Bebegig Sukamantri

You are currently viewing Bebegig Sukamantri

Bebegig Sukamantri

Nama Bebegig merupakan representasi penjaga lingkungan alam sekitar. Berdasarkan beberapa data tertulis, Bebegig berkaitan erat dengan wilayah sebelah Utara Desa Sukamantri, yang disebut Tawang Gantungan, sebuah bukit dengan hutan larangan yang masih dianggap keramat dan angker. Wilayah ini oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai bekas kerajaan. Memiliki luas wilayah sekitar 3,5 Ha, dengan ketinggian 950 M DPL dan termasuk hutan alam kayu lain (HAKL). Bukit itu sedikit berbeda dengan bukit yang ada di sekitarnya. Di bagian lembahnya terdapat 3 (tiga) parigi (parit) besar yang melingkarinya. Wilayah seperti ini itu tidak akan ditemukan di wilayah lain, di bawahnya ada lereng terjal yang disebut oleh masyarakat dengan nama Panggeleseran. Di bawah Penggelesaran terdapat sungai yang mengalirkan jernih dari mata air yang ada di sekitar lokasi itu.
Orang yang berkuasa di wilayah Tawang Gantungan pada waktu itu adalah Prabu Sampulur, yang dikenal sakti dan juga cerdik. Untuk menjaga dari gangguan orang yang punya niat jahat, dibuatlah topeng-topeng dari kulit kayu yang dibuat sedemikian rupa menyerupai wajah yang menyeramkan. Rambutnya terbuat dari ijuk kawung (Aren) yang terurai panjang ke bawah, dilengkapi atribut mahkota dari kembang bubuay dan daun Waregu yang tersusun rapi diatas kepala topeng, dihiasi kembang hahapaan dan daun pipicisan. Atribut tersebut diambil dari tanaman liar yang tumbuh subur di daerah tawang gantungan, selintas biasa saja atribut yang dipasang di topeng tersebut, padahal beberapa atribut ternyata memilliki atau mengandung filosofi kehidupan yang sangat dalam.

Prabu Sampulur selalu menyerahkan daun Waregu Pancawarna dan kembang bubuay. Daun Waregu Pancawarna bukan berarti setiap helai daunnya warna-warni, melainkan hanya simbol kebaikan atau kebahagiaan. Sedangkan bunga yang keluar dari pohon sejenis rotan yang disebut bubuay itu ternyata mengandung filosofi kehidupan yang sangat berarti, dilihat dari bentuk bunga yang tersusun rapi berurutan, sebagai simbol runtut raut, sauyunan (kebersamaan), silih asah, silih asih, silih asuh, stiap helai bunganya menempel kuat di manggarnya (tangkainya). Kuatnya kebersamaan secara turun temurun tidak akan lepas dari pecah. Selanjutnya topeng-topeng kulit kayu yang dibuat oleh Prabu Sampulur dipasang dipohon-pohon besar yang ada disekitar Tawang Gantungan konon, karena kesaktiannya bila ada orang yang berniat jahat melihat topeng tersebut seolah-olah melihat makhluk tinggi besar menyeramkan dan membuat takut orang itu. Prabu Sampulur didatangi 2 orang pendatang ke tempat tersebut (Tawang Gantungan), orang itu bernama Sanca Manik dan Sanca Ronggeng, prabu sampulur sendiri mempunyai 17 orang yang bisa dipercaya dan bisa membantu termasuk Sanca Manik dan Sanca Ronggeng.
Kehidupan ditempat tersebut hanya bertani alakadarnya, bisa saja, dan berburu hewan apapun yang kiranya bisa dimakan. Sanca Ronggeng selalu menari-nari kegirangan bila mereka mendapatkan hewan buruan dan diikuti oleh yang lainnya sebagai ungkapan rasa gembira, senang. Karena keseringan melihat gerakan Sanca Ronggeng menari itu Prabu Sampulur teringat topeng yang dipasang dipohon dan Sanca Ronggeng adalah orang pertama yang memeakai topeng dan atributnya. Semenjak itu setiap mendapatkan hasil buruan mereka selalu menari memadukan jurus-jurus beladiri & tarian sambil memakai topeng. Diantara mereka, Sanca Ronggenglah yang paling lihai menari dan mengajarkan 7 gerakan tari yang juga dipadukan dengan jurus beladiri, kepada orang-orang di sekitarnya.
Selain itu terdapat versi lain yang menyebutkan kesejarahan seni bebegig ini. Konon yang mulai merintis kesenian Bebegig ini adalah Berawal pada kerajaan Sunda hendak menikahkan Putri Dyah Pitaloka dengan raja Hayam Wuruk saat di lapangan Bubat. namun disaat menunggu kedatangan rombongan kerajaan majapahit, rombongan kerajaan sunda di serang oleh prajurit bertopeng yang keluar dari hutan. sehingga terjadilah perang bubat. Topeng ini adalah tidak lain merupakan prajurit dari Bre Wengker yang merupakan paman dari Hayam wuruk, setelah sebagain dari pihak kerajaan Sunda tewas. Hayam wuruk dinikahkan oleh putri dari Bre Wengker, sedangkan rombongan kerajaan Sunda yang masih selamat diberi tahta kerajaan majapahit, dan membuat sebuat topeng atas perang bubat untuk mengingat kejadian pahit.
Saat ini, Kesenian bebegig masih ada dan bertahan di Desa Campaka, Kec. Sukamantri, Kabupaten Ciamis, baik dari segi pementasan maupun proses pembuatannya. Proses pembuatan Bebegig di desa ini adalah sebagai berikut: Sebelum Bebegig dibuat para pemain berdo’a terlebih dahulu, kemudian berangkat ke gungung Karang Gantungan untuk mengambil bahan-bahan antara lain ijuk, bubuay, daun waregu. Bahan-bahan tersebut dibawa kesanggar pembuatan Bebegig. Proses diawali dengan pembuatan topeng kemudian dirangkai dan dibentuk menggunakan bahan-bahan yang diambil dari Gunung Karang Gantungan, sehingga terbentuklah topeng dengan segala asesorisnya termasuk kolotok yang digantungkan ke badan peserta, berat badan Bebegig tersebut sekitar 20 kg atau lebih yang siap digunakan, kemudian topeng itu dipakai oleh peserta yang telah disiapkan untuk mengunakannya.
Diawali dengan do’a bersama agar pertunjukan berjalan lancar dan aman serta pertunjukanpun dimulai dengan mengitari perkampungan kemudian berkumpul dalam satu arena yang telah ditentukan untuk unjuk kebolehan dan kekuatan antara Bebegig yang satu dan lainnya. Pada malam harinya dilakukan ritual tawasul kepada arwah nenek moyang yang telah tiada, kemudian para peserta menggunakan kembali topeng Bebegig masing-masing dan disebar diberbagai tempat menunggu datangnya fajar.
Fungsi sosial kesenian Bebebig adalah mempererat persatuan dan kesatuan dalam menjaga dan melestarikan dan mengembangkan potensi daerah serta menumbuhkan rasa bangga terhadap jati diri kepribadian budaya lokal daerah.
Struktur pertunjukan seni Bebegig Sukamantri dibagi menjadi empat bagian, yaitu (1) perkakas yang digunakeun dalam acara helaran kasenian Bebegig Sukamantri yang mengikat perkakas dari bahan untuk membuat bebegig, perkakas yang terdapat dalam pakaian sesepuh bebegig Sukamantri, dan perkakas yang ada pada waditra pengiring seni Bebegig Sukamantri, (2) Grup seni Bebegig Sukamantri “Baladdewa”, (3) dalam pelaksanaan acara helaran pada seni Bebegig Sukamantri yang mengikatnya sebelum pelaksanaan, dan setelah acara helaran kasenian Bebegig Sukamantri, sarta (4) Lagu-lagu yang dibawakan dalam seni Bebegig Sukamantri adalah Papalayon, Wawaledan, Banjaran, Palangsiang, Kembang beureum, Deungkleung déngdék, Kembang Tanjung, dan Rayak-rayak.
Tentang nilai dan makna dalam seni Bebegig, terdapat Simbol-simbol budaya dalam kasenian Bebegig Sukamantri yang dianalisis berdasarkan téori sémiotik Charles Sander Pierce yang membagi sémiotik menjadi tiga bagian, yaitu ikon, indéks, serta simbol. Berdasarkan hasil analisis, setidaknya terdapat enam ikon yang harus ada, yaitu Bebegig Sukamantri, kembang hahapaan, daun pipicisan, kadaka, buah kalayar, dan pepedangan), dalam indéks terdapat tujuh hal yang mesti ada, yaitu kayu, ijuk kawung (aren), bubuay, daun pohon waregu, kolotok, pecut, dan sesepuh). Selain itu terdapat 13 yang melengkapi pertunjukannya, antara lain iket barangbang semplak, pangsi, bedug, angklung, tarompét, kendang, calung, kecrék, rebab, goong, dog-dog, sindén, serta alok). Topeng Bebegig Sukamantri memiliki bentuk seperti buta (raksasa) dengan makna simbolik sebagai ikon masyarakat Sukamantri. 4) Secara umum, kedua topeng merupakan jenis topeng yang berukuran besar. Keduanya memiliki beberapa fungsi yang sama, yakni sebagai ikon dari latar belakang wilayah setempat, pemandu arak-arakan, dan alat upacara syukuran.
Seperti sudah diuraikan di atas, bahwa Bebegig (istilah sunda) berarti suatu alat yang dibuat dengan tujuan menakuti, mengusir ataupun digunakan untuk penyamaran. Filosopi Seni Bebegig Sukamantri ini sebagian dimaknai dari pohon Kawung (Aren) yang mana semua bagian dari pohon tersebut bisa bermanfaat untuk kehidupan manusia.
Bebegig Sukamantri ini memiliki atribut yang menandakan suatu filosofi kehidupan, atribut tersebut diambil dari tanaman liar yang tumbuh subur. Selintas atribut yang dipasang pada kostum bebegig Sukamantri terkesan biasa saja. Padahal beberapa atribut ternyata memilliki atau mengandung filosofi kehidupan yang sangat mendalam. Artibut yang digunakan salah satunya daun waregu pancawarna dan kembang bubuay. Daun Waregu Pancawarna bukan berarti setiap helai daunnya warna-warni, melainkan hanya simbol kebaikan atau kebahagiaan. Sedangkan bunga yang keluar dari pohon sejenis rotan yang disebut bubuay mengandung filosofi kehidupan yang sangat berarti. Dilihat dari bentuk bunga yang tersusun rapi berurutan, sebagai simbol runtut raut, sauyunan (kebersamaan), silih asah, silih asih, silih asuh, stiap helai bunganya menempel kuat di manggarnya (tangkainya). Kuatnya kebersamaan perlu dijaga secara turun temurun.
Tidak hanya itu mengusung nilai seni yaitu keindahan suara, seni Bebegig Sukamantri ini juga diiringgi dengan instrumen musik dari kayu. Diantaranya kelotok kayu yang digoyang goyangkan dan kayu berlubang memanjang dipukul-pukul sebagai pengiring tarian dan menambah riuh suara.

Sumber:
Tim Verifikasi WBTB, “Bebegig Sukamantri”, Formulir Warisan Budaya Takbenda, Bandung: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, 2018.