Kemegahan Konser Orkestra Tradisional Asia di Jakarta dan Bali

0
822

Setelah kehadiran grup Orquesta de Camara de Siero (OCAS) dari Spanyol pada tahun 2017 dan 2018 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali menyelenggarakan program diplomasi budaya terkait musik orchestra pada tahun 2019 ini. Bekerjasama dengan Korea Foundation dan Mission of Republic of Korea to ASEAN, Kemdikbud menjadi tuan rumah bagi konser Asia Traditional Orchestra (ATO). Konser ATO di Indonesia terselenggara sebanyak tiga kali yaitu di Balai Sarbini pada tanggal 6 November 2019, di Hall Sekretariat ASEAN pada tanggal 7 November 2019 dan di Gedung Ksirarnawa – Taman Budaya Denpasar pada tanggal 12 November 2019.

ATO yang terbentuk pada Mei 2009 sebagai bagian dari ASEAN-Republic of Korea Commemorative Summit di Pulau Jeju ini beranggotakan para musisi dari 10 negara anggota ASEAN (Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam) dan Korea Selatan. Uniknya, mereka berkolaborasi dalam konsep orkestra dengan memainkan alat-alat musik tradisional dari negara masing-masing.

Dua orang musisi dari Brunei Darussalam yaitu Mohammad Ubaidillah dan Mohd Norakmal memainkan Gambus dan Gendang Labik. Hak Tokla dan Choun Chanthon dari Kamboja memainkan Roneat Aet dan Tror So Tauch. Tun Wunna Soe dan Khin Myo Maw Lwin dari Myanmar memainkan Pattala dan Saung. Musisi Filipina Elaine Juliet Cajucom dan Lilymae Montano memainkan Bandurria dan Tagungguan. Sedangkan Indonesia yang diwakili oleh Marsjaf Achmad Prijana Bratakusuma bermain kendang dan Lia Nugrahati pada gambang.

Musisi-musisi dari Korea Selatan juga tampil prima dengan berbagai alat musik tradisional khas Negeri Gingseng itu. Salah satu yang paling memikat para penonton adalah seperangkat perkusi Samulnori yang dimainkan dengan tempo dinamis. Di bawah arahan konduktor Vonty Sitrona Nahan dari Indonesia dan Han Sang Il dari Korea Selatan, ATO menyuguhkan serangkaian karya seperti medley lagu-lagu tradisional Indonesia, “Sail off The Boat”, “My Love Mongryong” dan “Shinmodeum” (Korea Selatan).

Kemegahan pertunjukan orkestra tradisional ini semakin lengkap dengan adanya kolaborasi bersama para pemain gamelan, penari Bali dan penari Papua pada saat medley lagu Janger dari Bali dan Yamko Rambe Yamko dari Papua ditampilkan. Pada dua pertunjukan di Jakarta, ATO menggandeng Lembaga Kesenian Bali (LKB) Saraswati pimpinan I Gusti Kompiang Raka dan Animal Pop Family besutan Jecko Siompo. Sedangkan saat konser di Bali, kolaborasi dilakukan bersama para mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Lagu terakhir yang dibawakan oleh ATO pada ketiga konsernya di Indonesia yaitu “One Asia” merupakan gabungan lagu yang mewakili elemen-elemen kebudayaan di setiap negara ASEAN serta Korea Selatan. Lagu ini juga secara apik menggambarkan tujuan dari penyelenggaraan ATO yaitu memperkuat hubungan antar masyarakat (people-to-people exchange) baik sesama musisi dan penari yang tampil di atas pentas maupun kepada publik yang menyaksikan. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkakan pemahaman bahwa meskipun ASEAN terdiri dari budaya yang sangat beragam, namun terdapat banyak kemiripan yang perlu ditonjolkan sebagai suatu identitas bersama.

Penulis: Gentur

TINGGALKAN KOMENTAR