Kajali Berwayang Garing

0
560

Kajali Berwayang Garing

Oleh:
Lina Herlinawati
(BPNB Jabar)

Kesenian Wayang Garing merupakan bentuk ekspresi dan apresiasi seni masyarakat kecil yang terantuk dalam masalah ketidakmampuan finansial. Sehingga benar-benar mengeksploitasi keterbatasan dengan memaksimalkan apa yang dimilikinya. Wayang Garing adalah wayang kulit, dinamakan garing (bahasa Sunda, yang berarti kering) karena tidak ada gamelan tidak ada pesinden, karena itu dimainkan seorang diri. Latar musik hanya dimainkan melalui ucapan lisan dalang. Kesenian Wayang Garing adalah kesenian khas dari Kabupaten Serang – Banten.

Kajali

Di Desa Mandaya, Kecamatan Carenang Kabupaten Serang, seorang Kajali atau biasa dipanggil Ki Jali, dengan usianya yang sudah tidak muda lagi, dari awal telah memilih untuk tetap konsisten dengan pilihan hidupnya, hidup dengan berkesenian dan bertahan dengan Wayang Garing. Kesetiaannya pada profesi ini dibuktikan dengan hampir lebih dari 50 tahun ia bertatih-tatih, ngamen dari desa ke desa dengan Wayang Garing-nya, tanpa memperdulikan seni tradisionalnya harus bersaing dengan seni modern dan dapat hidup mandiri di dalam masyarakat modern. Ia berjalan apa adanya, dan mencoba menghibur masyarakat bawah yang masih perduli dengan Wayang Garing-nya, tanpa pernah berpikir tetang nasib Wayang Garing. Yang ia tahu, ketika sepeda tua miliknya singgah di sebuah tempat hajat, maka ia harus menyiapkan sebuah cerita dan melakukan monolog semampu-mampunya. Ia juga tidak perduli, apakah penonton memperhatikan atau menikmati suguhan lakonnya. Tanpa target apa-apa, kecuali cukup mendapatkan uang untuk kehidupan sehari-hari keluarganya.

Baginya, mendalang memang untuk mencari uang. Wayang Garing adalah potret masyarakat kelas bawah di tanah Banten. Oleh karena itu, siapa saja yang berperan serta dan atau berpartisipasi (saweran pada saat pertunjukan atau mengundang Ki Dalang pentas) berarti secara tidak langsung menghidupi kesenian Wayang Garing.

Ki Dalang pun mengakui, pekerjaannya sebagai Dalang Wayang Garing tidak menjamin kehidupan keluarganya. Oleh karena itu, ia mencoba bertahan hidup dengan mencari pekerjaan tambahan sebagai buruh tani. Walau upah tak seberapa, ia tetap menekuni pekerjaan sampingan ini untuk sekadar memenuhi nafkah keluarga.

Dalam perjalanan waktu, kondisi kehidupannya sedikit demi sedikit ada perubahan, terlihat dari rumah tempat tinggalnya yang telah direhab atas bantuan Pemda setempat– walau belum tuntas hingga kini. Gubuk bambu reyot dulu, yang begitu kontras dengan rumah-rumah bertembok di sekitarnya kini tinggal kenangan. Gubuk dulu yang setia mendampingi kehidupan Ki Dalang dalam mengekspresikan seni mendalangnya dan memelihara perlengkapan wayang kulitnya – yang bentuk dan rupanya sudah kusam termakan usia.

Minat warga masyarakat untuk menyaksikan kesenian ini menunjukkan, bahwa sesederhananya kehidupan mereka ternyata dapat mengapresiasi seni yang hidup dan ada di lingkungannya sendiri. Begitu mencintai dan menghargai kesenian ini, konon apabila ada permintaan warga untuk pentas pergelaran Wayang Garing, namun ia tidak mampu menanggung biayanya sendiri, maka mereka mengupayakan dengan cara patungan dari setiap warga yang ingin menyaksikan atraksi Ki Dalang. Tak hanya itu, jika terdengar kabar ada pergelaran Wayang Garing di suatu tempat, masyarakat tak keberatan untuk bersama-sama mendirikan panggung.

Kajali saat pentas Wayang Garing

Ada beberapa faktor yang membuat Wayang Garing tetap disukai penggemarnya. Pertama, tidak merepotkan tuan rumah yang menanggap kesenian ini karena tidak banyak peralatan yang dibutuhkan. Tuan rumah hanya menyediakan gedebok, layar, beserta lampu jika pergelarannya pada malam hari. Kenyataan praktis itu juga dialami dalang sendiri, yang dapat membawa wayang dengan naik ojeg, bis atau angkutan umum lainnya. Kajali sendiri, jika jarak ke tempat warga yang menanggap dekat, ia cukup mengangkut wayang dengan sepeda ontelnya.

Faktor kedua, tuan rumah sendiri tidak banyak mengeluarkan biaya untuk menjamu maupun mengupah para seniman kesenian. Hal itu karena hanya seorang dalang yang ditanggung akomodasi dan upahnya. Masalah tarif pun bergantung pada jarak tempat pertunjukan. Tarif tersebut untuk ukuran masa kini terhitung dapat terjangkau oleh masyarakat bawah yang ingin nanggap ’menggelar’ kesenian tradisional.

Terakhir, faktor yang ketiga pertunjukannya disampaikan secara rileks, dan juga bersifat interaktif, sehingga para penonton, tua dan muda, bahkan anak-anak benar-benar terhibur dan terlibat dalam bagian-bagian interaktifnya Ki Dalang. Dalam melakukan pertunjukan wayangnya, Ki Jali sering memasukkan pesan moral kehidupan yang disampaikan kepada para penonton. Sesekali ia juga menyelipkan lawakan untuk mencairkan suasana. Adapun bahasanya tergantung para penonton, bisa bahasa Jawa Serang, Indonesia, atau Sunda.

Namun demikian, Kesenian Wayang Garing ini diprediksi terancam punah, akibat macetnya regenerasi dan minimnya upaya pelestarian dari pemerintah daerah. Meski telah berkembang sejak tahun 1964, hingga kini tercatat hanya satu dalang yang menekuni kesenian ini, yaitu Kajali atau Ki Jali. Kakek yang kini telah memiliki sepuluh cucu ini mengaku belum memiliki murid untuk mewariskan bakat pewayangannya itu. Hanya satu dari lima anaknya, Pendi yang rutin mengikuti pertunjukan wayangnya, itu pun hanya mempersiapkan alat-alat peraganya saja. Ki Jali menyadari, ia tak selamanya bisa hidup, harus ada yang meneruskan Kesenian Wayang Garingnya.

Ki Dalang Kajali tetap Kajali. Dengan kepapaan dan kesederhanaan hidup, ia tidak berhenti mengarungi hidup tanpa berpikir tentang nasib Wayang Garing. Akan tetapi Ki Dalang terus berjuang dengan sekarung wayang kulit untuk memperlihatkan sebuah kesenian tradisional yang berada di ambang kepunahan.

Upaya penyelamatan dengan melestarikan Wayang Garing segera dilakukan – khususnya oleh pihak yang terkait dengan masalah ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Revitalisasi budaya adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikannya, dengan tetap memberi kesempatan pada kesenian ini untuk banyak tampil serta dikenal masyarakat yang lebih luas. Pertunjukan wayang garing mulai diadakan tidak hanya dalam acara-acara hajatan atau pernikahan, tetapi juga dalam berbagai acara yang diadakan oleh pemerintah.

Dengan kesungguhannya menekuni Wayang Garing hingga kini, Ki Jali pun sering diundang di berbagai acara daerah hingga nasional untuk menampilkan pertunjukan wayangnya. Ia sering diundang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten di berbagai acara untuk mengisi pameran kesenian. Bahkan ia pernah main wayang di Jakarta dan Jawa Barat. Berbagai sertifikat dan piagam penghargaan bidang kesenian pun ia dapatkan, seperti piagam penghargaan dari Gubernur Banten tahun 2008 dan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.