Dzikir Saman, Seni Tradisional Bernafaskan Islam di Pandeglang

0
6437

Kesenian Dzikir Saman dibawa oleh para ulama dan Sultan Banten pada abad ke 18. Pada periode selanjutnya yakni di wilayah daerah Banten dikenal seorang tokoh yang diyakini sebagai penyebar kesenian ini yang bernama Ki Sarimi. Ia menyebarkan kesenian ini di daerah Wanagiri Kabupaten Lebak, berdekatan dengan Desa Ciandur. Keterampilan ini kemudian diwariskan kepada Ki Dasik, yang selanjutnya diwariskan lagi kepada Ki Nirman, Ki Jasman, Ki Sarka Apandi, dan Ki Surahman.

Pergelaran Zikir Saman di Pandeglang (Sumber: pandeglang-berkah.blogspot.co.id)

Pada awalnya, kesenian Dzikir Saman tumbuh dan berkembang dibawa oleh para ulama ketika sedang menyebarkan agama Islam di Banten. Namun dalam pertumbuhan dan perkembangannya kemudian, sampai sekarang, kesenian ini sudah banyak mengalami perubahan. Dulu, pada awal pertumbuhannya, kesenian Dzikir Saman hanya dipertunjukkan pada saat memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. (Muludan), kini berkembang dan dipertunjukkan pada acara sunatan, perkawinan, dan syukuran rumah. Adapun perubahan dalam pola gerak terjadi, dengan munculnya tarian dari penonton yang mengikuti irama vokal (beluk). Perubahan pada tarian merupakan desakan dari penonton yang menghendaki tarian Saman lebih variatif. Sehingga sekarang gerakan dalam kesenian Dzikir Saman tidak hanya pada kaki melainkan ditambah dengan gerakan tangan.
Penamaan kesenian ini diambil dari kata “saman” yang berarti delapan. Pada awalnya kesenian ini memang merupakan tarian yang terdiri atas delapan orang penari. Dikatakan Dzikir Saman karena dzikir ini konon pertama kali diperkenalkan oleh Syeh Saman dari daerah Aceh. Kesenian ini disebut juga Dzikir Maulud karena di dalamnya disenandungkan syair-syair yang mengagungkan asma Allah SWT dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang terkumpul dalam kitab Barjanji (sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW.).
Dzikir Saman yaitu kesenian tradisional rakyat Banten yang menggunakan media gerak dan lagu (vokal) dan syair-syair yang dilantunkan mengagungkan Asma Allah dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Pemain Dzikir Saman berjumlah antara 26 sampai dengan 46 orang. 2 sampai 4 orang berperan sebagai vokalis yang membacakan syair-syair Kitab “Berjanji:, sementara 20 sampai 40 orang yang semuanya laki-laki mengimbangi lengikngan suara vokalis dengan saling bersahutan bersama (koor) sebagai alok.
Para pemain tidak menggunakan pakaian seragam dengan corak yang sama tetapi disesuaikan dengan tradisi setempat. Mereka menggunakan celana pangsi hitam, baju kampret, dodot dengan motif kain batik, ikat kepala batik, dan ikat pinggang dari batik pula.
Waditra atau alat bantu yang digunakan pada kesenian ini adalah berupa benda menyerupai kipas yang terbuat dari kulit kerbau berukuran 40X40 cm dengan tangkai pegangan dari rotan sepanjang 70 cm. Alat ini disebut “hihid”. Cara memainkan “hihid” dengan memukulkan secara berpasangan satu dengan yang lain, sehingga menghasilkan sebuah irama.
Pola permainan seni Dzikir Saman dilakukan sehari penuh dengan tiga babakan (episode), yaitu: Babak Dzikir, Babak Asroqol, dan Babak Saman. Episode pertama, rnelaksanakan dzikir dari mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 1200. Pada episode ini para pemain berdzikir, berdoa, membacakan puji-pujian, dan salawat kepada Rasul. Mereka duduk berhadapan sambil memegang hihid dan tampaklah suasana khidmat dan sakral.
Episode kedua dimulai dari pukul 12.00 sampai dengan pukul 15.00. Episode ini dinamakan asroqol yaitu babak yang menonjolkan lengkingan vokal (beluk). Para pemain membentuk formasi berhadapan dengan teknik berdiri dan jongkok silih berganti. Para pemain satu dengan yang lain memukulkan hihid lalu terdengar sayup-sayup dilantunkan syair berisi sejarah kelahiran Nabi Muhammad saw.
Episode yang ketiga dinamakan saman. Episode ini dilakukan dari mulai pukul 5.00 sampai selesai. Para pemain tidak menggunakan hihid lagi, mereka menari dengan menggerakkan tangan dan kakinya mengikuti alunan suara vokal dan koor.
Masyarakat yang ada di lapangan terus mengiringi arak-arakan dan menari secara spontan mengikuti suara vokal, kemudian membentuk lingkaran dan mengelilingi sebuah dongdang berisi makanan. Dongdang tersebut isinya diperebutkan. Selanjutnya, masyarakat melakukan saweran yaitu melemparkan sejumlah uang kepada para pemain. Acara ditutup dengan pembacaan doa.

Sumber:
Euis Thresnawaty dkk, “Potensi Budaya di Kabupaten Pandeglang”, Laporan Penyusunan Dokumentasi Pelestarian Nilai Budaya, Bandung: BPNB Jabar, 2018
Adeng, “Dzikir Saman”, Formlir Warisan Budaya Takbenda, Bandung: BPNB Jabar, 2012.