Pameran Keliling GNI Berpijak di Tanah Sulawesi Tengah

0
1216
Galeri Nasional Indonesia akan Gelar Pameran Keliling di Sulawesi Tengah
Galeri Nasional Indonesia akan Gelar Pameran Keliling di Sulawesi Tengah

Baru saja digelar di Daerah Istimewa Yogyakarta, di bulan yang sama November ini, Pameran Keliling Galeri Nasional Indonesia (GNI) akan kembali digelar di Sulawesi Tengah, tepatnya di Taman Budaya Sulawesi Tengah. Tema yang diangkat kali ini adalah “Bumi Tadulako: Mareso, Maroso Rupa”.

Istilah ‘tadulako’ dijelaskan Hapri Ika Poigi (Asisten Kurator) dalam tulisan kuratorialnya, berasal dari kata ‘tadu’ berarti tumit dan ‘lako’ yang berarti melangkah, bermakna sebagai tanah tempat berpijak. Dari ketadulakoan terjunjung sebuah nilai tinggi berupa keyakinan identitas diri, spirit dalam setiap melangkah dan bergerak. Tadulako, identik dengan sosok seseorang yang menjadi panutan atau pemimpin di dalam stratifikasi sosial dalam struktur kemasyarakatan. Di sinilah spirit ketadulakoan menjadi titik tumpu dalam setiap aktivitas gerak dan dinamika kehidupan di Bumi Tadulako termasuk dalam penciptaan karya seni, dimana makna terserap dalam diri untuk selalu mengayomi, pemberani, bertanggung jawab, bekerja keras, menjadi pionir bagi mereka yang terdepan, sebagai simbol keutamaan. Pameran “Bumi Tadulako” adalah sebuah peristiwa budaya yang dilakoni oleh tadulako-tadulako yang ada di Sulawesi Tengah, tentunya akan menjadi spirit yang berjangkauan panjang ketika disandingkan dengan karya para maestro seni rupa Indonesia.

Ditambahkan A. Sudjud Dartanto (Kurator Pameran) dalam tulisan kuratorialnya, Pameran “Bumi Tadulako: Mareso, Maroso Rupa” dapat dikatakan sebagai pameran yang menampilkan berbagai representasi simbolik berbagai wacana. Ibarat sebuah pohon yang dibelah secara horizontal, teks/karya seni rupa seperti lembaran kayu, dimana setiap kepingannya dapat diamati struktur ruasnya. Apabila kita kembalikan kepingan kayu itu secara utuh, maka dapat pula dilihat bahwa struktur ruas kayu ternyata berhubungan secara vertikal (historis). Ilustrasi itu saya pakai untuk mengatakan bahwa karya seni rupa juga sekaligus merupakan produk sejarah, seni rupa bukanlah seni rupa yang ahistoris, oleh karena itu seni rupa di Sulawesi Tengah perlu menempatkan seluruh praktik penciptaan karya seni rupanya ke dalam rel sejarahnya, dari situ akan teramati babak-babak perkembangannya.

Pameran “Bumi Tadulako: Mareso, Maroso Rupa” menampilkan 30 karya dalam berbagai media dan teknik berupa lukisan, drawing, grafis (etsa), batik, kriya logam, instalasi, dan video art. 15 diantaranya merupakan karya pilihan koleksi GNI (koleksi negara). Seperti karya Abas Alibasyah, Hendra Gunawan, Rusli, Srihadi Sudarsono, dan Tisna Sanjaya. Sedangkan 15 karya lainnya merupakan hasil olah artistik para perupa Sulawesi Tengah terpilih. Seperti karya Endeng Mursalin, Muhammad Ridwan (Iwan Tulang), Rio Simatupang, Taufiqurrahman, dan Udhin F.M. Karya-karya tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan tim kurator pameran ini.

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus ‘Andre’ Sukmana, berharap semoga pameran ini mampu memberikan suguhan yang inspiratif serta edukatif untuk para pelajar dan publik luas khususnya masyarakat Sulawesi Tengah untuk menyaksikan secara langsung karya-karya asli yang memiliki nilai historis dalam sejarah seni rupa Indonesia. “Selain itu juga diharapkan mampu memberi motivasi untuk menumbuhkan kecintaan dan penghargaan kepada para seniman daerah. Ini kesempatan yang berharga untuk menunjukan keberadaan dan potensi perupa Sulawesi Tengah dalam bidang seni rupa, sehingga para pemangku kepentingan di bidang seni budaya bisa mendorong dan mewadahi mereka untuk tetap kreatif dan survive menggeluti dunianya,” papar Andre.

Perhelatan ini juga dilengkapi dengan serangkaian acara. Diantaranya Pameran Seni Kriya dan Lukis Tingkat SLTP se–kota Palu 2015, Lomba Seni Lukis Kolektif Tingkat SD se–kota Palu 2015, dan Festival Teater/Sastra Remaja 2015.

Pameran “Bumi Tadulako: Mareso, Maroso Rupa” merupakan hasil kerjasama Galeri Nasional Indonesia dengan Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah. Pameran ini akan berlangsung mulai 18 hingga 21 November 2015 mendatang.

*dsy/GNI