dan nilai yang terkandung dalam upacara sedekah rami.

Foto: Erricsyah

Upacara sedekah rami merupakan upacara adat yang dilakukan turun-temurun oleh masyarakat untuk menolak bala dan mendatangkan rezeki. Upacara ini biasanya dilaksanakan menjelang masa menanam tiba dan melibatkan seluruh warga kampung. Pada upacara ini akan terlihat rasa kebersamaan dan kekeluargaan dalam  mengumpulkan seluruh kebutuhan acara. Kebersamaan itu juga akan terlihat ketika akhir upacara diadakan makan bersama seluruh peserta yang hadir.

Foto: Erricsyah

Beberapa rangkaian upacara yang biasa dilakukan pada upacara sedekah rami yakni menyusun makanan yang dibawa oleh warga. Makanan ini adalah makanan khusus upacara terdiri dari punjung ayam putih pucat, punjung ayam kuning dan punjung ayam kembang. Setelah menyusun makanan lalu pembacaan mantra oleh ketua adat. Selanjutnya mengeluarkan benda-benda pusaka dan menyebut keistimewaan masing-masing benda pusaka. Pelepasan jong (perahu) yang terbuat dari batang pisang dan atap dari daun kelapa. Setelah rangkaian acara selesai lalu diakhiri dengan makan bersama.

Pada masa lalu upacara sedekah rami dilaksanakan setiap dua tahun sekali dan menjelang musim tanam tiba. Pada perkembangannya upacara ini kemudian berhenti lama. Namun pada tahun 2016 kembali dilaksanakan dengan melibatkan seluruh warga di Batu Urib Lubuklinggau. Kegiatan ini bahkan mendapat dukungan dari pemerintah setempat.

Tertarik dengan kembali munculnya upacara sedekah rami, Erricsyah mencoba menggali hal-hal apa yang sesungguhnya terdapat dalam sedekah rami. Selain untuk mengenalkan kembali, penelitian ini juga diharapkan mampu menjadi bagian dari pelestarian sedekah rami yang memberi pelajaran dan pendidikan bagi generasi muda. Nilai-nilai yang terdapat di dalamnya diharapkan bisa menjadi bahan yang dapat membentuk karakter generasi muda khususnya bagi masyarakat Lubuklinggau.

Anyaman Lapiak; Riwayatmu Kini

0

Solok – Salah satu tugas Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat adalah melaksanakan perekaman Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Perekaman ini bertujuan untuk mendokumentasikan suatu karya budaya sehingga mempunyai dokumen yang suatu saat bisa dinikmati, dipelajari bahkan diwariskan kepada generasi muda. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kepunahan karya budaya tersebut.

Pada tahun ini, BPNB Sumatera Barat akan melaksanakan perekaman WBTB di tiga wilayah kerja yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Khusus untuk wilayah Sumatera Barat akan mencoba merekam proses pembuatan anyaman lapiak.  Pemilihan ini didasarkan karena saat ini anyaman ‘lapiak’ sedang diusulkan sebagai warisan Indonesia. Selain itu anyaman lapiak juga sudah diambang kepunahan dan perlu dilestarikan.

Anyaman Lapiak adalah salah satu kerajinan tradisional yang pernah berkembang di masyarakat Minangkabau. Lapiak atau tikar adalah kebutuhan alas bagi masyarakat, baik untuk tempat duduk, tempat tidur maupun wadah untuk menjemur hasil-hasil pertanian seperti padi, kopi dan lain-lain. Bahan utama pembuatan anyaman lapiak ini adalah daun pandan. Daun pandan direbus lalu diwarnai dan selanjutnya dianyam dengan tangan untuk jadi tikar.

Lain dulu lain sekarang. Anyaman lapiak pada masa kini sudah jarang ditemui bahkan hampir mengalami kepunahan. Kurangnya ketersediaan bahan baku menjadi salah satu penyebab berkurangnya produksi anyaman lapiak. Namun bukan itu saja, anyaman lapiak semakin punah dikarenakan beberapa hal seperti kurangnya permintaan karena telah tergantikan oleh tikar-tikar impor yang lebih ringan, lamanya proses pembuatan dan semakin berkurangnya orang yang mengetahui cara pembuatan.

Tanpa dokumentasi yang baik, maka bisa dipastikan anyaman lapiak akan benar-benar mengalami kepunahan di masa mendatang. Untuk itu BPNB Sumatera Barat berencana mengadakan perekaman pembuatan anyaman lapiak pandan. Perekaman ini dimulai dari proses pengambilan daun pandan, manyaikk, manyisik, merendam dan merebus, mencolok warna sampai proses menganyam daun pandan menjadi tikar.

Jejak Tradisi Daerah BPNB Sumbar Digelar 25-28 April 2017

0
Jejak Tradisi Daerah akan dilaksanakan pada 25-28 April 2017 di Nagari Padang Ranah dan Tanah Bato, Sijunjung, Sumatera Barat.

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat akan menggelar Jejak Tradisi Daerah (Jetrada) 2017 pada 25-28 April mendatang. Kegiatan ini rencananya akan dilangsungkan di Padang Ranah dan Tanah Bato, Kabupaten Sijunjung. Pemilihan daerah ini oleh panitia dimaksudkan untuk mengenalkan Desa Adat Padang Ranah dan Tanah Bato kepada masyarakat luas. Hal ini untuk mendukung pengusulan Desa Adat tersebut sebagai warisan budaya ke UNESCO.

Jetrada tahun ini mengangkat tema kebhinnekaan. Kegiatan ini akan melibatkan siswa-siswi SMA/sederajat dari tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Sekitar 100-an orang lebih akan terlibat dalam kegiatan internalisasi termasuk panitia dan peserta. Selama pelaksanaan kegiatan, para peserta akan menginap di rumah-rumah penduduk. Tinggal di rumah penduduk dimaksudkan untuk memberi pelajaran kepada peserta akan kehidupan nyata di perkampungan, peserta juga bisa diharapkan mampu belajar memahami dan menghargai budaya setempat.

Selain tinggal selama tiga hari bersama penduduk, berbagai kegiatan juga akan dilaksanakan untuk mendukung kegiatan tersebut. Beberapa diantaranya adalah Diskusi Budaya, Observasi Lapangan serta Pagelaran Kesenian. Dari observasi lapangan, para peserta akan menulis karya ilmiah lalu mempresentasikannya dalam diskusi budaya. Karya tulis peserta nantinya akan dinilai oleh juri yang telah ditentukan. Peserta terbaik dari kegiatan Jetrada ini akan diikutkan dalam Jejak Tradisi Nasional 2017.

Kegiatan Jetrada 2017 diharapkan dapat memberi pemahaman bagi peserta didik mengenai kekayaan budaya di nusantara. Dengan melibatkan dan membawa peserta didik bersentuhan langsung dengan masyarakat, diharapkan mereka dapat menghargai satu sama lain, mengakui perbedaan dan saling menghormati. Dengan adanya kegiatan ini maka toleransi dan tenggang rasa sesama generasi muda bangsa dapat terjalin sejak dini.

BPNB Sumatera Barat Adakan Workshop Kearsipan Bagi Pegawai

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menyelenggarakan Workshop Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Kearsipan Kebudayaan. Kegiatan bermaksud untuk memberikan pemahaman kepada pegawai BPNB Sumatera Barat khususnya yang bertugas dalam perpustakaan dan tata usaha tentang kearsipan. Kegiatan ini dimulai pada Senin, 27 Maret 2017 dan akan berlangsung dengan berbagai bentuk hingga terciptanya SDM yang paham tentang kearsipan.

Workshop Kearsipan ini dibuka oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman di Ruang Sidang BPNB. Para peserta yang terlibat dalam workshop ini adalah para pegawai yang tugas dan pekerjaannya ada pada kepustakaan dan tata usaha. Selain itu, juga mengundang nara sumber dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat yaitu Ibu Hayati Saad, BA, Bapak Alfiandri, SS,Bapak Yendri Buharma, SS.

Ketiga nara sumber yang dihadirkan dalam workshop ini membedah masalah-masalah kearsipan dan berbagai tawaran solusi mengatasi masalah tersebut. Masing-masing nara sumber membawakan tiga materi yang berbeda yakni: “Manajemen Kearsipan” oleh Ibu Hayati Saad, BA, “Pengelolaan Arsip Elektronik” oleh Bapak Alfiandri, SS dan “Pengelolaan Perpustakaan Khusus Instansi Pemerintah” oleh Bapak Yendri Buharma, SS.

Menurut ketua panitia kegiatan Ibu Sefiani Rozalina, kegiatan ini bermanfaat setidaknya untuk beberapa hal yaitu: pertama, meningkatkan pengetahuan pegawai BPNB Sumatera Barat dalam bidang pengarsipan. Kedua, meningkatkan pelayanan kepada instansi dan masyarakat terkait dokumen/arsip. Ketiga, meningkatkan tertib arsip dan administrasi serta efektifitas kerja.

Senada dengan itu, kepala BPNB Sumatera Barat dalam sambutannya menyatakan betapa pentingnya menjaga arsip sebagai bukti sejarah dan budaya. Beliau menambahkan bahwa sesuai dengan Pasal 3 UU No.43 Tahun 2009 maka tertib dokumen menjadi kebutuhan penting dalam pelaporan, administrasi pertanggungjawaban, pelayanan masyarakat bidang budaya dan sejarah, ketepatan kinerja pegawai bidang kearsipan serta bukti hukum bidang dokumen negara.

Pelaksanaan kegiatan ini akan diawali dengan pembekalan kepada peserta. Peserta yang telah mendapat pembekalan akan mencoba mengidentifikasi berbagai permasalahan kearsipan di kantor dan selanjutnya akan mempraktekkan penataan arsip per kelompok. Hasil pekerjaan peserta nantinya akan dievaluasi untuk mengukur pemahaman para peserta mengenai teori dan praktek kearsipan. Proses penataan arsip akan berlangsung selama tiga bulan. Dalam jangka waktu tersebut para peserta dapat berkonsultasi dengan narasumber yang memang sekaligus diminta sebagai pembimbing praktek.

Upaya Revitalisasi Silat Padang Pariaman

0

Pariaman – Kamis, 23 maret 2017, Dinas Pendidikan Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Pariaman mengadakan Sosialisasi Revitalisasi Silat Khas Padang Pariaman untuk pengembangan seni tradisi. Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Drs. Suarman diundang sebagai narasumber. Hadir dalam sosialisasi ini antara lain tuo-tuo silek Padang Pariaman, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Padang Pariaman serta sasaran-sasaran silat yang ada di Kabupaten Padang Pariaman.

Kegiatan Sosialisasi ini dilaksanakan di Anai Resort Padang Pariaman. Adapun narasumber utama antara lain: Dr. Asril, S. Kar, S.Hum dari ISI Padang Panjang, Dr. Syahrul, SS, M.Si juga dari ISI Padang Panjang, Drs. Suarman dari BPNB Sumatera Barat serta Akhiruddin, ketua IPSI Padang Pariaman. Acara pembukaan ditandai dengan pembacaan ayat suci Al Quran, laporan ketua panitia, kata sambutan, pemasangan deta dan peragaan silat tanda memulai acara serta pembacaan doa.

Pada kesempatan itu Asril memaparkan tentang peran silek untuk mendukung seni pertunjukan di Kabupaten Padang Pariaman.

“Padang Pariaman memiliki seni pertunjukan, salah satunya silek yang tumbuh dan berkembang di setiap nagari di Kabupaten Padang Pariaman, pemerintah dalam hal ini berperan dalam pelestarian yakni sebagai fasilitasi, motivator dan sebagai pelestari” demikian Asril memaparkan

Suarman dalam kegiatan sosialisasi tersebut didampingi Undri, Koordinator peneliti BPNB Sumatera Barat . Sebelum memaparkan materi pokok Suarman mengenalkan BPNB Sumatera Barat sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. BPNB Sumatera Barat ini melaksanakan tugas dan fungsi melestarikan nilai budaya di wilayah kerjanya meliputi Provinsi Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Paparan Undri adalah sosialisasi pengisian formulir pencatatan warisan budaya tak benda. Padang pariaman memiliki warisan silat beragam jenisnya. Aspek budaya ini yang menjadi obyek pengisian formulis oleh peserta sosialisasi terdiri dari guru tuo (tuo silek) dan anggota kelompok-kelompok silat yang diundang pihak dinas.

Dijelaskan Suarman, banyak upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan silat Padang Pariaman. Langkah pertama dilakukan pendataan jenis-jenis silat dan kekhasan gerakannya. Sejalan dengan kegiatan ini, sasaran kelompok/komunitas yang berperan melestarikan silat warisan leluhurnya, managemen dan legalitas setiap kelompok silat merupakan suatu keharusan. Hal ini dipentingkan untuk menjadi patokan bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Padang Pariaman membuat program dan pengalokasian anggaran terkait dengan pelestarian silat daerah setempat.

Masih menurut Suarman, riset silat mutlak diperlukan untuk menemukenali kesejarahan sistem budaya dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Standarisasi permainan dan pembelajaran silat di sekolah-sekolah dipandang penting. Selanjutnya Suarman menyampaikan gagasan bahwa pemberdayaan para guru silat patut mendapat kepedulian. Mereka ditugasi mengajarkan silat di sekolah-sekolah. Gerakan silat dapat dimanfaatkan mewujudkan senam khas di sekolah-sekolah. Ini juga kebijakan strategis pelestarian silat di Padang Pariaman. Paparan Suarman ditanggapi serius oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan peserta sosialisasi.

Sementara itu Syahrul menjelaskan tentang revitalisasi kreatif terhadap eksistensi silat di Padang Pariaman. Menurut Sahrul penting melakukan revitalisasi guna keikutsertaan generasi muda dalam pelestarian pencak silat.

Pada kesempatan itu juga ketua IPSI Padang Pariaman Akhiruddin menekankan pentingnya kerjasama antar lembaga dan organisasi untuk pelestarian pencak silat.

Kegiatan sosialisasi yang dimoderatori Undri ini berjalan cukup dinamis. Dalam diskusi juga mengemuka tentang masalah kekurangan anggaran dari pemerintah daerah khusus untuk pelestarian Silat. Sehingga hasil diskusi direkomendasikan penganggaran dana untuk pelestarian silat. Seluruh peserta juga sepakat bahwa pelaksanaan pelestarian pencak dilat harus didukung semua komponen termasuk pemerintah daerah. Kegiatan ini diharapkan dapat melestarikan silat.

Kontributor: Suarman dan Undri

Seminar Proposal Kajian Pelestarian Nilai Budaya Selesai

0

Padang – Setelah berjalan dua hari akhirnya seminar proposal kajian pelestarian nilai budaya di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat selesai. Acara ditutup secara resmi oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman. Selama dua hari para peneliti mempresentasikan 14 proposal penelitian. Ke-14 penelitian mencakup tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Seminar ini juga melibatkan tiga nara sumber utama yaitu Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas Bapak Dr. Alfian Miko, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Ibu Dr. Silvia Rosa, M.Hum, dan Ketua Jurusan Sejarah Universitas Negeri Padang Ibu Dr. Erniwati, M.Hum.

Dalam kesempatan itu Drs. Suarman menyampaikan terima kasih kepada narasumber serta seluruh peserta yang bersedia berbagai ilmu dan menyampaikan kritik serta saran terhadap proposal penelitian para peneliti. Beliau juga menekankan beberapa hal untuk perbaikan proposal sehingga target yang akan dicapai dalam penelitian nanti bisa sesuai harapan. Beberapa saran daru beliau diantaranya bahwa sejarah dan budaya tidak boleh dipisahkan karena keduanya berkelindan. Untuk itu peneliti harus mampu memadukan dua ilmu tersebut dalam penelitiannya.

Selain itu beliau juga menyarankan pada judul yang harus menarik sehingga pembaca nantinya penasaran untuk membaca. Judul ini sangat menentukan ilmu yang kita dapatkan melalui penelitian akan bermanfaat ketika masyarakat mau membacanya. Beliau juga menekankan penggunaan bahasa istilah lokal harus melihat sisi fonologi serta penerjemahan cerita rakyat ke bahasa Indonesia sehingga bisa menjadi konsumsi masyarakat luas.

Secara garis besar seminar penelitian yang berlangsung selama dua hari ini mencakup Budaya  dan Sejarah. Ke-14 proposal penelitian yang ada mencakup obyek sebagai berikut:

  1. Kepercayaan terhadap pengobatan tradisional di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan
  2. Tatakrama pelajar berlalu lintas di Provinsi Sumatera Barat
  3. Tradisi Mailau di Solok, Sumatera Barat
  4. Barong Landong di Kota Bengkulu, Bengkulu
  5. Tatakrama Masyarakat Pesisir di Pesisir Selatan, Sumatera Barat
  6. Surau Suluk Di 50 Kota, Sumatera Barat
  7. Jokong di Muko-Muko, Bengkulu
  8. Tradisi Lisan Mengantar Marapulai di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan
  9. Cerita Rakyat di Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan
  10. Diaspora masyarakat Minangkabau di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan
  11. Bagan Tanlai di Nagari Mandeh, Sumatera Barat
  12. Kehidupan Sosial Ekonomi Nelayan di Bengkulu, Bengkulu
  13. Repung di Kaur, Bengkulu
  14. Sistem Pengobatan Tradisional di Kaur, Bengkulu

Dari keseluruhan penelitian ini, terdapat lima penelitian di Provinsi Sumatera Barat, empat penelitian di Provinsi Sumatera Selatan dan Lima penelitian di Provinsi Bengkulu.

BPNB Sumbar dan Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Bukittinggi Jalin Kerjasama

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat dan Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukit Tinggi sepakat menjalin kerjasama. Kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama kedua belah pihak di Kantor BPNB Sumatera Barat. Penandatanganan kesepakatan dilaksanakan pada Selasa, 21 Maret 2017 di Ruang Kerja Kepala BPNB Sumatera Barat antara Dekan Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Bukittinggi Bapak Dr. Gazali, M.Ag dan Kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman.

Rombongan Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Bukittinggi tiba di kantor BPNB Sumatera Barat dan sekitar pukul 09.00 wib sebanyak tujuh orang. Rombongan dipimpin langsung oleh Bapak Dr. Gazali, M.Ag. Rombongan menawarkan kerjasama dalam berbagai program yang berkaitan dengan aspek kesejarahan dan budaya sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing lembaga.

Setelah dialog berlangsung dengan lancar, selanjutnya kedua belah pihak sepakat untuk menjalin kerja sama yang erat. Kerjasama dimaksudkan untuk pembangunan budaya di Sumatera Barat khususnya Bukittinggi dan juga berkaitan dengan pengembangan akademik IAIN Bukittinggi.

Bapak Dr. Gazali menegaskan akan selalu siap bekerja sama dengan BPNB Sumatera Barat ketika menjalankan kegiatan di Kota Bukittinggi. Beliau juga berharap kerjasama dari BPNB Sumatera Barat dalam berbagai kegiatan workshop dan kebutuhan akan tenaga narasumber dalam berbagai kegiatan IAIN Bukittinggi.

Menyambut tawaran tersebut, Drs. Suarman menyampaikan bahwa banyak kegiatan yang bisa disinergikan antara BPNB Sumatera Barat dengan IAIN Bukittinggi. Berbagai program internalisasi yang melibatkan mahasiswa, dialog budaya, kajian tentang pengetahuan tradisional dan budaya tradisional menjadi contoh program yang bisa disinergikan. Beliau juga menyampaikan dukungannya dan akan menugaskan pegawai yang kompeten ketika IAIN Bukittinggi membutuhkan narasumber dalam berbagai kegiatan.

Proses dialog dan penjajakan kerjasama ini berakhir dengan penandatanganan kesepakatan bersama serta sertifikat kerjasama antara BPNB Sumatera Barat dan Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Bukittinggi. Selanjutnya adalah penyerahan cenderamata dari IAIN Bukittinggi kepada BPNB Sumatera Barat yang langsung diserahkan oleh Bapak Gazali kepada Bapak Suarman.

Seminar Proposal Kajian Pelestarian Nilai Budaya

0

Padang – Bertempat di Ruang Sidang Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat, pada Senin 20 Maret 2017 diadakan Seminar Proposal Pelestarian Nilai Budaya. Seminar ini akan berlangsung selama dua hari berturut-turut dari Senin-Selasa, 20-21 Maret 2017. Sekitar 14 proposal penelitian akan dipresentasikan oleh para peneliti BPNB Sumatera Barat. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman.

Diawali dengan doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, seminar selanjutnya dibuka secara langsung oleh Kepala BPBN Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman. Dalam sambutannya, Suarman menyampaikan bahwa sebagai unit pelestari maka kajian tidak bisa dilepaskan dari tugas dan fungsi BPNB Sumatera Barat. Hal ini menurut beliau karena nyawa dari pelestarian tersebut adalah penelitian.

“penelitian adalah nyawa pelestarian nilai budaya” demikian Suarman menegaskan.

Beliau juga menambahkan bahwa untuk mencapai penelitian yang berkualitas maka diperlukan masukan dari berbagai pihak khususnya akademisi. Itulah tujuan adanya seminar proposal.

Seminar proposal sejatinya merupakan kegiatan rutin untuk menampung masukan dan saran sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa rencana, penemuan masalah, kerangka berfikir, tujuan, metode penelitian serta instrumen yang lain telah lengkap sehingga penelitian bisa dilaksanakan. Dengan terpenuhinya semua instrumen penelitian maka bisa dipastikan bahwa penelitian tersebut bisa tepat sasaran, terarah dan tidak melebar serta pada akhirnya nanti bisa berdaya guna.

Hal ini jugalah yang ditekankan oleh Suarman dalam sambutannya. Beliau menyatakan bahwa hasil kajian ini harus mempunyai kontribusi dari aspek kesejarahan dan kebudayaan kepada pemerintah dan masyarakat setempat. Sehingga ketika penelitian telah selesai dilaksanakan maka endingnya harus menawarkan masukan atau rekomendasi pada kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemeritnah setempat. Selain itu beliau juga menekankan bahwa selain hasil yang akan berkontribusi pada daerah lokasi penelitian, hasil penelitian ini juga nantinya harus disajikan secara informatis dan berskala nasional. Sehingga hasil tersebut tidak hanya bisa dikonsumsi oleh kita dan masyarakat setempat tapi juga seluruh masyarakat.

Diawali dengan pemaparan, diskusi dan penyimpulan oleh nara sumber. Pada kesempatan di hari pertama, didapuk sebagai nara sumber utama adalah Bapak Alfian Miko, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas.

Hari pertama seminar menampilkan enam orang peneliti. Keenam orang peneliti ini dibagi dalam dua sesi, dengan masing-masing sesi tiga orang. Pada sesi pertama seminar menampilkan tiga orang peneliti dengan obyek penelitian yang berbeda. Ketiga proposal tersebut yakni, Tradisi Mailau di Kabupaten Solok yang akan diteliti oleh Ibu Titit Lestari, Tatakrama Pelajar Berlalu Lintas di Kabupaten Pasaman oleh Bapak Yulisman dan Tatakrama Masyarakat Pesisir yang dipresentasikan oleh Bapak Refisrul.

Sementara untuk sesi ke dua, tiga orang peneliti yakni Ibu Silvia Devi mempresentasikan tentang Jokong dan Nelayan di Kabupaten Muko-Muko, Provinsi Bengkulu, Bapak Hariadi meneliti Surau Suluk, Mursyid dan Pengobatan Tradisional di Kabupaten Lima Puluh Kota, serta Bapak Rois Leonard A akan meneliti tentang Barong Landong pada Suku Lembak di Kota Bengkulu.

Revitalisasi Kesenian Tradisional di Kota Solok

0

Solok – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat melaksanakan kegiatan Revitalisasi Kesenian Tradisional di Kota Solok. Kegiatan ini merupakan kegiatan perdana tahun 2017 terkait revitalisasi. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 18 Maret 2017 di Gurun Bagan Kelurahan VI Suku Kota Solok dan dibuka secara langsung oleh Wakil Walikota Solok Bapak Reinier dan didampingi oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman.

Revitalisasi kesenian tradisional merupakan salah satu bentuk tugas Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat dalam upaya menggali, mempertahankan dan mengenalkan nilai-nilai budaya tradisional kepada generasi muda. Kegiatan pelestarian di BPNB Sumatera Barat dilakukan setiap tahun dan menyebar di seluruh wilayah kerja baik Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan dengan menampilkan kesenian tradisional oleh sanggar yang juga masih memegang teguh tradisi.

Revitalisasi Kesenian Tradisional yang diadakan di Kota Solok menampilkan tiga sanggar seni tradisi yakni Sanggar Gajah Tongga, Sanggar Lubuk Saiyo dan Sanggar Baringin Sakti. Ketiga sanggar tersebut menampilkan kesenian tradisional yang berbeda seperti Randai yang dibawakan oleh Sanggar Gajah Tongga, Tari Lampu Togok oleh sanggar Gunung Saiyo dan Tari piring dan Tari Lansuf oleh Sanggar Baringin Sakti. Semua kesenian tersebut merupakan kesenian tradisional yang masih tetap dipertahankan hingga sekarang.

Wakil Walikota Solok Sangat mengapresiasi kegiatan Revitalisasi Kesenian Tradisional dan mendukung kegiatan-kegiatan yang bertujuan menggali potensi adat dan budaya Minangkabau. Kegiatan ini sendiri diikuti antusias oleh masyarakat setempat. Masyarakat berharap kegiatan-kegiatan semacam ini lebih rutin dilaksanakan untuk memberi pemahaman akan kekayaan tradisi dan budaya khususnya kesenian tradisional kepada generasi muda.

Sesditjen Kebudayaan Melakukan Dialog Dengan Pegawai BPNB Sumatera Barat

0

Padang – Pasca pengambilan sumpah/janji pegawai negeri sipil di aula BPNB Sumatera Barat pada Jumat, 17 Maret 2017, sekretaris direktorat jenderal kebudayaan Bapak Ir. Drs. Nono Adya Supriyatno, MM, MT menyempatkan diri berdialog dengan seluruh pegawai BPNB Sumatera Barat. Dialog diadakan  di Ruang Rapat Balai, dimulai sekitar Pukul 10.00Wib-12.00 wib. Dialog ini diinisiasi oleh kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman untuk meminta arahan terkait pelaksanaan program kerja BPNB Sumatera Barat di masa mendatang.

Turut hadir dalam dialog tersebut Kepala Bagian Hukum, Tatalaksana dan Kepegawaian Bapak Kosasih Bismantara, Kepala BPCB Sumatera Barat Bapak Nurmatias, Kepala BPNB Aceh Ibu Irini Dewi Wanti, Kepala BPCB Aceh Bapak Deny Sutrisna, Kepala BPNB Kepulauan Riau Bapak Toto Sutjipto serta seluruh pegawai Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat. Berbagai hal terkait kepegawaian, status peneliti BPNB, rencana pembangunan pusat dokumentasi dan informasi kebudayaan matrilineal menjadi menu utama dalam dialog kali ini.

Dalam kesempatan dialog tersebut Sesditjen menyampaikan pentingnya dialog bahkan curhat dalam organisasi untuk memahami letak persoalan yang  muncul dalam organisasi serta syarat mengeluarkan kebijakan yang sangat mendasar.

“Justru dari curhat ini akhirnya kita bisa mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sangat mendasar. Kita tidak bisa ketika kita tidak pernah berkunjung ke daerah dan secara emosional tidak melihat kondisi yang ada di UPT maka kebanyakan kebijakan itu Cuma ada di atas logika rasional  tidak dibengkel dan itu tidak bagus” demikian Nono menjelaskan.

Pernyataan ini dibuktikan beliau selama dua tahun menjabat menjadi sekretaris direktorat jenderal kebudayaan telah mengunjungi hampir semua UPT Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Pak Nono memaparkan banyak hal terkait dengan manajemen organisasi Direktorat jenderal Kebudayaan dan regulasi yang melekat di dalamnya. Beliau menjelaskan tentang UU ASN No. 5 tahun 2014 dan rencana revisi UU tersebut, Moratorium penerimaan PNS yang turut berpengaruh pada jumlah dan regenerasi kepemimpinan di berbagai instansi, Assesment pegawai yang sudah berjalan di pusat dan akan dilaksanakan di UPT dalam waktu yang tidak lama. Selain itu pak Nono juga membahas tentang status jabatan fungsional peneliti yang nota bene tidak sesuai dengan peraturan dan tugas dan fungsi pelestari.

Suasana dialog berlangsung cukup cair dan akrab. Para pegawai juga berkesempatan menyampaikan uneg-unegnya berkaitan dengan kepegawaian dan juga pengembangan pusat dokumentasi dan informasi matrilineal. Hal ini tidak lepas dari tugas dan fungsi pelestarian nilai budaya yang melekat pada Balai Pelestarian Nilai Budaya.

Undri, salah satu pegawai meyampaikan harapan akan pentingnya Pusat dokumentasi dan informasi matrilineal yang telah lama digagas untuk segera direalisasikan. Selain itu Undri juga menambahkan pentingnya riset dan peneliti sebagai dasar untuk membuat kebijakan dalam suatu lembaga. Hal ini menyikapi informasi posisi mengambang para peneliti di BPNB Sumatera Barat.

Terkait dengan pembangunan pusat data dan informasi Pak Nono meminta untuk dibicarakan kebali bagaimana konsepnya. Beliau menyampaikan dukungannya karena berkaitan dengan pengembangan informasi.

“Karena kita satu keinginan pak, bahwa kebudayaan ini dikenal oleh masyarakat, ini nanti bisa di sinkronkan dengan dapobud kita.” Tambahnya

Dialog kemudian berkembang pada media komunikasi internal yang telah ada namun belum dimanfaatkan secara maksimal karena dukungan infrastruktur yang kurang memadai seperti teleconverence. Peningkatan SDM melalui beasiswa juga tidak luput dari perdiskusian. Hariadi yang menanyakan beasiswa ini berharap ada juga beasiswa untuk S-3. Selain itu juga tentang peta jabatan yang belum ideal di berbagai UPT menjadi bahan yang menarik dibahas dalam dialog ini. Para peserta yang hadir sangat antusias dengan dialog seperti ini dan berharap bukan yang terakhir kali.

Pengambilan Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil Di BPNB Sumatera Barat

0

Padang – Pada Jumat, 17 Maret 2017 di Aula Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat diadakan Pengambilan Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Direktorat Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pengambilan sumpah ini dilaksanakan langsung oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian pendidikan dan Kebudayaan Bapak Ir. Drs. Nono Adya Supriyatno, MM, MT. Pengambilan sumpah juga disaksikan oleh Kepala Bagian Hukum, Tata Laksana dan Kepegawaian Direktorat Jenderal Kebudayaan Bapak Kosasih Bismantara.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman, Kepala BPNB Aceh Ibu Irini Dewi Wanti, Kepala BPNB Kepulauan Riau Bapak Toto Sutjipto, Kepala BPCB Sumatera Barat Bapak Nurmatias, Kepala BPCB Aceh Bapak Deny Sutrisna, KasubBag TU BPCB Jambi Bapak Harno Ignatius, rohaniawan, serta panitia pengambilan sumpah.

Acara yang dimulai sekitar pukul 09.30 wib ini diikuti sebanyak 20 Pegawai Negeri Sipil yang berasal dari semua Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang ada di region Sumatera.  Ke-20 PNS tersebut meliputi 6 (enam) orang dari BPNB Sumatera Barat, 3 (tiga) orang dari BPNB Kepulauan Riau, 1 (satu) orang dari BPNB Aceh, 2 (dua) orang dari BPCB Sumatera Barat, 5 (lima) orang dari BPCB Jambi dan 3 (tiga) orang dari BPCB Aceh.

Rangkaian acara pengambilan sumpah dimulai sekitar pukul 09.30 wib. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan sumpah jabatan oleh PNS yang dipimpin langsung oleh Bapak Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Bapak Ir. Drs. Nono Adya Supriyatno, MM, MT. Setelah pembacaan sumpah dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara pengambilan sumpah dengan disaksikan oleh Kepala Bagian Hukum,Tata Laksana dan Kepegawaian Bapak Kosasih Bismantara serta Kepala Balai masing-masing pegawai yang diambil sumpah.

Dalam arahannya Sesditjen Kebudayaan Bapak Nono menyampaikan kepada seluruh peserta yang mengucapkan sumpah untuk bisa lebih fokus bekerja dan senantiasa melahirkan ide-ide baru untuk mengembangkan kebudayaan khususnya dalam pelaksanaan tugas-tugas kantor.

Setelah rangkaian acara penandatanganan sumpah selesai, selanjutnya doa  dipimpin oleh Rohaniawan Islam. Acara kemudian ditutup dengan penyampaian ucapan selamat kepada peserta dan dilanjutkan dengan foto bersama.

Rapat Lanjutan Sinergi Publikasi Kebudayaan Di Kabupaten Pasaman

0

Batusangkar – Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Drs. Suarman mengikuti rapat teknis kegiatan sinergitas antar instansi di Kabupaten Pasaman Barat. Rapat diadakan pada Selasa, 7 Maret 2017 di Aula Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat, Batusangkar. Hadir dalam rapat antara lain BPCB Sumatera Barat, BPNB Sumatera Barat, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasaman.

Dalam kesempatan itu Suarman menekankan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman untuk menonjolkan ikon budaya daerahnya. Beliau juga menambahkan bahwa BPNB Sumatera Barat akan terlibat dalam berbagai acara seperti:

  1. Pameran bersama
  2. Dialig sejarah dan budaya, serta
  3. Penampilan kesenian (Baretong di Hari Tarang)

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun sinergi antar lembaga dalam publikasi kebudayaan yang akan dilaksanakan di Kabupaten Pasaman pada 2-6 Mei 2017. Publikasi kebudayaan ini akan menggelar beberapa acara yang ditanggungjawabi oleh instansi yang terlibat di dalamnya. Kegiatan tersebut antara lain: pameran bersama, pameran kompetisi, dialog interaktif, dialog wartawan multimedia, penandatanganan deklarasi, penyuluhan cagar budaya, debat berbahasa daerah, peluncuran buku, bioskop keliling, pembuatan film dokumenter, penampilan kesenian, jelajah budaya.

OKU Selatan Menjadi Tuan Rumah Lawatan Sejarah Daerah 2017

0

Padang –Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat akan melaksanakan Kegiatan Lawatan Sejarah Daerah 2017. Untuk memastikan suksesnya pelaksanaan acara ini, panitia melakukan survey ke OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. OKU Selatan digadang-gadang menjadi tuan rumah pelaksanaan Lawatan Sejarah Tahun 2017.

Rencana Lawatan Sejarah Daerah 2017 akan dilaksanakan pada 12-14 April 2017. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini akan melibatkan siswa-siswi SMA sederajat dari tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat. Sekitar 90 an siswa SMA sederajat nantinya akan terlibat dalam kegiatan ini. Para siswa-siswi akan dibawa melawat ke berbagai tempat dan monumen bersejarah. Selanjutnya diakhiri dengan penulisan sejarah mengenail objek-objek yang dikunjungi.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberi pelajaran dan kepekaan bagi peserta didik tentang sejarah perjalanan bangsa dan tokoh-tokoh inspirasional di dalam sejarah tersebut. Adanya kegiatan ini diharapkan mampu mendorong para peserta didik untuk tidak lupa akan akar sejarahnya dan mau berkontribusi bagi bangsa dengan meneladani para pahlawan yang telah tiada.

Soekarno pernah menyatakan Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah.

Inventarisasi dan Pencatatan Karya Budaya Serentak di Enam Kabupaten/Kota

0
Salah satu tradisi penyambutan tamu

Padang – Salah satu tugas Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat adalah melaksanakan inventarisasi warisan budaya. Hal ini untuk mencegah hilangnya warisan budaya atau mengalami klaim orang lain karena tidak dihargai di rumah sendiri.

Pada tahun 2017, pelaksanaan inventarisasi dan pencatatan warisan budaya tak benda di tiga wilayah kerja tetap dilaksanakan sebagaimana di tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini inventarisasi secara serentak dilaksanakan di enam Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Pasaman Timur untuk wilayah Sumatera Barat, Kabupaten Lebong, Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur untuk wilayah dan Kabupaten Pali dan Kota Prabumulih untuk wilayah Sumatera Selatan. Tim inventarisasi akan bekerja melaksanakan tugasnya selama sepuluh hari mulai tgl 6-15 Maret 2017 di lapangan.

Adapun tim yang turun ke lapangan untuk pelaksanaan inventarisasi antara lain:

  1. Firdaus Marbun di Kabupaten Kaur
  2. Yondri di Kabupaten Pasaman Timur
  3. Maryetti di Kota Prabumulih
  4. Budi Eka Putra di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI)
  5. Rahma Dona di Kabupaten Bengkulu Selatan
  6. Mutiara Al Husna di Kabupaten Lebong.

Pemilihan enam daerah tersebut didasarkan pada evaluasi hasil-hasil inventarisasi tahun-tahun sebelumnya. Data budaya dari keenam daerah ini masih terbilang sedikit dibanding daerah lain di tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat. Sehingga perlu inventarisasi untuk melengkapi data tersebut. Nantinya data-data yang telah terkumpul akan didaftarkan untuk menjadi warisan budaya Indonesia.

Hasil inventarisasi juga akan disampaikan ke Dinas bidang Kebudayaan dimana inventarisasi dilakukan. Hasil inventarisasi dilakukan selain didaftarkan sebagai kekayaan budaya Indonesia, juga diseleksi dalam rangka melihat ada atau tidak yang memenuhi syarat untuk diajukan sebagai warisan budaya dunia. Hal ini tentunya didiskusikan BPNB Sumatera Barat dengan dinas bidang budaya yang memiliki karya budaya tersebut.

Dengan adanya inventarisasi ini diharapkan warisan-warisan budaya di enam wilayah tersebut bisa terdokumentasikan dengan baik dan bisa menjadi sumber pengetahuan di masa yang akan datang. Dengan adanya inventarisasi ini juga diharapkan mampu mencegah hilangnya nilai-nilai budaya oleh gelombang globalisasi yang semakin hebat.

Nagari Adat Balimbiang Diresmikan

0
Foto Bersama

Tanah Datar – Nagari Adat Balimbiang merupakan nagari adat yang mendapat bantuan pemerintah berupa Revitalisasi Desa Adat. Revitalisasi Desa Adat ini merupakan bantuan yang dikelola oleh Direktorat Kepercayaan dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program ini merupakan progman rehabilitasi terhadap rumah-rumah adat yang sudah mengalami kerusakan. Di Sumatera Barat pada tahun 2016, dua desa adat berkesempatan mendapatkan bantuan Revitalisasi Desa Adat yaitu Balai-balai Adat Nagari Tigo Jangko dan Kampung Adat Balimbiang di Kabupaten Tanah Datar.

Drs. Suarman memberikan kata sambutan

Setelah Balai-Balai Adat Nagari Tigo Jangko selesai diresmikan, kini Kampung adat di Nagari Adat Balimbiang yang mendapat giliran. Bupati Tanah Datar secara langsung meresmikan Kampung adat tersebut pada Sabtu, 4 Maret 2017. Karena berhalangan menghadiri peresmian rumah adat di Balimbiang, Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan meminta Kepala BPNB Sumatera Barat menghadiri acara peresmian tersebut.
Dalam sambutannya, Suarman menyampaikan apresiasi yang besar akan sifat gotong-royong yang ditunjukkan oleh masyarakat Balimbiang dalam masa rehabilitasi rumah-rumah yang ada. Beliau juga berharap sifat gotong-royong tersebut tetap terjaga di masa-masa yang akan datang dan dalam bidang yang lebih luas.

Bupati Tanah Datar bersiap melakukan pengguntingan pita

Acara peresmian tersebut meliputi pembukaan, kata sambutan dan pemotongan pita sebagai tanda peresmian kampung adat. Selanjutnya diakhiri dengan foto bersama bupati dan tokoh adat Nagari Balimbiang.
Sebagai informasi tambahan, Nagari Adat Balimbiang melalui bantuan Revitalisasi Desa Adat ini merehab lima rumah adat dengan total dana bantuan sekitar Rp.470.000.000,-.

Berbagai Wacana Digagas Untuk Rencana Pekan Budaya Maritim 2018

0

Padang – Wacana menggelar Pekan Budaya Maritim Internasional 2018 terus diseriusi. Rapat-rapat antar instansi untuk mencari model dan strategi yang tepat demi terselenggaranya acara ini terus dilakukan. Setelah disepakati pada pertemuan pertama di Kampus Universitas Andalas antara BPNB Sumatera Barat, FIB UNAND, FISIP UNAND dan IAIN Imam Bonjol, pada Jumat, 24 Februari 2017 rapat kembali digelar dengan melibatkan instansi terkait yang lebih luas.

Rapat yang dilaksanakan di Ruang Rapat BPNB Sumatera Barat tersebut dihadiri oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Fakultas Adab dan Humanihora Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Dinas Pendidikan Kota Padang serta Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat serta Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat.

Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman menjelaskan bahwa rapat kali ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan sebelumnya untuk secara bersama-sama menggelar Pekan Budaya Maritim Internasional 2018. Tujuan rapat adalah untuk meminta masukan bagaimana strategi untuk melanjutkan kesepakatan tersebut dan kegiatan-kegiatan apa yang tepat untuk mengisi Pekan Budaya Maritim yang direncanakan. Beliau juga menawarkan  beberapa kegiatan seperti Seminar, Festival budaya, Pameran, Workshop serta lomba.

Pada kesempatan ini Dekan FISIP Universitas Andalas Bapak Dr. Alfian Miko mengingatkan bahwa rencana Pekan Budaya Maritim juga dimaksudkan untuk mengakomodir rencana Kongres Kebudayaan Minangkabau.

Dari perdiskusian berkembang berbagai wacana bentuk kegiatan Pekan Budaya Maritim. Beberapa kegiatan yang direncanakan antara lain Seminar Internasional Kemaritiman, Jelajah Budaya dan Lawatan Sejarah Daerah, Workshop, Festival Budaya Maritim, Pameran Budaya Bahari, Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Lomba Melukis serta Belajar Bersama Maestro. Tidak ketinggalan Kongres Kebudayaan Minangkabau juga menjadi satu bagian dari kegiatan Pekan Budaya Maritim yang nantinya akan dikoordinir oleh Dinas Kebudayan Provinsi Sumatera Barat. Seluruh kegiatan ini secara teknis akan dikoordinir masing-masing instansi yang sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Tindak lanjut dari rapat kali ini adalah menyusun Term of Referencee (TOR) pelaksanaan Pekan Budaya Maritim. TOR ini nantinya akan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah dan instansi pusat untuk meminta dukungan demi suksesnya kegiatan ini.

Suarman: Kajian dan Inventarisasi Harus Memberi Masukan Terhadap Pelestarian Budaya

0

Padang – Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menekankan pentingnya kegiatan penelitian dan inventarisasi mampu memberi manfaat langsung kepada wilayah yang dikaji. Kajian dan inventarisasi harus memberi masukan atau rekomendasi kepada pemerintah daerah di wilayah kerja khususnya terkait pelestarian nilai budaya. Hal ini untuk memastikan BPNB Sumatera Barat sebagai Unit Pelaksana Tugas Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berkontribusi aktif dalam tugas dan fungsi pelestarian budaya.

Hal itu disampaikan Suarman dalam rapat pada Jumat, 24 Februari 2017 di ruang rapat BPNB Sumatera Barat. Menurut Suarman pembangunan kebudayaan sekarang harus mengedepankan pembangunan karakter. Pembangunan karakter menjadi semakin penting di tengah kondisi bangsa terkini dan gelombang massif globalisasi. Untuk menghadapi kondisi tersebut, tanpa adanya pegangan dan modal karakter serta hilangnya identitas maka kedepannya generasi muda kita sulit maju, tidak berkemampuan menghadapi tantangan zaman dan berada pada kondisi yang memprihatinkan. Hal ini terjadi karena tidak memiliki ketahanan budaya sebagaimana diharapkan.

Suarman menambahkan bahwa pekerjaan paling mendasar dalam pembangunan karakter adalah bagaimana menggali nilai-nilai budaya yang ada di wilayah kerja terlebih dahulu. Hasil-hasil penggalian nilai budaya tersebut nantinya akan diklasifikasikan untuk memastikan nilai budaya yang positif untuk dikembangkan menjadi bahan ajar dalam pembangunan karakter. Nilai-nilai budaya tersebut akan dikembangkan dan dilestarikan selanjutnya diajarkan untuk generasi muda untuk dipahami. Proses internalisasi harus dijalankan massif sehingga masyarakat mempunyai pola pikir yang berkarakter.

Kajian dan inventarisasi merupakan bagian dari penggalian nilai-nilai budaya tersebut. Melalui kajian dan inventarisasi nantinya diharapkan ada rekomendasi pada pemerintah setempat sebagai referensi awal atau pendukung dalam rencana pengambilan atau pembuatan regulasi. Rekomendasi tersebut diharapkan sedikit banyaknya mampu menjadi modal awal dalam pembangunan kebudayaan khususnya pembangunan karakter.

Rapat kali ini seyogyanya membahas tentang standar teknis pelaksanaan kegiatan 2017 yang akan segera berjalan. Berbagai kegiatan yang telah diprogramkan seperti Kajian, Inventarisasi, Revitalisasi dan dasilitasi diharapkan terlaksana dengan baik dan tepat sasaran. Untuk itu perlu koordinasi dengan pemerintah daerah dan pelibatan dalam berbagai even kegiatan. Selain itu berbagai kegiatan akan dicoba dikomunisasikan dan membangun sinergi dan silaturahmi di masa yang akan datang.

Bupati Muko-Muko Mengunjungi Stand Pameran BPNB Sumatera Barat

0
Kunjungan Bupati Muko-Muko di Stand BPNB Sumatera Barat

Muko-Muko – Stand Pameran Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat di Kabupaten Muko-Muko cukup menarik perhatian. Bupati Muko-Muko Choirul Huda, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan serta Kabid Kebudayaannya menyempatkan diri berkunjung ke stand tersebut. Hal ini berkaitan dengan bahan-bahan yang dipamerkan bersentuhan langsung dengan kebudayaan setempat. Warga yang berkunjung juga cukup antusias untuk mengenali kebudayaan di tiga wilayah kerja yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Bahkan para pemangku adat setempat serta budayawan yang berkunjung cukup tertarik untuk memiliki buku-buku hasil kajian BPNB Sumatera Barat.

Pameran ini merupakan kegiatan BPNB Sumatera Barat mendukung kegiatan “Festival Kapuang Sati Ratau Batuah” dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kabupaten Muko-Muko yang Ke-14 tahun 2017. Pameran ini bertujuan untuk mengenalkan BPNB Sumatera Barat sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan. Selain itu yang lebih penting dari pameran ini adalah untuk membagi pengetahuan melalui hasil-hasil kajian, inventarisasi, perekaman serta dokumentasi BPNB Sumatera Barat berkaitan dengan kebudayaan.

Pameran yang berlangsung pada 21-25 Februari 2017 ini, BPNB Sumatera Barat selain memamerkan buku-buku hasil kajian dan hasil inventarisasi warisan budaya tak benda, kuliner,  juga memamerkan film-film dokumenter hasil perekaman bangunan bersejarah, perekaman aktifitas sejarah dan aktivitas budaya serta hasil-hasil pendokumentasian berbagai kegiatan revitalisasi warisan budaya. Hasil-hasil perekaman tersebut termuat dalam CD/DVD.

Berbagai aktifitas budaya yang ada di tiga wilayah kerja secara bertahap telah didokumentasikan oleh BPNB Sumatera Barat. Hal ini untuk menghindari hilangnya kekayaan budaya tersebut di masa yang akan datang. Salah satu hasil perekaman yang cukup menarik perhatian adalah perekaman aktifitas budaya ‘Laut Sakti’. Perekaman ‘Laut Sakti’ ini memilih pengambilan gambarnya di pantai Indah Muko-muko. Hasil perekaman ini juga telah diserahkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Muko-Muko.

Sebagai informasi, BPNB Sumatera Barat turut mendukung kegiatan ‘Festival Kapuang Sati Ratau Batuah’ dalam rangka Hari Ulang Tahun Kabupaten Muko-Muko. Sebagai bentuk dukungan, BPNB Sumatera Barat memfasilitasi penampilan kesenian yang sengaja dibawa dari Sumatera Barat, Pameran dan juga pemutaran film anak bangsa.

Dengan adanya pameran ini diharapkan mampu menambah wawasan kebudayaan masyarakat setempat. Berbagai buku, film dan hasil-hasil pendokumentasian BPNB Sumatera Barat bisa menjadi referensi dalam membentuk dan mengembangkan karakter dan identitas sesuai dengan kebudayaan masing-masing.

Bioskop Keliling Singgah di Kota Tambang

0
Pemutaran film

Sawahlunto – Bioskop Keliling Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat singgah di Kota Tambang Sawahlunto. Hal itu untuk memfasilitasi keinginan Pemerintah Kota Sawahlunto dalam pemutaran film “Rekam Jejak PT.BA Pasca Tambang”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula PT. BA Kota Lama Sawahlunto pada Senin, 20 Februari 2017. Hadir dalam kegiatan tersebut Kadis Pariwisata Kota Sawahlunto, GM PT. Bukit Asam, Sejarawan, pakar tambang, masyarakat adat dan siswa-siswa SMA sederajat.

Pemutaran film

Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Walikota Sawahlunto Bapak Ali Yusuf dan ditutup oleh Sekda Kota Sawahlunto ini bertujuan untuk mengenang Rekam Jejak PT. Bukit Asam hingga Pasca Tambang. Sebagaimana diketahui bahwa Kota Sawahlunto telah mendeklarasikan diri sebagai Kota Wisata Tambang setelah Tambang Batubara telah berakhir. Kini Kota Sawahlunto sedang berbenah menjadi Kota wisata dan sedang proses pengusulan menuju warisan budaya dunia.

BPNB Sumatera Barat sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendukung sepenuhnya keinginan pemerintah daerah Kota Sawahlunto untuk memajukan daerah khususnya terkait dengan kebudayaan. Fasilitasi Bioskop Keliling merupakan salah satu bentuk dukungan memberikan wawasan kebudayaan kepada generasi muda melalui audiovisual. Harapannya dengan adanya kegiatan ini masyarakat khususnya generasi muda memahami sejarah dan kebudayaan Kota Sawahlunto termasuk kontribusi tambang dan rekam jejak PT. BA dalam memajukan masyarakat dunia.

Sumatera Barat Usulkan 20 Warisan Budaya Tak Benda Sebagai Warisan Indonesia

0
Konsultasi Dinas Kebudayan Sumbar dengan Kepala BPNB Sumbar mengenai WBTB

Padang – Dalam rangka sidang koordinasi penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2017 pada 21-23 Februari 2017, Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Kebudayaan mengusulkan 20 Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Indonesia.

Konsultasi Dinas Kebudayan Sumbar dengan Kepala BPNB

Ke-20 warisan budaya tersebut antara lain:

  1. Randai, sebuah karya unik yang menggabungkan berbagai unsur seni bela diri (silat), drama, tari, musik dan sastra.
  2. Tari Lilin, sebuah tarian yang dimainkan seorang wanita dengan piring berisi lilin menyala di tangannya.
  3. Samba Lado, jenis kuliner khas bercita rasa pedas menyengat tapi enak dan membuat penikmatnya ketagihan.
  4. Sate Padang, adalah sate dengan teknik pengolahan merebus daging sebelum dibakar.
  5. Bahasa Tansi-Sawahlunto, merupakan bahasa lokal di Sawahlunto yang dinilai sebagai bahasa kreol pertama di Indonesia.
  6. Kaba Puti Talayang, sebuah legenda/cerita lisan berkisah tentang seorang anak gadis Minangkabau bertemu dengan Raja Jin.
  7. Padati-Sumatera Barat, sejenis alat transportasi masa lalu dengan menggunakan kerbau.
  8. Garobak, sejenis alat transportasi terbuat dari kayu beroda satu dengan dua tangkai pegangan.
  9. Sikerei, dukun mentawai untuk pengobatan tradisional.
  10. Ritual Kematian Mentawai, upacara yang dilakukan ketika seseorang meninggal baik karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan maupun karena kematian mendadak.
  11. Dendang, merupakan sastra lisan yang dinyanyikan untuk mengungkapkan keadaan.
  12. Upacara Perkawinan Adat Sumatera Barat, merupakan rangkaian acara yang harus dilalui dalam proses perkawinan Minangkabau.
  13. Tradisi Malam Baretong, adalah tradisi gotong-royong, persaudaraan, dan tanggung jawab sebagai anggota kaum.
  14. Ratik Tolak Bala, sejenis upacara permohonan agar terlepas dari malapetaka di Minangkabau.
  15. Tambo Simalanggang, cerita asal-usul dan silsilah nenek moyang Minangkabau dari Payakumbuh.
  16. Anyaman Lapiak, merupakan anyaman tikar dari bahan tumbuh-tumbuhan berdaun panjang seperti pandan.
  17. Main Mancik-Mancik, sejenis permainan tradisional berupa strategi sembunyi ketika dicari musuh.
  18. Babako, pemberian hantaran oleh kerabat ayah calon pengantin perempuan kepada calon pengantin perempuan.
  19. Kerajinan Ukiran, merupakan kepiawaian seseorang dalam mematahkan pisau atau pahat ukit di atas kayu sehingga menghasilkan ornamen yang unik, indah dan menarik.
  20. Kerajinan Sapu Ijuk, kearifan memanfaatkan bahan alam berupa ijuk aren sebagai alat pembersih lantai.

Ke-20 warisan budaya tak benda Sumatera Barat ini nantinya akan dipastikan lolos atau tidak untuk ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia dalam sidang yang digelar Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya (WDB) di Jakarta.

Melalui sidang koordinasi, tim ahli akan memverifikasi warisan tersebut kepada pihak pengusul. Para pengusul dalam hal ini akan memberi argumen dan data-data pendukung lain berupa hasil-hasil kajian, dokumentasi dan foto-foto untuk memperkuat pengusulan. Dari data tersebut tim ahli akan menilai suatu warisan dinyatakan layak atau tidak untuk ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia 2017.

HUT Kabupaten Muko-Muko; Suarman Tekankan Pembangunan Karakter

0

Muko-muko – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menghadiri undangan Pemerintah Daerah Kabupaten Muko-muko. Undangan berkaitan dengan “Festival Kapuang Sati Ratau Batuah” dalam rangka HUT Kabupaten Muko-Muko ke-14. Acara festival ini dilaksanakan pada Minggu – Sabtu, 19 – 25 Februari 2017 di Lapangan Utama Kabupaten Muko-muko. Festival yang akan berlangsung selama satu pekan ini secara resmi dibuka oleh Bupati Kabupaten Muko-muko Bapak Choirul Huda.

Pembukaan Festival Kapuang Sati Ratau Batuah, Muko-Muko

Sebelum pembukaan oleh Bupati, Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman diberi kesempatan terlebih dahulu menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya Drs. Suarman mengapresiasi pemerintah daerah Muko-muko yang hingga kini tetap eksis dan konsisten melakukan pemasyarakatan budaya. Gagasan-gagasan dan kebijakan strategis untuk melakukan pemasyarakatan budaya sekaligus melaksanakan pembangunan integrasi sosial.

Dalam kesempatan tersebut Suarman juga tidak lupa memperkenalkan BPNB Sumbar sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Konsentrasi BPNB Sumatera Barat adalah Kebudayaan Matrilineal dan budaya umum lokal. Artinya tidak hanya kebudayaan matrilineal yang menjadi objek pelestarian tapi juga kebudayaan lain yang ada di wilayah kerja yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Drs. Suarman didampingi Kabid Kebudayaan Muko-muko sedang diwawancarai salah satu tv lokal

Suarman melanjutkan bahwa keberhasilan pemasyarakatan budaya akan lebih baik ditindaklanjuti dengan penerapan kebudayaan sebagai muatan lokal di tingkat sekolah.

“Harapannya dengan adanya kegiatan ini akan berkontribusi positif membangun karakter bermartabat, berbudi pekerti, berakhlak, jati diri, bercitra keluhuran. Hal ini menjadi modal dasar agar masyarakat Muko-muko terutama generasi muda, disamping memiliki identitas kelokalan dalam hidup berbudaya kemudian dapat berperan melaksanakan pembangunan di segala bidang” demikian Suarman menjelaskan.

“Disitu arti penting fungsi dan peran kebudayaan sebagai roh pencapaian tujuan pembangunan di segala bidang dengan memposisikan masyarakat daerah ke depan dapat beradaptasi dengan kemajuan yang ada” tambahnya.

Penyerahan cenderamata oleh Bupati kepada Kepala BPNB Sumatera Barat

Bupati Muko-Muko Bapak Choirul Huda menyampaikan apresiasinya kepada BPNB Sumatera Barat karena kinerjanya telah dirasakan oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Beliau juga menyampaikan bahwa kerjasama Kabupaten Muko-Muko dengan BPNB Sumatera Barat telah terjalin sejak lama.

Sebagai informasi tambahan, BPNB Sumatera Barat turut mendukung kegiatan Festival Kapuang Sati Ratau Batuah dengan memfasilitasi penampilan kesenian dari Sumatera Barat yaitu Sanggar Tradisi Tambulun Saiyo. Sanggar Tambulun Saiyo adalah salah satu sanggar dari Kabupaten Pesisir Selatan yang berkesempatan dapat bantuan Fasilitasi Komunitas Budaya di Masyarakat dari Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan kebudayaan.

Foto Bersama

Selain itu BPNB Sumatera Barat juga turut terlibat dalam pameran kajian sejarah dan budaya serta pemutaran bioskop keliling. Dengan pameran dan pemutaran bioskop keliling diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat berkaitan dengan pengetahuan sejarah dan nilai-nilai budaya.

Di akhir acara pembukaan dilakukan pertukaran cenderamata berupa plakat dan piagam penghargaan antara Pemerintah Daerah Kabupaten Muko-Muko dengan BPNB Sumatera Barat.

Kepala BPNB Sumbar Menerima Kunjungan Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat

0
Kunjungan Kabid Kebudayaan DISDIKBUD Kabupaten Pasaman Barat

Padang (BPNB Sumbar) – Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasaman Barat Bapak Defi Irawan, S.Pd melakukan kunjungan kerja ke Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat. Kunjungan dilakukan pada Jumat, 17 Februari 2017 dan diterima langsung oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman didampingi Koordinator Fungsional Undri, SS, M.Si dan Kelompok Kerja Sejarah Ibu Dra. Zusnelli Zubir, M.Hum.

Kunjungan Kabid Kebudayaan DISDIKBUD Kabupaten Pasaman Barat

Menurut Bapak Defi bahwa kunjungannya bermaksud menjalin silaturahmi sekaligus membangun kerjasama dan sinergi antar lembaga yang bergerak dalam kegiatan kebudayaan. Lebih jauh beliau bermaksud berkonsultasi mengenai pembangunan kebudayaan di Kabupaten Pasaman Barat. Bagaimana strategi dan langkah pengembangan budaya ke depan. Beliau juga meminta bantuan mengenai program yang akan dijalankan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan yaitu Festival Kebudayaan dan Festival Film yang akan digelar dalam waktu dekat.

Kunjungan Kabid Kebudayaan DISDIKBUD Kabupaten Pasaman Barat

Kepala BPNB Sumatera Barat Drs.Suarman menyambut baik kedatangan dan niat pengembangan budaya yang direncanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasaman Barat. Beliau menekankan bahwa inti dari pembangunan kebudayaan adalah pembangunan karakter dan jati diri. Untuk mencapai hal tersebut maka yang pertama harus dilakukan adalah inventarisasi warisan budaya. Inventarisasi dilanjutkan dengan pengklasifikasian warisan budaya, memilah mana yang baik dan potensial untuk pendidikan karakter.

Kunjungan Kabid Kebudayaan DISDIKBUD Kabupaten Pasaman Barat

Masih menurut Suarman, arti penting inventarisasi ini adalah untuk perlindungan kebudayaan, pengusulan wbtb sebagai warisan nasional dan yang paling utama adalah untuk diseleksi sebagai bahan muatan lokal. Bahan muatan lokal terdiri dari pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional (PT/EBT). Beliau juga tidak lupa menyoroti kesalahan kaprah selama ini yang cenderung menganggap bahwa kebudayaan adalah seni. Ke depan hasil-hasil kajian dan rumusan tentang muatan lokal harus diberikan kepada guru yang selanjutnya diajarkan kepada anak didik.

Langkah-langkah konkrit dalam pembangunan kebudayaan harus dimulai dari inventarisasi kemudian riset tentang kebudayaan. Pembangunan kebudayaan ke depan harus berbasis riset sehingga rumusan regulasi dalam pengembangan kebudayaan lebih tepat sasaran.

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, siap berkontribusi mendukung pelaksanaan pembangunan kebudayaan tingkat provinsi, kabupaten/kota di wilayah kerja Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan termasuk Kabupaten Pasaman Barat.

Kerjasama konkrit antara BPNB Sumatera Barat dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasaman Barat dalam waktu dekat yakni pendokumentasian kebudayaan setempat. Pihak dinas akan menyediakan anggaran dan pendokumentasian dilakukan oleh BPNB Sumatera Barat.

Komisi I DPRD Kabupaten Lingga Melakukan Kunjungan Ke BPNB Sumbar

0
Kepala BPNB Sumbar menerima Komisi I DPRD Kabupaten Lingga

Padang (BPNB Sumbar) – Anggota komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lingga melakukan kunjungan kerja ke Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat pada Kamis, 16 Februari 2017. Rombongan dipimpin langsung oleh Ketua Komisi I Bapak Neko Wesha Pawelloy, B.C.Sc (Hons) dan diterima oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman di ruang kerjanya. Turut serta dalam rombongan yakni Seniy (Wakil Ketua), Alexander Welling (Sekretaris) dan Drs. H. Zakaria (Anggota).

Kepala BPNB Sumbar menerima Komisi I DPRD Kabupaten Lingga

Kedatangan rombongan komisi I tersebut bertujuan untuk melakukan studi banding dan konsultasi mengenai pembangunan Desa Adat. Konsultasi ini dimaksudkan untuk mencari pola dan arah yang tepat untuk membangun Kabupaten Lingga sebagai pusat sejarah dan budaya Melayu di Kepulauan Riau. Hasil konsultasi ini nantinya diharapkan dapat merumuskan langkah-langkah strategis untuk membuat desa adat dan sebagai basis budaya dan menjadikan Kabupaten Lingga sebagai pusat sejarah dan budaya Melayu.

Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman menilai positif kegiatan kunjungan tersebut dan menyambut baik rencana pembangunan desa adat di Kabupaten Lingga. Beliau berpendapat bahwa Lingga sudah sepatutnya diangkat dan dikenalkan ke permukaan menjadi pusat budaya Melayu dan sebagai ‘Bunda Tanah Melayu’. Untuk mencapai hal itu dan untuk mewujudkan ketahanan budaya Melayu, maka Lingga harus diperankan sebagai lokomotif pembangunan budaya.

“seharusnya ketika seseorang mencari informasi tentang budaya melayu maka yang ada dalam benaknya adalah Lingga. Hal ini mengingat bahwa Lingga merupakan asal-usul berkembangnya kebudayaan Melayu”. Demikian Suarman berpendapat.

Suarman menjelaskan tidak hanya pada Desa Adat tapi bagaimana membangun budaya secara holistik di Kabupaten Lingga khususnya pembangunan kebudayaan Melayu. Pembangunan kebudayaan tidak  hanya pengembangan potensi adat semata tetapi harus melihat tujuh unsur kebudayaan. Pembangunan kebudayaan dimaksudkan adalah menggali nilai-nilai budaya dan kearifan lokal untuk pengembangan karakter dan jatidiri bangsa. Selebihnya pembangunan budaya akan dikontribusikan untuk bidang-bilang lain seperti peningkatan perekonomian, agama dan industri pariwisata.

Kepala BPNB Sumbar menerima Komisi I DPRD Kabupaten Lingga

Khusus mengenai Desa Adat, Suarman menekankan bahwa perlu melihat banyak aspek yang berhubungan dengan desa adat termasuk regulasi yang mengaturnya. Beberapa regulasi yang mengatur tentang desa adat antara lain Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18B ayat 2 tentang masyarakat hukum adat dan hak tradisionalnya, UU No 6/2014 tentang Desa, Permendagri 39/2007 tentang Pedoman Pedoman Fasilitasi Organisasi Kemasyarakatan Bidang Kebudayaan, Keraton, dan Lembaga Adat dalam Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah,Permendagri 52/2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat.

Suatu desa disebut sebagai desa adat jika didalamnya ada kelompok masyarakat yang mempunyai adat yang sama atau satu keturunan/satu kesukuan. Kelompok ini mempunyai karakter, nilai-nilai moral, bahasa dan tradisi dan rasa memiliki yang sama yang dimiliki bersama dan diturunkan dari generasi ke generasi. Lebih dari itu, dikategorikan sebagai desa adat karena masih memegang teguh norma-norma adat yang berlaku.

BPNB Sumbar Membangun Sinergi Dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

0
Kepala BPNB Sumbar menerima kunjungan Dekan FIB

Padang (BPNB Sumbar) – Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Drs. Suarman menerima kunjungan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan. Gusti Asnan datang dengan didampingi Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. Kunjungan tersebut diterima kepala di Kantor BPNB Sumatera Barat pada Selasa, 14 Februari 2017. Turut dalam perdiskusian tersebut Koordinator Fungsional Peneliti BPNB Sumbar Undri, SS, M.Si serta Kelompok Kerja Sejarah Ibu Dra. Zusnelli Zubir, M.Hum.

Kepala BPNB Sumbar menerima kunjungan Dekan FIB

Kunjungan ini merupakan balasan dari kunjungan Kepala BPNB Sumatera Barat sebelumnya. Tujuan kedatangan dekan tersebut adalah untuk tetap menjaga silaturahmi antara BPNB Sumatera Barat dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas yang telah terjalin sejak lama. Disamping itu kunjungan juga diharapkan dapan meningkatkan kerjasama dan sinkronisasi program di masa yang akan datang.

Beberapa wacana yang berkembang dalam perdiskusian dan diharapkan dapat disinergikan di masa yang akan datang adalah rencana menggelar Pekan Budaya. Pekan budaya ini rencananya akan memuat Kongres Kebudayaan, Festival dan Seminar tentang Maritim.

Kepala BPNB Sumbar menerima kunjungan Dekan FIB

Pentingnya festival dan seminar tentang maritim tidak terlepas dari program pemerintah yang fokus utamanya pada budaya bahari. Sudah sejak lama diketahui bahwa potensi sumatera tidak terlepas dari maritim. Baik itu Pantai Barat Sumatera maupun Samudera Hindia. Direncanakan juga bahwa dalam seminar nanti akan melibatkan pakar-pakar kemaritiman khususnya Sumatera.

Tindak lanjut dari perdiskusian ini nantinya akan dibentuk tim kerja yang akan menghendel semua rancangan program dan teknis pelaksanaan. Tim kerja ini nantinya juga akan membangun komunikasi dengan tokoh, dinas maupun kementerian yang berkaitan dan bisa mendukung terlaksananya rencana tersebut.

Menulis Dengan Rasa Untuk Publikasi Budaya

0
Pembekalan menulis populer

Padang (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat secara khusus mengundang redaktur Harian Singgalang untuk membekali pegawai dalam menulis artikel populer. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali para peneliti khususnya dalam meningkatkan frekuensi publikasi kebudayaan. Sehingga target pembangunan budaya serta internalisasi nilai bisa tercapai. Kegiatan pembekalan dilakukan pada Selasa, 14 Februari 2017 di Ruang Sidang BPNB Sumatera Barat. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman itu menghadirkan Erizal, pemimpin rubrik budaya Harian Singgalang sebagai nara sumber.

Pembekalan menulis populer

Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman dalam membuka pembekalan menulis tersebut menyatakan bahwa menulis di Harian Singgalang merupakan bagian dari publikasi hasil-hasil penelitian sejarah dan budaya. Untuk itu beliau juga meminta bagi setiap peserta untuk menyerap baik-baik dan ilmu yang diperoleh bisa jadi acuan untuk mengisi kolom. Pembekalan ini sendiri untuk memastikan bahwa para penulis nantinya tahu bahwa menulis di koran itu merupakan menulis jurnalistik. Ada perbedaan antara KTI dan jurnalis. Dengan adanya program ini maka harapannya dapat meningkatkan frekwensi publikasi.

Salah satu strategi membangun kebudayaan dan menginternalisasikan kepada generasi muda adalah dengan cara publikasi. Publikasi merupakan roh komunikasi dalam mengenalkan dan mengajarkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.  Salah satu media publikasi paling efektif dan efisien yang dapat dimanfaatkan adalah koran. Koran selain menjadi media umum yang dapat menyampaikan informasi setiap hari, juga mempunyai jangkauan pembaca yang luas. Luas dari segi wilayah maupun segmentasi usia pembaca.

BPNB Sumatera Barat yang adalah Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan mempunyai tugas dan fungsi pelestarian budaya. Tidak saja pada pengkajian, pelindungan dan pemanfaatan, salah satu yang paling penting adalah pendokumentasian dan publikasi. Melalui publikasi kebudayaan masyarakat dapat mengetahui dan merasa memiliki kebudayaan tersebut. Adanya rasa memiliki mendorong masyarakat untuk mempelajari dan melestarikan kebudayaan.

Pembekalan menulis populer

Sebagai unit pelestari budaya, BPNB Sumatera Barat telah melakukan banyak kajian, inventarisasi dan revitalisasi karya-karya sejarah dan budaya. Melalui pekerjaan itu juga BPNB Sumatera Barat telah banyak menerbitkan buku, jurnal dan media lain yang dapat dikonsumsi dan dipelajari masyarakat. Hasil-hasil kajian tersebut berhubungan dengan aspek kesejarahan dan budaya lokal di wilayah kerja yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Walau hasil-hasil kajian tersebut bisa diperoleh di perpustakaan kantor dan dalam berbagai pameran yang diikuti oleh BPNB Sumatera Barat, tapi masih ada keterbatasan jangkauan pembacanya. Buku dan jurnal yang nota bene adalah karya ilmiah tidak menarik untuk dibaca oleh masyarakat awam, sementara masyarakat pelaku sejarah dan budaya mayoritas adalah masyarakat awam. Untuk itu perlu lebih mengefisienkan dan mengefektifkan publikasi hasil-hasil kajian dan inventarisasi sehingga dapat menjadi konsumsi umum dan dinikmati dari semua kalangan. Dengan demikian maka target penginternalisasian bisa tercapai karena tepat sasaran.

Atas dasar itu BPNB Sumatera Barat menggagas satu kerja sama dengan Harian Singgalang untuk mengisi satu rubrik budaya di koran tersebut. Harian Singgalang merupakan harian lokal yang menjangkau seluruh kabupaten/kota yang ada di Sumatera Barat. Sehingga cukup tepat menggandengnya untuk bisa menjangkau seluruh wilayah Minangkabau. Nantinya para pegawai BPNB Sumatera Barat khususnya peneliti akan bertanggungjawab sebagai kontributor kolom tersebut. Tulisan yang akan dimuat adalah hasil-hasil penelitian.

Pembekalan menulis populer

Dalam mengisi rubrik tersebut, pegawai tentu saja tidak bisa asal-asalan karena harus memikirkan siapa yang menjadi sasaran pembacanya. Pegawai harus meningkatkan kompetensi dalam penulisan khususnya penulisan jurnalistik. Oleh karena itu maka BPNB Sumatera Barat secara khusus mengundang redaktur Harian Singgalang untuk membekali pegawai tentang pakem dan trik menulis populer. Pelatihan diadakan di Kantor BPNB Sumbar dan diikuti oleh seluruh peneliti dan beberapa staf BPNB Sumbar. Pelatihan ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan akan publikasi dan informasi bagi masyarakat awam tentang nilai-nilai sejarah dan budaya yang ada di Indonesia khususnya di Sumatera Barat. Menciptakan artikel yang komunikatif, sederhana dan bisa dipahami oleh pembaca koran tersebut.

Menurut Erizal, Beberapa bentuk tulisan dalam surat kabar antara lain berita, Feature dan Artikel populer. Mengingat BPNB sumatera barat lebih cenderung akan menyajikan hasil-hasil penelitian, maka berita tidak bernilai. Yang paling penting adalah feature dan artikel. Feature dan artikel harus disajikan dengan bahasa sederhana atau bahasa sehari-hari, singkat, menghibur, komunikatif dan diterima oleh pembaca. Sehingga hal pokok yang perlu dipikirkan adalah bagaimana penyajian tersebut adalah sasaran pembaca.

Salah satu pelajaran yang tidak kalah penting dalam pembekalan ini adalah bagaimana menciptakan rasa terlebih dahulu terhadap hal-hal yang akan ditulis. Kemudian dari rasa itu berkembang membuat alur, dialog dan deskripsi. Tiga hal tersebut dibangun dengan mengkombinasikan otak kanan dan otak kiri.

Menggali Nilai Budaya Untuk Pembangunan Karakter

0
Koordinasi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dharmasraya diterima oleh Kepala BPNB Sumbar

Padang (BPNB Sumbar) – Pada Senin, 13 Februari 2017, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menerima kunjungan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (DISBUDPARPORA) Kabupaten Dharmasraya. Kunjungan dipimpin oleh Kepala DSIBUDPARPORA Sutan Hendry yang didampingi Sekretaris Dinas Catur Eby, Kabid Kebudayaan Elfiasmi serta kadis Pariwisata. Rombongan diterima secara langsung oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman berserta KasubBag Tata Usaha Titit Lestari, S.Si, MP dan Koordinator Fungsional Undri, SS, M.Si. Pertemuan dilakukan di Ruang Kerja Kepala BPNB Sumatera barat.

 

Tujuan koordinasi ini dimaksudkan untuk menjalin silaturahmi dan membangun sinergi dan koordinasi antar lembaga yang berkaitan dengan kebudayaan pada umumnya dan khususnya antara DISBUDPARPORA dengan BPNB Sumatera Barat. Selain itu DISBUDPARPORA juga mengharapkan kerjasama dengan BPNB Sumatera barat bisa terjalin dalam menggali sejarah dan kebudayaan Kabupaten Dharmasraya. Pemerintah Daerah Dharmasraya bercita-cita menggali aspek kesejarahan yang menggambarkan secara terang hubungan antara Sriwijaya, Kerinci dan Dharmasraya. Pekerjaan penggalian sejarah ini untuk mengetahui silsilah Dharmasraya dan hubungannya dengan Kerajaan Sriwijaya pada masa lampau. Untuk itu perlu kajian sejarah dan budaya secara lintas provinsi.

Koordinasi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dharmasraya diterima oleh Kepala BPNB Sumbar

Menyambut keinginan DISBUDPARPORA tersebut Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman menawarkan dua kemitraan yang bisa dilakukan BPNB Sumatera Barat yaitu pendukungan berupa sharing kegiatan dan menyediakan tenaga peneliti. Sasaran utama dalam kemitraan tersebut adalah pembangunan karakter sehingga fokus utama adalah penggalian muatan lokal yang nantinya akan diajarkan kepada pelajar dan mahasiswa sejak TK hingga Perguruan Tinggi.

Koordinasi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dharmasraya diterima oleh Kepala BPNB Sumbar

Suarman selanjutnya menyarankan untuk menggali nilai-nilai budaya yang terdapat di setiap nagari. Dari penggalian tersebut kemudian menyusul pembangunan kampung budaya dan desa adat. Masyarakat sebagai pelaku aktif kebudayaan harus bisa diberdayakan untuk membangun budaya tersebut.

Fakta krisis moral yang terjadi sekarang tidak lepas dari hilangnya nilai-nilai budaya. Hal itu harus disikapi segera. Untuk itu melihat budaya harus dari banyak sisi baik secara sosial, ekonomi, religi, bahasa dan sastra. Untuk mengembangkan budaya tersebut, banyak program bantuan pemerintah yang bisa dimanfaatkan seperti Fasilitasi Komunitas Budaya Masyarakat, Revitalisasi Desa Adat, Rumah Budaya Nusantara. Khusus untuk dharmasraya juga perlu menampilkan ikon daerah yang menonjol untuk dikenal oleh masyarakat umum.

Koordinasi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dharmasraya diterima oleh Kepala BPNB Sumbar

BPNB Sumatera Barat secara prinsip akan mendorong Daerah Dharmasraya untuk menggali dan mengembangkan sejarah dan budayanya. Para peneliti akan dilibatkan selama ada permintaan bantuan tenaga peneliti untuk riset kesejarahan dan kebudayaan.

Kuliner Sebagai Ikon Kabupaten Solok, Mengapa Tidak?

0
Koordinasi DISKOPERINDAG dan UMKM Kabupaten Solok ke BPNB Sumatera Barat

Padang (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat mendorong Kuliner Tradisional menjadi ikon Kabupaten Solok. Hal itu disampaikan waktu menerima kunjungan kerja Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (KOPERINDAG) dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Kabupaten Solok Bapak Nasripul Romika di ruang kerja Kepala BPNB.

Kunjungan Kepala Dinas KOPERINDAG dan UMKM Kabupaten Solok berkaitan dengan rencana pelaksanaan Festival Kuliner yang akan diadakan dalam waktu dekat. Dalam kunjungannya beliau didampingi Ibu Silvy dari Badan Usaha Milik Nagari. Selain meminta dukungan untuk kegiatan tersebut, Nasripul Romika juga berharap ada sinkronisasi dan sinergi antar lembaga dalam pelaksanaan program di masa yang akan datang.

Koordinasi DISKOPERINDAG dan UMKM Kabupaten Solok ke BPNB Sumatera Barat

Target kegiatan Festival kuliner rencananya adalah untuk memunculkan berbagai jenis kuliner yang ada di Kabupaten Solok yang selanjutnya akan diinventarisasi. Berbagai kuliner tersebut akan diidentifikasi potensinya sehingga nantinya akan dikembangkan sebagai usaha home industri yang mampu menopang perekonomian masyarakat.

“kita lebih memunculkan kuliner yang nantinya akan kita kembangkan sehingga mempunyai nilai ekonomis sehingga dapat menjadi sumber ekonomi masyarakat. Jadi even ini hanya untuk membuka pintu” demikan Nasripul menjelaskan.

Menyambut program tersebut Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman menyampaikan bahwa niat pemerintah Kabupaten Solok untuk mengangkat kuliner sangat tepat. Beliau berpendapat bahwa banyaknya ragam kuliner yang terdapat di Kabupaten Solok menjadi pendorong utama selain Beras Solok yang sudah lebih dahulu terkenal. Beliau menambahkan perlu melakukan inventarisasi kuliner di kabupaten Solok. Penginventarisasian ini tidak hanya pencatatan jenisnya tapi juga filosofi, manfaat baik rasa, kesehatan dan orisinal ketradisian.

Koordinasi DISKOPERINDAG dan UMKM Kabupaten Solok ke BPNB Sumatera Barat

Lebih jauh Undri menyampaikan bahwa sebaiknya Kuliner bisa dijadikan sebagai ikon Kota Solok yang tentu berbeda dengan daerah-daerah lain di Sumatera Barat. Dengan adanya ikon tersebut, maka di masa depan masyarakat akan mengenal Kabupaten Solok dengan makanannya dan penasaran untuk berkunjung.

Secara prinsip BPNB Sumatera Barat siap membantu ketika dibutuhkan apalagi berhubungan dengan pembangunan kebudayaan. Ibu Titit Lestari menyampaikan bahwa khusus Festival Kuliner yang akan digelar, beberapa bantuan yang selalu siap untuk mendukung acara tersebut Pameran, Bioling dan narasumber ketika dibutuhkan.

Suarman: Sanggar Merupakan Pelaku Aktif Kebudayaan

0

Painan (BPNB Sumbar) – Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya(BPNB) Sumatera Barat Drs. Suarman menjadi nara sumber dalam Kegiatan Pelatihan Sanggar/Komunitas Seni dan Budaya se Pesisir Selatan. Kegiatan pelatihan yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupatean Pesisir Selatan ini diadakan di Hotel Anordio, Painan pada Sabtu, 11 Februari 2017 dengan melibatkan sanggar-sanggar dan komunitas seni budaya yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan.

Tujuan pelatihan tersebut adalah membekali sanggar-sanggar dan komunitas seni dan budaya yang ada di Pesisir selatan sehingga di masa depan bisa eksis dan mandiri. Pelatihan tersebut juga merupakan upaya menghadapi berbagai tantangan yang akan muncul ke depan sebagai implikasi dari promosi pesisir selatan sebagai daerah wisata.

Pada kesempatan Drs. Suarman menyampaikan dua hal yang berkaitan dengan pembangunan budaya yaitu pertama, komunitas budaya maupun sanggar-sanggar merupakan pelaku aktif pelestarian budaya. Kedua, sanggar harus dijadikan sebagai sumber daya manusia untuk pelestarian budaya.

“Komunitas Budaya yang terdiri dari sanggar-sanggar seni merupakan pelaku aktif pelestarian Budaya untuk itu sanggar harus dijadikan sebagai sumberdaya manusia untuk pelestarian budaya” demikian Suarman menjelaskan.

Dia juga menekankan bahwa semua pihak harus bahu-membahu termasuk maestro seni dan budaya dengan lembaga-lembaga kebudayaan membangun budaya sebagai pembentuk utama karakter bangsa.

“Sinergi antara maestro, dinas dan upt yang berhubungan dengan kebudayaan adalah bagaimana menciptakan kebudayaan menjadi sumber utama nilai pembentukan karakter bangsa yang baik dan disisi lain kebudayaan hidup dan berkembang tidak lagi bergantung pada pemerintah tapi mandiri dan mampu mensejahterakan hidup mereka” tegas Suarman.

Untuk itu kebudayaan perlu dikelola tidak lepas dari kesejarahan. Muatan nilai-nilai harus dipahami dan diapresiasi oleh masyarakat pelestari budaya. Beliau juga meminta dinas kebudayaan untuk menginventarisir kekayaan komunitas budaya yang ada di Pesisir Selatan dan dengan demikian bisa dirumuskan kebijakan strategis apa yang harus dibuat untuk mengangkat potensi budaya tersebut ke permukaan.

Program Kerja BPNB Sumatera Barat Tahun 2017

0

Padang (BPNB Sumbar) – Program kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat akan segera begulir. Berbagai program untuk tahun 2017 telah dilaunching mulai dari Kajian, Inventarisasi, Internalisasi serta Revitalisasi Aspek Kesejarahan dan Nilai Tradisional. Beberapa diantaranya merupakan kegiatan rutin seperti Jejak Tradisi Daerah, Lawatan Sejarah Daerah serta Kemah Budaya. Launching program dilakukan pada Jumat, 10 Februari 2017 di Ruang Rapat BPNB Sumatera Barat.

Kegiatan penelitian tahun 2017 didominasi tentang kajian kearifan tradisional seperti kearifan lokal dalam tradisi ‘mailau’ di provinsi Sumatera Barat, perubahan kearifan lokal masyarakat Kaur, Bengkulu, teknologi pembuatan jongkong di  masyarakat nelayan dll. Selain itu kegiatan penelitian juga difokuskan di wilayah pesisir sebagaimana program pemerintah yang lebih konsentrasi pada budaya bahari. Ada juga penelitian yang mengangkat kearifan pada pengobatan tradisional dan sistem kepercayaan.

Beberapa hal baru dalam kegiatan tahun 2017 adalah Dialog Budaya Spritual, Gelar Budaya Sumatera Barat serta Belajar bersama Tokoh Sejarah dan Budaya. Keseluruhan kegiatan meliputi tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat yang terdiri dari Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Berikut rincian kegiatan BPNB Sumatera Barat selama 2017:

  1. Penelitian sebanyak 25 kegiatan
  2. Bedah Proposal dan Seminar Hasil sebanyak 2 Kegiatan
  3. Inventarisasi dan Perekaman Warisan Budaya Tak Benda sebanyak 3 Kegiatan
  4. Even Internalisasi Nilai Budaya sebanyak 23 Kegiatan

Jika dilihat dari wilayahnya, kegiatan-kegitan BPNB Sumatera Barat meliputi:

  1. Provinsi Sumatera Barat sebanyak 28 kegiatan
  2. Provinsi Bengkulu sebanyak 19 Kegiatan
  3. Perovinsi Sumatera Selatan sebanyak 19 Kegiatan.

Sawahlunto Untuk Warisan Budaya Dunia Butuh Komitmen Kuat Semua Pihak

0

Padang (BPNB Sumbar) – Pengusulan Kota Tambang Sawahlunto menjadi warisan budaya dunia ke UNESCO hingga kini masih berjalan. Setelah beberapa tahun berproses dan berjalan secara estafet, proses pengusulan masih membutuhkan banyak hal konkrit dalam penyusunan dokumen. Salah satunya adalah komitmen dan kerja konkrit dari semua stakeholder yang berkepentingan di dalamnya. Dengan demikian maka usulan tersebut akan segera menjadi pengakuan.

Hal itulah yang berkembang dalam Rapat Koordinasi dengan Dinas-dinas Kabupaten/Kota di Sumatera Barat berkaitan dengan pengusulan Kota Tambang Sawahlunto sebagai Warisan Budaya Dunia. Rapat diadakan pada Rabu(9/2/2017) di Kantor BPNB Sumatera Barat. Beberapa Daerah yang terlibat dalam rapat adalah Provinsi Sumatera Barat, Kota Sawahlunto, Kota Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar serta Kota Padang.

Dalam rapat yang dipimpin secara langsung oleh Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Bapak Nadjamudin Ramly, secara prinsip semua Kabupaten/Kota yang masuk wilayah pengusulan Kota Tambang Sawahlunto sebagai warisan budaya dunia mendukung pengusulan tersebut. Namun dukungan yang dibutuhkan harus diimplementasikan dalam berbagai kerja-kerja konkrit sehingga batas waktu pengusulan management plan yang dibutuhkan bisa selesai.

Kota Sawahlunto adalah Kota Lama bentukan kolonial Belanda untuk mendukung eksploitasi tambang batubara pada masa itu. Sebagai satu wilayah yang sangat kaya akan batubara, sejak tambang dibuka lalu dibangun kota untuk pemukiman para pekerja tambang dan administratur perusahaan. Sementara untuk distribusi batubara, Belanda membangun jalur transportasi berupa rel kereta api dari Sawahlunto sampai ke pelabuhan Teluk Bayur. Pelabuhan teluk bayur juga dibangun atas inisiatif Belanda untuk mempermudah distribusi. Pada awalnya pelabuhan tersebut dinamakan Pelabuhan Emma Havven.

Berdasarkan sejarah dan bukti-bukti yang ada, pengusulan kota tambang dengan berbagai aspek pendukungnya melibatkan beberapa Kabupaten yang dilalui sistem transportasi tersebut. Beberapa daerah tersebut antara lain Kota Sawahlunto, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang. Beberapa Kab/Kota diantaranya menjadi stasiun penggantian loko seperti Tanah Datar dan Padang Panjang. Sehingga pengusulan untuk menjadi warisan Budaya Dunia perlu dukungan dan komitmen kuat masing-masing kabupaten yang dilalui jalur transportasi tersebut.

Pengusulan Kota Sawahlunto untuk warisan dunia tidak terlepas dari manfaatnya sebagai sebuah karya yang mempunyai nilai adiluhung. Kontribusi Sawahlunto pada dunia tidak diragukan lagi sebagai pemasok energi untuk dunia pada masa itu.

Pelatihan Komputer Berakhir

0
Peserta foto bersama instruktur

Padang (BPNB Sumbar) – Kegiatan pelatihan komputer yang diadakan di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat berakhir. Setelah berjalan sebulan penuh dan belajar setiap hari akhirnya pada Rabu, 8 Februari 2017 resmi selesai. Akhir program ini ditandai dengan evaluasi tahap akhir pembelajaran meliputi evaluasi Corel Draw dan Microsoft Power Point di Ruang Sidang BPNB Sumatera Barat.

Para pegawai yang ikut dalam pelatihan ini merasa bersyukur dengan adanya pelatihan ini. Mereka mengaku bahwa adanya pelatihan ini dapat menambah kompetensi mereka dan mempermudah pelaksanaan tugas sehari-hari. Para peserta juga merasa sudah tidak sabar untuk mengaplikasikan apa yang sudah dipelajari dalam pelatihan.

Instruktur Yendi Putra dari LP3I sanat berterima kasih kepada peserta yang hingga pada pertemuan terakhir tetap antusias mengikuti pembelajaran. Beliau juga berharap pelatihan ini bisa bermanfaat bagi peserta.

KasubBag Tata Usaha Ibu BPNB Sumatera Barat Ibu Titit Lestari, S.Si, MP mengharapkan dengan adanya program pelatihan komputer maka para pegawai yang ikut bisa meningkatkan kinerjanya. Dengan demikian target pencapaian Sasaran Kinerja Pegawai bisa tercapai dengan pengaplikasian ilmu tersebut. Seperti mengaplikasikan excel di perpustakaan sehingga mempermudah proses pekerjaan. Membuat presentasi dengan mempelajari power point dan mendesign brosur melalui program corel draw sehingga ke depan tugas dan fungsi pelestarian budaya bisa lebih tepat sasaran dengan ide-ide kreatif pegawai dalam memperkenalkan budaya tersebut.

Sebagai informasi bahwa kegiatan pelatihan ini dilaksanakan sejak bulan Januari 2017. Adapun materi yang diajarkan terdiri dari Microsoft Excel, Power Point dan Corel Draw. Pada akhir program para peserta berfoto bersama dengan instruktur.

Kerjasama BPNB Sumbar – Pemda Dharmasraya Telah Terjalin Lama

0

Padang (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menerima kunjungan Badan Penelitian dan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Dharmasraya. Kunjungan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 3 Februari 2017. Rombongan Bappeda Dharmasraya dipimpin oleh Ibu  Ir. Hj. Mana Kepala Bidang Ekonomi didampingi oleh Humaidi SP, M.Si, Kepala Bidang Sosial Budaya, Edwin Marna, SKM, Pj. Kasubid Budaya dan Indra Nelza, SKM, Fungsional Umum. Rombongan tersebut diterima oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman, Undri dan Rois A di Kantor BPNB Sumatera Barat.

Tujuan kedatangan rombongan Bappeda tersebut adalah untuk meminta masukan dan saran serta menjajaki kerjasama dengan BPNB Sumatera Barat dalam membangun budaya Dharmasraya. Hal ini berkaitan dengan visi misi Kabupaten Dharmasraya yang Mandiri dan Berbudaya. Jadi untuk mencapai visi misi tersebut, kunjungan ini diharapkan dapat merumuskan tahap-tahap yang harus dikerjakan dalam pembangunan Budaya.

Menanggapi maksud dan tujuan tersebut, Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman menjelaskan bahwa hal yang paling penting dalam pembangunan budaya adalah pembangunan karakter generasi muda. Untuk mencapai hal itu, yang pertama dilakukan adalah pendataan data-data budaya, mengklasifikasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Setelah itu dilanjutkan dengan mengambil sari dari hasil kegiatan dan menjadikannya muatan lokal yang nantinya akan diajarkan kepada pelajar dan kuliah. Lalu muatan lokal ini diworkshopkan kepada guru-guru sekolah untuk kemudian guru mampu mentransfer nilai-nilai tersebut kepada siswa-siswanya.

Suarman menekankan bahwa dalam membangun, kita harus mampu mengelola fisik dan non fisik. Tidak bisa hanya fisik, yang lebih penting adalah non fisik berupa karakter generasi muda. Fungsi kerapatan adat juga harus dioptimalkan sebagai pengawal dan pelaku aktif pelestarian adat. Mengenai suku yang beragam di Dharmasraya, itu harus dijadikan sebagai kekuatan yang menambah menariknya suatu pertunjukan budaya serta promosi wisata.

Menurut Undri kerjasama antara BPNB Sumatera Barat dengan Pemerintahan Daerah Kabupaten Dharmasraya sesungguhnya telah terjalin sejak lama dan kerjasama tersebut diimplementasikan dalam berbagai bentuk kegiatan. Pemerintah Daerah Dharmasraya juga pernah menawarkan Grand Design tentang sejarah, sosial dan budaya untuk digarap bersama antar dua lembaga. Undri juga menambahkan bahwa pada tahun ini ada beberapa kegiatan yang bisa disinergikan seperti penelitian tentang suku anak dalam di Dharmasraya, inventarisasi warisan budaya tak benda dan penelitian bertema kerajaan.

Sependapat dengan Undri, Rois juga menyampaikan bahwa cukup banyak kegiatan yang telah dilakukan di Dharmasraya, namun ada kendala dalam tindak lanjut hasil-hasil kegiatan tersebut. Beliau menambahkan beberapa kegiatan yang pernah dilakukan BPNB Sumatera Barat di Dharmasraya seperti Dokumentasi Tari Toga, Arung Sejarah. Malah, kata beliau publikasi kegiatan tersebut telah dimuat di media cetak nasional. Rois juga berpendapat bahwa kerjasama antara dua lembaga sesungguhnya tinggal mengarahkan pada bentuk kerjasama. Bagaimana kerjasama bisa menggali potensi Dharmasraya dan diolah untuk hal-hal yang positif.

Ibu Mana menyampaikan terima kasih atas sambutan dan berbagai masukan yang disampaikan dalam kunjungan tersebut. Beliau juga menjelaskan betapa pentingnya masukan tersebut untuk mencapai visi-misi pembangunan yang dicanangkan pemerintah daerah. Visi misi tersebut memfokuskan pada wisata sejarah dan budaya yang sudah dirangkum dalam RTRW, RPJM dan master plan.

Hasil pertemuan tersebut merekomendasikan diskusi lanjutan yang lebih mendalam dan melibatkan lebih banyak stakeholder khususnya akademisi. Harapannya dengan diskusi-diskusi yang kontinu akan lebih meningkatkan kualitas program dan pelaksanaannya sehingga tidak hanya sekedar dokumen tapi bermafaat bagi masyarakat.

BPNB Sumatera Barat Koordinasi dengan Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Sumatera Barat

0
Pertemuan dengan Kwarda Sumatera Barat

Padang (BPNB Sumbar) – Setelah melakukan Koordinasi dengan Perguruan Tinggi, rombongan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat melanjutkan Koordinasi ke kantor sekretariat Gerakan Pramuka Kwartir Daerah 03 Sumatera Barat. Kunjungan dilakukan pada pukul 11.00 Wib dan diterima oleh Kepala Sekretariat Kwarda Drs. H. Alwis dan Sekretaris Kwarda Andri Yusran.

Pertemuan dengan Kwarda Sumatera Barat

Tujuan kunjungan ke Kwartir Daerah Sumatera Barat adalah untuk merespon permintaan Direktorat Jenderal Kebudayaan mengenai rencana Diklat instruktur dan pamong di Cibubur. Selain itu kunjungan juga dimaksudkan untuk meminta masukan dalam pelaksanaan kegiatan Kemah Budaya BPNB Sumatera Barat yang rencanya akan digelar tahun ini. Rencana awal Kemah Budaya akan digelar pada maret tahun 2017.

Rombongan yang dipimpin langsung Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman menyampaikan maksud kedatangan terkait rencana Dirjen Kebudayaan dan berharap dapat nama yang akan diutus dalam kegiatan tersebut. Selain itu, Beliau juga berharap kerjasama antara BPNB Sumatera Barat dan Kwarda terjalin dalam beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun ini. Beliau menambahkan bahwa ada dua kegiatan yang senantiasa berhubungan dengan gerakan pramuka yaitu Saka Widya Bakti Kebudayaan dan Kemah Budaya.

Koordinasi dengan Kwarda Sumatera Barat

Berhubung pelaksanaan Kemah Budaya yang semakin dekat, Rois menyampaikan bahwa BPNB Sumatera Barat berharap ada dukungan dari kwarda baik dalam hal kepesertaan maupun bentuk-bentuk teknis pelaksanaan kegaiatan. Bentuk teknis tersebut seperti rekomendasi wilayah, peserta dan bentuk-bentuk kegiatan. Hal ini penting supaya target yang akan dicapai bisa tepat sasaran.

Mengomentari hal itu, Kepala Sekretariat Kwarda Alwiss menyampaikan dukungannya pada semua kegiatan BPNB Sumatera Barat. Beliau memastikan akan siap membantu dan memberi saran dan masukan kapan dibutuhkan. Pendapat tersebut juga diamini oleh sekretaris kwarda Andri Yusran.

Koordinasi dengan Kwarda Sumatera barat

Perdiskusian semakin berkembang pada persoalan pimpinan daerah yang belum ada di Kwarda Sumatera Barat. Beberapa persoalan adalah keraguan dalam menetapkan pimpinan daerah antara pemerintah daerah dengan unit pelaksana teknis pusat. Apakah UPT Pusat masuk dalam kepengurusan pimpinan daerah atau perwakilan pusat di daerah. Beberapa persoalan yang dibahas juga mengenai Krida dan Saka. Saka adalah wadah pembinaan pramuka untuk usia 16-25 untuk mendapatkan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan sesuai minatnya. Kalau minatnya budaya, masuk ke budaya. Instansi yang punya program pramuka yang punya massa.

Secara prinsip Kwarda siap membantu dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang akan dilaksanakan BPNB Sumatera Barat. BPNB Sumatera Barat hanya perlu mengkoordinasikan kapan kegiatan diadakan, apa tujuan kegiatan dan hal-hal apa yang bisa dibantu oleh pramuka.

Peresmian Balai-Balai Adat Nagari Tigo Jangko

0
Peresmian Balai-Balai Adat Nagari Tigo Jangko ditandai pembukaan selubung papan nama

Tanah Datar (BPNB Sumbar) – Kepala Balai Pelestarian Nilai Sumatera Barat mewakili Direktur Kepercayaan dan Tradisi Direktrorat Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghadiri peresmian Balai-Balai Adat Nagari Tigo Jangko. Acara peresmian dilaksanakan pada Rabu, 1 Februari 2017 di Nagari Tigo Jangko Kecamatan Lintau Kabupaten Tanah Datar. Turut hadir dalam peresmian yakni Bupati dan Wakil Bupati Tanah Datar, Kepala BPNB Sumatera Barat, Perwakilan BPCB Sumatera Barat, Anggota DPRD Dapil III Tanah Datar, Camat, Niniak Mamak, Cerdik Pandai, Bundo Kanduang, KAN, LKAAM dan masyarakat.

Peresmian Balai-Balai Adat Nagari Tigo Jangko ditandai pembukaan selubung papan nama

Peresmian dilaksanakan secara langsung oleh Bupati Tanah Datar Drs. Irdinansyah Tarmizi sementara pengguntingan pita dilakukan oleh Wakil Bupati Tanah Datar Zuldafri Darma dan penandatanganan prasasti oleh Kepala BPNB Sumatera barat Drs. Suarman. Rangkaian acara peresmian terdiri dari pembukaan, pembacaan ayat suci Alquran, Doa, Kata sambutan, peresmian, penandatanganan prasasti dan pengguntingan pipa. Pada penutupan acara diadakan makan bajamba seluruh peserta yang hadir di Balai-Balai Adat Nagari Tigo Jangko yang baru diresmikan.

Penyambutan kedatangan Bupati Tanah Datar beserta rombongan

Pembangunan Balai-balai adat nagari tigo jangko merupakan bantuan pemerintah yang dikelola oleh Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi pada tahun anggaran 2016. Bantuan tersebut berupa Revitalisasi Desa Adat.

Ketua Komunitas Adat Tigo Jangko H. MY Datuk Paduko Kayo dalam laporannya menyampaikan bahwa pembangunan balai-balai adat nagari tigo jangko menelan biaya sekitar Rp. 335.000.000,- terdiri dari bantuan pemerintah pusat Revitalisasi Desa Adat’ Rp. 223.000.000,- ditambah sumbangan dan iuran gotong royong Rp. 112.000.000,-. Adanya penambahan anggaran dari sumbangan dan iuran dikarenakan perubahan rencana dari rehabilitasi menjadi pembangunan baru. Dari total biaya tersebut ada penambahan luas bangunan dari 14×5 meter menjadi 18×8 meter. Pada kesempatan itu Datuk Paduko Kayo juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung dan membantu khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan khususnya Direktorat Kepercayaan dan Tradisi serta BPNB Sumatera Barat.

Makan sirih dari carano

Sependapat dengan itu, Walinagari Tigo Jangko Indra Gunawan merasa bersyukur atas pembangunan Balai-Balai Adat Nagari Tigo Jangko. Beliau juga berpesan bahwa pembangunan Balai adat hendaknya dimanfaatkan untuk mendidik generasi muda sehingga tumbuh kuat, unggul dan berkualitas. Beliau juga mengajak untuk tetap memelihara dan merawat Balai secara gotong royong.

Peserta peresmian

Ketua LKAAM Tanah Datar juga berharap Balai dimanfaatkan tidak hanya sebagai tempat bermusyawarah untuk masalah-masalah adat tapi juga sebagai tempat membentuk mental, spritual, moral dan akhlak. Beliau menyarankan untuk menjadikan balai sebagai pilot project pembangunan akhlak.

Sambutan Kepala BPNB Sumatera Barat

Sementara itu Kepala BPNB Sumatera Barat mengajak untuk menjadikan Balai-Balai Adat Nagari Tigo Jangko sebagai ‘Mambangkik Batang Tarandam’, menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang sudah mulai hilang. Beliau menambahkan bahwa selayaknya juga keberadaan Balai Adat disandingkan dengan Masjid karena pembangunan akhlak sesungguhnya berada di dua hal tersebut. Beliau juga berharap Balai tidak hanya dijadikan sebagai tempat musyawarah tapi juga education culture. Selain itu BPNB Sumatera Barat juga terbuka untuk bekerja sama dengan pemuda untuk membangun kurikulum mengangkat pengetahuan lokal sebagai muatan lokal di Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.

Foto bersama Bupati Tanah Datar

Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi dalam sambutannya juga sangat mengapresiasi pembangunan Balai-Balai Adat Nagari Tigo Jangko. Beliau berharap keberadaan Balai mampu menjadi salah satu wadah upaya melestarikan dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Beliau menambahkan bahwa pembangunan tersebut selaras dengan visi-misi pemerintah daerah untuk menjadikan masyarakat madani. Beliau juga berharap untuk kegiatan peresmian tidak hanya sekedar seremonial tapi yang paling utama adalah pembentukan generasi di masa yang akan datang.

Foto bersama seluruh undangan

Rangkaian acara peresmian Balai-Balai Adat Nagari Tigo Jangko ditutup dengan acara ‘makan bajamba’ atau makan bersama di Balai yang baru diresmikan.

Publikasi Budaya di Harian Umum Singgalang

0
Foto bersama pemimpin redaksi Singgalang. Ki-Ka: Noveri, Rois A, Khairul Jasmi, Suarman, Zusnelli Z, Undri

Padang (BPNB Sumbar) –  Salah satu pekerjaan penting dalam pelestarian budaya adalah bagaimana menginternalisasi nilai-nilai budaya tersebut kepada generasi muda. Proses internalisasi tidak akan terjadi ketika masyarakat tidak diberikan pemahaman yang tepat tentang budaya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Memberikan pemahaman tentang budaya bisa dengan banyak cara. Salah satu cara yang efektif adalah publikasi yang massif di media baik cetak maupun elektronik. Media ini bisa menjangkau wilayah yang luas sehingga pesan tersebut sampai pada masyarakat.

Foto bersama pemimpin redaksi Singgalang. Ki-Ka: Noveri, Rois A, Khairul Jasmi, Suarman, Zusnelli Z, Undri

Hal itulah yang mendorong Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat melakukan kunjungan ke kantor Harian Umum Singgalang. Harian Umum Singgalang adalah salah satu koran lokal yang jangkauan pembacanya hampir seluruh kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat. Kunjungan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 31 Januari 2017. Kunjungan dipimpin langsung oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman dan disambut oleh Pemimpin Redaksi Harian Umum Singgalang Bapak Drs. Khairul Jasmi, MM.

Sesungguhnya hingga saat ini telah banyak penelitian-penelitian yang dilaksanakan BPNB Sumatera Barat mengenai kekayaan-kekayaan budaya di tiga wilayah kerja yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Berbagai pencatatan warisan budaya tak benda, revitalisasi karya budaya, perekaman aktivitas serta ekspresi budaya juga sudah banyak dikerjakan sejak berdiri hampir 20 tahun yang lalu. Berbagai publikasi juga sudah dilakukan melalui berbagai media seperti Jurnal, Penerbitan buku yang dilakukan secara berkala serta berita kegiatan melalui website. Berbagai kegiatan-kegiatan juga sudah dipublikasikan melalui media cetak di setiap pelaksanaannya.

Diskusi bersama pemimpin redaksi Singgalang

Namun berbagai publikasi dan dokumentasi tersebut masih sangat terbatas jangkauannya sehingga masyarakat umum belum teredukasi secara maksimal. Selain jangkauan wilayah yang terbatas karena terbatasnya penerbitan, penerbitan jurnal dan buku ilmiah juga terbatas hanya bagi kalangan akademisi. Bahasa yang baku dan ilmiah membuat khalayak umum/awam tidak tertarik untuk membaca. Jadi diperlukan media cetak yang jangkauannya lebih luas dan redaksi yang bisa dicerna orang awam. Dengan demikian di masa yang akan datang masyarakat awam dapat teredukasi dan memahami nilai-nilai budaya hanya dengan membaca koran.

Dari hasil koordinasi dengan Harian Singgalang, Pimpinan Redaksi Drs. Khairul Jasmi, MM mendukung dan mengakomodir satu kolom budaya untuk diisi oleh BPNB Sumatera Barat. Beliau juga menambahkan standar teknis pengisian kolom tersebut dengan menyertakan gambar tentang obyek penelitian.

Diskusi bersama pemimpin redaksi Singgalang

Merespon dukungan tersebut, Drs. Suarman meminta kesediaan Harian Singgalang untuk bersedia diundang memberikan pelatihan jurnalistik kepada pegawai BPNB Sumatera Barat. Tujuan pelatihan ini adalah untuk melatih  pegawai menulis sesuai dengan standar yang disyaratkan Harian Singgalang. Selain itu pelatihan jurnalistik dimaksudkan untuk meningkatkan sumber daya manusia BPNB Sumatera Barat yang mampu menulis karya ilmiah populer.

Menggagas Kembali Kongres Kebudayaan Minangkabau, Mungkinkah?

0
Diskusi Kebudayaan

Padang (BPNB Sumbar) – Salah satu hal yang menarik dalam koordinasi Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat dengan Perguruan Tinggi adalah gagasan menggelar kembali Kongres Kebudayaan Minangkabau. Gagasan ini muncul dari Undri, salah seorang peneliti di BPNB Sumatera Barat pada Koordinasi dengan Perguruan Tinggi di Universitas Andalas Selasa, 31 Januari 2017. Undri menganggap bahwa perlu menggelar kongres tersebut untuk mendudukkan kembali sejarah dan kebudayaan Minangkabau sehingga menjadi satu pemahaman.

Diskusi Kebudayaan

Kongres Kebudayaan Minangkabau sebenarnya bukan lagi gagasan baru. Kongres Kebudayaan Minangkabau sudah pernah dilaksanakan pada tahun 60an. Namun melihat perkembangan generasi muda sekarang dalam hal pemahaman budaya, maka dirasa perlu untuk mengembalikan ke kaidah asli. Sehingga generasi masa depat tidak kehilangan identitas. Itulah dasar gagasan menggelar kembali Kongres Kebudayaan Minangkabau. Gagasan ini kemudian mendapat sambutan dari peserta diskusi yang hadir dan menganggap bahwa penting untuk membangun kerjasama dengan berbagai instansi terkait untuk segera merealisasikannya.

Sebagaimana disampaikan Bapak Suarman sebagai Kepala BPNB Sumatera Barat bahwa melihat berbagai persoalan moral dan akhlak generasi muda kini, maka penting untuk meluruskan kembali falsafah-falsafah yang ada. Falsafah yang sering dipersepsikan negatif akan berdampak pada hilangnya identitas. Padahal persepsi negatif itu muncul karena kurangnya pemahaman nilai-nilai budaya. Beliau menambahkan bahwa Kongres Kebudayaan Minangkabau bisa dijadikan sebagai wadah untuk meluruskan falsafah tersebut sesuai dengan makna semestinya. Disamping menurut Suarman bahwa kebudayaan Minangkabau juga tidak boleh lepas dari nafas Islam.

Peserta rapat

Dekan FISIP UNAND Dr.Alfian Miko sepakat bahwa Kongres Kebudayaan Minangkabau penting untuk memperbaharui pemahaman budaya Minangkabau. Beliau juga menambahkan perlu leading sektor untuk menggarap dan mengerjakan tahap demi tahap. Beliau juga mengingatkan untuk bisa memanajemen isu-isu yang ada sehingga tidak hanya tinggal gagasan.

FISIP UNAND Tawarkan Kerjasama dengan BPNB Sumatera Barat

0
Serah terima MoU dari Dekan FISIP UNAND Dr.Alfian Miko kepada Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman disaksikan Dekan FIB UNAND Prof. Gusti Asnan

Padang (BPNB Sumbar) – Melihat pentingnya hubungan dan kerjasama antar lembaga dalam pelestarian nilai budaya maka Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas menawarkan kerjasama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. Kerjasama tersebut ditandai dengan tawaran penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang dilakukan dalam rangkaian koordinasi dan silaturahmi BPNB Sumatera Barat di Ruang Sidang FISIP Unand pada Selasa, 31 Januari 2017. Tawaran tersebut diberikan langsung oleh Dekan FISIP UNAND Dr. Alfian Miko kepada Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Drs. Suarman.

Serah terima MoU dari Dekan FISIP UNAND Dr.Alfian Miko kepada Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman disaksikan Dekan FIB UNAND Prof. Gusti Asnan

Tawaran MoU ini oleh Dr. Alfian Miko bermaksud mengkonkritkan kerjasama dan sinergi antara FISIP UNAND dan BPNB Sumatera Barat dalam pelaksanaan program di masa yang akan datang. Tawaran ini juga menunjukkan komitmen antar lembaga untuk terlibat aktif dalam kerjasama yang sudah terbangun sejak lama. Nantinya kerjasama ini akan fokus pada pelestarian nilai-nilai budaya seperti kerjasama di bidang penelitian kebudayaan, internalisasi nilai-nilai budaya seperti seminar, workshop, pameran serta bertukar informasi dan hasil-hasil penelitian melalui jurnal dan media-media lainnya.

Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman berjanji bahwa dengan adanya kerjasama yang konkrit dengan kampus khususnya FISIP UNAND, akan berkomitmen untuk membuat dua bentuk penelitian yaitu interen (penelitian khusus BPNB) dan penelitian yang digarap secara bersama-sama dengan kampus. Berbagai masukan dengan adanya kerjasama tentu akan berpengaruh pada kualitas pekerjaan internalisasi.

Rapat dengan Perguruan Tinggi

Suarman juga berharap dengan kerjasama yang konkrit akan mempermudah mencari model yang tepat dalam tujuan melakukan internalisasi. Beliau berniat bahwa sasaran internalisasi ke depan adalah guru-guru. Guru selanjutnya yang lebih berperan melaksanakan internalisasi kepada muridnya. Model ini dinilai lebih efektif dibanding mengundang sejumlah besar siswa.

Selain itu Suarman juga menyinggung bagaimana lembaga kerapatan adat sebagai pangkal kekuatan kebudayaan Minangkabau bisa digerakkan kembali untuk lebih berperan dalam menjaga nilai-nilai kebudayaan. Beliau berpendapat bahwa peran lembaga kerapatan adat pada masa kini semakin berkurang perannya dan bisa dikatakan tidak lagi sesuai dengan peran dan fungsi idealnya. Sebagai lembaga budaya seharusnya perlu lebih dioptimalkan.

Di masa yang akan datang kerjasama antar lembaga yang sedang digagas atau ditingkatkan dari kerjasama yang telah terawat sejak dulu mampu meningkatkan kualitas pekerjaan tentang pelestarian nilai budaya. Kerjasama mampu menjadi wadah penanaman dan penguatan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Sebagaimana diketahui bahwa teknologi dan informasi yang berkembang saat ini sangat berdampak pada hilangnya nilai-nilai budaya pada generasi muda. Oleh karena itu dengan adanya kerjasama antar lembaga yang punya tugas dan fungsinya pada pelestarian budaya maka diharapkan bisa menggali kembali nilai-nilai, mengenalkan kepada generasi muda dan menginternalisasikan. Sehingga identitas pada generasi muda tidak kehilangan identitas.

Sinergi Dengan Perguruan Tinggi Menggarap Kebudayaan

0
Ki-Ka: Prof. Gusti Asnan, Drs. Suarman, Dr. Alfian Miko, Dr. Aidinil Zetra.

Padang (BPNB Sumbar) – Tugas pelestarian budaya merupakan pekerjaan besar dan membutuhkan konsistensi dalam penanganannya. Pekerjaan pelestarian budaya juga tidak bisa dikerjakan oleh satu pihak saja atau banyak pihak yang bekerja sendiri-sendiri. Pelestarian budaya membutuhkan kerjasama yang kuat dan berkesinambungan antar semua stakeholder terkait. Baik pelaku budaya, pemerintah, akademisi serta  masyarakat. Hal inilah yang mendorong Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat merasa perlu untuk meningkatkan kerja sama dengan Perguruan Tinggi.

Ki-Ka: Prof. Gusti Asnan, Drs. Suarman, Dr. Alfian Miko, Dr. Aidinil Zetra.

BPNB Sumatera Barat melakukan Silaturahmi dan Koordinasi dengan Perguruan Tinggi yang ada di Kota Padang pada Selasa 31 Januari 2017. Rombongan dipimpin oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman dan diterima oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Pertemuan yang diadakan di Ruang Sidang FISIP Unand dihadiri oleh Dekan FISIP UNAND Dr. Alfian Miko, Dekan FIB UNAND Prof. Gusti Asnan, Wadek I FISIP UNAND Dr. Aidinil Zetra, M.A, Wadek II FISIP UNAND Dr. Indraddin, M.Si, Dekan Fak. Adab dan Humanihora IAIN Imam Bonjol Dr. Firdaus, M.Ag. Sementara rombongan dari BPNB Sumatera Barat terdiri dari Kepala Drs. Suarman, Koordinator fungsional Undri, Pokja Budaya  Rois, Pokja Sejarah Zusnelli Zubir dan Publikasi Noveri. Diskusi dibuka oleh Dekan FISIP Bapak Alfian Miko.

Menurut Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman tujuan koordinasi ini  adalah untuk meningkatkan silaturahmi dan kerjasama yang memang sudah terbangun sejak lama. Kegiatan ini juga bermaksud menciptakan sinergi program yang lebih konkrit ke depan disamping meminta masukan para akademisi terkait pembangunan kebudayaan di masa yang akan datang. Beliau menambahkan bahwa kerjasama ke depan bisa dalam beberapa bentuk seperti penelitian, pameran, seminar dan kegiatan-kegiatan internalisasi. Lebih jauh Beliau juga menyinggung program pengembangan wisata di wilayah Sumatera Barat sedang digalakkan pemerintah daerah sebaiknya lebih fokus pada wisata budaya. Dengan berbagai masukan dari berbagai lembaga diharapkan perencanaan dan penganggaran program ke depan lebih terarah dan tepat sasaran.

Suasana rapat

Merespon paparan Kepala BPNB Sumatera Barat tersebut, Prof. Gusti Asnan menyatakan bahwa kerjasama antara BPNB dengan Unand sudah berlangsung sejak lama baik dengan BPNB Kepri yang sebelumnya dipimpin oleh Bapak Drs. Suarman, bahkan dengan BPNB Sumatera Barat sudah jauh lebih lama. Gusti yang juga Dekan FIB UNAND kemudian mengusulkan bahwa sesuai dengan program nawacita presiden Jokowi yang fokus pada Kebaharian, maka sebaiknya kerja sama yang akan dibangun adalah kerjasama kebaharian. Dalam hal internalisasi budaya, Gusti berpendapat bahwa pekerjaan pentingnya adalah membuat generasi muda mengetahui terlebih dahulu. Proses memberi tahu ini bisa melalui pameran, lomba mengarang, lomba membuat film dokumenter. Memunculkan memory-memory kolektif di tiga wilayah kerja serta membangun hubungan lintas budaya.

Wakil Dekan II FISIP Dr. Aidinil Zetra, M.A sepakat dan berpendapat bahwa potensi pariwisata sudah seharusnya berkembang ke arah wisata minat khusus. Wisata alam yang selama ini dijual harus diganti menjadi wisata khusus seperti wisata budaya. Beliau menyarankan untuk mengidentifikasi terlebih dahulu potensi budaya seperti misalnya di jalur rempah untuk pengembangan wisata dan ekonomi. Selanjutnya adalah mengembangkan sikap dan perilaku mengenai temuan-temuan tersebut. Bagaimana harusnya mengelola potensi tersebut. Pengelolaan ini bisa dikerjasamakan diantara pihak-pihak terkait. Lalu pekerjaan terakhir adalah membagi ke khalayak hasil-hasil temuan tersebut.

Foto bersama

Dr. Firdaus menambahkan kerjasama antar lembaga harus lebih dikonkritkan dan poin-poin apa yang harus dikonkritkan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing lembaga. Diskusi juga kemudian berkembang pada potensi membangun museum maritim. Berbagai potensi untuk dikembangkan sebagai ekonomi kreatif tentang kebaharian seperti motif-motif kelautan. Disamping itu perlu juga riset untuk melihat peluang mengalihkan perhatian generasi muda dari permainan-permainan (games) menjadi ke permainan tradisional.

Undri berharap bahwa kerjasama bisa lebih luas dengan melibatkan pemerintah daerah. Kerjasama yang lebih luas kemudian bisa menggagas kongres kebudayaan yang sudah pernah digagas sebelumnya. Usul ini diamini oleh Zusnelli Zubir dan menekankan untuk segera dikonkritkan.

Rois menyampaikan bahwa penting untuk membicarakan kegiatan rutin BPNB Sumatera Barat lebih difokuskan kepada kemaritiman atau permainan tradisional. berbagai masukan tentu saja sangat dibutuhkan untuk menambah wawasan dan kreatifitas dalam menjalankan program yang bermanfaat bagi masyarakat. Beliau juga meminta masukan untuk beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2017 seperti Jejak Tradisi Daerah, Seminar Proposal dan Penelitian kemaritiman sehingga bisa lebih terukur.

Menindaklanjuti pertemuan ini, peserta rapat sepakat untuk melakukan diskusi-diskusi rutin yang langsung dikoordinir oleh BPNB Sumatera Barat.

Bioskop Keliling Perdana Tahun 2017

0
Pemutaran film Nyanyian Tanah Ombak

Padang (BPNB Sumbar) –  Bioskop Keliling Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat kembali beroperasi di tahun 2017. Pemutaran pertama diadakan di Kota Padang tepatnya pada Minggu 29 Januari 2017 pada pukul 20.00 wib bertempat di Taman Budaya Sumatera Barat. Wargapun antusias menyaksikan pemutaran film tersebut.

Pemutaran film

Pertunjukan kali ini sesungguhnya bukan bagian dari kegiatan BPNB Sumatera Barat melainkan permintaan Komunitas Tanah Ombak yang ingin menampilkan film karya komunitas mereka kepada masyarakat. Judul film yang diputar pada kegiatan tersebut adalah “Nyanyian Tanah Ombak”. Sebuah film literasi produksi Kapa Tabang bekerja sama dengan Teater Noktah.

Sebagai komunitas yang konsentrasi pada pelestarian nilai-nilai budaya, Komunitas Tanah Ombak perlu untuk didukung. Melalui Bioskop Keliling, BPNB Sumatera Barat bisa memfasilitasi pemutaran film produksi mereka. Tim yang terlibat dalam pemutaran Bioskop Keliling tersebut yakni Yoka dan Mul Candra.

Pemutaran film Nyanyian Tanah Ombak

Sebagai informasi tambahan, BPNB Sumatera Barat sebagai UPT yang tugas dan fungsinya pada pelestarian nilai sejarah dan budaya, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat akan memutar film-film nasional yang mendidik dan menginspirasi. Hal ini merupakan bagian dari internalisasi nilai-nilai budaya kepada generasi muda masa kini. Nantinya pemutaran film akan dilakukan di berbagai daerah pada tiga wilayah kerja BPNB yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

BPNB Sumbar Menerima Plakat dari Ikatan Kekerabatan Antropologi UNAND

0
Ibu Titit Lestari menerima plakat dari IKA UNAND

Padang (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat yang diwakili oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha Ibu Titit Lestari, S.Si. MP menerima plakat dari Ikatan Kekerabatan Antropologi Universitas Andalas. Penyerahan plakat dilakukan oleh Panitia Mubes I IKA Universitas Andalas pada Sabtu, 28 Januari 2017 dalam rangkaian acara Musyawarah Besar I Ikatan Kekerabatan Antropologi (IKA) Universitas Andalas di Museum Adityawarman.

Ibu Titit Lestari menerima plakat dari IKA UNAND

Musyawarah Besar Ikatan Kekerabatan Antropologi Universitas Andalas kali ini merupakan pergelaran mubes pertama yang digagas oleh beberapa kerabat dan alumni yang secara sukarela bekerja secara estafet untuk menyelenggarakan Mubes. Niat awal pelaksanaan Mubes ini adalah kondisi terkini dengan berbagai tantangan ke depan yang dihadapi dalam pembangunan. Kondisi tersebut membutuhkan cara pandang antropologis untuk mencari solusi menghadapinya. Faktanya, para pengambil kebijakan masih enggan melirik antropologi dan memanfaatkan keilmuannya dalam menghadapi tantangan yang ada.

Ke depan, menghadapi tantangan tersebut antropologi diharapkan lebih berperan dalam berbagai aktivitas-aktifitas pembangunan. Untuk itu lulusan-lulusan antropologi harus memiliki kualitas mumpuni, berintegritas sehingga dapat menjawab tantangan yang ada. Penanaman nilai-nilai dan memperkuat modal sosial juga menjadi cita-cita yang akan diraih. Selain itu melalui Mubes dan kepengurusan ke depan, selain mengukuhkan Ikatan Kekerabatan Antropologi, para lulusan antropologi juga turut berperan aktif dalam pengembangan perencanaan daerah serta pemantauan capaian pembangunan.

Dalam rangkaian acara Mubes, panitia menyerahkan plakat kepada Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. Penyerahan plakat ini oleh panitia dimaksudkan untuk membangun kerjasama yang baik antara IKA dan BPNB Sumbar ke depan dalam berbagai kegiatan-kegiatan kebudayaan. Mendorong IKA Unand bisa menjadi mitra strategis. Turut menerima plakat dalam kegiatan tersebut yakni Kepala Dinas Kebudayaan, Kepala Museum Adityawarman, Walikota Padang serta Dekan FISIP Universitas Andalas.

Foto bersama penerima plakat

Bagi BPNB Sumatera Barat, pemberian plakat tersebut menunjukkan bukti bahwa telah lama terjalin kerja sama yang erat dengan kampus, khususnya Antropologi Universitas Andalas. Kajian-kajian kebudayaan yang dikerjakan oleh BPNB Sumatera Barat tidak lepas dari kajian-kajian akademis. Sehingga kerjasama dengan kampus tidak bisa dilepaskan untuk memastikan keilmiahan kajian tersebut. Beberapa bentuk kerjasama yang dilakukan adalah menjadikan akademisi kampus sebagai narasumber dalam berbagai kegiatan seminar dan dialog. Disamping itu beberapa akademisi juga turut dilibatkan sebagai mitra bestari jurnal yang dikelola BPNB Sumatera Barat.

Kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Suarman menyampaikan bahwa hubungan antara kampus dan UPT kebudayaan seperti BPNB sangat penting. Beliau juga menambahkan bahwa sejak beliau bertugas di BPNB Kepulauan Riau telah menjalin kerjasama dengan berbagai kampus termasuk dengan FISIP Universitas Andalas. Dan pemberian plakat tersebut adalah tepat untuk lebih meningkatkan kerjasama tersebut di masa yang akan datang.

Sukses selalu untuk Ikatan Kekerabatan Antropologi Universitas Andalas.

Prof. Lyn Parker: Stigmatisasi Janda Mengakibatkan Wanita Bertahan Pada Perkawinan Buruk

0
Prof. Lyn Parker

Padang (BPNB Sumbar) – Stigma pada perempuan khususnya pada janda dan bercerai di Indonesia masih terjadi. Stigma tersebut bermacam-macam terlebih pada perempuan janda karena perceraian. Stigma tersebut selanjutnya mengakibatkan seorang perempuan bertahan pada perkawinan yang buruk atau  harus rela merahasiakan status jandanya kepada khalayak umum. Setidaknya begitulah simpulan kuliah Prof. Lyn Parker yang disampaikan di Universitas Andalas tentang stigmatisasi Janda.

