Silek, Rumah Gadang Indak Bapintu Mancik Saikue Bapantang Lalu (8)

0
989
Gerak buka langkah dalam aliran silek 'kumango'. Silek ini berkembang di Kabupaten Solok Selatan. Foto. Marbun

Sekali-kali kami disuruh guru menendang atau menumbuk, dan beliau perlihatkan tjara mengelakkannja. Dan sudah itu beliau menendang, tetapi pura-pura dan tidak keras, (sebab djika sebenarnja tentulah mudah kena perut kami), dan kami mengelakkan. Djika kami kurang tahu mengelakkan, ditundjukkan betapa mestinja. Demikianlah berganti-ganti sampai lantjar, tepat, dan automatis tangkisan kami (Muhammad Radjab dalam Semasa Ketjil dikampung, 1913-1928 Autobiografi Seorang Anak Minangkabau, 1950 :66).

Begitulah nuansa seorang anak Minangkabau dikelampauan belajar silek. Seorang guru silek, mengajarkan kepada seorang anak sasian cara menendang dan mengelak yang baik dan benar dalam bersilek  begitu juga dengan antisipasi bila serangan akan tiba.

Dalam kaitan inilah muncul ungkapan-rumah gadang indak bapintu, mancik saikue bapantang lalu (rumah gadang tidak berpintu, tikus seekor berpantang lalu (tidak bisa masuk). Ini adalah prinsip dalam silek Minangkabau yang menegaskan bahwa dalam posisi terbuka sekalipun, seorang pasilek tidak mudah diserang, karena setiap serangan akan diantisipasi dengan baik. Penyerang diingatkan akan resiko tangkisan yang tidak kalah fatalnya dengan serangan balik bila dikenai.

Baca juga: Silek, garak-garik, pandang kutiko, dimintak baru dibari

Sebuah ungkapan yang harus dipahami dengan baik, sebab dengan pemahaman yang sempit akan membuat tafsiran yang berbeda pula, seperti rumah gadang indak bapintu, selama ini yang kita lihat rumah gadang tersebut ada pintunya,  namun kita harus memahaminya bahwa ada makna dibalik hal tersebut.

Bagi seorang yang belajar silek pun sikap kearifan juga diperlihatkan, hal ini sesuai prinsip silek Minangkabau, dimana bila terjadi perselisihan dengan sesamanya tidak akan berkelahi di hadapan orang ramai atau ditempat perselisihan itu terjadi. Mereka akan pergi ke tempat yang sepi berdua saja atau ditemani kawan-kawan masing-masing.  Kawan-kawan mereka hanya menyaksikan saja. Tidak boleh ikut campur selama tidak terjadi kecurangan dengan menggunakan alat atau bila melihat gelagat salah seorang akan terbunuh. Perkelahian yang dilakukan di tempat ramai dipandang sebagai perkelahian para pengecut yang mengharapkan bantuan teman-teman sendiri atau diminta dilerai segera. Jika terdapat perkelahian di tempat ramai, maka hal itu merupakan suatu pengeroyokan terhadap seseorang yang tertangkap basah karena mencuri atau menggoda perempuan. Lazimnya orang yang dikeroyok itu dibiarkan saja oleh teman-temannya sendiri (Navis, 1984 : 266).

Lazimnya di daerah Sumatera Barat silek merupakan suatu keterampilan untuk membela diri tanpa mempergunakan senjata atau alat lainnya. Dalam usaha bela diri dari serangan musuh, maka silek ini diajarkan tanpa mempergunakan alat, melainkan sepenuhnya berpegang kepada keterampilan untuk mempertahankan diri dari serangan. Belajar silek bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk mencari teman. Hal ini sesuai dengan pepatah- musuah indak dicari jikok basuo pantang diilakkan- musuh tidak dicari, kalau bertemu  pantang dielakkan. Membiasakan diri untuk membela diri dengan jiwa kesatria seperti itu sedini mungkin. Sebab kalau tidak diajarkan sedini mungkin, kemungkinan setiap hari, setiap malam akan terjadi perkelahian dan pertumbahan darah. Situasi seperti ini sangat memungkinkan, lebih-lebih pada zaman dahulu, dimana mobilitias kaum remaja dari rumah ke surau sangat tinggi.

Pendalaman atas ungkapan tersebut bisa kita pahami bahwa seorang pasilek bila diserang tidak boleh menangkis apalagi menyerang, akan tetapi diwajibkan mengelak sampai empat kali. Dalam silek Minangkabau aliran Kumango misalnya, terdapat empat gerakan berupa elakan, yakni elakan mande, elakan bapak, elakan guru dan elakan sahabat karib. Elakan dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada mande (ibu), bapak, guru dan sahabat karib yang sedang memarahi atau menasehati kita, dan yang harus dilakukan adalah memahami bukan melawan. Pada serangan kelima baru boleh menangkis serangan musuh, Karena serangan atau pukulan yang kelima itu musuh sudah kemasukan setan sehingga setan dalam tubuhnya harus ditundukkan. Tangkisan maupun pukulan yang kelima bukan berarti harus menyakiti pihak musuh, melainkan masih berupa nasehat. Karena secara kasar mata musuh itu adalah lawan, namun secara batin adalah kawan (saudara), sehingga ia harus diselamatkan (Purna dan kawan-kawan, 1996/1997 : 45, Mulyono dan kawan-kawan, 2012 : 83-84 dan Hasanuddin dan kawan-kawan, 2015 :11).

Serangan di dalam silek diartikan sebagai usaha mempertahankan diri dengan cara melancarkan pukulan, tendangan dan lainnya pada suatu sasaran di bagian tubuh lawan. Dikatakan sebagai usaha mempertahankan diri karena pada dasarnya semua teknik di dalam silek (apakah serangan maupun pertahanan) semata-mata hanya untuk mempertahankan diri atau membela diri. Sehingga seorang pasilek mengutamakan praktik pertahanan diri terlebih dahulu dari praktik menyerang. Teknik serangan harus dikuasai secara baik dan benar, karena hal ini akan sangat berpengaruh pada penguasan teknik-teknik serangan di tingkat lanjutan.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari prinsip rumah gadang indak bapintu, mancik saikue bapantang lalu (rumah gadang tidak berpintu, tikus seekor berpantang lalu (tidak bisa masuk) bahwa sikap kehati-hatian dan sikap kearifan dalam kehidupan ini mestilah kita tumbuh kembangkan, dan janganlah sekali-kali menyerang orang karena serangan yang kita buat akan membuat serangan tersebut balik kepada kita juga. Bersambung…

Penulis: Undri, peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat.

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 20 September 2018.