Tari Sining, Tari Masyarakat Gayo (2)

0
2163

Dilihat dari segi tema dan objek yang melatarbelakangi sebuah tarian, tari tradisional yang berkembang di Aceh secara umum terbagi atas dua katagori, yaitu tari tradisi dan tari kreasi baru. Dengan latarbelakang agama dan tradisi misalnya tari Seudati, Laweut, Saman Gayo, Meusekat, Rapai Wahid dan lain sebagainya. Sementara dengan latarbelakang cerita rakyat (sejarah), legenda dan kearifan lokal misalnya tari Guel, Bines, Pho, Ale Tunjang, Inen Mayak Pukes dan lain lain. 

Dalam hal ini tari Sining dapat digolongkan ke dalam tari tradisional dengan latarbelakang adat masyarakat Gayo dengan unsur-unsur agama yang kental di dalamnya. Mengacu kepada rumah adat Gayo (umah pitu ruang) yang masih tersisa hingga saat ini, dan arsitektur bangunan rumah adat Gayo yang dibangun pada tahun 2003 di Kota Takengon, tari Sining Gayo diperagakan pada posisi bere ni umah yang berada  di atas, mengapit dua tiang utama yang disebut dengan reje tiang.

Dimana letak dan posisi sang penari persis di tengah-tengah antara dua tiang penyangga tersebut dengan menghadap ke depan. Bere ni umah adalah wadah yang dijadikan objek yang menjadi puncak ekspresi sebuah ritual.

Sementara pengiring dari penari utama (petua adat) dari tari Sining berada di bawah bangunan dengan posisi sekitar reje tiang, atau pada posisi lainnya di permukaan sekitar bangunan sebagai bentuk kendali atas gerak dan dinamika penari utama yang berada di atas bangunan. 

Fakta dan kesaksian sejumlah narasumber menyatakan terakhir tarian Sining disaksikan secara utuh sebagai sebuah tarian prosesi/ritual mendirikan rumah adat pada tahun 1946, ketika pendirian rumah adat Kerajaan Syiah Utama di Kampung Nosar. Sebuah kampung tua yang terletak di pinggiran Danau Lut Tawar bagian selatan.

Tarian tersebut dilakonkan/ditarikan oleh seorang lelaki tua bernama Aman Kayani dengan sejumlah petua adat lainnya lainnya yang bertindak sebagai pengiring. Usai prosesi tersebut, Arifin Banta Cut mengaku tidak pernah melihat dan menyaksikan lagi tarian yang sama dilakonkan/dipargelarkan secara utuh (kronologis ritual) oleh masyarakat hingga bulan Oktober 2016. Baik sebagai sebuah tarian rakyat yang dikreasikan maupun sebagai sebuah tarian prosesi adat mendirikan bangunan baru.

Seorang pengamat dan pelaku budaya asal Gayo Lues Ramli yang juga mantan Sekertaris Daerah (Setda) Kabupaten Gayo Lues tahun 2012, menjelaskan bahwa tari Sining pernah ia saksikan di Kampung Pining Belangkejeren, bahkan pada masa kanaknya ia sempat berlatih tarian tersebut. Seperti halnya juga dengan Arifin Banta Cut, Ramli tidak pernah lagi melihat dan menyaksikan tarian tersebut dilakonkan masyarakat dalam prosesi pembangunan rumah adat hingga saat ini. Karena pembangunan rumah adat untuk seorang raja dan atau bagi masyarakat, sepanjang tahun-tahun tersebut juga tidak pernah ada lagi. 

Namun Ramli mengaku tarian tersebut dengan media dan bentuk berbeda justru masih kerap dilakukan oleh remaja di Belangkejeren Kabupaten Gayo Lues, persamaannya terletak pada gerak melingkar sambil mengibas-ngibaskan sehelai kain panjang sambil menepuk-nepuk tangan sebagai music latar dan ber-syair. Tarian tersebut oleh masyarakat setempat disebut dengan tari Bines.

Sementara itu Arifin Banta Cut, salah seorang putra raja dari kerajaan Siyah Utama terakhir dan juga cucu dari penari Sining Aman Kayani, mengaku menyaksikan tarian tersebut ditarikan di atas kayu rumah bagian atas rumah adat (bere ni umah).  Tarian bermula dari di atas dulang yang berada di bawah bangunan dengan gerakan seolah meminta ijin kepada bahan bangunan yang kesemuanya dari kayu dan daun tetumbuhan. Gerakan di atas dulang melingkar-lingkar sambil mengucapkan syair-syair tertentu dalam bahasa Gayo.

Gerakan di atas dulang kemudian berlanjut ke atas bangunan, sang penari Sining kemudian secara perlahan menaiki anak tangga yang telah dipersiapkan dari sisi yang berbeda hingga tiba di atas bangunan. Di atas tiang yang telah berdiri tegak dengan kayu lintang yang menghubungkan antara satu tiang dengan tiang lainnya, sang penari kembali menari dengan mengibas-ngibaskan kain dengan sejumlah dedaunan yang berada dalam sebuah wadah.

 

 

Filosofi Tari Sining.

Secara umum tari tradisional Gayo berawal dan diilhami dari lingkungan alam dengan segala jenis dan bentuknya, baik nilai budaya dan adat maupun dari kehidupan flora dan fauna. Adaptasi dan gagasan yang dibangun mengacu kepada nilai-nilai kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan syariat, yang dalam bahasa adat diungkapkan dengan kalimat; 

 

Angin muasal, ujen mu usul, perbueten muasaliah

Gere mupestak ari langit gere mupancur ari bumi

Maknanya;

segala sesuatu mempunyai asal muasal, dan

setiap perbuatan mempunyai kausalitas

 

Segala sesuatu bukan jatuh dari langit 

Bukan begitu saja terpancar dari bumi 

 

Setiap gerakan tari yang lahir dari akal budi manusia akan melahirkan sebuah komposisi perlambang (simbol) yang mempunyai makna dan maksud tertentu.

 

Ku edet gere pipet, ku ukum gere bele

Éwét ari muni, lumpet ari kedih, teragong ari kude, lelih ari kedidi

Lingang ni pumu, geritik ni kéding,jentik ni kerlang, ayun ni beden

Jangin ari puné, lingék ari jampök, kepur ari unguk tari ari nu uwo

 

Terjemahannya;

 

Ke adat tidak menimbulkan kekacauan, ke agama tidak menimbulkan bala

Cibir bibir dari kera, loncat dari monyet, teragong dari kuda, kemanjaan dari burung kedidi

Lingang dari tangan, geritik dari kaki, jentik dari bahu, ayun dari badan

Jangin dari burung puné, lingek dari burung jampök, kibas dari burung unguk

tari dari burung uwo

 

Rangkaian kalimat-kalimat adat tersebut menggambarkan bahwa pengadaptasian gerak tari yang bersumber dari alam selalu mempunyai kausalitas dengan bentuk peniruan yang diselaraskan dengan tata nilai agama dan budaya. Baik dari segi gerakan, bunyi-bunyian, suara, pakaian dan lain sebagainya.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, tari Sining adalah sebuah tarian klasik masyarakat Gayo yang terkait dengan prosesi pembangunan rumah tempat tinggal. Unsur-unsur gerakkan yang dimanifestasikan dari kalimat adat Kepur nunguk tari ni uwo (kibasan burung unguk dan tariannya burung wo). 

Unguk adalah salah satu spesias burung yang terdapat di dataran tinggi Gayo yang mempunyai kekhasan dan keindahan dalam menggerakkan / mengibaskan sayap-sayapnya. Gerak dan leok tubuhnya yang gemulai saat terbang dengan kedua sayap mengembang. 

 Sementara wo adalah spesias burung lainnya sejenis ayam hutan. Pada waktu-waktu tertentu wo melakukan gerakan-gerakan seolah sedang menari. Sebelum melakukan kegiatan-kegiatan tertentu burung wo selalu mengawali dengan membersihkan tempat tinggalnya terlebih dahulu. Gerakan dan gaya menari yang diperagakan makin lama semakin lincah dan energik sehingga melupakan sejenak akan lingkungan sekitarnya. 

Demikian hikmat dan asyiknya gerakan dan tarian burung wo sehingga menjadi sebuah perumpamaan. “Andai kata sebilah pisau diberdirikan di arena tempat burung wo menari ia akan menggesekkan lehernya ke pisau tersebut sampai berdarah”. Mencermati kata klasik yang menghasilkan gerakan maknawi tersebut tergambar gerakan dasar tari Gayo berasal dari kedua jenis burung ini. 

Sementara gerakan dari hewan atau dari yang lain dan gerakan murni yang selaras dan serasi adalah untuk melengkapi gerakan yang ada, sehingga tarian yang dihasilkan memperlihatkan peragaan yang estetis. Gerakan kaki burung wo menjadi ciri khas tari Sining yang membedakannya dengan tarian Gayo lainnya. Arti Sining adalah melakukan gerakan melingkar, gerakan indah membuat lingkaran. Gerakan ini menggambarkan apa yang diperagakan oleh burung wo. Putaran gerakan didominasi ke arah yang berlawanan dengan putaran bumi. Dengan demikian tari Sining menjaga keseimbangan walaupun dengan membuat gerakan melingkar/memutar di atas ketinggian tertentu.

Secara sepintas sama dengan tari Whirling Dervishes, tarian berputar yang dilakukan dalam keadaan meditasi oleh para sufi. 

 

Dilakukan oleh para sufi berjubah putih melebar di bagian bawah dan mengembang selingkaran penuh saat penari berputar-putar. Tarian ini adalah bentuk dzikir yang semua gerakan arah berputar, formasi dan kostumnya sarat dengan simbol religi. Tarian diawali dengan para sufi mengenakan jubah hitam, untuk selanjutnya dilepas sehingga terlihat jubah putih yang menandakan kebenaran (kesucian) sudah terlahir mengalahkan kegelapan. Kemudian penari membungkuk dengan menyilangkan kedua tangan di dada, merupakan ungkapan akan kebesaran Tuhan. Setelah itu penari akan berputar lembut berlawanan dengan arah jarum jam, berporos pada kaki kiri, tangan terentang dengan telapak tangan kanan menghadap ke langit, menandakan kesiapan menerima kebaikan Tuhan, dan tangan kiri mengarah ke bumi. Para penari terus berputar sambil berjalan membentuk lingkaran mengelilingi seorang yang hanya berputar di tempat sebagai pusatnya.

 

Ide dan peniruaan dari alam menjadi sebuah tarian Sining mempunyai kesamaan dengan tari Kancet Lasan dan tari Kancet Ledo. Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah Kalimantan karena dianggap sebagai simbol keagungan dan kepahlawanan. Bedanya, tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita yanag banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.