Kok Jauah Cinto Mancinto, Dakek Jalang Manjalang

0
174
Undri

Penulis: Undri

Ironi, terkadang kita bertetangga saja tidak saling kenal, tegur sapa dan tidak ada rasa berempati kebaikan. Begitu juga dengan orang dirantau, tidak mau pulang kampung membangun kampungnya-tidak ada saling merindukan datangnya waktu untuk berkumpul bersama orang rantau dengan orang yang tinggal dikampung. Sebuah fenomena yang jauh dari nilai kebaikan yang mestinya harus kita hindari. Tidakkah kita belajar ungkapan kok jauah cinto mancinto, dakek jalang manjalang (bila jauh cinta mencinta, dekat jelang menjelang).

Sebuah ungkapan yang syarat makna, bermakna bila berjauhan harus ditanamkan rasa saling cinta mencintai, rasa ingin saling bertemu atau saling merindukan datangnya waktu untuk dapat kembali berkumpul bersama. Meskipun tempat berjauhan, kalau dalam diri masing-masing telah tertanam rasa saling cinta mencintai maka akan selalu terasa dekat.

Baca juga: Papek di Lua, Runciang di Dalam – Talunjuak Luruih Kalingkiang Bakaik

Perihal ini tidak terlepas dari prinsip hidup orang Minangkabau dengan merantaunya. Pijakannya adalah  karakatau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu di kampuang baguno balun (karatau (morus indica) tumbuh di hulu, berbuah berbunga belum, merantau bujang  dahulu di kampung berguna belum). Dirantau haruslah tangkas dan gigih, agar pulang dapat membantu orang dikampung. Ketika sang Minang merantau, dan ketika kembali dari daerah rantau, mereka harus membawa sesuatu, harta atau pengetahuan, sebagai simbol keberhasilan.. Kalau tidak, orang kampung akan menyebut mereka bagaikan “seekor siput pulang ke rumahnya” (pulang langkitang) atau menyebut mereka “begitu perginya, begitu pulangnya) (baitu pai, baitu pulang).

Jika pergi merantau sudah berpunya kemampuan secara ekonomi dan ilmu pengetahuan baliklah pulang. Kita tidak dapat menafikan dibeberapa kampung masih ada orang miskin, perlu dibantu jua. Adakah misi budaya yang seperti itu masih tertanam dipikiran sang perantau Minang kini? Jangan-jangan pulang ke kampung hanya ingin pamer kekayaan kepada orang kampung, bahwa si Minang telah berhasil di rantau, setelah dipamerkan kepada orang kampung langsung pergi tanpa peduli dengan nasib orang kampung. Walaupun begitu halnya, yang lebih parah lagi banyak orang dari rantau yang pulang kampung bila ada maunya. Jangankan untuk menolong, mengais reski pula dari orang kampung tersebut. Orang Minang memiliki filantropi yang sangat besar. Coba bayangkan bila roda ini dijalankan-satu orang perantau saja membantu sanak keluarga dan kampung halamannya. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi? Yang jelas persoalan di kampung halaman kita akan teratasi, seperti masalah kemiskinan.

Perasaan lain yang menjadi dasar seorang Minangkabau menyenangi kampung asalnya tidak selalu disimpan dalam hati namun diungkapkan dalam bentuk kata-kata puitis, seperti sebuah ungkapan dalam bentuk sebuah puisi tentang Batang Sinamar berikut ini : jika ku pandang permaimu dalam lukisan,  terdengar gemuruh deru airmu, disertai siamang berbalas-balas,  teringat kampung halaman di tepi lembahmu, penuh kenangan masa yang lampau,  yang kurindukan jauh di rantau  (Bahasa disesuaikan dengan EYD, sumber Hanafiah, 1970).

Sebaliknya bila tinggal berdekatan, usahakanlah agar supaya dapat jelang –menjelang, saling kunjung mengunjungi antara yang satu dengan yang lain. Dengan adanya rasa saling cinta mencintai baik bagi yang tinggal berdekatan maupun berjauhan tempatnya, maka akan lebih terjalin serta akan lebih mendalam rasa kekeluargaan, rasa saling hormat menghormati, rasa persatuan dan kesatuan. Prinsipnya adalah kalau ada sesuatu kejadian dirumah kita, yang pertama kali kita minta tolong adalah tetangga kita sendiri. Maka berbaik-baiklah dengan sesama tetangga kita.

Perihal ini tidak terlepas bahwa sesama individu berada dalam posisi yang sederajat, sebagaimana diungkapkan dalam petatah ini: tagak sapamatang duduak sahamparan; duduak samo randah tagak samo tinggi. Masing-masing berhak mempertahankan eksistensinya dalam prosesi kehidupan dan berkewajiban untuk memelihara kelanggengan harmoni sosial diantara sesama manusia, dan jangan ditonjolkan ego masing-masing, saling hormat dan menghormati. Sebab dalam hidup bermasyarakat kita harus selalu menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Begitu juga dalam lingkungan pergaulan, berlaku ketentuan yang berlandaskan pada rasa kebersamaan, dan memilihara sikap menjaga perasaan orang lain khususnya tetangga agar tidak tersinggung.

Jadi, ungkapan ini terkandung makna agar supaya dalam setiap diri kita merasakan seakan-akan kita satu keluarga, yang satu merupakan  bahagian dari yang lain. Muaranya akan tumbuh sikap saling hormat menghormati serta dapat bekerja sama dalam bentuk apapun dalam kehidupan ini, baik yang berada di rantau maupun dikampung. Mudah-mudahan.[Penulis adalah peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat]

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah pada Minggu, 12 Mei 2019

TINGGALKAN KOMENTAR