Rabeg, Kuliner Tradisional Kota Cilegon

0
819

Rabeg menjadi semakin istimewa setelah mengetahui bahwa ternyata memiliki sejarah yang panjang. Ketika Raja Banten Sultan Maulana Hasanuddin naik haji, kota pelabuhan yang pertama didarati di tepi Laut Merah adalah Rabiq (juga dieja sebagai Rabigh). Ini adalah sebuah kota kuno yang sebelumnya bernama Al Johfa. Pada awal abad ke-17, kota ini hancur karena ombak, dan dibangun kembali menjadi kota indah dengan nama baru Rabiq. Sultan Banten sangat terkesan dengan keindahan kota itu. Beliau juga sempat bersantap dengan lahap di kota itu setelah berminggu minggu mengarungi samudra.
Sepulang kembali ke Banten, kenangan tentang kota Rabiq di Provinsi Makkah itu membuat Sultan menitahkan juru masak istana untuk memasak daging kambing. Karena tidak ada yang tahu bagaimana cara memasak kambing seperti di Tanah Suci, juru masak pun mereka-reka sendiri masakan kambing yang khas. Ternyata, Sultan sangat menyukainya.

Rabeg Cilegon (Sumber Foto: sportourism.id)

Sejak itu, masakan kambing empuk yang gurih dan beraoma harum itupun menjadi sajian wajib di istana. Resep masakan khas itu pun akhirnya “bocor” ke masyarakat, dan menjadi sajian populer yang wajib hadir di setiap perhelatan. Tak pelak lagi, nama Rabiq pun melekat pada masakan itu. Dalam perjalanan waktu, Rabiq pun berubah menjadi Rabeg seperti sekarang umum dieja.
Rabeg merupakan masakan berbahan dasar daging dan berkuah seperti semur. Namun meskipun sama-sama berkuah rabeg tetap berbeda dengan semur yang memiliki cita rasa manis dari kecap ditambah gurihnya bawang putih. Rabeg memiliki cita rasa pedas dengan bumbu dasar bawang merah, bawang putih dan lada. Rasa pedasnya menjadi lebih kompleks
dan unik dan lebih kaya dengan ditunjang bumbu lainnya yaitu jahe, lengkuas, cabe rawit, biji pala, kayu manis. Kuah rabeg berwarna cokelat hasil dari percampuran air murni dan bumbu rempah yang bisa menghangatkan tubuh. Kuah tersebut juga dipercaya dapat mengurangi kandungan lemak.
Proses pembuatan rabeg juga tidak terlalu rumit, setelah daging direbus dan dipotong-potong lalu dimasukan kedalam tumisan bumbu-bumbu yang telah dihaluskan. Air sisa rebusan daging (kaldu) kemudian dicampurkan kedalam tumisan daging dan bumbu dan dimasak sampai kuah mengental dan meresap ke dalam daging. Untuk menghilangkan bau prengus kambing biasanya bisa ditambahkan daun salam, dan bunga lawang untuk menampilkan aroma harum.

Sumber:
Heru Erwantoro dkk, “Inventarisasi Karya Budaya di Cilegon”, Laporan Penginventarisasian dan Pencatatan Karya Budaya Kota Cilegon, Bandung: BPNB Jabar, 2018