Kampung Angklung di Kabupaten Ciamis

You are currently viewing Kampung Angklung di Kabupaten Ciamis

Kampung Angklung di Kabupaten Ciamis

Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional masyarakat Sunda. Wilayah persebaran alat musik ini hampir ada di seluruh wilayah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. Walaupun tersebar, intensitas penggunaan ataupun produksi angklung berbeda-beda. Saat ini hanya ada beberapa sentra pembuatan angklung yang ada di Provinsi Jawa Barat. Setelah Kota Bandung yang terkenal dengan Saung Angklung Udjo yang sudah terkenal hingga ke mancanegara, lokasi lain yang hingga saat ini masih aktif memproduksi dan menjual angklung ada di Kampung Nempel RT 02/07 Desa Panyingkiran, Kecamatan Ciamis. Di lokasi tersebut setidaknya ada sekitar 40 Kepala Keluarga yang berperan aktif dalam membuat angklung sehingga banyak orang yang mengistilahkan lokasi tersebut sebagai Kampung Angklung.

Awal mula kemunculan produksi angklung sekitar tahun 1990-an tatkala seorang warga bernama Mumu berniat untuk membuat dan menjual angklung. Lama kelamaan, usahanya tersebut berkembang. Dan, ia mulai merekrut pekerja tambahan yang tidak lain adalah tetangganya sendiri.
Menurut Mumu – seorang pembuat angklung, proses pembuatan angklung cukup mudah apabila dilakukan oleh seseorang yang sudah ahli dalam melakukan penyetelan nada dari setiap angklung. Proses pertama yang dilakukan adalah memilih bambu yang hendak dibuat angklung.

Bambu tersebut kemudian dijemur dan dipotong-potong sesuai ukuran dan nada yang diperlukan. Hasil potongan kemudian dicuci dengan menggunakan sabun deterjen. Proses selanjutnya adalah dijemur kembali hingga kering. Potongan bambu yang telah kering tersebut kemudian diberi corak batik. Alat melukis corak yang digunakan semacam solder listrik. Diperlukan ketelitian dalam melakukan proses corak karena hasil coretan adalah permanen. Setelah selesai proses membuat corak, potongan-potongan bambu tersebut kemudian dipernis untuk menambah daya artistik dan ketahanan bahan. Selesai dipernis, potongan angklung tersebut kembali dijemur hingga kering untuk kemudian dirangkai dan diikat dengan menggunakan tali rotan/bambu.

Penyesuaian nada kemudian dilakukan untuk menghasilkan jenis nada yang diperuntukkan untuk setiap angklung. Sebelum dilempar ke pasaran, angklung akan disimpan dahulu selama 1 sampai 3 hari. Tujuannya untuk mericek ulang kualitas bahan dan nada. Setelah jumlah hari yang ditentukan, setiap angklung akan dilihat kembali kualitas bahan dan nadanya. Angklung yang mengalami perubahan bahan dan nada akan diperbaiki ulang.
Melihat prospek kampung angklung yang semakin berkembang, ada wacana oleh pemerintah setempat untuk mengajukan Kampung Nempel menjadi salah satu tujuan wisata edukasi yang dibingkai oleh nuansa seni tradisi.
Oleh:
Irvan Setiawan
(BPNB Jawa Barat)