Madrasah Tarbiyah Islamiyah Tobek Godang

0
1644

Penulis: Hariadi (Peneliti BPNB Sumatera Barat)

Sejarah telah mencatat bahwa Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) telah berkntribusi terhadap dunia pendidikan di Sumatera Barat bahkan di Indonesia. Satu diantara MTI generasi awal adalah MTI Tobek Godang Padang Japang kabupaten lima puluh kota. Penamaannya  dikaitkan dengan lokasi tempat berdirinya MTI ini, karena terdapat sebuah kolam besar yang dalam bahasa minang dialek Lima Puluh Kota disebut Tobek Godang.

Cikal bakal MTI Tobek Godang adalah sebuah lembaga pendidikan surau  yang didirikan oleh Syekh Abdul Wahid Assolihiy sekembali menuntut ilmu kepada para ulama di Lima Puluh Kota dan sekitarnya. Surau Tobek Godang berubah nama menjadi MTI Tabek Godang setelah  terbentuknya Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang dimotori oleh ulama tradisional Minangkabau di Canduang Agam. Salah satu keputusan dalam pertemuan para ulama tersebut menyepakati perubahan sistim pendidikan surau berobah menjadi sistim klasikal.

Perobahan sistem ini membawa Surau Tobek Godang ke era baru.  perubahan dari sistim surau ke sistim klasikal membutuhkan biaya terutama untuk membangun ruang belajar. Untuk mewujudkan rencana pembangunan madrasah tersebut, Syekh Abudul Wahid, para guru, santri beserta jamaah wirid yang beliau bina bahu membahu mengusahakan pendanaan untuk pembangunan tersebut.

Semangat yang dilandasi niat dan kebulatan tekat serta kegigihannya mengumpulkan sumbangan dalam bentuk infak, sedekah dan waqof. Bentuk sumbangan yang diterima dari masyarakat dalam berbagai bentuk seperti, papan, seng/atap, tonggak dan bentuk lainnya. Pada Setiap pengajian yang dilaksanakan di pelbagai daerah rencana pembangunan MTI Tobek Godang senantiasa di sampaikan. Puncak dari usaha tersebut terbangunya sebuah sekolah bertingkat dua dan sebuah asrama puteri yang juga bertingkat  dua. Semenjak itu pembelajaran klasikal dilaksanakan.

Lama pendidikan klasikal di MTI adalah selama tujuh tahun. Ijazah atau syahadah baru bisa didapatkan seorang santri bila sudah menyelesaikan semua tingkat. Pada periode awal pemberlakukan sistem klasikal semua mata pelajaran adalah pelajaran yang bersifat keagamaan  belum dipelajari mata pelajaran umum. Guru yang mengajar dengan system guru kelas, dengan demikaian satu orang guru bertaggung jawab untuk satu tingkatan. Santri kelas tujuh dibimbing langsung oleh Syekh Abdul Wahid Assolihiy.

Semasa kepemimpinan syekh Abdul Wahid, setiap santri yang akan menamatkan pendidikannya diwajibkan untuk mengikuti bimbingan rohani dalam bentuk suluk/ khalwat  berdasarkan ajaran tarekat Naqsabandiyah. Syekh Abdul Wahid langsung turun tangan membimbing kegiatan ini. Kegiatan suluk/ khalwat dilaksanaan di surau biru yang terdapat di komplek MTI Tobek Godang. Kegiatan tersebut terhenti dengan wafatnya Syekh Abdul Wahid Assalihiy pada tahun 1950.

Dalam perjalanannya proses pembelajaran di MTI Tobek Godang pernah terhenti beberapa kali, yaitu saat terjadinya agresi belanda yang kedua tahun 1948, saat peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Idonesia.(PRRI) tahun 1958, dan  Pada era tahun delapan puluhan juga terhenti beberapa tahun karena kendala jumlah murid dan tenaga pengajar. Saat ini MTI Tobek Godang telah berusia lebih satu abad dan terus berkontribusi untuk mencerdaskan anak bangsa.

Pendiri MTI Tobek Godang

MTI Tobek Godang didirikan oleh Syekh Abdul Wahid. Beliau lahir di Padang Japang, pada bulan Muharam tahun 1295 H, bertepatan dengan tahun 1878 M.  bearasal dari suku Sikumbang Padang Japang Kecamatan Guguak Kabupaten Lima Puluh Kota. Ayah beliau bernama Syekh Muhammad Shaleh seorang ulama dari Padang Kandis,Tujuh Koto Talago, dan kakeknya adalah Buya Munggu juga berasal dari Padang Kandis.

Pendidikan agama beliau dimulai dengan belajar kepada orang tua beliau sendiri. Petualangan menuntut ilmu beliau lanjutkan kepada Syekh Engku Mudo Amran dan Engku Meran di Limbukan Payakumbuh. Beberapa tahun belajar di Limbukan beliau lanjutkan belajar  kepada Syekh Thaib Umar di Sungayang Tanah Datar. Guru beliau yang lainnya adalah syekh Abdul Hamid di Tanjung Ipuh, Tujuh Koto Talago. Mengenai ilmu tasawuf beliau belajar kepada Syekh Muhammad Sa’ad di Mungka, yang juga dikenal dengan sebutan Beliau Surau Baru.

Pada rentang waktu tahun 1919 sampai 1922 Syekh Abdul Wahid menuntut ilmu di  tanah suci, Makkah.  Guru-guru tempat beliau tempat memperdalam pengetahuan agamanya antara lain adalah Syekh Hasan Yamani, Syekh Sayyid ‘Ali al-maliki. Disamping ilmu syariat, ilmu tasawuf juga beliau perdalam selama berada di Makkah.

Syekh Abdul Wahid Asshalihy telah banyak berkiprah dalam rangka mengembangkan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat, serta berbagai upaya untuk mengembangkan lembaga pendidikan agama. Usaha-usaha yang dilakukan oleh Syekh Abdul Wahid untuk mewujudkan kemajuan dalam kehidupan beragama sebagai berikut:(1).Mendirikan surau dan madrasah untuk Mencetak kader kader ulama dan pemimpin umat.(2). Mengadakan wirid pengajian ke pelbagai pelosok negeri.(3). Mengadakan Suluk/khalwat di bulan ramadhan.

Beberapa keteladanan dari pribadi Syekh Abdul Wahid Assolihiy antara lain: (1). Beliau sangat mendorong para santrinya yang telah menyelesaikan pendidikan untuk mendirikan sekolah setelah kembali ke kampung halaman masing-masing. Bahkan ada yang menceritakan, keseriusan Syekh Abdul Wahid mendorong para murid beliu mendirikan sekolah dengan bentuk membekali dengan santri agar sesampai di kampung halaman ada santri yang langsung bisa di ajar. Beberapa MTI yang didirikan oleh murid beliau diantaranya MTI Koto Panjang Lampasi dan MTI di Sungai Rimbang Suliki. Beberapa MTI yang didirikan murid beliau ada yang hanya sampai kelas tiga, untuk kelas empat dan selanjutnya para santri melanjutkan di MTI Tobek Godang. (2). Saat berdakwah ke pelbagai pelosok negeri Syekh Abdul Wahid biasanya menghadiahi bibit tumbuhan untuk di tanam sebagai kenang kenangan bagi jamaah. (3). Syekh Abdul Wahid juga sangat serius mendorong agar para santri serius dalam belajar, termasuk belajar malam di surau tempat tinggal masing masing. Bagi yang kedapatan tidak ikut belajar maka diberi hukuman  membersihkan sekolah dan mencari daun talas untuk makan ikan [Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Rubrik Bendang pada 6 Agustus 2017