Sayang di anak dilacuti, sayang di kampuang ditinggakan

0
2995

Penulis: Undri

Sayang kepada anak bukan berarti semua kehendak anak harus dikabulkan. Segala tingkah lakunya yang kurang baik harus ditegur dan diajari. Sayang itu punya batas-batas tertentu, kalau dia bersalah orang tua harus memarahi bila perlu dilacuti. Begitu juga dengan sayang pada kampung, bukan pula berarti ditinggalkan buat selamanya. Pergilah menuntut ilmu, carilah penghidupan dan timbalah pengalaman ke negeri orang namun kampung halaman jangan dilupakan- sayang di anak dilacuti, sayang di kampuang ditinggakan (sayang di anak dilacuti, sayang dikampung ditinggalkan).

Sayang sebagai sebuah kata memiliki makna luas, namun seringkali disalahgunakan dan disia-siakan hanya untuk untuk terlihat romantis tanpa mengetahui arti yang sebenarnya namun jauh lebih dari itu, yakni perasaan yang cenderung bersifat memberi tanpa berharap mendapatkan balasan. Makna kata sayang sesungguhnya adalah perasaan ikhlas. Perasaan ikhlas itu baik si pelaku maupun si penerima dari sayang itu sendiri.

Sayang di anak dilacuti, bermakna begitu sayangnya orang tua kepada si anaknya, agar anak menjadi anak yang baik. Membingkai kearah tersebut maka perlu komunikasi. Komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak merupakan jembatan kearah menjalin kasih sayang. Ini bisa dimulai dari makan bersama.  Makan bersama, tidak hanya sekedar makan saja namun terkandung nilai yang maha dahsyat bila dilakukan dengan baik. Makan bersama tersebut bisa mengajari anak kita cara makan yang baik, cara duduk sampai cara berucap yang baik. Ketika anak kita duduk tidak sopan kita dapat mengajarinya cara duduk yang baik. Ketika anak kita duduk tidak sopan kita dapat menegur dan mempraktekkan cara duduk waktu makan yang baik pula. Ketika anak kita makan diselingi dengan ngobrol kita bisa memberitahukan bahwa hal tersebut tidaklah baik. Kita bisa menjelaskan bahwa ketika makan sambil ngobrol aliran makanan dalam perut tidak sempurna dan akan menganggu pencernaan. Waktu makan bersama, anak kita bisa didik cara makan dengan baik, berucap sampai kepada perihal cara berbagi cerita tentang pengalaman hidup kita.

Begitu juga dengan anak kita yang sudah akil baliq, bila tidak melaksanakan sholat dan kewajiban lainnya yang diwajibkan oleh Allah SWT maka kita sebagai orang tua untuk menegur, dan bila tidak juga kita harus melucutinya. Melucuti si anak bukan karena kita marah, namun kita sayang agar dikemudian hari kehidupan si anak menjadi lebih baik, baik untuk orang tuanya dan dirinya sendiri.

Sayang di kampuang ditinggakan, bermakna ketika si anak sudah dewasa, bagi laki-laki diajari untuk memahami dunia luar yakni menyuruh untuk merantau, merantau dalam arti kata meninggalkan kampung halaman juga meninggalkan pemikiran kekanak-kanakan menuju pemikiran kedewasaan.

Bagi orang Minangkabau mereka telah diajarkan untuk selalu tangkas baik dikampung halaman maupun dirantau. Di rantau misalnya pijakan hal ini adalah  karakatau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu di kampuang baguno balun (karatau (morus indica) tumbuh di hulu, berbuah berbunga belum, merantau bujang  dahulu di kampung berguna belum). Ketangkasan dan kegigihannya dirantau juga diasah dengan baik agar kelak menjadi perantau yang berhasil.  Filosofi kerantauan orang Minangkabau, yaitu sebaiknya dilakukan pada masa muda, untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman sebagai bekal hidup kelak dikemudian hari.

Nasehat bagi orang yang merantau juga agar jangan lupa kampung halaman namun jangan sampai rasa cinta pada kampung halaman membuatnya enggan mencari nafkah atau menuntut ilmu di rantau. Ungkapannya kapai madok kapulang, kapulang madok kapai-akan pergi menghadap pulang, akan pulang menghadap pergi. Begitulah besitan bagi kita memahami rantau yang sesungguhnya. Ungkapan ini digunakan oleh masyarakat Minangkabau untuk menasehati seseorang yang akan pergi merantau ke negeri orang, agar jangan sampai lupa pada kampung halaman dan dirantau mencari dunsanak dan induk semang tempat bergantung hidup di rantau orang-kalau jadi nak kapakan, iyo beli belanak beli,ikan panjang beli dahulu, kalau jadi nak berjalan ibu cari dunsanak cari, induk semang cari dahulu– begitulah hasrat bila seseorang merantau, yang memiliki misi yang amat baik dalam membangun silaturahmi dan penghidupan yang baik untuk masa depannya.

Jadi, begitu pentingnya pemahaman kita untuk memahami persoalan sayang itu sendiri. Khususnya sayang pada anak dan sayang pada kampung- sayang di anak dilacuti, sayang di kampuang ditinggakan (sayang di anak dilacuti, sayang dikampung ditinggalkan), mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah