RB. Ali: Dalam Sunyi Ada Bunyi

0
1903
RB. Ali di depan lukisannya berjudul Bisu

Tembang Sunyi memuat paradoks antara tembang yang sarat suara dan sunyi yang nir–suara. Apa sebenarnya yang ingin disuarakan RB. Ali dalam pameran tunggalnya kali ini?

“Tembang Sunyi”. Mendengar kata itu, seketika kesunyian memecah di kepala. Itulah tema yang diangkat RB. Ali dalam pameran tunggalnya di Galeri Nasional Indonesia. Namun kesunyian itu tak tampak sama sekali begitu memasuki ruang pamer. Riuh plastik bubble pecah akibat menerima beban tumpuan kaki setiap pengunjung yang datang. Memang, hamparan plastik bubble itu sengaja dibentangkan di seluruh lantai ruang pamer berukuran 23,52 x 6,81 meter. Tak ayal, pengunjung dimanjakan dengan sensasi riuh tak biasa untuk menikmati sebuah pameran seni rupa yang umumnya sunyi.

Ide RB. Ali untuk memasang plastik bubble tersebut bertujuan untuk mengajak pengunjung memikirkan lebih dalam tentang makna pameran Tembang Sunyi. “Dalam sunyi ada gerak, dalam sunyi ada bunyi” ucap RB. Ali saat press tour pada Jum’at, 3 Juni 2016 di Galeri Nasional Indonesia. Istilah “Tembang Sunyi” dipaparkan kurator pameran ini, Efix Mulyadi, mengetengahkan hubungan antara gerak dan diam, antara berisik dan suara. “RB. Ali sedikit banyak berusaha membunyikan lukisan-lukisannya untuk ditangkap dan bisa dimengerti orang banyak”, kata Efix.

Lukisan-lukisan RB. Ali itu, dipajang dalam ruangan bersekat tiga. “Ruang pertama ada tegangan yang diburu RB. Ali ketika merasa membutuhkan sesuatu di luar komposisi, sehingga muncullah sosok-sosok,” Efix mulai mendeskripsikan. Ada tokoh-tokoh politik yang menghiasi ruangan tersebut, seperti Basuki Tjahaja Purnama/Ahok (Gubernur DKI Jakarta) dan Tri Rismaharini (Walikota Surabaya) dalam karya berjudul Contemporary Figure #1 dan #2. Ada pula karya berjudul Silent dalam beberapa seri yang memvisualisasikan potret Munir (pejuang HAM), serta beberapa tokoh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yaitu Abraham Samad, Bambang Widjajanto, Antasari Azhar, dan Novel Baswedan. Efix menyebut karya-karya lukis di ruangan ini sebagai wajah kontemporer dari kondisi politis, juga ikon pencarian kebenaran. “Faktanya ruangan ini disiapkan untuk mengajak, merenungkan kebenaran seperti apa, serta melihat kondisi sosial politik negara kita,” jelas Efix.

Suasana Pameran Tunggal RB. Ali "Tembang Sunyi" di Gedung B Galeri Nasional Indonesia
Suasana Pameran Tunggal RB. Ali “Tembang Sunyi” di Gedung B Galeri Nasional Indonesia

Lain hal dengan ruang pertama, ruang kedua diisi figur-figur perempuan anonim, yang artinya bisa menyasar pada siapa saja. Penggarapannya tak lepas dari bentuk-bentuk geometrik, dekoratif, serta di sana sini kubistik. “Sosok-sosok perempuan ini mendorong kita untuk menemukan persoalan yang mungkin dialami seluruh perempuan. Kita diajak merenung apa yang bisa terjadi pada manusia,” papar Efix.

Di ruangan kedua juga ada lukisan ekstra besar empat panel dengan total ukuran 275 x 580 sentimeter. Lukisan berjudul Bisu yang eksekusinya dilakukan bersama kelompok Palang Pintu tersebut cenderung bermuatan sosial–politik. Digambarkan masyarakat yang saling tidak mendengar. Secara politis, aspirasi masyarakat saat ini sering tidak sampai pada kalangan pemerintah.

Selain lukisan, RB. Ali juga menggarap patung/instalasi yang salah satunya ia tunjukkan di ruang ketiga. Mata pengunjung dimanjakan dengan permainan visualisasi bentuk dan warna hasil refleksi cahaya overhead projector atau biasa disebut OHP. Dalam karya berjudul Ke(bisu)an itu, RB. Ali mencampurkan minyak dan air berbagai warna dalam wadah transparan di atas sorotan lampu OHP. Wadah itu dimainkan dengan cara dimiringkan ke samping kanan, kiri, atas, dan bawah, sehingga guliran air dan minyak warna-warni tersebut menghasilkan visualisasi gerak yang indah.

Pameran tunggal keenam RB. Ali ini dinilai Efix menunjukkan suatu perubahan. Perupa kelahiran Lampung, 25 Agustus 1975 itu tak melulu melukis figur perempuan. Ia bergeser pada potret tokoh bermuatan politis, bereksplorasi dengan karya patung, dan kini menjajal wilayah baru berupa instalasi yang memanfaatkan OHP, air, dan minyak. “Karena itulah saya anggap RB. Ali seniman kreatif, artinya berani meninggalkan zona aman, memasuki zona yang banyak coba-coba, sedikit berhasilnya,” puji Efix pada RB. Ali yang mengaku tak pernah melakoni secara formal pendidikan seni rupa.

“Ada pertanyaan dalam diri saya, kenapa melukis seperti ini lagi. Di sinilah saya ingin berubah. Karya-karya saya merupakan ungkapan kegelisahan dalam diri saya,” aku RB. Ali. Meski begitu, ia berujar tidak mengarahkan perubahannya seperti apa. Proses berkaryanya mengalir saja.

RB. Ali merupakan salah satu perupa yang aktif berkarya. “Sudah menjadi bagian dari Galeri Nasional Indonesia untuk mewadahi potensi perupa, termasuk RB. Ali,” kata Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus ‘Andre’ Sukmana saat malam pembukaan Pameran Tunggal RB. Ali “Tembang Sunyi” pada Jum’at, 3 Juni 2016.

Pameran “Tembang Sunyi” masih dapat diakses pengunjung hingga 20 Juni 2016, pukul 10.00 – 18.00 WIB di Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini terbuka untuk umum dan bebas biaya.

 

*dsy/GNI