Beranda blog

Renstra Direktorat Pelindungan Kebudayaan Tahun 2020-2024

0

Renstra Direktorat Pelindungan Kebudayaan Tahun 2020-2024 digunakan sebagai pedoman dan arah pelindungan kebudayaan yang hendak dicapai pada periode 2020-2024, serta merupakan dasar dan acuan bagi Direktorat Pelindungan Kebudayaan, untuk menyusun (1) Rencana Strategis; (2) Rencana Kerja (Renja) dan RKA-KL; (3) Rencana/Program Pelindungan Kebudayaan; (4) Laporan Tahunan; dan (5) Laporan Kinerja (LAKIN).

Serah Terima Peninggalan Bawah Air Koleksi Negara

0

Sejak bulan Mei tahun 2015 hingga Maret 2017, PT Cosmix Asia telah melakukan kegiatan pengangkatan benda-benda yang diduga cagar budaya di perairan Batu Belobang dan Kijang, Kepulauan Riau. Kegiatan pengangkatan tersebut telah mendapatkan rekomendasi izin untuk mengangkat dari Panitia Nasional Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) tertanggal 9 Februari 2015. Selain itu, Gubernur Kepulauan Riau juga telah memberikan izin pengangkatan BMKT melalui surat keputusan bernomor 503/217.a/set tanggal 31 Maret 2015. Setelah kegiatan pengangkatan telah berjalan 5 tahun yang lalu, Kementerian Kelautan dan Perikanan, bertindak sebagai ketua Panitia Nasional BMKT, mengeluarkan surat keputusan nomor B.230/DJPRL.4/TU.330/III/2022 tertanggal 7 Maret 2022 tentang Tim Pemilihan Koleksi Negara Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam Hasil Pengangkatan, Blanakan, Provinsi Jawa Barat, Kijang dan Batu Belobang, Provinsi Kepulauan Riau. Menindaklanjuti surat keputusan tersebut, selanjutnya dibuat rencana kegiatan, khususnya pemilihan koleksi negara yang diangkat dari perairan Kijang dan Batu Belobang, Kepulauan Riau di tempat penyimpanannya di Batam yang dilaksanakan dari tanggal 14-18 Maret 2022.

Salah satu Benda Peninggalan Bawah Air Koleksi Negara

Dilakukannya pemilihan terhadap seluruh benda untuk dijadikan koleksi negara didasarkan pada “Pedoman Teknis Pemilihan Benda Cagar Budaya (BCB) Hasil Pengangkatan dari Dasar Laut untuk Koleksi Negara”. Tujuan dilakukannya pemilihan benda menjadi koleksi negara adalah agar negara memiliki contoh dari setiap benda yang berbeda–baik jenis, bentuk, bahan, dan hiasan yang telah diangkat  oleh PT Cosmix Asia dari perairan Batu Belobang dan Kijang. Contoh benda-benda yang sudah dipilih nantinya dimaksudkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, maupun lainnya, selain dari kepentingan ekonomi. Di samping itu, benda-benda koleksi negara ini dapat menjadi data penting bagi upaya mengungkapan kehidupan masa lalu, baik mengenai kemaritiman, maupun aspek-aspek lain terkait masalah benda-benda yang telah ditemukan dan diangkat dari situs tersebut. 

Pemilihan Koleksi Negara di Batam melibatkan Kemendikbudristek (Direktorat Pelindungan Kebudayaan), Kementerian Keuangan, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Ditjen Pengelolaan Ruang Laut dan Ditjen PSDKP) sebagai tim. Saat di tempat penyimpanan di Batam, Tim  melakukan penghitungan benda,  klasifikasi, pemotretan/pendokumentasian, dan pemilihan benda. Benda yang terpilih untuk koleksi negara selanjutnya di-packing untuk dibawa ke Jakarta, yang saat itu sementara disimpan di KKP sampai dilakukannya serah terima.

