Situs Pura Batur Kelembang

0
187

Secara administratif Pura Batur Kelembang Kaja terletak di wilayah Dusun Kelembang, Desa Rejasa, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan Bali. Sedangkan secara astronomis terletak pada koordinat (UTM) 0292119 ; 9065763 dengan ketinggian mencapai 344 meter diatas permukaan laut. Batas-batas wilayah yang telah disepakati membatasi Desa Rejasa adalah :

Sebelah utara : Desa Tegalinggah

Sebelah selatan : Desa Tegal Tunjung

Sebelah timur : Desa Jegu

Sebelah barat : Desa Pesagi

Desa Rejasa merupakan daerah lereng pegunungan, relatif dekat dengan Gunung Batukaru, sehingga memiliki kontur wilayah yang berbukit. Desa Rejasa memiliki luas wilayah 359,77 Ha, dengan kawasan pertanian yang memiliki luasan paling luas mencapai 211 Ha, dan perkantoran pemerintah adalah wilayah dengan luasan yang paling kecil. Pura Batur Kelembang Kaja dapat dicapai dengan sangat mudah baik dengan sepeda motor maupun dengan kendaraan beroda empat. Apabila perjalanan dilakukan dari Kota Tabanan, maka jalur arah utara menuju ke wilayah Jatiluwih yang dapat diikuti. Kemudian sampai di pertigaan Desa Buruan ambil jalur ke kiri menuju Desa Penatahan. Di wilayah Penatahan gunakan jalur yang ke selatan (kiri) untuk mencapai Desa Tegalinggah, kemudian ambil jalur ke kanan dan ikuti jalur tersebut sampai di Dusun Kelembang.  Pura Batur Kelembang Kaja terletak di bagian paling utara dari wilayah desa.

Struktur Pura Batur Kelembang

Umumnya halaman atau mandala pura terbagi menjadi tiga bagian, yaitu jaba sisi (nista mandala), jaba tengah (madya mandala) dan jeroan (utama mandala). Pembagian atas tiga halaman ini didasari atas konsep Triloka. Jaba sisi (nista mandala) dilukiskan sebagai Bhurloka yang dihubungkan dengan alamnya bhuta dan kala. Jaba tengah (madya mandala)dihubungkan dengan Bwahloka yang berkaitan dengan alam manusia dan jeroan (utama mandala) dihubungkan Swahloka yang berkaitan dengan alam para dewa beserta roh suci para leluhur (Rata, 1985:15). Intisari dari konsep ini adalah adanya perbedaan kesucian dari masing-masing halaman  pura tersebut. Jeroan (utama mandala) lebih suci dari jaba tengah (madya mandala) dan jaba tengah (madya mandala) ini memiliki tingkat kesucian yang lebih tinggi dari jaba sisi (nista mandala). Berdasarkan anggapan tersebut maka pada umumnya jeroan (utama mandala) memiliki posisi yang lebih tinggi dari jaba tangah (madya mandala) dan jaba sisi (nista mandala). Untuk meniggikan jeroan (utama mandala) dari halaman  yang lainnya dipergunakan undakan. Pembagian halaman  pura ini mengingatkan kita akan bangunan teras berundak yang merupakan bangunan pemujaan pada masa prasejarah. Ditambah lagi dengan adanya orientasi ke arah gunung semakin menegaskan akan hal ini. Sehingga secara umum konsepsi punden berundak adalah merupakan konsepsi dasar arsitektural dari bangunan pura-pura yang ada di Bali (Rata, 1979 :16).

Pembagian halaman pura yang memanjang ke belakang, dengan halaman yang posisinya terletak paling belakang merupakan halaman  paling suci mengingatkan pada pembagian stuktur  halaman Candi Penataran yang ada di Jawa Timur. Halaman Candi Penataran juga terbagi menjadi tiga halaman, yang memanjang dari barat laut ke tenggara dan halaman terakhir dimana terletak candi induk  merupakan bangunan yang paling suci. Dalam Lontar Kusumadewa disebutkan bahwa sistem pendirian pura-pura  adalah serupa dengan sistem pendirian bangunan candi-candi di Majapahit. Bahkan di daerah Trowulan didapatkan relief yang serupa dengan bentuk  pura-pura maupun bentuk bangunan meru.

Pembagian halaman  pura selain terdiri dari tiga halaman, juga ada pura yang memiliki dua halaman. Goris dalam tulisannya yang berjudul Bali Atlas Kebudayaan menyebutkan bahwa pembagian halaman  pura yang terdiri dari dua bagian ini mempunyai hubungan atau kaitan dengan dua hal yang berbeda (rwa bhineda), seperti dunia atas berlawanan dengan dunia bawah, gunung berlawan dengan laut dan yang lainnya (Goris, t.t. : 36). Pendapat mengenai pembagian halaman pura yang menyerupai dengan pendapat Goris juga diungkapkan oleh Tim Peneliti Arsitektur Bali yang menyebutkan pembagian halaman  pura yang terdiri dari dua bagian merupakan lambang dari alam bawah (pertiwi) dan alam atas (akasa). Pembagian halaman  pura yang terdiri dari dua halaman maupun satu halaman  dapat pula karena pengaruh lingkungan geografis. Dalam hal ini diperkirakan karena luas areal tanah pura tidak memungkinkan untuk dibangunnya pura dengan tiga halaman, atau mungkin karena potensi penduduk yang menyungsung sedikit sehingga tidak memungkinkan untuk mengelola pura yang terlalu besar. Dengan demikian apabila halaman pura hanya terdiri dari dua atau satu halaman maka bangunan di halaman pertama dan kedua biasanya digabungkan menjadi satu (Mantra, 1961 : 3).   Pura yang memiliki tiga halaman  biasanya antara jaba sisi (nista mandala) dan jaba tengah (madya mandala) dihubungkan dengan candi bentar, sedangkan antara jaba tengah (madya mandala) dengan jeroan (utama mandala)dihubungkan dengan sebuah bangunan kori agung. Demikianlah sedikit gambaran secara umum tentang pembagian struktur pura secara umum.

Berpijak dari uraiaan tentang struktur pura seperti disebutkan di atas, maka berikut ini  akan diuraikan sedikit tentang struktur Pura Batur Kelembang.  Secara struktur Pura  Batur Kelembang terbagi menjadi dua  halaman  yaitu : jaba tengah (madya mandala) dan jeroan (utama mandala). Dilihat dari bentuknya,  denah struktur Pura Batur Kelembang  ini berbentuk persegi empat panjang, dengan orientasi arah barat-timur. Untuk mencapai areal jaba tengah   (madya mandala) Pura Batur Kelembang ini kita dapat melewati sebuah candi bentar. Pada areal jaba tengah (madya mandala) Pura Batur Kelembang ini, terdapat beberapa buah bagunan yang antara lain : pewaregan,  balai gong dan  sebuah bangunan bale kulkul. Dari areal jaba tengah   (madya mandala) ini untuk dapat mencapai areal jeroan (utama mandala) kita dapat melalui sebuah candi bentar.Pada areal jeroan (utama mandala) ini terdapat banyak pelinggih (tahta batu)  yang antara lain   adalah :

  • Pelinggih Ulun Suwi
  • Pelinggih Bhatara Dalem
  • Pelinggih Batur
  • Pelinggih Pesimpangan Bhatara Batukaru
  • Pelinggih Pesimpangan Bhatara Tamba Waras
  • Pelinggih Pesimpangan Bhatara Puseh
  • Pelinggih Pesimpangan Bhatara Panca Sakti
  • Pelinggih Jero Wayan dan Jero Nyoman
  • Balai Pemayasan
  • Balai Pesamuan
  • Balai Pewedan

Keseluruhan dari areal Pura Batur Kelembang  ini dikelilingi oleh tembok keliling (penyengker) yang terbuat dari bata dan juga masing-masing halaman, antara jabatengah (madya mandala)danjeroan (utama mandala) dibatasi dengan tembok pembatas yang juga terbuat dari struktur bata.

Data Arkeologi

Data arkeologi adalah data tentang nilai penting bangunan cagar budaya terhadap sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan serta kebudayaan dan memiliki  tingkat keaslian yang meliputi bahan, bentuk, tata letak dan tehnik pengerjaan, untuk menetapkan layak dan tidaknya bangunan dipugar berdasarkan data yang ada.

Data arkeologi yang terdapat di Pura Batur Kelembang Desa Rejasa, Penebel, Tabanan adalah berupa delapan buah tahta batu yang terdapat di jeroan pura. Tahta-tahta batu ini merupakan peninggalan dari masa megalitik yang  berfungsi sebagai sarana pemujaan. Tahta batu ini terletak di sisi sebelah utara (5 buah) dan di sisi sebelah timur (3 buah) jeroan Pura batur Kelembang dengan kondsi yang masih utuh dan terawat.

Lebih jelasnya mengenai data arkeologi yang terdapat di Pura Batur Kelembang akan diuraikan sebagai berikut :

A. Tahta Batu Sisi Timur

1. Pelinggih Ulun Suwi

Tahta batu yang dibuat dari batu kali dan papan-papan batu besar, terdiri atas dua tingkat, semakin ke atas semakin mengecil. Sebuah batu kali dengan sebuah penyangga menjadi sandaran, sebuah kali yang berukuran besar dengan permukaan yang rata menjadi tempat duduk, yang dilengkapi dengan masing-masing sebuah batu kali sebagai sandaran tangan kanan dan kiri, sehingga menjadi sebuah ruang. Tingkat pertama diberi alas dari dua buah batu kali yang permukaannya rata, dimana yang satu lebih besar daripada yang lainnya. Tahta batu ini berukuran panjang 180 cm, lebar 140 cm dan tinggi 134 cm. Disamping (kiri) Pelinggih Ulun Suwi  ini terdapat sebuah menhir.

2. Pelinggih Bhatara Dalem

Tahta batu yang merupakan pelinggih Bhatara Dalem terdiri dari dua tingkatan, dibuat dari batu kali dan papan-papan batu besar yang rata. Sandarannya adalah sebuah batu kali dengan dua buah batu penyangga, alas tempat duduknya dari sebuah papan batu besar yang rata serta sandaran tangan kanan dan kiri masing-masing dibuat dari sebuah batu kali, sehingga membentuk sebuah ruang. Tingkat pertama diberi alas dari sebuah papan batu besar yang rata, dan dikedua sisi sampingnya (sebelah kanan dan kiri) masing-masing terdapat sebuah menhir. Tahta batu ini berukuran panjang 150 cm, lebar 97 cm dan tinggi 97 cm.

3. Pelinggih Batur

Tahta batu ini terdiri dari dua tingkatan, dibuat dari batu kali dan papan-papan batu besar. Sandaranya dibuat dari sebuah papan batu besar, dengan alas duduk terbuat dari papan batu besar yang rata dan masing-masing sebuah batu sebagai sandarac tangan kanan dan kiri, sehingga menjadi sebuah ruang. Tingkat pertama diberi alas dua buah papan batu yang tidak sama besarnya. Tahta batu ini berukuran 170 cm, lebar 99 cm dan tinggi 142 cm. Tahta batu ini tidak diapit oleh menhir, tetapi telah diganti dengan dua buah arca pendeta buatan baru. 