Prof. Lyn Parker

Prof. Lyn Parker adalah salah satu dosen di University Of Western Australia(UWA). Melalui kerjasama dengan Universitas Andalas, Lyn membawakan kuliah yang berjudul “The Stigmatisation of Widows and Divorcess (Janda) in Indonesia Society”. Sebuah kajian literatur review tentang Stigma atau pelabelan pada perempuan janda di Indonesia. Kuliah tersebut dilaksanakan pada Jumat, 27 January 2017 di Ruang Sidang Pasca Sarjana Universitas Andalas, Padang. Kuliah tersebut dihadiri beberapa peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat.

Artikel “The Stigmatization of Widows and Divorcées (Janda) in Indonesian Society” adalah tulisan Prof. Lyn Parker dalam jurnal edisi khusus yang membahas tentang stigma. Penulis dalam jurnal tersebut terdiri dari berbagai latar belakang ilmu seperti psikologi, hukum, antropologi dll. Tulisan ini sendiri jauh dari kajian-kajian etnografi yang mengandalkan studi lapangan.

Berawal dari perdiskusian dengan seorang wanita yang hingga dua jam tidak mau mengaku sebagai janda, kemudian Lyn memutuskan untuk mengangkat tema tentang stigma yang dihadapi perempuan janda dan sudah bercerai di Indonesia.

Menurut Lyn, konsep tentang stigmatisasi adalah reputasi yang buruk tentang seseorang. Stigma juga identik dengan identitas yang jelek. Beliau mencontohkan bahwa seorang yang sulit untuk belajar disebut ‘lolana’ atau pembelajar yang lambat. Pada awalnya stigma ini dipakai oleh ahli-ahli psikologi kemudian berkembang ke ilmu-ilmu lain dengan tokoh-tokohnya.

Lyn menambahkan Artikel ini memberi sumbangan pada konteks stigmatisasi. Dalam kajiannya stigmatisasi kepada perempuan ditujukan pada beberapa kelompok perempuan seperti: perempuan tidak menikah hingga usia 3o tahun (perawan tua), ibu-ibu yang tidak menikah, pasangan mandul (menyalahkan wanita), perempuan gundik, perempuan yang bekerja di hotel dll.

Dalam berbagai kajian, stigmatisasi atau pelabelan dipakai untuk memisahkan orang dengan orang lain. Biasanya dipakai untuk memberi label pada minoritas. Lebih jauh dia menganalisis bahwa stigmatisasi identik dengan kekuasaan. Stigma oleh orang yang berkuasa digunakan untuk mengukuhkan kekuasaannya.

Sesungguhnya ada apa dibalik stigmatisasi? Menurut Lyn, Stigmatisasi bisa dianalisis dari institusi perkawinan. Insitusi tersebut menstigmakan bahwa idealnya seorang perempuan adalah menikah maka diluar itu adalah orang yang bersalah. Hal ini juga digunakan untuk mengukuhkan UU perkawinan. Dengan adanya berbagai institusi tersebut kemudian menstigmakan bahwa seolah perceraian tidak patut terjadi.

Menurut Lyn stigmatisasi berdampak pada seorang perempuan bertahan pada situasi buruk perkawinan atau merahasiakan status jandanya kepada orang lain. Kajian ini membuka peluang pada kajian-kajian lanjutan di masa yang akan datang.

BPNB ‘Duduak Baropok Tagak Bapusu’ Bersama Dinas Kebudayaan

0

Padang (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menghadiri undangan acara Duduak Baropok Tagak Bapusu yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan Sumatera Barat. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 25 Januari 2017 pukul 09.00 wib di Aula Museum Nagari (Jl. Diponegoro No.10 Padang). Hadir dalam rapat, Kepala Dinas Kebudayaan Bapak Taufik Efendi, Ketua Bundo Kanduang Ibu Prof. Raudha Thaib, Akademisi dan Undri dari BPNB Sumatera Barat.

Tujuan kegiatan tersebut menurut Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat Taufik Effendi adalah untuk melakukan silaturahmi dengan Perguruan Tinggi, Lembaga Budaya dan Unit Pelaksana Teknis(UPT) Kementerian yang ada di Sumatera Barat yang mempunyai tugas dan fungsi sama yaitu kebudayaan. Selain itu juga dimaksudkan untuk mendiskusikan tentang Rencana Strategis Kebudayaan yang sedang digodok.

“kegiatan ini merupakan upaya untuk menampung informasi dan aspirasi serta mencari solusi tentang Rencana Strategis Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat. Ada tiga isu dalam rancangan rencana strategis kebudayaan yang sedang dalam pembahasan yaitu: masalah permuseuman dan purbakala, masalah kesenian dan diplomasi budaya serta masalah sejarah dan nilai-nilai tradisional” papar Taufik Effendi.

Sementara ketua Bundo Kanduang Prof. Raudha Thaib menyampaikan agar renstra yang sedang dibahas nantinya tidak menyimpang dari Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Hal itu mengingatkan bahwa itulah filosofi Minangkabau yang sesungguhnya.

“bahwa dalam rencana strategis kebudayaan tidak terlepas dari ‘Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’ dan ini merupakan filosofi yang harus dijalankan oleh masyarakat minangkabau” kata Raudha Thaib.

Sementara Undri dari BPNB Sumatera Barat menyampaikan bahwasannya penyusunan renstra harus merujuk pada renstra nasional. Sementara dalam pelaksanaan teknis bisa membangun sinergi dengan UPT kebudayaan seperti bekerja sama dalam inventarisasi karya budaya, publikasi dan dokumentasi serta dalam hal-hal internalisasi nilai-nilai budaya.

“rencana strategis kebudayaan provinsi sumatera barat tidak terlepas dari rencana strategis nasional yakni pembangunan karakter budaya bangsa. Secara teknis dinas kebudayaan bisa melakukan dan bersinergi dengan unit pelaksana teknis kementerian yang ada di daerah seperti melakukan inventarisasi warisan budaya tak benda, pendokumentasian dan internalisasi nilai-nilai budaya yang mencakup aspek kesenian, film, tradisi dan kesejarahan”. Demikian Undri menjelaskan.

“ke depannya Dinas Kebudayaan bisa mendorong kabupaten/kota untuk melakukan inventarisasi dan pendaftaran warisan budaya tak benda di kabupaten/kota yang ada di Sumatera Barat. Disamping juga mendorong Silek dijadikan sebagai Intangible Culture Heritage UNESCO” Undri menambahkan.

Sebagai kesimpulan, Dinas kebudayaan berjanji akan mengakomodir usulan-usulan dari peserta  rapat yang akan dituangkan dalam rencana strategis kebudayaan (2017-2022).

Sidang Verifikasi Penominasian Pencak Silat Dalam ICH List UNESCO

0

Padang (BPNB Sumbar) –  Sidang Verifikasi Penominasian Pencak Silat Dalam Intangible Culture Heritage (ICH) List UNESCO dilaksanakan pada Senin, 23 Januari 2017 di Ruang Sidang Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. Sidang verifikasi ini khusus memverifikasi dan memvalidasi data mengenai keberadaan Silek Minangkabau.

Drs. Suarman membuka sidang verifikasi silat

Sidang dipimpin langsung oleh Bapak Damarjati, peneliti dati Balitbang Kemdikbud dan dimoderatori oleh Bapak Muasri dari Taman Budaya Sumatera Barat. Sidang dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman.

Pada kesempatan tersebut Bapak Drs. Suarman menyampaikan harapannya bahwa di masa depan tidak hanya seni dari silat yang akan nampak, tapi yang paling utama adalah internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam silek tersebut. Internalisasi ini perlu untuk membangun karakter masyarakat khususnya generasi muda.

“yang paling penting adalah internalisasi nilai-nilai budaya silat. Sesungguhnya jiwa silek itu berpangkal pada nilai-nilai budaya bukan pada fisiknya atau tampilannya” demikian Bapak Suarman menjelaskan.

Sidang ini merupakan lanjutan dari pekerjaan tim peneliti silat dalam memverifikasi dan memvalidasi data. Dalam sidang ini, panitia mengundang dinas-dinas terkait dari berbagai kabupaten/kota yang ada di Sumatera Barat. Selain itu panitia juga mengundang sasaran-sasaran yang hingga kini masih eksis menjaga dan mengembangkan silat minangkabau di berbagai wilayah. Turut hadir juga beberapa tokoh silat seperti guru tuo, guru gadang, guru mudo dan tuo silek, tokoh masyarakat, bundo kanduang dan sebagainya.

Tugas para undangan adalah untuk memverifikasi data yang sudah diperoleh oleh tim peneliti. Menambahkan data-data yang kurang dan mengurangi atau mengoreksi data yang keliru. Ada banyak poin yang harus diverifikasi mengenai Silek Minangkabau. Mulai dari sejarah, nama, kepemilikan, nilai-nilai yang terkandung di dalam silek, proses regenerasi hingga eksistensi dan pelestarian. Selain itu, promosi dan uapaya-upaya pelestarian silek pada masa kini dan rencana pelestarian di masa yang akan datang juga menjadi penting untuk menguatkan argumen bahwa silek layak diusulkan sebagai warisan yang masih lestari.

Hasil sidang kali ini nantinya akan ‘dirajut’ kembali dengan menggabung data-data yang ditemukan di berbagai wilayah silat di Indonesia. Data-data diolah menjadi satu naskah lengkap yang akan diusulkan ke UNESCO untuk disidangkan pada tahun 2019.

Sebagai informasi Silek Minangkabau masuk ICH List UNESCO sebagai Seni Pencak Silat Indonesia bersama dengan Banten, DKI, Jabar, Jateng, Jatim dan Bali.

Kepala BPNB Menghadiri Peletakan Batu Pertama Rehabilitasi Makam Prof. Moh. Yamin di Talawi

0
Peletakan batu oleh Walikota Sawahlunto

Sawahlunto (BPNB Sumbar) – Sebagai salah satu UPT yang tugas dan fungsinya melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat senantiasa mendukung dan terlibat aktif dalam upaya-upaya pelestarian nilai-nilai tersebut. Tidak terkecuali dalam mendukung rencana Pemerintah Daerah Kota Sawahlunto untuk merehabilitasi makam Pahlawan Nasional Prof. Moh. Yamin, SH yang berada di Talawi, Sawahlunto. Kepala BPNB Sumbar Drs. Suarman turut menghadiri kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan.

Peserta Peletakan Batu Pertama Rehabilitasi Makam Prof. M. Yamin

Acara dilaksanakan pada Sabtu, 21 Januari 2017 di Makam Prof. Moh. Yamin di Desa Talawi, Kota Sawahlunto. Peletakan batu pertama rehabilitasi makam Moh. Yamin tersebut secara resmi dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno. Turut serta acara adalah Walikota Sawahlunto, SKPD Sumatera Barat, UPT dan UPD terkait, Ninik Mamak, Cerdik Pandai dan berbagai elemen. Rangkaian acara terdiri dari pembacaan Alquran, menyanyikan lagu Indonesia Raya, kata sambutan dari walikota Sawahlunto, pembukaan dari Gubernur Sumatera Barat, pembacaan doa, tabur bunga, penanaman pohon dan peletakan batu pertama oleh gubernur dan walikota.

Kehadiran BPNB Sumbar dalam acara peletakan batu pertama adalah bentuk apresiasi bahwa sesungguhnya hal-hal yang berkaitan dengan membuka cakrawala memory pada jasa-jasa  pahlawan layak dilakukan. Hal ini mengingat bahwa jasa para pahlawan dalam menjaga persatuan dan kesatuan cukup relevan di tengah arus globalisasi yang sedang berkembang sekarang. Jadi, mengenang kembali nilai-nilai luhur pada pahlawan menjadi hal urgen dalam membangun dan menjaga persatuan dan kesatuan di masa yang akan datang.

Tabur bunga oleh Irwan Prayitno di makam Moh. Yamin

Sebagaimana diketahui Prof. Moh. Yamin merupakan salah satu pahlawan nasional yang cukup banyak berjasa dalam berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia bersama dengan tokoh bangsa yang lain. Lahir pada 23 Agustus 1903 di Talawi, Sawahlunto. Beliau mempunyai peran yang tidak ternilai selama hidupnya dengan berbagai gagasan-gagasan persatuan di tengah banyak latar belakang yang mendiami Indonesia. Sejak masa perjuangan merebut kemerdekaan beliau sudah terlibat aktif dalam organisasi kepemudaan. Beliau juga menjadi salah satu tokoh yang berperan penting dalam lahirnya sumpah pemuda 1928. Beliau juga termasuk salah satu perumus dasar negara dalam sidang-sidang BPUPKI. Beliau juga sastrawan, politikus dan ahli hukum yang disegani.

Peletakan batu oleh Walikota Sawahlunto

Pasca kemerdekaan 1945, berbagai posisi penting dalam pemerintahan pernah beliau sandang seperti Anggota DPR, menteri kehakiman, menjadi menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan, ketua Dewan perancang Nasional, pengawas IKBN dan menjadi menteri penerangan. Beliau tutup usia pada 17 oktober 1962 diusia 59 tahun. Beliau dimakamkan di Talawi sesuai dengan permintaannya.

Biografi Moh. Yamin

Riwayat Pendidikan

  • Hollands Indlandsche School (HIS)
  • Sekolah guru
  • Sekolah Menengah Pertanian Bogor
  • Sekolah Dokter Hewan Bogor
  • AMS
  • Sekolah kehakiman (Reeht Hogeschool) Jakarta

Perjalanan Karir

  • Ketua Jong Sumatera Bond (1926-1928)
  • Anggota Partai Indonesia (1931)
  • Pendiri partai Gerakan Rakyat Indonesia
  • Anggota BPUPKI
  • Anggota panitia Sembilan
  • anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
  • Anggota DPR (1950)
  • Menteri Kehakiman (1951-1952)
  • Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1953-1955)
  • Menteri Urusan Sosial dan Budaya (1959-1960)
  • Ketua Dewan Perancang Nasional (1962)
  • Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961–1962)
  • Menteri Penerangan (1962-1963)

Berbagai Penghargaan

  • Gelar pahlawanan nasional pada tahun 1973 sesuai dengan SK Presiden RI No. 088/TK/1973
  • Bintang Mahaputra RI
  • Tanda penghargaan dari Corps Polisi Militer sebagai pencipta lambang Gajah Mada dan Panca Darma Corps
  • Tanda penghargaan Panglima Kostrad atas jasanya menciptakan Petaka Komando Strategi Angkatan Darat

BPNB Membangun Sinergitas Dengan BALITBANGDA

0
Diskusi BPNB dengan Balitbangda Sumbar

Padang (BPNB Sumbar) – Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman beserta rombongan melakukan koordinasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sumatera Barat. Kunjungan dilakukan pada Kamis, 19 Januari 2017 ke kantor BAPPEDA Sumbar. Turut serta dalam rombongan Koordinator Fungsional Peneliti Undri, SS, M.Si, Ketua Kelompok Kerja Sejarah Dra. Zusnelli Zubir, M.Hum, Ketua Pusat Dokumentasi dan Publikasi Drs. Noveri, MM serta Anggota Kelompok Kerja Budaya Dra. Ernatip. Rombongan diterima oleh Kepala Bidang Sosial Ekonomi Ibu Yusniar dan Kabid Inovasi dan Teknologi Ibu Latifah.

Diskusi BPNB dengan Balitbangda Sumbar

Menurut Bapak Suarman, kegiatan kunjungan ini bertujuan untuk membangun silaturahmi dan sinergi antar lembaga khususnya lembaga yang tugas dan fungsinya penelitian. Hal ini dikarenakan pembangunan kebudayaan tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri, sehingga kerja sama antar instansi penting adanya. Kerjasama ini bagi BPNB akan lebih ditekankan pada internalisasi budaya guna pembangunan karakter bangsa. Sebagaimana diketahui perkembangan teknologi sekarang telah mengakibatkan karakter asli tersebut semakin pudar.

Beliau juga berharap ke depan Balitbangda dan BPBNB bisa bekerja sama mengangkat kajian kebudayaan dan mengkolaborasikan pelestarian dan kebijakan. Tentu yang menjadi fokusnya adalah mendukung pemerintah daerah. Selain itu ada beberapa bantuan yang bisa dimanfaatkan masyarakat seperti revitalisasi desa adat, fasilitasi komunitas budaya.

Kiri-Kanan (Undri, Suarman, Zusnelli Zubir)

Sependapat dengan itu, Zusnelli zubir mengharapkan ada kerjasama antar peneliti dalam menggali nilai-nilai sejarah dan budaya Minangkabau disamping terjadinya semacam persatuan peneliti di Sumatera Barat. Beliau juga memberikan beberapa contoh beberapa masalah yang potensial untuk dikaji.

Undri sebagai koordinator fungsional peneliti juga menambahkan bahwa penelitian yang bisa disinergikan antara visi-misi pemda dengan pelestarian budaya sangat banyak seperti kearifan lokal, Maritim, Pengobatan, Makanan, Religi.

Suasana Diskusi

Sementara itu Ernatip menawarkan beberapa penelitian kebudayaan yang sangat urgen untuk dilaksanakan. Beliau berpendapat ada kajian mengenai inventarisasi persebaran suku di sumatera barat, makanan tradisional, pakaian tradisional serta kerajinan.

Pak Noveri juga menyatakan: “Pada intinya bagaimana BPNB dan Balitbangda sesuai dengan tugas dan fungsinya bisa bekerjasama mengangkat kajian-kajian kebudayaan ke depan”

Menyambut kunjungan ini, Ibu Yusniar berterima kasih dan secara prinsip mempunyai keinginan yang sama. Beliau juga berharap hasil-hasil kajian bisa mem back up kebijakan khususnya dalam pengembangan wisata. Bagaimana membangun kebudayaan sebagai ikon dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.

Berkaitan dengan komunikasi, Ibu latifah menyampaikan bahwa sesungguhnya antara BPNB dan Balitbang sudah terjalin cukup lama. Beberapa diantaranya duduk bersama dalam workshop metodologi yang diadakan bpnb dan temu peneliti di balitbang. Beliau juga mengharapkan bahwa Rencana Induk Kelitbangan yang sedang digodok terdapat sinergi dengan UPT baik pusat dan daerah. Tentu dengan memprioritaskan kebutukan SKPD.

Suasana Diskusi

Sementara itu ibu Evi menyampaikan perlu merumuskan indikator keberhasilan Adaik basandi Syarak dan Syarak basandi Kitabullah, dalam implementasinya bermasyarakat. Harapannya melalui kerjasama lembaga dan peneliti bisa ditingkatkan yang hingga sejauh ini masih dengan perguruan tinggi, ke depan bisa dengan UPT. Beliau juga menekankan bagaimana ke depannya hasil-hasil penelitian tidak hanya sebatas dokumen tapi masukan atau rekomendasi kebijakan. Penelitian hendaknya mengarah pada RPJM. Mungkin yang paling bisa lebih cepat direalisasikan adalah bertukar informasi, jurnal dan hasil-hasil penelitian.

BPNB Mendukung Publikasi Kebudayaan di Kabupaten Pasaman

0
Rapat Publikasi Kebudayaan di Kantor BPCB Sumatera Barat

Padang (BPNB Sumbar) – Kepala BPNB Sumatera Barat Drs. Suarman menghadiri undangan BPCB Sumatera Barat terkait Sinergi Publikasi Kebudayaan. Rapat diadakan di Kantor BPCB Sumatera Barat, Batu Sangkar pada Rabu, 18 Januari 2017 dan dipimpin oleh Kepala BPCB Batusangkar Bapak Drs. Nurmatias. Turut serta dalam rapat Kepala Museum Adityawarman H. Adi Syaputra, Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat yang diwakili Kepala Bidang Museum dan Purbakala Sumarni dan Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat Agus Sridana.

Rapat Publikasi Kebudayaan di Kantor BPCB Sumatera Barat

Tujuan rapat tersebut menurut Drs. Nurmatias adalah pentingnya membangun sinergi antar lembaga dalam publikasi kebudayaan. Dalam hal ini, ada rencana BPCB Sumatera Barat mengadakan kegiatan Publikasi Kebudayaan di Kabupaten Pasaman pada 2-6 Mei 2017. Direncanakan sinergi antar lembaga tersebut tampak pada kegiatan ini.

“kegiatan yang baik itu adalah kegiatan yang bisa disinergikan diantara beberapa lembaga, lembaga-lembaga yang akan direncanakan ikut serta dalam publikasi kebudayaan tersebut meliputi BPNB Sumatera Barat, Museum Adityawarman, Dinas Kebudayaan Sumatera Barat dan Balai Bahasa Sumatera Barat” Jelas Bapak Nurmatias.

Suasana rapat

Sumarni yang mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat turut mendukung kegiatan publikasi dan akan terlibat sepenuhnya sebagai bagian dari tugas dan fungsi Dinas Kebudayaan yang baru dibentuk.

Sementara Kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Suarman menyatakan bahwa sangat mendukung dan merencanakan beberapa kegiatan yang akan diikutsertakan dalam Publikasi Kebudayaan. Beliau juga menekankan perlu pelibatan LKAAM dan Maestro dalam pelaksanaannya.

“ada beberapa kegiatan yang bisa disinergikan dalam kegiatan tersebut oleh BPNB Sumatera Barat yakni pementasan kesenian multietnik, pameran sejarah dan budaya serta dialog kesejarahan. Dalam kegiatan dialog tersebut beliau juga mengusulkan workshop tentang Silat Minangkabau yang pada tahun ini masuk nominasi sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO” papar Bapak Suarman.

“sebaiknya kegiatan publikasi kebudayaan ini melibatkan Maestro dan LKAAM. Selain itu BPNB juga merencanakan launching hasil kajian peneliti sebanyak 20 judul buku” tambah Bapak Suarman.

Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat dan Kepala Museum Adityawarman juga berpendapat sama, mendukung sepenuhnya kegiatan dan akan terlibat dalam pameran dan launching buku.

Undri yang turut serta sebagai peserta rapat menyampaikan bahwa kegiatan publikasi harus multietnik mengingat Pasaman didiami beberapa suku.

“inti utamanya adalah multietnik sebab daerah pasaman merupakan bentuk “Mininya Indonesia”. Beberapa etnik mendiami daerah ini seperti Minangkabau, Jawa, Batak, Mandailing, sehingga  kegiatan ini tidak terlepas dari multietnik tersebut” tegas Undri.

Menindaklanjuti hasil rapat ini, rencananya akan diadakan audiensi dengan Bupati Pasaman  Yusuf Lubis.

Peneliti BPNB Mengikuti Kuliah Prof. Tsuyoshi Kato Tentang Matrilineal

0
Foto bersama Tsuyoshi Kato

Padang (BPNB Sumbar) – Sebagai UPT Kemendikbud yang konsentrasi pokoknya mengenai Sistem Matrilineal, maka perlu bagi pegawainya khususnya para peneliti untuk tetap mengembangkan pemahamannya tentang Sistem Matrilineal. Dengan demikian program kerja yang disusun lebih terarah dan target yang dicapai sesuai dengan tugas dan fungsi yang diemban. Untuk tujuan itu jugalah BPNB Sumatera Barat menugaskan para penelitinya untuk menghadiri undangan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dalam kuliah umum Prof. Dr. Tsuyoshi Kato. Kuliah umum tersebut dilaksanakan di Ruang Sidang Dekanat FIB Unand pada 18 Januari 2017.

Prof. Tsuyoshi Kato (Kemeja Putih Bergaris)

Kuliah umum tersebut membahas tentang “Sistem Matrilineal; Suatu Perbandingan dengan Sumatera Barat, Rantau Kuantan dan Negeri Sembilan”. Judul ini merupakan hasil penelitian Prof. Tsuyoshi Kato pada tiga wilayah Matrilineal dan dilakukan dalam tiga rentang waktu yang berbeda. Kato mengadakan penelitian di Sumatera Barat sekitar tahun 1972-1973 di Ampek Angkek, Di Teluk Kuantan sekitar tahun 1985-2005 dan di Negeri Sembilan sekitar tahun 1986-1992. Beliau sendiri merupakan dosen di Tokyo University dan menjadi dosen tamu di Universitas Malaya.

Menurut Kato, keinginan untuk membuat studi komparatif antara Sumatera Barat, Kuantan dan Negeri Sembilan berangkat dari faktor kebiasaan yang umum terjadi di masyarakat. Kebiasaan khususnya pada penilaian bahwa tradisi merantau yang berkembang pada masyarakat Sumatera Barat atau Minangkabau tidak lepas dari budaya matrilineal. Budaya matrilineal dalam pandangan umum tidak memberikan tempat bagi laki-laki untuk menumpuk hartanya karena sama sekali tidak mendapat bagian dalam rumah gadang sehingga ada keinginan untuk merantau. Selain itu para pengamat juga sering membicarakan hubungan Negeri Sembilan dengan Minang, namun jarang memperhatikan Kantong Adat Minang (Kuantan) dengan Minang.

Foto bersama Tsuyoshi Kato

Pandangan umum tersebut kemudian mendorong Kato untuk melakukan studi komparatif pada daerah dimana sistem matrilineal tumbuh dan berkembang. Daerah tersebut adalah Sumatera Barat, Teluk Kuantan dan Negeri Sembilan. Ketiga daerah ini juga diakui memiliki akar budaya yang sama yaitu Minangkabau di Sumatera Barat dan tetap menjaga sistem matrilineal tersebut sampai sekarang. Pendekatan komparatif menurut Kato bermanfaat untuk menghindari dogmatisme sehingga ilmu bisa berkembang.

Dalam penelitian Kato menyatakan bahwa ada dua pola merantau masyarakat Minangkabau pada masa lalu yaitu pertama, pola mancancang, malateh, manambang dan manaruko. Pola pertama ini berkembang dari Barat ke Timur mengikuti arus Sungai. Sedangkan pola yang kedua adalah pola berdagang dan menuntut ilmu.

Dalam melakukan studi komparatifnya, Kato membuat kerangka perbandingan seperti Legenda tentang asal-usul sistem matrilineal, prinsip pokok sistem matrilineal, nama-nama suku, tata cara pemukiman, hubungan kekerabatan dan kekeluargaan, keadaan ekologi, sistem matrilineal dan kebiasaan merantau dan sistem matrilineal sebagai dasar identitas etnis.

Hasil penelitian Kato menyatakan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan antara tiga daerah dengan sistem matrilineal. Beberapa diantaranya adalah legenda yang dikenal dalam Tambo Alam Minangkabau tentang Dt. Perpatih nan Sabatan dan Dt. Katumanggungan di Sumatera Barat. Di Negeri Sembilan legenda tersebut tidak ada namun ada cerita yang menceritakan tentang kedatangan orang Minang ke Negeri Sembilan. Sementara itu di Kuantan dikenal dengan Cerita Rakit Kulim. Sistem matrilineal di Minangkabau tidak jelas asal-usulnya sementara di Kuantan dan Negeri Sembilan bisa dijelaskan.

Lebih jauh Kato menjelaskan bahwa perbedaan paling mencolok ada pada tradisi merantau. Ketika pandangan umum khususnya di Indonesia menyatakan bahwa orang minang suka merantau karena sistem matrilineal, maka Negeri Sembilan dan Kuantan tidak biasa merantau sebelum mereka mulai berpendidikan tinggi sejak 1960 an. Masyarakat Negeri Sembilan dan Kuantan sampai sekarang jarang merantau dan berdagang. Hal ini menurut Kato lebih karean orang Minang sudah dikenalkan ekonomi mata uang, jalan, perdagangan dan pendidikan sekuler sejak masa penjajahan. Kato juga menyatakan bahwa saingan orang Minang tidak banyak karena Tionghoa lebih dominan tinggal di pantai timur Sumatera.

Jalan Panjang Silek Minang Menuju Warisan Budaya Dunia Dimulai

0
Pertunjukan Silek di Sasaran Durian Tapak

Padang (BPNB Sumbar) – Salah satu pekerjaan penting dalam pengusulan sebuah warisan budaya menjadi warisan budaya dunia adalah kelengkapan dokumen pendukung pengusulan. Dokumen pengusulan ini berisi validasi data-data pendukung baik berupa asal-usul, keaslian, kepemilikan, perubahan dan pelestarian. Naskah juga berisi penjelasan yang memuat nilai-nilai luhur suatu karya budaya. Disamping itu, naskah juga berisi pernyataan pemilik budaya terhadap karya yang akan diusulkan.

Sejak ditetapkan sebagai salah satu nominasi Intangible Culture Heritage di UNESCO, Seni Pencak Silat kemudian akan ditetapkan sebagai Word Culture Heritage. Namun, perubahan tersebut bukanlah pekerjaan mudah dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan khususnya dalam melengkapi naskah (dossier) pengusulan. Kelengkapan naskah ini akan menentukan suatu karya budaya layak atau tidak ditetapkan sebagai warisan budaya dunia.

Untuk itu Tim Peneliti Pencak Silat untuk intangible Culture Heritage UNESCO dari Warisan dan Diplomasi Budaya bersama dengan dua orang peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat melakukan kunjungan sekaligus perekaman penampilan silat ke salah satu sasaran silat Kota Padang. Sasaran silat yang dikunjungi adalah Sasaran Silat Durian Tapak. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa 17 Januari 2017.

Kunjungan tersebut disambut dengan sangat antusias para guru tuo, pendekar dan murid yang sedang belajar dalam sasaran. Para peserta juga menampilkan berbagai pertunjukan silat dari pertunjukan tunggal, ganda, silat perempuan, silat laki-laki hingga penutupan dengan menampilkan tari dimana para murid sowan ke para guru menyampaikan terima kasih. Penampilan secara bergiliran disaksikan anggota sasaran yang duduk bersila dan melingkar mengelilingi pertunjukan. Para pemusik juga dengan antusias mengiringi setiap pertunjukan yang ada.

Setelah pertunjukan silat selesai, selanjutnya adalah pengisian kuesioner pendukung naskah pengusulan Seni Pencak Silat sebagai warisan budaya dunia. Pengisian kuesioner ini dipimpin langsung oleh Undri, peneliti Balai. Ada sekitar 58 point pertanyaan yang harus dijawab dan nantinya dinilai untuk memperkuat pengusulan tersebut.

Sebagai informasi Seni Pencak Silat telah diumumkan sebagai Nominasi Intangible Culture Heritage list UNESCO dengan nomor 2516/E.E/KB/2016 tentang Pengumuman ICH list UNESCO tahun 2017. Kemudian berdasarkan pengumuman ini Kemendikbud akan mengusulkan Seni Pencak Silat sebagai warisan budaya dunia yang selanjutnya akan dibahas pada sidang komite UNESCO pada tahun 2019. Dalam hal ini Seni Pencak Silat akan diusulkan sebagai milik bersama yang terdiri dari pencak silat Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali menjadi pencak silat Indonesia.

Jalan panjang menuju penetapan warisan dunia telah dimulai, semoga tercapai.

Kepala BPNB Menerima Tim Peneliti Pencak Silat

0

Padang (BPNB Sumbar) – Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Drs. Suarman menerima kedatangan Tim verifikasi Pencak Silat dari Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Kebudayaan Kemendikbud di kantor BPNB. Tim tersebut terdiri dari Ketua Bapak Damardjati dari Pusat Penelitian dan Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan dan anggota Bapak Dais Dharmawan Staf Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Kedatangan mereka berkaitan dengan masuknya Seni Pencak Silat sebagai Nominasi Intangible Culture Heritage list di UNESCO.

Kepala Balai Drs. Suarman menerima tim peneliti Pencak Silat

Kedatangan tersebut bermaksud untuk memvalidasi data mengenai pencak silat yang tumbuh dan berkembang di Sumatera Barat. Memastikan bahwa pencak silat merupakan karya asli masyarakat sumbar dan hingga kini masih berkembang di masyarakat. Jadi tim verifikasi akan melakukan penelitian untuk melengkapi data sekaligus menyusun naskah pengusulan nominasi yang akan dikirimkan sekretariat UNESCO paling lambat 31 Maret 2017. Untuk memastikan naskah tersebut lengkap maka tim peneliti memutuskan akan mencari data di Darek yang diyakini sebagai sumber atau asal-usul pencak silat di Minangkabau. Mulai dari Padang Panjang, Agam, Bukit Tinggi dan Tanah Datar.

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman menyampaikan terima kasih atas kedatangan tim peneliti dari Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Beliau juga menambahkan bahwa sebagai UPT Kemendikbud akan turut membantu tim dalam mencari data-data yang diperlukan. Menugaskan beberapa pegawai untuk mendampingi tim dalam melakukan verifikasi serta menghadiri sidang verifikasi yang akan berlangsung di Bukit Tinggi. Secara langsung Bapak Suarman juga menugaskan Undri, SS, M.Si dan Risma Dona, S.Sos peneliti Balai untuk membantu tim peneliti tersebut.

Dalam kesempatan itu Bapak Drs. Suarman merekomendasikan tim untuk menyaksikan penampilan pencak silat di salah satu sasaran silat yang dekat dengan kantor BPNB yaitu sasaran silat Durian Tapak. Sasaran silat ini merupakan sasaran yang sudah hidup ratusan tahun dan masih tetap eksis hingga sekarang. Sasaran ini juga telah banyak melahirkan pendekar-pendekar mumpuni dan telah tampil dalam banyak pagelaran baik lokal, nasional dan internasional. Dan yang paling penting sasaran ini masih tetap melestarikan nilai-nilai tradisi dengan baik. Selain itu sasaran ini juga pernah mendapat bantuan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan.

Sebagai informasi pencak silat kini masuk Nominasi Intangible Culture Heritage list di UNESCO berdasarkan pengumuman nomor 2516/E.E6/KB/2016. sebagai warisan budaya dunia di UNESCO. Pencak silat sumatera  barat ini diusulkan sebagai warisan dunia bersama dengan Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali menjadi pencak silat Indonesia. Sidang Komisi UNESCO rencananya akan diadakan pada 2019.

Kepala BPNB Menerima Kunjungan Dinas DIKBUD Kabupaten Lahat

0

Padang (BPNB Sumbar) – Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman menerima kunjungan kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat Sumatera Selatan. Kunjungan tersebut diwakili Kepala Seksi Sejarah dan Nilai Tradisional Bapak Sarkowi, S.Pd dan Irfan, budayawan Kabupaten Lahat. Kunjungan tersebut diterima Kepala BPNB di Kantor pada Selasa (17/1).

Kepala BPNB Sumbar menerima kunjungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat

Kunjungan Bapak Sarkowi dan rombongan adalah untuk koordinasi dan konsultasi tentang pembangunan nilai-nilai budaya di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Bapak Sarkowi menyatakan bahwa kunjungan tersebut selain untuk silaturahmi, juga meminta saran dan kerjasama antar lembaga yang fokus utamanya pada pelestarian budaya. Beliau juga mengharapkan sinergi dan kerjasama antar lembaga dalam pembangunan budaya khususnya di Kabupaten Lahat. Beliau menyampaikan bahwa seiring dengan perkembangan zaman sekarang maka nilai-nilai budaya semakin lama semakin hilang. Peran lembaga-lembaga adat dan kurangnya perhatian pemerintah menjadi indikasi terkikisnya nilai budaya tersebut.

Menyikapi hal tersebut Kepala BPNB Bapak Suarman turut berterima kasih atas kunjungan Dinas. Kunjungan tersebut menjadi lebih penting mengingat Kabupaten Lahat merupakan wilayah kerja BPNB Sumbar. Sebagai UPT Kemdikbud yang fokus pada pelestarian budaya, BPNB Sumbar memang mempunyai wilayah kerja Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Beliau menambahkan bahwa BPNB akan membantu pelestarian kebudayaan di Kabupaten Lahat sesuai dengan tugas dan fungsi kantor. Beberapa saran yang diberikan diantaranya pencatatan WBTB, pendaftaran wbtb dan pengusulan Maestro. Selain itu perlu mengadakan dialog budaya untuk menampung aspirasi dan informasi mengenai kondisi terkini kebudayaan di masyarakat.

Beliau juga menjelaskan bahwa banyak kegiatan BPNB Sumbar yang bisa disinergikan dengan daerah seperti inventarisasi karya budaya, kajian, fasilitasi dan revitalisasi budaya. Selain itu beberapa program bantuan pemerintah pusat dalam mendukung pengembangan budaya dimana pintu masuknya melalui BPNB Sumbar seperti Fasilitasi Komunitas Budaya, Revitalisasi Desa Adat dan Rumah Budaya Nusantara. Beberapa bantuan tersebut boleh dimanfaatkan daerah untuk pengembangan nilai-nilai budaya lokal.

Dibalik Kenikmatan Teh Talua

0
Teh Talua

Teh Talua adalah salah satu minuman tradisional yang cukup populer pada masyarakat Sumatera Barat. Talua dalam bahasa Indonesia adalah telur, jadi teh talua berarti teh telur. Disebut teh telur karena bahan utamanya adalah teh dan telur. Konon, teh telur dijadikan masyarakat sebagai minuman penambah stamina. Sehingga teh talua biasanya diminum sesaat sebelum kerja dan setelah pulang kerja. Memang, masyarakat Minangkabau mayoritas beraktivitas sebagai petani dan butuh tenaga ekstra dalam mengelola lahan pertaniannya.

Teh Talua

Sesuai namanya, teh talua diramu dari beberapa bahan seperti kuning telur, air, gula, teh serta jeruk nipis. Sebagian orang kadang menambahkan pinang ke dalamnya. Untuk memastikan kualitas teh telur, maka telur yang dipakai adalah telur itik dan telur ayam kampung.

Proses pembuatannya dimulai dengan terlebih dahulu menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Lalu,  kuning telur dipisahkan dengan putih telur. Pemisahan kuning telur diusahakan hanya menyisakan sedikit saja putih telur. Hal ini untuk mencegah bau amis pada teh telur. Kuning telur bersama dengan gula kemudian dikocok dengan alat pengadon hingga lumat dan menyatu dengan gula. Pelumatan ini bisa dilihat dengan munculnya buih pada kocokan telur. Setelah gula dan telur lumat kemudian diisi air teh panas. Menambah sedikit susu kental manis akan menambah kenikmatan sajian teh talua. Sementara itu, untuk menghilangkan bau amis pada saat meminumnya maka perlu menambahkan perasan jeruk nipis.

Pada masa lalu alat untuk mengocok telur masih sangat sederhana. Masyarakat biasanya hanya menggunakan seikat kecil lidi yang sudah dibersihkan. Namun seiring dengan perkembangan teknologi, lidipun mulai tergantikan karena tidak lagi efisien dan lebih menguras tenaga. Sementara soal rasa, tidak jauh berbeda tergantung keahlian pembuatnya dalam memisahkan kuning telur dari putih telur serta kesempurnaan mengocok dan mencampur bahan-bahan yang diperlukan.

Hingga saat ini teh talua masih populer dan cukup diminati oleh masyarakat Sumatera Barat. Berbagai promosi juga sudah sering dilakukan untuk mengenalkan teh talua kepada masyarakat. Malah sebagian besar warung makanan dan minuman menyediakan teh talua dan cukup membantu perekonomian masyarakat.

Naskah Tuanku Imam Bonjol Sangat Layak Menjadi Memory Of The Word

0

Padang (BPNB Sumbar) – Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Drs. Suarman bersama dengan Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat Drs.Nurmatias mengadakan diskusi mengenai rencana pengusulan Naskah Imam Bonjol sebagai Memory of The World ke UNESCO. Turut serta dalam perdiskusian Ibu Eka Meigalia dan Bapak Dr. Pramono dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Bapak Undri, SS, M.Si, Koordinator Fungsional Peneliti BPNB Sumbar. Diskusi diadakan secara informal di Minas, by Pass. Diskusi ini dilaksanakan atas inisiatif Bapak Nurmatias untuk memenuhi keinginan beberapa pihak yang menginginkan naskah kuno Tuanku Imam Bonjol dijadikan sebagai Memory Of The World ke UNESCO.

Dari perdiskusian tersebut diketahui bahwa naskah Imam Bonjol sangat layak untuk diusulkan. Jika merujuk pada naskah Diponegoro yang telah ditetapkan, maka naskah Imam Bonjol juga bernilai sama dengan naskah tersebut. Naskah Imam Bonjon masih asli dan tersimpan dengan baik. Menurut Bapak Pramono menyatakan bahwa selama setahun belakangan telah melakukan pekerjaan-pekerjaan persiapan berupa pengumpulan data pengusulan naskah tersebut dan dapat memastikan bahwa naskah yang ada adalah asli.

Beliau juga menambahkan bahwa naskah juga ada di Negara Belanda sehingga bisa saja diajukan oleh dua Negara. Beliau juga memastikan bahwa dengan adanya data-data awal yang dimiliki maka pengusulan seharusnya tidak begitu sulit dan bisa  segera dilaksanakan. Satu hal yang paling penting adalah ketika setiap stakeholder yang mempunyai tugas dan fungsi pelestarian budaya mau bekerja sama dan membantu sesuai dengan tugas dan fungsi yang diembannya, maka upaya pengusulan naskah imam bonjol akan bisa secepatnya disahkan menjadi Memory Of The World.

Bapak Drs. Nurmatias menyatakan bahwa upaya pengusulan Naskah Imam Bonjol menjadi Memory Of The World sangat urgen dan harus didukung. Selain karena layak untuk diusulkan, juga telah banyak pihak yang mendukung pengusulan tersebut. Tinggal bagaimana pekerjaan selanjutnya untuk memastikan pengusulan itu segera terlaksana. Beliau juga menambahkan sebagai instansi yang konsen dalam pelestarian cagar budaya akan mengupayakan dan mendukung penuh sesuai tugas dan fungsi cagar budaya.

Bapak Suarman menyatakan dukungan dan memastikan bahwa BPNB akan membantu hal-hal yang diperlukan sesuai dengan tugas dan fungsi yang diembannya. BPNB bisa memfasilitasi dialog budaya untuk menggali nilai-nilai yan terkandung di dalamnya. Dialog ini bisa mengundang orang-orang yang berpengalaman dalam pengusulan Memory Of The Word. Selain itu BPNB juga bisa membantu dalam hal kajian literasinya naskah kuno.

Undri selanjutnya menambahkan bahwa hal pertama yang perlu dikerjakan adalah pendaftaran naskah imam bonjol sebagai warisan budaya nasional. Wewenang pendaftaran berada pada pemerintah daerah. Beriringan dengan pendaftaran tersebut, masing-masing instansi terkait mengerjakan data-data pendukung baik dari segi literasinya, seminar dan sebagainya. Dengan demikian proses kerja pengusulan tersebut lebih terarah.

Kesimpulan diskusi rapat menyatakan bahwa naskah kuno tuanku Imam Bonjol sangat layak untuk diusulkan sebagai Memory of The World ke UNESCO dan harus segera diusulkan. Selanjutnya pihak-pihak terkait akan lebih sering mendiskusikan bagaimana teknis pelaksanaan dan eksekusinya.

Rapat Fungsional Peneliti: Berbagai Wacana

0

Padang (BPNB Sumbar) – Berbagai wacana digulirkan Kepala Balai Pelestarian Nilai  Budaya Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman dalam meningkatkan pelaksanaan tugas dan fungsi kantor. Wacana ini tidak hanya sekedar memperkenalkan Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat ke masyarakat. Lebih dari itu, wacana yang digulirkan ketika terlaksana dengan baik diharapkan mampu menjadi corong pelestarian budaya khususnya nilai-nilai tradisional yang sudah semakin hilang. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat di masa depan diharapkan menjadi sumber data dan informasi atau lebih luasnya menjadi rujukan dalam memperoleh data mengenai kebudayaan matrilineal.

Tentu saja untuk mencapai harapan tersebut sejumlah gebrakan harus direncanakan dengan matang sejak dini. Berbagai program harus digulirkan dan kualitas pegawai sebagai eksekutor harus mumpuni. Berangkat dari kondisi tersebut wacana program menjadi penting untuk segera dikerjakan. Wacana itu juga membuka peluang yang lebih luas bagi fungsional peneliti untuk lebih berkiprah membagi ilmu dan pengetahuannya lewat berbagai program sosialisasi. Selain itu juga wacana ini akan membantu peneliti dalam meningkatkan angka kreditnya.

Sebagaimana disampaikan Bapak Suarman, beberapa program akan dilaksanakan di masa yang akan datang sebagai pelengkap dari program yang sudah ada sebelumnya. Program ini diharapkan juga lebih berdampak pada peningkatan pemahaman masyarakat akan budaya mereka miliki. Beberapa program tersebut seperti:

  1. Even Internalisasi nilai budaya akan melibatkan para fungsional peneliti dalah hal kepanitiaan dan sebagai nara sumber. Pelibatan ini tidak saja mendorong peneliti untuk meningkatkan kapasitasnya baik dalam penyampaian hasil penelitian juga mampu mendorong peneliti untuk lebih percaya diri pada apa yang dikerjakannya. Selain itu juga hasil-hasil penelitian akan terpublikasi lewat kegiatan-kegiatan besar dan melibatkan banyak orang.
  2. Balai akan mengadakan “Rampai Sejarah dan Budaya” dengan mengadakan kerjasama di Stasiun Radio. Pada Rampai ini diprioritaskan data yang sudah ada/hasil penelitian yang sudah ada akan disosialisasikan ke masyarakat luas.
  3. Balai juga mewacanakan untuk bekerja sama dengan stasiun TV Lokal untuk mengadakan satu even “Dialog Interaktif Sejarah dan Budaya”. Program ini dimaksudkan untuk mengangkat budaya-budaya lokal dan mengenalkannya kepada generasi muda melalui program televise.
  4. Balai juga akan menggelar “Anak Sekolah Masuk BPNB”, sebagai program mengenalkan sejarah dan budaya lokal kepada pelajar.
  5. Balai juga mewacanakan untuk membuat “Komik Sejarah dan Budaya”, sebagai pengenalan karya budaya lewat media yang lebih mudah dipahami.
  6. Peningkatan potensi sumber daya manusia melalui kegiatan “silaturahmi keluarga besar Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat” dan sebagainya.

Program-program ini menjadi pelengkap banyak program yang sudah ada sebelumnya.

Sebagai informasi tambahan, sejak BPNB berdiri telah mempunyai banyak program khususnya dalam hal internalisasi nilai sejarah dan budaya serta revitalisasi kesenian tradisional di luar pengkajian sejarah dan budaya. Program-program tersebut dikemas dalam berbagai even seperti festival, lomba, pameran dan sebagainya. Beberapa diantaranya seperti Baretong di Hari Tarang (revitalisasi Kesenian Tradisional Minangkabau), Inventarisasi Karya Budaya dan kegiatan yang baru diadakan tahun 2016 yaitu “BPNB Menyapa Masyarakat”.

Kegiatan-kegiatan tersebut akan diadakan bertahap sesuai dengan kesiapan pelaksanaan sejak tahun ini hingga tahun-tahun mendatang.

Rapat Fungsional Peneliti: Peningkatan Mutu SDM dan Mutu Penelitian Menjadi Pekerjaan Utama

0

Padang (BPNB Sumbar) – Fungsional Peneliti pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat merupakan ‘ruh’ yang tidak terpisahkan. Artinya detak nadi Balai sebagai pelestari budaya salah satunya ada pada hasil pekerjaan para peneliti. Sehingga untuk memastikan berhasil tidaknya Balai di masa yang akan datang maka para peneliti perlu membangun satu komitmen untuk meningkatkan kualitas diri dan juga kualitas penelitiannya. Hal itulah yang menjadi rangkuman dari rapat fungsional peneliti BPNB Sumatera Barat yang dipimpin oleh Kepala Balai bapak Drs. Suarman.

Rapat dilaksanakan pada Jumat, 13 Januari 2017 di Ruang Rapat BPNB Sumbar. Rapat ini untuk memastikan persiapan pelaksanaan kegiatan 2017 yang akan segera berjalan. Seluruh pegawai fungsional peneliti hadir baik dari Pokja Sejarah maupun Budaya. KasubBag Tata Usaha Ibu Titit Lestari membuka rapat pada pukul 14.00 wib.

Pada hakekatnya, rapat kali ini adalah upaya Kepala Balai Drs. Suarman untuk menampung aspirasi dan informasi terkait hal-hal yang berkembang pada fungsional peneliti. Termasuk di dalamnya bagaimana situasi terkini fungsional peneliti, bagaimana pekerjaan di 2017 yang sudah dirumuskan, bagaimana metode pengerjaannya serta bagaimana meningkatkan kompetensi peneliti. Hal ini berkaitan dengan peningkatan mutu kerja dan hasil penelitian yang akan dikeluarkan. Dalam rapat juga dibahas persoalan-persoalan apa yang terjadi pada upaya mengeksekusi program dan bagaimana mengatasinya. Selain itu rapat kali ini juga membahas wacana mengenai kegiatan-kegiatan di masa yang akan datang untuk mampu mendongkrak nama kantor kepada masyarakat luas.

Dari hasil perdiskusian mengemuka dua isu penting yang harus disikapi segera yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia dan peningkatan kualitas pekerjaan peneliti. Dua isu tersebut saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Untuk itu di masa depan peningkatan kualitas sumber daya manusia akan dilakukan melalui berbagai pemberdayaan dan pelatihan peneliti. Wacana melibatkan para peneliti  dalam berbagai even yang dilaksanakan menjadi satu keharusan. Seperti terlibat dalam kepanitiaan ilmiah, menjadi narasumber baik dalam seminar, dialog budaya, BPNB Menyapa Masyarakat dan program sosialisasi pada media elektronik yang akan dibuat. Sementara itu pelatihan teknis juga akan digalakkan untuk meningkatkan kompetensi peneliti melalui pelatihan jurnalistik, pelatihan karya tulis. Pelatihan jurnalistik menjadi penting sehingga para peneliti mampu mempublikasikan hasil kerja penelitiannya di media-media cetak baik lokal maupun nasional.

Berkaitan dengan itu, peningkatan kualitas kerja juga menjadi pekerjaan pokok bagi para peneliti. Peningkatan kualitas kerja sesungguhnya akan seiring dengan peningkatan sumber daya manusia. Target utama yang akan dicapai adalah bagaimana hasil-hasil penelitian semakin berkualitas dan mampu mencegah persepsi negatif yang selama ini berkembang di masyarakat. Persepsi negatif ini menurut Undri harus dijadikan sebagai cambuk sehingga mendorong peningkatan hasil pekerjaan penelitian. Walau persepsi itu tidak sesungguhnya benar namun pada prinsipnya secara aplikatif dan kemanfaatan tidak bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Namun demikian seiring dengan kebijakan dan visi-misi pemerintah dalam hal penelitian, Balai harus mampu untuk beradaptasi dengan kebijkan dan target pemerintah yang sudah dicanangkan. Target ke depan adalah hasil penelitian harus jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat dan disesuaikan dengan visi misi pemerintah.

Sesuai dengan visi misi Direktorat Jenderal Kebudayaan, penelitian kebudayaan ke depan didorong untuk menjadi masukan kebijakan atau rekomendasi. Hal ini bertujuan bahwa manfaat penelitian tersebut langsung dirasakan oleh masyarakat. Untuk itu, dasar penelitian harus jelas, analisanya juga harus lebih dipertajam. Penelitian ke depan tidak diukur dari tebal-tidaknya laporan penelitian tapi lebih kepada substansi yang dicapai. Akurasi data dan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu, hasil penelitian yang sudah dilakukan juga harus didistribusikan paling banyak ke lokasi penelitian sehingga itu bisa memperkaya budaya lokal.

Selain peningkatan kompetensi peneliti, hal yang dibahas dalam rapat adalah bagaimana meningkatkan Angka Kredit. Pencapaian angka kredit ini menjadi tugas pokok fungsional peneliti untuk dapat naik pangkat dan golongan. Berbagai media kemudian diwacanakan untuk bisa mendukung pencapaian tersebut. Pencapaian ini juga berkaitan erat dengan upaya peningkatan kompetensi peneliti. Beberapa wacana yang diharapkan mampu mendongkrak angka kredit peneliti adalah dengan memproduksi berbagai media-media sebagai sarana penyaluran hasil-hasil penelitian. Wacana tersebut antara lain komik sejarah dan budaya, pelibatan para peneliti sebagai nara sumber dalam berbagai kegiatan kantor yang memerlukan, membangun kerjasama dengan media elektronik seperti radio dan TV sebagai publikasi hasil-hasil penelitian dan melibatkan peneliti dalam programnya, mencetak jurnal ilmiah, mencetak buku dan lain-lain.

Dengan berbagai program yang diwacanakan, diharapkan para peneliti dapat mencapai angka kredit dan tidak lagi harus Berhenti Sementara (BS) karena tidak mencapai target yang ditetapkan.

Kepala BPNB Sumatera Barat Melakukan Koordinasi Dengan Instansi Terkait

0
Tim sedang mendengar penjelasan Kepala Taman Budaya

Padang (BPNB Sumbar) – Ada dua tantangan dalam pelestarian kebudayaan pada masa kini dan di masa yang akan datang yaitu masyarakat tidak memahami sejarah  kebudayaan sendiri dan masyarakat juga tidak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam budaya tersebut. Karena hal itu rasa memiliki kebudayaan tersebut tidak lahir dari hati sehingga kecintaan terdadap budaya tersebut semakin tergerus. Setidaknya itulah yang disampaikan oleh Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman dalam kunjungannya ke Instansi Pemerintah Daerah di Sumatera Barat pada Rabu, 11 Januari 2017.

Kiri-Kanan (Drs. Suarman, Rois Arios, S.Sos, Dra. Zusnelli Zubir, M.Hum)

Setelah resmi bertugas di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Bapak Drs. Suarman melakukan kunjungan ke beberapa instansi pemerintah daerah di wilayah kerja Sumatera Barat. Kunjungan ini didampingi oleh Koordinator Fungsional Peneliti Undri, SS, M.Si, Ketua Kelompok Kerja Kebudayaan Rois Arios, S.Sos, Ketua Kelompok Kerja Sejarah Dra. Zusnelli Zubir, M.Hum serta Koordinator Dokumentasi dan Publikasi Drs. Noveri, MM.

Kunjungan ini bertujuan memperkenalkan, silaturahmi, berbagi informasi  dan menampung berbagai aspirasi untuk memantapkan pelaksanaan program kerja Balai di masa yang akan datang. Memantapkan arah dan tujuan pelestarian nilai budaya khususnya nilai-nilai tradisional yang sudah mulai tergerus oleh zaman. Harapannya dengan adanya kunjungan ini maka setiap perencanaan dan pelaksanaan program di masa yang akan datang akan lebih terarah dan sesuai dengan harapan masyarakat. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk membangun sinergi antar program dan antar instansi dalam pembangunan kebudayaan ke depan.

Bersama Kepala Taman Budaya Bapak Muasri

Kegiatan dimulai dengan mengunjungi Taman Budaya Sumatera Barat di Jl. P Diponegoro 31 Belakang Tangsi Padang Barat Kota Padang. Kunjungan ke Taman Budaya disambut oleh kepala Taman Budaya Bapak Muasri. Dalam kesempatan tersebut Kepala Taman Budaya menyambut baik dan berterima kasih atas kedatangan Kepala Balai beserta tim. Beliau juga menekankan akan turut membantu baik dalam memberi informasi dan masukan, dialog serta membantu hal-hal teknis terkait dengan pembangunan budaya. Bagaimana mengkoordinasikan kegiatan agar bisa mencapai hasil yang tepat sasaran.

Tim sedang mendengar penjelasan Kepala Taman Budaya

Dari Taman Budaya, kunjugan dilanjutkan ke Dinas Kebudayaan yang berada di dalam lingkungan Museum Adityawarman. Kunjungan ke Dinas Kebudayaan langsung disambut oleh Kepala Dinas Kebudayaan Bapak Taufik Effendi yang menyatakan rasa terima kasih kepada Balai Pelestarian Nilai Budaya yang berinisiatif membangun komunikasi dengan instansi terkait berhubungan dengan pembangunan budaya. Beliau juga berharap bahwa hubungan silaturahmi ini akan berlanjut di masa depan baik dalam bentuk dialog maupun program-program lain sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

Bersama Kepala Dinas Bapak Taufik Effendi

Dalam pertemuan tersebut Drs. Suarman memperkenalkan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat melalui tugas dan fungsi pelestarian yang melekat. Suarman menyampaikan bahwa selain memperkenalkan, kegiatan kunjungan juga dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi antar instansi yang berada di wilayah yang sama. Selain itu belian menyampaikan bahwa pembangunan budaya tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri tapi harus ada sinergi antar instansi dan antar program. Pekerjaan besar tentang kebudayaan berhubungan dengan nilai yang semakin hari semakin terkikis dan untuk itu perlu usaha keras dan kerjasama antar stakeholder kebudayaan untuk sama-sama berkoordinasi dan membangun kebudayaan ke depan.

Diskusi dengan Kepala Dinas Sumatera Barat Bapak Taufik Effendi

Kepala Dinas Kebudayaan dalam kesempatan itu menyampaikan ada beberapa poin yang harus dikoordinasikan di masa depan dalam upaya pembangunan kebudayaan di Sumatera Barat yaitu: koordinasi dalam menginventarisir kegiatan-kegiatan kebudayaan yang sudah dilaksanakan BPNB, selanjutnya mengkoordinasikan kegiatan di masa depan yang bisa dikolaborasikan. BPNB juga diharapkan bisa membantu penyusunan persyaratan pengusulan karya-karya budaya serta hal-hal teknis lain sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing yang bisa dikolaborasikan.

Tim di Kantor Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat

Dengan adanya silaturahmi ini semoga pekerjaan besar dalam pelestarian dan pembangunan kebudayaan di masa yang akan datang jauh lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

BPNB Sumatera Barat Mengawali Tahun Dengan Kursus Komputer

0
Suasana belajar

Padang (BPNB Sumbar) – Dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kualitas kerja pegawai, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat mengadakan kursus komputer. Kursus yang diikuti mayoritas pegawai ini berlangsung sejak Rabu, 4 Januari dan akan berjalan selama 24 hari kerja. Kursus ini juga menjadi kegiatan awal tahun sebelum program kerja tahunan BPNB Sumatera Barat berlangsung.

Suasana belajar

Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi pegawai dalam penguasaan program Microsoft office. Pemilihan program ini karena sangat berhubungan dengan hal-hal administrasi kantor seperti persuratan, keuangan dan perpustakaan. Harapannya, program ini dapat mempermudah pekerjaan administrasi dalam melaksanakan pekerjaannya.

Walau dikhususkan bagi tenaga administrasi, kursus ini juga terbuka bagi fungsional tertentu yang berminat. Sehingga dalam pelaksanaannya, kursus ini diikuti sekitar 20 orang pegawai. Kursus ini akan dilaksanakan setiap hari kerja pada pukul 09.00-10.30 WIB. Dengan demikian waktu luang sebelum program kerja berjalan bisa diisi dengan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia.

Peserta Kursus

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Ibu Titit Lestari, S.Si, M.Si menyampaikan kursus ini diadakan sebagai jawaban atas kebutuhan pegawai yang masih kurang dalam memahami program microsof office. Sementara program tersebut sangat dibutuhkan dalam pekerjaan kita sehari-hari. Sehingga, dengan adanya kursus ini, bisa membantu mempermudah pekerjaan sehari-hari dan mampu meningkatkan kinerja pegawai.

Pelaksanaan program ini bekerja sama dengan salah satu lembaga kursus swasta yang sudah berpengalaman. Di akhir program para peserta akan diberikan sertifikat keahlian.

‘Nahkoda’ Baru Dan Semangat Baru

0
Kepala BPNB Sumbar yang baru Bapak Drs. Suarman (Kemeja Biru)

Padang (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat mengawali tahun 2017 dengan nuansa baru. Pergantian nahkoda menjadi penyebabnya. Sejak serah terima jabatan pada  22 desember 2016 lalu, BPNB Sumatera Barat secara resmi dinahkodai Bapak Drs. Suarman menggantikan Bapak Jumhari, SS yang sekarang pindah ke BPNB Jawa Barat. Sementara sebelumnya Bapak Drs. Suarman memimpin BPNB Kepulauan Riau. Pergantian tersebut sekaligus membawa harapan baru bagi Balai di masa depan.

Kepala BPNB Sumbar yang baru Bapak Drs. Suarman (Kemeja Biru)

Dalam acara perkenalan dengan seluruh pegawai BPNB Sumatera Barat pada Jumat, 6 Januari 2017 Bapak Suarman meminta dukungan seluruh pegawai sekaligus menyampaikan beberapa arahan terkait dengan keberhasilan balai di masa depan. Pada kesempatan itu Beliau menyatakan bahwa keberhasilan kantor tidak lepas dari dukungan seluruh pegawai baik tenaga teknis maupun tenaga administrasi. Pegawai sebagai ujung tombak program harus saling mendukung.  Untuk itu rasa kekeluargaan, harmonisasi dan kekompakan pegawai perlu dijaga dengan baik.

Selain dukungan pegawai, keberhasilan juga ditentukan oleh peningkatan prestasi kerja. Sebagai ujung tombak pegawai diharapkan mampu meningkatkan prestasi kerja. Kerjasama, disiplin dan kualitas kerja menjadi penting. Unsur pemerataan dalam pembagian kerja diutamakan, namun reward dan punishment juga sangat penting untuk meningkatkan kinerja pegawai. Jadi setiap pegawai akan memperoleh pekerjaan sesuai dengan kapasitasnya.

Di masa depan keberhasilan pelaksanaan program tidak lagi dinilai hanya dari segi kuantitas, tapi paling utama adalah kualitas. Peningkatan kualitas ini berkaitan dengan seberapa bermanfaat program tersebut bagi masyarakat. Untuk itu target dan sasaran harus jelas. Mutu kerja dan pertanggungjawaban harus diutamakan. Sehingga perlu peningkatan sumber daya manusia melalui berbagai program seperti pengkaderan, diklat, dan fasilitasi penambahan angka kredit melalui kegiatan pendukung bagi jabatan fungsional.

Beliau menambahkan bahwa dua kata kunci keberhasilan kantor ke depan adalah mengetahui potensi budaya di sekitar kita dan membangun sinergi dan kemitraan dengan stakeholder. Balai, di masa depan juga harus lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan cara melibatkan dalam berbagai kegiatan-kegiatan balai.

Semoga Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat di bawah kepemimpinan Bapak Drs. Suarman semakin baik ke depan. Selamat bertugas Pak.