Serah Terima Benda Peninggalan Bawah Air Koleksi Negara oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Serah Terima

Pada hari  Kamis tanggal 24 November 2022, bertempat di Marine Heritage Galery, Gedung Mina Bahari 4, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah berlangsung serah terima benda peninggalan bawah air koleksi negara asal Perairan Batu Belobang dan Perairan Kijang, Kepulauan Riau, dari KKP ke Kemendikbudristek yang disaksikan oleh Direktur PT. Cosmix Asia dan wakil Kementerian Keuangan. Serah terima ditandatangani oleh Direktur jasa Kelautan, Bapak Mithahul Huda dan  Direktur Pelindungan Kebudayaan, Ibu Irini Dewi Wanti.

Jumlah benda koleksi negara yang diserahterimakan sebanyak 147 buah dengan rincian sebagai berikut:

Nomor Lokasi Pengangkatan Jumlah AwalJumlah Koleksi Negara Jumlah Akhir
1Batu Belobang 10.423 buah111 buah10.312 buah
2Kijang213 buah36 buah177 buah
                              Total10.636 buah147 buah10.489 buah

Kontributor: Lindya Chaerosti (Direktorat Pelindungan Kebudayaan)
Editor: Dokumentasi dan Publikasi Direktorat Pelindungan Kebudayaan

Focus Group Discussion Draf Hasil Kajian Situs Cagar Budaya Liyangan

0

Situs  Liyangan merupakan cagar budaya berupa kawasan yang di dalamnya terdapat candi dan pemukiman kuno. Berada di lereng timur Gunung Sindoro, tepatnya di permukiman warga Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, berjarak sekitar 20 kilometer arah barat laut kota Temanggung, Provinsi Jawa Tengah.

Dalam rangka  pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan Situs Cagar Budaya Liyangan sebagai situs Cagar Budaya, pada tahun 2022 Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Draf hasil kajian Situs Cagar Budaya Liyangan di Hotel Alyana, Temanggung, Jawa Tengah (22/11/22).

Kegiatan dibuka oleh Sukronedi (Plt. BPK Wilayah X, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah). Sukronedi mengatakan pada pembukaan kegiatan bahwa Situs Liyangan merupakan situs yang kompleks dan sudah ada sejak abad V Masehi, selain itu Situs Liyangan menyimpan jejak erupsi Gunung berapi Sindoro dan mitigasi bencana. Berdasarkan nilai pentingnya penetapan Situs Liyangan berdasarkan:

• SK Bupati Temanggung No. 432/276 Tahun 2018 (tingkat Kabupaten)

• SK Gubernur Jawa Tengah No. 432/30 Tahun 2020 (tingkat Propinsi)

• Situs Cagar Budaya Liangan ini sudah dimasukkan dalam rencana prioritas penetapan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional

Kajian ini melibatkan tenaga ahli dari ilmu arkeologi, antropologi, pariwisata, dan manajemen sumber daya budaya. Saat ini draf hasil kajian telah tersusun, namun perlu adanya diskusi bersama untuk mendapatkan masukan dari peserta FGD agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan serta nantinya dapat digunakan oleh berbagai pihak.

Focus Group Discussion  dipandu oleh Sri Patmiarsih selaku Koordinator Kelompok Kerja Warisan Budaya dilindungi (Direktorat Pelindungan Kebudayaan) dengan melibatkan narasumber Drs. Sugeng Riyanto, M.Hum. (arkeolog, peneliti ahli madya-BRIN), Putri Novita Taniardi, S.Ant., M.A. (antropolog, peneliti muda-BRIN), Dr. Maria Tri Widayati, S.S., M.Pd. (dosen politeknik API), dan Dr. Agi Ginanjar, S.S., S.E., M.Si. (dosen Manajemen Sumber Daya Budaya-UI) yang menyusun draf Hasil Kajian Pengelolaan Situs Cagar Budaya Liyangan.

Pada kegiatan Focus Group Discussion dibuat komitmen bersama yang ditandatangani semua peserta yang hadir:

1. Meningkatkan peran pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten dalam pengelolaan Situs Cagar Budaya Liyangan melalui upaya pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan

2. Menjamin ketersediaan dana untuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan situs Cagar Budaya Liyangan

3. Meningkatkan penelitian berwawasan pelestarian di Situs Cagar Budaya Liyangan

4.Menjadikan situs Cagar Budaya Liyangan sebagai bagian dari destinasi pariwisata warisan budaya berkelanjutan yang terpadu

5. Mengembangkan potensi budaya dan alam Situs Cagar Budaya Liyangan dan sekitarnya dalam rangka pelestarian cagar budaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

6. Mendorong terbentuknya lembaga pengelola Situs Cagar Budaya Liyangan

7. Meningkatkan kesadaran dan kepedulian semua pihak akan nilai penting Situs Cagar Budaya Liyangan

8. Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan Situs Cagar Budaya Liyangan meliputi aktivitas pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan

Focus group discussion Draf Hasil Kajian Pengelolaan Situs Cagar Budaya Liyangan dihadiri oleh instansi pemerintah Provinsi Jawa Tengah, instansi pemerintah Kabupaten Temanggung, kementerian dan lembaga terkait, komunitas/masyarakat, serta stakeholder terkait yang ada di Desa Purbosari, Desa Tegalrejo, dan Desa Dlimoyo, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung.

Kontributor: Lindya Chaerosti (Direktorat Pelindungan Kebudayaa) 
Editor: Dokumentasi dan Publikasi Direktorat Pelindungan Kebudayaan

Akhir Perjalanan Ekspedisi Sungai Batanghari

0

Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek RI melaksanakan kegiatan Evaluasi dan Persiapan Penerbitan Hasil Ekspedisi Sungai Batanghari di Jakarta, (18/11/22).

Kegiatan Ekspedisi Sungai Batanghari dilaksanakan pada 11 hingga 21 Juli 2022 waktu lalu, kegiatan tersebut fokus pada observasi warisan budaya di sepanjang daerah aliran Sungai Batanghari serta menganalisis permasalahan pelindungan kebudayaan yang ada di sekitarnya.

Pada kegiatan Evaluasi dan Persiapan Penerbitan Hasil Ekspedisi Sungai Batanghari dihadiri oleh Irini Dewi Wanti selaku Direktur Pelindungan Kebudayaan, Hilman Handoni selaku narasumber, Dewi Kurnianingsih (Koordinator Kelompok Kerja Inventarisasi dan Pengelolaan Sistem), Dewi Yuliyanti (Sub Koordinator Inventarisasi Data Warisan Budaya) , Safei (Sub Koordinator Pengelolaan sistem), Kayato Handani (Pamong Budaya Dit Pelindungan Kebudayaan), Albertus Napitupulu (Pamong Budaya Dit Pelindungan Kebudayaan), Perwakilan Peserta Ekspedi Sungai Batanghari, dan Staf Kelompok Kerja Inventarisasi dan Pengelolaan Sistem.

Irini Dewi Wanti mengatakan Kegiatan Ekspedisi Sungai Batanghari mendapatkan apresiasi dari masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Direktur Jenderal Kebudayaan.
Irini juga menambahkan Kegiatan ini untuk pendataan potensi data cagar budaya di aliran sungai batanghari sehingga output yang didapatkan adalah data yang dapat memberikan manfaat kepada masayarakat salah satunya produk terbitan edisi khusus Ekspedisi Sungai Batanghari.

Dewi Kurnianingsih mengatakan “Penerbitan Buku Ekspedisi Sungai Batanghari akan diterbitkan di awal Tahun 2023”.
Hilman Handoni juga mengatakan “bahwa alternatif publikasi Ekspedisi Sungai Batanghari intinya dari satu cerita bisa di transmisi ke berbagai media seperti video atau buku”.

