Branjang Pamadi Suka Tokoh Raksasa

0
844

Bersimpuh di depan kelir di bawah blencong, mengenakan blankon, baju jawa dan kain
serta keris di pinggang, Branjang Pamadi memainkan adegan pertempuran antara Setyaki dan Aswotomo. Suaranya lantang dan berat. Tuturnya lancar. Remaja berusia 15 tahun dan berkacamata minus itu menghadirkan pertarungan dua toko yang saling berseberangan.

Branjang Pamadi adalah salah seorang remaja di kota gudeg, Yogyakarta, yang memilih menjadi dalang, bukan musisi atau pemain film seperti banyak remaja lain. Ia memilih wayang, menjadi dalang, karena merasa terpanggil. Branjang menyadari betul seni pewayangan di era digital ini harus berjuang lebih keras lagi agar bisa bertahan. Generasi milenial seangkatannya makin tak peduli dengan seni tradisi tersebut. Terlebih Branjang memilih wayang klasik atau wayang purwa, bukan wayang kontemporer yang bisa berkolaborasi dengan genre seni lain, termasuk seni modern.

Di sekolahnya pun tak banyak temannya yang tertarik dengan wayang, apalagi menjadi dalang. Malah ia mengaku sempat dirundung (di-bully). Tapi pengalaman pahit tersebut justru membuatnya kian bersemangat untuk menggeluti dunia pedalangan. Memang, masih ada temanteman sekolahnya yang tertarik dan memberi apresiasi terhadap apa yang digeluti oleh anak pertama dari pasangan Dandun Hadi Witono dan Titik Samiarsih ini. Ia mengajak dan mengajari teman-temannya itu bagaimana memegang wayang, walaupun ia tahu dirinya sendiri belum sempurna memegang wayang.

Ibarat pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohon, Branjang juga lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga dalang. Kakek buyutnya dalang. Kakeknya RW Cermo Sutedjo Gondo Sumitro adalah salah satu dalang terkenal di Yogyakarta. Kedua orangtua Branjang, Dandun Hadi Witono dan Titik Sumiarsih, juga dikenal sebagai dalang. “Saya sudah menjadi dalang sejak berada dalam kandungan,” kata Branjang dengan bangga. Titik Sumiarsih, ibunya, menjelaskan, saat mengandung anak pertamanya itu ia selalu ikut dalam berbagai pementasan wayang. Saat masih bocah, Branjang juga sering diajak kakeknya untuk ikut mendalang. Kakeknya, Sutedjo Gondo Sumitro, sering memangku cucunya di depan kelir saat sedang mendalang. Bahkan Branjang suka ikut memainkan anak wayang yang sedang dimainkan pula oleh kakeknya.

Dalang remaja ini menuturkan, saat masih kecil ia pernah menderita asma. Saat dirawat ia selalu memegang wayang. Tampaknya pengalaman memegang wayang ini langsung merasukinya untuk mencintai seni tradisi wayang klasik yang banyak mengajarkan nilai kehidupan. Kepiawaiannya makin bertambah karena darah seni yang mengalir dalam tubuhnya, bakat yang diturunkan dari lelehurnya yang semuanya dalang, lalu kakeknya dan kedua orangtuanya. Lengkap sudah darah seni tradisi pewayangan yang mengalir dalam dirinya.

Branjang kini telah jadi salah satu dalang remaja yang tergolong “mantul” alias “mantap betul”. Hal itu terlihat dari banyaknya penghargaan yang berhasil disabetnya dalam berbagai kesempatan. Pada tahun 2013 ia menyabet juara I Festival Dalang Cilik jenjang SD di Yogyakarta. Tahun 2014 ia merebut juara kedua untuk festival yang sama di kota gudeg itu. Ia kembali meraih juara pertama tahun 2015. Prestasi mendalangnya kian mengilap ketika pada tahun 2016 ia dinobatkan sebagai pemenang pertama Dalang Cilik Tingkat Nasional. Tak hanya mendalang. Ia juga ikut lomba macapat dan merebut juara pertama tahun 2017. Lalu, tahun 2018 ia mengikuti lomba tembang dolanan anak di Pakualaman dan keluar sebagai juara.

Prestasi yang moncer itu tak turun dari langit. Semua itu didapat dari kerja keras dan perasan keringat. Branjang menuturkan, setiap hari ia harus menjalani latihan mendalang yang keras dan penuh disiplin. “Bapak tidak mau saya cengeng. Kalau saya menangis karena dimarahi saat belajar, bapak malah tambah keras dalam mendidik saya,” tuturnya. Akan tetapi Branjang tidak menyesal. Justru pendidikan yang keras dan penuh disiplin itu telah membentuknya jadi seorang dalang yang kini cukup piawai. Di rumahnya di bilangan Gedong Kuning, Bangun Tapa, Bantul, Yogyakarta, ia menangani peralatan wayang milik keluarga besarnya.

Meski sudah banyak menyabet penghargaan, remaja ini tak pernah berhenti belajar mendalang. Ia terus belajar mendalang di Sanggar Kusuma Indria. Kalau tidak di bawah asuhan sang ayah, ya, sang kakek yang sangat bangga cucunya bisa mengikuti jejaknya sebagai dalang.

Latihan yang rutin tersebut membentuk dirinya makin profesional dari hari ke hari. Tak heran ia sering diminta untuk tampil baik sebagai dalang maupun memainkan lakon-lakon
tertentu. Tahun 2017, misalnya, ia menjadi pemeran Resi Bala Rama dalam rangka pergelaran purnabakti bakti Budi Hastuti di ISI Yogyakarta. Lalu, di tahun yang sama ia mendalang dalam rangka kegiatan Hari Wayang Dunia III di ISI Surakarta. Ia juga jadi peserta Temu Dalang Bocah Nusantara 7. Pada tahun 2015 ia juga menjadi peserta Temu Dalang Bocah Nusantara 6. Prestasi yang membanggakannya adalah ikut pentas Wayang Orang Anak Kusuma Indria dalam The 7th ASEAN 2013 FETN Steering Committee Meeting dan pameran tari dalam Sanggar Wayang Bocah Kusuma Indria, Performing the 7th ASEAN+2 FETN Steering Committee Meeting.

Ada keunikan dari dalang remaja yang sudah mendalang sejak kelas III SD ini. Lazimnya, banyak dalang memiliki tokoh wayang idolanya adalah tokoh yang membawa misi kebaikan, kebenaran dan sebagainya, Branjang justru kebalikannya. Ia mengaku tak begitu menyukai toko protagonis seperti Werkudara, Brotoseno, Arjuna, atau Bima. Ia lebih suka dengan tokoh antagonis, seperti buto atau raksasa. “Enggak tau kenapa begitu. Pokoknya dari kecil suka tokoh raksasa. Dulu saya pernah diajak ayah pentas di Prambanan. Saya malah takut dengan tokoh raksasa karena terlihat sangat serem sehingga saya sampai menangis. Tetapi di wayang saya malah suka raksasa. Dulu pernah pentas di UNY
(Universitas Negeri Yogyakarta). Tokoh,Brotoseno dan Werkudara berperang lawan raksasa. Seharusnya yang menang Brotoseno. Enggak kalau saya. Saya memenangkan raksasa,” tuturnya.

Kenapa memenangkan raksasa yang menjadi simbol kejahatan? “Saya tidak tahu. Dari dulu suka Werkudara, Brotoseno, Arjuno dan lain-lain, tapi yang paling saya suka toko raksasa seperti Buto Cakil. Saya suka tokoh yang kasar-kasar seperti itu,” katanya. Branjang menjelaskan dalam hidup nyata banyak tokoh antagonis seperti raksasa itu. Ia mau menghadirkan tokoh antagonis tak berarti ia sepakat dengan mereka, tetapi mau menunjukkan dan juga mengingatkan bahwa dalam hidup kita sehari-hari tokoh antagonis senantiasa hadir dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Bahwa yang kemudian keluar sebagai pemenang tokoh protagonis, hal itu menunjukkan bahwa dalam kehidupan pada akhirnya kebenaran yang akan tegak, yang akan menang.

Soal dalang idola, ia mengatakan dalang yang paling disukainya adalah dalang Darma Gondo Darsono dan Sudirman dari Sragen, Ki Narto Sabdo dari Semarang, dan kakeknya sendiri, Cermo Sutedjo Gondo Sumitro dari Yogyakarta. “Cara memainkan wayang oleh kakek, saya suka,” katanya. Ia juga mengagumi dan belajar dari dalang-dalang lain.
Karier Branjang masih panjang. Sudah mantap hatinya untuk menjadi dalang. Namun, di luar itu ia juga punya impian jadi dosen seni. Sederhana alasannya, ia mau melestarikan seni tradisi seperti wayang lewat profesinya sebagai dosen. “Mendalang sambil menjadi dosen,” katanya.

Prestasinya yang bagus di dunia pedalangan mendorong pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberinya Anugerah Kebudayaan 2019 untuk kategori remaja. Ia merasa senang bisa mendapatkan anugerah tersebut dan penghargaan ini sekaligus memacunya untuk terus mengembangkan diri menjadi seorang dalang profesional. Ia berharap dunia wayang bisa terus bertahan, apalagi UNESCO telah mengakui wayang sebagai milik Indonesia. Yang membuatnya makin optimistis adalah makin banyak anak sebayanya yang jadi dalang, belajar tari dan main gamelan.

Sumber: Buku Profil Penerima Anugerah Kebudayaan 2019

TINGGALKAN KOMENTAR