Runciang jan nan Mancucuak, Sandiang jan nan Maluko

0
32

Penulis: Undri

Berbuat kebaikan mestilah kita lakukan dalam hidup ini. Bila kita memiliki kepandaian atau mempunyai ilmu, jangalah sampilik kariang– tidak mau berbagi pula. Janganlah digunakan untuk merusak atau menimbulkan bencana bagi orang lain. Hendaklah kita membawa berkah dan keuntungan bagi orang lain atau sikap kita tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan orang lain. Nasehat telah diungkapkan- runciang jan nan mancucuak, sandiang jan nan malukoi (runcing jangan yang menusuk, sanding jangan yang melukai).

Obat dari semua itu adalah rendah hati, sifat ini yang paling ideal dalam hidup. Sifat rendah hati menjauhkan kita dari sifat sombong, congkak, angkuh, acuh tak acuh kepada orang lain. Perhatikan pantun berikut : kacak langan bak langan, kacak batih lah bak batih, bajalan dirusuak labuah, tagak sarupo urang mambali, duduak sarupo urang manjua, sarupo lonjak labu dibanam, sarupo kacang diabuih ciek.

Berkenaan dengan sifat rendah hati itu sendiri, ada beberapa tanda seseorang itu mempunyai sifat tersebut, antara lain dia selalu minta maaf kalau bersalah, dan selalu minta ampun dan bertobat kalau berdosa. Dingkapkan dalam kato pusako, salah catok malantiangkan, salah ambiak mangambalikan, salah makan mamuntahkan, salah pado manusia minta maaf, salah pado Allah minta taubat.

Untuk itu perlu kiranya mencontoh dan belajar dari ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Semakin banyak ilmu pengetahuan yang kita miliki, semakin tinggi pula sifat rendah hati yang kita miliki. Tidaklah angkuh dan sombong. Apalagi kepandaian dengan ilmu yang kita miliki terkadang untuk memperdayakan orang lain, guna keuntungan kita sendiri. Sebuah perihal yang penting kita hindari dalam hidup ini. Jangan ditiru sifat ayam, bertelur satu rebut sekandang, artinya berilmu sedikit sudah menyombongkan diri. Kita renungkanlah- kok mandi di ilia-ilia, kok mangecek dibawah-bawah (jika mandi di hilir-hilir, jika berbicara di bawah-bawah)- menadakan orang rendah hati, menunjukkan bahwa ia tidak sombong dan tidak angkuh.

Kemudian setiap orang harus sadar pada kekurangannya. Jadi, tidak ada yang akan disombongkan karena alam pemberian Allah SWT kepada hamba-Nya, makin kaya atau makin banyak ilmu, kita harus rendah hati.  Tidak berhenti disitu saja orang yang memiliki pengetahuan yang tinggi, dalam berbicara janganlah sampai menyinggung perasaan orang lain. Janganlah suka menonjolkan diri meskipun kita orang yang berada dan berpengetahuan.

Dalam hidup ini janganlah menyombongkan diri-pandai menempatkan diri dalam kehidupan masyarakat, tidak boleh bersikap atau bertindak lebih tinggi atau lebih pintar-sok pintar, sok pandai-orang sekarang menyebutnya. Ungkapan mengungkapkan berupa nasehat kok mandi di ilia-ilia, kok mangecek dibawah-bawah tersebut. Artinya hendaklah kalau berbicara jangan meninggi, kalau mandi di sungai hendaklah disebelah hilir dari orang lain. Tentu maksudnya jangan menyombong diri, baik dalam berkata-kata, maupun dalam perbuatan.

Cadiak indak mambuang kawan, gapuak indak mambuang lamak-cerdik tak membuang kawan, gemuk (banyak makan) tak membuang lemak (yang enak). Pepatah yang mengemukakan nilai-nilai prikemanusiaan. Meskipun dirinya telah memiliki kelebihan tetap memperhatikan dan tidak menjauhkan diri dengan orang lain.

Tidak itu saja, diungkapkan panjang jan malindih, gadang jan malendo– besar jangan menindas, besar jangan menyenggol. Jika berkuasa janganlah bersikap semena-mena dengan menekan atau memaksa kehendak pada yang lebih kecil (bawahan) karena mereka pasti akan kalah. Sebab sebagai pemimpin itu hanyalah amanah. Bila kita memegang amanah dengan baik maka orang hormat kepada kita, namun bila tidak buktikanlah bahwa  setelah tidak berkuasa orang mengindar dari kita- tidak menghormati kita.

Ungkapan runciang jan nan mancucuak, sandiang jan nan malukoi (runcing jangan yang menusuk, sanding jangan yang melukai) mengkehendaki sifat yang kita tunduk kepada nilai kemanusiaan, menghargai sesama manusia, atau diistilahkan juga memanusiakan manusia itu sendiri, menghargai sesama manusia, tidak merasa benar dan berilmu sendiri namun kita melihat sesuatu potensi bagi kita sebagai kemuliaan dan kemaslahatan yang bisa menguntungkan bagi manusia lainnya. Kita menghindari perihal tindakan dan perbuatan kita yang dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Akhirnya pentinglah sifat rendah hati kita tanamkan dalam diri kita. Bila kita memiliki kepandaian atau mempunyai ilmu, mulailah berbagi kepandaian kita kepada orang lain. Jangan dijadikan kepandaian dan pengetahuan yang kita miliki untuk merusak atau menimbulkan bencana bagi orang lain namun kita menjadi berkah dan kemuliaan ditengah masyarakat. Mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai  Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah

TINGGALKAN KOMENTAR