Perkembangan sejarah perjuangan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para pejuang Indonesia. Radio AURI memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Melalui stasiun radio AURI itu, berita tentang perjuangan bangsa Indonesia dapat tersebar luas ke mancanegara.

     Tentu saja dampaknya sangat luas, sehingga dunia internasional mengetahui tentang Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Bahkan tokoh perjuangan Mr. Sjafruddin Prawiranegara pernah berkomentar, kalau tidak ada PHB AURI, maka Pemerintah Republik Indonesia saat itu tidak ada artinya. Peranan radio AURI dimulai saat para pejuang menguasai beberapa mobile transmitter, yang terus-menerus mengikuti perjuangan.

Monumen PHB AURI PC-2 Playen (Dok: BPCB DIY 2012)

     Alat perhubungan ini sangat diperlukan untuk berkomunikasi antara pemimpin pemerintah pusat dan daerah serta dengan dunia internasional. Pada tanggal 17 Desember 1945, Panglima Divisi III Yogyakarta secara resmi menyerahkan wewenang dan tanggung jawab bidang keudaraan kepada TKR Jawatan Penerbangan, sejak itu pula kegiatan menghimpun kekuatan udara mulai meningkat.

     Urusan komunikasi dan personel dipercayakan kepada Sabar Wiryonomukti. Ia menghimpun teman-teman yang berpengalaman di bidang komunikasi radio, diantaranya adalah Boediardjo yang diberi tugas menyiapkan sumber daya manusia, khususnya bagi Dinas Perhubungan atau PHB-AURI. Dia memanggil 16 siswa Sekolah Radio Telegrafis di Malang, untuk dijadikan sebagai tenaga inti PHB-AURI.

     Dengan datangnya Adi Soemarmo Wirjokoesoemo, mantan Flight Radio Operator dari The Netherland East Indies Air Force (NIA), kinerja PHB-AURI menjadi semakin baik. Tanggal 9 April 1946, diterbitkan Penetapan Pemerintah Nomor 6 tentang Pembentukan Angkatan Udara, dan menetapkan Raden Surjadi Suryadarma sebagai Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) dengan dua orang wakil yaitu R.Soekarnaen Martokoesoemo dan Adisoetjipto.

     Dua tahun kemudian Opsir Udara III Boediardjo diangkat menjadi Kepala Jawatan Perhubungan AURI. Pada saat penyerbuan Belanda ke Yogyakarta, 19 Desember 1948, untuk menduduki ibu kota negara serta menangkap pemimpin bangsa, Wakil Presiden Mohammad Hatta sempat mengirimkan sebuah pesan. Pesan berbentuk radiogram tersebut kemudian disampaikan ke seluruh stasiun radio AURI yang ada di Indonesia oleh Sabar Wijoyomukti melalui stasiun radio AURI yang terdapat di Terban Taman Yogyakarta. Bunyi pesan tersebut adalah:

     “Pemerintah Republik Indonesia Di Yogya Dikepung Musuh Dan Tidak Dapat Melakukan Tugas Kewajibannya (Koma) Tetapi Persiapan Telah Diadakan Untuk Meneruskan Pemerintah Republik Indonesia Di Sumatera (Ttk) Apapun Yang Terjadi Dengan Orang-Orang Pemerintah Yang Ada Di Yogyakarta (Koma) Perjuangan Diteruskan (Ttk Hbs)”.

     Selesai pengiriman berita itu, stasiun radio AURI di Terban Taman dihancurkan oleh Boediardjo, guna melindungi para pejuang dari serbuan Belanda. Para pejuang itu kemudian pergi ke luar kota untuk menghimpun kekuatan dan bergerilya melanjutkan perjuangan.

     Di desa Dekso, Kulon Progo, tempat para pejabat militer berkumpul untuk melakukan koordinasi, didirikan Markas Besar Komando Djawa dikenal dengan sebutan MBKD, pimpinan Nasution. Sedangkan di Sumatera berdiri Markas Besar Komando Sumatera (MBKS) di bawah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dipimpin Mr. Syafruddin Prawiranegara.

     Setelah bergabung dalam MBKD, Opsir Udara III Boediardjo yang masih menjabat sebagai Kepala Perhubungan AURI berusaha meyakinkan Pimpinan MBKD. Bahwa ia dapat melakukan hubungan komunikasi dengan Markas Besar Komando Sumatera dan markas komando lainnya.

