Nominasi Karya Budaya untuk ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2015 wilayah kerja BPNB Bandung

Nominasi Karya Budaya untuk ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2015 wilayah kerja BPNB Bandung

  • Post author:
  • Post category:WBTB

 

BPNB Bandung sebagai salah satu instansi yang bernaung di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan berkewajiban untuk mendata dan mengkaji seluruh karya budaya yang berada di wilayah kerjanya (Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung). Seluruh karya budaya yang telah terdata kemudian dikirimkan ke Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya (INDB) untuk diperiksa kelengkapan formulir dan data pendukungnya. Adapun data pendukung yang wajib disertakan meliputi foto, video, dan referensi ilmiah. Utamanya untuk referensi ilmiah adalah wajib berupa hasil kajian ataupun tulisan ilmiah yang diterbitkan. Sementara untuk data dukung berupa video, tayangan yang diperbolehkan adalah berupa dokumenter lengkap dari lembaga, instansi, ataupun rumah produksi lengkap dengan keterangan (narasi) ataupun teks yang menjelaskan isi dari video tersebut.

Untuk penetapan WBTB Indonesia periode tahun 2015 ini, seleksi dari tim ahli menghasilkan 20 nominasi karya budaya di wilayah kerja BPNB Bandung, yaitu:

Provinsi Jawa Barat

  1. Leuit adalah bangunan yang dipergunakan untuk menyimpan padi. Leuit dipergunakan oleh para petani untuk menyimpan padi kering hasil dari sawah mereka. Keberadaan leuit banyak ditemukan di kampung-kampung adat Provinsi jawa Barat dan Banten. Mereka menjaga menghormati, dan mensakralkan leuit.
  2. Mamaos Cianjuran merupakan sebuah seni tradisi yang menggambungkan permainan kecapi dengan pembacaan kisah-kisah adiluhung. Awal mula seni ini sebetulnya sudah ada sejak 1761 seiring masa kepemimpinan R.A.A Wiratanudatar. Adapun seni ini sebetulnya baru berkembang di Cianjur sejak 1834. Seni tradisi itu diwariskan oleh Dalem Pancaniti atau RAA Kusumaningrat, Bupati Cianjur saat itu. Kusumaningrat merupakan seorang yang sangat peduli terhadap mamaos cianjuran. Dengan bantuan saudara-saudaranya, ia mengantar mamaos cianjuran mencapai kejayaannya. Ketika itu, yang menjadi juru pantunnya adalah Aen. Tahun 1862 Dalem Pancaniti wafat dan digantikan oleh anaknya yang bernama Aom Alibasah yang sering disebut juga Dalem Marhum. Ketika itu mamaos cianjuran diolah oleh tiga orang, yaitu: R. Djajawiredja, Aong Djalalahiman, dan R. Etje Maadjid (Galba, 2007).
  3. Seni topeng Jawa Barat. Ada banyak varian seni topeng di Jawa Barat yang menjadi aset budaya dan patut dilestarikan. Sebut saja seperti topeng cirebon, topeng banjet, dan sebagainya.
  4. Sintren, yaitu kesenian tradisional daerah pantai utara terutama wilayah Cirebon dan Indramayu. Perpaduan antara unsur ritual dan dan seni (tari) menjadi bagian yang menarik dari pertunjukan sitren ini. Proses untuk pelaksanaan pertunjukan kesenian sitren ini tidak gampang karena ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Pelestarian menjadi hal penting karena kesenian sitren ini sangat khas dan mampu menyedot perhatian para penonton untuk mengikuti dari awal hingga akhir pertunjukan.
  5. Upacara Ngarot. Menurut sejarah, upacara Ngarot dari Indramayu (Jawa Barat) adalah berasal dari seorang tokoh bernama Kapol, seorang saudagar kaya raya dan senang menyelenggarakan pesta untuk muda-mudi. Karena tidak memiliki keturunan, sawah yang sangat luas diserahkan pada pemerintah dengan syarat pesta muda-mudi tetap dilakukan. Seusai pesta, para muda-mudi ini juga menggarap lahannya dan ternyata hasilnya berlimpah. Istilah ngarot dari bahasa Sunda leles yang berarti minum, atau makan minum (pesta). Dalam perkembangannya, upacara ngarot diikuti para remaja putri yang berdandan cantik agar menarik perhatian jejaka. Pada akhirnya menjadi ajang untuk mencari jodoh.