Data baru cagar budaya dan Objek Pemajuan Kebudayaan yang ditemukan dapat diekspos dengan baik, ke depannya menjadi kebijakan pengembangan oleh peneliti dalam riset lebih mendalam lagi dan juga menginspirasi kepada stakeholder untuk dikembangkan lebih luas lagi, ucap Irini Dewi Wanti.

Salah satu peserta Ekspedisi Sungai Batanghari berpendapat kiranya kegiatan serupa ini dapat dilaksanakan kembali di tahun mendatang.

Kontributor : Urusan Dokumentasi dan Publikasi Dit Pelindungan Kebudayaan

Mendikbudristek Tetapkan 15 Cagar Budaya Peringkat Nasional Baru

0

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menetapkan 15 Cagar Budaya Peringkat Nasional pada periode Januari-Oktober tahun 2022. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Mendikbudristek Nomor 58/M/2022, Nomor 59/M/2022, Nomor 60/M/2022, Nomor 61/M/2022, dan Nomor 145/M/2022. 

Cagar Budaya Peringkat Nasional yang ditetapkan terdiri dari 4 (empat) Benda Cagar Budaya, 1 (satu) Struktur Cagar Budaya, 5 (lima) Bangunan Cagar Budaya, dan 5 (lima) Situs Cagar Budaya yang tersebar di lima provinsi di Indonesia. 

Cagar Budaya Peringkat Nasional kategori benda meliputi Arca Durga Mahisasuramardhini Nomor Inventaris 1996 Koleksi Museum Negeri Mpu Tantular (Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur), Tengkorak Manusia Fosil Ngawi I Nomor Inventaris 02.21 Koleksi Museum Negeri Mpu Tantular (Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur), Lukisan Pengantin Revolusi Karya Hendra Gunawan Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta (Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta), dan Lukisan Prambanan/Seko Karya S. Sudjojono Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta (Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta).

Cagar Budaya Peringkat Nasional kategori struktur yaitu Jembatan Lama Kota Kediri (Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur). Cagar Budaya Peringkat Nasional kategori bangunan antara lain Gedung Bank Indonesia (Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta), Gedung Pancasila (Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta), Gedung Petronella di dalam Kompleks Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta (Kota Yogyakarta, Provinsi D.I Yogyakarta), dan Gedung PTPN XI Surabaya (Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur).

Adapun Cagar Budaya Peringkat Nasional kategori situs meliputi Gua Braholo (Kabupaten Gunungkidul, Provinsi D.I Yogyakarta), Perahu Kuno Rembang (Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah), Kalimbuang Bori (Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan), Perkampungan Tradisional Ke’te Kesu (Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan), dan Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo (Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah).

Cagar Budaya Peringkat Nasional merupakan Cagar Budaya yang setidaknya memenuhi salah satu kriteria pada Pasal 42 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2011 tentang Cagar Budaya. Kriteria tersebut di antaranya wujud kesatuan dan persatuan bangsa serta karya adiluhung yang mencerminkan kekhasan kebudayaan bangsa Indonesia. Penetapan Cagar Budaya Peringkat Nasional didasarkan pada hasil kajian Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN) yang diampu oleh Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Hingga bulan Oktober 2022, terdapat 184 Cagar Budaya Peringkat Nasional yang telah ditetapkan oleh Mendikbudristek sejak tahun 2013. Penetapan Cagar Budaya Nasional merupakan pintu gerbang dari implementasi kegiatan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan Cagar Budaya.

Kontributor: Doni Prasetyo Direktorat Pelindungan Kebudayaan

Lukisan Karya Dua Maestro Seni Lukis Indonesia Ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional

0

Jakarta, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menetapkan Lukisan Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan dan Lukisan Prambanan/Seko karya S. Sudjojono sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional. Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Mendikbudristek, Nomor 415/M/2022 tanggal 25 Oktober 2022.

