Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung dan Sejarah Minangkabau

0
6611

Penulis: Undri (Peneliti BPNB Sumatera Barat)

Banyak diantara kita yang tidak tahu tentang kiprah Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung ini. Kita sadari dalam literatur sejarah Minangkabau-tanah kelahirannya- keberadaan Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung sulit ditemui. Beliau seakan tengelam oleh peran yang dimainkan oleh tiga orang dato’ yakni   Dato’ri Bandang, Dato’ Patimang, dan Dato’ ri Tiro terutama dalam proses penyebaran agama Islam di daerah Sulawesi Selatan. Hanya saja kita terbantukan dengan literatur yang ada di daerah Sulawesi yang mengupas tentang  sejarah kiprah tokoh ini dan dikaitkan dengan penyebaran Islam di daerah tersebut.

Makam Mahkota Sultan Pagaruyung, Foto. Undri

Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung bukti keberadaan beliau di negeri asalnya yakni Minangkabau tidaklah berbekas. Namun dinegeri nan jauh di sana, bekas keberadaan beliau begitu jelas terlihat sampai sekarang ini. Kuburan beliau yang terletak di areal persawahan di daerah Patani memperkuat keberadaan Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung tersebut. Diareal perkuburan dengan dikelilingi oleh persawahan penduduk  dan berjarak sekitar  1 (satu)  kilometer dari bibir pantai Sanrabone merupakan bukti nyata akan keberadaan beliau di daerah tersebut.

Uniknya kuburan tersebut dianggap keramat oleh sebagian masyarakat Sanrabone dan sekitarnya. Melakukan ritual dan bernazar sering dilakukan mereka. Bagi mereka sendiri, Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung memiliki kemampuan tersendiri walaupun beliau sudah meninggal dunia.

Disamping itu, bukti keberadaan beliau adalah sebuah mesjid tua sebagai peninggalan beliau. Mesjid tersebut terletak di Mandalika. Menurut Ali Malombasi, anak langsung (kandung) dari raja terakhir (Raja ke-23) Sanrabone, mesjid tersebut dibangun sekitar tahun 1602. Pernyataan dari Ali Malombasi tersebut diperkuat dengan naskah yang disimpan oleh Abdul Razak Daeng Ngogo (80 tahun). Dalam naskah yang ditulis ulang dalam bahasa Makasar bertuliskan beraksara Arab Melayu menjelaskan bahwa:

Merujuk pada Silsilah Asal Keturunan Pertama Kedatangan Ulama Besar Melayu di Negeri Sanrobone oleh Abdul Razak Daeng Ngago (1994) bahwa Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung memperistrikan Tuan Sitti, memiliki anak Tuan Raja. Kemudian Tuan Raja memperistrikan Tuan Aminah, melahirkan anak 4 (empat) orang yakni (1) Ince Ali, (2) Ince Talli, (3) Ince Hasan, dan (4) Ince Husaini. Ince Ali tersebut memperistrika Jawa Katinga (Tuan Katingan) namanya Marahuma, memiliki anak perempuan bernama Ince Tija. Ince Tija mempersuamikan Lolo Bayo dan melahirkan keturunan Kare Sali. Kare Sali mempersuamikan Kare Baseng, melahirkan anak keturunan 4 (empat) orang yakni (1) I Maemunah, (2) Kare Tongngi, (3) Kare Pato, dan (4) Kare Muntu. Kare Muntu memperistrikan orang Jeneponto kemenakan Kareang Jeneponto bernama Tongngi, memiliki anak 4 (empat) orang yakni (1) I Daro, (2) Samaila, (3) Abdul Kadir, dan (4) Mominah.

