Tradisi Buaya Putih Dari Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang

0
683

Tradisi Buaya Putih
Dari Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang

oleh:
Yanti Nisfiyanti
(BPNB Jabar)

Kesenian Buaya Putih adalah satu tradisi di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten yang dahulu digunakan untuk mengarak pengantin. Intinya sebagai pengiring rombongan pengantin pria yang biasanya membawa barang-barang hantaran untuk pengantin wanita. Barang-barang hantaran itu disimpan dalam badan dan mulut Buaya Putih.


Anyaman daun kelapa muda atau yang lebih dikenal janur
yang diikatkan ke badan Buaya Putih

Buaya Putih memiliki simbol, doa, dan harapan bagi pengantin dalam kehidupan masyarakat. Wujudnya berupa replika seekor buaya dengan kepala diwarnai putih dan mulut terbuka lebar. Adapun rangka badannya terbuat dari beberapa ruas bambu yang disusun sedemikian rupa kemudian dianyam hingga menjadi sebuah tabung. Bambu melambangkan banyak manfaat yang perlu diteladani sehingga bermanfaat pula bagi orang lain. Badan Buaya Putih dihiasi dengan anyaman daun kelapa muda atau yang lebih dikenal janur. Janur-janur tersebut diikatkan ke badan Buaya Putih. Bagian ekor Buaya Putih terbuat dari tangkai janur berikut daunnya yang masih segar berumbai. Janur melambangkan harapan masa depan yang lebih baik.

Atraksi Seni Buaya Putih
Sumber Foto: Sanggar Seni Buaya Putih

Atraksi Buaya Putih menjadi pembuka acara penyambutan pengantin dan lebih merupakan sebuah tontonan yang menggetarkan sekaligus meriah karena diiringi musik rebana yang menghentak-hentak. Replika Buaya Putih yang panjangnya bisa sampai 30 meter itu diusung oleh empat orang laki-laki kekar yang menggerak-gerakkan Buaya Putih dari kepala hingga badan seiring hentakan irama musik. Gerakan atraktif dimainkan ke atas – ke bawah, maju-mundur serta berputar-putar seolah Buaya Putih itu “hidup”. Sekali waktu keempat pemain tersebut meletakkan Buaya Putih lalu serempak memainkan gerakan silat.

Seni Buaya Putih
Sumber Foto: Dokumentasi BPNB Jabar 2017

Para pemain musik pengiring atraksi Buaya Putih bisa mencapai 12 orang. Masing-masing memainkan alat yang dinamakan: terbang indung, kemprung, kempul, pompak 3 buah, telu, dan sela. Penyajiannya meriah diselingi vokal pemain yang bersemangat menimpali pukulan gembrung musik rebana. Selain penabuh dan pengusung Buaya Putih, ada seorang lengser yang memimpin rombongan. Lengser digambarkan sebagai orang tua yang bijak namun dapat mencairkan suasana dengan perkataan dan penampilannya. Itulah kegunaan Buaya Putih pada mulanya. Kini tradisi tersebut dihidupkan kembali untuk meramaikan dunia pariwisata.