Jurnal Jantra Volume 14, Nomor 2, Desember 2019

0
1058
jurnal jantra

 

 

BPNB DIY, Desember 2019 – Edisi Jantra kali ini memuat 9 (sembilan) artikel di bawah tema “Seni Pertunjukan”. Tema ini dipandang penting karena Indonesia dengan wilayahnya yang luas memiliki beragam seni pertunjukan di berbagai pelosok daerah.

Adapun ke sembilan artikel ini adalah:

1). “Seniman dan Seni Pertunjukan di Kampung Kemlayan Surakarta 1930-1970,” tulisan Heri Priyatmoko menguraikan bahwa kelompok seniman istana Kasunanan Surakarta itu memaknai kampung bukan sekadar tempat tinggal, namun tempat berlatih sebelum memamerkan kebolehan di hadapan raja dan tampil di ruang publik;

2) “Refleksi Ketauhidan dalam Wayang Sadat Lakon Ki Ageng Pengging,” tulisan Hasan Ashari, Hermanu Joebagio, Musa Pelu menjelaskan bahwa lakon Ki Ageng Pengging memuat ajaran tauhid yang tersirat dalam janturan, dialog, syair gerongan, dan cakepan sulukan;

3) “Gamelan Soepra sebagai Rekontekstualisasi Gamelan Jawa,” tulisan Nugrahanstya Cahya  Widyanta  menguraikan  bahwa  gamelan  Jawa  sarat  akan  makna  filosofis yang  mengandung nilai luhur, namun makna tersebut kurang dihayati dalam gamelan Soepra;

4) “Tayuban dalam Tradisi Saparan di Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga,” tulisan Fandy Aprianto Rohman menguraikan bahwa unsur kesenian dalam pertunjukan tayuban meliputi ledhek (penari wanita), pengrawit (penabuh gamelan), penjanggrung (laki-laki yang menari bersama dengan ledhek), dan sesajen;

5) “Strategi Grup Gagak Rimang dalam Melestarikan Seni Kuda Lumping di Temanggung,” tulisan Hamidulloh Ibda dan Intan Nasution menguraikan bahwa upaya Gagak Rimang melestarikan seni kuda lumping dilakukan dengan enam cara. Hambatan Gagak Rimang melestarikan kuda lumping adalah masalah dana, latihan, personil, kurangnya penari rampak putri, dan lainnya;

6). “Tari Tumbu Tanah sebagai Jati Diri Masyarakat Suku Arfak di Manokwari, Papua Barat,” tulisan Iwan Dwi Aprianto menguraikan bahwa nilai utama atau nilai sosial dalam Tari Tumbu Tanah dapat dilihat ketika tarian ini harus dilakukan oleh banyak orang, yaitu setidaknya dilakukan oleh 10 orang, artinya bahwa masyarakat Arfak tidak dapat hidup seorang diri;

7) “Kiprah Sakdiah dalam Kancah Musik Pop Daerah Gayo,” tulisan Raudhatul Jannah, G.R. Lono Lastoro Simatupang, dan Wiwik Sushartami menguraikan bahwa Sakdiah adalah salah satu penyanyi perempuan yang paling populer. Ia memilih tampil menjadi penyanyi solo dengan segala konsekuensinya daripada menjadi penyanyi perempuan di bawah bayang-bayang patriarki;

8) “Pek Bung Kesenian Tradisional di Pandak Bantul,” tulisan Noor Sulistya Budi menguraikan bahwa kesenian musik Pek Bung memiliki beberapa fungsi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya antara lain, fungsi keagamaan, hiburan, estetika, komunikasi, edukasi, pelestarian, lambang atau simbol;

9) “Representasi Identitas Orang Jawa dalam Cerita Panji Versi Wayang Gedhog,” tulisan Rudy Wiratama menguraikan bahwa wayang gedhog sebagai sebuah bentuk kesenian bukan hanya berfungsi sebagai hiburan dan sajian estetis saja, namun di dalamnya terekam pula pergulatan orang Jawa di keraton-keraton untuk terus menerus meredefinisi konsep identitas dirinya.

** Unduh Jurnal Jantra Volume 14, No. 2, Desember 2019

Dewan Redaksi.

TINGGALKAN KOMENTAR