PENERIMA ANUGERAH KEBUDAYAAN KATEGORI MAESTRO SENI DAN TRADISI 2018: DAHRUL HAMIM (2)

0
235
Sang Maestro bersama Gitarnya

Nasib Seni Tradisi Ndullah

Nasib seni tradisi ndullah bagai mengikuti perjalanan sang penuturnya, Pak Jahrul yang kian tua dan renta. Di usia yang ke-70, pandangan mata Pak Jauhrul mulai “rabun ayam”. Pendengarannya juga sudah jauh berkurang. Bahkan untuk berjalan pun kini sudah tertatih-tatih.

Apalagi soal ingatan, banyak peristiwa bersejarah dalam hidup pribadinya bagai kepingan-kepingan yang tercecer di sana-sini. Tanggal dan bulan kelahiran dirinya pun ia tak ingat persis. Tak ada catatan, apalagi dalam bentuk akta kelahiran. “Kalau tak salah tahun 1948. Ya, sekitar itulah”, kata Pak Jahrul mengaku terus terang, sebagaimana juga tercantum di KTP-nya.

Sang Maestro bersama Gitarnya

Akan tetapi sedikit penggalan masa ‘kejayaan’ dirinya sebagai penutur seni ndullah sebagian masih ada dalam ingatan Pak Jahrul. Itulah saat ia sebagai seniman tradisi diundang keluar dari desanya, tampil di sebuah kota -boleh jadi di Palembang,ed- untuk sebuah rekaman kaset. Peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 1970-an. Pada tahun-tahun itu, di Palembang memang berdiri studio rekaman bernama Palapa Record, yang pada 1970-an banyak menelurkan kaset-kaset berisi lagu-lagu daerah macam seri “Batang hari Sembilan”-nya Sahilin dari Benawe, Sumatera Selatan.

Itulah peristiwa “bersejarah” dalam perjalanan hidup Pak Jahrul sebagai seniman tradisi. Kaset rekaman yang memuat lantunan pantun dan syair, diiringi petikan gitar tunggal yang ia mainkan, pun beredar hingga ke kota Bengkulu. Sejak itu, panggilan untuk mengisi acara-acara selamatan seperti perkawinan, sunatan, dan seni ndullah. Tak jarang ia diundang khusus untuk mengisi acara di radio amatir di kota terdekat, seperti di Kepahyang dan Curup, bahkan RRI Bengkulu.

Akan tetapi masa kejayaan itu kini sudah tinggal kenangan. Bahkan tak banyak lagi yang tahu bahwa dulu di Bengkulu pernah ada sosok maestro seni tradisi yang pernah membawa nama daerah hingga keluar daerah. Hanya gitar “butut” yang tak lagi lengkap tali senarnya, itu pun dengan suaranya yang sumbang lantaran jarang di-stem, menjadi saksi bisu perjalanan hidup Pak Jahrul dengan seni ndullah-nya.

Pantun dan syair yang didendangkan, diiringi petikan gitar tunggal, memang bukan khas seni tradisi dari Desa Talang Ulu di Kecamatan Lebong Muara Aman, Kabupaten Lebong, Bengkulu. Tradisi mendendangkan petuah-petuah tentang hidup dan kehidupan, umumnya dalam bentuk pantun dan syair, ada di banyak tempat di Tanah Air. Di wilayah geobudaya yang segaris dengan seni ndullah, yang secara geografis berada di lingkup daerah Rejang dan Basemah, ada yang disebut tadut atau betadut, rejung atau berejung, rimbayan, guritan atau geguritan, batembang, meringgit, dan andai-andai. Bentuknya mirip, kecuali medium bahasa yang digunakan disesuaikan dengan dialek atau bahkan idiolek masing-masing asal seniman tradisi bersangkutan.

Khusus di wilayah Rejang, sejauh ini terpantau tinggal Pak Jahrul yang memiliki kemampuan bertradisi lisan macam ndullah. Memori mengenai Rejang dalam bentuk pantun dan syair tersimpan dalam ingatannya, yang setiap saat siap ia dendangkan dengan iringan gitar “butut”-nya. Spontanitas yang menjadi salah satu ciri khas tradisi tutur jenis ini masih terjaga. Rangkaian kata dan ungkapan tentang kehidupan mengalir begitu saja ketika gitar sudah dipangku, serta jemari tangannya memetik dawai dalam irama khas Rejang. Tapi kini tak ada lagi yang berminat menyimak petuah-petuah itu, apalagi dipertontonkan di atas panggung dalam hajatan di kampung halamannya sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR