Anyaman Lapiak; Riwayatmu Kini

0
6717

Solok – Salah satu tugas Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat adalah melaksanakan perekaman Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Perekaman ini bertujuan untuk mendokumentasikan suatu karya budaya sehingga mempunyai dokumen yang suatu saat bisa dinikmati, dipelajari bahkan diwariskan kepada generasi muda. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kepunahan karya budaya tersebut.

Pada tahun ini, BPNB Sumatera Barat akan melaksanakan perekaman WBTB di tiga wilayah kerja yakni Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Khusus untuk wilayah Sumatera Barat akan mencoba merekam proses pembuatan anyaman lapiak.  Pemilihan ini didasarkan karena saat ini anyaman ‘lapiak’ sedang diusulkan sebagai warisan Indonesia. Selain itu anyaman lapiak juga sudah diambang kepunahan dan perlu dilestarikan.

Anyaman Lapiak adalah salah satu kerajinan tradisional yang pernah berkembang di masyarakat Minangkabau. Lapiak atau tikar adalah kebutuhan alas bagi masyarakat, baik untuk tempat duduk, tempat tidur maupun wadah untuk menjemur hasil-hasil pertanian seperti padi, kopi dan lain-lain. Bahan utama pembuatan anyaman lapiak ini adalah daun pandan. Daun pandan direbus lalu diwarnai dan selanjutnya dianyam dengan tangan untuk jadi tikar.

Lain dulu lain sekarang. Anyaman lapiak pada masa kini sudah jarang ditemui bahkan hampir mengalami kepunahan. Kurangnya ketersediaan bahan baku menjadi salah satu penyebab berkurangnya produksi anyaman lapiak. Namun bukan itu saja, anyaman lapiak semakin punah dikarenakan beberapa hal seperti kurangnya permintaan karena telah tergantikan oleh tikar-tikar impor yang lebih ringan, lamanya proses pembuatan dan semakin berkurangnya orang yang mengetahui cara pembuatan.

Tanpa dokumentasi yang baik, maka bisa dipastikan anyaman lapiak akan benar-benar mengalami kepunahan di masa mendatang. Untuk itu BPNB Sumatera Barat berencana mengadakan perekaman pembuatan anyaman lapiak pandan. Perekaman ini dimulai dari proses pengambilan daun pandan, manyaikk, manyisik, merendam dan merebus, mencolok warna sampai proses menganyam daun pandan menjadi tikar.