Membangun Karakter Bangsa melalui Nilai-nilai Budaya Spiritual

Dialog dan Paparan Ajaran Nilai Budaya Spritual di Jawa Timur Tanggal 18-19 Juli 2018 di di New Grand Park Hotel Surabaya, Jawa Timur

0
2207

Surabaya, BPNB DIY – Nilai-nilai karakteristik seperti prasaja (sederhana), lila legawa (tulus ikhlas), narima (menerima apa adanya) merupakan hasil dari proses oleh pikir dan olah rasa khususnya pada masyarakat Jawa.

Bagi kadang penghayat melalui wadahnya masing-masing, memberi dan mengembangkan ajaran-ajaran yang mempunyai nilai-nilai seperti yang termaktub dalam ajarannya sangat diharapkan mampu memberikan dukungan, masukan, dan peran dalam pembentukkan karakter bangsa yang berpijak pada jatidiri bangsa Indonesia.

Naen Suryono, SH sedang menyampaikan paparannya. (Foto: Titok Nurwidadi)

Dialog dan Paparan Ajaran Nilai Budaya Spritual di Jawa Timur bertempat di New Grand Park Hotel Surabaya merupakan salah satu sarana dialogis yang cukup efektif dan strategis bagi kadang penghayat dan juga pemerintah sebagai pemangku kepentingan yang di fasilitasi oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) D.I. Yogyakarta. Acara berlangsung Rabu-Kamis (18-19/7/2018) dengan mengangkat tema “Nilai-nilai Budaya Spiritual sebagai Sarana Membangun Karakter Bangsa” ini bertujuan untuk memahami nilai-nilai luhur yang terdapat dalam organisasi penghayat dalam perannya membentuk karakter bangsa. Dialog ini juga diharapkan mampu menggali dan memosisikan kembali nilai-nilai luhur bangsa dalam organisasi penghayat serta menumbuhkan dan memupuk rasa kebangsaan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Suasana Dialog dan Paparan Ajaran Nilai Budaya Spiritual tahun 2018. (Foto: Titok Nurwidadi)
Salah seorang peserta dialog sedang mengemukakan pendapatnya. (Foto: Titok Nurwidadi)
Narasumber pada acara Dialog dan Paparan Ajaran Nilai Budaya Spiritual tahun 2018. (Foto: Titok Nurwidadi)

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur dengan menghadirkan narasumber dari akademisi dan kadang penghayat kepercayaan. Pada sesi I, Dr. Latief Bustami (Akademisi) memaparkan makalah berjudul Memberdayakan Organisasi Penghayat untuk Membangun Bangsa yang Berkarakter pada Jatidiri Bangsa Indonesia dengan moderator Drs. Tugas Triwahyono (BPNB DIY). Sesi II diisi dengan paparan dari Disbudpar Prov. Jatim dengan judul Potensi dan Peran Kadang Penghayat untuk Membangun Bangsa Indonesia yang Berlandaskan Jatidiri Bangsa. Naen Suryono, SH (Kadang Penghayat) menyampaikan pentingnya pembinaan dan pengembangan kadang penghayat dalan upaya membentuk karakter bangsa dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dr. Latief Bustami (Akademisi) sedang menyampaikan makalah berjudul Memberdayakan Organisasi Penghayat untuk Membangun Bangsa yang Berkarakter pada Jatidiri Bangsa Indonesia. (Foto: Titok Nurwidadi)

Pada sesi III, Kamis (19/7/2018), M. Djayusman, SH., MM. menyampaikan makalah bertajuk Landasan dan Kewajiban yang Harus Dimiliki Bagi Kadang Penghayat. Pada sesi yang sama Drs. Marsudi mempresentasikan paparannya dengan judul Ajaran Memayu Hayuning Bawana dan Wawasan NKRI untuk Membentuk Karakter Bangsa yang Damai. Pada sesi IV, DR. Drs. Otto Bambang Wahyudi, M.Si., MM. menyampaikan Ajaran Manembah dalam Upaya Membentuk Karakter Bangsa yang Berjiwa Luhur dan Drs. Nuryanto menyampaikan Pantangan dan Upaya Pengendalian Diri Kadang Penghayat dalam Upaya Menciptakan Pribadi yang Luhur serta Memupuk Rasa Kebangsaan.

Salah satu narasumber Dialog dan Paparan Ajaran Nilai Budaya Spiritual sedang menyampaikan paparannya. (Foto: Titok Nurwidadi)
Drs. Sumarno selaku Ketua Panitia menutup acara Dialog dan Paparan Ajaran Nilai Budaya Spiritual Tahun 2018. (Foto: Titok Nurwidadi)

Acara berlangsung interkatif dengan diskusi yang cukup berbobot serta mendapatkan apresiasi dari para peserta. Kegiatan berakhir pukul 13.00 wib yang ditutup langsung oleh ketua panitia Drs. Sumarno dikarenakan Kepala BPNB D.I. Yogyakarta berhalangan hadir.

 

Kontributor Teks: Handoyo

Foto: Titok Nurwidadi