BUNKER JEPANG DI KABUPATEN ENREKANG PROPINSI SULAWESI SELATAN

0
1970
Bangker Jepang Enrekang
kondisi bunker yang ditutupi semak belukar dilereng bukit

Awal pemerintahan Jepang sejak menduduki wilayah Enrekang, adalah membangun bunker-bunker pertahanan /sarana pertahanan dan industri untuk mendukung peperangan.Bersamaan dengan itu, para tentara Jepang juga mengadakan pembinaan terhadap generasi muda. Pembinaan generasi muda itu, juga diharapkan untuk tujuan mendukung dalam peperangan.

Pembangunan sarana pendukung pertahanan, yakni membangun bunker-bunker/lubang-lubang pertahanan.Pembangunan bunker-bunker pertahanan Jepang di wilayah Enrekang, dari segi jumlah cukup banyak. Hasil inventarisasi yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Enrekang tahun 2004, berhasil menginevnraisasi sebanyak 20-an  bunker. Bunker-bunker tersebut, tersebar di wilayah-wilayah pegunungan seperti di jejeran pegunungan Bamba Puang di daerah Kotu, bahkan di wilayah perbatasan Enrekang dan Pinrang yakni di Malimpung juga ditemukan bunker.

Bangker Jepang Enrekang 1
Lubang pengintaian dan vandalisme yang terdapat di dalam bunker

Di wilayah perbatasan Pinrang dan Enrekang di Malimpung, ditemukan sebuah bunker di atas puncak gunung dan pada bagian bawah di kampung Malimpung ditemukan sebuah hangar yang menandakan bekas Lapangan Udara yang pernah di gunakan oleh Jepang (Natsir  dkk, 2003).

Pembangunan bunker-bunker petahanan Jepang, dilakukan dengan jalan kerja paksa. Konsep pelaksanaan kerja paksa yang diterapkan oleh Jepang, pada dasarnya hampir sama dengan kerja wajib yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Kerja paksa itu dilakukan dengan mewajibkan setiap anggota masyarakat yang sudah dewasa untuk ikut dalam kegiatan pembangunan, termasuk pembangunan pertahanan.Fungsi pemerintahan lokal juga sangat berarti dalam memobilisasi tenaga kerja, dan dalam pelaksanannya diawasi langsung oleh tentara Jepang.Oleh karena pengawasan itu langsung oleh tentara, sehingga sangat dirasakan oleh masyarakat.

Selain membangun sarana pertahanan, Jepang sejak menduduki wilayah Enrekang, juga membangun dan mendirikan pendidikan militer, pada tahun 1944.Pendidikan itu didirikan di wilayah Anggeraja, yakni di kampung Carruk.Tujuan utama pembinaan militer itu, adalah untuk membina pemuda-pemuda di wilayah Enrekang dan bahkan ada yang didatangkan dari luar Enrekang, untuk tujuan membantu Bala Tentara Jepang kelak untuk menghadapi tentara Sekutu.Peserta latihan militer yang dilakukan oleh Jepang itu, adalah pemuda-pemuda berumur sekitar 14 dan 15 tahun. Masyarakat setempat menyebutnya dengan  (di pangbarisi), dalam satu kelompok bernama Seinendan untuk kelompok umur 15 tahun, sedangkan kelompok umur 14 tahun ke bawah disebut Seinenku Rensho.  Latihan baris-berbaris itu, dilakukan bukan saja di Carruk sebagai pusat pendidikan, akan tetapi juga dilakukan di wilayah lainnya di Enrekang seperti di Buntu Tangla. Pelatihan militer atau barisan pertahanan rakyat itu, dibina dan dipimpin langsung oleh tentara jepang.

Barisan pertahanan rakyat lainnya yang dibentuk oleh jepang, yaitu Keibodan yang khusus  berfungsi sebagai barisan Bantu kepolisian, Suisintai, yaitu barisan pelopor yang bertugas mempelopori pertahanan wilayah dari serangan Sekutu. Disamping itu dikenal juga kelompok pertahanan/latihan militer dibentuk Heiho, yang tujuan pokoknya adalah pasukan Bantu Angkatan Darat.Murid-murid peserta pelatihan militer Jepang itu, dimaksudkan sebagai tentara pembantu Jepang, sebagai pasukan Bantu dan bahkan diharapkan menjadi pasukan berani mati (jabakutai).

