Potret Usaha Tenun Tradisional Pedan

0
1009

Potret Usaha Tenun Tradisional Pedan

Oleh: Isni Herawati

 

Dalam hidupnya manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan pokok, yakni kebutuhan akan sandang, pangan dan papan. Kain tenun buatan Pedan ini merupakan bagian dari kebutuhan akan sandang.

Dengan menyebut nama Pedan selalu identik dengan tenun lurik atau tenun gendong. Tenun tersebut bahan bakunya dari benang yang diproses atau ditenun dengan menggunakan alat yang masih tradisional, yakni alat tenun gendong, yang merupakan cikal bakal. Setelah itu muncul ATBM dan ikut mewarnai kehidupan masyarakat Pedan yang hampir semua warganya mengusahakan tenun.

Suatu usaha tentu mengalami pasang surut keberhasilan. Demikian pula yang dialami oleh pengusaha tenun, yang waktu itu pernah mengalami kejayaan pada sekitar tahun 60-an. Untuk itu yang dulunya hanya bertani atau mengandalkan pekerjaan di sawah lalu berlomba-lomba memproduksi tenun dengan menggunakan peralatan ATBM. Setelah itu kehidupan industri tenun berkali-kali jatuh bangun sehingga banyak yang gulung tikar. Apalagi dengan adanya krisis keuangan seperti sekarang ini dapat dikatakan para pengusaha semakin jatuh karena harga bahan baku maupun bahan pewarna sangat mencekik.

Dewasa ini di antara pengusaha Tenun Pedan yang masih bisa bertahan hidup tinggal satu orang saja. Hal ini dikarenakan pengusaha tersebut tidak hanya menggantungkan bahan baku benang yang harganya sangat mahal, namun berkat kreatifitas dan inovatifnya lalu menciptakan tenun baru yakni perpaduan antara benang dengan serat-serat alami yang di daerahnya dapat dijumpai dengan mudah dan harganya bisa terjangkau.

Selengkapnya: Patra-Widya, Vol. 3 No. 1, Maret 2002.