PENERIMA ANUGERAH KEBUDAYAAN KATEGORI MAESTRO SENI DAN TRADISI 2018: DAHRUL HAMIM (1)

0
1015
Maestro Seni Tradisi 2018

Penjaga Memori Sejarah Lokal dan Tradisi Lisan Rejang

Dahrul Hamim mendalami seni betadut, yaitu seni hiburan, pelipur lara dan petuah bercerita dongeng-dongeng tentang kehidupan nenek moyang dan kehebatan leluhur agar menjadi panutan dalam masyarakat.

Dahrul Hamim oleh masyarakat Desa Talang Ulu di Kecamatan Lebong Muara Aman, Kabupaten Lebong, Bengkulu, lebih dikenal dengan Pak Jahrul. Dia adalah pendendang tradisi dari “masa silam” yang mulai dilupakan oleh generasi baru desanya yang lebih tertarik pada hal-hal kekinian. Nyanyian berirama dangdut dengan iringan organ tunggal, misalnya, jauh lebih disukai ketimbang dendan berisi oetuah tentang kehidupan yang diiringi petikan gitar tunggal Pak Jahrul.

Maestro Seni Tradisi 2018

Tak heran bila sejak dua dekade terakhir sudah jarang orang mengundang Pak Jahrul untuk tampil “manggung” di hajatan-hajatan warga. Tradisi yang mereka namakan seni betadut atau ndullah dalam bahasa Rejang itu kini benar-benar sudah terpinggirkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pendukungnya. Proses pewarisannya pun terancam terhenti hanya sampai pada Dahrul Hamim.

“Tidak ada yang mau melanjutkan seni ndullah ini. Jangankan anak-anak muda, orang tua mereka pun tidak ada yang berminat mempelajarinya”, kata Dahrul Hamim dalam bahasa Rejang bercampur Melayu.

Di tengah gerak laju perkembangan zaman, di dalam pusaran arus deras perubahan sosial-budaya di banyak tempat, tradisi lisan dalam bentuk seni bertutur seperti yang dilakoni Pak Jahrul memang mulai kehilangan pijakan dan bahkan sempat bergayut. Seperti suara dari masa silam yang terdengar semakin lirih, sayup dan terus menjauh, begitu pula seni tradisi pada umumnya yang kian tersingkir dan disingkirkan oleh anak-anak zaman. Tak terkecuali seni ndullah dari Desa Talang Ulu, Lebong, Muara Aman.

Petikan gitar tunggal Pak Jahrul yang mengiringi lantunan pantun dan syair tentang sejarah asal-usul nenek moyang mereka, tentang petuah-petuah hidup, atau tentang bagaimana hidup bersama di bumi yang penuh rahmat ini , ternyata tak mampu membuat anak-anak masa kini di sana sejenak menengok ke “dalam” akar budaya mereka. Ajaran-ajaran seperti pentingnya gotong-royong dan indahnya musyawarah mufakat yang merupakan bentuk kearifan lokal dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan hidup bersama, yang terkandung dalam isi pantun dan syair yang kerap didendangkan Pak Jahrul, sepertinya gagal menyirami batin mereka.

Disalin dari Buku Profil Penerima Anugerah Kebudayaan Tahun 2018

TINGGALKAN KOMENTAR