Serimpi Mandrarini: Mahakarya dari Pura Mangkunegaran

0
5003
Serimpi Mandrarini: Mahakarya dari Pura Mangkunegaran

 

BPNB DIY, Agustus 2018 – Terbaginya kerajaan Mataram Islam menjadi dua wilayah yaitu Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat tertulis dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755. Hal tersebut menjadi titik awal perkembangan seni dan budaya dari masing masing wilayah kerajaan tersebut tak terkecuali dalam bidang seni tari. Pada tahun 1757 kerajaan Surakarta terbagi menjadi 2 kerajaan yaitu Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Pembagian tersebut turut mempengaruhi budaya yang hidup dan berkembang di kedua wilayah tersebut. Antara keduanya memiliki corak dan ciri khasnya sendiri meskipun pada beberapa bagian masih masih saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Pada perkembangannya masing- masing kerajaan ingin menunjukkan eksistensi melalui berbagai bentuk budaya salah satunya dengan seni tari. Beragam jenis tarian tumbuh dan berkembang di kedua istana dengan latar belakang cerita yang panjang dan makna yang mendalam.

 

Serimpi Mandrarini
Tari Serimpi Mandrarini dengan jumlah penari empat orang. (Foto: BPNB DIY)
Serimpi Mandrarini
Properti tari Serimpi Mandrarini berupa keris dan panah. (Foto: BPNB DIY)

 

Tari Serimpi salah satu karya besar yang dikenal dalam budaya Jawa merupakan ungkapan seni komunitas bangsawan pada jaman raja-raja Jawa pada masa itu. Masing-masing kerajaan memiliki pandangan khusus yang melatarbelakangi penciptaan karya karya tari tersebut termasuk juga di Pura Mangkunegaran. Sejarah lahirnya Pura Mangkunegaran berjalan beriringan dengan sejarah dan perkembangan seni tari di Pura Mangkunegaran itu sendiri. Sejak berdirinya Pura Mangkunegaran yang dipimpin Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I/Raden Mas Sahid atau dikenal juga dengan nama Pangeran Sambernyawa merupakan tonggak kemunculan dan perkembangan tari di Mangkunegaran dengan salah satu karya besar kerajaan yaitu Tari Bedhaya Anglir Mendhung. Tumbuhnya tari serimpi di Pura Mangkunegaran sendiri dapat dikaji pada Serat Babat Nitik bertarikh 1897.

Menurut Dra. R.Ay. Irawati Kusumorasri, M.Sn. Direktur Akademi Seni Mangkunegaran Surakarta, tari serimpi sendiri sudah ada sejak jaman Mataram, dan terus berkembang pada masa Kraton Kartasuro dan setelahnya. Tari Serimpi merupakan tari klasik Jawa yang ditarikan oleh 4 penari. Kata “serimpi” sendiri memiliki arti empat. Mangkunegaran sendiri memiliki beberapa tari serimpi di antaranya; Serimpi Mandrarini, Serimpi Pandelori, Serimpi Moncar, Serimpi Putri Cina. Selain itu ada juga Anglir Mendhung dan Bedaya. Tari Serimpi Mandrarini dan Serimpi Pandelori keduanya ditarikan oleh empat orang penari putri. Bilangan empat sendiri dalam falsafah Jawa merujuk pada keempat arah mata angin. Tari serimpi di Pura Mangkunegaran biasanya diawali dengan kata “mandra” seperti Mandrarini, Mandrakusuma, dan Mandraretno. Serimpi Mandrarini sendiri adalah kiasan Dalem Kanjeng Gusti Mangkunegara VII dalam menggambarkan ratu (raja putri) yang berperang dengan ratu raja putri yang lain. Para patih yang turut serta dalam peperangan tersebut juga para perempuan.

 

Serimpi Mandrarini
Cirikhas dari tari serimpi adalah gerakan dan kostum yang sama dengan karakter wajah tenang. (Foto: BPNB DIY)
Serimpi Mandrarini: Mahakarya dari Pura Mangkunegaran
Berias sebelum tampil. (Foto: BPNB DIY)

 