Provinsi DKI Jakarta

  1. Buka Palang Pintu. Sebuah kesenian yang menjadi bagian dari upacara (utamanya pernikahan) yang sangat menarik untuk disaksikan. Perpaduan antara seni bela diri dan pantun betawi terkadang menimbulkan kelucuan dalam pertunjukannya. Ada nilai budaya luhur dalam pantun-pantun yang dilantunkan oleh pelaku buka palang pintu Inti dari pantun tersebut adalah menjaga keharmonisan rumah tangga antara suami isteri.
  2. Gambang kromong. Seni yang merupakan hasil perpaduan antara berbagai etnis yang menimbulkan varian baru yang dinamakan gambang kromong ini telah menjadi bagian dari kesenian tradisional Betawi.
  3. Silat Beksi. Beksi berasal dari bahasa Cina, Bie Sie. Bie artinya pertahanan dan Sie artinya empat. Maknanya, pertahanan empat penjuru. Dalam lidah Betawi, akhirnya menjadi Beksi. Hasbullah sebagai pendiri aliran silat ini memberi makna baru dalam bentuk akronim menjadi Berbaktilah Engkau Kepada Sesama Insan. Sejarah pembentukan aliran silat beksi berawal dari sosok guru besar keturunan Tionghoa bernama Lie Ceng Oek. Ia tinggal di Kampung Dadap, Tangerang. Lie memiliki seorang pegawai bernama Ki Marhali. Dalam kesehariannya tinggal di rumah tuan Lie, Marhali kerap melihat tuannya berlatih kungfu. Lambat laun ia mencoba gerakan-gerakan hasil pengamatan saat sang tuan. Lie berlatih. Ternyata dalam praktek gerakan tersebut secara tidak sadar diperhatikan oleh Tuan Lie. Ia kemudian mengajarkan ilmu beladirinya kepada Marhali.
  4. Sohibul Hikayat. Kata Sahibul Hikayat berasal dari bahasa Arab, Sahib berarti pemilik dan Hikayat berarti cerita. Istilah Sahibul Hikayat menjadi sebuah bentuk kesenian karena dalam membawakan cerita, Juru Hikayat atau pencerita sering mengucapkan kata-kata, “Menurut sahibul hikayat…”. Cerita disampaikan dalam bentuk prosa dengan beberapa bait pantun. Penyampai Sahibul Hikayat disebut Juru Hikayat.
  5. Kesenian tradisional Betawi yang juga mendapat pengaruh dari bangsa lain (eropa) ini menggunakan peralatan di antaranya klarinet, piston, trombone serta terompet. Kata “tanjidor” berasal dari kata dalam bahasa Portugis tangedor, yang berarti “alat-alat musik berdawai (stringed instruments)”.

