Harapan Memasyarakatkan Silek Minangkabau (13)

0
1003

Begitu eloknya filosofi yang diajarkan dalam silek Minangkabau. Filosofi yang maha dahsyat bila dipraktikkan dalam kehidupan kita.  Silek, lahienyo mancari kawan batinnyo mancari tuhan , misalnya saja. Teramat dalam maknanya.

Keelokannya, apakah dibarengi dengan pengetahuan masyarakat tentang hal tersebut. Sebuah pertanyaan mengugah, bila dikaitkan dengan kondisi masyarakat kita yang cenderung belum bisa membedakan makna yang garak dan garik. Tidakkah garak (gerak) itu adalah kemampuan membaca, mencium bahaya (insting) sesuatu akan terjadi. Contohnya seorang pesilek bisa merasakan ada sesuatu yang akan membahayakan dirinya. Garik (gerik) adalah gerakan yang dihasilkan (tindakan) sebagai antisipasi dari serangan yang akan datang. Sehinga dua elemen tersebut, yakni garak dan garik harus dipahami dengan baik oleh seorang pasilek. Itu secuil dari sekian banyak filosofi yang fundamental dalam silek Minangkabau.

Pengetahuan diatas bisa terpatri bila ada proses dan wadah kearah tersebut. Dalam kerangka itulah peran pemerintah amatlah penting, disamping peran elemen lainnya. Muaranya adalah silek Minangkabau menjadi bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau itu sendiri. Ketika itu berbuah, petikan hasilnya dapat diraih kelak.

Baca juga: Mancak, bungo silek

Peran pemerintahpun beragam, mulai dari mengeluarkan kebijakan sampai melahirkan program yang bernas pelestarian silek Minangkabau. Dalam kerangka itulah peran pemimpin sangat dibutuhkan untuk mendorong dan mamfasilitasi sehinga silek Minangkabau menjadi mahakarya terbesar dalam khazanah budaya Minangkabau.

Saya amat yakin-bahkan aiqul yakin komitmen Gubernur Sumatera Barat dibawah kepemimpinan Irwan Prayitno sekarang ini sokongan untuk kegiatan pelestarian silek Minangkabau amatlah besar. Sepengetahuan penulis, mulai dari upaya pengusulan silek (pencak silat) sebagai warisan budaya dunia ke Unesco, pendokumentasian silek Minangkabau, sampai sekarang ini melaksanakan SAF (Silek Arts Festival), di beberapa kabupaten dan kota di Propinsi Sumatera Barat yakni Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kota Payakumbuh, Kota Sawahlunto, Kota Solok, dan Kabupaten Tanah Datar.

SAF dengan tema panjapuik piutang lamo merupakan rangkaian kegiatan platform Indonesiana. Indonesiana sendiri merupakan platform pendukung kegiatan seni budaya di Indonesia yang bertujuan untuk membantu tata kelola kegiatan seni budaya yang berkelanjutan, berjejaring, dan berkembang yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bagaimana silek Minangkabau ini bisa berkelanjutan, berjejaring dan berkembang. Maka perlu ramuan-ramuan yang jitu. Langkahnya bisa diambil, yakni pertama kedepan menjadikan kegiatan sebagai bagian dari kegiatan alek nagari yang dilaksanakan setiap nagari. Perlu komitmen dari masyarakat dan pemerintah untuk hal ini. Kegiatan alek nagari. sebuah kegiatan yang telah berurat berakar dalam kehidupan masyarakat kita. Hampir semua nagari melaksanakan kegiatan ini, dengan berbagai macam penyebutan nama dan bentuk kegiatan. Dilaksanakan mulai dari satu hari sampai satu minggu penuh.

Coba bayangkan setiap nagari melaksanakan alek nagari ini dengan menampilkan seni budaya yang ada di daerah tersebut seperti silek, serta bentuk kegiatan lainnya mulai dari pawai budaya, pergelaran seni tradisi, panggung seni, festival, lomba seni/budaya dan lainnya. Tidak hanya sebatas pelestarian kebudayaan imbas dari kegiatan ini, namun roda ekonomi masyarakat akan berputar kearah yang baik. Malam hari ditampilkan silek, randai, dan lainnya-orang banyak menonton-bajibun-orang berjualanpun akan berdatangan-jadilah pasar malam yang dapat menghidupi ekonomi masyarakat nagari.

Bagaimana dengan pembiayaan kegiatan ini. Pemerintah daerah hanya memberikan stimulus. Rasa kegotong-royongan dan partsisipatif masyarakat lebih dikuatkan untuk jalannya kegiatan ini-dan ini perlu didorong. Selama ini pengalaman dilapangan yang pernah penulis lihat dan rasakan bahwa masyarakat yang ada di nagari serta para pegiat budaya di kampung-kampung,  nagari-nagari yang terpenting itu adalah “perhatian”- ibarat bayi perlu dekapan dari sang ibunya. Tidak perlu biaya besar,  setiap kampung, nagari kebudayaan itu tumbuh dan masih menjadi bagian dari kehidupan mereka. Sekali lagi, pemerintah daerah hanya memberikan stimulus untuk kelangsungan kegiatan ini.

Kedua, silek Minangkabau dimasukkan kedalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah, baik tingat dasar, menengah dan atas. Sebab media yang paling baik sebagai pewarisan nilai di dalamnya berfungsilah sekolah dalam hal sekolah sebagai preserver dan transmitterdari culture hiratage sebagai instrument for trans­forming culture.  Memang banyak hambatan selama ini menuju arah tersebut, mulai dari persoalan guru/tuo silek yang mengajar sampai kepada payung hukum atau kebijakannya. Semua hal tersebut bisa diselesaikan dengan penguatan kebijakan seperti mengeluarkan peraturan daerah dan sebagainya.

Kurikulum muatan lokal dirancang bukan saja pendidikan tentang garik silek itu sendiri namun juga memuat filosofi yang amat kaya dalam silek Minangkabau.

Ketiga, SAF (Silek Arts Festival) yang telah dilakukan tahun ini, bisa kita jadikan kegiatan tahunan seperti pekan budaya tempo dulu. Ikon kearah tersebut sudah diletakkan, dengan  panjapuik piutang lamo nya. Mengerakkan sendi-sendi komunitas yang ada mulai dari sasaran, tuo silek, pandaka, anak sasian, masyarakat lainnya.

Harapan, nilai-nilai filosofi dalam silek Minangkabau dapat dijadikan fondasi utama dalam kehidupan kita kedepannya. Memang tidak mudah untuk melakukan hal tersebut, dengan usaha dan tekad yang kuat kita bisa wujudkan.

Sebagai bagian dari masyarakat Sumatera Barat, penulis merasa banga dengan silek Minangkabau, dan suatu saat silek menjadi bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dan mahakarya terbesar seperti yang pernah diajarkan oleh tuo silek. Dan, itu harapan yang teramat besar bagi penulis Pak Gubernur. Tamat.

Penulis: Undri, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Padang Ekspres pada 26 September 2018