Hajat Pareresan (Reresan)
oleh:
Yuzar Purnama
(BPNB Jawa Barat)

Masyararakat Indonesia adalah masyarakat agraris, yaitu masyarakat yang sebagian besar mata pencahariannya sebagai petani atau buruh tani. Ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. oleh sebagian petani dilaksanakan dengan cara ritual hajat bumi, pesta bumi, tutup wuku, dan sebagainya. Salah satunya adalah seperti yang dilaksanakan pada masyarakat Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, yaitu upacara pasca panen ini disebut Hajat Pareresan (Reresan).
Hajat Pareresan atau Reresan ini biasa diselenggarakan sehabis panen (pasca panen) padi, yang biasa jatuh pada bulan Muharam yaitu bulan pertama dalam kalender Islam Hijriah.


Masyarakat Desa Sidamukti Kecamatan Majalengka Kabupaten Majalengka sedang melaksanakan hajat Pareresan

Tujuan Hajat Pareresan (Reresan) adalah sebagai rasa syukur atau terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. yang telah memberikan hasil panen padi yang berlimpah ruah. Selain itu, dengan selalu dilaksanakan upacara ini setiap tahun diharapkan akan dijauhkan dari musim paceklik atau musibah yang menimpa pertanian mereka.
Hajat Pareresan (Reresan) ini dilaksanakan di masing-masing dusun yang dipimpin oleh juru kunci (kuncen), tempatnya di makam keramat yang ada di setiap dusun. Di Desa Sidamukti ini ada 5 makam keramat yaitu :

  1. Makam Astana Leutik,
  2. makam Astana Gede,
  3. makam Buyut Pancalikan,
  4. makam Buyut Bagara,
  5. dan makam Buyut Singalayang.

Dusun yang ada di Desa Sidamukti di antaranya dusun Ciande dengan juru kuncinya (kuncen) bernama Ki Salim, dusun Babakan Ciande dengan juru kunci (kuncen) bernama Ki Mumu, dan dusun Gunung Panten dengan juru kuncinya (kuncen) bernama Ki Sudia.
Juru kunci dan masyarakat yang akan melaksanakan hajat Pareresan (Reresan) membawa seperangkat sesajian dan kemenyan, congcot (nasi tumpeng) beserta pelengkapnya seperti daging ayam atau bakakak ayam, telur ayam, dan sebagainya. Ditambah penganan ringan seperti leupeut (lontong), tenteng angin, cara beureum (penganan yang berwarna merah), cara bodas (penganan yang berwarna putih). Semua dibawa ke makam keramat salah satunya makam Astana Gede, kemudian mereka duduk melingkar dengan makanan disimpan di tengah-tengah. Setelah itu ritual ikrar dipimpin oleh juru kunci (kuncen) sebagai ijab kabul dengan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Selesai ikrar, kemudian makanan dibawa oleh masing-masing pemiliknya ke rumah dan disantap bersama keluarga.

TINGGALKAN KOMENTAR