Hajat Uwar
Oleh :
Yuzar Purnama
(BPNB Jawa Barat)

Menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan dilakukan oleh masyarakat sesuai dengan tata cara yang biasa dilakukan oleh para leluhurnya. Seperti halnya pada masyarakat Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, diantaranya dengan melaksanakan upacara bernama Hajat Pareresan dan Hajat Uwar.
Berbeda halnya dengan Hajat Pareresan yang lebih mengedepankan pada ungkapan rasa syukur, Hajat Uwar dilaksanakan agar masyarakat terhindar dari bencana. Dengan demikian, apabila masyarakat ditimpa bencana seperti gempa bumi, longsor, banjir, ataupun gerhana matahari/bulan (dianggap sebagai bencana), maka keesokan harinya mereka akan melakukan sebuah upacara tradisional yang disebut Hajat Uwar. Hajat Uwar dilakukan dengan tujuan sebagai tolak bala atau mencegah terjadinya bencana dan musibah yang akan terjadi (lagi) di wilayah mereka.
Hajat Uwar dilaksanakan tempatnya di bale kampung atau bale dusun. Hajat ini menggunakan seperangkat sesajian dan kemenyan, selain itu dibawakan pula nasi congcot (nasi tumpeng), daging ayam, bekakak ayam, ketupat, tenteng angin, epres yaitu sejenis penganan yang terbuat dari campuran kelapa dengan tepung terigu dan gula putih, otoktowo yaitu kue tradisional yang berwarna kuning dan coklat serta keras yang terbuat dari tepung terigu dan gula putih.


Hajat Uwar

Setelah mereka berkumpul dan hidangan diletakan di tengah-tengah mereka, kemudian dilanjutkan dengan ritual ikrar atau ijab kabul dilakukan oleh Aki Kunci (Juru Kunci) dan pembacaan doa dilakukan oleh penghulu (lebe). Selesai ikrar dan pembacaan doa dilanjutkan dengan makan bersama menyantap semua hidangan yang dibawa tadi.
Hajat Uwar ini dilaksanakan oleh semua kampung atau dusun yang ada di Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka. Masing-masing dusun melaksanakannya di bale kampung atau bale dusun yang dipimpin oleh juru kunci (kuncen) dan lebe (penghulu).

TINGGALKAN KOMENTAR