Sejarah Silat Pelintau, Silat Asal Tamiang

0
1547

Silat Pelintau dikukuhkan pada tahun 1953 oleh Maha Guru OK Said bin Unus yang merupakan putra asli Tamiang. Sebelumnya, beliau sempat berkelana sejak usia 15 tahun untuk mencari ilmu silat, mulai dari Samosir hingga ke Siak sampai akhirnya kembali ke Tamiang untuk berguru kepada Tengku Lotan. Dahulu, Silat Pelintau diajarkan secara sembunyi-sembunyi dan diajarkan kepada pemuda-pemuda Tamiang agar dapat mempertahankan dari dari serangan musuh dan utamanya membantu usaha-usaha untuk mengusir para penjajah Belanda dari tanah Tamiang. Setelah dikukhkan pada tahun 1953, barulah Silat Pelintau ini dapat diajarkan secara terang-terangan.

Nama Pelintau diambil dari Bahasa Tamiang asli yaitu “pelin” dan “tau”. “Pelin” berarti semua sedangkan “tau” artinya tahu. Sehingga “pelintau” berarti “semua tahu”. Pada permainan pencak silat ini terdapat urutan permainan yang harus ditampilkan, meski pada beberapa kesempatan, bebrapa permainan bisa dihilangkan sebagian.

Pada penampilan Pencak Silat Pelintau, pemain juga dapat menampilkan Tari Piring  sebagai selingan. Tari Piring dimainkan oleh penari perempuan berjumlah 4 sampai 8 orang dan basanya ditampilkan pada saat-saat khusus seperti malam berinai. Sementara property yang digunakan adalah 2 buah piring kecil yang dipegan oleh masing-masing penari yang pada jarinya manisnya terdapat cincin untuk diketuk-ketukan pada piring.

Dari segi penyajian langkah, silat ini memiliki 4 pola gerak;

1. Gerak salam sembah, yaitu gerak untuk menghormati para guru dan hadirin lainnya sebagai symbol menjaga keharmonisan dalam permainan dan kesadaran sebagai makhluk biasa.

2. Gerak titi batang, yaitu gerak pembukaan guna mendapatkan keseimbangan tubuh di samping digunakan sebagai posisi berkonsentrasi sebelum memantapkan langkah-langkah gerak selanjutnya.

3. Gerak langkah tiga dan langkah empat, yaitu merupakan gerak langkah dasar untuk pemecahan gerak-gerak langkah selanjutnya. Gerak langkah selanjutnya memunculkan beberapa jurus dan variasi langkah.

4. Gerak salam terakhir, yaitu gerak yang merepresentasikan permohonan maaf kepada guru dan hadirin serta kawan pemain.

Silat Pelintau bagi masyarakat Tamiang adalah silat seni. Ada dua jenis silat seni dimaksud yang popular pada masyarakat Tamiang, yaitu silat rebas tebang dan silat songsong. Jenis silat seni inilah yang membedakan silat Tamiang dengan silat-silat lainnya. Pada silat songsong, gerakannya digunakan untuk menyambut tamu kehormatan dan biasanya pada kehidupan masyarakat sehari-hari ditampilkan pada kenduri pernikahan di halaman rumahn untuk menyambut pihak keluarga besan.

Sementara silat rebas tebang khusus digunakan untuk menyongsong mempelai pria pada pernikahan, pada upacara sunat rasul untuk menyongsong anak yang telah disunat dan pada acara turun tanah khusus untuk menyongsong anak laki-laki. Makna yang terkandung dalam penampilan Silat Pelintau adalah sebagai berikut:

1. Pada upacara pernikahan: untuk mendidik dan menanamkan nilai suami sebagai pelindung rumah tangga.

2. Pada upacara sunat rasul: senagai symbol mendidik dan menanamkan nilai bahwa anak laki-laki yang telah baligh akan menjadi pelindung keluarga sehingga harus memiliki karaktern pemberani.

3. Pada upacara turun tanah: sebagai simbol untuk mengarahkan keluarga utamanya orang tua bahwa telah lahir seorang calon pemimpin dalan keluarga.

Silat rebas tebang sebagai salah satu bentuk silat seni Pelintau ditampilkan dengan gerakan maju sambil menebas batang pisang yang telah ditanam di kiri kanan jalan yang ditempuh dengan menggunakan kelewang (pedang). Para pesilat menunjukkan kemampuan mereka untuk penebas batang pisang sekurang-kurangnya menjadi tiga potongan meskipun ada yang hingga mencapai tujuh potong dengan kondisi batang pohon tetap tegak berdiri (tidak tumbang).

Sementara pada permainan pencak silat ini terdapat urutan permainan yang harus ditampilkan, meski pada beberapa kesempatan, bebrapa permainan bisa dihilangkan sebagian. Urutan permainan pencak silat tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pembukaan Songsong, berbaris dua shaf dan saling berhadap-hadapan sambil bermain silat.

2. Pembukaan Bulat

3. Bermain RencahTebang Batang Pisang (rebas tebang)

4. Bermain Jurus Tunggal

5. Bermain Tangan Kosong

6. Bermain Pisau Satu

7. Bermain Pisau Dua

8. Bermain Toya atau Tongkat

9. Bermain Pedang Laga

10. Bermain 1 lawan3 atau 1 lawan 4

 

Pada penampilan Pencak Silat Pelintau, pemain juga dapat menampilkan Tari Piring  sebagai selingan. Tari Piring dimainkan oleh penari perempuan berjumlah 4 sampai 8 orang dan basanya ditampilkan pada saat-saat khusus seperti malam berinai. Sementara property yang digunakan adalah 2 buah piring kecil yang dipegan oleh masing-masing penari yang pada jarinya manisnya terdapat cincin untuk diketuk-ketukan pada piring.

 

Pada setiap penampilannya, Pencak Silat Pelintau mengunakan kostum yang terdiri dari :

1. Baju dan celana berwarna  hitam untuk putra maupun putri

2. Tengkuluk berwarna biru kehijauan bagi pemain silat putra dan jilbab biru bagi  pemain putri

3. Selempang berwarna merah bagi pemain putra maupun putri

4. Kain songket kuning

 

Sedangkan untuk alat musik pengiring silat terdiri dari ;

1. Gendang

2. Biola

3. Gong

 

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201900823

Nama Karya Budaya :Silat Pelintau

Provinsi :Aceh

Domain :Tradisi dan Ekspresi Lisan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda