Tunggu Lembur, Tradisi Siskamling ala Masyarakat Baduy

0
207

Tunggu Lembur, Tradisi Siskamling ala Masyarakat Baduy

oleh:
Ria Andayani Somantri
(BPNB Jabar)

Masyarakat Baduy di Desa Kanekes, Provinsi Banten begitu waspada terhadap berbagai kemungkinan yang akan mengganggu ketentraman hidup mereka. Sumber ketidakamanan itu berasal dari kebiasaan mereka pergi meninggalkan rumah untuk berladang di huma. Kalau saja lahan huma mereka berada dekat dengan kampung, tentu mereka bisa pulang pada sore harinya. Sebaliknya jika huma mereka jauh dari kampung, dipastikan mereka tidak mungkin pulang setiap hari ke rumah yang ada di kampung. Mereka biasanya akan menginap di saung huma dalam kurun waktu tertentu. Kebiasaan berladang seperti itu membuat kampung mereka menjadi sepi, minimal pada siang hari. Kalaupun rumah tidak kosong, penghuninya adalah para jompo dan orang yang sedang sakit.

Tungku api ada di dalam rumah
Sumber Foto: Dokumentasi BPNB Jabar

Hal yang paling dikhawatirkan adalah masalah api tungku yang berada di dalam setiap rumah di Baduy. Seharusnya, pemilik rumah sudah mengamankan tungku perapiannya, ketika mereka meninggalkan rumah. Akan tetapi, bukan tidak mungkin ada di antara mereka yang lupa mengamankannya. Jika hal itu sampai terjadi, akan berakibat fatal. Bukan hanya rumah itu yang akan dilalap api, melainkan seisi kampung pun akan ikut terbakar. Rumah mereka yang berkonstruksi kayu memang sangat rentan terhadap bahaya kebakaran. Selain itu, para jompo dan orang sakit yang tinggal di rumah sepanjang hari, juga perlu mendapat perhatian. Padahal anggota keluarga lainnya, pergi meninggalkan rumah menuju ladang. Meskipun sangat kecil kemungkinannya, orang asing yang berniat buruk juga bisa saja memasuki wilayah kampung mereka. Oleh karena itu, kampung mereka harus dijaga untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Rumah baduy yang rentan terbakar
Sumber Foto: Dokumentasi BPNB Jabar

Menjaga keamanan kampung adalah kewajiban dan tanggung jawab semua orang yang tinggal di Baduy. Akan tetapi, tidak mungkin semua orang harus menjaga kampungnya setiap hari atau dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana pun juga, mereka harus tetap meninggalkan rumah untuk pergi berladang, karena itulah tugas mereka yang paling utama. Ada mekanisme tradisional yang berfungsi untuk mengantisipasi dan mengatasi persoalan-persoalan tersebut, yakni tunggu lembur.

Tunggu lembur menunjuk pada aktivitas sekelompok orang yang secara bersama-sama melakukan kegiatan menjaga lembur ’kampung’ dari berbagai kemungkinan yang akan membahayakan keamanan kampung tersebut. Tunggu lembur identik dengan kegiatan siskamling (sistem keamanan lingkungan) atau ronda. Aktivitas tersebut sepenuhnya berada di bawah tanggung jawab dan pengawasan sesepuh kampung. Dia memiliki kewenangan untuk menjaga dan mengendalikan kelangsungan jalannya aktivitas tunggu lembur.

Kegiatan tunggu lembur wajib dilakukan setiap hari selama 24 jam penuh, tetapi tidak perlu semua orang menjaga kampung setiap hari. Kewajiban tersebut diatur secara bergilir dengan seadil mungkin untuk setiap keluarga. Orang yang bertugas mewakili keluarga tersebut biasanya kepala keluarga atau anak laki-laki yang sudah cukup umur. Dia tidak sendirian, karena paling tidak masih ada kira-kira 14 (empat belas) orang lainnya yang mendapat jadwal yang sama. Jadi, dalam setiap harinya ada sekitar 15 orang pria yang bertugas menjaga keamanan kampung.

Mekanisme kerjanya diserahkan kepada ke-15 orang tadi, apakah mereka akan bersama-sama terus selama sehari semalam; atau akan membaginya menjadi beberapa jam kerja. Tugas mereka adalah berkeliling kampung secara periodik untuk mengontrol rumah-rumah warga, terutama tungku perapiannya; memperhatikan warga yang tinggal di dalam rumah di kampung, misalnya memberi makan jompo dan mengontrol orang yang sedang sakit; dan mengawasi kalau-kalau ada orang asing yang masuk ke wilayah mereka.

Warga yang sedang melakukan tunggu lembur
Sumber Foto: Dokumentasi BPNB Jabar

Bertugas selama sehari semalam atau selama 24 jam penuh bukanlah waktu yang singkat. Di sela-sela menjalankan tugasnya mereka biasanya mengobrol bersama, dudurukan atau menyalakan kayu bakar, memasak air untuk membuat minuman, membakar makanan untuk dimakan, atau melakukan kegiatan tertentu. Beberapa kegiatan yang biasa dilakukan selama bertugas tunggu lembur, di antaranya nutus ’membuat atap kiray’, memotong rotan, dan pekerjaan sampingan lainnya, yang dilakukan pada siang hari. Dengan demikian, mereka masih tetap bisa berkarya meski sedang bertugas tunggu lembur.

Tradisi tunggu lembur sangat berkaitan erat dengan kegiatan berladang, yang seringkali dilakukan harus dengan meninggalkan rumah untuk sementara waktu. Selain itu, tradisi tunggu lembur juga merupakan wujud tanggung jawab sosial antarsesama warga Baduy yang tinggal dalam satu kampung yang sama. Warga yang tidak produktif untuk berladang karena sudah tua atau sakit, tetap terjaga keselamatan dan keamanannya ketika warga lainnya pergi berladang.

TINGGALKAN KOMENTAR