Rest In Peace, Tedja Suminar

0
1109

“Aku melihat keindahan”, itulah kalimat terakhir yang sempat diucapkan Tedja Suminar di akhir hayatnya. Pelukis asal Surabaya ini meninggal pada Jum’at pagi, 24 Juni 2016, sekitar pukul 05.49 WIB di Rumah Sakit RKZ Surabaya. Kabar duka tersebut disampaikan salah satu putri Tedja, Theresia Swandayani melalui akun facebook miliknya, Swandayani Swan.

Tedja Suminar lahir pada 15 April 1936, bernama asli The Tiong Tien. Sejak kecil ia tertarik dengan dunia seni, dan memang hanya pelajaran kesenianlah yang ia sukai. Seni pula yang mendorongnya untuk belajar di Akademi Kesenian Surakarta (1957) sebagai mahasiswa angkatan pertama. Tedja kemudian memilih menekuni seni rupa dan melukis sketsa.

Sebagai pelukis sketsa, ia termasuk senior dan konsisten berkarya. Surabaya dan Bali kerap menjadi inspirasinya. Beberapa karyanya bahkan menjadi penanda moment penting kala itu. Seperti sketsa relief stadion Gelora 10 November yang diminta oleh Walikota Surabaya saat itu, Soekotjo, untuk menyambut PON VII tahun 1969. Ia juga pernah tercatat sebagai penata artistik film Suci Sang Primadona karya perdana (alm.) Arifin C. Noer (1977).

Tedja tak pernah lepas dari dunia seni rupa. Ia terus berusaha menjalin relasi dengan para seniman muda. Semangatnya tersebut menjadi sumber inspirasi yang tak pernah mati. Selamat jalan Tedja Suminar…

*dsy/GNI/bbs