Hajat Bumi Pulo Majeti
Oleh :
Irvan Setiawan
(BPNB Jabar)

Cagar Budaya Pulo Majeti
Dok. BPNB Jabar, 2020

Hajat Bumi Pulo Majeti adalah satu dari sekian banyak adat istiadat yang masih dilakukan oleh masyarakat di Kota Banjar. Penamaan Hajat Bumi Pulo Majeti terbagi dalam dua bagian yaitu hajat bumi dan Pulo Majeti. Hajat bumi adalah sebagaimana umumnya dilakukan terutama oleh masyarakat agraris yang kerap mengadakan ritual “syukuran” setelah panen. Sementara itu, kata “Pulo Majeti” adalah tempat dilangsungkannya ritual hajat bumi tersebut. Dahulu, wilayah Pulo Majeti bernama Rawa Onom. Pengertian Rawa disebabkan wilayah tersebut dikelilingi oleh genangan air payau. Sedangkan kata “Onom” artinya dedemit atau Siluman. Dengan demikian, Rawa Onom artinya Rawa dedemit/Siluman. Dahulu wilayah Pulo Majeti kerap digunakan sebagai tempat menempa ilmu para calon kasepuhan, raja. Beberapa tokoh yang dikenal pernah berada di wilayah ini (dapat berarti para tokoh tersebut juga ditempa di wilayah ini) di antaranya Aji Saka, Dewata Cengkar, Ratu Rengganis, Ratu Gandawati, Sri Begel, Sri Budegel, Sawung Galing, Sulaeman Kuning, Eyang Mentereng, Tubagus Tomal.

Tempat Sesajen
Dok. BPNB Jabar, 2020

Awalnya, hajat bumi dilakukan secara individual berdasarkan kepemilikan wilayah persawahan. Tokoh hajat bumi adalah Wadana Bratanagara (Wadana Ranca) yang ngabukbak (membuka lahan) Pulo Majeti. Pada tahun 1956-1960, hajat bumi dilakukan secara serempak dan dipusatkan di Pulo Majeti. Setelah itu, hajat bumi kembali dilakukan secara individual karena adanya benturan antara agama dan budaya. Baru beberapa tahun ini kembali dilakukan kembali secara serempak (gebyar).
Upacara Hajat Bumi Pulo Majeti dilakukan selama dua hari. Hari pertama merupakan acara inti, sedangkan hari kedua adalah hiburan. Adapun rangkaian pada hari pertama sebagai berikut:

  1. Mipit (panen padi),
  2. Kirab Tumpeng yang dibawa dengan menggunakan Dongdang (alas atau tempat yang dibawa dengan cara dipanggul oleh empat orang). Di dalam dongdang ditaruh di antaranya : sesajen, janur, tumpeng, dan hasil bumi. Setelah prosesi kirab selesai biasanya isi dongdang akan dibagikan kepada masyarakat.
  3. Tawasulan. Dilaksanakan sebagaimana halnya prosesi tawasulan yang biasa dilakukan dalam budaya keislaman.
  4. Jamasan (mencuci benda pusaka). Benda pusaka yang dibersihkan terdiri dari alat pertanian (pacul, arit, bedog), kujang kudi, dwisula, gobang, tombak, berbagai pisau kecil yang dipergunakan pada masa lalu. dan lain-lain. Durasi pelaksanaan jamasan pusaka sekitar 15 menit.
  5. Sawala yaitu pengetahuan pengayaan sejarah. Sawala dilakukan di puncak stus cagar budaya Pulo Majeti. Prosesi Sawala dimulai dengan kumandang adzan sebagai upaya memanggil sukma melalui jalur agama (Islam).
  6. Hiburan, di antaranya gondang, ronggeng, karindingan, kacapi suling, dan wayang golek. Khusus seni kuda lumping menjadi pantangan dalam ritual hajat bumi Pulo Majeti. Pelaksanaan hiburan biasanya dilakukan pada malam hari. Lokasi pelaksanaan berada di depan situs cagar budaya Pulo Majeti.

Pelaksanaan hajat bumi Pulo Majeti sebelum tahun 2020 dilakukan secara meriah. Panitia pelaksana mengundang komunitas yang ada di luar Kota Banjar seperti di wilayah Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya (Galunggung), hingga ke Cirebon, Garut, Bandung. Dari luar Pulau Jawa juga turut di undang dalam ritual ini.
Dalam upaya melestarikan tradisi Hajat Bumi Pulo Majeti, Pemda Kota Banjar mencoba untuk mengemasnya menjadi sebuah acara yang menarik masyarakat untuk menyaksikan ritual ini terutama pada sisi hiburannya.

Sumber Tulisan :
Petikan wawancara dengan tokoh masyarakat Pulo Majeti

TINGGALKAN KOMENTAR