You are currently viewing Cingcowong Ritual Meminta Hujan

Cingcowong Ritual Meminta Hujan

Cingcowong Ritual Meminta Hujan

Oleh:
Risa Nopianti
(BPNB Jabar)

Cingcowong merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, tepatnya di Desa Luragung Landeuh. Keberadaan Cingcowong memiliki hubungan erat dengan kebutuhan dan ketergantungan manusia terhadap alam, yaitu kebutuhan manusia akan air sebagai sumber penghidupan. Pada intinya tradisi ini ditujukan untuk memohon kepada Tuhan yang Maha Esa, supaya segera diturunkan hujan ketika terjadi kemarau berkepanjangan.

Tradisi meminta hujan merupakan sebuah simbolisasi dari kedirian manusia yang adakalanya tidak berdaya menghadapi kekuasaan alam. Air sebagai sebuah kebutuhan dasar dan pokok manusia perlu senantiasa dipenuhi setiap hari, namun ketika persediaan air semakin menipis, mengakibatkan terganggunya pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat, seperti untuk makan, minum dan mencuci. Di sisi lain, kebutuhan pengairan lahan pertanian juga berkurang sehingga mengakibatkan kekeringan pada tanaman yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan panen.

Menurut Kusnadi, Cingcowong adalah seni ritual untuk meminta hujan dengan media jejelmaan atau orang-orangan perempuan berwajah cantik dan cara untuk memanggil roh-roh (gaibnya) dengan alat pengiring buyung yang terbuat dari tanah liat (sebagai kendang) dan ceneng (bokor) sebagai ketuk (Kusnadi, 2001)

Cingcowong
Sumber Foto: Dok. BPNB Jabar

Cingcowong berasal dari kata cing dan cowong. Kata cing dalam Kamus Bahasa Indonesia-Sunda memiliki arti yang sama dari kata cik, yang berarti “coba” dalam bahasa Indonesia. Kata cowong dalam bahasa Indonesia berarti “biasa berbicara keras”. Jadi dari segi bahasa, Cingcowong memiliki arti mencoba berbicara keras. Pengertian lain dari Cingcowong menurut sumber lain berasal dari kata cing yang berarti “teguh” (Sunda) atau “terka” (Indonesia) dan cowong merupakan kependekan dari kata “wong” yang dalam bahasa Jawa berarti ‘orang’. Maka dengan demikian jika disatukan kata “cingcowong” tersebut memiliki arti “coba terka siapa orang ini”.

Beberapa tradisi yang ada di masyarakat terkait permohonan meminta hujan biasanya diperantarai oleh makhluk hidup seperti manusia itu sendiri maupun makhluk lain seperti kucing pada tradisi manten kucing atau ngarak kucing. Berbeda dengan tradisi sejenis, cingcowong menggunakan boneka yang bagian kepalanya terbuat dari batok kelapa, dan badannya terbuat dari bubu ikan, sebagai media penghubungn antara dunia manusia dan dunia gaib.

Ritual Cingcowong dipimpin oleh seorang yang dinamakan punduh. Punduh adalah orang yang dianggap memiliki kemampuan khusus di bidang spiritual atau kepercayaan setempat yang diperolehnya karena inisiatif sendiri, dan dianggap memiliki kecakapan khusus untuk berhubungan dengan makhluk dan kekuatan supernatural. Untuk kelancaran ritual, seorang punduh dibantu oleh orang yang bertugas untuk memegang boneka cingcowong, dan memainkan dua alat musik utama yaitu buyung dan bokor. Ada juga sinden yang bertugas melantukan lagu-lagu tertentu untuk mengiringi boneka cingcowong menari. Adapun perlengkapan pendukung ritual selain boneka cingcowong sebagai alat utama juga dilengkapi dengan taraje (tangga bambu), samak (tikar), sisir dan cermin, serta air dan bunga kemboja yang disimpan dalam wadah. Untuk menambah kehikmatan ritual disediakan set parukuyan (pedupaan) dan kemenyannya, serta aneka sesajian yang terdiri dar telur asin, kopi, rokok/cerutu, congcot (tumpeng kecil), tektek (seperangkat bahan untuk menyirih) makanan ringan, kue-kue basah, dan buah-buahan manis.

Mempersiapkan aksesoris Cingcowong
Sumber Foto: Dok. BPNB Jabar.

Ketika semua kelengkapan ritual telah dipersiapkan, ritual pun siap dilaksanakan. Para pemain alat musik memukul-mukul buyung dengan menggunakan hihid atau kipas yang terbuat dari anyaman bambu, dan bokor dengan menggunakan dua buah ruas kayu masing-masing sepanjang 40 cm, sambal mengiringi sinden yang bernyanyi. Punduh dan pembantunya memegang boneka cingcowong masuk lokasi ritual dan berjalan diantara anak tangga yang diletakkan di atas lantai, dari ujung awal sampai ujung akhir tangga sebanyak tiga kali bolak-balik. Kemudian punduh duduk ditengah tangga dengan memangku boneka, dan menghadapkan wajah boneka cingcowong ke arah cermin, kemudian melakukan gerakan seperti menyisir rambut boneka menggunakan sisir.

Di sampingnya duduk pembantu punduh untuk ikut memegangi sabuk yang dikenakan boneka cingcowong, karena boneka sudah mulai bergerak mengikuti alunan lagu, semakin lama boneka semakin bergerak ke arah kanan, kiri dan ke depan seperti tidak terkendali, tetapi tetap dipegang oleh ketiga orang tersebut. Boneka cingcowong ini mulai bergerak setelah kalimat terakhir dari lagu cingcowong yang dinyanyikan sinden.

Gerakan tak terkendali dari boneka cingcowong, menandakan bahwa boneka tersebut telah mulai dirasuki roh gaib. Adakalanya boneka cingcowong mendatangi kerumunan penonton dan membuat mereka berhamburan karena ketakutan. Untuk menetralkan suasana punduh mengucapkan kata-kata “cingcowong cingcowong, hulu canting awak bubu” (cingcowong cingcowong kepala canting badan bubu), diiringi dengan menciprat-cipratkan air bunga kemboja kepada para penonton sambil mengucapkan kata-kata
hujaan…
hujaan…
hujaan….

Dalam proses perkembangan saat ini, tradisi cingcowong telah mengalami modifikasi bentuk dari ritual sebagai mekanisme memanggil hujan, menjadi tarian sebagai seni hiburan rakyat. Kondisi ini terjadi manakala sebagian masyarakat mulai menyadari bahwa diperlukan adanya pelestarian kebudayaan melalui media seni tari dalam rangka menyelamatkan tradisi cingcowong yang hampir punah. Maka dibuatlah seni tari cingcowong, sebagai bentuk pemenuhan keinginan masyarakat yang sudah banyak mengalami proses perubahan sosial saat ini.

Leave a Reply