Cepet, Seni Helaran dari Sukabumi

0
168
Topeng cepet koleksi grup Turangga Seni Budhaya di Kp. Margamulya, Desa Sidamulya, Kec. Ciemas, Kab. Sukabumi. (foto: palapah)

Berawal dari sekelompok masyarakat berjumlah sekitar 200 orang yang berasal dari Jawa Tengah pada tahun 1935 dibawa (dibuang) oleh Penjajah Belanda ke daerah hutan di Kabupaten Sukabumi. Kondisi hutan yang masih banyak dihuni binatang buas dan mahluk halus membuat masyarakat tidak nyaman untuk menjadi tempat tinggal. Upaya ritual kemudian dilakukan, yaitu dengan mengadakan upacara Ngabungbang. Dalam upacara tersebut dibutuhkan 12 penari laki-laki yang mengenakan cepet atau topeng. Waditra yang digunakan untuk mengiringi tari hanya berupa iringan bunyi kentongan bambu. Ilustrasi tarian diselaraskan dengan motif topeng yang menggambarkan karakter mahluk halus dan binatang buas (kera, harimau, gajah). Gerak tari bersifat kreasi dan disesuaikan dengan bentuk serta karakter topeng yang dipakainya. Ada beberapa unsur gerak dalam Tari Cepet yang mengarahkan penari sehingga mengalami trans (kesurupan). Hal ini sesuai dengan fungsi Tari Cepet pada waktu itu yang memang sengaja dilaksanakan untuk mengusir binatang buas dan mahluk halus. Pertunjukan Tari Cepet dalam ritual Ngabungbang tidak berhenti setelah lokasi hutan tersebut telah menjadi pemukiman yang saat ini bernama Kampung Waluran, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Fungsi yang tadinya hanya sebagai ritual membuka lahan pemukiman kemudian bertambah pada aktivitas pembukaan lahan pertanian, perkebunan, dan tempat usaha. Oleh karena itu, jumlah permintaan pertunjukan Tari Cepet dalam ritual Ngabungbang kian bertambah. Berdasarkan hal tersebut, pada tahun 1974, dua warga Kampung Waluran benama Saman dan Nawi, mendirikan sanggar seni Tari Cepet bernama Sanggar Purwajati. Jumlah waditra Tari Cepet di Sanggar Purwajati, selain kentongan bambu, ditambahkan saron, kendang, dan goong (Lasmawati, 2013: 3).

Tari Cepet yang masuk dalam genre kesenian dalam perkembangannya kemudian memisahkan diri dan tidak mengikatkan diri sebagai pertunjukkan tari khusus untuk ritual Ngabungbang. Kemandirian ini ditunjukan dengan bertambahnya fungsi Tari Cepet pada unsur hiburan dalam acara hajatan (khitanan dan pernikahan) dan peringatan hari besar nasional. Penambahan fungsi tersebut disertakan dengan perubahan pada waditra, lagu, lokasi, dan busana. Namun demikian, unsur utama dalam Tari Cepet, yaitu enam lagu wajib dan tarian trans tetap ada karena dari unsur utama tersebut menimbulkan daya tarik tersendiri bagi penonton.

Waditra Tari Cepet yang pada awalnya hanya berupa kentongan kemudian ditambahkan seperangkat gamelan Sunda berlaras salendro, terdiri dari saron I, saron II, bonang, kendang, dan goong. Waditra tersebut digunakan untuk mengiringi terutama untuk lagu inti yang menggunakan bahasa Jawa (lagu wajib Tari Cepet) diantaranya berjudul ricik-ricik, dawet ayu, jaran kepang, bendrong, siji limo, dan renggong manis.

Busana Tari Cepet terdiri dari busana nayaga dan penari. Nayaga Tari Cepet adalah laki-laki yang mengenakan busana sunda terdiri dari acuk kampret (baju kampret), calana sontog (celana cingkrang), dan totopong (ikat kepala Sunda). Penari Tari Cepet berjumlah 12 orang atau lebih dilengkapi 1 orang pawang. Busana pawang adalah sama dengan busana yang dikenakan nayaga. Penari Cepet mengenakan baju lengan panjang dan celana lengan panjang. Sehelai kain dan selendang dililitkan di bagian pinggang. Di bagian kepala ditutupi topeng motif binatang dan Sanekala (mahluk halus)

Tari Cepet biasa dipergelarkan di lahan terbuka seperti lapangan atau area persawahan selesai panen yang berlangsung sekitar 2 – 3 jam. Durasi pertunjukan diawali dengan iringan gamelan yang bertujuan menarik perhatian masyarakat untuk datang dan menyaksikan pagelaran. Selanjutnya adalah lagu pembuka berjudul gending bendrong. Iringan gamelan divariasikan dengan juru vokal untuk mengilustrasikan suara binatang dan mahluk halus. Suara dan iringan gamelan kemudian dihentikan dan dilanjutkan bunyi gending pertanda penari Cepet memasuki arena. Pertunjukan pun kemudian dimulai. Iringan musik disertai ilustrasi suara binatang dan mahluk halus dipadukan dengan gerak tari kreasi dan spontan dari para penari Cepet. Efek kesurupan para penari cepet tidak dilakukan secara bersamaan karena bergantung dari lagu favorit masing-masing penari. Oleh karena itu, ada penari yang langsung kesurupan sejak lagu pertama, tengah, atau akhir pertunjukan. Saat trans (kesurupan), para penari memakan sesaji yang telah disediakan seperti kemenyan, minyak duyung, minyak japaro, rujak kelapa hijau, bako anting, bunga, air bunga, air teh, rujak bunga kemangi, kopi hitam, rujak asem, padi, dan daun dadap (Juniansyah, 2015: 1-4).

Beranjak dari perjalanan Cepet sebagai salah satu tari tradisional yang masih bertahan, atraksi trans yang menjadi ciri utama Tari Cepet menghasilkan satu identitas budaya yang sudah dikenal oleh masyarakat terutama di Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi. Sisi hiburan yang menjadi daya tarik masyarakat untuk datang dan melihat pertunjukkan Tari Cepet setidaknya dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus melestarikan salah satu aset budaya yang ada di Kabupaten Sukabumi.(Irvan)

Sumber:

  • Lasmawati, Putri Utami, 2013. “Tari Cepet pada Upacara Ngabungbang di Kampung Waluran Desa Gunung Batu Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi”, Skripsi, Bandung: Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia.

  • Juniansyah, Agung Yustian, 2015. “Kesenian Cepet Grup Mekar Budaya Asih Pada Acara Pernikahan di Kampung Kebonwaru Kabupaten Sukabumi”. S1 thesis, Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
  • Gilang, Ragil, 2017. “Kuda Lumping dan Cepet, Khas Pangumbahan Kabupaten https://sukabumiupdate.com/detail/vakansi/wisata/24844-kuda-lumping-dan-cepet-khas-pangumbahan-kabupaten-sukabumi Sukabumi”, dalam tanggal 5 Mei 2017
  • Junaedi, Hendi. “Kegiatan Panggeuing Rasa (Cepet Jaringao)”, dalam https://www.flickr.com/photos/148468913@N08/albums/72157684344052154/

TINGGALKAN KOMENTAR