Mominah mempersuamikan Ince Gali dengan memiliki 5 (lima) orang anak, yakni (1) Kare Capa, (2) Kare Kulle, (3) Sitti Memunah, (4) Kare Siang, dan (5) Kare Tojeng. Kare Tojeng mempersuamikan Kare Jallang (Kare Jalla) memiliki anak 5 (lima) orang, yakni (1) Kare Mangasai, (2) Kare Pole, (3) Kare Poto, (4) Kare Sittin, dan (5) Kare Baluru. Kemudian Kare Baluru mempersuamikan Kare Jarre, memiliki anak 9 (Sembilan) orang yakni : (1) Abdul Rahim, (2) Muhammad Jafar, (3) Hasan, (4) Huseini, (5) Ali, (6) Sabiba, (7) Aminah, (8) Adam Muhammad, dan (9) Japarah. Japarah memperistikan Kare Tongngi Binti Kare Pole, memiliki anak 4 (empat) orang yakni : (1) Halimah Daeng Ratu, (2) Hayawani Daeng Kenna, (3) Marhumah Daeng Calla, (4) Samaila Daeng Ma’ Bate.

Samaila Daeng Ma’bate memperistrikan  seorang anak Gallarang Balang yang bernama Saleha Daeng Nurung, memiliki anak 6 (enam) orang yakni : (1) I Minalalang Daeng Kenna, (2) I Nali Daeng Tonji, (3) I Yoho Daeng Siang, (4) Sitti Daeng Puji, (5) Yumma Daeng Sanga, dan (6) Abubakar Daeng Lau.

Abubakar Daeng Lau mempersistrikan Mu’minah Daeng Mami, memiliki anak yakni (1) Kadirong Laeng Massa, (2) Minolla Daeng Nirrang, (3) Timang Daeng Puji, dan (4) Manggaukang Daeng Bombong. Manggaukang Daeng Bombong memperistrikan Jawa Daeng Te’ne, melahirkan anak yakni (1) Rahmatiah Daeng Rampu, (2) Muhana Daeng Senga, (3) Abdullah Daeng Suro, (4) Paimatolla Daeng Kenna, dan (5) Syamsu Daeng Lau, (6) Sohoroh Daeng Bau, (7) Kio Daeng Naja, (8) Yoho Daeng Siang, dan (9) Kulujung Daeng Rani.

Keturunan Pagaruyung di Sulawesi, tidak terlepas dari penyebaran agama Islam di daerah tersebut. Agama Islam masuk ke Makassar, sejak raja Gowa ke 10 Tunipalangga (1546-1565 ) yaitu ketika dia memberikan izin kepada pedagang-pedagang Melayu untuk menempati daerah tersebut.

Setelah kerajaan Gowa Tallo menjadikan Islam sebagai bagian agama resmi kerajaan, maka timbullah hasrat sesuai dengan tuntutan syariat Islam yang diterimanya sebagai kebenaran yang harus disebarkan ke seluruh pelosok negeri, kerajaan-kerajaan tetangga dan raja-raja negeri sahabat. Dengan demikian maka Makassar mendapat kehormatan menjadi pusat penyebaran Islam di Sulawesi Selatan pada permulaan abad ke XVII.

Disigi dari perspektif geneologis, Minangkabau dan Sulawesi telah terjalin sangat kuat. Jalinan tersebut telah termaktub dalam perisai masa lalu terutama dalam perihal penyebaran agama Islam dari ranah Minangkabau ke daerah Sulawesi. Selain memunculkan tokoh seperti Dato’ri Bandang, Dato’ Patimang, Dato’ ri Tiro serta Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung. Tokoh terakhir ini sangat disayangka dalam berbagai literatur sejarah Minangkabau belum “muncul”. Pada hal beliau sangat berjasa terutama dalam proses penyebaran Islam di nusantara ini.

Melakukan penelitian lebih lanjut tentang Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung merupakan sebuah keharusan untuk meretas eksistensinya dalam khazanah historiografi Indonesia umumnya dan Minangkabau khususnya. Sehingga, hal ikhwal tentang sejarah tokoh ini diketahui oleh masyarakat luas khususnya dalam penyebaran agama Islam di nusantara, dan ini merupakan sebuah keharusan yang amat penting. Wasalam.

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang, Rubrik Khasanah pada Minggu, 3 September 2017