B. Tahta Batu Sisi Utara

1. Pelinggih Pesimpangan Bhatara Batukaru

Tahta batu Pelinggih Pesimpangan Batukaru ini dibuat dari batu kali dan papan  batu bertingkat dua. Sandarannya dibuat dari sebuah papan batu besar yang permukaanya rata, alas tempat duduknya terbuat dari sebuah papan batu besar yang rata, dan sandaran tangan kanan-kiri masing-masing dibuat dari sebuah batu. Tahta batu ini bentuknya semakin ke atas semakin mengecil dan mempunyai sebuah ruang. Tingkat pertama diberi alas sebuah papan batu besar yang rata. Di sebelah kanan tahta batu ini terdapat sebuah arca pendeta buatan baru. Ukuran tahta batu ini adalah panjang 122 cm, lebar 89 cm dan tinggi 132 cm.

2. Pelinggih Pesimpangan Bhatara Tamba Waras

Tahta batu Pesimpangan Bhatara Tamba Waras dibangun dari batu kali dan papan-papan batu besar yang terbagi menjadi dua tingkatan, yang semakin ke atas semakin mengecil. Sebuah papan batu menjadi alas tempat duduk dan sebuah batu besar masing-masing menjadi sandaran tangan kanan dan kiri sehingga menjadi sebuah ruang. Tingkatan pertama tahta batu ini juga mempunyai alas dari sebuah papan batu besar yang rata dan di depannya terdapat dua buah menhir. Tahta batu ini memiliki ukuran panjang 126 cm, lebar 120 cm dan tinggi 136 cm

3. Pelinggih Pesimpangan Bhatara Puseh

Pelinggih ini terbuat dari batu kali dan papan-papan batu besar yang terdiri dari dua tingkatan, dimana semakin ke atas ukurannya semakin mengecil. Sebuah papan batu menjadi alas tempat duduk, dan sebuah batu masing-masing menjadi sandaran sandaran tangan kanan dan kiri, sehingga menjadi sebuah ruang. Tingkatan pertama dari tahta batu ini mempunyai alas sebuah papan batu yang besar dan rata serta di depannya terdapat dua buah menhir. Tahta batu ini berukuran panjang 135 cm, lebar 80 cm dan tinggi 122 cm.

4. Pelinggih Pesimpangan Panca Sakti

Tahta batu ini terbuat dari batu kali serta papan-papan batu besar dan bentuknya terbagi menjadi dua tingkatan. Sebuah batu kali menjadi sandaran yang disangga dengan batu-batu kecil, sebuah papan batu besar rata menjadi alas tempat duduk, dan masing-masing sebuah batu menjadi sandaran tangan kanan dan kiri sehingga membentuk sebuah ruang. Tingkat pertama tahta batu ini berbeda dengan tahta batu lainnya, ialah diberi alas sebuah papan batu besar yang permukaannya rata serta mempunyai sandaran tangan kanan dan kiri yang masing-masing dibuat dengan sebuah batu kali. Tahta batu ini mempunyai ukuran panjang 110 cm, lebar 80 cm dan tinggi 100 cm. Terdapat dua buah menhir di depan samping kanan dan kiri tahta batu Pelinggih Pesimpangan Panca Sakti ini.

5. Pelinggih Jero Wayan dan Jero Nyoman

Pelinggih ini dibuat dari batu kali dan papan-papan batu dan terbagi  menjadi tingkatan, yang masing-masing mempunyai dua buah ruang. Sebuah papan batu dijadikan sandaran tempat duduk, masing-masing sebuah papan batu sebagai alas tempat duduk untuk setiap ruang, sebuah batu sebagai pembagi ruang, serta masing-masing sebuah batu sebagai sandaran tangan kanan dan kiri. Tingkatan pertama mempunyai alas tempat duduk dari sebuah papan batu untuk masing-masing ruang dengan sandaran tangan kanan dan kiri masing-masing dibuat dengan sebuah batu serta dengan sebuah dengan sebuah batu pemisah ruang. Tahta batu ini berukuran panjang 125 cm, lebar 120 cm dan tinggi 105 cm dan didepannya terdapat dua buah menhir masing-masing di sisi depan kanan dan kirinya