Rendo bangku; Kerajinan Tradisional Perempuan Kotogadang

0
1031

Penulis: Firdaus Marbun

Kotogadang bagi sebagian besar masyarakat Sumatera Barat mungkin sudah sangat familiar. Sebuah nagari kecil di dekat Ngarai Sianok, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Nagari ini cukup terkenal, bukan hanya karena keasrian alamnya, tapi juga karena kekayaan budaya serta kualitas sumber daya manusianya. Bicara Sumber Daya Manusia, Nagari Kotogadang telah banyak melahirkan tokoh-tokoh terkenal baik di tingkat nasional maupun dunia. Sebut saja Agus Salim, Rohana Kudus, Sutan Syahrir,  dan lain-lain.

Hal lain yang membuat Kotogadang begitu terkenal adalah produk kerajinannya. Sudah sejak dahulu, Kotogadang dikenal dengan produk kerajinan seperti kerajinan perak, sulaman dan renda. Kerajinan tersebut bahkan sudah dikenal hingga manca negara. Bukan saja karena keindahan dan kehalusannya, kerajinan ini dikerjakan dengan menggunakan alat tradisional dan tenaga manusia. Kesenian perak umumnya dilakukan oleh para pria, sementara sulam dan renda dikerjakan para wanita.

Kerajinan renda oleh masyarakat Kotogadang disebut juga kerajinan rendo bangku. Penyebutan tersebut menyesuaikan dengan alat kerjanya yaitu bangku, yakni meja kecil yang dijadikan sebagai alas untuk merenda. Beberapa alat yang digunakan dalam kerajinan ini antara lain: bangku, penggulung renda, kelos (penggulung benang), pola motif, jarum pentul, pengait dan gunting. Sementara bahan utama pembuatan renda adalah benang emas.

Merujuk Refisrul (2011), renda merupakan kerajinan yang terbentuk dari jalinan benang yang dibentuk sedemikian rupa dan menjadi hiasan pada sisi-sisi selendang. Rendo bangku ini menggunakan alat-alat tradisional dengan pengerjaan mengandalkan tangan. Untuk membuat satu renda diperlukan waktu sekitar empat hari. Biasanya untuk menyelesaikan satu renda, seorang perenda harus mengerjakannya dari pagi hingga malam dengan waktu istirahat makan dan sholat.

Proses pembuatan renda dilakukan bertahap, mulai dari membuat pola, menggulung benang, memindahkan, membuat renda dan terakhir memasang renda pada selendang. Renda yang dipasang ke kedua ujung selendang disebut dengan rendo ujung. Sementara renda yang dilekatkan di sisi-sisi selendang disebut dengan rendo tapi. Motif yang biasa dipakaipun bermacam-macam tergantung kreativitas perenda, tapi umumnya berupa tumbuh-tumbuhan seperti bunga matahari, ros, melati.

Bagi masyarakat Kotogadang, kerajinan rendo begitu penting karena lekat dengan adat-istiadat. Hasil rendo umumnya ditempelkan sebagai hiasan pakaian adat seperti selendang bagi perempuan dan kain baterawai bagi laki-laki baru menikah. Selain itu, juga digunakan untuk hiasan tingkuluak yang ditempatkan pada sisi-sisi dan ujungnya. Rendo juga menjadi simbol prestise bagi seseorang. Bahkan setiap anak perempuan yang lahir pada masa lalu sudah disiapkan selendang dengan rendo untuknya.

Pada masa sekarang renda tidak lagi terbatas pada pakaian adat semata. Beberapa produk renda sudah digunakan untuk berbagai peralatan rumah tangga seperti taplak meja, seprai, alas gelas dan sebagainya.

Peran Yayasan Amai Setia

Munculnya kerajinan rendo bangku tidak lepas dari keberadaan Yayasan Amai Setia yang didirikan oleh Rohana Kuddus. Berdiri sejak 11 Februari 1911, awalnya yayasan ini dimaksudkan sebagai tempat berkumpul (Sari, 2016) perempuan Kotogadang sekaligus wadah mengatasi ketertinggalan pendidikan perempuan. Menurut Rohana Kuddus, ketertinggalan pendidikan ditengarai menjadi salah satu penyebab ketertindasan perempuan pada masa itu. Sehingga, pendirian Yayasan Amai Setia diharapkan bisa menjembatani akses pada pendidikan.

Melalui Yayasan Amai Setia, para perempuan Kotogadang  kemudian belajar membaca, menulis dan menghitung (calistung). Mereka juga diajarkan berbagai keterampilan seperti meyulam dan merenda. Hal ini untuk mendorong mereka mampu berkontribusi menopang ekonomi keluarga. Disana mereka dibentuk menjadi perempuan intelek sekaligus mampu mandiri secara ekonomi. Sang pionir Rohana Kuddus juga berpandangan bahwa selain intelektual, perempuan untuk tidak menjadi objek kekerasan maka harus memiliki kemampuan ekonomi.

Hingga kini Yayasan Amai Setia masih tetap eksis. Walau demikian cahaya kejayaan tersebut tidak lagi secerah dahulu. Kini hanya beberapa ibu-ibu yang dengan sabar menggeluti kerajinan ini di gedung yayasan. Tidak banyak perempuan yang berniat belajar kerajinan rendo. Beberapa alasan seperti waktu yang lama serta mengandalkan tangan ditengarai menjadi penyebab kurangnya animo masyarakat untuk belajar rendo bangku.

Penggunaan alat sederhana dan mengandalkan pekerjaan tangan manusia memang membuat proses pembuatan renda ini berjalan lambat. Sementara itu jika dikaitkan dengan ongkos pembuatan yang mahal, maka tentu nilai jualnya juga akan berbanding lurus. Di sisi lain, perkembangan teknologi telah dapat menghasilkan produk serupa dengan waktu yang lebih cepat dan harga yang lebih murah.

Terlepas dari kondisinya akhir-akhir ini, keberadaan rendo bangku diakui telah menjadi tonggak sejarah bagi perempuan-perempuan Indonesia Minangkabau bagi perempuan Kotogadang. Keberadaan rendo bangku tidak hanya mampu menopang ekonomi keluarga di kala sumber penghasilan utama tidak mencukupi. Tapi lebih dari itu, keberadaan rendo bangku telah mampu menjadi wadah mengubah perspektif perempuan di tengah dominasi budaya patriarkhi.

Cita-cita perempuan mandiri dan bebas dari ketertindasan sebagaimana dicita-citakan Rohana kuddus telah menambah peran penting Yayasan Amai Setia Kotogadang dan kerajinan rendo bangku. Para perempuan telah mampu berpikir kritis dan mandiri secara ekonomi melalui pendidikan dan keahlian yang dimiliki. Mereka juga menjadi contoh dan inspirasi bagi perempuan lain untuk melakukan hal yang sama bagi kehidupannya [Penulis adalah peneliti di Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat].

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Bendang pada Minggu, 10 Maret 2019

TINGGALKAN KOMENTAR