BPNB Menyapa Masyarakat PALI Sukses

0
Pertunjukan salah satu permainan tradisional Kabupaten PALI

PALI (BPNB Sumbar) – Pelaksanaan BPNB Menyapa Masyarakat di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan pada Selasa (20/12) berlangsung sukses. Peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat, guru dan ketua adat mengikuti sosialisasi dengan antusias. Kegiatan BPNB Menyapa Masyarakat dilaksanakan di gedung SMA Negeri 1 Talang Ubi, dimulai pada pukul 09.00 wib hingga selesai. Secara resmi kegiatan BPNB Menyapa Masyarakat di Kabupaten PALI dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten PALI Bapak Ali Hanafiah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pali membuka acara BPNB Menyapa Masyarakat

Kegiatan dilaksanakan dalam dua sesi yaitu sosialisasi dengan dinas dan tokoh masyarakat dan sosialisasi dengan pelajar. Sosialisasi dengan dinas dan tokoh masyarakat dihadiri sekitar 20 orang termasuk kepala dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten PALI beserta kepala bidang kebudayaan disdikbud, ketua adat, tokoh masyarakat serta guru-guru kesenian yang ada di Kabupaten PALI. Sementara sosialisasi dengan pelajar melibatkan sekitar 40 siswa SMA yang dipilih dari SMA Negeri 1 Talang Ubi.

Presentasi program kerja dalam BPNB Menyapa Masyarakat Kabupaten PALI

Pada kesempatan itu kepala dinas menyatakan dukungan dan ucapan terima kasihnya kepada BPNB Sumbar yang telah memilih kabupaten PALi di antara banyak kabupaten yang ada di provinsi sumatera selatan. Beliau menyampaikan bahwa masalah kebudayaan bagi masyarakat PALI sebagai kabupaten baru sangat penting dalam rangka upaya membangun karakter dan identitas masyarakat. Sehingga kegiatan sosialisasi yang digagas oleh BPNB Sumbar sangat penting untuk ke depan bisa menggali nilai-nilai budaya masyarakat dan melalui sinergi dan koordinasi antar instansi mampu membangun karakter masyarakat sesuai dengan identitasnya. Beliau juga berharap setelah kegiatan BPNB Menyapa Masyarakat akan menyusul lagi kegiatan-kegiatan lain di masa depan yang saling bersinergi dengan pemerintah dan  masyarakat PALI.

Salah satu peserta BPNB Menyapa mengajukan pertanyaan

Sementara itu Ketua Tim BPNB Menyapa untuk Kabupaten PALI Bapak Undri, SS, M.Si, menyampaikan bahwa sangat penting mencatat dan menginventarisir karya-karya budaya yang ada di masyarakat. Dari banyaknya karya budaya tersebut lalu memilah karya budaya mana yang menjadi kekhasan kabupaten PALI. Dengan begitu pekerjaan selanjutnya akan lebih mudah baik dalam mensosialisasikan karya budaya asli maupun mengajarkannya kepada generasi muda. Selanjutnya adalah pekerjaan internalisasi sehingga kebudayaan khas tersebut mampu membangun karakter yang sesungguhnya dari masyarakat tersebut.

Foto bersama panitia dan peserta BPNB Menyapa

Sebagai informasi kegiatan BPNB Menyapa Masyarakat dilaksanakan serentak di Sembilan kabupaten/kota yang terdapat di tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat dan berbagai program kerjanya kepada pemerintah setempat yang ada di wilayah kerja. Harapannya, di masa mendatang bisa tercipta sinergi dan koordinasi antar program kerja dalam kaitannya dengan pelayanan terhadap masyarakat.

Foto bersama pelajar

Festival Kesenian Tradisional Masih Berlanjut

0
Musik pengiring tari piring

Padang (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat masih menggelar Festival Kesenian Tradisional. Setelah dua kali festival yang sama berlangsung sukses, hari sabtu 17 Desember menjadi Festival Seni Tradisional ke-3. Festival ini dibuka secara resmi oleh koordinator fungsional Bapak Undri, SS, M.Si mewakili Kepala BPNB Sumbar, dimulai pukul 20.00 wib di halaman Kantor BPNB Sumbar. Kegiatan ini menampilkan kesenian-kesenian tradisional yang ada di wilayah Sumatera Barat.

Bapak Undri, SS, M.Si membuka acara Festival Seni Tradisional

Pada kesempatan tersebut Bapak Undri menekankan bahwa Festival Kesenian Tradisional merupakan ajang pagelaran kesenian tradisional yang dilaksanakan dengan tujuan memfasilitasi sanggar-sanggar seni yang selama ini masih jarang tampil dan menunjukkan keseniannya kepada masyarakat luas. Selain untuk memperkenalkan sanggarnya kepada masyarakat luas, festival ini juga ingin menunjukkan kepada bahwa kekayaan budaya lokal juga tidak kalah dengan budaya dunia. Selain itu festival ini juga berusaha menunjukkan bahwa masih banyak sanggar-sanggar seni tradisional yang mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya.

Tari piring

Festival ini dimaksudkan juga sebagai oase bagi sanggar-sanggar seni yang selama ini masih terbatas wadah penyaluran keseniannya. BPNB Sumbar yang mempunyai tugas dan fungsi melestarikan nilai-nilai budaya dan sejarah merasa perlu mencari solusi atas keterbatasan tersebut dengan menggelar festival seni tradisional. Sementara itu Festival kali ini merupakan yang ketiga kalinya setelah dua kali berlangsung dengan sukses.

Musik pengiring tari piring

Pada kesempatan kali ini Festival menampilkan beberapa kelompok kesenian tradisional yang berada di wiayah provinsi Sumatera Barat seperti Sanggar Pusako dari Lubuk Alung, Mato Aie dari Kabupaten Agam dan Sanggar Bina Satria dari Sawahlunto. Kelompok-kelompok tersebut membawakan kesenian tradisional berupa tari piring, randai dan Kuda Kepang. Masyarakat begitu antusias menyaksikan setiap penampilan kesenian yang berlangsung pada malam minggu tersebut.

Sebagai informasi, Festival kesenian Tradisional 2016 akan dilaksanakan sebanyak empat kali berturut-turut yang berlangsung pada akhir tahun atau bulan desember. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari sabtu malam pukul 20.00 wib. Jadi, masyarakat masih bisa menyaksikan penampilan kesenian tradisional pada sabtu pecan depan dengan tim kesenian dan kesenian yang berbeda.

BPNB Sumbar Menyapa Sembilan Kabupaten/Kota

0
Tim BPNB Menyapa Kota Payakumbuh dipimpin Ibu Maryetti

Padang (BPNB Sumbar) – Dalam rangka meningkatkan koordinasi dan sinergi antar program dan antar instansi maka Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat melaksanakan kegiatan “BPNB Menyapa Masyarakat 2016”. Kegiatan ini dilaksanakan serentak di sembilan kabupaten/kota yang ada di tiga wilayah kerja BPNB Sumbar yaitu Provinsi Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan dan berlangsung selama dua minggu sejak 11 – 25 Desember 2016. Kesembilan kabupaten/kota yang dimaksud adalah Solok, Payakumbuh dan Pasaman Barat yang ada di Wilayah kerja Sumatera Barat; Bengkulu, Bengkulu Tengah dan Kepahiyang di Wilayah Kerja Bengkulu; Musirawas Utara, Prabumulih dan Penukal Abab Lematang Ilir yang ada di Sumatera Selatan.

Tim BPNB Menyapa Kabupaten Prabumulih dipimpin oleh Ibu Ernatip

Kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Jumhari, SS menyatakan kegiatan ini bermaksud menjalin silaturahmi dengan instansi-instansi yang ada di tiga wilayah kerja BPNB Sumbar. Ke depan dengan adanya silaturahmi ini kemudian berlanjut dengan meningkatkan hubungan yang harmonis dan menciptakan sinergi dan sinkronisasi program kerja sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing instansi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan pelibatan masyarakat dalam setiap program yang dijalankan pemerintah.

Tim BPNB Menyapa Kota Payakumbuh dipimpin Ibu Maryetti

Dalam pelaksanaan “BPNB Menyapa Masyarakat” dibentuk tim pelaksana yang terdiri dari Sembilan tim. Masing-masing tim terdiri dari empat orang yang bertugas menjalankan kegiatan sosialisasi di kabupaten/kota yang telah ditentukan.  Anggota tim bertugas untuk mensosialisasikan program-program BPNB Sumbar kepada dinas-dinas yang ada di Kabupaten melalui rapat terbatas dengan mengundang dinas-dinas terkait. Acara sosialisasi tersebut juga turut merangkum program-program apa yang bisa disinergikan dan disinkronkan dalam pelaksanaannya dengan dinas-dinas untuk tahun-tahun mendatang.

Tim BPNB Menyapa Kota Bengkulu dipimpin Bapak Rois Arios

Selain mensosialisasikan program kerja kepada dinas-dinas terkait, kegiatan BPNB Menyapa Masyarakat juga mensosialisasikan kepada para pelajar pada daerah yang sedang dikunjungi. Hal ini penting mengingat berbagai program kerja BPNB Sumbar juga banyak melibatkan pelajar sebagai pesertanya. Beberapa diantaranya adalah lomba, festival dan kegiatan internalisasi nilai budaya dan sejarah.

Salah satu aktifitas BPNB Menyapa di salah satu SMA Payakumbuh yaitu memperagakan gerak tari Minangkabau (Pitunggua)

Sebagai informasi BPNB Sumbar mempunyai beberapa program-program unggulan seperti penelitian nilai-nilai tradisi, inventarisasi karya-karya budaya tak benda, revitalisasi karya budayaserta internalisasi nilai-nilai budaya. Program-program ini dimanifestasikan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti penelitian, pencatatan warisan budaya tak benda, perekaman sejarah dan aktivitas budaya serta berbagai kegiatan festival, pertunjukan dan berbagai ragam internalisasi yang melibatkan masyarakat seperti jejak tradisi, kemah budaya, arung sejarah, lawatan sejarah, dialog budaya dan lain-lain.

Tim BPNB Menyapa foto bersama pelajar Prabumulih

Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong program-program BPNB Sumbar ke depan lebih berorientasi pada pelayanan rakyat, mengedepankan pelibatan masyarakat dalam pelaksanaannya sehingga timbul rasa memiliki dan rasa cinta para nilai-nilai budaya yang semakin hari semakin tergerus oleh perkembangan globalisasi. Hingga berita ini diturunkan sebagian tim masih berada di lapangan.

Ella Karolina Raih Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah 2016

0

Padang (BPNB Sumbar) – Ella Karolina meraih juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah 2016 yang diadakan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. Seleksi akhir serta presentasi karya tulis dilaksanakan pada Kamis, 08 Desember 2016 di Hotel Daima Kota Padang. Lomba secara resmi dibuka oleh Kepaba Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Bapak Jumhari, SS. Seluruh peserta yang masuk 10 nominasi terbaik tampil mempresentasikan hasil karya masing-masing di depan juri.

Presentasi karya tulis dilaksanakan dalam dua sesi. Masing-masing sesi menampilkan lima peserta baik individu maupun tim. Didaulat sebagai dewan juri : (1) Dr. Hasanuddin, M.Si (Dosen Fak. Ilmu Budaya UNAND); (2) Dr. Zainal Arifin, M.Hum (Dosen FISIP UNAND); dan (3). Undri, S.S, M.Si (Koordinator Fungsional Peneliti BPNB Sumatera Barat). Kegiatan penjurian yang terbagi dalam dua sesi presentasi tersebut dipandu oleh Dr. Pramono, M.Si dan Hariadi, S,S, MA.

Ketua panitia Bapak Hasanadi, SS mengungkapkan bahwa Lomba Karya Ilmiah Kebudayaan 2016 mengangkat tema Revitalisasi Kearifan Lokal bagi Penguatan Multikulturalisme Indonesia. Hal ini bertujuan menggali nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) pada masyarakat multietnik bagi penguatan identitas dan pengembangan nilai-nilai toleransi dalam mengelola kemajemukan budaya di Indonesia. Tulisan yang dikirim oleh seluruh peserta berkait erat dengan enam topik, yaitu : (1) Kearifan lokal penciri kekhasan etnik; (2) Kearifan lokal sebagai mediasi, transformasi, dan resolusi konflik; (3) Kearifan lokal pengelolaan kemajemukan internal/ lintas budaya; (4) Kearifan lokal dalam mempertahankan kebutuhan pangan; (5) Kearifan lokal dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan; dan (6) Kearifan lokal dalam mengantisipasi bencana alam.

Sesuai dengan topik setiap peserta dapat memilih objek kajian/analisis dari 12 (dua belas) objek yang ditawarkan, yaitu: (1) Uacara tradisional; (2) Permainan rakyat; (3) Cerita rakyat; (4) Makanan tradisional; (5) Peralatan tradisional; (6) Kepercayaan tradisional; (7) Kesenian tradisional; (8) Sastra dan Tradisi lisan; (9) Naskah Kuno; (10) ungkapan Tradisional; (11) Arsitekstur Tradisional; dan (12) Pengelolaan dan Pemanfaatan Lingkungan.

Dalam sambutannya, Kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Jumhari, S.S, menjelaskan bahwa gagasan kuat yang mendasari pemilihan mahasiswa sebagai peserta adalah pentingnya peran mahasiswa dalam upaya menggali dan merevitalisasi nilai-nilai luhur keanekaragaman budaya. Nilai-nilai luhur tersebut semestinya diwariskan secara terus menerus kepada generasi berikutnya, yaitu melalui berbagai pranata sosial yang secara sekaligus merupakan infrastruktur tempat kebudayaan dioperasionalkan.

Beliau juga menekankan bahwa Kebudayaan semestinya menjadi referensi dalam menginterpretasi lingkungan hidup, yang mendorong terwujudnya sikap, tindakan dan kelakuan oleh generasi berikut tadi dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup. Sikap, tindakan dan kelakukan manusia ini secara sosial kemudian akan menghasilkan peristiwa, benda-benda dan juga peradaban yang pada gilirannya akan menjadi sejarah dan purbakala (internal) oleh generasi berikutnya. Kemudian, sejarah dan purbakala internal bersama dengan sejarah dan purbakala eksternal akan turut mempengaruhi dinamika lingkungan hidup generasi berikutnya.

Pemenang lomba ditentukan berdasarkan penggabungan nilai KTI (penjurian tahap I) dan nilai presentasi (penjurian tahap II). Dari hasil penjurian, akhirnya Ella Karolina dari Universitas Sriwijaya Palembang sebagai Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Kebudayaan 2016. Karya Tulis Ella Karolina mengangkat tema tentang ’Songket Palembang’ yang terbentuk dari perpaduan berbagai unsur kebudayaan. Berikut para pemenang Lomba Karya Ilmiah Kebudayaan 2016:

Juara I                   : Ella Karolina dari Universitas Sriwijaya Palembang (UNSRI)

Juara II                  : Prendi Niki Halhaji & Ari Saputra dari Universitas Negeri Bengkulu (UNIB)

Juara III                : Tresno dari Universitas Andalas Padang (UNAND)

Harapan I            : Rigo Firmanto dari Universitas Sriwijaya Palembang (UNSRI)

Harapan II           : Rahma Yenti dari Universitas Andalas Padang (UNAND)

Harapan III          : Rian Fauzi dari Universitas Negeri Padang (UNP)

Selamat Bertugas Pak; Bapisah Bukannyo Bacarai

0
Anak-anak TK Bundo Kanduang

Padang (BPNB Sumbar) – Kegiatan Baretong di Hari Tarang Revitalisasi Kesenian Tradisional Minangkabau untuk terakhir kalinya pada tahun 2016 dilaksanakan. Kegiatan ini dilaksanakan pada sabtu 10 Desember di Depan Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat di Jl. Raya Belimbing No. 16a. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Bapak Jumhari, SS.

Kepala BPNB Sumbar Bapak Jumhari, SS

Panitia Revitalisasi Kesenian Tradisional Minangkabau memberi tema ‘Bapisah Bukannya Bacarai’. Hal ini mengingat bahwa dalam waktu dekat Kepala BPNB Sumbar Bapak Jumhari, SS akan pindah tugas ke Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. Kepindahan tersebut berdasarkan pelantikan yang sudah lebih dahulu dilakukan di Jakarta pada 30 November 2016 yang lalu oleh Direktur Kebudayaan.

Mantan Kepala BPNB Sumbar, sekarang menjadi Kepala BPCB Sumbar Bapak Drs. Nurmatias

Kegiatan ini semakin terasa mendalam karena dalam tahun ini 2016 Kepala BPNB Sumatera Barat mengalami pergantian sebanyak dua kali. Pada januari 2016 yang lalu Bapak Drs. Nurmatias pindah ke BPCB Sumatera Barat dan digantikan Bapak Jumhari, SS yang sebelumnya menjadi KasubBag Tata Usaha. Kemudian tidak sampai setahun Bapak Jumhari harus pindah ke BPNB Jawa Barat. Beliau digantikan oleh Bapak Drs. Suarman dari BPNB Kepulauan Riau.

Penampilan kesenian

Atas pergantian tersebut, acara Baretong di Hari Tarang Revitalisasi Kesenian Tradisional Minangkabau menjadi salah satu ajang perpisahan antara pegawai BPNB Sumbar dengan Kepala Balainya serta perpisahan dengan masyarakat yang ada di sekitar kantor.

Pada kesempatan itu Bapak Jumhari, SS dan Bapak Drs. Nurmatias yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pegawai dan juga kepada masyarakat yang selama ini menerima dengan baik dan mendukung kegiatan-kegiatan yang ada di BPNB Sumatera Barat. Mereka juga tidak lupa menyampaikan harapan semoga BPNB Sumatera Barat ke depan di bawah kepala yang baru semakin maju dan program-program yang dijalankan senantiasa mendapat apresiasi dari masyarakat.

Penampilan kesenian

Acara kali ini menampilkan penampilan seni anak-anak TK Bundo Kanduang yang berada dekat dengan lingkungan kantor serta sanggar-sanggar seni dari Padang Pariaman dan Kota Solok. Sanggar-sanggar tersebut merupakan sanggar yang sudah pernah mendapat bantuan dari Kantor BPNB Sumatera Barat.

Anak-anak TK Bundo Kanduang

Sebagaimana harapan yang disampaikan Bapak Jumhari, SS yang akan pindah ke BPNB Jawa Barat, semoga BPNB Sumatera Barat ke depan semakin bermanfaat bagi masyarakat. Selamat bertugas juga di tempat yang baru kepada Bapak Drs. Nurmatias dan Bapak Jumhari, SS, semoga di masa depan semakin sukses dan menjadi manfaat bagi masyarakat.

Pembekalan Peneliti Melalui Workshop Metodologi Penelitian

0
Bapak Drs. Bushori Imron, M. Si (kanan) dan Kepala BPNB Sumbar Jumhari, SS

Padang (BPNB Sumbar) – Dalam rangka meningkatkan kompetensi pegawai khususnya fungsional peneliti maka Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat mengadakan Pembekalan Teknis Penelitian Workshop Metodologi Penelitian. Pembekalan ini berlangsung selama tiga hari sejak Kamis-Sabtu tanggal 1-3 Desember 2016 di Hotel D’Dhave, Kota Padang.

Bapak Drs. Bushori Imron, M. Si (kanan) dan Kepala BPNB Sumbar Jumhari, SS
Bapak Drs. Bushori Imron, M. Si (kanan) dan Kepala BPNB Sumbar Jumhari, SS

Pembekalan teknis penelitian ini melibatkan seluruh fungsional peneliti dan kandidat peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. Selain itu beberapa peneliti dari beberapa instansi yang ada di Sumatera Barat yang mempunyai tugas dan fungsi penelitian juga diundang sebagai peserta untuk menambah informasi yang berkembang tentang penelitian. Beberapa diantaranya antara lain Bappeda Sumbar, Balai Bahasa, Universitas Negeri Padang, Universitas Andalas dan lain-lain. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh KasubBag Tata Usaha BPNB Sumbar Ibu Titit Lestari.

Penyerahan Cenderamata Kepada Bapak Bushori oleh Bapak Jumhari
Penyerahan Cenderamata Kepada Bapak Bushori oleh Bapak Jumhari

Tujuan workshop ini dimaksudkan untuk meningkatkan, mengasah dan meng update informasi dan pengetahuan tentang penelitian. Selain itu, Workshop diharapkan mampu meningkatkan kemampuan para peneliti dalam mengembangkan teori dan metode penelitian serta mampu menulis Karya Tulis Ilmiah yang berkualitas. Oleh karena itu, materi-materi yang diberikan pada workshop ini terdiri dari: 1) Aplikasi Teori dan Metodologi dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah, 2) Sistem Penilaian dan Administrasi Jabatan Fungsional Peneliti, 3) Open Journal System (OJS), 4) e-peneliti, 5) Pendekatan Interdisiliner dalam Penelitian Ilmu Sosial, 6) Workshop Karya Tulis Ilmiah.

Sebagai pemateri terdiri dari orang-orang yang kompeten di bidangnya masing-masing seperti Prof. Nursyirwan Effendi, seorang akademisi dari Universitas Andalas, Drs. Bushori Imron, M.Si dari LIPI sekaligus ketua TP2I di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dra. Erwiza Erman dari LIPI serta Andri Agus Rahman dari Pusbindiklat LIPI.

Dengan adanya kegiatan ini diharapkan penelitian di lingkungan Kementerian Pendidikan Kebudayaan khususnya di Balai pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat menjadi berkualitas dan mampu diaplikasikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas.

Festival Matrilineal 2016 Ditutup Secara Resmi

0
Foto bersama anak Sijunjung Kreatif dengan Panitia Festival Matrilineal 2016

Sijunjung (BPNB Sumbar) – Setelah berlangsung selama empat hari berturut-turut, pada hari kelima yaitu sabtu 26 November 2016 Festival Matrilineal 2016 secara resmi ditutup. Penutupan dilakukan oleh Kepala Dinas Seni, Budaya Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sijunjung.

Foto bersama anak Sijunjung Kreatif dengan Panitia Festival Matrilineal 2016
Foto bersama anak Sijunjung Kreatif dengan Panitia Festival Matrilineal 2016

Selama pagelaran, beberapa tim kesenian atau sanggar dari berbagai daerah telah menunjukkan penampilan terbaiknya. Sanggar-sanggar tersebut diantaranya Sanggar Seni Rentak Senada dari Kabupaten Muko-muko yang tampil pada saat pembukaan. Sanggar Seni Rentak Selada ini menampilkan tari Tutong Sayak Tunggang Tabang. Tari garapan dari Ade Yanti ini merupakan tari budaya etnis yang hampir punah, dimana terciptanya tari tersebut karena adat kebiasaan masyarakat yang berkembang kesehariannya untuk megambil nira (gula aren).

Penampilan Tari Baombai
Penampilan Tari Baombai

Pada hari kedua festival menampilkan Sanggar Seni Ranah Sijunjung dengan Tarian Panen Raya. Tari ini menceritakan kehidupan masyarakat di Nagari Sijunjung sebagai petani. Sanggar seni Sinar Tampalo Padang Laweh menampilkan Boombai. Boombai adalah kegiatan turun kesawah secara gotong royong. Tarian ini dimainkan oleh ibu-ibu bahkan nenek-nenek, membuat suasana penampilan semakin meriah. Setelah itu penampilan Sanggar Patah Tumbuah Hilang Baganti dari Limo Koto Kecamatan Koto VII Kabupaten Sijunjung. Mereka menampilkan Tari Piriang Bagoluik yang mengambarkan ketangkasan anak muda dalam manatiang piriang yang dilandasi dengan kemampuan pencak silat. Kemudian penampilan Anak Sijunjug Kreatif, dengan Tari Unca Sarentak.

Tari Indang
Tari Indang

Pada hari ketiga menampilkan Kulet Comunity Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, Sanggar Seni dan Budaya San Alida Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat, dan tim kesenian Ilok Rupo, Kerinci Propinsi Jambi. Seperti malam sebelumnya, masyarakat yang menonton tumpah ruah menyaksikan pementasan kesenian tersebut.

Pada hari keempat menampilkan tim kesenian dari Tuah Sakato, Kenagarian Tigo Balai Kecamatan Matur Kabupaten Agam, Sanggar Komunitas Seni Tradisional Minang Kecamatan Ranah Pantai Cermin Kabupaten Solok Selatan, dan Sanggar Puti Junjuang Kabupaten Sijunjung. Pada malam terakhir ditampilkan sanggar Dara Petak Kerajaan Siguntur Kabupaten Dharmasraya dan Sanggar Tuah Merindu Muara Dua Propinsi Sumatera Selatan.

Dengan adanya Festival Matrilineal 2016 diharapkan dapat memberikan insipirasi kepada semua kalangan akan pentingnya melestarikan kesenian daerah, sehingga pelestarian kebudayaan kita dapat terjaga.

Festival Seni Tradisi Minangkabau

0
Tari Indang

Padang (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat menggelar Festival Seni Tradisi Minangkabau pada 26 November dan 3 Desember 2016. Festival ini diadakan di Depan Kantor BPNB Sumatera Barat di Jl. Raya Belimbing No. 16 A, Kuranji Padang. Acara yang disaksikan oleh ratusan warga sekitar ini diikuti beberapa penampilan dari beberapa Kabupaten/Kota yang ada di wilayah Sumatera Barat seperti Pesisir Selatan, Solok, Padang Pariaman dan Kota Padang. Secara resmi pembukaan dilakukan oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Jumhari, SS.

Pembukaan oleh Kepala BPNB Sumbar Bapak Jumhari, SS
Pembukaan oleh Kepala BPNB Sumbar Bapak Jumhari, SS

Festival Seni Tradisi Minangkabau adalah salah satu kegiatan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat yang bertujuan mewadahi sanggar-sanggar seni untuk menampilkan kesenian tradisional mereka. Seperti diketahui bahwa ada begitu banyak sanggar seni yang mencoba tetap eksis dalam melestarikan kesenian dan tradisi lokal namun kurang wadah untuk menampilkannya. Kondisi tersebut juga diperparah dengan semakin massifnya ekspansi kesenian modern yang kemudian menghilangkan gaung kesenian tradisional. atas dasar itu, maka BPNB Sumatera Barat mencoba memfasilitasi penampilan sanggar-sanggar tersebut dengan mengadakan festival seni tradisi.

Tari Piring Rantak Kudo
Tari Piring Rantak Kudo

Selain itu, kegiatan festival ini juga dimaksudkan untuk memastikan bahwa bantuan pemerintah kepada sanggar-sanggar berupa fasilitasi pelestarian nilai budaya adalah tepat sasaran. Sehingga, para peserta dalam festival ini adalah sanggar-sanggar yang telah mendapatkan bantuan fasilitasi pelestarian nilai budaya dari BPNB Sumatera Barat. Beberapa sanggar yang ikut tampil dalam kegiatan festival ini adalah Sanggar Limo Lunggo dan Tuah Sarumpun dari Kabupaten Solok, Sanggar Tigo Jangko dari Kabupaten Tanah Datar, Sanggar Sarai Sarumpun dari Kabupaten Pesisir Selatan, dan dari Nagari Sintuak. Sanggar-sanggar tersebut menampilkan beberapa kesenian tradisional seperti Tari Piring, Silek/silat, Pidato adat dan Tari Indang.

Tari Indang
Tari Indang

Sebagai informasi bahwa Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat sebagai UPT Pusat telah diamanahkan menyalurkan bantuan fasilitasi pelestarian nilai budaya. Hingga saat ini sudah banyak sanggar-sanggar yang telah diberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan masing-masing sanggar, tentu saja dalam hal pelestarian nilai-nilai tradisi.

Silat
Silat

Acara ditutup dengan pertunjukan Randai.

Randai
Randai

Pengumuman Sepuluh Nominasi Terbaik Lomba Karya Ilmiah 2016

0

Padang (BPNB Sumbar) – Setelah melewati tahapan penilaian, akhirnya dewan juri menetapkan sepuluh nominasi terbaik Lomba Penulisan Karya Ilmiah Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat 2016. Keputusan ini diambil dengan melihat pemenuhan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Ketupusan ini juga murni hak prerogatif dewan juri dan tidak ada intervensi dari pihak manapun. Kesepuluh nomisasi terbaik tersebut antara lain:

  1. Ella Karolina (Universitas Sriwijaya): Cerminan Multikurtural Dalam Kain Songket Palembang.
  2. Prendi Niki Halhaji & Ari Saputra (Universitas Bengkulu): Explorasi Sejarah, Prosesi, dan Nilai-nilai Luhur Upacara Perkawinan Adat Bimbang Makan Sepagi dalam suku Serawai Sebagai Warisan Budaya Bangsa di Kabupaten Bengkulu Selatan.
  3. Rahma Yenti (Universitas Andalas): Tradisi Mayuan dan Membayar Nazar di Pacuan, Kec. Rao Kab. Pasaman.
  4. Rigo Firmanto (Universitas Sriwijaya):  “Thongin Fangin Tjitjong “ Ungkapan Pemersatu Ragam Masyarakat di Pulau Bangka Propinsi BABEL.
  5. Rian Fauzi (Universitas Negeri Padang): Nilai Kearifan Lokal Lauak Baniek Studi Kasus : Pada Masyarakat Sungai Durian Kecamatan Patamuan Kabupaten Padang Pariaman terhadap Konservasi Alam Khususnya Aliran Sungai.
  6. Tresno (Universitas Andalas): Jaminan Sosial Tunggu Tubang : Revitalisasi Pluralisme Kekerabatan di Indonesia (Studi Kasus di Desa Ulak Lebar Kab. Kaur Prop. Bengkulu.
  7. Rizkan (Universitas Andalas): Interpretasi dan Naratifikasi Mantra di Muko-Muko sebagai Pengenalan Budaya dan Kearifan Lokal Bagi Generasi Penerus Muko-Muko Dalam Menghadapi Era Globalisasi.
  8. Renita Agustina (Universitas Sriwijaya): Pemaknaan Budaya Gelar Adat Dalam Upacara Perkawinan Adat Masyarakat Komering Belitang OKU Timur Sebagai Perwujudan Kemajemukan Indonesia.
  9. Muhammad Fajri (Universitas Andalas): Kapuran Sebagai Ciri Khas Etnis Minangkabau dalam Manjapuik Marapulai.
  10. Sukirno (Universitas Bengkulu): Tari Piring Gelas Sebagai Bentuk Kehati-hatian dalam Bersikap dan Rasa Saling Percaya Masyarakat Kab. Musi Rawas Sumatera Selatan.

Kesepuluh nominasi terbaik ini selanjutnya dinyatakan berhak dan layak untuk mengikuti seleksi tahap akhir. Tempat pelaksanaan seleksi terakhir akan dilaksanakan di Hotel Daima, Padang pada tanggal 08 Desember 2016. Seleksi tersebut untuk menyaring peserta terbaik I – III dan Harapan I – III. Dalam seleksi tahap akhir ini kesepuluh nominasi diundang untuk mempresentasikan karyanya di depan peserta dan juga dewan juri.

Adapun kriteria penilaian dalam seleksi ini adalah Efektifitas Slide (maksimal 10 Slide), penguasaan materi KTI, Kualitas dalam menjawab pertanyaan dan penampilan. Total  waktu penampilan diberikan  sekitar 30 menit dengan rincian presentasi 10 menit dan diskusi 20 menit. Setiap peserta juga diminta untuk mengenakan almamater dalam presentasi.

Untuk informasi lebih lanjut dapat hadir di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat atau menghubungi ketua panitia Bapak Hasanadi, SS.

Tari Gandai Tutong oleh Sanggar Rentak Senada

0
Salah satu gerak tari Gandai Tutong

Sijunjung (BPNB Sumbar) – Acara pembukaan Festival Matrilineal 2016 (22/11) menampilkan Sanggar Rentak Senada sebagai penampil perdana. Sanggar Rentak Senada berasal dari Kabupaten Muko-muko merupakan sanggar seni yang bergerak di bidang seni tari dan music, khususnya tari dari daerah Kabupaten Muko-muko. Sanggar ini juga sudah sering menampilkan keseniannya baik di Provinsi Bengkulu maupun di luar provinsi.

Salah satu gerak tari Gandai Tutong
Salah satu gerak tari Gandai Tutong

Pada malam pembukaan Festival Matrilineal 2016, Sanggar Rentak Senada menampilkan Tari Gandai Tutong Sayak Tunggang Tabang. Sebuah tarian budaya etnis Kabupaten Muko-muko yang hampir punah. Tari ini diadaptasi dari kebiasaan masyarakat pada masa lalu sehingga tarian ini menampilkan gerakan-gerakan yang mencerminkan kejadian-kejadian yang terjadi pada zaman dulu. Tari ini diiringi alat music serunai gandai, redap, dol kecapi muko-muko, biola, ketuk bambu dan tassa.

Pemain musik Rentak Senada
Pemain musik Rentak Senada

Penyerahan Piagam Penghargaan
Penyerahan Piagam Penghargaan

Festival Marilineal 2016 Resmi Dibuka

0
Penabuhan Gendang Tanda dimulainya Festival Matrilineal 2016

Sijunjung (BPNB Sumbar) –  Festival Matrilineal 2016 secara resmi dibuka. Acara pembukaan dilaksanakan pada Selasa (22/11) malam di Koto Padang Ranah, Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat. Pembukaan secara resmi dilakukan oleh Bupati Sijunjung Bapak Drs. H. Yuswir Arifin, MM dan ditandai dengan penabuhan gendang oleh bupati, kepala BPNB Sumbar Jumhari, SS, Kepala Bidang Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Bapak Gatot Santoso, SH, MM dan perwakilan dari Kabupaten Muko-muko.

Pembukaan oleh Bupati Sijunjung Drs. H. Yuswir Arifin, MM
Pembukaan oleh Bupati Sijunjung Drs. H. Yuswir Arifin, MM

Acara dimulai dengan pembacaan doa, laporan Kepala BPNB Sumatera Barat, Kata Sambutan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, pembukaan oleh Bupati Sijunjung dan penabuhan gendang. Diantara rangkaian acara pertunjukan, juga diselingi dengan penampilan kesenian dari sanggar-sanggar dan taman kanak-kanak setempat serta sanggar seni dari Kabupaten Muko-muko.

Penabuhan Gendang
Penabuhan Gendang

Pada kesempatan itu, Kepala BPNB Sumatera Barat menyampaikan ungkapan terima kasih kepada masyarakat Sijunjung serta pemerintah daerah yang menyambut kegiatan Festival Matrilineal dengan antusias dan membantu banyak hal demi mencapai kesuksesan acara festival ini. Beliau juga menekankan bahwa pelaksanaan kegiatan ini merupakan satu bentuk silaturahmi dan mempersatukan kita masyarakat yang memang berbeda-beda budaya.

Sementara itu bupati sijunjung juga menyampaikan terima kasihnya atas keberlangsungan acara sehingga bisa mengangkat nama Sijunjung, terlebih budayanya lebih dikenal baik secara nasional maupun internasional. Hal itu menjadi penting mengingat bahwa Koto Padang Ranah dan Tanah Bato sedang diusulkan untuk menjadi warisan budaya dunia ke UNESCO dan telah masuk dalah tentative list. Beliau juga berharap kegiatan yang sama bisa berlangsung di tahun-tahun mendatang.

Pembukaan Festival Matrilineal 2016 dihadiri ratusan warga masyarakat yang memadati lokasi pertunjukan. Selain itu juga dihadiri oleh cerdik pandai, ninik mamak, alim ulama dan pejabat pemerintahan seperti perwakilan gubernur sumatera barat, bupati dan SKPD kabupaten Sijunjung.

BPNB SUMBAR Kembali Menggelar Festival Matrilineal 2016

0

Sijunjung (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat kembali menggelar Festival Budaya Matrilineal 2016. Kegiatan ini digelar di Koto Padang Ranah, Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat. Festival akan akan berlangsung selama lima hari berturut-turut sejak 22 – 26 November 2016 dengan menampilkan beberapa grup kesenian dari berbagai provinsi yang mempunyai garis keturunan matrilineal.

festival

Kegiatan ini merupakan kegiatan kedua setelah tahun lalu acara yang sama sukses digelar. Pelaksanaan kegiatan ini bermaksud mendorong perkembangan dan pengetahuan sistem matrilineal serta dapat menciptakan ruang bersama bagi pelaku, pengamat dan masyarakat luas untuk melihat akar tradisi tetap menjadi sumber penting bagi proses perkembangan dan  pengetahuan sistem matrilineal.

Tujuan festival adalah meningkatkan pengetahuan tentang sistem matrilineal, membentuk forum dengan skala yang lebih luas untuk mendorong perkembangan sistem matrilineal, menciptakan even pertunjukan sebagai ruang bersama penganut system matrilineal  untuk melihat akar tradisinya dan mendorong perkampungan adat di Nagari Sijunjung menjadi warisan budaya dunia melalui UNESCO.

Pada tahun ini Festival Matrilineal akan menampilkan pertunjukan kesenian matrilineal dari berbagai daerah yang memiliki garis keturunan matrilineal. Lima provinsi akan terlibat seperti Provinsi Sumatera Barat sebagai tuan rumah, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Provinsi Jambi, Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Selatan.

Festival Film Dokumenter Kebudayaan 2016

0
Foto bersama seluruh peserta festival film

Padang (BPNB SUMBAR) – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat menggelar puncak acara Festival Film Dokumenter Kebudayaan 2016 sekaligus penyerahan hadiah bagi peserta dengan film terbaik. Puncak acara ini dilaksanakan di Kabupaten Lima Puluh Kota pada Jumat, 11 November 2016. Acara puncak ini secara resmi dibuka oleh Bapak Bupati Lima Puluh Kota Irfendi Arbi.

Bupati Lima Puluh Kota membuka Festival Film
Bupati Lima Puluh Kota membuka Festival Film

Acara ini juga dihadiri Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud, Kepala BPNB Sumatera Barat, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lima Puluh Kota, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Lima Puluh Kota, Dewan Juri, Panitia, Undangan lainnya serta tim produksi yang filmnya masuk 10 nominasi film terbaik yang berasal dari 5 SLTA di Sumatera Barat dan 2 SLTA dari Sumatera Selatan. Setiap tim produksi masing-masing terdiri dari 4 orang siswa dan 1 orang guru pendamping. Sebelum acara puncak, rangkaian kegiatan telah dilaksanakan sejak Rabu (09/11). Diawali dengan Workshop pembuatan film yang berlangsung selama 2 hari.

Peserta terbaik dari SMA N1 Payakumbuh
Peserta terbaik dari SMA N1 Payakumbuh

Hasil penilaian dewan juri memutuskan tiga film terbaik yakni (1) Debus  dari SMAN 1 Kec Payakumbuh, (2) Simuntuak dari SMAN 3 Batusangkar, (3) Mandi Balacuik dari SMKN Enam Lingkuang. Sementara peserta yang masuk kategori Harapan (1) Bakul Tangkal dari  SMKN 1 Sekayu, (2) Rangkiang dari SMKN 1 Solok dan (3) Babaliak ka Surau dari SMKN 1 Solok.

Foto bersama seluruh peserta festival film
Foto bersama seluruh peserta festival film

Seluruh peserta terbaik berhak atas hadiah yang disediakan oleh panitia berupa uang tunai dan tropi. Film terbaik I uang tunai sebesar Rp. 8.500.000,- ke II sebesar Rp. 7.500.000,- ke III sebesar Rp. 6.000.000,- dan Harapan masing-masing Rp. 3.000.000,-. Penyerahan Hadiah I langsung diserahkan oleh Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota, ke II oleh Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud, ke III Dewan Juri, Harapan I oleh Kepala BPNB Sumbar, ke II Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lima Puluh Kota dan ke III Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Lima Puluh Kota.

Sosialisasi Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pelestarian Nilai Budaya

0
Sosialisasi Bantuan Pemerintah

Padang (BPNB SUMBAR) – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat melaksanakan kegiatan Sosialisasi Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pelestarian Nilai Budaya. Acara ini diadakan di Hotel Daima  Padang Sumatera Barat pada Rabu (2/11) dengan mengundang dinas-dinas terkait dan komunitas budaya yang ada di tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat. Acara dimulai pada pukul 09.00 dan dibuka secara langsung oleh Kepala BPNB Sumatera Barat Bapak Jumhari, S.S.

Sosialisasi Bantuan Pemerintah
Sosialisasi Bantuan Pemerintah

Kegiatan sosialisasi ini merupakan lanjutan dari kegiatan FGD penyusunan draft Petunjuk Teknis (Juknis) yang dilaksanakan seminggu sebelumnya. Setelah draft juknis tersebut selesai disusun, selanjutnya adalah melaksanakan sosialisasi bantuan pemerintah dan juknis sehingga masyarakat dan stakeholder yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan pelestarian budaya dapat mengetahui dan memanfaatkan bantuan yang ditawarkan pemerintah untuk mendorong pelestarian budaya sebagaimana tujuan dari bantuan tersebut.

Dalam sambutannya Kepala BPNB Sumatera Barat meminta masyarakat yang mempunyai informasi mengenai sanggar atau komunitas budaya yang layak, eksis serta sangat membutuhkan bantuan pemerintah maka akan mendukung program ini. Sehingga bantuan yang ditawarkan pemerintah ini bisa tepat sasaran, efektif dan memenuhi. Beliau juga menekankan bahwa bantuan pemerintah ini akan lebih bermanfaat jika sanggar-sanggar atau komunitas budaya yang mendapat bantuan berasal dari daerah terisolir, terluar dan tertinggal.

Tujuan dari bantuan ini sesungguhnya adalah memperkuat nilai-nilai budaya sehingga masyarakat tidak kehilangan identitasnya. Sesuai tujuan tersebut, sasaran bantuan adalah komunitas-komunitas yang fokus pada pelestarian budaya seperti sanggar, sasaran dan kelompok-kelompok yang tetap menjaga nilai-nilai budaya. Selain itu yang memang tidak kalah penting adalah bahwa bantuan pemerintah hanya diberikan kepada komunitas yang sangat membutuhkan baik dalam mempertahankan eksistensinya maupun dalam memenuhi kebutuhan mereka dalam menampilkan nilai-nilai yang mereka miliki.

Adanya sosialisasi ini diharapkan mampu memenuhi keinginan masyarakat khususnya komunitas budaya untuk dapat memanfaatkan bantuan pemerintah dalam menjaga eksistensinya dalam pelestarian budaya. Dengan adanya Juknis maka komunitas mempunyai gambaran yang jelas dan terarah dalam memanfaatkan bantuan yang ada. Masyarakat dan komunitas dapat lebih focus pada pelestarian budaya. Di sisi lain juga mempermudah pemerintah dalam menjaga tetap terawatnya budaya dan jati diri bangsa dengan adanya komunitas budaya yang kuat menjaga nilai-nilai budayanya.

Sepuluh Besar Terbaik Festival Film Dokumenter Kebudayaan 2016

0

Padang (BPNB SUMBAR) – Setelah melalui beberapa tahapan penilaian, akhirnya dewan juri menetapkan 10 besar peserta terbaik Festival Film Dokumenter Kebudadayaan 2016. Kesepuluh peserta tersebut antara lain:

  • ‘Debus’ karya Mentari, dkk dari SMAN 1 Kecamatan Payakumbuh
  • ‘Simuntuak’ karya Faiz Tomendra, dkk dari SMAN 3 Batu Sangkar
  • ‘Mandi Balacuik’ karya Agustina Putri, dkk dari SMKN 1 Enam Lingkuang
  • ‘Rangkiang karya’ Nur Asyifa, dkk dari SMKN 1 Kota Solok
  • ‘Bakul Tangkal’ karya Wendi MS, dkk dari SMKN 1 Sekayu
  • ‘Ratik Tulak Bala’ karya Akmal Dunil Hag, dkk dari SMKN 1 Enam Lingkuang
  • ‘Randai karya’ Sri Wahyu Ningsih, dkk dari SMAN 1 Kecamatan Payakumbuh
  • ‘Babaliak Ka Surau’ karya Regina Yolanda, dkk dari SMKN 1 Solok
  • ‘Midang Morge Siwe’ karya Nova Novita, dkk dari SMAN 1 Tanjung Raja Ogan Ilir
  • ‘Harapan dari Pelosok Negeri/Permainan Tali’ karya Erlin Pradita dari SMAN 1 Timpeh

Panitia melalui ketua panitia Dra. Ernatip menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan pengumuman ini. Kendala teknis menjadi salah satu penyebab pengumuman tertunda beberapa waktu.

Penilaian film dokumenter ini sendiri didasarkan pada beberapa kriteria seperti: Penyampaian ide/gagasan/tema, komunikasi dalam penceritaan, perekaman gambar, perekaman suara, penyusunan gambar dan suara (editing), ilustrasi musik dan penggunaan musik sendiri. Nilai tertinggi dari akumulasi masing-masing kriteria ditetapkan sebagai peserta terbaik. Penilaian semua kriteria ini diserahkan kepada tiga dewan juri yang sudah berpengalaman di bidangnya. Ketiga juri tersebut yaitu Dr. Zainal Arifin dari Departemen Antropologi Universitas Andalas, Kusen Dony Hermansyah, M.Sn dosen TV dan Film Institut Kesenian Jakarta dan Adri Yandi, M. Sn dosen Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Selain itu penilaian ini bebas dari intervensi manapun.

Selanjutnya panitia akan mengundang seluruh tim yang masuk sepuluh besar untuk hadir dalam acara Workshop Pembuatan Film Dokumenter selama dua hari yaitu tanggal 9 – 10 Nopember 2016 di Payakumbuh Kabupaten Limapuluh Kota sekaligus penyaringan peserta menjadi enam peserta terbaik. Selama kegiatan workshop para peserta akan diajak ke ISI Padang panjang, presentasi film masing-masing tim dari 10 besar, penyampaian materi pembuatan film dan penilaian peserta terbaik.

Pada 11 nopember 2016 di tempat yang sama penyelenggaraan workshop akan diadakan pengumuman peserta terbaik serta penyerahan hadiah sekaligus penutupan acara. Untuk informasi selanjutnya, para peserta masih diperkenankan menghubungi panitia pada nomor 081363465984 (Ernatip) dan 081266166642 (Erric Syah).

Focus Group Discussion Optimalisasi Pengelolaan Bantuan Pemerintah

0

Padang (BPNB Sumbar) – Dalam rangka mensukseskan Program Bantuan Pemerintah bagi komunitas budaya untuk tumbuh dan berkembang, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat yang merupakan Unit PelaksanaTeknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Optimalisasi Pengelolaan Bantuan Pemerintah pada Sabtu (22/10) di Hotel Daima Padang. Secara resmi kegiatan ini dibuka oleh Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Jumhari SS.

Penyelenggaraan FGD ini bermaksud menampung berbagai aspirasi dari pelaku-pelaku budaya dan sharing pengalaman dalam pemberian bantuan pemerintah. Hasil dari FGD ini diharapkan akan memberikan gambaran lebih terang bagaimana konsep petunjuk teknis yang akan disusun sehingga pemberian bantuan pemerintah tepat sasaran dan mempunyai nilai kemanfaatan.

Sebagaimana disampaikan Bapak Jumhari, SS dalam sambutannya: “tujuan dari FGD ini adalah untuk menghasilkan draft petunjuk teknis pengelolaan bantuan pemerintah fasilitasi pelestarian nilai budaya.  Petunjuk teknis itu nantinya menjadi aturan baku yang akan mengarahkan tim penilai komunitas social untuk layak atau tidak mendapatkan bantuan pemerintah. Sehingga tujuan dari program bantuan pemerintah bisa tepat sasaran dan mempunyai manfaat baik bagi komunitas budaya dalam mengembangkan komunitasnya dan upaya pelestarian nilai budaya yang mereka lakukan”.

Focus Group Discussion ini mengundang tiga narasumber utama yaitu Ibu Dra. Yulfira Media, M.Si salah seorang peneliti senior dari BAPPEDA Sumatera Barat, Bapak Drs. Defrizal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Barat serta Prof. Nursiyrwan Effendi dari Akademisi (UNAND). Sementara peserta FGD terdiri dari perwakilan komunitas-komunitas budaya seperti sanggar, sasaran silat, dinas social, kesbangpol dan lain-lain.

Secara umum, ketiga narasumber menekankan bahwa dalam mengoptimalkan pemberian bantuan pemerintah harus tepat sasaran bukan hanya pada pemberiannya namun juga pada manfaat yang diberikan dengan adanya bantuan tersebut. Menjadikan bantuan sebagai stimulus dan dapat mendorong kemandirian komunitas untuk tetap eksis dalam pelestarian budaya. Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa bantuan bukan Kooptasi yang kemudian melemahkan tapi bantuan lebih kepada usaha untuk pemberdayaan. Prof. Nursyirwan menegaskan bahwa pemberian bantuan jangan dijadikan sebagai modal daya yang ketika dilepaskan maka komunitasnya mati tapi menjadikan bantuan sebagai akselerator dalam menjaga tetap eksisnya komunitas budaya tersebut.

Setelah kegiatan FGD ini selesai, tim Fasilitasi Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat akan menyusun Petunjuk Teknis (JUKNIS) Pengelolaan Bantuan Pemerintah yang baku. Selanjutnya tim akan mensosialisasikan Juknis tersebut kepada pelaku-pelaku budaya yang ada di tiga wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Sumatera Barat yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Workshop Pelestarian Musik Tradisional Minangkabau 2016

0
Pemukulan gendang oleh Ibu Titit Lestari

BPNB SUMBAR – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat secara resmi memulai kegiatan Workshop Pelestarian Musik Tradisional Minangkabau. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Titit Lestari, S.Si, MP pada Kamis (04/08) di Aula BPNB Sumbar ditandai dengan pemukulan Gandang Tasa.

Workshop Pelestarian Musik Tradisional Minangkabau ini merupakan kegiatan kedua setelah tahun lalu kegiatan yang sama sukses dilaksanakan.

Pemukulan gendang oleh Ibu Titit Lestari
Pemukulan gendang oleh Ibu Titit Lestari

Workshop ini adalah wadah yang ditawarkan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya kepada para generasi muda untuk belajar mengenal dan menggunakan alat musik tradisional Tradisional. Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini banyak diantara generasi muda yang sudah melupakan kesenian tradisional. Hal ini akibat penetrasi budaya luar yang semakin kencang. Tanpa dibentengi dengan pemahaman identitas yang kuat, lama kelamaan hal itu akan mengakibatkan abrasi budaya sehingga generasi masa depan bisa-bisa kehilangan jati dirinya.

Workshop Pelestarian musik tradisional Minangkabau menjadi satu tawaran untuk meminimalisasi kondisi tersebut, tentu dengan terlibat aktif dalam melestarikan musik tradisional dan memahami serta menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sehingga di masa depan para generasi muda tidak hanya mengenal Musik tradisionalnya tapi juga berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hal ini sesuai dengan harapan Ibu Titit Lestari, S.Si, MP yang menyatakan “kegiatan ini jangan hanya dimanfaatkan untuk  menambah pengetahuan atau keahlian saja, tapi juga menunjukkan perilaku sesuai dengan nilai yang ada dalam berkesenian tersebut”

Seiring dengan tujuan kegiatan untuk mengenalkan musik tradisional sejak dini, para peserta dalam kegiatan ini terdiri dari anak SMP dan SMA dari berbagai sekolah yang ada di Kota Padang. Para peserta tersebut diseleksi berdasarkan minat dan ketertarikan.

Pengarahan oleh Bapak Hendri Yusuf
Pengarahan oleh Bapak Hendri Yusuf

Para peserta juga akan dikelompokkan menurut minat nya. Dalam hal ini ada beberapa alat musik tradisional yang akan diajarkan oleh seniman handal Hendri Yusuf seperti Gandang Tasa, Gandang Tambur, Talempong dan Serunai. Para peserta juga akan berlatih sebanyak delapan kali pertemuan setiap Hari Selasa dan Jumat. Selanjutnya setelah kegiatan latihan selesai para peserta akan menampilkan kemampuannya.

Hariadi, SS sebagai ketua pelaksana mengharapkan bahwa nantinya para peserta tidak lagi malu akan music tradisionalnya, tapi menjadikan music tradisional itu sebagai keahlian yang unik dan jarang dimiliki orang lain. Beliau juga berharap generasi muda akan semakin mencintai kesenian tradisionalnya khususnya musik tradisional.

Lomba Penulisan Karya Ilmiah Tingkat Mahasiswa

0

BPNB SUMBAR – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat dalam waktu dekat akan melaksanakan lomba Penulisan Karya Ilmiah Tingkat Mahasiswa. Lomba ini sebagai salah satu media dalam mengenalkan kebudayaan masyarakat Indonesia yang multikultural kepada generasi muda khususnya mahasiswa. Lomba ini juga bermaksud membangun budaya menulis bagi para mahasiswa berhubungan dengan kebudayaan.

LKTI
Lomba Penulisan karya Ilmiah ini bertemakan ‘Revitalisasi Kearifan Lokal bagi Penguatan Multikulturalisme Indonesia’. Menurut ketua pelaksana Hasanadi, S.S, alasan pengangkatan tema ini adalah bahwa masih banyak kearifan-kearifan lokal yang belum tergali dimana banyak diantaranya sangat relevan dalam memelihara kokohnya Multikulturalisme Indonesia. Salah satu diantaranya adalah toleransi. Memelihara nilai-nilai toleransi diakui sangat penting untuk menjaga kerukuran antar suku bangsa.

Suku-suku bangsa di Indonesia mempunyai konsep kearifan lokal berisi nilai toleransi yang bisa memelihara hubungan baik dengan suku bangsa lain. Hal ini terlihat bahwa sejak lama suku-suku bangsa Indonesia telah hidup berdampingan dan rukun. Oleh karena itu lomba penulisan ini diharapkan bisa menggali lebih banyak lagi kearifan-kearifan lokal yang ada di tiga wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Bagi mahasiswa Sarjana yang berminat pada kajian-kajian sejarah dan budaya, lomba karya Ilmiah ini sangat bagus. Baik itu sebagai pembelajaran dalam mengasah kemampuan menulis, juga menambah wawasan mengenai kekayaan budaya Bangsa Indonesia. Lomba ini juga akan diapresiasi dengan memberikan hadiah kepada pemenang. Total hadiah yang ditawarkan adalah Rp.20.500.000,-.

Batas pengiriman naskah tulisan ditetapkan sampai tanggal 31 September 2016. Bagi yang berminat mengikuti kegiatan ini atau membutuhkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi Ketua Panitia Hasanadi, S.S (081363642892).

Mencari Berkat di Tanah Palembang

0
Ziarah di salah satu makam/foto:firdaus

Subuh hari itu berjalan seperti biasa, masyarakat setempat telah ramai memadati Pasar Kuto dengan berbagai aktivitas dan kesibukannya. Sementara di sudut yang lain para warga satu-persatu mulai berdatangan ke Masjid tidak jauh dari pasar Kuto. Seakan tidak terganggu dengan keramaian di pasar mereka bergerak menuju Masjid Daruul Muttaqien untuk menghadap yang Kuasa, menjalankan shalat subuh dan menjadi pembuka rangkaian Ziarah Kubra 1437 H.

Masjid Daruul Muttaqien ditetapkan sebagai tempat pertama pelaksanaan Ziarah Kubro. Hal ini berkaitan bahwa masjid tersebut cukup bernilai sejarah dalam penyebaran Islam di Palembang. Masjid Daruul Muttaqien juga dinamakan sebagai Masjid Al-Habib Ahmad Bin Syech Bin Shahab sesuai dengan nama pendirinya. Ziarah ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut dan selama itu, para peserta mengadakan berbagai ritual mulai dari shalat subuh, arak-arakan, dan zikir bersama di pemakaman. Para peserta juga mengikuti acara haul para ulama sebagai pelengkap acara yang dilaksanakan pada siang dan malam hari setelah ziarah selesai dilaksanakan.

Ziarah kubra adalah ziarah mengunjungi makam leluhur atau orang yang sudah lebih dulu meninggal. Ziarah bertujuan sebagai salah satu penghargaan kepada orang yang sudah meninggal atas jasa-jasanya semasa hidup. Ziarah ini juga dimaksudkan sebagai balasan atas jasa tersebut dengan mendoakan orang yang sudah meninggal agar tenang dan diterima di sisi penciptanya. Ziarah juga mampu membangun komunikasi dan meminta berkat kepada yang maha Kuasa melalui barakah yang sudah meninggal.

Disebut Kubra atau besar karena peserta yang terlibat berjumlah ribuan orang. Selama perhelatan para peserta bagai lautan manusia mengular mengikuti jalan umum menuju makam. Dengan berjalan kaki hampir 2-3 Km menuju makam para habaib dan auliya yang diyakini sebagai orang suci dan sangat berjasa semasa hidupnya. Berjasa khususnya dalam penyebaran Agama Islam.

Ziarah di makam/foto:firdaus
Ziarah di makam/foto:firdaus

Pada awalnya ziarah kubra ini adalah tradisi ruahan seperti umumnya yang dilakukan oleh masyarakat Palembang. Ziarah ini diawali oleh keluarga Al-Habib al Wibib Ahmad Basin, juga bersama Habib Muhammad bin Umar, Habib Ali bin Abubakar beserta anggota keluarga turun temurun. Lama-kelamaan seiring dengan bertambahnya keturunan keluarganya, maka peserta ziarah juga semakin banyak.

Bagi masyarakat Arab yang ada di Palembang, upacara ziarah kubra merupakan even besar silaturahmi. Even yang mempertemukan banyak keturunan-keturunan Kambang Koci mengunjungi kakek-kakeknya. Memang, pada perhelatan ini keturunan Arab Palembang yang sudah merantau ke luar Palembang akan pulang untuk merayakan ziarah kubra tersebut. Kambang Koci sendiri adalah cikal bakal/pemakaman pertama diadakannya ziarah kubra. Kambang koci merupakan pemakaman yang terletak di Pelabuhan Boom baru dan merupakan pemakaman para ulama dan auliya pertama yang menyebarkan Agama Islam di Palembang. Pemakaman ini berdekatan dengan pemakaman Pangeran Syarif Ali dan Pemakaman Kesultanan Palembang Darussalam.

Tradisi ini juga tidak berhenti hanya pada anggota keluarga saja. Banyak orang yang mulai sadar akan jasa-jasa orang-orang pertama penyebar agama Islam di Palembang. Beberapa juga ada anggota keluarga yang selama keluarga dari Palembang mulai mencari garis keturunannya, sehingga membuat tradisi ziarah kubra semakin besar. Peserta yang semakin besar menjadi unik bagi masyarakat luar, kemudian mencari sejarah tentang orang-orang yang diziarahi. Ada banyak orang yang mulai menyukai tokoh-tokoh tersebut dan menjadikan teladan dalam hidupnya. Ada juga yang kemudian ingin mengunjungi makamnya sebagai bentuk silaturahmi dan penghargaan akan jasa-jasanya dahulu.

Awal acara dimulai dari Masjid Daruul Muttaqien. Salah satu masjid bersejarah yang di Jl. M. Isa berdekatan dengan Pasar Kuto Palembang. Masjid ini dibangun oleh Al-Habib Ahmad bin Syech bin Shahab di atas tanah wakaf milik ayahnya yang dihadiai oleh Sultan Palembang. Di masjid inilah para peserta sejak subuh melakukan shalat subuh serta mempersiapkan keberangkatan ke pemakaman di Gubah Duku.

Dari Masjid Daruul Muttaqien para peserta arak-arakan ke pemakaman Gubah Duku. Pemakaman Gubah Duku juga merupakan pemakaman yang dibangun oleh Al-Habib Ahmad bin Syech bin Shahab. Dalam arak-arakan para peserta hanya memperbolehkan laki-laki masuk dalam barisan. Berbeda dengan ziarah umumnya, ziarah kubra tidak membolehkan perempuan ikut dalam rombongan peserta ziarah karena bertentangan dengan ajaran Islam. Para peserta juga tidak menggunakan pakaian sembarang warna dan hanya menggunakan pakaian muslim/gamis berwarna putih. Arak-arakan dengan berjalan kaki juga disertai dengan tetabuhan hazir marawis, berbagai umbul-umbul berisikan ayat-ayat Al-Quran, serta kumandang shalawat.

Peserta ziarah memadati jalan/foto:firdaus
Peserta ziarah memadati jalan/foto:firdaus

Keinginan untuk mencari barakah oleh masyarakat kepada orang-orang suci membuat ziarah ini semakin diminati oleh banyak orang. Setiap tahun ritual ziarah kubra mengalami peningkatan dari jumlah peserta yang hadir. Sekitar 14000 peserta hadir dari berbagai daerah di Indonesia serta dari Negara-negara yang juga cukup antusias mengikuti tradisi ini. Negara-negara yang hampir tiap tahun mengirimkan delegasinya antara lain Malaysia, Singapura, Thailand, Yaman, Arab Saudi dan lain-lain. Para peserta juga tidak hanya berasal dari orang-orang biasa tapi juga ulama-ulama besar turut memeriahkan acara tersebut.

Berbagai aktivitas selain ziarah, aktivitas budaya yang menyertai juga sangat unik. Beberapa diantaranya adalah menerima tamu yang datang dari luar Palembang. Warga setempat membuka rumahnya untuk tempat penginapan para tamu sehingga membangun tali silaturahmi antara para pendatang dengan penduduk setempat. Para peserta yang memang mempunyai pertalian kekerabatan dengan masyarakat Arab Palembang akan mencari garis keturunannya. Sementara bagi orang bisa merasakan suasana sebenarnya pola kehidupan masyarakat Arab di Palembang. Sementara bagi tamu yang tidak berkenan untuk menginap di rumah penduduk, panitia juga memberikan penginapan di hotel-hotel di sekitar tempat pelaksanaan tersebut.

Panitia juga menyediakan makan kepada peserta yang datang dari luar Palembang selama tiga hari berturut-turut. Selama itu, panitia menyediakan nasi kebuli dengan lauk daging kambing. Nasi kebuli ini disediakan pada pagi hari sebelum berangkat ke makam, siang dan malam hari di tempat Haul. Nasi kebuli ini juga dihidangkan dalam nampan untuk porsi empat orang. Sehingga makan bersama dilakukan dengan satu nampan berempat. Betapa indahnya kebersamaan dalam acara makan bersama.

Makan bersama/foto:firdaus
Makan bersama/foto:firdaus

Biaya pelaksanaan acara selama tiga hari berturut-turut mereka peroleh melalui urunan dan sumbangan yang tidak mengikat oleh pengusaha-pengusaha. Setiap tahun ketika acara ziarah kubra, panitia bisa mengurbankan hingga 200 ekor kambing dan semua itu mereka peroleh dari sumbangan-sumbangan orang yang ikhlas membantu. Teknis pelaksanaan acara juga mereka kerjakan secara gotong royong dan ikhlas.