Selain jumlah penari yang berjumlah empat orang, cirikhas lain dari tari serimpi adalah gerakan dan kostum yang sama dengan karakter wajah tenang. Dalam tarian ini juga terdapat adegan perang yang menggambarkan keprajuritan dengan unsur kegagahan meskipun diperankan oleh perempuan. Kostum yang digunakan berwarna hijau kuning yang mengacu pada bendera atau panji Pura Mangkunegaran. Warna hijau kuning ini selain digunakan penari Serimpi Mandrarini juga dikenakan penari Gambyong Pareanom. Tari serimpi merupakan jenis seni pertunjukan tari klasik yang cenderung berkonotasi rumit, memiliki standar dan acuan tinggi, dengan tingkat keindahan tersendiri sehingga secara filosofis mampu mendefiniskan tingkat kecanggihannya. Tari serimpi yang tumbuh dan berkembang di Pura Mangkunegaran memiliki perbedaan gaya dengan serimpi yang berkembang di Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Serimpi Mangkunegaran memang memiliki perberbedaan dengan serimpi-serimpi yang lain karena di situ terdapat gerak tari maju beksan, ada gerak tari serimpi, tapi juga ada gerak tari perang yang memakai keris atau cunduk dan panah. Hal memberikan gambaran bahwa di Mangkunegaran banyak diilhami dengan gerak-gerak tari prajurit (prajuritan). Pada dasarnya bentuk gerakan pada tari serimpi memiliki kesamaan satu dengan yang lainnya, tetapi dalam tari Serimpi Mandrarini gerakan perangnya memakai properti nyata seperti memakai keris dan panah. Terdapat beberapa nama gerak tari dalam Serimpi Mandrarini yaitu; ngalam sari, ukel angkrik, ngempyek, gajah-gajahan terus enjer, enjer gedong campur, dan pleyotan tawis. Warna busana yang dikenakan para penari ialah pareanom hijau kuning yang juga merupakan warna khusus di Mangkunegaran. Kain yang digunakan untuk menari ialah motif parang di mana kain ini juga dikenakan oleh raja atau sentono dalem dan putra dalem.

 

Serimpi Mandrarini: Mahakarya dari Pura Mangkunegaran
Penari Serimpi Mandrarini tampak belakang dengan properti anak panah. (Foto: BPNB DIY)

 

Iringan gending terutama untuk Serimpi Mandrarini dan sejenisnya yang pertama adalah padesan. Setelah itu lalu odo-odo, dengan menggunakan geprak cek-cek dan diteruskan dengan gending mulai dari sampak atau slepekan. Selanjutnya masuk bukosuoro yang biasanya bentuk ladangan dan yang terakhir terakhir ayak-ayakan. Terdapat perbedaan kesimpulan dalam hal awalan gending pada tari serimpi. Ada yang berpendapat bahwa gending dulu baru kemudia tariannya diciptakan namun ada juga yang berpendapat sebaliknya. Durasi tampil Serimpi Mandrarini berkisar 15-20 menit sedangkan serimpi-serimpi yang lain bisa mencapai 40 menit. Pada jaman dahulu tari serimpi instana disajikan dengan durasi sekitar satu jam dengan tujuan dan fungsi yang khusus seperti penyambutan tamu istana, peringatan acara-acara khusus. Namun demikian tari Serimpi Mandrarini bukan tergolong tari sakral seperti tari Jawa klasik yang lain sehingga siapapun yang berminat dapat belajar tari serimpi. Di Pura Mangkunegaran sendiri memilik empat lembaga pelatihan tari di antaranya; Langen Projo Pura Mangkunegaran, Pakartimangke, Akademi Seni Mangkunegaran Surakarta, dan Sanggar Tari Suryosumirat. Bahkan lembaga ini tidak hanya sebagai tempat berlatih bagi orang-orang di sekitaran Surakarta, namun juga dari warga atau turis asing dari luar negeri seperti Jepang dan Belanda.

 

Serimpi Mandrarini: Mahakarya dari Pura Mangkunegaran
Salah satu gerakan pada tari Serimpi Mandrarini. (Foto: BPNB DIY)
Serimpi Mandrarini: Mahakarya dari Pura Mangkunegaran
Kostum yang digunakan penari berwarna hijau kuning mengacu pada bendera atau panji Pura Mangkunegaran. (Foto: BPNB DIY)

 

Menurut Rambat Yulianingsih, S.Sn, M.Sn., dosen sekaligus penari serimpi menuturkan “…kesulitan kalau menari tari serimpi adalah kekompakan dalam menari, partama memang seorang penari serimpi harus menguasai tarian terlebih dahulu, kemudian harus menghafalkan, kemudian harus bisa merasakan tarian itu, menjiwai apalagi nanti kalo sudah digabungkan dengan iringan tari, harus bisa merasakan iringan juga biar pas antara teman yang satu dan lainnya”.

Tari serimpi yang ada di Mangkunegaran adalah seni budaya yang hidup dan tumbuh di tengah kalangan raja-raja dan bangsawan. Pada perkembangannya tari serimpi juga dipertontonkan bagi masyarakat luas. Mangkunegaran sebagai salah satu sentra perkembangan budaya Jawa memiliki peran dan sumbangan dalam pembangunan budaya Bangsa Indonesia secara nyata.

 

Lestari Budayaku Lestari Negeriku,
Salam Budaya ?
Teks & Foto: Dokumentasi BPNB DIY