Provinsi Banten

  1. Angklung Buhun. Kesenian tradisional pada masyarakat Baduy Kabupaten Lebak Banten ini tidal bisa dipertunjukan sembarang waktu karena sudah menjadi bagian dari upacara sakral yang dilakukan pada tanggal yang telah ditentukan. Menggunakan alat seni yang didominasi angklung untuk dimainkan oleh beberapa orang sudah menjadi bagain dari tradisi masyarakat Baduy yang diperkirakan telah ada sejak Abad ke-18.
  2. Rampak Bedug. Seni tradisi yang berada di wilayah Provinsi Banten ini biasanya dipergelarkan untuk menyemarakan bulan suci ramadhan ataupun idul fitri. Rampak bedug diartikan memukul bedug secara serempak (beberapa buah bedug) dengan irama tertentu membentuk nada yang harmonis. Pemain dalam seni rampak bedug berbeda antara dulu dan kini. Pada masa dahulu para pemainnya adalah laki-laki, namun saat ini perempuan juga diperbolehkan sebagai pemain rampak bedug. Nilai yang terkandung dalam kesenian ini meliputi nilai religi, nilai rekreasi, dan nilai ekonomi.
  3. Sate Bandeng. Kuliner khas Banten ini telah ada sejak zaman kerajaan. Konon sate bandeng ini dahulunya merupakan makanan favorit para sultan Banten. Kelezatan sate bandeng diperoleh setelah melalui proses penyortiran ikan (bandeng), bumbu pilihan dan proses pemasakan. Saat ini sate bandeng sudah menjadi oleh-oleh “wajib” saat berkunjung ke Banten.
  4. Seba Baduy. Seba dapat diartikan sebagai kunjungan resmi (sowan) yang merupakan peristiwa dalam untaian adat masyarakat Baduy, yang dilakukan seusai Kawalu dengan rangkaian acara secara terperinci serta persiapan yang matang di samping harus berpedoman pada Peraturan Adat. Orang yang berperan dalam melakukan Seba adalah kepercayaan Puun, atas nama warganya memberikan laporan kepada Pemerintah sekaligus menjembatani komunikasi sambung rasa.
  5. Tari Cokek. Sebuah tarian tradisional yang merupakan perpaduan antara etnis tionghoa dan betawi. Gaya tarian cokek sering disalah artikan mengandung nuansa erotis. Hal ini dilatarbelakangi oleh pola gerak tari berpasang-pasangan (pria dan wanita) dan terkadang dalam salah satu gerak agak berdempet-dempetan. Saat ini tari cokek masih dapat dikategorikan bertahan terutama di daerah kelahirannya, yaitu Tangerang – provinsi Banten.

Provinsi Lampung

  1. Cakak Pepadun. Merupakan sebuah upacara adat pemberian gelar pada masyarakat Adat Lampung Pepadun. Adapun gelar yang diberikan di antaranya suttan, raja, pangeran, dan dalom. Dalam upacara ini, turut diberikan gambaran mengenai tanggung jawab pemegang gelar berikut wilayah adatnya.
  2. Gulai Taboh. Salah satu kuliner tradisional khas Lampung ini biasanya disajikan dalam upacara adat nayuh yang diadakan oleh masyarakat Lampung Adat Saibatin di pekon kampung baru, Kota Agung Timur, Tanggamus.
  3. Sekura Cakak Buasah. Pesta Budaya Sekura adalah pesta budaya tradisional yang dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri biasanya mulai dari 1 Syawal sampai 6 atau 7 Syawal setiap hari bergantian dari Pekon ke Pekon yang lain. Pesta Budaya Sekura dalam pandangan secara umum kegiatan ini hampir sama dengan pentas teater luar ruang dengan pelaku adalah masyarakat, dimana gambaran kegiatan budaya ini adalah identik dengan kemenangan, kebebasan dan kegembiraan sebagai ungkapan jiwa manusia untuk berkreasi dan berekspresi.
  4. Seruit adalah semacam sambal hasil perpaduan antara tempoyak durian, sambal terasi dan pindang ikan ditambah sedikit air jeruk lesom (air aren yang untuk dibuat gula aren yang tidak jadi). Masyarakat Way Kanan menyebutnya dengan sebutan nyeruit atau muju (makan bersama-sama teman, saudara atau keluarga).
  5. Sulam Usus. Sulam Usus adalah salah satu dari sulaman/tenunan khas daerah lampung, warisan nenek moyang. Disebut sulam usus karena bentuk dari sulamannya seperti usus, maka disebut dan dikenal sebagai sulam usus. Sulaman ini awalnya hanya diketahui sebagai penutup dada (bebe) yaitu perangkat dalam pakaian tradisional pengantin wanita adat Lampung. Selain itu juga kerap dibuat sebagai taplak meja atau sarung bantal.