Festival Film Dokumenter Kebudayaan 2016 Tingkat SLTA

0

POSTER-okPadang (BPNB Sumbar) – Banyak cara dan media yang bisa digunakan untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda. Di tengah semakin berkurangnya ketertarikan masyarakat untuk mengenal dan mempelajari budaya lokal, maka dibutuhkan cara-cara yang menarik dan bervariasi dalam mengenalkan budaya tersebut. Sehingga, masyarakat tidak terbatas lagi hanya pada tradisi lama yang mengenalkan budaya melalui tradisi lisan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang telah memungkinkan media lain seperti media cetak melalui tradisi tulis dan audiovisual.

Pada tahun 2016, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat mencoba mengenalkan ragam karya budaya melalui kegiatan‘Festival Film Dokumenter’. Sesuai dengan tujuannya untuk mengenalkan budaya, festival ini akan mengangkat tema-tema budaya. Jadi, kegiatan ini selain memperkenalkan peserta bagaimana cara membuat film dokumenter, juga akan mengenalkan ragam karya budaya yang akan dijadikan sebagai obyek perekaman dalam film dokumenternya.

Ketua panitia Dra. Ernatip menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan kekayaan budaya secara audiovisual. Nantinya, selain pelajar berkenalan dengan berbagai karya-karya budaya, pelajar yang terlibat juga mampu menuangkan atau mendokumentasikan karya tersebut dalam bentuk audiovisual. Sehingga pengenalan karya budaya khususnya yang karya tradisional kepada masyarakat awam semakin bervariasi dan mudah untuk dipahami.

Kegiatan festival ini ditujukan kepada anak sekolahan setingkat SMA dari tiga wilayah kerja BPNB Sumatera Barat yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Peserta merupakan tim produksi yang dibentuk oleh sekolah dengan keterangan dari kepala sekolah. Masing-masing tim terdiri dari 4 (empat) orang meliputi Sutradara, Editor, Kameramen dan Penulis Skenario. Peserta mengirimkan karya kepada panitia. Bagi pelajar yang berminat untuk mengikuti kegiatan Festival Film Dokumenter dan berada di wilayah kerja BPNB Sumatera Barat bisa langsung menghubungi ketua panitia Dra. Ernatip.

-Marbun-

Pidato Mendikbud pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional

0

Pidato Mendikbud – Hardiknas 2016
PIDATO MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI
Pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2016
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Hari ini kita kembali merayakan Hari Pendidikan Nasional. Mari kita panjatkan puji
dan puja ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,
atas ijin, rahmat dan karunia-Nya kita dapat kembali berkumpul merayakan semangat,
capaian dan cita-cita pendidikan dan kebudayaan bangsa.
Kepada para pegiat pendidikan di seluruh penjuru Nusantara, ijinkan saya
menyampaikan apresiasi atas peran aktifnya dalam mencerdaskan saudara sebangsa.
Kepada Ibu dan Bapak pendidik di seluruh jenjang, yang tak lelah menyalurkan
inspirasi, membuka jalan pencerahan, dan membangkitkan asa setiap insan yang
dididiknya agar menjadi manusia yang berkarakter, berpengetahuan dan memberikan
faedah bagi sekitarnya, ijinkan saya atas nama pemerintah menghaturkan rasa hormat
mendalam.
Ibu, Bapak dan Hadirin yang mulia,
Hari Pendidikan Nasional kita rayakan sebagai hari kesadaran tentang pentingnya
kualitas manusia. Presiden Jokowi menggariskan bahwa Indonesia akan menjadi
bangsa yang disegani dunia dan akan berhasil dalam berbagai kompetisi era global jika
tinggi kualitas manusianya. manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci
kemajuan bangsa. Segala capaian yang kita raih sebagai individu maupun sebagai
bangsa kolektif tak lepas dari persinggungan dengan pendidikan. Mutu dan jenjang
pendidikan berdampak besar pada ruang kesempatan untuk maju dan sejahtera. Maka
memastikan setiap manusia Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang bermutu
sepanjang hidupnya sama dengan memastikan kejayaan dan keberlangsungan bangsa.
Dunia saat ini adalah dunia yang sangat berbeda dengan dunia beberapa dekade lalu.
Perubahan terjadi begitu cepat dalam skala eksponensial yang tidak pernah ditemui
dalam sejarah umat manusia sebelumnya. Revolusi teknologi menjadi pendorong
lompatan perubahan yang akan berpengaruh pada cara kita hidup, cara kita bekerja,
2
dan tentu saja, cara kita belajar. Meramalkan masa depan menjadi semakin sulit karena
ketidakpastian perubahan yang ada. Namun yang harus kita pastikan kepada anak-anak
kita adalah bahwa kita memberikan dukungan sepenuhnya kepada mereka untuk
menyiapkan diri meraih kesempatan yang terpampang di hadapannya.
Salah satu dukungan yang perlu kita berikan pada anak-anak Indonesia adalah
memastikan bahwa apa yang mereka pelajari saat ini adalah apa yang memang mereka
butuhkan untuk menjawab tantangan jamannya. Keterampilan utuh yang dibutuhkan
oleh anak-anak Indonesia di abad 21 ini mencakup tiga komponen yaitu kualitas
karakter, kemampuan literasi, dan kompetensi.
Karakter terdiri dari dua bagian. Pertama, karakter moral, sesuatu yang sering kita
bicarakan. Karaker moral itu antara lain adalah nilai Pancasila, keimanan, ketakwaan,
intergitas, kejujuran, keadilan, empati, rasa welas asih, sopan santun. Yang kedua dan
tak kalah pentingnya adalah karakter kinerja. Di antara karakter kinerja adalah kerja
keras, ulet, tangguh, rasa ingin tahu, inisiatif, gigih, kemampuan beradaptasi, dan
kepemimpinan. Kita ingin anak-anak Indonesia menumbuhkan kedua bagian karakter
ini secara seimbang. Kita tak ingin anak-anak Indonesia menjadi anak yang jujur tapi
malas, atau rajin tapi culas. Keseimbangan karakter baik ini akan menjadi pemandunya
dalam menghadapi lingkungan perubahan yang begitu cepat.
Literasi dasar menjadi komponen kemampuan abad 21 yang perlu kita perhatikan
berikutnya. Literasi dasar memungkinkan anak-anak meraih ilmu dan kemampuan
yang lebih tinggi serta menerapkannya kepada kehidupan hariannya. Bila selama ini
kita berfokus pada literasi baca-tulis dan berhitung yang masih harus kita perkuat,
maka kini kita perlu pula memperhatikan literasi sains, literasi teknologi, literasi
finansial dan literasi budaya.
Terakhir dan tak kalah pentingnya adalah komponen kompetensi. Abad 21 menuntut
anak-anak Indonesia mampu menghadapi masalah-masalah yang kompleks dan tidak
terstruktur. Maka mereka membutuhkan kompetensi kemampuan kreativitas,
kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, kemampuan komunikasi serta
kemampuan kolaborasi.
Ibu, Bapak, dan Hadirin yang mulia,
Setiap anak lahir sebagai pembelajar, tumbuh sebagai pembelajar. Kita semua
menyaksikan sendiri betapa anak-anak terlahir dengan rasa ingin tahu yang besar dan
keberanian untuk mencoba. Proses belajarnya didapatkan melalui permainan dan
petualangan. Lalu saat ia mulai melangkah masuk ke sekolah, ia mulai berhadapan
dengan struktur dan berbagai peraturan sebagai bagian dari sebuah model masyarakat
mini. Struktur dan berbagai peraturan yang ia hadapi ini dapat mengarahkan mereka
terus menjadi pembelajar, atau justru sebaliknya, meredupkan hasrat belajarnya.
3
Adalah tugas kita semua untuk memastikan binar keingintahuan di mata setiap anak
Indonesia, serta api semangat berkarya di dalam dirinya tidak akan padam. Adalah
tugas kita memberikan ruang bagi anak-anak Indonesia untuk berkontribusi,
memajukan dirinya, memajukan masyarakatnya, memajukan kebudayaan bangsanya.
Rasa percaya dari orang dewasa kepada anak-anak untuk berkarya dan ikut membawa
kebudayaan kita terus bergerak melangkah maju adalah kunci kemajuan negara.
Ibu, Bapak dan Hadirin yang berbahagia,
Hari Pendidikan Nasional ini kita rayakan karena kita termasuk di antara yang sudah
merasakan dampaknya. Maka pada bulan Mei ini, di mana Hari Pendidikan Nasional
terletak, ayo kita ikut bergerak, ikut terlibat dalam memperluas dampak pendidikan
terhadap saudara-saudara sebangsa yang belum sepenuhnya merasakan kesempatan
itu. Karena itulah pada tahun ini kita memilih tema “Nyalakan Pelita, Terangkan Citacita”
sebagai tema keriaan Hari Pendidikan Nasional. Kita ingin pendidikan benarbenar
berperan sebagai pelita bagi setiap anak Indonesia yang akan membuatnya bisa
melihat peluang, mendorong kemajuan, menumbuhkan karakter, dan memberikan
kejernihan dalam menata dan menyiapkan masa depannya.
Mari kita perluas keriaan pendidikan dan kebudayaan selama sebulan ke depan. Kita
bayar balik apa yang telah kita dapatkan dari pendidikan, kita gelorakan semangat
bergerak untuk pendidikan, dan kita teruskan ikhtiar bersama ini.
Kepada semua yang telah merasakan manfaat pendidikan dan di bulan pendidikan ini,
sapalah para pendidik kita dulu. Tanyakan kabarnya, ucapkan terima kasih dan
tunjukkan apreasiasi pada mereka, para pendidik dan pejuang pendidikan. Lalu mari
sama-sama kita tetapkan bahwa ikhtiar memajukan pendidikan akan kita lanjutkan dan
kembangkan.
Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Melapangkan dan Maha Meninggikan, selalu
meridhai ikhtiar kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kita tercinta.
Selamat Hari Pendidikan Nasional,
Selamat merayakan dan memeriahkan bulan pendidikan dan kebudayaan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 2 Mei 2016
Anies Baswedan, Ph.D.

Bedah Skenario Perekaman Film Dokumenter BPNB

0

bedahPadang (BPNB Sumbar) – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat melaksanakan Bedah Skenario untuk Tiga Kegiatan perekaman yang akan berlangsung selama tahun 2016. Kegiatan bedah skenario ini dilaksanakan di Ruang Sidang Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. Dibuka secara langsung oleh kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Jumhari, SS.

Bedah skenario ini merupakan satu kegiatan yang selain membuat perekaman yang lebih matang dan sempurna, ini juga diharapkan menjadi satu transfer ilmu antara nara sumber dengan tim yang melakukan perekaman pada tahun 2016. Bapak Jumhari, SS dalam membuka acara ini mengharapkan bahwa kegiatan ini bisa Memberi cakrawala dan pengetahuan baru dalam proses pembuatan film yang baik.

Ibu Titit Lestari menekankan bahwa film yang dibuat oleh Balai Pelestarian Nilai Sumatera Barat harus harus berbeda dengan film-film yang diproduksi di tempat lain seperti Balai Cagar Budaya, Pariwisata maupun lembaga lain. Perekaman di Balai Pelestarian Nilai Budaya harus disesuaikan dengan Tugas dan Fungsi kantor,t entu saja lebih menonjolkan sisi-sisi budaya di dalamnya.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 wib ini membedah sembilan skenario perekaman Aktivitas Budaya, Perekaman Bangunan Bersejarah dan Perekaman film Dokumenter. Ke sembilan kegiatan tersebut antara lain: 1) Kehidupan Nelayan Penghasil Ikan Kering di Kabupaten Muko-Muko oleh Mutiara Al husna, 2) Ziarah Qubro di Palembang oleh Firdaus Marbun, 3) Menaiki Rumah Gadang di Kabupaten Sumatera Selatan oleh Yondri. Ketiga perkeman ini merupakan kegiatan perekaman untuk Aktifitas Budaya.

Sementera kegiatan untuk Bangunan Bersejarah antara lain: 1) Bangunan Bersejarah di Kabupaten Pesisir Selatan oleh Sefiani Rozalina, 2) Bangunan Bersejarah di Kota Lubuk Linggau oleh Rahma Dona dan 3) Bangunan Bersejarah di Kabupaten Lebong oleh Ferawati. Untuk kegiatan film dokumenter antara lain: 1) Potret Orang Bali di Desa Rama Agung, Provinsi Bengkulu oleh Noveri, 2) Harmoni Bali di Bayung Lencir, Provinsi Sumatera Selatan, 3) Potret Petani Gambir di Kapuah IX, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat oleh Budi Eka Putra.
Bedah Skenario yang dimoderatori oleh Bahren, SS, MA dan Donny, SS, MA ini di bedah oleh tiga nara sumber yang memang sudah malang melintang dalam dunia perfilman dan skenario. Ketiga narasumber tersebut antara lain Dr. Pramono, S. Metron, SS, dan Adri Yandi, M. Sn.

Bedah skenario tahun 2016 memberikan banyak pemahaman bagi tim yang terlibat didalamnya baik secara konsep maupun dalam hal pelaksanaan teknis. Para pembedah menyampaikan perlu menonjolkan nilai-nilai budaya sesuai tugas dan fungsi Balai Pelestarian Nilai Budaya dan memastikan tujuan dari aktivitas perekaman yang akan dilakukan.

-Mbn-

Menghibur, Revitalisasi Kesenian Tradisional Koto Panjang

0

Padang Panjang (BPNB SUMBAR) – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat pada sabtu 09 Maret 2016 menggelar kegiatan Revitalisasi Kesenian Tradisional Minangkabau atau yang disebut juga dengan Baretong di Hari Tarang di Kota Padang Panjang. Dimulai sejak pukul 20.00 Wib hingga selesai dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional Minangkabau seperti Tari, Silat dan Randai.

Kegiatan ini dilaksanakan di depan POSKAMLING RT .5 Koto Panjang Kecamatan Padang Panjang Timur. Dibuka secara langsung oleh Camat Padang Panjang Timur Bapak Albert dan dihadiri oleh perwakilan Dinas Pendidikan Kota Padang Panjang Bapak Dalius, Kepala BPNB Sumatera Barat Jumhari, SS, KasuBBag Tata Usaha BPNB Sumbar Ibu Titit Lestari, lurah, Niniak Mamak dan Cerdik Pandai dan warga setempat yang berbondong-bondong memadati lapangan tersebut.

Dalam sambutannya Bapak Jumhari, SS mengapresiasi antusiasme masyarakat setempat untuk ikut menghadiri kegiatan Revitalisasi Kesenian Tradisional. Beliau juga menambahkan bahwa Baretong di Hari Tarang merupakan kegiatan rutin BPNB yang didasari pemikiran tradisi Minangkabau yang menampilkan kesenian-kesenian mereka pada masa bulan purnama di masa lalu. Sejak tahun 2012, Tradisi itu kemudian oleh BPNB Sumatera Barat dikemas menjadi satu Kegiatan Baretong di Hari Tarang untuk merevitalisasi kesenian-kesenian tradisional yang akhir-akhir ini semakin terkikis oleh perkembangan zaman.

Rangkaian kegiatan Baretong di Hari Tarang ini dimulai dengan pertunjukan tari persembahan yang ditampilkan oleh Sanggar Seni Deskopa. Pembacaan ayat-ayat Qur’an dan sambutan Syafri Z A Datuak Tuo. Pada kesempatan itu Datuak Tuo menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan BPNB Sumatera Barat dalam membangkitkan kesenian tradisional Minangkabau khususnya di Padang Panjang. Beliau juga berharap di masa depan kegiatan yang sama bisa terlaksana sehingga kesenian tradisional tersebut tidak hilang.

Pada kesempatan Baretong di Hari Terang kali ini BPNB Sumatera Barat menampilkan beberapa tim kesenian dengan kesenian tradisional mereka. Tim-tim tersebut antara lain Sanggar Seni Rangkoto, Sanggar Deskopa dan Silek Tuo Anak Nagari.
Penampilan kesenian dimulai dengan pertunjukan Gamaik oleh Sanggar Seni Rangkoto, Tari Pasambahan, Tari Piring, Tari Indang oleh Sanggar Seni Deskopa, Pertunjukan ‘Silek’ oleh Silek Tuo Anak Nagari Koto Panjang serta pertunjukan Randai oleh siswa-siswi SMA Negeri 1 Padang Panjang. Randai ini mengangkat Tema ‘Urang Mudo Nan Dilapeh ka Rantau’. Semua rangkaian kegiatan Baretong di Hari Tarang Koto Panjang ini cukup menghibur masyarakat sehingga masyarakat sangat betah hingga acara selesai.

Hartati Safitri sebagai ketua panitia berharap kegiatan ini bisa menjadi ‘Mambangkik Batang Tarandam’ dalam hal pelestarian nilai-nilai budaya tradisional di masa-masa mendatang.

-Mbn-

Lawatan Sejarah Daerah 2016

0

Padang (BPNB SUMBAR) – Balai Pelestarian Nilai budaya Sumatera Barat pada Bulan April akan melaksanakan Lawatan Sejarah Daerah. Lawatan sejarah 2016 ini akan dilaksanakan pada tanggal 3 – 5 April 2016 dan dipusatkan di Provinsi Sumatera Barat.

Lawatan Sejarah merupakan salah satu kegiatan rutin Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat yang bertujuan mengenalkan sejarah pada generasi muda serta sebagai pembelajaran bagi generasi muda lebih memahami dan bisa meneladani nilai-nilai perjuangan masyarakat kita pada masa lalu.

Pada lawatan sejarah kali ini, tema yang diangkat adalah ‘Menelusuri Jejak-jejak peninggalan Islam di Pantai Barat Sumatera Barat’. Sesuai dengan tema tersebut, dalam pelaksanaannya kegiatan ini akan mengunjungi bangunan-bangunan Islam bersejarah di empat kabupaten/kota yang ada di Pantai Barat Sumatera Barat seperti Surau Baru di Pasar Baru Padang, Masjid Ganting di Padang, Mesjid Muhammaddan di Pasar Mudik, Musium Adityawarman, Makam Syekh Burhanuddin beserta Surau Syekh Burhanuddin di Kabupaten Pariaman, Rumah Tabuik di Kota Pariaman serta Masjid Pahlawan Manggopoh di Kabupaten Agam.

Kegiatan ini melibatkan 105 orang termasuk diantaranya peserta 90 orang yang terdiri dari Siswa-siswi SMA sederajat, guru, wartawan dan delegasi pemerintahan daerah setempat. Khusus untuk peserta dari siswa-siswi SMA berasal dari tiga provinsi wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Rangkaian acara pada kegiatan ini akan dimulai dengan Pembukaan oleh Walikota Padang H. Mahyeldi, SP di Palanta Rumah Walikota Padang. Selanjutnya adalah pembekalan oleh Panitia, Pembekalan oleh Narasumber, Observasi dan presentasi hasil observasi peserta beserta penyerahan hadiah. Pelaksanaan rangkaian acara tersebut akan dilangsungkan selama tiga hari berturut-turut.

-Marbun-

Revitalisasi Kesenian Tradisional di Gunuang Nago

0

Piring1Padang (BPNB SUMBAR) – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat melakasanakan kegiatan Baretong di Hari Tarang di Gunung Nago, Padang. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu (27/2) dengan menampilkan beberapa kesenian tradisional dan dihadiri oleh ratusan warga setempat dari anak-anak hingga dewasa. Acara sendiri dimulai pukul 08.30 wib.

Selama 2016, BPNB Sumatera Barat mempunyai program rutin untuk merevitalisasi kesenian tradisional minangkabau dalam pementasan kesenian-kesenian langka. Bentuk kegiatan ini disebut dengan ‘Baretong di Hari Tarang’. Kegiatan ini dilaksanakan di setiap kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Dimana masing-masing kabupaten mendapatkan satu kegiatan dan setidaknya 10 kegiatan dipusatkan di kecamatan-kecamatan yang tersebar di Kota Padang.
Randai1Baretong di Hari Tarang di Gunung Nago merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan di Kota Padang. Kegiatan ini diketuai oleh Erman J dan dibuka secara langsung oleh Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Jumhari, SS. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Niniak Mamak, Cerdik Pandai dan masyarakat umum yang tinggal di daerah sekitar.

Kegiatan Baretong di Hari Tarang Gunuang Nago ini menampilkan beberapa kesenian tradisional diantaranya ‘silek’, Randai, dan Saluang Dangdut. Setelah acara dibuka secara resmi oleh Kepala BPNB Sumatera Barat, berturut-turut penampilan seni dilaksanakan mulai dari ‘silek’, Randai, Sandiwara dan ditutup dengan Saluang Dangdut.
Saluang1
Pada kesempatan itu Kepala BPNB Sumatera Barat dalam sambutannya menekankan perlu untuk tetap mempertahankan kesenian tradisional di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih sehingga kita tidak kehilangan identitas. Beliau juga melanjutkan bahwa ke depan masyarakat akan semakin banyak dilibatkan dan menerima manfaat dalam setiap aktivitas budaya. Harapannya, di masa depan kegiatan semacam ini terus berlangsung sehingga masyarakat mengenal dan bisa belajar tentang budayanya khususnya kesenian tradisional. Selain itu, kegiatan serupa juga bisa bermanfaat bagi setiap pelaku budaya.

Sementara masyarakat melalui pemerintah setempat sangat mengapresiasi program BPNB dan menyambut sepenuhnya dalam bentuk melibatkan kelompok-kelompok seni yang ada di wilayah setempat. Acara yang dimulai sekitar pukul 08.30 wib ini berakhir pukul 23.00 wib.

-Mbn-

Diskusi Kegiatan Non-Penelitian 2016 BPNB Sumatera Barat

0

Rapat1Padang (BPNB SUMBAR) – Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat mengadakan diskusi kegiatan non-penelitian 2016. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Sidang Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. Dan berlangsung selama tiga hari dari Selasa hingga Kamis 22-24 Februari. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mematangkan rencana pelaksanaan program kerja selama 2016 khususnya untuk kegiatan non-penelitian.

Diskusi ini membahas bagaimana menjalankan kegiatan non-penelitian 2016 dengan baik dan tertib. Tertib secara administrasi maupun pelaksanaan. Selain diharapkan bahwa setiap pelaksanaan mengandung manfaat bagi pelaku budaya maupun masyarakat secara umum. Dalam diskusi tersebut diketahui bahwa Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat akan melaksanakan banyak kegiatan non-penelitian. Untuk itu perlu pematangan baik secara konsep maupun teknis pelaksanaan. Diskusi ini juga membahas bagaimana membangun koordinasi kepada pemerintah setempat di tiga wilayah kerja serta bagaimana mendorong sehingga kegiatan ini bermanfaat bagi banyak pelaku budaya yang akan terlibat.
Rapat2
Adapun kegiatan non penelitian yang menjadi agenda BPNB Sumatera Barat selama 2016 antara lain: Revitalisasi Kesenian Tradisional Minangkabau (19 Kegiatan), Pembuatan Film Dokumenter di tiga wilayah kerja yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan masing-masing satu kegiatan (3 Kegiatan), Perekaman bangunan bersejarah di tiga wilayah kerja masing-masing satu kegiatan (3 kegiatan), Perekaman aktivitas budaya di tiga wilayah kerja masing-masing satu kegiatan (3 kegiatan), Inventarisasi Tokoh Sejarah dan Budaya di Sumatera Barat dan Sumatera Selatan (2 Kegiatan), Inventarisasi Pakaian tradisional (2 Kegiatan), Pencatatan Warisan Budaya Tak Benda di Kota Padang (1 Kegiatan), Jejak Tradisi Daerah di Sumatera Selatan, Lawatan Sejarah Daerah di Sumatera Barat, Dialog Budaya di Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan, Belajar Bersama Maestro, Apresiasi Film Anak Bangsa/Bioskop Masuk Kampung (4 Kegiatan), Pembekalan teknis penelitian, Rapat Teknis Pelestarian Nilai Budaya, Festival Kesenian Matrilineal, Pameran Hasil Kajian dan Inventarisasi Sejarah dan Budaya di tiga wilayah kerja, Penayangan Film dan Diskusi Nilai Budaya, Arung Sejarah Bahari di Sumatera Barat.

Dari banyaknya kegiatan non penelitian tersebut, terdapat beberapa kegiatan yang melibatkan banyak peserta. Beberapa kegiatan tersebut antara lain: Jejak Tradisi Daerah di Sumatera Selatan, Lawatan Sejarah Daerah di Sumatera Barat, Dialog Budaya di Sumatera Selatan dan Bengkulu, Festival Kesenian Matrilineal di Sijunjung Sumatera Barat serta Arung Sejarah Bahari di Sumatera Barat. Selain itu masih ada Revitalisasi Kesenian Tradisional serta Bioskop Masuk kampung.

-Mbn-

Pakitok, Gulat Enggano

0

Pakitok
Pakitok
Satu lagi jenis olahraga tradisional yang sangat populer pada masyarakat Enggano adalah Pakitok. Pakitok adalah istilah setempat pada olahraga Gulat. Sebagaimana gulat pada umumnya, olahraga Pakitok ini merupakan olahraga yang mengandalkan kekuatan fisik. Dimainkan oleh dua orang yang saling berhadapan dan berusaha saling menjatuhkan. Seseorang yang berhasil menjatuhkan lawannya akan ditetapkan sebagai pemenang, sementara yang jatuh adalah orang yang kalah. Olahraga ini biasanya dimainkan di lapangan terbuka seperti tanah lapang maupun di tepi pantai berpasir.

Pada masa sekarang olahraga ini sudah jarang dimainkan kecuali pada perayaan-perayaan tertentu seperti perayaan hari kemerdekaan, pagelaran dan sebagainya. Ketika olahraga ini dimainkan, masyarakat begitu antusias mengikuti.

-Marbun-

Pahnukih Kadi, Olahraga Tradisional Enggano

0

Pahnukih Kadi
Pahnukih Kadi
Masyarakat Enggano mempunyai beberapa olahraga tradisional yang begitu populer di masa lalu. Salah satu jenis olahraga tradisional tersebut adalah ‘Pahnukih Kadi’. Pahnukih kadi merupakan olahraga tradisional berupa tarik-menarik antar dua regu. Masing-masing regu berhadapan dan menarik satu alat (rotan) yang sama dan masing-masing regu mendapat bagian rotan dengan ukuran yang sama.

Sekilas, olahraga ini hampir sama dengan tarik tambang yang sering kita saksikan. Namun setelah diikuti olahraga ini mempunyai perbedaan yang cukup mendasar dengan tarik tambang yang kita kenal. Salah satu perbedaan mendasar adalah bahwa media atau alat yang digunakan dalam olahraga ini adalah rotan bukan tali tambang. Hal ini sangat masuk akal karena begitu mudahnya masyarakat tersebut memperoleh rotan dari hutan di sekitar tersebut. Sementara tali tambang susah ditemukan. Rotan sebesar ibu jari mereka ambil lalu dibersihkan. Ukuran rotan yang biasa mereka pakai adalah berkisar 10 m – 20 m. Masyarakat Enggano biasanya memainkannya di lapangan terbuka. Bisa di tanah lapang, bisa juga di tepi pantai.

Selanjutnya aturan dalam olahraga pahnukih kadi berbeda dengan permainan tarik tambang. Jika dalam permainan tarik tambang, regu pemenang ditentukan dengan salah satu tim bisa melewati batas wilayah yang ditentukan. Dalam permainan pahnukih kadi, pemenang ditentukan jika rotan yang mereka tarik putus. Setelah rotan putus, lalu masing-masing regu akan mengukur seberapa panjang rotan yang mereka dapatkan. Jika salah satu regu memperoleh lebih panjang dari yang lain, maka regu tersebut ditetapkan sebagai pemenang. Sementara jika tepat putus di tengah, maka dipastikan tidak ada pemenangnya.

Konon olahraga ini digunakan sebagai petunjuk akan hasil panen yang akan mereka peroleh. Jika rotan putus lebih panjang di sebelah kanan maka mereka memprediksi kalau panen akan bagus demikian sebaliknya.

Pada masa kini, olahraga Pahnukih Kadi sudah mulai jarang dimainkan. Perubahan teknologi yang cepat membuat masyarakat Enggano dengan cepat beralih kepada hal-hal yang bersifat modern dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tradisional khususnya permainan. Permainan ini hanya dimainkan pada acara memperingati HUT kemerdekaan RI maupun pada pergantian tahun.

-Marbun-

Tari Piring, Tarian Tradisional Khas Minangkabau

0

Tari piring
Tari piring
Salah satu jenis tari yang cukup terkenal dan tidak pernah ketinggalan dalam kegiatan-kegiatan resmi masyarakat Minangkabau adalah Tari Piring. Hampir dalam tiap-tiap acara tari piring selalu ditampilkan seperti pernikahan, penyambutan tamu agung, pagelaran seni dan upacara-upacara adat lainnya. Tari ini dibawakan para penari dengan gerak gemulai, tempo cepat serta tidak ketinggalan para penari akan selalu membawa piring di kedua tangannya. Tari piring tidak hanya dikenal di Sumatera Barat, tapi seluruh Indonesia bahkan dunia.

Tari Piring berasal dari Solok, Provinsi Sumatera Barat. Secara historis, tari piring diperkirakan sudah ada sejak abad ke-12 ketika masyarakat Minangkabau masih menyembah dewa-dewa. Tari piring kala itu diperuntukkan sebagai tarian persembahan bagi dewa atas hasil panen yang berlimpah serta perlindungan dewa atas mereka dari marabahaya. Dengan menggunakan piring mereka membawa sesaji ke hadapan dewa sembari menari dan meliuk-liuk. Tari ini kemudian berkembang hingga zaman kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit walau dengan orientasi yang berbeda.

Setelah Islam masuk ke Sumatera Barat tari piring tidak langsung ditinggalkan, namun tujuannya mulai berubah. Jika sebelumnya diperuntukkan sebagai persembahan kepada dewa-dewa, selanjutnya hanya digunakan sebagai hiburan semata. Awalnya sebagai hiburan dalam acara-acara kerajaan, selanjutnya berkembang pada acara-acara pernikahan. Kini tari piring malah sering dipertontonkan dalam berbagai acara-acara hiburan semata.

Pada umumnya tari piring dibawakan oleh sejumlah penari yang selalu ganjil dengan jumlah penari antara 3 – 7 orang. Bisa dibawakan oleh laki-laki maupun perempuan.

Sebagaimana tujuan awalnya sebagai ungkapan syukur atas panen yang melimpah, gerakan tari piring dominan menggambarkan proses pertanian yang masyarakat lakukan ketika itu. Terdapat sekitar 20 gerakan mulai dari gerak pasambahan, gerak singajuo lalai, gerak mencangkul, gerak menyiang, gerak membuang sampah, gerak menyemai, gerak memagar, mencabut benih, bertanam, melepas lelah, mengantar juadah, menyabit padi, mengambil padi, manggampo padi, menganginkan padi, mengirik padi, menumbuk padi, gotong royong, menampih padi, menginjak pecahan kaca.

Pada awalnya tari piring hanya diiringi lantunan alat musik tradisional berupa rebana dan gong saja. Selanjutnya diiringi dengan alunan musik talempong dan saluang. Dan kini semakin berkembang dengan menggunakan alat musik modern seperti keyboard.

Hingga kini tari piring sudah menjadi satu identitas masyarakat Minangkabau khususnya yang berada di Sumatera Barat.

-Marbun-

Pempek, Makanan Tradisional Khas Palembang

0

Pempek
Pempek
Pempek adalah salah satu makanan tradisional khas Palembang. Makanan yang diolah dari Ikan dan Sagu ini bisa dengan sangat mudah ditemukan di Kota Palembang. Di toko-toko, di Jalanan, hampir semua orang menjajakan pempek. Sehingga selain karena daerah asalnya, ketersediaan Pempek di Kota Palembang membuat Palembang disebut sebagai Kota Pempek.

Pada awalnya Pempek dikenal dengan nama ‘Kelesan’ sebutan untuk alat yang digunakan untuk menghaluskan daging ikan berbentuk cembung dengan semacam kuping di sisi yang berhadapan. Memang, cara pembuatan pempek adalah di-‘keles’ (ditekan-tekan di atas semacam alas yang menyerupai papan cucian. Awalnya ‘penekan’ atau alat untuk menghaluskan ikan terbuat dari batok kelapa yang diberi lubang-lubang. Tetapi alat tersebut pada masa kini telah digantikan dengan mesin penggiling.

Nama pempek kemudian menjadi populer di Palembang diyakini karena dulunya pempek dijual oleh ‘Apek’, sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina. Jadi, ketika Apek menjajakan ke masyarakat, masyarakat akan memanggilnya dengan ‘pek…pek’, sehingga lama-kelamaan kata ‘pek’ berubah menjadi ‘pempek’. Walau sesungguhnya cerita ini masih perlu didalami kembali.

Bahan dasar yang digunakan untuk membuat Pempek adalah ikan. Pada awalnya ikan yang digunakan adalah ikan belida. Pada perkembangannya ikan ini mengalami kelangkaan sehingga selain mahal juga susah diperoleh. Keadaan itu membuat masyarakat beralih ke ikan yang lebih murah dan lebih mudah diperoleh. Hingga kini sudah banyak jenis ikan yang dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan Pempek. Ikan tersebut dibersihkan dengan cara membuang kepala dan tulangnya, lalu digiling hingga lumat dan dicampur dengan tepung.

Seiring dengan berkembangnya pengetahuan serta berkembangnya permintaan masyarakat atas pempek, masyarakatpun mulai memvariasikan jenis pempek sesuai dengan permintaan. Masyarakat juga semakin kreatif dengan bahan baku yang sudah sangat mudah diperoleh. Hingga saat ini pempek telah mempunyai banyak jenis dengan rasa yang berbeda pula. Beberapa diantaranya adalah: 1) Pempek Lenjer, 2) Pempek Keriting, 3) Pempek Tahu, 4) Pempek Kapal Selam, 5) Pempek Pistel, 6) Pempek Adaan, 7) Pempek Kulit, 8) Pempek Telor (Telok), 9) Pempek Panggang (tunu), dan 10 ) Pempek Lenggang.

Pempek dimakan dengan kuah atau saus cair yang oleh masyarakat Palembang disebut ‘cuko’. Cuko terbuat dari campuran air gula merah/gula batok, asam jawa, bawang putih dan cabe rawit. Ada juga yang menambahkan cuka putih untuk menambah keasaman. Cuko ini dibuat dengan cara dididihkan. Cuko yang enak memiliki aroma yang kuat, kekentalan, rasa pedas, asam dan asin yang pas.

Pada saat ini pempek tidak hanya menjadi konsumsi rumah tangga pribadi tapi telah banyak membantu ekonomi masyarakat Palembang dan cukup dikenal oleh banyak kalangan dari berbagai daerah. Pempek sudah menjadi oleh-oleh yang tidak bisa ditinggalkan ketika berkunjung ke Palembang.

-Marbun-

Talempong, Alat Musik Pukul Tradisional Minangkabau

0

Teknik memainkan talempong secara tradisional
Teknik memainkan talempong secara tradisional
Salah satu alat musik tradisional yang senantiasa hadir dalam setiap upacara adat Minangkabau adalah Talempong. Talempong merupakan seperangkat alat musik yang terbuat dari campuran tembaga, timah putih dan besi putih. Dimainkan dengan cara dipukul dengan menggunakan stik (alat pukul berbahan kayu). Kualitas Talempong bisa diukur dari kadar campuran dari tiga unsur pembentuknya. Semakin banyak unsur tembaga dalam satu buah talempong maka akan semakin baik kualitasnya.

Berbentuk bundar dan berdiameter sekitar 17 cm – 18 cm, Talempong mempunyai ukuran yang berbeda antara bagian atas dan bagian bawah. Bagian atas sedikit lebih besar dari bagian bawah. Dibagian atas Talempong terdapat bulatan yang lebih kecil seperti kepala Talempong, sedangkan pada bagian bawah alat musik dibuat berlubang. Menurut ukuran standar yang umum digunakan, Talempong Minangkabau mempunyai ukuran standar sebagai berikut: 1) tinggi 8.5 cm – 9.4 cm, 2) garis tengah 17 cm – 18 cm, 3) tinggi dinding 5 – 6 cm, 4) garis tengah bawah 16.5 cm – 17 cm, 5) garis tengah pencu 2 cm – 2.5 cm, 6) ketebalan alat 3 mm – 4 mm.

Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat pemukul berupa kayu kecil (stik). Ada dua teknik memainkan talempong yaitu: 1) Teknik tradisional (interlocking), dimana seperangkat Talempong dimainkan oleh tiga orang. Masing-masing pemain memainkan dua buah talempong yang dipegang dengan tangan kiri secara vertikal, atas dan bawah. Yang atas dijepit ibu jari dan jari telunjuk, sedangkan yang bawah digantungkan pada jari tengah, manis dan kelingking. Jari telunjuk menjadi pemisah antar talempong sehingga suara talempong nyaring. Pada teknik pertama ini tangan kanan berfungsi memegang dan memukulkan stik ke perangkat Talempong. 2) Teknik modern, bahwa talempong-talempong diletakkan di atas rel atau rancakan. Talempong tersebut Dipukul dengan stik pemukul di atas rancakan yang ada.

Alat musik Talempong sering dimanfaatkan sebagai pelengkap dalam berbagai upacara-upacara adat Minangkabau seperti: 1) Upacara pengangkatan penghulu, 2) Upacara pesta perkawinan, 3) Menaiki rumah baru, 4) Pesta panen raya, 5) Acara pertunjukan randai, 6) Musik pengiring tari, 7) Acara gotong royong, 8) Upacara sunat rasul, Dll. Bisa dikatakan tanpa kehadiran Talempong dalam upacara umumnya atau tari khususnya seakan makanan tanpa garam. Talempong bisa juga dimanfaatkan untuk mengatur irama musik. Secara umum fungsi talempong adalah: 1) Sebagai sarana upacara, 2) Sebagai sajian estetis, 3) Sebagai hiburan,4) Pengintegrasian masyarakat, 5) Sebagai media komunikasi.

Talempong juga hadir menghidupkan suasana dalam arak-arakan penyambutan tamu agung. Umumnya, talempong dimainkan bersama beberapa instrumen tradisional Minangkabau lainnya seperti saluang, gandang, dan serunai.

-Marbun-

Serah Terima Jabatan Kepala dan Kasubag Tata Usaha BPNB Sumatera Barat

0

Padang (BPNB Sumatera Barat) – Acara serah terima jabatan di lingkungan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat digelar pada Senin, 18 Januari 2016 di Gedung Aula BPNB.Serah terima dilaksanakan dari Kepala BPNB Sumatera Barat yang lama Drs. Nurmatiaskepada Kepala BPNB yang baru Jumhari, SS. Selain itu juga antara KasubBag yang lama Jumhari kepada Titit Lestari, S.Si. Acara serah terima yang dilaksanakan pada pukul 11.00 wib ini dipimpin langsung oleh Bapak Sesditjen Kebudayaan Nono Adya Supriyatno.
Rangkaian acara serah terima jabatan ini dimulai dengan menyambut kedatangan SesditjenKebudayaan dan rombongan menggunakan Gandang Tasa yang dimainkan oleh anak-anak yang ikut dalam WorkshopTalempong yang dilaksanakan oleh BPNB Sumatera Barat pada 2015.

Acara Serah Terima dilaksanakan di Aula BPNB Sumatera Barat, dimoderatori oleh Sefiani Rozalina. Diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indoensia Raya yang dipimpin oleh Yulia Nila.Selanjutnya pembacaan Berita Acara Serah Terima Jabatan oleh ibu Dra. Zusneli Zubir. M. Si.

Serah terima jabatan di lingkungan BPNB Sumatera Barat dilaksanakan berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 020/MPK/RHS/KP/2016 Untuk pejabat administrator dan SK Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nomor: 021/MPK/RHS/KP/2016 sebagai pejabat pengawas.

Selesai pembacaan Berita Acara Serah Terima Jabatan, acara selanjutnya adalah Penandatanganan Berita Acara Serah Terima Jabatan oleh Kepala BPNB yang Lama Drs. Nurmatias dan Kepala BPNB Sumatera Barat yang baru Jumhari, SS. Selanjutnya penandatanganan Berita Acara oleh KasubBagTata Usaha yang lama Jumhari dan KasubBag Tata Usaha yang baru Ibu Titit Lestari. Sambutan dari Sesditjen, Kesan Kepala BPNB Sumatera Barat yang lama dan sambutan dari Kepala BPNB Sumatera Barat yang baru serta Kasubag yang baru.

Pada kesempatan itu Sesditjen menyampaikan bahwa pergantian pejabat di lingkungan Ditjen Kebudayaan agar sistem pemerintahan tidak berjalan monoton. Beliau juga menyampaikan bahwa semua komponen pejabat di lingkungan Ditjen Kebudayaan sudah menjabat lama. Adayg sampai 8 tahun sehingga perlu rolling atau pergantian. Pergantian pejabat sendirin tidak bisa dimaksimalkan pada tahun pertama karena transisi pemerintahan tapi sekarang sudah bisa dilakukan.

Pak Nono juga menekankan ke depannya perlu bagi semua pihak untuk bagaimana menciptakan insan dan ekosistem. Bukan pada manusianya saja tapi keseluruhan komponen harus diintegrasikan.Beliau menekankan bahwa kita harus berusaha agar setiap kegiatan yang kita laksanakan bisa memberi inspirasi khususnya pada siswa. Contoh ketika kita memberi penghargaan kepada pelaku budaya harus dipastikan bahwa bukan hanya yg diberi penghargaan yang dapat manfaat tapi siswa juga terinspirasi karena mereka dan penghargaan yang diberikan.

Ke depannya juga, beliau menambahkan bahwa kita harus lebih banyak Support komunitas untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan kebudayaan.

Drs. Nurmatias berterima kasih kepada seluruh pegawai yang telah mendukung pengabdiannya selama bertugas di BPNB Sumatera Barat sejak tahun 2004. Sejak serah terima ini beliau akan bertugas di BPCB Sumatera Barat. Namun beliau tetap berharap silaturahmi tetap terjaga dan saling tukar informasi sesuai tugas dan fungsi lembaga. Beliau juga minta maaf jika ada kesalahan selama bertugas di BPNB Sumatera Barat dan menekankan senantiasa terjaga kerjasama dan gotong royong dalam melaksanakan tugas.

Sebagai Kepala yang baru, Bapak Jumhari sadar bahwa amanah yang beliau terima saat ini adalah berkat kepercayaan dan dukungan semua pihak. Beliau juga menyadari bahwa tugas beliau sebagai Kepala sekarang ini hanyalah melanjutkan fondasi yang sudah dibangun sebelumnya oleh Kepala-kepala terdahulu. Beliau juga mengutip bahasa Ditjen Kebudayaan bahwa posisi beliau sekarang adalah berdiri di atas bahu pendahulu. Beliau menambahkan akan membawa dan melanjutkan hal-hal yang baik yang telah dibangun terdahulu.

Dalam kesempatan itu juga Kasubag memohon kepada Sesditjen untuk merestui pembangunan gedung baru untuk digunakan sebagai pusat dokumentasi dan informasi Matrilineal. Mimpi ini merupakan mimpi Kepala BPNB Sumatera Barat yang lama Drs. Nurmatias yang belum kesampaian untuk menjadikan BPNB Sumatera Barat sebagai pusat Matrilineal sesuai tugas dan fungsinya.

Yang terakhir beliau juga mengharapkan bimbingan dan dukungan kepada semua pihak demi suksesnya BPNB ke depan.

Ibu Titit Lestari sebagai Kasubag baru berharap mudah-mudahan cinta yang dimiliki semakin besar sehingga bisa menjalankan tugas dengan baik. Beliau menyampaikan hal ini karena sebagai pindahan dari Aceh, beliau sudah kadung jatuh cinta dengan budaya Aceh dan Sumatera utara. Beliau sudah 18 tahun tinggal dan bertugas di BPNB Aceh. Dan sekarang dimutasikan ke BPNB Sumatera Barat. Walau tidak sama sekali baru bagi beliau karena sejak 1994 sudah mulai dikenalkan tradisi Sumatera Barat oleh suami yang memang berasal dari Sumatera Barat.

Acara Sertijab kali ini dihadiri oleh Kabag Kepegawaian, Hukum dan Tata Laksana Setditjen Kebudayaan Drs. Fitra Arda, Kepala BPNB Sumatera Barat yang lama seperti Djurip, SH, Dr. M. Nur, MS. Dekan FIB UNAND Prof. Dr. Gusti Asnan, Kepala Museum Adityawarman Ibu Novi.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Hariadi, SS.

Sahilin, Maestro Seni Pemantun Gitar Batanghari Sembilan

0

Sahilin
Sahilin
Palembang (BPNB Padang) – Salah satu maestro seni yang cukup terkenal di Sumatera Selatan adalah Sahilin. Sahilin merupakan seniman Batanghari Sembilan atau sering disebut Gitar Tunggal yang merupakan kesenian khas Sumatera Selatan. Tidak kurang dari 38 tahun beliau menggeluti kesenian tersebut dan sampai sekarang masih tetap konsisten menampilkannya.

Sahilin kecil lahir dari pasangan Mat Soleh dan Yanimah pada 1954. Lahir dan tumbuh besar di Desa Benawa-OKI, Sumatera Selatan. Masa kecilnya sama dengan anak-anak yang lain, bermain bersama menikmati masa kecil hingga suatu saat Sahilin kecil mengalami musibah. Beliau mengalami penyakit cacar yang cukup parah hingga tidak bisa melihat. Sejak itu, Sahilin mengalami perubahan yang signifikan dalam hidupnya. Beliau tidak lagi bisa berbuat sebagai anak-anak yang lain.

Darah seni yang mengalir di nadinya diturunkan dari Sang Ayah Mat Soleh. Beliau juga sering mendengar dendang Sang Ayah dan secara autodidak belajar darinya. Beliau belajar sejak usia 18 tahun dan mulai tampil dalam acara-acara pesta yang ada di kampungnya. Sejak itu kegiatan tampil Sahilin secara kuantitas semakin sering hingga kemudian disiarkan di radio lokal.

Beliau merupakan seniman gitar tunggal yang sangat konsisten dengan musiknya dan hidup dengan hanya menggantungkan pada musik tersebut. Kekurangan pada penglihatan tidak membatasi beliau dalam berkarya dan larut dalam kesedihan. Beliau bangkit dan senantiasa bersemangat dalam menjalani hari-hari sebagaimana anak-anak yang lain. Talenta/bakat yang dimiliki semakin mendukung keinginan beliau untuk tetap berkarya khususnya dalam bidang seni.

Sahilin menikah dengan Asmawati pada 1977, seorang wanita yang sangat beliau cintai. Mereka dikaruniai enam orang anak, namun tiga diantaranya meninggal. Pada tahun 2012 sang istri juga meninggal yang membuat Sahilin kadang larut dalam kesedihan.

Kesederhanaan dan profesionalisme membuat Sahilin begitu berharga di mata masyarakat. Kesenian tradisional yang beliau dendangkan cukup mampu menghipnotis para penikmat hingga larut menjelang pagi. Beliau juga selalu menghargai janji untuk tampil dan tidak pernah mengecewakan pelanggan sekalipun tawaran yang datang harganya lebih tinggi.

Konsistensi Sahilin pada seni telah mendapat pengakuan sebagai Maestro Seni untuk Pemantun Gitar Buah Sembilan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2007.Selain itu, beliau juga telah mengoleksi beberapa penghargaan atas pengabdian beliau pada seni.

-Mbn-

Festival Matrilineal 2015 Ditutup

0

penutup2Sijunjung (BPNB Padang) – Setelah enam hari berturut-turut Festival Matrilineal (25-30) berlangsung, maka pada hari ke tujuh, Sabtu (31/10) secara resmi ditutup. Penutupan ini dilaksanakan oleh Pemda Sijunjung melalui perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga. Dalam kata sambutannya, beliau menyatakan sangat mengapresiasi kegiatan yang dipelopori oleh BPNB Padang dan mengharapkan ke depan bisa berlangsung kembali.
Penonton
Festival Matrilineal 2015 telah menampilkan kesenian dari beberapa provinsi yang menganut system matrilineal. Tim kesenian yang tampil tersebut antara lain: Tim kesenian Lae Gentuyung dari Singkil provinsi Aceh, Classic Gong dari Kampar Riau, Muara Enim, Muko-muko, Saandiko dan tim kesenian tuan rumah. Selain itu, ada tim kesenian dari negeri tetangga Malaysia, ASWARA yang menjadi satu-satunya tim luar negeri yang tampil dalam Festival Matrilineal.
penutup3
Undri atas nama Kepala BPNB Padang menyampaikan bahwa kebudayaan kita tidak akan lestari atau bertahan ketika kita sendiri tidak berupaya untuk menjaganya. Tanggung jawab pelestarian budaya ada di tangan kita bukan pada orang lain. Beliau juga menyatakan bahwa pelaksanaan Festival Matrilineal 2015 yang beragendakan beberapa acara seperti pertunjukan kesenian, seminar sejarah dan budaya, pameran dan lomba baju kurung basiba merupakan salah satu upaya untuk melestarikan budaya.
penutup4
Beliau juga memastikan bahwa kegiatan serupa tidak berakhir sampai disini tapi akan senantiasa dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang. Hal ini juga turut menjaga silaturahmi antara masyarakat dan pemerintah. Beliau juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Pemda Sijunjung melalui Disbudpora yang bekerja keras untuk keberlangsungan acara, Bundo kanduang, Niniak Mamak, LKAAM serta kepada masyarakat setempat yang dari awal acara hingga penutupan selalu meluangkan waktu untuk meramaikan setiap acara berlangsung. Diharapkan kegiatan-kegiatan serupa bisa mendorong Perkampungan Adat Nagari Sijunjung lebih cepat dijadikan sebagai Warisan Budaya Dunia yang hingga saat ini telah masuk dalan Tentative List di UNESCO.

Randai
Acara penutupan ini dimeriahkan penampilan tim kesenian tuan rumah berupa penampilan Randai, Silek dan tari piring.

Panitia

-Mbn-

Inventarisasi Pakaian Tradisional Minangkabau Lewat Lomba Baju Kurung Basiba

0

Kepala BPNB Padang menyerahkan trophy kepada para pemenang lomba
Kepala BPNB Padang menyerahkan trophy kepada para pemenang lomba
Sijunjung (BPNB Padang) – Salah satu rangkaian acara Festival Matrilineal 2015 adalah Lomba Baju Kuruang Basiba. Lomba ini digelar pada Rabu 28 Oktober 2015 di Lost Tabek Padang Ranah. Lomba yang dimulai sejak pagi ini dibuka secara langsung oleh Kepala BPNB Padang Drs. Nurmatias.

Tujuan digelarnya acara Lomba Baju Kuruang Basiba ini oleh Prof. Rauda Thaib, dosen sekaligus Ketua Bundo Kanduang Sumatera Barat adalah untuk menginventarisasi jenis-jenis pakaian tradisional yang ada di setiap Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Sebagaimana diketahui bahwa masing-masing Kabupaten/Kota di Sumatera Barat mempunyai pakaian tradisional yang khas di daerah masing-masing yang berbeda satu sama lain. Sehingga perlu menginventarisir pakaian tersebut sehingga selain dikenal oleh generasi muda sekarang, kekayaan tersebut juga bisa dilestarikan sehingga tidak mengalami kepunahan.
peserta lomba
Dalam Lomba kali ini masing-masing daerah menampilkan jenis pakaian tradisional masing-masing. Ada tiga jenis pakaian yang ditampilkan yakni pakaian adat, pakaian perkawinan dan pakaian sehari-hari. Ketiga jenis pakaian ini ditampilkan oleh tiga orang penampil/utusan dari masing-masing Kabupaten/kota. Untuk menghaturkan masing-masing delegasi sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing Bundo Kanduang setempat.
penampilan
Penilaian yang diberikan untuk masing-masing penampil terdiri dari tiga kategori yakni Keaslian/originalitas, Keserasian dan Penampilan. Keaslian ini menjadi indicator utama penilain mencapai tujuan peninventarisasian pakaian tradisional tersebut.
Ketiga kategori tersebut dinilai langsung oleh tiga juri yang sangat berpengalaman dan memahami pakaian tradisional. Ketiga juri tersebut antara lain: Prof. Rauda Thaib (ketua Bundo Kanduang sumbar), Yeni Idrus (Akademisi UNP) dan Maryetti (staf BPNB Padang).
foto dgn pemenang lomba
Pemenang pada Lomba Baju Kurung Basiba Festival Matrilineal 2015 antara lain: Peringkat I diraih oleh Kota Payakumbuh, Peringkat II dari Kabupaten Sijunjung, Peringkat III dari Kota Bukittinggi. Untuk peraih Harapan I s. III diraih oleh Tanah Datar, Solok, dan Agam.

Para pemenang berhak atas uang pembinaan bagi juara I-III dan Apresiasi kepada peraih Harapan I-III.

-Mbn-

Festival Matrilineal: Aktualisasi Randai ala Nan Tumpah

0

Nan Tumpah2Sijunjung (BPNB Padang) – Selain disuguhi penampilan tim kesenian dari Malaysia, pada hari ke-3 Festival Matrilineal 2015 para pengunjung juga disuguhi penampilan memukau tim kesenian ‘Nan Tumpah’. Tim kesenian asal Sumatera Barat ini sudah malang melintang dalam dunia seni pertunjukan.
NN TUMPAH
Pada perhelatan Festival Matrilineal 2015, Tim kesenian ‘Nan Tumpah’ menampilkan pertunjukan yang berjudul ‘Nilam Binti Malin’. Sebuah penampilan yang didasarkan pada Randai, salah satu kesenian tradisional Minangkabau.
Nan Tumpah4
Nan Tumpah yang digawangi oleh Mahatma Muhammad memadukan seni Randai dengan teater konvensional Barat. Mereka mengembangkan inovasi melalui pengaktualisasian konsep-konsep Randai terhadap teater modern Indonesia.
Nan Tumpah1
Mahatma Muhammad menyatakan bahwa sangat perlu mengeksplorasi kerja artistic dengan proses yang berkelanjutan untuk penciptaan pertunjukan.
Nan Tumpah3

-Mbn-

Festival Matrilineal 2015; ASWARA dan Keberagaman Malaysia

0

Salah satu tari yang ditampilkan tim kesenian ASWARA
Salah satu tari yang ditampilkan tim kesenian ASWARA
Sijunjung (BPNB Padang) – Pada hari ketiga (27/10) Festival Matrilineal 2015 menampilkan tim kesenian asal Negara Malaysia. Tim kesenian ini berasal dari National Academy of Art, Cultural and Heritage (ASWARA) Kuala Lumpur Malaysia. Tim kesenian yang dikomandoi oleh koreografer Encik Mohd Seth Bin Hamzah menampilkan beberapa jenis tarian untuk menonjolkan keberagaman masyarakat yang ada di Malaysia.
Malay5
Keberagaman masyarakat Malaysia tersebut diterjemahkan oleh tim kesenian ASWARA lewat berbagai tarian khas daerah tersebut. Beberapa tarian khas yang mereka tampilkan antara lain tarian Inang, Joged, Zapin, Silat, Inai, Tarian Cina dan tarian India. Masing-masing tarian ini menunjukkan kekhasan suku bangsa tertentu yang ada di Malaysia.
Malay4
Menyaksikan tarian khas Malaysia membuat masyarakat sangat antusias mengikuti. Hal itu tampak dari kehadiran masyarakat memenuhi lokasi acara. Selain keberhasilan tim ASWARA menampilkan ragam tarian yang menarik mengikuti keberagaman suku bangsa yang ada, Malaysia sebagai satu-satunya tim luar negeri juga menjadi salah satu pendorong masyarakat untuk hadir mengenal kebudayaan di luar budaya sendiri.
Malay2

-Mbn-

Festival Matrilineal 2015: Seminar Sejarah dan Budaya Matrilineal

0

Kepala BPNB Padang membuka Seminar Sejarah dan Budaya Matrilineal
Kepala BPNB Padang membuka Seminar Sejarah dan Budaya Matrilineal
Sijunjung (BPNB Padang) – Pendekatan Alam Takambang jadi Guru menjadi salah satu pendekatan dalam pemahaman akan Lambang dan Ornamen dalam system Matrilinal Minangkabau, contohnya Marawa. Hal inilah yang disampaikan oleh Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, M. Sayuti Dt. Rajo Penghulu dalam seminar sejarah dan budaya matrilineal di Lost Tabek, Padang Ranah Sijunjung, Selasa (27/10).
Seminar sesi I
Seminar yang merupakan salah satu dari rangkaian acara Festival Matrilineal 2015 dilaksanakan pada hari ke-3 Festival. Seminar ini menghadirkan narasumber yang ahli di bidang seni dan budaya yakni Drs. Nurmatias (Kepala BPNB Padang), M. Sayuti Dt. Rajo Penghulu, St. Syahril, MH, Prof.Dr. Nursyrwan Effendi, Prof.Dr. Gusti Asnan dan Prof. Dr. Rauda Thaib.
Peserta seminar
Seminar yang diikuti para guru, ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai, pemuda dan bundo kanduang serta instansi pemerintah ini membahas tentang kompleksitas matrilineal dalam perspektif sejarah dan budaya. Hal ini oleh Kepala BPNB Padang Drs. Nurmatias bertujuan untuk memberi pemahaman sehingga upaya melestarikan budaya matrilineal itu bisa tercapai.
Narasumber sesi 2
Dalam seminar tersebut dibahas tentang sejarah Marawa sebagai salah satu ornament Minangkabau yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap pagelaran-pagelaran budaya. Sejarah tentang matrilineal dan system matrilineal yang ada di dunia selain Minangkabau. Dalam penjelasannya, Prof. Nursyrwan menyatakan bahwa Minangkabau bukanlah satu-satunya masyarakat matrilineal, tapi ada 39 suku yang tersebar di seluruh dunia.
Foto bersama Kepala BPNB Padang dengan Narasumber
Selanjutnya Prof. Gusti Asnan melihat bahwa secara historis pernah terjadi Dematrilinealisasi Minangkabau. Hal ini adalah perubahan dari system matrilineal ke system patrilineal atau parental. Perubahan ini berlangsung dalam waktu yang lama.

-Mbn-

Festival Matrilineal 2015 Dibuka: ‘Tanggung Jawab Pelestarian Budaya di Tangan Kita’

0

Dirjen Kebudayaan Kacung Maridjan secara resmi membuka Festival Matrilineal 2015
Dirjen Kebudayaan Kacung Maridjan secara resmi membuka Festival Matrilineal 2015
Sijunjung (BPNB Padang) – Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang secara resmi membuka pagelaran Festival Matrilineal 2015 pada Minggu (25/10) di Nagari Sijunjung, Sumatera Barat. Secara resmi pembukaan dilakukan oleh Bapak Dirjen Kebudayaan Kacung Maridjan tepatnya pukul 20.00. Seremoni pembukaan tersebut sekaligus membuka secara resmi seluruh rangkaian kegiatan dalam Festival Matrilineal 2015.

Kepala BPNB Padang sekaligus ketua pelaksana Festival Matrilineal 2015 Drs. Nurmatias dalam laporannya menjelaskan bahwa Pagelaran Festival Matrilineal 2015 akan berlangsung selama delapan hari (25 Oktober – 01 November) dan menampilkan 8 (delapan) tim kesenian dari dalam dan luar negeri yang menganut system Matrilineal. Kedelapan tim tersebut terdiri dari 7 (tujuh) tim dari dalam negeri dan 1 (satu) tim dari luar negeri yaitu Malaysia.

Tim Kesenian Saandiko
Tim Kesenian Saandiko

Ketujuh tim dari dalam negeri tersebut antara lain: Tim kesenian Muko-muko dari Kabupaten Muko-muko Bengkulu, tim kesenian Sanggar Clasic Gong dari Kampar Riau, tim kesenian Nan Tumpah dari Sumatera Barat, sanggar Melati Lae Gentuyung dari Aceh, tim kesenian Saandiko dari Kota Bukittinggi dan tim kesenian dari tuan rumah Sijunjung.
Tim kesenian Saandiko
Tim kesenian Saandiko

Selain pementasan seni, Festival Matrilineal juga menggelar Seminar Sejarah dan Budaya Matrilineal. Seminar ini membahas tentang persoalan Matrilineal dari perspektif sejarah dan budaya. Seminar ini juga akan mengundang para narasumber yang berkompeten di bidangnya masing-masing antara lain Prof. Nursyrwan Effendi (Antropologi), Prof. Gusti Asnan (Sejarah), Prof. Raudha Thaib (Ketua Bundo Kanduang).

Kegiatan selanjutnya adalah Lomba Baju Kuruang Basiba yang akan diikuti oleh seluruh Bundo Kanduang Kabupaaten/Kota Se-Sumatera Barat. Kegiatan ini untuk merevitalisasi pakaian khususnya baju kurung basiba yang dimiliki sumatera barat khususnya Minangkabau sebagai penganut Matrilineal terbesar di dunia.

Pengunjung memenuhi lokasi Festival Matrilineal 2015
Pengunjung memenuhi lokasi Festival Matrilineal 2015

Pameran seni budaya Matrilineal akan memamerkan foto-foto penampilan kesenian masing-masing peserta festival ditambah foto-foto Bundo Kanduang.

Kegiatan pembukaan Festival Kesenian ini dimeriahkan dengan pementasan tari Lapiak dan tari piriang dari kabupaten Sijunjung dan penampilan tim kesenian Saandiko dari Bukit Tinggi.

Pada kesempatan itu, Dirjen Kebudayaan Prof. Kacung Maridjan menekankan bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab kita bersama. Kalau bukan kita siapa lagi.

Rangkaian kegiatan Festival Matrilineal 2015 ini sekaligus menjadi momentum memperkenalkan Perkampungan Adat Padang Ranah sebagai daftar tentative list warisan budaya di UNESCO.

-Mbn-

Persiapan Festival Matrilineal 2015 Rampung

0

Penyelesaian akhir panggung kesenian
Penyelesaian akhir panggung kesenian
Sijunjung (BPNB Padang) – Sampai hari ini, Minggu (25/10) Persiapan Festival Matrilineal 2015 telah rampung dan tinggal menunggu perhelatan. Rencananya pembukaan akan dilangsungkan pada malam ini juga tepatnya pukul 19.00 wib dan secara resmi akan dibuka langsung oleh Bapak Dirjen Kebudayaan Kacung Maridjan.
Tenda untuk festival matrilineal
Tenda untuk festival matrilineal

Persiapan tersebut ditandai dengan penyelesaian panggung penampilan tim kesenian dan tenda-tenda untuk digunakan oleh penonton perhelatan. Nantinya panggung ini akan digunakan oleh tim-tim kesenian yang akan menampilkan kesenian Matrilinealnya. Ada sekitar delapan tim kesenian yang diundang dan bersedia hadir dalam perhelatan Festival. Salah satu yang telah mengonfirmasi kehadirannya adalah Tim kesenian ASWARA dari negeri tetangga Malaysia.
Foto Pameran
Foto Pameran

Selain itu tempat dan foto-foto untuk pameran juga telah diselesaikan oleh panitia. Dalam pameran ini nantinya akan menampilkan foto-foto tim kesenian yang menjadi peserta dalam Festival Matrilineal 2015. Foto-foto tersebut menunjukkan tim-tim peserta saat menampilkan kesenian tradisional Matrilineal mereka. Selain itu, foto-foto budaya dari Bundo Kanduang juga akan turut memeriahkan pameran serta member pelajaran berharga bagi masyarakat.
Foto-foto Pameran
Foto-foto Pameran

Selain kedua kegiatan tersebut, nantinya Festival Matrilineal 2015 juga akan mengadakan Seminar Sejarah dan Budaya Matrilineal dan Lomba Baju Kurung Basiba di Lost Tabek Padang Ranah, Sijunjung.

Kegiatan ini akan nantinya akan ditutup pada Minggu, 01 November 2015.

-Mbn-

Festival Matrilineal 2015 Secara Resmi Akan Dibuka Dirjen Kebudayaan

0

baliho 2 x 3 mPadang (BPNB Padang) – Perhelatan Festival Matrilineal 2015 di Sumatera Barat yang akan berlangsung pada 25 Oktober – 01 November 2015 di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat dijadwalkan dibuka secara resmi oleh Dirjen Kebudayaan Bapak Kacung Maridjan. Pembukaan akan berlangsung pada Minggu 25 Oktober Pukul 19.00 di Jorong Padang Ranah, Nagari Sijunjung.

Kehadiran Bapak Dirjen Kebudayaan telah dikonfirmasi oleh Kepala BPNB Padang sekaligus Ketua Panitia Festival Matrilineal Drs. Nurmatias. Pak Dirjen akan berangkat dari Jakarta Pukul 14.00 wib dan tiba di Padang Pukul 16.00 wib. Pak Dirjen akan langsung ke lokasi pagelaran untuk pembukaan. Setelah seremoni pembukaan selesai, pak Dirjen dijadwalkan akan melakukan kunjungan ke Perkampungan Adat Minangkabau Padang Ranah untuk menyaksikan keadaan perkampungan.

Festival Matrilineal sendiri akan berlangsung di dua Jorong yaitu Padang Ranah dan Tanah Bato, Nagari Sijunjung. Kedua Jorong ini merupakan perkampungan Minangkabau yang telah diusulkan dan masuk dalam daftar tentative list warisan budaya dunia di UNESCO. Sehingga pemilihan perkampungan tersebut bertujuan mendorong pengenalan Kampung Adat Minangkabau tersebut kepada masyarakat luas.

Festival Matrilineal menampilkan empat kegiatan yaitu pertunjukan kesenian yang akan berlangsung tiap malam selama pagelaran tanggal 25 Oktober – 01 November 2015, Pameran Budaya Matrilineal diadakan pada siang hari sejak tanggal 26 Oktober – 01 November 2015, Seminar Sejarah dan Budaya Matrilineal pada tanggal 27 Oktober 2015 dan Lomba Baju Kurung Basiba pada tanggal 28 Oktober 2015.

-Mbn-

20 Rumah Gadang Siap Menampung Peserta Festival Matrilineal 2015

0

Rumah GadangSijunjung (BPNB Padang) – 20 Rumah Gadang tradisional di Kabupaten Sijunjung siap menampung peserta Festival Matrilineal yang akan berlangsung pada 20 Oktober – 01 November 2015. Keduapuluh Rumah Gadang ini akan menampung sekitar 150 peserta dalam negeri maupun luar negeri. Selain peserta Pertunjukan kesenian, juga peserta Lomba Baju Kurung Basiba.

Perkampungan Adat Padang Ranah
Perkampungan Adat Padang Ranah

Kesiapan Rumah Gadang tersebut telah dikonfirmasi pemerintah setempat beserta Niniak Mamak dari Nagari Sijunjung. Bentuk kesiapan tersebut ditandai dengan pemenuhan kamar mandi dan air bersih untuk keperluan peserta selama menginap dalam perhelatan Festival Matrilineal.

Seperti diketahui, Festival Matrilineal 2015 yang berlangsung selama delapan hari akan menginapkan para peserta baik Tim kesenian maupun peseta Lomba Baju Kuruang Basiba di Rumah Tradisional Minangkabau (Rumah Gadang). Hal ini sekaligus untuk mengenalkan kekayaan budaya Matrilineal kepada masyarakat luas khususnya kepada peserta yang datang dari luar negeri.

Perkampungan Adat Padang Ranah
Perkampungan Adat Padang Ranah

Tim Kesenian yang akan tampil dalam Festival Matrilineal 2015 ini telah dikonfirmasi oleh dua peserta luar negeri yaitu Thailand dan Malaysia dan enam peserta dalam negeri. Semua peserta ini merupakan suku bangsa yang menganut system matrilineal.

Selain mengenalkan karya-karya budaya Matrilineal bagi masyarakat luas, tujuan menginapkan para peserta di rumah tradisional adalah untuk mengenalkan kehidupan social maupun tradisi dan nilai budayanya. Selama perhelatan, para peserta juga akan disuguhi makanan tradisional sebagaimana makanan kebiasaan masyarakat setempat. Para peserta akan dilayani di masing-masing rumah tempat peserta menginap oleh keluarga pemilik rumah. Dengan demikian para peserta akan secara langsung merasakan bagaimana pola kehidupan Matrilineal yang ada di Sumatera Barat.

Harapannya dengan kegiatan ini akan mendorong karya-karya budaya Matrilineal, baik konstruksi bangunan, kesenian, kuliner, pakaian dan sebagainya lebih dikenal baik secara nasional maupun secara internasional.

-Mbn-

Petunjuk Teknis Pelaksanaan Lomba Baju Kuruang Basiba Festival Matrilineal

0

Rapat dengan Bundo Kanduang
Rapat dengan Bundo Kanduang
Perhelatan Festival Matrilineal 2015 juga menjadi ajang menginventarisir pakaian tradisional yang ada di Sumatera Barat. Hal ini mengingat bahwa masing-masing kabupaten di Sumatera Barat mempunyai kekhasan tersendiri terkait pakaian tradisionalnya. Untuk itu, dalam Festival Matrilineal akan memastikan bahwa peserta Lomba Baju Kurung Basiba benar-benar menampilkan Baju Kurung Basiba Khas daerahnya masing-masing.

Berikut Petunjuk Teknis dan Kriteria Lomba Baju Kurung Basiba berdasarkan hasil rapat Panitia Festival Matrilieal dengan Budo Kanduang Provisnsi Sumatera Barat:

(1). Utusan peserta berasal dari Bundo Kanduang per kabupaten/kota/propinsi harus 3 (tiga) orang. Kalau kurang dari 3, berarti tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi peserta lomba
(2). Peserta adalah pengurus Bundo Kanduang kabupaten/kota/propinsi berumur minimal 30 tahun.
(3). Pakaian yang dilombakan adalah Baju Kuruang Basiba sebagai pakaian adat, pakaian pengantin dan pakaian harian masing-masing daerah:
A.Pakaian adat
Pakaian adat asli masing masing nagari / daerah (bukan modifikasi)
B.Pakaian pengantin
Pakaian pengantin masing masing nagari / daerah (bukan modifikasi)
C.Pakaian Harian
Memakai kain sarung dari produk Sumatera Barat dan pakai selendang duo

(4). Baju Kuruang Basiba sebagai pakaian adat, pakaian pengantin pengantin serta pakaian harian disediakan oleh masing-masing peserta
(5). Peserta dari tiap daerah memperagakan secara bersama pakaian adat (1 orang peserta), pakaian pengantin (1 orang peserta) dan pakaian harian (1 orang peserta) .
(6). Lama peragaan maksimal 15 menit.
(7). Setiap daerah membuat narasi tentang pakaian yang dilombakan secara tertulis maksimal 2 (dua) lembar kwarto dan diserahkan kepada pihak panitia Hari Selasa Tanggal 27 Oktober 2015.

Tekniknya:
 Masing-masing daerah tampil sekali bertiga. kemudian diberi kesempatan untuk tampil satu persatu agar juri bisa menilai.

(8). Bentuk penilaian yakni (1) keaslian pakaian (40 %), (2) Keserasian (30 %), dan (3) penampilan (30 %). Penilaiannya adalah per daerah kab/kota/propinsi.
(9) Pengambilan nomor lot sewaktu registrasi pukul 08.00 s.d 09.00 WIB, Hari Rabu Tanggal 28 Oktober 2015.
(10). Peserta terbaik diberikan hadiah berupa uang pembinaan, tropy dan sertifikat.

– Kriteria B]aju kuruang basiba dan perlengkapannya:
1.Pakaian adat
– Basiba, bakikiak, berbelah sedikit di depan, tidak memakai resleting, tangan baju lurus, dalam/panjang baju dibawah lutut dan tidak boleh sempit membentuk tubuh (harus lurus dan longgar), Ujung lengan baju tergantung daerah masing-masing. Memakai tangkuluak (Tutup kepala), memakai kain,
– tidak modifikasi
2.Pakaian Harian
– Tetap baju kuruang basiba, memakai kain boleh batik/sarung biasa/songket, memakai tutup kepala dan selendang duo. Tidak boleh transparan. Produk kain berasal dari Provinsi Sumatera Barat
– Pakaian harian boleh memakai ornamen: sulaman, bordir
– tidak modifikasi
3.Pakaian Pengantin
– menurut adat masing masing daerah
– tidak modifikasi
4.Tarompa
Tarompa/sendal bertutup.
5.Asesoris pakaian mengikuti pakaian adat/harian/pengantin.

-Mbn-

Rilis Pers Festival Matrilineal 2015 di Provinsi Sumatera Barat

0

[KOTO PADANG RANAH DAN TANAH BATO NAGARI SIJUNJUNG
KEC. SIJUNJUNG KAB. SIJUNJUNG PROP. SUMATERA BARAT,
TANGGAL 25 OKTOBER S.D. 1 NOVEMBER 2015]

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis dibidang kebudayaan yang berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan wilayah kerja Propinsi Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan Tahun 2015 melaksanakan kegiatan Festival Matrilineal di Propinsi Sumatera Barat. Kegiatan dilaksanakan dari tanggal 25 Oktober sampai dengan 1 November 2015 di Koto Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung Kecamatan Sijunjung Propinsi Sumatera Barat.

Kegiatan ini merupakan suatu bentuk usaha untuk menguatkan serta dapat membentuk suatu forum yang berskala internasional yang dapat merefleksikan dan mendorong perkembangan Festival Matrilineal di Provinsi Sumatera Barat. Disamping itu juga perlunya sebuah iven berskala internasional, nasional maupun daerah yang bisa menciptakan ruang bersama bagi pelaku, pengamat dan masyarakat luas untuk melihat akar tradisi tetap menjadi sumber penting bagi pelestarian kebudayaan. Kegiatan ini juga dalam dalam mendukung kawasan perkampungan adat ini untuk diusulkan menjadi warisan budaya dunia ke Unesco.

Kegiatan ini juga tidak terlepas dari tugas dan fungsi kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang. Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang mengkhususkan perhatian dalam pengkajian dan pelayanan informasi kebudayaan dan kesejarahan yang bertalian dengan prinsip-prinsip kerabat matrilineal, bekerja sama dengan perguruan tinggi dan pihak terkait setempat.

Manfaat dari kegiatan ini yakni : (1) Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang sistem matrilineal, (2) Terbentuknya suatu forum yang berskala internasional, nasional dan daerah yang dapat merefleksikan dan mendorong pengetahuan tentang sistem matrilineal tersebut, (3) Terlaksananya sebuah iven seni pertunjukan internasional yang bisa menciptakan ruang bersama bagi pelaku, pengamat dan masyarakat luas untuk melihat akar tradisi tetap menjadi sumber penting bagi pengetahuan, khususnya tentang sistem matrilineal, (4) Sebagai usaha untuk mendukung perkampungan adat yakni Koto Padang Ranah dan Tanah Bato guna diusulkan sebagai warisan budaya dunia ke Unesco.

Bentuk Kegiatan:

(1). Penampilan seni pertunjukan, akan menampilkan 9 (sembilan) kelompok kesenian yang terdiri dari 2 (dua) dari luar negeri dan 7 (tujuh) dari dalam negeri, yakni : (1) Tim Kesenian dari Dikir Hulu University Rajabhat Yala, Thailand, (2). Tim Kesenian dari Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA) Kualalumpur, Malaysia (3).Tim Kesenian dari Kabupaten Muko-Muko Propinsi Bengkulu, (4). Tim Kesenian dari Sanggar Classic Gong Kabupaten Kampar Propinsi Riau, (5).Tim Kesenian dari Nan Tumpah, Propinsi Sumatera Barat, (6).Tim Kesenian dari Sanggar Tari Melati Lae Gentuyung, Kab. Aceh Singkil Propinsi Aceh, (7). Tim Kesenian dari Kabupetan Muara Enim Propinsi Sumatera Selatan, (8)Tim Kesenian dari Saandiko Kota Bukittinggi Propinsi Sumatera Barat, dan (9). Pementasan Kesenian dari Kabupaten Sijunjung Propinsi Sumatera Barat.

(2) Seminar tentang Sejarah dan Budaya Matrilineal
Membahas persoalan matrilineal dari perspektif Sejarah dan Budaya, dengan narasumber utama Prof. Dr. Nursyirwan Effendi (Guru Besar Antropologi FISIP Unand) dan Prof. Gusti Asnan (Guru Besar Sejarah FIB Unand), dan Prof. Dr. Rauda Thaib (Guru Besar Unand dan Ketua Bundo Kanduang Propinsi Sumatera Barat), Datuak Canang, dan Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Datuak Canang.

(3) Lomba Baju Kuruang Basiba
Lomba Baju Kuruang Basiba akan diikuti oleh Bundo Kanduang kabupaten dan kota se Propinsi Sumatera Barat.

(4) Pameran Foto tentang Sejarah dan Budaya Matrilineal.
Menampilkan foto-foto pertunjukan tim kesenian yang tampil dalam kegiatan Festival Matrilineal di Propinsi Sumatera Barat dan foto-foto aktivitas Bundo Kanduang yang ada di Kabupaten / kota se Propinsi Sumatera Barat.

Hasil yang diharapkan (Outcome) dari kegiatan ini adalah: (1) Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang sistem matrilineal. (2) Terbentuknya suatu forum yang berskala internasional yang dapat merefleksikan dan mendorong perkembangan dan pengetahuan sistem matrilineal. (3) Terlaksananya sebuah iven seni pertunjukan internasional yang bisa menciptakan ruang bersama bagi pelaku, pengamat dan masyarakat luas untuk melihat akar tradisi tetap menjadi sumber penting bagi dan pengetahuan sistem matrilineal, dan (4) Tersosialisasunya dan sebagai usaha untuk mendukung perkampungan adat yakni Koto Padang Ranah dan Tanah Bato guna diusulkan sebagai warisan budaya dunia ke Unesco.

baliho 2 x 3 m

‘Baretong di Hari Tarang’ Perayaan Ulang Tahun BPNB Padang

0

Padang – Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang merayakan Hari lahirnya yang ke-17. Dalam rangka memeriahkan hari kelahiran tersebut, BPNB Padang menggelar pertunjukan seni yang dikemas dalam kegiatan ‘Baretong di Hari Tarang’. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari ini, Jumat 11 September 2015 di Halaman BPNB Padang. Pembukaan akan dilaksanakan pada pukul 19.00 wib dan secara langsung akan dibuka oleh Kepala BPNB Padang Drs. Nurmatias.
ultah1
Kegiatan ini dimaksudkan selain untuk memeriahkan hari lahir BPNB Padang yang ke-17, juga untuk menghibur masyarakat yang ada di sekitar kantor BPNB Padang dengan kesenian tradisional yang semakin jarang ditemukan. Oleh sebab itu, kegiatan pertunjukan ini akan menampilkan kesenian-kesenian tradisional yang dibawakan oleh pelajar-pelajar SD dan TK.

Adapun alasan menampilkan para pelajar SD dan TK dalam kesenian ini adalah untuk menanamkan sejak dini kepada generasi muda kesenian tradisional sehingga tercipta rasa mencintai dan di masa depan kesenian tradisional itu tetap terjaga.

Selain menampilkan pertunjukan kesenian oleh para pelajar, kegiatan Baretong di hari tarang ini mengadakan permainan KIM. Permainan ini adalah permainan bernyanyi sambil menebak angka yang diberikan oleh pemain musik dalam kupon. Penyanyi yang berhasil menebak beberapa angka sehingga membuat garis horizontal atau diagonal dalam kupon akan jadi pemenang.

Panitia juga telah menyiapkan hadiah yang akan menambah semarak perayaan ulang tahun BPNB Padang yang ke-17. Semoga BPNB Padang ke depan semakin maju dan bermanfaat bagi masyarakat.

-Mbn-

Pertandingan Permainan Tradisional Enggano Berlangsung Meriah

0

Panitia BPNB Padang menarik rotan
Panitia BPNB Padang menarik rotan
Enggano – Pertandingan permainan tradisional berlangsung meriah dengan diikuti antusias oleh seluruh warga Enggano. Pertandingan permainan tradisional Enggano ini dilaksanakan pada hari Selasa (18/8). Pertandingan ini dilaksanakan di tepi pantai Desa Meok, Kecamatan Enggano. Pertandingan ini secara langsung dibuka oleh Camat Enggano dan selanjutnya dibuka dengan pertandingan tarik tambang antara Pimpinan Kecamatan Enggano dengan panitia BPNB Padang.
Tarik Rotan
Tarik Rotan

Pertandingan permainan tradisional ini bertujuan untuk mengenalkan kembali karya-karya budaya asli masyarakat Enggano kepada generasi muda khususnya permainan. Ada empat permainan tradisional yang dipertandingkan dalam pertandingan tersebut yaitu Tarik tambang menggunakan rotan (Pahnukih Kadi), Meniti di atas buah kelapa (Yakom’Iyapau Upo), gulat (Pakitok) dan Tolak kayu (Pahruyakku). Keempat permainan ini sudah sangat jarang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Malah para anak-anak muda setempat mengaku kalau tidak pernah menyaksikan permainan demikian sejak lahir.
Perlombaan meniti kelapa
Perlombaan meniti kelapa

Setiap suku mengikuti semua pertandingan untuk mewakili suku masing-masing. Hal ini terjadi karena konsep pertandingan ini bukan antar individu melainkan antar suku. Namun bukan juga pertandingan antar suku ini dilaksanakan untuk menunjukkan suku apa yang paling hebat. Pertandingan ini dilaksanakan hanya untuk merevitalisasi kembali permainan yang semakin lama semakin hilang ditelan jaman. Selain itu pertandingan ini dimaksudkan hanya sebagai hiburan dan kegembiraan sekaligus untuk meningkatkan tali silaturahmi seluruh lapisan masyarakat Enggano.
Pertandingan gulat
Pertandingan gulat

Pertandingan ini tidak saja diikuti oleh masyakat biasa, tapi juga orang-orang yang bekerja sebagai perangkat desa, PNS dan aparat keamanan.
Mendorong kayu
Mendorong kayu

Karena tujuan pertandingan ini hanyalah untuk kegembiraan, maka setiap suku berhak mendapatkan apresiasi berupa hadiah atas keikutsertaannya dalam pertandingan. Hadiah diberikan kepada kepala-kepala suku masing-masing untuk dibagikan kepada para peserta.
Dengan adanya acara tersebut membuat masyarakat merasakan kegembiraan. Mereka berharap kegiatan yang sama bisa dilakukan pada tahun-tahun mendatang. Selain sebagai ajang kegembiraan, ini juga penting sebagai upaya untuk tetap melestarikan karya-karya budaya Enggano ada.

– Mbn –

BPNB Padang Hibur Nagari Sintuk

0

Pembukaan dengan kesenian Gandang Tasa
Pembukaan dengan kesenian Gandang Tasa
Padang Pariaman – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang sebagai UPT dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berusaha memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa kesenian tradisional sesungguhnya bisa menjadi hiburan yang tidak kalah menarik dari kesenian modern. Hal itu ditunjukkan BPNB Padang semenjak tahun 2011 dengan selalu mencari dan menampilkan kesenian-kesenian tradisional yang dimiliki oleh masyarakat. Kegiatan ini dinamai dengan ‘Baretong di Hari Tarang’.

Pada tahun 2015 kegiatan yang sama berlangsung di hampir semua kabupaten yang ada di Sumatera Barat. Salah satunya adalah Nagari Sintuk di Kabupaten Padang Pariaman. Kegiatan di Nagari Sintuk ini bersamaan dengan HUT RI yang ke 70. Kegiatan “ Baretong di Hari Tarang “ di Nagari Sintuk berlangsung selama 3 (tiga) hari, dimulai dari tanggal 15 – 17 Agustus di Halaman Kantor Wali Nagari Sintuk.
Pelaksanaan acara diawali dengan sambutan walinagari Sintuk Anasril Nazar yang menyampaikan bahwa masyarakat Nagari menyambut baik terlaksanannya kegiatan yang dilakukan oleh BPNB Padang, apalagi masyarakat nagari Sintuk telah lama tidak menyaksikan kesenian-kesenian tradisional ditampilkan seiring dengan jarangnya “Alek Nagari” di Nagari Sintuk.
Baretong2
Kepala BPNB Padang dalam sambutannya yang disampaikan oleh Ibu Dra. Ernatip menjelaskan bahwa BPNB Padang semenjak 4 tahun ini rutin melaksanakan kegiatan yang menfasilitasi group-group kesenian untuk tampil. Pada awalnya kegiatan ini dilaksanakan di halaman kantor BPNB Padang, namun pada tahun 2015 kegiatan ini dibawa ke daerah-daerah. Untuk tahun 2015, salah satu daerah kami melaksanakan kegiatan ini adalah Nagari Sintuk Kabupaten Padang Pariaman.
Kegiatan ini secara langsung dibuka oleh Camat Sintuk Toboh Gadang Defritos S.Sos. M.Si. Pada kesempatan itu, Camat menyatakan menyambut baik kegiatan ini dan berharap bisa dilaksanakan di setiap nagari dan korong yang ada di Kecamatan Sintuk Toboh Gadang.
Dalam acara pembukaan tersebut menampilkan kesenian Gadang Tasa dari Korong Rimbo Karanggo, dan penampilan adik-adik dari MDA Raudhatul Ilmi yang menampilkan kesenian Indang dan Tari Indang dibawah sanggar Puti Rendo Sani. Malam selanjutnya menampilkan group Randai Simarantang serta kesenian anak nagari sintuk yaitu Tari Piring dan Tari Randang Kopi sedangkan acara puncak Salung Dangdut.
Baretong3
Malam ke tiga ditutup dengan pemutaran film dengan menampilkan dua buah film bertemakan perjuang yaitu Hati Merdeka dan Merah Putih. Film ini ditetapkan oleh tim dalam rangka menanamkan semangat Nasionalisme terhadap seluruh generasi muda. Bahwa kemerdekaan yang kita rasakan hari ini diraih dengan mengorbankan seluruh jiwa raga para pendahulu kita.

Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh masyarakat Nagari Sintuk. Hal ini tentu saja memberikan kepuasan tersendiri oleh panitia sebagaimana disampaikan oleh ketua Panitia Hartati Safitri, usaha kami membawa kegiatan jauh dari kantor ternyata memberikan hiburan terhadap masyarakat seperti yang kami saksikan di Nagari Sintuk.

-Mbn-

Mempertahankan Budaya Enggano Dimulai dari Keluarga dan Pengakuan pada Budaya itu Sendiri

0

Seorang peserta diskusi menyampaikan pendapatnya dalam diskusi
Seorang peserta diskusi menyampaikan pendapatnya dalam diskusi
Enggano – Salah satu upaya mempertahankan budaya Enggano dari perkembangan teknologi tidak lepas dari peran keluarga. Penanaman dan penumbuhan kebiasaan dan nilai budaya dari lingkungan keluarga menjadi vital dan utama. Misalnya dengan membiasakan di rumah berkomunikasi dengan bahasa asli Enggano.

Hal itulah yang berkembang dalam diskusi budaya Enggano yang dilaksanakan pada 17 Agustus 2015 di Aula Kecamatan Enggano. Diskusi tersebut mengangkat tema Mempertahankan Budaya Enggano di Tengah Perkembangan Teknologi. Diskusi ini juga diikuti kepala-kepala suku dari enam suku yang ada di pulau Enggano, Pa’abuki, Camat, Kepala BPNB Padang Drs. Nurmatias, Kepala Desa dan beberapa warga Enggano.

Dalam diskusi tersebut muncul beberapa persoalan yang berkembang mengenai bagaimana mempertahankan kebudayaan Enggano. Perkembangan teknologi yang semakin canggih sekarang ini mulai mengubah jati diri masyarakat Enggano yang lebih menyukai nilai budaya luar dibanding budaya sendiri.

Untuk itu upaya mempertahankan budaya Enggano harus dimulai sejak dini. Membangun rasa bangga atas nilai budaya yang dimiliki.
Beberapa usulan dari masyarakat serta kepala-kepala suku adalah bahwa untuk mempertahankan budaya Enggano bisa dimulai dengan mengakui budaya itu sendiri. Bangga menjadi orang Enggano, dan bangga mengenakan identitas Enggano tersebut kemanapun berada. Penanaman pengakuan tersebut tentu saja sebaiknya ditanamkan dari keluarga sebagai unit terkecil organisasi dalam masyarakat. Selanjutnya bisa dilakukan dengan pengkaderan oleh orang tua kepada generasi muda kini. Upaya itu juga bisa dilakukan dengan menanamkannya lewat kurikulum.

Peserta Diskusi Budaya Enggano

Peserta Diskusi Budaya Enggano

Namun salah satu masalah utama yang masyarakat Enggano hadapi adalah belum adanya kesepakatan antara kepala-kepala suku dan masyarakatnya mengenai kebudayaan Enggano yang ideal. Kebudayaan yang seperti apa, tradisi yang bagaimana dan identitas yang mana yang harus mereka gunakan sebagai identitas asli Enggano belum disepakati secara resmi oleh seluruh masyarakat Enggano.

Satu hal yang menarik dalam perdiskusian tersebut adalah bahwa semua peserta menyadari bahwa kebudayaan Enggano tersebut bisa dipertahankan di tengah perkembangan jaman dengan adanya persatuan baik sesama kepala suku maupun peserta biasa. Mereka malah berharap bahwa kegiatan diskusi tersebut tidak berhenti hanya sebatas diskusi saja, tetapi ada tindak lanjut pencarian solusi terkait cara mempertahankan kebudayaan Enggano tersebut. Mereka juga meyakini bahwa Merekalah yang bertanggung jawab dalam mepertahankan budaya Enggano.

– Mbn –

Lantunan Merdu ‘Dopok Enggano’ pada Festival Budaya Enggano

0

peserta festival menyanyikan lagu Dopok Enggano
peserta festival menyanyikan lagu Dopok Enggano
Enggano – Setelah seremonial pembukaan acara Festival Budaya Enggano selesai, kemudian dilanjutkan dengan Festival Lagu Daerah Enggano. Festival ini lagu daerah Enggano ini dilaksanakan pada Sabtu (15/8). Para peserta dalam Festival Lagu ini diharuskan menyanyikan dua buah lagu. Salah satu lagu tersebut adalah lagu wajib yang dipilih oleh panitia lokal dengan para kepala suku, sementara satu judul lagu yang lain dipilih bebas oleh peserta atau kelompok peserta. Lagu khas Enggano yang dipilih sebagai lagu wajib adalah ‘Dopok Enggano’ atau dalam bahasa Indonesia berarti ‘Pulau Enggano’.
Peserta Festival
Peserta Festival

Pemilihan lagu ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menumbuhkan kembali rasa cinta masyarakat khususnya generasi muda tentang Pulau Enggano. ‘Dopok Enggano’ mendeskripsikan tentang keindahan alam pulau Enggano yang layak untuk diingat dan dipertahankan. Dan masyarakat Enggano berhak untuk bangga terdahap tanah kelahirannya tersebut.
Para ibu-ibu mengiringi lagu dengan alat musik sederhana
Para ibu-ibu mengiringi lagu dengan alat musik sederhana

Festival lagu ini diikuti antusias oleh seluruh lapisan masyarakat Enggano. Hal ini tampak dari semangat para peserta yang berjumlah sekitar enam puluh orang dan melibatkan lima dari enam suku yang ada di pulau Enggano. Selain peserta, para penonton yang datang dari semua desa yang ada di Pulau Enggano juga sangat betah mengikuti festival tersebut dari pembukaan sampai penutupan.

Festival lagu ini sendiri berlangsung dari pukul 20.00 – 00.00.
Sebelum festival lagu dimulai, pembawa acara menjelaskan kriteria-kriteria penilaian kepada para peserta yang akan tampil. Ada beberapa kriteria yang telah ditetapkan yakni kesesuaian pelafalan lagu, kekompakan dan kesesuaian nadanya. Juri yang dilibatkan dalam kegiatan ini berasal dari kepala suku, dari dinas provinsi dan dari penyuluh budaya Bengkulu Utara.

Para peserta menunjukkan kebolehannya dalam menyanyikan lagu Dopok Enggano, diiringi dengan alat-alat musik sederhana yang kebanyakan dimainkan oleh peserta wanita.

Peserta Festival
Peserta Festival

Setelah penampilan masing-masing suku selesai, sambil menunggu juri menentukan hasil dan pemenang, para peserta diminta kembali menyanyikan lagu sebagai hiburan. Masing-masing suku bebas memilih lagu yang akan mereka nyanyikan dan tentu saja tidak lagi dinilai. Pada kesempatan itu Camat Enggano beserta istri dan Kepala BPNB Padang Drs. Nurmatias juga tidak ketinggalan menyumbangkan suaranya.

– Mbn –

Festival Budaya Enggano 2015 Dibuka, Kepala BPNB Padang dan Camat Enggano Joget Bersama

0

Camat Enggano membuka Festival Budaya Enggano
Camat Enggano membuka Festival Budaya Enggano
Enggano – Pembukaan Festival Budaya Enggano pada Sabtu (15/8) ditandai dengan joget bersama panitia festival, Camat, Kepala BPNB Padang, Kepala Suku dan Peserta Festival.Festival ini secara resmi dibuka secara langsung oleh Camat Enggano Marlansius. Pembukaan dilaksanakan di Aula Kantor Camat, Desa Apoho sekaligus pembukaan ini juga menjadi pembuka Festival lagu tradisional Enggano.
Kepala BPNB Padang joget bersama dengan Camat Enggano dan Ketua Panitia Festival
Kepala BPNB Padang joget bersama dengan Camat Enggano dan Ketua Panitia Festival

Dalam kesempatan itu Camat Enggano menyampaikan bahwa budaya Enggano harus dilestarikan. Dan yang paling bertanggungjawab dalam melestarikan budaya tersebut adalah orang Enggano sendiri. Beliau juga menekankan bahwa masyarakat Enggano harus punya jati diri, punya martabat dan jangan malu menjadi masyarakat Enggano. Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan rasa terima kasihnya kepada BPNB Padang yang bersedia mengangkat kebudayaan Enggano dan akan mendukung sepenuhnya kegiatan Festival tersebut. Beliau juga berharap kegiatan Festival ini tidak hanya berlangsung tahun ini saja, tapi juga di tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang Drs. Nurmatias menyatakan perlu memunculkan kepribadian yang baik kepada generasi muda. Salah satu cara untuk memunculkan kepribadian baik tersebut adalah jangan meninggalkan budaya asli kita khususnya budaya Enggano, kemudian menggunakan budaya lain. Karena dalam budaya asli kita tersebut mengandung banyak nilai-nilai baik yang layak kita teladani.

Beliau menambahkan bahwa sebagai pulau terdepan Enggano melalui budayanya harus bisa menjadi salah satu pilar dalam menjaga keutuhan NKRI. Selain itu beliau juga berharap kegiatan-kegiatan semacam ini bisa menjalin silaturahmi dan tentu saja berlanjut. Sehingga kegiatan ini bisa bermanfaat dalam menjadikan kita berkembang bersama.

Sementara Paabuki sebagai pimpinan tertinggi kepala-kepala suku yang ada di pulau Enggano menyatakan sangat mendukung program ini karena dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini maka masyarakat Enggano tidak perlu kwatir untuk kehilangan budayanya. Momen ini hendaknya dijadikan sebagai awal kebangkitan dan pengenalan budaya Enggano ke khalayak luas.

-Mbn-

Persiapan Festival Budaya Enggano 2015 Rampung

0

Pemasangan spanduk festival
Pemasangan spanduk festival
Enggano – Panitia pelaksanaan Festival Budaya Enggano telah merampungkan segala persiapan yang dibutuhkan dalam festival. Hal itu tampak dari pekerjaan terakhir oleh panitia yaitu penaikan spanduk pelaksanaan masing-masing kegiatan di lokasi tempat perhelatan akan dilaksanakan. Tempat Festival sendiri akan dilaksanakan di Aula Kecamatan Enggano di Desa Apoho.

Melalui hasil-hasil rapat antara pemangku kegiatan dari BPNB Padang dengan masyarakat setempat telah terbentuk panitia lokal yang akan membantu proses persiapan acara hingga pada pelaksanaan. Panitia ini bekerja dalam beberapa tugas yang sudah dikonsep sebelumnya seperti sosialisasi kegiatan, penerimaan pendaftaran peserta festival, pemasangan spanduk dll. Bantuan pekerjaan ini cukup membantu panitia BPNB dalam proses pelaksanaannya, mengingat jarak yang jauh antara Kantor BPNB Padang dengan Pulau Enggano.

Sampai Sabtu (15/8), segala persiapan telah rampung. Tinggal pelaksanaan kegiatan. Pembukaan acara rencananya akan dilaksanakan Sabtu, 15 Agustus 2015 malam. Namun sebelum pembukaan dilaksanakan pada malam hari, kegiatan lomba kerajinan tradisional telah digelar pada siang harinya.

Festival Budaya Enggano secara langsung akan dibuka oleh Camat Enggano Bapak Marlansius. Acara pembukaan juga turut dihadiri oleh kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya padang Drs. Nurmatias, serta semua kepala suku yang ada di Pulau Enggano.

Festival ini akan menghelat empat acara yaitu Lomba kerajinan tradisional, Festival Lagu tradisional, Diskusi Budaya Enggano dan Lomba Permainan Tradisional. Lomba Kerajinan yang dilakukan pada siang sebelum acara dibuka akan mempertunjukkan kebolehan masing-masing suku yang ada Di Enggano dalam membuat beberapa kerajinan yang telah disepakati antara Panitia dengan kepala-kepala suku yang ada. Rencananya lomba kerajinan ini akan dibagi dalam tiga bentuk kerajinan yaitu lomba menganyam, lomba membuat gelang kaki dan lomba membuat perahu dan sampan.

Selesai acara pembukaan, acara selanjutnya adalah Festival Lagu Tradisional. Pada lomba ini panitia telah menetapkan lagu wajib yang berjudul ‘Dopok Enggano’ atau dalam bahasa Indonesianya berarti ‘Pulau Enggano’. Selain itu para peserta bebas memilih lagu untuk lagu pilihan
persiapan2
Acara selanjutnya adalah Diskusi Budaya Enggano. Acara ini akan dilaksanakan pada hari Senin, 18 Agustus 2015 dengan mengangkat tema Mempertahankan Budaya Enggano di tengah perkembangan Teknologi. Acara ini akan melibatkan Muspika Enggano, Para Kepala Suku dan warga Enggano.

Pada hari terakhir, kegiatan yang akan dilaksanakan adalah Lomba Permainan tradisional. Lomba permainan ini menjadi satu-satunya kegiatan Festival Budaya Enggano yang dilaksanakan bukan di tempat acara sebelumnya. Kegiatan ini akan dilaksanakan di tepi pantai Desa Meok. Permainan tradisional ini sendiri akan mempertandingkan empat permainan tradisional Enggano yaitu Tarik Rotan, Tolak Kayu, Gulat dan Meniti di atas buah kelapa.

– Mbn –

Peserta Jejak Tradisi Nasional BPNB Padang Diberangkatkan

0

Peserta Jetrada/Foto:Reza
Peserta Jetrada/Foto:Reza
Padang (BPNB Padang) – Empat orang Peserta Jejak Tradisi Nasional (JETRANAS) dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang diberangkatkan. Keempat peserta tersebut merupakan peserta terbaik dari Jejak Tradisi Daerah di Kabupaten Muko-muko pada Mei lalu. Keempat peserta ini didampingi oleh Erricsyah, salah satu pegawai BPNB Padang. Mereka diberangkatkan pada hari senin, 10 Agustus 2015.

Adapun peserta yang diberangkatkan untuk mengikuti kegiatan ini antara lain:
1. Nugiarta Pratama dari SMA 1 Pagaralam, Sumsel
2. Iwa Salji Elbi Satria dari SMA 2 Mukomuko, Bengkulu
3. Ranti Tricia Putri dari SMA Pembangunan UNP Padang, Sumbar
4. Kartika dari SMA 7 Mukomuko, Bengkulu

Sebelum keberangkatan, keempat peserta telah mempersiapkan diri selama dua hari di kantor BPNB Padang untuk melatih atraksi kesenian yang akan mereka tampilkan pada pelaksanaan JETRANAS.
JETRANAS sendiri berlangsung selama 5 (lima) hari dari 10-14 Agustus 2015 di Kota Surabaya, dengan mengangkat tema ‘Keragaman Budaya Sebagai Pemersatu Bangsa’.

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah mampu melestarikan kekayaan dan keragaman tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa potensi kekayaan dan keragaman tradisi harus dikelola dengan baik agar tetap lestari dan memberi dampak positif bagi pendukungnya, termasuk bagi masyarakat yang mempelajarinya.

Beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan dalam JETRANAS antara lain Observasi dan wawancara mengenai karya budaya, penulisan laporan dan presentasi hasil observasi.

Harapannya, dengan adanya kegiatan Jetranas ini masyarakat kita khususnya generasi muda tetap bisa mengenali tradisi bangsa yg sarat nilai budaya terutama kearifan lokal untuk memperteguh kebangsaan serta jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia.

Untuk para peserta dari BPNB Padang, Kepala BPNB Padang Drs. Nurmatias berpesan agar para peserta bisa menjaga nama baik Keluarga, Sekolah, Tempat pelaksanaan Jetrada dan terutama BPNB Padang yang membawa peserta pada pelaksanaan JETRANAS.

-Mbn-

Baretong di Hari Tarang di Nagari Sintuak Padang Pariaman

0

Padang-Baretong di Hari Tarang, merupakan salah satu kegiatan revitalisasi kesenian tradisional Minangkabau Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang. Kegiatan ini bermaksud mengenalkan kembali kesenian dan budaya tradisional kepada generasi muda yang semakin hari semakin hilang. Pengenalan ini diharapkan mampu memunculkan rasa cinta dan rasa memiliki terhadap kesenian tradisional Minangkabau. Sehingga di masa depan kesenian itu bisa tetap bertahan di tengah terpaan arus globalisasi yang semakin kuat.

Pada bulan Agustus ini, BPNB Padang akan melaksanakan Baretong di Hari Tarang di Kabupaten Padang Pariaman Prov. Sumatera Barat. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 15-16 Agustus 2015 di Nagari Sintuak.

Menurut ketua panitia Hartati Safitri, kegiatan ini dimaksudkan untuk membantu kelompok kesenian tradisional di Provinsi Sumatera Barat khususnya di Nagari Sintuak. Yakni merevitalisasi kesenian tradisional Minangkabau dan memberikan pemahaman pada generasi muda dan masyarakat terhadap makna yang terkandung dalam kesenian tradisional tersebut.

Adapun kesenian yang akan ditampilkan dalam kegiatan Baretong di Hari Tarang kali ini diantaranya ‘Randai Simarantang’, ‘Saluang Dangdut’, dan ‘Tarian Gandang Tasa’. Ketiga jenis kesenian ini merupakan kesenian tradisional yang sudah semakin jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, panitia memutuskan ketiga kesenian tersebut dari beberapa jenis kesenian yang ada di daerah setempat. Selanjutnya panitia akan melakukan pendampingan pada proses pelatihan dan penampilan di Nagari Sintua.

Rencananya kegiatan Baretong di Hari Tarang akan dilaksanakan selama dua hari dan berlangsung pada malam hari. Dua penampilan pada hari pertama adalah Kesenian Randai Simarantang dan Tarian Gandang Tasa. Sedangkan kesenian Saluang Dangdut akan tampil keesokan harinya (Minggu,16/8). Kegiatan ini sendiri akan dibuka secara langsung oleh kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang.

-Mbn-

Segera Digelar, Festival Budaya Enggano

0

Brosur EngganoPadang-Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang dalam waktu dekat akan menyelenggarakan Festival budaya Enggano. Festival budaya ini rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 15-18 Agustus 2015 sekaligus memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70.

Festival Budaya Enggano, selain memeriahkan hari kemerdekaan RI yang jatuh pada tanggal 17 Agustus juga dimaksudkan untuk membangun kesadaran masyarakat akan kehadiran Negara di tengah-tengah masyarakat Enggano. Hal ini mengingat bahwa Pulau Enggano sampai sejauh ini masih susah untuk diakses karena merupakan salah satu pulau terluar. Dan kondisi ini yang mendorong BPNB Padang untuk aktif membuat kegiatan kebersamaan sehingga masyarakat setempat tidak merasa terasing dari NKRI.

Selain itu, kegiatan ini juga mencoba untuk membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan lokal dan mengenal potensi daerahnya sendiri. Sebagaimana diketahui, di tengah arus globalisasi yang semakin gencar sekarang ini akan mampu menggerus pertahanan budaya lokal sehingga mengakibatkan abrasi budaya yang semakin massif. Oleh karena itu, dengan terlaksananya kegiatan-kegiatan serupa di masa depan akan mampu menggairahkan semangat di kalangan generasi muda terhadap nilai-nilai budaya dan potensi yang dimiliki oleh masyarakat Pulau Enggano.

Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan mampu memotivasi masyarakat untuk proaktif, kreatif dan dinamis dalam menghadapi situasi dan kondisi perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat dan sekaligus memanfaatkan potensi yang ada, sehingga nantinya memiliki kepekaan sosial dan mampu mempertahankan dan melestarikan budaya melalui berbagai kegiatan dalam menghadapi perubahan perkembangan zaman yang semakin pesat.

Sesuai dengan tujuannya untuk membangkitkan kecintaan dan gairah terhadap nilai-nilai budaya lokal, maka rangkaian acara dalam kegiatan ini tidak terlepas dari tradisi-tradisi masyarakat Enggano. Adapun kegiatan yang akan digelar dalam festival Budaya Enggano ini antara lain:

1.Diskusi Budaya, bertemakan ‘Budaya Enggano dan Pelestariannya’

2.Festival Lagu Daerah Enggano, dengan menampilkan lagu wajib yang berjudul ‘Anah Yatuta Yahear yeard’ atau berarti ‘alangkah sulitnya mencari hidup’

3.Festival Permainan Tradisional Enggano, mempertandingkan empat permainan seperti:
a.‘Neoblyokampa’unypo’ (Meniti buah kelapa)
b.‘Pahnekieh Kadie’ (Tarik tambang)
c.‘Paharuyakku’ (Mendorong kayu)
d.‘Pakito’ (Diadakan di Pantai)

4.Lomba Kerajinan Tradisional Enggano.
Pagelaran Festival Budaya Enggano ini akan melibatkan seluruh aspek masyarakat. Dan para pemenang dalam dalam kegiatan ini akan diberikan hadiah berupa trophy dan uang pembinaan.

-Mbn

Pekan Budaya Indonesia

0

LOGO-PEKAN-BUDYA-INA-198x198Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia siap menggelar Pekan Budaya Indonesia (PBI) di Semarang, Jawa Tengah, 5-10 Agustus 2015.

Rencananya, PBI akan terselenggara di 11 titik yang berada di kawasan Simpang Lima. Berikut ini adalah informasi lokasi kegiatan, beserta susunan acara PBI 2015.

POster

Perahu Kajang, Perahu Berbentuk Rumah

0

Perahu Kajang. Image:http://bochibochitani.blogspot.com
Perahu Kajang. Image:http://bochibochitani.blogspot.com
Perahu kajang merupakan alat transportasi tradisional sekaligus menjadi rumah pada masa lampau bagi masyarakat di sekitar Sungai Musi. Diduga, alat transportasi tradisional ini berkembang sekitar masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya (abad VII-XIII Masehi). Jenis perahu ini berasal dari daerah Kayu Agung di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Pada masa lalu perahu kajang banyak dijumpai di Sungai Musi Palembang, akan tetapi sekarang sudah tidak dapat dijumpai lagi.

Perahu Kajang menggunakan atap dari nipah yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian depan atap yang disorong (kajang tarik), bagian tengah adalah atap yang tetap (kajang tetap) dan atap bagian belakang (tunjang karang). Bahan yang digunakan untuk pembuatan perahu ini adalah kayu jenis kayu rengas, yang sudah tidak ditemukan lagi di wilayah Kayu Agung. Panjang perahu sekitar delapan meter dan lebar perahu dua meter. Buritan di bagian depan perahu terdapat tonjolan seperti kepala yang disebut selungku, merupakan ciri khas perahu kajang Kayu Agung.

Keberadaan atap (kajang) dari daun nipah inilah yang menjadi cikal namanya. Layaknya sebuah rumah tinggal, perahu memiliki ruang tengah tempat anggota keluarga beristirahat. Pada bagian belakang terdapat dapur dan kamar mandi. Barang-barang muatan serta ruang kemudi berada di bagian depan perahu. Tata ruang perahu terdiri dari bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Bagian depan merupakan ruang untuk menyimpan barang-barang komoditi yang dijual, seperti barang tembikar dan untuk kemudi. Bagian tengah adalah ruang keluarga untuk tempat tidur. Bagian belakang adalah kamar mandi dan dapur.

Perahu kajang memiliki dayung dan kemudi yang terbuat dari kayu. Panjang dayung sekitar tiga meter, sedangkan panjang kemudi sekitar dua meter. Dayung dibuat dari kayu yang lebih ringan, sedangkan kemudi dari kayu berat yang bagian tepinya diberi lempengan logam. Kemudi ditempatkan di bagian belakang, sedangkan dayung digunakan di bagian depan.

Ciri-ciri lain juga menunjukkan bahwa perahu ini merupakan tipe tradisi Asia Tenggara yaitu adanya lubang-lubang yang terdapat di bagian permukaan dan sisi papan serta lubang-lubang pada tonjolan segi empat yang menembus lubang di sisi papan, merupakan teknik rancang bangun perahu dengan teknik papan ikat dan kupingan pengikat (sewn plank and lushed plug technique).

Tonjolan segi empat atau tambuku digunakan untuk mengikat papan-papan dan mengikat papan dengan gading-gading dengan menggunakan tali ijuk (Arrenga pinnata). Tali ijuk dimasukan pada lubang di tambuku. Pada salah lubang di bagian tepi papan perahu yang di temukan di Sungai Kupang terlihat ujung pasak kayu yang patah masih terpaku di dalam lubang. Biasanya penggunaan pasak kayu untuk memperkuat ikatan tali ijuk.

Menurut keterangan penduduk sejak tahun 1980-an jenis perahu itu sudah tidak digunakan lagi seiring dengan merosotnya pemasaran tembikar Kayu Agung ke daerah-daerah lain. Biasanya perahu kajang digunakan untuk mengangkut barang-barang tembikar Kayu Agung dan dipasarkan ke daerah-daerah lain. Pemasaran dengan perahu tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, berbulan-bulan bahkan tahun.

Setelah melakukan penelusuran di sepanjang Sungai Komering, akhirnya ditemukan sebuah perahu kajang di Kelurahan Kedaton. Satu-satunya perahu kajang tersebut telah dimodifikasi menjadi perahu ketek, yang telah menggunakan mesin.(Mbn)

Pameran Warisan Budaya Dunia Indonesia, BPNB Padang Fasilitasi Tim Kesenian

0

Acara pembukaan dengan suguhan tarian dari grup seni Galang Maimbau
Acara pembukaan dengan suguhan tarian dari grup seni Galang Maimbau
Sawahlunto-Dalam rangka mendukung karya budaya bangsa menjadi warisan budaya dunia sekaligus memperkenalkan dan memasyarakatkan kesenian tradisional, maka Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang turut terlibat dalam Pameran Perjalanan Warisan Budaya Dunia Indonesia yang dilaksanakan Direktorat Internalisasi dan Diplomasi Budaya (INDB) Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Keterlibatan BPNB Padang dalam pameran ini yaitu dengan memfasilitasi tim kesenian yang tampil memeriahkan acara serta mendukung pameran dengan menampilkan hasil-hasil kajian sejarah dan budaya sebagai bagian dari tugas dan fungsinya.
Jaran kepang
Jaran kepang
Seni pertunjukan jaran kepang[/caption]Kegiatan Pameran Perjalanan Warisan Budaya Dunia Indonesia dilaksanakan sejak tanggal 08 – 12 Juni 2015 di Gedung Pusat Kebudayaan Kota Sawahlunto. Pameran ini secara langsung dibuka oleh Dirjen Kebudayaan Bapak Katjung Maridjan dan dihadiri oleh Walikota Sawahlunto, anggota DPRD Kota Sawahlunto, SKPD dan tokoh-tokoh masyarakat dari provinsi Sumatera Barat.

Pameran nilai budaya
Pameran nilai budaya

Rangkaian acara dalam kegiatan pameran ini dilakukan secara marathon. Dimulai dengan pembukaan pameran pada hari pertama, Seminar pada hari kedua dengan para stakeholder dan pada hari ketiga dilanjutkan dengan komponen SKPD se-provinsi Sumatera Barat dan pada hari keempat dan kelima dilanjutkan dengan pameran.
seni pertunjukan jaran kepang
seni pertunjukan jaran kepang
Kegiatan pameran dan rangkaian acara yang ada di dalamnya ini bertujuan untuk mendukung dan memantapkan pengusulan Kota Sawahlunto sebagai kota warisan dunia. Dalam pengusulan ini, Kota Kota Sawahlunto dinilai layak untuk menyandang warisan tersebut mengingat adanya kekuatan pendukung di dalamnya. Selain sebagai kota tambang batubara tertua di Asia tenggara, kota ini juga masih menyimpan begitu banyak bangunan-bangunan bersejarah yang terpelihara dan menunjukkan kotanya pada masa lalu sebagai kota tambang. Kota ini juga menjadi refleksi multikultur pertama serta sebagai penggerak ekonomi dunia pada masa itu.

Penari dari grup seni Malakutan Bunian
Penari dari grup seni Malakutan Bunian
Dalam kegiatan pameran tersebut, BPNB Padang memfasilitasi penampilan tiga grup kesenian tradisional. Tiga grup kesenian tersebut tampil pada hari pertama sampai pada hari ketiga. Pada hari pertama tim kesenian ‘Galang Maimbau’ membawakan ‘tari gelombang’ dan tari yang diadaptasi dari permainan anak nagari dibawakan di tengah-tengah berlangsungnya acara. Tim kesenian kedua Sanggar Seni Jaran Kepang ‘Bina Satria’ pada hari kedua menampilkan ‘jaran kepang’ dan hari berikutnya tim kesenian ‘Malakutan Bunian’ menampilkan ‘tari piring’.

Ini adalah salah satu tugas balai pelestarian nilai budaya padang dalam mendukung pelestarian nilai budaya.

– Marbun –

Salawat Dulang, Tradisi Lisan Minangkabau

0

image: google.com
image: google.com
Salawat dulang atau Salawaik Dulang adalah sastra lisan Minangkabau bertemakan Islam. Sesuai dengan namanya, Salawat dulang berasal dari dua kata yaitu salawat yang berarti salawat atau doa untuk nabi Muhammad SAW, dan dulang atau talam, yaitu piring besar dari Loyang atau logam yang biasa digunakan untuk makan bersama. Dipertunjukkan oleh minimal dua klub diiringi tabuhan pada ‘dulang’, yaitu nampan kuningan yang bergaris tengah sekitar 65 cm. Dalam bahasa sehari-hari, sastra lisan ini hanya disebut ‘salawat’ ataupun ‘salawek’ saja. Di beberapa tempat, salawat dulang disebut juga salawat talam.

Dalam sastra rakyat Minangkabau, salawat dulang adalah penceritaan kehidupan nabi Muhammad, cerita yang memuji nabi, atau cerita yang berhubungan dengan persoalan agama Islam dengan diiringi irama bunyi ketukan jari pada dulang atau piring logam besar itu. (Djamaris, 2002: 150).

Pertunjukan salawat dulang biasanya dilakukan dalam rangka memperingati hari-hari besar agama Islam dan ‘alek nagari’. Pertunjukan ini tidak dilakukan di kedai (lapau) atau lapangan terbuka. Biasanya hanya dipertunjukkan di tempat yang dipandang terhormat seperti mesjid, surau. Pertunjukan juga biasanya dimulai selepas isya. Sifat pertunjukan yang bertanya jawab, saling serang dan saling berusaha mempertahankan diri. Dalam pertunjukannya, kedua tukang salawat duduk bersisisian dan menabuh talam secara bersamaan. Keduanya berdendang secara bersamaan atau saling menyambung larik-lariknya. Larik-larik itu berbentuk syair.

Tradisi ini berkembang di hampir seluruh wilayah Minangkabau, baik ‘darek’ maupun ‘pasisia’. Hampir di semua wilayah Minangkabau tradisi ini bisa ditemukan seperti Luhak Agam, Tanah Datar, Lima Puluh Koto, bahkan pasisia atau Rantau. Satu-satunya daerah yang tidak ada penutur salawat dulang adalah di pasaman. Masing-masing daerah mengklaim kalau tradisi ini adalah tradisi mereka.

Sejarah

Salawat dulang berawal dari banyaknya ahli agama Islam Minang yang belajar ke Aceh, diantaranya adalah Syeh Burhanuddin. Ia kemudian kembali ke Minang dan menetap di Pariaman. Dari daerah itu Islam menyebar ke seluruh wilayah Minangkabau. Saat berdakwah, beliau teringat pada kesenian Aceh yang fungsinya adalah menghibur sekaligus menyampaikan dakwah, yaitu tim rebana. Beliau kemudian mengambil talam atau dulang yang biasa digunakan untuk makan dan menabuhnya sambil mendendangkan syair-syair dakwah.

Ada juga yang menyatakan bahwa salawat dulang berasal dari tanah datar oleh kelompok tarekat syatariah sebagai salah satu cara untuk mendiskusikan pelajaran yang mereka terima. Oleh karena itu, teks salawat dulang itu lebih cenderung berisi ajaran tasawuf.
Ada juga yang menghubungkan bahwa Salawat Dulang ditanah datar tidak lepas dari tiga tokoh tanah datar yaitu Tuanku Musajik (1730-1930), Tuanku Limopuluh (1730-1930) dan Katik Rajo (1880-1960).

Pertunjukan Salawat Talam baru dapat dilaksanakan jika ada paling tidak dua klub, karena teksnya mengandung tanya jawab. Artinya, pertunjukan sastra lisan ini juga merupakan sebuah kompetisi. Penampilan satu teks tersebut disebut salabuahan atau satanggak ataupun satunggak; memakan waktu 25-40 menit.

Teks salabuahan terdiri dari pambukaan, batang, dan panutuik. Bagian batang berisi kaji, yaitu bagian inti salabuahan penampilan Salawaik Dulang. Teks tersebut dihapal oleh tukang salawat kata demi kata. Umumnya, ia merupakan tafsiran dari ayat Al-quran atau pun Hadist. Bagian berikutnya adalah bagian penutup, yang dimulai dengan pertanyaan, lalu memberi pertanyaan. Bagian penutup ini juga dapat disisipi dengan pesan-pesan pemerintah, seperti keluarga berencana, supra insus, bahkan pemilihan umum; atau sekedar hiburan dengan syair-syair lagu yang tengah populer.

Tradisi ini masih berkembang hingga sekarang, hal ini bisa dilihat dari banyaknya tukang salawat, semakin sering dipertunjukkan dan irama pendendangnya semakin terbuka yaitu mengikuti perkembangan irama lagu-lagu yang telah populer di tengah masyarakat. Salawat Dulang adalah tradisi minangkabau yang bersidat terbuka karena memiliki daya adaptif baik dari segi tema maupun irama, dapat diimprovisasi sesuai dengan hal-hal yang disenangi masyarakat baik dari segi isi maupun irama.

Pada awalnya tradisi lisan ini berfungsi sebagai sarana dakwah dan hanya dipertunjukkan dalam perayaan-perayaan agama Islam. Saat ini fungsi tradisi lisan ini tidak hanya dakwah saja, namun juga sebagai sarana hiburan serta sarana menarik perhatian penonton untuk mengikuti suatu aktivitas, seperti penggalangan dana.

Tradisi salawat dulang ini telah diusulkan sebagai warisan budaya tak benda.

Sumber:
Meigalia, Eka. Keberlanjutan Tradisi Lisan Minangkabau Salawat Dulang. Tesis S-2. 2009

Rumah Gadang

0

Rumah Gadang/Foto. Dok. Undri
Rumah Gadang/Foto. Dok. Undri
Rumah gadang adalah istilah yang digunakan untuk menyebut rumah adat Minangkabau. Rumah gadang memiliki ciri khas bergonjong seperti tanduk kerbau dan sering disebut sebagai rumah pusaka (rumah pusako). Pada umumnya, rumah gadang memanjang dari utara ke selatan, sedangkan bagian depannya ada yang menghadap timur dan barat.

Rumah gadang memliki beberapa tipe yang berbeda sesuai dengan daerahnya masing-masing. Masyarakat yang mendiami daerah darek memiliki bentuk rumah yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah rantau. Namun secara garis besar, rumah gadang dibagi atas dua kelompok besar yaitu: Pertama, ‘Rumah gadang koto piliang’, mempunyai ciri memiliki anjungan (Baanjuang) dan serambi (Surambi). Anjungan merupakan tempat terhormat di dalam suatu rumah yang posisinya ditinggikan beberapa centimeter dari permukaan lantai bangunan. Kedua, ‘rumah gadang bodi chaniago’, tidak mengenal anjungan dan lantai rumah pada rumah gadang ini adalah rata.

Tipe bangunan rumah gadang berdasarkan gonjong dikelompokkan menjadi delapan yaitu: pertama, ‘rumah gadang bagonjong dua’, biasanya merupakan milik satu keluarga sebagai tempat tinggal. Kedua, ‘Rumah gadang bagonjong empat’, merupakan milik kaum yang menjadi keturunan ninik mamak penyandang gelar sako Datuk panghulu Andiko sebagai tempat melaksanakan acara adat. Ketiga, ‘rumah gadang bagonjong lima’, milik kaum penyandang gelar sako Datuak penghulu Kepala Paruik sebagai tempat tinggal dan acara adat. Keempat, ‘Rumah Gadang bagonjong enam’, milik Datuak Penghulu Kepala Suku, Pegawai adat dan keturunan bangsawan sebagai rumah tinggal dan acara adat. Kelima, ‘Rumah gadang bergonjong delapan’ milik keturunan bangsawan setingkat menteri pembantu raja alam sebagai tempat tinggal dan rumah adat. Keenam, ‘Rumah gadang panjang’, memiliki tangga lebih dari satu. Ketujuh, ‘bangunan istana’ berisi enam gonjong dan dua tambahan gonjong paranginan. Kedelapan, ‘bangunan gadang’ di rantau yang memanjang ke arah belakang.

Rumah gadang memiliki ruang-ruang yang sering dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing ruang mempunyai fungsi yang berbeda satu sama lain yaitu: ‘Ruang publik’ yaitu ruang tamu atau ruang bersama. ‘Ruang semi privat’ ruang peralihan yang terdapat di depan kamar tidur dan pada bagian ujung rumah gadang. ‘Ruang privat’ yaitu kamar tidur yang biasanya berjumlah sebanyak anak perempuan dalam rumah. ‘Ruang servis’ yaitu dapur untuk tempat memasak.

Rumah gadang memiliki dua fungsi utama yaitu fungsi adat dan fungsi keseharian. Fungsi adat yaitu fungsi rumah sebagai tempat untuk melangsungkan acara-acara adat (seperti: turun mandi, khitan, perkawinan, batagak gala dan kematian) dan acara-acara penting lainnya bagi keluarga sesuku pemilik rumah. Fungsi ini disebut juga fungsi temporer. Fungsi keseharian adalah fungsi rumah gadang sebagai tempat tinggal dan melakukan aktivitas sehari-hari.

Di masa yang lalu, setiap rumah gadang dilengkapi dengan lumbung padi (rangkiang). Posisi rangkiang ini biasanya berada di depan atau di samping rumah. Rangkiang adalah bangunan tempat menyimpan padi milik kaum, yaitu bangunan berbentuk bujur sangkar beratap ijuk. Rangkiang dibagi menjadi tiga jenis yaitu ‘rangkiang sitinjau lauik’, ‘rangkiang sibayau-bayau’, ‘rangkiang sitangguang lapa’, dan ‘rangkiang kaciak’. Masing-masing rangkiang mempunyai fungsi yang berbeda.

Selain rangkiang, rumah gadang juga dilengkapi dengan balairung yaitu bangunan yang digunakan sebagai tempat para penghulu mengadakan rapat tentang urusan pemerintah nagari dan menyidangkan perkara atau pengadilan. Rumah gadang tradisional juga dilengkapi dengan lesung (lasuang) dan alu yang ditempatkan di belakang rumah. Lesung-lesung tersebut terbuat dari batu. Dahulu alat ini digunakan sebagai alat menumbuk padi.

Sumber:
Hasanadi, dkk. Mahakarya Rumah Gadang Minangkabau. 2012. BPSNT Press.

– Marbun –

Rendang

0

Rendang daging/Foto: Dok. Erna
Rendang daging/Foto: Dok. Erna
Rendang adalah masakan tradisional khas Minangkabau yang tidak hanya terkenal di pelosok nusantara, tapi juga ke mancanegara. Rendang atau ‘Randang’ dalam bahasa setempat lebih dikenal orang sebagai makanan khas dari Padang sehingga seringkali penyebutan rendang adalah rendang padang, bukan rendang Minangkabau.

Kata ‘randang’ berasal dari kata ‘marandang’ yakni proses mengolah lauk berbahan dasar santan dengan memasak hingga kandungan airnya kering. Jadi, ‘randang’ berarti olahan masakan yang kering tanpa mengandung air. Bisa dikatakan bahwa rendang yang sebenarnya adalah kering air. Makanan ini pada umumnya berwarna merah kecoklatan, coklat sampai coklat kehitaman.

Proses memasak rendang/Foto: Dok. Erna
Proses memasak rendang/Foto: Dok. Erna
Proses pembuatan rendang merupakan cara sederhana masyarakat Minangkabau pada masa lalu dalam mengawetkan makanan. Proses pengawetan ini dilakukan secara tradisional tanpa menggunakan bahan kimia tetapi melalui proses pemanasan berkali-kali. Semakin kering suatu randang menjadikannya tahan dan awet lebih lama.

Konon, ada kalanya suatu waktu masyarakat memasak daging menggunakan banyak santan dan bumbu tertentu yang tidak habis dalam sehari konsumsi. Untuk mencegah terbuangnya makanan yang bersisa, maka masyarakat mencoba cara bagaimana membuat makanan tersebut bisa bertahan lama dan tetap layak konsumsi.

Karena keterbatasan peralatan dan teknologi pada masa lalu, satu-satunya cara untuk membuat makanan tahan lama dan tidak basi adalah dengan menghangatkan. Masyarakat pada jaman dahulu memasak rendang di atas api sangai (api sangat kecil yang diatur agar jangan sampai menghanguskan) sampai kering. Proses ini dilakukan secara tradisional, yakni dimasak diatas tungku dengan menggunakan kayu bakar. Pada awalnya dimasak dengan api besar, lalu dilanjutkan dengan menggunakan api sangai yang berasal dari pembakaran sabuk kelapa. Proses ini bisa berulang sampai beberapa kali hingga makanan tersebut mengering dan menghasilkan rendang.

Aneka rendang/Foto: Dok. Erna
Aneka rendang/Foto: Dok. Erna

Secara umum, rendang terbagi dua yaitu randang kering dan randang basah. Randang kering, adalah randang yang sudah berwarna coklat kehitaman, sedangkan randang basah adalah randang yang masih berwarna merak kecoklatan sampai coklat.

Dalam proses memasak rendang ada tiga tahapan yang harus dilalui yakni: ‘Gulai’, olahan masakan berbahan santan bercampur bumbu yang masih banyak kandungan airnya. ‘Kalio’, olahan masakan berbahan santan bercampur bumbu yang kandungan airnya sudah sangat berkurang sehingga kuah yang dihasilkan lebih kental dari gulai dan sudah mengeluarkan minyak dari santan yang dimasak. ‘Randang’, merupakan kalio yang terus dimasak sampai kering.

Rendang daging sapi/Dok. Erna
Rendang daging sapi/Dok. Erna
Pada masa sekarang, memperoleh rendang dalam kehidupan sehari-hari tidaklah sesulit di masa lampau. Hal ini karena rendang bukan lagi makanan istimewa yang hanya dimiliki oleh golongan-golongan menengah ke atas seperti jaman dulu namun semua orang sudah bisa menikmatinya tanpa kecuali dan tanpa batasan waktu. Jenis rendang juga semakin beragam ada rendang telur, daging, ikan, daun dan sebagainya.

Penggunaannya juga tidak lagi hanya pada perayaan-perayaan tapi sudah menjadi konsumsi keseharian. Beberapa kegunaan rendang dalam masyarakat Minangkabau yakni: pertama, Rendang sebagai sajian dalam upacara adat dimana wajib ada dalam setiap pelaksanaan perhelatan atau perayaan seperti kelahiran sampai pada kematian. Kedua, Rendang sebagai panahan ulak yaitu bisa dimanfaatkan sebagai makanan cadangan untuk penutup malu terhadap orang yang datang sehingga tidak dianggap sebagai orang yang kekurangan. Ketiga, Rendang sebagai sajian sehari-hari dan keempat, Rendang sebagai oleh-oleh untuk tamu atau bekal di jalan untuk saudara, anak dan kaum kerabat lainnya yang sedang bepergian atau merantau.

Rendang bingkuah/Foto: Dok. Erna
Rendang ikan bili/Foto: Dok. Erna
Walau sekarang rendang sudah bisa ditemukan dalam banyak jenis, namun rendang yang paling utama adalah berbahan dasar daging. Rendang memiliki empat bahan pokok, yakni daging, kelapa, cabe dan bumbu dimana masing-masing bahan memiliki fungsi yang berbeda menurut masyarakat Minangkabau yakni: Daging, melambangkan ‘ninik mamak’ dan ‘bundo kanduang’ yang akan memberikan kemakmuran kepada anak kemenakan dan anak pisang. Kelapa, merupakan lambang cerdik pandai, yakni kaum intelektual yang akan menjadi perekat pada kelompok individu. Cabe, lambang alim ulama yang pedas dan tegas untuk mengajarkan syarak dan agama. Bumbu, lambang setiap individu atau kelompok dalam kehidupan dan merupakan unsur yang penting dalam hidup kebersamaan dalam suatu masyarakat.

Rendang telur/Foto: Dok. Erna
Rendang telur/Foto: Dok. Erna
Dahulu rendang tidak untuk dikomersilkan, tetapi khusus untuk sajian para ‘datuk’, penghulu, ‘ninik mamak’ dan anggota masyarakat lainnya. Akhir-akhir ini sudah menjadi barang dagangan yang menghasilkan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Dengan adanya industri rumah tangga rendang, masyarakat umum tidak lagi susah mencari oleh-oleh.

Sebagai salah satu karya budaya, rendang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.

Sumber: Hariadi, dkk. Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya: Randang Minangkabau Warisan Leluhur yang Mendunia. 2012. BPSNT Padang Press

– Marbun –

Sosialisasi Penghitungan Beban Kerja BPNB Padang

0

Padang (BPNB Padang). Sosialisasi penghitungan beban kerja di Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang dilaksanakan tanggal 26 Mei 2015 di Ruang Sidang BPNB Padang. Sosialisasi ini dilaksanakan oleh Biro Hukum dan Organisasasi Sektetariat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Perwakilan dari pusat dihadiri oleh Bapak Shafudin, S. Ip dan Jumadi, S. Sos sementara sosialisasi ini diikuti oleh seluruh pegawai di BPNB Padang.

Kegiatan yang dimulai jam 09.00 wib itu dimaksudkan untuk mengidentifikasi data perhitungan beban kerja masing-masing pegawai. Mengukur sejauh mana penghitungan beban kerja dengan keahlian dan alokasi waktu yang tersedia. Sehingga ke depannya setiap pegawai akan mampu mencapai target kerja sesuai dengan keahliannya, bidang dan juga waktu yang tersedia. Ke depan tidak ada penumpukan pekerjaan karena kekurangan pegawai atau penumpukan pegawai karena kekurangan pekerjaan. Sasaran yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah untuk menciptakan reformasi birokrasi.

Pada kesempatan itu, Bapak Shafudin menyatakan bahwa idealnya beban kerja ditentukan oleh kantor, namun jika dari kantor tidak ada aturan baku, maka disesuaikan dengan pengalaman-pengalaman di tahun-tahun sebelumnya. Hal ini untuk memastikan bahwa tidak ada pegawai yang kelebihan beban kerja ataupun yang kekurangan beban kerja.

Dari pertemuan ini diketahui bahwa cara pengisian beban kerja di BPNB padang telah benar. Cara mengisi beban kerja, alokasi waktu per kegiatan dan alokasi per tahun sudah benar. Namun, perlu perbaikan angka-angka yang harus disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan. Waktu pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan lama seseorang bisa menyelesaikan sebuah pekerjaan. sehingga masing-masing orang bisa tidak sama.

Bapak Shafudin juga menambahkan bahwa untuk tahun ini capaian KEMENDIKBUD hanya sekitar 56 % naik 2% dari tahun sebelumnya. Padahal berdasarkan perhitungan dari kemendikbud sudah mencapai 74%, tapi setelah dicek kembali oleh KEMENPANRB, dokumen pendukung tidak ada, bukti fisik seperti SOP, standard pelayanan dan Analisis Jabatan tidak memiliki. Ke depan data-data pendukung harus lengkap.

– Marbun –

Sosialisasi PERMENPANRB No. 53 Tahun 2014 di BPNB Padang

0

Diskusi Sosialisasi Permenpanrb no.53 tahun2014/Foto: Jaka
Diskusi Sosialisasi Permenpanrb no.53 tahun2014/Foto: Jaka
Sosialisasi PERMENPANRB No. 53 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah di BPNB Padang dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2015. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan oleh Biro Keuangan Sekretariat Jenderal KEMENDIKBUD yang terdiri dari: Suhaemi, S.Sos, Lestari Frindiyanti, SE, Ristinawaty, S.Sos dan Ratna Endang. Sosialisasi ini dimaksudkan dalam rangka menciptakan Laporan Kinerja Pegawai (LAKIP) yang akuntabel di lingkungan kementerian pendidikan dan kebudayaan.

Selain bertujuan untuk memfasilitasi dan asistensi penyusunan LAKIP, kehadiran keempat pegawai tersebut juga untuk memverifikasi kebenaran LAKIP BPNB Padang tahun 2014. Sosialisasi ini diikuti oleh kepala BPNB Padang Bapak Drs. Nurmatias dan tiga orang staf. Kegiatan sosialisasi ini memang sangat penting mengingat adanya perubahan PERMEN tentang LAKIP dari PERMENPANRB No. 29 tahun 2010 menjadi PERMENPANRB No. 53 tahun 2014.

Diskusi LAKIP/Foto. Jaka
Diskusi LAKIP/Foto. Jaka
Ada perbedaan yang signifikan antar keduanya. Perbedaan tersebut terlihat dalam bab II dan bab III. Dalam bab II PERMENPANRB No. 53 tahun 2014, LAKIP tidak lagi mencantumkan renstra organisasi lagi sebagaimana sebelumnya tapi sudah menfokuskan pada perencanaan kinerja. Sementara untuk akuntabilitas kinerja (Bab III) mengalami perubahan menjadi capaian kinerja dan realisasi anggaran dari yang sebelumnya mengenai analisis capaian sasaran dan akuntabilitas keuangan.

Secara substansi LAKIP tahun 2015 menunjukkan beberapa penyederhanaan dalam sistematika, namun tidak mengurangi kualitas LAKIP itu sendiri. LAKIP tahun 2015 malah lebih detail dalam hal pelaporan mengenai sasaran strategis. Dimulai dari Rencana Kerja Tahunan, Pencapaian target dengan ukuran yang telah ditetapkan, persentase realisasi anggaran, persentase anggaran yang tidak terserap, kendala-kendala atas capaian-capaian serta cara mengatasi kendala yang terjadi. Semua itu harus jelas tergambarkan dalam Lakip berdasarkan PERMENPANRB No. 53 tahun 2014. Jadi antara rencana dan target sebisa mungkin harus selaras dan target tercapai berdasarkan alat ukur kinerja yang ditentukan dan sesuai dengan perjanjian kinerja.

Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan mampu menambah pengetahuan dan menyatukan pemahaman, sehingga di masa mendatang mampu menghasilkan LAKIP yang akuntabel dan jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

– Marbun –

Jejak Tradisi Daerah 2015: Harmoni dalam Keanekaragaman Budaya

0

Bupati beserta rombongan dan Ketua panitia Jetrada/Foto:Reza
Bupati beserta rombongan dan Ketua panitia Jetrada/Foto:Reza
Muko-muko (BPNB Padang). Pada tahun 2015 BPNB Padang menyelenggarakan kegiatan Jejak Tradisi Daerah di Kabupaten Muko-muko. Kegiatan yang dilaksanakan tanggal 18 – 20 Mei 2015 dan dibuka langsung oleh Bupati Muko-muko Bapak Ichwan Yunus ini diikuti oleh sekitar 100 orang peserta dari 19 SMA dati tiga wilayah kerja BPNB Padang. Selain itu, kegiatan ini juga turut dihadiri oleh seluruh SKPD Kabupaten Muko-muko, perwakilan DPRD, Asisten dan Staf Ahli Bupati, BMA, Korwas Pendidikan Kab. Muko-muko.

Secara resmi pembukaan berlangsung tanggal 18 Mei pukul 14.00 wib di aula BAPPEDA Kab. Muko-muko. Pada kesempatan itu bupati menyatakan sangat mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai salah satu bentuk mempertahankan jati diri masyarakat yang berbudaya. Beliau menegaskan bahwa Kabupaten Muko-muko akan terus bergerak maju tanpa harus meninggalkan jati diri sebagai masyarakat berbudaya. Beliau juga menginstruksikan kepada semua SKPD agar ikut mensukseskan kegiatan Jetrada tersebut.

Peserta Jetrada/Foto:Reza
Peserta Jetrada/Foto:Reza
Menurut ketua panitia Hasanadi, SS, Jetrada 2015 ini bertujuan untuk menanamkan pentingnya belajar langsung di tengah fenomena sosial budaya masyarakat suku bangsa kepada siswa, selain membangun silaturahmi dalam suasana perbedaan budaya. Inilah mengapa Jetrada tahun ini mengangkat ‘harmoni dalam keanekaragaman budaya’.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini menampilkan beberapa rangkaian acara seperti atraksi kesenian yang ditampilkan di aula hotel Madyara, kegiatan observasi di perkampungan nelayan yang berlokasi di kelurahan Koto Jaya. Kelurahan ini merupakan sentral produksi ikan asin di Kab. Muko-muko. Objek observasi dalam kegiatan observasi adalah Benteng Anna yang berada di gerbang memasuki perkampungan nelayan. Acara terakhir adalah diskusi hasil observasi di aula Bappeda Kab. Muko-muko.

Peserta menerima pembekalan/Foto: Reza
Peserta menerima pembekalan/Foto: Reza
Acara penutupan dihadiri oleh asisten III Bupati Kab. Muko-muko, Kepala Dinas Pendidikan dan Perkantoran sekaligus pengumuman peserta terbaik yang akan mewakili BPNB Padang pada Jejak Tradisi Nasional di Surabaya pada Bulan Agustus 2015 dan grup kesenian terbaik. Sebagai peserta terbaik antara lain Iwa Salji Ebi Satria dari SMA N 2 Muko-muko (terbaik I), Nugiarta Pratama dari SMA N 1 Pagar Alam (terbaik II), Kartika dari SMA N 7 Muko-muko (terbaik III), Ranti Tricia Putri dari SMA Pembangunan Laboratorium UNP Padang (terbaik IV). Sementara untuk grup kesenian terbaik adalah SMA N 1 Pagar Alam (terbaik I), SMA N 1 Putri Hijau (terbaik II), SMA Pembangunan Laboratorium UNP Padang (terbaik III).
Tari piring/Foto:Reza
Tari piring/Foto:Reza
Melihat antusiasme peserta dalam mengikuti kegiatan ini, maka harapannya perlu di masa depan melaksanakan kegiatan Jejak Tradisi Daerah dengan waktu yang lebih banyak serta melibatkan lebih banyak sekolah. Tentu saja hal ini akan membutuhkan anggaran yang lebih besar dan membutuhkan dukungan Pemda yang lebih pro aktif.
Randai/Foto: Reza
Randai/Foto: Reza

– Marbun –

Menemukenali Keanekaragaman Budaya Melalui Jejak Tradisi Daerah

0

Ketua pelaksana Jetrada, Hasanadi, SS
Ketua pelaksana Jetrada, Hasanadi, SS
Padang. Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang, dalam usaha melestarikan dan mengembangkan kebudayaan akan menyelenggarakan kegiatan Jejak Tradisi Daerah (JETRADA) tahun 2015 dengan tema: “Menemukenali keanekaragaman budaya masyarakat Provinsi Bengkulu”. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 18 – 20 Mei 2015 di Kabupaten Muko-muko Provinsi Bengkulu, dengan melibatkan peserta siswa SLTA sederajat sekitar 90 orang siswa yang berasal dari tiga wilayah kerja yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Kegiatan ini dimaksudkan sebagai media belajar bagi para peserta kegiatan, terutama dalam rangka menemukenali berbagai keunikan yang mengemuka dari aspek-aspek kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Provinsi Bengkulu. Peserta kegiatan Jejak Tradisi Daerah akan berkunjung serta terlibat secara aktif dan reaktif (belajar : mengamati, bersilaturahmi, menulis dan berdiskusi) dengan berbagai kegiatan kebudayaan yang berlangsung di lokasi kegiatan sesuai tema kegiatan yang dipilih. Para peserta kegiatan Jejak Tradisi Daerah juga akan ikut berpartisipasi dalam upaya memperkenalkan kekhasan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat daerah mereka masing-masing, baik melalui bahasa, pengetahuan, kebiasaan, kesenian dan berbagai bentuk tradisi yang terus dikembangkan oleh daerah-daerah dimaksud.

Menurut ketua pelaksana Hasanadi, SS, tujuan diadakannya Kegiatan Jejak Tradisi Daerah di Provinsi Bengkulu tahun 2015 adalah, Pertama, menemukenali potensi kebudayaan (jejak-jejak tradisi) daerah Provinsi Bengkulu dalam rangka merevitalisasi nilai-nilai kearifan lokal (local genious) masyarakat pemiliknya. Kedua, memperkenalkan potensi kebudayaan (jejak-jejak tradisi) daerah Provinsi Bengkulu kepada generasi muda, terutama dalam rangka menumbuh kembangkan kecintaan serta semangat pelestarian. Ketiga, memotifasi masyarakat daerah Provinsi Bengkulu guna melakukan kegiatan-kegiatan strategis dan berkelanjutan dalam upaya pelestarian kebudayaan (jejak-jejak tradisi) mereka.

Rencananya kegiatan Jejak Tradisi Daerah Provinsi Bengkulu akan dirangkai dalam beberapa kegiatan seperti: Pembuatan karya tulis ilmiah (KTI), penampilan atraksi kesenian, diskusi dan Survey lapangan yang dilakukan oleh peserta sekaligus presentasi laporan hasil survey.

Kegiatan Jejak Tradisi Daerah 2015 merupakan kegiatan positif dan strategis untuk dilakukan, terutama dalam rangka menemukenali, melestarikan serta mewariskan nilai-nilai kearifan lokal (local genious) masyarakat Provinsi Bengkulu yang mengemuka dari berbagai aspek kebudayaan (tradisi) yang dimiliki oleh masyarakat di Provinsi Bengkulu. Jejak-jejak tradisi (kebudayaan) daerah masyarakat Provinsi Bengkulu merupakan bagian dari khasanah budaya Bangsa Indonesia yang sejatinya bertahan-eksis serta tetap mampu berkontribusi dalam mewujudkan kemapanan tatanan kehidupan sosial budaya masyarakat Provinsi Bengkulu dimasa sekarang. Upaya pengenalan ulang aspek-aspek kebudayaan (jejak-jejak tradisi) dimaksud; melibatkan masyarakat daerah sebagai pewaris aktif dan generasi muda sebagai penerus kejayaan kebudayaan, merupakan proses penting yang mengindikasikan terus berlanjutnya upaya “pembelajaran parsitipatif kebudayaan” pada era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

FGD Inventarisasi Permainan Tradisional Kabupaten Musirawas

0

Kadisbudpar Drs. Jemain bersama ketua tim inventarisasi Yulisman dalam kegiatan FGD
Kadisbudpar Drs. Jemain bersama ketua tim inventarisasi Yulisman dalam kegiatan FGD
Lubuk Linggau, BPNB Padang melaksanakan Fokus Grup Diskusi (FGD) Inventarisasi Permainan Tradisional Prov. Sumatera Selatan. FGD ini merupakan salah satu metode yang digunakan oleh tim inventarisasi dalam mengumpulkan data sebanyak-banyaknya terkait permainan tradisional di Sumatera Selatan khususnya di Kabupaten Musi Rawas. Kegiatan ini menghadirkan tokoh-tokoh masyarakat, Mahasiswa, pemangku adat dan perwakilan dari Dinas kebudayaan dan pariwisata, Dinas Pemuda dan Olahraga dan Dinas Pendidikan Kabupaten Musirawas. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 05 Mei 2015 di Hotel Sempurna Kota Lubuk Linggau.

FGD ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Musi Rawas Bapak Drs. Jemain. Pada kesempatan itu, Drs. Jemain menyatakan menyambut baik kegiatan inventarisasi permainan tradisional dan bangga Kabupaten Musi Rawas terpilih sebagai tempat inventarisasi. Beliau juga mendorong semua pihak untuk ke depannya bisa mengangkat permainan tradisional dalam memeriahkan berbagai perayaan-perayaan daerah.

“Kesempatan yang baik ini atas nama pemerintah kabupaten musirawas menyambut baik dan mendukung untuk menggali dan melestarikan permainan-permainan tradisional ini, nanti kita juga mengharapkan untuk dispora untuk merencanakan yang akan datang tidak hanya tarik tambang, senam dumang dan sebagainya tapi permainan tradisional untuk diprogramkan pada hari jadi Kabupaten Musi Rawas” paparnya.

Beliau juga menambahkan bahwa akhir-akhir ini permainan tradisional semakin hilang dengan adanya modernisasi permainan anak-anak akibat perkembangan teknologi. Permainan modern sendiri cenderung mempunyai dampak negative bagi anak-anak zaman sekarang, seperti anak-anak kurang pergerakan, menjadi individualis dan cenderung cuek. Disamping itu, permainan anak-anak kini semakin mendorong anak menjadi anti sosial.

FGD 2Untuk itu perlu menggali kembali nilai-nilai permainan tradisional dan melestarikan permainan menjadi permainan yang disenangi oleh anak-anak kita.

Sementara menurut ketua Tim Pelaksana Inventarisasi Permainan Tradisional Sumatera Selatan Yulisman, SH. Kegiatan FGD ini selain bertujuan untuk mendata dan menggali nilai-nilai, kegiatan ini juga menjadi satu syarat untuk ke depannya bisa mengajukan karya permainan tradisional menjadi warisan budaya nasional dan selanjutnya akan diusulkan menjadi warisan budaya dunia. Sehingga keluaran dari kegiatan inventarisasi ini nantinya terdiri dari laporan hasil inventarisasi, booklet, dan rekaman.

Dalam kesempatan FGD tersebut diketahui sangat banyak permainan-permainan tradisional yang sering dimainkan pada masa lalu yang kemudian punah. Selain perkembangan teknologi yang mendorong anak meninggalkan permainan tersebut karena dianggap kurang menarik, semakin sempitnya lahan yang bisa dimanfaatkan untuk tempat bermain menjadi satu faktor penyebab hilangnya permainan.

– Marbun –

Inventarisasi Permainan Tradisional Sumatera Selatan dilaksanakan di Kabupaten Musi Rawas

0

Musi Rawas, Kegiatan Inventarisasi Permainan Tradisional Propinsi Sumatera Selatan BPNB Padang dilaksanakan di Kabupaten Musi Rawas. Kegitan ini berlangsung selama 10 hari, dari tanggal 28 April – 8 Mei 2015.

Wawancara tim dengan warga setempat
Wawancara tim dengan warga setempat
Menurut ketua tim inventarisasi, Yulisman, SH pemilihan Kabupaten Musirawas sebagai lokasi pelaksanaan inventarisasi didasarkan pada data awal dari berbagai referensi yang sudah terkumpul bahwa di Kabupaten Musi Rawas masih terdapat beberapa permainan yang asli, berbeda dengan wilayah-wilayah lain dan masih tetap bertahan sampai sekarang.

“Pemilihan Kabupaten Musi Rawas lebih dikarenakan berdasarkan referensi yang telah ada bahwa ada permainan yang benar-benar asli berasal dari daerah ini. Sementara untuk wilayah lain sudah banyak kesamaan dengan daerah-daerah lain di Indonesia”. Demikian pernyataan Yulisman.

Hompimpa
Hompimpa
Hal ini berkaitan dengan masih banyaknya desa-desa alami di Kabupaten Musi Rawas yang belum begitu tersentuh oleh modernisasi. Artinya masih banyak desa-desa alami yang memungkinkan anak-anak bisa memainkan permainan tanpa diganggu oleh arus perkembangan teknologi serta lokasi yang mendukung permainan tersebut.

Selama pelaksanaan kegiatan inventarisasi ini, beberapa desa dari beberapa kecamatan dikunjungi tim untuk mengumpulkan data-data terkait permainan tradisional. Beberapa desa tersebut diantaranya Desa Tanah Periuk, Desa Lubuk Tua di Kecamatan Muara Kelingi, Desa Muara Beliti Kecamatan Muara Beliti, Kecamatan Tugu Mulyo dan Kecamatan Sumber Harta.

Selain melakukan observasi ke tempat-tempat permainan anak-anak, tim juga melakukan wawancara dengan orang-orang tua yang mungkin pada masa remajanya pernah memainkan permainan tradisional. Selain itu, tim juga mengadakan Fokus Grup Diskusi (FGD) untuk menggali informasi yang lebih mendalam terkait permainan tradisional.

Ada banyak permainan tradisional yang bisa ditemukan di daerah-daerah tersebut, baik permainan tersebut sudah hilang namun masih jelas diingatan orang-orang tua yang berusia 50 tahun ke atas, maupun yang masih sering dimainkan oleh anak-anak di daerah tersebut. beberapa permainan tersebut mempunyai kesamaan dengan permainan-permainan yang ada di wilayah lain di Indonesia seperti ‘Engkling’, ‘Patok lele’, dan lain-lain. Permainan-permainan tersebut hanya berbeda nama saja dengan wilayah lain. Namun, ada juga permainan yang benar-benar berbeda dengan wilayah lain seperti ‘bas-basan’ atau bebas.

Bas Bas an
Bas Bas an
Dengan adanya inventarisasi dan kajian atas nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tersebut, ke depannya permainan tradisional bisa dihidupkan kembali dan dimasyarakatkan.

Selain itu, kegiatan inventarisasi ini adalah sebagai langkah awal dalam mengajukan karya budaya untuk didaftarkan sebagai warisan budaya nasional dan selanjutnya menjadi warisan budaya dunia. Sehingga hasil dari kegiatan inventarisasi ini nantinya akan berupa laporan hasil penelitian, booklet, dan rekaman.

– Marbun –

Kegiatan Inventarisasi Permainan Tradisional Sumatera Selatan Dimulai

0

Ketua Tim Inventarisasi Sumatera Selatan
Ketua Tim Inventarisasi Sumatera Selatan
Lubuk Linggau. Dalam rangka melestarikan karya budaya tradisional, salah satu kegiatan rutin Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang adalah melaksanakan inventarisasi karya budaya. Kegiatan inventarisasi ini dimaksudkan untuk mencatat semua karya-karya budaya tradisional seperti kesenian, masakan, lagu, pakaian, permainan dan lain-lain. Karya budaya tersebut tidak hanya yang masih eksis namun juga yang sudah mulai punah. Hal ini selain bermanfaat untuk mengenali kekayaan budaya kita, juga untuk mencegah kepunahan karya budaya serta klaim asing atas karya-karya masyarakat kita. Selayaknyalah kita mulai menghargai karya budaya asli kita.

Untuk program tahun anggaran 2015, BPNB Padang memfokuskan kegiatan inventarisasi pada permainan tradisional. Kita mempunyai banyak permainan tradisional yang tumbuh dan berkembang pada masa lalu, namun kini punah seperti tidak berbekas. Selain perkembangan teknologi yang begitu pesat sehingga membuat permainan tradisional semakin ditinggalkan dan beralih ke permainan-permainan modern, misalnya play station, game online dan sebagainya. Pertumbuhan penduduk juga membuat semakin sempitnya lahan yang bisa dimanfaatkan untuk bermain karena sudah dialihfungsikan menjadi pemukiman. Kepadatan pemukiman membuat tidak ada lagi tempat untuk bermain yang memang membutuhkan tempat yang luas.

Faktanya perubahan permainan anak dari yang tradisional menjadi permainan modern, juga turut mengubah moral dan perilaku anak. Permainan tradisional pada hakekatnya mengandung nilai-nilai pembentuk moral seperti kejujuran, sportifitas, kebersamaan dan sebagainya. Disamping itu, anak-anak yang memainkan permainan tradisional mampu menciptakan kebahagiaan mereka sesama anak secara bersama-sama. Berbeda dengan permainan modern yang cenderung mendorong anak menjadi cuek, individualis dan malah menjadi anti sosial.

Oleh karena itu kegiatan inventarisasi ini begitu penting untuk mengenali kembali permainan tradisional yang dahulu sangat digandrungi oleh masyarakat, bagaimana bentuk permainannya, dan nilai-nilai apa yang terkandung yang patut diteladani dalam permainan tersebut. Selain melakukan pencatatan, kegiatan ini juga bermaksud untuk menggali jenis permainan apa yang masih eksis dan bagaimana strateginya sehingga bisa bertahan sampai sekarang.

Kegiatan inventarisasi ini dilaksanakan di tiga wilayah kerja BPNB Padang yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Kegiatan pertama dilaksanakan di Sumatera Selatan yang akan dilaksanakan tanggal 28 April – 08 Mei 2015. Tim inventarisasi terdiri dari Yulisman SH (ketua) dengan beranggotakan Hasanadi dan Firdaus. Kegiatan ini nantinya akan menghasilkan Output berupa laporan kegiatan, booklet dan rekaman permainan. Sehingga dalam pelaksanaannya kegiatan inventarisasi dilaksanakan dengan metode wawancara, FGD dan perekaman.

Menurut ketua tim inventarisasi Sumatera Selatan Yulisman, SH, dengan adanya inventarisasi ini maka kekayaan karya-karya budaya khususnya permainan tradisional bisa terdata secara baik, dikenali banyak orang dan lebih penting lagi masyarakat kita mampu meneladani nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tersebut.

Kegiatan inventarisasi ini juga menjadi langkah awal dalam mengusulkan permainan tradisional sebagai warisan budaya nasional maupun warisan budaya dunia ke UNESCO.

– Marbun –

Daftar Kegiatan Penelitian BPNB Padang Tahun 1998 -2013

0

Sebagai upaya mewujudkan visi dan misi Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang, serta tugas dan fungsi BPNB berdasarkan Permendikbud nomor 53 tahun2012, maka berbagai aktifitas rutin telah dilaksanakan BPNB Padang. Bentuk-bentuk aktifitas rutin yang dilakukan antara lain seperti riset/kajian, seminar, dan diskusi; penulisan aspek-aspek tradisi, kepercayaan, perfilman dan kesejarahan; pendokumentasian aspek-aspek tradisi, kepercayaan, kesenian, perfilman dan kesejarahan serta pelayanan masyarakat.

Sejak BPNB Padang berdiri, telah banyak melakukan kegiatan penelitian/kajian di tiga wilayah kerja yaitu Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan, baik berupa kajian kesejarahan maupun kajian budaya. kajian-kajian tersebut dirangkum dalam daftar terlampir di bawah ini.

1. Penelitian di Sumatera Barat (Daftar Penelitian SUMBAR)
2. Penelitian di Bengkulu (Daftar Penelitian BENGKULU)
3. Penelitian di Sumatera Selatan (Daftar Penelitian SUMSEL)

– Marbun –

Diskusi Festival Matrilineal di Nagari Sijunjung Kabupaten Sijunjung

0

20150416_104632-1Sijunjung, Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang menghadiri undangan diskusi yang diadakan wali nagari Sijunjung terkait pelaksanaan Festival Matrilineal yang akan dilaksanakan di nagari Sijunjung. Diskusi diadakan pada kamis 16 April 2015 pukul 10.30 wib. Diskusi ini melibatkan sekitar 60 orang peserta yang juga dihadiri oleh Camat Sijunjung, DanRamil Kec Sijunjung, Walinagari, Perwakilan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumatera Barat, Dinas Pariwisata Seni Budaya, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sijunjung, ninik mamak nagari sijunjung serta bundo kanduang serta masyarakat setempat.
20150416_100503
Diskusi yang dibuka oleh perwakilan Dinas pariwisata, seni Budaya dan pemuda dan olahraga Sijunjung ini dimaksudkan sebagai persiapan menjelang pelaksanaan Festival Matrilineal di Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung Kabupaten Sijunjung. Apa saja yang harus dipersiapkan semua pihak yang berkepentingan dan bagaimana mempersiapkannya. Hal ini berhubung bahwa pagelaran Festival Matrilineal ini merupakan alek gadang (pesta besar) yang harus dipersiapkan dengan matang. Festival Matrilineal yang akan dilaksanakan pada 25 Oktober sampai 1 November 2015.

Dalam kesempatan itu semua perwakilan menyatakan sangat mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya inisiatif BPNB Padang mengadakan kegiatan Festival Matrilineal sekaligus menjadi alat dalam memperkenalkan budaya matrilineal ke penjuru dunia. Lebih khusus lagi masyarakat nagari sijunjung sangat antusias dan akan berupaya keras dalam mewujudkan kesuksesan Festival Matrilineal. Sebagai bentuk antusiasme, masyarakat mengusulkan untuk membentuk panitia lokal sebagai tulang punggung pelaksanaan kegiatan. Tim ini nantinya akan berkoordinasi dengan panitia BPNB Padang terkait perkembangan pekerjaan di lapangan.
20150416_110926
Hal lain yang menjadi pokok bahasan dalam diskusi adalah hal-hal yang harus dipersiapkan dalam menyambut tamu khususnya para peserta dari luar negeri. Disepakati bahwa dalam penyambutan peserta luar negeri sebaiknya apa adanya saja sehingga menunjukkan keaslian budaya matrilineal tersebut. Hanya saja untuk tempat menginap, beberapa fasilitas seperti toilet harus ada, kesediaan air yang cukup, dan paling utama adalah kebersihan pekarangan. Selain itu ternak-ternak yang masih liar juga perlu ditertibkan. Untuk itu, akan segera dibuat peraturan nagari untuk mengatur hal-hal tersebut yang nantinya akan disosialisasikan kepada setiap peduduk melalui ninik mamak dan bundo kanduang. Selain itu, cara berpakaian juga menjadi sorotan dalam diskusi tersebut khususnya para anak-anak. Hal ini untuk menjaga kesan baik bagi para pengunjung nantinya.
20150416_110918
Undri, S.S, M.Si mewakili ketua pelaksana kegiatan Festival Matrilineal dalam kesempatan itu menyatakan bahwa pelaksanaan festival matrilineal bisa sukses jika didukung oleh semua pihak. Maka dalam hal ini perlu untuk membagi tugas sesuai dengan kemampuan. Karena suksesnya sebuah kegiatan adalah adanya soliditas antara masing-masing pihak untuk saling bekerja sama sehingga kegiatan tersebut lebih mudah dikerjakan. Pembagian tugas juga tidak bisa muluk-muluk, tapi sesuai fakta bahwa kita memang bisa melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.

Pada kesempatan itu juga Undri menyampaikan terima kasih banyak kepada masyarakat atas partisipasi dan antusiasme yang ditunjukkan masyarakat nagari sijunjung dan berharap kegiatan festival matrilineal yang telah dirancang bisa berjalan dengan sukses.

– Marbun –

Penonton Baretong di Hari Tarang Pesisir Selatan Membludak

0

Kepala BPNB Padang menyampaikan kata sambutan
Kepala BPNB Padang menyampaikan kata sambutan
Pesisir Selatan. Kegiatan revitalisasi kesenian tradisional ‘Baretong di Hari Tarang’ di Kabupaten Pesisir Selatan diikuti antusias oleh masyarakat setempat. Hal ini ditunjukkan dengan membludaknya penonton yang hadir menyaksikan acara tersebut dari awal sampai penutupan acara.

Kegiatan yang diketuai oleh Bu Dahlia Melsi ini dilaksanakan pada Sabtu, tanggal 11 April 2015 pukul 20.00 wib, dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesisir Selatan.

Salah satu tugas utama yang diemban oleh Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang dalam meningkatkan ketahanan budaya masyarakat adalah meningkatkan pemahaman Stakeholder akan pentingnya pelestarian, perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan nilai-nilai yang terdapat pada kesenian tradisional demi untuk menghadapi arus globalisasi.

Tari piring
Tari piring
Dalam menjalankan tugas tersebut, BPNB Padang dalam programnya melaksanakan kegiatan rutin yang disebut ‘Baretong di Hari Tarang’. Baretong di Hari Tarang merupakan kegiatan revitalisasi kesenian tradisional Minangkabau di propinsi Sumatera Barat.
Tujuan dari revitalisasi ini adalah berusaha membantu kelompok kesenian tradisional untuk lebih dikenal dan dicintai masyarakat, khususnya generasi muda. Disamping itu kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menumbuh kembangkan minat para generasi muda untuk mengetahui, merasakan serta ikut melestarikan kesenian tradisional Minangkabau.

Pertunjukan debus

Pertunjukan debus
Dalam kegiatan ‘Baretong di hari Tarang’ di Kab. Pesisir Selatan ini ditampilkan tiga pertunjukan kesenian tradisional yaitu tari pasambahan dari SMP Negeri 2 Pesisir Selatan, Tari Piring, pertunjukan Debus dari Grup Debus Baringin sakti serta pertunjukan Rabab dari Kabupaten Pesisir Selatan di Propinsi Sumatera Barat.
Pertunjukan Rabab
Pertunjukan Rabab

Tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan pertunjukan kesenian tradisional diharapkan mampu mendorong instansi-instansi terkait untuk ke depannya dapat mengadakan kegiatan serupa. Hal ini untuk tetap menjaga kelestarian kesenian-kesenian tradisional yang beberapa waktu belakangan ini semakin tererosi oleh derasnya arus globalisasi.

– Marbun –

‘Batagak Tonggak Tuo’

0

Oleh:Firdaus Marbun

(Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang)

Dalam masyarakat Minangkabau, batagak tonggak tuo dalam mendirikan rumah gadang memiliki peran dan keistimewaan tersendiri. Faktanya dewasa ini, upacara tersebut tidak lagi bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Upacara batagak tonggak tuo rumah gadang adalah salah satu bentuk upacara dari beberapa rangkaian upacara yang ada dalam pembangunan rumah gadang. Umumnya dalam pembangunan rumah gadang terdapat beberapa rangkaian upacara yang harus dilalui seperti: 1) Mufakat awal yaitu proses musyawarah antar orang-orang sekaum untuk membahas letak, ukuran dan kapan rumah akan dibangun. Hasil musyawarah akan dibawa ke penghulu untuk dibahas dengan penghulu-penghulu yang lain. 2) Maelo Kayu atau menarik kayu, kegiatan mencari bahan yang dibutuhkan dalam pembangunan rumah gadang. 3) Mancetak tonggak tuo, mengelola kayu menjadi tonggak dan merangkai tonggal tuo dengan tiang-tiang penyangga. 4) Batagak Tonggak Tuo, dilakukan setelah kegiatan merangkai tonggak tuo selesai dilakukan dan selanjutnya akan didirikan. 5) Manaikan kudo-kudo, menaikkan kuda-kuda dan 6) Manaiki Rumah, acara terakhir dari upacara batagak rumah. Manaiki rumah diadakan setelah rumah selesai, pada acara ini dilakukan penjamuan dan do’a bersama sebagai tanda terimakasih kepada semua dan doa syukur kepadaTuhan Yang Maha Kuasa.

Prakteknya batagak tonggak tuo merupakan kegiatan awal pembangunan rumah gadang setelah rangkaian pengambilan kayu (maelo kayu) dilakukan. Kegiatan ini merupakan peletakan batu pertama dan penanda dimulainya pembangunan rumah gadang. Hanya saja istilah yang dipakai oleh masyarakat Minangkabau adalah batagak tonggak tuo. Hal ini berbeda dengan pendirian bangunan-bangunan pada umumnya yang diawali dengan peletakan fondasi. Pada pembangunan rumah gadang, hal yang paling awal dikerjakan adalah kerangka bangunannya, kemudian menyusul fondasi bangunan. Ketika kerangka bangunan selesai dan fondasi telah dibuat, selanjutnya meletakkan tonggak ke atas fondasi yang sudah disiapkan, baru pengerjaan seluruh bangunan dilanjutkan.

Secara filosofis, elemen dalam batagak tonggak tuo yakni tonggak tuo itu sendiri. Tonggak tuo dalam rumah gadang bisa diistilahkan dengan orang yang dituakan dalam masyarakat Minangkabau. Orang yang dituakan yang menjadi tauladan, sokoguru dan panutan dalam berperilaku bagi masyarakatnya. Orang yang dituakan ini tidak harus tua secara usia, namun lebih kepada luas wawasan dan pengalaman hidup yang dimiliki. Orang yang dituakan inipun berperan sebagai penjaga adat dan tradisi, penjaga agama dan mengajarkan arti kehidupan kepada seluruh masyarakat Minangkabau. Dia menjadi guru bagi masyarakat karena keluasan wawasan dan pengetahuannya. Tentu saja, orang yang dituakan tidak bisa berdiri sendirian tanpa dukungan dari masyarakat banyak dan tanpa pengakuan. Seorang tua, harus selalu ada bersama-sama dengan rakyatnya, hidup ditengah-tengah masyarakat dan menjadi tempat bergantung masyarakatnya.

Tonggak tuo adalah satu-satunya tiang yang berdiri tegak lurus dan terletak di bagian tengah rumah gadang. Sementara tiang yang lain yang ada disekelilingnya berdiri agak miring dan berfungsi sebagai penyokong tiang utama. Jika semua ujung tonggak yang miring dan lurus diteruskan ke bawah maka akan bertemu pada satu titik di dalam bumi yang disebut dengan maantak ka pusek bumi. Masing masing tiang akan dihubungkan dengan palanca yang utuh atau tidak bersambung dan lurus. Ini menunjukkan hubungan antara satu tiang dengan tonggak tuo tidak bisa dipisahkan. Tonggak tuo akan berdiri kokoh jika disokong oleh tiang tiang yang lain, sementara tiang tiang-tiang yang lain tidak bisa berdiri tanpa ada tiang utama. Bisa dikatakan tiang utama sebagai tiang penjuru.

Batagak tonggak tuo merupakan upacara yang dirayakan dengan baralek (pesta) besar. diawali dengan ritual doa bersama sebagai bentuk ucapan syukur dan meminta izin kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dimulainya pembangunan. Memohon kepada yang maha kuasa agar proses pembangunan rumah gadang berjalan dengan lancar tanpa hambatan yang berarti, selalu diridhoi dan selanjutnya masyarakat khususnya pemilik rumah gadang hidup sejahtera dan makmur dalam menempati rumah nantinya.

Upacara ini dilengkapi dengan simbol-simbol yang dipercaya masyarakat Minangkabau mengandung nilai-nilai keselamatan, kemakmuran dan kekuatan. Simbol-simbol yang digunakan sebagai pelengkap ritual ada ayam, tandan buah pisang, mayang pinang dan tunas kelapa. Simbol-simbol ini oleh masyarakat dipercaya melambangkan kekuatan, keselamatan, kesuburan dan kemakmuran. Setelah ritual doa bersama dilakukan, maka secara bersama-sama masyarakat melaksanakan batagak tonggak tuo. Selesai acara batagak tonggak tuo dilaksanakan, acara diakhiri dengan makan bersama seluruh masyarakat yang hadir dalam acara batagak rumah gadang tersebut.

Nilai dalam Batagak Tonggak Tuo

Terdapat nilai gotong royong dan kebersamaan pada proses pelaksanaan batagak tonggak tuo rumah gadang. Nilai ini bisa kita temukan baik sebelum upacara dilakukan maupun pada saat acara batagak itu sendiri. Sebelum batagak tonggak tuo rumah gadang dilaksanakan, para warga kaum atau warga nagari akan beramai-ramai mengadakan gotong–royong untuk mencari bahan berupa kayu pohon yang dinilai cocok untuk dijadikan tonggak tuo rumah gadang. Kegiatan pencarian kayu ini memakan waktu lama dan tenaga yang besar. Tonggak tuo ini diambil dari hutan konservasi milik kaum atau hutan ulayat kaum. Pengangkatan kayu yang ditebang kemudian dibawa ke tempat pembangunan harus dilakukan secara bergotong royong. Hal ini mengingat kayu yang digunakan untuk tonggak tuo begitu besar dan panjang, tentu sangat berat. Jadi proses pengangkatan dilakukan bersama-sama. Kalau jaman dulu akan digotong secara bersama. Demikian juga dengan tiang-tiang yang lain semua diangkut dengan cara bergotong royong.

Setelah tonggak atau tiang diperoleh dan dirasa cukup maka pekerjaan berikutnya adalah membuat kerangka tonggak tuo. Membuat kerangka tonggak tuo ini dikerjakan oleh para tukang tuo. Tukang tuo adalah orang-orang yang ahli dan memiliki pengalaman mumpuni dalam membuat rumah gadang. Setelah tonggak tuo selesai dirangkai, pekerjaan selanjutnya adalah batagak tonggak tuo. Inilah acara puncak dalam batagak tonggak tuo rumah gadang. Dalam acara ini akan melibatkan lebih banyak orang, hal ini dikarenakan kerangka tonggak tuo akan jauh lebih berat. Satu hal yang sangat patut untuk diteladani adalah semua orang-orang yang terlibat dalam upacara batagak tonggak tuo adalah relawan yang tanpa dibayar. Hal ini menunjukkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang sangat kental di masyarakat.

Kekinian, nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan yang sangat kental dalam pembangunan rumah gadang lama kelamaan semakin terkikis seiring dengan semakin jarangnya pembangunan rumah gadang. Kehidupan modern yang lebih menawarkan dominasi egoisme menjadi sangat merusak moral masyarakat masa kini. Dengan menghidupkan kembali aktifitas budaya seperti batagak tonggak tuo, maka diharapkan nilai-nilai itu bisa tertanam kembali dan bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya dalam pembangunan rumah gadang nilai itu bisa diterapkan, tapi juga dalam aktivitas kehidupan yang lebih luas.

‘Kieh Jo Kato’ dan Karakter Masyarakat Minangkabau

0

Oleh: Silvia Devi
(Staf Fungsional di Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang)

Saat ini generasi muda di Minangkabau sudah banyak yang kurang mengerti dengan kieh jo kato. Di keluarga kita saja, menghardik anak sebuah solusi ketika kieh jo kato tidak lagi menjadi senjata ampuh untuk menyelesaikan suatu masalah. Padahal kieh jo kato ini merupakan salah-satu metode dalam mendidik yang bertujuan membentuk karakter orang Minangkabau dengan berdasarkan falsafah alam takambang jadi guru. Kieh adalah cara menyampaikan sesuatu dengan tidak berterus terang atau menggunakan perumpamaan, bisa dengan sindiran yang bersifat pujian maupun cemoohan. Navis (1984) dengan menariknya menjelaskan bahwa kieh juga dikenal dengan istilah sindia, hereanggendeang, dan kato malereang. Penggunaan kieh biasanya menunjukkan nilai kesopanan yang tinggi sehingga orang yang diajak berkomunikasi tidak merasa direndahkan. Sedangkan kato adalah cara menyampaikan sesuatu dengan berterus terang atau terbuka akan tetapi tetap memperhatikan pemilihan kata-kata yang digunakan.

Sebagai orang Minangkabau, dalam berbahasa sudah seharusnya mengerti akan kieh jo kato seperti ungkapan tau di kieh kato sampai. Di dalam berinteraksi antara sesama dengan melakukan sebuah komunikasi, tentu terdapat adab sopan santun dalam berbahasa agar interaksi tersebut dapat berjalan dengan baik. Jika dalam berinteraksi, komunikasi yang digunakan tidak sopan, maka bisa dibayangkan akan terjadi kesalahpahaman yang bukan tidak mungkin berujung pertumpahan darah. Oleh karena itu sangat perlu diperhatikan dengan siapa kita berkomunikasi, dalam situasi apa dan dengan pemilihan bahasa yang tepat. Hal ini dilakukan agar maksud yang akan disampaikan dalam berkomunikasi dapat tersampaikan dengan baik.

Penggunaan bahasa kieh pada orang Minangkabau sangat tertata rapi dalam ragam bahasa adat. Hal ini terlihat dalam setiap penyelenggaraan prosesi adat baik itu kelahiran, perkawinan, penobatan gala sampai pada prosesi kematian. Penggunakan kieh berlaku di semua daerah di Minangkabau dan dapat dilihat pada petatah petitih, pidato adat atau nasehat yang diungkapkakan dalam setiap rangkaian prosesi tersebut.

Oktavianus dan Ike Revita (2013: 130) mengungkapkan bahwa orang Minangkabau yang menggunakan bahasa kiasan (kieh) menggambarkan sebagai masyarakat yang memiliki budaya yang bersifat dinamis, terbuka dan fleksibel. Penggunaan metafora dalam kieh menunjukkan kesantunan yang mampu menjaga harga diri masing-masing pihak agar terhindar dari konflik. Biasanya konflik terjadi berawal dari kesalahpahaman dalam pemakaian bahasa. Oleh karena itu masyarakat Minangkabau dalam berkomunikasi sangat dianjurkan untuk berhati-hati seperti ungkapan bakato siang caliak-caliak, bakato malam danga-dangaan.

Kieh sangat dikenal dalam sastra Minangkabau, dan juga berlaku dalam ruang lingkup kebudayaan Minangkabau secara luas. Hal ini sesuai dengan falsafah yang dianut oleh orang Minangkabau yakni alam takambang jadi guru. Alam menjadi sumber inspirasi dan berperilaku dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Oleh karena itu gambaran alam akan menjadi perumpamaan yang sangat tepat bagi orang Minangkabau yang hidupnya sangat bergantung dengan alam.

Karakter

Karakter seseorang dibentuk semenjak usia dini. Oleh karena itu apabila yang ditanam kebaikan maka akan menuai kebaikan kelak di masa pertumbuhan dan perkembangannya menuju kedewasaan. Thomas Lickona (1991) mengungkapkan bahwa kualitas karakter suatu masyarakat dicirikan dari kualitas karakter generasi mudanya. Hal ini bisa menjadi indikator penting apakah suatu bangsa bisa maju atau tidak. 10 tanda dari karakter generasi muda yang perlu dicemaskan karena akan mendatangkan kehancuran salah satunya yakni penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk.

Penananam karakter yang berkualitas menjadi sangat penting dilakukan sejak usia dini. Terlebih dengan semakin kuatnya arus globalisasi yang sulit untuk dibendung. Tempat pendidikan karakter yang paling pertama dan utama adalah keluarga. Perihal ini berkenaan dengan pentransferan kieh jo kato. Pentransferan kieh jo kato tersebut memiliki metode, begitu juga dengan orang Minangkabau sebagai penganut matrilineal.

Metode kieh jo kato dalam pendidikan masyarakat matrilineal sudah diajarkan nenek moyang masyarakat Minangkabau. Metode ini bertujuan dalam menyampaikan pesan-pesan yang bernilai edukatif dari seorang mamak, ibu dan anggota kerabatnya. Kieh jo kato yang bersumber dari alam menjadi pedoman masyarakat dalam memupuk ketajaman berfikir yang membentuk karakter seseorang. Ungkapan-ungkapan kieh dapat bernilai positif seperti ibaraik ilmu padi, makin barisi makin tunduk (ibarat ilmu padi, makin berisi makin tunduk). Kieh ini mengajarkan agar orang-orang yang tinggi ilmunya tidak menjadi orang yang sombong [Jamna,?].

Kieh yang diajarkan dalam sistem matrilineal orang Minangkabau salah satunya alasan menjadi penting adalah dikarenakan sistem keluarga luas yang dianut. Adanya pola hubungan kekerabatan ipa bisan, anak kemenakan, minantu mintuo, dimana hubungan yang tercipta jika tidak disikapi dengan baik akan mudah menimbulkan konflik. Begitu juga sebaliknya, jika anggota keluarga luas semakin bisa menyikapi dengan ketajaman berfikir dari kesopanan berbahasa dalam menggunakan kieh jo kato maka akan menciptakan hubungan keluarga yang harmonis. Meskipun kieh yang akan disampaikan tujuannya untuk menyindir atau bahkan mencemooh pihak lain, akan tetapi dengan penyampaian menggunakan kieh maka tidak akan secara langsung membuat emosi seseorang tidak terkendali dikarenakan merasa direndahkan. Itulah keistimewaan penggunaan bahasa kieh yang menjadi kebanggaan budi bahasa, terutama orang Minangkabau.

Berbeda halnya dengan metode kato yang menyampaikan pesan atau maksud dengan menggunakan kata-kata secara langsung berterus terang. Aggota keluarga luas juga menerapkan pendidikan karakter dengan keterbukaan atau jujur. Jika ada suatu pesan yang disampaikan maka akan diungkapkan tidak menggunakan kieh. Penggunaan kato harus memperhatikan kepada siapa ditujukan, dimana tempat menyampaikan dan situasi dalam penyampaian kato tersebut. Hal ini dikarenakan akan berdampak langsung kepada pihak yang akan menerima pesan. Meskipun orang Minangkabau sangat menyukai keterbukaan, yang lebih diutamakan adalah kehati-hatian dalam memilih kata-kata yang akan disampaikan. Seperti ungkapan kok mangecek maagak-agak, pikiakan kalau bakato, tapi usah katokan nan tapikia, sabab luko di pisau tampak darah, duo tigo taweh panawa, tapi luko di lidah sulik ubeknyo. Ungkapan itu sangat ditekankan kepada anak kemenakan sebagai jiwa-jiwa yang penuh gejolak yang terkadang dengan sangat emosional dalam mengungkapkan isi hatinya, sehingga kurang memikirkan akibat di belakangnya.

Harapan ke depannya, kieh jo kato menjadi hal yang penting untuk dipelajari, dipahami dan dilaksanakan. Hal ini bertujuan dalam pembentukan karakter seseorang terutama generasi muda menjadi karakter yang berkualitas.

Lawatan Sejarah Daerah ke-13 BPNB Padang Sukses

0

IMG_7103Muara Enim, —Pelaksanaan Lawatan Sejarah Daerah ke-13 Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang berlangsung dengan sukses. Kegiatan ini berlangsung pada 24-28 Maret 2015 di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Diikuti sekitar 110 orang peserta termasuk 90 orang diantaranya pelajar SLTA dari tiga provinsi wilayah kerja BPNB Padang yaitu Sumbar, Bengkulu dan Sumsel. Rencana awal kegiatan ini dilaksanakan empat hari tiga malam, namun berkat dukungan PT. Tambang Bukit Asam, kegiatan ini berlangsung menjadi empat malam lima hari.

Pembukaan kegiatan Laseda ke 13 dilaksanakan di Gedung Serbaguna PT.Bukit Asam (Persero) Tbk Tanjung Enim oleh Plt. Sekda Muara Enim Hasanuddin. Pada kesempatan itu, beliau menyatakan pemerintah daerah sangat mengapresiasi dan mendukung pelaksanaan Laseda ke-13. Hal ini dikarenakan bahwa saat ini nilai budaya mulai tergerus dan terlupakan. Jadi kegiatan ini bisa untuk memberitahukan dan menyebarluaskan sejarah perjuangan dan kebudayaan kepada generasi muda khususnya di Kabupaten Muara Enim. Beliau juga menambahkan bahwa Muara Enim mempunyai potensi alam dan merupakan salah satu lumbung energi di Sumatera Selatan.

“Muara Enim juga mempunyai potensi alam terbesar yakni batubara. Hal ini ditandai keberadaan PT.Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA). Kabupaten Muara Enim adalah lumbung energi di Sumsel. Disamping itu, Muara Enim juga memiliki budaya yang khas. Tradisi budaya itu bisa dilihat di daerah Semende dan Bumi Ayu,” terang Hasanudin.

Tujuan kegiatan Lawatan Sejarah Daerah ini, menurut Kepala BPNB Padang Drs.Nurmatias adalah sebagai pembelajaran dan untuk mengenalkan sejak dini kekayaan budaya dan peninggalan sejarah di Kabupaten Muara Enim. Sehingga dapat menumbuhkan rasa cinta dan menghargai sejarah dan budaya dalam diri generasi muda khususnya para siswa yang terlibat.

“Kegiatan ini sebagai media pembelajaran generasi penerus tentang arti penting sejarah sekaligus mengenalkan sejarah kepada mereka. Dengan mengunjungi simbol-simbol kebudayaan di wilayah Kabupaten Muara Enim, juga memberikan pembekalan sejarah budaya bagi para siswa itu sendiri,” ujar Nurmatias .

IMG_7124Rangkaian kegiatan Laseda ke 13 ini diawali mengunjungi PT.Bukit Asam (Persero) Tbk, Semende dan terakhir candi Bumi Ayu di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir. Pada lawatan di PT. Bukit Asam, peserta mencoba mengetahui sejarah, seluk beluk pertambangan batubara dan komitmen PTBA terhadap masyarakat sekitarnya. Humas PT. Bukit Asam menyatakan bahwa ada strategi khusus dalam membangun hubungan yang baik dengan masyarakat melalui CSR, dimana CSR berusaha menjemput aspirasi masyarakat.
“CSR PT.Bukit Asam juga membantu dan membina masyarakat. Masyarakat yang terkena penyakit berbahaya juga dibiayai. Dan, CSR kita berusaha menjemput aspirasi masyarakat ke bawah,” ujar Eri.

IMG_7561Lawatan selanjutnya adalah Semende, salah satu daerah basis perjuangan rakyat di Kabupaten Muara Enim. Di daerah ini peserta menggali informasi tentang sejarah perjuangan daerah tersebut dengan melihat makam serta tugu Pahlawan Semende yakni Kapten Idham. Kapten Idham tewas tertembak saat bertempur melawan Belanda.. Para peserta juga dikenalkan tradisi budaya setempat dan melihat.

Setelah melawat di Semende, Lawatan terakhir adalah ke Candi Bumi Ayu yang masuk wilayah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (pemekaran Muara Enim). Candi Bumi Ayu adalah peninggalan Hindu dan Buddha. Candi Bumi Ayu berjumlah 14 candi, dan 10 candi sudah dipastikan benar-benar candi. Sedangkan, candi lainnya merupakan perwara atau candi pendamping. Candi 2 merupakan satu-satunya peninggalan Buddha, dan candi 3 merupakan candi induk dan menjadi pusat ritual keagamaan. Nama Bumi Ayu merupakan legenda rakyat setempat. Candi ini sudah menjadi tempat kunjungan wisata dan sudah menasional.

IMG_7140Lawatan Sejarah Daerah ke-13 BPNB Padang 2015 menghasilkan para juara di kategori siswa. Para juara ini nantinya akan dikirimkan mengikuti lawatan sejarah nasional yang akan dilangsungkan di Jawa Barat. Para juara tersebut antara lain: Juara I diraih Lista Indriyani, juara II Reza Meiladi dan Tiurma Sabrina merebut juara III. Ketiganya berasal dari Provinsi Sumatera Selatan. Dari kategori guru pendamping, juara I diraih Hj Nuraini dari Sumsel, juara II Yasri dari Sumbar dan juara III Citra Rafika dari Bengkulu.

Pada saat penutupan, Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Efrianto, SS, atas nama seluruh panitia merasa perlu berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung kelancaran kegiatan lawatan kali ini, dan tidak lupa juga mengucapkan selamat kepada para juara yang terpilih mewakili wilayah kerja BPNB Padang pada Lawatan Sejarah Nasional.

“Kita dari panitia pelaksana mengucapkan selamat kepada siswa dan guru yang meraih juara. Semoga, prestasi ini dapat dipertahankan dalam Lasenas nanti,” demikian Efrianto menyatakan.

Jurnal Penelitian dan Pedoman Penulisan Artikel

0

Padang, Maret 2015

Kepada Yth,
Bapak/Ibu
Di Tempat

Teriring salam,

Sehubungan dengan rencana Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang (BPNB Padang) untuk menerbitkan Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, maka kami dewan redaksi menginformasikan kepada seluruh peneliti untuk turut aktif dalam mengisi Jurnal tersebut. Jurnal ini akan berisi hasil-hasil penelitian, baik penelitian lapangan maupun penelitian kepustakaan. Oleh karena itu, redaksi hanya menerima pengiriman Naskah Tulisan berupa hasil-hasil penelitian.(terlampir PANDUAN PENULISAN ARTIKEL)

Adapun jadwal penerbitan edisi pertama jurnal ini, kami rencanakan pada bulan Juni 2015. Untuk itu, kepada peneliti yang ingin mengirimkan tulisannya maka batas akhir pengiriman tulisan adalah tanggal 30 April 2015. Kami mengharapkan kesediaan Bapak/Ibu untuk terlibat aktif dalam pengisian Jurnal, sehingga Jurnal bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Demikian informasi ini kami sampaikan, atas perhatian Bapak/Ibu, kami ucapkan terima kasih.

Redaksi

BELAJAR SEJARAH CIPTAKAN GENERASI BERBUDAYA

0

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan budayanya”

Untuk meningkatkan rasa menghargai terhadap sejarah dan budaya, maka perlu mengenalkan berbagai peristiwa sejarah dan peninggalannya kepada generasi muda sejak dini. Hal inilah yang mendorong BPNB Padang mengadakan kegiatan lawatan sejarah. Lawatan sejarah sebagai program tahunan BPNB Padang merupakan suatu kegiatan perjalanan untuk mengunjungi situs bersejarah (a trip to historical sites) dalam rangka melihat simpul-simpul perekat keindonesiaan yang mengandung nilai-nilai perjuangan dan persatuan untuk memperkokoh integrasi bangsa.