     Pada waktu itu AURI masih memiliki sekitar 39 stasiun radio yang tersebar di berbagai tempat. Awal Januari 1949 Boediardjo bersama anak buahnya, dibantu Basir Surya dan Sersan Udara Soeroso, masing-masing Komandan dan Kepala Bagian PHB Lapangan Terbang Gading, mendirikan sebuah stasiun radio rahasia di Desa Banaran, Kecamatan Playen.

Rumah Joglo sebagai tempat menyembunyikan perlengkapan siaran radio (Dok: BPCB DIY 2011)

     Radio pemancar yang digunakan adalah tipe People Cooperation (PC-2). Peralatan stasiun radio AURI, dengan callsign PC-2, diletakkan di dapur rumah milik seorang petani bernama Pawirosetomo. Pembangkit listrik disembunyikan di tungku tanah dan ditutupi kayu bakar. Sedangkan antenanya direntangkan pada dua batang pohon kelapa, dipasang hanya ketika malam untuk melakukan siaran. Sedangkan pada pagi perlengkapan tersebut disembunyikan agar tidak diketahui Belanda.

     Kekompakan dan dukungan penduduk setempat turut membantu dalam melaksanakan tugas penyiaran dan merahasiakan keberadaan stasiun radio PC-2. Terutama keluarga istri Pawirosetomo dan kedua anaknya, yang selalu membantu para pejuang dalam melaksanakan tugas. Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan pertukaran informasi tentang kegiatan-kegiatan para pejuang di Jawa maupun di sumatra serta menyiarkan keberhasilan perjuangan ke luar negeri. Salah satu prestasi stasiun PHB-AURI PC-2 Playen adalah keberhasilannya menyiarkan berita tentang Serangan Umum 1 Maret 1949.

     Siaran berita itu dilaksanakan pada pukul 02.00 WIB tanggal 2 Maret 1949, ke seluruh jaringan radio AURI bahkan sampai ke PBB. Berita tersebut dikirimkan oleh Sersan Basukihardjo, seorang operator stasiun PHB AURI PC-2 Playen, dan diterima oleh Sersan Udara Kusnadi operator radio Bidar Alam.

     Keesokan harinya, 3 Maret 1949, berita tersebut dilaporkan oleh Opsir Udara III Dick Tamimi dan Unsur Said kepada Ketua PDRI Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Berita tersebut segera dikirim ke stasiun-stasiun radio “NBM” Tangse, “ZZ” Kototinggi.

     Melalui radio “NBM” Tangse berita dikirim ke stasiun radio “SMN” di Rangoon kemudian dilanjutkan ke New Delhi dan perwakilan RI di PBB di New York, Amerika. Pejabat perwakilan RI di PBB membeberkan berita itu di depan sidang Dewan Keamanan PBB pada tanggal 7 Maret 1949, sehingga membuka mata dunia terhadap keberadaan perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.

Situasi Monumen Radio PHB AURI PC-2 (Dok: BPCB DIY 2020)

     Sumardjono, ahli waris Pawirosetomo, kemudian mewakafkan tanah pekarangan beserta rumah joglonya untuk dijadian Monumen Radio PHB AURI PC-2 Playen yang diresmikan pada 10 Juli 1984 oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Stasiun Radio AURI PC-2 Playen Gunungkidul memiliki peran penting dalam menyukseskan perang kemerdekaan. Terutama dalam menyiarkan peristiwa besar Serangan Umum 1 Maret 1949. Di dalam rumah sederhana milik keluarga Pawirosetomo itu, bangsa Indonesia mampu berkibar di dunia internasional, saat mengusir Belanda dari Yogyakarta.

     Monumen Stasiun Radio PHB AURI PC-2 secara administratif berada di Dusun Banaran, Desa Playen, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul dan telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui SK No. 267/M/2016.

(Himawan Prasetyo, S.S / Pamong Budaya Ahli Muda BPCB DIY)

 

Daftar Pustaka

Dakung, Sugiyarto. 1982. Arsitektur Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Nasution, A.H. 1979. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, Jilid 10, “Perang Gerilya Semesta II”. Bandung: Angkasa.

 

Soetanto, Himawan. 2006. Yogyakarta 19 Desember 1948. Jakarta: Gramedia.

 

Sumarjan, Selo. 2010. Perubahan Sosial di Yogyakarta. Jakarta: Komunitas Bambu.

 

Surjomiharjo, Abdurrahman. 2000. Sejarah Perkembangan Sosial Kota Yogyakarta. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.