Lukisan Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan yang dilukis tahun 1955 merupakan salah satu karya terbaiknya.  Lukisan Pengantin Revolusi menggambarkan suatu peristiwa di mana ia mengalami sendiri kejadian pada lukisan yang dibuatnya (Pengantin Revolusi).  Lukisan Pengantin Revolusi hadir pertama kali di hadapan publik pada tahun 1957 di Hotel Des Indes, Jakarta.  Mengutip Keputusan Mendikbudristek Nomor 415/M/2022, sketsa lukisan ini dibuat Hendra Gunawan dari tahun 1945 dan terinspirasi dari rekaman peristiwa pernikahan di suatu tempat di Karawang, Jawa Barat. Pengantin perempuan dan laki-laki dalam lukisan tersebut adalah orang biasa, tapi kostum pernikahan mereka yang tidak biasa.  Jaket pengantin pria adalah jaket tentara, sementara gaun pengantin perempuan adalah kostum yang dipinjam dari penari topeng Betawi. Pengantin pria mendorong sepeda dan pengantin perempuan duduk diatas rangka besinya. Pasangan pengantin ini diikuti oleh arak-arakan sekelompok orang dan pemain tanjidor yang menjadi pusat perhatian para pejuang kemerdekaan, termasuk Hendra Gunawan sendiri.

Hendra Gunawan lahir pada tanggal 11 Juni 1918 di Bandung, Jawa Barat dan meninggal pada tanggal 17 Juli 1983 di Bali. Belajar melukis setelah lulus SMP dan mengikuti Sanggar Abdullah Suriosubroto di Bandung. Hendra Gunawan kemudian bergabung ke Sanggar Wahdi Sumantra, seorang pelukis yang pernah berguru ke Sanggar Abdullah Suriosubroto. Di Sanggar Wahdi, Hendra bertemu dengan Affandi, Barli, dan Sudarso yang sepakat membentuk Kelompok Lima pada tahun 1938.

Lukisan Prambanan/Seko karya Sindoedarsono Sudjojono menggambarkan seorang “seko” (berasal dari bahasa Jepang yang artinya prajurit pelopor), prajurit lini depan yang membuka jalan, yang sedang mengintai di jalan masuk ke Yogyakarta, di sekitar jalan Prambanan.  Lukisan ini menampilkan realitas perang di garis belakang persiapan perang gerilya, penyusunan strategi atau penangkapan mata-mata.  Menurut Keputusan Mendikbudristek Nomor 415/M/2022, pelukis membuat lukisan ini menggambarkan sebuah peristiwa yang terjadi pada saat perang gerilya antara tahun 1946-1949. 

S. Sudjojono lahir di Kisaran, Sumatera Utara, pada bulan Mei 1913 dan wafat pada tanggal 25 Maret 1986 di Jakarta.  Merupakan pelukis legendaris Indonesia dan dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia Modern.  Julukan ini diberikan kepadanya karena S. Sudjojono merupakan seniman pertama Indonesia yang memperkenalkan modernitas seni rupa Indonesia dengan konteks kondisi faktual bangsa Indonesia.  S. Sudjojono adalah perupa yang sering dengan berjalannya waktu selalu kreatif, tidak pernah berhenti di satu gaya atau tema. Selain sebagai pelukis, S. Sudjojono dikenal sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia.  Objek lukisannya lebih menonjol kepada kondisi faktual bangsa Indonesia yang diekspresikan secara jujur apa adanya. 

Lukisan Pengantin Revolusi dan lukisan Prambanan/Seko saat ini disimpan dan menjadi salah satu koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta.

Sosialisasi Hasil Kajian Zonasi Kawasan Cagar Budaya Nasional Sangiran

0

Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Sangiran adalah kawasan cagar budaya yang di dalamnya terkandung tinggalan manusia purba dari masa Pleistosen dan salah satu kawasan paling penting didunia untuk mempelajari fosil manusia purba. KCBN Sangiran telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 019/M/2015 tentang Satuan Ruang Geografis Sangiran sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional dengan luas 5.921 hektar.

Kawasan Sangiran secara geografis terletak di dua wilayah administratif yaitu Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Wilayah KCBN Sangiran mencakup 4 Kecamatan dan 25 Desa dan berjarak sekitar 10 km sebelah utara Kota Solo.

Sebagai bentuk pelindungan terhadap KCBN Sangiran, Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbudrsitek menyusun Kajian dan Keputusan Mendikbudristek tentang Penetapan Zonasi KCBN Sangiran. Dan agar mendapatkan hasil Kajian dan Keputusan Mendikbudristek yang komprehensif, telah dilaksanakan Sosialisasi Hasil Kajian dan Draf Keputusan Mendikbudrsitek tentang Penetapan Zonasi KCBN Sangiran pada tanggal 19 Oktober 2022 di Kota Solo.

Sosialisasi dihadiri oleh segenap stekholder yang terkait dengan KCBN Sangiran, yaitu Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, dinas-dinas terkait di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, 4 Camat dan 25 Kepala Desa yang masuk dalam KCBN Sangiran serta tokoh masyarakat. Dengan dibuka oleh Direktur Pelindungan Kebudayaan, sosialisasi dilaksanakan dalam dua sesi, dengan sesi pertama menghadirkan pembicara Bapak Junus Arbi (Arkeolog), Bapak Kasman Setiagama (Arkeolog), Bapak Firman (Planolog) dan Bapak Masdar Farid (Antrolog) dengan dimoderatori oleh Koordinator Pokja Warisan Budaya yang Dilindungi Ibu Sri Patmiarsi Retnaningtyas. Dan pada sesi dua menghadirkan pembicara Ibu Yuni Astuti (Ahli Hukum) dengan moderator Kepala BPSMP Sangiran Bapak Iskandar Mulya Siregar.

Sosialisasi terlaksana dalam suasana diskusi yang interaktif dan hangat. Diskusi berhasil menjaring masukan-masukan yang sangat baik yang diharapkan dapat diimplementasikan dalam Kajian dan Keputusan Mendikbudrsitek sehingga akan didapatkan Kajian dan Keputusan Mendikbudrsitek yang komperhensif dan tepat guna.

Kontributor : Budi Harjo
Sumber Foto : Pokja Warisan Budaya Dilindungi Direktorat Pelindungan Kebudayaan

Pemutakhiran dan Sinkronisasi Data Cagar Budaya di Provinsi Bengkulu

0

Selaras dengan penguatan Satu Data Indonesia, Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menyelenggarakan Pendampingan Pemutakhiran dan Sinkronisasi Data Cagar Budaya di Provinsi Bengkulu pada tanggal 19 dan 20 Oktober 2022.

Delapan Kabupaten/Kota di Provinsi Bengkulu turut serta dan berperan aktif dalam proses memutakhirkan dan menyinkronkan data cagar budaya maupun data objek yang diduga sebagai cagar budaya, diantaranya Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma, Kabupaten Kaur, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Kepahiang, dan Kabupaten Mukomuko.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Bapak Adang Parlindungan.Turut hadir pula perwakilan dari BPCB Provinsi Jambi yang membantu menyelerasakan data yang dimiliki oleh kabupaten/Kota dan data dari sistem yang dikelola oleh Direktorat Pelindungan Kebudayaan.

Hasil pemutakhiran dan sinkronisasi data cagar budaya diharapkan mampu mendukung serta mempercepat serta mendorong proses verifikasi, rekomendasi, dan penetapan status cagar budaya di Provinsi Bengkulu.

Kontributor : Putri P
Sumber Foto : Pokja Inventarisasi dan Pengelolaan Sistem Direktorat Pelindungan Kebudayaan

Kemendikbudristek Luncurkan Tiga Museum Baru di Hari Museum Indonesia

0

Jakarta, 12 Oktober 2022 – Bertepatan dengan Hari Museum Indonesia yang diperingati setiap 12 Oktober, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan meluncurkan tiga museum yang baru didirikan yaitu Museum Batik Indonesia di Jakarta, Museum Semedo di Tegal, dan Museum Song Terus di Pacitan. Peluncuran ketiga museum tersebut diselenggarakan secara bersamaan melalui teleconference dari tiga lokasi yang menandakan resmi dibuka untuk masyarakat umum.

