Ngumbai Atakh, Tradisi Berdoa Masyarakat Kabupaten Pesisir Barat

You are currently viewing Ngumbai Atakh, Tradisi Berdoa Masyarakat Kabupaten Pesisir Barat

Ngumbai Atakh, Tradisi Berdoa Masyarakat Kabupaten Pesisir Barat

Rumah tradisional di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung (Sumber Foto: Dokumentasi BPNB Jabar, 2018)

Masyarakat Masyarakat Pesisir Barat sejak dulu melestarikan budaya “Ngumbai Atakh” sebagai bentuk doa yang dilakukan pada bulan atau musim haji. “Setiap tahun masyarakat melaksanakan tradisi turun-temurun itu. Kebiasaan masyarakat ini dilakukan saat memasuki bulan haji, yang bertujuan untuk memanjatkan doa agar tanaman perkebunan maupun pertanian dapat tumbuh subur,” kata warga, Kecamatan Way Krui, Ali Muhsin (44), sekitar 330 Km dari Bandarlampung, di Way Krui, Rabu.Dia menjelaskan, tradisi “Ngumbai Atakh” bentuk harapan masyarakat Lampung Pesisir Barat, agar terhindar dari malapetaka.”Tradisi ini dilakukan masyarakat, guna memanjatkan doa kepada Tuhan, agar dijauhkan dari malapetaka dan roh jahat yang dapat mengganggu masyarakat saat melakukan aktivitas perkebunan,” kata warga itu.

Tim Inventarisasi saat berbincang-bincang dengan Kabid Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Pesisir Barat (Sumber Foto: Dokumentasi BPNB Jabar, 2018)

Kemudian lanjut dia, “Ngumbai Atakh” bermanfaat sebagai ajang silaturahmi masyarakat, sehingga jalinan tersebut dapat terjaga dengan baik. Ritual “Ngumbai Atakh” menjadi salah satu tradisi masyarakat Lampung Pesisir Barat saat memasuki bulan haji.Tradisi tersebut sebagai upaya pengharapan dan penolak bala, agar diberikan kelancaran dalam melakukan aktivitas perkebunan, sehingga dapat selamat dan mendapatkan hasil panen yang berlimpah.Doa bersama masyarakat yang dilakukan setiap tahun itu, dipimpin oleh ustad, ritual tersebut sama sekali tidak menggunakan sesaji.
Di kalangan masyarakat Lampung Pesisir Barat, khususnya yang berada di sekitar pesisir Krui, Kecamatan Way Krui, Kabupaten Pesisir Barat, sekitar 300 kilometer dari Bandarlampung, terdapat sebuah tradisi yang disebut ngumbai atakh yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “berdoa bersama”. Ngumbai atakh adalah suatu bentuk pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar hasil perkebunan yang menjadi matapencaharian warga masyarakat meningkat dan dijauhkan dari segala musibah ataupun adanya roh jahat yang bermaksud untuk mengganggu kesuburan tanaman. Adapun pelaksanaannya umumnya dilakukan pada hari pertama bulan atau musim haji.
Ngumbai atakh kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ini dipimpin oleh seorang ustadz yang dianggap mampu atau menguasai ilmu agama. Sementara penyelenggaranya adalah warga masyarakat pemilik perkebunan. Agar lebih afdol, acara ini umumnya juga mengundang para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan perangkat pekon setempat. Mereka secara berjamaah memanjatkan doa tanpa menyediakan sesajen di lokasi perkebunan agar diberikan peningkatan hasil perkebunan, kemudahan rezeki, dan dijauhkan dari segala musibah yang datang secara tidak terduga. Sebagai catatan, selain untuk mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, tradisi ngubai atakh ini juga dapat dijadikan sebagai ajang mempererat tali silaturrahim antarwarga di masing-masing pekon (desa).

Sumber:
Irvan Setiawan dkk, “Inventarisasi Karya Budaya di Kabupaten Pesisir Barat”, Laporan Penginventarisasian dan Pencatatan Karya Budaya Kabupaten Pesisir Barat, Bandung: BPNB Jabar, 2018.