Gambang Semarang: Akulturasi Budaya Dalam Seni Tradisi

0
12279
Gambang Semarang (Foto: www.ein-institute.org)

Gambang Semarang telah ada sejak tahun 1930 dengan bentuk paguyuban yang anggotanya terdiri dari warga masyarakat Semarang dan peranakan Tionghoa dengan mengambil tempat pertunjukan di gedung Pertemuan Bian Hian Tiong di Gang Pinggir. Jenis alat musik yang dipakai adalah kendang, bonang, kempul, gong, suling, kecrek, gambang serta alat musik gesek (konghayan/tohyan/biola). Disamping musik, kesenian Gambang Semarang juga menampilkan penari dan penyanyi/vokalis.

Salah satu lagu yang mungkin masih diingat hingga saat ini adalah Empat Penari ciptaan Oei Yok Siang, yang lebih dikenal dengan Gambang Semarang. Kesenian tradisional Gambang Semarang terbentuk dari gabungan antara seni musik, vokal, tari, dan lawak. Jika dilihat dari asal-usulnya, kesenian itu bukanlah asli dari penduduk Semarang, tetapi berasal dari Gambang Kromong Jakarta, yang merupakan perpaduan dari unsur kesenian Tionghoa dan Nusantara. Dalam perkembangannya lagu-lagu Gambang Semarang terasa gembira dan menyatu dengan gerak tari yang cenderung gemulai. Cirikhas dari kesenian ini terletak pada gerak telapak kaki yang berjungkat-jungkit sesuai irama lagu yang lincah dan dinamis.

Kesenian ini memadukan tari dengan iringan alat musik yang terbuat dari bilah-bilah kayu dan gamelan Jawa yang biasa disebut “Gambang”. Kesenian ini muncul pada even-even tertentu seperti Festival Dugderan dan Festival Jajan Pasar. Gambang Semarang sebagai kesenian dengan akar sejarah dan estetika yang kuat perlu dilestarikan dan dikembangkan, bahkan dapat dijadikan sebagai salah satu identitas Kota Semarang.

Penataan kesenian Gambang Semarang sebagai identitas budaya Semarang meliputi penataan musik, vokal, tari, dan lawak. Penataan musik dan lagu dilakukan dengan cara membuat aransemen, menambahkan beberapa instrumen karawitan Jawa dan Sunda, mengembangkan teknik permainan instrumen, serta menampilkan lagu-lagu yang bertema dan bernuansa Semarang, yaitu: Semarang Kota Atlas, Simpang Lima, Semarang Tempo Doeloe, Tanjung Emas, dan Kuliner Khas Semarang.

Dalam penataan tari, telah diciptakan dua buah komposisi yang berjudul Tari Gambang Semarang dan Tari Goyang Semarang. Musik iringan tari ditata dengan pembuatan aransemen lagu Gambang Semarang dan Gado-gado Semarang serta menciptakan lagu Tari Goyang Semarang, yang dapat mendukung perwujudan gerak tarinya.

Penataan lawak dilakukan dengan mengacu pada bentuk-bentuk lawakan Gambang Semarang, yaitu: lawakan verbal, nonverbal, dan musikal. Penggarapan lawak dilakukan dengan menggubah cerita lawak Dhadhung Kepuntir dalam tradisi Gambang Semarang dan diberi judul Dhadhung Ruwet. Media komunikasi yang digunakan dalam penataan lawak ini adalah bahasa masyarakat Semarang yang bersifat multilingual.

Kontributor: Subiyantoro