“Selamat Hari Museum Indonesia, terutama kepada para pengelola museum yang berkontribusi sangat luar biasa”, sambut Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid saat peluncuran ketiga museum dari Museum Batik Indonesia, di Jakarta, pada Rabu (12/10). Lebih lanjut, Dirjen Hilmar menyampaikan bahwa museum merupakan ruang publik yang terbuka bagi siapa saja yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Ia mengajak seluruh pihak, baik pemerintah, sekolah, komunitas, terlebih kepada generasi muda untuk bersama-sama berkegiatan di museum.

“Museum sejatinya adalah sumber ilmu pengetahuan, dan kita berharap anak-anak yang ada dan berdekatan di wilayah tersebut bisa menjadikan museum sebagai sumber belajar dan sumber inspirasi. Dan hendaknya ini semua menjadi penguat kita sebagai bangsa yang punya peradaban”, ungkap Hilmar.

Sejalan dengan tema Hari Museum Indonesia Tahun 2022 yaitu ‘Museum sebagai Sumber Inspirasi Bangsa’’, pemerintah mengajak kembali seluruh masyarakat untuk semakin menghargai dan mengoptimalkan peran dalam pelestarian dan pemajuan kebudayaan. “Museum dapat menjadi sumber inspirasi, rumah peradaban, tempat tumbuh dan berkembangnya kemampuan berfikir serta kreatifitas masyarakat, pendorong tumbuhnya rasa bangga dan cinta tanah air, serta menjadi objek wisata yang mengedepankan unsur pendidikan dan pelestarian warisan budaya. Tentu yang tidak kalah pentingnya adalah menjadi pusat informasi dan dokumentasi warisan budaya bangsa,” ucap Hilmar.

Direktur Pelindungan Kebudayaan Kemendikbudristek, Irini Dewi Wanti menjelaskan, ketiga museum yang diluncurkan ini juga bertepatan dengan Hari Museum Indonesia yang diperingati setiap 12 Oktober. Dalam kesempatan Peringatan Hari Museum Indonesia tahun 2022 ini, ketiga museum ini akan mulai melayani masyarakat sebagai sebuah ruang publik. Oleh karenanya, pihaknya mengajak masyarakat seluas-luasnya, instansi pemerintah, komunitas, dan sekolah untuk dapat berpartisipasi berkegiatan di museum. Irini menambahakan bahwa museum merupakan lembaga yang berfungsi melindungi memanfaatkan koleksi dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih mengingatkan, bahwa masyarakat sekitar museum harus paham pentingnya museum. “Setidaknya ada tiga hal yang harus kita perhatikan, yaitu amenitas, aksesibiltas, dan atraksi, sehingga orang akan ramai mengunjungi museum-museum ini,” ungkap Fikri.

Sementara itu, Bupati Tegal, Umi Azizah menyambut baik dan mengapresiasi kebijakan Kemendikbudristek yang telah menghadirkan Museum Situs Semedo sebagai pusat informasi kepurbakalaan dan penelitian arkeologi sekaligus pelestarian kawasan cagar budaya Semedo. “Atas nama masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Tegal, saya mengucapkan selamat atas dibukanya MuseumSemedo ini dan terima kasih kepada jajaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dengan harapan kerja sama yang telah terbangun baik selama ini akan terus berkembang dan minat serta kecintaanmasyarakat pada arkeologi juga terus meningkat”, ucapnya.

Lebih lanjut, Umi Azizah juga menyampaikan bahwa selain menjadi destinasi wisata edukasi unggulan Kabupaten Tegal, keberadaan Museum Semedo ini menjadi peluang bagi warga Semedo dan sekitarnya untuk mendorong peningkatan perekonomian setempat melalui aktivitas seni budayanya sebagai sektor pendukung eksistensi situs Semedo.

Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji berharap masyarakat dapat memanfaatkan keberadaan Museum Song Terus, di Kabupaten Pacitan. “Kami berharap Bapak dan Ibu semua dapat mengunjungi Museum Song Terus dan museum lainnya, dan dapat merasakan pengalaman langsung Museum ini”, ungkap Indra.

Kontributor : Dokumentasi dan Publikasi Direktorat Pelindungan Kebudayaan

Workshop Pemutakhiran Data Museum dalam Sistem Registrasi Nasional Museum

0

Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyelenggarakan kegiatan ‘Workshop Pemutakhiran Data Museum dalam Sistem Registrasi Nasional Museum’, dalam rangka optimalisasi pengelolaan data museum dalam Sistem Registrasi Nasional Museum di Jakarta, 4 Oktober 2022. Sistem Registrasi Nasional Museum merupakan sistem pendataan terpadu museum yang berisi seluruh data Museum di Indonesia yang telah memiliki nomor pendaftaran nasional museum dan spesifikasinya (https://museum.kemdikbud.go.id/). Nomor pendaftaran nasional museum tersebut diterbitkan oleh Menteri Pendidikan, kebudayaan, Riset, dan Teknologi setelah Museum didaftarkan dan memenuhi syarat pendirian museum. Pendirian museum harus memenuhi syarat memiliki visi dan misi, koleksi, lokasi dan/atau bangunan, sumber daya manusia, sumber pendanaan tetap, nama museum, serta berbadan hukum yayasan bagi museum yang didirikan oleh Setiap Orang dan Masyarakat Hukum Adat.

Workshop Pemutakhiran Data Museum dalam Sistem Registrasi Nasional Museum dibuka oleh Irini Dewi Wanti selaku Direktur Pelindungan Kebudayaan. Kegiatan ini diikuti oleh 283 Museum yang telah memperoleh nomor pendaftaran nasional museum dalam Sistem Registrasi Nasional Museum. Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan, pengantar penggunaan dan pemanfaatan Sistem Registrasi Nasional Museum, dan dilanjutkan dengan pendampingan teknis pemutakhiran data museum dalam Sistem Registrasi Nasional Museum kepada admin museum. Teknis kegiatan ini dilakukan secara daring dan luring. Secara daring dibagi menjadi 5 (lima) kelompok melalui aplikasi zoom meeting yang didampingi oleh fasilitator dari Direktorat Pelindungan Kebudayaan.

Dewi Kurnianingsih selaku Koordinator Kelompok Kerja Inventarisasi dan Pengelolaan Sistem, Direktorat Pelindungan Kebudayaan, menyampaikan hasil yang ingin dicapai dalam workshop ini yakni dapat terhimpunnya Data Museum Se-Indonesia sebagai data terpadu dalam rangka Pemajuan Kebudayaan dan untuk bahan penyusunan kebijakan bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Museum dalam pengelolaan data dan publikasi Museum di Indonesia.

Merujuk Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 24 Tahun 2022 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum, Irini Dewi Wanti Selaku Direktur Pelindungan Kebudayaan menyampaikan bahwa semua Museum harus mempunyai inventarisasi museum yang teregistrasi secara nasional terkait dengan tata kelola museum-museum seluruh Indonesia. Dengan melakukan kegiatan ini kita akan tertib terkait data.

Irini Dewi Wanti juga menambahkan dengan lahirnya Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan penting bagi kita melakukan tata kelola semua Lembaga, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Setiap Orang maupun komunitas adat untuk melakukan manajemen tata kelola yang baik.

Kegiatan Pemutakhiran Data Museum dalam Sistem Registrasi Nasional Museum harapannya dapat memberikan manfaat bagi museum dalam pengelolaan data, mewujudkan satu kesatuan data museum yang mutakhir, dan mendukung keberlangsungan Pemajuan Kebudayaaan.

Kontributor : Dokumentasi dan Publikasi Direktorat Pelindungan Kebudayaan