Mengabadikan Konferensi Asia Afrika Ala Ayahku

You are currently viewing Mengabadikan Konferensi Asia Afrika Ala Ayahku

Mengabadikan Konferensi Asia Afrika Ala Ayahku

Mengabadikan Konferensi Asia Afrika Ala Ayahku

Oleh:
Heru Erwantoro
(BPNB Jabar)

Bulan April merupakan bulan yang bersejarah bagi masyarakat Kota Bandung, karena pada bulan itu, 65 tahun yang lalu diselenggarakan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang sangat monumental. Berbicara KAA dari kaca mata politik hubungan internasional, sudah banyak sekali dikupas. Kali ini aku ingin bercerita KAA di mata rakyat biasa yang langsung menyaksikan peristiwa bersejarah itu.

Gedung Merdeka tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika tanggal 18-24 April 1955
Sumber Foto: Wikipedia

Sebelum meninggal dunia ayahku sempat bercerita. Pada tahun 1954, dia dari Surabaya berangkat ke Bandung karena ditempatkan oleh Djawatan Kereta Api. Baru setahun di Bandung, ada KAA yang sangat meriah dan spektakuler. Sebagai rakyat, ayahku sangat bangga pada negaranya yang mampu menyelenggarakan konferensi tingkat dunia. Ayahku sangat mengagumi tokoh-tokoh dunia yang hadir di KAA, apalagi terhadap kecantikan putrinya PM India, Indira Gandhi. Begitu kagumnya, ketika istrinya melahirkan anak perempuan pada bulan April 1955 juga, langsung diberi nama Kunjung Indrawati. Kunjung itu merujuk pada kunjungan, dan Indrawati mengacu ke Indira Gandhi. Kunjung Indrawati untuk mengenang kunjungan Indra Gandhi pada tahun 1955 dalam rangka menghadiri KAA di Bandung. Ya, kalau orang Jawa meniru tak pernah sama persis. Rupanya kekaguman itu masih berlangsung, ketika istrinya melahirkan anak yang kedua, perempuan juga pada tahun 1957, diberi nama Kunjung Indraningsih. Berikutnya, ketika lahir anak perempuan yang ketiga pada tahun 1959, diberi nama Kunjung Indranani. Pada tahun 1961 lahir anak yang keempat, laki-laki, yaitu Aku, diberi nama Heru. Kata Ayah, “ Ada kesamaan bunyi di akhir kata antara Neh(ru) dan He(ru). Beda kata depannya saja”. Saat itu aku tidak peduli. Sekarang aku baru sadar perbedaan itu menunjukkan perbedaan kualitas. Nehru pembuat sejarah, sedangkan Heru pencatat sejarah. Begitulah ceritaku.