Jurnal Jantra Volume 14, Nomor 1, Juni 2019

0
491
jurnal jantra

 

 

BPNB DIY, Oktober 2019 – Edisi Jantra kali ini memuat 12 (dua belas) artikel di bawah tema “Budaya Agraris”. Tema ini dipandang penting karena Indonesia dengan wilayah yang luas, memiliki budaya agraris di berbagai pelosok daerahnya.

Adapun ke duabelas artikel ini adalah:

1). “Misi Penyelamatan Budaya: Reforma Agraria sebagai Revitalisasi Bahasa,” tulisan FerdiArifin menguraikan bahwa reforma agraria sangat lekat dengan revitalisasi bahasa karena kebudayaan merupakan suatu sistem yang melekat dalam proses kehidupan masyarakat sehingga reforma agraria menjadi misi penyelamatan untuk sumber daya agraria, budaya, dan bahasa;

2) “Merti Desa: Eksistensi Tradisi Masyarakat Agraris di Kabupaten Semarang,” tulisan Ken Widyatwati dan Mahfudz menguraikan tentang pelaksanaan  Merti Desa yang merupakan wujud eksistensi tradisi  pada masyarakat agraris yang berfungsi untuk menumbuhkan sikap  gotong royong dan kepedulian masyarakat, wujud kepedulian masyarakat  Desa Kemetul dalam  melestarikan budaya tradisional;

3) “Ancak-ancak Alis: Ekspresi Budaya Agraris dalam Permainan Anak,” tulisan Suyami menguraikan bahwa ekspresi budaya agraris termuat pada keseluruhan aktivitas permainan tersebut, yakni dalam syair lagu pengiringnya serta dalam dialog pembabakan selama proses permainan;

4) “Tinjauan Filosofis Budaya Agraris Reresik Lak: Konservasi Air dalam Praktik Pertanian Dusun Ngiring,” tulisan Reni Dikawati menguraikan bahwa nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam reresik lak akan membangun kesadaran pentingnya menjaga nilai-nilai luhur sebagai sebuah kebijaksanaan hidup;

5) “Etika Samin: Kebijaksanaan   Masyarakat Agraris,” tulisan Mikka Wildha Nurrochsyam menjelaskan bahwa terdapat tiga prinsip etika Samin, yaitu kejujuran, kerukunan dan persaudaraan;

6) “Mooi Indie: Menyampaikan Budaya Agraris Nusantara melalui Lukisan,” tulisan Rini Riris Setyowati menyampaikan bahwa lukisan gaya Mooi Indie tidak hanya mampu membingkai dan menyampaikan keindahan melalui gunung, sawah, tumbuhan, dan masyarakat. Pesan tersirat lainnya adalah meletakkan kebudayaan agraris penduduk pada komposisi yang sangat tepat;

7) “Kebudayaan (Tani) Jawa sebagai Sumber Nilai Ekologi,” tulisan Dhanu Priyo Prabowo bahwa kebudayaan tani Jawa merupakan suatu bentuk representasi tentang alam (nature) yang mempunyai pengaruh di dalam kehidupan para petani.

8) “Fungsi Mite Asal Mula Padi dalam Tradisi Agraris Masyarakat Dayak Bidayuh di Kalimantan Barat,” tulisan Bambang H. Suta Purwana menjelaskan bahwa mite asal mula padi berfungsi sebagai legitimasi yang memberitahukan kepada orang Dayak Bidayuh mengenai apa yang seharusnya ada atau terjadi dalam tata kehidupan mereka;

9) “Subak, Filososfi Keserasian dalam Masyarakat Agraris di Pulau Bali,”  tulisan Mulyati menguraikan bahwa subak dianggap sebagai penjaga budaya Bali, sehingga UNESCO mengakui subak sebagai warisan budaya dunia. Subak diikat oleh kepentingan fisik dan spiritual;

10) “Studi Psikologi Sastra Tokoh Bima: Indoktrinasi Budaya Agraria Kontemporer,” tulisan Harpen Dwi Jaksana dkk., menjelaskan substansi keterkaitan sosok Bima dalam budaya agraris;

11) “Jodhangan: Tradisi Agraris di Desa Selopamioro Imogiri,” tulisan Siti Munawaroh menguraikan bahwa dengan lestarinya tradisi jodhangan diharapkan dapat digunakan untuk menggalang solidaritas atau toleransi sesama warga masyarakat, sehingga mudah digerakkan untuk kepentingan-kepentingan yang lebih positif;

12) “Budaya Agraria Indonesia: Orientasi Zonder ‘Exploitation de l ‘homme Par l’Homme dan Exploitation de Nation Par Nation,” tulisan Robit Nurul Jamil menguraikan bahwa segala bentuk konfrontasi agraria haruslah mengedepankan orientasi Zonder ‘Exploitation De L‘Homme Par L‘Homme’ dan ‘Exploitation De NationPar Nation’ agar tercipta masyarakat yang adil dan makmur.

**Unduh Jurnal Jantra Vol. 14, No. 1, Juni 2019

Dewan Redaksi.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR