Sedekah Bumi

  • WBTB

Sedekah Bumi

  • Post author:
  • Post category:WBTB

 

Sedekah Bumi dilaksanakan dalam kaitannya dengan aktivitas pertanian. Hal itu berhubungan dengan harapan agar lahan pertanian yang mereka garap senantiasa subur dan dapat memberikan hasil pertanian yang melimpah. Oleh karena itu, masyarakat memandang perlu mengadakan sedekah bumi. Bumi tidak lain adalah tanah tempat mereka melangsungkan hidup dan kehidupannya melalui aktivitas pertanian. Bagaimanapun juga, aktivitas pertanian sangat memerlukan tanah yang subur.

Upacara sedekah bumi dilaksanakan di beberapa tempat. Khusus di Provinsi Jawa Barat, salah satunya berada di Kampung Urug Desa Kiarapandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.

Upacara sedekah bumi dilaksanakan satu kali dalam satu tahun. Tepatnya, upacara berlangsung menjelang musim tanam padi yang pertama, dan jatuh pada hari Selasa, Rabu, atau Sabtu. Tujuan pelaksanaan upacara adalah, pertama, untuk menghormati bumi yang diibaratkan ibu. Ketika manusia masih bayi, dia menyusu pada ibunya, artinya diberi makan oleh ibunya. Ketika manusia tumbuh besar dan dewasa, dia akan menyusu pada bumi, artinya bumi adalah ibu. Bumilah yang memberikan beragam kebutuhan amakan dan minum bagi manusia dewasa; kedua, memohon berkah keselamatan dalam segala hal, mencegah berbagai penyakit dan hama; dan mendamaikan manusia dengan makhluk gaib yang mungkin merasa terganggu oleh aktivitas pertanian.

Perlengkapan yang digunakan untuk upacara adalah nasi, sayur mayur, daging, dan beraneka kue tradisional. Makanan tersebut disimpan di dalam rantang susun atau piring. Selain itu, mereka juga menyiapkan uang logam berapa pun jumlahnya dan sedikitnya 500 rupiah untuk keperluan tumbal atau kurban dipotong seekor ayam kampung, dengan bulu, kepala dan kakinya nanti akan dikubur di suatu tempat.

Upacara dilaksanakan di halaman rumah ketua adat, atau harus di tempat terbuka untuk menjaga keseimbangan dalam menggarap pertanian. Jika padi harus merasakan panas terik matahari, guyuran hujan, dan gelegarnya halilintar, manusia pun harus merasakan hal yang sama di tempat terbuka.

Makanan, sesaji dan tumbal dikumpulkan untuk diberi doa bersama yang dilakukan pada pukul 13.00 WIB. Pada saat itu ketua adat membuka acara, membahas panjang lebar maksud dan tujuan upacara, dan memimpin doa agar semua keinginan warga masyarakat terkabul. Acara diakhiri dengan makan bersama.

Para istri membawa sedikit makanan untuk ditumpahkan di sebuah lubang yang dijadikan tempat berkurban atau tumbal. Lubang itu berada di dekat gedong leutik. Di tempat itu pula dikuburkan kepala, bulu, dan kaki ayam sebagai tumbal untuk kesuburan bumi.