Murid-murid latih militer Jepang itu, selain mendapatkan latihan fisik militer, mereka juga diberi materi yang berfungsi mencuci otaknya dan mengarahkan agar mereka anti Sekutu, seperti Inggris dan Amerika.Upaya psikologis itu, dilakukan dalam bentuk nyanyian-nyanyian dalam pendidikan. Salah satu nyanyian-nyanyian itu dikemukakan oleh Nawir; Awas Inggris dan Amerika, musuh bagi Asia, Inggris harus diberi linggis, Amerika harus disterika (Nawir, 1997).Nyanyian itu merupakan bahagian dari pemberi semangat militer, dan secara emosional membangkitkan semangat anti Inggris dan Amerika. Luaran pendidikan latihan militer Jepang itu, kemudian banyak yang menjadi pejuang (mempunyai pengetahuan militer), dalam masa perjuangan melawan penjajah termasuk Penjajah Jepang.  Hal itu kemudian dibuktikan dengan pemberian Tanda Kehormatan bagi orang yang memberi pertolongan melawan Jepang tahun 1942-1945, yang dilakukan kemudian oleh Zelfbeestuur Enrekang pada tahun 1949. Pemberian penghargaan itu dilakukan melalui Surat tanggal 2 Agustus 1949 (Arsip Pemda Tk. II Enrekang, Reg. No. 47).

Luaran latihan militer Jepang itu seperti  Uwak Gading, Uwak Tapak, Ambe Teppo, Puang Senga, Matta dan sebagainya. Nama-nama itu kemudian menjadi lasykar pejuang pada jaman revolusi kemerdekaan.

      Sekolah-sekolah militer yang didirikan oleh tentara Jepang di Anggeraja Enrekang, adalah sebagai berikut :

  1. Pendidikan Seinendan (latihan pertahanan rakyat), pendidikan itu khusus bagi pemuda yang berumur 15 tahun ke atas.
  2. Pendidikan Seinenku-Rensho (latihan pertahanan rakyat). Latihan kemiliteran itu khusus diperuntukkan bagi anak-anak berumur 14 tahun ke bawah.
  3. Keibodan (barisan Bantu kepolisian).
  4. Pendidikan Suisintai (barisan pelopor pertahanan wilayah).
  5. Heiho ( barisan Bantu Angkatan Darat).

Pendidikan militer Jepang yang ditempatkan di Carruk Anggeraja Enrekang itu, diikuti oleh pemuda-pemuda utusan selain dari Enrekang sendiri, juga utusan dari daerah  lain seperti Luwu, Tator, Sidrap, Pinrang dan lain-lain. Setelah mengikuti pendidikan itu, semua dikembalikan ke daerahnya masing-masing.

Denah bunker
DENAH BUNKER

Posisi bunker i berada pada poros jalan provinsi tepatnya di lereng bukit Dusun Lura, Desa mandatte, Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang dengan posisi astronomi S 03°27’00,6” yang jaraknya dari jalan poros ± 100 m, dengan kemiringan lereng bukit 45°, dengan denah dasar  bangunan bentuk persegi enam, yang dilengkapi dengan 1 (satu) buah pintu,  lubang pengintaian 4 buah bentuk trapesium dan lubang ventilasi 3 buah bentuk persegi empat panjang. Bunker ini menggunakan material beton bertulang, arah hadap pintu Tenggara – Timur laut. Bunker tersebut berbatasan langsung dengan lereng bukit di bagian utara, sungai mata allo da bukit buntu kabobong di bagian timur, rumah makam gua jepang/jalan poros  dan lereng bukit di bagian barat dan jurang/lereng bukit di bagian selatan. Lingkungan mikro keletakan bunker dikeliling bukit gundul dan bukit ini di manfaatkan sebagai lahan kebun.