Tari Sining, Tari Masyarakat Gayo (3)

0
2571

Dalam tata bahasa Gayo Sining mempunyai makna dan peruntukkan yang berbeda. Dalam bahasa komunikasi verbal kata “Sining” lebih diidentikkan dengan pengertian sebagai sebuah gerakan yang menjadikan sebuah objek untuk diperlakukan secara khusus dengan maksud dan tujuan tertentu. Tidak heran jika dalam pergaulan sehari-hari masyarakat kerap terdengar kalimat ungkapan :

 

“sana kati puse-sining- win”

(ngapain berputar-putar/mondar-mandir win). Atau kalimat yang lebih tendesius dalam pergaulan antar anak muda adalah :

“enti puse-sining- kuarapku ni win, lagu nyonek le” (jangan berputar-putar/mondar-mandir di hadapan saya win, seolah mencari sebab).

 

Kata yang hampir sama kerap juga terdengar dengan peruntukan yang berbeda dengan vocal dan aksen yang juga berbeda. Contoh dalam beberapa kata berikut:

  1. Sénéng, yang bermakna semacam ancang-ancang sebelum berkelahi atau seperti ayam yang akan bersabung; bersisénéng-sénéngen (saling bersiap diri untuk berlaga).
  2. Séngkér mempunyai pengertian sebagai sesuatu yang bersikap, bertindak, bergerak miring, tukik (menukik) ke kiri atau ke kanan. dan yang terkahir adalah
  3. Sining diartikan sebagai nama sejenis tarian dengan cara setengah berlari sambil mengibas-ngibaskan kain.

 

Dari gambaran tersebut dapat dijelaskan bahwa tari Sining adalah adaptasi gerak dari perilaku unggas (burung) yang hidup liar di lingkungan alam dataran tinggi Gayo. Sebagaimana gerak dasar tari daerah di nusantara, ciri dan sejarah yang melatari munculnya tarian tradisional tersebut dapat dikenali asal-usulnya. Tari daerah dataran tinggi memperlihatkan ciri ekspresif, simbolik dan pola yang berbeda dari wilayah yang dekat dengan pantai.

Budaya mengartikan hal-hal yang menyangkut dengan pikiran manusia dan menjadi latar belakang mewujudkan perlakuan untuk menghasilkan suatu karya dan bentuk tarian. Mengandung unsur  pengetahuan, kepercayaan dan nilai-nilai yang terkait dengan adat-istiadat dan budayanya. Unsur-unsur tersebut ditransformasikan melalui berbagai bentuk, baik sastra lisan, seni peran, seni suara, seni gerak, ritual adat dan lain sebagainya.

 

Pola lantai.

Pola lantai yang dilakukan oleh penari Sining Gayo adalah perpindahan dua tempat yang berbeda dalam satu kesatuan ruang (space), yaitu atas dan bawah. Pergerakan, dan pergeseran posisi dalam space di lante (lantai) dan bere ni umah (atas) disesuaikan dengan filosofi gerak sebagai sebuah simbol prosesi.

Penggunaan pola lantai ini sekaligus menjadi blocking bagi penari Sining dengan ruang gerak dan posisi ekpresi yang lebih terarah ke Bere ni Umah  sebagai properti utama. Dengan dua orang penari Sining pola lantai vertikal (lurus) bukanlah depan-belakang seperti halnya tari tradisional umumnya yang membentuk barisan belakang/depan se-lantai. Tetapi vertikal atas-bawah yang membentuk formasi tiang (reje tiang) sebagaimana pagelaran tari Sining itu sendiri dalam sejarahnya.

Pada pola lantai ini, penari membentuk garis vertikal antara penari yang berada di atas bere dan penari yang berada di lantai, baik bentuk lurus maupun lurus tak beraturan. Pola lantai ini menggambarkan keterpaduan dan ketergantungan gerak (komunikasi ekspresi) antara dua orang penari dalam menggambarkan prosesi dan ritual pendirian tiang utama sebuah rumah adat. Penggambaran keharmonisan, kekuatan sekaligus dinamika dan artistik ekpresi penari.

Formasi pola lantai horizontal tari Sining Gayo hanya ketika dua orang penari berada di depan atau di atas properti utama berupa bere ni umah. Tahap ini pada awal (opening), dimana dua sudut yang berbeda menjadi tempat pengkondisian space dan blocking. Pada akhir pertunjukan justru sebaliknya, kedua penari memposisikan diri dengan pola lantai horizontal atas bawah. Satu penari berada di atas bere ni umah bagian kiri dan seorang penari lagi berada di sebelah kanan bawah, sejajar dengan membelakangi tangga bere ni umah. Pada pola lantai ini penari seolah berbaris dengan kemiringan 60 derajat membentuk garis serong ke samping.

