Karya Seni R. A. Kartini Yang Jarang Dikuak

0
12815
RA Kartini

R. A. Kartini (1879-1904) yang dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan emansipasi wanita Indonesia, ternyata juga seorang seniman. Selain piawai menulis, Kartini juga membatik, melukis, bermusik, dan memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan para seniman Jepara.

Salah satu lukisan wanita kelahiran Jepara, 21 April 1879 ini menampilkan objek empat angsa. Tiga angsa di antaranya berada di depan menyimbolkan Kartini beserta adik-adiknya yaitu Roekmini dan Kardinah. Mereka bertiga kerap berkumpul dan menghasilkan karya-karya. Sedangkan satu angsa di belakang menyimbolkan kakak kandung Kartini, Sosrokartono yang selalu memberikan dukungan dan pengarahan kepada ketiga adik perempuannya tersebut. Uniknya, lukisan realis bergaya Eropa yang tampak elips berukuran diameter 29 x 46 sentimeter itu justru diberi bingkai ukir khas kriya Jepara era 1900-an, berukuran 40,5 x 59 x 3 sentimeter. Lukisan dan bingkai tersebut lengkap dengan stijger (penyanggah) direproduksi oleh Rumah Kartini dengan penelitian mendalam sebelumnya oleh para peneliti dan kurator seperti Nano Warsono, Anjib, dan Bambang Toko.

Karya R. A. Kartini

Tentang ukiran Jepara, ketiga wanita ini pula yang membuat ukiran Jepara banyak diminati orang-orang Belanda. Bermula dari sebuah pameran di Den Haag, Belanda pada tahun 1898, yang menampilkan karya-karya ukir Kartini, Roekmini, dan Kardinah. Mereka membuat karya ukir baru yang dikembangkan dari motif-motif ukiran gayor Gong Senen, rumah-rumah tua pegawai di Jepara, masjid dan makam mantingan, serta wayang. Tak disangka, karya tersebut mengundang decak kagum orang-orang Belanda, bahkan Ratu Wilhelmina (Ratu Belanda kala itu). Setelah pameran tersebut, Kartini, Roekmini, dan Kardinah kemudian dikenal dengan sebutan Klaverblad van Japara (Daun Semanggi dari Jepara).

Pameran tersebut berdampak pada bangkitnya kembali seni ukir Jepara. Dalam buku “The Complete Writings 1898-1904” karya Jost Cote, cukup banyak surat Kartini yang menyebut tentang kesenian dan kriya Jepara yang mati suri setelah masa pembuatan Gong Senen karya Adipati Tjitrosomo, serta akibat mulai ditinggalkannya pelabuhan Jepara dan perubahan era seni yang digemari. Namun setelah Klaverblad van Japara menampilkan karya-karya ukirnya di Belanda, banyak pesanan ukiran Jepara dari orang-orang Belanda. Hingga Oost en West, sebuah perkumpulan yang bertujuan menggalakkan seni di Hindia, menunjuk Kartini dan kedua adiknya tersebut sebagai agen resmi pembelian kriya di Jepara, mulai dari sisir, kotak dari cangkang kura-kura, kain dringin, hingga batik.

—–

Referensi:

http://lib.unair.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1073&catid=70&Itemid=118&lang=en

https://m.merdeka.com/raden-adjeng-kartini/profil/

https://majalah.tempo.co/read/laporan-khusus/142334/kisah-daun-semanggi-van-jepara

https://www.kompas.com/skola/read/2019/12/13/120000369/biografi-ra-kartini-pejuang-emansipasi-perempuan?page=all

https://www.rumahkartini.com/karya-seni-lukis-kartini-japara/