Pelaksanaan lawatan tahun ini diadakan pada tanggal 24 s.d 27 Maret 2015 yang dipusatkan di Kota Muara Enim Kabupaten Muara Enim propinsi Sumatera Selatan. Adapun tema yang diangkat adalah: “ Dengan Melihat Dan Mempelajari Peninggalan Masa Lalu, Kita Ciptakan Generasi Muda Yang Berbudaya”. Sebagai program rutin, lawatan kali ini merupakan yang ke 13 (tiga belas) kalinya diadakan oleh BPNB Padang. Objek-objek yang akan dikunjungi pada lawatan ini adalah peninggalan sejarah yang ada di propinsi Sumatera Selatan, terutama yang terdapat di kabupaten Muara Enim. Rencananya objek-objek yang akan dikunjungi adalah PT. Tambang Bukit Asam (didirikan 1950), Semendu sebagai basis perjuangan rakyat di Sumatera Selatan dan Candi Bumi Ayu (situs peninggalan agama Hindu di pesisir sungai Lematang, Sumatra Selatan).

Tujuan dari lawatan ini adalah untuk menumbuhkan semangat apresiasi peserta terhadap peninggalan sejarah dan mampu memunculkan kesadaran untuk belajar dari sejarah dan bisa berbuat lebih baik di masa mendatang, memberikan informasi dan pemahaman tentang masa lalu sehingga dapat menimbulkan rasa nasionalisme ditengah keberagaman budaya, membuka wawasan generasi muda untuk mengenang perjuangan para tokoh, menumbuhkan wawasan generasi muda agar menghargai nilai-nilai luhur bangsa serta memperkenalkan perjalanan para tokoh dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara sasaran yang ingin dicapai dalam lawatan ini adalah untuk menggugah minat generasi muda terhadap sejarah, sehingga memunculkan rasa cinta dan rasa menghargai nilai-nilai perjuangan para pejuang dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, meningkatkan wawasan dan apresiasi generasi muda terhadap peristiwa masa lalu sehingga menumbuhkan kesadaran akan jati diri bangsa, memperkenalkan peninggalan masa lalu melalui bimbingan dan diskusi tentang peninggalan sejarah. Melalui lawatan ini para pelajar diharapkan turut berprestasi dalam pelestarian peninggalan sejarah dan nilai-nilai kejuangan serta meningkatkan rasa persaudaraan dan kerjasama antar sesama.

Selain perjalanan mengelilingi objek-obyek sejarah, kegiatan ini juga mengadakan ceramah dan diskusi untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan peserta. Juga mengadakan pertunjukan kesenian dan pemutaran film dokumentasi peristiwa sejarah. Peserta yang direncanakan dalam kegiatan ini berjumlah 100 orang, terdiri dari siswa SLTA /Sederajat di propinsi Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan, intansi terkait, dan dari media massa cetak dan elektronik.

– Marbun –

FESTIVAL MATRILINEAL INTERNASIONAL DIADAKAN DI PADANG RANAH DAN TANAH BATO

0

Rapat 2Padang. Berdasarkan hasil audiensi antara Kepala BPNB Padang Drs. Nurmatias sekaligus Ketua Panitia Festival Matrilineal Internasional dengan Bupati Sijunjung Drs. H. Yuswir Arifin, MM, maka pelaksanaan kegitan Festival Matrilineal Internasional diadakan di Padang Ranah dan Tanah Bato Kabupaten Sijunjung. Sementara waktu pelaksanaan festival tidak berubah dan akan tetap diadakan pada 25 Oktober sampai 1 November 2015.

Dalam audiensi tersebut Bupati Kabupaten Sijunjung menyatakan sangat mendukung kegiatan festival matrilineal apalagi festival akan dilaksanakan dengan skala internasional. Sebagai bentuk dukungan bupati melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga selain akan menyediakan tempat di Padang Ranah dan Tanah Bato, juga akan menyediakan perlengkapan pementasan seperti sound system, lighting, panggung dan bus untuk sarana transportasi peserta.

Sebagai pagelaran internasional, rencananya festival ini akan menghadirkan peserta dari dalam dan luar negeri. Menurut Ketua pelaksana Drs. Nurmatias, panitia akan berupaya menghadirkan empat peserta dari luar negeri, dan enam dari sanggar-sanggar di dalam negeri. Adapun Negara-negara yang cukup memberi respon positif pada pelaksanaan kegiatan ini adalah Thailand, Brunai, Negeri Sembilan dari Malaysia dan India. Uniknya, semua peserta festival dari dalam dan luar negeri akan menginap di Rumah Gadang selama tiga hari. Hal ini sebagai wujud memperkenalkan salah satu karya budaya matrilineal Minangkabau.

Kegiatan festival ini nantinya juga akan menggelar dua seminar, yaitu pertama seminar baju kurung Basiba bekerja sama dengan Bundo Kanduang dan seminar Marawa, lambang kebesaran Minangkabau bekerja sama dengan penghulu-penghulu Minangkabau. Kegiatan ini juga akan didukung Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan ISI Padang Panjang.

– Marbun –

KEDEPANKAN ETIKA PUBLIK DALAM MELAKSANAKAN TUGAS

0

Rapat 1Padang. Etika publik merupakan etika yang harus dikedepankan setiap pegawai negeri dalam menjalankan tugas. Etika ini mengarahkan bagaimana seharusnya pegawai mentaati aturan pegawai, bagaimana bersikap dan berperilaku dalam lingkungan kantor maupun di luar kantor. Setiap pegawai mulai saat ini diwajibkan harus punya etika publik dan mengedepankan pelayanan kepada masyarakat atau stake holder. Hal inilah yang ditekankan dalam Rapat Bulanan yang berlangsung Selasa, 10 Maret 2015 oleh Kepala BPNB Padang Drs. Nurmatias. Sesuai dengan arahan Pak Dirjen ini bertujuan untuk mengubah persepsi masyarakat umum kepada pegawai khususnya pegawai balai. Kebiasaan-kebiasaan dan perilaku yang kurang mencerminkan etika publik sudah wajib diubah demi menjaga nama baik kantor.
Rapat 3
Selain penekanan pada etika publik, rapat yang dimulai pada pukul 09.00 wib itu juga membahas tentang revisi anggaran berupa pemotongan biaya perjalanan dinas dan mengalihkan ke biaya belanja. Pemotongan biaya perjalanan dinas ini mencapai 43% atau sekitar 900 jutaan dari total biaya perjalanan dinas yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengurangan biaya perjalanan dinas ini tentu sangat berpengaruh pada pelaksanaan kegiatan, baik yang sedang berjalan maupun yang masih akan berjalan. Selain juga mempengaruhi hasil yang akan diperoleh karena kebanyakan kegiatan kantor berada di wilayah kerja di luar kantor.

Berkaitan dengan pengurangan tersebut juga, maka para pengampu kegiatan harus kreatif mencari potensi-potensi kerjasama untuk menyelesaikan satu kegiatan sehingga sesuai dengan rancangan yang telah dibuat. Kerja sama ini bisa saja kepada Pemerintahan Daerah, Organisasasi-organisasi kemasyarakatan dan atau komunitas-komunitas tertentu.

Hal-hal lain yang juga berkembang dalam rapat adalah kursus Bahasa Inggris bagi pegawai khususnya bagi golongan IV yang akan mengajukan kenaikan pangkat. Kewajiban Diklat dan persentasi dalam bahasa Inggris mengharuskan para fungsional untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris. Kursus juga akan meningkatkan kualitas pegawai khususnya dalam kemampuan berbahasa asing.

– Marbun –

PESERTA FESTIVAL MATRILINEAL MENGINAP DI RUMAH GADANG

0

Memperkenalkan Budaya Matrilieal kepada masyarakat Internasional bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah dengan menjadikan Rumah Gadang sebagai tempat menginap bagi wisatawan. Hal itulah juga yang mengemuka dalam rapat perdana panitia Festival Matrilineal Senin (9/2). Rencananya, para peserta akan menginap di Rumah Gadang yang layak menjadi Homestay selama pagelaran berlangsung. Namun, tawaran ini masih sekedar wacana karena harus terlebih dahulu melihat kesiapan daerah alternatif dan kelayakan Rumah Gadang di daerah tersebut untuk dijadikan sebagai tempat menginap. Bagaimana fasilitas yang ada, sehingga tidak menunjukkan kesan buruk pada peserta undangan.

Ada tiga pilihan daerah yang direncanakan menjadi tempat pagelaran Festival Matrilineal yaitu Kab. Sijunjung, Kab. Tanah Datar dan Kota Padang. Rekomendasi atas daerah Kab. Sijunjung dan Kab. Tanah Datar adalah usulan Daerah tersebut menjadi desa Budaya. Jadi untuk memperkenalkan daerah tersebut ke masyarakat yang lebih luas, maka daerah ini menjadi potensial dipromosikan lewat pagelaran yang akan dilaksanakan. Dua daerah ini juga mempunyai Rumah Gadang yang bisa digunakan sebagai tempat menginap bagi peserta. Pilihan selanjutnya adalah Kota Padang sebagai ibukota provinsi. Pemilihan Kota ini berdasarkan pertimbangan kemudahan akses bagi para peserta yang datang dari luar daerah khususnya peserta luar negeri.

Festival Matrilineal ini sendiri rencananya akan menampilkan beberapa kegiatan seperti penampilan kesenian, festival baju kurung basiba, seminar dan pameran kuliner. Konsep acara yang akan ditampilkan adalah konsep tradisional. Hal ini untuk menggali sekaligus untuk mengenalkan keunikan-keunikan tradisi-tradisi yang ada pada tiap-tiap suku yang menganut sistem Matrilineal. Tentu saja akan mengangkat kesenian-kesenian yang menjadi ciri khas matrilineal suatu suku bangsa yang terlibat dalam acara tersebut. Festival ini juga rencananya akan mengundang peserta asing yang berbudaya Matrilineal. Beberapa Negara rekomendasi untuk ditampilkan dalam kegiatan ini yaitu Cina, Malaysia dan India. Namun akan tetap disesuaikan dengan kemampuan, baik dari segi pendanaan maupun hal-hal teknis lainnya. Hal ini berkaitan dengan rencana pagelaran akan didanai secara swa-kelola.

Walaupun pagelaran akan dilaksanakan secara swakelola, tapi tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan pihak lain. Hanya saja bentuk kerjasama yang akan dibangun adalah memegang prinsip mutualisme dan tidak saling memanfaatkan untuk kepentingan di luar tujuan pagelaran. Hal ini sebagaimana ditekankan Ketua Panitia sekaligus Kepala BPNB Padang Drs. Nurmatias dalam rapat.

“kita tetap akan membuka kerjasama dengan pihak lain demi suksesnya acara ini, tapi kita pastikan kalau kerjasama yang kita bangun tidak mengintervensi kita. Jadi kita bangun kerjasama yang tidak mengikat, kita sampaikan kemampuan kita seperti apa, kalau mereka siap bantu sesuai keinginan kita tidak masalah, tapi kalau tidak, kita jalan sendiri saja” demikian beliau menjelaskan.

Beberapa usulan yang mengemuka dalam rapat adalah agar BPNB Padang lebih mengutamakan peserta dari wilayah kerja untuk tampil dalam festival ini. Ini sebagai bentuk tanggung jawab BPNB Padang kepada daerah wilayah kerja, disamping itu juga beberapa suku bangsa di wilayah kerja memiliki budaya Matrilineal. Selanjutnya, Rapat ini juga membahas bagaimana proses eksekusi kegiatan sehingga pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Rencananya kegiatan ini akan dilaksanakan pada 25 Oktober sampai dengan 1 nopember. Pekerjaan yang harus segera dikerjakan adalah penyusunan proposal kegiatan dalam dua bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Sumber : bpnbpadang.com

– Marbun –
(BPNB Padang)

RAPAT PROGRAM TAHUN ANGGARAN 2015 BPNB PADANG

0

20150204_091707Rapat bulanan Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang kali ini membahas Program Kerja Tahun Anggaran 2015. Rapat dilaksanakan pada Rabu, 04 Februari 2015 dan dimulai pukul 09.15 di Ruang Sidang BPNB Padang serta dihadiri oleh seluruh pegawai balai. Rapat bulanan kali ini membahas dua agenda utama yaitu Program Kerja 2015 dan Program Kerja 2016.

Pembahasan Program Kerja Tahun Anggaran 2015 memfokuskan pada revisi anggaran yang sudah ditetapkan sebelum revisi dilakukan ke pusat. Revisi ini berkaitan dengan program pemerintah pusat untuk memperbaiki kinerja pegawai dengan mengadakan finger print dan teleconference. Sehingga dengan pengadaan ini, maka harapannya para pegawai khususnya di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa lebih terkontrol dalam meningkatkan kinerja dan member pelayanan kepada masyarakat. Namun pengadaan barang tersebut dialokasikan dari anggaran yang ada. Sehingga perlu dicari solusi dengan memaksimalkan anggaran kantor dengan pelaksanaan kegiatan yang ada.

Bukan berarti pengalokasian dana dari pagu anggaran kegiatan kantor harus mengurangi out put yang telah di tergetkan dari setiap kegiatan. Sebagaimana yang disampaikan Kepala BPNB Padang Drs. Nurmatias bahwa BPNB Padang harus tetap melaksanakan kegiatan sesuai target dan out put yang telah ditetapkan, dan hanya bisa mengurangi dana-dana yang bisa dimaksimalkan dari beberapa pengalokasian yang mungkin bisa dikurangi.
“…dan sekalipun kita mengharuskan untuk mengurangi beberapa pagu anggaran dari kegiatan kita, kita tidak bisa mengurangi out put atau target dari setiap kegiatan yang ada…Jangan karena adanya pengurangan anggaran, jadi Bapak-bapak dan Ibu-ibu kemudian melakukan kegiatan yang akrobatik…” demikian Drs. Nurmatias menerangkan.
20150204_091550
Beberapa usulan dalam rapat muncul untuk menyikapi rencana ini yaitu dengan mengurangi poin-poin acara dari rangkaian kegiatan yang ada. Ada yang mengusulkan untuk meniadakan Forum Grup Diskusi dalam kegiatan kajian dan penelitian, ada juga yang mengusulkan pengurangan peserta pada tiap-tiap kegiatan. Untuk poin pengurangan FGD, diusulkan karena kegiatan itu tidak memberikan hasil yang signifikan dalam pengumpulan data yang dilakukan. Malah dalam beberapa kasus para peneliti lebih banyak menghabiskan energy untuk penyelesaian soal-soal administrasi dari pada pengumpulan data. Sementara untuk usulan pengurangan peserta dalam kegiatan-kegiatan dimaksudkan mampu memenuhi out put yang diharapkan secara kualitas, tapi secara kuantitas agak berkurang.

Dari perkembangan usul penghilangan FGD, diusulkan kemudian untuk mengubah metode penelitian menjadi wawancara mendalam. Sementara untuk seminar hasil tetap diadakan sebagai verifikasi atas data-data yang diperoleh dilapangan dan masukan untuk hasil penelitian dan kajian yang lebih baik. Hal ini untuk tetap menjaga kualitas out put dan target yang direncanakan sebelumnya. Jadi data yang biasanya diperoleh dari FGD bisa diperoleh dari memperdalam wawancara kepada informan/narasumber dan pada seminar hasil.

Beberapa kesimpulan rapat adalah meniadakan FGD dari penelitian dan kajian untuk dialihkan pada pengadaan finger print dan teleconferece, kegiatan tahun 2014 selesai paling lambat tanggal 15 februari 2015, program tahun 2015 sudah mulai dikerjakan sejak februari, dengan diawali dengan seminar proposal. Selanjutnya untuk program kegiatan 2016, Kepala meminta untuk secepatnya diselesaikan dan sudah diterima Kerangka Acuan Kinerja (KAK)nya oleh bagian perencanaan pada akhir februari sehingga renstra bisa disusun dengan baik.

(BPNB Padang)

RAPAT SINKRONISASI ADMINISTRASI KEUANGAN BPNB PADANG

0

IMG_20150203_105510Rapat sinkronisasi Administrasi Keuangan antara Bagian Keuangan Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang dengan Satuan Tugas Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) dilaksanakan pada Selasa, 03 Februari 2015 di Ruang Sidang Balai Pelestarian Nilai budaya Padang. Sinkronisasi ini dimulai pukul 11.00 wib, dibuka oleh Kepala BPNB Padang Drs. Nurmatias serta dihadiri Ketua Satgas SPIP BPNB Padang Dra. Maryetti M. Hum dan tiga orang anggota, Bendahara Pengeluaran BPNB Padang Hartati Safitri dan empat orang anggota.

Rapat Sinkronisasi dilakukan untuk mengoreksi laporan keuangan pelaksanaan kegiatan tahun anggaran 2014. Tujuan pelaksanaan sinkronisasi dan penyelarasan keuangan ini adalah untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan dalam pengadministrasian dan pertanggungjawaban keuangan, sehingga tercipta tertib administrasi.
Pada kesempatan ini, Kepala BPNB Padang menekankan bahwa kegiatan sinkronisasi adalah proses pembelajaran bagi pegawai khususnya di bagian keuangan agar lebih teliti dalam menyusun laporan pertanggungjawaban. Disamping itu juga bisa dijadikan sebagai media silaturahmi antar pegawai, sehingga tidak perlu dianggap semacam inspeksi yang menakutkan.

“kegiatan sinkronisasi dan penyelarasan keuangan dengan SPI bertujuan untuk saling mengingatkan dan belajar bersama dalam mengelola keuangan. Sehingga ke depan, pengelolaan keuangan kita semakin baik, pertanggungjawaban keuangan dan administrasi kita juga semakin baik. Tentu sebagai manusia kita tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan, dan dengan adanya saling megingatkan maka ke depannya kita bisa semakin baik. Ini juga bisa dikatakan sebagai media silaturahmi bagi pegawai, dimana sebagai satu keluarga bisa saling mengoreksi dan saling mengingatkan kalau ada kesalahan. Jadi, kita jangan menganggap seolah-olah SPI hanya inspeksi mendalam, tapi sebagai koreksi menghindarkan kita dari kemungkinan-kemungkinan kesalahan yang terjadi” demikian Drs. Nurmatias menjelaskan.

Dengan adanya sinkronisasi dan penyelarasan keuangan ini, diharapkan kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang bisa tertib administrasi, aman dalam pertanggungjawaban dan sebisa mungkin kesalahan-kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan di masa mendatang bisa diminimalisir.

Sumber : bpnbpadang.com

– Marbun –
(BPNB Padang)

UPACARA BUDAYA BATAGAK TONGGAK TUO RUMAH GADANG NAGARI SUMPUR

0

20150201_123316Upacara Batagak Tonggak Tuo Rumah Gadang di Nagari Sumpur, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat berjalan dengan sukses. Upacara dilaksanakan selama dua hari Sabtu-Minggu 31 Januari – 1 Februari 2015. Dihadiri oleh sejumlah tokoh pemerintahan, tokoh-tokoh masyarakat dan organisasi-organisasi masyarakat. Upacara ini dimaksudkan sebagai bentuk pelestarian karya dan nilai budaya yang belakangan semakin ditinggalkan generasi muda.

Batagak Tonggak Tuo Rumah Gadang adalah salah satu jenis upacara dalam pembangunan rumah gadang. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Batagak Tonggak Tuo berarti Menegakkan Tonggak/Tiang Utama. Dalam pembangunan Rumah Gadang, Batagak tonggak tuo merupakan upacara yang dirayakan dengan baralek (pesta) besar. Upacara dimaksudkan sebagai bentuk ucapan syukur dan permintaan izin kepada Yang Maha Kuasa tanda dimulainya pembangunan. Upacara ini juga dilengkapi dengan simbol yang dipercaya masyarakat mengandung nilai-nilai tersendiri.

Batagak Tonggak Tuo merupakan kegiatan awal pembangunan rumah gadang. Bisa dikatakan bahwa batagak tonggak tuo merupakan peletakan batu pertama dan penanda dimulainya pembangunan Rumah Gadang. Namun istilah yang dipakai oleh masyarakat Minangkabau adalah Batagak Tonggak Tuo. Hal ini berbeda dengan pembangunan bangunan-bangunan pada umumnya. Pada pembangunan Rumah Gadang, hal yang paling awal dikerjakan adalah kerangka bangunannya, kemudian menyusul fondasi bangunan. Ketika kerangka bangunan selesai, tiba waktunya untuk meletakkan ke atas fondasi yang telah disiapkan. Selanjutnya penyelesaian bangunan dilanjutkan.

Acara ini diawali dengan ritual doa bersama sebagai bentuk ucapan syukur dan meminta izin kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Memohon kepada yang maha kuasa agar proses pembangunan rumah gadang lancar, selalu diridhoi dan selanjutnya masyarakat khususnya pemilik rumah gadang makmur dan sejahtera. Hal ini terlihat dari simbol-simbol yang digunakan seperti penyembelihan ayam, tandan buah pisang, mayang pinang dan tunas kelapa. Simbol-simbol ini oleh masyarakat menunjukkan kemakmuran, kekuatan dan keselamatan. Setelah Batagak selesai dilaksanakan, acara diakhiri dengan makan bersama seluruh masyarakat yang hadir dalam acara Batagak Rumah Gadang tersebut.

Nilai gotong royong yang terdapat dalam Batagak Tonggak Tuo Rumah Gadang

Pada proses pelaksanaan batagak tonggak tuo Rumah Gadang terdapat nilai gotong royong dan kebersamaan pada masyarakat yang melaksanakan. Baik sebelum ritual dilakukan maupun pada saat ritual itu sendiri. Sebelum batagak tonggak tuo rumah gadang dilaksanakan, para warga kaum atau warga nagari akan beramai-ramai mengadakan gotong–royong untuk mencari pohon yang dinilai cocok untuk dijadikan tonggak tuo rumah gadang. Tonggak tuo ini diambil dari hutan konservasi milik kaum atau hutan ulayat kaum. Pengangkatan kayu yang ditebang kemudian dibawa ke tempat pembangunan secara bergotong royong. Hal ini mengingat kayu yang digunakan untuk tonggak tuo begitu besar dan panjang, tentu sangat berat. Jadi proses pengangkatan dilakukan bersama-sama. Kalau jaman dulu akan digotong secara bersama. Demikian juga dengan tiang-tiang yang lain semua diangkut dengan cara bersama-sama.

Setelah tonggak/tiang diperoleh dan dirasa cukup maka pekerjaan berikutnya adalah membuat kerangka tonggak tuo. Membuat kerangka tonggak tuo ini dikerjakan oleh para tukang tuo. Tukang tuo adalah orang-orang yang ahli dan memiliki pengalaman mumpuni dalam membuat Rumah Gadang. Setelah tonggak tuo selesai dirangkai, pekerjaan selanjutnya adalah batagak tonggak tuo. Inilah acara puncak dalam batagak tonggal tuo Rumah Gadang. Dalam acara ini akan melibatkan lebih banyak orang, hal ini dikarenakan Kerangka tonggak tuo akan jauh lebih berat. Satu hal yang sangat patut untuk diteladani adalah bahwa semua orang-orang yang terlibat dalam upacara batagak tonggak tuo adalah relawan yang tanpa dibayar. Hal ini menunjukkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang sangat kental bagi warga masyarakat.

– Marbun –
(BPNB Padang)

KEGIATAN NON-PENELITIAN BPNB PADANG TAHUN 2015

0

1. PEMBUATAN FILM DOKUMENTER MAESTRO SENI DI PROVINSI SUMATERA BARAT, BENGKULU DAN SUMATERA SELATAN

Kegiatan ini akan mendokumentasikan Maestro Seni di tiga provinsi wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang yaitu Sumatera barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Ada beberapa criteria yang ditetapkan untuk dijadikan sebagai Maestro yaitu memiliki pewaris, memiliki andil dalam menggali dan menghidupkan seni. Sebagaimana umumnya film documenter, kegiatan ini akan merekam dan mendokumentasikan keseharian tokoh yang diangkat, peranan dalam masyarakat, karya-karyanya, perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap karya-karyanya dan pengakuan dari pelaku seni dan masyarakat terhadap karyanya.

2. DIGITALISASI DAN TRANSLITERASI NASKAH KUNO DI PROVINSI SUMATERA BARAT

Digitalisasi dan transliterasi naskah kuno adalah mengubah format naskah menjadi bentuk digital dan mengalih bahasakan naskah-naskah kuno ke dalam bahasa lain (Indonesia). Naskah yang akan ditransliterasi ada naskah yang berbahasa Minangkabau dan ada yang Bahasa Arab Melayu. Tranliterasi yang akan dilaksanakan dalam kegiatan ini akan disesuaikan dengan aturan yang ada. Dimana naskah yang sudah pernah ditransliterasi oleh lembaga lain tidak boleh di lakukan lagi. Jadi tim akan mencari info dan referensi sebanyak mungkin untuk mentransliterasi naskah kuno yang sama sekali belum pernah dilakukan.

3. PEREKAMAN AKTIVITAS BUDAYA DI PROVINSI SUMATERA BARAT, BENGKULU DAN SUMATERA SELATAN

Perekaman aktivitas budaya akan dilaksanakan di tiga provinsi wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang. Perekaman ini akan dititik beratkan pada Aktivitas budaya seperti upacara yang hampir punah tapi masih tetap bertahan(eksis). Hal ini dimaksudkan untuk bisa menjaga dan melestarikan aktivitas budaya asli. Ada banyak upacara yang layak untuk diangkat di wilayah kerja Balai seperti manjalang mamak, Batagak rumah Gadang, Kenduri Agung, Bakaja di sungai, Batobo Kongsi dan lain-lain.

4. REVITALISASI KESENIAN TRADISIONAL MINANGKABAU DI PROVINSI SUMATERA BARAT (MELIPUTI KOTA PADANG, KAB. TANAH DATAR, KAB. PADANG PARIAMAN, KAB. PESISIR SELATAN DAN KAB. SOLOK.

Revitalisasi kesenian tradisional adalah upaya untuk mendorong dan memfasilitasi kesenian tradisional untuk bisa tetap eksis dan berkembang. Bagaimana memfungsikan kesenian tradisional yang sudah mulai hilang muncul kembali. Kegiatan Revitalisasi kesenian tradisional ini akan lebih difokuskan pada sanggar-sanggar seni yang belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah seperti bantuan sosial. Hal ini dimaksudkan untuk membuka peluang bagi sanggar-sanggar seni yang potensial dan kurang dari segi financial untuk bisa berkembang. Banyak sanggar-sanggar seni tradisional yang ada di wilayah kerja yang patut untuk diapresiasi.

5. INVENTARISASI PERLINDUNGAN KARYA BUDAYA PERMAINAN TRADISIONAL DI PROVINSI SUMATERA BARAT, BENGKULU DAN SUMATERA SELATAN

Kegiatan inventarisasi karya Budaya permainan tradisional merupakan lanjutan dari kegiatan inventarisasi yang telah dilaksanakan sebelumnya. Tujuannya adalah untuk menginventarisir semua karya budaya yang ada di wilayah kerja selanjutnya akan diusulkan menjadi warisan budaya tak benda ke UNESCO. Pada kegiatan kali ini kegiatan inventarisasi akan difokuskan pada permainan tradisional di tiga provinsi wilayah kerja. Setelah diinventarisir, selanjutnya akan diidentifikasi mana yang layak untuk direkomendasikan sebagai warisan budaya dengan analisis ilmiah.

6. FASILITASI PELESTARIAN NILAI BUDAYA

Sumatera Barat ada 13 komunitas budaya atau lebih yang mendapatkan bantuan, disesuaikan dengan proposal yang masuk (maksimal @ Rp. 12.000.000,-). Komunitas budaya yang masuk dalam Fasilitasi Pelestarian Nilai Budaya ini seperti keraton, desa adat, lembaga adat, komunitas adat, sanggar seni dan budaya, pemangku kepentingan kebudayaan (stakeholder)Fasilitasi Budaya diberikan kepada komunitas budaya yang tugas nya sesuai dengan Tugas dan Fungsi Kantor.

7. PEKAN BUDAYA ENGGANO DI KAB. BENGKULU UTARA

Pekan budaya Enggano akan dilaksanakan di Pulau Enggano, Bengkulu utara. Pekan budaya ini akan berisi rangkaian kegiatan seperti Festival permainan tradisional, Festival lagu daerah, Lomba Kerajinan tangan dan diskusi tentang budaya Enggano. Adapun latar belakang pelaksanaan pekan budaya ini adalah untuk memastikan mereka merasa Indonesia dengan hadirnya Negara di tengah-tengah mereka. Karena sebagai daerah terpencil dan terisolasi, Enggano sangat jarang dimasuki oleh para pengambil kebijakan. Jadi pekan budaya dibuat sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat Enggano.

8. SEMINAR PROPOSAL KAJIAN PELESTARIAN NILAI BUDAYA

Seminar ini rencana akan diadakan akhir Februari. narasumber 4 orang dari kampus, 2 orang moderator. Proposal dikumpulkan seminggu sebelum kegiatan. Pelaksanaan seminar ini akan sama dengan tahun sebelumnya.

9. FESTIVAL MATRILINEAL INTERNASIONAL DI PROVINSI SUMATERA BARAT

Banyak kegiatan penelitian tentang matrilineal, tapi masih sedikit kegitan non penelitian. Seperti diketahui ada 39 suku bangsa di dunia yang menganut system matrilineal. Kegiatan ini mencoba mengambil peran dalam non penelitian tentang matrilineal. Festival matrilineal direncanakan akan bertaraf internasional dengan melibatkan peserta Matrilineal dari luar negeri. Rangkaian acaranya meliputi kegiatan pementasan, seminar, eksibition baju kurung basiba dan kuliner minangkabau.

10. BEDAH SKENARIO DAN DRAF HASIL FILM DOKUMENTER MAESTRO SENI DAN PEREKAMAN AKTIVITAS BUDAYA DI PROVINSI SUMATERA BARAT

11. PAMERAN HASIL KAJIAN DAN INVENTARISASI SEJARAH DAN BUDAYA BPNB PADANG DI PROVINSI SUMATERA BARAT, BENGKULU DAN SUMATERA SELATAN

Pameran hasil kajian dan hasil invetarisasi sejarah dan budaya merupakan kegiatan memamerkan hasil-hasil kegiatan balai kepada masyarakat umum. Kegiatan ini akan dilakukan sejalan dengan perayaan-perayaan tertentu yang ada di daerah, sehingga hasil-hasil kegiatan BPNB bisa diketahui masyarakat umum dan kantor BPNB padang juga menjadi dikenal. Pameran kali ini akan dimodifikasi dengan hanya membawa banner-banner atau spanduk yang bergambarkan hasil-hasil kegiatan serta beberapa sampel.

12. APRESIASI FILM ANAK BANGSA BIOSKOP MASUK KAMPUNG DI PROV. SUMATERA BARAT (MELIPUTI KOTA PADANG, KAB. PESISIR SELATAN, KAB. SOLOK DAN KAB. PADANG PARIAMAN)

Apresiasi film anak bangsa bioskop masuk kampung adalah kegiatan pemutaran film yang diadakan ke pesedaan-pedesaan. Kegiatan ini adalah kegiatan rutin. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan di sekolah dengan terlebih dahulu membangun kerja sama dengan sekolah pada jam sekolah (siang hari) dan malam hari untuk konsumsi masyarakat umum. Hal ini agar bisa menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam film tersebut kepada anak-anak. Jadi selain memberikan hiburan, kegiatan ini juga diharapkan bisa mengajarkan nilai-nilai positif bagi para pelajar.

13. LAWATAN SEJARAH DAERAH SUMATERA SELATAN

Lawatan sejarah tahun ini akan dilaksanakan di Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan ini akan dikoordinasikan dengan Kabid Kebudayaan untuk memastikan tempat yang tepat dijadikan sebagai tempat lawatan. Hal ini berkenaan dengan terdapat banyak peninggalan sejarah, batu tambang, dan pergerakan-pergerakan di Sumatera Selatan. Peserta yang diundang terdiri dari tiga wilayah. Kemudian setiap peserta diusahakan membuat makalah.

14. SEMINAR HASIL PENELITIAN SE BPNB DAN PENGIRIMAN TIM PAMERAN DAN KESENIAN KE AMBON

15. JEJAK TRADISI DAERAH DI PROVINSI BENGKULU

Jejak tradisi akan diadakan di provinsi Bengkulu. Syarat bagi peserta yang diikutkan dalam jejak tradisi daerah adalah harus ada karya tulis.

16. WORKSHOP SAKA WIDYA BUDAYA BHAKTI PRAMUKA DI KOTA BENGKULU

Latar belakang diadakannya acara ini adalah kondisi generasi muda yang banyak melanggar susila, perkelahian, perbuatan asusila, korupsi maka dibentuk suatu pemahaman tentang budaya kita. Dalam ranah praktis bisa dibuat dalam arena pramuka. Kegiatan ini lebih focus kebudayaan.Tujuan awal pengadaan kegiatan Workshop Sakawidya budaya bhakti adalah pembentukan satuan karya budaya bakti. Untuk Tahun 2015 diadakan di Bengkulu. Kegiatan ini akan mengakomodir seluruh kab/kota dan provinsi. Saka baru ini harus disosialisasikan. Jadi narasumber harus menjelaskan saka tersebut.

17. WORKSHOP MUSIK TRADISIONAL TALEMPONG DI PROVINSI SUMATERA BARAT

Workshop ini diadakan sebagai sumbangsih BPNB Padang memberi pelatihan kepada anak-anak dalam menjaga kesenian tradisional. Untuk program tahun ini dikhususkan untuk alat musik Talempong. Tahun berikutnya akan ada kegiatan sejenis untuk alat musik yang berbeda. Jadi dua atau tiga tahun kedepan targetannya BPNB Padang sudah punya komunitas seni yang bisa diberdayakan. Ada tiga angkatan yang direncanakan. Dengan adanya kegiatan rutin seperti ini, BPNB Padang akan bisa membangun kantong-kantong budaya yang baru. Mengajak generasi muda dari yang belum mengenal menjadi mengenal dan mengimplementasikan kantor sebagai pelestari budaya.

– Marbun –
(BPNB Padang)

DISKUSI PEMAPARAN KEGIATAN NON PENELITIAN 2015 BPNB PADANG

0

DSC_0134Diskusi pemaparan kegitan non-penelitian tahun 2015 di Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang dilaksanakan sebelum rangkaian kegiatan berlangsung. Pelaksanaan diskusi ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut yang dimulai sejak Senin – Rabu (26-28/1) di Ruang Sidang Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang. Diskusi ini juga diikuti oleh seluruh pegawai balai.

Diskusi ini dilakukan untuk membahas gambaran rancangan kegiatan setiap penanggung jawab, apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya atau prosesnya dan apa targetan yang akan dicapai dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Ada 32 kegiatan non-penelitian yang akan dilaksanakan di tahun ini. Selain pemaparan masing-masing penanggung jawab akan rancangan kegiatan yang akan dilaksanakan, pelaksanaan diskusi ini juga berusaha menampung usul dan saran-saran dari seluruh pegawai untuk bisa membantu dan memudahkan proses pelaksanaan kegiatan yang ada. Tentu saja saran-saran yang baik akan diimplementasikan dalam pelaksanaan kegiatan yang ada.
DSC_0135
Banyak masukan yang diberikan oleh para pegawai yang memang sebelumnya mungkin sudah pernah melaksanakan kegiatan yang sama. Hal ini menjadi sangat penting karena bisa berbagi pengalaman, apa saja kemungkinan kendala yang akan dihadapi di lapangan dan bagaimana cara mengatasinya. Berbagai ide yang berkembang juga muncul ketika membahas kegiatan-kegiatan yang sifatnya baru pertama kali akan dilaksanakan. Masukan ini akan menjadi referensi yang sangat berguna bagi semua penanggung jawab kegiatan sehingga pelaksanaan kegiatan bisa berlangsung dengan sukses. Sukses dalam pelaksanaan, aman dari pengadministrasian dan berkualitas dalam hal out put yang diharapkan.
DSC_0133
Satu hal penting dalam perdiskusian ini adalah pertanyaan tentang apa maksud dalam pelaksanaan kegiatan, apa tujuannya dan targetannya. Ini penting mengingat bagi semua penanggung jawab kegiatan untuk lebih terarah dalam melaksanakan kegiatan dan diharapkan kegiatan tersebut mempunyai kontribusi nyata dan dirasakan oleh masyarakat kita. Sedemikian penting tujuan dan target dari pelaksanaan kegiatan sehingga masyarakat merasa bahwa Negara tidak lepas tangan atas persoalan-persoalan rakyat khususnya pada wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang. Artinya kita harus menunjukkan bahwa Negara melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang hadir dalam setiap aktivitas masyarakat. Kita jangan melaksanakan kegiatan hanya sekedar untuk mengisi formalitas dan waktu luang semata atau malah Usaha Menambah Gaji atau penghasilan, tapi hendaknya kegiatan tersebut bermanfaat bagi kemaslahatan bangsa. Ini akan berimplikasi pada terjaganya nama baik Kementerian yang membawahi kita dan kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang pada khususnya.

– Marbun –
(BPNB Padang)

SILATURAHMI MENDIKBUD DENGAN JAJARAN UPT KEMENDIKBUD DI SUMATERA BARAT

0

20150124_143003Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Anies Baswedan menyempatkan diri menyapa dan bersilaturahmi dengan Jajaran UPT KEMENDIKBUD di Provinsi Sumatera Barat pada Sabtu, 24 Januari 2015 pukul 14.10 wib. Acara Silaturahmi ini diadakan di Gedung LPMP Sumatera Barat dan diikuti oleh para pegawai UPT KEMENDIKBUD yang ada di Sumatera Barat seperti Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang, Balai Bahasa dan LPMP sendiri sebagai tuan rumah. Acara yang singkat ini berlangsung dengan suasana penuh kekeluargaan dan keakraban jauh dari kesan formal. Acara ini juga menghadirkan Gubernur Sumatera Barat Prof. Irwan Prayitno, Kepala LPMP Provinsi Sumatera Barat Prov. Jamaris Jamna, Kepala BPNB Padang Drs. Nurmatias dan Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Barat Drs. Syamsurizal.

Setelah secara singkat acara dibuka, Mendikbud memulai ceramahnya yang terkesan saat menginjakkan kaki di Ranah Minang pada tahun 1994. Kedatangan beliau sendiri ke ranah Minang adalah karena rasa penasaran dan rasa ingin tahu akan begitu banyaknya pahlawan yang berjasa bagi Republik Indonesia berasal dari Sumatera Barat.

Pada kesempatan ini Bapak Menteri menekankan perlunya manusia-manusia yang berintegritas dalam mencapai Indonesia yang lebih maju. Tanpa orang-orang yang berintegritas, maka Negara kita akan mengalami kehancuran. Untuk mencapai manusia-manusia yang berintegritas maka satu-satunya cara adalah dengan pendidikan. Pendidikan tidak di sekolah saja, tapi pendidikan tidak terlepas dari bagaimana bersikap di rumah dan lingkungan, di samping pendidikan formal yang dirumuskan oleh jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan. Apa yang dikerjakan dalam pendidikan maka ujungnya adalah untuk mengembangkan kebudayaan.

Akhirnya waktu juga yang mengakhiri kebersamaan dengan Bapak Menteri. Beliau masih mempunyai agenda lain sehingga pertemuan harus berakhir. Walau hanya berjalan singkat, acara silaturahmi mempunyai pesan moral yang sangat berharga bagi seluruh pegawai yang hadir. Setelah selesai ceramah, selanjutnya acara ditutup dengan foto bersama pegawai masing-masing UPT dengan Bapak Menteri.

– Marbun –
(BPNB Padang)

GOTONG ROYONG DI KANTOR BPNB PADANG DIIKUTI ANTUSIAS SELURUH PEGAWAI

0

DSC_0406 (368)Kegiatan Gotong royong di lingkungan kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang diadakan pada Jumat (23/1). Gotong royong dimulai sejak pukul 07.30 wib sampai pukul 10.00 wib dan diikuti antusias oleh seluruh pegawai Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang. Gotong royong juga diikuti oleh Kepala Balai Drs. Nurmatias.

DSC_0402 (364)

Pelaksanaan gotong royong ini diadakan dengan tujuan untuk membuat lingkungan kantor balai menjadi lebih bersih, asri dan nyaman untuk dilihat. Tentu saja kebersihan dan kenyamanan kantor menjadi sangat penting dan kunci utama agar para pegawai yang kesehariannya ada dan beraktivitas di kantor bisa betah melaksanakan aktivitasnya. Kebersihan kantor juga perlu dipelihara untuk memberikan kesan baik ke masyarakat sekitar. Sehingga kebersihan tersebut juga bisa dijadikan contoh bagi masyarakat untuk melakukan hal yang sama di lingkungan sekitarnya
DSC_0309

Satu hal yang tidak kalah penting dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah bisa menjadi cara bagi seluruh pegawai balai meningkatkan tali silaturahmi dan kebersamaan para pegawai. Ada banyak cara yang bisa dijadikan untuk mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan, salah satunya adalah dengan gotong-royong. Gotong royong yang menjadi ciri khas dan warisan nenek moyang bangsa sangat tepat untuk dijadikan sebagai media memperkuat kebersamaan. Jadi sembari mengambil manfaat dari gotong royong, ini juga bisa melestarikan gotong royong itu sendiri sebagai warisan leluhur.
DSC_0415

Kegiatan ini direncanakan akan dilaksanakan sebulan sekali, selain untuk tetap menjaga lingkungan kantor bersih, nyaman dan asri, kegiatan ini juga bisa meningkatkan kerjasama dan kebersamaan di antara pegawai balai. Dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini ke depannya diharapkan bisa meningkatkan soliditas dan kebersamaan para pegawai dalam melaksanakan tugas-tugas kantor yang akan diemban.

– Marbun –
(BPNB Padang)

UKIRAN RUMAH GADANG DAN WARISAN KEARIFAN LOKAL MINANGKABAU

0

Ukiran Rumah Gadang, warisan budaya bergenre seni bila merujuk pada Undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, merupakan bukti nyata dari masterpiece masyarakat Minangkabau yang agung. Ukiran Rumah Gadang, keberadaannya sekaligus menjadi bukti dari tetap pentingnya kearifan lokal (local wisdom) masyarakat matrilineal di Sumatera Barat dipelajari. Melalui ragam motif ukiran yang terpahat eksotis menghiasi hampir di seluruh bagian dindingnya yang bersifat tradisional sesungguhnya terekam peradaban leluhur yang seyogianya tetap dilindungi, dimanfaatkan, serta dikembangkan bagi pemajuan kebudayaan masyarakat pemiliknya.

Ukiran Rumah Gadang Minangkabau tentunya tidak datang secara tiba-tiba dalam kehidupan masyarakatnya. Azrial (1995) menyebut bahwa ukiran tradisional Minangkabau adalah gambaran ragam hias timbul yang tercipta dari kreasi seni orang Minangkabau dengan jalan mengorek bagian tertentu dari permukaan sebuah benda sehingga membentuk suatu kesatuan ragam hias yang indah dan harmoni. Secara umum ukiran tradisional tersebut dibuat di media kayu dengan menggunakan alat yang disebut pahat dan tentunya memakai teknik ukir yang bersifat khusus.

Workshop Kriya dan Wastra Ukiran Tradisional Rumah Gadang Minangkabau yang diselenggarakan BPNB Sumatera Barat pada tanggal 31 Mei s.d 2 Juni 2022 di Rumah Gadang Dt. Rajo Mangkuto yang berlokasi di Simpang Koto Tinggi Nagari Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar juga menjelaskan bahwa pembuatan ukiran tradisional Minangkabau dilakukan dalam beberapa tahap. Proses awalnya adalah menentukan ragam atau motif yang akan dibuat. Setelah ditentukan motifnya, langkah selanjutnya membuat pola motif ukiran pada kayu surian yang biasa digunakan sebagai media. Pembuatan pola motif ukiran bisa dengan cara menggambar motif pada kayu atau menjiplak dengan menggunakan cat semprot.

Proses selanjutnya adalah membuat ukiran dengan menggunakan pahat ukir. Teknik mengukir tidak bisa dilakukan dengan cara yang sembarangan. Pertama sekali membuat pahatan dasar, dimana bagian garis luar motif ukiran dipahat untuk membedakan bagian yang akan dibuang dengan bagian yang akan ditonjolkan. Kemudian tahap mengukir secara dalam, yaitu dilakukan dengan membuang dasar kayu sehingga memberi kesan tinggi pada bagian ukiran yang ditonjolkan. Setelahnya yang tertinggal adalah bagian motif yang disebut dengan corak ukir yang segera akan dibersihkan serta dihaluskan, kemudian diberi warna.

Menukil pepatah alam takambang jadi guru, maka motif ukiran tradisional Minangkabau diilhami oleh alam. Ragam motif ukiran biasanya terinspirasi dari  tumbuhan, hewan, atau benda-benda yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Demikian yang kemudian ada serta bertahan hingga sekarang, setiap motif ukiran yang dipahat pada Rumah Gadang menyiratkan khasanah nilai serta makna budaya Minangkabau yang unik, sekaligus merefleksikan pesan kearifan lokal bagi setiap penikmatnya. Sebutlah saja misalnya tiga motif ukiran yang kerab tampak menghiasi dinding Rumah Gadang Minangkabau, yaitu motif ukiran itiak pulang patang, motif ukiran siriah gadang dan motif ukiran pucuak rabuang.

Motif ukiran itiak pulang patang senantiasa dikaitkan dengan cerita tentang itiak (bebek) yang tampak berjalan secara beriringan, terlihat seperti barisan yang rapi tampa ada yang akan berupaya saling mendahului. Ketika melewati pematang sawah rombongan itiak akan tampak berupaya mendaki secara perlahan dalam formasi yang tetap terpola. Pesan kearifan lokalnya adalah, masyarakat Minang mesti melakoni hidup secara teratur, tertib dan disiplin. Jalan kehidupan masyarakat Minang harus pula dilalui dengan hati-hati serta dengan mengupayakan terhindarnya setiap ketergesaan yang dapat merusak harmoni.

Disebut pulang patang (pulang petang), gerombolan itiak konon belum akan pulang kandang selagi belum kenyang, biasanya akan tampak dalam pararakan panjang dikala hari sudah beranjak sore. Artinya apabila sudah kenyang itiak akan pulang dengan sendirinya, serta tidak terlihat adanya itiak yang membawa bekal apapun. Itiak ternyata meninggalkan sisa makanan yang ada di alam untuk memenuhi kebutuhan makan pula pada keesokan harinya. Pelajaran pentingnya adalah, masyarakat Minang tidak boleh rakus, karena yang diperlukan sesungguhnya adalah mengambil secukupnya sesuai kebutuhan.

Selanjutnya motif ukiran siriah gadang, ragam motif yang sering dijumpai di dinding Rumah Gadang Minangkabau. Siriah sering digunakan sebagai kelengkapan isi carano pada upacara adat. Idrus Hakimy Dt. Rajo Pangulu (1984) misalnya menyebut dengan, siriah udang tampak hari, nan tampuaknyo bak kuku balam, gagangnyo bapantang putuih, buahnyo intan dengan podi, bungo lado basaluak batang, buah diambiak katinaman, daun diambiak ka kusuak mandi, usah ka ratak tirih tido, usah ka layua batambah iduik. Ungkapan tentang siriah ini mengajarkan masyarakat Minang tentang keteguhan, keterbukaan, kemanfaatan, keramah-tamahan, serta pentingnya persatuan dan kesatuan dalam semangat berempati antar sesama.

Kemudian motif ukiran pucuak rabuang, motif ukiran tradisional Minangkabau yang juga sering dijumpai di bagian tiang dan dinding Rumah Gadang. Rabuang (bambu muda) digemari oleh masyarakat Minangkabau untuk dijadikan olahan makanan. Terkait keberadaannya sebagai motif ukiran, pucuak rabuang sarat dengan nilai filosofi kehidupan. Pahatan motif yang mengarah ke atas seperti akan menembus langit mengisyaratkan bahwa masyarakat Minang harus memiliki tekad yang kuat untuk mencapai cita-cita. Tumbuhan bambu yang sejak kecil sampai tuanya tetap bermanfaat, ketika muda untuk bahan makanan sementara ketika tua dan lentur akan diolah menjadi berbagai bentuk peralatan, sekaligus menyiratkan pesan kearifan bahwa masyarakat Minang mesti menjalani hidup yang berguna bagi orang banyak.

Ukiran Rumah Gadang Minangkabau, konon tempo dulu diwarnai dengan pilihan warna tumbuhan, seperti pinang yang memberikan warna coklat kemerahan, warna kuning dari kunyit, atau warna hijau dari daun. Komposisi motif ukiran Minangkabau pun mempunyai bentuk yang relatif sama, yaitu adanya perpaduan antara garis, lingkaran, segiempat, serta bentuk daun, buah, bunga, tangkai dan ornament lainnya. Pola ukiran juga memiliki pengulangan dan selalu bersilangan. Komposisi artistik ini merefleksikan pesan kearifan dalam konteks kehidupan masyarakat Minang yang agamis, yaitu proses hidup yang mesti mampu menyadarkan pada keagungan Yang Maha Kuasa, pencipta sekaligus pemelihara hidup dan kehidupan itu sendiri. (Penulis adalah Pamong Budaya Ahli Muda di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sumatera Barat)

Artikel ini telah dimuat di Harian Padang Ekspress Minggu 21 Agustus 2022

Penulis adalah

WORKSHOP KRIYA DAN WASTRA UKIRAN TRADISIONAL RUMAH GADANG MINANGKABAU

0

BPNB Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 31 Mei s.d 2 Juni 2022 melaksanakan kegiatan Workshop Kriya dan Wastra Ukiran Tradisional Rumah Gadang Minangkabau di Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar. Pembukaan workshop dilaksanakan di Rumah Gadang Dt. Rajo Mangkuto, Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar dan diikuti oleh 30 orang peserta yang berasal dari siswa/I SMA di Kabupaten Tanah Datar dan juga perwakilan dari kantor wali nagari Pandai Sikek. Acara pembukaan workshop juga dihadiri oleh Kepala BPNB Provinsi Sumatera Barat, Wali Nagari Pandai Sikek, Wali Jorong Tanjung, Wali Jorong Pagu-pagu dan dibuka oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar diwakili oleh Kabid. Kebudayaan Abrar, SE yang juga bertindak sebagai salah seorang pemateri. Pemateri lainnya adalah Irwan Malin Basa, M.Pd yang memaparkan tentang ragam, fungsi dan nilai ukiran rumah gadang Minangkabau sekaligus membahas upaya pelestariannya.
Selain mendapatkan materi dari narasumber, para peserta juga melakukan praktek langsung teknik mengukir ukiran rumah gadang yang benar dari Masap Widiawan, salah-satu pengerajin seni ukir dari Sanggar Ukir Saciok Bak Ayam. Para peserta sangat antusias untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan workshop. Diharapkan kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan peserta tentang ukiran tradisional rumah gadang dan memunculkan pengerajin pengerajin ukiran tradisional baru yang handal dan kompeten.

PENCERAHAN DAN EVALUASI ZONA INTEGRITAS WILAYAH BEBAS KORUPSI (ZI-WBK) BPNB SUMATERA BARAT

0

Rabu, 20 April 2022 kantor BPNB Provinsi Sumatera Barat kedatangan tamu dari
Inspektorat Jenderal Kemdikbudristek yang bertujuan untuk memberikan pencerahan dan evaluasi mengenai kesiapan kantor BPNB Provinsi Sumatera Barat menuju Zona Integritas – Wilayah Bebas Korupsi (ZI-WBK)

Kegiatan dilaksanakan secara luring di Ruang Rapat BPNB Sumatera Barat dan juga melalui daring yang diikuti oleh pegawai BPNB Provinsi Sumatera Barat.
Tujuan dari kegiatan ini yakni untuk memberikan pemahaman/sosilisasi, yang akhirnya dapat diimplementasi dan diinternalisasikan perihal Zona Integritas- Wilayah Bebas Korupsi (ZI-WBK) tersebut. Serta, dapat mewujudkan BPNB Provinsi Sumatera Barat memperoleh ZI -WBK.

SOSIALISASI REFORMASI BIROKRASI DAN PEMANTAUAN LAYANAN MASYARAKAT

0

Jumat 8 April 2022, Menindaklanjuti Permen PANRB Nomor 26 Tahun 2022 tentang Pedoman Evaluasi Pelaksanaan Reformasi Birokrasi, Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan melaksanakan Sosialisasi Reformasi Birokrasi dan Pemantauan Layanan Masyarakat di BPNB Provinsi Sumatera Barat.

Kegiatan dilaksanakan secara daring di Ruang Rapat BPNB Sumatera Barat dan juga luring yang diikuti oleh pegawai BPNB Provinsi Sumatera Barat dan BPCB Provinsi Sumatera Barat.

Kegiatan juga dilakukan peninjauan lapangan atas bentuk pelayanan yang dimiliki oleh kantor BPNB Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan ini sebagai langkah awal untuk mempersiapkan kantor BPNB Provinsi Sumatera Barat menuju Zona Integritas- Wilayah Bebas Korupsi (ZI-WBK).

KOMUNITAS BICARA FESTIVAL BUDAYA MATRILINEAL

0

Giat hari ini, Kamis 7 April 2022, BPNB Sumatera Barat melaksanakan kegiatan Forum Diskusi Terbatas dengan para pelaku seni, komunitas yang ada di Provinsi Sumatera Barat, bertempat di ruang rapat kantor BPNB Sumatera Barat. Kegiatan dilaksanakan secara daring dan luring.
Acara di buka secara resmi oleh Undri, S.S, M.Si Kepala BPNB Sumatera Barat. Kemudian paparan dilanjutkan oleh SC (Steering Committee) Dr. Dede Pramayoza dari ISI Padang Panjang, Dr. Sri Setyawati dari Universitas Andalas, Fauziah Fauzan ElMuhammady, SE, Akt, M.SI dari Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang dan Rois Leonard Arios, S.Sos, M.Si dari BPNB Sumatera Barat.
Peserta kegiatan terdiri dari perwakilan komunitas antara lain Taratak Nan Tuo, Komunitas Nan Tumpah, Komunitas Legusa, R.B Lambah Sani, Komunitas Kiek Sungai Landia, Rumah Ada Seni, Teater Langkah, BSTM, Gubuk Kopi, Visual Is Me, dan Estetikostik dan dari Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat yang diwakili oleh Kabid Warisan Budaya Aprimas, S.Pd, M.Pd.
Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan masukan terkait bentuk kegiatan Festival Budaya Matrilineal.

BIMTEK JURU PELIHARA CAGAR BUDAYA KABUPATEN SIJUNJUNG TAHUN 2022

0

Rabu, 30 Maret 2022, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung Provinsi Sumatera Barat mengadakan kegiatan Bimtek Juru Pelihara Cagar Budaya Kabupaten Sijunjung bertempat di Aula Wisma Keluarga Muaro Sijunjung. Kegiatan berlangsung selama 3 (tiga) hari dari tanggal 30 Maret – 1 April 2022.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para juru pelihara dalam megelola serta melestarikan cagar budaya sebagai warisan cagar budaya di Kabupaten Sijunjung. Peserta kegiatan adalah seluruh juru pelihara (jupel) cagar budaya di Kabupaten Sijunjung.

Kegiatan dibuka oleh Kabid Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung. Dalam sambutan pembukaan, Kabid Kebudayaan menyampaikan bahwa pada tahun 2020, di Kabupaten Sijunjung ada 19 Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan tahun 2021 menjadi 30 ODCB yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui sidang Tim Ahli Cagar Budaya. Sedangkan di tahin 2022 ini direncanakan menjadi 58 ODCB yamg akan ditetapkan sebagai Cagar Budaya.

Pada hari pertama, bertindak selaku narasumber adalah Ferawati, S.Sos (Pamong Budaya Ahli Muda) dari BPNB Provinsi Sumatera Barat dengan tema Pelestariqn Nilai Budaya Terhadap Cagar Budaya dan Silvia Devi, S.Sos, M.Si (Pamong Budaya Ahli Muda) dari BPNB Provinsi Sumatera Barat dengan tema Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya.

Narasumber di hari kedua dan ketiga adalah Ahmad Kusasi, SS, M.Hum dari BPCB Provinsi Sumatera Barat dengan tema Penetapan Cagar Budaya Merupakan Upaya Pelestarian Cagar Budaya di Kabupaten Sijunjung, Mevi Rosdian, S.Sos, M.Sn, penggiat budaya dengan tema Keragaman Budaya dalam Perspektif Geopark dan Suciana Oktisa, S.Pd, penggiat budaya dengan tema Menjadi Juru Pelihara Kompeten.

BPNB Sumatera Barat Menyapa Desa Bukit Ulu, Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan

0

Selasa, 29 Maret 2022 bertempat di Kantor Desa Bukit Ulu Kecamatan Karang Jaya Kabupaten Musi Rawas Utara Provinsi Sumatera Selatan dilaksanakan kegiatan BPNB Sumatera Barat Menyapa Desa/Nagari.
Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan program/kegiatan BPNB Sumatera Barat dalam bidang pemajuan kebudayaan khususnya 10 (sepuluh) objek pemajuan kebudayaan dan program pemajuan kebudayaan desa/nagari. Keselurahan kegiatan untuk mendorong pemerintah desa atau nagari untuk pemajuan kebudayaan ditingkat desa/nagari. Kegiatan ini sejalan dengan UU nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Narasumber dalam kegiatan yakni Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat dengan tema Program BPNB Sumbar dan Pemajuan Kebudayaan, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Musi Rawas Utara dengan tema : Kebijakan Pemerintah Daerah Musi Rawas Utara dalam Pembinaan, Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan. Kemudian Kepala Desa Bukit Ulu dengan tema :Potensi Sejarah dan Budaya Desa Bukit Ulu, serta David Kaprawi, seorang tokoh adat dan seniman daerah tersebut, dengan tema Kesenian Nandai dan Pemajuan Kebudayaan di Desa Bukit Ulu.
Peserta terdiri dari tokoh adat, pemuda/i, komunitas, sanggar, pemerintah desa, seniman/budayawan, dan lainnya.
Dalam diskusi menghasilkan komitmen untuk pengembangan dan pemanfaatan potensi budaya yang ada di daerah tersebut, khususnya 10 (sepuluh) objek pemajuan kebudayaan yakni tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.
Disamping itu, ada juga komitmen untuk pengembangan potensi museum mini, yang menghimpun koleksi koleksi budaya masyarakat yang ada di Desa Bukit Ulu.

BPNB SUMATERA BARAT MENYAPA DESA GUNUNG SELAN DI KABUPATEN BENGKULU UTARA

0

Kamis, 24 Maret 2022, BPNB Sumatera Barat melaksanakan kegiatan BPNB Menyapa Desa Gunung Selan di Sanggar Tun Keme Desa Gunung Selan Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Acara di buka secara resmi oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kabupaten Bengkulu Utara. Peserta kegiatan terdiri dari Perwakilan Guru PAUD,  Penggiat Budaya, Sanggar, Pemangku Adat, Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, Seniman/Budayawan, dan Masyarakat.
Narasumber dalam kegiatan ini adalah Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkulu Utara yakni Novian Mashuri, S.Pd, M.Pd dengan tema Pentingnya Desa Pemajuan Kebudayaan dalam Pembangunan SDM di Kabupaten Bengkulu Utara. Narasumber ke dua oleh Abdul Samid selaku Budayawan Suku Rejang dengan tema Pelestarian Kebudayaan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa Gunung Selan, Narasumber ke tiga  oleh Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat yang diwakili oleh Kasubag Tata Usaha yakni Titit Lestari, S.Si, M.P dengan tema Program BPNB Sumbar dan Pemajuan Kebudayaan.
Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan program/kegiatan BPNB Sumatera Barat dalam bidang pemajuan kebudayaan khususnya 10 (sepuluh) Objek Pemajuan Kebudayaan dan program pemajuan kebudayaan desa/nagari. Keselurahan kegiatan untuk mendorong pemerintah nagari untuk pemajuan kebudayaan ditingkat nagari/desa. Kegiatan ini sejalan dengan UU nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Dalam diskusi dihasilkan komitmen untuk pengembangan dan pemanfaatan potensi budaya yang ada di daerah tersebut, khususnya 10 (sepuluh) objek pemajuan kebudayaan yakni tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Kajian Refleksi Matrilinial dalam Tradisi Lisan Masyarakat Pekal di Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu

0

im Kajian Pelestarian Nilai Budaya BPNB Provinsi Sumatera Barat melakukan kajian di Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu dari tanggal 18 sampai dengan 27 Maret 2022. Tim kajian yang terdiri dari Hasanadi, Noveri, Efrianto dan Mardoni mengkaji tentang “Refleksi Matrilinial dalam Tradisi Lisan Masyarakat Pekal di Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu”. Lokus kajian bertempat di Kecamatan Ipuh, Kecamatan Malin Deman dan Kecamatan Air Rami. Lokus ini dipilih karena masyarakat Pekal Mukomuko terkonsentrasi di tiga kecamatan tersebut.

Secara metodologi materi kajian berupa tradisi lisan masyarakat Pekal Mukomuko dikumpulkan dengan teknik observasi, studi kepustakaan dan wawancara dengan tokoh adat serta pelaku tradisi lisan di Kecamatan Ipuh, Kecamatan Malin Deman dan Kecamatan Air Rami. Pada gilirannya, materi tradisi lisan itu dianalisis guna menemukenali refleksi matrilinial masyarakat Pekal Mukomuko pada tradisi lisan yang berhasil didokumentasi.

Melalui kajian ini diupayakan pula adanya rekomendasi pemikiran berbasis luaran kajian terkait pentingnya kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Mukomuko dalam percepatan usaha perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan tradisi lisan masyarakat Pekal; warisan leluhur yang merefleksikan matrilinial masyarakat Pekal Mukomuko Provinsi Bengkulu.

KUNJUNGAN DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KAB. PESISIR SELATAN DAN KOMUNITAS ART TAMBO

0

Selasa, 22 Maret 2022 Kepala BPNB Sumatera Barat menerima tamu dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat dan Komunitas Art Tambo.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesisir Selatan melalui Kabid Kebudayaan beserta staf melakukan koordinasi dan audensi terkait program kerja tahun 2022. Diantaranya tentang pengkajian sebagai syarat untuk pengusulan dan penetapan WBTB serta Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang kebudayaan.

Selanjutnya koordinasi dan audensi tamu dari Art Tambo, Komunitas ini merupakan sebuah organisasi kesenian yang bertujuan mewadahi seluruh cabang seni yaitu seni rupa, seni pertunjukan, dan seni sastra. Komunitas ini berencana melaksanakan acara bertaraf internasional Art Tambo#5 di Sumatera Barat yang berpusat di Kota Bukittinggi, 17 September sampai 6 Oktober 2022.
Sebuah tekad membangun dan menyemarakkan iklim berkesenian di Sumatera Barat.