Gerak kepakan sayap (ulen-ulen) bisa muncul atau dimunculkan sesuai pola  lantai dengan posisi kaki menjinjit (berdiri di atas ujung jari kaki). Demikian juga dengan geraka-gerakan Sining (melingkar/memutar, membungkuk, mengibas kekanan kekiri, depan, belakang atau ke udara). Dinamisasi gerak dapat berupa ekspresi individual yang berkausalitas, dapat juga gerakan-gerakan yang sifatnya terpola dan seragam.

Sebagai bentuk komunikasi gerak dan resfon ekspresi sebagaimana pengadaptasian dari gerak burung wo dan unguk, antar penari mempunyai sinergisitas gerak yang saling mendukung. Pola ini akan memungkinkan pesan dan simbol yang terkandung dalam tarian akan tergambar secara kronologis, bertenaga dan ekspresif.

Demikian pula dalam komunikasi gerak dan resfon menirukan petua adat dalam prosesi pembangunan rumah adat, keseimbangan tubuh penari yang berada di atas bere ni umah dengan pola gerak penari lainnya yang berada selantai haruslah mencerminkan sebuah tarian ritual yang saling berhubungan. Baik melalui komunikasi maupun ekpresi gerak seluruh anatomi tubuh, indra penglihatan, mimik muka, tangan dan kaki maupun resfon lainnya dalam bentuk suara, pekikan maupun dalam bentuk gumaman yang menyerupai bacaan mantra.

Sementara para penabuh bunyi-bunyian (pemusik) membentuk garis setengah lingkaran di kanan dan kiri dari bere ni umah ditempatkan, posisinya menjadi batas space lantai sekaligus menjadi blocking peformen seperti layaknya pemetasan kesenian Didong Jalu dalam masyarakat Gayo.

Blocking pengiring musik adalah bagian yang tak terpisahkan dari satu kesatuan peforman Sining. Meski dalam posisi blocking  yang bersifat statis, semua unsur yang terlibat dan terlihat dalam frem panggung sesungguhnya berada dalam satu kesatuan ekspresi. Ritme musik sangat mempengaruhi tempo gerak, demikian juga sebaliknya. Gerak pemusik adalah cerminan antusiasme masyarakat dalam prosesi adat dan ritual pembangunan rumah adat. Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa pemusik adalah penari Sining itu sendiri, dan penari Sining adalah pemusik  yang bergerak diantara bere ni umah.

 

Ike jema bedidong ataupé betari, Céh pemainné

Penepok pengiringé den juge pemainné

Antara reroanné gere nguk ipepisah

Tapé béwéné sara seni, sara rasa den sara sur

 

Terjemahannya:

Dalam seni didong atapun ber-tari, Ceh pemainnya

Penepuk sebagaai pengiring musik juga pemainnya

Antara keduanya tidak bisa dipisah-pisahkan

Tetapi semua satu ekspresi, satu rasa dan satu refren

 

Tahapan Gerak dan Space.

Kronologis koreografi tari Sining versi revitalisasi dapat dirunutkan sebagai berikut:

  1. Sesosok berdiri di sisi kiri properti utama dengan mengangkat ulen-ulen. Kaki kaku berdiri di atas ujung jari dan kedua belah tangan mengacung ke atas sambil menggetar-getarkan ulen-ulen menyimbolkan persalaman dan tepungtawar. Selanjutnya mengibas dan ber-Sining ke sudut kanan bere ni umah, ke sekitar dan berakhir di tengah space.
  2. Dari sudut yang sama penari (petua adat) mengambil space dengan gerakan jenyong dipadukan dengan gerakan tinyo. Antara penari pertama dan kedua cenderung melakukan gerakan serentak dan selaras.
  3. Interaksi dan komunikasi gerakkan, dengan jenis geral jingket, ayun dan tari ni wo.
  4. Gerakkan Sining dan kepur menghantarkan kedua penari mendekati proferti utama (bere ni umah).
  5. Mendekatai tangga dan melakukan gerakan ancang-ancang untuk menaiki bere ni umah dengan gerakan nété dan gerakan tangak bere.
  6. Ketika posisi sudah di tengah-tengah bere ni umah, penari melakukan gerakan Sining, temabur burak, gerdak dan jenyong.
  7. Kedua penari selanjutnya memadukan gerakan jenyong dengan gerakan pöröh d

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201900822

Nama Karya Budaya :Sining

Provinsi :Aceh

Domain :Seni Pertunjukan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda