Syukuran Kelahiran Bayi di Kampung Cikondang

0
281

Syukuran Kelahiran Bayi di Kampung Cikondang
Oleh:
Ria Andayani Somantri
(Balai Arkeologi Provinsi Jawa Barat)

Kampung Cikondang, secara administratif masuk ke dalam wilayah Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Saat ini, Kampung Cikondang masih memiliki satu jenis kesenian tradisional yang sudah cukup sulit ditemukan di daerah lain, yakni seni beluk. Kesenian tersebut biasa ditampilkan saat digelar acara syukuran menyambut bayi yang baru lahir, selamatan rumah baru, selamatan sebelum atau sesudah sunatan, atau untuk peresmian suatu kegiatan pariwisata misalnya. Salah satu di antaranya, pertunjukan seni beluk dalam acara syukuran menyambut bayi yang baru lahir akan digambarkan pada uraian berikutnya.

A. Persiapan
Fase kehidupan manusia di dunia dimulai sejak dia lahir. Banyak kelompok masyarakat yang memandang penting fase tersebut, seperti halnya masyarakat Kampung Cikondang. Bagi mereka kelahiran bayi perlu disambut dengan menggelar acara syukuran atau salametan. Untuk kesempurnaan acara syukuran, orang tua bayi biasanya mengundang kelompok seni beluk tampil dalam acara tersebut. Acara salametan bisa dilaksanakan di salah satu usia berikut, yakni ketika bayi berusia satu minggu, 15 hari, 21 hari b b atau 40 hari.
Persiapan untuk melaksanakan acara selamatan bayi bergantung pada kemampuan dan keinginan dari orang tua bayi, apakah mau dilaksanakan dengan sederhana atau meriah dengan mengundang banyak orang. Akan tetapi, inti dari acara selamatan bayi tetaplah sama, yakni merupakan ungkapan syukur orang tua bayi karena telah dipercaya dan diberi amanah oleh Allah SWT mendapat keturunan. Selain itu, acara tersebut merupakan harapan-harapan kebaikan bagi bagi bayi mereka hingga kelak dewasa.

Kue Pelet
Kolontong
Rangening

Orang tua bayi biasanya akan menyiapkan berbagai keperluan untuk acara selamatan, dibantu oleh dukun bayi, dan sesepuh kampung. Dukun bayi dan sesepuh kampung biasanya biasanya bertanggung jawab menyiapkan kelengkapan terkait ritual dalam pelaksanaan acara salametan untuk bayi. Beberapa perlengkapan yang disiapkan untuk keperluan salametan untuk bayi di antaranya sesaji yang terdiri atas daun sirih yang diuntai menggunakan benang, gambir, kapur, buah pinang, telur, bako tampang, kemenyan, cermin, roko Gudang Garam, gula merah yang disir, dan cerutu; ; makanan dan minuman yang terdiri atas sangu salamet (seperti nasi tumpeng berisi ayam dan ikan asin yang dibungkus daun labu siam) pisang kepok, kolontong, ranginang, kue pelet, rangening, kelapa muda, dan kopi pahit; dan seperangkat perlengkapan untuk ritual gunting rambut bayi yang terdiri atas gunting, sisir, dan satu wadah air yang telah diberi bunga.
Ada beberapa perlengkapan salametan yang mengandung makna simbolik di dalamnya. Seperangkat perlengkapan untuk menyirih yang biasanya dibeuweung diutahkeun ‘dikunyah dan dimuntahkan’ oleh pemakainya merupakan simbol bahwa segala sesuatu yang akan diucapkan dan dilakukan itu harus difikirkan matang-matang dan berulang-ulang. Telur yang berbentuk bulat melambangkan segala niat yang baik itu harus bulat dan yakin.
Tim kesenian beluk juga mempersiapkan diri untuk hadir dan tampil dalam acara salametan bayi atas undangan orang tua bayi tersebut. Mereka biasanya menggunakan baju koko dan celana pangsi. Alam versi lengkap, personil esenian tersebut biasanya berjumlah 10 orang. Akan tetapi, dalam formasi lima orang pun pertunjukan seni beluk tetap bisa berlangsung. Yang paling penting mereka juga membawa buku atau panduan cerita yang akan dilantunkan pada saat pertunjukan beluk berlangsung.

B. Jalannya Pertunjukan
Pada jam yang sudah ditetapkan, saat itu siang hari, keluarga yang akan melaksanakan acara salametan untuk bayi yang baru lahir telah menyiapkan tempat di salah satu bagian rumahnya untuk melaksanakan acara tersebut. Di tempat itu pula sudah diletakkan berbagai perlengkapan untuk acara selamatan, berupa sesaji, perlengkapan untuk memotong rambut bayi, makanan, dan minuman,
Ruangan yang sudah ditata sedemikian rupa dan diberi alas karpet telah dipenuhi oleh kerabat dan tetangga yang diundang untuk menghadiri acara tersebut. Tokoh adat, tokoh masyarakat, serta kelompok seni beluk sudah hadir di tempat itu. Tak ketinggalan orang tua beserta bayinya juga sudah mempersiapkan diri berdandan rapi untuk acara tersebut.
Dalam acara salametan untuk bayi yang baru lahir, kelompok seni beluk memegang peranan penting. Ketua kelompok seni beluk menjadi pemandu jalannya acara tersebut. Adapun susunan acaranya adalah sebagai berikut:

  • Pembukaan. Ketua kelompok seni beluk mengawali acara salametan dengan membakar kemenyan terlebih dahulu. Setelah asap kemenyan memenuhi seluruh ruangan, dia mulai membuka acara yang intinya memberi salam kepada yang hadir saat itu, memohon izin kepada leluhur, dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maksud dan tujuan acara tersebut disinggung oleh dia, yakni ingin menyampaikan rasa syukur orang tua atas kelahiran bayi mereka. Tentu saja ungkapan rasa syukur itu disertai harapan yang baik agar anaknya kelak tumbuh sehat, berbudi luhur, dan taat beribadah. Intinya harapan-harapan yang baik orang tua untuk bayinya disampaikan pada saat itu.
  • Bertawasul. Bertawasul adalah aktivitas mengambil sarana atau wasilah agar doa atau ibadah seseorang dapat diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT; atau juga segala hal yang mendekatkan seseorang kepada Allah SWT, yaitu berupa amal kebaikan atau ketaatan yang disyariatkan. Kegiatan bertawasul masih dipimpin oleh ketua kelompok seni beluk.
  • Marhabaan. Untuk menyambut bayi yang baru lahir di Kampung Cikondang biasanya dilakukan tradisi marhabaan yang disertai dengan memotong rambut bayi dan memberi nama pada bayi. Ritual mencukur rambut atau marhabaan merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena telah diberi keturunan yang lahir dengan selamat. Ritual marhaban ini juga diyakini dapat menjauhkan bayi dari berbagai hal yang buruk, membuat bayi sehat sekaligus membuang kotoran yang dibawa sejak dia lahir. Ritualnya diawali dengan membawa bayi mengelilingi tamu dan sesaji sebanyak dua putaran . Selanjutnya sesepuh Cikondang mengambil gunting dan memotong sedikit rambut bayi (nanti akan digunduli), memegang kepala bayi sambal mendoakannya. Hal tersebut dilakukan oleh sesepuh-sesepuh yang hadir saat itu secara bergantian.
  • Pertunjukan Seni Beluk. Pertunjukan seni beluk dalam acara salametan untuk bayi menyampaikan wawacan barjah dengan beragam pupuh di dalamnya. Wawacan Barjah adalah salah satu wawacan yang terkenal di daerah pangalengan, termasuk juga di Kampung Cikondang. Adakalanya masyarakat menyebut Wawacan barjah dengan sebutan carita barjah. Wawacan tersebut menceritakan seseorang yang bernama Barjah, yang digambarkan sebagai tokoh pahlawan yang tiada duanya.
    Raden Barjah memutuskan pergi berkelana untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Sepanjang perjalanan tersebut, dia banyak dihadapkan dengan berbagai gangguan dan cobaan. Keuletan dia menmpelajari ilmu hikmah telah mampu mengatasi gangguan dan cobaan yang merintangi perjalanan hidupnya. Bahkan, hal itu yang menjadi jalan baginya untuk mencapai kejayaan dan kebahagiaan yang di acari selama ini.
    Carita Barjah disampaikan melalui beragam pupuh yang dilantunkan dengan karakter khas seni beluk. Ada yang bertugas memberi komando sebagai awal narasi, kemudian dilanjutkan oleh pemain beluk lainnya dengan karakter yang menjadi bagiannya masing-masing. Olah vokal dari nada dengan tingkat kesulitan yang rendah hingga tingkat kesulitan yang tinggi karena harus mengeluarkan lengkingan suara yang meliuk-liuk dengan nada tinggi. Cukup berat olah vokal seperti itu dan tidak setiap orang mampu karena memerlukan latihan dan keahlian khusus.
    Mereka yang hadir saat itu menikmati pertunjukan seni beluk yang menyampaikan Carita Barjah. Dari awal sampai akhir pertunjukan mereka tidak beranjak dari tempat duduknya. Mereka, termasuk orang tua bayi mengharapkan bayi yang baru lahir mendengarkan hal-hal yang baik berupa gambaran cerita yang berisikan nasihat, petunjuk, contoh, dan harapan baik untuk bayi. Harapan puncaknya dari orang tua adalah puncak kejayaan seperti yang dialami Raden Barjah dalam Wawacan Barjah.
  • Sangu Salamet

    Makan Bersama. Usai pertunjukan seni beluk berakhir, semua yang hadir di dalam acara salametan untuk anak yang baru lahir dipersilakan untuk menikmati semua makanan yang disajikan dalam acara tersebut. Sangu salamet menjadi incaran dari mereka yang hadir saat itu. Selain karena tampilan aroma dan rasanya yang cukup menggoda, berkah keselamatan juga diharapkan akan sampai pula kepada mereka yang menikmati sangu salamet. Begitu pula dengan beragam penganan lainnya yang telah disediakan oleh orang tua bayi menjadi hidangan yang bisa dinikmati mereka yang hadir pada saat itu. Selesai acara makan bersama, satu persatu tamu undangan kembali ke tempatnya masing-masing, tak terkecuali juga kelompok seni beluk yang sudah tampil dalam acara salametan untuk bayi yang baru lahir. Acara makan Bersama menjadi penutup seluruh acara salamaten yang diadakan oleh orang tua dari bayi yang baru dilahirkan.