Melawan lupa : Kerajaan Tarumanagara

0
599

Melawan lupa : Kerajaan Tarumanagara

Oleh:
Nandang Rusnandar
(BPNB Jabar)

Prasasti Ciaruteun
Sumber Foto: Dok. BPNB Jabar, 2006

Bukti yang menyatakan bahwa Kerajaan Tarumanagara itu adalah Batu tulis atau lebih dikenal dengan sebutan Prasasti. Beberapa prasasti yang menyatakan Kerajaan Tarumanagara di antaranya:

  1. Prasasti Ciaruteun, disebut Prasasti Ciaruteun karena terdapat di tepi aliran Sungai Ciaruteun Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Namun pada tahun 1981 prasasti diangkat dan disimpan dalam cungkup di Kecamatan Cibungbulang. Prasasti ini ditulis dalam aksara Wenggi atau Palawa dan berbahasa Sangsakerta sebanyak 4 (empat) baris masing-masing 8 suku kata bunyi bacaannya :
    vikkrantasyavanipateh
    çrimatah purnnavarmmanah
    tarumanagarendrasya
    vishnoriva padadvayam
    (terjemahan menurut Prof Vogel: “Kedua jejak telapak kaki yang sepeti jejak telapak kaki Wisnu ini kepunyaan penguasa dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman Raja Tarumanagara)
  2. Prasasti Kebon Kopi, di Kampung Muara tidak jauh dari prasasti Ciaruteun ada sebuah prasasti di tengah perkebunan kopi milik Jonathan Rig, maka disebutlah prasasti Kebon Kopi atau penduduk setempat menyebutnya batu tapak gajah karena di atas batu tertera dua buah ukiran telapak kaki gajah. Di atas prasasti ini hanya ada satu baris dengan aksara Palawa dengan bahasa Sangsakerta, bunyi bacaannya :
    Jayaviçalasya tarumendrasya hastinah — airavatabhasya vibhatidam padadvayam
    (terjemahannya: (ini) dua jejak telapak kaki Airawata yang perkasa dan cemerlang, gajah kepunyaan penguasa Taruma yang membawakan kemenangan).
  3. Prasasti Jambu, prasasti ini terdapat di puncak bukit Koleangkak Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor, pada kaki bukit mengalir sungai kecil Cikasungka, di daerah itulah termasuk tanah perkebunan Jambu, sehingga prasasti ini disebut Prasasti Jambu. Prasasti ini ditulis dengan aksara Palawa dan berbahasa Sangsakerta, di atas tulisan itu ada lukisan sepasang telapak kaki. Menurut Vogel, bacanaannya sebagai berikut:
    Çriman data krtajnyo narapatir asamo yah pura tarumayan namma çri purnnavarmma pracuraripuçarabedyavikhyatavarmmo
    Tasyedam padavimbadvayam arinagarotsadane nityadaksham bhaktanam yandripanam bhavati sukhakaram çalyabhutam ripunam
    (terjemahannya: Lukisan dua telapak kaki ini kepunyaan yang termashur setia daam tugasnya (yaitu) raja tanpa tandingan yang dahulu memerintah Taruma bernama Sri Purnawarman yang baju perisainya tidak dapat ditembuh oleh tumbak musuh-musuhnya, yang selalu menghancurkan kota (benteng) musuh yang gemar menghadiahkan makanan dan minuman lezat kepada mereka (yang setia kepadanya) tetpi merupakan duri bagi musuh-musuhnya”.
  4. Prasasti Cidangiang, praasasti ini ditemukan pada tahun 1950an terletak di Sungai Cidangiang di desa Lebak Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang. Pada prasasti ini terdapat lukisan sepasang kaki, bacaannya sebagai berikut:
    vikrantayam vanipateh
    prabbhuh satyaparakramah
    narendraddhvajautena çrimatah
    purnnavarmmanah
    (terjemahannya : (Ini tanda) penguasa dunia yang perkasa, prabu yang setia serta penuh kepahlawanan, yang menjadi panji segala raja, yang termashur Purnawarman).
  5. Prasasti Tugu, prasasti ini ditemukan di Batutumpu, Desa Tugu Kecamatan Tarumajaya (Cilincing) di Kabupaten Bekasi. Prasasti ini ada lima baris kalimat, beraksara Palawa dan berbahasa Sangsakerta. Bacaannya sebagai berikut:
    • Pura rajadhirajena guiruna pinambahuna khata khyata puri prapya
    • Candrabhagarnnava yayau // pravarddhamana dvavinça dvatsare çrigunaujasa narendra dhvajabutena
    • Çrimata purnnavarmmana // prarabhya phalgunemase khata krsna tsami tithau caitraçukla trayodaçya dinai siddhaika viriçakai
    • Ayata shatsahasrena danusha(m)sa catena ca dvavinçena nadi ramya gomati nirmalodaka // pitamahasya rajasher vvidarya çibiravani
    • Brahmanair ggosahasrena prayatinkrtadakshino //
      (terjemahan: Dahulu Sungai Cadhrabaga ini digali oleh Rajadirajaguru yang berlengan kuat (besar kekuasaannya), setelah mencapai kota yang mashur, mengalirlah ke laut. Dalam tahun ke 22 pemerintahannya makin sejahtera, panji segala raja yeng termashur Purnawarman, telah menggali saluran Sungai Gomati yang indah, murni airnya, mulai tanggal 8 bagian gelap bulan Palguna dan selesai tanggal 20 bagian terang bulan Caitra, selesai dalam 20 hari. Panjangnya 6122 busur mengalir ke tengah tengah tempat kakeknya, Sang Rajeresi. Setelah selesai dihadiahkan 1000 ekor sapi kepada para brahmana).

Itulah prasasti-prasasti yang membuktikan bahwa Kerajaan Tarumanagara itu ada dan eksis. Sebuah pertanyaan kecil yang cukup menggelitik adalah: Apakah Purnawarman ini seorang India atau orang Pribumi? Sampai saat ini belum terjawab dengan pasti.