Jejak Tradisi Daerah BPNB Jabar 2017

0
471

Kebudayaan pada dasarnya adalah tanggapan aktif manusia terhadap lingkungan dalam arti luas (alam, sosial, dan budaya). Fungsi kebudayaan dalam suatu masyarakat, menurut Suparlan (1995), adalah sebagai pedoman (blueprint) dalam menanggapi lingkungannya. Oleh karena itu, setiap masyarakat, betapapun sederhananya, pasti akan mengembangkan suatu kebudayaan sebagai tanggapan aktif terhadap lingkungannya. Lingkungan alam yang berbeda pada gilirannya akan membuahkan kebudayaan yang berbeda (determinisme geografis). Dan, kebudayaan yang berbeda pada gilirannya akan membuahkan tradisi yang berbeda pula.
Masyarakat yang tinggal di Provinsi Lampung (sukubangsa Lampung) misalnya, juga mengembangkan tradisi yang berbeda dari daerah lain yang ada di Indonesia. Bahkan di dalam komunitasnya sendiri, sukubangsa Lampung terbagi dalam dua adat besar yaitu Saibatin dan Pepadun. Penduduk yang beradat Saibatin umumnya tinggal di sepanjang pesisir selatan hingga barat provinsi ini, sedangkan penduduk beradat Pepadun bermukim di daerah pedalaman sebelah barat Bukit Barisan. Masyarakat adat Saibatin atau disebut juga Peminggir terdiri atas Paksi Pak (Buay Belunguh, Buay Pernong, Buay Nyerupa, Buay Lapah) dan Komering-Kayuagung. Mereka mendiami sebelas wilayah adat, yaitu: Kalianda, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Belalau, Liwa, dan Ranau.
Sementara masyarakat pendukung adat Pepadun terdiri dari: (1) Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagi, dan Nyerupa) yang mendiami tujuh wilayah adat, yaitu Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Meringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi; (2) Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, dan Puyang Tegamoan) yang mendiami empat wilayah adat, yaitu Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga; (3) Pubian Teluk Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak, dan Hulu atau Suku Bukujadi) yang mendiami delapan wilayah adat, yaitu Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung; (4) Sungkai-Way Kanan Buay Lima atau lima keturunan Raja Tijang Jungur, terdiri dari Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, dan Barasakti. Mereka mendiami sembilan wilayah adat, yaitu Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Belambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui (seandanan.wordpress.com).
Sebagai kesatuan adat, orang Lampung Saibatin dan Pepadun tentu mengembangkan kebudayaan tersendiri yang berguna bagi pedoman dalam kehidupan bersama atau dengan kata lain berfungsi sebagai acuan dalam bersikap dan berperilaku. Ini artinya bahwa mereka mengembangkan unsur-unsur budaya yang berkenaan dengan sistem: matapencaharian, teknologi, kemasyarakatan, pengetahuan, religi (sistem kepercayaan), dan kesenian. Namun demikian, budaya yang ditumbuh-kembangkan oleh mereka belum diketahui atau dikenal secara luas. Padahal, mereka mempunyai kedudukan dan hak yang sama dengan masyarakat lainnya. Sementara, tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Balai Pelestarian Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat pada dasarnya adalah pelestarian nilai-nilai kesejarahan dan kebudayaan pada masyarakat di wilayah kerjanya (Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung). Bertolak dari pemikiran itu, BPNB Jawa Barat memandang perlu untuk melakukan kegiatan yang berkenaan dengan budaya yang ada di kalangan masyarakat Lampung dengan nama kegiatan “Jejak Tradisi Daerah” yang dilaksanakan pada tanggal 4 – 6 Mei 2017 di Kota Bandar Lampung.
Tujuan kegiatan Jejak Tradisi Daerah yang dalam tahun 2017 ini berfokus pada budaya masyarakat Lampung adalah: (1) Memperkenalkan salah satu kekayaan budaya bangsa kepada generasi muda, khususnya budaya masyarakat Lampung yang ada di Kota Bandarlampung; (2) Menumbuhkan pemahaman generasi muda tentang keanekaragaman budaya bangsa yang satu dengan lainnya mempunyai kekhasan dan keunikan tersendiri; dan (3) Menumbuhkan sikap saling menghargai antara pendukung budaya yang satu dengan lainnya. Tema kegiatan Jejak Tradisi Daerah tahun 2017 adalah: “Mengenal Tradisi dan Ekspresi Budaya Masyarakat Lampung”
Sesuai dengan lokasi dari tema di atas, peserta Jejak Tradisi Daerah 2017 mengunjungi beberapa objek budaya yang ada di Provinsi Lampung, yaitu:
1. Negeri Olok Gading
2. Museum Negeri Lampung

Di dua tempat tersebut, peserta siswa SMA/sederajat melakukan pencarian data budaya untuk dibuat deskripsi ringkas yang akan dipresentasikan secara per kelompok. Di Museum, seni kriya juga diperkenalkan dalam sebuah lokakarya mengenai teknik melukis pada motif lampung. Selain itu, tiap kelompok juga diberikan tugas untuk membuat sebuah karya seni (teater/suara) yang akan dipentaskan pada malam menjelang penutupan. Selain kegiatan di atas, peserta juga diberikan penyuluhan tentang bahaya narkoba.

TINGGALKAN KOMENTAR